Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH STUDI KASUS

Reklamasi Daerah Bencana Semburan Lumpur

REMEDIASI BADAN AIR DAN PESISIR


KELAS C

NAMA DOSEN: HARMIN SULISTYANINGTITAH, S.T, M.T. Ph.D


NAMA KELOMPOK:
MUHAMMAD RAIHAN

3314100101

ADI PUSPITARINI AYU

3314100019

AKBAR WICAKSONO

3314100071

MUSTIKA RAHAYU LESTARI

3314100103

CHERYKO ADIMAS R

3314100105

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2016

I.

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tragedi semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur, sudah memasuki tahun
keenam. Tragedi di Sidoarjo yang terjadi sejak Mei 2006 ini diakibatkan oleh
semburan lumpur yang oleh berbagai kalangan ahli geologi disebut sebagai erupsi
lumpur volkano. Semburan lumpur volkano terbesar di dunia saat ini diperkirakan
dipicu oleh blowout sumur gas yang saat itu sedang dilakukan pemboran, walaupun
hal ini disangkal oleh perusahaan minyak terkait yang menyatakan bahwa
kejadiannya disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di sekitarnya. Pada
puncaknya, erupsi telah memuntahkan lumpur hingga180,000 m tiap harinya.
Hingga akhir tahun 2011 rata-rata semburan lumpur masih sekitar 10,000m tiap
harinya. Diperkirakan semburan lumpur masih akan berlanjut hingga 25 sampai 30
tahun mendatang.
Saat ini, semburan lumpur telah menggenangi lebih dari 600 hektar lahan yang
meliputi enam wilayah desa, persawahan, dan kebun-kebun tebu. Di beberapa lokasi,
ketinggian lumpur mencapai 6 m. Banjir lumpur ini telah menenggelamkan 1.810
rumah, 18 sekolah, 2 kantor pemerintah, 20 pabrik, dan 15 mesjid. Diperkirakan
sebanyak 3.000 kepala keluarga atau sekitar 10.000 orang telah dipindahkan dari
lokasi bencana. Tidak dapat disangkal lagi bahwa bencana lumpur ini telah
menimbulkan dampak negatif yang sangat besar terhadap lingkungan hidup,
infrastruktur, maupun ekonomi regional.
Berbagai upaya telah di lakukan untuk menghentikan semburan lumpur ini.
Upaya awal untuk menghentikan semburan lumpur ini adalah dengan teknik
pengeboran terarah ke sumur pemboran (drilling relief well). Namun upaya ini
nampaknya banyak mengalami kendala dan pada akhirnya dihentikan sama sekali
tanpa ada alasan yang jelas.
Upaya berikutnya adalah dengan menjatuhkan bola-bola beton kedalam mulut
lumpur volkano, dengan harapan upaya ini dapat mengurangi semburan lumpur
hingga 70%. Upaya ini pun pada akhirnya gagal. Berbagai usulan kemudian
bermunculan, misalnya yang diajukan oleh pemerintah Jepang untuk membangun
double-cover dam untuk membendung lumpur sedemikian rupa hingga volumenya
cukup untuk menahan aliran lumpur di bawahnya. Akan tetapi banyak kalangan ahli
memperingatkan bahwa setiap upaya untuk menutup aliran lumpur justru akan
menimbulkan masalah yang lebih besar.
Sambil menunggu berhentinya semburan lumpur tersebut, mungkin perlu
dipikirkan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mereklamasi lahan yang
telah tercemar oleh lumpur ini. Menurut hasil pemantauan dari penelitian-penelitian
yang telah dilakukan oleh berbagai kalangan, lumpur mengandung garam
(sebagaimana air tanah dalam), minyak, fenol, dan logam-logam berat berbahaya.
Keberadaan logam berat di dalam lumpur ini memang masih diperdebatkan, namun
hasil yang diperoleh dari beberapa lembaga riset menunjukkan bahwa di beberapa
lokasi kadar logam berat telah melebihi ambang batas.

Terlepas dari kontroversi mengenai keberadaan logam berat dan zat-zat


berbahaya di dalam lumpur tersebut, kadar garam yang terlalu tinggi di dalam lumpur
akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi tanaman. Unsur natrium yang
tinggi di dalam tanah akan menyebabkan efek racun bagi tumbuh tumbuhan. Lahan
yang mengandung kadar garam. yang tinggi akan sangat sulit bagi tanaman untuk
tumbuh. Akankah lahan yang telah tercemari oleh lumpur ini dibiarkan begitu saja
selamanya? Salah satu cara yang sangat efektif untuk mereklamasi lahan yang telah
tercemar oleh kontaminan organik maupun anorganik adalah melalui teknik
remediasi cuci lahan atau soil washing. Remediasi cuci lahan telah banyak dilakukan
di negara-negara industri, misalnya Amerika Serikat, beberapa negara Eropa Barat
dan Jepang. Di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, remediasi lahan
tercemar pada umumnya dan remediasi cuci lahan pada khususnya belum banyak
menjadi perhatian.
A. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana cara mereklamasi lumpur yang tercemar dengan cara remediasi
cuci lahan?
Kandungan apa saja yang terdapat pada lumpur sehingga menyebabkan
tanah tercemar?
B. TUJUAN
Untuk memberikan gambaran atau ulasan bagaimana suatu lahan yang
telah tercemar, sebagaimana daerah bencana lumpur, dapat direklamasi
kembali secara cepat melalui teknik remediasi soil washing agar dapat
digunakan sebagaimana sebelumnya.
C. MANFAAT
Untuk pengetahuan dan wawasan mahasiswa Teknik Lingkungan kelas
RBAP C.
II.

TINJAUAN MASALAH
A. LANDASAN TEORI
Limbah lumpur minyak bumi (oil sludge) merupakan kotoran minyak yang
terbentuk dari proses pengumpulan dan pengendapan kontaminan minyak yang tidak
dapat digunakan kembali dalam proses produksi. Kandungan terbesar dalam oil
sludge adalah petroleum hydrocarbon, yang dapat diolah dengan proses bioremediasi.
Bioremediasi pada pencemaran minyak bumi dapat dilakukan dengan menambahkan
mikroba non-indigenous yang berpotensi tinggi mendegradasi hidrokarbon
(bioaugmentation) atau dengan penambahan nutrien untuk meningkatkan kemampuan
mikroba indigenous (biostimulation). Proses bioremediasi tersebut dapat dilakukan
secara pengomposan. Penambahan kompos tersebut, selain sebagai sumber inokulan
juga sumber nutrient dalam tanah, yang akan mempercepat terjadinya degradasi bahan
pencemar hidrokarbon. Selain itu laju biodegradasi dalam proses remediasi tanah
tercemar dapat ditingkatkan dengan penambahan bulking agents, yakni bahan

tambahan yang dipergunakan untuk memperbaiki permeabilitas, water holding


capacity dan porositas untuk meningkatkan laju biodegradasi dalam proses pemulihan
[BPMIGAS]. Bulking agents tersebut berfungsi sebagai pengatur porositas,
kelembaban, dan sumber nutrisi (Mulyana, 2013).
Banjir Lumpur Panas Sidoarjo atau Lumpur Lapindo merupakan peristiwa
menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas di Desa Reno
kenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak tanggal 27 Mei
2006. Lumpur Lapindo di Sidoarjo tersusun atas 70% air dan 30% padatan (Usman et
al., 2006). Kadar garam (salinitas) lumpur sangat tinggi (38- 40 0 /0), sehingga
bersifat asin (Arisandi, 2006).
Berdasarkan hasil uji pendahuluan yang dilakukan oleh UNDAC, lumpur
Lapindo diketahui mengandung logam berat Cu sebesar 24,5 ppm, sedangkan untuk
kandungan logam berat Pb sebesar 17,8 ppm (UNDAC, 2006).
Apabila logam berat tersebut masuk ke dalam perairan akan dapat
menyebabkan pencemaran terhadap sungai, tanah dan organisme di sekitar aliran
sungai. Logam berat sendiri sebenarnya merupakan unsur esensial yang sangat
dibutuhkan setiap makhluk hidup, namun beberapa di antaranya (dalam kadar
tertentu) bersifat racun. Di alam, unsur ini biasanya terdapat dalam bentuk terlarut
atau tersuspensi (terikat dengan zat padat) serta terdapat sebagai bentuk ionik. Logam
berat Cu merupakan unsur logam berat yang bersifat esensial yang keberadaannya
dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun jika
jumlahnya berlebih dapat menimbulkan efek racun. Sedangkan logam berat Pb
termasuk salah satu golongan logam berat non-esensial sehingga jika masuk ke dalam
tubuh organisme hidupakan dapat bersifat racun. Unsur logam berat Pb memiliki
afinitas tinggi terhadap unsur S menyebabkan logam ini menyerang ikatan belerang
dalam enzim sehingga enzim bersangkutan menjadi tak aktif. Gugus karboksilat
(COOH) dan amina (NH2 ) juga berikatan dengan logam berat, salah satunya Cu,
terikat pada sel-sel membran yang menghambat proses transformasi melalui dinding
sel (Manahan, 1994).
Apabila logam berat tersebut masuk ke dalam perairan akan dapat
menyebabkan pencemaran terhadap sungai, tanah dan organisme di sekitar aliran
sungai. Logam berat sendiri sebenarnya merupakan unsur esensial yang sangat
dibutuhkan setiap makhluk hidup, namun beberapa di antaranya (dalam kadar
tertentu) bersifat racun. Di alam, unsur ini biasanya terdapat dalam bentuk terlarut
atau tersuspensi (terikat dengan zatpadat) serta terdapat sebagai bentuk ionik.
Logamberat Cu merupakan unsur logam berat yang bersifat esensial yang
keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup,
namun jika jumlahnya berlebih dapat menimbulkan efek racun. Sedangkan logam
berat Pb termasuk salah satu golongan logam berat non-esensial sehingga jika masuk
ke dalam tubuh organisme hidup akan dapat bersifat racun. Unsur logam berat Pb
memiliki afinitas tinggi terhadap unsur S menyebabkan logam ini menyerang ikatan

belerang dalam enzim sehingga enzim bersangkutan menjadi tak aktif. Gugus
karboksilat (COOH) dan amina (NH2 ) juga berikatan dengan logam berat, salah
satunya Cu, terikat pada sel-sel membran yang menghambat proses transformasi
melalui dinding sel (Manahan, 1994).

Teknik bioremediasi telah digalakkan oleh pemerintah dengan diterbitkannya


Surat Keputusan (SK) Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 128 Tahun 2003,
tentang Tata cara dan Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan
Tanah Terkontaminasi oleh Minyak Bumi secara Biologis. Dengan diterbitkannya SK
ini beberapa perusahaan minyak di Indonesia, misalnya UNOCAL di Kalimantan dan
CPI di Sumatera, telah mencoba untuk menerapkan teknik ini pada lahan-lahan
mereka. Keberhasilan teknik bioremediasi ini masih menjadi bahan polemik,
mengingat berbagai senyawa atau komponen hidrokarbon di dalam minyak bumi
mempunyai sifat rekalsitran (sukar terdegradasi). Polemik ini juga menyangkut
tentang biaya operasional yang sering dikatakan bioremediasi lebih murah dibanding
dengan remediasi non biologis. Padaha kekatnya, remediasi lahan tercemar minyak
bumi tidak hanya dapat dilakukan dengan cara biologis saja. Teknik-teknik remediasi
lain dengan cara non-biologis, yaitu cara fisika/kimia dan termal, juga dapat
digunakan. Cara non-biologis ini antara lain adalah teknik cuci lahan (soil washing)
yang memanfaatkan sifat kelarutan kontaminan dan teknik desorpsi termal (thermal
desorption) yang memanfaatkan sifat penguapan dari kontaminan. Beberapa industri
perminyakan hulu di Indonesia juga telah mencoba berbagai teknik remediasi ini.
Dengan adanya cara-cara non-biologis ini, pengguna teknologi remediasi mempunyai
pilihan untuk menentukan teknik mana yang lebih cocok untuk remediasi lahan sesuai
dengan kondisi lingkungannya. Faktor kondisi ini sangat penting untuk
memperkirakan keberhasilan dan biaya operasional dari teknik remediasi yang akan
dipilihnya. Tidak
saja
kondisi
lahan, misalnya
jenis dan tekstur
tanah, tetapi juga
kondisi dan sifatsifat minyak bumi
yang
mencemarinya.
Kesemuanya ini
akan menentukan
keberhasilan dan
biaya dari teknik
remediasi yang
digunakan
tersebut. Kandungan zat-zat lain selain minyak bumi di dalam tanah juga akan
mempengaruhi unjuk kerja proses remediasinya. Logam berat yang tinggi (>2500
ppm) serta zat-zat organik yang mengandung klor (pestisida, herbisida, dan lain-lain)
akan menghambat aktifitas mikroba karena sifat racun terhadap mikroba tersebut
(Desrina, 2011).
III.

PEMBAHASAN

Komposisi Lumpur Dan Dampaknya Terhadap Lahan Pertanian


Informasi tentang komposisi lumpur sangat beragam tergantung pada jenis uji
dan lembaga yang melakukan pengujian laboratorium. Misalnya, dari hasil uji
laboratorium yang dilakukan oleh suatu perusahaan, dinyatakan bahwa lumpur bukan
temasuk bahan beracun dan berbahaya.
Analisis dengan spektrometer sinar-X terhadap partikel padat dari lumpur
menunjukkan hasil: Besi 83,1%, Silikon4,1%, Kalium 4,1%, Kalsium 4,1%, Titanium
1,8%,dan Khlorine 1,6%(4).
Sementara menurut salah satu lembaga lingkungan hidup di Jawa Timur,
konsentrasi beberapa logamberat (Tembaga, Timah Hitam, dan Kadmium) adalah
2000 kali lebih tinggi dari konsentrasi ambang batasnya. Selanjutnya mereka
menyebutkan bahwa lumpur mengandung polisiklik aromatic hidrokarbon (PAH),
misalnya crysene dan benz, anthracene, senyawa organik yang dikenal bersifat
karsinogen.
Hasil analisis terhadap lumpur yang dilakukan oleh Laboratorium
Biolingkungan, salah satu Universitas di Jawa Timur, menunjukkan bahwa
konsentrasi dari semua parameter kimia masih berada di bawah ambang batas.
Melalui uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP), konsentrasi beberapa
parameter dari enam sampel yang telah dilakukan oleh laboratorium tersebut
dicantumkan pada Tabel.
No
1
2
3
4
5
6
7

Parameter

Lab.
(Mg/L)
0,045
0,045
5,097
0,05
0,004
0,02
0,017

Results Threshold Concn. acc.to PP.18/1999, Mg/L

Arsenic, As
5
Barium, Ba
100
Boron, B
500
Lead, Pb
5
Mercury, Hg
0.2
Cyanide, CN
20
2,4,6
2
Trichlorophenol
Tabel 3.1 Uji TCLP beberapa parameter kimia yang dilakukan oleh Laboratorium
Biolingkungan

Lumpur telah menimbulkan


dampak lingkungan yang sangat besar.
Kadar garam yang sangat tinggi atau
salinitas tinggi mengakibatkan tanah
yang digenanginya menjadi tidak subur
(lihat Gambar 2). Demikian pula halnya
bila terjadi hujan, garam maupun zat-zat
lain yang dapat larut dalam air hujan
dapat menggenangi lahan-lahan pertanian di sekitarnya. Lumpur dan air yang berasal
dari danau lumpur terbukti telah merembes ke persawahan disekitarnya, dan telah
menurunkan pendapatan para petani.
Air asin yang bercampur dengan lumpur tersebut mengandung garam dengan
konsentrasi tinggi sebagaimana air asin pada umumnya yang berasal dari formasi
tanah dalam. Komposisi garam umumnya terdiri dari garam-garam klorida, sulfat,
karbonat, dan bikarbonat dari kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Kadar
natrium yang tinggi (disebut sebagai sodisitas) dapat merusak struktur tanah dan
menyebabkan tanaman sukar tumbuh.
Kadar garam yang tinggi di dalam tanah umumnya dapat dikurangi dengan
berbagai cara. Diantaranya adalah dengan cara drainase, perbaikan struktur tanah, dan
fitoremediasi dengan jenis tanaman yangtahan terhadap kadar garam yang tinggi.
Drainase dilakukan melalui cara melunturkan garam yang terlarut dengan air yang
dialirkan ke kanal atau sungai. Perbaikan struktur tanah (soil amandement)dapat
dilakukan dengan penambahan aditif atau bulking agent untuk menggantikan unsur
sodium misalnya dengan gipsum. Reklamasi lahan terhadap kandungan garam yang
tinggi dengan cara-cara ini memerlukan waktu yang sangat lama dan bahan-bahan
aditif yang cukup mahal.
Kandungan
organik
berbahaya,
misalnya
polisiklik
aromatik
hidrokarbon(PAH) atau minyak, sebagaimana yang disebutkan oleh lembaga
lingkungan hidup di Jawa Timur, dapat dihilangkan dengan cara bioremediasi. Namun
perlu diketahui pula bahwa dengan kandungan garam yang tinggi di dalam tanah,
proses biodegradasi senyawa-senyawa organik ini tidak akan berjalan dengan mudah.
Teknologi Remediasi Soil Washing
Pada awalnya, cuci lahan dikenal sebagai teknologi pemisahan sederhana yang
menggunakan air untuk memisahkan pasir yang tercampur dengan tanah, atau dengan
kata lain merupakan teknik "mencuci" pasir.
Diketahui bahwa berbagai jenis kontaminan baik anorganik maupun organik
berada dalam keadaan menempelatau teradsorpsi pada partikel tanah yang halus, yaitu
partikel debu (silt) dan lempung (clay). Berbagai kontaminan ini dapat "dicuci"
dengan berbagai jenislarutan pencuci berbasis air, misalnya surfaktan dansenyawa
kimia sepit (chelating agent).
Berbagai zat aktif permukaan, diantaranya zat-zat biosurfaktan sebagai larutan
pencuci, telah banyak dikembangkan untuk memperoleh proses pencucian yang lebih

efektif. Pengembangan lain ditujukan bagi proses pemisahan menggunakan proses


fisika, diantaranya adalah dengan menggunakan sistem flotasi gelembung udara dan
hidrosiklon.
Diagram Alir Proses Cuci Lahan
Saat ini sudah banyak proses komersial bermunculan dan yang membedakan
adalah pada jenis larutan pencuci dan urutan unit prosesnya. Pada umumnya proses
cuci lahan bukan merupakan proses pencucian tunggal, akan tetapi merupakan
kombinasi proses yang menggunakan berbagai larutan pencuci.

Gambar 3. Diagram Alir Proses Soil Washing


Tanah yang tercemar diangkut (misalnya denganmenggunakan truk) ke tempat
pengolahan cuci lahan.
Langkah pertama adalah memisahkan material kasar/besar misalnya kayu dan
bebatuan. Kemudian tanah yang sudah dibersihkan dari kayu-kayu dan batu-batu ini
dimasukkan ke dalam reaktor dan ke dalam reaktor ditambahkan air yang
mengandung bahan pencuci. Bahan pencuci inilah yang berfungsi sebagai bahan

pencucian tanah (soil washing) yang jenis larutannya ditentukan oleh kontaminan
yang akandihilangkan.
Proses pencucian dilakukan dalam beberapa waktu sebagaimana langkah
pencucian pada mesin cuci otomatis. Langkah berikutnya adalah pemisahan antara
tanah yang sudah dicuci dan larutan pencucinya.
Unit proses dari sistim pencucian dan pemisahanakan berbeda dari satu proses
komersial dengan proses komersial lainnya. Unit proses yang digunakan pada proses
cuci lahan pada dasarnya berasal dariunit-unit proses yang biasa digunakan pada
industry pertambangan mineral. Unit proses ini diperlukan untuk dapat memisahkan
tigafasa zat, yaitu tanah, air, dan kontaminan. Tanah berada di lapisan bawah yang
dapat dipisahkan dan dikembalikan ke lahan semula. Kontaminan, terutama
kontaminan organik, akan terpisah oleh proses pencucian dan dapat ditampung di
dalam drum, sementara air pencuci dapat diresirkulasi kembali.
Air pencuci yang sudah tidak layak digunakan kembali dapat dialirkan ke
tempat pengolahan limbah cair untuk diolah lebih lanjut sebelum dibuang
kelingkungan.
Larutan-larutan Pencuci pada Remediasi Cuci Lahan
Berbagai larutan pencuci dapat digunakan pada proses cuci lahan. Jenis
larutan pencuci akan sangat tergantung pada kontaminan di dalam tanah yang akan
dihilangkan. Pada umumnya larutan pencuci ini adalah larutan berbasis air.
1. Larutan Pencuci Garam
Garam mudah larut di dalam air sehingga reklamasi lahan yang tercemar
dengan kadar garam yang tinggi cukup memerlukan air saja sebagai larutan
pencucinya. Namun tidak demikian halnya bila tanah mengandung kadar natrium
(sodium) yang tinggi. Kandungan sodium yang tinggi harus terlebih dulu digantikan
dengan kation lain, misalnya dengan Gypsum (CaSO4 2H2O) kemudian baru dicuci.
Cuci lahan terhadap tanah dengan kandungan garam yang tinggi dapat juga dipercepat
dengan menggunakan teknik pencucian dengan bantuan getaran ultra sonik. Dengan
menggunakan bantuan getaran ultra sonik ini, proses pencucian dapat dipercepat
dalam waktu yang relatif lebih singkat dibanding dengan proses pencucian
konvensional.
2. Larutan Pencuci Minyak dan Organik Lainnya
Minyak dan kontaminan organik mempunyai sifat tidak larut di dalam air
melainkan mudah larut di dalam pelarut organik. Akan tetapi pelarut organik,
misalnya kerosin atau petroleum eter, tidak pernah dipakai sebagai larutan pencuci
pada remediasi cuci lahan karena pelarut ini justru akan mengotori tanah.
Sebagaimana mencuci baju yang terkena minyak dengan larutan deterjen atau sabun,
maka dalam remediasi cuci lahan digunakan pula "deterjen" yaitu zat-zat yang bersifat
aktif permukaan (surfaktan). Berbagai surfaktan, baik yang sintetis maupun yang
berasal dari mikroorganisme (biosurfaktan) sudah banyak diproduksi untuk keperluan
cuci lahan.

3. Larutan Pencuci Logam Berat


Zat-zat anorganik, seperti logam berat, dapat terbentuk dalam berbagai
senyawaan, misalnya sebagai oksida, hidroksida, nitrat, fosfat, klorida, sulfat, dan
berbagai bentuk mineral kompleks yang mempunyai kelarutan rendah. Zat-zat kimia
bersifat asam dapat ditambahkan ke dalam larutan pencuci untuk menambah keefi
sienan penghilangan kontaminan logam berat. Zat-zat asam ini antara lain adalah
asam klorida, asam sulfat, dan asam nitrat. Berbagai larutan pencuci dari jenis
senyawa sepit (chelating agents) atau bersifat sequestering, misalnya asam sitrat,
ammonium asetat, asam nitrilotriasetat (NTA, nitrilotriacetic acid), dan asam
etilenadiaminatetra asetat (EDTA, ethylenediaminetetraacetic acid), dapat dipakai
sebagai aditif karena mempunyai sifat dapat melarutkan berbagai macam kontaminan
logam-logam berat.
CUCI LAHAN DAERAH BENCANA LUMPUR
Perlu adanya dilakukan analisis tentang zat-zat berbahaya dan beracun ini
lebih mendalam untuk mengetahui komposisi lumpur yang sebenarnya. Sebagaimana
lumpur yang berasal dari formasi tanah dalam, maka lumpur ini mengandung kadar
garam yang cukup tinggi. Kandungan garam yang tinggi akan merusak struktur tanah
dan menghambat pertumbuhan tanaman. Mengingat luasan lahan yang terkena
dampak lumpur ini sangat besar (lebih dari 600 ha), dan bencana telah berlangsung
lebih dari enam tahun, maka perlu kiranya mulai dari sekarang direncanakan langkahlangkah untuk mereklamasi lahan yang telah tercemar ini. Reklamasi lahan dapat
dimulai dari daerah-daerah yang terkena lumpur paling tidak daerah yang secara tidak
langsung terkenadampaknya. Sebagai contoh, sebagaimana yang diberitakan oleh satu
media cetak pada 21 Februari 2011 warga Desa Besuki Timur Kecamatan Porong
mengeluhkan sumur air minum diduga tercemar air lumpur. Airsumur warga berubah
keruh berwarna kuning danrasanya berubah asin. Aneka tanaman dan pohonmangga
mengering dan mati. Selain itu, sawah wargayang berimpitan dengan lumpur telah
tercemar, tanaman mat, dan mengering dan sawah tidak dapat ditanami.
Contoh di atas hanyalah sebagian kecil daerah yang terkena dampak lumpur
ini. Tentunya masih banyak lagi daerah-daerah lain yang terkena dampak, baik secara
langsung maupun tidak langsung akibat merembesnya air lumpur ke daerah-daerah
sekitarnya. Tidak dapat disangkal lagi contoh di atas adalah dampak negatif dari
salinitas dan sodisitas yang tinggi akibat pencemaran lumpur tersebut. Hal lain yang
masih perlu diungkap adalah kemungkinannya dampak dari zat-zat beracun lain,
misalnya logam berat, PAH, fenol, dll., yang terdapat di dalam lumpur itu.
Kontaminasi lahan oleh kandungan garamyang tinggi, logam berat, dan
minyak bumi adalah hal yang sering terjadi pada kegiatan pengeboran minyak di
darat. Sudah menjadi ketentuan bahwabagi perusahaan minyak yang melakukan
kegiatan pengeboran untuk mengikuti peraturan yang menetapkan pencegahan dan
penanggulangan pencemaran akibat kegiatannya. Ketentuan ini sebaiknya juga dapat
diterapkan dalam kasus pencemaran lumpur di daerah Sidoarjo ini.Langkah-langkah
yang perlu diambil oleh perusahaan yang terkait dengan kegiatan pemboransumur gas

ini, selain dari penanggulangan dampak sosial yang telah dilakukan, maka dapat
ditindak lanjuti dengan rencana kegiatan reklamasi lahan yang tercemar.
Langkah-langkah ini, misalnya;dimulai dengan melakukan analisis kimia
fisika yang lebih rinci pada lahan-lahan penduduk yang terkenadampak.
Pada tahap berikutnya, setelah diketahui komposisi zat-zat berbahayanya
maka perlu diadakan studi atau penelitian teknik-teknik remediasi yang mungkin
dapat diterapkan pada lahan yang tercemarini.
Reklamasi lahan yang tercemar lumpur ini dapat dilakukan dengan berbagai
cara, salah satunya adalah dengan teknik remediasi cuci lahan (soil washing). Teknik
soil washing telah banyak dilakukan di Negara-negara Eropa, Amerika Utara, dan
Jepang untuk membersihkan lahan-lahan yang tercemar baik oleh kontaminan organik
maupun anorganik secara cepat.
.
IV.

KESIMPULAN DAN SARAN


Dampak yang nyata adalah tercemarnya lahan penduduk oleh kandungan
garam yang tinggi (salinitas dan sodisitas tinggi) yang mengakibatkan sukarnya
tanaman tumbuh dengan baik. Reklamasi lahan yang terkena dampak lumpur ini dapat
dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan cara cuci lahan (soil
washing). Dibandingkan dengan teknik-teknik reklamasi atau remediasi yang lain,
teknik soil washing merupakan teknik reklamasi atau remediasi yang prospektif yang
proses reklamasinya dapat dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat.
Disarankan untuk dilakukan studi lebih lanjut tentang komposisi lumpur
terutama terhadap kandungan zat-zat beracun, misalnya logam berat,PAH, dan fenol,
serta dampak lingkungannya terhadap lahan-lahan sekitar bencana.

V.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2011, Sidoarjo mud fl ow, Wikipedia,the free encyclopedia,
http://en.wikipedia. org/wiki/Sidoarjo_mud_flow#
Anonymous, 2012, Harian Kompas, Selasa 29 Mei2012, Jl. Palmerah Selatan, 26-28,
Jakarta 10270. Online: www.kompas.com.
Bambang Catur Nusantara, 2008, Direktur WalhiJawa Timur, Koran TEMPO/ Senin,
04 Agustus 2008,Berita Utama-Jatim.
Maryadi, 2006, Parameter Bahan Kimia LumpurPorong di Bawah Baku Mutu,
http://www. detiknews.com/index.php/detik.read/ta
McMi c h a e l , H, 2 0 0 9 , THE LAP INDOMUDFLOW DISASTER:
ENVIRONMENTAL,INFRASTRUCTURE AND ECONOMIC IMPACT,
Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 45, No.1, pp: 7383
Pohl, C., 2007, LAPINDO BRANTAS AND THEMUD VOLCANO SIDOARJO,
INDONESIA, ABackground paper prepared for Friends of the Earth
International and Friends of the Earth Europe, A copyof the license can be
found under

http://commons.wikimedia.org/wiki/Commons:GNU_Free_Documentation_Li
cense.
Warrence, N.J., Pearson, K.E., and Bauder, J.W.,2003, The Basics of Salinity and
Sodicity Effects onSoil Physical Properties, Montana State University(MSU),
Extension Water Quality Program, Bozeman,MT 59717-3120,
www.waterquality.montana.edu /docs/publications.shtml
Juniawan,A.,B.Rumhayati, BambangIsmuyanto. 2013. Karakteristik Lumpur Lapindo
Dan Fluktuasi Logam Berat Pb Dan Cu Pada Sungai Porong Dan Aloo.
Universitas Brawijaya. Jurnal Sains dan Terapan Kimia, Vol.7, No. 1 (Januari
2013), 50-59.
Desrina,R.2011.Perbandingan Biaya pada Teknik-Teknik Remediasi Tanah Tercemar
Minyak Bumi. LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK Dan GAS BUMI R.
DESRINA VOL. 45. NO. 3, DESEMBER 2011: 183 - 194