Anda di halaman 1dari 16

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

HUBUNGAN ANTARA DANA ALOKASI UMUM, BELANJA MODAL DAN


KUALITAS PEMBANGUNAN MANUSIA
Fhino Andrea Christy
Alummi Fakultas Ekonomi
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
Priyo Hari Adi
Staff Pengajar Fakultas Ekonomi
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
Email: priyohari@staff.uksw.edu

Abstracts
The objective of the research is to recognize the effects of the General Allocation Fund
towards the Capital Expenditures and the Quality of Human Development (which is
measured by Human Development Index HDI). The sample of the research is 35
regencies/ municipalities in Central Java. The data used is the secondary data of the
Regional Revenues and Expenditures Budget of regional government of regencies/
municipalities in Central Java, which includes Regional Expenditures Actual Report,
General Allocation Fund (DAU) and Human Development Index (HDI) in the fiscal
years of 2004-2006
The result of the research shows that the General Allocation Fund has positive effects on
the Capital Expenditures. This means that the Regional Government is highly dependant
on the disbursement of funds from the central government, especially the General
Allocation Fund for their expenditures, in particular their capital expenditures. These
expenditures are beneficial towards the Human Development Index, which means that the
Regional Capital Expenditures Allocation more greatly supports the development of the
regional welfare.
Key words: General Allocation Fund (DAU), Capital Expenditures, Human Development
Index (HDI)

Latar Belakang
Pelaksanaan otonomi daerah memberikan kewenangan yang begitu luas bagi
daerah. Hal ini di satu sisi merupakan berkat, namun disisi lain sekaligus merupakan beban
yang pada saatnya nanti akan menuntut kesiapan daerah untuk dapat melaksanakannya.
Dengan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat, maka beberapa aspek harus
dipersiapkan, antara lain sumber daya manusia, sumber daya keuangan, sarana dan
prasarana, serta organisasi dan manajemennya (Darumurti et.al.2003)
Kemampuan daerah dalam mengolah sumber daya yang dimiliki dapat dijadikan
sebagai sumber kekayaan bagi daerah. Pengelolaan daerah dapat menciptakan lapangan
kerja baru dan dapat merangsang perkembangan kegiatan ekonomi, dan dapat menambah
The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page1

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

pendapatan bagi daerah. Daerah otonom dapat memiliki pendapatan yang digunakan untuk
membiayai penyelenggaraan urusan rumah tangganya secara efektif dan efisien dengan
memberikan pelayanan dan pembangunan. Tujuan pemberian otonomi daerah tidak lain
adalah untuk lebih meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat,
pengembangan kehidupan berdemokrasi, keadilan, pemerataan, dan pemeliharaan
hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antardaerah (Sidik et al,2002:54). Visi
otonomi dari sudut pandang ekonomi mempunyai tujuan akhir untuk membawa
masyarakat ketingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dari waktu ke waktu (Syaukani
et.al., 2005).
Realitas menunjukkan tidak semua daerah mampu untuk lepas dari pemerintah pusat,
dikarenakan tingkat kebutuhan tiap daerah berbeda. Maka dalam kenyataannya, pemerintah
pusat tidak dapat lepas tangan begitu saja terhadap kebijakan otonominya. Hal ini tidak
hanya terlihat dalam konteks kerangka hubungan politis dan wewenang daerah, namun
juga terlihat dalam hubungan keuangan antara pusat dan daerah (Simanjuntak, 2001).
Pada akhirnya pemerintah akan melakukan transfer dana. Transfer dana ini berupa
dana perimbangan. Dana perimbangan adalah pengeluaran alokatif anggaran pemerintah
pusat untuk pemerintah daerah yang ditujukan untuk keperluan pemerintah daerah
(www.ksap.org). Kuncoro (2007) juga menyebutkan bahwa PAD hanya mampu
membiayai belanja pemerintah daerah paling tinggi sebesar 20%. Kemandirian bagi daerah
belum sepenuhnya terlaksana, karena mereka masih menggantungkan dengan adanya
aliran dana dari pemerintah pusat, khususnya DAU.
Berkaitan dengan hal itu, strategi alokasi belanja daerah memainkan peranan yang
tidak kalah penting guna meningkatkan penerimaan daerah.

Dalam upaya untuk

meningkatkan kontribusi publik terhadap penerimaan daerah, alokasi belanja modal


hendaknya lebih ditingkatkan. Belanja Modal yang dilakukan oleh pemerintah daerah
diantaranya pembangunan dan perbaikan sektor pendidikan, kesehatan, transportasi,
sehingga masyarakat juga menikmati manfaat dari pembangunan daerah. Oleh karena itu,
anggaran belanja daerah akan tidak logis jika proporsi anggarannya lebih banyak untuk
belanja rutin (Abimanyu, 2005). Semakin banyak pendapatan yang dihasilkan oleh daerah,
baik dari DAU maupun pendapatan asli daerah sendiri, daerah akan mampu memenuhi dan
membiayai semua keperluan yang diharapkan oleh masyarakat.
Kebijakan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal didasarkan pada
pertimbangan bahwa daerahlah yang lebih mengetahui kebutuhan dan standar pelayanan
The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page2

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

bagi masyarakat di daerahnya, sehingga pemberian otonomi daerah diharapkan dapat


memacu

peningkatan

kesejahteraan

masyarakat

di

daerah

melalui

peningkatan

pertumbuhan ekonomi. Adanya peningkatan dana desentralisasi yang ditransfer pemerintah


pusat setiap tahunnya diharapkan dapat mendorong peningkatan laju pertumbuhan
ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi daerah dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh
pembangunan manusia. Pada hakekatnya pembangunan adalah pembangunan manusia,
sehingga perlu diprioritaskan alokasi belanja untuk keperluan ini

dalam penyusunan

anggaran (Suyanto, 2009).


Perbaikan prioritas ini akan meningkatkan pula tingkat kesejahteraan masyarakat.
Apabila indeks pembangunan manusianya rendah maka akan menentukan tingkat
kesejahteraan individu yang pada akhirnya juga menentukan tingkat kesejahteraan
masyarakat secara umum.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu cara untuk mengukur
taraf kualitas fisik dan non fisik penduduk . Kualitas fisik tercermin dari angka harapan
hidup; sedangkan kualitas non fisik (intelektualitas) melalui lamanya rata-rata penduduk
bersekolah dan angka melek huruf; dan mempertimbangkan kemampuan ekonomi
masyarakat yang tercermin dari nilai purcashing power parity index (ppp).
Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) terdapat 3 indikator utama, yaitu indikator
kesehatan, tingkat pendidikan dan indikator ekonomi. Pengukuran ini menggunakan tiga
dimensi dasar, yaitu: lamanya hidup, pengetahuan, dan standar hidup yang layak. Ketiga
unsur tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling mempengaruhi satu dengan yang
lainnya. Selain juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti ketersediaan kesempatan
kerja, yang pada gilirannya ditentukan oleh banyak faktor, terutama pertumbuhan
ekonomi, infrastruktur dan kebijakan pemerintah.
Perbaikan pengalokasian dana untuk belanja modal selain belanja rutin ikut
menopang pebaikan kesejahteraan. Menurut UNDP (1996) hubungan antara pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan ekonomi bersifat timbal balik, artinya apabila terdapat
pertumbuhan ekonomi maka akan mempengaruhi pembangunan manusianya.
Penelitian ini ditujukan untuk melihat sampai sejauh mana kebijakan pemerintah
daerah dalam mengalokasikan DAU yang diterima untuk kepentingan belanja modal dan
bagaimana dampak alokasi belanja ini terhadap peningkatan kualitas pembangunan
manusia

The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page3

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

TELAAH TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS


Dana Alokasi Umum
DAU adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan
pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi (UU Nomor 33 Tahun 2004). DAU diberikan
pemerintah pusat untuk membiayai kekurangan dari pemerintah daerah dalam
memanfaatkan PAD-nya. DAU bersifat Block Grant yang berarti penggunaannya
diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.
DAU terdiri dari:
a. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Propinsi
b. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Kabupaten /Kota
DAU dialokasikan untuk daerah provinsi dan kabupaten/kota. Besaran DAU
ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN) Netto yang
ditetapkan dalam APBN. Proporsi DAU untuk daerah provinsi dan untuk daerah
kabupaten/kota ditetapkan sesuai dengan imbangan kewenangan antara provinsi dan
kabupaten/kota.
Disebutkan pula dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP No 55 Tahun 2005 Dana
Perimbangan ini terdapat berbagai macam, yaitu DAU (Dana Alokasi Umum), DAK (Dana
Alokasi Khusus), dan DBH (Dana Bagi Hasil). Dana perimbangan tersebut diperuntukkan
untuk: (i) menjamin terciptanya perimbangan secara vertikal di bidang keuangan antar
tingkat pemerintahan; (ii) menjamin terciptanya perimbangan horizontal di bidang
keuangan antar pemerintah di tingkat yang sama; (iii) dan menjamin terselenggaranya
kegiatan-kegiatan tertentu di daerah yang sejalan dengan kepentingan nasional. Dana yang
biasanya ditransfer dari pemerintah pusat adalah DAU. Menurut Adi (2006) proporsi DAU
terhadap penerimaan daerah masih yang tertinggi dibandingkan dengan penerimaan daerah
yang lain, termasuk PAD (Pendapatan Asli Daerah)
Komponen variabel kebutuhan fiskal (fiscal needs) yang digunakan untuk
pendekatan perhitungan DAU untuk kebutuhan daerah terdiri dari: jumlah penduduk, luas
wilayah, indeks pembangunan manusia (IPM), indeks kemahalan konstruksi (IKK), dan
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Komponen variabel kapasitas fiskal

The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page4

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

(fiscal capacity) yang merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari Pendapatan
Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi Hasil (DBH).
Belanja Modal
Belanja Modal adalah belanja yang dilakukan pemerintah yang menghasilkan
aktiva tetap tertentu (Nordiawan,2006). Belanja modal dimaksudkan untuk mendapatkan
aset tetap pemerintah daerah, yakni peralatan, bangunan, infrastruktur, dan harta tetap
lainnya. Secara teoritis ada tiga cara untuk memperoleh aset tetap tersebut, yakni dengan
membangun sendiri, menukarkan dengan aset tetap lainnya, atau juga dengan membeli.
Namun, untuk kasus di pemerintahan, biasanya cara yang dilakukan adalah membangun
sendiri atau membeli.
Menurut Halim (2001), belanja modal merupakan belanja yang manfaatnya
melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah serta akan
menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan. Munir (2003:36) juga
menyatakan hal senada, bahwa belanja modal memiliki karakteristik spesifik dan
menunjukkan adanya berbagai pertimbangan dalam pengalokasiannya. Pemerolehan aset
tetap juga memiliki konsekuensi pada beban operasional dan pemeliharaan pada masa yang
akan datang (Bland & Nunn, 1992).
Dewi (2006) dan Syaiful (2008) mengutarakan bahwa belanja modal adalah
pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya menambah
aset tetap / inventaris yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi,
termasuk didalamnya adalah pengeluaran untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya
mempertahankan atau menambah masa manfaat, meningkatkan kapasitas dan kualitas aset.
Kualitas Pembangunan Manusia
Hakekat

pembangunan

pada

dasarnya

adalah

pembangunan

manusia

(Suyanto,2009). Pembangunan harus memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas


hidup manusia secara menyeluruh, baik menyangkut pemenuhan kebutuhan fisik maupun
non fisik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau disebut juga dengan Human
Development Index (HDI). IPM adalah indeks komposit untuk mengukur pencapaian
kualitas pembangunan manusia untuk dapat hidup secara lebih berkualitas, baik dari aspek
kesehatan,

pendidikan,

maupun

aspek

ekonomi.

IPM

juga

digunakan

untuk

mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau

The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page5

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi
terhadap kualitas hidup (UNDP, 1996).
IPM mulai digunakan oleh UNDP sejak tahun 1990 untuk mengukur upaya
pencapaian pembangunan manusia suatu negara. IPM merupakan indikator komposit
tunggal yang digunakan untuk mengukur pencapaian pembangunan manusia yang telah
dilakukan di suatu wilayah (UNDP, 2004). Walaupun tidak dapat mengukur semua
dimensi dari pembangunan, namun mampu mengukur dimensi pokok pembangunan
manusia yang dinilai mencerminkan status kemampuan dasar (basic capabilities)
penduduk.
IPM merupakan gabungan dari tiga unsur utama pembangunan manusia, yaitu
lamanya hidup (longevity), pengetahuan (knowledge) yang diukur oleh tingkat melek orang
dewasa (dengan timbangan dua pertiga) serta rata-rata tahun bersekolah (timbangan : satu
pertiga), standar hidup layak (standard of living) yang diukur oleh PDB per kapita setelah
disesuaikan

dengan

paritas

daya

beli

(purchasing

power

parity

/PPP)

(www.cifor.cgiar.org).
Pembangunan manusia yang dimaksudkan dalam IPM tidak sama dengan
pengembangan sumber daya manusia yang biasanya dimaksudkan dalam teori ekonomi.
Sumber daya manusia menunjuk pada manusia sebagai salah satu faktor produksi, yaitu
sebagai tenaga kerja yang produktivitasnya harus ditingkatkan. Dalam hal ini manusia
hanya sebagai alat (input) untuk mencapai tujuan yaitu peningkatan output barang dan jasa.
Sedangkan manusia di dalam IPM lebih diartikan sebagai tujuan pembangunan yang
berorientasi akhirnya pada peningkatan kesejahteraan manusia (Gevisioner, 2004).
Salah satu ukuran IPM adalah besarnya pendapatan nasional yang digunakan untuk
belanja pendidikan (Kuncoro, 2004). Untuk meningkatkan IPM khususnya dalam bidang
pendidikan, caranya dengan memberantas buta aksara. Hal ini akan menjadikan
masyarakat menjadi melek aksara. Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan
manusia terdapat empat hal pokok yang perlu diperhatikan, yaitu produktifitas,
pemerataan, kesinambungan, dan pemberdayaan (UNDP, 1995:12).
Pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal
Peningkatan PAD sebenarnya merupakan akses dari pertumbuhan ekonomi
(Saragih, 2005). Kenaikan PAD dapat berpengaruh terhadap jumlah DAU yang ditransfer
dari pemerintah pusat. Sejak diterapkannya desentralisasi fiskal, pemerintah pusat
The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page6

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

mengharapkan daerah dapat mengelola sumber daya yang dimiliki sehingga tidak hanya
mengandalkan DAU. Dibeberapa daerah peran DAU sangat signifikan karena karena
kebijakan belanja daerah lebih di dominasi oleh jumlah DAU dari pada PAD (Sidik et al,
2002).
Setiap transfer DAU yang diterima daerah akan ditujukan untuk belanja pemerintah
daerah,maka tidak jarang apabila pemerintah daerah menetapkan rencana daerah secara
pesimis dan rencana belanja cenderung optimis supaya transfer DAU yang diterima daerah
lebih besar (http://www.Balipost.co.id).
Dalam penelitiannya Holtz-Eakin et al (1994) menunjukkan adanya keterkaitan
sangat erat antara transfer dari pemerintah pusat dengan belanja modal. Pada studi yang
dilakukan oleh legrenzi & Milas (2001) dalam Abdullah dan Halim (2003) menemukan
bukti empiris bahwasanya dalam jangka panjang transfer berpengaruh terhadap belanja
modal dan pengurangan jumlah transfer dapat menyebabkan penurunan dalam pengeluaran
belanja modal.
Penelitian Abdullah dan Halim (2003), menunjukkan kecenderungan yang sama
dimana daerah lebih mengandalkan penerimaan DAU daripada PAD untuk kepentingan
pembiayaan daerah. Perilaku belanja daerah lebih ditentukan oleh besar-kecilnya DAU
daripada PAD. Prakoso (2004) serta Harianto dan Adi (2007) memberikan fakta empirik
yang sama dimana DAU mempunyai pengaruh positif terhadap belanja modal pemerintah
daerah
Berbagai pemaparan ini menunjukkan bahwa besarnya Dana Alokasi Umum
(DAU) akan memberikan dampak yang berarti bagi peningkatan Belanja Modal. Dengan
demikian hipotesis yang bisa dikembangkan adalah sebagai berikut:
Hipotesis 1 (H1) : Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap Belanja Modal.
Pengaruh Belanja Modal terhadap Kualitas Pembangunan Manusia
Dengan total penerimaan daerah yang didapatkan dari pengelolaan sumber daya
dan juga bantuan dari pemerintah yang berupa DAU, maka alokasi dana untuk
mensejahterakan masyarakat juga akan semakin baik. Pengalokasian dana belanja modal
untuk kesejahteraan khususnya di bidang pendidikan, diharapkan lebih besar untuk
kemajuan daerah dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Belanja modal ni dapat berupa
pembangunan gedung, sarana dan prasarana yang memadai untuk kenyamanan bersekolah.

The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page7

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

Jadi, yang dipikirkan saat ini bukan hanya alokasi tinggi bagi kemajuan bangsa
yang dilihat dari kekayaan, melainkan juga pengalokasian dana yang lebih tinggi bagi
belanja untuk peningkatan kesejahteraan. Saat ini yang terjadi, belanja modal total untuk
gedung, peralatan dan kenderaan bermotor meliputi lebih dari setengah total belanja modal
pemerintah daerah secara keseluruhan (World Bank, 2006).
Hal ini dipengaruhi salah satunya oleh PAD masing-masing daerah, serta berapa
banyak sektor yang harus dibiayai oleh Pemkot / Pemda. Daerah yang PAD-nya tinggi
mungkin akan bisa merealisasikan anggaran minimal 20% dari APBD untuk belanja modal
dalam peningkatan aset untuk masyarakat. Sementara daerah yang PAD nya kecil atau
bahkan tidak ada sumber pendapatan yang bisa diandalkan akan merasa terbebani.
Kemajuan dalam pendidikan juga akan meningkatkan kualitas manusia. Dalam UU No. 20
Th 2003, Bab XIII tentang Pendanaan Pendidikan pasal 46 ayat 1 dinyatakan bahwa
pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat,
pemerintah daerah dan masyarakat.
Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM didasarkan kepada
pemikiran bahwa pendidikan tidak sekedar menyiapkan peserta didik agar mampu masuk
dalam pasaran kerja, namun lebih daripada itu, pendidikan merupakan salah satu upaya
pembangunan watak bangsa (national character building) seperti kejujuran, keadilan,
keikhlasan, kesederhanaan dan keteladanan. Penggunaan indikator kesejahteraan yang
komprehensif dan akomodatif terhadap konsepsi pembangunan yang berkelanjutan sangat
penting. Arah kebijakan peningkatan, perluasan dan pemerataan pendidikan untuk belanja
modal dilaksanakan melalui antara lain; penyediaan fasilitas layanan pendidikan berupa
pembangunan unit sekolah baru, penambahan ruang kelas dan penyediaan fasilitas
Kemajuan pendidikan ini dilihat dari indikator: dapat membaca dan menulis, penduduk
usia sekolah, penduduk masih sekolah, sekolah, angka partisipasi kasar, angka partisipasi
murni, dan tamat sekolah (Badan Pusat Statistik, 2006).
Sedangkan dalam rangka meningkatkan pelayanan dasar kesehatan dan pemerataan
pembangunan di bidang kesehatan, fokus kegiatan akan ditekankan pada: (i) peningkatan
akses, pemerataan, keterjangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan terutama bagi
masyarakat miskin; (ii) peningkatan ketersediaan tenaga medis dan paramedis, terutama
untuk pelayanan kesehatan dasar di daerah terpencil dan tertinggal; (iii) pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular; (iv) penanganan masalah gizi kurang dan gizi buruk
pada ibu hamil, bayi dan anak balita; (v) peningkatan pemanfaatan obat generik esensial,
The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page8

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

pengawasan obat, makanan dan keamanan pangan; serta (vi) revitalisasi program KB
(BPS, 2004).
Mardiasmo (2002) menyatakan bahwa dalam era otonomi, pemerintah daerah harus
semakin mendekatkan diri pada berbagai pelayanan dasar masyarakat. Oleh karena itu,
alokasi belanja modal memegang peranan penting guna peningkatan pelayanan ini.
Sejalan dengan peningkatan pelayanan ini (yang ditunjukkan dengan peningkatan belanja
modal) diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembangunan manusia yang diharapkan.
Berbagai pemaparan ini menunjukkan bahwa alokasi belanja modal akan
memberikan dampak yang berarti bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang
tercermin dari meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dengan demikian,
hipotesis yang bisa dikembangkan adalah sebagai berikut:
Hipotesis 2 (H2) : Belanja Modal berpengaruh terhadap Kualitas Pembangunan Manusia
Model Penelitian
Dari uraian di atas dapat digambarkan model penelitian sebagai berikut:

DANA
ALOKASI
UMUM

H1

BELANJA
MODAL

H2

KUALITAS
PEMBANGUNAN
MANUSIA

Gambar 1 : Model Penelitian

METODE PENELITIAN
Jenis dan Sumber Data
Sumber data di dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data anggaran dan
realisasi pendapatan daerah dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 pada Kabupaten
dan Kota se-Jawa Tengah. Data pendapatan daerah ini berupa DAU, dan pengeluaran
daerah berupa belanja modal. Tahun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari
tahun 2004 sampai tahun 2006. Data penelitan diperoleh dari Badan Pusat Statistik
Provinsi Jawa Tengah secara online (download) dari situs resmi Data Statistik Indonesia
(http://www.datastatistik-indonesia.com).
Penelitian ini mengambil daerah penelitian kabupaten/kota di Jawa Tengah, dengan
data DAU, Belanja Modal, dan Human Development Index (HDI). Jumlah kabupaten dan
The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page9

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

kota yang datanya memenuhi syarat untuk diteliti adalah 29 kabupaten dan 6 kota di Jawa
Tengah.
Teknik Analisis
Dalam penelitian ini digunakan

teknik analisis statistik inferensia dengan

menggunakan regresi sederhana (simple regression) yang dinyatakan dengan formulasi


berikut ini :

Regresi =
1.

Y = a + bx

BM = a + b (DAU)

hipotesis 1

Alokasi belanja modal ditentukan oleh besarnya alokasi dari dana


alokasi umum
2.

IPM = a + b (BM)

hipotesis 2

Besarnya tingkat IPM dapat ditentukan oleh besarnya alokasi


belanja modal

ANALISIS DATA
Statistik Diskriptif Variabel Penelitian
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa selama tahun 2004 sampai dengan 2006,
secara umum pemerintah daerah mendapatkan alokasi DAU yang semakin besar. Hal ini
menunjukkan adanya kebutuhan pembiayaan daerah yang semakin besar pula. Kebutuhan
ini meningkat tajam pada tahun 2006, yaitu sebesar 52% dari tahun sebelumnya. Kenaikan
tajam ini lebih disebabkan karena terjadi perubahan harga yang cukup besar pada tahun
2005, sehingga APBD daerah mengalami banyak penyesuaian. Hal ini bisa dilihat dari
alokasi belanja modal yang mengalami penurunan pada tahun 2005. Perubahan harga yang
cukup besar menyebabkan pemerintah perlu melakukan prioritasi kembali rencana
anggaran belanja modalnya. Untuk mengatasi persoalan ini, maka pada tahun berikutnya,
pemerintah pusat menaikkan pasokan DAU ke pemerintah daerah agar alokasi belanja
modal dapat lebih ditingkatkan (lihat tabel 1). Dari tabel 1 dapat diperoleh gambaran
bahwa alokasi belanja pemerintah sebagian besar digunakan untuk pembiayaan belanja
rutin; alokasi kebutuhan pembiayaan untuk belanja modal selama tahun 2004 2006 ratarata 18,19%, lebih dari 80% pembiayaan daerah digunakan untuk kebutuhan belanja rutin.

The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page10

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

Tabel 1 : Statistik Diskriptif Variabel Penelitian


Variabel

2004

2005

2006

Rerata

272.972.431,70

284.324.136,00

432.013.000,00

Minimum
Maksimum
Deviasi Standar

107.734.000,00

124.117.000,00

189.007.000,00

405.543.790,00

404.869.000,00

661.263.000,00

70.883.297,69

74.620.206,97

118.814.931,00

49.459.895,71

44.148.068,86

90.437.280

13.492.010,00

10.175.440,00

36.437.180,00

93.194.410,00

72.907.380,00

226.107.780,00

20.255.130,83

18.975.887,66

42.070.207,00

68,40
61.30
73,60
2,94

69,66
63,40
75,80
2,68

70,29
64,30
76,00
2,50

DANA ALOKASI UMUM (dalam ribuan)

BELANJA MODAL (dalam ribuan)


Rerata
Minimum
Maksimum
Deviasi Standar
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

Rerata
Minimum
Maksimum
Deviasi Standar
Sumber : Data sekunder (diolah)

Indeks

Pembangunan

Manusia

(IPM)

dapat

digunakan

untuk

mengukur

kesejahteraan. Apabila indeks pembangunan manusianya rendah maka akan menentukan


tingkat kesejahteraan individu yang pada akhirnya juga menentukan tingkat kesejahteraan
masyarakat. Meskipun terjadi penurunan belanja modal pada tahun 2005, namun hal ini
tidak memberikan dampak terhadap penurunan IPM.

Realitas menunjukkan adanya

peningkatan IPM selama tahun 2004 2006. Bisa jadi hal ini mengindikasikan bahwa
sepanjang pemerintah tetap mempertahankan kualitas layanan publiknya, maka hal ini
dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat (yang dalam hal ini
ditunjukkan dengan naiknya nilai IPM)
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah data yang diuji terdistribusi normal
atau tidak. Hasil pengujian ditunjukkan dalam tabel 2.
Tabel 2 : Hasil Pengujian Normalitas Data
Variabel

Signifikansi

Keterangan

Dana Alokasi Umum

0,487

Normal

Belanja Modal

0,000

Tidak Normal

Indeks Pembangunan Manusia

0,777

Normal

Sumber : Data BPS tahun 2001-2006 (data diolah)

The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page11

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

Pengujian normalitas data menunjukkan bahwa data DAU dan

IPM terbukti

berdistribusi normal (nilai signifikansi > 0,05). Belanja modal tidak berdistribusi normal,
namun demikian setelah dilakukan transformasi data dan dilakukan pengujian kembali,
dana belanja modal ini telah terdistribusi secara normal.
Pengujian Hipotesis dan Interpretasi Hasil
Hipotesis 1 : Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap Belanja Modal
Analisis dengan menggunakan regresi sederhana menunjukkan nilai signifikasi
yang sangat kecil yaitu sebesar 0,002, dengan nilai t sebesar 3,23. Model regresi ini
memberikan fakta empirik bahwa besaran DAU yang diterima pemerintah kabupaten/kota
dapat digunakan untuk mempredikasi besarnya belanja modal. Hal ini berarti hipotesis 1
yang dikembangkan yang menyatakan bahwa dana alokasi umum mempunyai pengaruh
positif terhadap belanja modal dinyatakan diterima.
Tabel 3 : Regresi Sederhana Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal
Model Summary

Model
1

R
R Square
.304a
.092

Adjusted
R Square
.083

Std. Error of
the Estimate
.49403

a. Predictors: (Constant), DAU

Coefficientsa

Model
1

(Constant)
DAU

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
17.107
.193
2.149E-09
.000

Standardized
Coefficients
Beta
.304

t
88.827
3.233

Sig.
.000
.002

a. Dependent Variable: LNBM

Nilai adjusted R2 adalah sebesar 0,083, dalam hal ini dapat diartikan 8,3% belanja
modal dapat dijelaskan oleh DAU dan selebihnya dijelaskan oleh variabel lain. Hasil
pengujian ini konsisten temuan Prakoso (2004) serta Harianto dan Adi (2007) yang
menunjukkan bahwa dana alokasi umum berpengaruh secara positif terhadap belanja
modal. Nilai signifikasi yang sangat kecil (0,002) mengindikasikan ketergantungan
pemerintah daerah yang sangat tinggi terhadap DAU untuk kebutuhan pembelanjaan
daerah. Hal ini juga mendukung temuan Abdullah dan Halim (2003) yang menunjukkan
bahwa perilaku belanja daerah lebih banyak ditentukan oleh DAU daripada oleh PAD
The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page12

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

Hipotesis 2: Belanja Modal terhadap Kualitas Pembangunan Manusia


Hasil regresi sederhana diperoleh nilai signifikansi yang sangat kecil (0,000)
berkaitan dengan pengaruh belanja modal terhadap IPM. Hal ini menunjukkan bahwa
model regresi ini relatif tepat untuk memprediksi besarnya IPM.

Dengan demikian

hipotesis 2 yang menyatakan bahwa belanja modal berpengaruh terhadap kualitas


pembangunan manusia dapat diterima (terbukti).
Nilai adjusted R square model regresi ini cukup besar, yaitu 0,435 atau 43,6%. Hal
ini berarti IPM dapat dijelaskan oleh belanja modal sebesar 43,6%, selebihnya dijelaskan
oleh faktor/variabel lainnya.
Tabel 4 : Regresi Sederhana Belanja Modal terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Model Summary

Model
1

R
R Square
.672a
.452

Adjusted
R Square
.436

Std. Error of
the Estimate
1.88977

a. Predictors: (Constant), LN_BM

Coefficientsa

Model
1

(Constant)
LN

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
150.055
15.276
-4.487
.860

Standardized
Coefficients
Beta
-.672

t
9.823
-5.220

Sig.
.000
.000

a. Dependent Variable: IPM

Belanja Modal untuk kesejahteraan masyarakat tidak bisa lepas dari kebijakan
pemerintahnya. Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM didasarkan
kepada pemikiran bahwa pendidikan tidak sekedar menyiapkan peserta didik agar mampu
masuk dalam pasaran kerja, namun lebih daripada itu, pendidikan merupakan salah satu
upaya pembangunan watak bangsa (national character building) seperti kejujuran,
keadilan, keikhlasan, kesederhanaan dan keteladanan. Sehingga pendidikan merupakan
landasan untuk menjadikan masyarakat menjadi lebih sejahtera.
Hasil penelitian ini sejalan dengan argumentasi Mardiasmo (2002) yang menyatakan
bahwa pemerintah daerah perlu untuk lebih mendekatkan diri pada berbagai pelayanan
dasar untuk masyarakat. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah ini diharapkan dapat
memberikan dampak yang berarti bagi peningkatan kualitas pembangunan manusia (yang
dalam penelitian ini diukur dengan IPM)
The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page13

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

IMPLIKASI DAN SARAN PENELITIAN MENDATANG


Pengujian tentang pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) dan Belanja Modal (BM)
konsisten dengan penelitian sebelumnya. Besarnya Belanja Modal pemerintah daerah
selama ini sangat ditentukan oleh faktor Dana Alokasi Umum. Hasil ini mendukung
penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Abdullah dan Halim (2003), dan hal ini juga
dikemukakan oleh Adi dan Harianto (2007) yang menyatakan bahwa DAU berpengaruh
signifikan terhadap BM. Selain itu Prakoso (2004) juga mengutarakan hal serupa bahwa
secara empiris besarnya jumlah BM dipengaruhi oleh DAU yang diterima pemerintah
pusat.
Belanja Modal berpengaruh terhadap IPM atau Human Development Index (HDI).
Hal ini menunjukkan besarnya alokasi belanja modal akan menentukan pengalokasian dana
bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dilihat dari tingkat IPM.
Penelitian ini hanya melihat tingkat kesejahteraan dari sisi pendidikan, kesehatan,
maupun taraf hidup untuk melihat kualitas pembangunan manusia. Penggunaan indikator
yang berkaitan dengan kualitas pembangunan manusia dapat dilakukan pada penelitian
selanjutnya agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif bagaimana pengaruh belanja
modal terhadap kualitas pembangunan manusia.
Selain itu, penelitian ini tidak menggunakan alokasi belanja modal secara terperinci
yang mempunyai relevansi langsung dengan indikator kualitas pembangunan manusia.
Penggunaan belanja modal secara terperinci (menurut sektor terkait) dapat dilakukan pada
penelitian mendatang agar diperoleh gambaran bagaimana pengaruh langsung masingmasing komponen belanja modal terkait dengan kualitas pembangunan manusia.

The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page14

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Sukriy dan Abdul Halim.2003. Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) dan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Belanja Pemerintah Daerah Studi Kasus
Kabupaten/Kota di Jawa dan Bali. Simposium Nasional Akuntansi IV. Yogyakarta.
Abimanyu, Anggito. 2005. Format Anggaran Terpadu Menghilangkan Tumpang Tindih.
Bapekki Depkeu
Adi, Priyo Hari. 2006. Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Belanja
Pembangunan dan Pendapatan Asli Daerah (Studi pada Kabupaten dan Kota se
Jawa-Bali). Simposium Nasional Akuntansi IX. Padang.
Bland, Robert L. and Samuel Nunn. 1992. The Impact of Capital Spending on Municipal
Operating Budgets. Public Budgeting & Finance. Vol. 12, No. 2: 32-47.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Pekalongan. 2005. Indeks Pembangunan Manusia
Kabupaten Pekalongan. Pekalongan.
Darumurti, Khrisna D.Umbu Rauta dan Daniel D. Kameo. 2003. Otonomi Daerah
Perkembangan pemikiran, Pengaturan dan Pelaksanaan, PT. Citra Aditya Bakti,
Jakarta.
Dewi, Adha. 2006. Kajian Penerapan Akuntansi Biaya pada Anggaran Belanja Daerah
Kota Singkawang. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta.
Halim, Abdul. 2001.Bungai Rampai Manajemen Keuangan Daerah. UPP-AMP YKPN.
Yogyakarta
Harianto, David dan Priyo Hari Adi. 2007. Hubungan Antara Dana Alokasi Umum,
Pendapatan Asli Daerah, Belanja Modal, dan Pendapatan Perkapita. Simposium
Nasional Akuntansi X, Makasar.
Holtz-Eakin, Doglas, Harvey S, & Schuyley Tilly. 1994. Intertempora Analysis of State An
Local Government Spending: Theory and Tests. Journal of Urban Economics 35:
159-174
Http://www.datastatistik-indonesia.com
Kuncoro, Haryo. 2007. Fenomena Flypaper Effect pada Kinerja Keuangan Pemerintah
Daerah Kota dan Kabupaten di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi X.
The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page15

HubunganAntaraDAU,BelanjaModaldanKualitasPembangunanManusia

Kuncoro, Mudrajat. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi, Perekonomian,


Strategi dan Peluang. Penerbit Erlangga
Mardiasmo. 2002. Otonomi Daerah Sebagai Upaya Memperkokoh Basis Perekonomian
Daerah. Makalah. Disampaikan dalam seminar pendalaman ekonomi rakyat.
Nordiawan, Deddi. 2006. Akuntansi Sektor Publik. Salemba Empat. Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 tentang Dana Perimbangan
Prakosa, Kesit Bambang. 2004. Analisa Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) dan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Prediksi Belanja Daerah (Studi Empirik
di Propinsi Jawa Tengah dan DIY. JAAI Vol. 8 No. 2, 101-118
Saragih, Juli Panglima. 2005. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam
Otonomi. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Sidik, Mahfud et al, 2002, Dana Alokasi Umum-Konsep, Hambatan, dan Prospek di Era
Otonomi Daerah, Buku Kompas, Jakarta.
Simanjuntak, Robert. 2001. Kebijakan Pungutan Daerah di Era Otonomi, Domestic Trade,
Decentralization and Globalization: A One Day Conference. LPEM-UI. Jakarta.
Syaiful. 2008. Pengertian dan Perlakuan Akuntansi Belanja Barang dan Belanja Modal
dalam Kaidah Akuntansi Pemerintahan. Jakarta.
Syaukani, H.R, Affan Gaffar, Ryass Rasyid. 2005. Otonomi Daerah dalam Negara
KesatuanRepublik Indonesi. Pustaka Pelajar. Cetakan ke IV. Yogyakarta.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
____________ Nomor 34 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
UNDP. 1996. Human Development Report. Oxford University Press. New York
_____. 2004. Human Development Report. United Nations Development Programme. New
York
World Bank. 2006. World Development Report.

The3rdNationalConferenceUKWMS
Surabaya,October10th2009

Page16