Anda di halaman 1dari 29

Laporan Pendahuluan

Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

BAB III
GAMBARAN
UMUM
3.1 Gambaran Umum Kabupaten Buru
3.1.1 Orientasi Geografis dan Administrasi
abupaten Buru Terletak antara 20 25’ lintang selatan dan

K 30 83’ lintang selatan dan antara 1260 08’ bujur timur dan
1270 20’ bujur timur. Kabupaten Buru dibatasi oleh laut
seram di sebelah utara, kabupaten buru selatan disebelah
selatan , kabupaten Buru Selatan dan laut Seram di sebelah barat dan
selat manipa diselah timur.

Keberadaan Kabupaten Buru terletak diantara riga kota penting di


Indonesia Timur yaitu berada diantara Kota Makasar, Manado/Bitung dan
Ambon. Dan di lalui oleh sea line III sehingga menempatkan kabupaten
Buru pada posisi strategis.

Kabupaten buru memiliki luas sekitar 7.595,58 km2 dengan persentase


69,42% dari luas pulau Buru. Bila ditinjau dari luas menurut kecamatan,
maka kecamatan yang memiliki luas terbesar yaitu kecamatan Air Buaya
yaitu sebesar 4.534,00 km2 atau sebesar 59,69 % dari luas kabupaten
sedang kan yang terkecil adalah kecamatan bata bual yaitu sebesar
292,60 km2 atau 3,85 % dari luas kabupaten.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Gambar 3.1 PETA WILAYAH KAJIAN


Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

3.1.2 Penggunaan Lahan


Kabupaten buru memiliki luas sekitar 7.595,58 km 2 dengan persentase
69,42% dari luas pulau Buru. Bila ditinjau dari luas menurut kecamatan,
maka kecamatan yang memiliki luas terbesar yaitu kecamatan Air Buaya
yaitu sebesar 4.534,00 km2 atau sebesar 59,69 % dari luas kabupaten
sedang kan yang terkecil adalah kecamatan bata bual yaitu sebesar
292,60 km2 atau 3,85 % dari luas kabupaten.

Untuk kecamatan namlea sendiri merupakan kecamatan terluas ke tiga di


kabupaten buru yaitu dengan luas 951,15 km 2 atau sebesar 12,52 % dari
luas total Kabupaten Buru. Untuk lebih jelasya dapat di lihat pada tabel 3.1

Tabel 3.1
Luas Area Kabupaten Buru Dirinci Per Kecamatan Tahun 2010
Persentase terhadap
Kecamatan Luas area (km2)
luas kabupaten
Namlea 951,15 12,52
Air Buaya 45334,00 59,69
Waeapo 1232,60 16,23
Waplau 585,23 7,70
Bata Bual 292,60 3,85
7595,58 100,00
Sumber Kabupaten Buru Dalam Angka Tahun 2011

Gambar 3.2
Persentase Luas area kabupaten Buru dirinci per kecamatan tahun 2010

7.7 3.85 12.52


Namlea
16.23
Air Buaya
Waeapo
Waplau
59.69 Bata Bual
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Dari grafik dan tabel diatas dapat dilihat bahwa kecamatan Namlea
merupakan kecamatan terluas ketiga setelah kecamatan Air Buaya dan
kecamatan Waeapo. Dimana Kecamatan Namlea memiliki luas wilayah
sebesar 951,15 Km2 atau sebesar 12,52% dari total luas wiayah
Kabupaten Buru.

3.1.3 Keadaan Iklim


Suhu udara di suatu wilayah salah satunya ditentukan oleh tinggi
rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari
pantai. Secara umum desa-desa di kabupaten buru merupakan desa
pesisir sehingga memiliki suhu udara yang relaif tinggi.

Pada tahun 2010, suhu udara berkisar antara 23,70 0 C sampai 31,40 0

C. Suhu udara maksimum terdapat pada bulan maret sedangkan suhu


udara minimum terdapat pada bilan desember. Kabupaten buru
mempunyai kelembapan udara relatif tinggi dengan rata-rata berkisar
antara 86,0 %.

Curah hujan disuatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim,
keadaan topografi dan perputaran/pertemuan arus udara. Oleh karena itu
jumlah curah hujan beragam menurut bulan untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tebel curah hujan dibawah ini :

Tabel 3.2
Curah Hujan kabupaten Buru dirinci per Bulan tahun 2010
Bulan Curah hujan Jumlah hari hujan
Januari 319,0 28
Februari 243,8 17
Maret 328,0 20
April 160,1 17
Mei 210,2 11
Juni 248,6 16
Juli 153,0 18
Agustus 346,6 19
September 109,9 10
Oktober 100,3 14
November 126,3 15
Desember 239,3 24
Rata-rata 215,4 17,42
Sumber Kabupaten Buru Dalam Angka Tahun 2011
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa curah hujan tertinggi berada pada
bulan agustus yaitu 346,6 sedangkan untuk jumlah hari hjan terbanyak
berada padda bulan januari yaitu sepanjang 28 hari.

3.1.4 Pertanian
Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam perekonomian
Indonesia umumnya dan kabupaten Buru khususnya. Peranan sektor
pertanian ini dapat dilihat dari kontribusina pada PDRB kabupaten Buru
yaitu sebesar 51,22 persen ditahun 2010 dengan penyerapan tenaga
kerja yang relatif cukup besar dibandingkan dengan sektor lainya. Selain
itu kabpaten buru dijadikan lumbung hasil pertanian di provinsi Maluku.
Pertaniajn di kabupaten Buru dibagi menjadi bebereapa sektor yaitu
diantaranya tanaman pangan, perkebunan rakyat, kehutanan, pertenakan,
dan perikanan .

3.1.4.1 Tanaman Pangan


Sub sektor tanaman Pangan merupakan salah satu sub sektor pada
sektor pertanian sektor ini mencakup tanaman padi (padi sawah dan padi
ladang), jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, dan
kacang kedelai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.3 tabel luas
panen tanaman pangan di Kecamatan Namlea tahun 2010.
Tabel 3.3
Luas Panen Tanaman Pangan Di Kecamatan Namlea Tahun 2010
Jenis Tanaman Pangan Luas Area ( Ha)
Padi Sawah 0
Padi Ladang 90
Jagung 15
Ubi Kayu 147
Ubi Jalar 44
Kacang Tanah 12
Kacang Hijau 8
Kacang Kedelai 0
Jumlah 316
Sumber : Buru Dalam Angka Tahun 2011
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pertanian di Kecamatan Namlea


didominas oleh Ubi kayu yaitu dengan luas area 147 ha sedangkan untuk
pertanian padi sawah dan kacang kedelai tidak terdapat di Kecamatan
Namlea. Diamana luas area yang digunakan untuk lahan pertanian secara
keseluruhan yaitu sebesar 316 Ha.

3.1.4.2 Perkebunan Rakyat


Perkebunan rakyat di Kecamatan Namlea terdiri dari cengkih, kelapa,
coklat, dan jambu data lebih rinci disajikan pada tabel 3.4 luas area panen
perkebunan di Kecamatan Namlea tahun 2010.
Tabel 3.4
Luas Area Panen Perkebunan Di Kecamatan Namlea Tahun 2010.
Jenis Perkebunan Luas Area ( Ha)
Kopi 0
Kakao 218
Jambu Mete 605,61
Cengkih 0
Pala 0
Jumlah 823,61
Sumber : Kabupaten Buru Dalam Angka Tahun 2011

3.1.4.3 Kehutanan
Menurut fungsinya hutan dibagi menjadi kawasan lindung, kawasan
budidaya dan areal penggunaan lain. Luas kawasan lindung sampai
dengan tahun 2010 di Kabupaten Buru sebesar 109.673,00 hektar. Luas
kawasan budidaya mencapai 355.114 hektar. Yang terdiri dari hutan
produksi terbatas sebesar 113.252 hektar, hutan produksi tetap 107.851
hektar, dan hutan produksi yang dapat dikonversi sebesar 134.011 hektar.
Sampai dengan tahun 2010 luas area penggunaan air tercatat sebesar
26.505,89 hektar.

Luas lahan kritis pada tahun 2010 tercatat sebesar 236.598 hektar. Dari
jumlah tersebut sekitar 17.726 berada diluar kawasan hutan dan sisanya
berada di dalam kawasan hutan.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

3.1.4.4 Peternakan

Pada tahun 2010 untuk golongan ternak besar, populasi sapi tercatat
sebanyak 50.107 ekor, kerbau 4.139 ekor, dan kuda 695 ekor. Untuk
golongan ternak kecil populasi terbanyak adalah kambing yaitu 40.863
ekor, sedangkan babi 2.558 ekor. Pada ternak unggas populasi itik
tercatat sebanyak 326.174 ekor dan ayam buras 1.856.373 ekor.

Produksi daging yang berasal dari pemotongan ternak pada tahun 2010
untuk daging sapi adalah sebesar 219,45 ton sedangkan daging kambing
6,9 ton.

3.1.4.5 Perikanan

Dengan konsumsi ikan laut yang cukup tinggi di kabupaten Buru maka
subsektor ini sangat penting untuk diperhatikan. Rumah tangga perikanan
(RTP) di kabupaten Buru masih tergolong tradisional dengan perahu
pengkap ikan yang masih didominasi perahu tanpa motor . banyaknya
RTP di kabupaten Buru sebesar 5185 rumah tangga dengan jumlah
kelompok nelayan sebanyak 552 keompok dari 31 desa nelayan.

3.1.5 Kependudukan
3.1.5.1 Penduduk
Berdasarkan hasil sensus penduduk Kabupaten Buru pada tahun 2010
memiliki jumlah enduduk sebesar 108.455 jiwa dimana 55.270 jiwa
berjenis kelamin laki-laki dan 52.725 jiwa perempuan. Dengan luas
wilayah sebesar 7595,58 km2 , kabupaten buru memiliki tingkat kepadatan
penduduk sebesar 14 ,28 jiwa /km2.

Penyebaran penduduk di kabupaten buru kurang merata. Hal ini terlihat


dari angka kepadatan penduduk yang berbeda secara signifikan antara
daerah satu dengan daerah lainnya. Daerah yang terpadat penduduknya
adalah kecamatan namlea yaitu 39,13 jiwa/km 2 dan daerah yang paling
jarang penduduknyaadalah kecamatan Air Buaya yaitu 4,23 jiwa/km 2.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

3.1.5.2 Ketenaga Kerjaan

Berdasarkan hasil survei angkatan kerja nasional tahun 2010 terlihat


bahwa jumlah angkatan kerja di kabupaten buru sebesar 44,595 jiwa,
dimana 41.769 jiwa tergolong aktif dalam kegiatan ekonomi (bekerja).
Dengan demikian, angkatan kerja kabupaten buru belum terserap pasar
kerja tahun 2010 sebesar 2826 jiwa.

3.1.6 Transportasi
3.1.6.1 Jalan

Jalan merupakan prasana pengangkutan darat yang penting untuk


memperlancar kegiatan perekonomian. Dengan semakin meningkatnya
uasaha pembangunan maka akan menuntut peningkatan pembangunan
jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu
lintas barang dari suatu daerah ke daerah lain.

Gambar 3.3
Kondisi Jalan di Kecamatan Namlea

Panjang jalan diseluruh wilayah kabupaten buru pada tahun 2010


mencapai 779,98 km. Panjang jalanyang berada dibawah wewenang
negara adalah 251,60 km, dibawah wewenang daerah tingkat I ada
sepanjang 3,92 km dan sisanya dibawah wewenang daerah tingkat II
sepangjang 524,45. Pada tahun 2010 jalan yang diaspal sebesar 311,77
km, kerikil 236,84km dan sisanya 231,36km masih berupa tanah.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

3.1.6.2 Angkutan Darat

Sarana perhubungan diperlukan guna memudakan mobilitas penduduk


dan memperlancar lalu lintas barang disuatu daerah ke daerah lain. Salah
satu sarana perhubungan yang paking banyak digunakan adalah
angkutan darat.

Di kabupaten Buru terdapat 122 pengusaha dan 131 armada angkutan


penumpang. Jumlah pengusaha naik menjadi 122 pengusaha sedangkan
armada penumpang naik dar 126 armada angkutan penumpang menjadi
131 armada.

3.1.6.3 Angkutan Laut

Angkutanlaut merupakan sarana perhubungan yang sangat penting


danstrategis bagi kabupaten Buru. Untuk itu pembangunan meliputi
penyempurnaan manajemen dan dukungan fasilitas pelabuhan perlu
diperhatikan. Angkutan barang yang dimuat pada tahun 2010
dipelabuhan Namlea mencapai 286.449,645 ton sedangkan barang yang
dibongkar mencapai 1.610.126,03 ton. Sementara itu jumlah penumpang
yang naik di pelabuhan Namlea 55.656 orang, angka ini naik
dibandingkan tahun 2009 sebanyak 46.360 orang.

3.1.6.4 Angkutan Udara

Saat ini pelabuhan udara di Kabupaten buru masih berupa lapangan


terbang perintis yang berada di Kecamatan Namlea.

3.2 Gambaran Umum Kecamatan Namlea Kabupaten Buru


3.2.1 Kondisi Geografis
Kecamatan Namlea merupakan salah satu kecamatan dari lima
kecamatan yang ada di kabupaten Buru yang seluruh wilayahnya
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

berada di dalam Pulau Buru. Kecamatan ini terletak diantara 2o25' -


2o55' Lintang Selatan dan 121o21' - 125 o21' Bujur Timur.

Kecamatan Namlea sebelah utara berbatasan dengan Laut Seram,


sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Waeapo, Kecamatan
Bata Bual di sebelah timur dan kecamatan Waplau di sebelah barat.

Kecamatan Namlea memiliki luas wilayah sekitar 951,15 km2, atau


dengan kata lain luasnya 12,52% terhadap keseluruhan wilayah
Kabupaten Buru. Bila ditinjau dari luasnya, maka Namlea merupakan
kecamatan terbesar ketiga yang ada di Kabupaten Buru.

Jarak dari desa Namlea ke Ambon sebagai ibukata povinsi yaitu 183 km2.
Sedangkan jarak dari desa Namlea ke desa-desa lain bervarasi.
Kecamatan Namlea awalnya memiliki 11 desa dan 9 dusun. Namun
dengan mekarnya dusun Batu Boy menjadi desa, hingga sekarang
kecamatan Namlea terdiri atas 12 desa dan 8 dusun.

Kecamatan Namlea memiliki duabelas (12) desa yaitu : desa Jamilu,


Sanleko, Siahoni, Namlea, Lala, Karang Jaya, Ubung, Jikumerasa,
Sawa, Waimiting, Waeperang dan Batu Boy. Kecamatan Namlea
juga memiliki 8 dusun yaitu : Mena, Sehe, Bara, Rete, Jiku Besar,
Nametek, Tatanggo dan Marloso.

Kecamatan Namlea memiliki 3 sungai yaitu sungai Waeperang, Wae


Meyet dan Wae Rati dan memiliki sebuah danau yaitu danau Namniwel.
Tabel 3.5
Nama dan Luas wilayah Menurut Desa di Kecamatan Namlea, 2010
Kecamatan Desa
Jamilu
Sanleko
Namlea
Siahoni
Namlea*
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Kecamatan Desa
Lala
Karang
Jaya
Ubung
Jikumerasa
Sawa
Waimiting
Waeperang
Luas (Km2) 951,15
Catatan : *Termasuk Desa Batu Boy
Sumber : Profil Kecamatan Namlea 2009
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Gambar 3.4 Peta Administrasi Kecamatan Namlea


Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

3.2.2 Kondisi Fisik Dasar


3.2.2.1 Kondisi Topografi
A. Ketinggian

B. Kemiringan Lereng
Bentuk wilayah Kecamatan Namlea dikelompokkan berdasarkan
pendekatan fisiografi (makro relief), yaitu Dataran, Pantai, Perbukitan dan
Pegunungan termasuk di dalamnya Dataran Tinggi (plateau / Pedmont)
dengan kelerengan yang bervariasi. Kecamatan Namlea didominasi oleh
kawasan pegunungan dengan elevasi rendah berlereng agak curam
dengan kemiringan lereng >40%. Jenis kelerengan lain yang mendominasi
kawasan ini adalah elevasi rendah berlereng bergelombang dan agak
curam serta elevasi sedang berlereng bergelombang dan agak curam.

C. Hidrologi
Tinjauan kondisi hidrologi dimaksudkan untuk mengetahui keberadaan
dan kondisi sumber air guna memenuhi kebutuhan penduduk akan air
bersih yang layak pakai.
Berdasakan pengamatan di lapangan, di dalam kawasan perencanaan tidak
ditemukan aliran sungai. Sungai yang ditemukan adalah sungai intermiten yaitu
sungai yang mengalir apabila musim hujan. Sungai ini ditemukan di bagian utara
kawasan perencanaan. Di Dusun Lala ditemukan juga sungai berair tetapi tidak
mengalir. Sungai tersebut merupakan kemenerusan dari danau yang berada di
Karang Jaya yang berada di sebelah baratnya. Sungai tersebut bersentuhan
langsung dengan air laut, sehingga kandungan air Danau Karang Jaya adalah
asin.
Sumber air tanah banyak dijumpai di sekitar Kota Namlea lama, yaitu berupa
sumur-sumur gali dengan kedalaman kurang dari 10 m. Sumber air tersebut
merupakan air permukaan, mengingat dareah tersebut berada pada elevasi
terendah dan dibatasi oleh lereng bukit sehingga berpotensi sebagai resapan
air dari wilayah sekitarnya. Namun kondisi air permukaan tersebut tidak bisa
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

digunakan untuk keperluan minum karena sudah terpengaruh kondisi air laut
yang asin. Ini dikarenakan kondisi batuan endapan undak sebagai akuifer dari
resapan air tanah merupakan lapisan batuan yang mempunyai pori-pori
sating berhubungan yang bersentuhan langsung dengan air laut yang berada
di bagian selatan dan barat daya daerah perencanaan, sehingga kemungkinan
air laut mengintrusi ke dalam lapisan batuan tersebut sangat besar.
Selain itu, dapat dijumpai sumber mata air permukaan lainnya, yaitu di sekitar
Dusun Lala dan Karang Jaya. Sumber mata air di daerah ini digunakan oleh
PDAM setempat sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota
Namlea lama dan sekitarnya. Proses pendistribusian air dilakukan dengan
menggunakan pompa berdaya rendah (kurang layak untuk memenuhi
kebutuhan penduduk suatu kota, apalagi sumber listrik yang digunakan
untuk sine-alankan pompa masih tergantung kepada mesin diesel dengan
kemampuan daya rendah) yang kemudian disalurkan melalui pipa-pipa yang
ditanam dalam tanah dengan kedalaman sekitar setengah meter.

D. Geomorfologi
Sedangkan secara geomorfologis, bentang alam di Kecamatan Namlea
dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) bentang alam yaitu bentang alam
asal vulkanik yang dicirikan dengan adanya topografi bergunung-gunung
dan lereng terjal, bentang alam asal denudasional yang membentuk
rangkaian pegunungan dan perbukitan berbentuk kubah, bentang alam
asal solusial dan bentang alam asal fluvial yang cenderung membentuk
topografi datar pada lembah-lembah sungai.

E. Klimatologi

3.2.3 Kependudukan
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, kecamatan Namlea
berpenduduk 37.218 jiwa, dimana 18.931 jiwa berjenis kelamin laki-laki
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

dan 18.287 jiwa adalah perempuan. Dengan luas wilayah sebesar 951,15
km2, tingkat kepadatan penduduk 39,13 jiwa/km2.
Jumlah keseluruhan rumah tangga yang terdapat di Kecamatan Namlea
sebanyak 7.852 rumah tangga.

3.2.3.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk


3.2.3.2 Struktur Penduduk
A. Jumlah dan Sebaran Penduduk Menurut Ukuran Keluarga
Berdasarkan ukuran keluarga, jumlah keluarga Kecamatan Namlea tahun 2010
berjumlah 7.852 KK dengan jumlah KK terbanyak di Desa Namlea yang
berjumlah 5.058 KK sedangkan jumlah KK terkecil terdapat di Desa Siahoni
dengan jumlan 78 KK. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.6
Jumlah Rumah Tangga Menurut Desa di Kecamatan Namlea, 2010
Jumlah Rumah
Desa
Tangga
Jamilu 258
Sanleko 264
Siahoni 78
Namlea* 5.058
Lala 203
Karang Jaya 362
Ubung 371
Jikumerasa 421
Sawa 355
Waimiting 139
Waeperang 143
Jumlah 7.852
Catatan: *Termasuk Desa Batu Boy
Sumber: Sensus Penduduk 2010

B. Jumlah dan Sebaran Penduduk Menurut Jenis Kelamin


Berdasarkan jenis kelamin, Kecamatan Namlea pada tahun 2008 dan
2009 di dominasi oleh penduduk laki-laki, sedangkan pada tahun 2010
jumlah penduduk menurut jenis kelamin hampir seimbang, antara
penduduk laki-laki dan perempuan. Jika dirinci perdesa, maka desa yang
memiliki jumlah penduduk laki-laki dan perempuan terbanyak adalah
Kecamatan Namlea dengan jumlah penduduk 21.841 jiwa. Sedangkan
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

desa yang memiliki jumlah penduduk laki-laki dan perempuan terkecil


adalah Desa Siahoni dengan jumlah penduduk total 439 jiwa. Lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.7
Jumlah Penduduk Kecamatan Namlea Menurut Desa dan Jenis
Kelamin, 2010
Desa Jumlah Penduduk
Laki-laki Perempuan Total
Jamilu 771 703 1.474
Sanleko 630 623 1.253
Siahoni 219 220 439
Namlea* 11.104 10.737 21.841
Lala 528 499 1.027
Karang Jaya 1.142 1.085 2.227
Ubung 946 968 1.914
Jikumerasa 1.405 1.216 2.621
Sawa 942 987 1.929
Waimiting 388 395 783
Waeperang 856 854 1.710
Jumlah 18.931 18.287 37.218
2009 15.495 14.939 30.434
2008 15.197 14.652 29.849
Catatan: *Termasuk Desa Batu Boy
Sumber: Sensus Penduduk 2010

C. Jumlah dan Sebaran Penduduk Menurut Umur


Informasi mengenai struktur penduduk berdasarkan kelompok umur dapat
memberi gambaran mengenai penduduk usia produktif dan penduduk usia
konsumtif. Penduduk usia produktif juga disebut sebagai ‘penduduk usia
pekerja’. Berbeda dengan penduduk yang bisa melakukan kegiatan
ekonomi , penduduk usia produktif berarti kelompok populasi dengan usia
tertentu. Standar untuk mengukur usia penduduk produktif tersebut
berbeda bagi setiap negara. Di Indonesia, kelompok umur usia produktif
adalah kelompok 15-64 tahun. Sedangkan usia konsumtif adalah
kelompok umur yang masih bergantung pada kelompok umur produktif. Di
Indonesi, kelompok umur konsumtif adalah < 15 tahun dan > 64 tahun.
Berdasarkan kelompok umur, Kecamatan Namlea didominasi oleh
kelompok umur 5-9 tahun dengan jumlah 4.737jiwa dan terkecil adalah
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

kelompok umur 70 – 74 tahun dengan jumlah 252 jiwa seperti yang


ditunjukan pada tabel berikut.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Tabel 3.8
Struktur Penduduk Perkotaan Berdasarkan Kelompok Umur

Kelompok Usia (Jiwa)


Desa
0-4 5 -9 10 - 14 15 -19 20 - 24 25 – 29 30 - 34 35 – 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 – 59 60 - 64 65 - 69 70 - 74 75+
Jamilu 159 213 190 145 130 135 121 86 75 57 34 33 30 30 17 19
Sanleko 176 185 156 101 101 113 121 91 77 54 29 15 18 16 11 14
Siahoni 58 65 49 46 42 34 35 27 23 18 17 10 9 0 3 3
Namlea* 2.748 2.523 2.229 2.273 2.319 2.555 1.994 1.600 1.174 886 588 344 243 114 100 114
Lala 132 130 124 84 95 114 107 58 55 39 27 15 25 8 5 8
Karang Jaya 250 354 314 203 193 217 192 148 100 69 59 39 38 17 14 17
Ubung 240 273 245 210 148 171 147 113 115 62 43 50 41 16 15 16
Jikumerasa 317 330 298 257 270 244 216 184 116 89 73 71 48 32 31 32
Sawa 193 314 248 177 143 133 157 129 97 76 67 48 44 31 28 31
Waimiting 89 108 120 87 63 50 50 45 43 34 26 27 10 14 6 14
Waeperang 175 242 227 133 139 155 126 110 99 76 73 47 42 11 22 11
Jumlah 4.537 4.737 4.200 3.716 3.643 3.921 3.241 2.591 1.974 1.460 1.036 699 548 279 252 279
Catatan: *Termasuk Desa Batu Boy
Sumber: Sensus Penduduk 2010
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

D. Jumlah dan Sebaran Penduduk Menurut Agama


E. Jumlah dan Sebaran Penduduk Menurut Mata Pencaharian

3.2.4 Perekonomian
3.2.4.1 Pertanian
Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam perekonomian
Indonesia. Tidak kalah pentingnya pula bagi perekonomian kecamatan
Namlea.

A. Tanaman Pangan

Sub sektor tanaman pangan merupakan salah satu sub sektor pada
sektor pertanian. Sektor ini mencakup tanaman padi (padi sawah dan
padi ladang), jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, dan
kacang kedelai.

Luas panen padi ladang di kecamatan Namlea pada tahun 2010


mencapai 90,00 hektar dengan produksi mencapai 207,00 ton. Data
lebih rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.9
Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Tanaman Pangan
menurut Jenis di Kecamatan Namlea, 2010
Jenis Tanaman Luas Panen (ha) Produksi (ton) Produktivitas (kw/ha)
Padi Sawah 0 0 0
Padi Ladang 90,00 207,00 23,00
Jagung 15,00 34,50 23,00
Ubi Kayu 147,00 1.869,84 127,20
Ubi Jalar 44,00 343,20 78,00
Kacang Tanah 12,00 14,76 12,30
Kacang Hijau 8,00 8,80 11,00
Kacang Kedelai 0 0 0
Sumber : Buru Dalam Angka 2011

Produksi sayur di kecamatan Namlea terdiri dari bawang merah, tomat,


bayam, sawi-petsai, kangkung, labu siam, terong, kacang panjang, dan
buncis. Pada tahun 2010 luas panen bawang merah mencapai 3,25
hektar, tomat 17,25 hektar. Untuk lebih lengkapnya, hasil panen
tanaman sayur-sayuran dapat dilihat pada tabel berikut.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Tabel 3.10
Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Tanaman Sayuran
Menurut Jenis di Kecamatan Namlea, 2010
Produktivitas
Jenis Tanaman Luas Panen (ha) Produksi (ton)
(kw/ha)
Bawang Merah 3,25 10,40 32,00
Tomat 17,25 60,38 35,00
Bayam 4,80 4,80 10,00
Kol-Kubis 0 0 0
Sawi-Petsai*) 5,00 15,50 31,00
Kangkung 6,15 19,07 31,01
Labu Siam 6,60 21,12 32,00
Terong 11,00 31,90 29,00
Kacang Panjang 7,00 20,48 29,26
Buncis 16,70 48,10 28,80
Sumber : Buru Dalam Angka 2011

Produksi buah di kecamatan Namlea terdiri dari alpokat, mangga,


nangka, durian, jeruk, pepaya, rambutan, dan pisang disajikan pada
tabel 3.10. Produksi buah terbanyak yang dihasilkan di kecamatan
Namlea adalah pisang yaitu mencapai 91,20 ton, diikuti kemudian oleh
durian dan mangga masingmasing mencapai 75,68 dan 70,47 ton.

Tabel 3.11
Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Buah-buahan
menurut Jenis Buah di Kecamatan Namlea, 2010
Produktivitas
Jenis Tanaman Luas Panen (ha) Produksi (ton)
(kw/ha)
Alpokat 5,00 4,45 8,90
Mangga 27,00 70,47 26,10
Nangka 3,00 10,05 33,50
Durian 8,60 75,68 88,00
Jeruk 6,50 7,18 11,05
Pepaya 4,00 4,60 11,50
Rambutan 0 0 0
Pisang 30,00 91,20 30,40
Sumber : Buru Dalam Angka 2011

B. Peternakan
Pada tahun 2010 untuk golongan ternak besar, populasi sapi di
kecamatan Namlea tercatat sebanyak 9.718 ekor. Untuk golongan
ternak kecil, populasi kambing sebanyak 7.263 ekor [Tabel 6.3.1].
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Pada ternak unggas, populasi itik tercatat sebanyak 10.035 ekor dan
ayam buras 104.587 ekor.
Tabel 3.12
Populasi Ternak menurut Jenis Ternak di Kecamatan Namlea, 2010
Jenis Ternak Populasi
Sapi 9.718
Kerbau 0
Kuda 0
Kambing 7.263
Babi 0
Jumlah 16.981
Sumber : Buru Dalam Angka 2011

Tabel 3.13
Populasi Unggas menurut Jenis Ternak di Kecamatan Namlea, 2010
Jenis Unggas Populasi
Ayam Buras 104.587
Itik 10.035
Jumlah 114.622
Sumber : Buru Dalam Angka 2011

Produksi daging yang berasal dari pemotongan ternak pada tahun 2010
untuk daging sapi adalah sebesar 48,07 ton, sedangkan daging kambing
1,28 ton.

Tabel 3.14
Produksi Daging menurut Jenis Ternak di Kecamatan Namlea (ton), 2010
Jenis Ternak Populasi
Sapi 48,07
Kerbau 0
Kuda 0
Kambing 1,28
Babi 0
Jumlah 49,35
Sumber : Buru Dalam Angka 2011

3.2.5 Pertambangan
3.2.6 Industri
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

3.2.7 Perdagangan dan Jasa


Perkembangan di sektor perdagangan pada suatu daerah akan sangat
mempengaruhi pembangunan perekonomian untuk daerah tersebut.
Jika perdagangan di suatu daerah meningkat maka perekonomiannya
juga otomatis meningkat.

Gambar 3.
Pasar Trandisional yang ada di Kecamatan Namlea

Perkembangan perdagangan dapat dilihat dari jumlah unit usaha,


penyerapan tenaga kerja, dan investasi pada sektor perdagangan.
Pada tahun 2010 di Kecamatan Namlea, terjadi kenaikan jumlah unit
usaha pada sektor perdagangan formal (yang memiliki ijin usaha), yaitu
menjadi 1.353 unit usaha. Demikian halnya pada penyerapan tenaga
kerja, naik menjadi 5.035 pekerja dan nilai investasinya naik menjadi Rp
121.893.158,-

3.2.8 Penggunaan Lahan


Kondisi penggunaan lahan di Kecamatan Namlea umumnya didominasi
oleh lahan kayu putih. Sedangkan penggunaan lahan lainnya seperti
permukiman, pelabuhan, perdagangan dan jasa masih sangat kecil
prosentasinya.
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Gambar 3.
Penggunaan Lahan yang ada di Kecamatan Namlea

3.2.9 Ruang Terbuka Hijau


3.2.10 Tata Bangunan dan Lingkungan
3.2.10.1 Intensitas Bangunan
3.2.10.2 Tata Masa Bangunan
3.2.11 Prasarana dan Utilitas Umum
3.2.11.1 Jaringan Transportasi

3.2.11.2 Jaringan Air Bersih


Kebutuhan masyarakat kecamatan Namlea akan air minum yang bersih
dan sehat terus meningkat. Sampai dengan tahun 2010 jumlah air
minum yang telah disalurkan PDAM Unit IKK Namlea kepada
konsumen sebanyak 666.936 meter kubik dengan nilai Rp.
2.118.640.750,-.
Tabel 3.15
Banyaknya Air Minum yang Terjual pada PDAM Unit IKK Namlea
menurut Bulan, 2010
Bulan Volume Nilai
Januari 55.251 174.971.150
Pebruari 55.222 176.277.500
Maret 49.966 171.609.350
April 54.085 137.155.950
Mei 55.699 178.890.550
Juni 56.407 177.349.250
Juli 58.147 183.228.550
Agustus 57.126 180.125.450
September 55.792 174.464.900
Oktober 57.140 182.993.050
November 54.280 166.568.050
Desember 57.821 179.007.000
Jumlah 666.936 2.118.640.750
2009 653.062 2.041.488.000
2008 640.184 1.733.760.000
2007 579.530 1.599.790.000
Sumber: Buru Dalam Angka 2011

3.2.11.3 Jaringan Drainase


Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Saluran drainase di Kecamatan Namlea secara umum diletakkan di


sebelah kanan dan kiri jalan raya. Menurut fungsinya, saluran drainase ini
dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Saluran drainase pengumpul (minor drainage)
Berfungsi sebagai pengumpul air hujan yang berasal dari blok-blok
daerah pemukiman, komersial, industri, dan saluran di tepi jalan.
Saluran drainase ini berupa saluran buatan.
b. Saluran drainase utama (major drainage)
Berfungsi sebagai saluran penyalur air hujan yang berasal dari saluran
drainase pengumpul. Saluran jenis ini adalah saluran-saluran alam
(sungai) dan saluran buatan besar yang berfungsi membawa air hujan
ke laut.

Saluran drainase yang terdapat di Kecamatan Namlea masih terbatas di


jalan utama dengan kondisi yang cukup terawat dan berfungsi
sebagaimana mestinya. Namun demikian tidak seluruh jalan utama ini
memiliki drainase, ada beberpa ruas jalan yang belum memiliki drainase.
Saluran drainase yang banyak terdapat di Kcamatan Namlea hanya di
sekitar ruas jalan pemerintahan saja, sedangkan di ruas jalan lainnya
masih belum terdapat jaringan drainase yang memadai. Saluran drainase
ini menurut fungsinya merupakan saluran drainase pengumpul dan
bermuara ke lembah-lembah sungai terdekat (saluran drainase utama).

Gambar 3.
Saluran Drainase yang ada di sekitar Kecamatan Namlea
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

3.2.11.4 Jaringan Listrik/Energi


Sebagian besar kebutuhan listrik di kecamatan Namlea dipenuhi oleh
PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero). Sampai dengan tahun 2010,
wilayah kecamatan Namlea belum seluruhnya tersambung dalam
jaringan PLN. Oleh karena itu, sebagian masyarakat ada yang
mengusahakan listrik secara swasembada dan sebagian yang lain tidak
menggunakan penerangan listrik.

Gambar 3.
Salah satu PLN yang ada di Kecamatan Namlea

Sepanjang tahun 2010, pada PT. PLN (Persero) Ranting Namlea, telah
terpasang daya sebesar 5.040 KW, Produksi listrik sebesar 1.310.475
KWh dan 955.288 KWh listrik terjual.
Tabel 3.16
Daya Terpasang, Produksi, dan Listrik Terjual PT. PLN (Persero)
di Kecamatan Namlea, 2010
Daya Terpasang Produksi Listrik Listrik Terjual
Lokasi
(KW) (KWh) (KWh)
Ranting Namlea 5.040 1.310.475 955.288
Sumber : Buru Dalam Angka 2011

3.2.11.5 Persaampahan
Pengelolaan sampah perdesaan secara individual pada umumnya dilakukan
secara tradisional. Yang mana sampah yang dihasilkan dikelola dengan jalan
dibakar, ditimbun, dibuang ke kebun-kebun dan bahkan ada yang dibuang ke
pinggir jalan. Sampai saat ini penduduk perdesaan merasa tidak ada masalah
dengan sampah, karena mereka berfikir masih terdapat lahan-lahan kosong yang
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

bisa digunakan untuk pembuangan sampah seperti kebun-kebun dan lahan


kosong lainnya.
Sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Namlea masih sangat buruk, karena
penduduk sekitar masih membuang sampah ke jalan. Meskipun pemerintah
sekitar sudah menyediakan tempat sampah. Seperti dapat dilihat pada gambar di
bawah ini.

Gambar 3.
Tempat Pembuangan akhir di Kecamatan Namlea
3.2.11.6 Prasarana Telekomunikasi
3.2.12 Kondisi Sarana dan Fasilitas Lingkungan
3.2.12.1 Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan yang terdapat di Kecamatan Namlea meliputi TK, SD,
SMP, Mts, SMA, dan MA. Sarana pendidikan yang paling banyak terdapat
di Kecamatan Namlea adalah Sekolah Dasar (SD) yang tersebar di setiap
Desa. Sedangkan sarana pendidikan yang paling sedikit terdapat di
Kecamatan Namlea adalah MA dengan jumlah I unit. Lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel 3.16.

Tabel 3.17
Jumlah Sarana Pendidikan Menurut Jenis di Kecamatan Namlea
Jenis Sarana Tahun
Pendidikan 2008 2009 2010
TK 9 9 10
SD 21 22 23
SMP 5 6 6
MTs 2 2 3
SMA 3 5 3
MA 1 1 1
Sumber : Buru Dalam Angka 2011
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

3.2.12.2 Sarana Peribadatan


Jumlah sarana tempat ibadah di Kecamatan Namlea tiap tahunnya
meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan keberadaan mesjid yang telah
dibangun sebanyak 30 mesjid ditahun 2009, dimana di tahun 2008 hanya
berjumalah 26.

Sarana peribadatan yang terdapat di Perkotaan Karangnunggal yaitu


mesjid dan gereja. Sarana yang paling banyak tersebar di Kecamatan
Namlea yaitu Mesjid. Yang dimana sarana peribadatan mesjid hampir
tersebar di setiap desa kecuali di Desa Karang Jaya dan Desa
Waeperang. Sedangkan gereja hanya terdapat di 2 desa saja. Lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.17.

Tabel 3.18
Jumlah Sarana Tempat Ibadah Menurut Jenis dan Desa di
Kecamatan Namlea
Desa Tempat Ibadah
Mesjid Gereja Jumlah
Jamilu 1 - 17
Sanleko 2 - 1
Siahoni 1 - -
Namlea* 17 - 3
Lala 1 - 1
Karang Jaya - - 1
Ubung 2 1 2
Jikumerasa 1 - 2
Sawa 2 - 1
Waimiting 1 - 1
Waeperang - - 2
Jumlah 30 2 28
2009 26 2 28
2008 26 2 28
Catatan : *Termasuk Desa Batu Boy
Sumber : Buru Dalam Angka 2011
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Gambar 3.
Mesjid yang ada di Kecamatan Namlea

3.2.12.3 Sarana Kesehatan


Sarana pendidikan yang terdapat di Kecamatan Namlea meliputi rumah
sakit, puskesmas dan posyandu. Sarana yang paling banyak tersebar di
Kecamatan Namlea yaitu Posyandu yang dimana terdapat 29 posyandu
yang tersebar di seluruh Kecamatan Namlea. Dan puskesmas yang paling
sedikit yaitu hanya terdapat 1 unit saja. Lebuh jelasnya dapat dilihat pada
tabel 3.18.
Tabel 3.19
Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Jenis di Kecamatan Namlea
Jenis Sarana Tahun
Kesehatan 2008 2009 2010
Rumah Sakit 1 1 1
Puskesmas 1 0 0
Pasyandu 23 29 29
Sumber : Buru Dalam Angka 2011
Laporan Pendahuluan
Penyusunan dan Cetak Buku Review RDTR Kota Namlea

Gambar 3.
Puskesmas yang ada di Kecamatan Namlea

3.2.12.4 Sarana Olah Raga


3.2.12.5 Sarana Tempat Pemakaman Umum (TPU)

3.2.12.6 Sarana Perekonomian Rakyat