Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap penyakit dengan
memasukan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang
sedang mewabah atau berbahay bagi seseorang. Penyakit banyak terjadi pada
lingkungan tempat kita tinggal. Lingkungan tempat tinggal kita dapat menjadi
agen infeksi seperti virus, jamur, parasit dengan ukuran dan sifat-sifat yang
berbeda- beda. Banyak dari agen ini dapat menyebabkan kerusakan patologis
dan akhirnya membunuh hopes jika penyebaran tidak di hambat. Berbagai
jenis imunisasi telah di buat dan di rancang untuk mencegah terjadinya
penyebaran penyakit-penyakit tersebut. Imunisasi tersebut kemudian di bagi
menjadi imunisasi dasar dan imunisasi anjuran.
Program imunisasi negara-negara berkembang sudah terorganisir sejak
tahun 1956 untuk mencegah terjadinya penyakit cacar. Dewasa ini angka
kesakitan dan kematian bayi dan anak cukup tinggi akibat serangan menular,
padahal penyakit-penyakit ini dapat di cegah dengan pemberian imunisasi.
Sehingga angka cakupan imunisasi dasar berkisar 75% ( WHO, 2005).
Cakupan imunisasi di indonesia, khususnya di pulau jawa untuk imunisasi
dasar berkisar 60%. Di jawa timur khususnya memiliki prevalensi 1.3%
termasuk hepatitis, campak, polio, diare dll. Banyak hal yang dapat terjadi
jika bayi/anak tidak di berikan imunisasi. Bayi dapat tertular dan mengidap
penyakit seperti TBC, hepatitis B, difteri, campak, polio dan penyakitpenyakit ini dapat menyebabkan kematian pada bayi/anak.
Melihat berbagai masalah di atas, maka pemberian imunisasi sangat
efektif dalam memberantas infeksi serta mengingat agen infeksi tertentu,
sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit di kemudian hari. Oleh karena
itu, di harapkan kepada dinas kesehatan untuk selalu memperhatikan
masalah-masalah yang menyangkut imunisasi ( Dinas kesehatan 2007 ) .

Dan khususnya di harapkan pada petugas kesehatan untuk selalu


memperhatikan masalah imunisasi, karena imunisasi selalu di lakukan oleh
tenaga kesehatan di lapangan khususnya bidan.
1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan umum
Mahasiswa akademi kebidanan STIKES William Booth Surabaya dapat
memberikan asuhankebidanan pada bayi sehat dengan imunisasi BCG +
Polio 1 dengan pendekatan manajemen kebidanan H. Varney.
1.2.2 Tujuan khusus
1.2.1 Agar mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada bayi sehat
dengan imunisasi BCG + polio 1.
1.2.2 Agar mahasiswa mampu menegakkan diagnosa pada bayi sehat
dengan imunisasi BCG + polio 1.
1.2.3 Agar mahasiwa mampu megidentifikasi diagnosa dan masalah
potensial pada bayi sehat dengan imunisasi BCG + polio 1.
1.2.4 Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi kebutuhan segera pada
bayi sehat dengan imunisasi BCG+ polio1.
1.2.5 Agar mahasiswa mampu menyusun rencana tindakan pada bayi sehat
dengan imunisasi BCG + polio 1.
1.2.6 A gar mahasiswa mampu mengimplementasikan asuhan kebidanan
pada bayi sehat dengan imunisasi BCG + polio 1.
1.2.6 Agar mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan asuhan kebidanan
yang telah di berikan.

1.3 MANFAAT PENULISAN


Adapun manfaat dalam penulisan laporan pendahuluan ini yaitu, penulis
dapat mengimplementasikan hasil praktik kedalam laporan pendahuluan ini.
Adapun manfaat lain dalam penulisan laporan pendahuluan dan asuhan
kebidanan ini yaitu untuk mengetahui apakah ada kesenjangan antara teori dan
praktik pada penatalaksanaan asuhan kebidanan imunisasi pada bayi.
1.4 METODE PENULISAN
2

Metode

Penulisan

Dalam

penulisan

laporan

kasus

ini,

penulis

menggunakan metode penulisan secara deskriptif dengan pendekatan studi


kasus melalui teknik sebagai berikut:
1.

Anamnesa / wawancara
Yaitu mengumpulkan data dengan cara tanya jawab secara langsung
dengan pasien dan keluarganya juga kepada petugas kesehatan setempat.

2.

Studi Kepustakaan
Mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan judul makalah di atas yaitu
nifas normal.

3.

Observasi
Melakukan pengamatan dalam melakukan asuhan kebidanan secara
langsung kepada pasien.

4.

Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari sehingga dapat
dijadikan pendukung selama menganalisa data.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Imunisasi
2.1.1 Pengertian
Vaksin berasal dari kata vacsinsia atau vasca berarti sapi dalam bahasa
latin. Sebutan vaksin di berikan oleh Louis Partelas yang semula
menggunakan istilah varialation atau memberikan virus variola sapi
atau cocus sapi dengan tujuan memperoleh kekebalan atau imunitas, maka
di sebut juga sebagai imunisasi ( Widjaja, 2005).
Vaksin adalah suatu produk biologik yang terbuat dari kuman ( bakteri
maupun virus), komponen kuman racun kuman yang telah dilemahkan
atau di matikan atau tiruan kuman yang telah di lemahkan atau berguna
3

untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh seseorang ( Depkes


2000).
Imunisasi adalah upaya memberikan bahan untuk merangsang produksi
daya tahan tubuh ( Manuaba, 2000)
Imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan tubuh pada
bayi dan anak serta ibu hamil terhadap penyakit tertentu ().
2.1.2 Tujuan Imunisasi
1. Melindungi tubuh bayi dan anak dari penyakit menular yang dapat
membahayakan bagi ibu dan anak.
2. Memberikan kekebalan pada tubuh bayi terhadap penyakit seperti :
hepatitis, difteri, polio, TBC, tetanus, pertusis, campak dll.
2.1.3 Prinsip Dasar Imunisasi
1. Pada dasarnya, tubuh akan menolak antigen (kuman, bakteri, virus,
parasit, racun) jika memasuki tubuh akan menolak dan membuat
antibodi atau antitoksin.
2. Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen berlangsung lambat dan
lemah, sehingga tidak cukup kuat melawan antigen.
3. Pada reaksi berikutnya tubuh sudah mengenali jenis antigen tersebut.
4. Imunisasi diberikan dalam rangka mengenalkan berbagai antigen, agar
cepat direspon oleh tubuh, sehingga tubuh sudah mengenal betul zat
antigen yang harus dilawan.
5. Sesudah beberapa lama, pemberian imunisasi zat anti untuk melawan
antigen akan menurun atau hilang.
6. Zat anti dibuat dihati, limfa, kelenjar ismus dan kelenjar getah bening.
(Widjaja, 2005).

2.1.4 Macam-macam Imunisasi


a. Imunisasi Aktif

Adalah kekebalan yang dibentuk anak secara aktif dimana tubuh itu
sendiri ikut menyelenggarakan pembentukan antibody, imunisasi aktif
dibagi dua yaitu :
1) Alami

: Kekebalan yang terbentuk setelah tubuh mengalami


penyakit menular tertentu, misalnya : campak.

2)Buatan

: Kekebalan yang terbentuk setelah dengan sengaja


memasukkan vaksinasi ke dalam tubuh, misalnya:
Hepatitis B, DPT, Polio.

b. Imunisasi pasif
Adalah kekebalan yang terbentuk setelah tubuh menerima zat
antibody dari luar, imunisasi pasif dibagi 2 macam, yaitu :
1. Alami
2. Buatan
2.1.5 Tujuh penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi
Beberapa penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi adalah :
1. Poliomyelitis ( kelumpuhan)
2. Campak ( measles)
3. Difteri ( indrak)
4. Pertusis ( batuk rejan, batuk seratus hari)
5. Tetanus
6. Tuberculosis
7. Hepatitis B
2.1.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan imunisasi
1. Sistem pendingin
Yaitu penyimpanan dan distribusi vaksin sebagai vaksin dapat
memenuhi syarat secara kontinue dari produsen sampai tepat
pelaksanaan imunisasi/vaksinasi.
2. Penyimpanan vaksin
Dalam lemari es dan kamar pendingin yang harus diperhatikan jika
vaksin di simpan di lemari es adalah :
Vaksin di letakan pada rak paling dalan sehingga pengaruh
udara luar dapat di minimalkan.

Vaksin jangan di letakkan pada lemari es, karena suhunya


tinggi.
Termometer harus tetap diletakkan pada lemari es, untuk
mengoreksi suhunya.
3. Pengiriman vaksin
Yang lazim digunakan pada waktu pengiriman vaksin adalah termos
cold box dan pengangkutan dalam jumlah besar pada cold truck
dengan volume paling sedikit 1/3 dari volumenya.
4. Panas merusak jenis vaksin
Contohnya suhu tinggi dan sinar matahari. Sinar matahari terutama
merusak vaksn hepatitis B, campak dan polio. Pembekuan dapat
merusak vaksin yang terbuat dari toxoid.
2.1.7 Persyaratan pemberian vaksin
1. pada bayi dan anak yang sehat, tidak boleh di berikan pada mereka
yang :
Sedang sakit.
Keadaan fisik yang lemah.
Mendapat pengobatan dengan kontrasepsi.
2. Dengan teknik pemberian yang tepat.
3. Vaksin harus baik, disimpan dalam lemari es dan belum lewat masa
kedaluarsa.
4. Jenis vaksin yang dimaksud.
5. Mempertahankan dosis yang di berikan.
6. Mengetahui jadwal vaksinasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi
yang tepat.
2.1.8 Cara dan teknik vaksinasi
1. Hepatitis B
a. Cara pemberian
: disuntik secara intramuskular
b. Dosis
: 0,5 ml
c. Lokasi
: 1/3 atas paha luar bagian kanan
2. DPT
a. Cara pemberian
: disuntik secara IM
b. Dosis
: 0,5 ml
c. Lokasi
: 1/3 atas paha luar bagian kanan
d. Banyak pemberian
: 3x
3. BCG
a. Cara pemberian
: disuntik secara IM
b. Dosis
: 0.05 ml
c. Lokasi
: 1/3 atas lengan kanan bagian luar
d. Banyak pemberian
: 1x
4. Polio
a. Cara pemberian
: diteteskan di bawah lidah
6

b. Dosis
c. Lokasi
d. Banyak pemberian
5. Campak
a. Cara pemberian
b. Dosis
c. Lokasi
d. Banyak pemberian

: 2 tetes
: dibawah lidah
: 4x
: disuntikan secara IM
: 2 tetes
: 1/3 atas lengan kiri bagian luar
: 1x

2.1.9 Efek samping pemberian imunisasi


1. Nyeri pada bekas penyuntikan
2. Suhu badan naik pada DPT dan BCG
3. Diare pada vaksin polio
4. Timbul bisul kecil pada BCG
2.2 Konsep Dasar Imunisasi BCG+ Polio 1
1. Imunisasi BCG ( Bacillus Calmette Guerin)
a. Indikasi
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer
atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi
BCG. Imunisasi BCG ini merupakan vaksin yang mengandung kuman
TBC yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG
pada umur 0-1 bulan, aakan tetapi pada umumnya diberikan pada bayi
umur 2 atau 3 bulan, kemudian cara pemberian imunisasi BCG
melalui intra dermal.
b. Kontraindikasi
Adanya penyakit kulit yang berat dan menahun seperti eksim,
furunkolis, den sebagainya.
Mereka yang sedang menderita TBC.
c. Efek samping
Dapat meninggalkan indurasi dan kemerahan di tempat suntikan yang
berubah pustule, kemudian pecah menjadi luka. Luka tidak perlu
pengobatan dan akan sembuh secara spontan dan akan meninggalkan
tanda parut.
2. Imunisasi polio
a. Indikasi
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.
Kandungan vaksin ini adalah virus yang telah dilemahkan. Frekuensi
7

pemberian imunisasi polio adalah 4x. Waktu pemberian imunisasi


polio pada umur 0-11 bulan dengan pemberian interval 4 minggu.
Cara pemberian imunisasi polio melalui oral.
b. Efek samping
Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping berupa
paralysis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang (0,17: 1.000.000;
Bull WHO 66:1998).
c. Kontraindikasi
Pada individu yang menderita immune deficiency. Tidak ada efek
yang berbahaya yang tibul akibat pemberian polio pada anak yang
sedang sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya, sedang mendrita
diare, maka dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh.

d. Cara pemberian dan dosis OPV:


- Sebelum digunakan pipet penetes harus dipasang pada vial vaksin.
-Diberikan secara oral, 1 dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 X
pemberian,dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.
- Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang
baru.
- Vaksin polio yang dibuka hanya boleh digunakan selama 2 minggu ,
dengan ketentuan :
a.vaksin belum kadaluarsa.
b.vaksin disimpan dalam suhu 2C sampai 8C.
c.Tidak pernah terendam air.
d.sterilitasnya terjaga.
e.VVM masih dalam keadaan A dan B.

f.Untuk diposyandu vaksin yang sudah dibuka tidak boleh


digunakan lagi dihari berikan. (Depkes RI.2006:12)
e. Cara penyimpanan dari kadaluarsa:
- Penyimpanan dipropinsi/ kabupaten ,vaksindisimpan dalam suhu
-15C sampai -25C pendistribusian dalam keadaan dingin
menggunakan kotak dingin beku (cold pack) dan hindari sinar
matahari secara langsung.
- Vaksin polio tidak rusak pada pembekuan.
-penyimpanan di PKM dan pelayanan RS disimpan pada suhu + 2C
sampai +8C.
- Kadaluarsa 6 bulan bila disimpan pada suhu +2C sampai +8C dan
2 tahun bila disimpan pada suhu -15C sampai -25C.
(Depkes RI.2005:12-13)
f. Efek samping dan KIPI:
Pada umumnya tidak terjadi efek samping.efek samping,berupa
paralis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (0,17 :
1.000.000) Bull WHO 66:1998.setelah vaksinasi sebagian kecil resipien
dapat mengalami gejala gejala pusing , diare ringan,dan sakit pada otot.
Seperti kejadian Ikutan Pasca Imunisasi yang lain,semua gejala yang
timbul setelah vaksinasi harus dilaporkan ke Dinas Kesehatan setempat.
Tapi KIPI ini sangat jarang terjadi. (Ranuh IGN.2002:102 ,Depkes
RI.2005:13).

3. Macam macam imunisasi anjuran


a. Vaksin Cacar (Varicella)
Gejalanya : demam, lemah, kemerahan dikulit, kemudian timbul
vesikel atau bentol-bentol berisi cairan yang apabila tersentuh mudah

pecah dan apabila mengering disebut crust. Biasanya ditempat timbulnya


akan terasa gatal.
Cara penularannya : melalui udara, melalui percikan ludah atau sistem
saluran nafas bagian atas atau kontak dengan cairan vesikel cacar air.
b. Vaksin Kolera
Merupakan penyakit menular akur yang dapat menyebabkan dehidrasi
atau kekurangan cairan dalam waktu relatif cepat, sehingga menimbulkan
gangguan elerolit tubuh, dan akhirnya kematian.
Penyakit ini ditandai dengan sakit perut dan muntah-muntah maupun
diare yang terjadi secara spontan mengembus dan tidak dapat
dikendalikan, hingga yang bersangkutan menderita dehidrasi luar biasa.
c. Vaksin Diare Rotavirus
Gejalanya : diare yang tiba-tiba dan spontan, disertai muntah, serta
demam. Biasanya mula-mula tampak sakit biasa saja, namun penyakit
berkembangan dengan cepat. Satu dari 74 anak mengalami dehidrasi
dengan cepat dalam waktu 4-5 hari. Penyakit Diare Rotavirus ini, juga
sering dialami oleh binatang mamalia dan beberapa burung yang memiliki
kesamaan grup virus Rotavirus.
d. Vaksin Diare Rotavirus
Gejalanya : diare yang tiba-tiba dan spontan, disertai muntah, serta
demam. Biasanya mula-mula tampak sakit biasa saja, namun penyakit
berkembang dengan cepat. Satu dari 75 anak mengalami dehidrasi dengan
cepat dalam waktu 4-5 hari. Penyakit Diare Rotavirus ini, juga sering
dialami oleh binatang dan beberapa burung yang memiliki kesamaan grup
virus Rotavirus.
Cara penularannya masih belum diketahui dengan pasti, namun
diperkirakan melalui kontak atau melalui udara.
e. Vaksin Japanese Encephalitis
Merupakan penyakit radang otak yang disebabkan oleh virus yang
tergolong famili flaviviridae dan ditularkan melalui gigitan nyamuk culex
10

tritaniorhynchus. Gejala : demam, sakit perut dan muntah, gejala syaraf


seperti kesulitan bicara, kejang. Kelainan motorik dan koma. Apabila
penderita bisa bertahan hidup, maka akan terdapat kecacatan yang bersifat
permanen.
f. Vaksin Influenza
Gejala influenza cukup bervariasi misalnya demam tinggi biasanya
berkisar antara 38 hingga 40o C yang bisa berlangsung 3 atau 5 hari. Gejala
lain misalnya batuk tidak produktif, running noise (hidung menjadi sangat
produktif mengeluarkan cairan), disusul rasa lelah dan lemah yang luar
biasa, sakit otot dan menggigil, onoreksa, sakit tenggorokan, diare, takut
cahaya, dan sakit perut.

g. Vaksin Rubella
Rubella disebut juga sebagai German Measies karena mula-mula orang
Jerman berpikir bahwa penyakit rubella identikdengan measies atau
penyakit campak. Penularannya melalui udara dan masuk melalui
nasofaring daerah hidung dan tenggorokan. Masa inkubasi biasanya terjadi
antara 2-3 minggu. Awalnya dari penyakit ini mula-mula tanpa gejala,
disusul dengan peradangan pembengkakan kelenjar limfe, demam,
malaise, conjunctivitis, kemerahan pada mata serta timbul bercak-bercak
kemerahan pada daerah wajah dan leher, kemudian rasa tersebut menyebar
disertai demam, pegal otot dan sendi.

11

2.3 Asuhan Kebidanan pada Bayi Sehat


2.3.1 Pengertian
Asuhan kebidanan bayi sehat adalah pemberian perawatan kepada bayi
untuk mengetahui bayi dalam keadaan sehat atau tidak ( Handa Jani, 2010)
2.3.2 Langkah-langkah Asuhan Kebidanan Pada Bayi sehat
2.3.2.1 Pengkajian
1) Data Subyektif
a) Biodata
(1) Nama Bayi
Tujuan : Agar mudah mengenal bayi dan supaya bayi tidak
tertukar dengan bayi lain dan memudahkan memanggil nama ibu
( Handa Jani, 2010 )
(2) Umur Ibu
Tujuan : Untuk mengetahui keadaan ibu karena umur ibu > 20 tahun dan
< 35 tahun berpengaruh terhadap kesehatan bayi yang diharapkan ( Handa
Jani, 2010 ).
(3) Pendidikan

12

Tujuan

: Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan ibu sehingga

memudahkan untuk berkomunikasi.


( Handa Jani, 2010 )
(4) Agama
Tujuan

: Ada hubungan dengan perawatan bayi, dalam memberikan

support pada ibu dan keluarga ( Handa Jani, 2010).


(5) Nama ayah
Tujuan : Agar dapat mengenal dan memanggil ayah bayi bila diperlukan (
Handa Jani, 2010 ).
(6) Pendidikan Ayah
Tujuan : Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan ayah bayi sehingga
memudahkan kita dalam berkomunikasi (Handa Jani,2010 ).
(7) Umur ayah
Tujuan : Untuk mengetahui keadaan ayah bayi ( Handa Jani,2010)
(8) Pekerjaan
Tujuan : Untuk mengetahui taraf hidup dan keadaan ekonomi sehingga
dijadikan pertimbangan dalam pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan (
Handa Jani, 2010 ).
(9) Alamat
Tujuan

: Untuk mengetahui orang tua bayi tinggal dimana, menjaga

kemungkinan bila ada ibu yang namanya sama, dan diperlukan bila ada
kunjungan rumah ( Handa Jani,2010 ).
b) Alasan Datang
Alasan utama didapatkan dari hasil keluhan orang tua tentang bayinya.
Misalnya : bayinya belum mendapatkan imunisasi.
13

( Handa Jani, 2010 )


c) Riwayat Kesehatan
Menyangkut penyakit yang lalu, penyakit sekarang dan penyakit
yang di derita keluarga baik penyakit menurun, menular dan penyakit
keturunan ( Handa Jani, 2010 )
d) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
(1) Kehamilan yang ke berapa
(2) Komplikasi dalam kehamilan ada atau tidak
(3) Umur kehamilan, spontan tindakan, dimana dan oleh siapa.
(4) Keadaan bayi
(5) Lama meneteki
(6) Penyulit / komplikasi waktu nifas
( Handa Jani, 2010 )
e) Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
(1) Pertumbuhan
Dikaji adanya peningkatan berat badan.
(2) Perkembangan
Mencakup motorik, adaptif, bahasa, social personal sesuai dengan
usia.
( Handa Jani, 2010 )
f) Riwayat Psikososial
Bagaimana hubungan bayi dengan orang tua diharapkan atau tidak
( Handa Jani, 2010 )
g) Riwayat Imunisasi
Imunisasi yang telah di dapat dan reaksi setelah pemberian
imunisasi panas, diare, luka dan bernanah ( Handa Jani 2010)
h) Pola Kebiasaan Sehari hari
(1) Nutrisi
:ASI
(2) Eliminasi
: BAB dan BAK
(3) Istirahat
: Lebih sering bayi tertidur
(4) Aktivitas
: Menangis, mengoceh
14

( Handa jani, 2010 )


2) Data Obyektif
a) Pemeriksaan umum
(1) Keadaan Umum
(2) Kesadaran
(3) TTV
:
(a) Suhu
: Normal 36,5 0C - 37,50
Apabila suhu > 37,50C merupakan gejala awal
hipertermia (Depkes RI, 1993 : 75-76)
(b) Nadi
: Normalnya 120x/menit 140x/menit
(Depkes RI, 1993)
(c) Pernafasan : Normalnya 40x/menit Apabila < 30x/menit atau
> 60x/menit bayi sukar bernafas
(Depkes RI, 1993)
(d) Berat badan
: Normalnya 2500-4000 gram
(e) Panjang badan : Normal panjang badan waktu lahir sekitar
48-50 cm
(f) Lingkar kepala :
1. Circumferentia suboccipito bregmatika : 32 cm
2. Circumferentia fronto occipitalis
: 34 cm
3. Circumferentia mento occipitalis
: 35 cm
(g) Lingkar dada
: Normalnya 33 cm
(h) Lingkar lengan atas
: Normalnya 9-11 cm
b) Inspeksi
(1) Kepala
Bentuk bulat, ada tidaknya caput succedaneum atau cephol
hemotom, meningochele, sutura melebar.
(2) Mata
Bentuk dan ukuran simetris atau tidak,

tidak

ada

konjuctivitas, adanya reflek berkedip atau tidak, tidak adanya


bola mata, pergerakan bebas / terbatas, pupil warna hitam,
kecil / hitam.
(3) Mulut / bibir
Ada / tidaknya labioscisis
Ada / tidaknya palatoscisis
Ada / tidaknya lidah atau pharing
Ada / tidaknya reflek menelan dan menghisap
(4) Telinga
Terbuka atau tidak
Letak dan bentuk simetris atau tidak
(5) Leher
15

Benjolan, pembengkakan kelenjar tiroid ada / tidak


Bendungan vena jagularis ada / tidak
Bentuk panjang atau pendek, kecil atau besar, lebar atau ke
samping ( Huda Jani, 2010 )
(6) Dada
Bentuk dada : bulat simetris / asimetris, dada burung,
panjang, gepeng.
Gerak dada dan perut sama saat nifas.
Module buah dada rata-rata 6 mm.
Putting menonjol atau tidak, letaknya simetris
( Humda Jani, 2010 )
(7) Abdomen
Ada / tidaknya hernia pada daerah umbilikus, iquinalis dan
femorolis.
Ada / tidaknya perdarahan tali pusat, vertebra, ada tidaknya
skoliosis, lordosis, kifosis, spinabifida, kulit, warna, syanosis,
pucat, kteras, kemerahan, ada / tidaknya pigmentasi lokal /
menyeluruh ( Hunda Jani, 2010)
(8) Genetalia

Laki-laki

ada / tidak pembesarna scrotum, epispadia,

atau hypuspadia.
Perempuan : labia mayora sudah menutupi atau belum, ada
tidaknya sekret mucus keputih-putihan yang pervaginam 1
2 minggu klitoris besar dengan uretra di tengah labia.
( Hunda Jani, 2010 )
(9) Anus
Ada / tidak atresia, ada / tidak fistula ani
Ada / tidaknya pengeluaran meconium dalam 24 jam pertama
( Hunda Jani, 2010 )
(10) Extremitas
Extremitas atas dan bawah:ada atau tidaknya kelainan
panjang,ukuran atau bentuk.ada atau tidaknya sindaktili dan
polidaktili pada jari -jari tangan dan kaki ( Hunda Jani,2010 )
c) Palpasi
(1) Kepala:menyambung dan dapat di raba
(2) Mata ada/ tidaknya reflek membuka dan menutup
(3) Mulut ada/tidaknya micronagtia atau macrognatia
16

(4) Telinga ada /tidaknya fistula preaculana


(5) Lehar ada/tidaknya pembesaran caput obstipum
(6) Dada
Ada / tidaknya gradula mamae besar dan keluar seperti
susu.
(7) Perut
Ada / tidaknya pembesaran hepar, lien, hernia umbilicus.
Ada / tidaknya tumor atau acites
(8) Genetalia
Ada / tidaknya penurunan scrotum atau pembesaran
scrotum.
(9) Extremitas
Ada / tidaknya paralise atau fraktur
Turgor kulit elastis atau tidak
( Hunda Jani, 2010 )
d) Auscultasi
(1) Torak

ada tidaknya funnel chest (sukar nafas)

(2) Perut

: ada tidaknya nafas ireguler atau krepitasi

2.3.2.2 Interpretasi Data


Menilai dan menganalisa data yang telah dikaji sehingga menjadi rumusan
diagnosa sebagai acuan dalam membuat perencanaan ( Hunda Jani, 2010 ).
2.3.2.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial

17

Langkah ini bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial


berdasarkan diagnosa masalah yang sudah teridentifikasi.( Hunda Jani,
2010 )
2.3.2.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Langkah ini sebagai cerminan keseimbangan dari proses manajemen
kebidanan ( Hunda Jani, 2010 )
2.3.2.5 Planning/Intervensi
Membuat rencana asuhan sesuai dengan rumusan diagnosa sesuai dengan
kebutuhan bayi ( Hunda Jani, 2010 )
2.3.2.6 Implementasi
Melaksanakan rencana asuhan yang telah dibuat.( Hunda Jani, 2010 )
2.3.2.7 Evaluasi
Mengevaluasi keefektivan dari asuhan yang telah diberikan dalam bentuk
SOAP
S

Data subyektif
Data pemeriksaan yang didapat dari anamnesa.

O :

Data obyektif
Hasil pemeriksaan fisik beserta pemeriksaan diagnostic dan
pendukung lain juga catatan medik lain.

Analisa dan interpretasi berdasarkan data yang berkumpul


dibuat kesimpulan

Planning atau perencanaan


Mempunyai gambaran pendokumentasian dari tindakan
(implementasi) di dalamnya termasuk asuhan mandiri,

18

kolaborasi, test diagnostik atau lab, konseling dan follow up.


( Hunda Jani, 2010 )

BAB III

TINJAUAN KASUS

Tanggal pengkajian/ jam

: 01-07-2013 / 08.30 WIB

No. Reg

: 332/VII/13

Nama pengkaji

: Maria Natalia

Tempat pengkaji

19

I.

PENGKAJIAN
A. Data subyektif
1. Identitas /biodata
Nama

: By.K

Nama ibu

: Ny.I

Umur

: 5 hari

Umur

: 24 tahun

Agama

: islam

Agama

: islam

Alamat

: Balas klumprik/ surabaya

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Penghasilan

: Tdk di kaji

Alamat,

: Balas

klumprik / surabaya.
2. Alasan datang
Ibu mengatakan datang untuk jadwal imunisasi BCG + Polio 1 pada
bayinya.
3. Riwayat kesehatan
a. Kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti penyakit
menurun ( DM, asma, kanker), penyakit menular ( HIV, hepatitis,
TBC), dan penyakit menahun ( jantung, ginjal, hipertensi).
b. Kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti penyakit
menurun ( DM, asma, kanker), penyakit menular ( HIV, hepatitis,
TBC), dan penyakit menahun ( jantung, ginjal, hipertensi).
c. Kesehatan keluarga
20

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti penyakit


menurun ( DM, asma, kanker), penyakit menular ( HIV, hepatitis,
TBC), dan penyakit menahun ( jantung, ginjal, hipertensi), dan
tidak ada riwayat gemeli ( kembar).
4. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Tgl/ thn

UK

Tempat

Penolong Penyulit

Anak

Jenis
Persalinan

27-7-2013

Nifas

Persalinan Persalinan

aterm

RS

Spontan

Bidan

BB

kehamilan
JK

PB

taa

49 cm 3600gr Taa+ASI 2 bln

5. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan


a. Pertumbuhan
BB sebelum

: 3600 gram

BB sekarang

: 3700 gram

PB

: 52 cm

Lingkar kepala

: 35 cm

LILA

: 12,5 cm

b. Perkembangan

Motorik

: bayi dapat menggerakkan tangan dan kakinya

Adaptif

: bayi kaget jika mendengar suara yang keras

Bahasa

: bayi selalu menangis saat lapar, atau jika

BAB/BAK

Social personal: bayi mengenal ibunya ( lewat penciuman,


pandangan, kontak mata dan penglihatan)
21

Usia
a
n
a
k

6. Riwayat psikososial
Bayi menangis bila ditinggal ibunya dan bayi dekat dengan orang
tuanya.
7. Riwayat imunisasi
Imunisasi yang pernah di dapat adalah Hb0 pada tanggal 27/6/2013 di
paha kanan bagian luar secara IM. Reaksi setelah pemberian imunisasi
adalah emerahan dan bengkak pada daerah penyuntikan.
8. Pola kebiasaan sehari-hari
Nutrisi

: bayi minum ASI 150cc/hari, tiap 3 jam

tanpa MPASI

Eliminasi: bayi BAK 6-7x/hari, BAB 3x/hari

Istirahat : bayi lebih sering tidur, 20 jam /hari

Aktivitas : bayi terbangun saat lapar, dan bayi menangis, dan bayi
lebih sering tidur.

B. Data obyektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran

: composmentis

TTV

Suhu

: 36,5c

Nadi

: 130x/menit

RR

: 34x/menit

22

BB

: 3700 gram

PB

: 50 cm

LILA

: 12 cm

Lingkar kepala

: 34 cm

2. Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi

Kepala :bersih, distribusi rambut rata, tidak ada lesi,


UUB belum menutup.

Mata

:simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera

putih, tidak ada strabismus, tidaka ada bercak pada


kornea, tidak ada kornea.

Telinga

:simetris, bersih, tidak ada serumen,

tidak keluar cairan.

Hidung

:tidak ada sekret, tidak ada polip,

bersih, tidak ada \pernapasan cuping hidung.

Mulut/gigi

:simetris, tidak ada sianosis, mukosa

bibir kering, lidah bersih.

Leher :tidak ada pembesaran ataupun benjolan


kelenjar limfe.

Dada

:bentuk normal, jarak kedua puting sejajar

dan simetris.

Abdomen

:bulat, tidak ada lesi, tidak ada

perdarahan tali pusat, tali pusat belum lepas, tali


pusat terbungkus oleh kassa.

23

Genetalia

:bersih, kedua testis sudah turun ke

skrotum, lubang penis di ujung depan penis.


Ekstremitas

:simetris, tidak ada lesi, tidak ada

polidaktil dan syndaktil.


Kulit

:merah muda, tidak ada lesi, tidak ada

lanugo dan verniks kaseosa.


b. Palpasi

Kepala

:tidak ada molase, ada sutura, tidak

ada benjolan, tidak ada hemetoma.


Leher :tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan

vena jugularis.

Dada

:tidak ada massa

Perut

:tidak ada pembesaran hepar, tidak ada

pembesaran lien, tidak ada pembesaran abdomen.


Ekstremitas

:tidak oedem, simetris.

c. Auskultasi
Dada : tidak ada wheezing, tidak ada ronchi
Denyut jantung

: (+)

d. Perkusi
Abdomen

: tidak kembung

e. Perkembangan reflek
1. Rotting refleks

: ada dan aktif

2. Grasping refleks : ada dan aktif

24

3. Morro refleks

: ada dan aktif

4. Tonickneck refleks: ada dan aktif


5. Sucking refleks : ada dan aktif
6. Swallowing refleks: ada dan aktif

II. INTERPRETASI DATA


1. Diagnosa :
By. K usia 5 hari dengan imunisasi BCG+Polio 1
2. Data subyektif :
Ibu mengatakan anaknya usia 5 hari dengan imunisasi BCG+ Polio 1
3. Data obyektif :
Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: composmentis

TTV

Suhu : 36,6c
RR : 43x/menit
Nadi : 130x/menit
Kulit
Inspeksi :
Merah muda, tidak ada lesi, tidak ada lanugo dan verniks kaseosa.
Abdomen
Inspeksi :
25

Bulat, tidak ada lesi, tidak ada perdarahan tali pusat, tali pusat belum
lepas, tali pusat terbungkus oleh kassa.
Palpasi :
Tidak ada pembesaran hepar, tidak ada pembesaran lien, tidak ada
massa/benjolan pada abdomen.
Perkembangan refleks :
1. Rotting refleks

: ada dan aktif

2. Grasping refleks : ada dan aktif


3. Morro refleks

: ada dan aktif

4. Tonickneck refleks: ada dan aktif


5. Sucking refleks : ada dan aktif
6. Swallowing refleks: ada dan aktif
4. Masalah :
Tidak ada
5. Kebutuhan :
Tidak ada

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL


1. Demam
2. Bengkak pada daerah penyuntikan
3. Benjolan pecah dan nanah

IV. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN KEBUTUHAN SEGERA


26

1. Kompres
2. Beri obat penurun panas peroral
3. Beritahu ibu tentang perawatan luka daerah penyuntikan

V. INTERVENSI
Tanggal : 01-07-2013, jam : 09.00 WIB
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan yang telah dilakukan
R/ Ibu mengetahui keadaan dan kondisi bayinya
2. Berikan imunisasi BCG+ Polio 1 dengan teknik aseptik
R/ Mengurangi kejadian infeksi
3. Anjurkan ibu untuk tidak memberikan ASI selama 15-20 menit setelah
pemberian imunisasi polio.
R/ Mencegah terjadinya kegagalan vaksin
4. Berikan obat penurun panas jika bayi panas.
R/ Mencegah terjadinya panas yang tinggi
5. Berikan KIE pada ibu tentang efek samping imunisasi polio dan BCG dan

cara perawatan daerah bekas penyuntikan.


R/ Ibu dapat merawat bekas luka dengan baik
6. Anjurkan ibu untuk memberikan ASI selama 6 bulan
R/ Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi
7. Anjurkan ibu kembali untuk jadwal imunisasi selanjutnya pada tanggal 0208-2013.
R/ Mendapatkan imunisasi DPT + Polio 2.
27

VI. IMPLEMENTASI
Tanggal : 01-07-2013, jam : 09.10 WIB
1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan yang telah di lakukan bahwa
bayinya dalam keadaan sehat.
Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: composmentis

TTV

Suhu : 36,6c
RR : 43x/menit
Nadi : 130x/menit
Kulit
Inspeksi :
Merah muda, tidak ada lesi, tidak ada lanugo dan verniks kaseosa.
Abdomen
Inspeksi :
Bulat, tidak ada lesi, tidak ada perdarahan tali pusat, tali pusat belum
lepas, tali pusat terbungkus oleh kassa.
Palpasi :
Tidak ada pembesaran hepar, tidak ada pembesaran lien, tidak ada
massa/benjolan pada abdomen.
Perkembangan refleks :

Rotting refleks
28

: ada dan aktif

Grasping refleks : ada dan aktif

Morro refleks

Tonickneck refleks: ada dan aktif

Sucking refleks : ada dan aktif

Swallowing refleks: ada dan aktif

: ada dan aktif

2. Memberikan imunisasi BCG+Polio dengan teknik aseptik.


a. Memberikan imunisasi BCG
Persiapan alat :
Spuit 1 cc
Vial BCG, diambil 0,05 cc
Kapas DTT
Bengkok
Langkah pemberian imunisasi BCG :
Mencuci tangan
Mengatur posisi bayi sesuai tempat penyuntikan, lengan kanan di
bagian atas dan bayi di miringkan.
Bedong bayi dan tangan kanan bayi di keluarkan
Memakai sarung tangan
Menentukan tempat penyuntikan di lengan kanan atas bagian luar
Membersihkan kulit dengan kapas DTT
29

Menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk meregangkan kulit


Memasukkan spuit dengan sudut 15 atau secara intracutan dan
jarum masuk 2/3 bagian.
Lakukan aspirasi dan masukkan obat secara perlahan sampai timbul
benjolan pada daerah penyuntikan.
Mengeluarkan jarum dari tempat penyuntikan secara perlahan.
Jangan menekan daerah penyuntikan dengan kapas DTT.
b. Memberikan imunisasi Polio
Persiapan alat :
Vaksin polio
Pipet
Langkah pemberian imunisasi polio :
Pasangkan pipet pada vial vaksim polio
Mengatur posisi bayi dan bedong bayi
Menekan dan tarik sedikit dagu bayi
Takan pipet agar vaksin polionya keluar
Teteskan vaksin polio dibawah lidah bayi sebanyak 2 tetes
Lepaskan tarikan pada dagu
Bereskan peralatan
Anjurkan ibu ntuk tidak memberikan ASI/PASI selama 15-20
menit.

30

3. Menganjurkan ibu untuk tidak memberikan ASI/MPASI selama 15-20


menit setelah pemberian imunisasi Polio. Hal ini dilakukan agar
efektivitas dari imunisasi polio tidak berkurang. Efektivitas dari vaksin
dapat berkurang karena ASI/PASI yang diberikan dapat mengikat vaksin
tersebut sehingga efektivitasnya berkurang, serta mengurangi kegagalan
vaksin tersebut.
4. Memberikan obat penurun panas pada bayi jika bayi panas.
Obat penurun panas ini dapat berupa paracetamol bubuk dan sirup.
Paracetamol sirup mempunyai dosis sendok takar dan di berikan tiap 6
jam saat bayi panas. Jika bayi tidak panas hentikan pemberiannya. Untuk
paracetamol bubuk 1x/hari dan hanya di berikan jika bayi panas. Obat
penurun panas ini di berikan karena salah satu efek samping dari vaksin
BCG adalah demam.
5. Memberikan KIE pada ibu tentang efek samping imunisasi BCG+Polio
dan cara perawatan daerah bekas penyuntikan.
Beberapa hal yang sering terjadi pada penyuntikan BCG adalah
terdapat luka kecil yang tak jarang hingga bernanah karena terjadi
pembengkakan kelenjar getah bening pada daerah bekas penyuntikan.
Luka ini akan membekas dan menimbulkan jaringan parut. Luka pada
daerah penyuntikan akan sembuh sendiri. Luka bekas penyuntikan tidak
boleh di tekan atau di sentuh karena akan menyebabkan infeksi. Apabila
tidak muncul benjolan pada daerah bekas penyuntikan maka imunisasi
dianggap gagal dan harus diulang sebelum anak usia 1 tahun. Efek
samping dari penyuntikan imunisasi BCG adalah bayi panas/demam,
timbul jaringan parut pada daerah bekas penyuntikan dll.

6. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI selama 6 bulan.


ASI sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI
mengandung zat-zat penting bagi tubuh bayi. Kandungan ASI tersebut
31

dapat membantu menjaga kesehatan bayi karena mengandung zat antibodi


yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit. Oleh karena itu,
sebaiknya ibu selalu berusaha untuk memberikan ASI pada bayi agar
kebutuhan nutrisi bayi juga terpenuhi dengan baik. Ibu juga di anjurkan
untuk tidak memberikan bayinya makanan pendamping ASI.
7. Menganjurkan ibu datang kembali untuk jadwal imunisasi selanjutnya
pada tanggal 02-08-2013, untuk mendapatkan imunisasi DPT + Polio 2,
atau datang sewaktu-waktu jika ada keluhan seperti lika bekas
penyuntikan berbau, bayi kejang, perdarahan dari luka, luka bernanah dan
bayi kuning.
VII.EVALUASI
Tanggal : 01-07-2013, jam : 09.30 WIB
S : Ibu mengerti dan paham tentang apa yang telah di sampaikan oleh bidan.
O : Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: composmentis

TTV

Suhu : 36,6c
RR : 43x/menit
Nadi : 130x/menit
Kulit
Inspeksi :
Merah muda, tidak ada lesi, tidak ada lanugo dan verniks kaseosa.
Abdomen
Inspeksi :

32

Bulat, tidak ada lesi, tidak ada perdarahan tali pusat, tali pusat belum
lepas, tali pusat terbungkus oleh kassa.
Palpasi :
Tidak ada pembesaran hepar, tidak ada pembesaran lien, tidak ada
massa/benjolan pada abdomen.
Perkembangan refleks :

Rotting refleks

Grasping refleks : ada dan aktif

Morro refleks

Tonickneck refleks: ada dan aktif

Sucking refleks : ada dan aktif

Swallowing refleks: ada dan aktif

: ada dan aktif

: ada dan aktif

A : By.K usia 5 hari dengan imunisasi BCG + Polio 1


P : Beritahu ibu untuk jadwal imunisasi selanjunya yaitu DPT +Polio 1 pada
tanggal 02-08-2013.

BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah penulis melakukan pengkajian dan memberikan asuhan pada By.K
usia 5 hari dengan imunisasi BCG+Polio 1 di BPS Kisworo Pratiwi, maka penulis
mendapatkan data sebagai berikut :
33

1. Pengkajian
Pada saat penulis melakukan pengkajian atau pengumpulan data baik
subyektif maupun obyektif, maka penulis tidak menemukan kesenjangan
antara teori dan lahan praktek.
2. Interpretasi data
Berdasarkan pengkajian pada By.K telah di peroleh data yang bisa
menegakkan diagnosa yaitu By.K usia 5 hari dengan imunisasi BCG +
Polio 1.
3. Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
Setelah di lakukan pengkajian dan asuhan pada By.K tidak dapat di
tegakkan diagnosa potensial, karena tidak di temukan kelainan-kelainan
yang terjadi. Hal ini sesuai dengan yang di harapkan, sehingga tidak ada
kesenjangan antara teori dan lahan praktek.
4. Identifikasi diagnosa dan tindakan segera
Pada identifikasi tindakan segera tidak di lakukan kolaborasi dengan
dokter ataupun dengan petugas kesehatan lain karena tidak di temukannya
masalah.
5. Intervensi
Pada intervensi tidak di temukan adanya kesenjangan antara teori dan
lahan praktek.
6. Implementasi
Dari perencanaan yang telah di buat maka akan di lakukan tindakan /
asuhan kebidanan yang diperlukan oleh klien sesuai kebutuhan dan tidak
ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus.
7. Evaluasi
Merupakan langkah akhir dari asuhan kebidanan. Menurut teori dalam
evaluasi di harapkan ibu dapat memenuhi dan melakukan penjelasan yang
telah di berikan oleh bidan. Dalam pelaksanaannya tidak di temukan
kesenjangan antara teori dan kasus.

34

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Imunisasi adalah pemberian antibodi pada seseorang. Pemberian
imunisasi ini dapat di lakukan dengan berbagai cara. Dari asuhan
kebidanan yang telah dilakukan pada By.K usia 5 hari dengan imunisasi
BCG +Polio 1 adalah penulis dapat mengetahui konsep dari imunisasi dan
penulis dapat mengumpulkan data dan dapat melakukan pengkajian.
Selain pengkajian penulis juga dapat menegakkan diagnosa dari data yang
telah dikumpulkan oleh penulis. Setelah menegakkan diagnosa penulis
juga dapat menegakkan masalah potensial dan tindakan segera untuk
mengatasi masalah potensial tersebut. Penulis juga dapat membuat
perencanaan dari asuhan yang telah di lakukan dan setalah itu penulis
dapat mengimplementasikan perencanaan yang telah di buat dan
kemudian di evaluasi segala asuhan yang di berikan. Dari evaluasi yang di
lakukan di dapatkan bahwa tidak ada kesenjangan yang terjadi antara teori
dan kasus.
5.2 SARAN
1) Bagi Tenaga Kesehatan
a) Dapat memberikan asuhan kebidanan pada Bayi sehat dengan
Imunisasi Polio 2sesuai protap.
b) Dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada Bayi sehat dengan
Polio 2 untuk mengurangi kesakitan bayi.
2) Masyarakat
35

Mengharapkan pada para aktifis masyarakat desa untuk aktif


mengadakan program-program kesehatan terutama pada ibu dan bayi
3) Mahasiswa Kebidanan
Mengharapkan kepada seluruh mahasiswa untuk lebih memperdalam
ilmu pengetahuan khususnya ilmu tentang kebidanan, dan mampu
memberikan asuhan kebidanan pada setiap bayi baru lahir sesuai teori
dalam praktek lapangan.

36

DAFTAR PUSTAKA
Belson. 2007. Ilmu kesehatan anak. Jakarta : EGC.
Depkes RI . 2000. Manajemen terpadu balita sakit. Jakarat : Depkes RI.
Widjaja. 2005. Mencegah dan mengatasi demam pada balita. Jakarta : Kawan
Pustaka.
Maimunah, Siti. 2005. Kamus lengkap kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka.
Prawirohardjo S. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta: JNPKKR-POGI
Prawirohardjo S. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta: JNPKKR-POGI
Wiyati Nining, 2008. Perawatan ibu bersalin. Yogyakarta : Fitramaya
Nugraheny Esty, Arisulitiawati, 2010. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Y
Pusdiknakes, 2003, Buku 3 Asuhan Intrapartum, Jakarta: Salemba Medika.
Sarwono, P, 2003, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal, YBP SP, Jakarta: Salemba Medika.

37