Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Kehamilan merupakan hal yang fisiologis, meskipun selama kehamilan banyak hal yang
berubah dalam tubuh. Kehamilan yang menyangkut nyawa ibu dan anak harus diperhatikan,
sebab kehamilan bukanlah sekedar menyimpan anak dalam jangka waktu 9 bulan kemudian
siap dilahirkan. Namun kehamilan harus memperhatikan kesehatan ibu dan anak. Selama
masa kehamilan banyak hal patologis juga yang dialami ibu sesuai dengan situasi dan
kondisi. Salah satu hal patologis ialah hyperemesis gravidarum dan Abortus.
Hyperemesis Gravidarum merupakan mual dan muntah yang berlebihan disaat
kehamilan, yang menyebabkan dehidrasi, defisiensi nutrisi, penurunan berat badan dan
mengganggu pekerjaan sehari-hari. Ibu hamil membutuhkan nutrisi yang baik agar
pertumbuhan dan perkembangan bayi secara sempurna, namun bila ibu hamil mengalami
Hyperemesis Gravidarum, nutrisi ibu berkurang sehingga mengancam pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Masalah ini perlu diatasi dan ditanggulangi, dalam menangani ibu hamil
yang mengalami hal ini harus sesuai dengan keadaan ibu.
Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu
bertahan hidup.(Obstetri Williams. Hal: 951). Ibu hamil yang mengalami aborsi akan
mengalami perdarahan, gangguan psikologis. Oleh karena itu kelompok kami membahas
mengenai Asuhan keperawatan Abortus. Agar kita bisa memberikan asuhan keperawatan
sesuai dengan kebutuhan klien.

1.2Rumusan Masalah
1.2.1
1.2.2
1.2.3
1.2.4
1.2.5
1.2.6
1.2.7
1.2.8

Apa pengertian dari hiperemesis ?


Apa etiologi dari hiperemesis ?
Apa saja tanda dan gejala dari hiperemesis ?
Apa penatalaksanaan terhadap adanya hiperemesis ?
Apa pengertian dari abortus ?
Apa etiologi dari abortus ?
Apa saja tanda dan gejala dari abortus ?
Apa penatalaksanaan terhadap adanya abortus ?

1.3Tujuan
1.3.1
1.3.2

untuk mengetahui pengertian dari hiperemesisi.


untuk mengetahui etiologi dari hiperemesis.
1

1.3.3
1.3.4
1.3.5
1.3.6
1.3.7
1.3.8

untuk mengetahui saja tanda dan gejala dari hiperemesis.


untuk mengetahui penatalaksanaan terhadap adanya hiperemesis.
untuk mengetahui pengertian dari abortus.
untuk mengetahui etiologi dari abortus.
untuk mengetahui saja tanda dan gejala dari abortus.
untuk mengetahui penatalaksanaan terhadap adanya abortus.

1.4Manfaat
1.4.1 Mahasiswa
Diharapkan mahasisiwi kebidanan untuk mengerti dan memahami tentang
hiperemesis gravidarum dan abortus sehingga dapat melakukan pencegahan dan
penatalaksanaan pada ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum dan
abortus.
1.4.2 Masyarakat
Diharapkan masyarakat mengerti dan memahami tentang hiperemesis gravidarum
dan abortus sehingga menambah wawasan.
1.4.3 Tenaga Kesehatan
Diharapkan tenaga kesehatan mengerti dan memahami tentang hiperemesis
gravidarum

dan

abortus

sehingga

dapat

melakukan

pencegahan

dan

penatalaksanaan pada ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum dan


abortus.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Hiperemesis


Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil
sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi
buruk,karena terjadi dehidrasi (Mochtar,1998).
2

Hiperemesis gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan muntah lebih dari 10
kali dalam 24 jam,sehingga mengganggu kesehatan dan pekerjaan sehari-hari (Arief.B,
2009).
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan sehingga menimbulkan
gangguan aktivitas sehari hari dan bahkan membahayakan hidupnya. (Manuaba, 2001).
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari
hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. (Arif, 1999).
Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat
badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri,
keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum. (Sastrawinata, 2004)
Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama
masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau defisiensi
nutrisi,

dan

kehilangan

berat

badan.

(Lowdermilk,

2004)

Hiperemesis gravidarum adalah suatu keadaan (biasanya pada hamil muda) dimana
penderita mengalami mual- muntah yang berlebihan, sedemikian rupa sehingga
mengganggu aktivitas dan kesehatan penderita secara keseluruhan. (Achadiat, 2004)
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu,
begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga
mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun,
dehidrasi, terdapat aseton dalam urine, bukan karena penyakit seperti Appendisitis,
Pielitis dan sebagainya

Secara umum pengertian Hiperemesis adalah mual - muntah yang berlebihan dimana
semua yang dimakan atau diminum oleh ibu dikeluarkan sehingga mengakibatkan berat
badan sangat turun, turgor kulit kurang, diurese kurang, dan timbul aseton dalam air
kencing sehingga memerlukan perawatan dirumah sakit.

2.2 Etiologi Hiperemesis


Pada tubuh wanita yang hamil terjadi perubahan- perubahan yang cukup besar
yang mungkin merusak keseimbangan didalam badan. Misalnya saja yang dapat
3

menyebabkan mual dan muntah ialah masuknya bagian bagian villus kedalam
peredaran darah ibu, perubahan endokrin misalnya hipofungsi cortex gl suprarenalis,
perubahan metabolic dan kurangnya pergerakan lambung. Tetapi bagaimana reaksi
seorang wanita terhadap kejadian tersebut diatas tergantung kekuatan jiwanya.
Pada Hiperemesis yang berat dapat diketemukan necrose dibagian sentral
globules hati atau degenerasi lemak pada hati, ini disebabkan oleh kelaparan bukan oleh
adanya toxin.
Mungkin juga dapat terjadi kelainan degenerative pada ginjal kadang kadang
ada polineuretis akibat kekurangan vitamin B karena muntah. Secara pendek etiologi
belum jelas tetapi factor fisik sangat mempengaruhi. Perubahan-perubahan anatomik
pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zatzat lain akibat inanisi.
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan :
a) Faktor

predisposisi

yang

sering

dikemukakan

adalah

primigravida,

mola

hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan
kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan,
karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk
berlebihan.
b) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat
hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan
faktor organik.
c) Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap anak, juga disebut
sebagai salah satu faktor organik.
d) Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun
hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan
pasti. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan
persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik
mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar
terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran

hidup.Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu
mengurangi frekwensi muntah klien.

2.3 Tanda dan Gejala Hiperemesis


Batas mual muntah berapa banyak yang disebut hiperemisis gravidarum tidak ada
kesepakatan. Ada yang mengatakan, bisa lebih dari 10 kali muntah, akan tetapi apabila
keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemisis. Secara umum gejala dari
Hiperemesis muntah yang hebat, haus, dehidrasi, berat badan turun, keadaan umum
mundur, kenaikan suhu tubuh, ikterus, gangguan cerebral, laboratorium: protein, aseton,
urobillinogen, porphyrin dalam urin bertambah, silinder (+)
Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3
(tiga) tingkatan yaitu :
1. Tingkatan I :
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa
lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium.Nadi
meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistol menurun turgor kulit
berkurang, lidah mengering dan mata cekung.
2. Tingkatan II :
Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah
mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan
mata sedikit ikterus.Berat badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi rendah,
hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi.
Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas
dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
3. Tingkatan III :
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen
sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan tensi menurun.
Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati
Wemicke, dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat
kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks.Timbulnya ikterus adalah
tanda adanya payah hati.
5

2.4 Penatalaksanaan Hiperemesis


1.

Obat-obatan
Sedativa yang sering digunakan adalah Luminal. Vitamin yang dianjurkan Vitamin
B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepertiAvopreg,Avomin.

Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin. Antasida


2. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara
yang baik.. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau
hilang tanpa pengobatan.
3. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa
takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah
dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
4. Cairan parenteral
Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan
Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu
dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C.
Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.
5. Penghentian Kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan
mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Delirium,
kebutaan, tachikardi, ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi
komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk
mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit
diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain
pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital.
6. Diet
a. Diet
hiperemesis
I
diberikan
pada
hiperemesis
tingkat

III.

Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan
bersama makanan tetapi 1 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam
semua zat zat gizi, kecuali vitamin C,

karena itu hanya diberikan selama

beberapa hari.
b. Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.
Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman

tidak diberikan bersama makanan . Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi
kecuali vitamin A dan D.
c. Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.
Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan.
Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.
7. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di Rumah Sakit.
a. Kadang-kadang pada beberapa wanita, hanya tidur di Rumah Sakit saja, telah
banyak mengurangi mual muntah.
b. Isolasi. Jangan terlalu banyak tamu kalau perlu rawat dan dokter saja yang boleh
masuk. Kadang kala hal ini saja, tanpa pengobatan khusus telah mengurangi
mual dan muntah.
c. Terapi psikologik. Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang
wajar, normal dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba
hilangkan faktor psikologis seperti keadaan sosial ekonomi dan pekerjaan serta
lingkungan.
d. Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein hari.
Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks
dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino
secara intra vena
e. Berikan obat-obatan seperti telah dikemukakan diatas.
f. Pada beberapa kasus dan bila tetapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki
keadaan umum penderita, dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan.

2.5 Pengertian Aborsi


Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu
bertahan hidup (Cunningham, 2006).
Abortus adalah berakirnya suatu kehamilan (oleh akibat tertentu) pada atau sebelum
kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk
hidup diluar kandungan (Saifuddin).
Keguguran atau abortus adalah terhentinya proses kehamilan yang sedang
berlangsung sebelum mencapai umur 28 minggu atau berat janin sekitar 500 gram
(Manuaba, 2007).

Abortus adalah suatu usaha mengakhiri kehamilan dengan mengeluarkan hasil


pembuahan secara paksa sebelum janin mampu bertahan hidup jika dilahirkan
(Varney, 2007).
Secara umum istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan. Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat
hidup didunia, anak baru mungkin hidup didunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram
atau umur kehamilan 28 minggu.

2.6 Etiologi Aborsi


Hal-hal yang menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut:
1. Kelainan hasil pertumbuhan konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat.
Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil muda. Faktor
yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut:
a. Kelainan Kromosom
Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliploidi
dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks
b. Lingkungan Kurang Sempurna
Bila lingkungan di endometrium disekitar tempat implantasi kurang sempurna
sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi tergangganggu.
c. Pengaruh Dari Luar
Radiasi, virus, obat dan sebaginya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi
maupun lingkungan hidupnya dalan uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan
pengaruh teratogen
2. Kelainan Pada Plasenta
Endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan oksigenasi plasenta
tergganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin.
Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.
3. Penyakit Ibu
Penyakit mendadak, seperti pnemonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan
lain-lain dapat menyebabkan abortus. Toksin, bakteri, virus ata plasmodium dapat
melalui plasenta masuk kejanin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan
8

kemudian terjadilah abortus. Anemia berat, keracunan, laparatomi, peritonitis


umum, dan penyakit menahun sperti gruselosis, mononukleosis infeksiosa,
toksoplamosis juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang.
4. Kelainan Traktus Genetalia
Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan
abortus. Tetapi, harus dingat bahwa hanya retroversio uteri gravidi inkarserata atau
mioma submukosa yang memegang peranan penting. Sebab lain abortus dalam
trismerster kedua ialah servik inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan
bawaan pada servik, diltasi servik berlebihan, konisasi, amputasi, atau robekan
servik luas yang tidak dijahit. (Wiknjosastro, 2008; Walsh, 2008; Varney, 2007).

2.7 Tanda Dan Gejala Aborsi


Adanya gejala kehamilan ( terlambat haid,mual / muntah pada pagi hari ) yang disertai
perdarahan pervaginam ( mulai bercak sampai berrgumpal ) dan atau nyeri perut bagian
bawah, mengarahkan ke diagnosis abortus.

Pada Abortus Imminens ( ancaman keguguran ) biasanya ditandai dengan


perdarahan pervaginam sedikit, nyeri perut tidak ada atau sedikit belum ada
pembukaan serviks.
Abortus Insipiens Perdarahan pervaginam yang banyak ( dapat bergumpal-gumpal ),
nyeri perut hebat, terdapat pembukaan serviks.kadang-kadang tampak jaringan hasil
konsepsi di ostium serviks ( keguguran sedang berlangsung ).
Abortus Inkompletus ( keguguran tidak lengkap ) ditandai dengan perdarahan
pervaginam yang banyak,nyeri perut sedang sampai hebat. Riwayat keluar jaringan
hasil konsepsi sebagian, ostium serviks bisa masih terbuka atau mulai menutup.
Abortus Kompletus ( keguguran lengkap )Perdarahan pervaginam mulai berkurang berhenti, tanpa nyeri perut, ostium serviks sudah tertutup. Riwayat keluar jaringan
hasil konsepsi utuh, seluruhnya.
Missed Abortus ( keguguran yang tertahan ) Abortus dengan hasil konsepsi tetap
tertahan intra uterin selama 2 minggu atau lebih. Riwayat perdarahan pervaginam
sedikit, tanpa nyeri perut, ostium serviks tertutup. Pembesaran uterus tidak sesuai
(lebih kecil) dari usia gestasi yang seharusnya.

2.8 Penatalaksanaan Aborsi


1. Abortus Iminens
Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang mekanik
berkurang.
Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak panas dan tiap
empat jam bila pasien panas.
Tes kehamilan dapat dilakuka. Bila hasil negatif mungkin janin sudah mati.
Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
Berikan obat penenang, biasanya fenobarbiotal 3 x 30 mg, Berikan preparat
hematinik misalnya sulfas ferosus 600 1.000 mg
Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.
Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah
infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat.
2. Abortus Insipiens
Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan
selama 36 jam dengan diberikan morfin.
Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai perdarahan, tangani
dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul
dengan kerokan memakai kuret tajam. Suntikkan ergometrin 0,5 mg intramuskular.
Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU dalam
deksrtose 5% 500 ml dimulai 8 tetes per menit dan naikkan sesuai kontraksi uterus
sampai terjadi abortus komplit.
Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran
plasenta secara manual.
3. Abortus Inkomplit
Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus cairan NaCl fisiologis atau
ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah
Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikkan
ergometrin 0,2 mg intramuskular
Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran
plasenta secara manual.
Berikan antibiotik untuk mencegah infeks
10

4. Abortus Komplit
Bila kondisi pasien baik, berikan ergometrin 3 x 1 tablet selama 3 5 hari
Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfusi darah
Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi
Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.
5. Missed Abortus
Dilakukan kuretase. Harus hati hati karena terkadang plasenta melekat erat pada
rahim.Terbukanya jalan lahir akibat abortus dan akibat dari tindakan kuretase tentu
tidak terlepas dari komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi yaitu infeksi, perforasi /
robekan / lubang pada dinding rahim. Tapi bila dikerjakan sesuai prosedur dan pasien
cepat tanggap akan keluhan yang diderita maka kemungkinan terjadinya komplikasi
dapat ditekan seminimal mungkin.

BAB III
PENUTUP
11

3.1 Kesimpulan
Hyperemesis Gravidarum adalah memuntahkan segala apa yang dimakan dan
diminum hingga berat badan sangat turun, turgor kulit kurang, dan timbul aceton
dalam air kencing. Hyperemesis Gravidarum disebabkan oleh kadar estrogen yang
tinggi dan hipertroidisme yang mungkin disebabkan peningkatan kadar gonadotropin
korionik manusia.
Menurut berat ringannya gejala hyperemesis dibagi 3 tingkatan yaitu :
Tingkatan 1
Tingkatan 2

: Ringan, mual muntah sehingga penderita lemah


: Sedang, mual dan muntah yang hebat keadaan penderita lebih

parah
Tingkatan 3 : Berat, keadaan wanita makin menurun dari tingkatan 2
Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu
bertahan hidup. Abortus dapat diklasifikasikan menjadi :
1.

Abortus Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan)


Abortus Imminens
Abortus Insipiens
Abortus Inkompletus
Abortus Kompletus
Missed Abortus

2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat)

3.2 Saran
Dengan mempelajari dan memahami tentang hyperemesis Gravidarum dan abortus
pada ibu hamil. Mahasiswa diharapkan mampu memberikan asuhan kebidanan yang tepat.
Kami mohon maaf jika ada kesalahan kata-kata dalam penulisan makalah ini, penulis juga
meminta kritik dan saran agar bisa memperbaiki. Terima kasih.

12