Anda di halaman 1dari 8

KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN

BATUBARA DAN SABUT KELAPA

Amin Sulistyanto
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl.A.Yani Tromol Pos1 Pabelan Kartasura

ABSTRAK
Potensi biomass sabut kelapa sebagai sumber energi alternatif sedemikian
melimpah, namun belum terolah sepenuhnya. Tujuan penelitian ini adalah
menguji karakteristik pembakaran biobriket campuran batubara dengan sabut
kelapa perbandingan batubara : biomass : 10% : 90%, 20% : 80%, 30% :
70%.Penelitian awal dilakukan dengan pengujian proximate bahan baku
meliputi kadar air, nilai kalor, kadar abu, volatile matter dan kadar karbon
Selanjutnya dilakukan pembuatan biobriket dengan pencampuran bahan baku
batu bara, sabut kelapa, lime stone dengan perekat pati kanji dengan
pengepresan tekanan 100 kg/cm2.Pengujian karakteristik pembakaran
dilakukan dengan alat uji pembakaran di Laboratorium Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk mengetahui besarnya laju
pengurangan massa dengan kecepatan udara konstan. Pengujian emisi polutan
hasil pembakaran dilakukan di Laboratorium Dinas Perhubungan Rembang
Berdasarkan percobaan dan parameter yang telah di uji, penambahan biomass
menyebabkan naiknya volatile matter sehingga lebih cepat terbakar dan laju
pembakaran lebih cepat. Penambahan biomass juga dapat menurunkan emisi
polutan yang dihasilkan pada saat pembakaran. Komposisi biobriket terbaik
yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari adalah komposisi batubara
: biomass = 10% : 90% karena lebih cepat terbakar dan lebih ramah
lingkungan, sedangkan untuk kebutuhan industri, komposisi terbaik dengan
pencapaian temperatur tertinggi adalah komposisi batubara : biomass = 30% :
70%.

Kata kunci : Sabut kelapa, biobriket, karakeristik pembakaran , polutan.

PENDAHULUAN pencemaran lingkungan terutama polusi


Tingkat pemakaian bahan bakar udara yang diakibatkan oleh pembakaran
terutama bahan bakar fosil di dunia semakin bahan bakar tersebut, sehingga muncul
meningkat seiring dengan semakin sebuah pemikiran penggunaan energi
bertambahnya populasi manusia dan alternatif yang bersih.
meningkatnya laju industri di berbagai Beberapa jenis sumber energi alternatif
negara di dunia. Hal tersebut menimbulkan yang bisa dikembangkan antara lain : energi
kekhawatiran akan terjadinya krisis bahan matahari, energi angin, energi panas bumi,
bakar. Di samping itu kesadaran manusia energi panas laut (OTEC) dan energi
akan lingkungan semakin tinggi sehingga biomassa. Diantara sumber-sumber energi
muncul kekhawatiran meningkatnya laju alternatif tersebut, energi biomass

MEDIA MESIN, Vol. 7, No. 2, Juli 2006, 77-84 77


merupakan sumber energi alternatif yang pertimbangan murah, mudah didapatkan
perlu mendapat prioritas dalam dan belum termanfaatkan maksimal.
pengembangannya dibandingkan dengan
sumber energi yang lain. Di sisi lain, TINJAUAN PUSTAKA
Indonesia sebagai negara agraris banyak Tahapan dalam pembakaran bahan bakar
menghasilkan limbah pertanian yang padat adalah sebagai berikut :
kurang termanfaatkan. Limbah pertanian 1. Pengeringan
yang merupakan biomass tersebut Dalam proses ini bahan bakar
merupakan sumber energi alternatif yang pengalami proses kenaikan temperatur
melimpah, dengan kandungan energi yang yang akan mengakibatkan menguapnya
relatif besar. Limbah pertanian tersebut kadar air yang berada pada permukaan
apabila diolah bersama-sama dengan batu bahan bakar tersebut, sedangkan untuk
bara dan zat pengikat polutan akan menjadi kadar air yang berada di dalam akan
suatu bahan bakar padat buatan yang lebih menguap melalui pori-pori bahan bakar
luas penggunaannya sebagai bahan bakar padat tersebut.
alternatif yang di sebut biobriket. 2. Devolatilisasi
Di samping itu sumber energi biomassa Yaitu proses bahan bakar mulai
mempunyai keuntungan pemanfaatan mengalami dekomposisi setelah terjadi
(Syafii, 2003) antara lain : pengeringan.
1. Sumber energi ini dapat dimanfaatkan 3. Pembakaran Arang
secara lestari karena sifatnya yang Sisa dari pirolisis adalah arang (fix
renewable resources. carbon) dan sedikit abu, kemudian
2. Sumber energi ini relatif tidak partikel bahan bakar mengalami tahapan
mengandung unsur sulfur sehingga oksidasi arang yang memerlukan 70%-
tidak menyebabkan polusi udara 80% dari total waktu pembakaran.
sebagaimana yang terjadi pada bahan Faktor-faktor yang mempengaruhi
bakar fosil. pembakaran bahan bakar padat, antara lain :
3. Pemanfaatan energi biomassa juga 1. Ukuran partikel
meningkatkan efisiensi pemanfaatan Partikel yang lebih kecil ukurannya
limbah pertanian. akan lebih cepat terbakar.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka 2. Kecepatan aliran udara
peneliti melakukan penelitian tentang Laju pembakaran biobriket akan naik
pengolahan limbah pertanian (dalam dengan adanya kenaikan kecepatan
penelitian ini peneliti memanfaatkan limbah aliran udara dan kenaikan temperatur
pertanian berupa sabut kelapa) menjadi 3. Jenis bahan bakar
biobriket sebagai salah satu bahan bakar Jenis bahan bakar akan menentukan
alternatif. karakteristik bahan bakar. Karakteristik
Dalam makalah ini akan dilakukan tersebut antara lain kandungan volatile
pembahasan mengenai pengaruh variasi matter dan kandungan moisture.
komposisi biobriket terhadap laju 4. Temperatur udara pembakaran
pengurangan massa pada proses Kenaikan temperatur udara pembakaran
pembakaran biobriket serta dampak polutan menyebabkan semakin pendeknya
yang dihasilkan dari proses pembakaran waktu pembakaran.
biobriket terhadap lingkungan. Beberapa masalah yang berhubungan
Adapun biomass yang digunakan dalam dengan pembakaran sabut kelapa dengan
penelitian ini adalah sabut kelapa dengan batubara antara lain :
a. Kadar air

78 Amin Sulistyanto, Karakteristik Pembakaran Biobriket Campuran Batubara,


dan Sabut Kelapa
Kandungan air yang tinggi menyulitkan hidrat. Keuntungan penggunaan perekat
penyalaan dan mengurangi temperatur pati antara lain : harga lebih murah, mudah
pembakaran. pemakaiannya, dapat menghasilkan
b. Kadar kalori kekuatan rekat kering yang tinggi. Selain
Semakin besar nilai kalor maka itu perekat pati juga memiliki kelemahan
kecepatan pembakaran semakin lambat. seperti : ketahanan terhadap air yang rendah
c. Kadar abu untuk perekatan awal sehingga bersifat
Kadar abu yang tinggi didalam batubara sementara (dalam kayu lapis), mudah
tidak mempengaruhi proses diserang jamur, bakteri, dan binatang
pembakaran. Kadar abu yang tinggi pemakan pati.
dalam batubara akan mempersulit
penyalaan batubara. METODOLOGI PENELITIAN
d. Volatile matter atau zat-zat yang mudah Diagram alir penelitian
menguap Diagram alir penelitian dapat dilihat pada
Semakin banyak kandungan volatile gambar 1. Secara terperinci diagram
matter pada biobriket maka semakin tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;
mudah biobriket untuk terbakar dan Pengumpulan Dan Pengolahan Bahan
menyala. Baku
e. Bulk density 1. Bahan Penelitian
Sabut kelapa mempunyai bulk density - Batubara kualitas rendah (lignite) yang
yang jauh lebih rendah bila masih asli dan belum mengalami proses
dibandingkan dengan batubara. pengolahan.
Jenis Polutan Yang Dihasilkan Pada - Sabut kelapa
Pembakaran Bahan Bakar - Bahan perekat yaitu tepung pati
Secara teoritis pembakaran bahan bakar - Batu kapur (limestone) sebagai bahan
menghasilkan CO2 dan H2O saja, padahal pengikat polutan
kenyataannya pembakaran pada bahan - Gas LPG, sebagai bahan bakar untuk
bakar banyak yang tidak sempurna dimana memanaskan tungku pada proses
akan menimbulkan zat-zat polutan yang pembakaran biobriket.
berbahaya terhadap kesehatan manusia. 2. Pengolahan Bahan Baku
Adapun beberapa polutan dari bahan bakar - Penghalusan batubara menjadi
antara lain : Sulfur Dioksida (SOx), Carbon serbuk
Monoksida (CO), Oksida nitrogen (NOx ), - Pencacahan sabut kelapa menjadi
Oksidan (O3), Hidrokarbon (HC), Khlorin ( serbuk
Cl2), Partikel Debu, Timah Hitam (Pb), - Pembuatan bahan perekat
Besi (Fe). Pembuatan Biobriket
Sabut Kelapa - Pencampuran bahan baku
Sabut kelapa merupakan bagian dari Batu bara, sabut kelapa, bahan perekat
kelapa yang termasuk dalam familia dan lime stone dicampur hingga rata
palmae. Sabut kelapa merupakan bagian dengan komposisi batu bara : sabut kelapa
yang cukup banyak dari buah kelapa, yaitu = 10% : 90%, 20% : 80%, 30% : 70%.
kurang lebih 35% dari berat keseluruhan (dalam hal ini prosentase bahan perekat
buah. dan limestone diabaikan dan dianggap
Perekat Pati homogen)
Perekat pati dikelompokkan sebagai
perekat alam dengan perekat dasar karbo-

MEDIA MESIN, Vol. 7, No. 2, Juli 2006, 77-84 79


Pengumpulan Bahan Baku : Batubara, Sabut Kelapa,
Bahan Perekat dan Batu Kapur (Lime Stone)

Pencacahan Batubara dan Sabut Kelapa

Analisys Proximate dan Ultimate Bahan Baku

Pembuatan Alat Pengepress

Pembuatan Biobriket

Pembakaran Biobrikat

Uji Polusi dan Abu

Pembuatan Laporan

Gambar 1. Flowchart penelitian

. pengepresan dengan tekanan 100


- Pencetakan biobriket kg/cm2 dan didiamkan selama 10 menit.
Bahan baku yang telah tercampur rata Setelah itu biobriket dikeluarkan dari
dimasukkan ke dalam cetakan yang cetakan dan dikeringkan di tempat yang
berbentuk silinder dengan diameter 1,5 tidak terkena sinar matahari secara
cm dan tinggi 1,75 cm. langsung selama 3 hari.
- Pengepresan Bentuk biobriket yang dihasilkan
Setelah bahan baku dimasukkan ke dapat dilihat pada gambar 2
dalam cetakan, kemudian dilakukan

Gambar 2. Bentuk biobriket

80 Amin Sulistyanto, Karakteristik Pembakaran Biobriket Campuran Batubara,


dan Sabut Kelapa
Keterangan :
→ Aliran pemanas LPG
--- Aliran udara
1. Blower
2. Saluran by pass
3. Katup pengatur aliran udara
4. Saluran masuk pemanas LPG
5. Tungku 1
6. Tungku 2
7. Saluran buang pemanas LPG
8. Termakopel temperatur dinding
9. Kawat penggantung bahan bakar
10. Digital thermocouple reader
11. Electronic professional scale
12. Stop wacth
13. Termokopel temperatur gas pembakaran
14. Termokopel temperatur udara pre-heater
15.Digital thermocouple reader
16. Termokopel temperatur udara supply

Gambar 3. Sketsa alat uji

Gambar 4. Tempat Pembakaran Gambar 5. Alat pengepress


biobriket biobriket

Gambar 6. Alat pencetak batubara

MEDIA MESIN, Vol. 7, No. 2, Juli 2006, 77-84 81


Peralatan Yang Digunakan HASIL DAN PEMBAHASAN
Peralatan utama yang digunakan dalam Hasil pengujian sifat dan bahan dasar dapat
penelitian ini terdapat di Laboratorium ditunujkkan pada tabel 1
Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah
Surakarta Pengaruh Variasi Komposisi Terhadap
a. Alat Pembakaran Biobriket Laju Pengurangan Massa Pada Pemba-
Alat ini dapat dilihat pada gambar 3dan karan Biobriket (Batubara : Sabut
gambar 4. Kelapa = 10% : 90%, 20% : 80%, 30% :
b. Alat Pengepress biobriket 70% )
Alat pengepress biobriket dibuat Gambar 7 dan 8 menunjukkan laju
deangan cara memodifikasi dongkrak pembakaran paling cepat adalah pada
hidraulik yang bertekanan maximal 2 komposisi 90% sabut kelapa : 10%
ton dengan diameter 22 mm dan batubara, hal ini dipengaruhi oleh
dipasang manometer pada saluran kandungan volatile matter biobriket.
pembuangan udara dongkrak yang Semakin banyak kandungan volatile matter
berfungsi untuk mengukur tekanan pada maka semakin mudah untuk terbakar dan
saat pengepresan. Selengkapnya alat menyala.
dapat dilihat pada gambar 5 dan 6.

Tabel 1. Sifat-sifat bahan dasar

Sifat Batu Bara Lignite Sabut Kelapa


Kadar air (%) 14,31 2,45
Kadar Abu (%) 2,02 1,34
Kadar Karbon (%) 69,53 21,62
Volatile Matter (%) 14,14 74,59
Nilai Kalor (Kal/Kg) 5289,395 3942,751

Pengaruh Variasi Komposisi Terhadap Laju Pengaruh Variasi Komposisi Terhadap Laju Pengurangan Massa
Pembakaran
Pengurangan Massa

0.014
4.5
4
Laju Pengurangan M as s a

0.012
3.5
0.01
M a s s a ( g ra m )

3
(gram /detik )

2.5 0.008
2
1.5 0.006
1 0.004
0.5
0 0.002
0 120 240 360 480 600 720 840 960 0
Waktu (detik) 0 120 240 360 480 600 720 840 960
Waktu (detik)
Komposisi Batubara : Sabut Kelapa = 10% : 90%
Komposisi Batubara : Sabut Kelapa = 20% : 80% 90%Sabut Kelapa : 10% Batubara 80% Sabut Kelapa : 20% Batubara
Komposisi Batubara : Sabut Kelapa = 30% : 70% 70% Sabut Kelapa : 30% Batubara

Gambar 7. Grafik pengurangan massa Gambar 8. Grafik laju pengurangan massa

82 Amin Sulistyanto, Karakteristik Pembakaran Biobriket Campuran Batubara,


dan Sabut Kelapa
Pengaruh Variasi Komposisi Terhadap Temperatur
Pembakaran Biobriket

90
80

Temperatur Pembakaran
70
60
50

(0C)
40
30
20
10
0
0 120 240 360 480 600 720 840 960
Waktu (detik)

Komposisi Batubara : Sabut Kelapa = 10% : 90%


Komposisi Batubara : Sabut Kelapa = 20% : 80%
Komposisi Batubara : Sabut Kelapa = 30% : 70%

Gambar 9.Grafik temperature pembakaran


Pengaruh Variasi Komposisi Terhadap jenis bahan bakar maka laju pembakaran
Temperatur Pembakaran Pada Pemba- akan semakin lama.
karan Biobriket (Batubara : Sabut
Kelapa = 10% : 90%, 20% : 80%, 30% : Polutan Pembakaran Bahan Bakar
70% ) Dari tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa
Gambar 9 dapat dilihat bahwa tempe- semakin besar prosentase biomass pada
ratur pembakaran tertinggi terjadi pada pro- biobriket maka kandungan emisi polutan
ses pembakaran biobriket dengan kom- HC, CO dan NOx semakin berkurang. Dari
posisi 70% sabut kelapa : 30% batubara, hal ketiga variasi komposisi tersebut dapat
ini dipengaruhi oleh kandungan nilai kalor disimpulakan bahwa biobriket yang paling
biobriket. Namun pencapaian suhu opti- rendah polutannya adalah biobriket dengan
mumnya cukup lama. Semakin besar berat komposisi sabut kelapa : 10% batubara.

Tabel 2. Polutan pembakaran biobriket

KomposisiBatubara : Sabut Kelapa Jenis Polutan


HC (%) CO (%) NOx (%)
10% : 90% 0.00010 0.0032 0.0040
20% : 80% 0.00012 0.0036 0.0041
30% : 70% 0.00014 0.0040 0.0044

KESIMPULAN dipengaruhi oleh kandungan volatile


1. Laju pembakaran biobriket paling cepat matter yang terdapat pada biobriket.
adalah pada komposisi 90% sabut Semakin banyak kandungan volatile
kelapa : 10 % batubara. Hal ini matter suatu biobriket maka semakin

MEDIA MESIN, Vol. 7, No. 2, Juli 2006, 77-84 83


2. mudah biobriket tersebut terbakar, 4. Penggunaan biobriket untuk kebutuhan
sehingga laju pembakaran semakin sehari-hari sebaiknya digunakan
cepat. biobriket dengan perbandingan
3. Biobriket dengan tingkat polusi komposisi 90% sabut kelapa : 10%
terendah adalah pada komposisi 90% sabut kelapa, karena tingkat polusinya
sabut kelapa : 10 % batubara. Semakin paling rendah, pencapaian suhu
banyak kandungan karbon suatu optimum paling cepat dan pada
biobriket maka semakin banyak polutan kenyataannya pada pembakaran sehari –
CO yang terjadi, semakin banyak hari tidak digunakan blower sebagai
kandungan biomass sabut kelapa pada penyuplai udara, suplai udara hanya
biobriket akan menurunkan emisi berasal dari udara alami.
polutan HC.

DAFTAR PUSTAKA

Antolin,G.,Velasco,E.,Irusta,R.,Segovia,J.J.,1991, Combustion of Coffe Lignocellulose Waste,


Proceedings of First Internasional Conference, Vilamoura, Portugal.

Naruse,I.,Gani,A.,Morishita,K.,2001,Fundamental Characteristic on Co-Combustion of Low


Rank Coal with Biomass,Pittsburg.

Sudradjat, R., 2001, The Potensial of Biomass Energy Resources in Indonesia for the Possible
Development of Clean Technology Process (CPT), Jakarta..

Joko, S,, 2005, Pengolahan Sampah Kota menjadi biobriket sebagai salah satu bahan bakar
alternatif, UMS.

Samsul, M., 2004, Pengaruh Penambahan Arang Tempurung Kelapa Dan Penggunaan
Perekat Terhadap Sifat-Sifat Fisika Dan Kimia Briket Arang Dari Arang serbuk Kayu
Sengon, Universitas Gadjah Mada.

84 Amin Sulistyanto, Karakteristik Pembakaran Biobriket Campuran Batubara,


dan Sabut Kelapa