Anda di halaman 1dari 23

Gambaran Eosinopilia pada penderita cacingan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius,
terutama di daerah tropis karena cukup banyak penduduk menderita cacingan.
Penyakit cacingan dapat mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap
penyakit dan terhambatnya tumbuh kembang anak, karena cacing mengambil sari
makaan yang penting dari tubuh, misalnya protein, karbohidrat dan zat besi yang
dapat menyebab anemia (Irianto, K. 2009).
Penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing masih banyak dijumpai di
Indonesia.Beberapa jenis cacing bulat (nematode) terutama yang termasuk dalam
kelompok cacing usus sangat prevalen. Di beberapa daerah, prevalensinya dapat
mencapai 70-80%. Beberapa cacing lain yang termasuk cacing daun (trematoda)
dan cacing pita (cestoda) tidak jarang pula dijumpai. Hal ini menunjukkan bahwa
penyakit cacing masih merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia
(Gunawan, P, et al. 1987).
Kebanyakan cacing memerlukan suhu dan kelembapan udara tertentu, untuk
hidup dan berkembang biaknya. Sebagian cacing memerlukan vertebrata atau
invertebrata tertentu sebagai host, misalnya: ikan, siput, crustacean, atau serangga,
dalam siklus(lingkaran) hidupnya. Di daerah tropis, host-host ini juga banyak
berhubungan dengan manusia, karena tidak adanya pengendalian dari masyarakat
setempat (Entjang, I. 2001).
Eosinopilia bukan merupakan suatu penyakit,tetapi merupakan respon
terhadap suatu penyakit. Peningkatan jumlah eosinopil dalam darah biasanya
menunjukkan respon yang tepat terhadap infeksi parasit atau bahan-bahan
penyebab reaksi alergi (Balqis, U. 2007).
Sel eosinopil ini meningkatkan kemampuannya untuk membunuh atau
merusak parasit dan mendukung peran penyelenggaraan fisiologi tanggapkebal
terhadap berperantaraan IgE dalam mengontrol parasit cacing. Kejadian eosinopilia
merupakan karakter yang berhubungan dengan infestasi cacing parasit atau reaksireaksi hipersensitivitas tipe 1 lainnya. Salah satu tugas sel eosinopil adalah
penghancuran (destruksi) cacing parasit (Balqis, U. 2007))

Sel eosinopil terikat pada parasit terlapis antibodi karena sel eosinopil
memiliki reseptor ketika berikatan, sel eosinopil mendegranulasi dan melepaskan
kandungan granulanya di atas permukaan kutikula cacing. Sel eosinopil juga
berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan infeksi cacing yang
ditandai dengan peningkatan jumlah sel eosinopil di dalam jaringan (Balqis, U. 2007)
Demikian pula halnya disekitar pinggiran rel kelurahan Banten Kecamatan
Medan Tembung dimana masih banyak anak-anak yang berumur 5-10 tahun belum
mengetahui

tentang

pentingnya

kebersihan.

Infeksi

cacingan

ini

biasanya

menyerang karena mereka kurang peduli terhadap kebersihan diri sendiri, banyak
diantara mereka yang sering bermain-main menggunakan media tanah, di tempattempat lembab, tanpa menggunakan alas kaki dan tidak segera mencuci tangan
sehabis bermain dan masih banyak anak-anak yang kukunya panjang dan kotor. Hal
tersebut menyebabkan tangan mereka dapat terkontaminasi dengan telur cacing.
Disamping itu masih banyak makanan yang diperjualbelikan secara terbuka di
pinggir jalan, dimana makanan tersebut bisa saja mengandung telur cacing yang
terbawa oleh vector perantara seperti lalat. Infeksi terjadi dengan tertelannya telur
yang berisi embrio. Sehingga dengan cepat infeksi cacingan dapat menyerang dan
dapat mengakibatkan jumlah eosinofil akan meningkat dalam darah.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah ini adalah bagaimana Gambaran Eosinopil Pada Anakanak Umur 5-10 Tahun Yang Terinfeksi Cacingan Yang Bermukim di Pinggiran Rel
Kelurahan Banten Kec Medan Tembung.
C. Tujuan Penelitian

C.1Tujuan Umum
Untuk mengetahui jumlah eosinopil pada apusan darah tepi pada Anak-anak
berumur 5-10 tahun di Pinggiran Rel Kelurahan Banten Kec Medan Tembung yang
terinfeksi cacing.
C.2 Tujuan Khusus

Untuk mengetahui jumlah eosinopil dalam darah yang teinfeksi cacingdengan

metode diftell.
Untuk mengetahui penyebab ketidaknormalan jumlah eosinopil pada darah yang
terinfeksi.
D. Manfaat Penelitian

D.1 Bagi peneliti


Untuk menambah wawasan pengetahuan dan sebagai bacaan untuk peneliti.
D.2 Bagi instiusi
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan bahan
masukan kepada pihak pendidikan Poltekkes Kemenkes Medan, khususnya jurusan
Analis Kesehatan Medan.
D.3 Bagi tempat penelitian
Sebagai sumber pengetahuan informasi tentang gambaran eosinopil pada
penderita cacingan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Darah
A.1 Pengertian Darah
Suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang warnanya
merah. Warna merah itu keadaannya tidak tetap tergantung pada banyaknya 0 2 dan
CO2 di dalamnya. Adanya 02 dalam darah diambil dengan jalan bernafas dan zat ini
sangat berguna dalam peristiwa pembakaran/ metabolisme di dalam tubuh. Darah
selamanya berada dalam tubuh oleh karena adanya kerja atau pompa jantung dan
selama darah berada dalam pembuluh maka darah akan tetap encer. Tetapi kalau
keluar dari pembuluhnya maka darah akan menjadi beku. Pembekuan ini dapat

dicegah dengan jalan mencapurkan kedalam darah tersebut sedikit obat anti
pembekuan. Dan keadaan ini sangat berguna apabila darah tersebut diperlukan
untuk transfusidarah (Syaifuddin, B. 1992).
A.2 Komponen Selular
Dalam darah ada tiga macam atau jenis sel, dua sel diantaranya memang
berbentuk sel, dengan membran sel yang jelas dan dapat dilihat dibawah mikroskop,
sementara satu lainnya terkesan sebagai keping-keping artefak dalam sediaan apus
darah dilihat di bawah mikroskop. Kedua sel yang disebut pertama adalah sel darah
merah atau eritrosit dan sel darah putih atau leukosit, sedangkan sel yang disebut
terakhir adalah sel pembeku darah atau trombosit atau platelet. Ketiga sel tersebut
berada di dalam darah tepi setelah melewati perkembangan sel dari sel moyang
yang sama (sering disebut stem cell atau sel punca) di jaringan pembentuk darah
atau hematopoietic (Salam, A. 2012)
A.2.a Sel Darah Merah (Eritrosit)
Sel darah merah adalah sel yang memiliki fungsi khusus untuk
mengangkut oksigen ke jaringan-jaringan tubuh dan membantu pembuangan karbon
dioksida dan proton yang dihasilkan oleh metabolisme jaringan tubuh. Berbeda
dengan dua sel darah lainnya, sel darah merupakan sel darah terbanyak dengan
struktur sederhana dibandingkan dengan sel tubuh lain (Salam, A. 2012).
Kalau kita periksa dan kita lihat dibawah mikroskop maka nyatalah bahwa
eritrosit dapat diterangkan sebagai berikut: Bentuknya seperti cakram/bikonkap dan
tidak mempunyai inti. Ukurannya kira-kira 7,7 unit (0.007mm) diameter, tidak dapat
bergerak. Banyaknya kira-kira 5 juta dalam 1mm (4-5 juta). Warnanya kuning
kemerahan karena didalamnya mengandung suatu zat yang disebut haemoglobin,
warna ini akan bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung 0 2 dari paruparu untuk diedarkan keseluruh bagian tubuh danmengikat CO 2 dari jarinagn tubuh
untuk dikeluarkan melalui paru-paru (Syaifuddin, B. 1992).
A.2.b Sel Darah Putih (Leukosit)
Keadaan bentuk dan sifat-sifat leukosit berlainan dengan eritrosit dan apabila
kita periksa dan kita lihat dibawah mikkroskop maka akan terlihat: Bentuknya yang
dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu
(pseudopodia), mempunyai bermacam-macam inti sel sehingga dapat menurut inti

selnya, warnanya bening (tidak berwarna), banyaknya dalam 1mm darah kira-kira
6.000-9.000.
Funginya:
a. Sebagai serdadu tubuh, yaitu: membunuh dan memakan bibit penyakit/bakteri yang
masuk ke dalam mtubuh jaringan RES (Sistim Retikolo Endotel), tempat
pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar limfe.
b. Sebagai pengangkut, yaitu: mengangkut/membawa zat lemak dari dinding usus
melalui limpa terus ke pembuluh darah (Syaifuddin, 1992).
A.2.c Sel Pembeku (Trombosit)
Merupakan benda-benda kecil yang mati yang bentuk dan ukurannya
bermacam-macam, ada yang bulat, ada yang lonjong, warnanya putih, banyaknya
normal pada orang dewasa 200.000-300.000/mm
Fungsinya memegang peranan penting di dalam pembekuan darah. Jika
banyaknya kurang dari normal maka kalau ada luka darah tidak lekas membeku
sehingga timbul perdarahan yang terus-menerus. Trombosit lebih dari 300.000
disebut trombositosis. Trombosit yang kurang dari 200.000 disebut trombositopenia.
Di dalam plasma darah terdapat suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa
pembekuan darah, yaitu Ca dan fibrinogen.Fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh
mendapat luka (Syaifuddin, B. 1992).
A.3 Komponen Non-selular
Selain komponen selular yang disebut diatas, darah mengandung komponen
non-selular cair yang disebut plasma darah. Dalam plasma darah terkandung
molekul mikro sampai molekul makro, baik yang bersifat larut air (hidrofilik) sampai
yang tidak larut air (hidrofobik atau lipofilik), serta atom-atom maupun ion-ion.
Sebagai cairan tubuh vital, darah memiliki karakteristik pH dan tekanan osmosis
yang harus dipertahankan normal dengan komposisi bahan-bahan

yang

dikandungnya (Salam, A. 2012).


A.4 Jenis-jenis Leukosit
A.4.a Leukosit Granular
Granulosit memiliki 2 jenis granul: Granula Spesifik yang mengikat komponen
netral, basa, atau asam dari campuran pewarna dan memiliki fungsi khusus, dan
Granula Azurofilik. Granula azurofilik terpulas ungu dan merupakan lisosom.
Granulosit memiliki inti dengan 2 atau lebih lobus dan mencakup netropil, eosinopil

dan basopil. Semua granulosit adalah sel terminal yang tidak membelah lagi,
dengan jangka hidup beberapa hari dan mati melalui apoposis (kematian sel
terprogram) di dalam jaringan ikat. Granulosit memiliki sedikit mitokondria
(metabolisme energy rendah dan lebih banyak bergantung pada glikolisis, oleh
karena itu, granulosit mengandung glikogen dan dapat berfungsi di daerah yang
miskin oksigen, seperti daerah inflamasi (Junqueira, L.C., Jose, C. 2007).
a. Neutropil
Neutropil merupakan 60-70 % dari leukosit yang beredar. Diameternya 12-15m
(pada sediaan apus darah), dengan inti yang terdiri atas 2-5 (biasanya 3) lobus yang
dihubungkan oleh benang kromatin halus, pada wanita, kromosom X yang inaktif
tampak sebagai alat pemukul drum di salah satu lobus inti. Namun ciri khas ini tidak
jelas terlihat disemua neutropil dalam sediaan apus darah. Sitoplasma neutropil
mengandung 2 jenis granul utama. Granul yang lebih banyak adalah granul spesifik,
yamg terlihat kecil , dekat ambang batas resolusi mikroskop cahaya.
Populasi granul kedua dalam neutropil terdiri atas granul azurofil, yang
merupakan lisosom yang berdiameter 0,5 m. Neutropil juga mengandung glikogen
di dalam sitoplasmanya.
Glikogen dirombak menjadi glukosa untuk menghasilkan energi melalui jalur
glikolisis dari oksidasi glukosa. Siklus asam sitrat kurang berperan penting, seperti
yang diduga karena sedikitnya mitokondria dalam sel-sel ini .Kesanggupan neutropil
bertahan hidup lingkungan anaerob sangat menguntungkan, karena dapat
mematikan bakteri dan membantu membersihkan debris di daerah miskin oksigen,
misalnya jaringan perdangan atau jaringan nekrosis.
Neutropil adalah sel berumur pendek , dengan waktu paruh 6-7 jam dalam darah
dan memiliki jangka hidup selama 1-4 hari dalam jaringan ikat, tempat leukosit
menemui ajalnya melalui apoptosis .Neutropil adalah sel apopotis yang aktif
terhadap bakteri dan partikel kecil lainnya. Neutropil tidak aktif dan berbentuk bulat
saat beredar, namun memperlihatkan pergerakan ameboid aktif saat sel ini melekat
pada substrat padat, seperti kolagen dalam matriks ekstrasel (Junqueira, L.C., Jose,
C. 2007).
b.

Eosinopil
Eosinopil jauh lebih sedikit dari pada neutropil, dan merupakan 2-4% leukosit

dalam darah normal. Pada sediaan apus darah, sel ini berukuran kurang lebih sama
dengan neutropil dan mengandung inti bilobus yang khas. Ciri utama untuk

mengenalinya adalah adanya granul spesifik berukuran besar dan lonjong (sekitar
20 per sel) yang terpulas dengan eosin.
Granul spesifik eosin memiliki pusat kristal (internum) yang terletak paralel
terhadap sumber panjang granul. Granul eosinopil mengandung sebuah protein
yang disebut protein dasar mayor yang banyak mengandung residu arginin. Protein
ini merupakan 50% dari total protein granul dan menyebabkan terbentuknya sifat
eosinofilik di granul tersebut. Protein dasar mayor agaknya juga berfungsi untuk
membunuh cacing seperti schistosoma.
Di dalam jaringan, eosinopil ditemukan di jaringan ikat bawah epitel bronki,
saluran cerna, uterus, dan vagina, dan mengelilingi cacing. Selain itu sel-sel ini
manghasilkan zat yang memodulasi peradangan melalui inaktivasi leukotrien dan
histamin yang dihasilkan sel-sel lain. Eosinofil memfagositosis komplek antigen
antibodi (Junqueira, L.C., Jose, C. 2007).
Eosinopil tidak memfagositosis bakteri dan memusnahkan intra sel, meskipun
tersebar luas dalam jaringan ikat, eosinopil terutama banyak di bawah epitel saluran
cerna dan saluran napas, tempat protein asing kemungkinan besar masuk .Eosinopil
terlibat dalam pengendalian kerusakan pada reaksi alergi. Eosinopil tertarik ke
tempat pelepasan histamin, dan enzimnya dapat mengatasi ini dan mediator lain dari
reaksi alergi. Seringnya terpapar terhadap antigen di ikuti peningkatan eosinopil.
Faktor-faktor yang mengatur pelepasan dari sumsum tulang belum dimengerti, tetapi
ada bukti bahwa interleukin-5 dan sitokinin lain yang dilepaskan ke tempat terjadinya
reaksi antigen-antibodi, merangsang poliferasi perkursor dan pembebasan eosinopil
ke dalam darah. Penyuntikan hormon

adrekortikotropin atau hidrokortison

meyebabkan pengurangan eosinopil yang beredar (Fawcett, D. W. 2002)


c.

Basopil
Basopil merupakan leukosit granular yang paling sedikit jumlahnya, hanya 0,5%

dari hitung jenis leukosit. Basopil sedikit lebih kecil dari neutropil. Berdiameter 10m
pada apusan darah terpulas. Nukleusnya sering berbentuk u atau j, dan karenanya
dapat terlihat bilobus pada sediaan. Granula spesifik relatif lebih sedikit dan lebih
besar dari pada yang eosinopil. Granul basopil metakromatik, terpulas ungu dengan
biru toluidin atau tionin alkoholik. Pada manusia, basofil sebagian larut air dan dapat
berubah bentuk atau larut sebagian pada pulasan berair, tetapi pada apusan kering,
basopil biasanya terawetkan. Ukuran, sifat pemulasan dan kelarutan granul-granul
itu bervariasi dari satu spesies ke spesies lain. Pada marmut, basofil besar dan tidak
larut dalam air, tetapi hanya tepulas ringan. Pada anjing, basopil kecil-kecil dan

berhimpitan. Pada kucing, tikus dan mencit, basopil tidak ditemukan dalam darah
(Fawcett, D.W. 2002).
Terdapat beberapa kemiripan antara granula basopil dan granula sel mast.Kedua
granul

tersebut

bersifat

metakromatik

dan

mengandung

heparin

dan

histamine.Sebagai reaksi terhadap antigen tertentu, basopil dapat melepaskan isi


granulanya, seperti halnya sel mast. Meskipun kemiripannya banyak, basopil dan
sel mast tidak sama sekalipun, kedua sel tersebut memiliki struktur yang berbeda
dan berasal dari sel induk (sel stem) yang berbeda pula dalam sumsum tulang
(Junqueira, L.C., Jose, C. 2007).
A.4.b Leukosit Agranular
Agranulosit tidak memiliki granul spesifik, namun sel ini mengandung granul
azurofilik (lisosom) yang mengikat zat warna azur pada pulasan. Inti granulosit
berbentuk bulat atau berlekuk. Kelompok sel ini meliputi Limfosit dan Monosit
(Junqueira, L.C., Jose, C. 2007).
a. Limfosit
Didalam darah manusia, limfosit merupakan sel-sel bulat dengan berdiameter
bervariasi antara 6-8 m. Jumlah limfosit adalah 20-30% dari leukosit darah
normal.Gambaran yang mencolok dari limfosit kecil adalah inti yang relative besar di
sekitar sitoplasma sempit.Inti tampak bulat dan pada umumnya memnunjukkan
lekukan pada satu sisi (Leeson, C.R., Thomas, S.L., Anthony, A.P. 1996)
Limfosit dengan garis tengah 6-8 m dikenal sebagai limfosit kecil. Di dalam
peredaran darah, terdapat sedikit limfosit yang berukuran sedang dan besar dengan
garis tengah yang mencapai 18m. Perbedaan ini mempunyai arti fungsional karena
limfosit yang berukuran lebih besar diyakini adalah sel yang telah diaktifkan oleh
antigen spesifik. Sitoplasma limfosit kecil sangat sedikit dan pada sediaan apus
darah tampak sebagai tepian tipis di sekitarinti. Sitoplasma limfosit bersifat basa
lemah dan berwarna biru muda pada sediaan yang terpulas. Sitoplasma ini mungkin
mengandung sedikit granul azurofilik. Sitoplasma limfosit kecil mengandung sedikit
mitokondria dan sebuah kompleks golgi kecil, sel ini mengandung poliribosom
bebas. Jangka hidup limfosit bervariasi, sebagian hanya hidup beberapa hari dan
yang lain bertahan di sirkulasi darah bertahun-tahun lamanya. Limfosit adalah satusatunya jenis leukosit yang kembali ke darah dari jaringan, setelah limfosit
mengalami diapedesis (Junqueira, L.C., Jose, C. 2007).

b. Monosit
Monosit adalah agranulosit yang berasal dari sum-sum tulang ini berdiameter
antara 12-20 m. Intinya lonjong, berbentuk tapal kuda atau berbentuk ginjal dan
umumnya terletak eksentris. Kromatinnya kurang padat dan tersusun lebih fibrilar
dari pada limfosit. Karena penyebaran kromatin yang baik ini, inti monosit berwarna
lebih pucat daripada inti limfosit besar (Junqueira, L.C., Jose, C. 2007)..
Bahan kromatin dalam inti tersusun sebagai jala-jala halus, sehingga inti dapat
terpulas gelap seperti pada sajian hapus pada limfosit. Sitoplasma relative banyak
dengan pulasan wright berupa biru abu-abu pada sajian kering. Ia sering tampak
seperti jala-jala atau bervakuola dan mengandung sejumlah granula azurofil.
Granula tersebut merupakan lisosom primer dan umumnya jumlahnya lebih banyak,
tetapi lebih kecil dari pada yang ada dalam limfosit. Sitoplasma juga mengandung
beberapa reticulum endoplasma granular tetapi lebih sedikit ribosom bebasnya dari
pada yang terdapat di dalam limfosit (Leeson, C.R., Thomas, S.L., Anthony, A.P.
1996)
A.5 Perkembangan Leukosit Eosinopil
Pada keadaan fisiologis, eosinopil pada awalnya dikenali dengan tahap
promielosit di sumsum tulang.
A.5.a Promielosit eosinopilik
Jarang ditemukan, memiliki ciri-ciri sel yang khas untuk suatu promielosit,
dengan tambahan granula eosinopil dalam sitoplasma, yang menyelubungi granulasi
azurofilik, bergantung pada jumlahnya. Bergantung pada pemulasannya (nilai pH
larutan Giemsa cair), granula eosinopil terlihat sebagai bola kecil berwarna abu-abu
hitam, coklat hijau, coklat karat atau merah bata, yang kadang-kadang juga
menutupi inti sel. Granula abu-abu hitam kurang matang dibandingkan dengan
granula yang berwarna kemerahan sehingga hanya dijumpai pada tahap perkursor
leukosit eosinopilik (Freund, M. 2011).
A.5.b Mielosit eosinopilik
Lebih sering ditemukan, inti dan hubungan sitoplasma-inti serupa seperti
pada mielosit neutropil.Sitoplasma terisi dengan granula eosinopil, yang terutama
berwarna kemerahan atau cokelat merah.Bagian sitoplasma yang tidak tertutupi oleh
granula terlihat sedikit basofilik (Freund, M. 2011).

A.5.c Metamielosit eosinopil dan leukosit eosinopilik berinti batang


Karena proses pematangan inti yang berlangsung cepat, kedua kelompok sel
ini jarang dijumpai. Secara morfologis, kedua kelompok sel ini mempunyai bentuk
yang serupa dengan seri neutropil, tetapi dilengkapi dengan granula eosinopil yang
matang (Freund, M. 2011).
A.5.d Leukosit eosinopil berinti segmen
Bentuk sel yang paling matang pada granulopoiesis eosinopil mampu
bermigrasi ke dalam darah perifer. Inti tampak mencolok dengan dua segmen
(bentuk kacamata) dengan jembatan antar segmen-segmen yang berupa benangbenang halus. Kromatin tampak seperti gumpalan kasar. Sitoplasma kebanyakan
terisi penuh dengan granula eosinopil matang, yang diameternya dapat berbedabeda. Warna dasar sitoplasma adalah basofilik muda, yang hanya dapat dilihat pada
daerah yang terbebas dari granula (Freund, M. 2011).
A.6 Kelainan-kelainan Leukosit
A.6.a Neutropilia
dijumpai pada :
a. Infeksi bakteri ( khususnya bakteri piogenik, local atau generalisata)
b. Inflamasi dan nekrosis jaringan, misalmnya miositis, vaskulitis, infark jantung dan
c.
d.
e.
f.
g.

trauma.
Kelainan metabolic, misalnya uremia, eklampsia, asidosis, gout.
Semua jenis neoplasma, misalnya karsinoma, limfoma, melanoma.
Pendarahan akut dan hemolisis.
Terapi kortikosteroid (menghambat marginasi).
Penyakit mieloproliferatif, misalnya leukemia myeloid kronik, polisitemia vera,
mielosklerosis.

h. Pengobatan dengan faktor pertumbuhan myeloid, misalnya G-CSF, GM-CSF.


A.6.b Eosinopilia
di jumpai pada :
a. Penyakit alergi, khususnya hipersensitivitas jenis atopic, misalnya sma bronchial,
hay fever, urtikaria dan sensitivitas terhadap makanan.
b. Penyakit parasit, misalnya amubiasis, cacing tambang, askarlasis, infestasi caicng
pita, filarisis, skistosomiasis, dan trikomikosis.
c. Pemilihan dari infeksi akut.
d. Penyakit tertentu, misalnya psoriasis, pemfigus, dan dermatitis hepertiformis.
e. Eosinopilia pulmonal dan sindrom hiperesinofilik.

f.
g.
h.
i.
j.

Sensitiivitas obat.
Poliarteritis nodosa.
Penyakit Hodgkin dan beberapa tumor lain.
Keganasan metastasis dengan nekrosis tumor.
Leukimia eosinopilik (jarang).

k. Pengobatan dengan GM-CSF.


A.6.c Basopilia
dijumpai pada :
a. Kelainan mieloproloiferatif seperti leukemia kronik atau polisitemia vera.
b. Infeksi cacar atau cacar air.
c. Kolitis ulseratif.
A.6.d Monositosis
dijumpai pada :
a.
b.
c.
d.
e.

Infeksi bakteri kronik : tuberculosis, bruselopsis, endokartritis, tifoid.


Infeksi protozoa.
Nitropenia kronik.
Penyakit Hodgkin dan keganasan lain.
Mielodisplasia (khususnya leukemia mielomonisitik kronik).

f. Pengobatan dengan GM-CSF atau M-CSF.


A.6.e Limfositosis
dijumpai pada :
a. Infeksi akut :Mononukleosis infeksiosa, rubella, pertussis, limfositosis infeksi akut,
b.
c.
d.
e.
f.

hepatitis infeksiosa, sitomegalovirus, HIV, herpes simpleks atau zoster.


Infeksi kronik : tuberculosis, toksoplasmosis, bruselosis, sifilis.
Leukimia limfositik kronik.
Leukimia limfoblastik akut.
Limfoma non-hodgkin.
Tirotoksikosis (Hoffbrandd, A.V., Pettit, J.E., Moss, P.A.H. 2005)
B. Eosinopilia
Peningkatan jumlah eosinopil (eosinopilia) berhubungan dengan reaksi alergi
dan infeksi cacing (parasit). Di dalam jaringan, eosinopil ditemukan di jaringan ikat
bawah epitel bronki, saluran cerna, uterus, dan vagina, dan mengelilingi cacing.
Selain itu, sel-sel ini menghasilkan zat yang memodulasi peradangan melalui
inaktivasi leukotrien dan histamin yang dihasilkan sel-sel lain. Eosinopil juga
memfagositosis kompleks antigen-antibodi berperantaraan IgE dalam mengontrol
parasit

cacing,

sel

eosinopil

mendegranulasi

granulanya di atas permukaan kutikula cacing


Carneiro, 2007).

dan

melepaskan

kandungan

(Luiz Carlos Junqueira, Jose

C. Pengertian Cacingan
Cacingan (atau sering disebut kecacingan) merupakan penyakit endemic dan kronik
diakibatkan oleh cacing parasit dengan prevalansi tinggi, tidak mematikan, tetapi
menggerogoti tubuh manusia sehingga berakibat menurunnya kondisi gizi dan kesehatan
masyarakat. Cacing yang populer sebagai parasit saat ini adalah cacing gelang (Acaris
lumbricoides), cacing kremi (Oxyuris vermikularis), cacing pita (Taenia solium) dan cacing
tambang ( Ancylostoma duodenale).
Di Indonesia, pemyakit cacing adalah penyakit rakyat umum, infeksinya pun dapat
terjadi secara simultan oleh beberapa jenis cacing sekaligus. Diperkirakan lebih dari 60%
anak-anak Indonesia menderita suatu infeksi cacing, rendahnya mutu sanitasi menjadi
penyebabnya. Pada anak-anak, cacingan akan berdampak pada gangguan kemampuan
untuk belajar, dan pada orang dewasa akan menurunnya produktivitas kerja. Dalam jangka
panjang, hal ini akan berakibat menurunnya kualitas sumber daya manusia (Zulkoni, A.
2010).

C.1 Gejala Dan Tanda Fisik Yang Ditemukan Pada Penderita Cacingan
Gejala yang timbul pada penderita cacingan adalah Gatal disekitar dubur terutama
pada malam hari yaitu, saat cacing betina meletakkan telurnya, gelisah dan sukar tidur.Rasa
tidak enak pada perut (gangguan lambung), kejang perut, diselilingi dengan diare,
kehilangan berat badan, demam, nyeri di ulu hati, kehilangan nafsu makan, diare, anemia
(Irianto, K. 2009).

C.2 Sumber Infeksi


Serangga, seperti nyamuk dan lalat penghisap darah, disamping sebagai intermediet
host, juga merupakan bagian dari lingkaran hidup cacing. Penyebaran telur cacing yang
keluar bersama feces penderita, tidak hanya berkaitan dengan cuaca, seperti hujan, suhu
dan kelembapan udara, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan dan kesadaran
masyarakat tentang sanitasi. Kebiasaan menggunakan feces manusia sebagai pupuk
tanaman menyebabkan semakin luasnya pengotoran tanah, persediaan air rumah tangga
dan

makanan

tertentu,

misalnya

sayuran,

akan

meningkatkan

jumlah

penderita

helminthiasis.
Demikian juga kebiasaan makan masyarakat, menyebabkan terjadinya penularan
penyakit cacing tertentu. Misalnya kebiasaan makan secara mentah atau setengah matang,

ikan, kerang, daging atau sayuran. Bila di dalam makanan tersebut terdapat kista atau larva
cacing, maka siklus cacing menjadi lengkap, sehingga terjadi infeksi pada manusia (Entjang,
I. 2001).

C.3 Pemeriksaan Untuk Cacingan


Diagnosis penyakit cacing ditegakkan dengan menemukan telur, larva dan cacing
dewasanya pada feces (Guanawan, P, 1987).

C.4 Kerangka Konsep


Higiene
Ligkungan
Usia
Jumlah Eosinopil
Normal
Abnormal:
Meningkat
Menurun

C.5 Defenisi operasional


1.
2.
3.
4.

Higiene adalah kondisi kebersihan pribadi ataupun makanan


Lingkungan adalah keadan lingkungan ataupun sanitasi lingkungan
Usia adalah umur penderita cacingan
Eosinopil adalah jenis leukosit yang berfungsiuntuk membunuh atau merusak parasit dan
mendukung peran penyelenggaraan fisiologi tanggap kebal terhadap berperantaraan igE

dalam mengontrol parasit cacing


5. Normal adalah jumlah eosinopil yang berada di antara 0-1 %
6. Meningkat adalah jumlah eosinopil yang melebihi nilai normal
7. Menurun adalah jumlah eosinopil berada dibawah nilai normal

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis dan desain penelitian yang akan dilakukan dengan survey langsung yang
bersifat deskriptif.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


Pada penelitian ini pemeriksaaan sampel dilakukan dilaboratorium hematologi
jurusan Analis Kesehatan Medan pada bulan mei s/d juni 2014.

C. Populasi dan Sampel Penelitian


C.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah seluruh anak-anak yang berumur 5-10 tahun di sekitar pinggiran rel
kelurahan banten kec medan tembung sebanyak 30 orang berdasarkan survey yang telah
dilakukan.

C.2 Sampel Penelitian


Sampel penelitian adalah total populasi anak-anak yang terinfeksi cacingan yang
berumur 5-10 tahun di sekitar pinggiran rel kelurahan banten kec medan tembung.

D. Jenis dan Metode Pengumpulan Data


D.1 Jenis data
Jenis data adalah data primer dengan cara melakukan pemeriksaan jumlah eosinopil
pada apusan darah tepipada Anak-anak berumur 5-10 tahun di Pinggiran Rel Kelurahan
Banten Kec Medan Tembung yang terinfeksi cacing.

D.2 Metode Pengumpulan Data


Metode yang digunakan adalah secara langsung melakukan penelitian di Pinggiran
Rel Kelurahan Banten Kec Medan Tembung.

E. Metode Pemeriksaan
Metode pemeriksaan sediaan apus darah tipis yang digunakan adalah metode
giemsa

E.1 Prinsip Pemeriksaan


Sediaan apus darah yang telah diwarnai dihitung persentase jenis-jenis leukosit yang
ada di dalam sediaan apus darah tersebut (Arianda, D. 2013)

E.2 Bahan-bahan yang digunakan


- Darah
- Feces

E.3 Alat-alat yang digunakan


untuk pemeriksaan darah
Objek glas
Hemolet/lanset
Kapas
Mikroskop
Untuk memeriksa feces
Objek Glass
Pipet tetes
Kaca Penutup
Wadah
Tissu
Lidi
Mikroskop

E.4 Reagensia yang digunakan

Untuk pemeriksaan tinja : eosin 1%


Untuk pemeriksaan darah : Giemsa dan methanol absolute

E.5 Cara Pengambilan Sampel


E.5.a Untuk Tinja
-

Pada hari pertama penulis akan memberikan pengarahan kepada anak-anak yang berumur
5-10 tahun di sekitar pinggiran rel kereta api lingkungan XIV kelurahan banten kec medan
tembung tentang pentingnya kebersihan terhadap kesehatan dan cara pengambilan

sampel, lalu memberikan wadah yang bersih, bermulut lebar, dan bertutup.
Pada esok harinya mengambil sampel tinja yang sudah siap dan dibawa ke laboratorium
untuk diperiksa.

E.5.b Untuk Darah


-

Bahan yang diambil dari darah kapiler (ujung jari tangan) dengan cara:
Siapkan peralatan sampling : lancet steril, kapas alkohol 70%.
Pilih lokasi pengambilan lalu desinfeksi dengan kapas alkohol 70%, biarkan kering.
Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri

berkurang.
Tusuk dengan lancet steril. Tusukan harus dalam sehingga darah tidak harus diperas-peras
keluar. Jangan menusukkan lancet jika ujung jari masih basah oleh alkohol. Hal ini bukan
saja karena darah akan diencerkan oleh alkohol, tetapi darah juga melebar di atas kulit

sehingga susah ditampung salam wadah.


Setelah darah keluar, buang tetes pertama dengan memakai kapas kering, tetes berikutnya
boleh dipakai untuk pemeriksaan (Arianda, D. 2013).

E.6 Prosedur Kerja


E.6.a Untuk bahan tinja
-

Untuk objek glass yang bersih dan bebas lemak teteskan 1-2 tetes eosin 1%.

Ambil tinja seujung lidi.


Campurkan hingga homogen pada larutan eosin.
Tutup dengan kaca penutup, hindari terjadinya gelembung udara.
Periksa dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa 10x dan 40x.
Catat hasil yang diperiksa perlapangan pandang yang terdapat pada mikroskop.

E.6.b Untuk bahan darah


Sentuhlah tanpa menyentuh kulit setetes darah kecil (garis tengah tidak melebihi 2 mm)

dengan kaca itu, kira-kira 22 cm dari ujungnya, dan letakkanlah kaca itu di atas meja
-

dengan tetes darah di sebelah kanan.


Dengan tangan kanan diletakkan kaca objek lain di sebelah kiri tetes darah tadi dan

digerakkan ke kanan hingga mengenai tetes darah.


Tetes darah akan menyebar pada sisi kaca penggeser itu. Tunggulah sampai darah itu

mencapai titik kira-kira cm dari sudut kaca pengeser.


Segeralah geserkan kaca itu ke kiri sambil memegangnya miring dengan sudut antara 30-

45 derajat. Janganlah menekan kaca penggeser itu ke bawah.


Biarkan sediaan itu kering di udara.
Tulislah nama penderita dan tanggal pada bagian sediaan tebal (Gandasoebrata, R. 2008).

E.6.c Cara mewarnai sediaan hapus darah


-

Letakkan sediaan yang akan dipulas di atas rak tempat memulas dengan lapisan darah ke

atas.
Teteskanlah sekian banyak metilalkohol ke atas sediaan itu, sehingga bagian yang terlapis

darah tertutup seluruhnya. Biarkan selama 5 menit atau lebih lama.


Tuanglah kelebihan methanol dari kaca.
Liputilah sediaan itu dengan Giemsa yang telah diencerkan dengan larutan penyanggah

dan biarkan selama 20 menit.


Bilas dengan air suling.
Letakkan sediaan dalam sikap vertikal dan biarkan mongering pada udara (Gandasoebrata,
R. 2008).

E.6.d Hitung jenis leukosit (Differential count dff telling)


-

Basofil
Eosinofil
N.batang
N.segmen
Limfosit
Monosit

: 0-1%
: 1-3%
: 2-6%
: 50-70%
: 20-40%
: 2-8% (Arianda, D. 2013)

F. Analisa Data
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel secara deskriftif apakahkadar
eosinopil meningkat pada anak-anak yang terinfeksi cacingan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.1 Hasil Penelitian
Dari penelitian yang dilakukan terhadap anak umur 5-10 tahun yang bermukim di
pinggiran rel kel Banten kec Medan tembung data yang dikumpulkan dicatat dan disusun
dalam bentuk tabel. Dari hasil pemeriksaan diperoleh hasil mengenai berapa besarnya
kenaikan rata-rata apusan darah tepi pada penderita cacingan pada anak umur 5-10 tahun
yang bermukim di pinggiran rel kel Banten kec Medan Tembung.

Tabel 4.1 : Distribusi frekuensi jumlah eosinopil berdasarkan kelompok umur


Umur
Normal
Meningkat
(tahun)
f
%
F
%
5-7
0
0
9
45

8-10
Total

2
2

10
10

9
18

45
90

Dari tabel 4.1 dapat dilihat kadar eosinopil berdasarkan kelompok umur
mengalami peningkatan dengan persentase 45% untuk umur 5-7 tahun, 45% untuk
anak umur 8-10 Tahun.
Tabel 4.2 : Distribusi frekuensi berdasarkan higiene perorangan
Higiene
Perorangan
Baik
Buruk
Total

Frekuensi

Persentase

0
20
20

0
100
100

Dari Tabel 4.2 dapat dilihat higiene perorangan yang buruk dengan persentase
100%
Tabel 4.3 : Distribusi frekuensi berdasarkan sanitasi lingkungan
Sanitasi
Lingkunga
n
Baik
Buruk
Total

Frekuensi

Persentase

0
20
20

0
100
100

Dari Tabel 4.3 dapat dilihat sanitasi lingkungan yang buruk dengan persentase
100%.
B. Pembahasan
Pada tabel 4.1 ditemukan kadar eosinopil berdasarkan kelompok umur
mengalami peningkatan dengan persentase 45% untuk umur 5-7 tahun, 45% untuk
anak umur 8-10 Tahun. hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : banyak anakanak yang berumur 5-7 tahun belum mengetahui tentang pentingnya kebersihan.
Infeksi cacingan ini biasanya menyerang karena mereka kurang peduli terhadap
kebersihan diri sendiri, banyak diantara mereka yang sering bermain-main
menggunakan media tanah, di tempat-tempat lembab, tanpa menggunakan alas kaki
dan tidak segera mencuci tangan sehabis bermain dan masih banyak anak-anak
yang kukunya panjang dan kotor. Hal tersebut menyebabkan tangan mereka dapat

terkontaminasi dengan telur cacing. Begitupun dengan anak umur 8-10 tahun yang
sudah ikut membantu orangtuanya untuk mengumpulkan sisa-sisa nasi karena
tuntutan ekonomi. Mereka tidak mengggunakan sarung tangan sebagai alat
pelindung diri untuk menghindari terpaparnya infeksi parasit dari nasi sisa tersebut.
Selain itu pengetahuan mereka tentang infeksi parasit ini pun masih sangat minim,
sehingga mereka kurang tahu menahu bagaimana cara untuk mengatasinya, dan
bagaimana mereka bisa terinfeksi parasit ini. Peningkatan jumlah eosinopil dalam
darah juga dipengaruhi banyaknya jumlah cacing yang terdapat pada tubuh
diketahui dari jumlah telur cacing yang terdapat pada sediaan, Dari tabel 4.11 juga di
dapatkan bahwa ada sekitar 10% anak yang terinfeksi cacingan dengan jumlah
eosinopil yang normal, pada saat diamati ternyata jumlah telur cacing pada sediaan
hanya beberapa saja atau bisa dikatakan infeksi ringan bila dibandingkan dengan
jumlah eosinopilnya yang tinggi, hampir pada seluruh lapang pandang dipenuhi
dengan telur cacing (infeksi berat), jadi peningkatan jumlah eosinopil dalam darah
pada kasus ini dipengaruhi oleh jumlah parasit cacing yang terdapat pada tubuh
penderita cacingan.
Peningkatan jumlah eosinopil dalam darah anak yang terinfeksi cacingan
tersebut dapat dijelaskan bahwa perubahan respon eosinofil adalah respon
imunologi yang sangat responsif/cepat terhadap rangsangan imunogen yang dilepas
oleh cacing, Sel mast mukosa berdegranulasi melepaskan histamin, serotinin,yang
berfungsi sebagai mediator inflamasi. Granul sel mast juga mengandung kallikrein
yang menghasilkan kinin, bersama dengan mediator inflamasi mempunyai kekuatan
sebagai agen vasoaktif. Substansi tersebut akan dilepaskan pada kutikula cacing
nematoda apabila antibodi telah berikatan dengan antigen. Kolaborasi antigen,
antibodi, dan substansi granula sel eosinofil dan sel mast mukosa akan
menimbulkan respons inflamasi tipe I untuk menghambat invasi cacing ke jaringan.
Hasil penghitungan sel eosinofil pada jaringan menunjukkan bahwa reaksi sel
eosinofil juga berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan infeksi
cacing yang ditandai dengan peningkatan jumlah sel eosinofil di dalam jaringan.
Salah satu aksi antigen-antibodi adalah memicu produksi kemoatraktan terhadap sel
eosinofil. Seiring dengan pelepasan zat vasoaktif oleh sel mast, kemoatraktan
seperti eosinophil chemotactic factor anaphylaxis (ECF-A) juga dilepaskan untuk
memobilisasi sel eosinofil ke daerah invasi cacing. Mobilisasi dan aktivasi sel
eosinofil ini meningkatkan kemampuannya untuk membunuh atau merusak parasit

dan mendukung peran penyelenggaraan fisiologi tanggap kebal berperantaraan IgE


dalam mengontrol parasit cacing. Kejadian eosinofilia merupakan karakter yang
berhubungan dengan infestasi cacing parasitik atau reaksi reaksi hipersensitivitas
tipe I lainnya (Balqis, U. 2007).
Pada tabel 4.2 dapat dilihat higiene perorangan yang buruk dengan persentase
100%, dapat dijelaskan bahwa pada kasus ini anak-anak yang terinfeksi cacingan
memiliki hygiene perorangan

yang buruk, kurang memperdulikan kebersihan

pribadi, meliputi kebersihan kuku jemari yang tidak terjaga, tidak mencuci tangan
sebelum makan, bermain di pekarangan tanpa alas kaki, dan lain sdebagainya hal
ini juga salah satu pemicu mudahnya anak-anak terinfeksi penyakit cacingan.
Pada tabel 4.3 diketahui buruknya sanitasi lingkungan dengan persentase
100%. Kebersihan lingkungan yang tidak begitu dijaga merupakan salah satu faktor
penyebab infeksi cacingan pada anak-anak. Pada pengamatan yang dilakukan di
tempat penelitian bahwa masyarakat mengikuti pola hidup dan kebiasaan buruk
yaitu dengan menempatkan barang-barang hasil pulungan mereka di depan
halaman tanpa dibatasi sesuatu apapun dengan tempat bermain anak-anak.
Barang-barang tersebut meliputi plastik-plastik bekas, barang- bekas dan juga sisasisa makanan yang diambil dari rumah-rumah untuk makanan ternak mereka.
Sehingga pada saat anak-anak bermain di pekarangan dan menggunakan media
tersebut maka akan mudah terinfeksi cacing.
Dari penelitian yang dilakukan pada sampel feces pada anak-anak yang
terinfeksi nematode usus tersebut, pada umumnya ditemukannya telur cacing
Ascaris lumbricoides, Hal ini disebabkan kesadaran akan kebersihan dan tingkat
pengetahuan tentang kesehatan masih relatif rendah sehingga mudah terinfeksi
oleh cacing Ascaris lumbricoides misalnya melalui makanan mengandung telur
Ascaris lumbricoides, ataupun tidak mencuci tangan sebelum makan, penyebaran
Ascaris lumbricoides terutama di daerah tropik dengan udara yang lembab serta
sangat erat hubungannya keadaan hygiene dan sanitasi (Meilana, L., Retno, S.,
Nurcholis, A. 2012)
Sedangkan infeksi nematode lainnya adalah telur cacing Trichuris trichiura,
infeksi pada manusia sering terjadi, tetapi intensitasnya rendah. Didaerah tropis
tercatat 80% penduduk positif. Infeksi banyak tercatat di daerah curah hujan tinggi,
daerah sub-tropis, dan di tempat yang banyak populasi tanah. Anak-anak lebih
mudah terserang daripada orang dewasa. Infeksi berat terjadi pada anak-anak yang

suka bermain di tanah, karena mandapat kontaminasi ddari pekarangan yang kotor.
Infeksi terjadi karena menelan telur yang telah berembrio melalui tangan, makanan
atau minuman yang telah terkontaminasi langsung melalui debu, hewan rumah atau
mainan (Irianto, K. 2009)

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian, sel eosinopil pada apusan darah tepi pada anak umur 5-10
tahun yang bermukim di pinggiran rel kel Banten kec Medan Tembung memberikan hasil
sebagai berikut :
Dari 20 sampel yang diperiksa, didapatkan jumlah eosinopil yang meningkat 90% (18
anak) dan eosinopil yang normal sebanyak 10% (2 anak) Maka dari hasil pemeriksaan
eosinopil pada apusan darah tepi ini terlihat jumlahnya meningkat dari normal pada
penderita cacingan.

B. SARAN
a. Apabila dicurigai kecacingan sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah.
b.
c.
d.
e.

Biasakan cuci tangan sebelum makan dan bersihkan bagian kuku jemari yang kotor.
Sebaiknya anak-anak menggunakan alas kaki pada saat bermain di halaman.
Tidak membuang air besar di parit, sungai, biasakan buang air besar di jamban.
Biasakan memeriksa diri ke Puskesmas secara teratur lebih-lebih kalau ada atu terdapat

gejala cacingan.
f. Pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali.
g. Kepada peneliti selanjutnya supaya menambah sampel untuk mendapatkan hasil yang lebih
akurat

DAFTAR PUSTAKA
Arianda, D., 2013, Buku Saku Analis Kesehatan, Revisi Ke-3, Bekasi: Analis Muslim
Publisher

Balqis, U., 2007, Purifikasi dan Karakterisasi Protease dariEkskretori/Sekretori


Stadium L3 Ascaridia galli dan Pengaruhnya Terhadap Pertahanan dan
Gambaran
Histopatologi
Usus
ayam[pdf]
IPB,
Available
at:<http://www.damandiri.or.id/file/ummubalqisipbbab8.pdf (Accessed 16 february
2014).
Entjang, I., 2001, Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan, Citra
Aditya Bakti.
Fawcett, D.W., 2002, Buku Ajar Histologi, Alih Bahasa Jan Tambayong, Edisi ke-12,
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Freund, M., 2011, Atlas Hematologi Heckner, Alih bahasa Frans Dany, Edisi ke- 11,
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Gandasoebrata, R., 2008, Penuntun Laboritorium Klinik, Jakarta: Penerbit Buku Dian
Rakyat.
Gunawan, P.J.W., Magdalen, L.J., Ayda, R,.dan Harijani, A.M., 1987,Atlas Helmintologi
Kedokteran,Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hoffbrand, A.V., Pettit, J.E., Moss, P.A.H., 2005, Hematologi, Alih Bahasa Setiawan
Lyana, Edisi ke-4, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.
http://4.bp.blogspot.com/35wYwaYPXAA/Ty8i2U7k98I/AAAAAAAAACY/f7fdWYYQ_5k/s1
600/Strongyloides+image.jpg [online] [accessed 7 may 2014]
http://amelliaavianty.files.wordpress.com/2012/08/cacing-kremi.jpg [online] [accessed 7
may 2014]
http://ascarislumbricoides.org/facts-you-didnt-know-about-ascaris-lumbricoides/ [online]
[accessed 7 may 2014]
http://dianyuliaa.wordpress.com/2012/09/04/basofil/ [online] [accessed 7 may 2014]
http://ndiel2.files.wordpress.com/2013/01/trichuristrichiura133.jpg [online] [accessed 7
may 2014]
Irianto, K., 2009, Parasitologi, Bandung:Yrama Widya.
Junqueira, L.C., Jose, C., 2007, Histologi Dasar Teks & Atlas, Alih Bahasa Jan
Tambayong, Edisi ke-10, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Leeson, C.R., Thomas, S.L., Anthony, A.P., 1996, Buku Ajar Histologi, Alih Bahasa Jan
Tambayong, Edisi ke-5,Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Meilana, L., Retno, S., Nurcholis, A. 2012, Analis Kesehatan Sains, Vol.1, Surabaya:
Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya Jurusan Analis Kesehatan.
Salam, A., 2012, Darah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Syaifuddin, B., 1992, AnatomiFisiologi Untuk Siswa Perawat, Jakarta: ECG.


Zulkoni, A., 2010, Parasitologi, Yogyakarta: Mulia Medika.