Anda di halaman 1dari 2

Polimerisasi

Resin menjadi padat bila berpolimerisasi (Philips, 2002). Polimerisasi terjadi melalui
serangkaian reaksi kimia, dimana molekul makro atau polimer dibentuk dari sejumlah
molekul-molekul yang dikenal sebagai monomer (Philips, 2002).
Perbandingan polimer dan monomer yang tepat sangat penting, bila terlalu banyak
polimer dan tidak semua polimer terbasahi oleh monomer, maka akan terjadi butiran-butiran
serbuk-serbuk resin akrilik. Sedangkan bila terlalu banyak monomer akan terjadi penyusutan
(Combe, 1992). Perbandingan polimer dan monomer mempunyai peranan yang penting pada
struktur resin. Umumnya perbandingan volume polimer dan monomer adalah 3:1, atau
perbandingan berat adalah 2,5:1 (Philips, 2002).
Menurut Philips (2002), selama proses pencampuran polimer dan monomer
bercampur menjadi massa yang plastis, selanjutnya bahan tersebut mengalami lima tahapan
reaksi fisik, yaitu:
1. Sandy stage, yaitu terendamnya butir-butir polimer ke dalam monomer.

Butir-butir

polimer tetap tidak berubah, dan konsistensi adukan masih kasar atau berbutir.
2. Stringy siage, yaitu dimana polimer larut dalam monomer. Selama tahap ini monomer
menyerang permukaan masing-masing butiran polimer. Rantai-rantai polimer ini melepaskan
ikatan, sehingga meningkatkan kekentalan adukan. Tahap ini mempunyai ciri lengket bila
bahan disentuh atau ditarik.
3. Dough stage, pada tingkat molekul, jumlah rantai polimer yang memasuki larutan
meningkat. Tahap ini mempunyai ciri dimana bahan sudah tidak melekat, apalagi depegang
dengan tangan atau spatula, pada saat inilah dilakukan packing.
4. Rubbery stage, terjadi bila massa telah berubah menjadi seperti karet dan keras. Monomer
dihabiskan dengan penguapan, dan dengan penembus lebih jauh kedalam butir-butir polimer
yang tersisa.
5. Stiff stage, ditandai bila campuran tampak kering dan tidak bisa dibentuk lagi. Hal ini
disebabkan karena penguapan monomer bebas.
Menurut Philips (2002) waktu yang diperlukan untuk mencapai fase dough tergantung
dari beberapa faktor, yaitu:

1. Ukuran partikel dari polimer makin kecil ukuran partikelnya makin cepat waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai fase dough.
2. Berat molekul polimer, makin rendah berat molekul polimer, maka makin cepat fase
dough tercapai.
3. Banyak monomer yang digunakan. Semakin banyak monomer yang digunakan maka
semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai fase dough.
4. Ada tidaknya plasticizer berfungsi untuk mempersingkat waktu pembentukan fase dough.
5. Temperatur, semakin tinggi temperatur yang digunakan maka semakin pendek waktu
mencapai fase dough.
Menurut Combe (1992) reaksi kimia yang terjadi pada proses polimerasi yaitu:
1. Reaksi kondensasi
Reaksi antara dua molekul yang kemudian membentuk molekul yang lebih besar, dengan
menghilangkan molekul yang lebih kecil, biasanya molekul air.
2. Reaksi adhisi
Reaksi tambahan yang terjadi antara 2 molekul, baik sama atau tidak, membentuk molekul
yang lebih besar tanpa kehilangan molekul yang lebih kecil.