Anda di halaman 1dari 15

PANCASILA

PENYELEWENGAN PERILAKU BERPOLITIK

Disusun Oleh : KELOMPOK 04


1

IDA BAGUS PRASADANA

A42151870

VERONIKA AMANDA PUTRI

A42151817

AHMAD FIFIKRI S

A42152030

HENDY PRATAMA

A42151588

MOCH. IQBALUS SHOFI

A42151717

EKO UTOMO PUTRA

A42151995

APRILIYA DWI M

A42151402

MOH. WAHYUDI

A42151150

SION WIJAYA

A42151248

10 ACHMAD VAN VEROSY

A42150611

11 ASHLIH SYANANA

A42150813

12 AHMAD RIZKY N

A42150595

13 NOR FAQIH ARIFIN

A42150677

14 LILLA ANGGRAINI W. P.

A42150576

15 AHMADNURILAFFADIL

A42151350

PRODUKSI PERTANIAN
TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN PANGAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2016
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga kami bisa mengerjakan Makalah kami yang berjudul
Penyelewengan Perilaku Berpolitik. Makalah ini di susun untuk melengkapi
tugas mata kuliah Pancasila
Meskipun banyak hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya,
tetapi kami berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.Tentunya
ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada masyarakat dari hasil makalah ini.
Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1 Mohammad Zainunnuroni selaku Dosen Pembimbing mata kuliah Pancasila
2 Teman teman Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Pangan sem.3
3 Orang tua serta semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah
ini.
Makalah ini masih kurang sempurna,kami mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun guna perbaikan dimasa yang akan datang. Semoga
maklah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis.

Jember, 10 September 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
2

1.1 Latar Belakang...............................................................................................1


1.1 Tujuan.............................................................................................................2
1.2 Manfaat...........................................................................................................2
BAB II RUMUSAN MASALAH............................................................................3
BAB III PEMBAHASAN........................................................................................4
3.1 Penyelewengan Dalam Berpolitik..................................................................4
3.2 Kondisi Politik Indonesia Saat Ini..................................................................7
3.3 Upaya Dalam Menaggulangi Penyimpangan Politik.....................................8
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................10
4.1 Kesimpulan...................................................................................................10
4.2 Saran.............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................11

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Munculnya banyak masalah politik di Indonesia ,seperti korupsi,kolusi dan
nepotisme memberikan tantangan yang lebih berat untuk mewujudkan negara
yang sejahterah.Akibat dari banyak tudingan kepada pemerintah tentang
penyimpangan politik menyebabkan menurunnya kepercayaan masyarakat
3

terhadap pemerintah.Tudingan-tudingan yang terutama berasal dari pihak partai


oposisi,ada kalanya berlebihan,sehingga memberikan dampak buruk bagi
pemerintah.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak cara-cara kotor yang
digunakan dalam politik,baik melalui kewenangan maupun melalui posisinya
dalam masyarakat.Banyak rakyat yang tidak mengetahui tentang penyimpangan
yang dilakukan oleh pihak oposisi,sehingga tidak seimbang antara pemerintah dan
oposisi.Padahal tidak sedikit penyimpangan yang mereka lakukan ,terutama
melalui media.Lemahnya hukum di Indonesia dalam mengatur tentang
penyimpangan politik memberikan banyak peluang bagi mereka yang berotak
licik untuk berbuat yang tidak seharusnya.Hal tersbut akan berdampak bagi sistem
pemerintah dan rakyat.Peran pemerintah dirasa kurang dalam menangani
penyimpangan-penyimpangan politik tersebut.
Karena alasan itulah,perlu dilakukan pembahasan tentang penyimpangan
politik yang ada di Indonesia.Kita perlu mengatahui sampai sejauh mana
penyimpangan politik itu telah terjadi,agarkita tahu langkah apa yamg harus kita
lakukan.Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah sangatlah penting untuk
menjaga kesetabilan negara,untuk itu hal ini perlu diperjuangkan.
Kita harus merumuskan apa saja bentuk penyimpangan politik apa saja
yang ada di Indonesia ,apa dampaknya,dan harus seperti apa peran pemerintah
dalam hal ini.

1.1 Tujuan
1. Mahasiswa Dapat Mengetahui Penyelewengan Dalam Berpolitik
2. Mahasiswa Dapat Mengetahui Kondisi Politik Saat ini
3. Mahasiswa Dapat Menyikapi Penyelewengan Dalam Berpolitik
1.2 Manfaat
1. Mahasiswa Paham Penyelewengan Dalam Berpolitik
2. Mahasiswa Paham Dengan Kondisi Politik Saat Ini
3. Mahasiswa Mampu Menyikapi Penyelewengan Dalam Berpolitik

BAB II
5

RUMUSAN MASALAH
1. Apa Itu Penyelewengan Dalam Berpolitik
2. Bagaimana Kondisi Politik saat ini
3. Bagaimana Upaya Menyelesaikan Penyelewengan Dalam Berpolitik

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Penyelewengan Dalam Berpolitik
Penyelewangan merupkan suatu tindakan proses, cara, perbuatan
menyeleweng; penyimpangan; pengkhianatan; penyalahgunaan suatu hal yang di
lakukan oleh seseorang dengan tujuan individu. Politik (dari bahasa Yunani:
politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara),
adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang
antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.
Penyelewengan dalam berpolitik adalah suatu tindakan penyalahgunaan
kekuasaan dalam masyarakat berwujud proses pembuatan keputusan , khususnya
dalam negara .
Penyelewengan prinsi-prinsip hukum terjadi karena politik cenderung
mengkonsentrasikan kekuasaan ditangannya dengan memonopoli alat-alat
kekuasaan demi tercapainya kepentingan-kepentingan politik tertentu. Di samping
itu seperti dicatat oleh Virginia Held (Etika Moral 1989; 144) keputusankeputusan politik dapat bersifat sepenuhnya ekstra legal, selama orang-orang yang
dipengaruhinya menerima sebagai berwenang. Jika keputusan seorang pemimpin,
betapapun sewenang wenang ataupun tidak berhubungan dengan peraturanperaturan tertentu, diterima oleh para pengikutnya, maka keputusan itu
mempunyai kekuatan politik yang sah. Dengan memonopoli penggunaan alat-alat
kekuasaan dan mengkondisikan penerimaan oleh masyarakat, maka politik
mampu menciptakan kekuasaan efektif tanpa memerlukan legalitas hukum.
Di samping itu kekuasaan tak jarang menampakkan wajahnya yang arogan
dan tak terjangkau oleh kontrol hukum maupun rakyat melalui lembaga
perwakilan. Padahal salah satu esensi dari negara yang berdasar atas hukum
adalah bahwa kekuasaanpun mesti tunduk dan bertanggung jawab untuk
mematuhi hukum. Kekuasaan politik yang dijalankan dengan menghormati
hukum, merupakan yang dijalankan sesuai dengan kehendak rakyat yang
berdaulat. Carol C Gould (Demokrasi ditinjau Kembali 1993: 244) menyatakan:
mematuhi hukum sebagai bagian dari kewajiban politik. Aturan hukum dan juga

kehidupan sosial yang berperaturan berfungsi sebagai salah satu kondisi bagi
kepelakuan. Hukum mencegah gangguan dan sekaligus menjaga stabilitas dan
koordinasi kegiatan masyarakat. Dengan demikian memungkinkan tindakan orang
lain dan membuat rencana masa depan.
Gejala mengutamakan pencapaian target dengan kurang mengindahkan
prinsip-prinsip yang mesti ditegakkan dan arogansi kekuasaan apabila tidak segera
diatasi merupakan kendala dalam merealisasikan komitmen Orde Baru untuk
menegakkan konstitusi, demokrasi dan hukum. Untuk menegakkan konstitusi,
demokrasi dan hukum tak cukup hanya dengan kemauan politik yang selalu
dijadikan retorika, yang lebih penting adalah melakukan upaya nyata
melaksanakan konstitusi, mengembangkan demokrasi dan membangun wibawa
hukum dalam praktek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal itu
akan menjadi realitas apabila sistem hukum dan politik berfungsi dengan baik
menurut kewenangan-kewenangan sah yang diatur dalam konstitusi.
Hukum memberikan dasar legalitas bagi kekuasaan politik dan
kekuasaan politik membuat hukum menjadi efektif. Atau dengan kata lain dapat
dikemukakan bahwa hukum adalah kekuasaan yang diam dan politik adalah
hukum yang in action dan kehadirannya dirasakan lebih nyata serta berpengaruh
dalam kehidupan kemasyarakatan.
Adapun contoh dari tindakan penyelewengan dalam berpolitik yang
menyangkut dengan ketentuan hukum meliputi :
1. Penyuapan (atau suap saja) adalah tindakan memberikan uang, barang atau
bentuk lain dari pembalasan dari pemberi suap kepada penerima suap yang
dilakukan untuk mengubah sikap penerima atas kepentingan/minat si
pemberi, walaupun sikap tersebut berlawanan dengan penerima. Dalam
kamus hukum Black's Law Dictionary, penyuapan diartikan sebagai tindakan
menawarkan, memberikan, menerima, atau meminta nilai dari suatu barang
untuk mempengaruhi tindakan pegawai lembaga atau sejenisnya yang
bertanggung jawab atas kebijakan umum atau peraturan hukum. [1] Penyuapan
juga didefinisikan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1980 sebagai
tindakan "memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan
maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat

sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau


kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum"; juga "menerima
sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa
pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu atau
tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan
atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum"
2. Korupsi Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah
penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk
pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam praktiknya. Beratnya korupsi
berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh
dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan
korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah
kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana
pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.Korupsi yang muncul di
bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi
atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti
penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak
terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat
solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kejahatan.
3. Kampanye hitam (Black campaign) Penggunaan metode rayuan yang
merusak, sindiran atau rumors yang tersebar mengenai sasaran kepada para
kandidat atau calon kepada masyarakat agar menimbulkan presepsi yang
dianggap tidak etis terutama dalam hal kebijakan publik. komunikasi ini
diusahakan agar menimbulkan fenomena sikap resistensi dari para pemilih,
kampanye hitam umumnya dapat dilakukan oleh kandidat atau calon bahkan
pihak lain secara efisien karena kekurangan sumber daya yang kuat untuk
menyerang salah satu kandidat atau calon lain dengan bermain pada
permainan emosi para pemilih agar pada akhirnya dapat meninggalkan
kandidat atau calon pilihannya. Biasanya kampanye hitam ini dilakukan oleh
calon kepada masyarakat dengan bantuan tokoh tokoh penting tertentu yang
sangat berpengaruh.

3.2 Kondisi Politik Indonesia Saat Ini


Kondisi politik di Indonesia sekarang ini sedang menjadi perbincangan
yang sangat populer di kalangan masyarakat. Kondisi politik yang sekarang ini
sedang terjadi satu sama lain memperebutkan kursi kekuasaan. Pejabat-pejabat
yang sudah duduk di kursi kekuasaan sudah lupa akan masyarakat mereka. Janji
yang sudah mereka buat seperti angin lalu setelah mereka menduduki kekuasaan
yang mereka dapatkan. Lawan yang kalah dan tidak terima akan kekalahan
mereka,

mereka

akan

mencari-cari

cara

untuk

menjatuhkan

lawan

mereka. Kondisi politik yang berlaku di Indonesia sungguh sangat menyedihkan,


banyak sekali pejabat-pejabat yang masih fokus untuk mengurus kekuasaan dan
juga jabatan mereka. Contoh kondisi politik Indonesia saat ini :
a. Kasus penyuapan yang terjadi pada wisma atlet yang melibatkan seorang
anggota DPR Anggelina Sondakh yang merupakan seorang kunci atas kasus
penyuapan yang ada di wisma atlet. Tetapi, bukannya mengakui kasus
penyuapan yang beliau lakukan, justru beliau menutupi kasus tersebut.
b. Dalam bidang ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini yang belum dapat
terselesaikan adalah tentang harga bbm yang naik turun yang tentu membuat
masyarakat Indonesia di bingungkan oleh masalah tersebut. Kenaikan harga
BBM selalu membuat gejolak panas masyarakat Indonesia, pasalnya kenaikan
harga BBM membawa banyak dampak negatif seperti kenaikan harga-harga
kebutuhan pokok. Sehingga, banyak kalangan masyarakat yang berunjuk rasa
menolak kenaikan harga BBM yang bertujuan untuk mengurangi beban
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
c. Sekarang ini keadaan politik di Indonesia tidak seperti yang diinginkan.
Banyak rakyat beranggapan bahwa politik di Indonesia adalah sesuatu yang
hanya mementingkan dan merebut kekuasaan dengan menghalalkan segala
cara. Pemerintah Indonesia pun tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai
wakil rakyat. Hal ini ditunjukkan oleh sebagian rakyat yang mengeluh, karena
hidup mereka belum dapat disejahterakan oleh negara. Pandangan masyarakat

10

terhadap politik itu sendiri menjadi buruk, dikarenakan pemerintah Indonesia


yang tidak menjalankan kewajibannya sebagai wakil rakyat dengan baik.bagi
mereka politik hanyalah sesuatu yang buruk dalam mencapai kekuasaan.
Jika hal ini terus di biarkan, maka seperti bom yang terus di pendam.
Maka suatu saat akan meletus juga. Jika kondisi pemerintah terus seperti ini maka
tidakl mustahil jika rakyat tidak akan percaya dengan politik. Ketidakpercayaan
para rakyat inilah yang sangat berbahaya bagi kestabilan negara. Akibatnya
masyarakat akan cenderung apatis terhadap kondisi sebuah negara. Karena
kestabilan negara juga di pengaruhi oleh kestabilan politik yang ada di negara
tersebut. Apabila gejolak politik di suatu negara terus menerus bergejolak maka
tidak mustahil jika terjadi peperangan. Akibatnya masyarakat yang menjadi
korban seperti negara negara di timurtengah.
3.3 Upaya Dalam Menaggulangi Penyimpangan Politik
Ada 2 cara untuk menanggulangi penyelewengan politik yaitu dengn :
1. Upaya Preventif
2. Upaya Represif
A. Upaya Prefentif
Upaya atau sebuah tindakan yang diambil untuk mengurangi atau
menghilangkan tindakan penyelewengan politik di masyarakat maupun dalam
pemerintahan.Upaya prefentif bisa dilakukan dalam bergbagai tindakan, antara
lain :
1. Menciptakan peraturan yang lebih tegas dalam mengatasi penyimpangan
politik.Adanya peraturan yang lebih tegas diharapkan mampu membuat
politikus takut untuk melakukan penyelewengan dan mengurungkan niatnya.
2. Melakukan pengawasan yang lebih ketat.Pengawasan yang lebih ketat akan
memberikan desakan atau mendesak pejabat yang berniat untuk korupsi.Agar
cara ini dapat bekerja dengan lebih optimal maka diperlukan penghapusan
nepotisme,karena

nepotisme

merupakan

salah

satu

tahap

awal

dari

kolusi.Sementara, nepotisme sudah sangat mengakar di hampir semua lembaga


yang ada di Indonesia,sehingga sudah dianggap sebagai hal yang biasa,bahkan
telah membudaya.Di negara kita,juga kurang akan peraturan dan hukum

11

tentang nepotisme,sehingga ini menjadi suatu hal yang rawan dan perlu
diperhatikan.
3. .Menjaga generasi berikutnya
beranggapan

bahwa

lewat pendidikan agar jangan sampai

penyimpangan

politik

adalah

hal

yang

lazim

dilakukan.Sekolah harus lebih menekankan tentang pendidikan nilai,norma,dan


agama.Cara

ini

dimaksudkan

agar

generasi

mendatang

bisa

lebih

baik.Penekanan pada bidang-bidang tersebut dimakudkan agar generasi


mendatang tidak melakukan penyimpangan ,karena mereka akan sadar betapa
buruknya hal tersebut.Mereka akan sadar bahwa hal tersebut adalah sesuatu
yang rendah,baik dimata manusia maupun di mata Tuhan yang maha esa.
A. Upaya Reventif
Upaya atau sebuah tindakan yang dilakukan oleh pihak berwajib sebelum
penyelewengan politik terjadi agar penyelewengan dapat diredam atau di cegah.
Upaya refentif bisa dilakukan dalam bergbagai tindakan, antara lain :
1. Menghukum dengan tegas dan adil secara terbuka terhadap khalayak umum,
apabila pelaku melakukan hal yang sama maka akan diberikan hukuman
seberat-beratnyau

sesuai

UU

yang

berlaku.Hukuman

tersebut

harus

memberikan efek jera pada sang pelaku penyelwengan dan memberikan rasa
takut kepadap pelaku.
2. Memberikan sanksi yang besar, melebihi apa yang telah diperbuat . missal pada
kasus korupsi bsa diberikan shukuman berupa diambil seluruh hartanya
sehingga ia menjadi orang miskin dengan begitu sang pelaku akan
mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang ia perbuat.

12

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1. Penyelewengan dalam berpolitik adalah suatu tindakan penyalahgunaan
kekuasaan dalam masyarakat berwujud proses pembuatan keputusan,
khususnya dalam negara .
2. Kondisi politik di Indonesia saat ini menyedihkan banyak pejabat yang
fokus untuk mempertahankan kekuasannya, tanpa memikirkan rakyatnya.
3. Untuk menanggulangi penyelewengan politik Yaitu upaya prepresif dan
upaya reventif
4.2 Saran
Pada saat terjadi penyelewengan pejabat dalam berpolitik, kita sebagai
mahasiswa harus menyikapi dengan benar yaitu : 1. lakukan pendekatan, 2. di
nasehati, 3. di doakan.

13

DAFTAR PUSTAKA
https://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/penyelewengan-prinsip-prinsiphukum/
https://id.wikipedia.org/wiki/Politik
http://edefinisi.com/tag/definisi-penyelewengan
http://www.hargen.co.id/news/2016/01/maraknya-kondisi-politik-indonesia-dikalangan-masyarakat#popupForm
http://www.kompasiana.com/amp/dianrosdiani/kondisi-politikindonesia_5511230e8133117341bc61a6
http://namanama58.blogspot.co.id/2013/07/penyimpangan-politik.html

14

15