Anda di halaman 1dari 5

Menyoal Kedaulatan Migas

Oleh: M. Fatkhurrozi (co-founder kampusislami.com)


Menurut konsitusi, segala kekayaan alam di bawah bumi Indonesia adalah dikuasai negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Penjabaran diktum pada UUD
45 tersebut tertuang pada berbagai konsitusi turunannya, terutama di UU no. 22 tahun
2001, atau yang dikenal sebagai UU Migas.
Beberapa kalangan terus menyorot UU Migas belum mengakomodasi betul kepentingan UUD
45. Dampaknya, UU tersebut menjadi jalan penguasaan asing atas migas di bumi
Nusantara. Karut marut tata kelola migas menuntut revisi UU Migas. Bagaimana UU migas
harus diperbaiki agar negeri ini berdaulat? Cukupkah hanya dengan perbaikan UU?
Perbaikan macam apa yang harus dilakukan?
Karut Marut UU Migas
UU nomor 22 tahun 2001, yang merupakan jelmaan dari UU no. 8 tahun 1971, sebenarnya
telah dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi sejak 2003. Ada poin-poin pada
UU migas yang dirasa masih belum berhaluan dengan semangat memanfaatkan kekayaan
bumi Indonesia sesuai konsitusi. MK menganulir pasal 12 ayat 3 dan pasal 28 ayat 2.
Sedangkan pada 2012, MK kembali menganulir pasal-pasal pada UU migas yang berkenaan
dengan BP Migas1. Pada tahun yang sama, BP Migas dibubarkan dan pada awal tahun 2013
didirikanlah SKK Migas.
Pada suatu diskusi publik di ITB pada September 2016, anggota DPR RI komisi VII, Dr.
Kurtubi, menyampaikan bahwa UU Migas eksisting jelas merugikan negara. Menurutnya,
yang terjadi adalah kuasa pertambangan tidak di tangan Pertamina, melainkan di tangan
pemerintah melalui ESDM. Hubungan antara kontaktor dan pemerintah adalah Business to
Government (B2G). Pola hubungan seperti ini dinilai melemahkan kedaulatan negara karena
semestinya entitas bisnis dihadapi dengan bisnis (B2B), bukan negara. Bila suatu saat ada
perselisihan antara Pertamina dengan kontraktor, negara bisa menjadi penengah.
Sebaliknya bila B2G tetap diterapkan, negara dan kontraktor akan berada pada level yang
sama di hadapan arbitrase internasional bila terjadi perselisihan. Di samping itu, Kurtubi
menyorot bahwa UU Migas menjadi sebab berbagai inefisiensi seperti:
1) kontrol cost recovery pada Kontrak Bagi Hasil tidak lagi di tangan Pertamina tapi
berpindah ke SKK Migas yang berstatus BHMN. Sedangkan SKK Migas bukan badan yang
kompeten dalam hal ini, mengingat SKK Migas bukan pelaku langsung bisnis migas.
2) Pertamina tidak bisa mengagunkan cadangan gas untuk mendapatkan pembiayaan
pembangunan plant, tidak seperti kasus LNG Plant Arun dan Bontang yang dibangun
oleh Pertamina.
3) penjualan hasil gas selama ini dilakukan oleh kontraktor. Inilah salah satu sebab harga
jual LNG Tangguh menjadi sangat murah.
4) penjualan migas bagian negara yang didapat dari kontraktor diserahkan kepada pihak
ketiga yang ditunjuk oleh SKK Migas. Hal ini menyebabkan rantai bisnis yang panjang
dan rentan terhadap praktik ilegal.

1 http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt50a2367d37e5c/mk--bp-migas-inkonstitusional

Dikritik keras oleh khalayak luas, UU migas kembali menjadi perbincangan di kalangan
anggota dewan untuk direvisi. Sebenarnya sudah sejak tahun 2010, pembahasan RUU migas
masuk dalam daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR RI. Kelompok kritis menilai
bahwa kehadiran SKK Migas sebagai pengganti BP Migas tetap belum memberi jalan keluar.
Manuver itu dinilai sekedar ganti baju padahal substansinya sama. Wacana terakhir,
melalui revisi UU Migas, SKK Migas akan diubah statusnya. Namun mengenai status
tersebut, hingga saat ini belum tercapai kesepakatan. Opsi yang muncul ialah SKK Migas
akan diubah menjadi badan otoritas (seperti Otoritas Jasa Keuangan), digabung dengan
Pertamina, atau menjadi BUMN Khusus2.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada sekaligus mantan anggota Tim AntiMafia Migas, Fahmi Radhi menilai, bahwa UU Migas memang beraroma liberal. Dengan
ditempatkannya Pertamina bersama-sama kontraktor swasta dan asing dalam persaingan
tender, hal tersebut akan mengurangi peluang perusahaan yang sahamnya 100% dimiliki
oleh negara tersebut untuk ambil bagian. Menurut Fahmi, pengelolaan migas seharusnya
terlebih dahulu diberikan kepada Pertamina sebagai perusahaan milik negara. Apabila
Pertamina tidak mampu, kata dia, baru diberikan kepada investor asing3.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan
bahwa pemerintah menginginkan RUU Migas memuat pemisahan antara fungsi regulator
dan kepentingan bisnis. Menurutnya, SKK Migas lebih cocok bila dijadikan menjadi BUMN
khusus (BUMNK). Rencananya, Pertamina nantinya akan mendapatkan beberapa
keistimewaan. Salah satunya pemerintah akan memberikan izin pengelolaan wilayah migas
kepada Pertamina dan BUMNK. BUMNK ini nantinya bisa berkerjasama dengan kontraktor
lain dengan skema Kontrak Bagi Hasil. Di sisi lain, Guru Besar Hukum Internasional
Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengatakan jika fungsi SKK Migas dikembalikan
kepada Pertamina maka dikhawatirkan akan menciptakan konflik kepentingan dan
berpotensi menimbulkan korupsi lantaran fungsi regulasi dan bisnis menjadi satu. Untuk itu,
kelembagaan SKK Migas sebaiknya menjadi BUMNK. Hal ini sesuai dengan putusan
Mahkamah Konstitusi. Cuma masalahnya BUMN Khusus seperti apa, saya tidak tahu. Itu
terserah pengambil keputusan, ujar dia4.
Senada dengan Fahmi Radhi, Direktur Eksekutif IRESS, Marwan Batubara, menganggap UU
Migas masih bermasalah. Baginya, pengelolaan migas harus dikembalikan ke tangan
Pertamina. Sedangkan wacana mengubah SKK Migas menjadi BUMN Khusus malah
menjadikan tata kelola migas menjadi tidak efisien. Tugas SKK Migas harus dilimpahkan ke
Pertamina. Karena UU Migas yang beraroma liberal itu, negara hanya menguasai migas
sekitar 20% saja. Padahal di berbagai negara, National Oil Company (NOC) lah yang
dominan menguasai sumber daya migas5.

2 http://katadata.co.id/berita/2016/10/10/revisi-undang-undang-dpr-belum-bulat-atas-status-skk-migas
3 https://m.tempo.co/read/news/2016/08/20/092797514/pemerintah-dan-dprdidesak-revisi-uu-migas
4 http://katadata.co.id/berita/2016/04/20/skk-migas-bepeluang-kembali-ke-pertamina

Guru besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar Profesor Juajir Sumardi
mengingatkan agar dalam membahas RUU Migas, DPR harus mendengarkan aspirasi rakyat.
Sebab sesuai konstitusi, rakyat adalah stakeholder karena penguasaan migas harus
dilakukan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat6. Sedangkan Direktur Eksekutif
ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, saat ini, draf revisi UU Migas masih
dibahas di Badan Keahlian DPR. Menurut dia, revisi UU tersebut sangat lambat meskipun
berulang kali masuk ke Prolegnas. "Karena banyak kepentingan dan drafnya pun bergantiganti," ujarnya (tempo.co, 20/8/2016).
Kedaulatan Masih Rapuh
Sejak kelahirannya, UU Migas memang telah menuai kontroversi. Kemunculan UU no. 22
tahun 2001 adalah buntut dari ditandatanganinya Letter of Intent (LoI) International
Monetary Fund (IMF) pada tahun 2000. Pemerintah Indonesia saat itu menerima santunan
dari IMF yang kemudian dipaksa mereformasi sektor energi, antara lain soal harga energi,
kelembagaan pengelolaan energi, termasuk pencabutan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) 7.
Reformasi pada sektor hulu yang menuntut iklim kompetitif secara internasional itu
menghasilkan pengebirian Pertamina melalui pembentukan BP Migas pada 2002. Tidak
hanya sektor hulu, liberalisasi juga kian nyata di sektor hilir. Sejak zaman SBY, harga BBM
dicoba untuk terus dinaikkan (dengan menghapus subsidi) demi menjalankan amanat dari
IMF. Harapannya, SPBU asing juga bisa ikut bermain dalam bisnis bensin eceran. Di Harian
Kompas, 14 Mei 2003, Purnomo Yusgiantoro (menteri ESDM saat itu) mengatakan,
Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi
dalam bisnis eceran migas. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM
yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain
asing enggan masuk.
Baru-baru ini bahan bakar bersubsidi yakni bensin Premium tengah diujicoba oleh
pemerintah untuk dikurangi pasokannya di pasaran. Di beberapa tempat, termasuk di
Bandung, Premium semakin susah ditemui. Sebagai ganti, Pertamina menawarkan bensin
Pertalite yang memiliki kadar RON lebih tinggi dibanding Premium dengan selisih harga
Rp450 lebih mahal (Rp6900/liter) yang merupakan BBM non-subsidi. Semenjak
peluncurannya pada Juli 2015, Pertamina mengklaim bahwa penjualan Pertalite meroket.
Dirut Pertamina berpendapat bahwa masyarakat semakin sadar untuk memilih BBM yang
berkualitas8.

5 http://nasional.kontan.co.id/news/revisi-uu-migas-jangan-memihak-asing
6 http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2016/03/15/498906/revisi-uu-migas-diminta-tak-berpihakasing

7 naskah LoI bisa dilihat di http://www.imf.org/external/np/loi/2000/idn/01/ dan


http://www.imf.org/external/np/loi/2000/idn/03/

8 http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/788722-pertalite-ambil-12-pangsa-pasar-premium

Namun pernyataan tersebut tidak bisa ditelan mentah-mentah. Pertalite yang lebih laku
dibanding Premium jelas belum tentu karena alasan kualitas. Di tengah harga minyak dunia
yang berada di kisaran 50$/barrel saat ini, tentu logis bila harga bensin tanpa subsidi
(Pertalite dan Pertamax) dapat terjangkau oleh masyarakat luas. Kasusnya akan berbeda
bila harga minyak mentah kembali ke level 100 $/barrel. Bukan tidak mungkin harga
Pertalite mencapai Rp9000/L dan Premium mencapai Rp8500/L seperti yang terjadi pada
tahun 2014 (dimana harga minyak mentah sempat di kisaran 110 $/barrel). Bila Premium
benar-benar dihilangkan dari pasaran, masyarakat mau tidak mau akan membeli BBM tanpa
subsidi yang berarti menandai sempurnanya liberalisasi di sektor hilir.
Kita semestinya sudah kenyang dengan pengalaman 70 tahun lebih berjuang
mempertahankan kemerdekaan. Berbagai tekanan asing senatiasa hadir silih berganti dari
orde ke orde, dari rezim ke rezim. Tragedi lepasnya sumber migas dan mineral dari perut
ibu pertiwi ke pangkuan perusahaan asing sudah bukan fenomena asing. Mulai dari kasus
Freeport di Grasberg, ExxonMobile di Cepu, hingga Total di Mahakam dan lainnya.
Kita harus ingat pada kisah Blok Cepu yang dirampok melalui rekayasa yang luar biasa.
Potensi kekayaan 2400 triliyun itu kini dikelola oleh perusahaan AS, ExxonMobile (EM), sejak
2006. Awalnya, blok migas itu dioperasikan oleh perusahaan plat merah, Pertamina, yang
joint operation dengan perusahaan kroni Orde Baru, Humpuss Patragas (HPG), sejak 1990.
HPG menjual 49% sahamnya pada perusahaan Australia, Ampolex pada Mei 1996. Pada
tahun yang sama, Ampolex diakuisisi oleh Mobil Oil yang pada tahun 1999 berganti nama
(karena merger) menjadi ExxonMobil. Pada tahun 2000, sisa saham HPG (51%) dijual kepada
EM yang membuat kepemilikan HPG 100% di tangan EM. Malapetaka semakin sempurna
ketika kontrak joint operation dihapus dan diganti dengan sistem Kontrak Bagi Hasil yang
menempatkan Pertamina dan EM sejajar dalam pengelolaan Blok Cepu. Namun Marwan
Batubara menilai, kendali Blok Cepu pada praktiknya berada di tangan EM karena posisi
General Manager dan Manager di beberapa divisi strategis dipegang oleh EM9.
Blok Mahakam, yang sejak 1967 beroperasi, juga nasibnya kurang lebih sama. Sebelum
dikelola Pertamina pada tahun 2018 nanti10, blok yang menyisakan kekayaan kurang lebih
Rp 1200 itu telah lama ada di pangkuan perusahaan Perancis, Total, yang joint operation
dengan perusahaan Jepang, Inpex. Beberapa oknum pejabat lebih memihak keberadaan
Total dan Inpex di Blok Mahakam dibanding Pertamina. Alasannya macam-macam, mulai
dari mempertanyakan kemampuan engineering dan finansial Pertamina hingga
kewaspadaan dikucilkan oleh dunia internasional. Pihak asing juga tidak tinggal diam. Pada
Juni-Juli 2011, Perdana Menteri Perancis sempat memberangkatkan diri ke tanah air untuk
meminta perpanjangan kontrak Blok Mahakam. Manuver serupa juga dilakukan oleh Menteri
Perdagangan Perancis, CEO Inpex, hingga duta besar Perancis untuk Indonesia 11.
Negara kita mengklaim sudah memiliki UUD45 yang memuat falsafah kepemilikan sumber
daya alam termasuk migas (pasal 33). Namun pada praktiknya, karena setiran asing,
konstitusi turunannya masih jauh dari keberpihakan pada kepentingan bangsa sendiri.

9 Batubara, Marwan, dkk. (2011) Tragedi dan Ironi Blok Cepu, Nasionalisme yang Tergadai. Penerbit
IRESS: Jakarta. Hal. 3-5

10 https://m.tempo.co/read/news/2016/06/28/090783885/pertamina-dinilai-siap-kelola-blok-mahakamsecara-mandiri

Akibatnya, sistem konsesi kita masih kental beraroma liberal. Di sisi lain, lingkungan industri
migas yang dilingkupi oknum-oknum korup juga problema tersendiri. Sejatinya
permasalahan migas negeri ini ada di setiap lini.
Mengembalikan kedaulatan migas harus dimulai dari kebangkitan ideologi. Sejarah
mengajarkan bahwa bangsa penjajah adalah bangsa yang begitu giat menanamkan nilainilainya pada bangsa lain. Dari sana kita bisa mengerti bahwa ada bangsa yang bangkit
walau tanpa dikaruniai minyak atau emas yang melimpah. Di sisi lain, ada bangsa yang
gemah ripah tapi karena tidak punya pendirian, maka nasibnya tetap susah. Kedaulatan
migas tidak bisa hanya diusahakan melalui revisi UU semata. Ada persoalan yang lebih
mendasar yang menuntut untuk dipecahkan terlebih dulu.
Kebangkitan ideologi berarti mengambil paradigma baru dalam segala bentuk pengaturan
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam memberikan cara pandang bahwa negara
hadir untuk mengatur segala urusan ummat dengan prinsip dan aturan syariah Islam. Pada
konteks kepemilikan migas, Islam memandang bahwa migas adalah milik ummat,
pengelolaannya diserahkan pada negara dan hasilnya dikembalikan pada ummat. Di sisi
lain, Islam mengamanatkan bahwa negara harus memiliki kedaulatan untuk menjaga
keberlangsungan pemerintahannya. Dari situlah dibutuhkan persatuan kaum muslim agar
ummat punya power untuk mengatasi segala ancaman pihak luar. Dari segi ekonomi,
dengan topangan ekonomi Islam yang menerapkan mata uang berbasis emas atau perak
serta tanpa perbankan ribawi, suatu negri akan punya kekebalan terhadap tawaran hutang
luar negeri.
Lebih lanjut, sejatinya persoalan negeri ini tidak cuma soal kedaulatan migas. Kita melihat
Venezuela yang berhasil mengembalikan kedaulatan migasnya sejak 2002 pun kini sedang
meniti jalan menuju negara gagal akibat kesalahan sistemik ekonomik. Kita juga
mendengar, ada suatu bangsa yang bisa menjarah kekayaan alam di belahan bumi lain yang
berhasil menjadi negara adidaya pun dihinggapi segudang persoalan sosial yang serius.
Permasalahan satu aspek pasti berinterrelasi dengan aspek yang lain. Penyelesaian masalah
hingga ke akarnya merupakan suatu keharusan agar suatu negeri bisa memecahkan
berbagai soal dengan solusi yang hakiki. []

11 Batubara, Marwan (2014) Kembalikan Mahakam: MemAng HAk KAMi. Penerbit IRESS: Jakarta. Hal.
101-102