Anda di halaman 1dari 11

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

HUKUM DASAR dan DASAR HUKUM

NAMA

: DIASPORA NARPA

STAMBUK

: D321 10 269

JURUSAN

: TEKNIK PERKAPALAN

PRODI

: TEKNIK KELAUTAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

1. PENGERTIAN HUKUM DASAR


Hukum dasar adalah aturan-aturan dasar yang dipakai sebagai landasan dan
sumber bagi berlakunya seluruh hukum atau peraturan atau perundang-undangan
dalam penyelenggaraan pemerintahan negara pada suatu negara. Bahwa uud suatu
negara, hanya sebagian dari pengertian konstitusi, yaitu konstitusi yang tertulis
(hukum dasar) negara itu.
Hukum dasar di negara Indonesia mencakup 5 aspek bagian, yaitu :
a. Bhineka Tunggal Ika
Arti Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi satu jua yang berasal
dari buku atau kitab sutasoma karangan Mpu Tantular / Empu Tantular. Secara
mendalam Bhineka Tunggal Ika memiliki makna walaupun di Indonesia terdapat
banyak suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya namun
tetap satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air. Dipersatukan dengan
bendera, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa dan lain-lain yang sama.
Kata-kata Bhinneka Tunggal Ika juga terdapat pada lambang negara Republik
Indonesia yaitu Burung Garuda Pancasila. Di kaki Burung Garuda Pancasila
mencengkram sebuah pita yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Kata-kata
tersebut dapat pula diartikan : Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Makna Bhineka Tunggal Ika dalam Persatuan IndonesiaSebagaimana
dijelaskan dimuka bahwa walaupun bangsa Indonesia terdiri dari berbagai
macam suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang beraneka
ragam namun keseluruhannya merupakan suatu persatuan yaitu bangsa dan
negara Indonesia. Penjelmaan persatuan bangsa dan wilayah negara Indonesia
tersebut disimpulkan dalam PP. No. 66 tahun 1951, 17 Oktober diundangkan
tanggal 28 Nopember 1951, dan termuat dalam Lembaran Negara No. II tahun
1951. Keanekaragaman tersebut bukanlah merupakan perbedaan yang
bertentangan namun justru keanekaragaman itu bersatu dalam satu sintesa yang
pada gilirannya justru memperkaya sifat dan makna persatuan bangsa dan
negara Indonesia.
Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan negara Indonesia sebagai dasar
untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia,dimana kita haruslah
dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu hidup saling
menghargai antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya tanpa
memandang suku bangsa,agama,bahasa,adat istiadat,warna kulit dan lainlain.Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau
dimana setiap daerah memiliki adat istiadat,bahasa,aturan,kebiasaan dan lainlain yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya tanpa adanya kesadaran

sikap untuk menjaga Bhineka tunggal Ika pastinya akan terjadi berbagai
kekacauan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dimana setiap oarng
akan hanya mementingkana dirinya sendiri atau daerahnya sendiri tanpa perduli
kepentngan bersama.Bila hal tersebut terjadi pastinya negara kita ini akan
terpecah belah.Oleh sebab itu marilah kita jaga bhineka tunggal ika dengan
sebai-baiknya agar persatuan bangsa dan negara Indonesia tetap terjaga dan kita
pun haruslah sadar bahwa menyatukan bangsa ini memerlukan perjuangan yang
panjang yang dilakukan oleh para pendahulu kita dalam menyatukan wilayah
republik Indonesia menjadi negara kesatuan.

b. Ikrar Putra Putri Indonesia (Sumpah Pemuda)


Integrasi pergerakan dalam mencapai cita-cita itu pertama kali tampak dalam
bentuk federasi seluruh organisasi politik/ organisasi masyarakat yang ada yaitu
permufakatan
perhimpunan-perhimpunan
Politik
Kemerdekaan
Indonesia
(1927).Kebulatan tekad untuk mewujudkan Persatuan Indonesia kemudian tercermin
dalam ikrar Sumpah Pemuda yang dipelopori oleh pemuda perintis kemerdekaan pada
tanggal 28 Oktober 1928 diJakarta yang berbunyi :
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang
Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah
Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa
Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa
Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean,
Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan,
Bahasa Indonesia).
Kalau kita lihat, Sumpah Pemuda yang mengatakan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu
Bahasa Indonesia maka ada tiga aspek Persatuan Indonesia yaitu :
1. Aspek Satu Nusa : yaitu aspek wilayah, nusa berarti pulau, jadi wilayah yang
dilambangkan untuk disatukan adalah wilayah pulau-pulau yang tadinya bernama Hindia
Belanda yang saat itu dijajah oleh Belanda. Ini untuk pertama kali secara tegas para
pejuang kemerdekaan meng-klaim wilyah yang akan dijadikan wilayah Indonesia
merdeka.
2. Aspek Satu Bangsa : yaitu nama baru dari suku-suku bangsa yang berada da wilayah
yang tadinya bernama Hindia Belanda yang tadinya dijajh oleh Belanda memplokamirkan

satu nama baru sebagai Bangsa Indonesia. Ini adalah awal mula dari rasa nasionalisme
sebagai kesatuan bangsa yang berada di wilayah sabang sampai Merauke.
3. Aspek Satu Bahasa : yaitu agar wilayah dan bangsa baru yang bterdiri dari berbagai
suku dan bahasa bisa berkomunikasi dengan baik maka dipakailah sarana bahasa
Indonesia yang ditarik dari bahasa Melayu dengan pembaharuan yang bernuansakan
pergerakan kearah Indonesia yang Merdaka. Untuk pertama kali para pejuang
kemerdekaan memplokamirkan bahasa yang akan dipakai negara Indonesia merdeka
yaitu bahasa Indonesia.
Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 itulah pangkal tumpuan cita-cita menuju
Indonesia merdeka. Memang diakui bahwa persatuan berkali-kali mengalami gangguan
dan kerenggangan. Perjuangan kemerdekaan antara partai politik/ organisasi masyarakat
pada waktu itu dangan segala strategi dan aksinya baik yang kooperatif maupun non
kooperatif terhadap pemerintahan Hindia Belanda mengalami pasang naik federasi
maupun fusi dalam gabungan politik Indonesia (1939) dan fusi terakhir Majelis Rakyat
Indonesia.
c. Piagam Jakarta

Para anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia


(BPUPKI) mengemukakan dasar negara merdeka dalam sidang pertama BPUPKI.
Dari pendapat yang berkembang diantara Mr. Muhammad Yamin, Mr. Soepomo,
dan Ir. Soekarno, akhirnya disepakati bahwa dasar negara Indonesia terdiri dari
lima unsur dengan nama Pancasila. Dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945,
Pancasila pertama kali di perkenalkan oleh Soekarno (penggali), dengan rumusan
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Kebangsaan Indonesia;
Internasionalisme atau Perikemanusiaan;
Mufakat atau Demokrasi;
Kesejahteraan Sosial;
Ketuhanan yang berkebudayaan.

Karena adanya rumusan yang berbeda diantara para anggota, maka


dipandang perlu untuk membentuk panitia kecil yang bertugas membahas usulusul yang diajukan oleh para anggota, baik itu usul secara lisan maupun tertulis.
Panitia kecil yang dibentuk oleh BPUPKI pada 1 Juni 1945 dikenal dengan sebutan
Panitia Sembilan. Panitia Sembilan ini adalah panitia yang beranggotakan 9 orang
yang bertugas untuk merumuskan dasar negara Indonesia yang tercantum dalam
UUD 1945. Adapun anggota Panitia Sembilan adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Ir. Soekarno (ketua)


Drs. Moh. Hatta (wakil ketua
Mr. Achmad Soebardjo (anggota)
Mr. Muhammad Yamin (anggota)
KH. Wachid Hasyim (anggota)

6.
7.
8.
9.

Abdul Kahar Muzakir (anggota)


Abikoesno Tjokrosoejoso (anggota)
H. Agus Salim (anggota)
Mr. A.A. Maramis (anggota)

Panitai Sembilan pimpinan Ir. Soekarno pada tanggal 22 Juni 1945 telah
menghasilkan "Piagam Jakarta" atau Jakarta Charter yang didalamnya
tercantum rumusan Dasar Negara, yaitu:
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Selanjutnya, Panitia Sembilan mengajukan Piagam jakarta pada sidang
kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
yang berlangsung pada tanggal 14-16 Juli 1945, dan diterima dengan baik. Isi dari
Piagam Jakarta diatas, kelak menjadi Pancasila dengan kalimat pada butir pertama
yang diubah dalam perumusan Pancasila. Kata "dengan kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" berubah menjadi "Yang Maha Esa".
d. Proklamasi 17 agustus 1945
Proklamasi Kemerdekaan negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945
mempunyai makna yang sangat penting bagi bangsa dan negara Indonesia,
yaitu sebagai berikut :

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai Titik Puncak Perjuangan


Bangsa Indonesia melawan Belanda dari 1908 sampai 1945
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai Sumber Lahirnya Republik
Indonesia dengan dihapuskan hukum kolonial & sumber hukum nasional
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan Norma Pertama dari
Tata Hukum Indonesia dimana hukum yang ditentukan dan dilaksanakan
sendiri oleh bangsa Indonesia
Teks Proklamasi 17 Agustus 1945
n Teks Proklamasi adalah merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik salah
seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan Proklamasi adalah :
Proklamasi Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan
Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-45 Atas nama bangsa
Indonesia
SOEKARNO-HATTA

e. Pembukaan UUD 1945


Arti dan Makna Alenia Pembukaan UUD 1945 :
Alenia Pertama

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh
sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai
dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan
Dalam kalimat Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa terkandung
suatu pengakuan tentang nilai hak kodrat . Hak kodrat adalah hak yang
merupakan karunia dari Tuhan yang Maha Esa, yang melekat pada manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Pelanggaran terhadap hak
kemerdekaan tidak sesuai dengan hakikat manusia (peri kemanusiaan) dan
hakikat adil (peri keadilan) dan atas pelanggaran tersebut maka harus dilakukan
suatu pemaksaan, yaitu bahwa penjajahan harus dihapuskan. Deklarasi
kemerdekaan atas seluruh bangsa atas seluruh bangsa di dunia yang terkandung
dalam alenia pertama merupakan suatu pernyataan yang bersifat universal.
Alenia Kedua
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah pada saat
yang bebahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke
depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu,
berdaulat
adil
dan
makmur

Perwujudan kemerdekaan bangsa Indonesia disamping sebagai suatu bukti


obyektif atas penjajahan pada bangsa Indonesia, juga sekaligus mewujudkan
suatu hasrat yang kuat dan bulat untuk menentukan nasib sendiri, terbebas dari
kekuasaan bangsa lain. Hasil dari perjuangan tersebut terjelma dalam suatu
Negara Indonesia dengan kemampuan dan kekuatan sendiri untuk menuju citacita bersama yang berkeadilan dan berkemakmuran. Demi terujudnya cia-cita
tersebut maka bangsa Indonesia harus merdeka, bersatu dan mempunyai suatu
kebulatan.
Alenia Ketiga
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh
keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat
Indonesia
menyatakan
dengan
ini
kemerdekaannya
Pengakuan nilai religius dalam pernyataan Atas berkat rahmat Allah Yang
Maha Kuasa mengandung makna bahwa Negara Indonesia mengakui nilai-nilai
religious, amerupakan dasar dari hokum positif negara maupun dasar moral
negara. Pengakuan nilai moral yang terkandung dalam pernyataan didorong
oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas mengandung
makna bahwa negara dan bangsa Indonesia mengakui nilai-nilai moral dan hak
kodrat segala bangsa. Pernyataan kembali ke proklamasi dalam kalimat maka
rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Hal ini dimaksudkan
sebagai penegasan dan rincian lebih lanjut naskah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Alenia Keempat
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan
kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang Undang Dasar Negara Indonesia,
yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuaan Indonesia, dan kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta
dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Dalam alenia ke empat termuat prinsip-prinsip serta pokok-pokok kaidah
pembentukan pemerintahan Negara Indonesia seperti yang disimpulkan dari
kalimat Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara
Indonesia. Pemerintahan dalam susunan kalimat pemerintahan Negara
Indonesia maksudnya dalam pengertian sebagai penyelenggaraan keseluruhan
aspek kegiatan Negara dan segala kelengkapannya (government) yng berbeda
dengan pemerintahan Negara yang hanya menyangkut salah satu aspek saja dari
kegiatan penyelenggaraan Negara, yaitu aspek pelaksana (executive).

2.

PENGERTIAN DASAR HUKUM


Dasar hukum adalah norma hukum atau ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan yang menjadi landasan atau dasar bagi setiap
penyelenggaraan atau tindakan hukum oleh subyek hukum baik orang perorangan
atau badan hukum. Selain itu dasar hukum juga dapat berupa norma hukum atau
ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan atau dasar
bagi pembentukan peraturan perundang-undangan yang lebih baru dan atau yang
lebih rendah derajatnya dalam hirarki atau tata urutan peraturan perundangundangan. Bentuk yang disebut terakhir ini juga biasanya disebut sebagai landasan
yuridis yang biasanya tercantum dalam considerans peraturan hukum atau surat
keputusan yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga tertentu.
Terdapat dua hal terpeting yang menjadi dasar hukum Indonesia, yaitu :
a. Pancasila
Fungsi Umum Pancasila

Pancasila Sebagai Panduan Hidup Bangsa Indonesia


Pancasila Sebagai Sumber Segala Sumber Hukum
Pancasila Sebagai Perjanjian Luhur
Pancasila Sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia

Makna Pancasila Sebagai Dasar Negara ialah Pancasila berperan sebagai landasan
dan dasar bagi pelaksanaan pemerintahan, membentukan peraturan, dan
mengatur penyelenggaraan negara. Melihat dari makna pancasila sebagai dasar
negara kita tentu dapat menyimpulkan bahwa pancasila sangat berperan sebagai
kacamata bagi bangsa Indonesia dalam menilai kebijakan pemeritahan maupun
segala fenomena yang terjadi di masayrakat.
Fungsi Pancasila Sebagai Dasar Negara
Seperti yang sudah dibahas tadi kalau saja Pancasila memegang peran yang
sangat penting. Berikut adalah beberapa fungsi dari Pancasila.
1. Pancasila Sebagai Pedoman Hidup Disini Pancasila berperan sebagai dasar
dari setiap pandangan di Indonesia Pancasila haruslah menjadi sebuah
pedoman dalam mengambil keputusan.
2. Pancasila Sebagai Jiwa Bangsa Pancasila haruslah menjadi jiwa dari bangsa
Indonesia. Pancasila yang merupakan jiwa bangsa harus terwujud dalam
setiap lembaga maupun organisasi dan insan yang ada di Indonesia
3. Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa Kepribadian bangsa Indonesia
sangatlah penting dan juga menjadi identitas bangsa Indonesia. Oleh karena

itu Pancasila harus diam dalam diri tiap pribadi bangsa Indonesia agar bisa
membuat Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa.
4. Pancasila Sebagai Sumber Hukum Pancasila menjadi sumber hukum dari
segala hukum yang berlaku di Indonesia. Atau dengan kata lain Pancasila
sebagai dasar negara tidak boleh ada satu pun peraturan yang bertentangan
dengan Pancasila
5. Pancasila Sebagai Cita Cita Bangsa Pancasila yang dibuat sebagai dasar negara
juga dibuat untuk menjadi tujuan negara dan cita cita bangsa. Kita sebagai
bangsa Indonesia haruslah mengidamkan sebuah negara yang punya Tuhan
yang Esa punya rasa kemanusiaan yang tinggi, bersatu serta solid, selalu
bermusyawarah dan juga munculnya keadilan sosial.

Makna lima sila dalam Pancasila


Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa; menuntut setiap warga negara
mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan tujuan akhir, baik dalam
hati dan tutur kata maupun dalam tingkah laku sehari-hari. Konsekuensinya
adalah Pancasila menuntut umat beragama dan kepercayaan untuk hidup rukun
walaupun berbeda keyakinan.
Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab; mengajak masyarakat untuk
mengakui dan memperlakukan setiap orang sebagai sesama manusia yang
memiliki martabat mulia serta hak-hak dan kewajiban asasi. Dengan kata lain,
ada sikap untuk menjunjung tinggi martabat dan hak-hak asasinya atau
bertindak adil dan beradap terhadapnya.
Sila Ketiga, Persatuan Indonesia; menumbuhkan sikap masyarakat untuk
mencintai tanah air, bangsa dan negara Indonesia, ikut memperjuangkan
kepentingan-kepentingannya, dan mengambil sikap solider serta loyal terhadap
sesama warga negara.
Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawarahan/perwakilan; mengajak masyarakat untuk bersikap peka dan
ikut serta dalam kehidupan politik dan pemerintahan negara, paling tidak secara
tidak langsung bersama sesama warga atas dasar persamaan tanggung jawab
sesuai dengan kedudukan masing-masing.
Sila Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; mengajak masyarakat
aktif dalam memberikan sumbangan yang wajar sesuai dengan kemampuan dan
kedudukan masing-masing kepada negara demi terwujudnya kesejahteraan
umum, yaitu kesejahteraan lahir dan batin selengkap mungkin bagi seluruh
rakyat.

b. UUD RI Tahun 1945


PENGERTIAN
Yang dimaksud dengan Undang-Undang Dasar 1945 adalah keseluruhan
naskah yang terdiri dari Pembukaan dan pasal-pasal (Pasal II Aturan Tambahan).
Pembukaan terdiri atas 4 Alinea, yang di dalam Alinea keempat terdapat rumusan
dari Pancasila, dan Pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945 terdiri dari 20 Bab (Bab I
sampai dengan Bab XVI) dan 72 pasal (pasal 1 sampai dengan pasal 37), ditambah
dengan 3 pasal Aturan Peralihan dan 2 pasal Aturan Tambahan. Bab IV tentang DPA
dihapus, dalam amandemen keempat penjelasan tidak lagi merupakan kesatuan
UUD 1945. Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945 merupakan satu kebulatan yang
utuh, dengan kata lain merupakan bagian- bagian yang satu sama lainnya tidak dapat
dipisahkan. Naskahnya yang resmi telah dimuat dan disiarkan dalam Berita Republik
Indonesia Tahun II No. 7 yang terbit tanggal 15 Februari 1946, suatu
penerbitanresmi Pemerintah RI. Sebagaimana kita ketahui Undang-Undang Dasar
1945 itu telah ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indoneisa (PPKI) dan
mulai
berlaku pada tanggal 18 Agustus 1945. Rancangan UUD 1945 dipersiapkan oleh
suatu badan yang bernama Badan Penyelidik Usaha-usaha Pesiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai, suatu badan bentukan
Pemerintah Penjajah Jepang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan
dalam rangka persiapan kemerdekaan Indonesia.
Dengan demikian pengertian UUD 1945 adalah sebagai berikut:
UUD 1945
PEMBUKAAN
Terdiri dari 4 ALINEA
ALINEA 4 Terdapat rumusan Sila-sila dari Pancasila
dan
PASAL-PASAL
Terdiri dari Bab I s.d. Bab XVI (20 Bab)
Pasal 1 s.d. Pasal 37 (72 Pasal), ditambah 3 Pasal Aturan Peralihan 2 Pasal
Aturan Tambahan UUD 1945 :
- Dirancang oleh BPUPKI
- Ditetapkan PPKI tanggal 18 Agustus 1945
- Disiarkan dalam Berita Republik Indonesia Tahun II No.7 Tanggal 15 Februari 1946
(naskah Penjelasan telah dihapuskan berdasarkan amandemen keempat UUD
1945).

FUNGSI UUD 1945


Setiap sesuatu dibuat dengan memiliki sejumlah fungsi, sebagai contoh kunci
dibuat dengan fungsi sebagai penutup dan pembuka sebuah pintu, dengan demikian
secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kunci berfungsi sebagai pembeda antara
pemilik dan bukan pemilik sebuah rumah. Demikian juga halnya dengan UUD 1945,
apakah sebenarnya yang menjadi fungsi dari sebuah UUD 1945 dalam praktek
penyelenggaraan negara? Marilah bersama-sama kita

membahas hal tersebut. Di atas telah kita bahas bersama bahwa yang dimaksud
dengan UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis. Dari pengertian tersebut dapatlah
dijabarkan bahwa UUD
1945 mengikat pemerintah, lembaga-lembaga negara, lembaga masyarakat, dan
juga mengikat setiap warga negara Indonesia dimanapun mereka berada dan juga
mengikat setiap penduduk yang berada di wilayah Negara Republik Indonesia.
Sebagai hukum dasar, UUD 1945 berisi norma-norma, dan aturan-aturan yang harus
ditaati dan dilaksanakan oleh semua komponen tersebut di atas. Undang-undang
Dasar bukanlah hukum biasa, melainkan hukum dasar, yaitu hukum dasar yang
tertulis. Sebagai hukum dasar, UUD 1945 merupakan sumber
hukum tertulis. Dengan demikian setiap produk hukum seperti undangundang,
peraturan pemerintah, peraturan presiden, ataupun bahkan setiap tindakan atau
kebijakan pemerintah haruslah berlandaskan dan bersumber pada peraturan yang
lebih tinggi, yang pada akhirnya kesemuanya peraturan perundang- undangan
tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan UUD 1945,
dan muaranya adalah Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara
(Pasal 2 UU No. 10 Tahun 2004). Dalam kedudukan yang demikian itu, UUD 1945
dalam kerangka tata urutan perundangan atau hierarki peraturan perundangan di
Indonesia menempati kedudukan yang tertinggi. Dalam hubungan ini, UUD 1945
juga mempunyai fungsi sebagai alat kontrol, dalam pengertian UUD 1945
mengontrol apakah norma hukum yang lebih rendah sesuai atau tidak dengan
norma hukum yang lebih tinggi, dan pada akhirnya apakah norma-norma hukum
tersebut bertentangan atau tidak dengan ketentuan UUD 1945.