Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan Instalasi yang memberikan
pertolongan pertama untuk pasien dalam kondisi ke gawat darurat. Dan IGD
merupakan garda awal dalam manajemen kasus yang melaluinya. Banyak varian
kasus yang terjadi, maka dibutuhkan kesigapan, kecermatan dan kedisiplinan
dalam tatalaksana pengobatan pasien.12
Banyak dari kasus kasus bedah merupakan kasus emergency yang masuk
melalui IGD, dari kasus trauma kepala, trauma thorax, abdomen maupun keadankeadaan seperti patah tulang, dan masih banyak lagi kasus lainnya. Yang harus
segera diputuskan apakah perlu tindakan pembedahan ataupun perbaikan keadaan
terlebih dahulu.12
Tidak ada literatur yang jelas mengenai insidensi kasus bedah yang masuk
melalui IGD di Rumah Sakit-Rumah Sakit Daerah di Indonesia. Namun biasanya
terdapat beberapa kasus yang sering ditangani di IGD, paling banyak kasus
trauma seperti cedera kepala, fraktur dan jejas yang bisa berupa vulnus laceratum
dan bentukan lainnya, disamping kasus kasus bedah digesti dan urologi
B.PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan dalam
penelitian ini sebagai berikut: Kasus bedah apa saja yang sering terjadi melalui
IGD?, apa saja variannya, bagaimana tingkat distribusi umur, jenis kelamin dan
insidensinya, lalu seberapa tingkat mortalitas dari varian kasus bedah yang
melalui IGD?

C.TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran insidensi dan klasifikasi
kasus bedah di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Purworejo
mulai 3 juli 10 september 2006
Secara khusus penelitian ini juga menggambarkan:
1. Penanganan
2. Mortalitas
3. Distribusi umur pasien
4. Distribusi jenis kelamin
5. Diagnosa kasus bedah

BAB II
DASAR TEORI

A. SISTEM KERJA OTAK.


Otak manusia dengan segala kompleksitasnya perlu dipahami dan perlu
dimengerti terutama dalam memberikan dasar-dasar memberikan perawatan yang
berhubungan dengan cedera otak. Berat otak manusia hanya sekitar 3 pon atau 1.5
kg tetapi ditaksir memiliki kurang lebih 100 juta sel. Dari sekitar 100 juta sel
sebagian besar adalah neuron. Sebuah neuron pada dasarnya merupakan switch
(saklar) on/off sama seperti tombol saklar rumah untuk mengatur lampu. Jadi ada
kalanya otak memiliki waktu untuk istirahat (dalam keadaan off) dan dalam
keadaan dialiri oleh arus listrik (on). Neuron memiliki badan sel soma dan dan
memiliki suatu kawat atau kabel kecil panjang yang disebut dengan akson. Pada
setiap ujung akson ini memiliki bagian yang mengeluarkan zat kimia. Zat kimia
ini menyeberangi suatu celah atau sinaps dimana sinaps akan memacu neuron
untuk mengirimkan pesan atau tempat yang dihantarkannya impuls dari satu
neuron ke neuron lainnya baik dengan cara elektrik maupaun kimia.4
Ada banyak sekali neuron yang mengirimkan pesan atau impuls lewat
axon ini juga menghasilkan muatan listrik dan muatan listrik ini dapat
dipergunakan untuk mengetahui aktivitas listrik pada otak dan sekaligus
mengetahui bagaimana otak bekerja.4
Otak juga dapat digambarkan sebagai suatu sistem komputer yang besar
dimana di dalamnya terdapat komputer-komputer kecil yang bekerja bersamaan
dalam suatu jaringan dan setiap unit komputer tersebut mengerjakan fungsinya
sendiri-sendiri yang pada intinya adalah dalam bentuk informasi-informasi.4
Informasi masuk kedalam otak melalui saraf tulang belakang, apabila saraf
ini putus maka seseorang tidak akan dapat bergerak maupun merasakan sesuatu di
badan. Kemudian informasi tersebut keluar dari otak untuk mrmbuat bagianbagian tubuh (tangan dan kaki) mengerjakan tugasnya. Informasi lain yang dapat
melewati saraf tulang belakang adalah rasa panas, dingin, sakit dan nyeri. Sensasi

persendian dan lain-lain. Informasi penglihatan dan pendengaran tidak datang


melewati saraf tulang belakang melainkan datang langsung menuju otak lewat
indera. Itulah sebabnya mengapa seseorang mengalami kelumpuhan total (tidak
bisa menggerakkan kaki dan tangannya) tetapi dapat mendengar dan melihat tanpa
masalah apapun.4
Otak dibagi dua, belahan kiri dan kanan. Belahan kanan mengerjakan
tugas yang berbeda dengan belahan kiri. Belahan kiri mengatur kegiatan visual
dan memainkan peranan dalam menciptakan gambaran yang lengkap tentang
informasi yang lengkap tentang informasi yang dilihat, misalnya seseorang
menangkap informasi visual. Jadi dapat disimpulkan bahwa belahan otak kiri
cenderung lebih berperan dalam fungsi analitis yaitu menganalisa setiap informasi
yang dihimpun oleh otak kanan dan menerapkan bahasa dan menafsirkannya.4
Jika salah satu belahan otak cedera maka timbul beberapa efek atau
kelainan antara lain apabila seseorang mengalami cedera pada otak kanan akan
gagal memproses informasi penting dan mengalami sindroma penyangkalan. (1)
Sebagai contoh, ada seseorang yang mengalami cedera pada otak kanan terutama
pada bagian belakang yang berurusan dengan informasi visual maka dia akan
kehilangan setengah dari daya visualnya dan timbul kegagalan dalam
mengumpulkn informasi sehingga otak menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang
dan juga akan mengalami kebutaan pada satu sisi tetapi tidak dapat
mengetahuinya, lumpuh pada bagian kanan, kehilangan atau kesulitan dalam
berbicara dan tindakan lambat atau hati-hati.
Jika otak kiri mengalami suatu cedera maka seseorang yang terkena akan
menyadari bahwa ada sesuatu hal yang tidak bekerja atau tidak berfungsi, tetapi ia
tidak dapat memecahkan masalah- masalah yang rumit atau mengerjakan kegiatan
yang sukar. Orang yang mengalami cedera kepala pada otak sebelah kiri akan
merasa tertekan, mempunyai masalah-masalah pengaturan dan masalahmasalah
penggunaan bahasa.
Otak memiliki tiga komponen pokok: cerebrum, cerebellum dan batang
otak. Cerebrum menerima informasi, berfikir, mengolah dan mengirim keluar
informasi. Cerebelum sangat diperlukan dalam keseimbangan yang baik dan

koordinasi. Sedang batang otak menghubungkan cerebrum dengan saraf tulang


belakang, secara anatomis batang otak sangat kompleks, tetapi ia terutama terdiri
dari medulla oblongata yang mengatur fungsi-fungsi pernafasan denyut jantung
dan aliran darah, serta pons yang berfungsi mengendalikan gerakan mata. Ukuran
pupil dan otak tengah yang mengontrol gerakan mata, leher dan kepala.4
B. CEDERA KEPALA.
Cedera kepala (Traumatic Brain Injury) adalah suatu cacat atau kerusakan
otak yang bukan disebabkan oleh kemerosotan kondisi fisik alami atau kecacatan
bawaan melainkan oleh sebab kekuatan fisik dari luar (external) yang dapat
menimbulkan pengurangan atau perubahan keadaan tingkat kesadaran seseorang
dan akibat terjadinya kerusakan pada kemampuan kognitif (kesadaran) ataupun
fungsi fisik. Kondisi ini juga dapat menghasilkan adanya gangguan fungsi
perilaku dan emosional.5
Problem dasar adanya Cedera kepala (Traumatic Brain Injury) adalah
sederhana sekaligus kompleks. Sederhana karena biasanya tidak ada kesulitan
dalam menentukan penyebabnya yaitu adanya benturan kepala, kompleks karena
adanya perluasan maksimal dari traumatic brain injury dan sejumlah efek yang
terlambat yang merupakan komplikasi dari traumatic brain injury. 5
Konsep yang paling banyak diterima secara luas tentang trauma otak ini
adalah dengan membagi proses terjadinya cedara otak/trauma otak menjadi 2
macam yaitu kejadian primer dan sekunder. Cedera otak atau trauma otak primer
dipandang sebagai luka atau akibat yang terjadi beberapa saat atau sesaat setelah
terjadinya kecelakaan atau tabrakan, sedangkan cedera otak atau trauma otak
sekunder melibatkan kondisi pada saat periode berjam-jam sampai bertahun-tahun
setelah luka atau trauma.6
Cedera otak akibat trauma dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan pada
fisik, intelektual, emosional, sosial dan fokal. Masalah-masalah ini dapat
mempengaruhi kehidupan masa sekarang, masa mendatang, dan juga kepribadian
seorang penderita cedera otak. Bahkan seringkali cedera otak traumatik berarti

bahwa seseorang tidak mungkin sama sekali seperti sebelumnya apabila telah
menderita sebelumnya.6
Kerusakan akibat cedera kepala akibat trauma dibagi dalam tiga golongan
utama yaitu:
1. Kerusakan kognitif yang mencakup kehilangan memori atau ingatan jangka
pendek dan jangka pamjang, lambat berpikir, sulit menaruh perhatian dan
konsentrasi, kelemahan persepsi , komunikasi, kemampuan membaca dan
menulis, pemikiran, pemecahan masalah, perencanaan, menyusun dan
memutuskan sesuatu.
2. Kerusakan fisik yang dapat meliputi pembicaraan, penglihatan, pendengaran,
dan kerusakan alat indera lain seperti sakit kepala, kurang koordinasi,
kekejangan otot (kelumpuhan sesuatu atau kedua belahan badan), kelainan
zeisure dan masalahmasalah yang berkaitan dengan tidur.
3. Kerusakan psikososial, perilaku dan emosi yang meliputi kelelahan, perasaan
mengambang, penyangkalan, pemusatan pada diri sendiri, kegelisahan, jiwa
yang tertekan, kurang menghargai diri sendiri sulit mengendalikan emosi dan
pengaturan kemarahan, tidak mampu mengatasi masalah, agitasi berlebihlebihan dalam ketawa dan menangis, sulit berhubungan dengan. (perhatian
kepada kelainan dan gangguan emosi sangat penting setelah terjadi cedera
kepala akibat trauma, karena mereka seringkali salah paham atau salah
tanggap)
Dari ketiga akibat dari cedera kepala akibat trauma diatas maka tugas
pokok dari seorang penderita cedera kepala, keluarga penderita dan tenaga medis
sebagai penanggung jawab pengobatan adalah untuk merangsang penyembuhan
dan kompensasi alami ini dan memandunya kearah selayaknya melalui upaya
rehabilitasi dan pendidikan. 6
Tujuan akhir adalah memaksimalkan penyembuhan bagi setiap penderita.
Fakta bahwa seseorang dengan cedera kepala akibat trauma tetap mengalami
kerusakan atau cacat tertentu (seperti seizure, lumpuh atau sulit berbicara).

C. KLASIFIKASI.
Klasifikasi dari cedera kepala dibagi dalam beberapa aspek, dan secara
praktis dikenal dengan 3 diskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan: (1) Mekanisme,
(2) Beratnya, (3) Morfologinya. 6
1. Mekasnisme Cedera Kepala.
Berdasarkan mekanismenya, cedera kepala dibagi atas cedera kepala
tumpul dan cedera kepala tembus. Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan
dengan kecelakaan motor-mobil, jatuh atau pukulan benda tumpul. Cedera kepala
tembus disebabkan oleh peluru dan tusukan. Adanya penetrasi selaput dura
menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau cedera tumpul. 6
2. Beratnya Cedera.
Glasgow Coma Scale (GCS) digunakan untuk menilai secara kuantitatif
kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya penderita
cedera kepala. Nilai GCS juga digunakan dalam menilai tingkat kesadaran
penderita akibat berbagai penyebab lain. Koma didefinisikan penderita tidak
mampu melaksanakan perintah, tidak dapat mengeluarkan suara dan tidak dapat
membuka mata. Penderita yang mampu membuka kedua matanya secara spontan,
mematuhi perintah dan berorientasi memiliki GCS total 15, sementara pada
penderita yang keseluruhan otot ekstremitasnya flasid dan tidak dapat membuka
mata sama sekali nilai GCS nya minimal sama dengan 3. Sebenarnya istilah koma
tidak dapat di nyatakan dengan tepat apabila memakai GCS. Namun sebanyak 90
% penderita dengan GCS sama atau kurang dari 8 adalah dalam keadaan koma,
dan tidak satupun penderita dengan GCS diatas 9 akan dalam keadaan koma, bila
memakai definisi koma seperti disebut diatas. Karenanya nilai GCS lebih kecil
atau sama dengan 5 dianggap sesui dengan definisi koma. Perbedaan antara
penderita cedera kepala berat, sedang dan ringan cukup jelas apabila memakai
GCS. Membedakan cedera kepala ringan dan sedang membingungkan.
Berdasarkan nilai GCS maka penderita dengan cedera kepala sedang memiliki
GCS 9-13 sedangkan penderita dengan cedera kepala ringan memiliki GCS 14-15.

Hal ini penting dalam penilaian GCS adalah menggunakan nilai respon motorik
pada sisi yang terbaik, namun dicatat respon pada kedua sisinya. 6
3. Morfologi Cedera .
Secara morfologis cedera kepala di bagi atas fraktur kranium dan lesi
intracranial.
a.

Fraktur kranium
Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak dan dapat

berbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fraktur
dasar tengkorak biasanya memerlukan CT-Scan dengan bone window untuk
melihat garis frakturnya. Juga secara klinis dilihat apakah terdapat tanda-tanda
fraktur dasar tengkorak antara lain: ekimosis periorbital (Racoon eyes sign),
ekimosis retroaurikular (Batlles sign), kebocoran pada CSS (rhinorrea,
otorrhea) dan paresis nervus fasialis. Sebagai patokan umum bila terdapat
fragmen tulang yang menekan kedalam, lebih tebal tulang kalvaria, biasanya
memerlukan tindakan pembedahan cranium terbukanya atau komplikata
mengakibatkan adanya hubungan antara laserasi kulit kepala dan permukaan
otak karena robeknya selaput dura. Keadaan ini memerlukan tindakan
pembedahan segera. Adanya fraktur tengkorak merupakan petunjuk bahwa
benturan yang terjadi cukup berat sehingga mengakibatkan terjadinya retak
tulang tengkorak. Pada penderita sadar bila ditemukan fraktur linear pada
kalvaria, meningkatkan adanya pendarahan intrakranial sampai dengan 400
kali. Penderita koma kemungkinan ditemukannya pendarahan intrakranial
pada fraktur linear adalah 20 kali karena resiko adanya perdarahan intrakranial
memang sudah lebih tinggi. Fraktur dasar tengkorak sering disertai dengan
kebocoran CSS baik melalui hidung (rhinorrhea) atau melalui telinga
(otorrhea). Fraktur ini juga sering menyebabkan paresis nervus fasialis yang
dapat terjadi segera setelah terjadi cedera atau timbul beberapa hari kemudian.
Umumnya prognosis pemulihan adanya parsesis nervus fasialis lebih baik
pada keadaan parese yang terjadi beberapa waktu kemudian. 6

b.

Lesi Intrakranial.
Lesi ini diklasifikasikan sebagai lesi fokal dan lesi difus, walaupun

jenis ini sering terjadi secara bersamaan. Termasuk dalam lesi fokal yaitu
perdarahan epidural dan kontusio (perdarahan intraserebral). Cedera otak difus
umumnya menunjukkan gambaran CT-Scan yang normal namun dalam
keadaan klinis neurologis penderita sangat buruk bahkan dapat dalam keadaan
koma. Berdasarkan pada dalamnya dan lamanya koma, maka cedera difus
dikelompokkan menurut kontusio ringan, kontusio klasik dan Cedera Aksonal
Difus (CAD). 6
a.

Perdarahan epidural
Hematoma epidural terletak di luar dura tetapi dalam rongga
tengkorak dan cirinya berbentuk bikonveks dan menyerupai lensa
cembung. Sering terletak di area temporal atau temporo parietal yang
disebabkan robeknya a.meningea media akibat retaknya tulang
tengkorak. Gumpalan darah yang terjadi dapat berasal dari pembuluh
darah arteri, namun pada sepertiga kasus dapat terjadi akibat perdarahan
vena, karena tidak jarang perdarahan epidural terjadi akibat robeknya
sinus venosus terutama pada region parieto-oksipital pada fosa posterior.
Walaupun secara relative perdarahan epidural jarang terjadi (0.5% dari
seluruh penderita cedera kepala dan 9% dari penderita yang dalam
keadaan koma), namun harus dipertimbangkan karena memerlukan
tindakan diagnostik maupun operatif yang tepat. Perdarahan epidural
apabila ditolong akan memiliki prognosis yang sangat baik karena
kerusakan langsung akibat penekanan gumpalan darah pada jaringan
otak tidak berlangsung lama.Penderita dengan perdarahan epidural dapat
menunjukkan adanya Interval lucid yang klasik atau keadaan dimana
penderita semula mampu untuk berbicara namun tiba-tiba meninggal
(talk and die).
b. Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural sering terjadi daripada perdarahan epidural
(kira-kira 30% dari cedera kepala berat). Perdarahan ini memang terjadi

akibat robeknya vena-vena jembatan yang terletak diantara korteks


serebri dan sinus venosus tempat vena bermuara, namun dapat juga
terjadi akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak. Perdarahan
subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan
kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih
buruk daripada perdarahan epidural. Angka kematian yang tinggi akibat
dari perdarahan ini hanya dapat diturunkan dengan tindakan pembedahan
yang cepat dan penatalaksanaan medikamentosa yang agresif. 6
c. Kontusio dan perdarahan intraserebral.
Kontusio serebri murni biasanya jarang terjadi. Diagnosis
kontusio serebri meningkat sejalan dengan peningkatan penggunaan CTScan dalam pemeriksaan cedera kepala. Kontusio serebri hampir selalu
berkaitan dengan perdarahan subdural akut. Kontusio serebri sangat
sering terjadi di frontal dan temporal, walaupun juga dapat terjadi di
setiap bagian otak termasuk batang otak dan serebelum. Batas perbedaan
antara kontusio dan perdarahan intraserebral traumatika memang tidak
jelas. Kontusio serebri saja dalam waktu beberapa jam atau hari
mengalami evolusi membentuk perdarahan intraserebral. 6
d. Cedera Difus.
Cedera kepala difus merupakan kelanjutan dari kerusakan otak
akibat cedera akselerasi dan deselerasi, dan ini merupakan bentuk yang
sering terjadi pada cedera kepala. Komusi serebri ringan adalah cedera
dimana kesadaran tetap tidak terganggu namun terjadi disfungsi
neurologis yang bersifat sementara dalam berbagai derajat. Cedera ini
sering terjadi, namun karena ringan maka kerap kali tidak diperhatikan.
Bentuk yang paling dari kontusio adalah keadaan bingung dan
disorientasi tanpa amnesia. Sindroma ini pulih kembali tanpa gejala sisa
sama sekali. Cedera komusio yang lebih berat menyebabkan keadaan
bingung disertai dengan amnesia retrograde dan amnesia antegrad
(keadaan amnesia pada peristiwa-peristiwa sebelum dan sesudah cedera).

10

Komusio

serebri

klasik

adalah

cedera

kepala

yang

mengakibatkan penurunan kesadaran atau hilangnya keasadaran.


Keadaan ini selalu disertai dengan amnesia pasca trauma dan lamanya
amnesia ini merupakan ukuran berat ringannya cedera. Hilangnya
kesadaran biasanya biasanya berlangsung beberapa waktu lamanya dan
reversible. Dalam definisi klasik penderita ini akan sadar kembali dalam
waktu kurang dari 6 jam. Banyak penderita dengan komusio cerebri
klasik akan pulih kembali tanpa cacat neurologis selain amnesia terhadap
peristiwa yang terjadi, namun pada beberapa penderita dapat timbul
defisit neurologis untuk beberap waktu. Defisit neurologis ini misalnya
kesulitan mengingat, pusing, mual, muntah, anosmia dan depresi serta
gejala lainnya. Gejala-gejala ini dikenal sebagai sindroma pasca komusio
yang cukup berat. 6
Cedera aksonal difus (Diffuse Aksonal Injury, DAI) adalah
keadaan dimana penderita mengalami koma pasca cedera yang
berlangsung lama dan diakibatkan oleh suatu lesi masa atau serangan
iskemia. Biasanya penderita dalam keadaan koma yang dalam dan tetap
koma selama beberapa waktu. Penderita sering menunjukkan gejala
dekortisasi atau deserebrasi atau bila paling sering tetap dalam keadaan
cacat berat, itupun bila dapat bertahan hidup. Penderita-penderita sering
menunjukkan gejala disfungsi otonom, seperti hipotensi, hiperhidrosis,
dan hiperpireksia dan dulu diduga akibat cedera batang otak primer.
Membedakan antara cedera aksonal difus dan cedera otak karena hipoksi
tidak mudah, dan memang kedua keadaan ini sering terjadi bersamaan. 6
D. CEDERA KEPALA RINGAN
Definisi dari Cedera kepala ringan pada awalnya merupakan sebuah
kontroversi. Pada dekade terakhir ini para peneliti sering menggunakan istilah
cedera kepala minor dan cedera kepala ringan secara berganti-gantian. Pandangan
para peneliti yang lain mengenai hal itu diluncurkan pada sebuah Jurnal of Head
trauma Rehabilitation pada tahun 1986 memilih istilah cedera kepala minor.

11

Tetapi pada tahun 1993 pada jurnal yang sama mengganti istilah minor menjadi
cedera

kepala

ringan.

Dr

Thomas

Kay

pada

artikelnya

tentang

Neuripsicological treatment of mild traumatic brain injury menjelaskan bahwa


dua istilah yang dipakai (minor dan ringan) tidaklah memiliki persamaan definisi
menurut Dr Thomas Kay :
Cedera kepala minor mengacu pada cedera yang terjadi di kepala, muka,
dan leher dimana memiliki simptom yang disebabkan oleh kerusakan
tulang tengkorak, skalp, jaringan lunak atau gangguan saraf perifer tetapi
tidak mengalami cedera dalam otak. Sedangkan Cedera Kepala Ringan
mengacu pada kerusakan struktur kepala yang disertai dengan kerusakan
otak, atau paling tidak mengalami disrupsi otak yang dibuktikan adanya
gangguan kerja otak berupa penurunan kesadaran maupun manifestasi
lainnya.
Definisi baru dari Cedera Kepala Ringan telah dikembangkan komite
cedera kepala ringan dari konggres Rehabilitasi medis Amerika dengan minat
khusus tentang cedera kepala.7
Adapun definisinya adalah seseorang yang telah mengalami trauma atau
cidera yang akan menyebabkan gangguan fisiologis dari fungsi otak, yang
memiliki manifestasi paling tidak seperti yang tersebut di bawah ini :
1. Mengalami periode penurunan kesadaran.
2. Mengalami kehilangan ingatan segera sebelum atau sesudah kecelakaan.
3. Mengalami gangguan mental sesaat pada waktu terjadinya kecelakaan
(bingung, disorientasi dan gangguan lainnya )
4. Mengalami defisit fokal neurologis yang mungkin menetap mungkin tidak.
Dan gejala tersebut diatas tidak akan keluar dari kriteria antara lain:
1. Kehilangan kesadaran kurang lebih 30 menit atau kurang.
2. Setelah 2 jam Skala Koma Glasgow (GCS) adalah 13-15.
3. Amnesia Pasca Trauma (PTA) tidak lebih dari 24 jam.

12

Definisi ini menyangkut: Kepala menjadi terguncang, kepala terpukul oleh


suatu objek dan otak terkena pengaruh gerakan akselerasi maupun deselerasi
tanpa langsung terkena trauma eksternal di kepala. Dan definisi diatas tidak
termasuk stroke, anoksia, tumor maupun encephalitis. Computed Tomographi,
MRI, Electroenchephalogram, ataupun pemeriksaan neurologis mungkin normal.
Oleh karena beberapa faktor yang menyebabkan pasien tidak mendapatkan
pemeriksaan seperti diatas maka pada beberapa kasus diagnosis Cidera Kepala
Ringan ditegakkan ketika berkaitan dengan symptom yang timbul yaitu symptom
yang berkaitan dengan cedera kepala. 7
Kira-kira sekitar 80% pasien yang dibawa ke IGD dengan cedera kepala
akan termasuk dalam cedera kepala ringan. Penderita-penderita tersebut sadar
namun dapat mengalami amnesia terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan
cedera yang dialaminya. Dapat disertai dengan riwayat hilangnya kesadaran yang
singkat namun sulit untuk membuktikannya terutama bila disertai dengan minum
alkohol atau karena pengaruh obat-obatan. 6
Sebagian besar penderita cedera kepala ringan pulih sempurna, walaupun
mungkin terdapat gejala sisa yang sangat ringan. Namun sebanyak 3% mengalami
pemburukan yang tidak terduga, dengan akibat disfungsi neurologis yang berat,
yang seharusnya dapat dicegah dengan penemuan perubahan perubahan kesadaran
yang lebih awal. 7
Idealnya semua penderita cedera kepala diperiksa dengan CT Scan,
terutama bila dijumpai adanya kehilangan kesadaran yang cukup bermakna,
amnesia atau sakit kepala hebat. Namun bila pemerikasaan CT scan tidak dapat
dilakukan segera dalam kondisi penderita tanpa gejala neurologis dan sadar penuh
maka penderita dapat diobservasi selama 12-24 jam di rumah sakit.8
1. Simptom Cedera Kepala Ringan
Simptom yang terjadi pada cedera kepala mungkin menetap mungkin
tidak, untuk melihat lamanya waktu simptom ada sesudah terjadinya gangguan
neurologis, hal ini dapat diketahui pada pasien-pasien dengan cedera kepala
ringan melalui kondidi emosialnya, kognitifnya, tingkah laku yang ia timbulkan

13

dan simptom-simptom fisik yang memberikan gejala disabilitas. Adapun kategori


gejala-gejala yang mungkin timbul adalah :
1.

Simptom Fisik dari cedera kepala: Nausea, muntaah, pusing , nyeri


kepala,pandangan kabur,gangguan tidur, fatigue, lethargi .

2.

Defisit Kognitif berupa gangguan konsentrasi, gangguan perhatian,


gangguan persepsi, gangguan memori, gangguan bahasa. Dimana gejala
tersebut telah disingkirkan dari gejala yang menyangkut penyebab yang
lain.

3.

Perubahan

perilaku

yang

ditandai

dengan

perubahan

emosional

( Iritabilitas, cepat marah,emosi yang labil) yang telah disingkirkan


pnyebabnya dari sebab yang lain.7
2. Patofisiologi
Dua buah tipe dari Cedera Kepala ringan adalah: cedera difus dan cedera
fokal.7
Kerusakan otak diffuse dapat dihasilkan oleh karena pengembangan otak
dikarenakan cedera atau pukulan yang disebabkan oleh cedera itu sendiri. Pada
cedera tipe ini bukan goncangan otak yang terlalu signifikan melainkan proses
akselerasi maupun deselerasi kepala yang menyebabkan regangan serabut-serabut
saraf di dalam otak. Thomas Gennarelli, Associate Proffesor Neurosurgery di
Universitas Pennsylvania berkata:
Trauma kepala concusive dapat dilihat disebabkan oleh regangan yang
disebabkan oleh benturan kepala. Hal ini dapat terjadi tanpa memberikan
dampak di kranium dan memiliki sedikit kaitan langsung terhadap
benturan yang diterima oleh kranium itu sendiri, melainkan efek
akselerasi dan deselerasi yang lebih dominan dalam menyebabkan
gangguan pada otak. Sehingga cedera yang disebabkan oleh peristiwa
akselerasi dan deselerasi merupakan pangkal dari penyebab kekacauan di
otak, peristiwa ini bergantung kepada kecepatan, arah dan perputaran
otak yang terkena cedera. Gerakan kepala akibat dari benturan itulah
yang menyebabkan tegangan fiber saraf otak meningkat dan distorsi di
dalam otak yang berujung pada pemutusan dan atau peregangan serabut
saraf otak dan juga kerusakan akson yang merupakan pangkal dari
kekacauan otak.

14

Penelitian telah menunjukkan bahwa akselerasi dan deselerasi pada


primata menyebabkan kerusakan otak.7 Akselerasi rotasi merupakan faktor primer
yang menyebabkan cedera kepala difus.7
3. Kerusakan akson
Studi klinis menunjukkan bahwa kerusakan akson merupakan faktor yang
menyebabkan terjadinya cedera kepala ringan maupun sedang pada manusia.
Suatu studi neuropatologi menyebutkan bahwa cedera aksonal diffuse oleh karena
sebab mekanik murni disebabkan oleh peregangan dan robeknya serabut saraf
dan pembuluh darah. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua macam
pendapat yang berkaitan dengan onset dan perkembangan dari trauma aksonal ini.
Trauma akonal terjadi pada saat terjadi benturan oleh karena putusnya atau
regangan aksona secara fisik yang menyebabkan robeknya akson, yang
menyebabkan reaksi pada membran aksonal, extruksi, dan akhirnya terjadi udema
luas pada akson.8
Dari penelitian klinis menunjukkan bukti bahwa terjadi kerusakan akson
pada cedera kepala ringan sampai dengan yang berat. Temuan dari Jane et.al
mengetengahkan bahwa gangguan pada otak yang disebabkan oleh trauma akan
merusak jaringan aksonal.8
Meskipun benturan mekanik sering menyebabkan cedera aksonal,
beberapa cedera aksonal disebabkan oleh proses biokimia yang lama dan secara
patofisiologi diawali dengan sebab mekanis. Povlishock et.al. menunjukkan
bahwa pada kasus cedera kepala, berat ringan maupun sedang menghasilkan
pembentukan pembengkakan yang reaktif dalam waktu 12-24 jam pada episode
trauma.8
Pada Cedera kepala ringan diffusa, dipercaya sebagai penyebab dari
penurunan seluruh kecepatan, efisiensi, dan integrasi seluruh proses mental. (25)
Setelah Terjadi Cedera Kepala Ringan, pasien mengalami kesulitann dalam
menganalisa informasi menjadi lebih lama dalam menangkap dan mengolah suatu
informasi ini terjadi karena adanya penyempitan area yang tidak udem atau sehat,
pasien juga mengeluh sering kacau perhatiannya oleh karena mereka tidak

15

memiliki kapasitas yang cukup untuk menampung stimulus yang irelevan/berubah


ubah. Mereka juga mengeluh sering lupa karena ketika mereka mencoba
berkonsentrasi tentang suatu hal maka dia tidak memiliki bagian akson untuk
memproses informasi yang lain secara spontan, sehingga ada bagian informasi
yang tidak terproses akibatnya mereka sering lupa apabila telah mencoba
berkonsentrasi tentang suatu hal.7
Cedera fokal terjadi ketika struktur otak yang lunak, tulang keras dan
struktur yang lain terbentur benda keras. Yang paling sering terjadi adalah
terjadinya kontusio di regio frontal dan lobus temporalis. Defisit yang terjadi
adalah pada proses berpikir, memori, belajar, dan organisasi, perhatian dan
konsentrasi dan kontrol emosionalUdema otak juga meghasilkan kontusio pada
otak yang terjadi pada bagian yang terkena (coup) maupun pada sisi kebalikan
atau (counter coup). Kerusakan yang terjadi tergantung kepada bagian mana yang
terkena benturan.7
4. Manajeman Cedera Kepala Ringan.
Dalam membantu penegakkan diagnosis perlu diketahui riwayat dari
penderita meliputi :
a.

Nama, umur , jenis kelamin, ras , pekerjaan.

b.

Mekanisme cedera.

c.

Waktu cedera.

d.

Tidak sadar segera setelah cedera.

e.

Tingkat kewaspadaan.

f.

Amnesia : Retrograd, Antegrad.

g.

Sakit Kepala : Ringan sedang berat.

h.

Kejang.6
Sedangkan pemeriksaan fisik maupun penunjang yang diperlukan untuk

menetapkan diagnosisnya adalah :


1. Pemeriksaan umum untuk menyeingkirkan cedera sistemik.
2. Pemeriksaan neurologis terbatas.
3. Pemeriksaan ronsen vertebra cervikalis dan lainnya sesui dengan indikasi.

16

4. Pemeriksaan kadar alcohol darah dan zat toksik dalam urine.


5. Pemeriksaan CT scan kepala sangat ideal pada setiap penderita cedera
kepala ringan kecuali memang sama sekali asimptomatik dan dari
pemeriksaan neurologist tidak ditemukan adanya kelainan neurologist.6
Ada beberapa poin-poin yang digunakan untuk menentukan apakah
seorang pasien dengan cedera kepala harus menjalani observasi di rumah sakit
(rawat inap) atau diperbolehkan untuk rawat jalan:
-

Indikasi pasien untuk rawat inap di RS.


a.

RS tidak memiliki fasilitas CT-Scan.

b.

Ditemukan hasil CT- scan yang abnormal.

c.

Semua Cedera trauma tembus.

d.

Riwayat hilang kesadaran.

e.

Kesadaran menurun.

f.

Sakit Kepala sedang-berat.

g.

Intoksikasi alcohol atau obat-obatan.

h.

Fraktur pada cranium.

i.

Rhinorrea.

j.

Cedera penyerta yang bermakna.

k.

Tidak ada keluarga dirumah.

l.

Tidak mungkin kembali ke RS secepatnya.

m.

Amnesia.6

Sedangkan indikasi untuk dapat dipulangkan adalah :


a. Tidak memenuhi kriteria rawat inap.
b. Setelah melakukan diskusi kemungkinan-kemungkiann akibat cedera
kepalanya.
c. Penjadwalan untuk kontrol ulang biasanya setiapp 1 minggu.
Dewasa ini pemerikasaan foto ronsen kepala hanya dilakukan pada cedera

kepala tembus atau bila CT Scan tidak tersedia. Bila pemeriksaan foto ronsen
dilakukan maka dokter harus menilai hal ahal berikut :
1. Fraktur linear/ depresi.
2. Posisi kelenjar pineal yang biasanya di garis tengah ( bila terkalsifikasi).

17

3. Batas udara air pada sinus-sinus.


4. Pneumosefalus.
5. Fraktur tulang wajah.
6. Benda asing.
Pada cedera kepala ringan dijumpai adanya fraktur pada tengkorak pada
3% penderita sedangkan pada cedera kepala berat sampai dengan 65% penderita.
Kalvaria 3 kali lebih sering mengalami fracture daripada dasar tengkorak. Fraktur
dasar tengkorak sering tidak tampak pada foto ronsen kepala, namun adanya
gejala klinis seperti ekimosis periorbital, rhinorea, otorhea, hemotimpani atau
Battles sign merupakan indikasi adanya fraktur dasar tengkorak dan penderita
harus di rawat dengan observasi khusus.6
E. Penatalaksanaan Cedera Kepala Ringan.
Penetalaksanaan cedera kepala ringan dilakukan secara komprehensif
demi penegakan diagnosis dan perawatan dari cedera itu sendiri.Adapaun tahapan
untuk menetukan langkah langkah pengelolaan CKR adalah:
1.

Riwayat :dari jenis dan saat kecelakaan, riwayat kehilangan kesadaran


sebelumnya, riwayat amnesia dan riwayat nyeri kepala yang diderita
oleh penderita.

2.

Pemeriksaan umum untuk menentukan dan menegakkan diagnosis


sistemik.

3.

Pemeriksaan neurologis.

4.

Radiografi tengkorak.

5.

Radiografi cervical dan lain-lain atas indikasi.

6.

Kadar alkohol darah dan urin untuk skrining toksik.

7.

CT-Scan idealnya dilakukan apabila didapatkan tujuh pertama dari


criteria rawat.8

Adapun kriteia rawat dari pasien dengan CKR apabila memenuhi criteria:
1.

Ditemukannya amnesia pasca trauma ( lebih dari 1 jam )

2.

Adanya riwayat kehilangan kesadaran (lebih dari 15 menit)

3.

Penurunan tingkat keasadaran.

18

4.

Nyeri kepala sedang hingga berat.

5.

Intoksikasi alcohol atau obat.

6.

Fraktur pada tengkorak.

7.

Kebocoran CSS,otorrhea atau rhinorrea.

8.

Cedera penyerta yang jelas.

9.

Tidak punya orang serumah yang dapat dipertanggung jawabkan.

10.

CT-Scan abnormal.8
Mayoritas pasien yang datang ke IGD dengan cedara kepala ringan pada

waktu diperiksa oleh dokter dalam keadaan bangun namun amnestik atas kejadian
sekitas pada saat cedera. Mungkin pasien memiliki riwayat kehilangan kesadaran
sebentar yang biasanya sulit untuk dipastikan. hal tersebut mungkin dikacaukan
oleh alkohol dan intoksikan lain.8
Kebanyakan pasien dengan cedera kepala ringan akan menuju pemulihan
tanpa disertai dengan hal-hal yang berarti.terkadang hanya dengan sekuele
neurologis yang sangat ringan.Namun sekitar 3% pasien secara tidak disangka
memburuk dan gawat neurologis bila kelainan status mentalnya tidak diketahui
dini. Dalam menghadapi hal itu maka pertentangan klasik antara keefektifan biaya
dan tindakan terbaik mungkin diberikan betul-betul berlaku. Namun tindakan
seperti yang disebutkan dibawah ini optimal untuk pasien cedera kepala ringan.8
Sinar X tengkorak dilakukan untuk mencari keadaan fraktur tengkorak
linear atau depreesesd , posisi kelenjar pineal bila mengalami kalsifiksi, level
udara cairan dalam sinus, pneumosefalus, fraktur fasial, dan benda asing.
Pemeriksaan foto rontgen memiliki arti penting sesuai dengan kelompok resiko
cedera kepala yang dialami pasien:
a.

Untuk kelompok dengn resiko rendah dengan tanda-tanda dan gejala awal
yang minimal seperti nyeri kepala, pusing dan laserasi skalp, dianjurkan
dipulangkan kepada lingkungnnya untuk diobservasi dengan tidak
memerlukan radiografi tengkorak.

b.

Untuk kelompok dengan resiko sedang dengan tanda-tanda awal seperti


muntah, intoksikasi alcohol atau obat, amnesia pasca trauma, atau tanda-

19

tanda adanya fraktur basilar atau depressed ,tindakan yang tepat dianjurkan
adalah termasuk peningkatan pengamatan ketat, petimbangkan untuk CTScan atau radiografi polos serta konsultasi pada bagaian bedah syaraf.
c.

Untuk kelompok dengan resiko tinggi, dengan gejala-gejala awal paling


serius seperti tingkat kesadaran yang tertekan atau menurun, tanda-tanda
neurologis fokal atau cedera tembus, dilakukan konsultasi bedah syaraf dan
CT-Scan emergensi.8
Sekitar 75% pasien termasuk dalam kelompok resiko rendah,23%

kelompok resiko sedang dan 2% termasuk dalam kelompok resiko berat.Jadi


berdasarkan panel tersebut sekitar tiga perempat pasien dengan cedera kepala
tidak memerlukan sinar X tengkorak. Panel tersebut menekankan bahwa arahnya
tidak berarti menyingkirkan pertimbangan klinis selama beratnya cedera
umumnya berbeda dari rumah sakit ke rumah sakit lain.8
Fraktur yang ditemukan beragam sesuai dengan beratnya cedera, 3%
dari UGD dengan cedera kepala ringan ( jika tidak dirawat) hingga 65% pada
pasien dengan cedera kepala berat.Kalvaria lebih sering terkena tiga kali lebih
sering dari pada bsis kranii. Harus diingat bahwa fraktur basisi sering tidak
terlihat pada foto tengkorak pertama.Tanda klinis dari fraktur basis kranii,
hematom orbital, rhinnorrhea atau otorrhea CSS, hemotimpanum, atau battle
sign harus dianggap bukti adanya fraktur basis kranii, dan mengharuskan pasien
untuk dirawat.8
Idelnya CT-Scan harus dilakukan pada semua pasien masuk dengan
cedera kepala ringan, walau dalam prakteknya serta biayanya tidak mungkin pada
kebanyakan rumah sakit.Bila pasien bangun sempurna atau alert serta dapat
berada dibawah pengawasan selama 12-24 jam, pemeriksaan ini dapat ditunda
atau bila perlu dibatalkan.8
Dianjurkan sehubungan dengan kapan CT-Scan harus dilakukan pada pasien
cedera kepala ringan , CT-Scan harus tetap diusahakan.Walau jarang bisa terjadi
pada pasien dengan CT-Scan pertama yang normal, berkembang menjadi lesi
masa beberapa jam kemudian pengamatan neurologis yang ketat dilakukan oleh

20

petugas yang peka terhadap pemburukan yang tanpa keraguan dalam menghadapi
setiap kemungkinant yang terjadi.8
Tulang belakang servikal serta bagian lainnya harus disinar X bila ada
nyeri atau tenderness. Tidak ada obat-obatan yang dianjurkan kecuali analgetik
non narkotik seperti parasetamol. Toksoid tetnus yang di berikan pada luka
terbuka.Tes darah rutin tidak perlu dilakukan apabila tidak terdapat cedera
terbuka, sedangkan tes darah untuk menilai konsentrasi alkohol yang
didindikasikan untuk kepentingan medikolegal.8
Cedera kepala ringan dengan CT-Scan normal dapat dipulangkan bila
ada yang bertanggung jawb dalam pengawasan dan dengan menyertakan lembar
peringatan untuk menempatkan pasien dalam pengawasan ketat selama 12 jam
dan membawa pasien kembali apabila sesuatu terjadi atau timbul suatu keadaan
yang mengarah pada pemberatan. Bial tidak memiliki relasi yang dapat
bertanggung jawab pasien tetap di UGD selam 12 jam dengan pemeriksaaan
neurologis setiap setengah jam dan kemudian dipulangkan apabila nampak
stabil.Bila pasien ditemukan lesi pada hasil CT-Scan maka pasien harus dirawat
dan dikelola sesuai perjalanan neurologisnya pada hari-hari berikutnya an
dilakukan CT-Scan ulang sebelum pasien pulang atau lebih awal bila terjadi
pemburukan neurologis.8
E.1. Pasien Dalam Keadaan Sadar (GCS 15)
1. Simple Head Injury.
Pada cedera kranio-serebral tanpa defisit neurologi, hanya
dilakukan perawatan luka apabila terdapat perlukaan sebagai
akibat samping dari penyebab trauma.
Dilakukan pemerikasaan radiologis apabila ada indikasi.
Pasien dipulangkan dan diminta keluarga mengobservasi
kesadaran.
Bila dicurigai adanya kesadaran menurun saat observasi, pasien
segera dibawa ke rumah sakit kembali.
2. Kesadaran terganggu sesaat.

21

Pasien mengalami penurunan kesadaan sesaat setelah trauma


kranio-serebral, dan saat diperiksa sudah sadar kembali.
Dibuat foto kepala.
Dilakukan perawatan luka
Pasien

dibawa

pulang

dan

keluarga

diminta

untuk

mengobservasi kesadarannya.
Bila dicuriagai adanya penurunan kesadaran maka pasien
dibawa kembali ke rumah sakit.9
E.2. Pasien dengan kesadran menurun.
1. Cedera kranio-serebral ringan (GCS 14-15)
Perubahan orientasi atau not obey command, tanpa disertai dengan
defisit fokal serebral.
Dilakukan pemeriksaan fisik, perawatan luka, foto kepala, istirahat
baring dengan mobilisasi bertahap sesuai dengan kondisis pasien
disertai dengan terapi simtomatis. Observasi minimal 24 jam di
rumah sakit untuk menilai kemungkinan hematoma intrakranial
misalnya riwayat lusid interval , sakit kepala, muntahmuntah,
kesadaran menurun, gejala-gejala lateralisasi (pupil anisokor,
refleks patologis positif). Jika dicurigai adanya hematom maka
dibuat scanning otak.9
2. Medikamentosa.
Pasien cedera kepala ringan memiliki variasi keluhan yang
diakibatakan oleh gangguan cerebral, keluhannya antara lain, nyeri kepala,
pusing mual, muntah
a.

Manajeman nyeri kepala yang ditimbulkan akibat cedera kepala ringan


harus dpat dideferensiasikan dari etiologinya apakah nyeri kepala yang
ditimbulkannya

adalah

dari

sinusistis,

dari

disfungsi

sendi

temporomandibula, dari regangan cervical. Umumnya hipersensitivitas


vestibular berkaitan dengan peningkatan tekanan otot otat yang berada
di sekitar servikal Nyeri kepala juga harus dilakukan pengkajian ulang

22

apakah nyeri itu disebabakan oleh ketergantunagn obat apakah oleh


kareana cedera kepala yang dialami Tidak dianjurkan untuk
mengguanakan obat-oabatan yang megandung caffeine.dan apabila ada
obat

yang

mengandung

bahan

itu

maka

diusahakan

untuk

menguranginya secara bertahap terutama pada pasien yang megalami


gangguan tidur dan pada pasien yang iritabel.10
b.

Pengobatan pusing kepala , seperti antivert,seharusnya dihindari untuk


terapi oleh obat-obatan yang mengakibatkan hipersensitifitas pada
organ vestibular yang membuat tidak berorientasi pada kenyamanan.

c.

Pengobatan gangguan kognitif dilakukan pada pasien yang menderita


kesulitan dalam konsentrasi, melatihnya supaya tetap terkonsentrasi
pada hal-hal tertentu, melatih untuk cepat beradapatasi terhadap ide-ide
yang baru, melatih kemampuan persepsi yang mungkin terganggu, dan
juga melatih kecepatan berfikir.Pasien juga harus diberi pengertian
tentang keadan dirinya dan diberikan pengetahuan juga bahwa ada
kontribusi antara kerusakan neurologis dengan gangguan psikologis
atau emosional yang menyertainya seperti halnya cemas dan depresi.10

F. Pengertian insidensi dan prvalensi secara epidemiologi klinis.


Berdasarkan riwayat alamiah penyakit kejadian penyakit dapat dibedakan
menjadi dua yaitu insidensi dan prevalensi. Insidensi adalah kejadian penyakit
yang baru saja memasuki fase klinik sedangkan prevalensi merupakan kejadian
penyakit pada suatu saat atau pada suatu periode waktu tertentu baik yang
memasuki fase klinik maupaun yang telah beberapa waktu lamanya berkembang
sepanjang fase klinik. Para dokter menggunakan istilah ini sebagai angka kejadian
atau kasus baru (insidensi) dan angka kekerapan pada kasus baru dan kasus lama
(prevalensi) Ukuran insidensi penyakit dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
insidensi komulatif dan laju insidensi. Insidensi komulatif merupakan parameter
yang menunjukkan taksiran probabilitas (resiko) seorang terkena penyakit
diantara semua orang yang beresiko terkena penyakit tersebut.11

23

Laju insidensi adalah ukuran yang menunjukkan kecepatan kejadian (baru)


penyakit pada populasi. Laju insidensi merupakan proporsi antara jumlah orang
yang menderita penyakit dan jumlah orang dalam resiko x lamanya ia dalam
resiko.11
Prevalensi ada dua jenis,yaitu prevalensi titik dan prevalensi periode .
Prevalensi titik adalah proporsi dari individu-individu dalam populasi yang
terjangkit oleh penyakit pada suatu titik waktu.
Prevalensi periode merupakan perpaduan antara prevalensi titik dengan
insidensi.Prevalensi periode adalah probabilitas individu dari populasi untuk
terkena penyakit pada saat dimulainya pengamatan atau selama jangka waktu
pengamatan.
Insidensi dan prevalensi merupakan relasi yang sangat erat.Prevalensi
merupakan fungsi dari laju insidensi dan durasi dari fase klinik sampai fase akhir
penyakit.Perubahan prevalansi pada suatu titik waktu lainnya adalah refleksi
perubahan laju insidensi , durasi penyakit atau kedua-duanya

24

BAB III
METODE PENELITIAN.
Penelitian ini merupakan penelitian prospektif, dengan mengikuti jumlah
kasus bedah yang di Instalasi Gawat Darurat (IGD) selama 10 minggu, terhitung 3
juli 2006 sampai dengan 10 september 2006.
Metode yang digunakan adalah diskripsi kuantitatif, data yang di telaah
meliputi :
1. Angka Kasus Bedah
Dihitung berdasarkan jumlah kasus bedah yang yang tercatat melalui
IGD RSUD Saras Husada Purworejo, terhitung mulai tanggal 3 juli 2006
sampai dengan 10 september 2006.
2. Klasifikasi Kasus Bedah
Kasus Bedah yang masuk dikelompokkan menjadi kasus Bedah Minor,
Bedah Syaraf, Bedah Thorax dan Vaskular, Bedah Digesti, Bedah
Urologi, Bedah Anak, Bedah Orthopedi, Bedah Onkologi, Bedah Plastik.
3. Diagnosa
Jumlah kasus bedah yang masuk sesuai klasifikasi, dikelompokkan
menurut diagnosanya.
4. Jenis Kelamin
Jumlah kasus bedah yang masuk sesuai klasifikasi, di rating sesuai
dengan jenis kelamin.
5. Umur pasien
Umur pasien dikelompokkan dalam kelompok umur kurang dari 1 tahun,
1-4 tahun, 5-14 tahun, 15-24 tahun, 25-44 tahun, 45-64 tahun dan lebih
atau sama dengan 65 tahun, sesuai dengan pencatatan yang terdapat
dalam data rekam medis RSUD Saras Husada Purworejo
6. Penanganan
Penanganan disini dibagi menjadi 4, yaitu Rawat Jalan, Rawat Inap (Non
ICU), Rawat ICU dan Rujuk ke RS Propinsi. Rujukan yang dimaksu

25

disini adalah rujukan yang dilakukan melalui IGD langsung, bukan di


bangsal.
7. Mortalitas
Insidensi mortalitas akan dinilai terjadi sebelum 48 jam atau sesudah 48
jam, menurut klasifikasi kasus bedah yang telah dikelompokkan
sebelumnya.
Objek yang menjadi bahan penelitian adalah semua pasien yang tercatat
melalui IGD RSUD Purworejo terhitung 3 juli 2006 sampai dengan 10 september
2006.
Sumber data yang digunakan adalah buku induk (register) yang terdapat di
IGD, dan rekam medis yang telusuri di bangsal rawat inap (non bangsal utama)
secara terprogram.

26