Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 1847 di RSU Viena ditemukan bahwa segala tindakan medis dapat
menularkan penyakit medis. Sebanyak 600 800 ibu mati dalam setahun karena demam yang
disebabkan karena petugas kesehatan yang menolong partus sebagai sumber infeksi. Menurut
buku Pedoman Depkes RI tahun 2003, kematian ibu bisa ditekan 11,4 % - 27 % setelah
wajib cuci tangan dengan klorin. Tahun 1889 pertama kali diperkenankan sarung tangan
sebgai salah satu prosedur dalam tindakan medis. Dengan menggunakan sarung tangan,
selain dapat melindungi diri dari infeksi, juga dapat dipergunakan untuk mencegah penularan
infeksi.
Sejak tahun 80-an Indonesia menerapkan kategori isolasi antara lain, isolasi
pernapasan, isolasi saluran cerna, isolasi perlindungan, dan isolasi Blood Precaution. Pada
tahun 1998 diperbaharui menjadi Universal Precaution atau biasa disebut Kewaspadaan
Universal. Universal Precaution sendiri berisi tentang perlindungan trhadap seluruh cairan
tubuh dengan melaksanakan beberapa standar perlindungan seperti cuci tangan, penggunaan
APD dan lain-lain. Pada Universal Precaution diharapkan petugas medis maupun pasien
dapat terhindar dari penularan berbagai macam infeksi.
Dengan menerapkan Universal Precaution pada setiap pelayanan ksehatan,
diharapkan angka kesakitan akibat penularan infeksi baik dari petugas kesehatan ke pasien
maupun dari pasien ke petugas kesehatan dapat ditekan.

BAB II
DAFTAR PUSTAKA

2.1 Definisi
Universal Precaution saat ini dikenal dengan kewaspadaan standar, kewaspadaan standar
tersebut dirancang untuk mengurangi risiko infeksi penyakit menular pada petugas kesehatan
baik dari sumber infeksi yang diketahui maupun yang tidak diketahui.
Kewaspadaan Universal atau Kewaspadaan Umum (KU) atau Universal Precaution (UP)
adalah suatu cara untuk mencegah penularan penyakit dari cairan tubuh, baik dari pasien ke
petugas kesehatan dan sebaliknya dari pasien ke pasien lainnya. Universal Precaution adalah
tindakan pengendalian infeksi sederhana yang digunakan oleh seluruh petugas kesehatan,
untuk semua pasien, setiap saat pada semua tempat, pelayanan dalam rangka pengurangi
risiko penyebaran infeksi.
Kewaspadaan Universal adalah suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan
pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi.
Kewaspadaan Universal hendaknya dipatuhi oleh tenaga kesehatan karena ia merupakan
panduan mengenai pengendalian infeksi yang dikembangkan untuk melindungi para pekerja
di bidang kesehatan dan para pasiennya sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit yang
disebarkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu. Penerapan Kewaspadaan umum
diharapkan dapat menurunkan risiko penularan patogen melalui darah dan cairan tubuh lain
dari sumber yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Penerapan ini merupakan
pencegahan dan pengendalian infeksi yang harus rutin dilaksanakan terhadap semua pasien
dan di semua fasilitas pelayanan kesehatan.

Kewaspadaan umum tersebut ditujukan untuk melindungi setiap orang (pasien, klien, dan
petugas kesehatan) apakah mereka terinfeksi atau tidak. Kewaspadaan baku berlaku untuk
darah, tubuh/semua cairan tubuh, sekresi dan ekskresi (kecuali keringat), luka pada kulit, dan
selaput lendir, kulit dan membran mukosa yang tidak utuh. Penerapan ini adalah untuk
mengurangi risiko penularan mikroorganisme yang berasal dari sumber infeksi yang
diketahui atau yang tidak diketahui (misalnya si pasien, benda yang terkontaminasi, jarum
suntik bekas pakai, dan spuit) di dalam sistem pelayanan kesehatan (Tietjen, dkk, 2004).
Menurut Claire (1987) yang dikutip Tietjen (2004), indikasi penggunaan praktik isolasi
tertentu seperti sarung tangan tertentu lebih efektif dari pada baju pelindung dalam
pencegahan

kontaminasi

silang

telah

dapat

diatasi

melalui

penelitian.

Namun

ketidakmampuan petugas administrasi dan klinik di negara miskin untuk menyediakan


perlengkapan pelindung, khususnya ketersedian sarung tangan baru, masih menjadi kendala.
Sebagai tambahan, tantangan menyediakan air bersih dan untuk mencapai standar yang dapat
diterima seperti proses penggunaan instrumen medis dan pembuangan sampah masih menjadi
persoalan di banyak negara.
2.2 Tujuan Kewaspadaan Umum (Universal Precaution)
Kewaspadaan umum perlu diterapkan dengan tujuan:
a. Mengendalikan infeksi secara konsisten.
b. Memastikan standar adekuat bagi mereka yang tidak terdiagnosa atau tidak terlihat
seperti risiko.
c. Mengurangi risiko bagi petugas kesehatan dan pasien.
d. Asumsi bahwa risiko atau infeksi berbahaya.

2.3 Pelaksanaan Kewaspadaan Umum (Universal Precaution)


Penerapan Kewaspadaan Universal merupakan bagian dari upaya pengendalian
infeksi di sarana pelayanan kesehatan yang tidak terlepas dari peran masing-masing pihak
yang terlibat di dalamnya yaitu pimpinan termasuk staf administrasi, staf pelaksana
pelayanan termasuk staf penunjangnya dan juga pengguna yaitu pasien dan pengunjung
sarana kesehatan tersebut. Penerapan Kewaspadaan Umum didasarkan pada keyakinan
bahwa darah dan cairan tubuh sangat potensial menularkan penyakit baik yang berasal
dari pasien maupun petugas kesehatan (Nursalam, 2007).
Penerapan Kewaspadaan Universal (Universal Precaution) didasarkan pada
keyakinan bahwa darah dan cairan tubuh sangat potensial menularkan penyakit, baik yang
berasal dari pasien maupun petugas kesehatan. Prosedur Kewaspadaan Universal ini juga
dapat dianggap sebagai pendukung program K3 bagi petugas kesehatan (Nursalam,
2007).
2.4 Komponen Utama Kewaspadaan Umum (Universal Precaution)
Menurut Tietjen (2004) penggunaan pembatas fisik, mekanik, atau kimiawi antara
mikroorganisme dan individu, misalnya ketika pemeriksaan kehamilan, pasien rawat inap
merupakan alat yang sangat efektif untuk mencegah penularan infeksi. Adapun prinsip
utama prosedur Kewaspadaan Universal dalam pelayanan kesehatan adalah menjaga
higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip
tersebut dijabarkan menjadi beberapa kegiatan pokok seperti:
a) Cuci Tangan
Mencuci tangan adalah prosedur kesehatan yang paling penting yang dapat
dilakukan oleh semua orang untuk mencegah penyebaran kuman. Mencuci tangan
adalah tindakan aktif, singkat dengan menggosok bersamaan semua permukaan
tangan dengan memakai sabun, yang kemudian diikuti dengan membasuhnya
dibawah air hangat yang mengalir. Tujuannya adalah untuk membuang kotoran dan
organisme yang menempel dari tangan dan untuk mengurangi jumlah mikroba
pada saat itu (Umar, 2005).

Cuci tangan harus selalu dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah
melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat
pelindung lain untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang ada
ditangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga
dari infeksi. Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan.
Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan. Aspek
terpenting dari mencuci tangan adalah pergesekan yang ditimbulkan dengan
menggosok tangan bersamaan mencuci tangan dengan sabun, dengan air mengalir
dan pergesekan yang dilakukan secara rutin (Nursalam, 2007).
Menurut Syawir (2011) ada beberapa sarana cuci tangan yaitu sebagai berikut:
1) Air Mengalir
Sarana utama untuk cuci tangan adalah ketersediaan air mengalir
dengan saluran pembuangan atau bak penampung yang memadai.
Dengan guyuran air mengalir tersebut maka mikroorganisme yang
terlepas karena gesekan mekanis atau kimiawi saat cuci tangan akan
bersih dan tidak menempel lagi di permukaan kulit. Air mengalir
tersebut dapat berupa kran atau dengan cara mengguyur dengan
gayung. Namun cara mengguyur dengan gayung memiliki risiko cukup
besar untuk terjadinya pencemaran, baik melalui gagang gayung
ataupun percikan air bekas cucian kembali ke bak penampungan air
bersih. Air kran bukan berarti harus dari PAM, namun dapat
diupayakan secara sederhana degan tangki berkran di ruang pelayanan
atau perawatan kesehatan agar mudah dijangkau oleh para petugas
kesehatan yang memerlukannya.
2) Sabun dan Deterjen
Bahan ini tidak membunuh mikroorganisme tetapi menghambat dan
mengurangi jumlah mikroorganisme dengan jalan mengurangi
tegangan

permukaan

sehingga

mikroorganisme

terlepas

dari

permukaan kulit dan mudah terhalau oleh air. Jumlah mikroorganisme


semakin berkurang dengan meningkatnya frekuensi cuci tangan.
Namun dilain pihak, dengan seringnya menggunakan sabun atau
deterjen maka lapisan lemak akan hilang dan membuat kulit menjadi
kering dan pecah-pecah. Hilangnya lapisan lemak akan memberi
peluang untuk tumbuhnya kembali mikroorganisme.
3) Larutan Antiseptik
Larutan antiseptik atau disebut juga antimikroba topikal yang dipakai
pada kulit atau jaringan hidup lainnya untuk menghambat aktivitas
atau membunuh mikroorganisme pada kulit. Antiseptik memiliki bahan
kimia yang memungkinkan untuk digunakan pada kulit dan selaput
mukosa. Antiseptik memiliki keragaman dalam hal efektivitas,
aktivitas, akibat dan rasa pada kulit setelah dipakai sesuai dengan
keragaman jenis antiseptik tersebut dan reaksi kulit masing-masing
individu. Kulit manusia tidak dapat disterilkan. Tujuan yang ingin
dicapai adalah penurunan jumlah mikroorganisme pada kulit secara
maksimal terutama kuman transien.

Menurut Syawir (2011) prosedur cuci tangan adalah sebagai berikut:


Sabun Cuci Tangan

Air mengalir

Larutan

a) Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir.

b) Taruh sabun di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa secukupnya
tanpa percikan.
c) Gerakan cuci tangan terdiri dari gosokan kedua telapak tangan, gosokan telapak
tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan sebaliknya, gosok kedua telapak
tangan dengan jari saling mengait, gosok kedua ibu jari dengan cara
menggenggam dan memutar, gosok telapak tangan. Proses berlangsung selama 1015 detik.
d) Bilas kembali dengan air sampai bersih.
e) Keringkan tangan dengan handuk atau kertas yang bersih atau tisu atau handuk
katun kain sekali pakai.
f) Matikan kran dengan kertas atau tisu.
g) Pada cuci tangan aseptik/ bedah diikuti larangan menyentuh permukaan yangtidak
steril.

b) APD
Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan untuk
melindungi diri dari sumber bahaya tertentu baik yang berasal dari pekerjaan

maupun dari lingkungan kerja dan berguna dalam usaha untuk mencegah dan
mengurangi kemungkinan cidera atau cacat, dan terdiri dari berbagai jenis
APD di rumah sakit yaitu sarung tangan, masker, penutup kepala, gaun
pelindung dan sepatu pelindung.
1) Sarung Tangan
Sarung tangan atau istilahnya handscoon merupakan salah satu
kunci dalam meminimalisasi penularan penyakit, merupakan alat yang
mutlak harus dipergunakan oleh petugas kesehatan termasuk perawat.
Pemakaian sarung tangan bertujuan untuk melindungi tangan dari
kontak dengan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret, kulit yang tidak
utuh, selaput lendir pasien dan benda yang terkontaminasi.
Menurut Tietjen, dkk, 2004 sampai sekitar 15 tahun lalu,
petugas kesehatan menggunakan sarung tangan untuk tiga alasan untuk
mengurangi risiko petugas terkena infeksi bakterial dari pasien,
mencegah penularan flora kulit petugas kepada pasien dan mengurangi
kontaminasi tangan petugas kesehatan dengan mikroorganisme yang
dapat berpindah dari satu pasien ke pasien lain.
Menurut Tenosis (2001) yang dikutip Tietjen (2004), walaupun
sarung tangan telah berulang kali terbukti sangat efektif mencegah
kontaminasi pada tangan petugas kesehatan, sarung tangan tidak dapat
menggantikan perlunya cuci tangan. Sarung tangan lateks kualitas
terbaik pun mungkin mempunyai kerusakan kecil yang tidak tampak.
Selain itu sarung tangan juga dapat robek sehingga tangan
dapat terkontaminasi sewaktu melepaskan sarung tangan. Tergantung
situasi, sarung tangan pemeriksaan atau sarung tangan rumah tangga
harus dipakai bila akan terjadi kontak tangan pemeriksa dengan darah
atau tubuh lainnya, selaput lendir, atau kulit yang terluka, akan
melakukan tindakan medik invasif (misalnya pemasangan alat-alat

10

vaskular seperti intravena perifer) dan akan membersihkan sampah


terkontaminasi atau memegang permukaan yang terkontaminasi
(Tietjen, dkk, 2004).

2) Masker
Masker berguna untuk melindungi alat pernapasan terhadap udara yang
terkontaminasi di tempat kerja atau di rumah sakit yang bertujuan
untuk melindungi dan mengurangi risiko tertular penyakit melalui
udara (Ramdayana,2009).

11

3) Penggunaan Gaun pelindung


Gaun bedah, petama kali digunakan untuk melindungi pasien dari
mikroorganisme yang terdapat di abdomen dan lengan dari staf
perawatan kesehatan sewaktu pembedahan.

4) Penggunaan Celemek (skort)


Jenis bahan dapat berupa bahan tembus cairan dan bahan tidak tembus
cairan. Tujuannya untuk melindungi petugas dari kemungkinan
genangan atau percikan darah maupun cairan tubuh lain yang dapat
mencemari baju seragam.

12

5) Sepatu tertutup
Sepatu tertutup dipakai pada saat memasuki daerah ketat. Sepatu ini
dapat berupa sepatu tertutup biasa sebatas mata kaki dan sepatu booth
tertutup yang biasa dipakai pada operasi yang memungkinkan
terjadinya genangan percikan darah atau cairan tubuh pasien, misalnya
pada operasi sectio caesarea atau laparatomy.

c) Keselamatan Menggunakan Jarum Suntik


Keselamatan menggunakan jarum suntik sebaiknya menggunakan tiaptiap jarum dan spuit hanya sekali pakai, tidak melepas jarum dari spuit setelah
digunakan, tidak menyumbat, membengkokkan, atau mematahkan jarum
sebelum dibuang dan membuang jarum dan spuit di wadah anti bocor.

13

Menurut Tietjen (2004) apabila jarum dan spuit sekali pakai tidak
tersedia dan perlu memasang kembali penutup jarum, maka gunakan metode
penutupan satu tangan dengan cara :
1) Tempatkan penutup jarum pada permukaan rata dan kokoh, kemudian
angkat tangan anda.
2) Kemudian dengan satu tangan memegang spuit, gunakan jarum untuk
menyekop tutup tersebut dengan penutup di ujung jarum, putar spuit
tegak lurus sehingga jarum dan spuit mengarah ke atas.
3) Akhirnya, dengan sumbat yang sekarang ini menutup ujung jarum
sepenuhnya, peganglah spuit ke arah atas dengan pangkal dekat pusat
(dimana jarum itu bersatu dengan spuit dengan satu tangan, dan
gunakan tangan lainnya untuk menyegel tutup itu dengan baik).

d) Sterilisasi Alat
Menurut Nystrom (1981) yang dikutip Tietjen (2004), dekontaminasi adalah
langkah pertama dalam mensterilkan instrumen bedah/tindakan, sarung tangan
dan peralatan lainnya yang kotor (terkontaminasi), terutama jika akan
dibersihkan dengan tangan misalnya, merendam barang-barang yang
terkontaminasi dalam larutan klorin 0,5 % atau disinfektan lainnya yang
tersedia dengan cepat dapat membunuh HBV dan HIV. Dengan demikian,
menjadikan instrumen lebih aman ditangani sewaktu pembersihan. Setelah

14

instrumen

dan barang-barang

lain

didekontaminasi,

kemudian

perlu

dibersihkan, dan akhirnya dapat disterilisasi atau didisinfeksi tingkat tinggi.


Proses yang dipilih untuk pemrosesan akhir bergantung pada apakah
instrumen ini akan bersinggungan dengan selaput lendir yang utuh atau kulit
yang terkelupas atau jaringan di bawah kulit yang biasanya steril.

e) Kewaspadaan Berdasarkan Penularan


Kewaspadaan ini dimaksudkan hanya untuk pasien yang diketahui atau
sangat dicurigai telah terinfeksi oleh patogen yang ditularkan lewat kontak
langsung khususnya penyakit Hepatitis B, dan patogen enterik, herpes
simplex, infeksi kulit atau mata. Dalam hal ini jika ada proses infeksi pada
pasien tanpa diketahui diagnosisnya, pelaksanaan kewaspadaan berdasarkan
penularan, secara empirik harus dipertimbangkan sampai diagnosis definitif
dibuat (Nursalam, 2007).

15

Daftar Pustaka
1. Buku Pedoman Departemen Kesehatan RI 2003
2. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33800/4/Chapter%20II.pdf