Anda di halaman 1dari 7

SIMULASI PELEPASAN BEBAN DENGAN MENGGUNAKAN RELE

FREKUENSI PADA SISTEM TENAGA LISTRIK CNOOC SES LTD.


Ari Nugraheni1, Rudy Setiabudy2
1. Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok, Indonesia, 16424
2. Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok, Indonesia, 16424
ari.nugraheni@ymail.com
rudy@eng.ui.ac.id

Abstrak
Skripsi ini membahas tentang skema pelepasan beban menggunakan rele frekuensi pada sistem tenaga listrik
CNOOC SES Ltd. yang mempunyai pembangkit listrik tenaga gas. Pelepasan beban dilakukan sebagai usaha
memperbaiki kestabilan sistem yang terganggu karena beban lebih. Salah satu komponen stabilitas sistem yang
mampu menjadi referensi pelepasan beban adalah frekuensi. Pelepasan beban diharapkan dapat memulihkan
frekuensi dengan cepat dan jumlah beban yang dilepaskan seminimal mungkin. Oleh sebab itu diperlukan
beberapa pengaturan pada rele frekuensi seperti waktu tunda rele, frekuensi kerja dan besar beban dilepaskan.
Dengan menggunakan persamaan swing generator pada beberapa perhitungan, didapatkan nilai frekuensi kerja
untuk rele frekuensi yang sesuai dengan sistem tenaga listrik CNOOC SES Ltd. dan nilai beban lepas yang
paling efektif pada setiap tahap pelepasan beban. Untuk membuktikan keefektifan dari skema pelepasan beban,
dibuatlah beberapa simulasi generator lepas yang menghasilkan ketidakseimbangan daya aktif antara daya yang
dibangkitkan dan daya yang dibutuhkan beban dengan menggunakan ETAP 7.0. Dari simulasi, frekuensi sistem
dapat pulih sekitar 3-9 detik setelah gangguan tergantung pada besar kelebihan beban pada sistem tenaga listrik.

Kata kunci: pelepasan beban, frekuensi, pembangkit listrik tenaga gas, rele frekuensi

1. Pendahuluan
Pelepasan beban merupakan fenomena sistem
tenaga listrik yang mengizinkan beberapa beban
lepas dalam rangka memelihara kestabilan sistem
tenaga listrik. Pelepasan beban dapat terjadi akibat
penurunan
frekuensi
karena
adanya
ketidakseimbangan antara daya aktif yang
dibangkitkan generator dan konsumsi beban.
Penurunan frekuensi tersebut apabila tidak cepat
diatasi dapat menyebabkan pemadaman total yang
dapat menimbulkan kerugian bagi sistem tenaga
listrik, dalam hal ini adalah hilangnya produksi
suatu perusahaan minyak, dan memberikan efek
negatif terhadap generator yang masih aktif
bekerja. Efek negatif tersebut antara lain adalah
pemanasan pada generator, vibrasi rotor dan
terjadinya eksitasi lebih.
Pelepasan beban dapat dilakukan secara manual
maupun otomatis, hal ini bergantung kepada besar
penurunan frekuensi yang terjadi pada sistem
tenaga listrik. Semakin besar kelebihan beban yang
terjadi maka semakin besar pula penurunan
frekuensi yang terjadi. Untuk menghindari hal-hal
yang tidak diinginkan maka pelepasan beban pun
semakin cepat dilakukan.

Setiap pembangkit listrik memiliki karakteristik


rating frekuensi kerja yang berbeda. Hal ini juga
dipengaruhi oleh besar frekuensi nominalnya. Oleh
sebab itu, untuk mendapatkan nilai frekuensi kerja
dan waktu tunda rele frekuensi yang sesuai dan
tidak membahayakan generator diperlukan suatu
standar frekuensi generator yang sesuai dengan
jenis penggerak utamanya.
Dengan menggunakan skema pelepasan beban
menggunakan rele frekuensi diharapkan penurunan
frekuensi pada sistem tenaga listrik CNOOC SES
Ltd. cepat teratasi tanpa menimbulkan kerugian
yang signifikan terhadap perusahaan.
2. Perancangan Skema Pelepasan Beban
Pelepasan beban dapat dilakukan apabila
memenuhi beberapa syarat, syarat tersebut harus
dipenuhi agar tidak menimbulkan permasalahan
bagi sistem tenaga listrik setelah pelepasan beban.
Syarat tersebut antara lain:
a. Pelepasan beban dilakukan bertahap
b. Beban yang dilepaskan seminimal mungkin
c. Beban yang dipilih harus memenuhi kriteria
tertentu yang tidak merugikan perusahaan
apabila dilepas

d. Pelepasan beban dilakukan tepat guna yaitu


pada saat benar-benar terjadi penurunan
frekuensi akibat beban lebih.
Dengan mengacu kepada syarat pelepasan beban
tersebut dapat dirancang suatu skema pelepasan
beban bagi sistem tenaga listrik CNOOC SES Ltd.
Untuk mendapatkan skema pelepasan beban akibat
frekuensi rendah yang sesuai bagi sistem tenaga
listrik CNOOC SES Ltd. dibutuhkan pemilihan
frekuensi kerja under frequency relay dan beban
yang dilepaskan yang tepat pada setiap tahapan
pelepasan beban. Untuk mendapatkan nilai-nilai
tersebut, beberapa hal yang harus dilakukan adalah:
a. Membuat kombinasi generator lepas untuk
memprediksi besarnya beban lebih yang
mungkin terjadi pada sistem tenaga listrik.
b. Menghitung penurunan frekuensi yang
mungkin terjadi dari setiap kombinasi
generator lepas dengan menggunakan
persamaan swing generator.
c. Memperkirakan nilai frekuensi saat
pemutus tenaga bekerja dimana under
frequency relay pertama kali bekerja pada
saat frekuensi sistem 59,5 Hz dan waktu
kerja rele 50 ms serta waktu kerja pemutus
tenaga 100 ms.
d. Menghitung
kecepatan
pemulihan
frekuensi yang diharapkan setelah
pelepasan beban dilakukan dan beban
yang harus dilepaskan untuk mendapatkan
kecepatan pemulihan tersebut.
e. Memilih beban yang harus dilepas
berdasarkan kriteria tertentu.
2.1 Kombinasi Generator Lepas
Pada simulasi pelepasan beban dengan
menggunakan perangkat lunak ETAP 7.0 dapat
terjadi apabila terdapat penurunan frekuensi sistem.
Penurunan frekuensi tersebut didapatkan apabila
terjadi ketidakseimbangan suplai daya aktif dan
kebutuhan
beban.
Untuk
mendapatkan
ketidakseimbangan daya tersebut maka dibuatlah
skenario generator lepas. CNOOC SES Ltd.
memiliki 9 unit generator dengan penggerak utama
adalah tenaga gas. Masing-masing generator
memiliki spesifikasi yang berbeda. Karena
perbedaan tersebut maka dibuat beberapa
kombinasi
generator
lepas
yang
dapat
menggambarkan kemungkinan beban lebih yang
terjadi pada sistem tenaga listrik. Berikut ini adalah
spesifikasi generator CNOOC SES Ltd.:
Tabel 2.1 Spesifikasi Generator CNOOC SES Ltd

Generator
G101A
G101B
G101C
G4

MVA
25
25
25
5,938

pf
0,8
0,8
0,8
0,8

Governor
Isochronous
Isochronous
Isochronous
Droop

MW
14,82
14,82
14,82
3,5

Tabel 2.1 Spesifikasi Generator CNOOC SES Ltd. (lanjutan)

Generator
G9
Gen14
GEN 21
SFX GTG1
SFX GTG2

MVA
5,938
5,338
5,338
25
25

pf
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8

Governor
Droop
Droop
Droop
Droop
Droop

MW
3,5
3
3
19
19

Dari 9 unit generator tersebut dibuat beberapa


kombinasi generator lepas untuk mengetahui
kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi
akibat beban lebih seperti berikut:

Gambar 2.1 Kombinasi Generator Lepas Bagian Pertama

Gambar 2.2 Kombinasi Generator Lepas Bagian Kedua

Gambar 2.4 Standar IEEE C37-106 2003

Gambar 2.3 Kombinasi Generator Lepas Bagian Ketiga

2.2 Laju Penurunan Frekuensi


Langkah kedua yang harus dilakukan untuk
mendapatkan nilai frekuensi kerja rele dan besar
beban efektif yang harus dilepaskan pada setiap
tahap pelepasan beban setelah membuat kombinasi
generator lepas adalah menghitung laju penurunan
frekuensi setiap kombinasi generator lepas. Untuk
dapat menghitung besar laju penurunan frekuensi
digunakan persamaan swing generator [4].

=
Dimana,

laju

penurunan

(1)
frekuensi,

=kelebihan beban, G = rata-rata MVA generator


(16,4 MVA), H = rata-rata konstanta inersia
generator, = frekuensi nominal.
Nilai rata-rata konstanta inersia dapat dihitung
dengan menggunakan rumus di bawah ini:

(2)

Dari perhitungan tersebut didapatkan nilai rata-rata


konstanta inersia generator 6,55 MJ/MVA.
2.3 Frekuensi Pemutus Tenaga Bekerja
Untuk mendapatkan nilai beban yang
dilepaskan sesuai dengan kebutuhan sistem tenaga
listrik, maka frekuensi yang digunakan sebagai
acuan perhitungan kebutuhan beban yang
dilepaskan bukan frekuensi saat rele frekuensi
bekerja melainkan frekuensi saat pemutus tenaga
benar-benar bekerja. Pada tahap ini diasumsikan
rele frekuensi pertama kali bekerja saat terjadi
penurunan frekuensi pada saat 59,5 Hz dan tidak
memiliki waktu tunda. Hal ini sesuai dengan
standar frekuensi abnormal yang diijinkan bagi
pembangkit listrik tenaga gas yaitu IEEE C37-106
2003 sebagai berikut [6]:

Sesuai dengan standar tersebut, generator


turbin gas boleh bekerja secara terus-menerus
ketika frekuensi kerja memiliki nilai 59,5 60,5 Hz
dengan frekuensi nominal 60 Hz. Karena usia
generator yang relatif tua, maka pada skema
pelepasan beban ini dipilih frekuensi 59,5 Hz
sebagai frekuensi kerja rele tahap pertama.
Untuk mendapatkan nilai frekuensi saat
pemutus tenaga benar-benar bekerja digunakan
rumus sebagai berikut:
=

(3)

Dimana
= waktu yang digunakan sistem sesaat
sebelum frekuensi turun hingga pemutus tenaga
benar-benar bekerja. Waktu trip dipengaruhi oleh 3
waktu, yaitu:
a. waktu pick-up
b. waktu rele
c. waktu pemutus tenaga
Waktu pick-up adalah waktu yang digunakan
sistem sesaat sebelum frekuensi turun hingga rele
pertama kali bekerja (59,5 Hz). Sedangkan waktu
rele adalah waktu yang digunakan rele untuk
menghantarkan sinyal penurunan frekuensi ke
pemutus tenaga (50 ms) dan waktu pemutus tenaga
adalah waktu yang digunakan pemutus tenaga
untuk membuka kontaknya untuk melepas beban
(100 ms).
Dengan menggunakan rumus (1) dan (3)
didapatkan nilai laju penurunan frekuensi serta
frekuensi saat pemutus tenaga benar-benar bekerja
pada setiap kombinasi sebagai berikut:

Gambar 2.5 Laju Penurunan Frekuensi dan Frekuensi Lepas

dilepaskan pada setiap tahap dengan menggunakan


persamaan swing generator sebagai berikut:
=

Gambar 2.5 Laju Penurunan Frekuensi dan Frekuensi Lepas


(Lanjutan)

Dari hasil perhitungan frekuensi lepas dari


beberapa kombinasi generator lepas, pada skema
pelepasan beban ini perhitungan dibatasi hingga
frekuensi lepas 58,22 Hz, mengingat menurut
standar IEEE C37-106 2003 pada saat frekuensi
58,22 Hz generator boleh bekerja selama 10 menit.
Kolom yang berwarna kuning merupakan nilai
frekuensi lepas yang dipilih sebagai acuan
pemilihan frekuensi kerja rele tahap kedua dan
seterusnya. Nilai frekuensi kerja rele tahap kedua
dan seterusnya yang dipilih adalah nilai yang
sedikit lebih kecil daripada perkiraan frekuensi
lepas (kolom kuning). Berikut ini adalah tahaptahap pelepasan beban serta frekuensi kerja rele:
Tabel 2.2 Tahap Pelepasan Beban
Tahap keFrekuensi (Hz) Frekuensi Lepas
1
59,5
59,31
2
59,3
59,17
3
59,15
59,02
4
59
58,77
5
58,75
58,52
6
58,5
58,37
7
58,35
58,22
2.4 Laju
Pemulihan
Frekuensi
dan
Perhitungan Beban yang Dilepaskan
Untuk mendapatkan nilai beban efektif yang
dilepaskan, sebelumnya harus dihitung laju
pemulihan frekuensi yang diharapkan ketika terjadi
pelepasan beban. Pada skema pelepasan beban ini
diharapkan frekuensi pulih dalam kurun waktu 5
detik setelah pelepasan beban dan frekuensi akhir
setelah pemulihan adalah frekuensi nominal (60
Hz). Laju pemulihan frekuensi dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:

(5)

Dimana,
= daya aktif yang dibangkitkan
generator (MW),
= daya atif yang dibutuhkan
beban (MW),
= beban dilepaskan
(MW).
Didapatkan nilai laju pemulihan frekuensi dan
beban yang dilepaskan pada setiap tahap pelepasan
beban sebagai berikut:
Tabel 2.3 Laju Pemulihan dan Beban Lepas
Tahap ke- Frekuensi
Laju
Beban
Lepas
Pemulihan
yang
Frekuensi Dilepaskan
1
59,31
0,137
4,99
2
59,17
0,167
8,61
3
59,02
0,196
12,22
4
58,77
0,246
18,41
5
58,52
0,297
24,6
6
58,37
0,327
28,21
7
58,22
0,356
31,82
2.5 Pemilihan Beban yang Dilepaskan
Pada suatu sistem tenaga listrik milik
perusahaan minyak dan gas, pelepasan beban
adalah fenomena sistem tenaga listrik yang
dihindari. Hal ini berkaitan dengan kerugian
ekonomis yang ditimbulkan oleh hilangnya
sejumlah produksi minyak dan gas akibat pelepasan
beberapa anjungan. Oleh sebab itu, untuk
membatasi besarnya kerugian diperlukan pemilihan
beban berdasarkan beberapa kriteria, yaitu:
a. Sumber air
b. Anjungan yang bermasalah pasir
c. Anjungan monopod
d. kW/BOPD
Setelah melakukan beberapa percobaan
kombinasi generator lepas dengan menggunakan
perangkat lunak ETAP dan memilih beban sesuai
dengan kriteria maka didapatkan anjungan yang
dilepaskan dan waktu tunda pada setiap tahap
pelepasan sebagai berikut:

(4)

Dimana = laju pemulihan frekuensi, f=frekuensi


saat pemutus tenaga benar-benar bekerja, t = waktu
pemulihan yang diharapkan (5 s). Perhitungan
tersebut diterapkan pada setiap tahap pelepasan
beban.
Dari perhitungan laju pemulihan frekuensi
tersebut dapat diperkirakan nilai beban yang
Gambar 2.6 Hasil Relay Setting

Berikut ini adalah beberapa simulasi yang telah


dilakukan:
1. G4 dan G9 lepas
Pada kondisi 2 unit generator ini lepas maka
sistem kehilangan suplai daya aktif sekitar 7
MW. Hal ini tidak mengaktifkan skema
pelepasan beban karena frekuensi dapat pulih
kurang dari 2,5 detik (waktu tunda yang
diijinkan skema pelepasan beban).

Gambar 2.6 Hasil Relay Setting (Lanjutan)

Beban yang dipilih untuk dilepas merupakan


kombinasi beban pada unit bisnis Selatan Tengah
dan unit bisnis Utara. Hal ini disebabkan oleh
adanya kabel C-85 yang memiliki sifat mampu
mengalirkan daya maksimal 13 MW dari Selatan
Tengah ke Utara. Namun, kabel C-85 tidak
mengijinkan adanya aliran daya dari Utara ke
Selatan Tengah. Hal ini disebabkan oleh tingkat
produktivitas yang relatif tinggi pada unit bisnis
Utara dan dikhawatirkan bila terjadi aliran daya
dari Utara ke Selatan Tengah terjadi pemadaman
total pada sistem tenaga listrik.
3. Simulasi
Simulasi pelepasan beban akibat frekuensi
rendah dapat dilakukan pada perangkat lunak
ETAP 7.0 (Electrical Transient Analyzer Program).
Fitur perangkat lunak yang dapat mensimulasikan
kondisi transien adalah transient stability analysis.
Untuk dapat mengamati perubahan perilaku sistem
tenaga listrik saat sebelum gangguan dan
penurunan frekuensi hingga terjadi pelepasan
beban dan frekuensi pulih, simulasi dilakukan
selama 60 detik. Seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, untuk dapat melakukan suatu
pelepasan beban maka sistem tenaga listrik harus
mengalami penurunan frekuensi. Pada simulasi ini
untuk mendapatkan suatu penurunan frekuensi
sistem tenaga listrik diberikan gangguan generator
lepas dalam berbagai kombinasi. Dengan
melakukan
beberapa
percobaan
kombinasi
generator lepas, dapat diketahui seberapa andal
skema pelepasan beban yang telah dirancang.
Dari simulasi yang dilakukan beberapa
paramter yang diamati adalah sebagai berikut:
a. Perubahan daya aktif setiap generator
yang masih bekerja
b. Perubahan frekuensi sistem tenaga listrik
unit bisnis
c. Besarnya beban yang dilepaskan untuk
memulihkan frekuensi
d. Durasi waktu pemulihan setelah
gangguan terjadi

Gambar 3.1 Frekuensi saat G4 dan G9 lepas

Gambar 3.2 Suplai Daya Aktif G101A, G101B, G101C, SFX


GTG1 dan SFX GTG2

Gambar 3.3 Suplai Daya Aktif Gen14 dan Gen21

Dari gambar 3.2 terlihat bahwa generator yang


bekerja dengan pengaturan governor isochronous
menghasilkan daya aktif yang meningkat
mengambil alih beban yang harus ditanggung oleh
2 unit generator yang lepas dari sistem. Sedangkan
generator dengan pengaturan governor droop
memiliki suplai daya aktif yang konstan pada nilai
tertentu. Terjadinya lonjakan pada grafik tersebut
menunjukkan adanya respon terhadap gangguan.
Pada gambar 3.3 terlihat bahwa Gen 14 dan Gen 21
mengalami peningkatan suplai daya aktif yang
seharusnya tidak terjadi pada generator droop. Hal
ini disebabkan oleh nilai konstanta inersia

generator yang jauh lebih kecil dibandingkan


dengan generator yang masih aktif lainnya.
Sehingga generator tersebut cenderung lebih
meudah mengalami ketidakstabilan.
2. G4, G9 dan Gen 14 Lepas
Ketika 3 unit generator tersebut lepas, sistem
tenaga listrik mengalami kehilangan suplai daya
aktif sebesar 10 MW. Tanpa melakukan suatu
pelepasan beban, frekuensi sistem mampu pulih
sekitar 10 detik. Hal ini bertentangan dengan skema
pelepasan beban yang hanya mengijinkan frekuensi
sistem di bawah nilai 59,5 Hz selama 2,5 detik.
Akibatnya, terjadi pelepasan beban hingga 2 tahap
yaitu melepas beban sebesar 10,5 MW dan
frekuensi pulih 4,65 detik setelah gangguan.
Untuk mengatasi hal tersebut beban-beban yang
telah dilepaskan dapat dihubungkan kembali ke
sistem tenaga listrik untuk mengurangi kerugian
peusahaan. Hal ini masih memungkinkan karena
cadangan berputar yang dimiliki oleh generator
isohcronous masih memenuhi kebutuhan beban.

3. G101A Lepas
Ketika generator G101A lepas maka sistem
tenaga listrik kehilangan suplai daya 14,82 MW.
Hal ini mengakibatkan aktifnya pemutus tenaga
pada kabel C-85 karena terjadi aliran daya dari
Utara ke Selatan Tengah. Sistem tenaga listrik
mengalami islanding dan terbagi menjadi South
Central Business Unit (SCBU) dan North Business
Unit (NBU). Pada kondisi ini skema pelepasan
beban yang terjadi pada SCBU hingga 2 tahap yaitu
melepaskan 4,664 MW dan pada NBU pelepasan
beban terjadi hingga 3 tahap yaitu 6,9 MW. Setelah
melepaskan beban frekuensi dapat pulih 3,76 detik
setelah gangguan di SCBU dan 7,82 detik setelah
gangguan di NBU.

Gambar 3.7 Frekuensi Sistem saat G101A Lepas

Gambar 3.4 Frekuensi Sistem saat G4, G9, Gen 14 Lepas dan
Setelah Beban Lepas yang Dihubungkan Kembali

Gambar 3.8 Suplai Daya Aktif G101B, G101C, SFX GTG1 dan
SFX GTG2 saat G101A Lepas

Gambar 3.5 Suplai Daya Aktif G101A, G101B, G101C, SFX


GTG1, SFX GTG2 saat G4, G9, Gen 14 Lepas dan Setelah
Beban Lepas yang Dihubungkan Kembali

Gambar 3.8 Suplai Daya Aktif G4, G9, Gen14 dan Gen21 saat
G101A Lepas

Gambar 3.6 Suplai Daya Aktif Gen21 saat G4, G9, Gen 14
Lepas dan Setelah Beban Lepas yang Dihubungkan Kembali

Pada skenario ini juga terlihat bahwa ada


peningkatan suplai daya aktif pada G4 dan G9. Hal
ini disebabkan oleh konstanta inersia yang dimiliki
kedua generator tersebut jauh lebih kecil
dibandingkan dengan generator lain di pulau
SCBU. Sehingga generator tersebut cenderung
mengalami ketidakstabilan.

4. Kesimpulan
Setelah melakukan beberapa perhitungan dan
simulasi dengan menggunakan perangkat lunak
ETAP 7.0 didapatkan beberapa kesimpulan
mengenai skema pelepasan beban akibat frekuensi
rendah dengan menggunakan rele frekuensi pada
sistem tenaga listrik CNOOC SES Ltd sebagai
berikut:
1. Skema pelepasan beban akibat penurunan
frekuensi pada sistem tenaga listrik CNOOC
Ltd. sebagai berikut:
Tabel 4.1 Skema Pelepasan Beban CNOOC SES Ltd

2. Penggunaan rele frekuensi sebagai divais untuk


mendeteksi adanya penurunan frekuensi akibat
beban lebih karena generator lepas pada suatu
sistem tenaga listrik memiliki kemampuan yang
cukup baik dalam rangka upaya pemulihan
frekuensi. Namun terdapat beberapa hal yang
perlu diperhatikan yaitu penggunaan persamaan
swing generator untuk mendapatkan frekuensi
kerja rele yang tepat dan besar beban yang
dilepaskan sesuai dengan kebutuhan sistem
tersebut serta pemilihan waktu tundarele yang
dapat mempengaruhi pengaktifan skema
pelepasan beban.
3. Pengaruh pemilihan waktu tunda rele terlihat
jelas pada simulasi, yaituketika terjadi
kehilangan suplai daya aktif sekitar 6-8 MW,
waktu tunda rele yang dipilih membuat tidak
terjadi pelepasan beban karena frekuensi dapat
pulih dengan sendirinya selama kurang lebih 2
detik. Sedangkan ketika sistem kehilangan daya
sekitar 10 MW frekuensi dapat pulih dengan
sendirinya selama kurang lebih 10 detik, namun
pada sistem ini pelepasan beban terjadi karena

waktu tunda maksimum yang diijinkan rele


sekitar 2,5 detik.
4. Nilai konstanta inersia suatu generator
mempengaruhi
kerja
generator
dalam
menghasilkan suplai daya aktif. Ketika terjadi
gangguan generator lepas yang mengakibatkan
penurunan frekuensi karena sistem kekurangan
suplai daya aktif, generator dengan nilai
konstanta inersia lebih kecil dan bekerja dengan
pengaturan governor
droop mengalami
ketidakstabilan
dengan
menghasilkan
peningkatan suplai daya aktif lebih besar
daripada yang seharusnya disuplai untuk
memenuhi kekurangan suplai daya aktif
tersebut.

REFERENSI
[1] Azmi,
Ulil.
2008.
PLTG.
http://www.ccitonline.com/mekanikal/tikiindex.php?page=PLTG
[2] A Status Report On Methods Used For System
Preservation
During
Underfrequency
Condition. (1975). New York: IEEE Committe
Report.
[3] Chapman, Stephen J. (2002). Electrical
Machinery
Fundamental.
New
York:
McGraw-Hill.
[4] Gers, Juan M., and Edward J. Holmes. (2004).
Protection of Electricity Distribution Network.
London: The Institution of Electrical.
[5] Hidayat, Fani Irfan. (2004). Simulasi
Pelepasan Beban Pada Sistem Tenaga Listrik.
Depok: Departemen Elektro Fakultas Teknik
UI.
[6] IEEE Guide for Abnormal Frequency
Protection for Power Generating Plants.
(2003). New York: IEEE The Institute of
Electrical and Electrical Engineers Inc.
[7] Instructions Type SDF-1 Solid State
Underfrequency Relay. (1974). Westinghouse.
[8] Karim, Khairuddin., Adi Soeprijanto, Mauridhi
Hery Purnomo. (2008). Pelepasan Beban
Otomatis Menggunakan ANN-CBP-FLC Pada
Sistem Tenaga Listrik Industri Besar.
Yogyakarta: Seminar Nasional Aplikasi
Teknologi Informasi.
[9] Lokay, H.E., and and V. Burtnyk. (1968).
Application of Underfrequency Relays for
Automatic Load Shedding.
[10] Survey of Underfrequency Relay Tripping of
Under Emergency Conditions. (1968).New
York: IEEE Committee Report.
[11] Type KF Underfrequency Relay. (1980).
ABB.
[12] Yuli, Asiffudin. (1998). Studi Aplikasi
Pelepasan Beban Pada Penurunan Frekuensi
Sistem Tenaga Listrik. Depok: Jurusan
Elektro Fakultas Teknik UI.