Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

KISTA BARTHOLINI

Oleh:
Siti Sahara Andiyanti H
2012730156
Pembimbing :
dr. Diah Sartika, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, karena atas


rahmat dan hidayah-Nya Laporan Kasus Kista Bartholini ini dapat terselesaikan
dengan baik. Laporan Kasus ini disusun sebagai salah satu tugas kepanitraan
klinik

stase

obsgyn

Fakultas

Kedokteran

dan

Kesehatan

Universitas

Muhammadiyah Jakarta di RS. Islam Jakarta Pondok Kopi.


Dalam penulisan referat ini, tidak lepas dari bantuan dan kemudahan yang
diberikan secara tulus dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Diah Sartika,
Sp.OG sebagai dokter pembimbing.
Dalam penulisan laporan kasus ini tentu saja masih banyak kekurangan dan jauh
dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran
yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan demi kesempurnaan
laporan kasus ini.
Akhirnya, dengan mengucapkan Alhamdulillahirobbil alamin laporan kasus ini
telah selesai dan semoga bermanfaat bagi semua pihak serta semoga Allah SWT
membalas semua kebaikan dengan balasan yang terbaik, Aamiin Ya Robbal
Alamin.

Jakarta, Juni 2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

Kelenjar Bartholini merupakan salah satu organ genitalia eksterna, kelenjar


bartolini atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah berbentuk bundar,
dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibulli. Saluran keluar dari kelenjar ini
bermuara pada celah yang terdapat diantara labium minus pudendi dan tepi
hymen. Kelenjar ini tertekan pada waktu koitus dan mengeluarkan sekresinya
untuk membasahi atau melicinkan permukaan vagina di bagian kaudal.(1)
Kelenjar Bartholini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi,
peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami
infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan
timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian
terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista.
Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.(2)
Kista bartholini adalah salah satu bentuk tumor kistik (berisi cairan) pada
vulva. Kista barhtolini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan
pada duktus kelenjar bartolini, yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik.
Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus
atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi abses. Kista
bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi
pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami
kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan
masalah yang perlu untuk dicermati. Kista bartholini bisa tumbuh dari ukuran
seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur.(2,3)

BAB II
LAPORAN KASUS

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. T

Umur

: 35 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Cakung, Jakarta Timur

Suku/bangsa

: Jawa / Indonesia

Pekerjaan

: pedagang buah

Status pernikahan

: Menikah

Status Berobat

: Rawat Inap

Bangsal

: An-Nisa 1

Tanggal Masuk

: 8 Juni 2016

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan 10 Juni Pk. 11.45 WIB di Bangsal An-Nisa 1 RSIJPK
secara autoanamesis.
a. Keluhan Utama : OS mengeluh merasa ada benjolan di vagina sebelah
kanan sejak beberapa bulan yang lalu, terasa nyeri saat berjalan dan
berhubungan seksual
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSIJPK dengan keluhan benjolan di bibir kemaluan

sebelah kanan. Benjolan diketahui sudah beberapa bulan yang lalu.


Awalnya benjolan tersebut sebesar kelereng dan terasa nyeri. Semakin
hari benjolan bertambah besar. Nyeri yang dirasakan juga semakin
bertambah,

sehingga

mengganggu

aktivitas

sehari-harinya

dan

mengganggu kualitas tidurnya. Pasien juga mengeluhkan keluar


keputihan berwarna kuning, kental, banyak dan berbau amis. Untuk BAB
dan BAK tidak ada keluhan, pasien tidak merasakan demam.
c. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya tetapi


kempes setelah diobati (kira-kira 1 tahun yang lalu)

Riwayat alergi obat dan makanan

: disangkal.

Riwayat asma

: disangkal.

Riwayat tekanan darah tinggi

: disangkal.

Riwayat kencing manis

: disangkal.

Riwayat konsumsi alkohol dan rokok

: disangkal.

d. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat asma
Riwayat tekanan darah tinggi
Riwayat kencing manis

: disangkal.
: disangkal.
: disangkal.

e. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien sudah menikah selama 15 tahun dan memiliki 1 anak, bekerja
sebagai pedagang buah di pasar dan tinggal bersama orang tuanya. Biaya
pengobatan ditanggung BPJS.

III.

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal tanggal 10 Juni 2016 Pk. 12.15 WIB

Keadaan umum
Kesadaran
Vital sign

: baik.
: compos mentis

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit isi dan tegangan cukup

Respiratory rate : 20 x/menit


Suhu

: 37C

Status gizi

: Kesan gizi cukup

a. Status Internus
Kepala
Mata
Hidung
Telinga
Mulut
Leher
Torak
- Cor :
Inspeksi
Palpasi

: Normocephal.
: Konjungtiva anemis (-/-), ikterik (-)
: Deviasi (-), secret (-)
: Nyeri tarik (-), nyeri tekan (-)
: Bibir sianosis (-), faring hiperemis (-)
: deviasi (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
:
: ictus cordis tidak terlihat.
: ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis

sinistra, nyeri tekan (-).


Perkusi : konfigurasi jantung dalam batas normal.
Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan.
Pulmo :
Inspeksi
: statis, dinamis, retraksi (-).
Palpasi
: stem fremitus kanan = kiri.
Perkusi
: sonor seluruh lapang paru.
Auskultasi
: suara dasar vesikuler +/+, suara tambahan -/-.

Abdomen
: Tampak datar, simetris.
Ekstremitas
Superior : akral dingin (-/-), udem kedua tangan (-/-)
Inferior : akral dingin (-/-), udem kedua kaki (-/-)
b. Pemeriksaan ginekologi

Pemeriksaan genitalia eksterna :


Inspeksi

: massa (+) di labia mayor dextra, diameter 4 cm, batas

tegas, hiperemis (+), fluor albus (+) warna putih kekuningan, darah (-).
Palpasi
: nyeri tekan (+), konsistensi kenyal kesan berisi cairan.
Pemeriksaan genitalia interna : tidak dilakukan pemeriksaan.

IV.

RESUME
Pasien, wanita 35 tahun datang ke RSIJPK dengan keluhan benjolan di labia

mayor dextra.
Dari anamnesis didapatkan, keluhan sudah dirasakan sejak beberapa bulan
yang lalu disertai nyeri. Benjolan awalnya sebesar kelereng semakin hari semakin
membesar dan keluhan nyeri semakin bertambah berat sehingga mengganggu
aktivitas sehari-harinya. Pasien juga mengeluhkan keluar cairan putih kekuningan,
kental, banyak, berbau amis dari jalan lahirnya. Pasien pernah mengalami keluhan
yang sama sekitar 1 tahun yang lalu.
Dari pemeriksaan fisik, didapatkan kesadaran kompos mentis. Tekanan
darah 110/70 mmHg, nadi 80 kali/menit, regular, isi dan tegangan cukup.
Frekuensi nafas 20 kali/menit, suhu 37C.
Pada pemeriksaan genetalia eksterna didapatkan : Inspeksi : massa (+) di labia
mayor sinistra, diameter 4 cm, batas tegas, hiperemis (+), fluor albus (+) warna
putih kekuningan, darah (-). Palpasi : nyeri tekan (+), konsistensi kenyal kesan
berisi cairan. Pemeriksaan genitalia interna : tidak dilakukan pemeriksaan.

V.

DIAGNOSIS
Kista bartholini.

VI.

PENATALAKSANAAN
a. Non Medikamentosa
Menjaga kebersihan area kewanitaan.
Tirah baring
b. Medikamentosa
Infus RL 20 tpm.
ketorolac 3x30 mg IV

Ceftriaxon 3x1 gr IV
Vit BC/C/SF.
c. Program Operasi
Marsupialisasi
VII.

MONITORING
a. Perbaikan kondisi umum pasien.
b. Monitoring tanda-tanda infeksi pada lesi.
c. Tanda vital pasien.

VIII. EDUKASI
a. Pasien diberitahu mengenai penyakitnya dan penyebab dari penyakitnya
tersebut.
b. Pasien diedukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan di daerah
kewanitaannya.
c. Pasien diberitahu tentang tindakan operasi yang akan dilakukan dan
persiapan-persiapan sebelum operasi.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

I. KELENJAR BARTHOLINI
A. Anatomi Kelenjar Bartholini
Kelenjar Bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna,
kelenjar bartolini atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah
berbentuk bundar, dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibulli.
Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara pada celah yang terdapat diantara
labium minus pudendi dan tepi hymen. Glandula ini homolog dengan

glandula bulbourethralis pada pria. Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus
dan mengeluarkan sekresinya untuk membasahi atau melicinkan permukaan
vagina di bagian caudal. kelenjar bartolini diperdarahi oleh arteri bulbi
vestibuli, dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan nervushemoroidal
inferior.(1,2)
Kelenjar Bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil dari bulbus,
jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif selama rangsangan seksual dan
kelenjar ini akan mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak sebagai
lubrikan. Drainase pada kelenjar ini oleh saluran dengan panjang kira- kira 2
cm yang terbuka ke arah orificium vagina sebelah lateral hymen, normalnya
kelenjar bartolini tidak teraba pada pemeriksaan palpasi.(1,2,3) seperti pada
gambar dibawah ini :

B. Histologi
Kelenjar bartolini dibentuk oleh kelenjar racemose dibatasi oleh epitel
kolumnair atau kuboid. Duktus dari kelenjar bartolini merupakan epitel
transsisional yang secara embriologi merupakan daerah transisi antara
traktus urinarius dengan traktus genital.(1,2)
C. Fisiologi
Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan vagina.
Kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang relatif sedikit sekitar
satu atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme. Tetesan
cairan pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas vagina,
tetapi penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas
vagina berasal dari bagian vagina lebih dalam. Cairan mungkin sedikit

membasahi permukaan labia vagina, sehingga kontak dengan daerah sensitif


menjadi lebih nyaman bagi wanita.(1,4)

II. KISTA BARTHOLINI


A. Definisi
Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang
terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar
Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartholini
bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau
iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka
saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan
timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian
terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu
kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.(2,5,6)

Gambaran kista bartolini


B. Etiologi
Infeksi kelenjar bartholini terjadi oleh infeksi gonokokus, pada
bartholinitis kelenjar ini akan membesar, merah, dam nyeri kemudian isinya
akan menjadi nanah dam keluar pada duktusnya, karena adanya cairan
tersebut maka dapat terjadi sumbatan pada salah satu duktus yang dihasilkan
oleh kelenjar dan terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan
menbentuk suatu kista.(3,5)

C. Patofisiologi
Kista Bartholin terbentuk ketika ostium dari duktus tersumbat, sehingga
menyebabkan distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan. Sumbatan
ini biasanya merupakan akibat sekunder dari peradangan nonspesifik atau
trauma. Kista bartholin dengan diameter 1-3 cms seringkali asimptomatik.
Sedangkan kista yang berukuran lebih besar, kadang menyebabkan nyeri
dan dispareunia. Abses Bartholin merupakan akibat dari infeksi primer dari
kelenjar, atau kista yang terinfeksi.(2,3,5)
D. Gejala klinis
Kista bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan akan tetapi kadang
dirasakan sebagai benda yang berat dan menimbulkan kesulitan pada waktu
koitus. Bila kista bartholini berukuran besar dapat menyebabkan rasa kurang
nyaman saat berjalan atau duduk.(5)

Tanda kista bartholini yang tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak
nyeri pada salah satu sisi vulva disertai kemerahan atau pambengkakan pada
daerah vulva disertai kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva.
Jika kista terinfeksi, gajala klinik berupa(2,3)
Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik atau berhubungan seksual.
Umumnya tidak disertai demam kecuali jika terifeksi dengan organisme

yang ditularkan melalui hubungan seksual.


Dispareunia.
Biasanya ada secret di vagina.
Dapat terjadi ruptur spontan.

E. Diagnosis
Anamnesis yang baik dan pemeriksaan fisik sangat mendukung suatu
diagnosis. Pada anamnesis dinyatakan tentang gejala seperti panas, gatal,
Sudah berapa lama gejala berlangsung, kapan mulai muncul, Apakah pernah
berganti pasangan seks, keluhan saat berhubungan, riwayat penyakit
menulat seksual sebelumnya, riwayat penyakit kelamin pada keluarga.(6)
Kista bartholini di diagnosis melalui pemeriksaan fisik. Pada
pemeriksaan dengan posisi litotomi, terdapat pembengkakan pada kista pada
posisi jam 5 atau jam 7 pada labium minus posterior. Jika kista terinfeksi,
maka pemeriksaan kultur jaringan dibutuhkan untuk mengidantifikasi jenis
bakteri penyebab abses dan untuk mengetahui ada tahu tidaknya infeksi
menular.(5,6)
F. Pemeriksaan Penunjang
Apabila pasien dalam kondisi sehat, afebri, tes laboratorium darah tidak
diperlukan untuk mengevaluasi abses tanpa komplikasi atau kista. Kultur
bakteri dapat bermanfaat dalam menentukan kuman dan pengobatan yang
tepat bagi abses Bartholini.(2,6)
G. Penatalaksanaan
1.
Tindakan Operatif, beberapa prosedur yang dapat digunakan (2,3,5,6)
a. Marsupialisasi
Prosedur ini tidak boleh dilakukan ketika terdapat tanda- tanda abses
akut.

Setelah dilakukan persiapan yang steril dan pemberian anestesi lokal,


dinding kista dijepit dengan dua hemostat kecil. Lalu dibuat insisi
vertikal pada vestibular melewati bagian tengah kista dan bagian luar
dari hymenal ring. Insisi dapat dibuat sepanjang 1.5 hingga 3 cm,
bergantung pada besarnya kista.
Setelah kista diinsisi, isi rongga akan keluar. Rongga ini dapat
diirigasi dengan larutan saline, dan lokulasi dapat dirusak dengan
hemostat. Dinding kista ini lalu dieversikan dan ditempelkan pada
dindung vestibular mukosa dengan jahitan interrupted menggunakan
benang absorbable 2 -0.18. Kekambuhan kista Bartholin setelah
prosedur marsupialisasi adalah sekitar 5-10 %.
b. Eksisi (Bartholinectomy)
Eksisi dari kelenjar Bartholin dapat dipertimbangkan pada pasien yang
tidak berespon terhadap drainase, namun prosedur ini harus dilakukan
saat tidak ada infeksi aktif. Eksisi kista bartholin karena memiliki
risiko perdarahan, maka sebaiknya dilakukan di ruang operasi dengan
menggunakan anestesi umum.
Pasien ditempatkan dalam posisi dorsal lithotomy. Lalu dibuat insisi
kulit berbentuk linear yang memanjang sesuai ukuran kista pada
vestibulum dekat ujung medial labia minora dan sekitar 1 cm lateral
dan parallel dari hymenal ring. Hati hati saat melakukan insisi kulit
agar tidak mengenai dinding kista. Struktur vaskuler terbesar yang
memberi supply pada kista terletak pada bagian posterosuperior kista.
Karena alasan ini, diseksi harus dimulai dari bagian bawah kista dan
mengarah ke superior. Bagian inferomedial kista dipisahkan secara

tumpul dan tajam dari jaringan sekitar. Alur diseksi harus dibuat dekat
dengandinding kista untuk menghindari perdarahan plexus vena dan
vestibular bulb danuntuk menghindari trauma pada rectum.

Diseksi Kista
Setelah diseksi pada bagian superior selesai dilakukan, vaskulariasi
utama dari kista dicari dan diklem dengan menggunakan hemostat.
Lalu dipotong dan diligasi dengan benang chromic atau benang
delayed absorbable 3-0.

Ligasi Pembuluh Darah


2.

Pengobatan Medikamentosa.
Antibiotik sebagai terapi empirik untuk pengobatan penyakit menular
seksual biasanya digunakan untuk mengobati infeksi gonococcal dan
chlamydia. Idealnya, antibiotik harus segera diberikan sebelum dilakukan
insisi dan drainase. Beberapa antibiotik yang digunakan dalam
pengobatan(2,3)
a. Ceftriaxone.
Ceftriaxone adalah sefalosporin generasi ketiga dengan efisiensi broad

spectrum terhadap bakteri gram-negatif, efficacy yang lebih rendah


terhadap bakteri gram-positif, dan efficacy yang lebih tinggi terhadap
bakteri resisten. Dengan mengikat pada satu atau lebih penicillinbinding protein, akan menghambat sintesis dari dinding sel bakteri dan
menghambat pertumbuhan bakteri. Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM
sebagai single dose .4,5
b. Ciprofloxacin.
Sebuah monoterapi alternatif untuk ceftriaxone. Merupakan antibiotik
tipe bakterisida yang menghambat sintesis DNA bakteri dan, oleh
sebab itu akan menghambat pertumbuhan bakteri dengan menginhibisi
DNA-gyrase pada bakteri. Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali
sehari.
c. Doxycycline
Menghambat sintesis protein dan replikasi bakteri dengan cara
berikatan

dengan 30S dan 50S subunit ribosom dari bakteri.

Diindikasikan untuk Ctra chomatis. Dosis yang dianjurkan: 100 mg


PO 2 kali sehari selama 7 hari.

BAB IV
KESIMPULAN
Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk
di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin
terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat
karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang.
Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan
melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar
membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi
terinfeksi.
Tanda kista bartholini yang tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak
nyeri pada salah satu sisi vulva disertai kemerahan atau pambengkakan pada
daerah vulva disertai kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva. Jika kista
terinfeksi, gajala klinik berupa(2,3)
Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik atau berhubungan seksual.
Umunnya tidak diserati demam kecuali jika terifeksi dengan organisem

yang ditularkan melalui hubungan seksual.


Biasanya ada secret di vagina.
Dapat terjadi ruptur spontan (nyeri yang mendadak mereda, diikuti
dengan timbulnya discharge).

DAFTAR PUSTAKA

1. Snell, RS. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2006.
2. http://www.scribd.com/doc/43731478/LapKas-Kista-Bartholin-CtinedrNandono.
3. Sarwono Prawiro hardjo. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
2006.
4. Guyton, AC & Hall, CE. Buku

Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.

Philadelphia : Elsevier Saunders. 2006.


5. Manuaba, Chandranita, dkk. Gawat Darurat Obstetri-Giekologi dan
Obstetri-Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta: ECG. 2008.
6. Badziat, Ali. Endokrinologi Ginekologi. Jakarta : Media Aesculapius. 2003.