Anda di halaman 1dari 55

1.

Mengapa didapatkan suara seperti orang mengorok dan


mendengung?
Suara mendengkur timbul akibat turbulensi aliran udara pada saluran nafas
atas akibat sumbatan. Tempat terjadinya sumbatan biasanya di basis lidah
atau palatum. Sumbatan terjadi akibat kegagalan otot-otot dilator saluran
nafas atas menstabilkan jalan nafas di mana otot-otot faring berelaksasi,
lidah dan palatum jatuh ke belakang sehingga terjadi obstruksi.
Journal of The Royal Society of Medicine 2003; 96: 343 4. Can Med
Assoc J 2007; 176(9): 1299-3
Sumbatan parsial : ada suara berisik dan retraksi ; ngorok ( snoring chin
lift), gurgling (cairan, berkumur finger swab, suction), crowing (nada
tinggi, karena edem di trakea jaw thrust).
Sumbatan total : dada tidak mengembang saat inspirasi tidak ada suara
dari mulut atau hidung, retraksi supra clavicula.
Jenis-jenis suara nafas tambahan karena hambatan sebagian jalan
nafas :
i. Snoring : suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan adanya
kebuntuan jalan napas bagian atas oleh benda padat, jika terdengar
suara ini maka lakukanlah pengecekan langsung dengan cara crossfinger untuk membuka mulut (menggunakan 2 jari, yaitu ibu jari
dan jari telunjuk tangan yang digunakan untuk chin lift tadi, ibu jari
mendorong rahang atas ke atas, telunjuk menekan rahang bawah ke
bawah). Lihatlah apakah ada benda yang menyangkut di
tenggorokan korban (eg: gigi palsu dll). Pindahkan benda tersebut

ii. Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada
kebuntuan yang disebabkan oleh cairan (eg: darah), maka

lakukanlah cross-finger(seperti di atas), lalu lakukanlah fingersweep (sesuai namanya, menggunakan 2 jari yang sudah dibalut
dengan kain untuk menyapu rongga mulut dari cairan-cairan).

iii. Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya disebakan karena


pembengkakan (edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama
tetap lakukan maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja
1. Apa penyebab sumbatan jalan napas?
a. Sumbatan Jalan Nafas Total
Bila tidak dikoreksi dalam waktu 5 10 menit dapat mengakibatkan
asfiksi ( kombinasi antara hipoksemia dan hipercarbi), henti nafas
dan henti jantung.
b. Sumbatan jalan Nafas partial
Bila tidak dikoreksi dapat menyebabkan kerusakan otak, sembab otak,
sembab paru, kepayahan henti nafas dan henti jantung sekunder.
(Sumber : Buku Penanganan Penderita Gawat Darurat, Prof. DR.dr. I.
Riwanto, Sp.BD, FK UNDIP)
Obstruksi yg trjdi dibagi menjadi 3 yaitu :
a. Obstruksi total
Terjadi perubahan yg akut berupa hipoksemia yg menyebabkan
terjadinya kegagalan pernafasan secara cepat. Sementara kegagalan
pernafasan sendiri menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi
kardiovaskuler dan menyebabkan pula terjadinya kegagalan SSP
dimana penderita kehilangan kesadaran secara cepat diikuti dengan
kelemahan motorik bahkan mungkin pula terdapat renjatan (seizure0.
Kegagalan fungsi ginjal mengikuti kegagalan fungsi darah dimana terdapat
hipoksemia, hiperkapnia, dan lambat laun terjadi asidosis respiratorik dan
metabolik
b. Fenomena Check Valve
yaitu udara dapat masuk, tetapi tdk keluar. keadaan ini menyebabkan
terjadinya empisema paru, bahkan dapat terjadi empisema mediastinum
atau empisema subkutan
Udara dapat keluar masuk walaupun terjadi penyempitan saluran nafas dari 3
bentuk keadaan ini, Obstruksi total adalah keadaan yg terberat dan memerlukan
tindakan yg cepat. dalam keadaan PCO2 tinggi dgn kecepatan pernafasan
30/menit dlm usaha kompensasi maksimal. Di atas keadaan ini, pasien tidak dapat
mentoleransi. Bila terjadi hipoksemia, menandakan fase permulaan terjadinya
kegagalan pernafasan.
(Sumber : Buku Agenda Gawat Darurat, Jilid 2, Prof. Dr.. H. Tabrani Rab)

Berdasar penyebab
Trauma
Trauma dapat disebabkan oleh karena kecelakaan, gantung diri,
atau kasus percobaan pembunuhan. Lokasi obstruksi biasanya terjadi di
tulang rawan sekitar, misalnya aritenoid, pita suara dll.
Benda asing, dapat tersangkut pada:
Laring
Terjadinya obstruksi pada laring dapat diketahui melalui tandatanda sebagai berikut, yakni secara progresif terjadi stridor, dispneu,
apneu, digagia, hemopsitis, pernafasan dgn otot-otot nafas tambahan, atau
dapat pula terjadi sianosis.
Saluran nafas
Trakhea
Benda asing pada trakhea jauh lebih berbahaya dari pada di dalam
bronkhus, karena dapat menimbulkan asfiksia. Benda asing didalam trakea
tidak dapat dikeluarkan, karena tersangkut di dalam rima glotis dan
akhirnya tersangkut dilaring dan menimbulkan gejala obstruksi laring
Bronkhus
Biasanya akan tersangkut pada bronkhus kanan, oleh karena
diameternya lebih besar dan formasinya dilapisi oleh sekresi bronkhus
sehingga menjadi besar
BUKU AGENDA GAWAT DARURAT, JILID 2, PROF. DR.. H.
TABRANI RAB

Berdasar lokasi di saluran nafas


Benda Asing di Laring
Stridor, dispneu, apneu, digagia, hemopsitis, pernafasan dengan
otot-otot tambahan, dapat pula terjadi sianosis
Benda Asing di Trakhea
Lebih berbahaya daripada didalam bronkhus karena dapat
menimbulkan asfiksia. terdengar stridor dan akhirnya trjdi sianosis yg
disertai dgn edema
Benda Asing di Bronkhus
Biasanya akan tersangkut pada bronkhus kanan, oleh karena
diameternya lebih besar dan formasinya dilapisi oleh sekresi bronkhus
sehingga menjadi besar
Benda Asing di Trankeobronkial
Pasien mengalami batuk yg hebat dan bersin-bersin selama
beberapa menit. Batuk ini diikuti wheezing (mengi) dan bila tdk terdapat
riwayat asma, maka hal ini harus dicurigai sbg benda asing, terutama bila
wheezing (mengi) terdapat di unilateral.

BUKU AGENDA GAWAT DARURAT, JILID 2, PROF. DR.. H.


TABRANI RAB
2. Mengapa pasien tampak sianosis?
Sianosis berarti kebiruan pada kulit dan penyebabnya adalah Hb yang
tidak mengandung O jumlahnya berlebihan dalam pembuluh darah kulit,
terutama pada kapiler.
Pada umumnya, sianosis muncul apabila darah arteri mengandung >5 gr
Hb yang tidak mengandung O dalam setiap 100 ml darah.
Look (Lihat)
Agitasi
: hipoksia
Tampak bodoh: hiperkarbia
Sianosis
: hipoksemia
Retraksi otot-otot nafas tambahan

sianosis terjadi ketika Hb yang mengalami deoksigenasi dalam kapiler


melebihi 50 g/l.

akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang tak berikatan


dengan O2)

Hb teroksigenasi dalam darah arteri berwarna merah terang, darah vena


dengan Hb terdeoksigenasi berwarna merah kebiruan

sianosis sentral akibat oksigenasi Hb yang tidak cukup pada PaO2 yang
rendah wajah, bibir, cuping telinga, bagian bawah lidah

sianosis perifer bila aliran darah banyak berkurang sehingga


menurunkan saturasi darah vena biru, dapat terjadi akibta sumbatan
pada aliran darah, atau vasokonstriksi PD.

BUKU AJAR FISIOLOGI KEDOKTERAN, GUYTON


3. Mengapa setelah dokter memasang oropharyngeal airway keadaan pasien
semakin memburuk?
Konsep
Fisiologi
/
Pengaruh
Terhadap
Tubuh
Pemasangan oropharengeal tube meniadakan proses pemanasan dan pelembaban
udara inspirasi kecuali pasien dipasang ventilasi mekanik dengan humidifikasi
yang baik. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus
mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. Discharge trakea berkurang dan
menjadi kental, akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea.
Pada penderita dengan bantuan jalan nafas oropharyngeal ini merupakan benda
asing dalam tubuh pasien sehingga sering menjadi tempat ditemukan berbagai
koloni bakteri, yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif.
Pada fiksasi oropharyngeal tube juga sering kali menimbulkan penekanan pada

salah satu sisi bibir pasien sehingga bisa menyebabkan luka/nekrotik sebagai
penyebab masuknya kuman ke dalam tubuh pasien.
http://ppnikarangasem.blogspot.com/2010/03/pemasangan-dan-perawatan-pasiendengan.html
Pemasangan OPA (Oropharyngeal airways) dan NPA (Nasopharyngeal
airways)
OPA (Oropharyngeal airways)
Meskipun beberapa penelitian tidak secara spesifik mempertimbangkan
penggunaan
OPA pada pasien dengan serangan jantung, OPA dapat membantu dalam
pengiriman
ventilasi yang memadai dengan perangkat bag-mask dengan mencegah lidah dari
obstruksi jalan napas. Cara memasukkan yang salah pada OPA dapat
membuat lidah
jatuh ke hipofaring dan akan menyebabkan obstruksi jalan napas. Untuk
memudahkan pemasukkan udara ke ventilasi dengan bag-mask, OPA dapat
digunakan dalam keadaan tidak sadar (tidak responsif) pasien sehingga tidak ada
refleks batuk atau muntah dan hanya boleh dilakukan oleh orang yang terlatih
dalam
menggunakannya.
http://fk.unand.ac.id/images/skills_lab_bLOK_4.2_REVISI_2012_LENGKAP__Copy.pdf

1.
Indikasi
dan
Kontra
Indikasi
1.
Indikasi
Adapun indikasi pemasangan oropharyngeal tube adalah sebagai berikut :
a.
Pemeliharaan
jalan
nafas
pasien
dalam
ketidaksadaran,
b.
Melindungi
endotracheal
tube
dari
gigitan,
c.
Memfasilitasi
suction
pada
jalan
nafas
2.
Kontra
indikasi
Tidak boleh diberikan pada pasien dengan keadaan sadar ataupun semi sadar
karena
dapat
merangsang
muntah,
spasme
laring.
Harus
berhati-hati
bila
terdapat
trauma
oral.
http://ppnikarangasem.blogspot.com/2010/03/pemasangan-dan-perawatan-pasiendengan.html
4. Bagaimana cara melakukan oropharyngeal airway?
Digunakan untuk penderita yang tidak sadar
Pilih airway yang cocok ukurannya
Jarak dari sudut mulut sampai canalis auditivus eksterna

Buka mulut penderita dengan manuver chin lift atau cross finger (scissors
technique)
Sisipkan spatula lidah di atas lidah penderitam cukup jauh untuk menekan
lidah, hati-hati jangan merangsang penderita sampai muntah
Masukkan airway ke posterior, dengan lembuht diluncurkan di atas
lengkungan lidah sampai sayap penahan berhenti pada bibir penderita.
Airway tidak boleh mendorong lidah sehingga menyumbat airway
Tarik spatula lidah
Ventilasi penderita dengan bag-valve-mask
ADVANCED TRAUMA LIFE SUPPORT (ATLS)
5. Apa tujuan dokter memasang oksigen rebreathing mask?
SATURASI MENURUN
Suction adalah komponen yang penting dalam mengelola jalan
nafas pasien. Tenaga kesehatan harus siap untuk melakukan suction bila
jalan nafas tersumbat oleh sekret, darah, atau vomitus.

6. Bagaimana cara melakukan triple airway maneuver?

Tilt Head, Lift Chin, Check Breathing.

Opening the airway.

Top: Airway obstruction produced by the tongue and the epiglottis.


Bottom: Relief by head-tilt/chin-lift.

Head-tilt/chin-lift maneuver. Perpendicular line reflects proper neck


extension, i.e., a line along the edge of the jaw bone should be

perpendicular to the surface on which the victim is lying.


Jaw-thrust maneuver

Sumber : http://www.toadspad.net/ems/cpr-head-tilt.html
7. Apa interpretasi dari SpO2 92%, RR 30 x/menit, dan GCS E2M4V2?

NILAI OKSIMETRI DENYUT

ARTI KLINIS

PILI
SUP

95%-100%

Dalam batas normal

O2 4L

90%-<95%

Hipoksia ringan-sedang

Sung

85%-<90%

Hipoksia sedang-berat

<85%

Hipoksia berat yang mengancam


nyawa

RR naik
Penurunan konsentrasi oksigen dalam darah perangsangan
kemoreseptor (glomus karotikum dan glomus aortikum) perangsangan
pusat pernafasan RR naik
Nadi naik dan tekanan darah turun
Penurunan oksigen dalam darah hipoksia (jaringan kekurangan
oksigen) aliran darah ke jaringan diperlama (agar jaringan mendapat

Sung
Vent

Vent

pasokan oksigen lebih banyak ) venous return turun stroke volume


menurun Tekanan darah menurun
Tekanan darah menurun merangsang baroreseptor (di glomus
karotikum dan aortikum) merangsang dilatasi arteri sistemik
frekuensi jantung menurun
Mekanismetakikardia
Perdarahan volume darah menurun aliran darah ke jantung
sedikitsimpatikmeningkatkan kontraksi dan daya konduksi
jantungtakikardia
Mekanismehypotensi
Volume darah menurun penurunan tekanan pengisian sirkulasi ratarata penurunan aliran balik darah vena ke jantung curah jantung
menurun hypotensi
1.
Mekanisme hilangnya kesadaran
Volume darah menurun aliran darah keotak menurun oksigen keotak
juga menurun penurunan kesadaran
Pada keadaan dengan penurunan kesadaran misalnya pada tindakan
anestesi, penderita trauma kepal/karena suatu penyakit, maka akan terjadi
relaksasi otot-otot termasuk otot lidah dan sphincter cardia akibatnya bila
posisi penderita terlentang maka pangkal lidah akan jatuh ke posterior
menutup orofaring, sehingga menimbulkan sumbatan jalan napas.
Sphincter cardia yang relaks, menyebabkan isi lambung mengalir kembali
ke orofaring (regurgitasi). Hal ini merupakan ancaman terjadinya
sumbatan jalan napas oleh aspirat yang padat dan aspirasi pneumonia oleh
aspirasi cair, sebab pada keadaan ini pada umumnya reflek batuk sudah
menurun atau hilang.8
Kegagalan respirasi mencakup kegagalan oksigenasi maupun kegagalan
ventilasi. Kegagalan oksigenasi dapat disebabkan oleh: (1) ketimpangan
antara ventilasi dan perfusi. (2) hubungan pendek darah intrapulmoner
kanan-kiri. (3) tegangan oksigen vena paru rendah karena inspirasi yang
kurang, atau karena tercampur darah yang mengandung oksigen rendah.
(4) gangguan difusi pada membran kapiler alveoler. (5) hipoventilasi
alveoler. Kegagalan ventilasi dapat terjadi bila PaCO2 meninggi dan pH
kurang dari 7,35. Kegagalan ventilasi terjadi bila minut ventilation
berkurang secara tidak wajar atau bila tidak dapat meningkat dalam usaha
memberikan kompensasi bagi peningkatan produksi CO2 atau
pembentukan rongga tidak berfungsi pada pertukaran gas (dead space).
Kelelahan otot-otot respirasi /kelemahan otot-otot respirasi timbul bila
otot-otot inspirasi terutama diafragma tidak mampu membangkitkan

tekanan yang diperlukan untuk mempertahankan ventilasi yang sudah


cukup memadai. Tanda-tanda awal kelelahan otot-otot inspirasi seringkali
mendahului penurunan yang cukup berarti pada ventilasi alveolar yang
berakibat kenaikan PaCO2. Tahap awal berupa pernapasan yang dangkal
dan cepat yang diikuti oleh aktivitas otot-otot inspirasi yang tidak
terkoordinsiberupa alterans respirasi (pernapasan dada dan perut
bergantian), dan gerakan abdominal paradoxal (gerakan dinding perut ke
dalam pada saat inspirasi) dapat menunjukan asidosis respirasi yang
sedang mengancam dan henti napas.
8. Apa indikasi dilakukannya definitive airway?
Adanya apnea
Ketidakmampuan mempertahankan airway yang bebas dengan cara-cara
lain
Kebutuhan untuk melindungi airway bagian bawah dari aspirasi darah atau
vomitus
Ancaman segera atau bahaya potensial sumbatan airway, seperti akibat
lanjut dari cedera inhalasi, patah tulang wajah, hematoma retrofaringeal,
atau kejang berkepanjangan
Adanya cedera kepala tertutup yang memerlukan bantuan nafas (GCS 8)
Ketidakmampuan mempertahankan oksigenasi yang adekuat dengan
pemberian O tambahan lewat masker wajah
ADVANCED TRAUMA LIFE SUPPORT (ATLS)
KEBUTUHAN UNTUK PERLINDUNGAN
AIRWAY

KEBUTUHAN UNTUK VE

Tidak sadar

Apneu
Paralisis neuromuskular
Tidak sadar

Fraktur maksilofasial

Usaha nafas tidak adekuat


Takipneu
Hipoksia
Hiperkarbia
Sianosis

Bahaya aspirasi
Perdarahan
Muntah-muntah

Cedera kepala tertutup berat


hiperventilasi singkat, bila te
neurologis

Bahaya sumbatan
Hematoma leher
Cedera larynx dan trachea
Stridor

9. Apa tindakan yang dilakukan saat primary survey?


Dalam survei primer difokuskan pada bantuan napas dan bantuan
sirkulasi serta defibrilasi. Untuk dapat mengingatkan dengan mudah tindakan
survei primer dirumuskan dengan abjad A, B, C, dan D, yaitu :
A airway (jalan napas)
B breathing (bantuan napas)
C circulation (bantuan sirkulasi)
D defibrilation (terapi listrik)
Sebelum melakukan tahapan A(airway), harus terlebih dahulu
dilakukan prosedur awal pada korban / pasien, yaitu :
1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong.
2. Memastikan kesadaran dari korban / pasien.
Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak, penolong
harus melakukan upaya agar dapat memastikan kesadaran korban /
pasien, dapat dengan cara menyentuh atau menggoyangkan bahu korban /
pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah pergerakan yang
berlebihan, sambil memanggil namanya atau Pak !!! / Bu !!! / Mas !!! /
Mbak !!!

3. Meminta pertolongan
Jika ternyata korban / pasien tidak memberikan respon terhadap
panggilan, segera minta bantuan dengan cara berteriak Tolong !!!
untuk mengaktifkan sistem pelayanan medis yang lebih lanjut.
4. Memperbaiki posisi korban / pasien
Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif, korban / pasien harus
dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras.
Jika korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah
posisi korban ke posisi terlentang. Ingat ! penolong harus membalikkan
korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan
secara bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang, korban harus
dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras dan
kedua tangan diletakkan di samping tubuh.
5. Mengatur posisi penolong
Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan
bantuan napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi atau
menggerakan lutut.

A (AIRWAY) Jalan Napas


Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan
dengan melakukan tindakan :

1. Pemeriksaan jalan napas


Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan
napas oleh benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu,
kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau
jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh
benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang
dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana
ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban.

2. Membuka jalan napas


Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa
pada korban tidak sadar tonus otototot menghilang, maka lidah dan
epiglotis akan menutup farink dan larink, inilah salah satu penyebab
sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat
dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu (Head tilt chin lift)
dan Manuver Pendorongan Mandibula. Teknik membuka jalan napas
yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas kesehatan adalah
tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan harus
dapat melakukan manuver lainnya.

B ( BREATHING ) Bantuan napas


Terdiri dari 2 tahap :
1. Memastikan korban / pasien tidak bernapas.
Dengan
pergerakan
mendengar

cara

naik
bunyi

melihat

turunnya

dada,

napas

dan

merasakan hembusan napas korban /


pasien. Untuk itu penolong harus
mendekatkan telinga di atas mulut
dan hidung korban / pasien, sambil
tetap mempertahankan jalan napas
tetap terbuka. Prosedur ini dilakukan
tidak boleh melebihi 10 detik.

2. Memberikan bantuan napas.


Jika korban / pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat
dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke
stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara
memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang
dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,52 detik dan volume
udara yang dihembuskan adalah 400 -500 ml (10 ml/kg) atau sampai
dada korban / pasien terlihat mengembang.

Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan


menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup.
Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 1617%. Penolong
juga harus memperhatikan respon dari korban / pasien setelah
diberikan bantuan napas.

Cara memberikan bantuan pernapasan :


Mulut ke mulut

Bantuan

pernapasan

dengan

menggunakan

cara

ini

merupakan cara yang cepat dan efektif untuk memberikan udara


ke paruparu korban / pasien.
Pada

saat

dilakukan

hembusan napas dari mulut ke


mulut, penolong harus mengambil
napas dalam terlebih dahulu dan
mulut

penolong

harus

dapat

menutup seluruhnya mulut korban


dengan baik agar tidak terjadi
kebocoran saat menghembuskan
napas dan

juga

penolong harus menutup lubang hidung korban / pasien dengan


ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali
dari hidung. Volume udara yang diberikan pada kebanyakan orang
dewasa adalah 400 - 500 ml (10 ml/kg).
Volume udara yang berlebihan dan laju inspirasi yang terlalu cepat
dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi
distensi lambung.

Mulut ke hidung

Teknik

ini

direkomendasikan jika usaha


ventilasi dari mulut korban
tidak memungkinkan, misalnya
pada

Trismus

atau

dimana

mulut korban mengalami luka


yang berat, dan sebaliknya jika
melalui

mulut

ke

hidung,

penolong harus menutup mulut


korban / pasien.

Mulut ke Stoma

Pasien yang mengalami


laringotomi mempunyai lubang
(stoma) yang menghubungkan
trakhea langsung ke kulit. Bila
pasien

mengalami

pernapasan

maka

kesulitan
harus

dilakukan ventilasi dari mulut


ke stoma.
C (CIRCULATION) Bantuan sirkulasi
Terdiri dari 2 tahapan :
1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban / pasien.
Ada tidaknya denyut jantung korban / pasien dapat ditentukan
dengan meraba arteri karotis didaerah leher korban / pasien, dengan

dua atau tifa jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat
meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua
jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kirakira 12 cm, raba
dengan lembut selama 510 detik.

Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa


pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala
topang dagu untuk menilai pernapasan korban / pasien. Jika tidak
bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan
jalan napas.
2. Melakukan bantuan sirkulasi
Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat
diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung
luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut :

Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang


iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada
(sternum).

Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih


2 atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk
meletakkan tangan penolong dalam memberikan bantuan
sirkulasi.

Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk


satu telapak tangan diatas telapak tangan yang lainnya, hindari

jarijari tangan menyentuh dinding dada korban / pasien, jari


jari tangan dapat diluruskan atau menyilang.

Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding


dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur
sebanyak 30 kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara
1,52 inci (3,85 cm).

Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada


dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali
melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan
untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat
melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).

Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah
posisi tangan pada saat melepaskan kompresi.

Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2


dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong jika korban / pasien tidak
terintubasi dan kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit
(dilakukan 4 siklus permenit), untuk kemudian dinilai apakah
perlu dilakukan siklus berikutnya atau tidak.

Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai


tekanan sistolik 6080 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah,
sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah
jantung normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan
dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan
sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik.

D (DEFRIBILATION)
Defibrilation

atau

dalam

bahasa Indonesia diterjemahkan dengan


istilah defibrilasi adalah suatu terapi
dengan memberikan energi listrik. Hal ini
dilakukan jika penyebab henti jantung
(cardiac arrest) adalah kelainan irama
jantung yang disebut dengan Fibrilasi
Ventrikel. Dimasa sekarang ini sudah
tersedia

alat

untuk

defibrilasi

(defibrilator) yang dapat digunakan oleh


orang awam yang disebut Automatic
External Defibrilation, dimana alat

tersebut

dapat mengetahui korban henti jantung ini harus dilakukan

defibrilasi atau tidak, jika perlu dilakukan defibrilasi alat tersebut dapat
memberikan tanda kepada penolong untuk melakukan defibrilasi atau
melanjutkan bantuan napas dan bantuan sirkulasi saja.

BASIC LIFE SUPPORT (BLS) PRIMARY SURVEY


Assess
Airway

Action
Buka airway menggunakan teknik non-

- Apakah jalan napasnya terbuka?

invasif (headtilt-chinlift / jaw thrust tanpa


mengextensikan

kepala

jika

duiduga

Breathing

trauma).
Look, listen, and feel. Jika tak ada napas,

- Apakah respirasinya adekuat?

beri 2x bantuan napas. Beri sekitar 1 detik


setiap bantuan napas. Setiap bantuan napas
harus membuat dada korban terangkat.
Jangan melakukan ventilasi terlalu cepat

Circulation

atau terlalu banyak (volume).


Periksa pulsasi a. Carotis (dewasa) atau a.

- Apakah ada pulsasi?

Femoralis / a. brachialis (infant) paling tidak

Defibrillation

5 detik tapi tidak lebih lama dari 10 detik.


Siapkan shock jika ada indikasi. Ikuti segera

- Jika pulsasi tidak ada, periksa bila

setiap shock dengan CPR, mulai dengan

ada irama yang shockable maka

kompresi dada.

gunakan defibrillator atau AED


(Automated External Defibrillation)
Sumber : ACLS Provider Manual. AHA, 2006
1. Bagaimana cara melakukan penanganan pengelolaan jalan nafas dasar dan
lanjut?
a.
i. Endotrakeal intubasi

1. Orotrakeal
2. Nasotrakeal

ii.
b. Surgical
i. Krikotiroidotomi

ii. trakeostomi

Tindakan
Membuka jalan nafas dengan proteksi cervikal

Chin Lift maneuver (tindakan mengangkat dagu)


Jaw thrust maneuver (tindakan mengangkat sudut rahang bawah)
Head Tilt maneuver (tindakan menekan dahi)

Gambar dan penjelasan lihat dibawah.


Ingat! Pada pasien dengan dugaan cedera leher dan kepala, hanya
dilakukanmaneuver jaw thrust dengan hati-hati dan mencegah gerakan leher.
Untuk memeriksa jalan nafas terutama di daerah mulut, dapat dilakukan
teknik Cross Finger yaitu dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk yang
disilangkan dan menekan gigi atas dan bawah.

Bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga mulut
dilakukan pembersihan manual dengan sapuan jari.

Kegagalan membuka nafas dengan cara ini perlu dipikirkan hal lain yaitu
adanya sumbatan jalan nafas di daerah faring atau adanya henti nafas (apnea)

Bila hal ini terjadi pada penderita tidak sadar, lakukan peniupan udara
melalui mulut, bila dada tidak mengembang, maka kemungkinan ada sumbatan
pada jalan nafas dan dilakukanmaneuver Heimlich.

Gambar 2. Pemeriksaan sumbatan jalan nafas di daerah mulut dengan


menggunakan teknik cross finger
Tanda-tanda adanya sumbatan (ditandai adanya suara nafas tambahan) :
Mendengkur(snoring), berasal dari sumbatan pangkal lidah. Cara
mengatasi : chin lift, jaw thrust, pemasangan pipa orofaring/nasofaring,
pemasangan pipa endotrakeal.

Berkumur (gargling), penyebab : ada cairan di daerah hipofaring. Cara


mengatasi : finger sweep, pengisapan/suction.

Stridor
(crowing),
sumbatan
di
plika
vokalis.
Cara
mengatasi :cricotirotomi, trakeostomi.

2. Membersihkan jalan nafas


Sapuan jari (finger sweep)
Dilakukan bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing pada rongga
mulut belakang atau hipofaring seperti gumpalan darah, muntahan, benda asing
lainnya sehingga hembusan nafas hilang.
Cara melakukannya :
Miringkan kepala pasien (kecuali pada dugaan fraktur tulang leher)
kemudian buka mulut dengan jaw thrust dan tekan dagu ke bawah bila otot rahang
lemas (maneuver emaresi)

Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau dibungkus
dengan sarung tangan/kassa/kain untuk membersihkan rongga mulut dengan
gerakan menyapu.

Gambar 3. Tehnik finger sweep


3. Mengatasi sumbatan nafas parsial
Dapat digunakan teknik manual thrust

Abdominal thrust
Chest thrust
Back blow

Gambar dan penjelasan lihat di bawah!


Jika sumbatan tidak teratasi, maka penderita akan :

Gelisah oleh karena hipoksia


Gerak otot nafas tambahan (retraksi sela iga, tracheal tug)
Gerak dada dan perut paradoksal
Sianosis
Kelelahan dan meninggal

Prioritas utama dalam manajemen jalan nafas adalah JALAN NAFAS BEBAS!
Pasien sadar, ajak bicara. Bicara jelas dan lancar berarti jalan nafas bebas

Beri oksigen bila ada 6 liter/menit

Jaga tulang leher : baringkan penderita di tempat datar, wajah ke depan,


posisi leher netral

Nilai apakah ada suara nafas tambahan.

Gambar4. Pasien tidak sadar dengan posisi terlentang, perhatikan jalan nafasnya!
Pangkal lidah tampak menutupi jalan nafas
Lakukan teknik chin lift atau jaw thrust untuk membuka jalan nafas. Ingat
tempatkan korban pada tempat yang datar! Kepala dan leher korban jangan
terganjal!
Chin Lift

Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke depan


Caranya : gunakan jari tengah dan telunjuk untuk memegang tulang dagu pasien
kemudian angkat.
Head Tilt
Dlilakukan bila jalan nafas tertutup oleh lidah pasien, Ingat! Tidak boleh
dilakukan pada pasien dugaan fraktur servikal.
Caranya : letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah
sehingga kepala menjadi tengadah dan penyangga leher tegang dan lidahpun
terangkat ke depan.

Gambar 5. tangan kanan melakukan Chin lift ( dagu diangkat). dan tangan kiri
melakukan head tilt. Pangkal lidah tidak lagi menutupi jalan nafas.
Jaw thrust
Caranya : dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga barisan gigi
bawah berada di depan barisan gigi atas

Gambar 6 dan 7. manuver Jaw thrust dikerjakan oleh orang yang terlatih
Mengatasi sumbatan parsial/sebagian. Digunakan untuk membebaskan sumbatan
dari benda padat.

Gambar 8. Tampak ada orang yang tersedak atau tersumbat jalan nafasnya
Abdominal Thrust (Manuver Heimlich)
Dapat dilakukan dalam posisi berdiri dan terlentang.

Caranya berikan hentakan mendadak pada ulu hati (daerah subdiafragma


abdomen).
Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi berdiri atau duduk
Caranya : penolong harus berdiri di belakang korban, lingkari pinggang korban
dengan kedua lengan penolong, kemudian kepalkan satu tangan dan letakkan sisi
jempol tangan kepalan pada perut korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung
tulang sternum. Pegang erat kepalan tangan dengan tangan lainnya. Tekan kepalan
tangan ke perut dengan hentakan yang cepat ke atas. Setiap hentakan harus
terpisah dan gerakan yang jelas.
Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi tergeletak (tidak sadar)
Caranya : korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka ke atas.
Penolong berlutut di sisi paha korban. Letakkan salah satu tangan pada perut
korban di garis tengah sedikit di atas pusar dan jauh di bawah ujung tulang
sternum, tangan kedua diletakkan di atas tangan pertama. Penolong menekan ke
arah perut dengan hentakan yang cepat ke arah atas.
Berdasarkan ILCOR yang terbaru, cara abdominal thrust pada posisi terbaring
tidak dianjurkan, yang dianjurkan adalah langsung melakukan Resusitasi Jantung
Paru (RJP).
Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada yang dilakukan sendiri
Pertolongan terhadap diri sendiri jika mengalami obstruksi jalan napas.
Caranya : kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada perut di atas pusar
dan di bawah ujung tulang sternum, genggam kepala itu dengan kuat, beri tekanan
ke atas kea rah diafragma dengan gerakan yang cepat, jika tidk berhasil dapat
dilakukan tindakan dengan menekan perut pada tepi meja atau belakang kursi

Gambar 9. Abdominal Thrust dalam posisi berdiri

Back Blow (untuk bayi)


Bila penderita sadar dapat batuk keras, observasi ketat. Bila nafas tidak efektif
atau berhenti, lakukan back blow 5 kali (hentakan keras pada punggung korban di
titik silang garis antar belikat dengan tulang punggung/vertebrae)

Gambar 10. Back blow pada bayi


Chest Thrust (untuk bayi, anak yang gemuk dan wanita hamil)
Bila penderita sadar, lakukan chest thrust 5 kali (tekan tulang dada dengan jari
telunjuk atau jari tengah kira-kira satu jari di bawah garis imajinasi antara kedua
putting susu pasien). Bila penderita sadar, tidurkan terlentang, lakukanchest
thrust, tarik lidah apakah ada benda asing, beri nafas buatan

Breathing
Pengertian : Memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan
buatan untuk menjamin kebutuhan oksigen dan pengeluaran gas CO2.
Tujuan : Menjamin pertukaran udara di paru-paru secara normal.
Diagnosis : Ditegakkan bila pada pemeriksaan dengan menggunakan
metode Look Listen Feel (lihat kembali pengelolaan jalan nafas) tidak ada
pernafasan dan pengelolaan jalan nafas telah dilakukan (jalan nafas aman).

Tindakan
Tanpa Alat : Memberikan pernafasan buatan dari mulut ke mulut atau dari mulut
ke hidung sebanyak 2 (dua) kali tiupan awal dan diselingi ekshalasi.
Dengan Alat : Memberikan pernafasan buatan dengan alat Ambu bag (self
inflating bag) yang dapat pula ditambahkan oksigen. Dapat juga diberikan dengan
menggunakan ventilator mekanik (ventilator/respirator)
Pemeriksaan pernafasan :
Look -Lihat
- gerak dada
- gerak cuping hidung (flaring nostril)
- retraksi sela iga
- gerak dada
- gerak cuping hidung (flaring nostril)
- retraksi sela iga
Listen -Dengar
- Suara nafas, suara tambahan
Feel -Rasakan
- Udara nafas keluar hidung-mulut
Palpasi -Raba
- gerakan dada, simetris?
Perkusi - Ketuk
- Redup? Hipersonor? Simetris?

Auskultasi (menggunakan stetoskop)


- Suara nafas ada? Simetris? Ronki atau whezing?
Rontgen dada
kalau tersedia dan pasien sudah stabil
Menilai pernafasan

Ada napas? Napas normal atau distres


Ada luka dada terbuka atau menghisap?
Ada Pneumothoraks tension?
Ada Patah iga ganda (curiga Flail Chest) ?
Ada Hemothoraks?
Ada emfisema bawah kulit?

Tanda distres nafas

Nafas dangkal dan cepat


Gerak cuping hidung (flaring nostril)
Tarikan sela iga (retraksi)
Tarikan otot leher (tracheal tug)
Nadi cepat
Hipotensi
Vena leher distensi
Sianosis (tanda lambat)

Pemberian nafas buatan


Diberikan sebanyak 12-20 kali/menit sampai dada nampak terangkat.
Diberikan bila nafas abnormal, tidak usah menunggu sampai apnea dulu
Berikan tambahan oksigen bila tersedia.
Jika udara masuk ke dalam lambung, jangan dikeluarkan dengan menekan
lambung karena akan berisiko aspirasi.

Nafas buatan dilakukan dengan in-line immobilisation (fiksasi kepala-leher) agar


tulang leher tidak banyak bergerak.
Cara memberikan nafas buatan dari mulut ke mulut
Gambar 1. pada orang dewasa

Untuk memberikan bantuan pernafasan mulut ke mulut, jalan nafas korban harus
terbuka. Perhatikan kedua tangan penolong pada gambar masih tetap melakukan
teknik membuka jalan nafas Chin lift. Hidung korban harus ditutup bisa dengan
tangan atau dengan menekankan pipi penolong pada hidung korban. Mulut
penolong mencakup seluruh mulut korban. Mata penolong melihat ke arah dada
korban untuk melihat pengembangan dada. Pemberian pernafasan buatan secara
efektif dapat diketahui dengan melihat pengembangan dada korban.Berikan 1 kali
pernafasan selama 1 detik, berikan pernafasan biasa.kemudian berikan pernafasan
kedua selama 1 detik. Berikan nafas secara biasa untuk mencegah penolong
mengalami pusing atau berkunang-kunang. Untuk bayi dan anak, nafas buatan
yang diberikan lebih sedikit dari orang dewasa, dengan tetap melihat
pengembangan dada.Usahakan hindari pemberian pernafasan yang terlalu kuat
dan terlalu banyak karena dapat menyebabkan kembung dan merusak paru-paru
korban. Konsentrasi oksigen melalui udara ekspirasi mulut sekitar 17 %.
Cara memberikan nafas buatan dari mulut ke hidung

Cara ini direkomendasikan jika pemberian nafas buatan melalui mulut korban
tidak dapat dilakukan misalnya terdapat luka yang berat pada mulut korban, mulut
tidak dapat dibuka, korban di dalam air atau mulut penolong tidak dapat
mencakup mulut korban.
Cara memberikan nafas buatan dari mulut ke stoma (lubang trakeostomi)
Cara ini diberikan pada pasien trakeostomi. Caranya sama dengan mulut ke mulut
hanya saja lubang tempat masuknya udara adalah lubang trakeostomi
Pemberian nafas buatan dengan menggunakan alat
Gambar 2. ambubag (bag-valve-masker)

Ambu bag terdiri dari bag yang berfungsi untuk memompa oksigen udara bebas,
valve/pipa berkatup dan masker yang menutupi mulut dan hidung penderita.
Penggunaan ambu bag atau bagging sungkup memerlukan keterampilan
tersendiri. Penolong seorang diri dalam menggunakan amb bag harus dapat
mempertahankan terbukanya jalan nafas dengan mengangkat rahang bawah,
menekan sungkup ke muka korban dengan kuat dan memompa udara dengan
memeras bagging. Penolong harus dapat melihat dengan jelas pergerakan dada
korban pada setiap pernafasan.
Ambu bag sangat efektif bila dilakukan oleh dua orang penolong yang
berpengalaman. Salah seorang penolong membuka jalan nafas dan menempelkan
sungkup wajah korban dan penolong lain memeras bagging. Kedua penolong
harus memperhatikan pengembangan dada korban
Gambar 3. Cara menggunakan ambubag

Ambu bag digunakan dengan satu tangan penolong memegang bag sambil
memompa udara sedangkan tangan lainnya memegang dan memfiksasi masker.
Pada Tangan yang memegang masker, ibu jari dan jari telunjuk memegang masker
membentuk huruf C sedangkan jari-jari lainnya memegang rahang bawah
penderita sekaligus membuka jalan nafas penderita dengan membentuk huruf E.
Konsentrasi oksigen yang dihasilkan dari ambu bag sekitar 20 %. Dapat
ditingkatkan menjadi 100% dengan tambahan oksigen.
Untuk kondisi yang mana penderita mengalami henti nafas dan henti jantung,
dilakukan resusitasi jantung-paru-otak.

2. Apa indikasi penggunaan pulse oxymetri dan interpretasinya?


Pulse oxymetri merupakan suatu metode non-invasive untuk memonitor
persentase hemoglobin yang saturasi dengan oksigen. Metode ini
menggunakan
perbedaan panjang gelombang dari cahaya merah (660
nm) dan cahaya infra merah (910 nm) yang berasal dari
sensor transmisi. Kemudian cahaya merah dan cahaya
infra merah tersebut melewati pembuluh balik dan pembuluh kapiler pada
jari tangan, dan ditangkap oleh sensor deteksi.
Data dari sensor deteksi tersebut dikirim ke mikrokontroller kemudian
ditampilkan ke LCD. Di mi
krokontroller, data tersebut diolah kemudian diproses untuk mendapatkan
data
konsentrasi oxyhemoglobin (HbO2), deoxyhemoglobin (RHb), dan
oksigen saturasi (SpO2)

3. Jelaskan macam-macam derajat hipoksi?


Blood Gas Artery

PO2

80-100 mmHg (normal)


60-79 mmHg hipoksemi ringan
40-59mmHg hipoksemi sedang
<40 mmHg hipoksemi berat

SaO2

95%-97% normal
< 90% hipoksemi

pH

7,35-7,45 normal
<7,35 asidemia
>7,45 alkaemia

PaCo2

35-45 mmHg normal


>45 mmHg hipoventilasi
<35 mmHg hiperventilasi

System respirasi

Takipneu, volume tidal turun,, dispneu, retraksi otot nafas, luban


hidung melebar

Saraf pusat

Sakit kepala
Kekacauan mental, agitasi
Mudah terangsang, cemas, bereringat
Mengantuk

Kardiovaskuler

Mula2 takikardi, kemudian bradikardi jika otot jantung tidak cuku


mendapat O2

Peningkatan tekanan darah diikuti dengan penurunan tekanan dara


jika tidak segera ditangani
Kulit

Sianosis sentral perifer

4. Apa prinsip terapi oksigen?


Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital dalam proses
metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh.
Secara normal elemen ini iperoleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam
setiap kali bernafas.
Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi system respirasi,
kardiovaskuler dan keadaan hematologis.
Adanya kekurangan O2 ditandai dengan keadaan hipoksia, yang dalam proses
lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam
kehidupan. Klien dalam situasi demikian mengharapkan kompetensi perawat
dalaam mengenal keadaan hipoksemia dengan segera untuk mengatasi masalah.
Pemberian terapi O2 memerlukan dasar pengetahuan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi masuknya O2 dari atmosfir hingga sampai ke tingkat sel melalui
alveoli paru dalam proses respirasi. Berdasarkan hal tersebut maka perawat harus
memahami indikasi pemberian O2, metode pemberian O2 dan bahaya-bahaya
pemberian O2.
TERAPI OKSIGEN
Terapi O2 merupakan salah satu dari terapi pernafasan dalam mempertahankan
okasigenasi jaringan yang adekuat. Secara klinis tujuan utama pemberian O2
adalah (1) untuk mengatasi keadaan Hipoksemia sesuai dengan hasil Analisa Gas
Darah, (2) untuk menurunkan kerja nafas dan meurunkan kerja miokard.
2004 Digitized by USU digital library 2

Syarat-syarat pemberian O2 meliputi : (1) Konsentrasi O2 udara inspirasi dapat


terkontrol, (2) Tidak terjadi penumpukan CO 2, (3) mempunyai tahanan jalan nafas
yang rendah, (4) efisien dan ekonomis, (5) nyaman untuk pasien.
Dalam pemberian terapi O2 perlu diperhatikan Humidification. Hal ini penting
diperhatikan oleh karena udara yang normal dihirup telah mengalami humidfikasi
sedangkan O2 yang diperoleh dari sumber O2 (Tabung) merupakan udara kering
yang belum terhumidifikasi, humidifikasi yang adekuat dapat mencegah
komplikasi pada pernafasan.
a. Kateter nasal Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan
O2 secara kontinu dengan aliran 1 6 L/mnt dengan konsentrasi 24% 44%.
- Keuntungan
Pemberian O2 stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, murah
dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap.
- Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 yang lebih dari 45%, tehnik
memasuk kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, dapat terjadi
distensi lambung, dapat terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran
dengan lebih dari 6 L/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan
mengeringkan mukosa hidung, kateter mudah tersumbat.
2004 Digitized by USU digital library 3

b. Kanula nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan O2 kontinu
dengan aliran 1 6 L/mnt dengan konsentrasi O2 sama dengan kateter
nasal.
- Keuntungan
Pemberian O2 stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur,
mudah memasukkan kanul disbanding kateter, klien bebas makan,
bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan nyaman.
- Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 lebih dari 44%, suplai O2
berkurang bila klien bernafas lewat mulut, mudah lepas karena
kedalam kanul hanya 1 cm, mengiritasi selaput lendir.
c. Sungkup muka sederhana
Merupakan alat pemberian O2 kontinu atau selang seling 5 8 L/mnt
dengan konsentrasi O2 40 60%.
- Keuntungan
Konsentrasi O2 yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula
nasal, system humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan
sungkup berlobang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi
aerosol.
- Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 kurang dari 40%, dapat
menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah.
d. Sungkup muka dengan kantong rebreathing :
Suatu tehinik pemberian O2 dengan konsentrasi tinggi yaitu 60 80%
dengan aliran 8 12 L/mnt
- Keuntungan
Konsentrasi O2 lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak
mengeringkan selaput lendir
- Kerugian
Tidak dapat memberikan O2 konsentrasi rendah, jika aliran lebih
rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2, kantong O2 bisa terlipat.
e. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing
Merupakan tehinik pemberian O2 dengan Konsentrasi O2 mencapai 99%
dengan aliran 8 12 L/mnt dimana udara inspirasi tidak bercampur
dengan udara ekspirasi
- Keuntungan :
Konsentrasi O2 yang diperoleh dapat mencapi 100%, tidak
mengeringkan selaput lendir.
- Kerugian
Kantong O2 bisa terlipat.
2. Sistem aliran tinggi

Suatu tehnik pemberian O2 dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh
tipe pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi O 2
yang lebihtepat dan teratur.
Adapun contoh tehnik system aliran tinggi yaitu sungkup muka dengan
ventury.
Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan
menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk mengatur suplai O 2
sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udaraluar dapat diisap dan aliran
udara yang dihasilkan lebih banyak. Aliran udara pada alat ini sekitas 4 14
L/mnt dengan konsentrasi 30 55%.
- Keuntungan
2004 Digitized by USU digital library 4

Konsentrasi O2 yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat


dan tidak dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, suhu dan
kelembaban gas dapat dikontrl serta tidak terjadi penumpukan CO2
- Kerugian
Kerugian system ini pada umumnya hampir sama dengan sungkup muka
yang lain pada aliran rendah.
5. DD?
a. Sumbatan jalan napas
i. Definisi
ii. Etiologi
iii. Patofisiologi
iv. Macam-macam
v. Gejala
vi. Penanganan
vii. Komplikasi
OBSTRUKSI SALURAN NAPAS
1. Definisi
2. Etiologi
Edema jalan napas : dapat disebabkan infeksi (difteri), reaksi alergi
atau akibat instrumentasi (pemasangan pipa endotrakeal,
bronskoskopi) dan trauma tumpul.
Benda asing
Tumor, kista laring, papiloma larings, karsinoma larings, biasanya
sumbatan terjadi secara perlahan-lahan.
Trauma daerah larings
Spasme otot larings : tetanus, reaksi emosi
Kelumpuhan otot abductor pita suara (abductor paralysis):
terutama bila bilateral
Kelainan congenital : laryngeal web, fistula trakeoesofagus yang
menimbulkan laringotrakeomalasia.
3. Klasifikasi
Obstruksi Jalan Napas oleh benda asing
Macam 2:
o Sebagian (parsial)
Korban mungkin masih mampu melakukan pernapasan, namun
kualitas pernapasan dapat baik atau buruk.
Pada korban dengan pernapasan yang masih baik, korban
biasanya masih dapat melakuakan tindakan batuk dengan kuat,
usahakan agar korban tetap bisa melakukan batuk dengan kuat
sampai benda asing tersebut dapat keluar.

Bila sumbatan jalan napas partial menetap, maka aktifkan


sistem pelayanan medik darurat.
Obstruksi jalan napas partial dengan pernapasan yang buruk
harus diperlakukan sebagai obstruksi jalan napas komplit.
o Komplit (total)
Korban biasanya tidak dapat berbicara, bernapas, atau batak.
Biasanay korban memegang lehernya diantara ibu jari dan jari
lainnya.
Saturasi oksigen akan dengan cepat menurun dan otak akan
mengalami kekurangan oksigen sehinga menyebabkan
kehilangan kesadaran, dan kematian akan cepat terjadi jika
tidak diambil tindakan segera.
Patogenesis
Manifestasi klinis
Dapat dibagi atas 4 stadium (Jackson):
I.
Sesak napas, stridor inspirator, retraksi suprastrenal; KU masih
baik
II.
Gejala stadium I + retraksi epigastrium; penderita mulai gelisah
III.
Gejala stadium II + retraksi supra/infraklavikular, penderita sangat
gelisah dan sianotik
IV.
Gejala stadium III + retraksi interkostal, penderita berusaha sekuat
tenaga untuk menghirup udara; lama-kelamaan terjadi paralisis
pusat pernapasan, penderita menjadi apatik kemudian meninggal.
(Kedaruratan Medik, Dr. Agus Purwadianto & Dr. Budi Sampurna)
Diagnosis
Penatalaksanaan

4.
5.

6.
7.

Penatalaksanaan obstruksi jalan napas oleh benda asing:


a. Manuver Heimlich (hentakan subdiafragma-abdomen)
i. Suatu hentakan yang meneybabkan peningkatan tekanan
pada diafragma shg memaksa udara yang ada didlam paru2
untuk keluar dengan cepat sehingga diharapkan dapat
mendorong atau mengeluarkan benda asing yang
menyumbat jalan napas.
ii. Mungkin dibutuhkan pengulangan hentakan 6-10 kali untuk
membersihkan jalan napas.
b. Penyapuan jari
i. Penyapuan ini hanya dilakuakn atau digunakan pada orban
tidak sadar, dengan muka menghadap keats buka mulut
korban dengan memegang lidah dan rahang diantara ibu jari
dan jari2nya, kemuadian mengangkat rahang bawah.
ii. Tindakan ini akan menjauhkan lidah dengan kerongkongan
serta menjauhkan benda asing yang mungkin menyangkut
ditempat tersebut. Masukkan jari telunjuk tangan tangan
lain
Sumbatan jalan nafas

Etiologi
Dasar lidah, palatum molle, darah, corpal, tumor, spasme otot nafas, kelainan
congenital, secret, oedem, aspirasi dari gaster,
a. Dasar lidah pada penderita Koma (ok otot lidah dan leher
lemas sehingga tidak mampu mengangkat dasar lidah dari
dinding belakang faring ( hal ini terjadi bila kepala
penderita posisi Flexi )
b. FB ( a dan b adalah yang biasa pada J N A )
c. Pada J N B bronkospasme, sembab mukosa, sekresi
bronkus, masuknya isi lambung atau benda asing ke dalam
paru
Trauma
Trauma dapat disebabkan oleh karena kecelakaan, gantung diri, atau
kasus percobaan pembunuhan. Lokasi obstruksi biasanya terjadi di
tulang rawan sekitar, misalnya aritenoid, pita suara dll.
2. Benda Asing
Benda Asing tersebut dapat tersangkut pada :
a. Laring
Terjadinya obstruksi pada laring dapat diketahui melalui tandatanda sebagai berikut, yakni secara progresif terjadi stridor,
dispneu, apneu, digagia, hemopsitis, pernafasan dgn otot-otot nafas
tambahan, atau dapat pula terjadi sianosis. Gangguan oleh bendabenda asing ini biasanya terjadi pada anak-anak yg disebabkan oleh
berbagai biji-bijian dan tulang ikan tg tdk teratur bentuknya.
b. Saluran nafas
Berdasarkan lokasi benda-benda yg tersangkut dalam saluran nafas
maka dibagi atas :

Pada Trakhea

Benda asing pada trakhea jauh lebih berbahaya dari pada di


dalam bronkhus, karena dapat menimbulkan asfiksia. Benda
asing didalam trakea tidak dapat dikeluarkan, karena
tersangkut di dalam rima glotis dan akhirnya tersangkut
dilaring dan menimbulkan gejala obstruksi laring

Pada Bronkhus
Biasanya akan tersangkut pada bronkhus kanan, oleh karena
diameternya lebih besar dan formasinya dilapisi oleh sekresi
bronkhus sehingga menjadi besar
Keganasan pada lidah, nasofaring,laring dll

(Sumber : Buku Agenda Gawat Darurat, Jilid 2, Prof. Dr.. H. Tabrani


Rab)

Klasifikasi
Berdasarkan lokasi
Atas dan bawah
Berdasarkan jenis sumbatan
Total
Parsial

Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria
Jackson.
1. Jackson I ditandai dengan sesak, stridor inspirasi ringan, retraksi
suprasternal, tanpa sianosis.
2. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai
retraksi supra dan infraklavikula, sianosis ringan, dan pasien tampak mulai
gelisah.

3. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi


interkostal, epigastrium, dan sianosis lebih jelas.
4. Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak
tegang, dan terkadang gagal napas.
c. Sumbatan Jalan Nafas Total
Bila tidak dikoreksi dalam waktu 5 10 menit dapat mengakibatkan
asfiksi ( kombinasi antara hipoksemia dan hipercarbi), henti nafas
dan henti jantung.

d. Sumbatan jalan Nafas partial


Bila tidak dikoreksi dapat menyebabkan kerusakan otak, sembab
otak, sembab paru, kepayahan henti nafas dan henti jantung
sekunder.
(Sumber : Buku Penanganan Penderita Gawat Darurat, Prof. DR.dr. I.
Riwanto, Sp.BD, FK UNDIP)

Obstruksi yg trjdi dibagi menjadi 3 yaitu :


c. Obstruksi total
Terjadi perubahan yg akut berupa hipoksemia yg menyebabkan
terjadinya kegagalan pernafasan secara cepat. Sementara kegagalan
pernafasan sendiri menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi
kardiovaskuler dan menyebabkan pula terjadinya kegagalan SSP
dimana penderita kehilangan kesadaran secara cepat diikuti dengan
kelemahan motorik bahkan mungkin pula terdapat renjatan
(seizure0. Kegagalan fungsi ginjal mengikuti kegagalan fungsi darah
dimana terdapat hipoksemia, hiperkapnia, dan lambat laun terjadi
asidosis respiratorik dan metabolik
d. Fenomena Check Valve

yaitu udara dapat masuk, tetapi tdk keluar. keadaan ini menyebabkan
terjadinya

empisema

paru,

bahkan

dapat

terjadi

empisema

mediastinum atau empisema subkutan


e. Udara dapat keluar masuk walaupun terjadi penyempitan saluran
nafas dari 3 bentuk keadaan ini, Obstruksi total adalah keadaan yg
terberat dan memerlukan tindakan yg cepat. dalam keadaan PCO 2
tinggi dgn kecepatan pernafasan 30/menit dlm usaha kompensasi
maksimal. Di atas keadaan ini, pasien tidak dapat mentoleransi. Bila
terjadi

hipoksemia,

menandakan

fase

permulaan

terjadinya

kegagalan pernafasan.
(Sumber : Buku Agenda Gawat Darurat, Jilid 2, Prof. Dr.. H. Tabrani
Rab)

Sumbatan Jalan nafas atas


-

Parsial
Masih bisa nafas, RR naik, nadi

Total
Udah ga bisa nafas, sianosis

Sumbatan jalan nafas bawah


-

Parsial
Total

Gejala dan tanda


-

Snoring pangkal lidah chin lift, jaw thrust, ETT


Gurgling cairan hipofaeing suction, finger swab+kapas
Stridor di plica vokalis cricoitiroidektomi, trakeostomi
Asfiksi
Sianosis

Apneu
Batuk
RR naik
Nadi naik

Benda Asing di Laring


Stridor, dispneu, apneu, disfagia, hemopsitis, pernafasan dengan otot-otot
tambahan, dapat pula terjadi sianosis (Hb
Orang anemia apakah ada sianosis? Sianosis tak kelihatan
Benda Asing di Trakhea
Lebih

berbahaya

daripada

menimbulkan asfiksia (???)

didalam

bronkhus

karena

dapat

. terdengar stridor dan akhirnya trjdi

sianosis yg disertai dgn edema


Benda Asing di Bronkhus
Biasanya

akan

tersangkut

pada

bronkhus

kanan,

oleh

karena

diameternya lebih besar dan formasinya dilapisi oleh sekresi bronkhus


sehingga menjadi besar
Benda Asing di Trankeobronkial
Pasien mengalami batuk yg hebat dan bersin-bersin selama beberapa
menit. Batuk ini diikuti wheezing (mengi) dan ila tdk terdapat riwayat
asma, maka hal ini harus dicurigai sbg benda asing, terutama bila
wheezing (mengi) terdapat di unilateral.

Berdasarkan tingkat obstruksi yg trjdi pda saluran nafas dibagi mnjdi 3


bagian, yaitu :
a. Dimana obstruksi yg tjd dpt menganggu ventilasi, maka hanya
ditemukan wheezing tanpa ditemukan gangguan pada parenkim paru

b. Bila terjadi obstruksi parsial, maka dapat terjadi check valve


phenomen atau empisema paru
c. Bila terjadi obstuksi total, maka akan terjadi atelektasis
(Sumber : Buku Agenda Gawat Darurat, Jilid 2, Prof. Dr.. H. Tabrani
Rab)
Stridor inspirasi pada kasus
Stridor ekspirasi
Stridor vs wheezing
Diagnosis
Gejala dan tanda
Gejala dan tanda dibagi menjadi 4 stadium (Jackson) :
I.
Sesak nafas, stridor inspirator, retraksi suprasternal,
keadaan umum masih baik
II.
Gejala stadium I + retraksi epigastrium, penderita mulai
gelisah
III.
Gejala stadium II + retraksi supra/infraklavikular, penderita
sangat gelisah dan sianotik
IV. Gejala stadium III + retraksi intercostals, penderita
berusaha sekuat tenaga untuk menghirup udara, lama
kelamaan terjadi paralisis pusat pernafasan, penderita
menjadi apatik dan akhirnya meninggal
Sumber : Kedaruratan Medik; Agus Purwadianto dan Budi
Sampurna

Sumbatan nafas totaltidak terdengar suara nafas atau


tidak terasa adanya aliran udara lewat hidung atau mulut,
terdapat pula tambahan adanya retraksi pada daerah
supraklavikula dan sela iga bila penderita masih bisa
bernafas spontan dan dada tidak mengembang pada waktu
inspirasi, bila dilakukan inflasi paru biasanya mengalami
kesulitan walaupun dengan teknik yang benar
Sumbatan nafas parsialterdengar aliran udara yang
berisik dan kadang-kadang disertai retraksi
bunyi lengkinglaringospasme
bunyi seperti orang kumursumbatan oleh benda asing

Sumber : Pertolongan Pada Kasus Gawat Darurat


(Bantuan Hidup Lanjut)
Tanda tanda penderita yang mengalami FBAO :
o Tampak kurangnya pertukaran udara dan
meningkatnya kesulitan bernafas seperti batuk yang
tidak bersuara, sianosis, atau tidak dapat bersuara
dan bernafas.
o Penderita memegang leher yang menampakkan
tanda umum tersedak
o Jika penderita ditanya apakah anda tersedak?
pasien mengannguk tanpa berbicarasumbatan
yang berat
o Pada anak dan bayitimbulnya gangguan
pernafasan tiba-tiba disertai batuk, tersedak, stidor,
dan wheezing
Bayi : Aspirasi mekonium
Penderita dengan kesadaran menurun mempunyai risiko
tinggi untuk terjadinya gangguan jalan nafas karena :
o Selalu akan timbul cairan dan reflex menelan hilang
o Reflex batuk hilang dengan akibat aspirasi dan
obstruksi airway. Keadaan ini kerap kali
memerlukan jalan nafas definitif
Tanda objektif obstruksi jalan nafas
o Look : apakah kesadaran penderita berubah
(gelisahhipoksia), sianosis (pada kuku, sekitar
mulut), penggunaan otot pernafasan tambahan
o Listen : pernafasan yang berbunyiobstruksi
ngorok (snoring)lidah jatuh ke belakang
gurglingdarah atau cairan
stridorobstruksi parsial faring/ laring
o Feel : rasakan pergerakan udaran ekspirasi dan
tentukan apakah trakea terletak di garis tengah
Teknik menjaga jalan nafas
o Chin lift
o Jaw thrust
o OPA
o NPA
Jalan nafas definitiveventilasi buatan dengan bantuan O2
o Intubasi oro-trachea
o Intubasi naso-trachea

o Surgical cricothyroidotomy
o Surgical tracheostomy
Sumber : Basic Trauma Life Support & Basic Cardiac
Life Support
Cari gambar combitube dan LMA
PF
PP
Blood Gas Artery

PO2

80-100 mmHg (normal)


60-79 mmHg hipoksemi ringan
40-59mmHg hipoksemi sedang
<40 mmHg hipoksemi berat

SaO2

95%-97% normal
< 90% hipoksemi

pH

7,35-7,45 normal
<7,35 asidemia
>7,45 alkaemia

PaCo2

35-45 mmHg normal


>45 mmHg hipoventilasi
<35 mmHg hiperventilasi

System respirasi

Takipneu, volume tidal turun,, dispneu, retraksi otot nafas, luban


hidung melebar

Saraf pusat

Sakit kepala
Kekacauan mental, agitasi
Mudah terangsang, cemas, bereringat
Mengantuk

Kardiovaskuler

Mula2 takikardi, kemudian bradikardi jika otot jantung tidak cuku

mendapat O2

Peningkatan tekanan darah diikuti dengan penurunan tekanan dara


jika tidak segera ditangani
Kulit

Sianosis sentral perifer

Penatalaksanaan sumbatan jalan nafas


Pemeriksaan Jalan Napas :
L = Look/Lihat gerakan nafas atau pengembangan dada, adanya retraksi sela iga,
warna mukosa/kulit dan kesadaran
L = Listen/Dengar aliran udara pernafasan
F = Feel/Rasakan adanya aliran udara pernafasan dengan menggunakan pipi
penolong

Gambar 1. Cara pemeriksaan Look-Listen-Feel (LLF) dilakukan secara simultan.


Cara ini dilakukan untuk memeriksa jalan nafas dan pernafasan.
Tindakan
Membuka jalan nafas dengan proteksi cervikal

Chin Lift maneuver (tindakan mengangkat dagu)


Jaw thrust maneuver (tindakan mengangkat sudut rahang bawah)
Head Tilt maneuver (tindakan menekan dahi)

Gambar dan penjelasan lihat dibawah.


Ingat! Pada pasien dengan dugaan cedera leher dan kepala, hanya
dilakukanmaneuver jaw thrust dengan hati-hati dan mencegah gerakan leher.
Untuk memeriksa jalan nafas terutama di daerah mulut, dapat dilakukan
teknik Cross Finger yaitu dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk yang
disilangkan dan menekan gigi atas dan bawah.

Bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga mulut
dilakukan pembersihan manual dengan sapuan jari.

Kegagalan membuka nafas dengan cara ini perlu dipikirkan hal lain yaitu
adanya sumbatan jalan nafas di daerah faring atau adanya henti nafas (apnea)

Bila hal ini terjadi pada penderita tidak sadar, lakukan peniupan udara
melalui mulut, bila dada tidak mengembang, maka kemungkinan ada sumbatan
pada jalan nafas dan dilakukanmaneuver Heimlich.

Gambar 2. Pemeriksaan sumbatan jalan nafas di daerah mulut dengan


menggunakan teknik cross finger
Tanda-tanda adanya sumbatan (ditandai adanya suara nafas tambahan) :
Mendengkur(snoring), berasal dari sumbatan pangkal lidah. Cara
mengatasi : chin lift, jaw thrust, pemasangan pipa orofaring/nasofaring,
pemasangan pipa endotrakeal.

Berkumur (gargling), penyebab : ada cairan di daerah hipofaring. Cara


mengatasi : finger sweep, pengisapan/suction.

Stridor
(crowing),
sumbatan
di
plika
vokalis.
Cara
mengatasi :cricotirotomi, trakeostomi.

2. Membersihkan jalan nafas


Sapuan jari (finger sweep)
Dilakukan bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing pada rongga
mulut belakang atau hipofaring seperti gumpalan darah, muntahan, benda asing
lainnya sehingga hembusan nafas hilang.
Cara melakukannya :

Miringkan kepala pasien (kecuali pada dugaan fraktur tulang leher)


kemudian buka mulut dengan jaw thrust dan tekan dagu ke bawah bila otot rahang
lemas (maneuver emaresi)

Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau dibungkus
dengan sarung tangan/kassa/kain untuk membersihkan rongga mulut dengan
gerakan menyapu.

Gambar 3. Tehnik finger sweep


3. Mengatasi sumbatan nafas parsial
Dapat digunakan teknik manual thrust

Abdominal thrust
Chest thrust
Back blow

Gambar dan penjelasan lihat di bawah!


Jika sumbatan tidak teratasi, maka penderita akan :

Gelisah oleh karena hipoksia


Gerak otot nafas tambahan (retraksi sela iga, tracheal tug)
Gerak dada dan perut paradoksal
Sianosis
Kelelahan dan meninggal

Prioritas utama dalam manajemen jalan nafas adalah JALAN NAFAS BEBAS!
Pasien sadar, ajak bicara. Bicara jelas dan lancar berarti jalan nafas bebas

Beri oksigen bila ada 6 liter/menit

Jaga tulang leher : baringkan penderita di tempat datar, wajah ke depan,


posisi leher netral

Nilai apakah ada suara nafas tambahan.

Gambar4. Pasien tidak sadar dengan posisi terlentang, perhatikan jalan nafasnya!
Pangkal lidah tampak menutupi jalan nafas
Lakukan teknik chin lift atau jaw thrust untuk membuka jalan nafas. Ingat
tempatkan korban pada tempat yang datar! Kepala dan leher korban jangan
terganjal!
Chin Lift
Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke depan
Caranya : gunakan jari tengah dan telunjuk untuk memegang tulang dagu pasien
kemudian angkat.
Head Tilt
Dlilakukan bila jalan nafas tertutup oleh lidah pasien, Ingat! Tidak boleh
dilakukan pada pasien dugaan fraktur servikal.
Caranya : letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah
sehingga kepala menjadi tengadah dan penyangga leher tegang dan lidahpun
terangkat ke depan.

Gambar 5. tangan kanan melakukan Chin lift ( dagu diangkat). dan tangan kiri
melakukan head tilt. Pangkal lidah tidak lagi menutupi jalan nafas.
Jaw thrust
Caranya : dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga barisan gigi
bawah berada di depan barisan gigi atas

Gambar 6 dan 7. manuver Jaw thrust dikerjakan oleh orang yang terlatih
Mengatasi sumbatan parsial/sebagian. Digunakan untuk membebaskan sumbatan
dari benda padat.

Back Blow (untuk bayi)


Bila penderita sadar dapat batuk keras, observasi ketat. Bila nafas tidak efektif
atau berhenti, lakukan back blow 5 kali (hentakan keras pada punggung korban di
titik silang garis antar belikat dengan tulang punggung/vertebrae)

Gambar 10. Back blow pada bayi


Gambar 8. Tampak ada orang yang tersedak atau tersumbat jalan nafasnya