Anda di halaman 1dari 122

ANALISIS PENDUGAAN EROSI, SEDIMENTASI, DAN

ALIRAN PERMUKAAN MENGGUNAKAN MODEL AGNPS


BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
DI SUB DAS JENEBERANG PROPINSI SULAWESI SELATAN

DEVIANTO TINTIAN LONDONGSALU

PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN


DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

ANALISIS PENDUGAAN EROSI, SEDIMENTASI, DAN


ALIRAN PERMUKAAN MENGGUNAKAN MODEL AGNPS
BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
DI SUB DAS JENEBERANG PROPINSI SULAWESI SELATAN

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan
pada Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

DEVIANTO TINTIAN LONDONGSALU


E14203005

PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN


DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

RINGKASAN
Devianto Tintian Londongsalu (E14203005). Analisis Pendugaan Erosi,
Sedimentasi, dan Aliran Permukaan Menggunakan Model AGNPS Berbasis
Sistem Informasi Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi Sulawesi
Selatan. Dibimbing oleh Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr.
Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan penggunaan lahan di wilayah
Sub DAS Jeneberang, memberi dampak negatif dan berpengaruh nyata terhadap
kondisi DTA Jeneberang Hulu, dimana tingkat kekritisan lahan telah mencapai
53.471 ha dan cenderung terus meningkat. Sejalan dengan semakin meluasnya
areal lahan kritis tersebut, pada beberapa tahun terakhir ini kondisi hidrologis
DTA Jeneberang Hulu menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun.
Banjir dan longsor terjadi pada setiap musim hujan dan kekeringan di musim
kemarau. AGNPS (Agricultural Non-Point Source Pollution Model) merupakan
salah satu metode pendugaan yang dapat memprediksi aliran permukaan (banjir),
erosi dan dapat digunakan untuk melakukan simulasi penggunaan lahan yang
optimal dalam mengurangi laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak. Dalam
menganalisis menggunakan model AGNPS diperlukan parameter-parameter
masukan model meliputi masukan data curah hujan jangka pendek dan parameter
biofisik. Pengolahan data spasial dalam input data, manipulasi dan tampilan data
model AGNPS serta mengidentifikasi dan memetakan keluaran model AGNPS
dapat dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini
bertujuan mengetahui akurasi model AGNPS dalam menduga laju erosi,
sedimentasi, dan debit puncak menggunakan parameter input yang tersedia,
memperoleh bentuk penggunaan lahan optimal di DTA Jeneberang Hulu terhadap
pengurangan laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak.
Penelitian ini dilakukan pada DTA Jeneberang Hulu yang terletak di
Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Pengambilan data dan
pengolahan/analisis data dilakukan pada bulan Mei hingga November 2007.
Bahan yang digunakan adalah data curah hujan harian, debit harian, sedimen
harian selama 11 tahun, peta digital topografi/kontur, peta digital penutupan
lahan, peta digital jenis tanah, dan peta digital jaringan sungai. Sedangkan alat
yang digunakan adalah seperangkat komputer dengan beberapa software, yaitu
AGNPS versi 3.65.3, ArcView versi 3.2 + extension, Minitab 14, dan Microsoft
Office, alat tulis, alat hitung dan alat penunjang lainnya. Metode penelitian
meliputi pengumpulan data dasar berupa peta penutupan lahan, peta kontur, peta
jenis tanah, peta jaringan sungai, dan data curah hujan, pengolahan data curah
hujan, transformasi proyeksi peta, pembuatan Daerah Tangkapan Air (DTA),
pembuatan grid sel model AGNPS, penurunan atribut-atribut DTM, pembangkitan
data masukan model AGNPS dengan SIG, pemasukan data ke model AGNPS,
analisis keluaran data model AGNPS, pengujian validasi model AGNPS, analisis
simulasi dan rekomendasi.
Hasil keluaran model pada DTA Jeneberang Hulu dengan masukan curah
hujan harian rata-rata terbesar pada hari hujan tanggal 1 Januari sebesar 31,66 mm
dan nilai energi intensitas hujan 30 menit sebesar 25,89 m.ton.cm/ha/jam,
diperoleh besarnya volume aliran permukaan pada outlet sebesar 0,76 mm, debit

puncak aliran permukaan sebesar 3,20 m3/detik dengan volume air hujan yang
menjadi aliran permukaan 2,29 %. Besarnya laju erosi pada outlet sebesar 29,02
ton/ha, laju sedimen sebesar 1,85 ton/ha dan sedimen total sebesar 12577,2 ton.
Dengan besarnya erosi harian dalam kurun waktu setahun yang terjadi sebesar
1011,80 ton/ha/tahun, maka tingkat bahaya erosi yang terjadi di DTA Jeneberang
Hulu dapat dikategorikan sangat berat. Penutupan lahan berupa tegalan/ladang
memberikan kontribusi volume aliran permukaan, debit puncak aliran permukaan,
laju erosi permukaan, dan sedimen total yang tertinggi masing-masing sebesar
172,21 mm, 40,36 m3/detik, 12236,15 ton/ha, 222523,86 ton.
Model AGNPS dengan parameter input menggunakan data yang relatif
tersedia di Indonesia (hujan harian dan data sekunder fisik DAS) dalam menduga
laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak memberikan hasil lebih rendah dari data
pengukuran lapangan (under estimation) sehingga memerlukan faktor koreksi.
Faktor koreksi untuk kasus DTA Jeneberang Hulu dapat menggunakan persamaan
QpLap = 1,734 QpMod0,679, QsLap = 1,698 QsMod0,382.
Pemanfaatan lahan yang optimal dalam mengurangi debit puncak aliran
permukaan, laju erosi permukaan, dan laju sedimentasi adalah dengan
mempertahankan penggunan lahan yang ada sekarang kecuali tegalan dan semak
belukar perlu dirubah kedalam bentuk penggunaan lahan yang menyerupai hutan
alam produksi yang dikelola dengan sistem silvikultur tebang pilih atau hutan
alam tidak terganggu di bagian hulu, sedangkan di bagian bawah yang relatif lebih
datar menerapkan kebun campuran dengan sistem agroforestry.

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Pendugaan


Erosi, Sedimentasi, dan Aliran Permukaan Menggunakan Model AGNPS Berbasis
Sistem Informasi Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi Sulawesi Selatan
adalah benar-benar hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan
belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2008

Devianto Tintian Londongsalu


NRP. E14203005

Judul

: Analisis Pendugaan Erosi, Sedimentasi, dan Aliran Permukaan


Menggunakan

Model

AGNPS

Berbasis

Sistem

Informasi

Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi Sulawesi Selatan.


Nama

: Devianto Tintian Londongsalu

NIM

: E 14203005

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

(Dr. Ir. Hendrayanto, M. Agr)


NIP. 131 578 788

Mengetahui,
Dekan Fakultas Kehutanan

(Dr. Ir. Hendrayanto, M. Agr)


NIP. 131 578 788

Tanggal Lulus :

KATA PENGANTAR

Puji-pujian dan ucapan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang


Maha Kuasa, karena atas kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan kuliah, penelitian dan penyusunan skripsi dengan baik sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juni
hingga November 2007 adalah karateristik hidrologi, dengan judul Analisis
Pendugaan Erosi, Sedimentasi, dan Aliran Permukaan Menggunakan Model
AGNPS Berbasis Sistem Informasi Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi
Sulawesi Selatan. Dengan tujuan untuk mengetahui akurasi model AGNPS dalam
menduga laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak menggunakan parameter input
yang tersedia dan memperoleh bentuk penggunaan lahan optimal di DTA
Jeneberang Hulu terhadap pengurangan laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak.
Sehingga diharapkan dapat memberikan informasi kepada Balai Pengelolaan DAS
Jeneberang-Walanae dalam hal penggunaan lahan optimal dalam rangka
pengelolaan DAS yang terpadu dengan upaya mengurangi laju erosi, sedimentasi,
dan debit puncak.
Penyusun menyadari bahwa skripsi penelitian ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis
harapkan demi kesempurnaan penyusunan di masa yang akan datang. Semoga
skripsi penelitian ini dapat memberikan manfaat yang baik.

Bogor, Maret 2008

Penulis

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan pada
tanggal 28 Desember 1985 sebagai anak ketiga dari lima
bersaudara pasangan Drs. Yusuf Londongsalu (ayah) dan Yuliana
Paibang (ibu).
Penulis menempuh pendidikan di TK Frater Teratai I Ujung
Pandang lulus pada tahun 1991, SD Frater Teratai I Ujung Pandang lulus tahun
1997, SLTP Katolik Garuda Ujung Pandang lulus tahun 2000, dan SMU Negeri 2
Makassar lulus tahun 2003. Pada tahun 2003, penulis diterima sebagai mahasiswa
Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada
Program Studi Budidaya Hutan, Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor.
Dalam melaksanakan studi, penulis aktif di berbagai organisasi/pelayanan
dan kepanitiaan diantaranya Pengurus Ikatan Pemuda Toraja Bogor (IPTOR),
Komisi Pelayanan Anak PMK-IPB, Persekutuan Fakultas Kehutanan, dan panitia
Temu Manager (TM) 2005. Pada tahun 2006, penulis melaksanakan Praktek
Pengenalan Hutan di Baturaden (BKPH Gunung Slamet KPH Banyumas Timur)
dan Cilacap (BKPH Rawa Timur KPH Banyumas Barat) dan Praktek Pengelolaan
Hutan di Kampus Lapangan UGM Getas, KPH Ngawi. Pada bulan Februari
hingga April 2007, penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di HTI
PT. Sebangun Bumi Andalas Wood Industries (PT. SBAWI), Kabupaten Ogan
Komering Ilir (OKI) Propinsi Sumatera Selatan. Selain itu juga, penulis menjadi
asisten praktikum mata kuliah Ilmu Ukur Hutan, Inventarisasi Sumberdaya Hutan,
Pengaruh Hutan, dan Hidrologi Hutan.
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, penulis melaksanakan penelitian dan
penyusunan skripsi yang berjudul Analisis Pendugaan Erosi, Sedimentasi, dan
Aliran Permukaan Menggunakan Model AGNPS Berbasis Sistem Informasi
Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi Sulawesi Selatan di bawah
bimbingan Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr.

UCAPAN TERIMA KASIH


Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Segala pujian dan hormat bagi kemuliaan Allah Bapa di Sorga penulis panjatkan
atas kasih dan pimpinan penyertaan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dan
skripsi ini dengan baik. Rasa syukur dalam proses penyelesaian kuliah, penelitian dan
penyusunan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ayah (Drs. Yusuf Londongsalu), Ibu (Yuliana Paibang), kakak-adikku (Yusran,
Fredy, Arnianti, Jefrianto), sepupuku (Jeklin, Agustina, Jerri) dan kedua kakekku
yang senantiasa memberikan doa, dukungan, pengertian, semangat, dan
dorongannya.
2. Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr selaku dosen pembimbing atas semua
bimbingan/arahan, bantuan, masukan dan nasehat selama proses penyelesaian
skripsi.
3. Dr. Ir. E.G Togu Manurung, MS selaku dosen penguji dari Departemen Hasil
Hutan dan Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA selaku dosen penguji dari Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata atas saran, masukan dan
nasehatnya.
4. BPDAS Jeneberang-Walanae atas bantuan penyediaan data dan kerjasamanya,
terkhusus Kepala BPDAS (Ir. Helmi Basalamah, MM), Ibu Damaris, Ibu Lena,
Bpk. Pither Tangko, Bpk. Daud Solo, Bpk. Jamal, Bpk. Sriyono, Bpk. Subiyanto,
dan Bpk. Syaiful.
5. Bapak Yusuf G Rantelembang (Dinas Kehutanan Kab. Tana Toraja), Ibu
Yosefina (BPDAS Saddang), dan Bapak Nata (Balai Diklat Kehutanan Makassar)
atas bantuan dana dan kerjasamanya dalam pelaksanaan penelitian.
6. Dr. Ir . Prijanto Pamoengkas, MScF dan Ir. Sucahyo Sadiyo, MS atas segala
materi, saran dan nasehat yang diberikan selama penantian sidang.
7. Staf, dosen dan teman-teman seperjuangan di Laboratorium Pengaruh Hutan
(Veve, Kupli, Wulan, Nyoman Aries, Ifa Sari), mahasiswa bimbingan
seperjuangan (Sahab dan Rimba), serta staf administrasi Departemen Silvikultur
dan Departemen Manajemen Hutan atas bantuan dan kerjasamanya.
8. Kunang-kunang kecilku (Wulan dan Novi Bu-er), BDH silvikulturist40 atas
semangat dan doanya selama penantian ujian sidang, teman-teman MNH 40,
THH 40, KSH 40, GETAS II, PKL (SBA crew) atas kebersamaannya selama ini.
Bagus Ari, Veve, Novia Tri (abank), Anggit, Mas Arga, Mas Ibrahim, dan
Fauzan atas bantuan yang diberikan dalam proses pengolahan data dan
penyusunan skripsi.
9. Teman-teman Komisi Pelayanan Anak PMK-IPB, Persekutuan Fakultas
Kehutanan (PMK-E) dan Ikatan Pemuda Toraja Bogor (IPTOR) atas semangat
dan dukungan yang diberikan.
10. Keluarga di Jakarta (Ibu Meti Paibang sek. dan Ibu Ester Battung sek.) dan
Makassar (Bpk. Suleman Paibang sek.) atas bantuan dan dukungannya yang
diberikan kepada penulis selama melaksanakan kuliah dan penyelesaian skripsi.
11. Teman-teman Wisma Sony (Gerta, Cipta, Rura, Gani, Aan, Nyoman, Robby,
Hudi, Yoga, Asep, Robert PGT, dan Embro Dormitory) atas bantuan dan
semangat yang diberikan.
12. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu
penulis.

God Bless Us (GBU)...

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ....................................................................................

DAFTAR TABEL .......................................................................................... iv


DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... ix
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................
1.2 Tujuan Penelitian .....................................................................
1.3 Manfaat Penelitian ...................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Daerah Aliran Sungai ..............................................................
2.2 Penggunaan Lahan ...................................................................
2.3 Pendekatan Sistem DAS dengan Menggunakan Sistem
Model ......................................................................................
2.4 Aliran Permukaan ....................................................................
2.5 Erosi ........................................................................................
2.5.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi ......................
2.5.2 Tingkat Bahaya Erosi ...................................................
2.5.3 Sedimentasi ..................................................................
2.5.4 Prediksi Erosi dan Sedimentasi .....................................
2.6 Model AGNPS ........................................................................
2.6.1 Masukan Data Model AGNPS ......................................
2.6.2 Keluaran Model AGNPS ..............................................
2.6.3 Persamaan dalam Model AGNPS .................................
2.7 Sistem Informasi Geografis ......................................................
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .....................................................
3.2 Bahan dan Alat .........................................................................
3.3 Metode Penelitian .....................................................................
3.3.1 Pengolahan Data Curah Hujan .......................................
3.3.2 Transformasi Proyeksi Peta ...........................................
3.3.3 Pembuatan Daerah Tangkapan Air (DTA) .....................
3.3.4 Pembuatan Grid Sel Model AGNPS ..............................
3.3.5 Penurunan Atribut-atribut DTM ....................................
3.3.6 Pembangkitan Data Masukan Model AGNPS dengan
SIG ...............................................................................
3.3.7 Pemasukan Data ke Model AGNPS ...............................
3.3.8 Analisis Keluaran Data Model AGNPS .........................
3.3.9 Pengujian validasi model AGNPS .................................
3.3.10 Analisis Simulasi dan Rekomendasi ...............................

1
3
3
4
5
5
6
7
8
9
10
11
12
13
13
14
16
17
18
18
19
20
20
21
22
27
34
36
36
37

BAB IV KARATERISTIK LOKASI PENELITIAN


4.1 Letak dan Luas .........................................................................
4.2 Topografi ..................................................................................
4.3 Tanah dan Geologi ....................................................................
4.4 Jaringan sungai .........................................................................
4.5 Penggunaan Lahan ....................................................................
4.6 Iklim .....................................................................................
4.7 Debit Aliran ..............................................................................
4.8 Kependudukan ..........................................................................

40
40
43
45
45
48
48
49

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Hubungan Curah Hujan dengan Debit .......................................
5.2 Volume Aliran Permukaan ........................................................
5.3 Debit Puncak Aliran Permukaan ...............................................
5.4 Laju Erosi Permukaan dan Sedimentasi .....................................
5.5 Sedimen Total ...........................................................................
5.6 Pengujian Validasi Model AGNPS ...........................................
5.7 Analisis Simulasi ......................................................................
5.7.1 Skenario I ......................................................................
5.7.2 Skenario II ....................................................................
5.7.3 Skenario III ...................................................................
5.7.4 Skenario IV ...................................................................
5.8 Rekomendasi ............................................................................

50
50
52
54
56
58
60
61
62
64
65
67

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan .............................................................................. 70
6.2 Saran .. ...................................................................................... 70
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 71
LAMPIRAN ......................................................................................... 74

DAFTAR TABEL

No.

Halaman

1. Kelas Tingkat Bahaya Erosi ...................................................................... . 9


2. Nilai arah aliran antara hasil ArcView dengan masukan model AGNPS .... . 25
3. Nilai masukan tekstur model AGNPS ........................................................ 31
4. Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario I .................... 37
5. Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario II ................... 38
6. Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario III .................. 39
7. Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario IV ................. 39
8. Luasan kemiringan lereng DTA Jeneberang Hulu ...................................... 41
9. Luasan jenis tanah, bahan induk, bentuk wilayah DTA Jeneberang Hulu .... 44
10. Nilai faktor erodibilitas tanah (K) dan tekstur tanah (T) di DTA
Jeneberang Hulu ........................................................................................ 45
11. Luasan jenis penutupan lahan DTA Jeneberang Hulu ................................. 46
12. Nilai faktor pengelolaan tanaman (C) pada berbagai penutupan lahan di
DTA Jeneberang Hulu ................................................................................ 47
13. Nilai faktor tindakan konservasi tanah (P) pada berbagai penutupan lahan
di DTA Jeneberang Hulu ............................................................................ 47
14. Nilai koefisien kekasaran Manning (n), konstanta kondisi permukaan (SCC),
dan bilangan kurva aliran permukaan (CN) pada berbagai penutupan lahan di
DTA Jeneberang
Hulu ........................................................................................................... 48
15. Curah hujan rata-rata dalam setahun (2001-2005) ...................................... 48
16. Debit aliran rata-rata dalam setahun (2001-2005) ....................................... 49
17. Jumlah penduduk Sub DAS Jeneberang di Kab. Gowa tahun 2002 ............. 49
18. Rekapitulasi volume aliran permukaan pada berbagai penutupan lahan ...... 51
19. Rekapitulasi debit puncak aliran permukaan pada berbagai penutupan
lahan .......................................................................................................... 52
20. Keluaran sedimen pada outlet DTA Jeneberang Hulu ................................. 54
21. Rekapitulasi laju erosi permukaan pada berbagai penutupan lahan ............. 55
22. Rekapitulasi sedimen total pada berbagai penutupan lahan ......................... 57
23. Hasil simulasi skenario I keluaran model AGNPS ...................................... 61
24. Hasil simulasi skenario II keluaran model AGNPS ..................................... 63

25. Hasil simulasi skenario III keluaran model AGNPS ................................... 64


26. Hasil simulasi skenario IV keluaran model AGNPS ................................... 66
27. Rekapitulasi persentase (%) pengurangan keluaran model dari nilai awal
(base) setelah dilakukan simulasi ................................................................ 67

DAFTAR GAMBAR

No.

Halaman

1. Peta lokasi penelitian ................................................................................. 17


2. Alur tahapan penelitian .............................................................................. 19
3. Arah-arah aliran dari suatu sel khusus dinyatakan dengan angka 1-128 ...... 24
4. Bentuk representasi akumulasi aliran ......................................................... 26
5. Peta jaringan sungai DTA Jeneberang Hulu ............................................... 27
6. Analisis spasial dan pembangkitan data model AGNPS .............................. 28
7. Masukan data inisial model ........................................................................ 34
8. Masukan data setiap sel model ................................................................... 35
9. Peta kelas lereng DTA Jeneberang Hulu ..................................................... 41
10. Peta elevasi DTA Jeneberang Hulu ............................................................ 42
11. Peta grid arah aliran DTA Jeneberang Hulu setelah penghilangan sink ....... 43
12. Peta jenis tanah DTA Jeneberang Hulu ...................................................... 44
13. Peta penutupan lahan DTA Jeneberang Hulu .............................................. 46
14. Dinamika curah hujan harian dengan debit DTA Jeneberang Hulu .............. 50
15. Peta penyebaran volume aliran permukaan DTA Jeneberang Hulu ............. 51
16. Peta penyebaran debit puncak aliran permukaan DTA Jeneberang Hulu ..... 53
17. Peta penyebaran laju erosi permukaan DTA Jeneberang Hulu .................... 55
18. Peta penyebaran sedimen total DTA Jeneberang Hulu ................................ 57
19. Hubungan QpMod. dengan QpLap. ............................................................ 59
20. Hubungan QsMod. dengan QsLap. ............................................................. 60
21. Peta penggunaan lahan skenario I ............................................................... 62
22. Peta penggunaan lahan skenario II ............................................................. 63
23. Peta penggunaan lahan skenario III ............................................................ 65
24. Peta penggunaan lahan skenario IV ............................................................ 66
25. Perbandingan penurunan keluaran model berbagai skenario ....................... 68

DAFTAR LAMPIRAN
No.

Halaman

1. Nilai erodibilitas tanah untuk 50 jenis tanah di Indonesia ........................... 75


2. Faktor tindakan konservasi tanah (P) .......................................................... 76
3. Faktor pengelolaan tanaman (C) ................................................................. 77
4. Koefisien kekasaran Manning (n) untuk berbagai jenis saluran.................... 78
5. Faktor konstanta kondisi permukaan (SCC) dan bilangan kurva aliran
permukaan (CN) ........................................................................................ 82
6. Peta-peta grid nilai C, P, SCC, CN, dan erodibilitas (K) ............................. 83
7. Parameter-parameter masukan model AGNPS ........................................... 86
8. Contoh hasil keluaran model AGNPS ...................................................... 102
9. Hasil analisis regresi keluaran Minitab versi 14 ........................................ 105

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Peningkatan jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan yang semakin
pesat mengakibatkan peningkatan kebutuhan manusia terhadap sumberdaya lahan.
Eksploitasi sumberdaya lahan yang berlangsung sangat intensif menyebabkan
bentuk-bentuk pemanfaatan lahan yang dilakukan di dalam suatu wilayah daerah
aliran sungai (DAS) sering tidak memperhatikan dampak negatif yang
ditimbulkannya. Bentuk-bentuk pemanfaatan lahan tersebut antara
penebangan liar, perladangan berpindah,

lain:

konversi hutan alam menjadi

penggunaan lahan yang lain, pembangunan perumahan dan industri di daerah


resapan air, dan penggunaan lahan yang tidak menerapkan prinsip konservasi
tanah dan air.
Tindakan-tindakan tersebut menimbulkan terjadinya tekanan yang berat
terhadap kelestarian sumberdaya lahan yang pada akhirnya mengakibatkan
terjadinya degradasi lahan. Peningkatan tingkat degradasi lahan mengakibatkan
fungsi hidrologis dari DAS tersebut tidak berjalan dengan baik yang dicirikan
dengan terjadinya fluktuasi debit aliran permukaan yang tinggi, peningkatan laju
erosi, dan sedimentasi. Hal tersebut menyebabkan terjadinya banjir pada musim
hujan, kelangkaan air pada musim kemarau, dan mempercepat proses
pendangkalan sungai dan waduk, sehingga umur teknis bengunan tersebut
menjadi berkurang dan biaya pemeliharaan semakin meningkat.
Wilayah DTA Jeneberang Hulu merupakan bagian dari (Sub) DAS
Jeneberang yang termasuk prioritas penanganan konservasi tanah sesuai surat
keputusan bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, dan Menteri
Pekerjaan Umum No. 19 tahun 1984, No. 059/Kpts-II/1985 dan No.
124/Kpts/1984 yang dalam pengelolaannya perlu mendapat perhatian khusus.
DTA Jeneberang Hulu ini merupakan daerah tangkapan air untuk Dam Serbaguna
Bili-bili, yang dibangun untuk memenuhi kepentingan penyediaan air minum bagi
penduduk Kota Makassar, Sungguminasa dan sekitarnya, irigasi sawah di daerah
bagian hilir seluas 30.000 ha, pembangkit tenaga listrik dan sarana rekreasi

(BPDAS Jeneberang-Walanae 2003). DTA Jeneberang Hulu juga berperan


sebagai pengendali sedimentasi, dan banjir bagi daerah hilir DAS bersangkutan.
Dengan berkembang pesatnya pemukiman dan penggunaan lahan di wilayah
Sub DAS Jeneberang bagian hulu, berdampak negatif dan sangat berpengaruh
nyata terhadap kondisi DAS Jeneberang, dimana tingkat kekritisan lahan telah
mencapai 53.471 ha dan cenderung terus meningkat (BPDAS JeneberangWalanae 2003). Sejalan dengan semakin meluasnya areal lahan kritis tersebut,
pada beberapa tahun terakhir ini kondisi hidrologis DTA Jeneberang Hulu
menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun. Banjir terjadi pada setiap
musim hujan dan kekeringan di musim kemarau (BPDAS Jeneberang-Walanae
2003).
Demikian pula luas areal yang mengalami erosi berat di Sub DAS
Jeneberang bagian hulu mencapai 33.269 ha, dan areal ini hampir seluruhnya
berada di bagian hulu DAS Jeneberang (BPDAS Jeneberang-Walanae 2003).
Erosi yang terjadi di Sub DAS Jeneberang bagian hulu sangat erat kaitannya
dengan kondisi geologi, tanah, topografi dan vegetasi yang tumbuh di daerah
tersebut, serta bentuk penggunaan lahannya, yaitu jenis batuannya yang mudah
lapuk, kemiringan lereng yang relatif curam, serta penutupan vegetasi yang
kurang.
Semakin tingginya tingkat degradasi lahan di bagina hulu DAS Jeneberang
mengakibatkan fungsi Bendungan Bili-bili menjadi tidak optimal, pada saat ini
diantaranya terjadi pendangkalan di bendungan akibat laju sedimentasi dan erosi
yang semakin tinggi sebesar 37.902,36 ton/ha/tahun. (BPDAS JeneberangWalanae 2003).
Untuk mengurangi laju erosi, sedimentasi, dan debit banjir (puncak)
diperlukan upaya penanggulangan, salah satunya melalui penggunaan lahan
secara optimal dalam mereduksi laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak.
AGNPS (Agricultural Non-Point Source Pollution Model) merupakan salah
satu model terdistribusi yang dapat memprediksi aliran permukaan (banjir), erosi,
dan sedimentasi dengan hasil yang baik (Galuda 1996) dan dapat digunakan untuk
melakukan simulasi penggunaan lahan yang optimal dalam mengurangi laju erosi,
sedimentasi, dan debit puncak. Dalam menganalisis menggunakan model AGNPS

diperlukan parameter-parameter masukan model meliputi masukan data curah


hujan jangka pendek dan parameter biofisik. Parameter masukan AGNPS
seringkali tidak tersedia, untuk itu perlu dicoba menggunakan parameter masukan
model yang umum tersedia, yaitu curah hujan harian.

1.2 Tujuan Penelitian


Berdasarkan dari latar belakang serta masalah yang ada, maka penelitian
ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui akurasi model AGNPS dalam menduga laju erosi, sedimentasi,
dan debit puncak menggunakan parameter input yang tersedia.
2. Memperoleh bentuk penggunaan lahan optimal di DTA Jeneberang Hulu
terhadap pengurangan laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak.

1.3 Manfaat Penelitian


Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian, yakni diketahuinya
ketelitian pendugaan parameter output model sehingga diketahui faktor
koreksinya dan memberikan informasi kepada Balai Pengelolaan DAS
Jeneberang-Walanae dalam hal penggunaan lahan optimal dalam upaya
mengurangi laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Daerah Aliran Sungai


Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang secara

topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung, dan


menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai
utama. Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah tangkapan air (DTA atau
catchment area) yang merupakan suatu ekosistem dengan unsur utamanya terdiri
atas sumberdaya alam (tanah, air, dan vegetasi) dan sumber daya manusia sebagai
pemanfaat sumberdaya alam (Asdak 2004).
Sub DAS adalah bagian DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya
melalui anak sungai ke sungai utama. Setiap DAS terbagi habis ke dalam sub
DAS-sub DAS. Sedangkan Daerah Tangkapan Air (DTA) adalah suatu wilayah
daratan yang menerima air hujan, menampung dan mengalirkannya melalui satu
outlet atau tempat peruntukannya (Departemen Kehutanan 1998).
Menurut Soewarno (1991), bagian hulu dari suatu DAS merupakan daerah
yang mengendalikan aliran sungai dan menjadi suatu kesatuan dengan bagian hilir
yang menerima aliran tersebut. Pengetahuan karateristik DAS dan alur sungai
dapat dinyatakan secara kuantitatif dan kualitatif. Pengetahuan tersebut sangat
membantu dalam melaksanakan pekerjaan hidrometri, antara lain :
1. merencanakan pos duga air;
2. melaksanakan survei lokasi pos duga air;
3. analisa debit.
Secara makro, DAS terdiri dari unsur: biotik (flora dan fauna), abiotik
(tanah, air, dan iklim) dan manusia, dimana ketiganya saling berinteraksi dan
saling ketergantungan membentuk sistem hidrologi (Haridjaja 2000). Sedangkan
menurut Seyhan (1990) berpendapat bahwa DAS dapat dipandang sebagai suatu
sistem hidrologi yang dipengaruhi oleh presipitasi (hujan) sebagai masukan ke
dalam sistem. DAS mempunyai karakteristik yang spesifik yang berkaitan erat
dengan

unsur-unsur utamanya

seperti: jenis

geomorfologi, vegetasi, dan tata guna lahan.

tanah,

topografi,

geologi,

2.2

Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan diartikan setiap bentuk interaksi (campur tangan) manusia

terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material


maupun spiritual (Arsyad 2000). Menurut Candra (2003), penggunaan lahan
merupakan bentuk kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam lahan baik
bersifat permanen atau sementara, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
baik material maupun spiritual. Penggunaan lahan merupakan proses yang
dinamis, mengalami perubahan secara terus-menerus, sebagai hasil dari perubahan
pola dan besarnya aktifitas manusia. Menurut Martin (1993) dalam Candra (2003)
perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari
satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lain diikuti oleh berkurangnya tipe
penggunaan lahan yang lain pada suatu waktu ke waktu berikutnya.
Perubahan penggunaan lahan tidak akan membawa masalah yang serius
sepanjang mengikuti kaidah konservasi tanah dan air serta kelas kemampuan
lahan. Dari aspek hidrologi, perubahan lahan akan berpengaruh langsung terhadap
karateristik penutupan lahan, sehingga akan mempengaruhi sistem tata air DAS.
Fenomena ini ditujukan oleh respon hidrologi DAS yaitu yang dapat dikenali
melalui produksi air, erosi dan sedimentasi (Seyhan 1990).

2.3

Pendekatan Sistem DAS dengan Menggunakan Sistem Model.


Sistem DAS merupakan sub-sistem hidrologi. Teori hidrologi disajikan

dalam dua bentuk, yaitu deskriptif dan kuantitatif. Hidrologi deskriptif membahas
uraian konsep-konsep dasar dan proses yang menyatu dan berinteraksi satu sama
lain. Konsep-konsep dan proses-proses diperoleh dari pengamatan, pemikiran dan
pengambilan kesimpulan. Hidrologi kuantitatif menyajikan gambaran dan teoriteori yang disajikan dalam serangkaian angka yang diperoleh dari pengukuran dan
perhitungan. Penyajian secara kuantitatif dari konsep dan proses hidrologi
menimbulkan persamaan-persamaan matematika disebut juga model matemetika.
Dooge (1968) dalam Triandayani (2004) mendefinisikan sistem adalah
sembarang struktur, alat, skema atau prosedur riil dan abstrak yang saling
berhubungan dengan waktu tertentu yang memberikan suatu masukan yang
menimbulkan suatu dorongan berupa materi, energi, dan informasi, kemudian

menghasilkan keluaran (output) sebagai akibat atau respon dari informasi, energi
dan materi tersebut.
Karena DAS merupakan suatu ekosistem, maka setiap ada masukan ke
dalam ekosistem tersebut dapat di evaluasi proses yang telah dan sedang terjadi
dengan cara melihat keluaran dari ekosistem tersebut. Input yang berupa curah
hujan akan berinteraksi dengan komponen-komponen ekosistem DAS (manusia,
tanah, vegetasi, sungai) dan pada gilirannya akan menghasilkan keluaran berupa
debit, muatan sedimen dan material lainnya yang terbawa oleh aliran sungai
(Asdak 2004).
Model dan simulasi merupakan penyederhanaan dari sistem serta merupakan
sintesis yang mencoba merinci mekanisme yang bekerja pada sistem, sehingga
perilaku berbagai penyusun sistem yang tergolong penting dan diketahui (Doodge
1973 dalam Salwati 2004).

2.4

Aliran Permukaan
Aliran permukaan merupakan air yang mengalir di atas permukaan tanah

dan merupakan bagian dari curah hujan yang mengalir ke sungai atau saluran,
danau, dan laut (Acherman et al. 1995 dalam Salwati 2004). Di daerah beriklim
basah, bentuk aliran yang mengalir di kenal sebagai aliran permukaan inilah yang
penting sebagai penyebab erosi, karena merupakan pengangkut bagian-bagian
tanah (Arsyad 2000). Schwab et al. (1981) dalam Sutiyono (2006) menyatakan
bahwa aliran permukaan tidak akan terjadi sebelum evaporasi, intersepsi,
infiltrasi, simpanan depresi, tambatan permukaan dan tambatan saluran (channel
detention) terjadi.
Curah hujan yang jatuh di atas permukaan tanah pada suatu wilayah
pertama-tama akan masuk ke tanah sebagai aliran infiltrasi setelah ditahan oleh
tajuk vegetasi sebagai intersepsi. Infiltrasi akan berlangsung terus selama
kapasitas lapang belum terpenuhi atau air tanah masih di bawah kapasitas lapang.
Apabila hujan terus berlangsung dan kapasitas lapang telah dipenuhi, maka
kelebihan air hujan tersebut sebagian akan tetap berinfiltrasi yang selanjutnya
akan menjadi air perkolasi dan sebagian digunakan untuk mengisi cekungan atau
depresi permukaan tanah sebagai simpanan permukaan (depression storage).

Selanjutnya setelah simpanan depresi terpenuhi, kelebihan air tersebut akan


menjadi genangan air setebal beberapa centi atau sebagai tambatan permukaan
(detention storage). Sebelum menjadi aliran permukaan, kelebihan air hujan
diatas sebagian menguap atau terevaporasi walaupun jumlahnya sangat sedikit
(Haridjaja 2000).
Haridjaja (2000) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
jumlah dan laju aliran permukaan pada dasarnya dibagi menjadi dua hal yaitu
iklim yang meliputi tipe hujan, intensitas hujan, lama hujan, distribusi hujan,
curah hujan, temperatur, angin, dan kelembaban. Serta kondisi atau sifat DAS
yang meliputi: kadar air tanah awal, ukuran dan bentuk DAS, elevasi dan
topografi, vegetasi yang tumbuh, geologi dan tanah.

2.5

Erosi
Erosi tanah didefenisikan sebagai suatu peristiwa hilang atau terkikisnya

tanah atau bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain, baik disebabkan oleh
pergerakan air, angin, dan es. Di daerah tropis seperti Indonesia, erosi terutama
disebabkan oleh air hujan (Rahim 2003).
Menurut Arsyad (2000), erosi terjadi akibat interaksi kerja antara faktor
iklim, topografi, tanah, vegetasi dan manusia. Faktor iklim yang paling
berpengaruh terhadap erosi adalah intensitas curah hujan. Kecuraman dan panjang
lereng merupakan faktor topografi yang berpengaruh terhadap debit dan kadar
lumpur. Faktor tanah yang mempengaruhi erosi dan sedimentasi yang terjadi
adalah : luas jenis tanah yang peka terhadap erosi, luas lahan kritis atau daerah
erosi dan luas tanah berkedalaman rendah.
Menurut Asdak (2004), proses erosi terdiri atas tiga bagian yang berurutan:
pengelupasan (detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan
(sedimentation). Erosi permukaan (tanah) disebabkan oleh air hujan dan juga
dapat terjadi karena tenaga angin dan salju. Beberapa tipe erosi permukaan yang
umum dijumpai di daerah tropis adalah:
1. Erosi percikan adalah proses terkelupasnya partikel-partikel tanah bagian
atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai air lolos.

2. Erosi kulit adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis permukaan tanah
di daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air aliran
(runoff).
3. Erosi alur adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan
pertikel-pertikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam
saluran-saluran air.
4. Erosi selokan/parit adalah erosi yang membentuk jajaran parit yang lebih
dalam dan lebar serta merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur.
5. Erosi tebing sungai adalah pengikisan tanah pada tebing-tebing sungai dan
penggerusan dasar sungai oleh aliran air sungai.

2.5.1

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi


Schwab et al. (1981) dalam Sutiyono (2006) mengemukakan empat faktor

yang mempengaruhi erosi, yaitu: 1) iklim, 2) jenis tanah, 3) panjang lereng dan
kemiringan lereng, dan 4) penutupan lahan. Menurut Knisel (1982) dalam Asdak
(1995), erosi merupakan akibat dari interaksi kerja antara faktor- faktor iklim,
topografi, vegetasi, dan

manusia yang dinyatakan dalam bentuk persamaan

sebagai berikut :

E = f (i, r, v, s, m)
Dimana,

E : erosi

s : tanah

i : iklim

m : manusia

r : topografi
v : vegetasi
Pada daerah yang beriklim basah menurut Arsyad (1989), faktor iklim yang
paling mempengaruhi erosi dan aliran permukaan adalah hujan. Jumlah intensitas
dan distribusi (pembagian) hujan menentukan kekuatan dispersi hujan terhadap
tanah, jumlah dan kecepatan aliran permukaan dan kerusakan erosi.
Menurut Arsyad (1989), faktor topografi yang berpengaruh terhadap erosi
adalah kemiringan dan panjang lereng. Unsur lain yang berpengaruh adalah:
konfigurasi, keseragaman, dan arah lereng. Sedangkan pengaruh vegetasi terhadap

erosi yaitu: 1) intersepsi hujan oleh tajuk, 2) mengurangi kecepatan aliran


permukaan dan kekuatan perusak air, 3) pengaruh akar dan kegiatan-kegiatan
biologis yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif dan pengaruhnya
terhadap stabilitas struktur dan porositas tanah, dan 4) transpirasi yang
mengakibatkan kandungan air tanah berkurang. Pengaruh vegetasi terhadap erosi
terutama ditentukan oleh derajat penutupan lahan dari vegetasi. Faktor
pengelolaan tanaman (C) merupakan nisbah besarnya erosi dari tanah yang
ditanami tanaman dengan pengelolaan (manajemen) tertentu terhadap erosi dari
suatu lahan yang tidak ditanami. Efektivitas pengendalian erosi oleh vegetasi
ditentukan oleh tinggi dan luas penutupan tajuk, kerapatan vegetasi, dan kerapatan
perakaran (Morgan 1990).
Sifat-sifat fisik tanah yang mempengaruhi erosi adalah: tekstur, struktur,
kandungan bahan organik, kerapatan tanah, dan kandungan air (Schwab et al.
1981 dalam Sutiyono 2006). Erodibilitas tanah (K) merupakan nilai yang
menunjukkan kepekaan tanah terhadap pengelupasan dan transportasi partikelpartikel tanah oleh adanya energi kinetik air hujan. Sedangkan menurut Arsyad
(2000), sifat-sifat yang mempengaruhi erosi adalah: tekstur, struktur, bahan
organik, kedalaman, sifat lapisan tanah, dan tingkat kesuburan tanah. Peranan
manusia merupakan faktor utama dalam proses erosi, peranan tersebut dapat
bersifat positif maupun negatif. Manusia berperan positif apabila tindakan
manusia yang dilakukan dapat mengurangi besarnya kehilangan tanah (Arsyad
1989). Faktor tindakan konservasi tanah (P) yang dilakukan oleh manusia
merupakan nisbah besarnya erosi dari lahan dengan tindakan konservasi tertentu
terhadap besarnya erosi dari suatu lahan yang tanpa dilakukan tindakan
konservasi.

2.5.2

Tingkat Bahaya Erosi (TBE)


Tingkat bahaya erosi adalah perkiraan kehilangan tanah maksimum

dibandingkan dengan tebal solum tanahnya pada setiap unit lahan bila teknik
pengelolaan tanaman dan konservasi tanah tidak mengalami perubahan.
Penentuan tingkat bahaya erosi menggunakan pendekatan tebal solum tanah yang
telah ada dan besarnya erosi sebagai dasarnya. Semakin dangkal solum tanahnya

berarti semakin sedikit tanah yang boleh tererosi, sehingga tingkat bahaya
erosinya sudah cukup besar meskipun tanah yang hilang belum terlalu besar.
Kelas tingkat bahaya erosi disajikan selengkapnya pada Tabel 1.

Tabel 1. Kelas Tingkat Bahaya Erosi

<15
0 SR
IR

Kelas erosi
II
III
IV
Erosi (ton/ha/tahun)
15-60
60-180
180-480
IR
II S
III B
II S
III B
IV SB

>480
IV SB
IV SB

II S

III B

IV SB

IV SB

IV SB

III B

IV SB

IV SB

IV SB

IV SB

Kedalaman
tanah (cm)
Dalam (> 90)
Sedang (60-90)
Dangkal
(30-60)
Sangat dangkal
(<30)

Sumber : Departemen Kehutanan, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan, 1998

Keterangan : 0 SR
IR
II S
III B
IV SB

2.5.3

= sangat ringan
= ringan
= sedang
= berat
= sangat berat

Sedimentasi
Sedimen adalah tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut dari suatu

tempat yang tererosi. Sedimen yang dihasilkan dari proses erosi dan terbawa oleh
suatu aliran akan diendapkan pada suatu tempat yang kecepatan airnya melambat
atau berhenti disebut dengan sedimentasi (Arsyad 2000). Sedangkan menurut
Asdak (2004), sedimen adalah hasil proses erosi baik berupa erosi permukaan,
erosi parit atau jenis erosi tanah lainnya. Sedimen umumnya mengendap di bagian
bawah bukit, di daerah genangan banjir, di saluran air, sungai, dan waduk.
Proses sedimentasi dapat memberikan dampak yang menguntungkan dan
merugikan. Dikatakan menguntungkan karena pada tingkat tertentu adanya aliran
sedimen ke daerah hilir dapat menambah kesuburan tanah serta terbentuknya
tanah garapan baru di daerah hilir. Tetapi, pada saat yang bersamaan aliran
sedimen dapat menurunkan kualitas perairan dan pendangkalan badan perairan
(Asdak 2004).

Linsey et. al (1989) dalam Salwati (2004) juga menyatakan bahwa produksi
sedimen tahunan rata-rata dari suatu daerah aliran sungai tergantung dari banyak
faktor seperti: iklim, jenis tanah, tata guna lahan, topografi, dan waduk. Faktor
lain yang mempengaruhi besarnya sedimen yang masuk ke sungai menurut Asdak
(2004) adalah karateristik sungai yang meliputi: morfologi sungai, tingkat
kekasaran sungai, dan kemiringan sungai.
Nisbah Pelepasan Sedimen (NPS) merupakan salah satu prediksi hasil
sedimen. NPS didefenisikan sebagai nisbah jumlah sedimen yang betul-betul
terbawa oleh sungai dari suatu daerah terhadap jumlah tanah yang tererosi dari
daerah tersebut yang persamaannya ditulis sebagai berikut (Arsyad 2000):
NPS =

SEDY
......................................................................................... (1)
EROSI

Dimana NPS adalah nisbah pelepasan sedimen, SEDY adalah jumlah sedimen
total yang melewati suatu titik tertentu di sungai, dan EROSI adalah jumlah tanah
yang tererosi.

2.5.4

Prediksi Erosi dan Sedimentasi


Model matematis merupakan alat yang efektif dan logis dalam memprediksi

erosi dan sedimentasi dalam suatu DAS. Sejumlah model yang telah
dikembangkan di Amerika Serikat dan beberapa negara di dunia (Lanfear 1989
dalam Sun et al. 2000).
Model-model yang ada kebanyakan adalah empiris (parametrik), yang
dikembangkan berdasarkan proses hidrologi dan fisis yang terjadi selama
peristiwa erosi dan pengangkutannya dari DAS ke titik yang ditinjau (Suripin
2002). Idealnya, metode prediksi harus memenuhi persyaratan-persyaratan
nampaknya bertentangan, yakni model seharusnya dapat diandalkan, dapat
digunakan secara umum, sudah dipergunakan dengan data yang minimum,
komprehensif dalam hal faktor-faktor yang digunakan dapat mengikuti (peka)
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di DAS (Suripin 2002).
Salah satu persamaan yang pertam kali dikembangkan untuk mempelajari
erosi lahan adalah persamaan Musgrave yang selanjutnya berkembang terus
menjadi persamaan yang sangat terkenal dan masih banyak digunakan sampai saat

ini, yang biasa disebut Universal Soil Loss Equation (USLE). USLE adalah salah
satu model parametrik yang telah banyak digunakan dengan segala kelebihan dan
kelemahannya. Salah satu kelemahannya adalah tidak memperhitungkan adanya
pengendapan dan tidak memperhitungkan hasil sedimen dari erosi parit, tebing
sungai, dan dasar sungai (Suripin 2002).
Pengembangan model determilistik lebih ditekankan untuk menghadapi
permasalahan yakni kurangnya pemahaman mengenai proses erosi dan
perjalanannya. Hal ini dimungkinkan karena pola erosi tanah terjadi secara tidak
kontinyu dan bervariasi mengikuti ruang lingkup keadaan sekitar lokasi (Sun et al.
2000).

2.6

Model AGNPS
Model AGNPS (Agricultural Non Point Source Pollution Model),

dikembangkan oleh Robert A. Young (1987) di North Central Soil Conservation


Research Laboratory, USDA-Agricultural Research Service, Morris, Minnesota.
Model ini merupakan sebuah program simulasi komputer untuk menganalisis
limpasan, erosi, sedimen, perpindahan hara dari pemupukan (Nitrogen dan
Phosfor) dan Chemical Oksigen Demand (COD) pada suatu areal. Model AGNPS
merupakan model terdistribusi dengan kejadian hujan tunggal (Wulandary 2004
dalam Sutiyono 2006).
Pada model AGNPS karateristik DAS digambarkan dalam tingkatan sel.
Setiap sel mempunyai ukuran 2,5 acre (1,01 ha) hingga 40 acre (16,19 ha). Setiap
sel dibagi-bagi menjadi sel-sel yang lebih kecil untuk memperoleh resolusi yang
lebih rinci. Ukuran sel lebih kecil dari 10 acre direkomendasikan untuk DAS
dengan luas kurang dari 2000 acre (810 ha), sedangkan untuk DAS yang
luasannya lebih dari 2000 acre maka ukuran sel dapat berukuran 40 acre (Young
et al. 1990).
Menurut Pawitan (1998) dalam Salwati (2004), model AGNPS merupakan
gabungan antar model terdistribusi (distributed) dan model sequential. Sebagai
model terdistribusi penyelesaian persamaan keseimbangan massa dilakukan
secara serempak untuk semua sel. Sedangkan model sequential, air dan cemaran

di telusuri dalam rangkaian aliran di permukaan lahan dan di saluran secara


berurutan.
Kelebihan dari model AGNPS ini adalah : 1) memberikan hasil berupa
aliran permukaan, erosi, sedimentasi dan unsur-unsur hara yang terbawa dalam
aliran permukaan, 2) membuat skenario perubahan penggunaan lahan, 3)
menganalisis parameter yang digunakan untuk memberikan simulasi yang akurat
terhadap sifat-sifat DAS. Adapun kelemahan dari model AGNPS ini adalah : 1)
pendugaan aliran permukaan model tidak mengeluarkan output dalam bentuk
hidrograf, sehingga perbandingan antara hidrograf hasil prediksi dengan hidrograf
hasil pengukuran tidak bisa diperlihatkan, 2) waktu respon yang merupakan
indikator untuk menentukan kondisi biofisik DAS tidak dinyatakan dalam
keluaran model.

2.6.1

Masukan Data Model AGNPS


Masukan data dalam model AGNPS terdiri dari data inisial dan data tiap sel.

Masukan data berupa data inisial terdiri dari: 1) identitas DAS, 2) deskripsi DAS,
3) luas tiap sel, 4) jumlah sel, 5) curah hujan, dan 6) energi intensitas hujan
maximum 30 menit. Sedangkan masukan data tiap sel terdiri dari 21 parameter
yakni: 1) nomor sel, 2) nomor sel penerima, 3) arah aliran, 4) bilangan kurva
aliran permukaan, 5) kemiringan lereng, 6) faktor bentuk lereng, 7) panjang
lereng, 8) kelerengan saluran rata-rata, 9) koefisien kekasaran Manning, 10) faktor
erodibilitas tanah, 11) faktor pengolahan tanaman, 12) faktor teknik konservasi
tanah, 13) konstanta kondisi permukaan, 14) tekstur tanah, 15) indikator
penggunaan pupuk, 16) ketersediaan pupuk pada permukaan tanah, 17) point
source indicator 18) sumber erosi tambahan 19) faktor kebutuhan oksigen kimia,
20) indikator impoundment, 21) indikator saluran (Young et al. 1990).

2.6.2

Keluaran Model AGNPS


Keluaran dalam AGNPS dapat berupa keluaran DAS dan keluaran tiap sel.

Keluaran DAS berupa : 1) volume aliran permukaan, 2) laju puncak aliran


permukaan, dan 3) total hasil sedimen. Sedangkan keluaran tiap sel dapat berupa
keluran hidrologi dan keluaran unsur hara. Keluaran hidrologi berupa : 1) volume

aliran permukaan, 2) debit puncak aliran permukaan, 3) aliran permukaan tiap sel,
4) hasil sedimen, 5) konsentrasi sedimen, 6) distribusi sedimen tiap partikel, 7)
erosi permukan, 8) erosi saluran, 9) jumlah deposisi, 10) nisbah pengayaan, 11)
nisbah pelepasan. Keluaran unsur hara berupa: 1) kandungan N dalam sedimen, 2)
konsentrasi N, 3) jumlah N dalam aliran permukaan, 4) kandungan P dalam aliran
permukaan, 5) konsentrasi P, 6) jumlah P dalam aliran permukaan, 7) konsentrasi
COD, dan 8) jumlah COD (Young et al. 1990).

2.6.3

Persamaan dalam Model AGNPS


Beberapa persamaan yang digunakan dalam membangun model adalah

Young et al. (1990):


a. Erosi tanah
Persamaan yang digunakan adalah persamaan Wischmeier dan Scmith (1978)
dalam Young et al. (1990), yaitu :
E = EI x K x L x S x C x P x SSF .................................................................(2)
Dimana : E
EI
K
L
S
C
P
SSF

= erosi (ton/acre)
= energi intensitas hujan (feet.ton.inci/acre)
= erodibilitas tanah (ton.acre/acre.feet.ton.inci)
= faktor panjang lereng
= faktor kemiringan lereng
= faktor tanaman
= faktor pengelolaan tanah
= faktor bentuk permukaan tanah (seragam = 1, cembung =
1,3, dan cekung = 0,8)

b. Limpasan permukaan
Limpasan permukaan dihitung dengan menggunakan persamaan USDA SCS
(1972) dalam Young et al. (1990), yaitu:
RF =

RL 0,2S 2
RL 0,8 S

Dimana : RF
RL
S

.....................................................................................(3)

= run off (inci)


= hujan (inci)
= faktor penahan tanah =

1
10 (CN = Curve Number)
CN

c. Kecepatan aliran untuk limpasan permukaan


Vo = 10 0.5xlog 10 (S1x100)-SSC................................................................................. (4)

Dimana : Vo = kecepatan aliran untuk limpasan permukaan (feet/detik)


S1 = kemiringan lereng
SSC = kondisi penutupan permukaan tanah
d. Kecepatan aliran dalam saluran

1.49 0.5 0.667


Vc =
xS c xRh ................................................................................(5)
n
Dimana : Vc = kecepatan aliran dalam saluran (feet/detik)
Sc = kemiringan saluran
Rh = radius hidrolik
e. Debit aliran pada saluran
Q = Ac x Vc ..................................................................................................(6)
Dimana : Q = debit (cfs)
Ac = potongan melintang saluran (square feet)
Vc = kecepatan aliran dalam saluran (feet)
f. Puncak limpasan
0.7

QP = 8.484 xA xS

0.159
c

xRF

0.824 A0.0166

L2c

Ax 43560

0.187

....................................(7)

Dimana : QP = puncak limpasan (cfs)


A = luas areal (acre)
Sc = kemiringan saluran
RF = volume limpasan
Lc = panjang saluran (feet)
g. Sedimen
Penelusuran sedimen dilakukan melalui pendekatan persamaan pemindahan
dan pengendapan (Young et al.1990) :
x

Qs (X) = Qs(0)
Dimana : Qs(X)
Qs(0)
X
Lr
D(X)
W

QsX
D ( X )Wdx .......................................................... (8)
Lr
0
= debit sedimen di ujung hilir saluran (cfs)
= debit sedimen di ujung hulu saluran (cfs)
= jarak lereng bagian bawah (feet)
= panjang saluran (feet)
= laju pengendapan sedimen di titik X
= lebar saluran (feet)

2.7

Sistem Informasi Geografis


Pada dasarnya, istilah sistem informasi geografis merupakan hubungan dari

tiga unsur pokok yaitu: sistem, informasi, dan geografis. Istilah informasi
geografis mengandung pengertian informasi mengenai tempat-tempat yang
terletak di permukaan bumi, pengetahuan mengenai posisi dimana suatu objek
terletak di permukaan bumi, dan informasi mengenai keterangan-keterangan
(atribut) yang terdapat di permukaan bumi yang posisinya diberikan atau
diketahui (Prahasta 2002).
Aronoff (1989) dalam Prahasta (2002), mendefinisikan SIG sebagai sistem yang
berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi
informasi-informasi geografi. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan,
dan menganalisis objek-objek dan fenomena dimana lokasi geografi merupakan
karakteristik yang penting atau krisis untuk di analisis. Dengan demikian, SIG
merupakan sistem komputer yang memiliki empat kemampuan berikut dalam
menangani data yang bereferensi geografi yakni : a) masukan, b) memanajemen
data (penyimpanan dan pemanggilan data), c) analisis dan manipulasi data, d)
keluaran. SIG dapat mempresentasikan real world (dunia nyata) di atas monitor
komputer sebagaimana lembaran peta dapat mempresentasikan dunia nyata di
kertas. Akan tetapi, SIG memiliki kekuatan lebih dan fleksibilitas dari pada
lembaran kertas.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di DTA Jeneberang Hulu yang secara

administrasi termasuk wilayah Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa,


Propinsi Sulawesi Selatan (Gambar 1). Pengolahan data dilakukan di
Laboratorium Pengaruh Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Waktu pelaksanaannya
dimulai pada bulan Mei hingga November 2007.

Gambar 1 Peta lokasi penelitian.

3.2

Bahan dan Alat

3.2.1

Bahan-bahan yang diperlukan dalam penelitian

1. Peta digital penutupan lahan Sub DAS Jeneberang, skala 1 : 25000


(BPDAS Jeneberang-Walanae),
2. Peta digital topografi Sub DAS Jeneberang, skala 1 : 25000 (PPLH-IPB
hasil interpretasi SRTM),
3. Peta digital jenis tanah Sub DAS Jeneberang, skala 1 : 25000 (BPDAS
Jeneberang-Walanae),
4. Peta digital jaringan sungai Sub DAS Jeneberang, skala 1 : 25000
(BPDAS Jeneberang-Walanae),
5. Data curah hujan hasil rekaman ARR selama 5 tahun (2001-2005)
diperoleh dari SPAS Malino dan BPDAS Jeneberang-Walanae,
6. Data debit hasi rekaman AWLR selama 5 tahun (2001-2005) diperoleh
dari SPAS Malino dan BPDAS Jeneberang-Walanae,
7. Data sedimen selama 5 tahun (2001-2005) diperoleh dari SPAS Malino
dan BPDAS Jeneberang-Walanae.

3.2.2

Alat yang digunakan dalam penelitian

1. Seperangkat komputer dengan beberapa software, yaitu AGNPS versi


3.65.3, ArcView versi 3.2 + extension, Minitab14, dan Microsoft Office,
2. Alat tulis, alat hitung dan alat penunjang lainnya.

3.3

Metode Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam 11 tahap seperti yang disajikan

pada Gambar 2, yaitu :


1. Pengumpulan data dasar berupa peta penutupan lahan, peta kontur, peta
jenis tanah, peta jaringan sungai, dan data curah hujan,
2. Pengolahan dan analisis data curah hujan,
3. Transformasi proyeksi peta,
4. Pembuatan Daerah Tangkapan Air (DTA),
5. Pembuatan grid sel model AGNPS,
6. Penurunan atribut-atribut DTM,

7. Pembangkitan data masukan model AGNPS dengan SIG,


8. Pemasukan data ke model AGNPS,
9. Analisis keluaran data model AGNPS,
10. Pengujian validasi model AGNPS,
11. Analisis simulasi dan rekomendasi.

1. Curah hujan harian (5


tahun)
2. Debit air (5 tahun)
3. Sedimen (5 Tahun)

Peta Digital
topografi

Peta digital
Penggunaan lahan

Peta digital
tanah

Peta digital
jaringan
sungai

Analisis spasial dengan model SIG

Pembangkitan data masukan model AGNPS


Energi Intensitas Hujan
30 menit

Validasi

Pengisian Model AGNPS

Analisis data dengan model AGNPS

Analisis simulasi

Rekomendasi

Gambar 2 Alur tahapan penelitian.

3.3.1

Pengolahan dan Analisis Data Curah Hujan.


Dalam pendugaan volume,debit puncak aliran permukaan, erosi dan

sedimentasi dengan model AGNPS digunakan curah hujan harian dengan periode
ulang selama 25 tahun (Young et al. 1990). Karena keterbatasan data yang
tersedia, maka curah hujan yang digunakan merupakan curah hujan harian selama
5 tahun (2001-2005). Curah hujan harian tersebut diperoleh dari data hasil
pengukuran ARR (Automatic Rain Recorder) yang diperoleh dari Stasiun
Pengamat Aliran Sungai (SPAS) Malino. Hasil keluaran ARR tersebut selanjutnya
di kelompokkan berdasarkan harian dalam bulanan (Januari hingga Desember)

selama 5 tahun, sehingga diperoleh nilai curah hujan harian rata-rata dalam 12
bulan.
Data curah hujan diuji korelasinya dengan debit aliran untuk mengetahui
ada-tidaknya hubungan curah hujan dengan debit aliran. Uji korelasi antara curah
hujan dengan debit aliran dengan menggunakan analisis regresi :
Q = a CHb ..... (9)
= debit aliran (m3/detik)

Dimana : Q
CH

= curah hujan (mm)

a dan b = konstanta
Nilai energi hujan intensitas 30 menit untuk pendugaan volume, debit
puncak aliran permukaan, besarnya erosi dan sedimentasi diperoleh dengan
menggunakan persamaan Bols (1978) dalam Usmadi (2006), yaitu:
2,467R
...................................................................... (10)
0,0727R 0,725
2

EI30 =

Dimana : EI30 = energi hujan intensitas selama 30 menit


R

3.3.2

= curah hujan harian (inches)

Transformasi Proyeksi Peta


Penyeragaman proyeksi semua peta harus dilakukan agar data spasial dari

semua peta dapat di overlay dan di analisis. Proyeksi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah UTM (Universal Transverse Mercator) dengan datum WGS
84 dan zone 50. Transformasi proyeksi peta dilakukan dengan menggunakan
software ArcView versi 3.2 dengan extension Projection Utility Wizard.

3.3.3

Pembuatan Daerah Tangkapan Air


Pembuatan daerah tangkapan air (DTA) dilakukan menggunakan software

ArcView versi 3.2. Tahapan pembuatan DTA sebagai berikut :


1. Melakukan penggabungan peta kontur terhadap dua sub DAS yang
berbeda, penggabungan tersebut menggunakan extention Geoprocessing
Wizard. Hal tersebut memungkinkan dalam pembentukan DTA yang
berada di dua lokasi sub DAS yang berbeda.

2. Membuat TIN (Triangulated Irregular Network) dari peta kontur hasil


proses penggabungan. Pembuatan TIN dilakukan dengan menggunakan
extension Spatial Analyst.
3. Selanjutnya TIN tersebut dilakukan gridding (convert to grid), sehingga
diperoleh model elevasi digital (DEM/Digital Elevation Model).
4. DEM yang telah terbentuk selanjutnya dibuat DTA dengan outlet berupa
pertemuan antar sungai di Sub DAS Jeneberang. Pembuatan DTA
dilakukan dengan menggunakan extension AV-SWAT 2000 (Sumardi
2007). Penentuan outlet hasil model dari AV-SWAT diusahakan berada di
tepat posisi Stasiun Pengamat Aliran Sungai (SPAS) atau berada di
sekitar/berdekatan dengan lokasi SPAS.
5. Secara otomatis hasil model akan menunjukkan DTA dengan luasan
tertentu beserta dengan sungai yang terbentuk dari hasil model.

3.3.4

Pembuatan Grid Sel Model AGNPS


Tahapan dalam pembuatan grid sel model AGNPS menggunakan software

ArcView versi 3.2, yaitu :


1. DTA yang telah terbentuk, di overlay dengan peta kontur untuk
mendapatkan peta kontur seluas DTA.
2. Membuat TIN (Triangulated Irregular Network) dari peta kontur seluas
DTA. Pembuatan TIN dilakukan dengan menggunakan extension Spatial
Analyst.
3. Selanjutnya TIN tersebut dilakukan gridding (convert to grid) dengan
ukuran grid 400 x 400 meter, sehingga diperoleh model elevasi digital
(DEM/Digital Elevation Model) dalam bentuk grid. Penentuan ukuran grid
didasarkan pada luas DTA dan luas maksimum model AGNPS. Luas DTA
yang terbentuk memiliki ukuran grid maksimum yang diperbolehkan
dalam model AGNPS sebesar 40 acre (16,91 ha).
4. DTA yang telah berbentuk grid selanjutnya diubah ke dalam bentuk point
dengan menggunakan extension Hydrologic Modelling v 1.1 (pour points
as point shape). Hasil dari proses tersebut disimpan dalam bentuk
shapefile, sehingga DTA menjadi grid-grid sel.

5. Pembentukan DTA dari hasil TIN akan membuat DTA semakin


bertambah luas. Oleh karena itu, dilakukan proses penghapusan grid yang
tidak termasuk ke dalam luasan DTA yang sebenarnya. Hasil dari
penghapusan tersebut mengakibatkan nomor grid menjadi tidak teratur.
Oleh karena itu, perlu dilakukan kembali perubahan ke dalam bentuk point
sehingga DTA menjadi grid-grid seluas dengan DTA yang sebenarnya.
6. Hasil akhir grid DTA dilakukan penomoran berurutan dari kiri ke kanan
dan mulai dari atas ke bawah dengan ketentuan penomoran grid pada
model AGNPS.

3.3.5

Penurunan Atribut-atribut DTM


Proses pemodelan SIG ini diawali dengan membuat sebuah analisis

permukaan yang biasa disebut Digital Terrain Model (DTM). Analisis permukaan
diperlukan karena informasi tambahan dapat diperoleh dengan pembuatan data
baru melalui Digital Elevation Model (DEM). Data elevasi biasa juga disebut
Digital Elevation Model (DEM), Digital Terrain Model (DTM) ataupun peta
kontur. Data ini bisa didapatkan dengan memetakan permukaan bumi, dengan
cara survei lapangan atau interpretasi dan pengolahan citra satelit (Remote
Sensing). DEM yang digunakan adalah DEM turunan dari Shuttle Radar
Topographic Mission (SRTM), buatan JetPropulsion Laboratory NASA. DEM ini
dihasilkan pada tahun 2000 dengan menggunakan Shuttle Space, dan SRTM
Indonesia masuk di Zona Eurasia (Anonimus 2005).
Penurunan atribut-atribut Digital Terrain Model (DTM) bertujuan untuk
memberi gambaran tentang daerah kajian sebelum dilakukan analisis lebih lanjut.
Model Terain Digital (DTM) adalah model topografis tanah terbuka yang
memungkinkan pengguna memahami karakteristik terain yang mungkin
tersembunyi pada Model Permukaan Digital (DSM). DTM secara digital
menghilangkan vegetasi, bangunan, dan fitur budaya serta menyisakan terain di
bawahnya. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan aplikasi perangkat lunak
paten, penyuntingan manual, dan proses kontrol kualitas yang mengambil elevasi
terain berdasarkan pengukuran tanah terbuka yang ada pada data radar original
(Anonimus 2007).

DTM (bersama dengan alat analisis permukaan) mendukung aplikasi seperti


pengembangan peta topografis. Ini juga merupakan komponen berharga dalam
analisis yang melibatkan berbagai karakteristik terain, seperti profil, potongan
melintang, garis pandang, aspek, dan kemiringan. DTM juga mendukung
pemodelan banjir, aplikasi pertanian, aplikasi PND, pemetaan internet, dan
aplikasi Advanced Driver Assistance System (ADAS).
Resolusi spasial yang digunakan untuk penurunan atribut-atribut DTM
sebesar 400 x 400 meter. Hal ini dilakukan karena sekaligus membentuk dan
memberi grid/sel secara otomatis untuk masukan model AGNPS. Model AGNPS
memiliki keterbatasan dalam kapasitas jumlah sel yaitu maksimal sebanyak 1900
grid/sel untuk setiap daerah kajian. Semakin kecil resolusi yang digunakan maka
data semakin akurat, namun harus juga memperhatikan tingkat kesulitannya yang
akan semakin besar apabila terlalu banyak grid/sel yang terbentuk sehingga tidak
efektif dalam pengoperasian model AGNPS.
Penggunaan SIG dapat mempermudah dalam kegiatan pengelolaan daerah
aliran sungai (DAS). Sebagai contoh adalah penggunaan hydrologic modelling
dengan dukungan program ArcView Spatial Analyst yang memungkinkan untuk
menurunkan dan menganalisis beberapa parameter permukaan dari DTM yang
merupakan karateristik hidrologi dari daerah kajian. Analisis permukaan ini juga
diperlukan untuk mendukung pembentukan parameter-parameter masukan model
AGNPS secara komputasi sehingga data masukan model AGNPS akan lebih cepat
didapatkan dengan keakuratan yang baik.
Atribut-atribut yang dapat diturunkan dari DTM yang berkaitan dengan
input model AGNPS dengan menggunakan extension DEMAT, yaitu :
1. Slope, adalah keadaan suatu bentang areal/lahan dengan tingkat
perubahan kemiringan tertentu yang dinyatakan dalam persen atau derajat
yang dapat dihitung dengan dua metode, yaitu metode Zevenbergen dan
Thorne (untuk permukaan halus atau lebih datar) dan metode Horn (untuk
permukaan kasar). Untuk penelitian ini digunakan metode Horn karena
sebagian besar lahan di Sub DAS Jeneberang permukaannya kasar yang
ditandai dengan bentuk lahan yang cembung (bukit) dan cekung (lembah).

2. Curvature, yaitu bentuk permukaan untuk memahami proses aliran yang


secara umum dibagi 2, yaitu convex (cembung) dan concave (cekung).
3. Profile curvature, yaitu curvature suatu permukaan dalam arah
kemiringan. wilayah DTA Jeneberang Hulu didominasi oleh bentuk
cembung (214 grid) dan bentuk cekung (209 grid) dengan luas 1 grid
sebesar 16 ha (400 x 400 meter). Hal ini menunjukkan bahwa potensi
pengikisan/erosi aliran cukup besar namun diimbangi oleh potensi
pengendapan (deposit) yang cukup besar pada beberapa titik kawasan.
Kemudian dilakukan penurunan parameter permukaan yang merupakan
komponen hidrologi dan geomorfologi yang meliputi :
1. Flow direction (arah aliran), yaitu arah dimana air mengalir keluar dari
grid/sel tersebut. Dalam ArcView Spatial Analyst, keluaran dari arah
aliran adalah grid yang mempunyai nilai antara 1 sampai 128 yang akan
mengalir dari sebuah sel/grid khusus seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 3.

Gambar 3 Arah-arah aliran dari suatu sel khusus dinyatakan dengan


angka 1-128.
Grid DTM setelah penghilangan sink akan digunakan untuk menghasilkan
arah aliran selain arah aliran utama. Sink merupakan lembah yang sempit
dimana lebar lembah tersebut lebih kecil dari ukuran piksel itu sendiri dan
tidak menempati banyak sel. Keberadaan sink ini dapat mengganggu

topologi aliran karena aliran yang menuju sink tersebut. Sehingga untuk
mendapatkan grid arah aliran (flow direction) yang kontinyu, sink perlu
dihilangkan. Arah aliran ini akan dijadikan parameter masukan model
AGNPS sebagai parameter aspek. Hal ini dilakukan karena parameter
aspek pada model AGNPS memiliki karateristik yang serupa dengan
karateristik arah aliran pada model SIG, seperti yang ditampilkan pada
Tabel 2.
Tabel 2 Nilai arah aliran antara hasil ArcView dengan masukan model
AGNPS
Arah aliran
ArcView
Model AGNPS
Utara
64
1
Timur laut
128
2
Timur
1
3
Tenggara
2
4
Selatan
4
5
Barat daya
8
6
Barat
16
7
Barat laut
32
8
Sumber : Penurunan DTM dan Young et al. (1990)

2. Flow accumulation (akumulasi aliran), yaitu grid yang menampung aliran


dari sel-sel dibelakangnya. Akumulasi aliran diturunkan dari grid arah
aliran guna menentukan mana dan berapa jumlah sel yang mengalir
menuju grid/sel lain yang menerima aliran tersebut. Grid-grid yang
mempunyai akumulasi aliran yang tinggi dapat diidentifikasikan sebagai
sungai atau saluran. Untuk mengetahui akumulasi aliran pada permukaan,
nilai dari setiap sel mempresentasikan total nilai dari sel yang mengalir ke
dalam sel tersebut. Sel yang mempunyai akumulasi yang tinggi adalah
areal yang terkosentrasi aliran, seperti pada Gambar 4.

Gambar 4 Bentuk representasi akumulasi aliran.


3. Flow length (panjang aliran), yaitu panjang garis aliran yang terpanjang
dalam saluran air yang dihitung untuk setiap sel/grid.
4. Stream network (jaringan sungai), yaitu sistem jaringan sungai yang dapat
ditentukan dari hasil akumulasi aliran. Dalam sistem ini juga dapat
ditentukan ordo tiap segmen jaringan sungai dengan metode yang
tersedia, yaitu teknik Schrave dan Strahler. Untuk penelitian ini jaringan
sungai dapat ditentukan melalui pengoperasian model AV-SWAT hasil
turunan dari data DEM yang secara otomatis akan membentuk jaringan
sungai berdasarkan bentuk topografi/kontur, seperti yang terlihat pada
Gambar 5.

Gambar 5 Peta jaringan sungai DTA Jeneberang Hulu.

3.3.6

Pembangkitan Data Masukan Model AGNPS dengan SIG


Pembangkitan data setiap sel sebagai masukan model AGNPS dilakukan

menggunakan software ArcView versi 3.2. Tahapan pembangkitan data setiap sel
yaitu peta kontur, peta jaringan sungai, peta jenis tanah dan peta penutupan lahan
di overlay dengan peta DTA yang telah terbentuk tadi dan dilakukan pemotongan
menggunakan extension Geoprocessing Wizard untuk memperoleh peta seluas
DTA. Selanjutnya dilakukan gridding (convert to grid) dengan resolusi 400 x 400
meter berdasarkan peta DEM (Digital Elevation Model) dan dilakukan
penambahan data-data atribut berupa nilai parameter masukan model AGNPS
yang sesuai dengan peta peta kontur, peta jaringan sungai, peta jenis tanah dan
peta penutupan lahan. Parameter-parameter masukan model AGNPS yang dapat
diturunkan dari peta-peta tadi, disajikan selengkapnya pada Gambar 6.

Peta Digital
Jaringan Sungai

Peta Digital
Topografi

Peta Digital
Penutupan Lahan

Peta Digital
Tanah

TIN

DEM

Overlay

CI

CL

Konversi ke bentuk grid


resolusi 400x400 m

Curvature

FD

SL

FA

DTA

Overlay

Penentuan nilai
parameter masukan
model AGNPS

CN

SCC

Tekstur

Konversi ke bentuk point

Penggabungan tabel atribut

Data masukan model AGNPS

Gambar 6 Analisis spasial dan pembangkitan data model AGNPS.


Keterangan :
DEM = Digital Elevation Model
SL
= Kemiringan lereng
LS
= Panjang lereng
FD
= Arah aliran
T
= Tekstur
K
= Faktor erodibilitas tanah
CN
= Bilangan kurva aliran permukaan
C
= Faktor pengelolaan tanaman

P
SCC
n
COD
CI
CS
CL
DTA

= Faktor konservasi tanah


= Konstanta kondisi permukaan
= Koefisien kekasaran Manning
= Kebutuhan oksigen kimiawi
= Indikator saluran
= Kemiringan saluran
= Panjang saluran
= Daerah tangkapan air

3.3.6.1

Kemiringan lereng, panjang lereng, bentuk lereng dan arah aliran

Parameter masukan model AGNPS yang berupa kemiringan lereng, panjang


lereng, bentuk lereng dan arah aliran dapat diturunkan dari peta kontur. Parameter
panjang lereng diukur dengan menggunakan peta kontur, sedangkan parameter
kemiringan lereng, bentuk lereng dan arah aliran diturunkan dari data DEM. DEM
merupakan suatu model yang mempresentasikan ketinggian muka bumi dengan
format raster (resolusi 400 x 400 meter). Tahapan dalam pembangkitan data
masukan parameter kemiringan lereng dan arah aliran sebagai berikut :
1. Pembuatan DEM dilakukan dengan cara mengubah peta kontur menjadi
TIN, selanjutnya melakukan gridding (convert to grid) terhadap TIN
dengan ukuran sel sesuai dengan luas grid model AGNPS yaitu sebesar
400 x 400 meter (16 ha).
2. Data kemiringan lereng diperoleh dengan menggunakan metode Horn
untuk permukaan yang kasar yang diperoleh dari data DEM dengan
menggunakan extension DEMAT dengan satuan kemiringan lereng berupa
persen. Dalam mengetahui besarnya kemiringan lereng setiap sel, maka
data hasil perhitungan DEMAT diubah menjadi bentuk point dengan
menggunakan extension Hydrologic Modelling v 1.1 (pour points as point
shape).
3. Data panjang lereng (JL) diketahui melalui pengukuran secara manual
berdasarkan peta kontur. Dengan bantuan grid yang telah terbentuk
sebelumnya, perhitungan panjang lereng (JL) menggunakan prinsip
Phytagoras. Untuk pengukuran panjang lereng digunakan persamaan :
JL =
Dimana, JL
JD

JD
(10)
Cos

= panjang lereng (feet)


= panjang lereng datar (pengukuran di peta kontur)

Cos = cosinus kemiringan lereng (metode Horn)


4. Bentuk lereng diperoleh dari peta turunan DEM dengan menggunakan
extension DEMAT (profile curvature). Bentuk lereng yang dihasilkan
berupa seragam/datar yang bernilai 0, cekung bernilai negatif (-), dan
cembung bernilai positif (+).

5. Arah aliran merupakan parameter yang sangat penting dalam model


AGNPS. Arah aliran setiap sel diperoleh dari data DEM dengan
menggunakan extension Hydrologic Modelling v 1.1. Selanjutnya
dilakukan pengkodean arah aliran sesuai dengan pengkodean arah aliran
pada model AGNPS (angka 1 hingga 8).
Berdasarkan kondisi biofisik DTA Jeneberang Hulu, sebagian besar
topografinya landai (8-15 %). Hasil dari penurunan atribut DTM yang telah
dilakukan, kemiringan lereng menggunakan metode Horn menghasilkan rentang
kelerengan yang cukup jauh antara 1,732-79,006 %.
Panjang lereng adalah jarak bagian permukaan dari titik dimulainya aliran
ke titik dimana aliran menjadi terkosentrasi atau aliran memasuki saluran. Panjang
lereng DTA Jeneberang Hulu bervariasi dari 565,73-695,30 meter. Dalam
masukan model berupa parameter panjang lereng dilakukan penyesuaian dengan
nilai maksimum model. Nilai maksimum parameter panjang lereng dalam model
AGNPS sebesar 999 feet (304,5 m). Oleh karena itu, untuk sel-sel yang
mempunyai panjang lereng yang lebih dari 999 feet, maka masukan parameter
panjang lereng sel-sel tersebut harus 999 feet. Untuk wilayah DTA Jeneberang
Hulu yang memiliki panjang lereng lebih besar 304,5 m maka semua sel memiliki
panjang lereng sebesar 999 feet.
Bentuk lereng didasarkan pada bentuk lahan secara rata-rata di dalam sel.
Nilai masukan model yang digunakan adalah 1 untuk bentuk seragam, 2 untuk
bentuk cekung, dan 3 untuk bentuk cembung. Untuk wilayah DTA Jeneberang
Hulu sebagian besar didominasi oleh bentuk cembung dan cekung, bentuk
seragam/datar tidak ditemukan oleh hasil penurunan atribut DTM.

3.3.6.2

Tekstur dan faktor erodibilitas tanah

Parameter masukan model AGNPS yang berupa tekstur tanah dan faktor
erodibilitas tanah diturunkan dari peta jenis tanah. Masing-masing jenis tanah
dilakukan penambahan data atribut berupa nilai erodibilitas tanah yang mengacu
pada hasil penelitian Puslitbang Pengairan (1966) dalam Triandayani (2004).
Masukan nilai tekstur model AGNPS disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3 Nilai masukan tekstur model AGNPS


Tekstur
Air
Pasir
Lempung
Liat
Gambut

Nilai Masukan Model


0
1
2
3
4

Sumber: Young et al. (1990)

Tahapan dalam pembangkitan data masukan parameter tekstur tanah dan


faktor erodibilitas tanah sebagai berikut :
1. DTA yang telah terbentuk dari hasil model AV-SWAT di overlay dengan
peta jenis tanah untuk mendapatkan peta jenis tanah seluas DTA
Jeneberang Hulu. Dari peta jenis tanah ini diturunkan dua nilai parameter
masukan AGNPS, yaitu nilai erodibilitas tanah (Lampiran 1) dan tekstur
tanah (Tabel 10) untuk setiap jenis tanah. Kedua nilai parameter tersebut
di input dan di edit ke dalam atribut peta jenis tanah melalui fasilitas query
dan calculate pada ArcView.
2. Pembentukan grid (convert to grid) untuk peta jenis tanah seluas DTA
yang telah berisi kedua nilai parameter tadi dengan cara di overlay dengan
peta DEM sebagai dasar grid yang beresolusi 400 x 400 meter. Setelah itu
diubah menjadi format point, agar masing-masing grid memiliki nilai dari
parameter tadi.

3.3.6.3

Faktor pengelolaan tanaman, faktor tindakan konservasi tanah,


koefisien

kekasaran

Manning,

dan

bilangan

kurva

aliran

permukaan
Data spasial dari peta penutupan lahan dapat digunakan untuk memperoleh
masukan parameter-parameter model AGNPS yaitu faktor pengelolaan tanaman
(C), faktor tindakan konservasi tanah (P), koefisien kekasaran Manning (n),
bilangan kurva aliran permukaan (CN), dan konstanta kondisi permukaan (SCC).
Tahapan dalam pembangkitan data masukan beberapa parameter dari peta
penutupan lahan sebagai berikut :

1. DTA yang telah terbentuk dari hasil model AV-SWAT di overlay dengan
peta penutupan lahan untuk mendapatkan peta penutupan lahan seluas
DTA Jeneberang Hulu. Dari peta penutupan lahan ini diturunkan enam
nilai parameter masukan AGNPS, yaitu faktor tindakan konservasi tanah
(Lampiran 2), faktor pengelolaan tanaman (Lampiran 3), koefisien
kekasaran Manning (Lampiran 4), bilangan kurva aliran permukaan
(Lampiran 5), dan konstanta kondisi permukaan (Lampiran 5) untuk setiap
jenis pengggunaan lahan. Nilai-nilai parameter tersebut di input dan di edit
ke dalam atribut peta penutupan lahan melalui fasilitas query dan calculate
pada ArcView.
2. Pembentukan grid (convert to grid) untuk peta penutupan lahan seluas
DTA yang telah berisi keenam nilai parameter tadi dengan cara di overlay
dengan peta DEM sebagai dasar grid yang beresolusi 400 x 400 meter.
Setelah itu diubah menjadi format point, agar masing-masing grid
memiliki nilai dari parameter tadi.
Nilai masukan faktor pengelolaan tanaman dan faktor tindakan konservasi
tanah berdasarkan teknik konservasi yang dominan diterapkan ini diperoleh dari
peta penutupan lahan wilayah DTA Jeneberang Hulu yang telah diubah dalam
bentuk grid/sel dan secara spasial ditampilkan pada Lampiran 6.

3.3.6.4

Indikator saluran

Parameter model AGNPS yang berupa indikator saluran diperoleh dari peta
jaringan sungai yang di overlay dengan peta grid. Parameter yang menyertai
parameter indikator saluran yaitu panjang saluran, bentuk saluran, kemiringan
lereng saluran, dan kemiringan sisi saluran. Panjang saluran diukur berdasarkan
panjang sungai pada masing-masing sel dan diubah dalam satuan feet. Parameter
kemiringan saluran diasumsikan sebesar 50 % dari kemiringan lereng lahan,
sedangkan kemiringan sisi saluran diasumsikan sebesar 10 % (Young et al.,
1990).
Tahapan dalam pembangkitan data masukan parameter dari peta jaringan
sungai sebagai berikut :

1. DTA yang telah terbentuk dari hasil model AV-SWAT di overlay dengan
peta jaringan sungai untuk mendapatkan peta jaringan sungai seluas DTA
Jeneberang Hulu. Dari peta jaringan sungai ini diturunkan dua nilai
parameter masukan AGNPS, yaitu panjang saluran dan bentuk saluran.
Nilai-nilai parameter tersebut di input dan di edit ke dalam atribut peta
penutupan lahan melalui fasilitas query dan calculate pada ArcView.
2. Pembentukan grid (convert to grid) untuk peta jaringan sungai seluas DTA
yang telah berisi kedua nilai parameter tadi dengan cara di overlay dengan
peta DEM sebagai dasar grid yang beresolusi 400 x 400 meter. Setelah itu
diubah menjadi format point, agar masing-masing grid memiliki nilai dari
parameter tadi.
Indikator saluran mengidentifikasikan ada tidaknya saluran serta jenis
saluran dalam wilayah DTA Jeneberang Hulu. Sungai utama di DTA Jeneberang
Hulu diasumsikan sebagai saluran perennial sedangkan anak-anak sungainya
diasumsikan sebagai saluran intermitten. Sebagai data masukan model AGNPS,
saluran perennial bernilai 7, saluran intermitten bernilai 6, dan yang tidak terdapat
saluran bernilai 1. Saluran perennial (saluran permanen) merupakan aliran yang
mengalir sepanjang tahun dengan debit yang lebih tinggi pada musim hujan dan
permukaan air tanah selalu berada di atas sungai. Sedangkan saluran intermitten
(saluran musiman) merupakan aliran air yang mengalir pada musim hujan saja
dan permukaan air tanah berada di atas dasar sungai hanya selama musim hujan
saja, sedangkan pada musim kemarau permukaan tersebut berada di bawah dasar
sungai (Seyhan 1990).

3.3.6.5

Penggabungan atribut data masukan model AGNPS

Atribut dari masing-masing parameter turunan peta kontur, peta jaringan


sungai, peta jenis tanah dan peta penutupan lahan yang telah diubah menjadi
format point selanjutnya digabung melalui fasilitas ArcView menggunakan
extension Geoprocessing Wizard (joined table). Hasil gabungan tersebut
berbentuk sebuah tabel atribut file point gabungan yang berisi semua parameterparameter masukan model AGNPS untuk setiap sel/grid.

3.3.6.6

Parameter masukan model yang diasumsikan konstan

Selain parameter tersebut dalam penelitian beberapa parameter masukan


model AGNPS diasmsikan konstan yaitu : 1) Indikator penggunaan pupuk, 2)
Ketersediaan pupuk pada permukaan tanah, 3) Point source indicator, 4) Sumber
erosi tambahan, dan 5) Indikator impoundment.

3.3.7

Pemasukan Data ke Model AGNPS


Dalam melakukan pemasukan data ke dalam model AGNPS, ada dua tahap

yang dapat dilakukan, yaitu :


1. Masukan data inisial model yang meliputi : nama DAS, luas dan jumlah
sel/grid, curah hujan, dan energi intensitas hujan 30 menit. Ukuran sel
yang digunakan dalam model yaitu 400 x 400 meter dengan luas sel
sebesar 16 ha. Yang diperoleh dari hasil pembentukan grid DTM, dimana
grid/sel DTM secara otomatis akan membentuk sesuai dengan keinginan
resolusi yang dibutuhkan. Grid/sel ini juga dijadikan acuan dalam
pembentukan parameter-parameter setiap sel masukan model AGNPS.
Dari luasan 16 ha per sel menghasilkan sel model sebanyak 423 sel seperti
yang terlihat pada Gambar 7. Sehingga DTA Jeneberang Hulu dengan luas
6804,72 ha, dalam sel model menjadi 6768 ha dan terjadi pengurangan
luasan sebesar 36,74 ha (0,54 %).

Gambar 7 Masukan data inisial model.

Curah hujan yang diamati adalah jumlah curah hujan harian rata-rata, yang
merupakan curah hujan harian selama 12 bulan (hasil pengelompokan data
CH selama 5 tahun). Contoh curah hujan harian rata-rata yang tertinggi
terjadi pada tanggal 1 Januari sebesar 31,66 mm (1,25 inches) dengan nilai
energi intensitas hujan 30 menit untuk kejadian hujan pada tanggal 1
Januari sebesar 25,894 m.ton.cm/ha/jam. Contoh nilai curah hujan harian
dan energi intensitas hujan 30 menit (EI 30) yang tertinggi inilah yang
akan digunakan dalam memprediksi besarnya volume aliran permukaan,
debit puncak aliran permukaan, laju erosi dan sedimentasi.
2. Masukan data setiap sel model yang meliputi : penomoran sel, sel
penerima, arah aliran, kemiringan lereng, panjang dan bentuk lereng,
faktor erodibilitas (K) dan tekstur tanah, faktor pengelolaan tanaman (C),
faktor tindakan konservasi tanah (P), bilangan kurva aliran permukaan
(CN), koefisien kekasaran Manning (n), faktor kebutuhan Oksigen
kimiawi (COD), konstanta kondisi permukaan (SCC), dan indikator
saluran (panjang saluran dan kemiringan saluran), seperti yang
ditampilkan pada Gambar 8.

Gambar 8 Masukan data setiap sel model.

Penomoran sel dilakukan sesuai dengan prosedur model AGNPS yaitu


dimulai dari ujung sebelah kiri atas menuju ke sel sebelah kanan dan
dilanjutkan ke sel berikutnya secara berurutan ke bawah. Outlet sebagai
tempat terkosentrasinya aliran merupakan sel yang terakhir dalam model
berada pada sel nomor 169 dengan penggunaan lahan berupa hutan. Sel
penerima merupakan sel yang menerima aliran permukaan dari sel yang
terletak di atasnya, sedangkan arah aliran mengidentifikasikan arah aliran
utama dalam sel. Yang perlu diperhatikan dalam menentukan arah aliran
dan sel penerima yang akan menerima aliran tersebut, yaitu posisinya
harus sesuai antara sel penerima dan arah aliran (aspek) karena hal ini
sangat berpengaruh dalam pembentukan DAS dalam model AGNPS.
Masukan data yang tidak cocok antara kedua parameter ini akan
menghambat proses identifikasi dan pembentukan DAS secara grafis pada
saat proses pengecekan. Untuk sel outlet, nomor sel penerimanya adalah
satu angka lebih besar dari jumlah keseluruhan sel.

3.3.8

Analisis Keluaran Model AGNPS


Keluaran model AGNPS yang dianalisis yaitu keluaran model pada outlet

DTA Jeneberang Hulu dan setiap sel dengan kejadian hujan terbesar pada tanggal
1 Januari. Keluaran model tersebut berupa keluaran hidrologi dan keluaran
sedimen dalam bentuk grafik/gambar dan tabel. Keluaran hidrologi berupa
volume aliran permukaan dan debit puncak aliran permukaan. Sedangkan
keluaran sedimen berupa laju erosi, laju sedimentasi dan sedimen total. Keluaran
tersebut merupakan keluaran kondisi awal sebelum dilakukan simulasi.

3.3.9

Pengujian Validasi Model AGNPS.


Validasi model dilakukan dengan membandingkan debit puncak (Qp)

keluaran model dengan debit puncak hasil pengukuran di lapangan dan


membandingkan laju sedimentasi (Qs) keluaran model dengan laju sedimentasi
hasil pengukuran di lapangan. Pembandingan ini dilanjutkan dengan menghitung
besarnya nilai korelasi (R2) di antara parameter yang di validasi. Pengujian
validasi tersebut menggunakan persamaan model regresi linear sederhana

(Tiryana 2003), dimana peubah tidak bebasnya berupa data dari hasil pengukuran
di lapangan dan peubah bebasnya berupa data keluaran model. Hubungan antara
data lapangan dengan data keluaran model dinyatakan dalam bentuk persamaan
umum regresi sebagai berikut :
Y = a + b X . (12)
Dimana: Y
X

= Qp dan Qs pengukuran di lapangan


= Qp dan Qs keluaran model

a dan b = konstanta

3.3.10 Analisis Simulasi dan Rekomendasi


Dalam rangka untuk mengurangi bahaya erosi, sedimentasi, dan aliran
permukaan di DTA Jeneberang Hulu tersebut, maka diperlukan perubahan
terhadap lahan-lahan yang mempunyai tingkat erosi, sedimentasi dan aliran
permukaan yang tinggi dan produktifitas yang rendah. Oleh karena itu, dilakukan
simulasi dengan beberapa skenario perubahan penggunaan lahan dan melakukan
tindakan konservasi tanah dan air. Skenario tersebut yaitu :
1. Skenario I : mengubah penutupan lahan yang berupa tegalan/ladang dan
semak belukar menjadi vegetasi serupa hutan alam produksi dengan sistem
silvikultur tebang pilih di lahan DTA bagian atas (hulu) dan perkebunan
karet pada lahan bagian bawah. Jenis tanaman yang digunakan untuk
membangun vegetasi serupa hutan alam produksi TPTI adalah jenis yang
cepat tumbuh dan bernilai tinggi seperti Sengon (Paraserianthes
falcataria), Akasia (Acacia mangium), Gmelina (Gmelina arborea), Kayu
Afrika (Maesopsis eminii), Damar (Agathis dammara), Eboni (Diospyros
celebica) dan Mahoni (Sweitenia macrophylla). Parameter masukan model
penggunaan lahan pada skenario I disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario I
Penggunaan lahan
Hutan produksi
Perkebunan karet

CN
60
75

Parameter masukan model


n
C
P
0,1
0,2
0,7
0,1
0,5
0,5

SCC
0,29
0,29

Sumber : Young et al. (1990), Chow (1950) dalam Seyhan (1990), dan Data Pusat
Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989)

2. Skenario II : mengubah penutupan lahan yang berupa tegalan/ladang dan


semak belukar menjadi vegetasi serupa dengan hutan alam produksi
dengan sistem silvikultur tebang pilih di lahan DTA bagian atas (hulu) dan
kebun campuran di lahan bagian bawahnya, dengan melakukan pembuatan
teras tradisional. Pembuatan vegetasi serupa hutan alam produksi TPTI
sama seperti skenario I.
Perbedaan dengan Skenario I terletak pada pengelolaan kebun
campuran dilakukan yang dilakukan dengan sistem agroforestry.
Penerapan sistem agroforestry pada kebun campuran tersebut selain untuk
mengurangi volume aliran permukaan, debit puncak aliran permukaan,
laju erosi permukaan, laju sedimentasi, dan sedimen total juga dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dari hasil panen tanaman
semusim dan tahunan. Tanaman tahunan yang dapat dibudidayakan berupa
berupa tanaman kehutanan dan tanaman buah-buahan.
Jenis tanaman kehutanan yaitu Sengon (Paraserianthes falcataria),
Akasia (Acacia mangium), Gmelina (Gmelina arborea), Kayu Afrika
(Maesopsis eminii), Damar (Agathis dammara) dan jenis lainnya.
Tanaman buah-buahan yang dapat dibudidayakan seperti kopi, kakao,
rambutan (Nephelium lappaceum), durian (Durio zibethinus), nangka
(Arthocarpus heterophyllus), pisang (Musa sp.), jambu biji (Psidium
guajava), dan alpukat (Persea americana). Tanaman semusim yang dipilih
diantaranya kacang tanah (Arachis hypogaea), kedelai (Glyeine max),
singkong (Manihot esculenta), dan jagung (Zea mays). Parameter masukan
model penggunaan lahan pada skenario II disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario II
Penggunaan lahan
Hutan produksi
Kebun campuran

CN
60
75

Parameter masukan model


n
C
P
0,1
0,2
0,7
0,035
0,2
0,4

SCC
0,29
0,29

Sumber : Young et al. (1990), Chow (1950) dalam Seyhan (1990), dan Data Pusat
Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989)

3. Skenario III : mengubah penutupan lahan yang berupa tegalan/ladang dan


semak belukar menjadi padang rumput semi permanen di lahan DTA

bagian atas (hulu) dan perkebunan karet di lahan bagian bawahnya.


Padang rumput semi permanen yang disimulasikan digunakan untuk
penggembalaan ternak penduduk dan pengembangan perkebunan karet
sama seperti pada skenario I. Parameter masukan model penggunaan lahan
pada skenario III disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario III
Penggunaan lahan
Padang rumput
Perkebunan karet

CN
61
75

Parameter masukan model


n
C
P
0,1
0,30
0,04
0,1
0,5
0,5

SCC
0,22
0,29

Sumber : Young et al. (1990), Chow (1950) dalam Seyhan (1990), dan Data Pusat
Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989)

4. Skenario IV : mengubah penutupan lahan yang berupa tegalan/ladang dan


semak belukar menjadi hutan alam yang berserasah banyak di lahan DTA
bagian atas (hulu) dan kebun campuran di lahan bagian bawahnya, dengan
melakukan pembuatan teras tradisional pada kebun campuran. Hutan alam
yang disimulasikan berupa hutan lindung dan pengembangan kebun
campuran sama seperti pada skenario II. Parameter masukan model
penggunaan lahan pada skenario IV disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario IV
Penggunaan lahan
Hutan alam
Kebun campuran

CN
55
75

Parameter masukan model


n
C
P
0,08
0,001
1
0,035
0,2
0,4

SCC
0,59
0,29

Sumber : Young et al. (1990), Chow (1950) dalam Seyhan (1990), dan Data Pusat
Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989)

Setiap skenario dilakukan analisis berupa persentase pengurangan terhadap


keluaran model yang berupa volume aliran permukaan, debit puncak, laju erosi
dan sedimentasi.

BAB IV. KARATERISTIK LOKASI PENELITIAN


3.1 Letak dan Luas
Daerah aliran sungai (DAS) Jeneberang secara administrasi berada dalam
Kabupaten Dati II Gowa, Propinsi Dati I Sulawesi Selatan. Terletak antara garis
50 05 00 50 35 00 LS dan antara 1190 20 00 1200 00 00 BT. Sungai
Jeneberang bersumber dari Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang,
mempunyai ketinggian 2.833 mdpl. Arah utama pengalirannya adalah ke barat
pada bagian hulu dan ke barat daya pada bagian tengah dan pada bagian hilir
terpecah menjadi dua arah ke barat laut dan ke barat daya. DAS Jeneberang
terbagi lagi menjadi Sub DAS diantaranya Sub DAS Jeneberang.
Secara geografis, DTA Jeneberang Hulu sebagai lokasi penelitian terletak
antara 5 0 10 50 20 LS dan antara 119 0 20 1200 00 BT, yang berjarak 65
km dari Kodya Makassar dan berada pada ketinggian antara 600 mdpl 2.800
mdpl. Luas wilayah DTA Jeneberang Hulu sebesar 6.804,72 ha (19,87 % dari luas
total Sub DAS Jeneberang sebesar 34.238 ha) dan menurut Dinas Pekerjaan
Umum Propinsi Sulawesi Selatan (1988) dalam Dassir (2000), Sub DAS
Jeneberang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Tinggimoncong
Kabupaten Gowa.

3.2 Topografi
Berdasarkan hasil pengolahan peta digital kontur skala 1 : 25000, wilayah
DTA Jeneberang Hulu terletak pada ketinggian antara 600-2800 mdpl.
Mempunyai topografi bervariasi mulai dari datar hingga sangat curam. DTA
Jeneberang Hulu didominasi oleh wilayah yang bertopografi landai dengan luas
2314,23 ha (34,03 %). Secara lebih jelas, luas areal berdasarkan kemiringan
lereng disajikan pada Tabel 8 dan peta sebaran kemiringan lereng serta peta
elevasi disajikan pada Gambar 9 dan Gambar 10.

Gambar 9 Peta kelas lereng DTA Jeneberang Hulu.


Tabel 8 Luasan kemiringan lereng DTA Jeneberang Hulu
Kemiringan (%)
0-8
8-15
15-25
25-45
45-100

Keterangan
Datar
Landai
Agak curam
Curam
Sangat curam

Sumber : Pengolahan atribut peta kelas lereng

Luas (ha)
1408,76
2314,23
1772,64
1136,47
167,75

%
20,72
34,03
26,07
16,71
2,47

Gambar 10 Peta elevasi DTA Jeneberang Hulu.


Peta elevasi hasil dari TIN akan menghasilkan peta arah aliran seperti
Gambar 11 yang telah di konversi ke bentuk grid dengan bantuan data DEM yang
terbentuk. Arah aliran dari suatu sungai memperhatikan kondisi topografi sebagai
tempat terakumulasinya aliran ke tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.

Skala 1 : 80000

Gambar 11 Peta grid arah aliran DTA Jeneberang Hulu setelah


penghilangan sink.
3.3 Tanah dan Geologi
Berdasarkan peta digital jenis tanah Sub DAS Jeneberang, jenis tanah
yang terdapat di DTA Jeneberang Hulu adalah Andosol Coklat yang terbentuk
dari bahan induk tufa vulkan masam dan alkali, Latosol Coklat Kekuningan dari
bahan induk tufa vulkan masam sampai intermedier, dan Komplek Latosol Coklat
Kemerahan dan Litosol dari bahan induk tufa dan batuan vulkan intermedier.
DTA Jeneberang Hulu didominasi oleh jenis tanah Andosol Coklat dengan luas
sebesar 5423,18 ha (79,70 %). Secara lebih jelas, luas areal berdasarkan jenis
tanah, bahan induk, dan bentuk wilayah disajikan pada Tabel 9 dan penyebaran
jenis tanah secara spasial disajikan pada Gambar 12.

Gambar 12 Peta jenis tanah DTA Jeneberang Hulu.


Tabel 9 Luasan jenis tanah, bahan induk, bentuk wilayah DTA Jeneberang Hulu
Jenis tanah
Andosol Coklat

Bahan induk

Latosol Coklat
Kekuningan

Tufa vulkan masam


dan alkali
Tufa vulkan masam
sampai intermedier

Komplek Latosol Coklat


Kemerahan dan Litosol

Tufa dan batuan


vulkan intermedier

Bentuk
wilayah
Bergunung
Berbukit
dan
bergunung
Berbukit
dan
bergunung

Luas (ha)

5423,18

79,70

1367,92

20,10

13,62

0,20

Sumber : Pengolahan atribut peta jenis tanah

Dari peta jenis tanah diturunkan nilai erodibilitas tanah pada DTA
Jeneberang Hulu, dimana yang terbesar yaitu pada jenis tanah Andosol Coklat
sebesar 0,278. Sedangkan nilai erodibilitas tanah yang terkecil yaitu pada jenis

tanah sebesar 0,075. Nilai erodibilitas tanah tersebut menunjukkan bahwa jenis
tanah Andosol Coklat paling mudah tererosi.
Masukan data tekstur tanah didasarkan pada tekstur tanah yang dominan
pada sel tersebut. Tekstur tanah pada DTA Jeneberang Hulu berupa lempung
berliat dan liat. Sebagian besar tekstur tanah di DTA Jeneberang Hulu berupa
lempung berliat. Hal tersebut menyebabkan aliran permukaan menjadi tinggi dan
erosi yang besar. Nilai erodibilitas dan tekstur tanah pada DTA Jeneberang Hulu
disajikan pada Tabel 10 dan secara spasial dalam bentuk grid ditampilkan pada
Lampiran 7.
Tabel 10 Nilai faktor erodibilitas tanah (K) dan tekstur tanah (T) di DTA
Jeneberang Hulu
Jenis Tanah
Nilai K
Tekstur
Andosol Coklat
0,278
3
Latosol Coklat Kekuningan
0,082
3
Komplek Latosol Coklat Kemerahan dan Litosol
0.075
3
Sumber : Puslitbang Pengairan (1996) dalam Triandayani (2004) dan Young et al. (1990)

3.4 Jaringan Sungai


Jaringan sungai (Gambar 5) memiliki pola drainase dendritik. Menurut Lee
(1988), pola drainase tersebut memiliki batuan yang relatif homogen, terletak di
daerah datar dan pola tersebut telah lazim di permukaan bumi dengan modifikasimodifikasi lokal. Sungai-sungai di DTA Jeneberang Hulu diasumsikan sebagai
saluran perennial untuk sungai utama dan sebagai saluran intermitten untuk anakanak sungai. Jaringan sungai yang telah dikonversi ke bentuk grid sel, memiliki
jumlah sel pada saluran perennial dan saluran intermitten masing-masing
sebanyak 184 dan 175 sedangkan sel yang tidak terdapat saluran sebanyak 64.

3.5 Penggunaan Lahan


Berdasarkan hasil analisis peta penutupan lahan Sub DAS Jeneberang,
terlihat bahwa penutupan lahan pada DTA Jeneberang Hulu terdiri dari lima
penggunaan lahan diantaranya semak belukar, sawah, pemukiman, tegalan/ladang,
dan hutan campuran. Sebagian besar DTA Jeneberang Hulu didominasi oleh
penutupan lahan berupa hutan dengan luas sebesar 2868 ha (42,48 %). Secara

lebih jelas, luas areal berdasarkan penutupan lahan disajikan pada Tabel 11 dan
peta penyebaran penutupan lahan disajikan pada Gambar 13.

Tabel 11 Luasan jenis penutupan lahan DTA Jeneberang Hulu tahun 2003
Penutupan lahan
Semak belukar
Sawah irigasi
Pemukiman
Tegalan/ladang
Hutan campuran

Luas (ha)
920,51
1,030,43
29,69
1,903,48
2,868,22

%
13,63
15,26
0,44
28,19
42,48

Sumber : Pengolahan atribut peta penggunaan lahan

Gambar 13 Peta penutupan lahan DTA Jeneberang Hulu.


Pada bagian ujung outlet, jenis penggunaan lahan berupa hutan campuran
dan sebagian persawahan irigasi. Di daerah tersebut memiliki topografi yang

landai sehingga air irigasi mudah disalurkan ke areal persawahan. Hutan yang
berada di DTA Jeneberang Hulu berupa hutan campuran dengan berbagai jenis
flora dan fauna serta hutan tanaman yang ditangani langsung oleh PT. Inhutani
dengan jenis pohon Pinus sp.
Semak belukar yang berada di DTA Jeneberang Hulu berupa vegetasi
campuran antara semak (alang-alang) dan tumbuhan-tumbuhan lainnya dimana
arealnya tidak dikelola dan dibiarkan begitu saja. Tegalan/ladang yang diusahakan
dan dikelola langsung oleh masyarakat yang berada di daerah yang berlereng
curam tepatnya di bawah kaki Gunung Bawakaraeng, ternyata membawa dampak
yang sangat buruk. Kaki Gunung Bawakaraeng yang sedianya sebagai kawasan
penyangga dan kawasan lindung yang berlereng 45 % ternyata telah rusak dan
telah dikonversi menjadi ladang pertanian kacang-kacangan (Leguminoseae) oleh
masyarakat setempat. Oleh karena itu, bencana longsor yang terjadi pada tahun
2004 merupakan bukti nyata dari dampak kerusakan lahan dan hutan di kawasan
tersebut.
Dari peta penutupan lahan diturunkan nilai C, P, CN, SCC, dan n dimana
besarnya nilai-nilai tersebut disajikan pada Tabel 12, 13, dan 14.
Tabel 12 Nilai faktor pengelolaan tanaman (C) pada berbagai penutupan lahan di
DTA Jeneberang Hulu
Penutupan Lahan
Nilai C
Semak belukar
0,300
Sawah irigasi
0,010
Pemukiman
0,010
Tegalan/ladang
0,700
Hutan campuran
0,001
Sumber : Young et al. (1990) dan Data Pusat Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989)

Tabel 13 Nilai faktor tindakan konservasi tanah (P) pada berbagai penutupan
lahan di DTA Jeneberang Hulu
Penutupan Lahan
Tindakan Konservasi Tanah
Nilai P
Semak belukar
Semak belukar
0,021
Sawah irigasi
Teras gulud
0,013
Pemukiman
Tanpa tindakan konservasi
1,000
Tegalan/ladang
Penanaman padi-jagung
0,209
Hutan campuran
Tanpa tindakan konservasi
1,000
Sumber : Arsyad (1989) dan Young et al. (1990)

Tabel 14 Nilai koefisien kekasaran Manning (n), konstanta kondisi permukaan


(SCC), dan bilangan kurva aliran permukaan (CN) pada berbagai
penutupan lahan di DTA Jeneberang Hulu
Penutupan Lahan
Nilai n
Nilai SCC
Nilai CN
Semak belukar
0,070
0,15
69
Sawah irigasi
0,035
0,29
75
Pemukiman
0,023
0,01
79
Tegalan/ladang
0,030
0,29
72
Hutan campuran
0,080
0,59
60
Sumber : Young et al. (1990) dan Chow (1950) dalam Seyhan (1990)

3.6 Iklim
Berdasarkan data curah hujan harian rata-rata 5 tahun, wilayah DTA
Jeneberang Hulu menurut klasifikasi iklim Schmidt-Fergusson termasuk tipe
iklim A dengan jumlah bulan basah 8 bulan dan 4 bulan kering dalam setahun.
Curah hujan rata-rata 2518,02 mm/tahun (Tabel 15) dan suhu udara berkisar
antara 180-210C (BPDAS Jeneberang-Walanae, 2003).
Tabel 15 Curah hujan rata-rata dalam setahun (2001-2005)
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah

CH (mm)
376,75
328,50
274,59
205,57
127,02
52,96
38,19
24,74
41,72
201,00
375,26
471,71
2518,02

Sumber: SPAS Malino dan BPDAS Jeneberang-Walanae

3.7

Debit Aliran
Curah hujan yang jatuh ke wilayah DTA Jeneberang Hulu menghasilkan

debit yang beragam, dimana debit rata-rata per tahun sebesar 154,32 m3/detik
seperti yang disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16 Debit aliran rata-rata dalam setahun (2001-2005)


Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah

Debit (m3/detik)
20,790
15,921
12,158
11,882
11,533
6,712
7,600
9,847
9,718
12,009
12,611
23,541
154,32

Sumber: SPAS Malino dan BPDAS Jeneberang-Walanae

3.8 Kependudukan
Berdasarkan BPS Kabupaten Gowa dalam Angka tahun 2002 dalam BPDAS
Jeneberang-Walanae, jumlah penduduk Kabupaten Gowa berjumlah 401.317 jiwa.
Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin pada masing-masing kecamatan
dalam wilayah Sub DAS Jeneberang ditampilkan pada Tabel 17.
Tabel 17 Jumlah penduduk Sub DAS Jeneberang di Kab. Gowa tahun 2002
Kecamatan
Tinggimoncong
Parangloe
Bungaya
Bontomarannu
Palangga
Bajeng
Somba Opu
Bontonompo
Jumlah penduduk (jiwa)

Jumlah (jiwa)
30.752
25.151
27.845
41.557
66.586
69.422
80.184
59.820
401.317

Sumber : Kabupaten Gowa dalam Angka, 2002

Laki-laki
15.125
12.370
13.297
20.444
32.670
33.828
39.138
28.686
195.558

Perempuan
15.628
12.781
14.548
21.113
33.916
35.594
41.046
31.131
205.759

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1

Hubungan Curah Hujan dengan Debit


Hubungan curah hujan dengan debit harian rata-rata selama 366 hari

disajikan dalam Gambar 14. Hubungan Curah hujan dengan debit membentuk
hubungan sebagai berikut :
Q = 0.159 CH0.68... (12)
dengan koefisien korelasi sebesar 0,901 dan koefisien determinasinya (R2) sebesar
81,2 %. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kejadian curah hujan

0.0

3.5

5.0

3.0

10.0

2.5

15.0

2.0

20.0

1.5

25.0

1.0

30.0

0.5

35.0

Debit (m^3/s)

Curah Hujan (mm)

berhubungan erat dengan kejadian debit aliran.

0.0
1

16

31 46

61

76 91 106 121 136 151 166 181 196 211 226 241 256 271 286 301 316 331 346 361

Januari-Desember
CH (mm)
Q (m^3/s)

Gambar 14 Dinamika curah hujan harian dengan debit DTA Jeneberang Hulu.

5.2

Volume Aliran Permukaan


Perhitungan menggunakan masukan curah hujan harian rata-rata selama 5

tahun (31,66 mm/hari) dengan nilai energi intensitas hujan 30 menit sebesar 25,89
m.ton.cm/ha/jam, diperoleh besarnya volume aliran permukaan di outlet sebesar
0,76 mm dan debit puncak aliran permukaan sebesar 3,20 m3/detik. Volume air
hujan yang menjadi aliran permukaan sebesar 2,29 %, sedangkan sisanya
mengalami infiltrasi, intersepsi, dan evapotranspirasi.
Sebaran ruang volume aliran permukaan akibat kejadian hujan 31,66
mm/hari disajikan dalam Gambar 15.

Gambar 15 Peta penyebaran volume aliran permukaan DTA Jeneberang


Hulu.
Tabel 18 Rekapitulasi volume aliran permukaan di berbagai penutupan lahan
Penutupan lahan
Hutan
Pemukiman
Sawah irigasi
Semak belukar
Tegalan/ladang

Luas (ha)
2896
32
1072
928
1840

Aliran permukaan
(mm)
7,11
8,64
167,64
44,20
172,21

Sumber : Pengolahan atribut volume aliran permukaan

Berdasarkan Gambar 15, dapat dilihat penyebaran aliran permukaan DTA


Jeneberang Hulu setiap sel sebesar 0 4,32 mm dan berdasarkan sebaran aliran
permukaan di berbagai penutupan lahan (Tabel 18) dapat dilihat bahwa sel-sel
yang mempunyai aliran permukaan terkecil terdapat dalam sel dengan penutupan

lahan berupa hutan (vegetasi sedang hingga lebat) sebesar 7,11 mm. Sedangkan
sel-sel dengan penutupan lahan berupa sawah irigasi dan tegalan/ladang
mempunyai aliran permukaan yang besar masing-masing sebesar 172,21 mm dan
167,64 mm.
Hal tersebut disebabkan karena hutan mempunyai penutupan tajuk yang
sedang hingga rapat, sehingga air hujan dapat terintersepsi dan terjadi
evapotranspirasi oleh tajuk tumbuhan. Hutan mempunyai berbagai pohon yang
mempunyai perakaran dalam yang dapat memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah
dan kemampuan tanah menyerap atau mengabsorpsi air, sehingga volume air
hujan yang menjadi aliran permukaan menjadi jauh berkurang. Di lahan dengan
penutupan/penggunaan lahan berupa sawah irigasi dan tegalan/ladang, air hujan
sebagian besar menjadi aliran permukaan yang diakibatkan kurangnya penutupan
tajuk dan kurangnya perakaran yang dalam sehingga rendahnya infiltrasi tanah.
Akibatnya aliran permukaan di lahan sawah irigasi dan tegalan/ladang menjadi
sangat besar.

5.3

Debit Puncak Aliran Permukaan


Sebaran ruang debit puncak aliran permukaan akibat kejadian hujan 31,66

mm/hari dalam bentuk spasial disajikan dalam Gambar 16.


Tabel 19 Rekapitulasi debit puncak aliran permukaan di berbagai penutupan
lahan
Debit puncak aliran
Penutupan lahan
Luas (ha)
permukaan (m3/detik)
Hutan
2896
34,10
Pemukiman
32
1,02
Sawah irigasi
1072
32,01
Semak belukar
928
19,81
Tegalan/ladang
1840
40,36
Sumber : Pengolahan atribut debit puncak aliran permukaan

Gambar 16 Peta penyebaran debit puncak aliran permukaan DTA


Jeneberang Hulu.
Berdasarkan Gambar 16, dapat terlihat penyebaran debit puncak aliran
permukaan DTA Jeneberang Hulu setiap sel sebesar 0 3,20 m3/detik dan Tabel
19 dalam rekapitulasi debit puncak aliran permukaan di berbagai penutupan lahan
dapat dilihat bahwa sel-sel yang mempunyai debit puncak aliran permukaan
terkecil terdapat dalam sel dengan penutupan lahan berupa pemukiman sebesar
1,02 m3/detik, karena di daerah pemukiman tidak ditemukan saluran dan
jumlahnya relatif sedikit. Sedangkan sel-sel dengan penutupan lahan berupa
tegalan/ladang mempunyai debit puncak aliran permukaan yang besar sebesar
40,36 m3/detik. Debit puncak aliran permukaan semakin besar di sel-sel yang
terdapat saluran sungai. Semakin ke hilir/menuju outlet, debit puncak aliran
permukaan di sel yang mempunyai saluran sungai semakin meningkat.

5.4

Laju Erosi Permukaan dan Sedimentasi


Berdasarkan hasil keluaran model (Tabel 20), dengan nilai masukan curah

hujan harian rata-rata yang terbesar selama 5 tahun sebesar 31,66 mm dengan
nilai energi intensitas hujan 30 menit sebesar 25,89 m.ton.cm/ha/jam, diperoleh
besarnya laju erosi di outlet sebesar 29,03 ton/ha, laju sedimentasi sebesar 1,85
ton/ha dan sedimen total sebesar 12577,2 ton.
Tabel 20 Keluaran sedimen model di outlet DTA Jeneberang Hulu

Jenis partikel
Liat
Debu
Agregat halus
Agregat kasar
Pasir
Total

Analisis Sedimen
Erosi per satuan luas
Sedimen per
NPS
satuan luas
Daratan
Saluran
(%)
(ton/ha)
(ton/ha)
(ton/ha)
2,90
0
64
1,85
1,75
0
0
0
16,55
0
0
0
7,25
0
0
0
0,58
0
0
0
29,03
0
6
1,85

Sedimen total
(ton)
12568,0
4,3
2,3
1,9
0,6
12577,2

Sumber : Keluaran model AGNPS

Nilai Nisbah Pelepasan Sedimen (NPS) di DTA Jeneberang Hulu sebesar 6


%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa hanya 6 % dari total erosi yang terjadi di
DTA Jeneberang Hulu yang masuk ke saluran dan menjadi sedimen. Sedangkan
sisanya sebesar 94 % mengendap di tempat lain sebelum sampai ke saluran
sungai. Jenis partikel yang mempunyai nilai NPS tertinggi berupa partikel liat
sebesar 64 %. Hal tersebut disebabkan partikel liat mudah terdispersi oleh butiranbutiran hujan dan memiliki berat jenis yang rendah, sehingga partikel liat mudah
terangkut dan menjadi sedimen. Sedangkan jenis partikel yang paling banyak
tererosi berupa agregat halus sebesar 16,55 ton/ha.
Sebaran ruang laju erosi permukaan akibat kejadian hujan 31,66 mm/hari
dalam bentuk spasial disajikan dalam Gambar 17.

Gambar 17 Peta penyebaran laju erosi permukaan DTA Jeneberang Hulu.


Tabel 21 Rekapitulasi laju erosi permukaan di berbagai penutupan lahan
Jumlah laju erosi
Penutupan lahan
Luas (ha)
permukaan (ton/ha)
Hutan
2896
0,60
Pemukiman
32
0,95
Sawah irigasi
1072
1,30
Semak belukar
928
41,75
Tegalan/ladang
1840
12236,15
Sumber : Pengolahan atribut laju erosi permukaan

Berdasarkan Gambar 17, dapat terlihat penyebaran laju erosi permukaan


DTA Jeneberang Hulu setiap sel sebesar 0 520,33 ton/ha dan Tabel 21 dalam
rekapitulasi laju erosi permukaan di berbagai penutupan lahan dapat dilihat bahwa
sel-sel yang mempunyai laju erosi permukaan terkecil terdapat di sel dengan

penutupan lahan berupa hutan 0,60 ton/ha. Sedangkan sel-sel dengan penutupan
lahan berupa tegalan/ladang mempunyai laju erosi permukaan yang sangat besar.
Sehingga dengan besarnya erosi harian dalam kurun waktu setahun yang terjadi
sebesar 1011,80 ton/ha/tahun, maka tingkat bahaya erosi yang terjadi di DTA
Jeneberang Hulu dikategorikan sangat berat. Hal ini dikarenakan tingkat bahaya
erosinya tergolong dalam kelas erosi lima (> 480 ton/ha/tahun) dan telah melebihi
batas toleransi erosi yang diperbolehkan (tolerable soil erosion) terjadi di DTA
Jeneberang Hulu sebesar 180 ton/ha/tahun (kelas erosi tiga).
Dengan adanya penutupan tanah berupa hutan (vegetasi sedang hingga
lebat), maka butir-butir air hujan tidak langsung jatuh ke tanah tetapi tertahan oleh
tajuk-tajuk pohon (vegetasi). Akibatnya energi yang dimiliki butir-butir hujan
menjadi berkurang, sehingga daya rusak terhadap tanah menjadi rendah.
Penutupan lahan berupa hutan dapat juga meningkatkan laju infiltrasi tanah dan
daya absorpsi tanah serta menahan laju aliran permukaan, sehingga volume dan
kecepatan aliran permukaan menjadi berkurang. Akibat berkurangnya kecepatan
aliran permukaan, maka daya rusak dari aliran permukaan menjadi berkurang,
sehingga tanah yang terangkut menjadi lebih sedikit dan laju erosi menjadi lebih
rendah.
Dibandingkan dengan penutupan tanah berupa tegalan/ladang yang berada
di bagian hulu dekat dengan puncak bukit, maka penahan butir-butir hujan
berkurang akibat kurangnya tajuk yang menahannya sehingga air hujan langsung
memecahkan agregat-agregat tanah. Akibat kurangnya proses intersepsi,
transpirasi dan rendahnya infiltrasi tanah karena kebanyakan perakaran dangkal di
daerah yang berlereng yang curam, maka air hujan yang jatuh di lahan yg berupa
tegalan/ladang sebagian besar menjadi aliran permukaan. Akibatnya terjadi
peningkatan laju aliran permukaan yang menyebabkan daya rusak dan daya
angkut oleh aliran permukaan menjadi tinggi, sehingga pada akhirnya laju erosi
permukaan semakin meningkat di lahan tersebut.

5.5

Sedimen Total
Sebaran ruang sedimen total akibat kejadian hujan 31,66 mm/hari dalam

bentuk spasial disajikan dalam Gambar 18.

Gambar 19 Peta penyebaran sedimen total DTA Jeneberang Hulu.


Tabel 22 Rekapitulasi sedimen total di berbagai penutupan lahan
Penutupan lahan
Hutan
Pemukiman
Sawah irigasi
Semak belukar
Tegalan/ladang

Luas (ha)
2896
32
1072
928
1840

Jumlah sedimen total


(ton)
132682,58
9,44
21781,47
67772,89
222523,86

Sumber : Pengolahan atribut sedimen total

Berdasarkan Gambar 18, dapat terlihat penyebaran sedimen total DTA


Jeneberang Hulu setiap sel sebesar 0 16332,86 ton dan Tabel 22 dalam
rekapitulasi sedimen total di berbagai penutupan lahan dapat dilihat bahwa sel-sel

yang mempunyai sedimen total terkecil terdapat di sel dengan penutupan lahan
berupa pemukiman, karena tidak adanya saluran sungai dan jumlahnya relatif
sedikit. Sedangkan sel-sel dengan penutupan lahan berupa tegalan/ladang
mempunyai sedimen yang besar. Sedimen total semakin besar di sel-sel yang
terdapat aliran sungai. Semakin ke hilir/menuju outlet, sedimen total di sel yang
mempunyai saluran sungai semakin meningkat.
Laju sedimentasi yang tinggi menyebabkan peningkatan jumlah sedimen
yang mengendap di saluran sungai dan terjadi pendangkalan saluran sungai,
sehingga volume aliran permukaan yang dapat ditampung oleh saluran sungai
tersebut semakin berkurang. Akibatnya pada musim hujan terjadi bencana banjir
di daerah hilir yang diakibatkan oleh ketidakmampuan sungai untuk menampung
air hujan yang terkosentrasi ke sungai.
Hal inilah yang terjadi sekarang di hulu Sungai Jeneberang, dimana sedimen
yang terangkut oleh aliran terbawa oleh air hingga terjadi pendangkalan sungai.
Bahkan tanggul penahan sedimen jebol/roboh akibat tidak mampu lagi menahan
begitu banyak sedimen yang terangkut. Dampak dari peristiwa tersebut
mengakibatkan

Bendungan

Serbaguna

Bili-bili

yang

merupakan

DAM

penampung aliran air dari hulu Sungai Jeneberang terjadi pendangkalan dan
terancam tidak dapat berfungsi lagi sebagai pemasok cadangan air untuk wilayah
Kabupaten Gowa dan Kodya Makassar dan PLTA serta ada indikasi bahwa umur
bendungan yang terbesar di Indonesia Timur ini tinggal beberapa tahun lagi
keberadaannya.

5.6

Pengujian Validasi Model AGNPS


Untuk mengetahui apakah hasil prediksi model sama dengan hasil

pengamatan, maka dilakukan uji validasi. Model divalidasi dengan curah hujan
harian rata-rata selama 5 tahun (366 kejadian hujan). Uji validasi model dilakukan
dengan membandingkan debit puncak (Qp) keluaran model dengan debit puncak
hasil pengamatan dan membandingkan laju sedimentasi (Qs) keluaran model
dengan laju sedimentasi pengamatan.
Dari hasil analisis korelasi dan regresi seperti yang terlihat dalam Gambar
19, diperoleh nilai korelasi (r) dari debit puncak model (QpMod) terhadap debit

puncak pengukuran di lapangan (QpLap) sebesar 0,894. Sedangkan persamaan


regresi dinyatakan sebagai berikut :
QpLap = 1,734 QpMod0,679..... (13)
Persamaan ini memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 79,8 % dengan
faktor koreksi sebesar 1,75. Hal ini menunjukkan bahwa debit puncak model
(QpMod) dengan debit puncak pengukuran di lapangan (QpLap) memiliki
hubungan keeratan 79,8 %, sehingga debit puncak model (QpMod) dapat
mewakili dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya di lapangan serta dapat
digunakan untuk menduga nilai debit puncak lapangan dalam simulasi
penggunaan lahan.

Hubungan QpMod. dengan QpLap.


1.5

Log QpLap. = 0.239 + 0.679 Log QpMod.

1.0

Log QpLap.

0.5
0.0
-0.5
-1.0
-1.5
-2.0
-3

-2

-1

Log QpMod.

Gambar 19 Hubungan QpMod. dengan QpLap.


Sama halnya dengan hasil analisis korelasi dan regresi laju sedimentasi
model (QsMod) dengan laju sedimentasi pengukuran di lapangan (QsLap)seperti
yang terlihat dalam Gambar 20, memiliki nilai korelasi sebesar 0,726. Sedangkan
persamaan regresi dinyatakan sebagai berikut :
QsLap = 1,698 QsMod0,382 .. (14)
Persamaan ini memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 77,4 % dengan
faktor koreksi sebesar 9,30. Hal ini menunjukkan bahwa laju sedimentasi model
(QsMod) dengan laju sedimentasi pengukuran di lapangan (QsLap) memiliki
hubungan keeratan 77,4 %, sehingga laju sedimentasi model (QsMod) dapat

mewakili dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya di lapangan serta dapat


digunakan untuk menduga nilai laju sedimentasi lapangan dalam simulasi
penggunaan lahan.

Hubungan QsMod. dengan QsLap.

Log QsLap. = 0.230 + 0.382 Log QsMod


0.50

Log QsLap.

0.25
0.00
-0.25
-0.50
-0.75
-2.0

-1.5

-1.0

-0.5
Log QsMod

0.0

0.5

1.0

Gambar 20 Hubungan QsMod. dengan QsLap.

5.7

Analisis Simulasi
Simulasi dilakukan untuk memberikan alternatif dalam pemanfaatan lahan

seoptimal mungkin dalam mereduksi/mengurangi besarnya aliran permukaan, laju


erosi, dan sedimentasi di DTA Jeneberang Hulu. Salah satu alternatif tersebut
yaitu dengan melakukan perubahan penggunaan lahan dan menerapkan tindakan
konservasi tanah dan air (KTA) di lahan yang mempunyai aliran permukaan, laju
erosi, dan sedimentasi yang tinggi (tegalan/ladang) dan lahan yang mempunyai
produktifitas yang rendah (semak belukar). Total luas penutupan lahan di DTA
Jeneberang Hulu yang berupa tegalan/ladang dan semak belukar adalah 2768 ha
atau 40,9 % dari luas total DTA Jeneberang Hulu.
Berdasarkan kondisi tersebut dan kaitannya dengan upaya penerapan model
dalam perencanaan pemanfaatan lahan di DTA Jeneberang Hulu, maka pada
penelitian ini dilakukan 4 skenario penggunaan lahan di tegalan dan semak
belukar yang berbeda. Pada skenario-skenario tersebut dilakukan perubahan pada
parameter penggunaan lahan dan melakukan tindakan konservasi pada lahanlahan tersebut. Sedangkan parameter tanah diasumsikan tidak mengalami
perubahan.

Dasar

pemikiran skenario-skenario

tersebut didasarkan atas

pertimbangan bahwa

penutupan

lahan

yang

akan

disimulasikan

dapat

dipertahankan keberadaanya hingga puluhan tahun dan memperbaiki kondisi DTA


Jeneberang Hulu dalam hal mengurangi aliran permukaan, laju erosi, dan
sedimentasi.

5.7.1

Skenario I
Berdasarkan dengan sebaran ruang penggunaan lahan hasil skenario I dalam

Gambar 21, diperoleh hasil simulasi model pendugaan lapangan dalam Tabel 23
dengan menggunakan curah hujan rata-rata tahunan, diperoleh besarnya debit
puncak aliran permukaan di outlet sebesar 41,04 m3/detik/tahun, laju erosi
permukaan sebesar 348,6 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi sebesar 18,24
ton/ha/tahun. Hasil simulasi menunjukkan debit puncak aliran permukaan
berkurang 81,26 %, laju erosi permukaan di outlet berkurang 79,43 %, dan laju
sedimentasi berkurang 75,18 % dari nilai awal sebelum dilakukan simulasi.
Nisbah pelepasan sedimen (NPS) dalam skenario I sebesar 5,23 %, dimana nilai
tersebut menunjukkan sebanyak 5,23 % dari total erosi yang terjadi di DTA
tersebut sampai ke saluran sungai dan menjadi sedimen sedangkan sisanya
mengendap di tempat lain.
Tabel 23 Hasil simulasi skenario I keluaran model
Skenario
Base
Skenario I

Keluaran hidrologi dan sedimen


Debit puncak
Laju erosi
Laju sedimentasi
3
(m /detik/tahun)
(ton/ha/tahun)
(ton/ha/tahun)
219,01
1694,89
73,48
41,04
348,6
18,24

Berdasarkan hasil tersebut di atas, skenario I kurang efektif untuk diterapkan


karena nilai laju erosi permukaan yang dihasilkan berdasarkan kelas tingkat
bahaya erosi masih tergolong kelas erosi empat dengan kategori berat hingga
sangat berat (180-480 ton/ha/tahun). Untuk penerapan hasil simulasi, diusahakan
agar tidak melebihi batas nilai erosi yang diperbolehkan (tolerable soil erosion)
terjadi sebesar < 180 ton/ha/tahun. Sehingga masih membahayakan kawasan yang
berada di sekitarnya.

Gambar 21 Peta penggunaan lahan skenario I.


5.7.2

Skenario II
Berdasarkan dengan sebaran ruang penggunaan lahan hasil skenario II

(Gambar 22), diperoleh hasil simulasi model seperti disajikan dalam Tabel 24,
yaitu besarnya debit puncak aliran permukaan di outlet sebesar 41,04
m3/detik/tahun, laju erosi permukaan sebesar 134,76 ton/ha/tahun dan laju
sedimentasi sebesar 16,20 ton/ha/tahun. Debit puncak aliran permukaan berkurang
81,26 %, besarnya laju erosi permukaan di outlet berkurang 92,05 %, dan laju
sedimentasi berkurang 77,95 % dari nilai awal sebelum dilakukan simulasi.
Nisbah pelepasan sedimen (NPS) dalam skenario II sebesar 12,02 %, dimana nilai
tersebut menunjukkan sebanyak 12,02 % dari total erosi yang terjadi di DTA
tersebut sampai ke saluran sungai dan menjadi sedimen sedangkan sisanya
mengendap di tempat lain.

Gambar 22 Peta penggunaan lahan skenario II.


Tabel 24 Hasil simulasi skenario II keluaran model
Keluaran hidrologi dan sedimen
Skenario
Debit puncak
Laju erosi
Laju sedimentasi
3
(m /detik/tahun)
(ton/ha/tahun)
(ton/ha/tahun)
Base
219,01
1694,89
73,48
Skenario II
41,04
134,76
16,20
Berdasarkan data dalam Tabel 24, simulasi untuk skenario II efektif untuk
diterapkan karena nilai laju erosi permukaan yang dihasilkan berdasarkan kelas
tingkat bahaya erosi tergolong kelas erosi tiga dengan kategori sedang (60-180
ton/ha/tahun). Untuk penerapan hasil simulasi tersebut, dapat dilakukan karena
nilai laju erosi permukaannya tidak melebihi batas nilai erosi yang diperbolehkan

(tolerable soil erosion) terjadi sebesar < 180 ton/ha/tahun. Sehingga kawasan
yang berada di sekitar terjadinya erosi tidak membahayakan.

5.7.3

Skenario III
Berdasarkan sebaran ruang penggunaan lahan hasil skenario III (Gambar

23), diperoleh hasil simulasi model (Tabel 25) yaitu besarnya debit puncak aliran
permukaan di outlet sebesar 41,04 m3/detik/tahun, laju erosi permukaan sebesar
239,04 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi sebesar 14,04 ton/ha/tahun. Debit
puncak aliran permukaan berkurang 81,26 %, besarnya laju erosi permukaan di
outlet berkurang 85,90 %, dan laju sedimentasi berkurang 80,89 % dari nilai awal
sebelum dilakukan simulasi. Nisbah pelepasan sedimen (NPS) dalam skenario III
sebesar 5,87 %, dimana nilai tersebut menunjukkan sebanyak 5,87 % dari total
erosi yang terjadi di DTA tersebut sampai ke saluran sungai dan menjadi sedimen
sedangkan sisanya mengendap di tempat lain.
Tabel 25 Hasil simulasi skenario III keluaran model AGNPS
Skenario
Base
Skenario III

Keluaran hidrologi dan sedimen


Debit puncak
Laju erosi
Laju sedimentasi
(m3/detik/tahun)
(ton/ha/tahun)
(ton/ha/tahun)
219,01
1694,89
73,48
41,04
239,04
14,04

Berdasarkan data di atas, simulasi untuk skenario III tidak berbeda jauh
dengan skenario I, dimana hasilnya kurang efektif untuk diterapkan karena nilai
laju erosi permukaan yang dihasilkan berdasarkan kelas tingkat bahaya erosi
masih tergolong kelas erosi empat dengan kategori berat hingga sangat berat (180480 ton/ha/tahun). Begitupun dengan nilai erosi yang diperbolehkan (tolerable
soil erosion) terjadi melebihi dari batas nilai yang diperbolehkan terjadi sebesar
180 ton/ha/tahun. Sehingga masih membahayakan kawasan yang berada di
sekitarnya.

.
Gambar 23 Peta penggunaan lahan skenario III.

5.7.4

Skenario IV
Berdasarkan sebaran ruang penggunaan lahan hasil skenario IV (Gambar

24), diperoleh hasil simulasi model (Tabel 26), yaitu besarnya debit puncak aliran
permukaan di outlet sebesar 18,47 m3/detik/tahun, laju erosi permukaan sebesar
111,60 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi sebesar 8,40 ton/ha/tahun. Debit puncak
aliran permukaan berkurang 91,57 %, laju erosi permukaan di outlet berkurang
93,42 %, dan laju sedimentasi berkurang 88,57 % dari nilai awal sebelum
dilakukan simulasi. Nisbah pelepasan sedimen (NPS) dalam skenario IV sebesar
7,53 %, dimana nilai tersebut menunjukkan sebanyak 7,53 % dari total erosi yang
terjadi di DTA tersebut sampai ke saluran sungai dan menjadi sedimen sedangkan
sisanya mengendap di tempat lain.

Gambar 24 Peta penggunaan lahan skenario IV.


Tabel 26 Hasil simulasi skenario IV keluaran model
Skenario
Base
Skenario IV

Keluaran hidrologi dan sedimen


Debit puncak
Laju erosi
Laju sedimentasi
(m3/detik/tahun)
(ton/ha/tahun)
(ton/ha/tahun)
219,01
1694,89
73,48
18,47
111,60
8,40

Berdasarkan data di atas, simulasi untuk skenario IV memberikan hasil


terbaik karena nilai laju erosi permukaan yang dihasilkan berdasarkan kelas
tingkat bahaya erosi masih tergolong kelas erosi tiga dengan kategori sedang (60180 ton/ha/tahun). Begitupun dengan nilai erosi yang diperbolehkan (tolerable
soil erosion) terjadi tidak melebihi dari batas nilai yang diperbolehkan terjadi
sebesar 180 ton/ha/tahun. Sehingga nilai persentase pengurangannya lebih tinggi

dari skenario I, II, dan III serta sangat efektif untuk diterapkan karena nilai debit
puncak aliran permukaan, laju erosi permukaan, dan laju sedimentasi mengalami
penurunan yang besar. Apabila hutan alam yang dahulunya sudah ada dan tidak
ditebang oleh masyarakat untuk dijadikan ladang, maka fungsinya akan lebih baik
sebagai kawasan lindung khususnya untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi (longsor), dan sebagai perlindungan sistem penyangga
kehidupan masyarakat. Namun, apabila dilihat dari segi waktu dan efisiensinya
skenario IV membutuhkan waktu sangat lama untuk terbangunnya hutan alam
hingga ratusan atau ribuan tahun.

5.8

Rekomendasi
Berdasarkan Tabel 27, dapat diketahui bahwa skenario I, III, kurang efektif

dalam memperbaiki kondisi DTA. Hal tersebut dilihat dari besarnya nilai laju
erosi dari beberapa skenario terhadap nilai awal sebelum dilakukan simulasi
penggunaan lahan yang masih berada pada tingkat bahaya erosi kelas empat
dengan kategori berat hingga sangat (180-480 ton /ha/tahun) walaupun persentase
pengurangannya cukup besar. Sedangkan pengurangan volume aliran permukaan
tidak terjadi perubahan sehingga masih memungkinkan terjadinya banjir di DTA
Jeneberang Hulu. Sedangkan skenario II dan IV efektif dalam memperbaiki
kondisi DTA, hal tersebut terlihat dari besarnya nilai laju erosi skenario II dan IV
yang berada pada tingkat bahaya erosi kelas tiga dengan kategori sedang (60-180
ton/ha/tahun) dan batas nilai erosi yang diperbolehkan (tolerable soil erosion)
tidak melebihi dari 180 ton/ha/tahun.

Tabel 27 Rekapitulasi persentase (%) pengurangan keluaran model dari nilai awal
(base) setelah dilakukan simulasi
Skenario
Skenario I
Skenario II
Skenario III
Skenario IV

Debit puncak

Laju erosi

Laju sedimentasi

81,26 %
81,26 %
81,26 %
91,57 %

79,43 %
92,05 %
85,90 %
93,42 %

75,18 %
77,95 %
80,89 %
88,57 %

Pengurangan Parameter Terhadap Base (%)

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

n
ke

ar

io

I
Sk

a
en

ri o

II

De b it p un c a k a lira n p ermu ka a n

Sk

a
en

ri o

III
e
Sk

L aju e ro s i

na

ri o

IV

L a ju s e d imen ta s i

Gambar 25 Perbandingan penurunan keluaran model berbagai skenario.


Berdasarkan hasil simulasi dalam Gambar 25 yang berupa keluaran debit
puncak aliran permukaan, laju erosi, dan laju sedimentasi dapat diketahui bahwa
alternatif terbaik dalam mengubah pemanfaatan lahan berupa tegalan/ladang dan
semak belukar adalah penerapan skenario II yang mengarah ke skenario IV.
Pemanfaatan lahan tegalan dan semak belukar di daerah hulu DTA yang dapat
membentuk penutupan lahan berupa vegetasi yang serupa dengan hutan alam
produksi yang dikelola dengan sistem silvikultur tebang pilih dan di daerah
bawahnya (mendekati outlet) berupa kebun campuran dengan sistem agroforestry
sangat efektif dalam memperbaiki kondisi DTA Jeneberang Hulu dari segi
hidrologi maupun mengurangi laju erosi dan laju sedimentasi.
Pembangunan lahan tegalan dan semak belukar untuk tewujudnya
penutupan lahan seperti pada skenario II dapat dilakukan dengan menerapkan
kombinasi sipil teknis (terasering) dengan penanaman tumbuhan penutup lahan
(cover crops) dan tahunan (pohon-pohon). Tumbuhan penutup lahan dan pohon
tahunan ditanam sedemikian rupa, sehingga pada saat tertentu

dapat

menggantikan fungsi bangunan sipil teknis. Penggunaan lahan ini diusahakan


dengan meminimalkan gangguan sehingga dapat mengarah pada terbentuknya
formasi vegetasi seperti formasi hutan sekunder dan hutan alam

Untuk realisasi penerapan teknik konservasi tanah dan air menggunakan teras
tradisional dalam penggunaan lahan kebun campuran (agroforestry), perlu adanya
kerjasama antara pihak masyarakat dengan pihak pemerintah untuk lebih
memperhatikan tekniknya yang sesuai dengan kondisi biofisik. Sehingga bencana
banjir dan longsor di DTA Jeneberang Hulu dapat teratasi dan diminimalisir serta
mengurangi pendangkalan di saluran sungai dan di Bendungan Serbaguna Bili-bili
oleh tumpukan sedimen yang berupa pasir.

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN


6.1

Kesimpulan

1. Model AGNPS dengan parameter input menggunakan data yang relatif


tersedia di Indonesia (hujan harian dan data sekunder fisik DAS) dalam
menduga laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak memberikan hasil lebih
rendah dari data pengukuran lapangan (under estimation) sehingga
memerlukan faktor koreksi
2. Faktor koreksi untuk kasus DTA Jeneberang Hulu dapat menggunakan
persamaan QpLap = 1,734 QpMod0,679, QsLap = 1,698 QsMod0,382.
3. Pemanfaatan lahan yang optimal dalam mengurangi debit puncak aliran
permukaan, laju erosi permukaan, dan laju sedimentasi adalah dengan
mempertahankan penggunan lahan yang ada sekarang kecuali tegalan dan
semak belukar perlu dirubah kedalam bentuk penggunaan lahan yang
menyerupai hutan alam produksi yang dikelola dengan sistem silvikultur
tebang pilih atau hutan alam tidak terganggu di bagian hulu, sedangkan di
bagian bawah yang relatif lebih datar menerapkan kebun campuran dengan
sistem agroforestry.
6.2

Saran
1. Untuk memperoleh tingkat validasi model yang lebih tinggi, perlu diuji
coba menggunakan data curah hujan jangka pendek, dan parameter input
lainnya berdasarkan hasil pengukuran setempat.
2. Sehubungan dengan tingginya aliran permukaan, erosi dan sedimentasi
yang terjadi di DTA Jeneberang Hulu, perlu upaya pemanfaatan dan
pengelolaan DAS yang lebih sesuai dengan kondisi biofisik dan
melibatkan semua pihak yang terkait seperti petani, masyarakat lainnya,
pihak swasta, dan pemerintah serta melakukan upaya peningkatan
kesadaran kepada semua pihak untuk menerapkan tindakan konservasi
tanah dan pengelolaan tanaman yang sesuai dengan kondisi biofisik.

DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 1998. Andosol Coklat. Soil Survey Staff , Key to Soil Taxonomy 8th
edition.
USDA
NRCS
Washington
DC.
http://balitklimat.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=v
iew&id=130&Itemid=106. [27 Agustus 2007].
[Anonim]. 2005. Sisi GIS, Installasi Wireless LAN di Kota Samarinda, Digital
Elevation. http://projection.wgs84.net/2005/02/sisi_gis_installasi_wireless_l.
html. [8 November 2007].
[Anonim].
2007.
Model
Terain
Digital
http://www.intermap.com/right.php/pid/75/sid/273/tid/208. [8
2007].

(DTM).
November

Arsyad S. 1989. Pengawetan Tanah dan Air. Bogor: Departemen Ilmu Tanah,
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Arsyad S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.
Asdak C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
[BPDAS Jeneberang-Walanae] Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jeneberang Walanae. 2003. Penyusunan Rencana Teknik Lapangan
Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai (DAS)
Jeneberang Propinsi Sulawesi Selatan. Makassar: BPDAS JeneberangWalanae.
Candra A. 2003. Identifikasi dan Pemetaan Lahan Krisis di DAS Ciliwung Hulu
Menggunakan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis [skripsi].
Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Dassir M. 2000. Tingkat Kesesuaian Penggunaan Lahan di Sub DAS Jeneberang
Hulu Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan. [Tesis]. Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
[Dephut] Departemen Kehutanan, Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi
Lahan. 1998. Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Lapang Rehabilitasi
Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai. Jakarta: Dephut.
Galuda D. 1996. Penggunaan AGNPS untuk Memprediksi Aliran Permukaan,
Sedimen, dan hara N, P, dan COD di Daerah Tangkapan Air Cinere Sub DAS
Citarik, Pengalengan [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor.
Haridjaja O. 2000. Pencemaran Tanah dan Lingkungan. Bogor: Jurusan Tanah,
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Jaya A. 1994. Dinamika Aliran Permukaan, Erosi serta Kehilangan Hara dalam
Aliran Permukaan Tangkapan Cinere, Pengalengan [tesis]. Bogor: Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Lee R. 1980. Hidrologi Hutan. Subagio S, penerjemah; Prawirohatmodjo, editor.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari : Forest
Hydrology.
Morgan RPC. 1990. Soil Erotion and Conservation. New York: Longman
Scientific ang Technical. John Wiley and Sons, Inc.
Prahasta E. 2002. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung:
Informatika.
Rahim SE. 2003. Pengendalian Erosi Tanah dalam Rangka Pelestarian
Lingkungan Hidup. Jakarta: Bumi Aksara.
Salwati. 2004. Kajian Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Respon
Hidrologi Sub DAS Cilalawi DAS Citarum, Jawa Barat Menggunakan Model
AGNPS [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Seyhan E. 1990. Dasar-dasar Hidrologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Soewarno. 1991. Hidrologi Pengukuran dan Pengelolaan Data Aliran Sungai
(Hidrometri). Bandung: Penerbit Nova.
Sumardi I. 2007. Klasifikasi Respon Hidrologi DAS Berdasarkan Hidrograf
Satuan Sintetik Gama-I dengan Metode Analisis Terain Secara Digital (Digital
Terrain Method Analysis) Studi Kasus DAS di Propinsi Jawa Barat, Banten,
dan DKI Jakarta [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor.
Sun G, G. McNulty. 2000. Modelling Soil Erotion and Transport on Forest
Landscape. Southern Global Change Program, USDA Forest Service.
Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Air dan Tanah. Yogyakarta: Penerbit
Andi.
Sutiyono AP. 2006. Penggunaan Model AGNPS Berbasis Sistem Informasi
Geografis dalam Analisis Karateristik Hidrologi Sub DAS Ciawitali Subang
Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Tiryana T. 2003. Regresi Linear Sederhana. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan,
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Triandayani Y. 2004. Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan Untuk Memperbaiki


Kondisi Sub DAS Cisadane Hulu Menggunakan Model AGNPS [skripsi].
Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Usmadi D. 2006. Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Model AGNPS dalam
Pendugaan Aliran Permukaan, Erosi, dan Sedimentasi di Sub DAS Cianten
Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor.
Young RA, AO Charles, DD Bosch, PA Wyne. 1990. AGNPS Users Guide
Version 3.51. Agricultural Research Service, U.S Departement of Agriculture.
Morris, Minnesota.

Lampiran 1 Nilai Erodibilitas Tanah untuk 50 Jenis Tanah di Indonesia


Kode
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46

Tipe Tanah
Tanah eutrofik organik
Tanah hydromorphic alluvial
Tanah abu-abu hitam alluvial
Tanah alluvial cokelat keabu-abuan
Alluvial abu-abu dan alluvial cokelat keabu-abuan
Gabungan tanah alluvial abu-abu dan tanah humic abu-abu
Gabungan tanah alluvial abu-abu dan tanah humic rendah abu-abu
Gabungan tanah hydromorphic abu-abu dan Planosol cokelat keabuabuan
Planosol cokelat keabu-abuan
Gabungan tanah litosol dan tanah mediteranian merah
Regosol abu-abu
Regosol abu-abu
Kompleks regosol abu-abu dan litosol
Regosol cokelat
Regosol cokelat
Regosol cokelat kekuning-kuningan
Regosol abu-abu kekuning-kuningan
Kompleks regosol dan litosol
Andosol cokelat
Andosol cokelat
Andosol cokelat kekuning-kuningan
Gabungan andosol coelat dan regosol cokelat
Kopleks rensinas, litosol dan tanah hutan cokelat
Grumosol abu-abu
Grumosol abu-abu hitam
Kompleks grumosol regosol dan tanah mediteranian
Kompleks tanah mediteranian cokelat dan litosol
Gabungan tanah mediteranian dan grumosol
Gabungan tanah mediteranian cokelat kemerahan dan litosol
Latosol cokelat
Latosol cokelat merah
Latosol cokelat hitam dan kemerahan
Latosol cokelat kekuningan
Latosol merah
Latosol merah kekuningan
Gabungan latosol cokelat dan regosol abu-abu
Gabungan latosol cokelat kekuningan dan latosl cokelat
Gabungan latosol cokelat kemerahan dan latosol cokelat
Gabungan latosol merah, latosol cokelat kemerahan dan litosol
Kompleks latosol merah dan latosol cokelat kemerahan
Kompleks latosol merah kekuningan, latosol cokelat kemerahan dan
litosol
Kompleks latosol coklat kemerahan dan litosol
Kompleks latosol merah kekuningan, latosol cokelat dan tanah podsolik
merah kekuningan dan litosol
Tanah podsolik merah kuning
Tanah podsolik merah kekuning
Tanah podsolik merah

Nilai K
0,301
0,156
0,259
0,315
0,193
0,205
0,202
0,301
0,251
0,215
0,296
0,304
0,172
0,271
0,346
0,331
0,301
0,302
0,278
0,272
0,223
0,271
0,157
0,176
0,187
0,201
0,323
0,273
0,188
0,175
0,121
0,058
0,082
0,075
0,054
0,186
0,091
0,067
0,062
0,061
0,064
0,075
0,116
0,107
0,166
0,158

47
48

Gabungan podsolik kuning dan tanah hydromorphic abu-abu


Gabungan tanah podsolik kuning dan regosol
Kompleks tanah podsolik kuning, podsolik merah kekuningan dan
49
regosol
50
Kompleks lateritik merah kekuningan dan tanah podsolik merah
kekuningan
Sumber : Puslitbang Pengairan (1996) dalam Triandayani (2004)

0,249
0,158
0,175
0,175

Lampiran 2 Faktor Tindakan Konservasi Tanah (P)


Tindakan Konservasi Tanah
Teras tradisional
Tegalan/ladang
Sawah irigasi
Sawah tadah hujan
Hutan alam (penuh dengan serasah)
Semak/alang-alang
Tanah kosong tidak diolah
Pemukiman
Air/rawa
Sumber : Young et al. (1990)

Nilai P
0,500
0,209
0,013
0,013
1,000
0,021
0,400
1,000
0,000

Lampiran 3 Faktor Pengelolaan Tanaman (C)


Macam Penggunaan
Tanpa/terbuka tanpa tanaman
Sawah irigasi
Sawah tadah hujan
Tegalan tidak dispesifikasi
Ubikayu
Jagung
Kedelai
Kentang
Kacang tanah
Tebu
Pisang
Akar Wangi (sereh wangi)
Rumput bede (tahun pertama)
Rumput bede (tahun kedua)
Kopi dengan penutup tanah buruk
Talas
Kebun campuran: kerapatan tinggi
kerapatan sedang
kerapatan rendah
Perladangan
Hutan alam:
serasah banyak
serasah kurang
Hutan produksi:
tebang habis
tebang pilih
Semak belukar/padang rumput
Ubikayu + kedelai
Ubikayu + kacang tanah
Padi - sorghum
Padi - kedelai
Kacang tanah + gude
Kacang tanah - kacang tunggak
Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/ha
Padi + mulsa jerami 4 ton/ha
Kacang tanah + mulsa jagung 4 ton/ha
Kacang tanah + mulsa Clotalaria sp. 3 ton/ha
Kacang tanah + mulsa kacang tunggak
Kacang tanah + mulsa jerami 2 ton/ha
Padi + mulsa Clotalaria sp. 3 ton/ha
Pola tanam tumpang gilir* + mulsa jerami 6 ton/ha/thn
Pola tanam berurutan** + mulsa sisa tanaman
Alang-alang murni subur
Sumber:

Nilai C
1,000
0,010
0,050
0,700
0,800
0,700
0,399
0,400
0,200
0,200
0,600
0,400
0,287
0,002
0,200
0,850
0,100
0,200
0,500
0,400
0,001
0,005
0,050
0,200
0,300
0,181
0,195
0,345
0,417
0,495
0,571
0,049
0,096
0,128
0,135
0,259
0,377
0,387
0,079
0,357
0,001

Data Pusat Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989)


* Pola tanam tumpang gilir: jagung + padi + ubikayu setelah panen padi ditanami
kacang tanah
** Pola tanam berurutan: padi - jagung - kacang tanah

Lampiran 4 Koefisien Kekasaran Manning (n) untuk Berbagai Jenis Saluran

A.

Tipe saluran dan pemeriaannya


Aliran tertutup sebagian mengalir penuh
A.1. Logam
a. Kuningan, halus
b. Baja
1. Batangan dan di las
2. Dikeling (dipaku) dan spiral
c. Besi tuang
1. Dilapis
2. Tak dilapis
d. Besi tenpa
1. Hitam
2. Digalvani
e. Logam dan bergelombang
1. Subdrain
2. Sormdrain
A.2. Bukan Logam
a. Lusit
b. Gelas
c. Semen
1. Permukaan halus
2. Plesteran
d. Beton
1. Gorong-gorong, lurus bebas sampah
2. Gorong-gorong dengan lengkungan,
sambungan dan kotoran
3. Difinish
4. Saluran pembuang, dengan lobang
pemeriksaan, lobang masuk, lurus, dst.
5. Tak difinish, bentuk baja
6. Tak difinish, bentuk kayu halus
7. Tak difinish, bentuk kayu kasar
e. Kayu
1. Batang
2. Berlapis, diawetkan
f.
Liat
1. Ubin drainase biasa
2. Saluran pembuang divitrifikasi
3. Saluran pembuang divitrifikasi, dengan
lobang pemeriksa, lobang masuk, dst.
4. Subdrain divitrifikasi dengan
sambungan terbuka
g. Pekerjaan bata
1. Diglasir
2. Dilapis plester semen
h. Saluran pembuang dilapis dengan hancuran
tulang, dengan lengkungan dan sambungan
i.
Saluran pembuang dasar halus
j.
Tembok, disemen

Minimum

Normal

Maksimum

0,009

0,010

0,013

0,010
0,013

0,012
0,016

0,014
0,017

0,010
0,011

0,013
0,014

0,014
0,016

0,012
0,013

0,014
0,016

0,016
0,017

0,017
0,021

0,019
0,024

0,021
0,030

0,008
0,009

0,009
0,010

0,010
0,013

0,010
0,011

0,011
0,013

0,013
0,015

0,010

0,011

0,013

0,011
0,011

0,012
0,012

0,014
0,014

0,013
0,012
0,012
0,015

0,015
0,013
0,014
0,017

0,017
0,014
0,016
0,020

0,010
0,015

0,012
0,017

0,014
0,020

0,011
0,011

0,013
0,014

0,017
0,017

0,013

0,015

0,017

0,014

0,016

0,018

0,011
0,012

0,013
0,015

0,015
0,017

0,012
0,016
0,018

0,013
0,019
0,025

0,016
0,020
0,030

Lampiran 1 (lanjutan)

B.

C.

Tipe saluran dan pemeriaannya


Saluran dilapis atau dirakit
B.1. Logam
a. Permukaan baja halus
1. Tak dicat
2. Dicat
b. Bergelombang
B.2. Bukan Logam
a. Semen
1. Permukaan halus
2. Diplester
b. Kayu
1. Diketam, tak diawetkan
2. Diketam, dikerosot
3. Tak diketam
4. Papan dengan jalur-jalur
5. Dilapis dengan kertas asap
c. Beton
1. Dihaluskan dengan "cetok"
2. Finish yang mengambang
3. Finish dengan kerikil di bawal
4. Tidak difinish
5. Gunit, seksi bagus
6. Gunit, seksi bergelombang
7. Pada batuan yang digali baik
8. Pada batuan yang digali tak baik
d. Dasar-dasar beton difinish mengambang
dengan sisi-sisi :
1. Batu halus dalam plester
2. Batu acak dalam plester
3. Tembok semen, plester
4. Tembok semen
5. Tembok kering
e. Dasar kerikil dengan sisi-sisi dari :
1. Beton cetak
2. Batu acak dalam plester
3. Tembok kering
f. Bata
1. Diglasir
2. Dalam plester semen
g. Tembok
1. Tembok semen
2. Tak kering
h. Ubin lapis
i. Aspal
1. Halus
2. Kasar
j. Lapisan tumbuhan
Penggalian atau pengerukan
a. Tanah, murni dan seragam

Minimum

Normal

Maksimum

0,011
0,012
0,021

0,012
0,013
0,025

0,014
0,017
0,030

0,010
0,011

0,011
0,013

0,013
0,015

0,010
0,011
0,011
0,012
0,010

0,012
0,012
0,013
0,015
0,014

0,014
0,015
0,015
0,018
0,017

0,011
0,013
0,015
0,014
0,016
0,018
0,017
0,022

0,013
0,015
0,017
0,017
0,019
0,022
0,020
0,027

0,015
0,016
0,020
0,020
0,023
0,025
-

0,015
0,017
0,016
0,020
0,020

0,017
0,020
0,020
0,025
0,030

0,020
0,024
0,024
0,030
0,035

0,017
0,020
0,023

0,020
0,023
0,033

0,025
0,026
0,036

0,011
0,012

0,013
0,015

0,015
0,018

0,017
0,023
0,013

0,025
0,032
0,015

0,030
0,035
0,017

0,013
0,016
0,030

0,013
0,016
-

0,050

Lampiran 1 (sambungan)

D.

Tipe saluran dan pemeriaannya


1. Bersih, baru baja selesai
2. Bersih, sesudah pelapukan
3. Kerikil, bagian yang seragam, bersih
4. Dengan rumput pendek, sedikit gulma
b. Tanah, berkeluk-keluk dan lembam
1. Rumput, sedikt gulma
2. Gulma lebat atau tumbuhan air dalam
saluran dalam
3. Dasar tanah dan sisi tembok
4. Dasar berbatu dan sisi bergulma
5. Dasar batu bundar dan sisi bersih
c. Digali atau dikeruk
1. Tanpa tumbuhan
2. Sedikit semak pada tanggul
d. Potongan batu
1. Halus dan seragam
2. Bergerigi dan tak teratur
e. Saluran tak terpelihara, gulma dan semak tak
dipotong
1. Gulma lebat, setinggi jeluk aliran
2. Dasar bersih, semak disisi
3. Sama dengan tinggi maksimum aliran
Sungai-sungai alami
Sungai-sungai kecil (lebar bagian atas pada banjir
D.1.
< 100 kaki)
a.
Sungai di daratan
1. Bersih, lurus, tingkat penuh, tak ada celah
atau kolam
2. Sama dengan aas, tetapi banyak batu dan
gulma
3. Bersh, berkeluk, beberapa kolam dan
beting
4. Sama dengan atas, tetapi dengan beberapa
gulma dan batu
5. Sama dengan atas, tingkat lebih rendah,
leih banyak lereng tida efektif dan bagianbagian
6. Sama degan 4, tetapi lebih banyak batu
7. Sungai lembam, kolam-kolam dalam
8. Sungai sangat bergulma, kolam dalam
atau jalur banjir dengan hutan lebat dan
tumbuhan bawah
b. Sungai -sungai pegunungan, tanpa
tumbuhan dalam saluran, tanggu basanya
terjal, pohon- pohon dan semak -semak
sepanjang tanggul tenggelam pada air tinggi
1. Dasar kerikl, batu bundardan batu besar
2. Dasar batu-batu bundar dengan batu- batu
besar
D.2. Dataran banjir
a.
Padang rumput, tanpa semak

Minimum
0,016
0,018
0,022
0,022

Normal
0,018
0,022
0,025
0,027

Maksimum
0,020
0,025
0,030
0,033

0,025

0,030

0,033

0,030
0,028
0,025
0,030

0,035
0,030
0,035
0,040

0,040
0,035
0,040
0,050

0,025
0,035

0,028
0,050

0,033
0,060

0,025
0,035

0,035
0,040

0,040
0,050

0,050
0,040
0,045

0,080
0,050
0,070

0,120
0,080
0,110

0,025

0,030

0,033

0,030

0,035

0,040

0,033

0,040

0,045

0,015

0,045

0,050

0,040
0,045
0,050

0,048
0,050
0,070

0,055
0,060
0,080

0,075

0,100

0,150

0,030

0,040

0,050

0,040

0,050

0,070

Lampiran 1 (sambungan)
Tipe saluran dan pemeriaannya
1. Rumput pendek
2. Rumput tinggi
b. Tanah pertanian
1. Tak ditanami
2. Tanaman dewasa berbaris
3. Tanaman ladang dewasa
c. Semak
1. Semak tersebar, gulma lebat
2. Semak dan pohon jarang pada musim
dingin
3. Semak dan pohon jarang pada musim panas
4. Semak sedang sampai lebat d musim dingin
5. Semak sedang sampai lebat di musim panas
d. Pohon-pohon
1. Willow lebat, musim panas, lurus
2. Lahan yang dibuka dengan pertumbuhan
terubusan yang hebat
3. Sama dengan atas, tetapi dengan
pertumbuhan terbubusan yang hebat
4. Hutan lebat, sediit pohon kecil, sedikit
tumbuhan bawah, tingkat banjir dibawah
cabang
5. Sama dengan atas, tetapi dengan tingkat
banjir mencapai cabang
D.3. Sungai-sungai utama (lebar atas pada tingkat
banjir > 100 kaki)
Harga n kurang dari sungai-sungai kecil dan
sifat-sifat yang sama, karena tanggul-tanggul
memberikan ketahanan yang kurang efektif
a. Bagian yang biasa dengan tanpa batu-batu
besar atau semak
b. Bagian yang teratur dan kasar
Sumber : Chow (1950) dalam Seyhan (1990)

Minimum
0,025
0,030

Normal
0,030
0,035

Maksimum
0,035
0,050

0,020
0,025
0,030

0,030
0,035
0,040

0,040
0,045
0,050

0,035

0,050

0,070

0,035
0,040
0,045
0,070

0,050
0,060
0,070
0,100

0,060
0,080
0,110
0,160

0,110

0,0150

0,200

0,030

0,040

0,050

0,050

0,060

0,080

0,080

0,100

0,120

0,100

0,120

0,160

0,025
0,035

0,060
0,100

Lampiran 5 Faktor Konstanta Kondisi Permukaan (SCC) dan Bilangan Kurva


Aliran Permukaan (CN)

Penggunaan Lahan di Permukaan


Lahan tandus
Tanaman berbaris lurus
Tanaman berbaris kontur
Padi-padian kecil
Kacang-kacangan atau rotasi padang
rumput
Padang rumput penggembalaan-tipis
Padang rumput penggembalaan-sedang
Padang rumput penggembalaan-tebal
Padang rumput permanen
Lahan berhutan
Hutan dengan serasah banyak
Tanah beserta rumah pertanian
Perkotaan (kedap air 21-27 %)
Saluran berumput
Air
Rawa
Tanah peternakan dengan bidang tanah
yang tidak rata
Daerah beratap
Sumber : Young et al. (1990)

Nilai
SCC
(mg/ltr)
0,22
0,05
0,29
0,29
0,29
0,01
0,15
0,22
0,59
0,29
0,59
0,01
0,01
1,00
0
0
0
0

Kelompok Hidrologi
Tanah
A
B
C
D
77
86
91
94
67
78
85
89
65
75
82
86
63
74
82
85
58
68
49
39
30
36
25
59
72
49

72
79
69
61
58
60
55
74
79
69

81
86
79
74
71
73
70
82
85
79
100
85

91/94
100

85
89
84
80
78
79
77
86
88
84

Lampiran 6 Peta-peta Grid Nilai C, P, SCC, CN, dan Erodibilitas (K)

Skala 1 : 80000

Skala 1 : 80000

Lampiran6 (sambungan)

Skala1: 80000

Skala1: 80000

Lampiran6 (sambungan)

Skala1: 80000

Lampiran7 Parameter-parameterMasukanModel AGNPS


C
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

RC
6
6
2
8
4
15
6
7
8
9
10
11
25
30
30
15
32
33
34
35
20
21
22
23
24
25
43
27

FD
5
6
7
6
7
6
7
7
7
7
7
7
6
5
6
7
6
6
6
6
7
7
7
7
7
7
6
7

SL
6.56
5.96
10.51
8.49
7.44
7.71
10.36
14.29
11.30
9.45
8.62
7.16
1.73
7.72
7.19
8.69
12.82
15.80
12.60
10.28
9.51
8.06
7.90
8.23
4.88
2.01
7.35
12.33

SS
3
2
3
2
3
2
2
3
3
2
3
3
3
3
2
3
2
3
3
2
2
3
2
3
3
2
2
2

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
69
69
69
69
69
75
69
69
69
69
69
72
69
69
75
75
69
69
72
60
60
72
60
72
72
72
69
69

n
0.070
0.070
0.070
0.070
0.070
0.035
0.070
0.070
0.070
0.070
0.070
0.030
0.070
0.070
0.035
0.035
0.070
0.070
0.030
0.100
0.100
0.030
0.100
0.030
0.030
0.030
0.070
0.070

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.700
0.300
0.300
0.010
0.010
0.300
0.300
0.700
0.001
0.001
0.700
0.001
0.700
0.700
0.700
0.300
0.300

P
0.021
0.021
0.021
0.021
0.021
0.013
0.021
0.021
0.021
0.021
0.021
0.209
0.021
0.021
0.013
0.013
0.021
0.021
0.209
1.000
1.000
0.209
1.000
0.209
0.209
0.209
0.021
0.021

SCC
0.15
0.15
0.15
0.15
0.15
0.29
0.15
0.15
0.15
0.15
0.15
0.29
0.15
0.15
0.29
0.29
0.15
0.15
0.29
0.59
0.59
0.29
0.59
0.29
0.29
0.29
0.15
0.15

COD
20
20
20
20
20
80
20
20
20
20
20
60
20
20
80
80
20
20
60
65
65
60
65
60
60
60
20
20

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
1
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
6
1
7
7
7
7
7
7
7
7
7
6
7
6
7
6

CS
3.28
2.98
5.25
4.25
3.72
3.85
5.18
7.14
5.65
4.72
4.31
3.58
0.87
3.86
3.59
4.34
6.41
7.90
6.30
5.14
4.76
4.03
3.95
4.12
2.44
1.00
3.67
6.16

CL
0.00
2649.32
2244.61
1803.59
1497.03
1525.56
29.53
3861.96
3861.96
575.37
2453.71
2453.71
2368.85
0.00
3465.63
747.76
747.76
3818.03
5190.34
5190.34
2871.62
379.52
8295.39
3862.47
3862.47
5447.44
3584.64
3584.64

Lampiran7 (sambungan)
C
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56

RC
45
47
47
48
32
33
34
35
20
21
22
23
40
41
60
63
63
63
64
47
48
33
33
34
52
53
54
55

FD
6
5
6
6
7
7
7
7
8
8
8
8
7
7
6
4
5
6
6
7
7
1
8
8
7
7
7
7

SL
9.71
8.85
8.14
8.15
12.02
14.67
15.14
12.61
9.95
8.86
6.82
7.81
7.01
5.29
4.98
7.82
12.43
9.08
5.43
12.19
15.67
16.23
15.30
18.50
13.97
8.20
9.12
6.60

SS
3
2
3
2
2
3
2
3
3
3
3
2
2
2
2
2
3
2
2
2
2
3
2
2
3
2
3
3

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
75
75
75
75
60
60
60
72
72
72
72
72
72
72
69
69
69
75
75
60
60
60
60
60
60
72
60
72

n
0.035
0.035
0.035
0.035
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.070
0.070
0.070
0.035
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030
0.100
0.030

K
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.010
0.010
0.010
0.010
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.300
0.300
0.300
0.010
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700
0.001
0.700

P
0.013
0.013
0.013
0.013
1.000
1.000
1.000
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.021
0.021
0.021
0.013
0.013
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.209
1.000
0.209

SCC
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.15
0.15
0.15
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29
0.59
0.29

COD
80
80
80
80
65
65
65
60
60
60
60
60
60
60
20
20
20
80
80
65
65
65
65
65
65
60
65
60

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
6
7
7
7
7
7
7
7
6
6
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
1
1
7
7
7
7
6
6

CS
4.86
4.43
4.07
4.07
6.01
7.33
7.57
6.30
4.98
4.43
3.41
3.90
3.50
2.64
2.49
3.91
6.21
4.54
2.72
6.10
7.84
8.12
7.65
9.25
6.99
4.10
4.56
3.30

CL
7934.53
7934.53
3314.68
3314.68
2934.38
2934.38
5190.34
3957.05
3957.05
3957.05
8295.39
8295.39
8295.39
5447.44
1214.86
9019.41
7934.53
5546.08
5546.08
3314.68
0.00
0.00
4950.25
2582.95
2582.95
10923.67
3197.26
3197.26

Lampiran7 (sambungan)
C
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84

RC
56
57
41
79
81
82
82
63
84
47
48
49
50
51
52
53
54
73
56
75
59
59
100
102
102
104
104
105

FD
7
7
8
6
5
5
6
7
6
8
8
8
8
8
8
8
8
7
8
7
1
8
6
5
6
5
6
6

SL
10.56
11.68
9.17
4.69
7.30
7.83
11.02
11.61
12.32
19.04
18.13
15.08
19.66
24.29
16.36
10.67
12.68
13.66
16.43
13.17
9.57
12.46
4.18
5.98
7.42
8.32
11.21
14.03

SS
2
2
2
2
3
3
2
3
2
2
3
3
2
2
3
2
2
2
2
3
3
2
3
3
2
2
3
2

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
60
69
72
60
75
75
75
75
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
69
72
72
60
75
75
75
75
60

n
0.100
0.070
0.030
0.100
0.035
0.035
0.035
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.070
0.030
0.030
0.100
0.035
0.035
0.035
0.035
0.100

K
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.001
0.300
0.700
0.001
0.010
0.010
0.010
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.300
0.700
0.700
0.001
0.010
0.010
0.010
0.010
0.001

P
1.000
0.021
0.209
1.000
0.013
0.013
0.013
0.013
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.021
0.209
0.209
1.000
0.013
0.013
0.013
0.013
1.000

SCC
0.59
0.15
0.29
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.15
0.29
0.29
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59

COD
65
2
60
65
80
80
80
80
65
65
65
65
65
65
65
65
65
65
65
20
60
60
65
80
80
80
80
65

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
6
7
7
7
7
6
7
7
7
6
1
1
6
6
6
7
7
7
7
7
7
7
1
7
6
7
6
6

CS
5.28
5.84
4.58
2.34
3.65
3.91
5.51
5.81
6.16
9.52
9.07
7.54
9.83
12.14
8.18
5.34
6.34
6.83
8.21
6.59
4.78
6.23
2.09
2.99
3.71
4.16
5.61
7.02

CL
8295.39
8295.39
5447.44
9070.49
9019.41
9019.41
5546.08
5546.08
2761.39
2761.39
0.00
0.00
4950.25
4950.25
4950.25
10923.67
5346.63
5346.63
5346.63
8295.39
8295.39
5447.44
0.00
9070.49
9019.41
1962.90
5077.80
5077.80

Lampiran7 (sambungan)
C
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112

RC
106
107
108
109
68
69
70
72
73
73
75
75
77
78
78
122
122
123
125
125
104
105
106
107
130
131
132
133

FD
6
6
6
6
8
8
8
1
1
8
1
8
1
1
8
5
6
6
5
6
7
7
7
7
6
6
6
6

SL
18.96
20.07
15.89
13.59
19.44
19.76
11.83
13.90
20.39
23.83
21.09
13.45
10.94
15.80
17.84
6.02
7.07
5.19
5.01
7.04
10.32
10.90
18.33
24.46
24.98
21.12
22.84
22.39

SS
2
3
3
3
2
3
2
2
2
2
3
2
2
2
2
3
3
2
3
2
3
2
2
2
3
3
2
3

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
60
60
60
60
60
69
60
60
60
69
69
69
72
72
69
75
75
75
75
75
75
75
60
60
60
60
60
60

n
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.070
0.100
0.100
0.100
0.070
0.070
0.070
0.030
0.030
0.070
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100

K
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.300
0.001
0.001
0.001
0.300
0.300
0.300
0.700
0.070
0.300
0.010
0.010
0.010
0.010
0.010
0.010
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001

P
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.021
1.000
1.000
1.000
0.021
0.021
0.021
0.209
0.209
0.021
0.013
0.013
0.013
0.013
0.013
0.013
0.013
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000

SCC
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.15
0.59
0.59
0.59
0.15
0.15
0.15
0.29
0.29
0.15
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59

COD
65
65
65
65
65
20
65
65
65
20
20
20
60
60
20
80
80
80
80
80
80
80
65
65
65
65
65
65

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
6
6
6
1
1
1
7
7
7
1
7
7
7
1
1
1
7
7
6
7
6
1
1
6
6
1
1
1

CS
9.48
10.04
7.95
6.79
9.72
9.88
5.92
6.95
10.19
11.92
10.55
6.72
5.47
7.90
8.92
3.01
3.54
2.59
2.50
3.52
5.16
5.45
9.16
12.23
12.49
10.56
11.42
11.19

CL
5077.80
2761.39
22761.39
0.00
0.00
0.00
4950.25
10923.66
10923.66
0.00
5346.63
2256.47
3422.24
0.00
0.00
0.00
9070.49
9070.49
3209.20
3209.20
5077.80
0.00
0.00
1143.95
1274.21
0.00
0.00
0.00

Lampiran7 (sambungan)
C
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140

RC
135
135
92
93
94
95
97
97
98
146
146
147
149
150
150
151
152
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139

FD
5
6
8
8
8
8
1
8
8
5
6
6
5
5
6
6
6
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7

SL
13.47
9.63
16.81
16.67
11.24
11.24
12.17
15.04
14.60
16.97
13.51
7.27
8.35
11.10
12.73
10.80
12.15
16.41
20.12
20.07
19.82
19.29
20.02
19.71
20.05
14.89
8.06
9.39

SS
3
2
2
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
2
2
3
2
2
2
3
2
3
2
3

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
69
60
69
69
69
69
69
69
69
75
75
75
75
75
60
60
75
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
69

n
0.070
0.100
0.070
0.070
0.070
0.070
0.070
0.070
0.070
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
0.100
0.100
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.070

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.300
0.001
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.300
0.010
0.010
0.010
0.010
0.010
0.001
0.001
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.300

P
0.021
1.000
0.021
0.021
0.021
0.021
0.021
0.021
0.021
0.013
0.013
0.013
0.013
0.013
1.000
1.000
0.013
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.021

SCC
0.15
0.59
0.15
0.15
0.15
0.15
0.15
0.15
0.15
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.15

COD
20
65
20
20
20
20
20
20
20
80
80
80
80
80
65
65
80
65
65
65
65
65
65
65
65
65
65
20

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
1
1
7
1
1
6
7
6
7
7
7
6
7
6
6
7
7
7
7
7
7
7
7
1
7
7
7
7

CS
6.73
4.82
8.41
8.33
5.62
5.62
6.08
7.52
7.30
8.48
6.76
3.63
4.17
5.55
6.37
5.40
6.07
8.20
10.06
10.04
9.91
9.65
10.01
9.86
10.02
7.44
4.03
4.70

CL
0.00
0.00
10923.67
0.00
0.00
2256.47
3422.24
5253.66
5253.66
9070.49
9019.41
9019.41
295.29
2802.60
2802.60
6117.33
307.44
307.44
5840.91
5840.91
5840.91
2824.93
3703.40
0.00
10923.67
10923.67
10923.67
10923.67

Lampiran7 (sambungan)
C
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168

RC
119
119
142
121
169
170
171
172
172
173
174
175
152
153
130
131
156
133
158
159
160
161
138
139
164
142
142
143

FD
1
8
7
8
5
5
5
5
6
6
6
6
7
7
8
8
7
8
7
7
7
7
8
8
7
1
8
8

SL
13.30
17.53
16.58
12.32
22.02
27.69
28.43
25.89
20.01
17.73
18.56
15.79
14.53
19.52
20.37
20.30
19.08
14.98
17.64
23.74
22.50
15.93
9.81
10.53
14.77
20.01
18.86
16.04

SS
2
2
2
3
2
2
3
3
3
3
2
3
2
3
3
2
3
2
2
2
3
3
3
2
3
3
3
2

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
69
69
69
69
60
60
75
75
60
60
75
75
75
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
72
69
60
69
69

n
0.070
0.070
0.070
0.070
0.100
0.100
0.035
0.035
0.100
0.100
0.035
0.035
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030
0.070
0.100
0.070
0.070

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.300
0.300
0.300
0.300
0.001
0.001
0.010
0.010
0.001
0.001
0.010
0.010
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700
0.300
0.001
0.300
0.300

P
0.021
0.021
0.021
0.021
1.000
1.000
0.013
0.013
1.000
1.000
0.013
0.013
0.013
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.209
0.021
1.000
0.021
0.021

SCC
0.15
0.15
0.15
0.15
0.59
0.59
0.29
0.29
0.59
0.59
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29
0.15
0.59
0.15
0.15

COD
20
20
20
20
65
65
80
80
65
65
80
80
80
65
65
65
65
65
65
65
65
65
65
60
20
65
20
20

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
7
7
6
7
7
7
6
1
7
7
7
7
1
6
6
7
1
6
7
7
1
1
1
7
6
1
1
7

CS
6.65
8.77
8.29
6.16
11.01
13.85
14.22
12.94
10.01
8.86
9.28
7.90
7.26
9.76
10.19
10.15
9.54
7.49
8.82
11.87
11.25
7.96
4.91
5.27
7.38
10.00
9.43
8.02

CL
3422.24
5253.66
5253.66
5253.66
9070.49
9070.49
9019.41
0.00
2185.41
3603.77
3603.77
3603.77
0.00
1643.36
1643.36
5840.91
0.00
2824.93
2824.93
3703.40
0.00
0.00
0.00
10923.67
10923.67
0.00
0.00
5253.66

Lampiran7 (sambungan)
C
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194

RC
424
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
155
156
157
158
159
160
161
186
164
164
189
166
168
171
172

FD
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
8
8
8
8
8
8
8
7
1
8
7
8
1
1
1

SL
15.32
10.92
11.85
16.75
14.15
12.31
18.10
19.52
18.59
23.76
20.53
17.09
19.05
19.72
23.82
24.39
18.69
16.68
11.19
9.99
16.40
17.32
13.71
14.29
17.39
21.34

SS
2
3
2
2
3
2
2
3
2
2
3
2
3
2
2
3
3
2
2
2
2
3
3
3
3
2

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
69
69
60
60
60
75
75
75
75
60
75
75
60
60
60
60
60
60
60
72
72
60
60
60
69
69

n
0.070
0.070
0.100
0.100
0.100
0.035
0.035
0.035
0.035
0.100
0.035
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.070
0.070

K
0.075
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.300
0.300
0.001
0.001
0.001
0.010
0.010
0.010
0.010
0.001
0.010
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.300
0.300

P SCC COD FL
0.021 0.15 20 0
0.021 0.15 20 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
0.013 0.29 80 0
0.013 0.29 80 0
0.013 0.29 80 0
0.013 0.29 80 0
1.000 0.59 65 0
0.013 0.29 80 0
0.013 0.29 80 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
0.209 0.29 60 0
0.209 0.29 60 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
1.000 0.59 65 0
0.021 0.15 20 0
0.021 0.15 20 0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
7
7
7
7
7
7
1
6
6
6
6
1
1
1
6
6
7
7
6
6
1
1
1
1
7
7

CS
7.66
5.46
5.92
8.38
7.08
6.15
9.05
9.76
9.29
11.88
10.26
8.55
9.52
9.86
11.91
12.20
9.34
8.34
5.60
4.99
8.20
8.66
6.86
7.14
8.69
10.67

CL
16533.87
16533.87
16533.87
16533.87
6496.63
67.17
0.00
2014.81
2014.81
1259.93
1259.93
0.00
0.00
0.00
2824.93
1166.81
1166.81
8132.89
8132.89
8132.89
0.00
0.00
0.00
0.00
16533.87
16533.87

Lampiran7 (sambungan)
C
195
196
197
198
199
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
213
214
215
216
217
218
219
220
221
222
223

RC FD SL
172 8 16.18
195 7 10.80
219 6 18.44
197 7 20.39
198 7 19.16
222 6 21.06
223 6 20.67
224 6 20.04
225 6 24.48
203 7 27.35
204 7 23.85
183 8 17.75
184 8 15.60
207 7 18.30
186 8 14.51
187 8 12.11
210 7 16.83
211 7 16.71
190 8 13.81
192 1 15.61
192 8 19.75
193 1 12.11
194 1 19.01
195 1 16.65
195 8 11.53
219 7 13.18
197 8 17.73
242 6 19.36
222 7 15.87

SS
2
3
2
3
3
2
3
3
2
3
3
3
2
3
3
2
2
3
3
2
2
3
3
3
2
3
2
3
2

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
69
75
75
75
75
75
75
75
75
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
69
69
69
60
60
75
75
75

n
0.070
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.070
0.070
0.070
0.100
0.100
0.035
0.035
0.035

K
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.300
0.010
0.010
0.010
0.010
0.010
0.010
0.010
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.300
0.300
0.300
0.001
0.001
0.010
0.010
0.010

P
0.021
0.013
0.013
0.013
0.013
0.013
0.013
0.013
0.013
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.021
0.021
0.021
1.000
1.000
0.013
0.013
0.013

SCC
0.15
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.15
0.15
0.15
0.59
0.59
0.29
0.29
0.29

COD
20
80
80
80
80
80
80
80
80
65
65
65
65
65
65
65
65
65
65
65
65
20
20
20
65
65
80
80
80

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
7
7
7
7
6
6
1
1
1
6
6
6
6
1
7
7
7
7
1
1
1
1
1
1
7
7
7
7
7

CS CL
8.09 6496.63
5.40 6496.63
9.22 10906.06
10.19 10906.06
9.58 2014.81
10.53 2014.81
10.34 0.00
10.02 0.00
12.24 0.00
13.68 5000.06
11.93 5000.06
8.88 5000.06
7.80 3553.96
9.15 0.00
7.25 8132.89
6.05 8132.89
8.42 8132.89
8.36 8132.89
6.91 0.00
7.80 0.00
9.88 0.00
6.05 0.00
9.50 0.00
8.33 0.00
5.76 6496.63
6.59 6496.63
8.87 10906.06
9.68 10906.06
7.94 10906.06

Lampiran7 (sambungan)
C
224
225
226
227
228
229
230
231
232
233
234
235
236
237
238
239
240
241
242
243
244
245
246
247
248
249
250
251
252

RC FD SL
223 7 17.47
224 7 18.24
225 7 27.73
226 7 36.71
227 7 26.89
249 6 15.57
229 7 13.61
207 8 13.92
231 7 13.82
210 1 10.46
210 8 13.74
234 7 16.52
212 8 16.50
236 7 17.19
216 8 9.66
219 2 10.51
219 1 12.89
219 8 6.56
241 7 13.44
242 7 21.19
263 6 13.16
264 6 18.16
265 6 19.80
225 8 24.87
247 7 33.77
248 7 29.61
249 7 19.22
229 8 11.26
271 6 11.70

SS
2
2
2
2
3
2
3
2
3
3
2
3
2
3
2
2
3
2
2
3
2
2
3
2
3
3
3
3
2

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
60
60
75
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
79
69
69
69
60
79
75
60
60
60
60
60
60
60
60

n
0.100
0.100
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.023
0.070
0.070
0.070
0.100
0.023
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.001
0.001
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.010
0.300
0.300
0.300
0.001
0.010
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001

P
1.000
1.000
0.013
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.021
0.021
0.021
1.000
1.000
0.013
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000

SCC
0.59
0.59
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.01
0.15
0.15
0.15
0.59
0.01
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59

COD
65
65
80
65
65
65
65
65
65
65
65
65
65
65
80
20
20
20
65
80
80
65
65
65
65
65
65
65
65

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
7
7
6
6
1
6
6
6
1
6
7
7
7
1
1
1
1
7
7
1
7
1
7
7
7
7
7
7
7

CS
8.73
9.12
13.86
18.36
13.45
7.78
6.80
6.96
6.91
5.23
6.87
8.26
8.25
8.60
4.83
5.25
6.45
3.28
6.72
10.60
6.58
9.08
9.90
12.44
16.89
14.81
9.61
5.63
5.85

CL
10906.06
10906.06
5000.06
5000.06
0.00
5000.06
3289.41
3289.41
0.00
14412.63
14412.63
8132.89
8132.89
0.00
0.00
0.00
0.00
6496.63
6496.63
0.00
10906.06
0.00
14412.63
14412.63
14412.63
14412.63
14412.63
14412.63
14412.63

Lampiran7 (sambungan)
C
253
254
255
256
257
258
259
260
261
262
263
264
265
266
267
268
269
270
271
272
273
274
275
276
277
278
279
280
281

RC FD SL
252 7 13.02
253 7 12.96
274 6 16.50
275 6 20.23
276 6 19.14
277 6 18.47
258 7 24.57
259 7 16.57
241 1 13.45
241 8 8.12
262 7 16.30
263 7 18.98
283 6 25.19
284 6 27.95
285 6 28.52
286 6 34.51
287 6 34.84
288 6 24.80
289 6 13.46
290 6 11.08
291 6 19.77
292 6 30.22
293 6 36.70
294 6 41.57
295 6 41.50
296 6 36.62
297 6 33.22
259 8 23.58
262 1 22.89

SS
2
2
3
2
3
2
2
3
3
2
2
3
2
3
3
3
3
3
2
2
3
3
3
3
3
3
3
2
2

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
60
60
60
60
60
60
60
60
69
60
75
75
75
60
60
60
60
60
60
60
60
72
72
72
60
60
60
60
75

n
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.070
0.100
0.035
0.035
0.035
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.100
0.035

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082
0.082
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.082

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.300
0.001
0.010
0.010
0.010
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.001
0.010

P
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.021
1.000
0.013
0.013
0.013
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.209
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
1.000
0.013

SCC
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.15
0.59
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29

COD
65
65
65
65
65
65
65
65
20
65
80
80
80
65
65
65
65
65
65
65
65
60
60
60
65
65
65
65
80

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
7
7
7
7
1
1
1
1
1
7
7
1
1
1
1
1
1
7
7
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

CS CL
6.51 14412.63
6.48 14412.63
8.25 14412.63
10.12 14412.63
9.57 0.00
9.24 0.00
12.28 0.00
8.28 0.00
6.73 0.00
4.06 20903.19
8.15 20903.19
9.49 0.00
12.59 0.00
13.97 0.00
14.26 0.00
17.25 0.00
17.42 0.00
12.40 14412.63
6.73 14412.63
5.54 0.00
9.89 0.00
15.11 0.00
18.35 0.00
20.79 0.00
20.75 0.00
18.31 0.00
16.61 0.00
11.79 0.00
11.44 0.00

Lampiran7 (sambungan)
C
282
283
284
285
286
287
288
289
290
291
292
293
294
295
296
297
298
299
300
301
302
303
304
305
306
307
308
309
310

RC FD SL
262 8 18.20
263 8 8.68
283 7 13.99
284 7 22.79
285 7 33.61
286 7 46.25
304 6 54.41
305 6 50.23
306 6 38.60
307 6 38.39
308 6 39.41
309 6 32.14
310 6 29.66
294 7 35.70
312 6 46.34
313 6 58.07
314 6 54.93
315 6 38.17
283 1 31.63
283 8 20.71
284 8 11.45
285 8 14.66
286 8 14.26
304 7 27.04
305 7 48.26
323 6 52.76
324 6 46.63
325 6 35.92
326 6 26.90

SS
2
2
3
2
2
2
3
3
3
3
2
2
2
2
2
2
3
3
2
2
3
3
2
2
2
3
2
3
3

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
69
60
60
60
60
60
60
60
72
72
72
72
72
72
72
60
60
60
69
69
75
75
69
60
72
72
72
72
72

n
0.070
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.070
0.070
0.035
0.035
0.070
0.100
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030

K
0.082
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.300
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.300
0.300
0.010
0.010
0.300
0.001
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700

P
0.210
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
0.021
0.021
0.013
0.013
0.021
1.000
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209

SCC
0.15
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.15
0.15
0.29
0.29
0.15
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29

COD
20
65
65
65
65
65
65
65
60
60
60
60
60
60
60
65
65
65
20
20
0
80
20
65
60
60
60
60
60

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
7
7
7
7
7
7
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
6
6
7
1
7
7
1
1
1
1
1

CS CL
9.10 20903.19
4.34 20903.19
7.00 20903.19
11.40 20903.19
16.80 20903.19
23.13 20903.19
27.21 0.00
25.12 0.00
19.30 0.00
19.19 0.00
19.71 0.00
16.07 0.00
14.83 0.00
17.85 0.00
23.17 0.00
29.03 0.00
27.47 0.00
19.09 0.00
15.82 6095.43
10.35 20903.19
5.72 20903.19
7.33 0.00
7.13 20903.19
13.52 20903.19
24.13 0.00
26.38 0.00
23.31 0.00
17.96 0.00
13.45 0.00

Lampiran7 (sambungan)
C
311
312
313
314
315
316
317
318
319
320
321
322
323
324
325
326
327
328
329
330
331
332
333
334
335
336
337
338
339

RC FD SL
327 6 17.56
328 6 20.49
329 6 35.21
330 6 56.97
331 6 74.02
332 6 67.82
333 6 34.11
301 1 30.95
301 8 29.83
302 8 31.52
304 1 35.66
304 8 29.89
305 8 7.27
323 7 16.24
324 7 16.48
341 6 17.03
326 7 26.21
343 6 24.35
344 6 16.51
329 7 21.48
330 7 38.20
331 7 65.01
332 7 77.61
333 7 38.46
319 1 36.05
320 1 42.82
320 8 45.28
322 1 47.15
323 1 47.77

SS
3
3
2
2
2
3
3
3
2
2
3
2
2
2
3
2
2
3
2
2
2
2
3
3
3
3
2
3
2

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
72
72
72
72
60
60
60
60
75
60
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
60
60
60
60
60
72

n
0.030
0.030
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.100
0.035
0.100
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.700
0.700
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.001
0.010
0.001
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700

P
0.209
0.209
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
1.000
0.013
1.000
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
0.209

SCC
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29

COD
60
60
60
60
65
65
65
65
80
65
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
65
65
65
65
65
60

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
1
1
1
1
1
1
1
6
6
6
6
7
7
7
7
7
1
1
1
1
7
7
1
1
1
1
6
1
1

CS CL
8.78 0.00
10.25 0.00
17.61 0.00
28.48 0.00
37.01 0.00
33.91 0.00
17.05 0.00
15.47 6095.43
14.91 6095.43
15.76 6095.43
17.83 6095.43
14.95 20903.19
3.64 20903.19
8.12 23733.51
8.24 23733.51
8.52 23733.51
13.10 0.00
12.18 0.00
8.26 0.00
10.74 0.00
19.10 3843.62
32.50 3843.62
38.81 0.00
19.23 0.00
18.02 0.00
21.41 0.00
22.64 6095.43
23.58 0.00
23.88 0.00

Lampiran7 (sambungan)
C
340
341
342
343
344
345
346
347
348
349
350
351
352
353
354
355
356
357
358
359
360
361
362
363
364
365
366
367
368

RC FD SL
323 8 31.82
324 8 27.55
341 7 20.53
326 8 13.88
343 7 21.68
344 7 18.65
329 8 18.87
346 7 19.51
347 7 44.86
348 7 74.85
349 7 55.71
337 1 30.39
339 2 30.32
339 1 51.60
340 1 66.65
341 1 63.97
341 8 45.02
343 1 28.50
344 1 34.20
344 8 28.28
346 1 25.82
347 1 24.76
347 8 37.51
362 7 75.19
363 7 74.59
364 7 32.43
354 1 48.12
355 1 54.61
356 1 54.48

SS
2
2
3
2
2
3
2
2
2
2
3
3
3
3
2
2
2
3
3
3
3
3
2
2
3
3
3
3
3

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
60
60
72
72
72
72
72
72
72
72
75
75
72
72
60
60
60
72

n
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.035
0.030
0.030
0.030
0.100
0.100
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.035
0.035
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.030

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.010
0.700
0.700
0.700
0.001
0.001
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.010
0.010
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.700

P
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.013
0.209
0.209
0.209
1.000
1.000
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.013
0.013
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
0.209

SCC
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.29

COD
60
60
60
60
60
60
60
80
60
60
60
65
65
60
60
60
60
60
60
60
60
80
80
60
60
65
65
65
60

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
1
1
1
1
1
1
1
7
1
1
7
7
7
7
1
1
1
1
7

CS CL
15.91 23733.51
13.78 23733.51
10.27 23733.51
6.94 23733.51
10.84 23733.51
9.32 23733.51
9.43 22970.68
9.75 22970.68
22.43 3843.62
37.43 3843.62
27.85 0.00
15.19 0.00
15.16 0.00
25.80 0.00
33.33 0.00
31.98 0.00
22.51 0.00
14.25 6133.02
17.10 0.00
14.14 0.00
12.91 3574.23
12.38 22970.68
18.76 22970.68
37.60 22970.68
37.29 0.00
16.22 0.00
24.06 0.00
27.30 0.00
27.24 6133.02

Lampiran7 (sambungan)
C
369
370
371
372
373
374
375
376
377
378
379
380
381
382
383
384
385
386
387
388
389
390
391
392
393
394
395
396
397

RC FD SL
357 1 34.77
357 8 29.06
370 7 18.46
359 8 13.53
360 8 15.29
362 1 35.82
362 8 73.19
375 7 79.01
376 7 38.36
369 2 43.05
369 1 36.99
369 8 23.92
370 8 16.04
372 1 13.56
372 8 18.26
383 7 38.22
384 7 66.04
385 7 73.31
388 3 30.59
379 1 34.54
379 8 14.35
381 1 12.80
381 8 14.12
383 1 16.64
383 8 37.66
393 7 59.40
394 7 57.25
388 1 38.71
389 1 23.49

SS
2
2
3
3
3
2
2
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
3
3
2
3
3
3
3
2
2
2
2
2

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
72
72
72
72
72
75
75
75
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
60
72
72
72
72

n
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.035
0.035
0.035
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.030
0.100
0.030
0.030
0.030
0.030

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.010
0.010
0.010
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.700
0.001
0.700
0.700
0.700
0.700

P
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.013
0.013
0.013
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
0.209
1.000
0.209
0.209
0.209
0.209

SCC
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29

COD
60
60
60
60
60
80
80
80
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
65
60
60
60
60

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
7
1
1
7
1
1
1
1
1
7
7
1
1
7
1
1
1
1
1
7
1
1
1
1
1
1
1
1
1

CS
17.39
14.53
9.23
6.77
7.64
17.91
36.59
39.50
19.18
21.53
18.50
11.96
8.02
6.78
9.13
19.11
33.02
36.66
15.30
17.27
7.17
6.40
7.06
8.32
18.83
29.70
28.63
19.36
11.75

CL
6133.02
0.00
0.00
3574.23
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
6133.02
6133.02
0.00
0.00
3574.23
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
6133.02
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

Lampiran7 (sambungan)
C
398
399
400
401
402
403
404
405
406
407
408
409
410
411
412
413
414
415
416
417
418
419
420
421
422
423

RC FD SL
389 8 13.04
390 8 11.47
391 8 13.46
392 8 39.29
401 7 49.31
396 2 12.07
396 1 31.52
397 1 39.58
398 1 28.21
398 8 19.69
399 8 25.23
401 1 49.01
409 7 37.17
405 2 22.16
405 1 47.14
406 1 60.59
40 1 44.50
407 8 42.49
409 1 43.80
413 2 29.87
413 1 55.29
414 1 54.92
415 1 54.67
415 8 34.09
419 1 31.89
420 1 51.02

SS
2
3
2
2
3
3
3
2
2
2
2
2
3
3
3
2
2
2
3
3
3
2
2
3
3
3

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
72
72
72
60
60
60
72
72
72
72
60
60
60
60
72
72
60
60
60
60
72
72
60
60
72
60

n
0.030
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.100
0.100
0.030
0.100

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.700
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.001
0.001
0.700
0.001

P
0.209
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
0.209
0.209
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
1.000
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
1.000
0.209
0.209
1.000
1.000
0.209
1.000

SCC
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29
0.29
0.59
0.59
0.29
0.59

COD
60
60
60
65
65
65
60
60
60
60
65
65
65
65
60
60
65
65
65
65
60
60
65
65
60
65

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
6
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

CS
6.52
5.73
6.73
19.64
24.65
6.03
15.76
19.79
14.11
9.84
12.62
24.50
18.58
11.08
23.57
30.30
22.25
21.24
21.90
14.94
27.65
27.46
27.34
17.04
15.94
25.51

CL
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
8723.85
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

Lampiran7 (sambungan)
Keterangan:
C =Nomorsel
RC =Sel penerima
FD =Arahaliran
CN =Bilangankurvaaliranpermukaan
SL =Kemiringanlereng
SS =Bentuklereng
LS =Panjanglereng
N =KoefisienkekasaranManning

K =Faktor erodibilitastanah
C =Faktor pengelolaantanah
P =Faktor teknikkonservasi tanah
SCC =Konstantakondisi permukaan
T =Tekstur
FL =Indikator penggunaanpupuk
FA =Ketersediaanpupukpadapermukaantanah
PI =Indikator penggunaanpestisida

PS =Point sourceindicator
GS =Sumbererosi tambahan
COD =KebutuhanOksigenkimiawi
IF =Indikatorimpoundment
CI =Indikatorsaluran
CS =Kemiringanlerengsaluran
CL =Panjangsaluran

Lampiran 8 Contoh Hasil Keluaran Model AGNPS


Episode 1 Januari
Watershed Summary
Watershed Studied
The area of the watershed is
The area of each cell is
The characteristic storm precipitation is
The storm energy-intensity value is

DTA Jeneberang
16920 acres
40.00 acres
1.30 inches
26

Values at the Watershed Outlet


Cell number
Runoff volume
Peak runoff rate
Total Nitrogen in sediment
Total soluble Nitrogen in runoff
Soluble Nitrogen concentration in runoff
Total Phosphorus in sediment
Total soluble Phosphorus in runoff
Soluble Phosphorus concentration in runoff
Total soluble chemical oxygen demand
Soluble chemical oxygen demand concentration in runoff

169
0.0
113
2.87
0.01
0.99
1.43
0.00
0.05
0.55
64

000
inches
cfs
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
ppm

Sediment Analysis
Area Weighted
Area
Erosion
Delivery Enrichment
Mean
Weighted
Particle Upland Channel Ratio
Ratio
Concentration Yield
Yield
type
(t/a)
(t/a)
(%)
(ppm)
(t/a)
(tons)
_________________________________________________________________________
CLAY
1.16
0.00
64
10
172358.40
0.74
12568.0
SILT
0.70
0.00
0
0
59.18
0.00
4.3
SAGG
6.62
0.00
0
0
32.00
0.00
2.3
LAGG
2.90
0.00
0
0
26.67
0.00
1.9
SAND
0.23
0.00
0
0
8.30
0.00
0.6
TOTAL

11.61

0.00

172484.50

0.74

12577.2

Episode 2 Januari
Watershed Summary
Watershed Studied
The area of the watershed is
The area of each cell is
The characteristic storm precipitation is
The storm energy-intensity value is

DTA Jeneberang
16920 acres
40.00 acres
0.70 inches
10

Values at the Watershed Outlet


Cell number
Runoff volume
Peak runoff rate
Total Nitrogen in sediment
Total soluble Nitrogen in runoff
Soluble Nitrogen concentration in runoff
Total Phosphorus in sediment
Total soluble Phosphorus in runoff
Soluble Phosphorus concentration in runoff
Total soluble chemical oxygen demand
Soluble chemical oxygen demand concentration in runoff

169
0.0
1
0.00
0.00
1.20
0.00
0.00
0.05
0.00
69

000
inches
cfs
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
ppm

Lampiran 8 (sambungan)
Sediment Analysis
Area Weighted
Area
Erosion
Delivery Enrichment
Mean
Weighted
Particle Upland Channel Ratio
Ratio
Concentration Yield
Yield
type
(t/a)
(t/a)
(%)
(ppm)
(t/a)
(tons)
_________________________________________________________________________
CLAY
0.43
0.00
0
9
5488.81
0.00
1.9
SILT
0.26
0.00
0
0
143.88
0.00
0.1
SAGG
2.48
0.00
0
0
246.53
0.00
0.1
LAGG
1.09
0.00
0
0
337.43
0.00
0.1
SAND
0.09
0.00
0
1
105.73
0.00
0.0
TOTAL

4.35

0.00

6322.39

0.00

2.2

Episode 3 Januari
Watershed Summary
Watershed Studied
The area of the watershed is
The area of each cell is
The characteristic storm precipitation is
The storm energy-intensity value is

DTA Jeneberang
16920 acres
40.00 acres
0.40 inches
3

Values at the Watershed Outlet


Cell number
Runoff volume
Peak runoff rate
Total Nitrogen in sediment
Total soluble Nitrogen in runoff
Soluble Nitrogen concentration in runoff
Total Phosphorus in sediment
Total soluble Phosphorus in runoff
Soluble Phosphorus concentration in runoff
Total soluble chemical oxygen demand
Soluble chemical oxygen demand concentration in runoff

169
0.0
0
0.00
0.00
1.65
0.00
0.00
0.05
0.00
60

000
inches
cfs
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
ppm

Sediment Analysis
Area Weighted
Area
Erosion
Delivery Enrichment
Mean
Weighted
Particle Upland Channel Ratio
Ratio
Concentration Yield
Yield
type
(t/a)
(t/a)
(%)
(ppm)
(t/a)
(tons)
_________________________________________________________________________
CLAY
0.13
0.00
0
6
1572.90
0.00
0.3
SILT
0.08
0.00
0
1
133.53
0.00
0.0
SAGG
0.77
0.00
0
0
190.69
0.00
0.0
LAGG
0.34
0.00
0
1
450.60
0.00
0.1
SAND
0.03
0.00
0
3
141.19
0.00
0.0
TOTAL

1.35

0.00

2488.91

0.00

0.5

Lampiran 8 (sambungan)
Episode 1 Februari
Watershed Summary
Watershed Studied
The area of the watershed is
The area of each cell is
The characteristic storm precipitation is
The storm energy-intensity value is

DTA Jeneberang
16920 acres
40.00 acres
0.40 inches
3

Values at the Watershed Outlet


Cell number
Runoff volume
Peak runoff rate
Total Nitrogen in sediment
Total soluble Nitrogen in runoff
Soluble Nitrogen concentration in runoff
Total Phosphorus in sediment
Total soluble Phosphorus in runoff
Soluble Phosphorus concentration in runoff
Total soluble chemical oxygen demand
Soluble chemical oxygen demand concentration in runoff

169
0.0
0
0.00
0.00
1.65
0.00
0.00
0.05
0.00
60

000
inches
cfs
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
ppm

Sediment Analysis
Area Weighted
Area
Erosion
Delivery Enrichment
Mean
Weighted
Particle Upland Channel Ratio
Ratio
Concentration Yield
Yield
type
(t/a)
(t/a)
(%)
(ppm)
(t/a)
(tons)
_________________________________________________________________________
CLAY
0.11
0.00
0
6
1330.95
0.00
0.3
SILT
0.07
0.00
0
1
129.13
0.00
0.0
SAGG
0.64
0.00
0
0
180.90
0.00
0.0
LAGG
0.28
0.00
0
1
450.60
0.00
0.1
SAND
0.02
0.00
0
3
141.19
0.00
0.0
TOTAL

1.12

0.00

2232.76

0.00

0.4

Lampiran 9 Hasil Analisis Model Regresi Keluaran Minitab


10/5/2007 12:39:52 PM
Correlations: Q (m^3/s), CH (mm)
Pearson correlation of Q (m^3/s) and CH (mm) = 0.925
P-Value = 0.000

Regression Analysis: Log-Q versus Log-CH


The regression equation is
Log-Q = - 0.797 + 0.684 Log-CH
Q = 0.159 CH0.68
363 cases used, 3 cases contain missing values

Predictor
Constant
Log-CH

Coef
-0.79694
0.68418

S = 0.180159

SE Coef
0.01401
0.01733

R-Sq = 81.2%

T
-56.89
39.48

P
0.000
0.000

R-Sq(adj) = 81.1%

Analysis of Variance
Source
Regression
Residual Error
Total

DF
1
361
362

SS
50.602
11.717
62.319

MS
50.602
0.032

F
1559.05

P
0.000

Unusual Observations
Obs
7
55
56
165
167
178
181
183
185
201
202
203
205
242
253
259
260
262
266
269
275

Log-CH
0.54
0.12
0.65
-0.87
-1.35
-1.04
-0.05
0.23
-0.84
-0.74
-0.01
-0.66
0.16
-0.74
-0.74
-0.44
-0.44
0.51
0.56
0.44
0.71

Log-Q
-0.06048
-1.18709
0.03782
-0.90309
-1.30103
-1.18709
-1.19382
-1.07058
-0.98716
-1.05061
-1.22185
-1.20761
-1.20066
-0.86646
-0.68613
-0.67366
-0.67985
-0.85699
-0.84164
-0.86328
-0.69250

Fit
-0.42854
-0.71489
-0.35002
-1.38976
-1.71839
-1.50914
-0.83425
-0.64243
-1.37072
-1.30318
-0.80507
-1.24955
-0.68756
-1.30318
-1.30318
-1.09722
-1.09722
-0.44965
-0.41558
-0.49484
-0.31335

SE Fit
0.00951
0.01255
0.00951
0.02706
0.03497
0.02991
0.01472
0.01143
0.02660
0.02501
0.01416
0.02376
0.01211
0.02501
0.02501
0.02028
0.02028
0.00958
0.00948
0.00983
0.00965

Residual
0.36806
-0.47219
0.38784
0.48667
0.41736
0.32206
-0.35957
-0.42815
0.38355
0.25257
-0.41678
0.04195
-0.51310
0.43672
0.61705
0.42356
0.41737
-0.40733
-0.42606
-0.36844
-0.37915

St Resid
2.05R
-2.63R
2.16R
2.73RX
2.36RX
1.81 X
-2.00R
-2.38R
2.15RX
1.42 X
-2.32R
0.23 X
-2.85R
2.45RX
3.46RX
2.37R
2.33R
-2.26R
-2.37R
-2.05R
-2.11R

R denotes an observation with a large standardized residual.


X denotes an observation whose X value gives it large influence.

Lampiran 9 (sambungan)
11/17/2007 12:27:59 AM
Correlations: Log QpMod., Log QpLap.
Pearson correlation of Log QpMod. and Log QpLap. = 0.894
P-Value = 0.000

Regression Analysis: Log QpLap. versus Log QpMod.


The regression equation is
Log QpLap. = 0.239 + 0.679 Log QpMod.

363 cases used, 3 cases contain missing values

Predictor
Constant
Log QpMod.

Coef
0.23924
0.67941

S = 0.186393

SE Coef
0.01926
0.01795

R-Sq = 79.9%

T
12.42
37.85

P
0.000
0.000

R-Sq(adj) = 79.8%

Analysis of Variance
Source
Regression
Residual Error
Total

DF
1
361
362

SS
49.783
12.542
62.325

MS
49.783
0.035

F
1432.91

P
0.000

Unusual Observations

Obs
1
55
56
165
167
178
181
183
185
201
202
203
205
242
253
259
260
262
266
275

Log
QpMod.
1.76
-1.39
-0.87
-2.35
-2.81
-2.52
-1.56
-1.29
-2.32
-2.22
-1.52
-2.15
-1.35
-2.22
-2.22
-1.93
-1.93
-1.02
-0.97
-0.82

Log QpLap.
0.51413
-1.18867
0.03792
-0.90341
-1.30476
-1.18630
-1.19648
-1.07058
-0.98651
-1.04879
-1.22449
-1.21023
-1.19772
-0.86786
-0.68634
-0.67331
-0.67897
-0.85676
-0.84177
-0.69217

Fit
1.43502
-0.70579
-0.35490
-1.35414
-1.66811
-1.47002
-0.82068
-0.63617
-1.33570
-1.27193
-0.79264
-1.21982
-0.67945
-1.27193
-1.27193
-1.07384
-1.07384
-0.45071
-0.41795
-0.31964

SE Fit
0.04916
0.01288
0.00982
0.02731
0.03518
0.03019
0.01503
0.01176
0.02686
0.02530
0.01447
0.02403
0.01244
0.02530
0.02530
0.02057
0.02057
0.00992
0.00981
0.00995

Residual
-0.92089
-0.48288
0.39282
0.45074
0.36335
0.28372
-0.37580
-0.43441
0.34919
0.22313
-0.43185
0.00960
-0.51827
0.40407
0.58558
0.40053
0.39487
-0.40605
-0.42382
-0.37253

St Resid
-5.12RX
-2.60R
2.11R
2.44RX
1.99 X
1.54 X
-2.02R
-2.34R
1.89 X
1.21 X
-2.32R
0.05 X
-2.79R
2.19RX
3.17RX
2.16R
2.13R
-2.18R
-2.28R
-2.00R

R denotes an observation with a large standardized residual.


X denotes an observation whose X value gives it large influence.

Lampiran 9 (sambungan)
11/17/2007 12:27:07 AM
Correlations: Log QsLap., Log QsMod
Pearson correlation of Log QsLap. and Log QsMod = 0.905
P-Value = 0.013

Regression Analysis: Log QsLap. versus Log QsMod


The regression equation is
Log QsLap. = 0.230 + 0.382 Log QsMod

6 cases used, 360 cases contain missing values

Predictor
Constant
Log QsMod

Coef
0.2300
0.38162

S = 0.228457

SE Coef
0.1427
0.08974

R-Sq = 81.9%

T
1.61
4.25

P
0.182
0.013

R-Sq(adj) = 77.4%

Analysis of Variance
Source
Regression
Residual Error
Total

DF
1
4
5

SS
0.94394
0.20877
1.15271

MS
0.94394
0.05219

F
18.09

P
0.013