Anda di halaman 1dari 6

Gangguan Somatoform

Kata somatoform diambil dari bahasa Yunani yaitu soma yang berarti tubuh.
Dalam gangguan somatoform (somatoform disorder), orang memiliki simtom fisik
yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas fisik yang
dapat ditemukan sebagai penyebab. Somatoform disorder adalah suatu kelompok
gangguan yang ditandai dengan keluhan tentang masalah atau simtom fisik yang tidak
dapat dijelaskan oleh penyebab gangguan fisik secara medis (misalnya nyeri, mual,
dan pening/sakit kepala). Berbagai simtom dan keluhan somatik tersebut serius,
sehingga menyebabkan stres emosional dan gangguan untuk dapat berfungsi dalam
kehidupan sosial dan pekerjaan.
Keluhan somatik yang berulang dan banyak yang memerlukan perhatian medis,
namun tidak memiliki sebab fisik yang jelas merupakan dasar gangguan ini. Untuk
memenuhi kriteria diagnostik, yang bersangkutan harus mengalami keempat hal di
bawah ini:
1. empat simtom rasa sakit di bagian yang berbeda (seperti kepala, punggung, sendi);
2. dua simtom gastrointestinal (seperti: diare, mual);
3. satu simtom seksual selain rasa sakit (seperti tidak berminat pada hubungan seksual,
disfungsi ereksi);
4. satu simtom pseudoneurologis (seperti : seperti yang terjadi dalam gangguan
konversi).
Diagnosis gangguan somatoform ini diberikan apabila diketahui bahwa faktor
psikologis memegang peranan penting dalam memicu dan mempengaruhi tingkat
keparahan serta lamanya gangguan dialami (Kaplan, Sandock, & Grebb, 1994).
Simtom-simtom yang ditunjukkan merupakan refleksi dari konflik psikologi dalam
diri orang yang mengalami gangguan somatoform. Misalnya beberapa orang
mengeluhkan masalah dalam bernafas, menelan, atau seperti ada sesuatu yang
menekan dalam tenggorokan. Masalah-masalah seperti ini dapat merefleksikan
aktivitas yang berlebihan dari cabang simpatis sistem saraf otonomik yang
dihubungkan dengan kecemasan. Kadang kala, sejumlah simtom muncul dalam
bentuk yang lebih tidak biasa, seperti kelumpuhan pada tangan atau kaki yang tidak
konsisten dengan kerja sistem saraf.
Simtom-simtom tersebut, yang lebih pervasif dibanding keluhan hipokondriasis,
biasanya menyebabkan hendaya, terutama dalam pekerjaan. DSM-IV-TR mencatat
bahwa simtom-simtom spesifik gangguan ini dapat bervariasi antarbudaya. Sebagai
contoh, tangan terbakar atau seperti ada semut-semut yang berjalan di bawah kulit
sering terjadi di Asia dan Afrika dibanding di Amerika Utara. Terlebih lagi, gangguan
tersebut dinilai lebih sering terjadi pada budaya yang tidak mendorong ekspresi emosi
secara terbuka (Ford, 1995).
Gangguan somatisasi dan gangguan konversi memiliki banyak persamaan
simtom, dan keduanya dapat ditegakkan pada pasien yang sama (a.l., Ford & Folks,
1985). Kunjungan ke dokter, kadangkala ke banyak dokter pada waktu yang
bersamaan, sering kali dilakukan, juga penggunaan obat-obatan. Perawatan di rumah
sakit dan bahkan operasi menjadi hal umum (Guze, 1967). Masalah menstruasi dan

hambatan seksual sering terjadi (Swartz dkk., 1986). Para pasien umumnya
menyampaikan keluhan mereka secara histrionik dan berlebih-lebihan atau sebagai
bagian riwayat kesehatan yang panjang dan penuh komplikasi. Banyak yang meyakini
bahwa mereka telah mengalami sakit sepanjang hidup. Komorbiditas tinggi dengan
gangguan anxietas, gangguan mood, penyalahgunaan zat, dan sejumlah gangguan
kepribadian (Golding, Smith, & Kashner, 1991; Kirmayer, Robbins, & Paris, 1994)
Prevalensi sepanjang hidup gangguan somatisasi diperkirakan kurang dari 0.5
persen dari populasi AS; lebih sering terjadi pada perempuan, terutama keturunan
Afrika Amerika dan Hispanik (Escobar dkk., 1987), dan di kalangan pasien dalam
perawatan medis. Prevalensi lebih tinggi di beberapa negara Amerika Selatan dan
Puerto Rico (Tomasson, Kent, & Coryell, 1991).
Etiologi Gangguan Somatoform
Pendapat mengatakan bahwa para pasien penderita gangguan somatisasi lebih
sensitif terhadap sensasi fisik, memberikan perhatian berlebihan terhadap sensasi
tersebut, atau menginterpretasinya sebagai sesuatu yang membahayakan (Kirmayer
dkk., 1994; Rief dkk., 1998). Kemungkinan lain adalah mereka memiliki sensasi fisik
yang lebih kuat dibanding orang lain (Rief & Auer, 2001). Sebuah pandangan
perilaku mengenai gangguan somatisasi menyatakan bahwa berbagai macam rasa
sakit dan nyeri, rasa tidak nyaman, dan disfungsi raerupakan manifestasi kecemasan
yang tidak realistis dalam sistem-sistem tubuh. Sejalan dengan pemikiran bahwa
terdapat faktor kecemasan yang tinggi, pasien penderita gangguan somatisasi
memiliki level kortisol tinggi, suatu indikasi bahwa mereka berada di bawah tekanan
(Rief dkk., 1998). Mungkin ketegangan ekstrem yang dialami individu terpusat pada
otot-otot perut, mengakibatkan rasa mual atau muntah. Bila keberfungsian normal
terganggu, pola maladaptif akan menguat karena menghasilkan perhatian dan alasan
untuk menghindari sesuatu.
Gangguan somatoform berbeda dengan malingering, dimana pasien berpurapura mengalami simtom dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang jelas seperti
menghindari pekerjaan. Gangguan tersebut juga berbeda dengan factitious disorder,
yang bentuk paling umumnya adalah munchausen syndrome. Munchausen adalah
suatu bentuk penyakit yang dibuat-buat dimana orang tersebut berpura-pura sakit atau
membuat dirinya sendiri sakit seperti dengan cara memasukkan zat beracun. Sejumlah
pasien munchausen menjalani operasi bedah yang tidak perlu meski mereka tahu tidak
ada yang salah dengan diri mereka. Simtom pada factitious disorder, tidak terhubung
dengan hasil yang jelas. Gangguan ini memungkinkan adanya suatu kebutuhan
psikologis. Dengan menampilkan peran sakit dalam lingkungan rumah sakit yang
terlindungi memberikan suatu rasa aman yang kurang di dapat pada masa kecil.
Somatoform
Psychosomatic
Malingering
Factitious
&
Pain
Disorder
Disorder
Disorder
Mengalami
Mengalami
Sengaja
Sengaja
beberapa
sakit fisik yang
menipu sakit
menipu

1.

gejala sakit
fisik
yang
subyektif
tanpa sebab
organis
(pengalaman
sakit
termasuk
kedalam
pain
disorder)
Klasifikasi
Gangguan Konversi

nyata, faktor
psikologis ikut
ber-kontribusi
pada sakitnya

secara
fisik
untuk
menghindari
situasi
tidak
menyenangkan,
seperti
tugas
kemiliteran

sakit
secara
fisik
untuk
menarik
perhatian
secara
medis

a. Definisi
Gangguan konversi dicirikan oleh suatu perubahan besar dalam fungsi fisik
atau hilangnya fungsi fisik, meski tidak ada temuan medis yang dapat ditemukan
sebagai penyebab simtom atau kemunduran fisik tersebut. Simtom-simtom tersebut
tidaklah dibuat secara sengaja. Orang tersebut tidak melakukan malingering. Simtom
fisik itu biasanya timbul tiba-tiba dalam situasi yang penuh tekanan.
Gangguan konversi dinamakan demikian karena adanya keyakinan
psikodinamika bahwa gangguan tersebut mencerminkan penyaluran, atau konversi,
dari energi seksual atau agresif yang direpresikan ke simtom fisik. Gangguan konversi
sebelumnya disebut neurosis histerikal atau histeria.
Menurut DSM, simtom konversi menyerupai kondisi neurologis atau medis
umum yang melibatkan masalah dengan fungsi motorik (gerakan) yang volunter atau
fungsi sensoris. Beberapa pola simtom yang klasik melibatkan kelumpuhan,
epilepsi, masalah dalam koordinasi, kebutaan dan tunnel vision (hanya bisa melihat
apa yang berada tepat di depan mata), kehilangan indera pendengaran dan penciuman,
atau kehilangan rasa pada anggota badan (anestesi). Simtom-simtom tubuh yang
ditemukan dalam gangguan konversi seringkali tidak sesuai dengan kondisi medis
yang mengacu. Misalnya, orang yang menjadi tidak mampu berdiri atau berjalan
dilain pihak dapat melakukan gerakan kaki lainnya secara normal.
Beberapa orang dengan gangguan konversi menunjukkan ketidakpedulian
yang mengejutan terhadap simtom-simtom yang muncul, suatu fenomena yang
diistilahkan sebagai la belle indifference (ketidakpedulian yang indah).
b. Treatment
Pemberian treatmen dengan menggunakan pendekatan psikoanalisa untuk
pasien konversi adalah berfokus pada pengekspresian emosi dan ingatan yang
menyakitkan dan insight bahwa gangguan berkaitan dengan simtom konversi (Gavin,
1995). Gangguan konversi yang kronis lebih sulit untuk ditangani. Ketika simtom
muncul lebih dari satu bulan, riwayat pasien sering mirip gangguan somatisasi dan
diperlakukan seperti itu.

2.

Sementara treatmen dengan pendekatan behavioral berfokus pada mengurangi


kecemasan pasien yang berasal dari trauma yang menyebabkan simtom konversi.
Terapi behavioral bisa dilakukan dengan metode systematic desensitization dan vivo
exposure therapy.
Hipokondriasis
a.

3.

Definisi
Ciri utama dari hipokondriasis adalah fokus atau ketakutan bahwa simtom
fisik yang dialami seseorang merupakan akibat dari suatu penyakit serius yang
mendasarinya, seperti kanker atau masalah jantung. Rasa sakit tetap ada meskipun
telah diyakinkan secara medis bahwa ketakutan itu tidak mendasar.
Orang dengan hipokondriasis tidak secara sadar berpura-pura akan simtom
fisiknya. Mereka umumnya mengalami ketidaknyamanan fisik, sering kali melibatkan
sistem pencernaan atau campuran antara rasa sakit dan nyeri. Orang yang
mengembangkan hipokondriasis sangat peduli, bahkan benar-benar terlalu peduli,
terhadap simtom dan hal-hal yang mungkin mewakili apa yang ia takutkan. Orang
dengan hipokondriasis menjadi sangat sensitif terhadap perubahan ringan dalam
sensasi fisik, seperti sedikit perubahan dalam detak jantung dan sedikit rasa sakit serta
nyeri (Barsky dkk., 2001). Padahal kecemasan akan simtom fisik dapat menimbulkan
sensasi fisik tersendiri, misalnya keringat berlebihan dan pusing, bahkan pingsan.
Dengan demikian, sebuah lingkaran setan (vicious cycle) akan muncul. Orang dengan
hipokondriasis dapat menjadi marah saat dokter mengatakan betapa ketakutan mereka
sendirilah yang menyebabkan simtom-simtom fisik tersebut. Mereka sering belanja
dokter dengan harapan bahwa seorang dokter yang kompeten dan simpatik akan
memperhatikan mereka sebelum terlambat.
b. Treatment
Untuk penanganan pasien dengan hipokondria dengan pendekatan
psikoanalisa. Pasien diajak untuk mengidentifikasi perasaan dan pikiran dibalik
simtom yang muncul dan mencari cara melakukan coping yang adaptif.
Selain itu, penanganan hipokondria dengan pendekatan kognitif, pasien
dibantu untuk belajar menginterpretasikan simtom-simtom fisik dan menghindari
bencana simtom fisik.
Gangguan Dismorfik Tubuh
a. Definisi
Definisi gangguan ini adalah preokupasi dengan kecacatan tubuh yang tidak
nyata, misalnya seseorang yang merasa hidungnya kurang mancung, atau keluhan
yang berlebihan tentang kekurangan tubuh yang minimal atau kecil (Kaplan, Sandock,
& Grebb, 1994). Orang dengan gangguan dismorfik tubuh terpaku pada kerusakan
fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka (APA,
2004). Beberapa pasien cenderung menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengamati
kekurangan mereka di cermin. Bahkan agar tidak mengingatnya, terkadang mereka
menyembunyikan cermin atau menggunakan kamuflase, misalnya dengan

4.

menggunakan pakaian yang sangat longgar atau tindakan paling ekstrim menjalani
operasi plasti yang tidak dibutuhkan.
Orang dengan Body Dysmorphic Disorder percaya bahwa orang lain
memandang diri mereka jelek atau berubah bentuk menjadi rusak dan bahwa
penampilan fisik mereka yang tidak menarik mendorong orang lain untuk berpikir
negatif tentang karakter atau harga diri mereka sebagai manusia (Rosen, 1996).
Mereka sering menunjukkan pola berdandan atau mencuci atau menata rambut secara
kompulsif dalam rangka mengoreksi kerusakan yang dipersepsikan.
Pada gangguan ini faktor subyektif berperan penting. Gangguan ini lebih
banyak berpengaruh pada perempuan dibanding laki-laki, dan onset biasanya muncul
sekitar usia 15-20 tahun (Kaplan, Sandock, & Grebb, 1994).
b.
Treatment
Terapi psikoanalisa berfokus pada tujuan insight sebagai kekhawatiran yang
direpres mengarah pada simtom. Sementara terapi behavioral berfokus pada
menghadapkan pasien pada situasi yang ditakuti pasien tentang kekhawatiran tentang
tubuh mereka, menghilangkan kekhawatiran mereka tentang bagian tubuh mereka dan
mencegah respon yang kompulsif terhadap bagian tubuh tertentu. Meningkatkan
seretonin dalam otak bisa menghilangkan obsesi-kompulsif pada bagian tubuh.
Gangguan Somatisasi
a. Definisi
Gangguan somatisasi adalah gangguan dengan karakteristik sebagai keluhan
atau gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat dengan menggunakan
hasil pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Perbedaan antara gangguan somatisasi
dengan gangguan somatoform lainnya adalah banyaknya keluhan dan banyaknya
sistem tubuh yang terpengaruh. Gangguan ini sifatnya kronis muncul selama beberapa
tahun dan terjadi sebelum usia 30 tahun, dan berhubungan dengan stres psikologis
yang signifikan, hendaya dalam kehidupan sosial dan pekerjaan, serta perilaku
mencari pertolongan medis yang berlebihan (Kaplan, Sandock, & Grebb, 1994).
Keluhan-keluhan yang diutarakan biasanya mencakup sistem-sistem organ yang
berbeda (Spitzer, dkk, 1989). Jarang dalam setahun berlalu tanpa munculnya beberapa
keluhan fisik yang mengawali kenjungan ke dokter. Orang dengan gangguan
somatisasi adalah orang yang sangat sering memanfaatkan pelayanan medis (G.R.
Smith, 1994).
Gangguan somatisasi biasanya bermula pada masa remaja atau dewasa muda
dan tampaknya merupakan gangguan yang kronis atau bahkan yang berlangsung
sepanjang hidup (Kirmayer, Robbins & Paris, 1994; Smith, 1994). Gangguan ini
biasanya muncul dalam konteks gangguan psikologis lain, terutama gangguan
kecemasan dan gangguan depresi (Swartz dkk, 1991). Meskipun tidak banyak
diketahui tentang latar belakang masa kecil dari orang dengan gangguan somatisasi,
suatu penelitian melaporkan bahwa wanita dengan gangguan ini lebih mungkin untuk
melaporkan penganiayaan seksual di masa kecil daripada kelompok wanita
pembanding yang mengalami gangguan mood (Morrison, 1989). Orang dengan
gangguan somatisasi terganggu dengan simtomnya sendiri. Namun gangguan ini tetap

controversial. Banyak pasien, terutama pasien wanita, salah didiagnosis dengan


gangguan psikologis, termasuk gangguan somatisasi, karena kegagalan dari
kedokteran modern untuk mengidentifikasi dasar medis dari keluhan fisik mereka
(Klonoff & Landrine, 1997).
b. Treatment
Penanganan gangguan somatisasi sama dengan penanganan pada hipokondria.
Pada penanganan treatment dengan pendekatan psikoanalisa, pasien diajak untuk
mengidentifikasi perasaan dan pikiran dibalik simtom yang muncul dan mencari cara
melakukan coping yang adaptif.
Selain itu, pendekatan kognitif pasien dengan gangguan somatisasi ditangani
dengan cara membantu pasien belajar menginterpretasikan simtom-simtom fisik dan
menghindari bencana simtom fisik.
5. Gangguan Nyeri
a. Definisi
Pada gangguan ini individu mengalami gejala sakit atau nyeri pada satu
tempat atau lebih, yang tidak dapat dijelaskan dengan pemeriksaan medis (nonpsikiatris) maupun neurologis. Simtom ini menimbulkan stres emosional atau
gangguan fungsional. Gangguan ini dianggap memiliki hubungan sebab akibat dengan
faktor psikologis.
Keluhan yang dirasakan pasien berfluktuatif intensitasnya dan sangat
dipengaruhi oleh keadaan emosi, kognitif, atensi dan situasi (Kaplan, Sandock, &
Grebb, 1994). Dengan kata lain, faktor psikologis mempengaruhi kemunculan,
bertahannya dan tingkat keparahan gangguan (Davidson & Neale, 2001). Prevalensi
gangguan nyeri pada perempuan dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki, dan
puncak onsetnya terjadi sekitar usia 40-50 tahun, mungkin karena pada usia tersebut
toleransi terhadap rasa sakit sudah berkurang (Kaplan, Sandock, & Grebb, 1994).
b. Treatment
Treatment untuk gangguan nyeri sama dengan penanganan pada pasien
dengan gangguan somatisasi. Melalui pendekatan psikoanalisa, pasien diajak untuk
mengidentifikasi perasaan dan pikiran dibalik simtom yang muncul dan mencari cara
melakukan coping yang adaptif.
Pada pendekatan kognitif, pasien dengan gangguan nyeri ditangani dengan
cara membantu pasien belajar menginterpretasikan simtom-simtom fisik dan
menghindari bencana simtom fisik.

Sumber : Maslim, R. 2002. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.