Anda di halaman 1dari 44

TUGAS

STABILITAS LERENG

Oleh :
Kelompok IV
Ketua : Kornelis Eko Patty (0806103329)
Anggota: Jemrifus Soinbala (0806103322)
Jesika Lazarus (0806103324)
Jovi Upu (0806103326)
Khaisyah Amirullah (0806103327)
Kondradus Y. S. Malut (0806103328)
Melida Andrea Boeky (0806103338)

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Lereng adalah permukaan bumi yang membentuk sudut kemiringan tertentu dengan
bidang horizontal. Lereng dapat terbentuk secara alamiah karena proses geologi atau
karena dibuat oleh manusia. Lereng yang terbentuk secara alamiah misalnya lereng bukit
dan tebing sungai, sedangkan lereng buatan manusia antara lain yaitu galian dan timbunan
untuk membuat jalan raya dan jalan kereta api, bendungan, tanggul sungai dan kanal serta
tambang terbuka.
Suatu longsoran adalah keruntuhan dari massa tanah yang terletak pada sebuah
lereng sehingga terjadi pergerakan massa tanah ke bawah dan ke luar. Longsoran dapat
terjadi dengan berbagai cara, secara perlahan-lahan atau mendadak serta dengan
ataupun tanpa tanda-tanda yang terlihat.
Setelah gempa bumi, longsoran merupakan bencana alam yang paling banyak
mengakibatkan kerugian materi maupun kematian. Kerugian dapat ditimbulkan oleh suatu
longsoran a n t a r a l a i n ya i t u rusaknya lahan pertanian, rumah, bangunan, jalur
transportsi serta sarana komunikasi.
Analisis kestabilan lereng harus berdasarkan model yang akurat mengenai kondisi
material bawah permukaan, kondisi air tanah dan pembebanan yang mungkin bekerja pada
lereng. Tanpa sebuah model geologi yang memadai, analisis hanya dapat dilakukan
dengan menggunakan pendekatan yang kasar sehingga kegunaan dari hasil analisis dapat
dipertanyakan.
Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan metodemetode seperti : metode Taylor, metode janbu, metode Fenellius, metode Bishop, dll.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari analisis kestabilan lereng antara lain adalah sebagai berikut:
1. Membuat desain yang aman dan ekonomis untuk galian, timbunan, bendungan, tanggul.
2. Merupakan dasar bagi rancangan ulang lereng setelah mengalami longsoran.
3. Memperkirakan kestabilan lereng selama konstruksi dilakukan dan untuk jangka
waktu yang panjang.

4. Mempelajari kemungkinan terjadinya longsoran, baik pada lereng buatan maupun


lereng alamiah.
5. Menganalisis penyebab terjadinya longsoran dan cara memperbaikinya.
6. Mempelajari pengaruh gaya-gaya luar pada kestabilan lereng.
Manfaat dari analisis stabilitas lereng adalah sebagai berikut :
1. Sebagai pendekatan untuk memecahkan masalah kemungkinan longsor yang akan terjadi
pada suatu lereng
2. Memberikan pengetahuan untuk menetapakan metode perkuatan suatu lereng agar
menjadi stabil dari hasil analisisb yang telah dilakukan.
3. Mengetahui penyebab terjadinya longsoran pada suatu lereng
4. Mengetahui pengaruh gaya-gaya luar yang bekerja pada suatu lereng

1.3 Batasan Masalah


Makalah ini berisi tentang analisa stabilitas lereng dengan menggunakan 2
metode, yaitu metode perhitungan manual dengan menggunakan metode Fellenius dan
metode Bishop sedangkan metode kedua adalah metode perhitungan dengan menggunakan
program GEOSTUDIO dengan menitikberatkan pada perhitungan Bishop.

BAB II
DASAR TEORI

Analisis kemantapan lereng (slope stability) diperlukan sebagai pendekatan untuk


memecahkan masalah kemungkinan longsor yang akan terjadi pada suatu lereng. Lereng pada
daerah penambangan dapat mengalami kelongsoran apabila terjadi perubahan gaya yang bekerja
pada lereng tersebut. Perubahan gaya ini dapat terjadi karena pengaruh alam atau karena aktivitas
penambangan.
Kemantapan lereng tergantung pada gaya penggerak (driving force) yaitu gaya yang
menyebabkan kelongsoran dan gaya penahan (resisting force) yaitu gaya penahan yang melawan
kelongsoran yang ada pada bidang gelincir tersebut serta tergantung pada besar atau kecilnya
sudut bidang gelincir atau sudut lereng.
Menurut Prof. Hoek (1981) kemantapan lereng biasanya dinyatakan dalam bentuk faktor
keamanan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
F = Gaya penahan / Gaya penggerak
Dimana:
Fk > 1 berarti lereng aman
Fk = 1 berarti lereng dalam keadaan seimbang
Fk < 1 berarti lereng dianggap tidak stabil
Penelitian terhadap kemantapan suatu lereng harus dilakukan bila longsoran lereng yang
mungkin terjadi akan menimbulkan akibat yang merusak dan menimbulkan bencana.
Kemantapan lereng tergantung pada gaya penggerak dan penahan yang ada pada lereng tersebut.
Gaya penggerak adalah gaya-gaya yang mengakibatkan lereng longsor. Sedangkan gaya penahan
adalah gaya-gaya yang mempertahankan kemantapan lereng tersebut. Jika gaya penahannya
lebih besar dari gaya penggerak, maka lereng tersebut dalam keadaan mantap.
1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemantapan Lereng
Kemantapan lereng selalu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : geometri lereng,
struktur geologi, kondisi air tanah, sidat fisik dan mekanik batuan serta gaya-gaya yang bekerja
pada lereng.
1) Geometri Lereng

Kemiringan dan tinggi suatu lereng sangat mempengaruhi kemantapannya. Semakin besar
kemiringan dan tinggi suatu lereng, maka kemantapannya semakin kecil.
2) Struktur Batuan
Struktur batuan yang sangat mempengaruhi kemantapan lereng adalah bidang-bidang sesar,
perlapisan dan rekahan. Struktur batuan tersebut merupakan bidang-bidang lemah dan sekaligus
sebagai tempat merembesnya air, sehingga batuan lebih mudah longsor.
3) Sifat Fisik dan Mekanik Batuan
Sifat fisik batuan yang mempengaruhi kemantapan lereng adalah : bobot isi (density), porositas
dan kandungan air. Kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kohesi, dan sudut geser dalam merupakan
difat mekanik batuan yang juga mempengaruhi kemantapan lereng.
Bobot Isi
Bobot isi batuan akan mempengaruhi besarnya beban pada permukaan bidang longsor. Sehingga
semakin besar bobot isi batuan, maka gaya penggerak yang menyebabkan lereng longsor akan
semakin besar. Dengan demikian, kemantapan lereng tersebut semakin berkurang.
Porositas
Batuan yang mempunyai porositas besar akan banyak menyerap air. Dengan demikian bobot
isinya menjadi lebih besar, sehingga akan memperkecil kemantapan lereng.
Kandungan Air
Semakin besar kandungan air dalam batuan, maka tertekan air pori menjadi besar juga. Dengan

demikian kuat geseer batuannya akan menjadi semakin kecil, sehingga kemantapannya pun
berkurang.

Kuat Tekan, Kuat Tarik, dan Kuat Geser


Kekuatan batuan biasanya dinyatakan dengan kuat tekan (confined & unfined compressive
strength), kuat tarik (tensile strength) dan kuat geser (shear strength). Batuan yang mempunyai
kekuatan besar, akan lebih mantap.
Kohesi dan Sudut Geser Dalam
Semakin besar kohesi dan sudut geser dalam, maka kekuatan geser batuan akan semakin
besar juga. Dengan demikian akan lebih mantap.
Pengaruh Gaya
Biasanya gaya-gaya dari luar yang mempengaruhi kemantapan lereng antara lain : getaran
alat-alat berat yang bekerja pada atau sekitar lereng, peledakan, gempa bumi, dll. Semua gayagaya tersebut akan memperbesar tegangan geser sehingga dapat mengakibatkan kelongsoran
pada lereng.
Gaya-gaya yang bekerja pada lereng secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
gaya-gaya yang cenderung untuk menyebabkan material pada lereng untuk bergerak ke
bawah dan gaya-gaya yang menahan material pada lereng sehingga tidak terjadi pergerakan atau
longsoran.
Berdasarkan hal tersebut, Terzaghi (1950) membagi penyebab-penyebab terjadinya
longsoran menjadi dua kelompok yaitu:
1. Penyebab-penyebab eksternal yang menyebabkan naiknya gaya geser yang bekerja
sepanjang bidang runtuh, antara lain yaitu:
Perubahan geometri lereng
Penggalian pada kaki lereng
Pembebanan pada puncak atau permukaan lereng bagian atas.
Gaya vibrasi yang ditimbulkan oleh gempa bumi atau ledakan.
Penurunan muka air tanah secara mendadak
2. Penyebab-penyebab internal yang menyebabkan turunnya kekuatan geser material, antara
lain yaitu:
Pelapukan
Keruntuhan progressive
Hilangnya sementasi material,
Berubahnya struktur material

Akan tetapi menurut Varnes (1978) terdapat sejumlah penyebab internal maupun
eksternal yang dapat menyebabkan naiknya gaya geser sepanjang bidang runtuh maupun
menyebabkan turunnya

kekuatan geser material, bahkan kedua hal tersebut juga dapat

dipengaruhi secara serentak.


Terdapatnya sejumlah tipe longsoran menunjukkan beragamnya kondisi yang dapat
menyebabkan lereng menjadi tidak stabil dan proses-proses yang memicu terjadinya
longsoran, yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu kondisi material
(tanah/batuan), proses geomorphologi, perubahan sifat fisik dari lingkungan dan proses yang
ditimbulkan oleh aktivitas manusia. Berikut ini adalah daftar singkat dari faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya longsoran.

Tabel Daftar dari Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Longsoran

Kondisi material bukan merupakan penyebab terjadinya longsoran melainkan kondisi yang
diperlukan agar longsoran dapat terjadi. Meskipun material pada lereng mempunyai kekuatan

geser yang cukup lemah, longsoran tidak akan terjadi apabila tidak ada proses-proses pemicu
longsoran yang bekerja.
Proses-proses pemicu longsoran dapat terjadi secara alami, seperti hujan lebat dengan
intensitas yang cukup tinggi, gempa bumi, erosi pada kaki lereng, maupun pemicu yang
ditimbulkan oleh kegiatan manusia, seperti penggalian pada kaki lereng, pembebanan pada
permukaan lereng bagian atas, peledakan, penggundulan hutan. Untuk beberapa kasus tertentu,
longsoran dapat terjadi tanpa proses pemicu yang jelas karena merupakan kombinasi dari
beberapa proses, seperti keruntuhan progressif atau pelapukan, yang menyebabkan terjadi
longsoran secara perlahan.

Pengaruh Beberapa Macam Faktor Terhadap Kondisi Kestabilan


Kestabilan suatu lereng akan bervariasi sepanjang waktu. Hal ini antara lain disebabkan
adanya musim hujan dan musim kering sehingga terdapat perubahan musiman dari permukaan
air tanah atau terjadi perubahan kekuatan geser material yang diakibatkan oleh proses
pelapukan.

Penurunan kestabilan lereng dapat juga terjadi secara drastis

apabila terjadi

perubahan yang tiba-tiba, seperti hujan lebat dengan intensitas yang tinggi, erosi pada kaki
lereng atau pembebanan pada permukaan lereng. Ilustrasi yang menggambarkan adanya variasi
atau perubahan kondisi kestabilan diperlihatkan pada gambar.
Kondisi kestabilan lereng berdasarkan tahapan kondisi kestabilannya dapat dibagi
menjadi tiga tahap sebagai berikut:
Sangat stabil, pada tahap ini lereng mempunyai tahanan yang cukup besar untuk
mengatasi gaya-gaya yang menyebabkan lereng menjadi tidak stabil.
Cukup stabil, pada kondisi lereng lereng mempunyai kekuatan yang tahanan yang
sedikit lebih besar daripada gaya-gaya yang menyebabkan lereng menjadi tidak
stabil serta terdapat kemungkinan untuk terjadi keruntuhan lereng pada suatu
waktu apabila gaya-gaya yang menyebabkan terjadinya longsoran mencapai suatu
nilai tertentu.
Tidak stabil, lereng dinyatakan berada dalam kondisi tidak stabil apabila telah
terdapat pergerakan secara kontinu atau berselang-seling

Gambar Variasi dari Faktor Keamanan Terhadap Waktu


Pembagian ketiga tahapan kondisi kestabilan tersebut sangat berguna dalam mempelajari
penyebab-penyebab ketidakstabilan lereng dan membaginya menjadi dua berdasarkan fungsinya
yaitu:
Faktor-faktor penyebab pendahuluan yaitu faktor-faktor yang dapat menyebabkan
lereng menjadi rentan terhadap longsoran sehingga merubah kondisi kestabilan
lereng dari sangat aman menjadi cukup aman.
Faktor-faktor pemicu longsoran yaitu faktor-faktor yang memicu sehingga terjadi
pergerakan pada lereng atau lereng mengalami longsoran. Faktor pemicu akan
menurunkan kondisi kestabilan lereng dari cukup aman menjadi tidak stabil.

Data-Data Untuk Analisis Kestabilan Lereng


Secara umum data yang diperlukan untuk analisis kestabilan lereng yaitu:
Topografi
Geologi
Sifat geoteknis material
Kondisi air tanah
Pembebanan pada lereng
Topografi.
Supaya penyelidikan lapangan dapat dilakukan dengan baik harus terdapat peta yang
cukup akurat yang menunjukkan letak dari lubang-lubang bor untuk penyelidikan, daerah
pemetaan struktur geologi serta lokasi dari penampang melintang yang dianalisis.

Geologi
Beberapa kondisi geologi yang diperlukan dalam analisis kestabilan lereng, yaitu: tipe
mineral pembentuk material lereng, bidang-bidang diskontinuitas dan perlapisan,tingkat
intensitas pelapukan, kedalaman

pelapukan, sejarah dari keruntuhan sebelumnya dan

keadaan tegangan di tempat. Tipe longsoran yang mungkin terjadi sangat dipengaruhi oleh
kondisi dari bidang- bidang tak menerus pada daerah yang distudi/diselidiki. Berikut ini adalah
sketsa dari beberapa bentuk tipe longsoran dan kondisi bidang-bidang tak menerus yang
mempengaruhinya.
Selama proses pekerjaan penggalian lereng kondisi geologi harus terus dikaji dan desain
lereng dapat dimodifikasi ulang apabila ternyata kondisi geologi yang aktual berbeda dengan
yang

diasumsikan. Pada umumnya data geologi yang tersedia biasanya sangat terbatas

sehingga dapat menghasilkan beragam interpretasi. Oleh sebab itu kondisi geologi harus selalu
diamati selama pekerjaan berlangsung serta mempertimbangkan kemungkinan adanya
perubahan rancangan lereng apabila kondisi aktual di lapangan berbeda dengan kondisi geologi
yang diasumsikan.
Sifat material
Sifat material yang diperlukan dalam analisis kestabilan lereng yaitu parameter
kekuatan geser dan berat satuan material. Parameter kekuatan geser merupakan sifat material
terpenting karena faktor keamanan dinyatakan dalam bentuk perbandingan kekuatan geser
yang tersedia dan kekuatan geser yang diperlukan, sehingga penentuan parameter kekuatan
geser harus seakurat mungkin. Parameter kekuatan geser terdiri dari komponen yaitu kohesi
dan sudut geser. Untuk analisis lereng yang telah mengalami longsoran harus diperhatikan
tentang kekuatan geser sisa.
Berdasarkan kondisi pengujian di laboratorium atau pengujian di lapangan terdapat dua
t i p e k e k u a t a n ge s e r material yaitu: kekuatan geser takterdrainase dan kekuatan geser
terdrainase. Kekuatan geser takterdrainase digunakan apabila analisis kestabilan lereng
dilakukan dengan pendekatan tegangan total, sedangkan kekuatan geser terdrainase digunakan
apabila analisis kestabilan lereng dilakukan dengan pendekatan tegangan efektif.
Air tanah
Kondisi air tanah merupakan salah satu parameter terpenting dalam analisis kestabilan
lereng, k a r e n a seringkali terjadi longsoran yang diakibatkan oleh kenaikan tegangan air pori

yang berlebih. Tekanan air pori tidak diperlukan apabila dilakukan analisis kestabilan dengan
tegangan total. Gaya hidrostatik pada permukaan lereng yang diakibatkan oleh air yang
menggenangi permukaan lereng juga harus dimasukkan dalam perhitungan kestabilan lereng,
karena gaya ini mempunyai efek perkuatan pada lereng.
Pada umumnya keberadaan air akan mengurangi kondisi kestabilan lereng yang antara lain
karena

menurunkan kekuatan geser material sebagai akibat naiknya tekanan air pori,

bertambahnya berat satuan material, timbulnya gaya-gaya rembesan yang ditimbulkan oleh
pergerakan air.

Pembebanan pada lereng


Data lain yang diperlukan dalam analisis kestabilan lereng yaitu gaya-gaya luar yang
bekerja pada permukaan lereng, seperti beban dinamik dari lalu-lintas, beban statik dari
bangunan atau timbunan di atas lereng, peledakan. Gaya-gaya luar ini harus dimasukkan
dalam perhitungan karena dapat mempunyai efek mengurangi kondisi kestabilan lereng.
Geometri Lereng
Data g e o m e t r i lereng yang diperlukan yaitu data mengenai sudut kemiringan dan
tinggi lereng. Geometri lereng alami dapat ditentukan dengan membuat penampang vertikal
berdasarkan peta topografi. Sedangkan untuk lereng buatan, geometri lereng ditentukan dari
desain lereng yang akan dibuat.
Dari semua data yang dibutuhkan dalam analisis kestabilan lereng, data mengenai
kekuatan geser dan kondisi air tanah merupakan data yang terpenting dan mempunyai pengaruh
yang sangat besar terhadap keakuratan dan keterpercayaan hasil perhitungan analisis kestabilan
lereng. Sayangnya penentuan kedua data tersebut secara akurat dan dapat mewakili kondisi yang
sebenarnya di lapangan merupakan hal yang sulit untuk dilakukan oleh sebab itu untuk kedua
macam data tersebut digunakan pendekatan yang konservatif.
Dalam menentukan kestabilan atau kemantapan lereng dikenal dengan istilah faktor
keamanan (safety faktor) yang merupakan perbandingan antara gaya-gaya yang menahan
gerakan terhadap gaya-gaya yang menggerakan tanah/lereng tersebut dianggap stabil,bila
dirumuskan sebagai berikut :

faktor keamanan=

Gambar Sketsa lereng dan Gaya yang bekerja

Gambar Sketsa gaya yang bekerja (

dan S ) pada satu sayatan

2. Berbagai Cara Analisis Kestabilan Lereng


Cara analisis kestabilan lereng banyak dikenal, tetapi secara garis besar dapat dibagi
menjadi tiga kelompok

yaitu: cara pengamatan

visual,

cara komputasi dan cara

grafik (Pangular, 1985) sebagai berikut :


a. Cara pengamatan visual adalah cara dengan mengamati langsung di lapangan
dengan membandingkan kondisi lereng yang bergerak atau diperkirakan bergerak dan
yang yang tidak, cara ini memperkirakan lereng labil

maupun

memanfaatkan pengalaman di lapangan (Pangular, 1985).

stabil

dengan

ini

kurang

Cara

teliti, tergantung dari pengalaman seseorang. Cara ini dipakai bila tidak ada
resiko longsor terjadi saat pengamatan.

Cara

ini

mirip

dengan

memetakan

indikasi gerakan tanah dalam suatu peta lereng.


b. C a r a

komputasi

berdasarkan

adalah

dengan

melakukan

hitungan

r u m u s ( F ellenius, Bishop, Janbu, Sarma, Bishop modified dan

lain-lain). Cara Fellenius dan Bishop menghitung Faktor Keamanan lereng

dan

dianalisis kekuatannya. Menurut Bowles (1989), pada dasarnya kunci utama gerakan
tanah adalah kuat geser tanah

yang dapat terjadi : (a) tak terdrainase, (b) efektif

untuk beberapa kasus pembebanan, (c) meningkat sejalan pening- katan konsolidasi
(sejalan dengan waktu) atau dengan kedalaman, (d) ber- kurang dengan meningkatnya
kejenuhan air (sejalan dengan waktu) atau ter- bentuknya tekanan pori yang berlebih
atau terjadi peningkatan air tanah. Dalam menghitung besar faktor keamanan lereng
dalam analisis lereng tanah melalui metoda sayatan, hanya longsoran yang mempunyai
bidang gelincir saya yang dapat dihitung.
c. Cara grafik adalah dengan menggunakan grafik yang sudah standar (Taylor, Hoek

&

Bray, Janbu, Cousins dan Morganstren). Cara ini dilakukan untuk material homogen
dengan struktur sederhana. Material yang heterogen (terdiri atas berbagai lapisan)
dapat didekati dengan penggunaan rumus (cara komputasi). Stereonet, misalnya
diagram jaring Schmidt (Schmidt Net Diagram) dapat menjelaskan arah longsoran
atau runtuhan batuan dengan cara mengukur strike/dip kekar-kekar (joints) dan strike/dip
lapisan batuan.
Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan dan studi-studi yang menyeluruh
tentang keruntuhan lereng, maka dibagi 3 kelompok rentang Faktor Keamanan (F) ditinjau
dari intensitas kelongsorannya (Bowles, 1989), sperti yang diperlihatkan pada Tabel berikut:

Tabel Hubungan Nilai Faktor Keamanan Lereng dan Intensitas Longsor

NILAI FAKTOR KEAMANAN KEJADIAN / INTENSITAS LONGSOR


F kurang dari 1,07

Longsor terjadi biasa/sering (lereng labil)

F antara 1,07 sampai 1,25

Longsor pernah terjadi (lereng kritis)

F diatas 1,25

Longsor jarang terjadi (lereng relatif stabil)

3. Perhitungan Faktor Keamanan Lereng


Faktor Keamanan (F) lereng tanah dapat dihitung

dengan

berbagai metode.

Longsoran dengan bidang gelincir (slip surface), F dapat dihitung dengan metoda
sayatan (slice method) menurut Fellenius atau Bishop. Untuk suatu lereng dengan
penampang yang sama, cara Fellenius dapat dibandingkan nilai

faktor

keamanannya

dengan cara Bishop. Dalam mengantisipasi lereng longsor, sebaiknya nilai F yang
diambil adalah nilai F yang terkecil, dengan demikian antisipasi akan diupayakan
maksimal. Data yang diperlukan dalam suatu perhitungan sederhana untuk mencari
nilai F (faktor keamanan lereng) adalah sebagai berikut :
a.

D
ata lereng (terutama diperlukan untuk membuat penampang

lereng) meliputi:

sudut lereng, tinggi lereng, atau panjang lereng dari kaki lereng ke puncak lereng.
b. Data mekanika tanah
sudut geser dalam (; derajat)
bobot satuan isi tanah basah (wet; g/cm3 atau kN/m3 atau ton/m3)
2

kohesi (c; kg/cm atau kN/m2 atau ton/m2)


kadar air tanah (; %)
Data mekanika tanah yang diambil sebaiknya dari sampel tanah tak terganggu. Kadar
air tanah ( ) diperlukan terutama dalam perhitungan yang menggunakan komputer
(terutama bila memerlukan data dry

atau bobot satuan isi tanah kering, yaitu : dry= wet

/ ( 1 + ). Pada lereng yang dipengaruhi oleh muka air tanah nilai F (dengan metoda
sayatan, Fellenius) adalah sbb.:

cL+ tan (W i cos i - i x li )


F=
(W i sin i )
Keterangan :
c

= kohesi (kN/m2)

= sudut geser dalam (derajat)

= sudut bidang gelincir pada tiap sayatan (derajat)

= tekanan air pori (kN/m2)

= panjang bidang gelincir pada tiap sayatan

(m); L = jumlah panjang bidang gelincir


i x li = tekanan pori di setiap sayatan (kN/m)
W
= luas tiap bidang sayatan (M2) X bobot satuan isi tanah (, kN/m3)
Pada lereng yang tidak dipengaruhi oleh muka air tanah, nilai F adalah sbb.:
cL+ tan (W i cos i )
F=
(W i sin i )
Metode Bishop
Metode irisan yang disederhanakan diberikan oleh Bishop ( 1955 ). Metode ini
menganggap bahwa gaya gaya yang bekerja pada sisi sisi irisan mempunyai resultan nol pada
arah vertikal. Persamaan kuat geser dalam tinjauan tegangan efektif yang dapat dikerahkan
tanah, hingga tercapainya kondisi keseimbangan batas dengan mamperhatikan faktor aman,
adalah :
c'
F

Dimana :

u)

tan '
F

(1)

= tegangan normal total pada bidang longsor

= tekanan air pori

Untuk irisan ke i, nilai Ti = i , yaitu nilai gaya geser yang berkembang pada bidang longsor
untuk keseimbangan batas. Karena itu
Ti

c' i
F

( Ni u i )

tan '
F

(2)

Kondisi keseimbangan momen terhadap pusat rotasi O antara berat massa tanah yang akan
longsor dengan gaya geser total pada dasar bidang longsornya dapat dinyatakan oleh (Gambar
5)

Gambar 5. gaya-gaya yang bekerja pada suatu irisan

Wixi

TiR

Dimana :

(I3)

xi

= jarak Wi ke pusat rotasi O

Dari persamaan (1) dan (3), dapat diperoleh :


i n

C ' ai ( Ni ui i ) tan '


F

i 1

(4)

i n

Wixi
i 1

Dari kondisi keseimbangan vertikal, jika X1=Xi dan Xr = Xi+1 :


Ni cos i + Ti sin i = W i + Xi Xi+1

Ni

Wi

Xi

Xi
cos

1
i

Ti sin

(5)

Dengan Ni = Ni uii , substitusi Persamaan (I2) ke Persamaan (5), dapat diperoleh


persamaan :

Ni '

Wi

Xi

Xi
cos

1
i

ui i cos
c' i sin
sin i tan ' / F

i/F

(6)

Substitusi Persaman (6) ke Persamaan (4), diperoleh :


i n

c' ai tan '


i 1

Wi

Xi Xi 1 uiai cos i c' ai sin


cos i sin i tan ' / F

/F

i n

(7)

Wixi
i 1

Untuk penyederhanaan dianggap Xi Xi+1 = 0 dan dengan mengambil


xi = R sin i

(8)

bi = ai cos i

(9)

substitusi Persamaan (8) dan (9) ke Persamaan (7), diperoleh persamaan faktor aman :
i n

c' bi (Wi uibi ) tan '


F

i 1

1
cos i (1 tan i tan ' / F

i n

Wi sin

(10)

i 1

Dimana :

= faktor aman

= kohesi tanah efektif

= sudut gesek dalam tanah efektif

bi

= lebar irisan ke i

Wi

= lebar irisan tanah ke i

= sudut yang didefinisikan dalam gambar II.9

ui

= tekanan air pori pada irisan ke i

nilai banding tekanan pori ( pore pressure ratio ) didefinisikan sebagai :


ru =

ub
W

u
h

(11)

dimana :

ru

= nilai banding tekanan pori

= tekan air pori

= lebar irisan

= berat volume tanah

= tinggi irisan rata rata

dari Persamaan ( 11), bentuk lain dari persaman faktor aman untuk analisis stabilitas lereng cara
Bishop, adalah :
i n

c' bi Wi (1 ru ) tan '


F

i 1

1
cos i (1 tan i tan ' / F

i n

Wi sin

(12)

i 1

Persamaan faktor aman Bishop ini lebih sulit pemakainya dibandingkan dengan metode
Fillinius. Lagi pula membutuhkan cara coba coba ( trial and error ), karena nilai faktor aman F
nampak di kedua sisi persamaannya. Akan tetapi, cara ini telah terbukti memberikan nilai faktor
aman yang mendekati nilai faktor aman dari hitungan yang dilakukan dengan cara lain yang
lebih teliti. Untuk mempermudah hitungan, Gambar 10 dapat digunakan untuk menentukan nilai
fungsi Mi, dengan
Mi = cos i ( 1 + tan i tan / F )

(13)

Lokasi lingkaran longsor kritis dari metode bishop ( 1955 ), biasanya mendekati dengan
hasil pengamatan di lapangan. Karena itu, walaupun metode Fillinius lebih mudah, metode
Bishop ( 1955 ) lebih disukai karena menghasilkan penyesaian yang lebih teliti.
Dalam

praktek, diperlukan

untuk melakukan cara coba-coba dalam menemukan

bidang longsor dengan nilai faktor aman yang terkecil. Jika bidang longsor dianggap lingkaran,
maka lebih baik kalau dibuat kotak kotak di mana tiap titik potong garis garisnya merupakan
tempat kedudukan pusat lingkaran longsornya. pada titik titik potong garis yang merupakan
pusat lingkaran longsornyadituliskan nilai faktor aman terkecil pada titik tersebut (lihat Gambar
7). Perlu diketahui bahwa pada tiap titik pusat lingkaran harus dilakukan pula hitungan faktor
aman untuk menentukan nilai faktor aman yang terkecil dari bidang longsor dengan pusat
lingkaran pada titik tersebut, yaitu dengan mengubah jari-jari lingkarannya.
Kemudian, setelah faktor aman terkecil pada tiap-tiap titik pada kotaknya diperoleh,
Digambarkan garis kontur yang menunjukkan tempat kedudukan dari titik-titik pusat lingkaran

yang mempunyai faktor aman yang sama. Gambar

7 menunjukkan contoh kontur-kontur

faktor aman yang sama. Dari kontur faktor aman tersebut dapat ditentukan letak kira-kira dari
pusat lingkaran yang menghasilkan faktor aman terkecil.

Gambar 6 Diagram untuk menentukan M, (Janbu dkk., 1965)

Gambar 7 Kontur faktor aman

BAB III
METODE PENELITIAN

Dalam pembuatan makalah ini menggunakan perhitungan dan analisa kestabilan lereng
menggunakan cara manual, yakni dengan metode irisan (Fellenius dan Bishop), serta dengan
menggunakan aplikasi software Geostudio 2004. Ada beberapa langkah yang perlu dilalui :
Langkah pertama adalah membuat sketsa lereng berdasarkan data penampang lereng,
Dibuat sayatan-sayatan vertikal sampai batas bidang gelincir.
Langkah berikutnya adalah membuat tabel untuk mempermudah perhitungan.
Melakukan perhitungan sesuai dengan rumus dari metode-metode yang dipergunakan
Mendapatkan hasil berupa faktor keamanan lereng
Menganalisis hasil yang diperoleh dan menetapkan intensitaskemungkinan terjadinya
longsor

3.1.

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini adalah:
BAB I

Pendahuluan

BAB II

Dasar Teori

BAB III

Metode Penelitian

BAB IV

Hasil dan Pembahasan

BAB V

Penutup

Daftar Pustaka
Lampiran

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Perhitungan Manual Dengan Metode Irisan Fellenius No. 1


Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakanereng batulanau yang homogeny, tidak
berlapis dan bersifat isotropic.
Geometri lereng

: - tinggi lereng (H)

Kondisi lereng

: kering

: 30 meter, kemiringan lereng () : 60o

Karakteristi fisik dan mekanik material pembentuk lereng :


No.

Karakteristik

Batulanau

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

Sudut Geser dalam ()

16,0o

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

Nisbah Tekanan Pori (ru)

Indeks Plastisitas

Titik Iterasi 1
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 1.1) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 1)
Diperoleh Fk = 1.20
Titik Iterasi 2
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 1.2) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 2)
Diperoleh Fk = 1.33
Titik Iterasi 3

Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 1.3) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 3)
Diperoleh Fk = 1.23
Titik Iterasi 4
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 1.4) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 4)
Diperoleh Fk = 1.4
Titik Iterasi 5
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 1.5) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 5)
Diperoleh Fk = 1.36
Titik Iterasi 6
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 1.6) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 6)
Diperoleh Fk = 1.27

Perhitungan Manual Dengan Metode Irisan Fellenius No. 2


Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakanereng batulanau yang homogen, tidak
berlapis dan bersifat isotropic.
Geometri lereng

: - tinggi lereng (H)

Kondisi lereng

: kering

: 30o, kemiringan lereng () : 60o

Karakteristi fisik dan mekanik material pembentuk lereng :


No.

Karakteristik

Batulanau

Batupasir

Batulempung

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

130,0 kN/m2

100,0 kN/m2

Sudut Geser dalam ()

16,0o

21,56o

15,46o

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

23,50 kN/m3

22,50 kN/m3

Nisbah Tekanan Pori (ru)

Indeks Plastisitas

Titik Iterasi 1
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 2.1) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 1)
Diperoleh Fk = 1.175
Titik Iterasi 2
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 2.2) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 2)
Diperoleh Fk = 1.294
Titik Iterasi 3
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar

(Gambar lihat lampiran 2.3) :


(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 3)
Diperoleh Fk = 1.375
Titik Iterasi 4
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 2.4) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 4)
Diperoleh Fk = 1.211
Titik Iterasi 5
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 2.5) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 5)
Diperoleh Fk = 1.282
Titik Iterasi 6
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 2.6) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 6)
Diperoleh Fk = 1.329
Perhitungan Manual Dengan Metode Irisan Fellenius No. 3
Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakanereng batulanau yang homogen, tidak
berlapis dan bersifat isotropic.
Geometri lereng

: - tinggi lereng (H)

Kondisi lereng

: kering

: 30o, kemiringan lereng () : 60o

Mengalami beban gempa, koefisien gempa : 0,25 g


Karakteristi fisik dan mekanik material pembentuk lereng :

No.

Karakteristik

Batulanau

Batupasir

Batulempung

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

130,0 kN/m2

100,0 kN/m2

Sudut Geser dalam ()

16,0o

21,56o

15,46o

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

23,50 kN/m3

22,50 kN/m3

Nisbah Tekanan Pori (ru)

Indeks Plastisitas

Titik Iterasi 1
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 3.1) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 1)
Diperoleh Fk = 0.835
Titik Iterasi 2
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 3.2) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 2)
Diperoleh Fk = 0.771
Titik Iterasi 3
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 3.3) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 3)
Diperoleh Fk = 0.834
Titik Iterasi 4

Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 3.4) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 4)
Diperoleh Fk = 0.799
Titik Iterasi 5
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 3.5) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 5)
Diperoleh Fk = 0.824
Titik Iterasi 6
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 3.6) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 6)
Diperoleh Fk = 0.842
Perhitungan Manual Dengan Metode Irisan Fellenius No. 4
Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakanereng batulanau yang homogen, tidak
berlapis dan bersifat isotropic.
: 30o, kemiringan lereng () : 60o

Geometri lereng

: - tinggi lereng (H)

Kondisi lereng

: Terdapat Muka Air Atanah

Karakteristi fisik dan mekanik material pembentuk lereng :


No.

Karakteristik

Batulanau

Batupasir

Batulempung

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

130,0 kN/m2

100,0 kN/m2

Sudut Geser dalam ()

16,0o

21,56o

15,46o

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

23,50 kN/m3

22,50 kN/m3

Nisbah Tekanan Pori (ru)

1,1

1,1

1,1

Indeks Plastisitas

Titik Iterasi 1
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 4.1) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 1)
Diperoleh Fk = 1.013
Titik Iterasi 2
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 4.2) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 2)
Diperoleh Fk = 1.267
Titik Iterasi 3
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 4.3) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 3)
Diperoleh Fk = 1.219
Titik Iterasi 4
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 4.4) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 4)

Diperoleh Fk = 1.197
Titik Iterasi 5
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 4.5) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 5)
Diperoleh Fk = 1.357
Titik Iterasi 6
Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa untuk setiap irisan, resultan gaya-gaya antar irisan
adalah nol. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan
yang tegak lurus terhadap dasar
(Gambar lihat lampiran 4.6) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan fillenius titik 6)
Diperoleh Fk = 1.436

Perhitungan Manual Dengan Metode Bishop No. 1


Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakanereng batulanau yang homogeny, tidak
berlapis dan bersifat isotropic.
Geometri lereng

: - tinggi lereng (H)

Kondisi lereng

: kering

: 30 meter, kemiringan lereng () : 60o

Karakteristi fisik dan mekanik material pembentuk lereng :


No.

Karakteristik

Batulanau

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

Sudut Geser dalam ()

16,0o

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

Nisbah Tekanan Pori (ru)

Indeks Plastisitas

Titik Iterasi 1
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran 1.1) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 1)
Diperoleh Fk = 1,42
Titik Iterasi 2
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran 1.2) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 2)
Diperoleh Fk = 1,69
Titik Iterasi 3
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran 1.3) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 3)
Diperoleh Fk = 1,64

Titik Iterasi 4
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran 1.4) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 4)
Diperoleh Fk = 1,59
Titik Iterasi 5
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran 1.5) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 5)
Diperoleh Fk = 1,69
Titik Iterasi 6
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran 1.6) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 6)
Diperoleh Fk = 1,53

Perhitungan Manual Dengan Metode Bishop No. 2


Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakanereng batulanau yang homogen, tidak
berlapis dan bersifat isotropic.
Geometri lereng

: - tinggi lereng (H)

Kondisi lereng

: kering

: 30o, kemiringan lereng () : 60o

Karakteristi fisik dan mekanik material pembentuk lereng :


No.

Karakteristik

Batulanau

Batupasir

Batulempung

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

130,0 kN/m2

100,0 kN/m2

Sudut Geser dalam ()

16,0o

21,56o

15,46o

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

23,50 kN/m3

22,50 kN/m3

Nisbah Tekanan Pori (ru)

Indeks Plastisitas

Titik Iterasi 1
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran bishop 1.1 ) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 1)
Diperoleh Fk = 1,36

Titik Iterasi 2
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.2) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 2)
Diperoleh Fk = 1,25

Titik Iterasi 3
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.3) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 3)
Diperoleh Fk = 1,32

Titik Iterasi 4
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.4) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 4)
Diperoleh Fk = 1,51

Titik Iterasi 5

Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran 1.5) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 5)
Diperoleh Fk = 1,20

Titik Iterasi 6
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.6) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 6)
Diperoleh Fk = 1,35

Perhitungan Manual Dengan Metode Bishop No. 3


Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakanereng batulanau yang homogen, tidak
berlapis dan bersifat isotropic.
Geometri lereng

: - tinggi lereng (H)

Kondisi lereng

: kering

: 30o, kemiringan lereng () : 60o

Mengalami beban gempa, koefisien gempa : 0,25 g


Karakteristi fisik dan mekanik material pembentuk lereng :
No.

Karakteristik

Batulanau

Batupasir

Batulempung

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

130,0 kN/m2

100,0 kN/m2

Sudut Geser dalam ()

16,0o

21,56o

15,46o

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

23,50 kN/m3

22,50 kN/m3

Nisbah Tekanan Pori (ru)

Indeks Plastisitas

Titik Iterasi 1
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran

(Gambar lihat lampiran bishop 1.1 ) :


(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 1)
Diperoleh Fk = 0,87

Titik Iterasi 2
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.2) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 2)
Diperoleh Fk = 0,90

Titik Iterasi 3
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.3) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 3)
Diperoleh Fk = 0,871

Titik Iterasi 4
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.4) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 4)
Diperoleh Fk = 0,873

Titik Iterasi 5
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran 1.5) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 5)
Diperoleh Fk = 0,807

Titik Iterasi 6
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.6) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 6)
Diperoleh Fk = 0,864

Perhitungan Manual Dengan Metode Bishop No. 4


Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakanereng batulanau yang homogen, tidak
berlapis dan bersifat isotropic.
: 30o, kemiringan lereng () : 60o

Geometri lereng

: - tinggi lereng (H)

Kondisi lereng

: terdapat muka air tanah

Karakteristi fisik dan mekanik material pembentuk lereng :


No.

Karakteristik

Batulanau

Batupasir

Batulempung

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

130,0 kN/m2

100,0 kN/m2

Sudut Geser dalam ()

16,0o

21,56o

15,46o

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

23,50 kN/m3

22,50 kN/m3

Nisbah Tekanan Pori (ru)

1.1

1.1

1.1

Indeks Plastisitas

Titik Iterasi 1
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran bishop 1.1 ) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 1)
Diperoleh Fk =

Titik Iterasi 2
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran

(Gambar lihat lampiran Bishop 1.2) :


(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 2)
Diperoleh Fk =

Titik Iterasi 3
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.3) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 3)
Diperoleh Fk =

Titik Iterasi 4
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.4) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 4)
Diperoleh Fk =

Titik Iterasi 5
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran 1.5) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 5)
Diperoleh Fk =

Titik Iterasi 6
Dalam penyelesaian ini dengan memperhtungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, metode
bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
(Gambar lihat lampiran Bishop 1.6) :
(Tabel lihat lampiran tabel perhitungan Bishop titik 6)
Diperoleh Fk =

Perhitungan Dengan menggunakan software GEO-SLOPE


Lihat lampiran gambar geoslope nomor 1,2,3 dan 4

Analisa Hasil Perhitungan


Nomor 1
Berikut adalah perbandingan hasil perhitungan faktor keamanan dari 6 titik
iterasi dengan metode Fellenius dan metode Bishop dan perhitungan dengan
menggunakan bantuan GEO SLOPE.

Tabel V.1 Perbandingan Nilai Faktor Keamanan Nomor 1


Titik 1
Titik 2
Titik 3
Titik 4
Titik 5
Titik 6

Fellenius
1,20
1,33
1,23
1,4
1,36
1,27

Bishop
1.42
1.69
1.64
1.59
1.69
1.53

GEO SLOPE
Ordinary
: 1.366
Bishop
: 1.384
Janbu
: 1.374

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai faktor keamanan yang didapat dari
metode Fellenius dan metode Bishop tidak jauh berbeda begitupula data
yang dihasilkan dengan menggunakan GEO SLOPE. Kami lebih mempercayai
hasil perhitungan dengan GEO SLOPE dikarenakan data yang dipakai lebih
akurat dan lebih teliti. Dan dari semua hasil yang telah di peroleh kami mengambil
kesimpulan bahwa lereng ini dapat dikategorikan sebagai lereng yang stabil dilihat
dari nilai Fk keseluruhan bahwa nilai Fk terkecil adalah 1,20 yang merupakan hasil
dari perhitungan dengan metode filenius titik iterasi yang pertama.

Nomor 2
Berikut adalah perbandingan hasil perhitungan faktor keamanan dari 6 titik
iterasi dengan metode Fellenius dan metode Bishop dan perhitungan dengan
menggunakan bantuan GEO SLOPE.
Tabel Perbandingan Nilai Faktor Keamanan Nomor 2
Titik 1
Titik 2
Titik 3
Titik 4
Titik 5
Titik 6

Fellenius
1.175
1.294
1.375
1.211
1.282
1.329

Bishop
1.368
1.254
1.322
1.518
1.202
1.355

GEO SLOPE
Ordinary
: 1.426
Bishop
: 1.436
Janbu
: 1.447

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai faktor keamanan yang didapat dari
metode Fellenius dan metode Bishop tidak jauh berbeda begitupula data
yang dihasilkan dengan menggunakan GEO SLOPE. Kami lebih mempercayai
hasil perhitungan dengan GEO SLOPE dikarenakan data yang dipakai lebih
akurat dan lebih teliti. Dan dari semua hasil yang telah di peroleh kami mengambil
kesimpulan bahwa lereng ini dapat dikategorikan sebagai lereng yang stabil dilihat
dari nilai Fk keseluruhan bahwa nilai Fk terkecil adalah 1,175 dari perhitungan
dengan metode filenius titik iterasi yang pertama.

Nomor 3
Berikut adalah perbandingan hasil perhitungan faktor keamanan dari 6 titik
iterasi dengan metode Fellenius dan metode Bishop dan perhitungan dengan
menggunakan bantuan GEO SLOPE namun nilai yang diambil hanya nilai
faktor keamanan menurut Bishop saja.

Tabel Perbandingan Nilai Faktor Keamanan Nomor 3


Titik 1
Titik 2
Titik 3
Titik 4
Titik 5
Titik 6

Fellenius
0.835
0.771
0.834
0.799
0.824
0.842

Bishop
0.876
0.909
0.871
0.873
0.807
0.864

GEO SLOPE
Ordinary
: 0.932
Bishop
: 0.947
Janbu
: 0.886

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai faktor keamanan yang didapat dari
metode Fellenius dan metode Bishop tidak jauh berbeda begitupula data
yang dihasilkan dengan menggunakan GEO SLOPE. Kami lebih mempercayai
hasil perhitungan dengan GEO SLOPE dikarenakan data yang dipakai lebih
akurat dan lebih teliti. Dan dari semua hasil yang telah di peroleh kami mengambil
kesimpulan bahwa lereng ini dapat dikategorikan sebagai lereng yang tidak stabil
dilihat dari nilai Fk keseluruhan bahwa nilai Fk terkecil adalah 0.771 dari
perhitungan dengan metode filenius titik iterasi yang kedua. Pengaruh dari gempa
menyebabkan kurang stabilnya lereng tersebut. Hal ini sesuai dengan dasar teori
bahwa gempa berpengaruh terhadap kestabilan lereng dan bukti dari sering
terjadinya longsor ketika ada gempa.

Nomor 4
Berikut adalah perbandingan hasil perhitungan faktor keamanan dari 6 titik
iterasi dengan metode Fellenius dan metode Bishop dan perhitungan dengan
menggunakan bantuan GEO SLOPE namun nilai yang diambil hanya nilai
faktor keamanan menurut Bishop saja.
Tabel Perbandingan Nilai Faktor Keamanan Nomor 4
Titik 1
Titik 2
Titik 3
Titik 4
Titik 5
Titik 6

Fellenius
1.013
1.267
1.219
1.197
1.357
1.436

Bishop
1,07
1,12
1,21
1,24
1,42
1,56

GEO SLOPE (Bishop)


Ordinary
: 0,866
Bishop
: 0,900
Janbu
: 0,844

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai faktor keamanan yang didapat dari
metode Fellenius dan metode Bishop tidak jauh berbeda begitupula data
yang dihasilkan dengan menggunakan GEO SLOPE. Kami lebih mempercayai
hasil perhitungan dengan GEO SLOPE dikarenakan data yang dipakai lebih
akurat dan lebih teliti. Dan dari semua hasil yang telah di peroleh kami mengambil
kesimpulan bahwa lereng ini dapat dikategorikan sebagai lereng yang tidak stabil
dilihat dari nilai Fk keseluruhan bahwa nilai Fk terkecil adalah 1,013 dari
perhitungan dengan metode filenius titik iterasi yang pertama. Pengaruh dari muka
air tanah menyebabkan bertambah beratnya volume setiap irisan yang
mengakibatkan semakin besar pembebanan pada lereng yang dapat mengakibatkan
semakin besar kemungkinan terjadinya longsor pada lereng tersebut.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari semua hasil perhitungan yang telah kami lakukan, kami telah mengambil beberapa
kesimpulan yang menurut kami penting yaitu :
1. Dari nomor 1,2,3 dan 4. Nilai faktor keamanan yang dipakai untuk lereng yang ditinjau
adalah nilai faktor keamanan hasil dari perhitungan dengan bantuan program GEO
SLOPE. Hal ini dikarenakan perhitungan menggunakan GEO SLOPE lebih teliti dan
lebih cocok digunakan karena perhitungan manual masih bisa terjadi kesalahan.
Kesalahan yang dimaksud mulai dari pembacaan sudut dengan menggunakan busur
derajat, pengukuran tebal dan tinggi lapisan, angka penting dalam input data serta
berbagai kesalahan elementer yang masih banyak lagi.
2. Dalam perhitungan analisis kestabilan lereng, metode bishop lebih sering dipergunakan
dibandingkan dengan metode fillenius. Hal ini dikarenakan metode fillenius mempunyai
tingkat ketelitian yang lebih rendah dibandingkan metode Bishop.
5.2 Saran
Dalam perhitungan analisis kestabilan lereng ini, kami mendapat banyak hal yang perlu
diperhatikan lebih lanjut untuk itu kami memberikan beberapa saran untuk di perhatikan.
1. Perhitungan manual harus secara teliti agar faktor kesalahan (human error) dapat
diperkecil, hal ini agar dalam pengerjaan analisis kestabilan lereng selanjutnya bisa dapat
di peroleh hasil yang mendekati keadaan sebenarnya
2. Pengerjaan dengan software di perlukan untuk sebagai perbandingan bila kita
mempergunakan hitungan secara manual, sehingga hasil yang kita dapatkan tidak terlalu
melenceng jauh dari keadaan sebenarnya.

DAFTAR PUSTAKA
Taopan.,Henda. 2011. Bahan Ajar Perencanaan Tambang. Kupang

LAMPIRAN