Anda di halaman 1dari 27

BAB 5RENCANA POLA

RUANG WILAYAH
KABUPATEN MINAHASA
TENGGARA

Berdasarkan fungsi utamanya pemanfaatan ruang kabupaten dibedakan


dalam kawasan budidaya dan nonbudidaya. Pengaturan kawasan ini
ditujukan

untuk

menempatkan

kegiatan-kegiatan

sesuai

dengan

karakteristik, sifat dan fungsi kawasan. Penetapan dan pengaturan kedua


kawasan ini selanjutnya dijelaskan pada bagian berikut.
5.1.

POLA RUANG

5.1.1. Ketersediaan Lahan Non Budidaya dan Budidaya


Berdasarkan analisis terhadap peta TGHK dan SKL kestabilan lereng maka
didapatkan pola ruang makro kabupaten Minahasa Tenggara yang terdiri
dari kawasan non budidaya dan kawasan budidaya.
Berikut ini adalah neraca lahan non budidaya dan budidaya.

Tabel 5.1
Ketersediaan Lahan Budidaya dan Non Budidaya

Kawasan

Luas (Ha)

A. Budidaya

49.314,12

69,38%

B. Non Budidaya (Kawasan Lindung)

21.765,28

30,62%

Total

71,079.40

100%

Sumber : Hasil Analisa Konsultan


Gambar 5.1
Ketersediaan Lahan Budidaya dan Non Budidaya

Non Budidaya

Budidaya

5.1.2. Neraca Lahan


Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan atau pemanfaatan
lahan yang paling dominan di wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara adalah
pertanian dan perkebunan. Hal ini sejalan dengan adanya kebutuhan sektor
pertanian dan perkebunan yang merupakan sektor unggulan bagi kabupaten
ini. Penyediaan ruang bagi pengembangan sektor ini penting dilakukan
mengingat sektor inilah yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi
sehingga sasaran pembangunan di kabupaten ini dapat dicapai.
Tabel 5.2
Neraca Lahan

Kawasan
A. BUDIDAYA

Luas (Ha)

49.314,12

69,38%

a.1. Permukiman

954,72

1,34%

a.2. Industri dan Pergudangan

236,63

0,33%

16,88

0,02%

a.3. Pariwisata

Kawasan

Luas (Ha)

a.4. Perkebunan

24.165,58

34%

a.5. Pertanian

17.486,68

24,60%

4,04

0,01%

a.7. Pertambangan

451,61

0,64%

a.8. Hutan produksi

827,67

1,16%

5,170.31

7,27%

21.765,28

30,62%

7.896,52

11%

13,868.76

24%

71,079.40

100%

a.6. Pemakaman Umum

a.9. Hutan penyangga


B. NON BUDIDAYA (KAWASAN LINDUNG)
b.1. Hutan Lindung
b.2. Lindung lain-lain
TOTAL
Sumber : Hasil Analisa Konsultan
5.1.3. Pola Ruang

Dari hasil analisa ketersediaan lahan budidaya dan non budidaya (lindung),
serta penetapan neraca lahan maka tersusunlah pola ruang wilayah
kabupaten Minahasa Tenggara sebagaimana yang dituangkan pada Gambar
5.3 berikut ini.

Gambar 5.2
Neraca Lahan

Permukiman
Industri dan Pergudangan
Pariwisata
Perkebunan
Pertanian
Pemakaman Umum
Pertambangan
Hutan produksi
Hutan penyangga
Hutan Lindung
Lindung lain-lain

Secara garis besar, pola ruang kabupaten dapat dikelompokkan menjadi 3


yaitu:
1.

Ruang untuk kawasan lindung (hutan lindung dan lindung lainnya).

2.

Ruang untuk kawasan budidaya (hutan produksi, hutan penyanggah,


pertanian,

perkebunan,

permukiman,

pariwisata,

pertambangan,

pemakaman umum, industri dan pergudangan).


3.

Ruang untuk kawasan rawan bencana (rawan bencana banjir pesisir;


rawan bencana longsor; rawan bencana gunung api; rawan bencana
gempa bumi-sesar/patahan).

5.2.

PERSEBARAN KAWASAN BUDIDAYA DAN NON BUDIDAYA


Persebaran masing-masing jenis kawasan budidaya dan non budidaya
sebagaimana telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya secara spasial
dapat dilihat pada Gambar 5.3 dengan rincian luas pemanfaatan lahan
sebagaimana Tabel 5.3 dibawah ini.

Gambar 5.3
Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Minahasa Tenggara

Tabel 5.3
Rincian Luas Pemanfaatan Lahan Pada Tiap Kecamatan
TOTAL LUAS

KAWASAN

KEC.

KEC.

KEC.

KEC.

KEC.

BELANG

PUSOMAEN

RATAHAN

RATATOTOK

TOULuAAN

87,38

211,62

70,73

261,48

(Ha)

49.314,12

69,38%

958,76

1,34%

127,64

236,63

0,33%

236,63

16,88

0,10%

Perkebunan

24.165,58

34%

4.100,29

508,02

9.597,72

117,38

6.253,47

Pertanian

17.486,68

24,60%

3.267,99

4.884,11

1.685,68

4.139,65

1.433,43

Pertambangan

451,61

0,64%

Hutan produksi

827,67

1,16%

5.170,31

7,27%

21.079,40

30,62%

7.896,52

11,11%

72,02

212,62

2.642,46

10.039,00

24%

580,52

27,97

3,729.96

71,079.40

100%

Budidaya

Permukiman (termasuk

TO

perdagangan/niaga dan

asa

erta fasum dan fasos)

ndustri dan Pergudangan

Pariwisata

16,88

termasuk perikanan

darat)

Hutan penyangga

NON BUDIDAYA

451,61
827,67
322,66

3,626,04

KAWASAN LINDUNG)

Hutan Lindung

Lindung lain-lain

Sumber : Hasil Analisa Konsultan.

3.374,11

830,25
3,830.18

Gambar 5.4
Rincian Luas Pemanfaatan Lahan Pada Tiap Kecamatan

20,000
18,000
Lindung lain-lain
16,000

Hutan Lindung

Hutan penyangga

Hutan produksi

Pertanian

Perkebunan

Pariwisata

14,000
12,000
10,000
Pertambangan
8,000
6,000
4,000
Industri dan Pergudangan

Permukiman

2,000
0
Belang
5.3.

Pusomaen Ratahan

Ratatotok Touluaan

Tombatu

KAWASAN LINDUNG

5.3.1. Rencana Pengembangan Kawasan Lindung


Pengelolaan kawasan lindung bertujuan untuk mencegah kerusakan fungsi
lingkungan. Berikut ini arahan pengelolaan masing-masing kawasan lindung
yang ada di Kabupaten Minahasa Tenggara.
Tujuan pemantapan kawasan lindung adalah mengurangi resiko kerusakan
lingkungan hidup dan kehidupan sebagai akibat dari kegiatan pembangunan
sedangkan sasarannya adalah :
1.

Meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah, air dan iklim;

2.

Mempertahankan keanekaragaman flora, fauna dan tipe ekosistem


serta keunikan alam;

3.

Menyediakan dan mempersiapkan lingkungan hidup (habitat) untuk


suku-suku terasing;

4.

Mempertahankan keanekaragaman flora, fauna, tipe ekosistem dan


keunikan alam serta mempertahankan cagar budaya sebagai warisan
budaya;

5.

Meningkatkan siklus hidrologis pada satuan wilayah sungai untuk


menghindarkan bahaya banjir dan bencana alam lainnya.

Berdasarkan tujuan tersebut, maka arah pengembangan kawasan lindung


ke depan adalah sebagai berikut :
1.

Mencegah perambahan dan alih fungsi kawasan seperti kawasan hutan


yang dilindungi oleh kegiatan budidaya yang mengganggu fungsi
lindung yang bersangkutan;

2.

Mempertahankan kawasan hutan berfungsi lindung yang belum


mengalami perambahan;

3.

Memperbaiki/mengembalikan fungsi lindung dari kawasan lindung yang


dirambah ;

4.

Mempertahankan ekosistem mangrove sebagai penahan abrasi, tempat


pengendapan lumpur, tempat asuhan post larva, tempat bertelur,
tempat memijah dan tempat mencari makan biota perairan;

5.

Mengendalikan pemanfaatan lahan bergambut oleh kegiatan budidaya


sehingga tidak menimbulkan dampak lingkungan;

6.

Meningkatkan kemampuan satuan wilayah sungai untuk melangsungkan


daur hidrorologisnya agar kinerja jaringan irigasi maupun fungsi
pemutusan dapat dilangsungkan;

7.

Melindungi cagar budaya melalui rehabilitasi, renovasi dan penetapan


zona cagar budaya;

8.

Mengendalikan pembangunan fisik dan perkembangan aktivitas binaan


pada kawasan yang potensial mengalami gerakan tanah;

9.

Melestarikan cagar alam untuk dimanfaatkan bagi kepentingan


pendidikan, pariwista dan ilmu pengetahuan;

10. Mencegah pemanfaatan bantaran sungai sebagai badan sungai dan


daerah retensi yang berfungsi sebagai pengendali bahaya banjir;
11. Delineasi kawasan berstatus rawan bencana alam menurut zoning yang
lazim berlaku pada RTRW yang lebih rinci, terutama dikaitkan dengan
disaster management.

Adapun rincian arahan pengelolaan untuk tiap jenis kawasan lindung di


Kabupaten Minahasa Tenggara adalah sebagai berikut ini.
1. Arahan Pengelolaan Kawasan yang Memberikan Perlindungan
Kawasan Bawahannya
Langkah-langkah

pengamanan

yang

perlu

ditempuh

untuk

melindungi kawasan hutan lindung tersebut, diantaranya adalah :


1)

Pemantapan kawasan hutan lindung melalui pengukuhan dan


penataan batas di lapangan untuk memudahkan pengendalian

2)

Pengendalian kegiatan budidaya yang telah ada (penggunaan


lahan yang telah berlangsung lama), agar tidak mengganggu
kawasan hutan lindung

3)

Pengembalian kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan


melalui program rehabilitasi, reboisasi dan konservasi

4)

Pencegahan berkembangnya kegiatan budidaya di areal hutan


lindung, kecuali kegiatan yang tidak mengganggu fungsi
lindung, seperti pos penjaga hutan, kegiatan penelitian

5)

Pemantauan terhadap kegiatan yang diperbolehkan berlokasi


di hutan lindung, diantaranya balai penelitian, eksplorasi
mineral dan air tanah, pencegahan bencana alam, sehingga
tidak mengganggu fungsi hutan lindung

6)

Pelibatan masyarakat

secara

aktif

untuk

menjaga

dan

melestarikan kawasan berfungsi lindung.


Sedangkan aturan-aturan pengamanan yang perlu dilakukan untuk
melindungi kawasan hutan yang sudah ditetapkan tersebut,
diantaranya adalah :
1)

Menutup areal yang gundul dengan pepohonan atau rumputrumputan / semak belukar dan secepat mungkin menyalurkan
air hujan ke saluran alam tanpa menimbulkan erosi dan
menampungnya ke kolam-kolam (pond) pada tempat-tempat
tertentu untuk daerah pengendapan sedimen agar lumpur
tidak ikut masuk ke dalam waduk sebagai tempat pembuangan
akhirnya

2)

Dilarang melakukan penebangan pohon di kawasan ini tanpa


seijin

instansi

atau

pejabat

yang

berwenang,

serta

memberikan sanksi yang cukup berat bagi para pelanggarnya


3)

Melakukan penguatan dengan menggunakan tanaman keras


terhadap tebing-tebing yang lebih tinggi dari 3 meter dengan
kemiringan lebih besar dari 20 %, serta tidak diijinkan atau
membiarkan adanya daerah gundul atau terbuka

4)

Adanya saluran terbuka tanpa lining melintas memotong


kontur, serta setiap lembah / cekungan baik alam maupun
buatan

harus

(sebagai

check

dimanfaatkan
dam)

serta

untuk

menangkap

secara

berkala

sedimen

melakukan

perawatan dan pemeliharaan


5)

Di daerah ini dikembangkan jenis tanaman semusim dan


dilakukan

pembatasan

yang

cukup

ketat

terhadap

pengembangan kegiatan terbangun, seperti kegiatan industri


dan perumahan
6)

Kegiatan perkotaan yang diijinkan berkembang di kawasan


penyangga ini hanya berupa kegiatan rekreasi dan olahraga
alam

Sedangkan untuk Kawasan Perbukitan Yang Memiliki Kelerengan


Lahan Di Atas 40 % Dengan Jenis Tanah Yang Mempunyai Tingkat
Kepekaan Sangat Tinggi / Mudah Tererosi dan Kawasan Tangkapan
Air Yang Berpotensi Dikembangkan Sebagai Sumber Air Baku,
arahan pengelolaannya adalah sebagai berikut.

1) Kawasan Perbukitan Yang Memiliki Kelerengan Lahan Di Atas


40 % Dengan Jenis Tanah Yang Mempunyai Tingkat Kepekaan
Sangat Tinggi / Mudah Tererosi
Upaya perlindungan terhadap kawasan ini harus dilakukan
untuk mencegah terjadinya sedimentasi yang tinggi di daerah
tangkapan air (waduk) sebagai akibat apabila kawasankawasan perbukitan tersebut dibuka untuk kawasan budidaya.
Selain itu apabila kawasan perbukitan ini dialihfungsikan

sebagai kegiatan budidaya, diperkirakan dapat mengganggu


ketersediaan air baku pada daerah tangkapan air di bawahnya
(waduk). Untuk itu kawasan perbukitan ini perlu dilindungi
dengan menetapkannya sebagai kawasan lindung resapan air.

2) Kawasan Tangkapan Air Yang Berpotensi Dikembangkan


Sebagai Sumber Air Baku
Penetapan kawasan lindung ini dilakukan untuk menghindari
terjadinya kerusakan pada daerah tangkapan air tersebut yang
dapat menyebabkan terganggunya penyediaan air bersih yang
merupakan kebutuhan utama bagi penduduk. Kondisi kawasan
hutan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air umumnya
mengalami penurunan baik dari segi kualitas maupun kuantitas
luasannya.

Agar

sisa

hutan

yang

ada

tersebut

dapat

dipertahankan keberadaannya, perlu dibuat kebijaksanaan


yang melarang pengembangan kegiatan terbangun di kawasan
tersebut.
b.

Kawasan Resapan Air


Penetapan kawasan resapan air yang kondisinya belum difungsikan
sebagai hutan lindung ditetapkan sebagai ruang hijau kota atau
hutan kota. Lingkup area dibuat dengan jarak 1.000 meter dari
sempadan danau / waduk di luar kawasan sempadan danau /
waduk. Khusus pada daerah-daerah resapan air yang telah
berkembang menjadi kawasan budidaya, upaya perlindungan dapat
dilakukan dengan menyesuaikan kawasan sempadan waduk pada
daerah yang belum terbangun sedangkan daerah yang sudah
terbangun dan memiliki ijin tetap diijinkan berdiri hingga habis
masa ijinnya dan diberi kewajiban untuk ikut menjaga sempadan
waduk yang ada di sekitarnya, atau dengan mengembalikan fungsi
kawasan sempadan waduk pada daerah terbangun yang tidak
memiliki ijin untuk difungsikan kembali sebagai hutan lindung. Ini
dikarenakan kawasan sempadan waduk merupakan daerah tertutup
bagi segala kegiatan dengan jarak 100 meter dari pinggir waduk

pada saat air pasang. Di daerah ini tidak diperbolehkan ada tanah
terbuka tanpa tumbuhan penutup. Daerah sempadan waduk diberi
batas yang jelas, misalnya dengan jenis tanaman pembatas
tertentu. Jenis tanaman yang dipilih berupa tanaman tahunan
yang cepat tumbuh serta memiliki karakteristik akar yang kuat
sehingga

sulit

tergerus,

dapat

tumbuh

saling

berdekatan,

berbatang keras, serta tahan terhadap genangan dan kekeringan.


2. Arahan Pengelolaan Kawasan Perlindungan Setempat
Arahan pengelolaan kawasan perlindungan setempat adalah :
a.

Menjaga sempadan pantai untuk melindungi wilayah pantai dari


kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai.

b.

Menjaga sempadan sungai untuk melindungi sungai dari kegiatan


manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai,
kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran
sungai.

c.

Menjaga

kawasan

sekitar

danau/waduk

untuk

melindungi

danau/waduk dari berbagai usaha dan/atau kegiatan yang dapat


mengganggu kelestarian fungsi waduk/danau
d.

Menjaga kawasan sekitar mata air untuk melindungi mata air dari
dari berbagai usaha dan/atau kegiatan yang dapat merusak
kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya.

e.

Menjaga kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan


kota untuk melindungi kota dari polusi udara dan kegiatan manusia
yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan kota, serta
mengendalikan tata air, meningkatkan upaya pelestarian habitat
flora dan fauna, meningkatkan nilai estetika lingkungan perkotaan
dan kenyamanan kehidupan di kota.

Sedangkan untuk Kawasan Sempadan Pantai, Kawasan Sempadan


Sungai, Kawasan Sekitar Waduk, dan Kawasan Sempadan Mata Air,
arahan pengelolaannya adalah sebagai berikut.

a.

Kawasan Sempadan Pantai


Kawasan sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang
pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan
kelestarian fungsi pantai dari usikan kegiatan yang mengganggu
kelestarian fungsi pantai. Kawasan ini terletak di sepanjang pantai
timur Kabupaten Minahasa Tenggara.

1) Pantai Bertipe Landai


a)

Landai Berpasir
Karena pantai dengan tipe ini sangat baik untuk digunakan
sebagai

kawasan

diarahkan

untuk

rekreasi/wisata
kepentingan

maka

kawasan

kawasan ini
wisata

yang

terbuka untuk umum (open space). Sempadan pantai di


kawasan ini, karena pasang surut tertinggi yang terjadi
biasanya lebih menjorok ke darat, diarahkan tidak kurang
dari 200 m dari garis pantai yang ada saat ini.

Untuk

keperluan RTH, kawasan ini diarahkan untuk dihijaukan


dengan pohon seperti kelapa, palm, sawit atau tanamantanaman yang cocok di daerah berpasir.
b) Landai Berlumpur
Arahan kegiatan wisata di kawasan ini sebaiknya tidak ke
arah wisata alam pantai tetapi lebih ke arah wisata alam
hutan mangrove.
c)

Pantai Bertipe Semi Landai


Tipe gelombang dan arus di sisi ini relatif besar, namun
demikian kondisi perairannya masih cukup jernih. Karena
kawasan ini mempunyai daya tarik terhadap panorama
laut lepas sehingga cocok diarahkan untuk kepentingan
pembangunan

lapangan

golf,

hotel,

marina

serta

resort/villa, walau pada kawasan ini harus ada usaha dan


teknik untuk mengurangi hempasan gelombang dan arus.
Kawasan

ini

dapat

diarahkan

untuk

kepentingan

pengembangan kawasan marina. Kawasan marina yang di


pilih

harus

merupakan

kawasan

yang

mempunyai

gelombang dan arus paling kecil dari yang ada. Sempadan


pantai di daerah ini, selain untuk kawasan marina,
diarahkan sekitar 150 m.

2) Pantai Bertipe Terjal


Pantai tipe terjal ini berada di bibir bukit yang berhadapan
langsung dengan laut. Tipe pantai ini biasanya terjadi akibat
adanya sejarah gerusan akibat adanya gelombang dan arus
yang cukup tinggi.di kawasan ini. Bila tipe pantai dikawasan
ini batuan keras, maka sempadan pantainya diarahkan hanya
sekitar 100 m.
Hutan mangrove dapat berfungsi sebagai ekosistem pelindung
pantai dari adanya hembasan/ gempuran gelombang yang akan
masuk

ke

terkurangi.

darat/pantai

sehingga

abrasi

pantai

dapat

Hutan mangrove dapat juga difungsikan untuk

mencegah terjadinya intrusi air laut, sebagai perangkap


sedimen, penghasil sejumlah detritus dari daun dan dahan
mangrove, sebagai pemasok organik dan hara, penyedia
nutrien, sebagai tempat asuhan (nursey ground), tempat
pemijahan (spawning ground) tempat mencari makan (feeding
ground), dan tempat bertelur dari berbagai jenis ikan dan
biota laut lainnya, sebagaimana habitat burung air, primata,
reptil dan berbagai jenis insekta.
Di kawasan perencanaan terdapat ekosistem terumbu karang
yang merupakan aset sumber daya pesisir yang berfungsi
sebagai habitat/ tempat hidupnya berbagai jenis ikan, sebagai
aset pengembangan wisata karena keindahan dan daya
tariknya.

b.

Kawasan Sempadan Sungai


Sempadan sungai dapat bervariasi yaitu sampai 100 meter pada
sungai-sungai besar dan 10 sampai 50 meter pada sungai kecil,
yang diperkirakan cukup untuk membangun jalan inspeksi dan
untuk mengamankan saluran pembuangan air hujan dari kawasan
terbangun. Dengan demikian diharapkan pada daerah sekitar
sungai ini limpahan air hujan dapat dialirkan secara langsung ke
waduk penampungan, sehingga dapat dihindari adanya genangan /
banjir.
Gambar 5.5
Sempadan Sungai

Sedangkan sungai-sungai yang berada di lingkungan perumahan


dan kegiatan perkotaan lainnya (kawasan budidaya) dengan fungsi
sebagai

saluran

utama

(primer)

pembuangan

air

hujan

diberlakukan sempadan sungai sebesar 10 meter.


Langkah-langkah kebijaksanaan perlindungan kawasan sempadan
sungai, diantaranya :
1)

Pencegahan berkembangnya kegiatan budidaya di sepanjang


sungai yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air,
kondisi fisik dan dasar sungai serta alirannya.

2)

Pengendalian kegiatan yang telah ada di sekitar sungai.

3)

Pemantauan terhadap kegiatan yang diperbolehkan berlokasi


di sempadan sungai, diantaranya jalan inspeksi dan bangunan
pengolah air.

4)

Pengamanan daerah aliran sungai dari kegiatan terbangun dan


memfungsikannya sebagai hutan lindung.

c.

Kawasan Sekitar Waduk

Gambar 5.6
Sempadan Danau Terhadap Permukiman Sejauh 100 Meter
K aw asan
P enyangga

D anau
1 0 0 M e te r

S em padan W aduk

S e m p a d a n D a n a u t e r h a d a p p e r m u k im a n s e ja u h 1 0 0 m e te r d e n g a n h a r a p a n k o n d is i e k o lo g i
d a n a u d a p a t t e r p e lih a r a d e n g a n b a ik

kebijaksanaan pemanfaatan ruang untuk melindungi kawasan


danau / waduk, diantaranya adalah :
1)

Pencegahan berkembangnya kegiatan budidaya di sempadan


danau,

agar

tidak

mengganggu

fungsi

danau /

waduk

(terutama sebagai sumber air dan energi listrik)


2)

Pembatasan

dan

pengendalian

pengembangan

kegiatan

budidaya di kawasan penyangga


3)

Pengendalian kegiatan budidaya yang telah ada di sekitar


danau (penggunaan lahan yang telah berlangsung lama), agar
tidak mengganggu fungsi waduk akibat rusaknya sempadan
danau / waduk yang ada

4)

Pengembalian kawasan hutan di sempadan danau / waduk


yang telah mengalami kerusakan melalui program rehabilitasi,
reboisasi dan konservasi

5)

Pemantauan terhadap kegiatan yang diperbolehkan berlokasi


di sekitar danau / waduk, diantaranya balai penelitian,
eksplorasi mineral dan air dan bangunan pengolah air bersih

6)

Pengamanan daerah hulu dari erosi akibat terkikisnya lapisan


tanah oleh air hujan

d.

Kawasan Sempadan Mata Air


Langkah-langkah perlindungan kawasan sempadan

mata

air,

diantaranya adalah :
1)

Pencegahan berkembangnya kegiatan budidaya di kawasan


sempadan mata air, agar tidak mengganggu fungsi mata air
(terutama sebagai sumber air bersih).

2)

Pengendalian kegiatan budidaya yang telah ada di sekitar


mata air (penggunaan lahan yang telah berlangsung lama),
agar tidak mengganggu fungsi mata air.

3)

Pengembalian kawasan hutan di sempadan mata air yang telah


mengalami kerusakan melalui program rehabilitasi, reboisasi
dan konservasi.

4)

Melindungi kawasan atasnya sebagai kawasan resapan air


untuk mengisi air tanah dan membatasi berkembangnya
kegiatan terbangun di kawasan resapan air tanah.

3. Arahan Pengelolaan Kawasan Suaka Alam


Pemantapan suaka alam bertujuan untuk melestarikan lingkungan dan
melindungi ekosistem lingkungan, sehingga perlunya upaya-upaya :
a.

Pemantapan kawasan suaka alam (cagar alam, suaka margasatwa,


hutan wisata) sesuai dengan tujuan perlindungannya masingmasing;

b.

Peningkatan pengelolaan suaka alam yang telah ada, serta


melakukan pelarangan kegiatan budidaya di kawasan tersebut,
kecuali kegiatan yang berkaitan dengan fungsinya dan tidak
mengubah

bentang

alam,

kondisi

penggunaan

lahan

serta

ekosistem alami yang ada;


c.

Pelestarian hutan-hutan suaka alam dan hutan bakau;

d.

Pengawasan dan pengendalian yang ketat terhadap kegiatan


budidaya yang telah ada di dalam kawasan suaka alam dan hutan
bakau agar tidak mengganggu akan fungsi suaka alam tersebut;

e.

Pengembangan dan pengelolaan Taman Nasional maupun yang


dicalonkan.

4. Arahan Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam


Arahan pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam yaitu melestarikan
fungsi lindung dan tatanan lingkungan kawasan pelestarian alam yang
terdiri dari taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam
untuk pengembangan pendidikan, rekreasi dan pariwisata, serta
peningkatan kualitas lingkungan sekitarnya dan perlindungan dari
pencemaran.
5. Arahan Pengelolaan Kawasan Rawan Bencana Alam
Arahan pengelolaan Kawasan Rawan Bencana Alam yaitu :
a.

Mewaspadai kegiatan gunung api, karena Kabupaten Minahasa


Tenggara dilalui jalur gunung api yang masih aktif;

b.

Lebih meningkatkan upaya penetapan kawasan Bahaya I, Bahaya II


dan Bahaya III, bagi daerah-daerah yang sering terkena bencana
alam;

c.

Melakukan upaya-upaya perbaikan lingkungan serta prasarana bagi


daerah yang mengalami bencana;

d.

Lebih memantapkan kawasan-kawasan yang sering menimbulkan


bencana (seperti erosi, longsor, banjir), dengan membatasi
kegiatan budidaya dan lebih menggembangkan sebagai kawasan
lindung.

6. Arahan Pengelolaan Cagar Budaya


Arahan

pengelolaan

perlindungan

terhadap

Kawasan
kekayaan

Cagar

Budaya

budaya

bangsa

yaitu
yang

membuat
meliputi

peninggalan-peninggalan sejarah, bangunan arkeologi dan monumen


nasional, serta keanekaragaman bentukan geologi di kawasan cagar
budaya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pencegahan dari
ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun
manusia.

7. Arahan Pengelolaan Kawasan Lindung Lainnya


Arahan pengelolaan Kawasan Lindung lainnya yaitu :
a.

Membuat perlindungan terhadap taman buru dan ekosistemnya


untuk kelangsungan perburuan satwa.

b.

Melestarikan fungsi lindung dan tatanan lingkungan kawasan cagar


biosfer untuk melindungi ekosistem asli, ekosistem unik, dan/atau
ekosistem

yang

telah

mengalami

degradasi

dari

gangguan

kerusakan seluruh unsur-unsur alamnya untuk penelitian dan


pendidikan.
c.

Melestarikan fungsi lindung dan tatanan lingkungan daerah


perlindungan

plasma

nutfah

untuk

melindungi

daerah

dan

ekosistemnya, serta menjaga kelestarian flora dan faunanya.


d.

Melestarikan

lingkungan

dan

tatanan

lingkungan

daerah

pengungsian satwa untuk melindungi daerah dan ekosistemnya


bagi kehidupan satwa yang sejak semula menghuni areal tersebut.
e.

Melestarikan fungsi dan tatanan lingkungan kawasan berhutan


bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau, tempat
berkembangbiak-nya berbagai biota laut, dan pelindung pantai
dari pengikisan air laut serta pelindung usaha budi daya di
belakangnya.

5.4.

KAWASAN BUDIDAYA.

5.4.1. Rencana Pengembangan Kawasan Budi Daya


Sasaran pengembangan kawasan budidaya secara fisik secara umum
adalah :
1.

Memberikan arahan pemanfaatan ruang kawasan budidaya secara


optimal dan mendukung pembangunan berkelanjutan;

2.

Memberikan arahan untuk menentukan prioritas pemanfaatan ruang


antara kegiatan budidaya yang berbeda;

3.

Memberikan arahan bagi perubahan jenis pemanfaatan ruang dari jenis


kegiatan budidaya tertentu ke jenis lainnya.

1. Arahan Pengelolaan Kawasan Pertanian


Secara garis besar penggunaan areal pertanian di Kabupaten Minahasa
Tenggara dialokasikan bagi kegiatan :
a.

Ekstensifikasi
Areal ekstensifikasi umumnya bukan termasuk dalam kriteria
fungsi mintakat/ zona kawasan hutan dan areal yang telah
diperuntukan

bagi

pembangunan

serta

lokasi

transmigrasi.

Penggunaan lahan di wilayah ini pada umumnya adalah hutan atau


semak belukar dengan kemiringan tanahnya <40%. Pada areal yang
pada kemiringan tanahnya <15% diarahkan untuk tanaman pangan
sedangkan pada areal kemiringan antara 15-40% diarahkan untuk
perkebunan dengan syarat-syarat kultur teknis tertentu untuk
mencegah kerusakan sumberdaya tanah dan air.
b.

Intensifikasi
Pemanfaatan lahan di Kabupaten Minahasa Tenggara relatif masih
belum intensif. Masalah utama pengembangan sawah di daerah ini
adalah masalah irigasi dan drainase. Namun untuk pengembangan
lahan kering berupa umbi-umbian mempunyai potensi untuk
dikembangkan secara lebih intensif. Oleh karena itu untuk
peningkatan produksi dan pendapatan masyarakat, upaya yang
harus ditempuh adalah intensifikasi, peremajaan karet-karet
rakyat yang sudah tua dan perbaikan drainase. Khusus untuk
kegiatan intensifikasi terutama dilakukan pada pertanian sawah,
karena sisipan tanah yang ada dominasinya merupakan jenis tanah
podzolik merah kuning dan sangat jelek dalam menahan air lebih
lama, tergenang, kurang subur dan bersifat masam.

c.

Rehabilitasi Tanaman Tahunan


Sebagian besar tanaman tahunan yang ada merupakan tanaman
karet berumur tua. Tanaman tersebut kurang produktif atau sama
sekali tidak produktif lagi atau yang dikenal dengan lahan tidur.
Selain itu penanaman karet di daerah ini umumnya masih

tradisional dan belum mengenal kultur teknis yang baik yaitu


tanaman dipaksa untuk memberi produksi tanpa memperhitungkan
kemampuan dan kesehatan tanaman karet sehingga banyak
tanaman yang rusak. Untuk meningkatkan produktivitas tanah
tersebut akan ditempuh upaya-upaya rehabilitasi tanaman karet
tua dengan tanaman baru dan dengan menggunakan bibit unggul.
Adapun arahan penggunaan areal pertanian di Kabupaten Minahasa
Tenggara adalah sebagai berikut :
a

Arahan Pengelolaan Kawasan Pertanian Tanaman Pangan Lahan


Basah
Arahan pengelolaan kawasan yaitu :
1)

Memanfaatkan potensi tanah yang sesuai untuk meningkatkan


produksi tanaman pangan.

2)

Memberi dukungan irigasi bagi lahan memerlukannya dan


memenuhi

kriteria

kesesuaian

pengembangan

tanaman

pangan.
3)

Menghindarkan

konflik

penggunaan

lahan

dengan

jenis

penggunaan lain, seperti fungsi lindung, pertambangan,


industri dan permukiman.
4)

Meningkatkan

produktifitas

sawah

dengan

menerapkan

teknologi pertanian dan dukungan irigasi.


5)

Memperkuat sinkronisasi dan koordinasi pembangunan antar


sektor dan antar daerah kewenangan yang terkait dengan
pengembangan

kawasan

pertanian

lahan

basah

(Dinas

Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas PU, PSDA)


6) Memperkuat pengendalian pembangunan untuk mencegah alih
guna lahan sawah beririgasi teknis menjadi penggunaan
budidaya lain.
d.

Arahan Pengelolaan Kawasan Pertanian Tanaman Lahan Kering


Arahan pengelolaan kawasan Pertanian Tanaman lahan kering
yaitu :

1)

Mempertahankan luas lahan tanaman kering yang ada serta


melakukan perluasan ke daerah yang masih memungkinkan.

2)

Mengembangkan pertanian lahan kering rakyat terutama untuk


komoditi yang produktivitasnya tinggi sebagai komoditi yang
berorientasi ekspor.

3)

Pengendalian

perluasan

tanaman

untuk

memelihara

kelestarian lingkungan.
4)

Diversifikasi tanaman terutama komoditi buah-buahan untuk


mendukung pengembangan sektor sekunder.

5)

Menciptakan keterkaitan antara petani rakyat dengan sektor


sekunder sehingga akan semakin meningkatkan produksi
pertanian

untuk

mendukung

sektor

pengolahan

yang

bersangkutan.
6)

Mengembangkan sentra-sentra produksi dengan koordinasi


antar sektor dan antar daerah kewenangan yang terkait
dengan pengembangan kawasan.

7) Memperkuat sinkronisasi dan koordinasi pembangunan antar


sektor dan antar daerah kewenangan yang terkait dengan
pengembangan kawasan pertanian lahan kering.
e.

Arahan Pengelolaan Kawasan Pertanian Tanaman Perkebunan /


Tanaman Tahunan
Arahan pengelolaan kawasan Pertanian Tanaman Perkebunan/
Tanaman Tahunan yaitu :
1)

Pengembangan pasar domestik regional, nasional bahkan


internasional untuk pemasaran tanaman tahunan / perkebunan

2)

Mengembangkan kawasan perkebunan / tanaman tahunan


yang memiliki nilai ekonomis dan juga dapat berfungsi sebagai
kawasan konservasi.

3)

Menghindarkan konflik penggunaan lahan antara perkebunan


rakyat dengan perkebunan besar.

4)

Menghindarkan konflik penggunaan lahan antara perkebunan


dengan

penggunaan

lain

seperti

pertambangan, industri dan permukiman.

kawasan

lindung,

5) Memperkuat sinkronisasi dan koordinasi pembangunan antar


sektor dan antar daerah kewenangan yang terkait dengan
pengembangan kawasan pekebunan
2. Arahan Pengelolaan Kawasan Perikanan
Rencana pengembangan kawasan budidaya perikanan laut bertujuan
untuk :
a.

Mengembangkan dan melestarikan jenis ekosistem laut dan pesisir


yang sifatnya berkelanjutan

b.

Menjamin ketersediaan stok perikanan dan sumberdaya lainnya


secara berkelanjutan yang berbasis budidaya

c.

Sebagai alternatif usaha bagi masyarakat selain mata pencaharian


pokok seperti sebagai nelayan atau petani.

3. Adapun Arahan pengelolaan kawasan Perikanan yaitu :


a.

Identifikasi daerah-daerah penangkapan ikan, sumberdaya ikan,


dan budidaya ikan;

b.

Merangsang investasi di sektor perikanan tangkap

c.

Pengembangan sarana dan prasarana penangkapan ikan secara


terpadu

d.

Pengembangan sarana penyimpanan (cold storage);

e.

Penguatan kelembagaan nelayan / masyarakat pesisir

f.

Pengembangan sentral pemasaran dan pengolahan hasil laut;

g.

Menjaga harmonisasi pengembangan kawasan perikanan budidaya


air tawar dengan pengembangan pertanian lahan basah.

4. Arahan Pengelolaan Kawasan Peternakan


Arahan pengelolaan kawasan Peternakan yaitu :
a.

Pengembangan

peternakan

diarahkan

sesuai

dengan

lokasi

persawahan, tegalan, kebun campuran rawa sehingga penggunaan


lahanya dapat dilakukan secara terpadu.
b.

Memberikan pinjaman lunak kepada peternak yang memiliki modal


terbatas untuk memperluas usaha peternakannya.

c.

Pengelolaan pemasaran hasil ternak secara lebih baik, terutama


untuk pemasaran lokal dan regional/nasional.

d.

Mengembangkan

pola

kemitraan

dan

pendampingan

antara

pengusaha swasta dengan peternakan rakyat.


e.

Mendorong pengembangan sentra-sentra produksi peternakan


dengan dukungan teknologi dan sarana prasarana pendukung.

f.

Mendorong pengembangan industri pengolahan pakan.

g.

Memperkuat sinkronisasi dan koordinasi pembangunan antar sektor


dan antar daerah kewenangan yang terkait dengan pengembangan
kawasan perternakan.

h. Menjalin integrasi pengembangan kegiatan peternakan dengan


perikanan, perkebunan dan pertanian tanaman pangan.
5. Arahan Pengelolaan Kawasan Industri dan Pergudangan
Arahan pengelolaan kawasan Industri dan Pergudangan yaitu :
a.

Identifikasi dan pengembangan kelompok industri.

b.

Penanganan produk-produk industri berbasis bahan baku lokal.

c.

Mendorong masuknya investasi melalui regulasi dan perizinan.

d.

Pengembangan jaringan pemasaran produk-produk industri.

e.

Mengarahkan pengembangan kegiatan industri di lokasi kawasan


industri (industrial estate).

f.

Mengembangkan keterkaitan industri dengan pertanian dalam


bentuk agroindustri.

g.

Pengembangan industri dilakukan dengan mekanisme pengendalian


dampak lingkungan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.

h. Menyediakan prasarana dan sarana pendukung dalam mendorong


kegiatan industri.
6. Arahan Pengelolaan Kawasan Pariwisata
Arahan pengelolaan kawasan Pariwisata yaitu :
a.

Melakukan pengembangan yang terkoordinasi antar instansi dan


antar daerah untuk mencapai sinergi yang optimal dalam
pengembangan kawasan pariwisata sebagai satu kesatuan dalam
perwilayahan pengembangan pariwisata.

b.

Memberi

kesempatan

yang

luas

kepada

setiap

Pemeritah

Kabupaten/Kota agar kreatif dan inovatif dalam mengembangkan


kegiatan dan kawasan pariwisata di wilayahnya.
c.

Memberi dukungan sarana dan prasana pendukung pada kawasan


pariwisata.

7. Arahan Pengelolaan Kawasan Pertambangan


Arahan pengelolaan kawasan Pertambangan yaitu :
a.

Mengevaluasi kebijakan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung


untuk kegiatan budidaya khususnya pertambangan.

b.

Memperkuat sinkronisasi dan koordinasi pembangunan antar sektor


dan antar daerah kewenangan yang terkait dengan pengembangan
lokasi pertambangan terutama pada kawasan lindung (Dinas
Pertambangan dan Energi, Dinas Kehutanan, Bapedalda, Dinas Tata
Ruang dan Lingkungan).

c.

Mengembangkan pembinaan, pengawasan dan bimbingan teknis


terhadap

tambang

kesejahteraan

rakyat

rakyat

dalam

penambang

rangka
dengan

meningkatkan
tetap

menjaga

kelestarian lingkungan hidup.


d. Melakukan penanggulangan dan penertiban terhadap kegiatan
usaha pertambangan tanpa izin (PETI).
e.

Penggarisan wilayah kuasa pertambangan atau kontrak kerya di


dalam rencana yang lebih detail dan dilapangan perlu di ukur lebih
menitik beratkan akan pelestarian ekosistem lingkungan dengan
jalan lebih meningkatkan pengendalian/pemantauan kegiatan
pertambangan tersebut.

f.

Melakukan

penghijauan

pada

kawasan-kawasan

bekas

penambangan, untuk menghindari kawasan yang gersang.


8. Arahan Pengelolaan Kawasan Hutan Produksi
Arahan pengelolaan kawasan Hutan produksi yaitu :
a.

Menerapkan

cara

pengelolaan

hutan

yang

tepat

dalam

pemanfaatan ruang beserta sumberdaya hutan di kawasan hutan


produksi untuk memperoleh hasil hutan bagi kepentingan negara

dan

masyarakat

dengan

tetap

menjaga

kelestarian

fungsi

lingkungan hidup.
b.

Meningkatkan mutu dan produktivitas hutan melalui pengelolaan


hutan secara efisien, adil dan berkelanjutan.

c.

Meningkatkan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan dengan


pemanfaatan ragam produk dan jasa sumberdaya hutan bagi
kesejahteraan masyarakat.

d.

Meningkatkan sumberdaya alam melalui konservasi dan pemulihan


hutan yang rusak akibat budidaya hutan yang tak terkendali.

e.

Mencegah konflik pemanfaatan ruang bagi kawasan hutan produksi


dengan

pemanfaatan

yang

lain

seperti

fungsi

lindung,

pertambangan, industri dan permukiman.


9. Arahan Pengelolaan Kawasan Perumahan / Permukiman
Rencana

pola

pemanfaatan

ruang

untuk

kawasan

permukiman

perkotaan dikembangkan dengan pola linier dan mengelompok


mengikuti jaringan jalan utama. Pengembangan kawasan permukiman
perkotaan

dilakukan

pada

wilayah-wilayah

dengan

konsentrasi

penduduk tinggi dan memiliki lokasi yang strategis. Untuk kawasan


permukiman pedesaan dikembangkan dengan pola mengelompok.
Wilayah yang dikembangkan menjadi kawasan permukiman pedesaan
adalah

di

seluruh

kecamatan

dengan

lebih

memperhatikan

pengelompokan eksisting dan ketersediaan lahan untuk pertanian


sebagai mata pencaharian serta tidak berada pada wilayah-wilayah
rawan bencana.
Tujuan pembangunan permukiman yaitu untuk memenuhi kebutuhan
rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, dalam rangka
peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat; mewujudkan
perumahan dan permukiman yang layak dalam lingkungan yang sehat,
aman, serasi dan teratur; memberi arah pada pertumbuhan wilayah
dan persebaran penduduk yang rasional; menunjang pembangunan di
sektor ekonomi, sosial dan budaya.
Adapun Arahan pengelolaan kawasan permukiman yaitu :

a.

Mengembangkan

fungsi

perkotaan

berdasarkan

arahan

yang

ditetapkan dalam hirarki pusat-pusat permukiman.


b.

Mengembangkan sarana dan prasarana permukiman perkotaan dan


perdesaan untuk memacu percepatan pembangunan wilayah
sekitar.

c.

Meningkatkan interaksi ruang antara perkotaan dengan perdesaan


yang selaras dan optimal.

d.

Mengembangkan kawasan perumahan pada zona aman bencana.

e.

Membuat arahan dan mekanisme pengendalian pembangunan


untuk menjamin perumahan dibangun pada kawasan aman
bencana.

f.

Memperhatikan

proyeksi

pertambahan

penduduk

dengan

ketersediaan lahan permukiman perlu atau tidaknya untuk


pengembangan vertikal.
g.

Meningkatkan sumber-sumber air memperluas pelayanan air bersih


sampai ke tingkat desa-desa;

h.

Meningkatkan kualitas lingkungan pemukiman yang sehat dan


bersih;

i.

Meningkatkan kualitas dan penyediaan fasilitas dan utilitas


lingkungan/ pemukiman;

j.

Kebijakan pembangunan pada daerah pesisir/perumahan nelayan;

k.

Akses fisik ke kota/PKL terdekat.

5.4.2. Arahan Pengelolaan Kawasan Budidaya yang Rawan Bencana


Arahan pengelolaan kawasan budidaya rawan bencana pada dasarnya
berkaitan dengan upaya mengurangi tingkat resiko ancaman bencana atau
menghilangkan faktor penyebab ancaman bencana.
1. Kawasan Rawan Banjir
a.

Menjaga kelestarian hutan dibagian hulu.

b.

Mengendalikan daya rusak air dengan membangun prasarana


pengendalian bajir

c.

Mengarahkan pembangunan permukiman pada zonasi bebas banjir


atau pada zonasi dengan tingkat ancaman rendah.

2. Kawasan Rawan Bencana Tsunami


a.

Mensosialisasikan sistem peringatan dini ancaman tsunami.

b.

Menyediakan dan mensosialisasikan jalur evakuasi bencana.

c.

Merancang dan mensosialisasikan tempat-tempat penyelamatan.

3. Kawasan Rawan Pencemaran


a.

Mengendalikan kegiatan penyebab pencemaran (pertambangan


atau permukiman) melalui instansi yang berwenang dalam
pengendalian kegiatan.

b.

Menetapkan zonasi kegiatan yang rawan menimbulkan bencana.

c.

Membangun sarana pembuangan limbah permukiman di pinggiran


sungai.