Anda di halaman 1dari 4

CERPEN

TIDAK ADA YANG LEBIH BAIK DARI RUMAH

ada suatu ketika, Sira sedang melihat TV di ruang tengah, lalu ia sangat kecewa
dengan kepemimpinan presiden saat ini. Ia bahkan sangat emosi saat melihat apa
yang dilakukan oleh presiden itu di televisi. Sira yang masih duduk di bangku kelas
XII SMA tersebut, berpikir untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Ia rajin
mengkritik pemerintah Indonesia yang dianggapnya jauh dari kata ideal.
Jangan kamu bermimpi terlalu jauh, Nak. Kamu tahu sendiri kan bapak kamu bekerja
sebagai apa?, ujar Ayah Sira.
Tapi Sira ingin kuliah di luar negeri, Pak, jawab Sira.
Ya, semoga saja suatu saat nanti kamu dapat meraih cita-citamu itu.
Sira sangat ingin pergi meninggalkan negaranya karena ia berpikir bahwa tidak ada
gunanya tinggal di negara ini, dan ia merasa sangat bosan dengan kehidupannya ini. Maka
dari itu ia selalu belajar bagaimana untuk dapat sekolah di luar negeri.
Suatu ketika, Sira mendapati temannya Roni, tetangganya yang baru saja pulang dari
Jepang untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Sira ingin berprestasi seperti Roni. Meskipun
banyak orang yang meragukannya, ia tetap berusaha untuk meraih cita-citanya tersebut tanpa
mempedulikan orang lain.
Mas Roni! Apa kabar? Lagi libur semester ya ?,
Alhamdulillah baik, Ra. Kamu?, jawab Roni.
Ya beginilah, Mas. Gimana kuliahnya di Jepang, Mas?
Ya begitulah Ra. Biasa aja sih. Kangen Indonesia, kangen bapak ibu., jawab mas Roni
Kok biasa? Enak kan bisa kuliah di Jepang. Keren, Mas. Kapan aku bisa nyusul ya?
Sira, Sira, kamu masih pengen kuliah di luar negeri?, tanya Mas Roni diiringi anggukan
penuh semangat Sira. Kamu pasti bisa, Ra. Tetep semangat, pasti ada jalan kok.
Bagi tips dan trik, Mas ?, pinta Sira memohon.
Sip., jawab mas Roni sambil memberi berbagai informasi mengenai beasiswa pada
Sira.Tapi kalau di Jepang sering gempa, Ra. Belum lagi cuacanya ekstrim, ini rambutku jadi
tipis ni, rontok semua, hahaha., mereka pun tertawa.

Sira semakin rajin belajar. Selain mempersiapkan Ujian Nasional, ia juga mempersiapakan
untuk masuk ke PTN serta berusaha agar mendapatkan beasiswa ke Luar Negeri, seperti yang
ia cita-citakan selama ini. Eropa merupakan incarannya.
Ujian Nasional berhasil dilewati Sira dengan mudah. Berkat usaha kerasnya pula, ia pun
berhasil masuk PTN yang diinginkannya. Kini, Sira fokus pada target terbesarnya untuk bisa
mengikuti program pertukaran pelajar ke Eropa selama satu semester. Ia mencatat semua
syarat-syarat yang diperlukan sejak semester dua. Organisasi merupakan salah satu nilai plus
bagi para pendaftar program tersebut selain nilai IPK, maka Sira pun rajin dan fokus
bergabung dengan salah satu organisasi mahasiswa di jurusannya dan tetap mempertahankan
IP yang bagus setiap semesternya. Pada semester keempat, Sira berhasil mendapatkan
kesempatan itu.
Tetapi saat Sira akan berangkat ke Ukraina, Ayah dan Ibunya sempat melarang Sira untuk
pergi karena khawatir dengan kondisi yang ada disana. Selain itu banyaknya orang-irang
yang berasal dari negara yang berbeda-beda sehingga membuat orang tua Sira khawatir akan
pergaulan yang ada di sana.
Sira, Apakah kamu yakin akan benar-benar ikut pertukaran tersebut ?, tanya Ayah
Pasti dong kan, itu cita-citaku dari dulu, lagian kau juga pingin pergi ke Eropa, jawab
Sira dengan penuh keyakinan.
Baiklah kalau begitu ini kan cita-citamu dari dulu, ujar Ayah.
Awalnya Sira sempat marah kepada kedua orang tuanya yang melarangnya pergi.Tetapi
dengan kemauan Sira yang besar, membuat hati orang tua Sira luluh hingga
memperbolehkannya untuk pergi ke Ukraina, walaupun dengan hati yang sangat berat.
Sira dengan penuh semangat berpamitan dengan orang tua dan teman-temannya untuk
terbang ke Ukraina. Pada tiga bulan pertama, Sira merasa sangat senang, ia sedang menjalani
mimpinya. Ia bisa melihat betapa rapinya dan terorganisirnya negara bekas pecahan Uni
Soviet itu. Di sana ia menemukan banyak bangunan tua yang dipelihara dengan baik dan
menjadi ikon kota. Ia belajar banyak hal tentang sistem perkuliahan dan cara mahasiswa di
sana belajar.
Namun, itu tak bertahan lama. Pada suatu pagi, Sira terbangun karena suara bising di luar
asramanya. Sejumlah mahasiswa yang membawa sejumlah spanduk dan senjata tumpul
sedang berkumpul di halaman bawah asrama Sira.
Mereka akan segera ke alun-alun kota Kiev., ujar teman sekamar Sira. Ia terlihat panik.
Kita sebaiknya tetap berada di dalam asrama., ujar teman lain yang datang membuka
pintu kamar mereka. Sira mengangguk.

Seharian itu, Sira tidak bisa keluar rumah. Ia dan beberapa kawan seasramanya kelaparan
karena terisolasi dalam asrama. Untuk menenangkan diri dan melupakan rasa laparnya, Sira
dan beberapa teman seasramanya mengobrol. Kebanyakan dari mereka adalah para peserta
pertukaran pelajar dari luar negeri, sama seperti Sira.
Di Venezuela juga sedang rusuh seperti ini. Entah seberapa parah sekarang., ujar Kona
yang berasal dari Venezuela dengan raut wajah sedih.
Rusuh? Rusuh kenapa, Kona?, tanya Sira.
Yap, Sira, ada pemberontakan menentang Presiden yang sedang berkuasa.
Iya, di negaraku malah lebih sering lagi., ujar Vip yang berasal dari Thailand. Kalau
sudah rusuh, kami sekeluarga terisolasi selama berhari-hari. Makanya kami sering beli
makanan kaleng atau apapun yang tahan lama, untuk antisipasi aja sih., lanjutnya.
Kalau di Indonesia bagaimana, Sira?, tanya Kona.
Ah, sama saja sih, dulu juga pernah ada pemberontakan untuk menggulingkan
pemerintah yang berkuasa.
Apa kamu mengalaminya? Bagaimana kejadiannya?
Aku tidak mengalaminya langsung sih. Waktu itu aku masih umur empat tahun dan aku
tidak tinggal di ibukota tempat demo besar berlangsung.
Ah kamu beruntung tidak mengalaminya langsung, Sira., ujar Vip.
Bagaimana di Jerman ?, tanya Sira pada gadis berambut coklat tua yang duduk di
sebelahnya.
Aku keturunan Turki dan muslim, orang Jerman masih melihat kami yang imigran,
dengan stereotip yang tidak baik. Aku belum berani pakai hijab di sana dan saat ingin pergi
ibadah pun kami harus hati-hati memilih masjid.
Kenapa begitu, Sofi?
Iya, karena beberapa masjid sudah dapat kecaman dan image buruk dari pemerintah dan
masyarakat. Beribadah di sana bisa membuat kami dapat cap jelek juga.
Mereka terdiam beberapa saat dan terdengar gemuruh suara perut yang keroncongan.
Mereka tertawa miris, bagaimanapun juga mereka masih lapar. Dan akhirnya untuk pertama
kalinya sejak menjejakan kaki di negeri impiannya itu, Sira merasa rindu pada orang tuanya
dan yang paling tidak ia sangka, ia juga merindukan tanah airnya, Indonesia. Ia merasa
beruntung tinggal di Indonesia. Meskipun pernah mengalami kekacauan politik pada tahun
1998, kini Indonesia sudah lumayan tentram. Sira tidak pernah menemui kekacauan lagi
selama 19 tahun tinggal di sana. Ia bisa pergi ke mana saja. Beribadah di mana saja
sesukanya, dan berhijab dengan nyaman tanpa pandangan sinis dari orang lain. Di negara
lain, belum tentu Sira bisa merasakan kebebasan seperti itu.

Dalam situasi yang mendesak tersebut,membuat Sira menyesal akan kelakuannya selama
ini terhadap keluarganya sendiri dan kepada negaranya sendiri.Banyak hal yang belum dapat
dipelajari oleh Sira yang menganggap bahwa negara orang selalu lebih nyaman dan lebih
untuk segala hal. padahal seperti yang kita tahu belum tentu di negara orang lebih baik dari
rumah sendiri.
Setelah berlindung selama beberapa hari dalam asrama. Akhirnya tim penyelamat datang,
kelima Mahasiswa tersebut sangat bahagia sekaligus bersyukur atas kedatangan tim
penyelamat tersebut. Sira dan 4 teman langsung dibawa ke tempat perlindungan untuk
mendapatkan pengobatan dan dijauhkan dari bencana kerusuhan tersebut.
Akhirnya kita bebas dari kerusuhan yang terjadi., ujar Sira
Ya, beruntung sekali kita dapat keluar dari sana. Bagaimana jika tidak ada yang
menemukan kita?, Maka habislah kita, ujar Vip
Kita selayaknya bersyukur kepada Tuhan yang memberikan kita jalan keluar dari masalah
ini., ujar Kona
Selain itu jangan lupa untuk berterima kasih kepada tim penyelamat dari Pemerintah
Ukraina yang telah menemukan dan menyelamatkan kita., ujar Sira
Kelima pemuda tersebut kemudian berterimakasih kepada seluruh tim yang telah
menyelamatkan mereka. Setelah beberapa hari di tempat pengungsian, akhirnya mereka
diperbolehkan untuk kembali ke asrama mereka. Karena kondisinya dinilai sudah mulai
membaik, walaupun masih adanya kerusuhan kecil-kecilan.
Beberapa bulan berlalu, kerusuhan pun mereda. Sira telah menyelesaikan satu semester di
Ukraina dan ini waktunya ia pulang ke Indonesia.
Akhirnya aku bisa pulang ke Indonesia, sudah tidak sabar rasanya untuk pulang. Aku
kangen banget sama seluruh keluargaku, teman SMA.,ungkap Sira, sambil berjalan menuju
ruang tunggu Bandara Boryspil di kota Kiev.
Ketika sampai di bandara Soekarno Hatta, Jakarta, ia mencari keluarganya yang datang
menjemput. Ia berlari ke arah Ayah, Ibu, dan Kakaknya yang menyambutnya dengan senyum
dan pelukan.
Sudah tercapai cita-citamu, Sira., ujar Ayahnya.
Enak di Ukraina, Ra?, tanya kakaknya.
Paling enak di rumah sendiri, Mbak., ujar Sira. Ayo cepat pulang! Sira kangen rumah,
Bu.
Sejak saat itu Sira sadar, bahwa tinggal di negara orang lain tidak senyaman tinggal di
negara sendiri. Sehingga ia berpikir untuk tidak mengambil program pertukaran pelajar lagi
dan lebih memilih tinggal di Indonesia.