Anda di halaman 1dari 45

WRAP UP SKENARIO 1 BLOK REPRODUKSI

KEPUTIHAN

KELOMPOK B - 10
Ketua

Martiana Fahriah

1102014151

Sekretaris

Olvie Astanaini Annisa

1102014205

Anggota

Lidya Annisa Putri Ayu

1102014150

Muchammad Alfiansyah

1102013177

Muhammad Haekal Fadhilah

1102014168

Muhammad Rifai Suparta

1102014171

Putri Pratiwi Merdekawati

1102013233

Rafa Assidiq

1102014218

Rian Nurdianysah

1102013249

Rizka Ulfani Atmaja

1102014232

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2013-2014

SKENARIO 1
KEPUTIHAN
Seorang pasien usia 36 tahun, G3P2A0H2 gravid 20 minggu datang dengan keluhan
keputihan banyak, warna kehijauan, berbau amis dan disertai gatal sejak awal kehamilannya.
Pasien memiliki siklus menstruasi normal dan riwayat pemakaian IUD selama 3 tahun yang
dimulai setelah kelahiran anak kedua. Suaminya seorang PNS dan menyangkal melakukan
hubungan seksual dengan wanita lain. Pada pemeriksaan genitalia eksterna didapatkan pada
labium mayus dan minus tampak eritem dan erosi. Dari inspekulo didapatkan discharge
vagina homogen warna kehijauan dan tampak melekat pada dinding vagina dan portio erosi.
Pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan swab vagina dan pap smear untuk
penatalaksanaan lebih lanjut.

KATA SULIT
1. Erosi
2. IUD

: Hilangnya sebagian lapisan genitalia wanita


: Alat kontrasepsi berupa kumparan yang dimasukkan kedalam

rongga Rahim
3. Pap smear
4. Eritema
5. Inspekulo

: Pemeriksaan sitologi
: Kulit kemerahan akibat dilatasi kapiler
: Inspeksi pada genitalia perempuan menggunakan speculum

untuk melihat bagian dalam vagina


6. Keputihan
: Cairan yang keluar dari vagina bisa fisiologis atau patologis
7. G3P2A0H2
: Gestasi (kehamilan) 3 kali, Partus (melahirkan) 2 kali,
Abortus 0 kali, anak yang Hidup 2 orang
8. Discharge vagina
: Ekeskresi cairan dari vagina
9. Gravid
: Kehamilan
PERTANYAAN
1. Apa hubungan IUD dengan keputihan?
IUD menghambat nitrit oksida yang bisa menghambat mikroorganisme.
2. Kenapa ada warna kehijauan pada pemeriksaan discharge vagina homogen?
Karena infeksi trycomonas menimbulkan warna kehijauan.
3. Mengapa berbau amis dan timbul rasa gatal?
Karena pada keputihan, terjadi peningkatan pertumbuhan mikroorganisme anaerob
yang menyebabkan adanya bau amis. Dan rasa gatal ditimbulkan oleh respon
histamine.
4. Apa hubungan siklus menstruasi dengan keputihan?
Pada saat menstruasi, epitel yang ada di vagina menipis. Sehingga lactobacillus (flora
normal) tidak mendapatkan asupan makanan. Sehingga pH berubah dan tidak stabil.
5. Apa penyebab terjadinya keputihan?
Keputihan disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme anaerob yang meningkat.
6. Mengapa dilakukan swab vagina?
Untuk mengetahui penyebab dari keputihan.
7. Apa hubungan keputihan dengan seks bebas?
Seks bebas bisa menularkan Penyakit Menular Seksual. Sehingga, bisa
menyingkirkan diagnosis banding.
8. Bagaimana pengaruh keluhan dengan janin yang dikandungnya?
Belum berpengaruh terhadap janin.
9. Apa saja pemeriksaan lain yang bisa dilakukan selain yang disebutkan dalam
skenario?
Mikroskopik: swab vagina + NaCl
Whiff test: untuk melihat addanya bau atau tidak
pH vagina
10. Apa hukum keputihan untuk beribadah?
Keputihan termasuk najis yang dimaafkan. Sebaiknya dibersihkan sebelum
melakukan ibadah
3

SASARAN BELAJAR
1. MENGETAHUI DAN MENJELASKAN ANATOMI FEMININA GENITALIA
EKSTERNA DAN INTERNA
1.1.
Makroskopis Feminina Genitalia Eksterna dan Interna
1.2.
Mikroskopis Feminina Genitalia Eksterna dan Interna
2. MENGETAHUI DAN MENJELASKAN KEPUTIHAN
2.1.
Definisi Keputihan
2.2.
Etiologi Keputihan
2.3.
Epidemiologi Keputihan
2.4.
Klasifikasi Keputihan
2.5.
Patofisiologi Keputihan
2.6.
Manifestasi Klinis Keputihan
2.7.
Diagnosis & DB Keputihan
2.8.
Tatalaksana Keputihan
2.9.
Pencegahan Keputihan
2.10.
Komplikasi Keputihan
2.11. Prognosis Keputihan
3. MENGETAHUI DAN MENJELASKAN PAP SMEAR

4. MENGETAHUI DAN MENJELASKAN THAHARAH PADA KEPUTIHAN


DALAM AGAMA ISLAM

LI 1. MM ANATOMI FEMININA GENITALIA EKSTERNA DAN INTERNA


1.1 Anatomi makroskopis

Organ Genitalia Feminina Externa

1. Mons Pubis
- Daerah kulit yang menonjol di depan symphisis pubis
- Kulit berambut banyak jaringan lemak.
- Berisi jaringan lemak, jaringan ikat, pembuluh darah dan saraf-saraf
- Meluas ke bwah belakanaglabium mayora.
- Rambut kemaluan disebut pubes.
2. Labium Majus Pudendi
- Suatu lipatan kulit, ke dorsocaudal berhubungan satu dengan yang lain
membentuk comissura posterior labiorum majorum, sedang yang ke
-

ventrocrainal membentuk comissura anterior labiorum majora.


Fascia lateralis memiliki rambut dan bnayka pigmen. Sedangkan, fascia

medialis mempunyai gld. Sebacea yang besar dan tidak mempunyai rambut.
Terdapat jaringan pengikat, lemak dan jaringan menyerupai tunica dartos

scorti.
Celah yang dibatasi oleh kedua labia majora disebut rima pudendi.

3. Labium Minus Pudendi


- Labium minora ke dorsocaudal berhubungan satu dengan yang lain
membentuk frenulum labiorum minorum.
6

Ke ventrocrainal berhubunan satu dengan yang lain membentuk preputium

clitoridis.
Dari labio minora berjalan suatu lipatan kulit ke ventral cranial melekat pada
dataran dorsocaudal glans clitoridis kanan kiri dari linea mediana disebut

frenulum clitoridis.
Tidak ada foliculi rambut dan jaringan lemak.
Banyak pembuluh darah.

4. Vestibulum Vaginae
- Daerah yang terletak diantara kedua bulbi vestibuli.
- Batas-batasnya yaitu kanan dan kiri oleh labia minora, ventrocranial oleh
frenulum clitoris, dan dorsocaudal oleh frenulum labiorum minorum
-

(frenulum labiorum pudendi)


Kedalam veestibulum vaginae bermuara urethra, vagina, gld. Paraurethralis,
gld. Vestibularis minor dan gld. Vestibularis major.

5. Ostium Vaginae
- Muara vagina disebut juga introitus vaginae.
- Diantara introitus vaginae dan frenulum labiorum minorum terdapat fossa
-

navicularis (fossa vestibuli vaginae).


Di sebelah kanan dan kiri pada fossa naviculare terdapat saluran kedua
glandula Bartholini bermuara.

6. Clitoris
- Terdiri dari ujun poksimal corpus cavernosum clitoridis melekat di dataran
-

medial ramus inferior osis pubis dengan dataran lateralnya.


Ke ventral kedua crura clitoridis bersatu membentuk corpus clitoridis.
Terdapat corpus cavernosum yang membentuk glans clitoridis.

7. Urethra Feminina
- Berjalan dari leher kandung kemih menuju ostium urethrae eksternum yang
-

terletak diantara clitoris dengan vagina.


Disebelah kanan dan kiri lubang kemih terdapat dua lubang kecil dari saluran
yang buntu ( ductus skene atau ductus parauretralis).

8. Perineum
- Merupakan area berbentuk belah ketupat
- Dibagi oleh ramus inferior ossis pubis dan ramus ossis ischii kanan dan kiri
-

dan kedua lig. Sacrotuberale.


Terbagi menjadi regio urogenitalis di anterior (ventral) dan regio analis di
posterior (dorsal).
7

Organ Genitalia Feminina Interna

1. Ovarium
- Terletak di dalam pelvis dan jumlahnya sepasang
- Berbentuk bulat memanjang, agak pipih
- Terdiri dari coretx dan medulla (berisi pembuluh darah, limfe dan saraf)
- Dilekatkan oleh mesovarium pada ligamentum latum (berupa lipatan
peritoneum sebelah kiri dan kanan uterus. Meluas sampai dinding panggul dan
-

dasr panggul)
Difiksasi oleh :
Ligamentum suspensorium ovarii (Lig.infudibulopelvicum) :
8

Ligamentum ini menggantungkan uterus pada dinding panggul antara

sudut tuba
Ligamentum ovarii propium : menfiksasi ovarium ke uterus.
Ligamentum teres uteri (lig. Rotundum) : terdapat di bagian atas lateral
dari uterus, caudal dari tuba kedua ligamentum ini melalui canalis
inguinalis ke bagian cranial labium majus.

2. Tuba Uterina (salpinx)


- Jumlahnya sepasang kanan dan kiri dengan panjang 10 cm.
- Menjulur dari uterus kearah ovarium dengan ujung distal terbuka kedalam
-

rongga peritoneum disebut ostium abdominale.


Terdiri dari :
Infudibulum bangunan yang berbentuk seperti corong
Ampula, bangunan yang membesar dan tempat terjadinya fertilisasi.
Isthmus, bangunan ynag menyempit.
Pars uterina tubae ialah bagian yang melalui dinding uterus.
Ostium uterinum yaitu pintu muara tuba di dalam uterus.

3. Uterus
- Organ muscular, berbentuk peer, dibedakan menjadi :
Fascia vesicalis, di dataran ventral menghadap ke vesica urinaria.
Fascia intestinalis, di dataran dorsal menghadap ke usus.
Margo lateralis kanan dan kiri.
- Uterus dapat dibagi dalam :
Undus uteri , yang terletak pada bagian atas (proksimal ) osteum tuba

uterina.
Corpus uteri , terletak pada bagian tengah uterus yang berbentuk bulat
melebar. Batas antara corpus uteri dan cervix uteri dibentuk oleh

isthmus. Sebelum memasuki cervix terdapat ostium uteri internum.


Cervix uteri , bagian yang paling sempit dan menonjol kedalam rongga
vagina. Pada bagian ujung distal cervix terdapat banguna ynag
menyempit disebut ostium uteri externum. Rongga di dalam cervix
uteri disebut canalis cervix.

4. Vagina
- Berbentuk tabung muskular.
- Panjangnya antara 8-12 cm.
- Bagian distal cervix menonjol ke dalam rongga vagina, disebut portio
vaginalis cervicis uteri. Bagian cervix proksimalnya disebut portio
-

supravaginalis cervicis uteri.


Rongga vagina yang mengelilingi portio vaginalis cervicis disebut fornix yang
terbagi menjadi :
9

Fornix lateralis dextra dan sinistra


Fornix anterior dan posterior
Tunica mucosa membentuk rugae yang transversal pada dinding ventral dan

dorsal disebut columna rugarum.


Pada virgo intacta introitus vaginae sebagian ditutupi oleh selaput disebut
hymen.
Bentuk hymen :
Hymen anularis (cincin)
Hymen seminularis (bulan sabit)
Hymen cribriformis (berlubang-lubang seperti saringan)
Hymen fimbriatus (dengan tepi seperti jari-jari)
Hymen imperforatus (tidak berlubang)

5. Jaringan penunjang
- Ligamentum cardinale sinistra dan dekstra (Mackendrot)
Ligamentum terpenting untuk menahan uterus agar tidak turun.
Berjalan dari cerviks dan puncak vagina ke arah lateral dinding pelvis.
- Ligamentum sakrouterinum sinistra dan dextra
Menahan uterus agar tidak banyak bergerak
Berjalan melengkung dari dorsal cerviks melalui dinding rectum ke
-

arah os sakrum.
Ligamentum rotundum sinistra dan dextra
Menahan uterus dalam antefleksi
Ligamentum pubivesikale sinistra dan dextra
Berjalan dari os pubis melalui kandung kemih dan seterusnya sebagai
ligamentum vesikouterinum ke cerviks.
Ligamentum latum sinistra dan dextra
Berjalan dari uterus ke arah lateral dan tidak banyak mengandung

jaringan ikat.
Merupakan bagian dari peritoneum viscerale yang meliputi uterus dan

kedua tuba dan berbentuk sebagai lipatan.


Ligamentum infundibulopelvikum
Menahan tuba falopi.
Berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis.
Ligamentum ovarii proprium sinistra dan dextra
Berjalan dari sudut kiri dan kanan fundus uteri ke ovarium.

6. Diaphragma pelvis
1. Pelvis mayor : berisi saluran cerna, VU, ureter, sistem genitalis
2. Pelvis minor
- PAP (aditus pelvis)
Dibentuk oleh : promontorium, linea terminalis, ala osis sacralis, dan supra
pubis.
a. Conjugate vera : ukuran antero posterior
10

Jarak antara pinggir atas pubis sampai promontorium, penting untuk


menentukan dapat todaknya bayi melewati sehingga dapat menentukan
tindak lanjut persalinan pervaginam atau section secaria.
Dengan bantuan conjugate diagonalis (diukur dengan vaginal touch)
sampai promontorium. Conjugate diagonalis(12,5 cm) 1,5 = 11-13cm
b. Conjugate transversa : diukur dari titik terjauh linea terminalis kiri dan
kanan tegak lurus dengan conjugate vera. 13-14,5 cm.
c. Conjugate obstetrica : jarak antara promontorium ke pinggir tengah
-

simpisis pubis. Bagian aditus pelvis yang paling sempit, 10,6 cm.
Mid pelvis
Dibentuk oleh : apex arcus pubis, spina ischiadica, ujung os.sacrum.
Paling sempit, bentuk oval, sering terjadi kemacetan pada persalinan.
Ukuran yang penting :
a. Anteroposterior : tepi bawah simp.pubis sampai pertengahan os.sacrum 4.
11,5-12 cm.
b. Transversa : spina ischiadica kanan kiri. 10-10,5 cm
c. Sagittal : anteroposterior dengan potongan transversa
PBP (exitus pelvis)
a. Anteroposterior : 9,5-11,5 cm
b. Transversa : tuber ischiadicum kanan kiri. 10,5-11 cm
c. Sagitalis posterior : ujung os sacrum dengan perpotongan antara

anteroposterior dengantransversa.10,5-11cm.
Bidang Hodge : untuk menentukan petunjuk turunnya bagian bawah fetus.
- Hodge I : bidang yang sama dengan PAP
- Hodge II : sejajar H I setinggi pinggir bawah sim.pubis
- Hodge III : sejajar H I melalui spina ischiadica
- Hodge IV : sejajar H I setinggi ujung os sacrum
PERDARAHAN:
Arteri iliaca interna -> arteri uterina -> arteri vaginalis. Arteri vaginalis ke arah fundus
kemudian bercabang menjadi :
- R.ovaricus melalui ligamentum ovarii proprium menuju ovarium
- A. Ligamenti teretis uteri, mengikuti lig. Teres uteri
- R. Tubarius mengikuti tuba uterina.
PERSARAFAN:
N.pudendus untuk persarafan genitalia eksterna , n.pudendus masuk ke foramen ischiadicum
sebagai n. Clitoridis. Cabang yang lain: n.hemorrhoidalis inferior utnuk m.spinchter ani
externus dan ke kulit regio analis. N. Perianalis berkahir sebagai n.labialis untuk labium
majus. Plexus hypogastricus superior dan inferior untuk persarafan genitalia interna.
Pembuluh lympe:
- Bagian proximal mengikuti kembali r.vaginalis a. Uternae ke lnn. Illiaci interni.
- Bagian medial mengikuti kembali r.Vaginali a.Vesicalis inferior ke Inn sepanjang
a.Vesicalis inferior ke Inn. Illiaca interni.
11

Bagian dari vagina distal, dinding vestibulum vaginae, labia minora, labia major.

1.1 Anatomi makroskopis


Serviks
Serviks mempunyai serabut otot polos, namun terutama terdiri dari atas
jaringan kolagen, ditambah dengan elastin serta pembuluh darah. Peralihan
serviks yang terutama yang berupa jaringan kolagen ke korpus uteri yang terutama
berupa jaringan muskuler, meskipun umumnya mendadak namun bisa juga sedikit
demi sedikit, sehingga terentang sepanjang 10 mm. Serviks yang berbentuk
silinder pada nullipara panjangnya sekitar 3 cm dan diameter 2,5 cm.
Mukosa kanalis servikalis meskipun secara embriologis merupakan
kelanjutan dari endometrium, namun setelah mengalami perubahan sedemikian
rupa sehingga potongan melintangnya menyerupai sarang tawon. Mukosanya
terdiri dari satu lapisan epitel kolumnar yang sangat tinggi, menempel pada
membrana basalis yang tipis. Nukleus yang oval terletak dekat dasar sel kolumner
yang bagian atasnya terlihat agak jernih karena berisi mukus. Sel sel ini
mempunyai banyak silia. Terdapat banyak kelenjar servikalis yang memanjang
dari permukaan mukosa endoserviks langsung menuju jaringan ikat di sekitarnya,
karena tidak terdapat submukosa demikian, kelenjar inilah yang berfungsi
mengeluarkan sekret yang kental dan lengket

12

Vagina
Dinding vagina terdiri dari lapisan mukosa, muskularis, dan adventitia.
Mukosa ini berada didalam lipatan (rugae) yang terdiri dari lapisan permukaan
epitel skuamosa berlapis tanpa lapisan tanduk (nonkeratinized) diatas lamina
propria. Sel-sel epitel mengandung glikogen

Lamina propria terdiri dari

jaringan ikat, dibawah lapisan epitel, serabut elastis membentuk jaringan


padat. Jaringan limfatik menyebar dan nodular ditemukan sesekali, dan
banyak limfosit, bersama dengan leukosit granular, menginvasi epitel. Vagina
tidak memiliki kelenjar, dan epitel dijaga agar tetap lembab oleh sekresi dari
leher rahim (servix). Muskularis terdiri dari kumpulan sel-sel otot polos yang
tersusun sirkuler di lapisan dalam dan longitudinal di lapisan luar.
Para adventitia adalah lapisan luar yang tipis yang tersusun dari
jaringan ikat dengan serat elastis. Berfungsi untuk mempertahankan vagina
tetap di tempat.Epitel skuamosa bertingkat nonkeratinized yang melapisi
vagina terdalam adalah lapisan basal (stratum germinativum), diikuti oleh
lapisan (spinosus) menengah dan lapisan dangkal (stratum korneum).
Labia
Labia mayor terdiri dari lipatan-lipatan kulit yang menutupi kumpulan
jaringan adiposa. Pada orang dewasa, permukaan luar ditutupi oleh rambut
kasar dengan kelenjar keringat dan sebasea. Labia majora adalah homolog
dengan skrotum pada pria. Labia minora terdiri dari inti yang sangat vaskular,
jaringan ikat longgar tertutup oleh epitel skuamosa berlapis yang sangat
menjorok oleh papilla jaringan ikat. Kedua permukaan labia minora tidak
terdapat rambut, tetapi banyak terdapat kelenjar sebasea besar.
13

Klitoris
Klitoris adalah suatu badan yang terbentuk dari dua corpora cavernosa
yang tertutup dalam lapisan jaringan ikat fibrosa dan dipisahkan oleh septum
yang tidak lengkap. Ujung bebas dari klitoris berakhir dalam tuberkulum, kecil
membulat,serta kelenjar clitoridis. Klitoris dibungkus oleh lapisan tipis epitel
skuamosa berlapis nonkeratinized , juga terkait dengan banyak ujung saraf
khusus. Klitoris tidak memiliki korpus spongiosum , oleh karena itu tidak
dilalui oleh uretra.

Kelenjar vestibular/ kelenjar Bartholin


Vestibulum adalah celah antara labia minora yang di dalamnya
merupakan bukaan vagina dan uretra. dibatasi oleh epitel skuamosa berlapis
dan mengandung banyak kelenjar vestibular kecil. Terdapat kelenjar lendir
tubuloalveolar yang mengeluarkan cairan, pelumas jelas berlendir. Kelenjar
utama sesuai dengan kelenjar bulbourethral dari laki-laki.

14

LI 2. MM KEPUTIHAN
2.1 Definisi Keputihan
Leukorrhea (fluor albus, vaginal discharge, duh tubuh vagina) atau keputihan
adalah cairan bukan darah yang keluar berlebihan dari vagina. Beberapa literatur
memberikan batasan, yang dimaksud dengan leukorrhea adalah keluarnya cairan
berlebihan dari liang senggama (vagina), yang disertai oleh perasaan gatal, nyeri,
rasa terbakar di bibir kemaluan atau kerap juga disertai bau busuk dan rasa nyeri
sewaktu berkemih atau senggama.
Leukorrhea (lekore) atau fluor albus atau keputihan ialah cairan yang keluar
dari saluran genitalia wanita yang bersifat berlebihan dan bukan merupakan
darah.Menurut kamus kedokteran Dorlan leukorrhea adalah sekret putih yang
kental keluar dari vagina maupun rongga uterus.Walaupun arti kata lekore yang
sebenarnya adalah sekret yang berwarna putih, tetapi sebetulnya warna sekret
bervariasi tergantung penyebabnya. Lekore bukan penyakit melainkan gejala dan
merupakan gejala yang sering dijumpai dalam ginekologi.
2.2 Etiologi Keputihan
A. Infeksi :
1. Bakteri
Gardnerella Vaginalis
Menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang
dianggap sebagai bahan dari mikroorganisme normal dalam vagina karena
seringnya ditemukan. Bakteri batang gram positif ini biasanya mengisi
penuh sel epitel vagina dengan membentuk bentukan khas dan disebut
sebagai clue cell. Gardnerella vaginalis menghasilkan asam amino yang
diubah menjadi senyawa amin yang menimbulkan bau amis seperti ikan.
Cairan vagina tampak berwarna keabu-abuan pH.sekret vagina > 4,5 ( pH
normal adalah < 4,5 ).
Secara klinik menurut Amsel (1983), untuk menegakkan diagnosis
vaginosis bakterial harus ada tiga dari empat kriteria sebagai berikut, yaitu:

15

a. Sekret vagina homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina.


Sekret vagina bakterial vaginosis ini biasanya tipis, putih keabu-abuan,
homogen, dan melekat pada dinding vagina
b. pH vagina > 4,5. pH vagina mudah ditentukan dengan menggunakan
kertas lakmus ( interval 4,0 7,0 ). Biasanya pH vagina pada kasus
bakterial vaginosis > 4,5
c. Bau amis dari vagina setelah penambahan KOH 10 %.
Whiff test dinyatakan positif: bila bau amis atau bau amin terdeteksi
dengan penambahan KOH 10 % pada sekret vagina. Bau disebabkan
pelepasan amin terutama putresin dan kadaverin dan asam organik

hasil alkalisasi bakteri anaerob.


d. Adanya clue cell ( lebih dari 20 % )
Identifikasi clue cell pada preparat basah saline :
clue cell yang merupakan epitel vagina yang terlepas dimana pada
permukaan sel-sel ini terdapat bintik-bintik keabuan, penuh dengan
Gardnerella vaginalis merupakan gejala patognomonis dari vaginosis

bakterial.
Untuk diagnosis vaginosis bakterial berdasarkan patokan jumlah clue cell
20% dari seluruh jumlah sel epitel vagina per lapangan pandang. Jumlahnya

dihitung berdasarkan jumlah rata-rata dari 5 area pada satu lapang pandang.
clue cell memiliki tepi yang ireguler dan sitoplasmanya dipenuhi dengan
bakteri, memberikan gambaran granuler.
Chlamydia trachomatis
Chlamydia merupakan bakteri kokus gram negatif. Chlamydia tidak
mempunyai mekanisme utnuk menghasilkan energi metabolik dan tidak dapat
menyintesis ATP. C. Trachomatis memiliki badan inklusi yang mengandung
glikogen. Antigennya yaitu lipopolisakarida yang stabil pada suhu panas.
Chlamydia trachomatis merupakan sferoid berukuran kecil, tidak aktif secara
metabolis, dan mengandung DNA dan RNA serta di sebut badan
elementer.Sferoid-sferoid ini memperoleh akses ke sel penjamu melalui
endositosis dan setelah berada didalam berubah menjadi organisme yang
secara metabolis aktif yang bersaing dengan sel penjamu memperebutkan
nutrien. Chlamydia trachomatis memiliki afinitas terhadap epitel uretra,
serviks, dan konjungtiva mata. Pada laki-laki uretritis,epididimitis dan
prostatitis adalah manifestasi infeksi tersering. Pada perempuan yang tersering
adalah servisitis, diikuti oleh uretritis, bartolinitis dan akhirnya penyakit
16

radang panggul. Dapat juga menginfeksi faring dan rektum orang yang
melakukan hubungan seks oral atau anal reseptif. Bayi dapat terinfeksi
sewaktu dilahirkan dan mengalami konjungtivitis dan pneumonia.
Mobilunkus
Genus ini terdiri dari bakteri motil, berbentuk lengkung, gram negatif batang
anaerob.
Neisseria gonorrhoeae
Gonokokus adalah bakteri yang umumnya menginfeksi karena kontak
seksual. Biasanya pada wanita mengenai membrane mukosa uretra dan
endoserviks, selanjutnya infeksi akan menyebar ke jaringan yang lainnya.
Neisseria gonorrhoeae ini merupakan bakteri gram negatif, diplokokkus,
berdiameter 0,6 1,0 m, koloni berbentuk cembung, berkilau, sifat mukoid,
transparan, tidak berpigmen. Bersifat fakultatif aerobik. Bakteri ini dapat
ditemukan ekstraseluler dan intraseluler dalam leukosit polimorfonuklear
(neutrofil). Gonokokus mempunyai koloni kecil yang khas mengandung
bakteri yang berpili. Pili merupakan struktur antigen yang berbentuk seperti
rambut menjulur keluar dari permukaan gonokokus. Struktur ini berfungsi
untuk menempel pada sel pejamu dan resisten terhadap fagositosis.
2. Protozoa
Trichomonas vaginalis
Trichomonas merupakan protozoa yang bergerak dengan flagel.
Protozoa ini berbentuk oval, panjang 4-32 mikrometer dan lebar 2,4-14,4
mikrometer, memiliki flagella dan undulating membran yang panjangnya
hanya setengah panjang tubuhnya. Intinya berbentuk oval dan terletak di
bagian atas tubuhnya, di belakang inti terdapat blepharoblast sebagai tempat
keluarnya 4 buah flagella. Flagella kelima melekat ke undulating membrane
dan menjuntai ke belakang sepanjang setengah panjang tubuh protozoa ini.
Sitoplasma terdiri dari suatu struktur yang berfungsi seperti tulang yang
disebut axostyle. Trichomonas vaginalis tidak memiliki bentuk kista.
Perkembang biakannya dengan cara membelah diri.

17

3. Jamur
Candida albicans
Candida termasuk spora aseksual yaitu spora yang dibentuk dari hifa
reproduktif, termasuk blastospora. Candida albicans bersifat dismorfik yaitu
memiliki bentuk kapang (sel-sel yang memanjang dan bercabang) dan bentuk
khamir (sel berbentuk bulat, lonjong atau memanjang yang berkembang biak
dengan membentuk tunas dan koloni yang basah atau berlendir). Selain ragi
dan pseudohifa, juga dapat menghasilkan hifa sejati. Pada medium agar atau
dalam 24 jam pada suhu 37 oC atau suhu ruangan, kandida menghasilkan
koloni lunak berwarna krem dengan bau seperti ragi. Kandidiasis kutan atau
mukosa terjadi melalui peningkatan jumlah kandida lokal dan adanya
kerusakan pada kulit atau epitel yang memungkinkan invasi lokal oleh ragi
dan pseudohifa.
4. Virus
Virus herpes simpleks
Herpes simpleks genitalis dapat ditularkan melalui kontak seksual
tetapi tidak dapat ditularkan melalui udara atau melalui air, misalnya jika
seseorang berenang di kolam renang.
Herpes simpleks disebabkan oleh Herpes Virus Hominis atau Herpes
Simpleks virus merupakan salah satu infeksi yang tersering pada manusia
.Struktur virus terdiri atas genom DNA untai ganda linier berbentuk toroid,
kapsid, dan selubung. Herpes simpleks termasuk alfaherpesvirus yaitu virus
sitolitik yang tumbuh cepat, cenderung menyebabkan infeksi laten di neuron.
Siklus pertumbuhan HSV berlangsung cepat, selesai dalam waktu 8-16 jam.
Genom HSV besar dan dapat menyandikan 70 polipeptida.
Infeksi dapat berupa kelainan pada daerah orolabial serta daerah
genital, dengan gejala khas adanya vesikel berkelompok di atas dasar yang
eritema .Ada 2 tipe mayor antigenik dimana Herpes Simpleks virus tipe I
berhubungan dengan infeksi pada wajah dan Herpes Simpleks virus tipe II
berhubungan dengan infeksi genital. Infeksi herpes genital primer dapat berat
yang berlangsung sekitar 3 minggu. Herpes genital ditandai dengan lesi
vesikuloulseratif pada penis atau serviks, vulva,vagina dan perineum pada

18

perempuan. Lesi sangat nyeri dan disertai demam, malaise, disuria dan
limfadenopati inguinal.
Human papilloma virus
Human Papilloma Virus (HPV) merupakan virus DNA famili
Papovaviridae. Terdiri dari double strand DNA dan sirkular dengan 5-8 gen
dan virus ini tidak berselubung. Virus ini menginfeksi sel pipih epitelium dan
menyebabakn kaedaan hiperplasia epitel. . Yang paling sering di temukan
HPV-16 atau HPV-18, walaupun beberapa kanker mengandung DNA dari
HPV tipe 31 atau tipe 45.
Molluscum contagiosum
Molluscum contagiosum adalah virus yang autoinokulasi (masuknya
virus dari tubuh pasien sendiri) dengan masa tunas 1-4 minggu. Umumnya
timbul tumor kulit epitel berwarna merah muda hingga abu-abu, tanpa gejal,
menyebar, dan berukuran kurang dari 1 cm di vulva. Gambaran histologik
menunjukan sejumlah badan inklusi dalam sitoplasma sel.
B. Benda asing.
Adanya benda asing seperti tertinggalnya kondom atau benda tertentu yang
dipakai pada waktu senggama, adanya cincin pesarium yang digunakan wanita
dengan prolapsus uteri dapat merangsang pengeluaran cairan vagina yang
berlebihan. Jika rangsangan ini menimbulkan luka akan sangat mungkin terjadi
infeksi penyerta dari flora normal yang berada di dalam vagina sehingga timbul
leukorea.
1. Neoplasma/ keganasan.
Kanker akan menyebabkan leukorea patologis akibat gangguan pertumbuhan
sel normal yang berlebihan sehingga menyebabkan sel bertumbuh sangat cepat
secara abnormal dan mudah rusak, akibat terjadi pembusukan dan perdarahan
akibat pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk memberikan makanan
dan oksigen pada sel kanker tersebut. Pada keadaan ini akan terjadi pengeluaran
cairan yang banyak disertai bau busuk akibat terjadinya proses pembusukan dan
disertai oleh adanya darah yang tidak segar.
2. Keputihan akibat sering dibersihkan
Kebiasaan yang sebetulnya tidak sehat dalam memperlakukan vagina. Terlalu
sering membersihkan vagina dengan bahan dengan bahan antisepsis tidaklah
menyehatkan. Kuman kuman yang bermukim disekitar saluran vagina ikut
terbunuh oleh bahan antisepsis yang sering digunakan (Handrawan, 2008).
3. Penggunaan obat-obatan
19

Penggunaan obat-obat imunosupresan seperti kortikosteroid dan penggunaan


antiseptik genital secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan imunitas organ
genital dan juga menyebabkan kematian flora normal organ genital. Hal ini
menyebabkan mudahnya terjadi infeksi daerah vagina yang dapat menimbulkan
keputihan.

2.3 Epidemiologi Keputihan


- Proporsi perempuan yang mengalami flour albus bervariasi antara 1-5 % dan
hampir seluruhnya memiliki aktifitas seksual yang aktif. Tetapi jika
merupakan gejala dapat terjadi pada semua umur.
92 % keputihan disebabkan oleh jamur yang disebut Candida Albicans.

2.4 Klasifikasi Keputihan


A. Leukorea fisiologis
Leukorea fisiologis terjadi

mendekati ovulasi (karena

rangsangan seksual),

menjelang dan sesudah menstruasi atau pengaruh hormone pada kehamilan.


Terdiri dari cairan yang kadang-kadang berupa mucus yang mengantongi
banyak epitel dengan leukosit yang jarang. Ciri-cirinya adalah: berwarna putih
dan menjadi kekuningan bila kontak dengan udara karena prosesokside; tidak
gatal; tidak mewarnai pakaian dalam dan tidak berbau.
Umumnya terjadi pada :
-

Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, penyebabnya adalah
pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.

Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen.

Wanita dewasa saat dirangsang sebelum dan pada waktu koitus,


disebabkan peningkatan transudasi dari dinding vagina

Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri


menjadi lebih encer.

Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri pada saat


menopause.

B. Leukorea patologis

20

Leukorea patologis terjadi karena infeksi vaginal, infeksi trikomonas


vaginalis, infeksi jamurcandida

albicans, keganasan reproduksi ataupun

adanya benda asing dalam jalan lahir. Terdapat banyak leukosit. Ciri-ciri
adalah: terjadi peningkatan volume (membasahi celana dalam); terdapat bau
yang khas; perubahan konsistensi dan warna; penyebab infeksi Trikomoniasis,
Kandidiasis dan Vaginosis bacterial.
Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Di sini
cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan
sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Radang vulva, vagina,
serviks, dan cavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik; pada
adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea ditemukan
pada neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan permukaannya
untuk sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat genital
(Wiknjosastro, 2005)

2.5 Patofisiologi Keputihan


Pada keadaan normal, cairan/sekret yang keluar dari vagina wanita dewasa
sebelum menopause terdiri dari sel epitel vagina (terutama yang paling luar/superfisial
yang terkelupas dan dilepaskan ke dalam rongga vagina), beberapa sel darah putih
(leukosit), cairan transudasi dari dinding vagina, sekresi dari endoserviks berupa
mukus, sekresi darri saluran yang lebih atas dalam jumlah yang bervariasi serta
mengandung berbagai organisme terutama Lactobasilus Doderlein (batang gram
positif, flora vagina terbanyak); beberapa jenis bakteri lain kokus seperti Streptokokus
dan Stapilokokus, dan Eschericia coli.
Peranan basil doderlein dianggap menekan pertumbuhan mikroorganisme
patologis karena basil Doderlein mempunyai kemampuan mengubah glikogen dari
epitel vagina yang terlepas menjadi asam laktat, sehingga vagina tetap dalam keadaan
asam dengan pH 3,0-4,5 pada wanita dalam masa reproduksi. Suasana asam inilah
yang mencegah tumbuhnya mirkoorganisme patologis.

21

Gambar Estrogen dan Biologi Vagina


Bila terjadi suatu ketidakseimbangan suasana flora vagina yang disebabkan
oleh beberapa faktor maka terjadi penurunan fungsi basil Doderlein dengan
berkurangnya jumlah glikogen karena fungsi proteksi basil Doderlein berkurang maka
terjadi aktivitas dari mikroorganisme patologis yang selama ini ditekan oleh flora
normal vagina. Progresifitas

mikroorganisme

patologis

secara

klinis

akan

memberikan suatu reaksi inflamasi di daerah vagina. Sistem imun tubuh akan bekerja
membantu fungsi dari basil Doderlein sehingga terjadi pengeluaran lekosit PMN
maka terjadilah fluor albus.
1. Infeksi bakteri
A. Gonorea
Gonorea disebabkan oleh invasi di bakteri diplokokus gram-negative, Neisseria
gonorrhoeae. Cairan yang keluar dari vagina pada infeksi berwarna kekuningan yang
sebetulnya merupakan nanah yang terdiri dari sel darah putih yang mengandung
Neisseria gonorrhoeae berbentuk pasangan dua-dua pada sitoplasma sel. Bakteri ini
melekat dan menghancurkan membaran epitel yang melapisi selaput lendir, terutama
epitel yang melapisi kanalis endoserfiks dan uretra. Infeksi ekstragenetalial di faring,
anus, rectum, dapat di jumpai pada wanita dan pria.
Untuk dapat menular harus ada kontak langsung mukosa ke mukosa. Namun tidak
semua yang terpajan gonorea terjadi penyakit. Resiko penularan dari pria ke wanita
lebih tinggi kerena luasnya selaput lendir yang terpajan dan cairan eksudat yang
terdiam lama di vagina. Setelah terinokulasi, infeksi dapat tersebar ke prostat, vas
22

deferent, vesikula seminalis, epididymis dan testis pada laki-laki dan ke uretra,
kelenjar skene, kelenjar bartolin, endometrium, tuba fallopi, merupakan penyebab
penyakit radang panggul (PID) yang merupakan penyebab utama infertilitas pada
perempuan.
Infeksi gonokokus dapat menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan
bakterimia gonokokus. Bakterimia lebih sering terjadi pada perempuan.Perempuan
juga beresiko tinggi mengalami penyebaran infeksi saat haid, penularan perinatal
kepada bayi saat lahir melalui os serviks yang terinfeksi, dapat mneyebabkan
konjungtifitis dan akhirnya dan kebutaan pada bayi apabila tidak di ketahui dan di
obati.
Setelah infeksi oleh Neisseria gonorrhoeae, tidak timbul imunitas alami, sehingga
infeksi dapat terjadi lebih dari satu kali. Angka infeksi tertinggi pada usia muda
dengan teringgi wanita umur 15-19 tahun dan laki-laki berusia 20-24 tahun dan pada
laki-laki yang berhubungan seks dengan sesama jenis.
B. Sifilis
Adalah infeksi yang sangat menular yang di sebabkan oleh bakteri berbentuk
spiral, Treponema pallidum. Kecuali penularan neonates, sifilis hampir selalu di
tularkan melalui kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksi. Namun, spiroketa
T.pallidum dapat menembus sawar plasenta dan menginfeksi neonates.
Spiroketa memperoleh akses melalui kontak langsung antara lesi basah terinfeksi
dengan setiap kerusakan, walaupun mikroskopik di kulit atau mukosa penjamu. Sifilis
dapat di sembuhkan pada tahap-tahap awal infeksi. Tetapi apabila di biarkan penyakit
ini dapat menjadi infeksi yang sistemik dan kronik. Infeksi penyakit sifillis dapat di
bagi menjadi , sifillis primer, sekunder (sifilis laten, dini dan lanjut) dan tersier. Pada
perkembangan penyakit dapat terlihat kutil-kutil kecil di vulva dan vagina yang
disebut kondiloma lata. Bakteri kadang dapat terlihat pada pemeriksaan pap smear,
tetapi biasanya bakteri ini diketahui pada pemeriksaan sediaan apus dengan
pewarnaan Gram.
C. Clamidia trachomatis
Clamidia trachomatis adalah infeksi bakteri menular seksual yang paling banyak
di jumpai di amerika. Bakteri ini terdpat dalam 2 bentuk (dimorfik). Dalam bentuk
infeksiosa C. trachomatis merupakan sferoid berukuran kecil, tidak aktif secara
metabolis dan mengandung DNA dan RNA sehingga disebut badan elementer (EB).
Sferoid-sferoid ini memperoleh akses ke sel penjamu melalui endositosis dan setelah
berada di dalam berubah menjadi organisme yang secara metabolis aktif dan bersaing
23

dengan sel pejamu memperebutkan nutrient. Organisme ini memicu timbulnya siklus
replikasi dan setelah kembali memadat menjadi EB untuk menginfeksi sel-sel di
sekitarnya.
C.trachomatis memiliki afinitas terhadap epitel uretra, servix dan konjungtiva
mata. Pada laki-laki, urethritis, epididymis dan prostatitis adalah infeksi bakteri yang
tersering.Pada perempuan yang tersering adalah servisitis, diikuti oleh urethritis,
bartolinitis dan akhirnya penyakit radang panggul (PID).
C.trachomatisdapat menginfeksi faring, dan rectum orang yang melakukan
hubungan seksual oral atau anal-reseptif. Bayi dapat terinfeksi sewaktu dilahirkan dan
mengalami konjungtivitis dan pneumonia. Terinfeksi bakteri ini tidak menimbulkan
imunitas terhadap infeksi di kemudian hari.
Kaum muda yang berusia antara 15-19 tahun merupakan 40% kasus klamidia
yang di laporkan. Resiko tertinggi tertularnya bekteri ini adalah wanita karena
konsentrasi ejakulat yang terinfeksi tertahan di vagina sehingga pemajanan
memanjang.
Bakteri ini dapat ditemukan pada cairan vagina dan terlihat melalui mikroskop
setelah diwarnai pewarnaan Giemsa; sulit ditemukan pada pemeriksaan pap smear
akibat siklus hidupnya yang tak mudah dilacak.
D. Gardnerella vaginalis
Menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang dianggap sebagai
bagian dari mikroorganisme normal dalam vagina karena sering ditemukan. Bakteri
ini biasanya mengisi penuh sel epitel vagina dengan membentuk bentukan khas dan
siebut dengan clue cell. Gardnerella menghasilkan asam amino yang diubah menjadi
senyawa amin yang menimbulkan bau amis seperti ikan. Cairan vagina tampak warna
keabu-abuan.
2. Infeksi virus
A. Virus Herpes Simpleks (HSV)
Adalah penyakit virus menular dengan afinitas pada kulit, selaput lendir
dan system syaraf.Macamnya ada HSV-1 dan HSV-2. HSV-1 menyerang daerah
orofaring, menyebabkan lesi di wajah, mulut dan bibir.Walaupun virus ini dapat
juga menyebabkan harpes genitalis primer. HSV-2 pterdapat di daerah genital.
HSV tidak dapat di sembuhkan.Pada orang yang imunokompeten.Infeksi biasanya
ringan dan swasirna.
HSV disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa atau
setiap kerusakan di kulit.Virus herpes tidak dapat hidup di luar lingkungan yang
lembab. HSV mempunyai kemampuan untuk menginvasi beragam sel melalui fusi
24

langsung dengan membrane sel. Untuk dpat masuk ke dalam sel, tidak
memerlukan proses endositosis.
HSV-1 dan HSV-2 menanyebabkan infeksi kronik yang di tandai dengan
masa-masa infeksi aktif dan latensi. Pada infeksi primer aktif, virus menginvasi
sel penjamu dan cepat berkembang biak menghancurkan sel penjamu dan
melepaskan lebih banyak virion untuk menginfeksi sel-sel di sekitarnya. Dan virus
menyebar melalui saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan
limfadenopati.Tubuh melakukan imunitas seluler dan humoral yang menahan
infeksi tetapi tidak dapat mencegah kekambuhan infeksi aktif.
Setelah infeksi awal, timbul masa laten. Selama masa ini, virus masuk ke
dalam sel-sel sensorik yang mensyarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi di
sepanjang akson untuk bersembunyi di dalam ganglion radiksdorsalis tempat virus
berdiam tanpa menimbulkan sitotosisitas atau gejala pada manusia pejamunya.
Virion dapat menular baik, dalam fase aktif maupun masa laten.
HSV lebih sering di jumpai pada wanita, mungkin karena luas permukaan
mukosa saluran genitalia perempuan yang lebih luas dan terjandinya kerusakan
mikro di mukosa selama hubungan kelamin.Dibandingkan dengan populasi
umum, orang yang terinfeksi HIV lebih rentan terhadap infeksi HSV dan
menularkan penyakit ini. Karena infeksi HSV tidak mengancam jiwa dan sering
ringan atau asimtomatik, sehingga banyak orang yang tidak menyadari akan
besarnya penyakit ini.
Pada awal infeksi tampak kelainan kulit sepert melepuh terkena air panas
yang kemudian pecah dan menimbulkan luka seperti borok, dan pasien merasa
sakit.
B. Virus Papiloma Manusia (HPV)
Adalah suatu pathogen DNA yang menyebabkan timbulnya berbagai
tumor jinak, (kutil), dan beberapa lesi pramaligna dan maligna. Ditandai dengan
kutil-kutil yang kadang sangat banyak dan dapat bersatu membentuk jengger
ayam yang berukuran besar. Cairan di vagina sering berbau tanpa rasa gatal.
Virus ini mampu berikatan dengan beragam sel dan subtype-subtipe
tertentu, memperlihatkan preferensi untuk tempat-tempat anatomis tertentu.
Infeksi HPV dapat menyebabkan kanker serviks, penis dan anus. HPV tipe-6 dan
11 merupakan penyebab utama kutil genital dan tidak berkaitan dengan
keganasan.
HPV sangat menular yang sering terjadi di amerika. Penularan HPV
genital hanya semata-mata melalui hubungan kelamin, walaupun autoinokulasi
25

dan penularan melalui fomite juga dapat terjadi. Infeksi dapat di tularkan kepada
neonates saat persalinan. Factor resiko terbesar untuk timbulnya HPV adalah
jumlah pasangan seks, merokok, pemakaian kontrasepsi oral (KO) dan kehamilan
dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi HPV. Sebagian besar infeksi
HPV akan sembuh dan tidak terdeteksi setelah 2 tahun. Imunitas yang terbentuk
bersifat spesifik-tipe, sehingga individu masih rentan terhadap infeksi oleh HPV
tipe lain.
3. Infeksi Jamur
a. Candida albicans
C.albicans merupakan spesies penyebab infeksi candida pada genitalia lebih dari
80% yaitu vaginitis dan vulvovaginitis. Secara ketat, kandidiasis tidak dianggap di
tularkan secara seksual.
Infeksi simtomatik timbul apabila terjadi perubahan pada resistensi pejamu atau
flora bakteri local. Faktor predisposisi pada wanita adalah kehamilan, haid, diabetes
mellitus, pada pemakaian kontrasepsi dan terapi antibiotic. Baju dalan yang ketat,
konstriktif dan sintetik, sehingga menimbulkan lingkungan yang hangat dan lembab
untuk kolonisasi dapat menyebabkan infeksi rekurent.
Pada sebagian perempuan, reaksi hipersensitifitas terhadap produk-produk,
misalnya pencuci vagina, semprotan deodorant dan kertas toilet dapat berperan
menimbulkan kolonisasi. Perempuan umumnya mengalami infeksi akibat salah satu
factor diatas sedangkan pada laki-laki umunya terjangkit infeksi melalui kontak
seksual dengan perempuan yang mengidap kandidiasis vulvovagina. Keadaan yang
saling menularkan antara pasangan suami istri ini desebut femoma ping pong.
4. Infeksi parasit
a. Trikomoniasis Vaginalis
Adalah organisme oral berflagel.Trikomonad mengikat dan akhirnya
mematikan sel-sel pejamu, memicu respon imun humoral dan selular yang tidak
bersifat protektif terhadap infeksi berikutnya.Agar dapat bertahan hidup trikomonad
harus berkontak langsung dengan eritrosit, dan dalam hal ini dapat menjelaskan
mengapa perempuan lebih rentan terhadap infeksi dari pada laki-laki.
T.vaginalis paling subur pada pH antara 4,9-7,5. Keadaan yang meningkatkan
pH vagina, misalnya haid, kehamilan, pemakaina kontrasepsi oral, dan tindakan
sering mencuci vagina merupakan predisposisi timbulnya trikomoniasis.
Bayi perempuan yang lahir dari ibu yang terinfeksi dapat menularkan
infeksinya.Bayi perempuan rentan karena pengaruh hormone ibu pada epitel vagina
bayi.
26

Infeksi T.vaginalis di tularkan hampir secara eksklusif melalui hubungan kelamin.


Walaupun trikomonad di ketahui dapat hidup sampai 45 menit pada fomite, namun
cara penularan melalui fomite ini sangat jarang terjadi.
Walaupun jarang dapat ditularkan melalui perlengkapan mandi seperti hsnduk
dan bibir kloset. Flour albus tidak selalu gatal, tetapi vagina tampak kemerahan dan
nyeri ditekan, dan perih berkemih. Cairan vagina biasanya banyak, berbuih,
menyerupai air sabun dan berbau.
5. Benda asing
Menimbulkan rangsangan pengeluaran cairan vagina yang jika berlebihan
menimbulkan luka akan sangat mungkin terjadi infeksi penyerta dari flora normal
dalam vagina.
6. Neoplasia/Keganasan
Terjadi pengeluaran cairan yang banyak disertai bau busuk akibat pembusukansel
abnormal, seringkali disertai darah yang tidak segar.
7. Menopause
Estrogen turun vagina menjadi kering dan lapisan sel tipis, kadar glikogen
berkurang, dan basil doderlein berkurang memudahkan infeksi karena lapisan sel
epitel tipis, mudah menimbulkan luka flour albus
8. Erosi
Daerah merah sekitar ostium uteri internum yakni epitel kolumner endoserviks
terkelupas, mudah terjadi infeksi penyerta dari flora normal di vagina sehingga timbul
fluor albus.
9. Stress
Stressor dapat merangsang sekresi adenokorteks yang berakibat meningkatkan
glukokortikoid dan aktivitas saraf simpatis, diikuti pelepasan katekolamin.
Hipotalamus bereaksi mengontrol sekresi Adrenocorticopin (ACTH) yang
berhubungan dengan sekresi hormon peptida termasuk vasopresin, oksitosin, dan
Corticotropin Releasing Factor (CRF). Hormon peptida ini berperan mengatur fungsi
imun. Dalam keadaan stres, sekresi Growth Hormone (GH) juga meningkat, stress
yang lama dapat menekan fungsi gonad. Reseptor spesifik yang terdapat pada
neuroendokrin dapat mempengaruhi aktifitas sel. Sel makrofag yang telah aktif akan
melepaskan suatu mediator yaitu interleukin 1 (IL-1). Mediator ini sangat bermanfaat
bagi limfosit lain sehingga dapat membunuh sel-sel asing.

27

Hubungan stresor, sistem saraf, dan sistem imun


Penelitian dari Dasgupta (2003) melaporkan bahwa ada impuls langsung dari
stressor yang mengenai hipokampus yang diteruskan ke resptor estrogen di vagina
melalu Nerve Pathway khusus sehingga terjadi supresi estrogen yang berakibat
pergeseran pH vagina.
2.6 Manifestasi Klinis Keputihan
Segala perubahan yang menyangkut warna dan jumlah dari sekret vagina merupakan
suatu tanda infeksi vagina. Infeksi vagina adalah sesuatu yang sering kali muncul dan
sebagian besar perempuan pernah mengalaminya dan akan memberikan beberapa gejala fluor
albus:
-

Keputihan yang disertai rasa gatal, ruam kulit dan nyeri.

Sekret vagina yang bertambah banyak

Rasa panas saat kencing

Sekret vagina berwarna putih dan menggumpal

Berwarna putih kerabu-abuan atau kuning dengan bau yang menusuk

A. Vaginosis bacterial Sekret vagina yang keruh, encer, putih abu-abu hingga kekuning-kuningan
dengan bau busuk atau amis. Bau semakin bertambah setelah hubungan seksual.
B. Trikomoniasis Sekret vagina biasanya sangat banyak kuning kehijauan, berbusa dan berbau
amis.
C. Kandidiasis Sekret vagina menggumpal putih kental. Gatal dari sedang hingga berat dan rasa
terbakar kemerahan dan bengkak didaerah genital Tidak ada komplikasi yang serius.
D. Infeksi klamidia Biasanya tidak bergejala. Sekret vagina yang berwarna kuning seperti pus.
Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang abnormal.
Penyebab

Gejala Klinis

Pendekatan Diagnosis
28

Benda asing (biasanya

Anak-anak
Keluar cairan dari vagina dengan bau

Evaluasi klinis

kertas tissue
Infeksi(misalnya

busuk dan bercak vagina


Pruritus, keputihan dengan eritema dan

Pemeriksaan

pembengkakan vulva, sering kali dengan

cairan vagina untuk ragi dan hifa

kremi,streptokokus,stafil

dysuria.

dan kultur untuk konfirmasi

okokus)

Memburuknya pruritus pada malam hari

Pemeriksaan

(menunjukkan infeksi cacing kremi)

untuk cacing kremi

Candida,

cacing

Signifikan eritema

mikroskopis

vukva

dari

dan

anus

dan edema vulva

dengan discharge (menunjukkan infeksi


Pelecehan seksual

Vaginosis bakterial

Infeksi Kandidiasis

streptokokus atau stafilokokus)


Nyeri vulvovagina, vagina berdarah atau

Evaluasi kinis

cairan vagina berbau busuk.

Kultur seksual

Seringkali,keluhan medis samar-samar dan

Langkah-langkah

nonspesifik (misalnya kelelahan, nyeri

memastikan keselamatan anak dan

perut) atau perubahan perilaku (misalnya

laporan

amarah)

berwenang jika kekerasan diduga

Wanita usia reproduktif


Bau busuk(amis), discharge vagina abu-

Kriteria diagnosis (3 dari 4) :

abu tipis dengan pruritus dab iritasi.

Discharge vagina abu-abu

Eritema dan edema tidak biasa

pH sekresi vagina >4,5

Bau amis

Clue

Infeksi

candida

vulva

dan

iritasi

vagina,edema, pruritus.

untuk

pada

cell

pihak

terlihat

yang

selama

pemeriksaan mikroskopis
Evaluasi klinis ditambah
-

pH vagina <4,5

Discharge yang menyerupai keju cottage -

Ragi atau hifa diidentifikasi

dan melekat pada dinding vagina.

pada preparat basah atau KOH

Kadang-kadang

memburuknya

gejala -

Kadang-kadang kultur

setelah hubungan seksual dan sebelum


Infeksi Trikomonas

menstruasi
Cairan kuning-hijau, vagina berbusa sering

Organisme mortil, berbentuk buah

dengan nyeri, eritema dan edema dari

pir memiliki flagel dilihat selama

vulva dan vagina

pemeriksaan mikroskopis.

Kadang-kadang sisuria dan dispareinia

Uji

Kadang-kadang

Trichomonas(jika tersedia)

belanh,

bintik-bintik

diagnostic

cepat

untuk

merah strawberry di dinding vagina atau


Benda asing

serviks
Cairan sangatberbau busuk dan sering

Evaluasi klinis
29

berlimpah, eritema vagina, dysuria dan


kadang-kadang dyspareunia

Reaksi hipersensitivitas

Obyek terlihat selama pemeriksaan


Semua umur
Vulvovaginal eritema, edema,pruritus

Evaluasi

(sering intens), keputihan

penyebab

Riwayat

penggunaan

klinis

dan

hindari

semprotan

kebersihan atau parfum, air mandi aditif,


pengobatan topical untuk infeksi candida,
pelembut kain, pemutih, atau sabun cuci
Keputihan purulent, dyspareunia, dsiuria,

Diagnosis

ekslusi

radiasi

iritasi

berdasarkanfaktor-faktor

riwayat

pelvis,ooferoktomi,

Kadang-kadang pruritus, eritema, nyeri

dan risiko

kemoterapi)

terbakar, perdarahan ringan

pH vagina >6

Jaringan vagina,tipis

Uji Whiff negative

Infalamasi

(misalnya

Granulosit
dilihat
Fistula

enterik

(komplikasi
operasi

persalnan,

Vagina

cairan

berbau

busuk

berlalunya feses dari vagina

dengan

dan

sel

selama

parabasal

pemeriksaan

mikroskopis
Visualisasi langsung atau palpasi
fistula di bagian bawah vagina

panggul,atau

penyakit inflamasi usus)

2.7 Diagnosis & DB Keputihan


1 Anamnesis
Yang harus diperhatikan dalam anamnesis adalah:
a Usia. Harus dipikirkan kaitannya dengan pengaruh estrogen. Bayi wanita atau pada
wanita dewasa, leukorea yang terjadi mungkin karena pengaruh estrogen yang
tinggi dan merupakan leukorea yang fisiologis. Wanita dalam usia reproduksi
harus dipikirkan kemungkinan suatu penyakit hubungan seksual (PHS) dan
penyakit infeksi lainnya. Pada wanita dengan usia yang lebih tua harus dipikirkan
b

kemungkinan terjadinya keganasan terutama kanker serviks.


Metode kontrasepsi yang dipakai. Pada penggunaan kontrasepsi hormonal
dapat meningkatkan sekresi kelenjar serviks. Keadaan ini dapat diperberat dengan
adanya infeksi jamur. Pemakaian IUD juga dapat menyebabkan infeksi atau iritasi
pada serviks yang meragsang sekresi kelenjar serviks menjadi meningkat.

30

Kontak seksual. Untuk mengantisipasi leukorea akibat PHS seperti gonorea,


kondiloma akuminata, herpes genitalis, dan sebagainya. Hal yang perlu ditanyakan

adalah kontak seksual terakhir dan dengan siapa dilakukan.


Perilaku. Pasien yang tinggal di asrama atau bersama dengan teman-temannya
kemungkinan tertular penyakit infeksi yang menyebabkan terjadinya leukorea
cukup besar. Contoh kebiasaan yang kurang baik adalah tukar menukar peralatan

mandi atau handuk.


Sifat leukorea. Hal yang harus ditanyakan adalah jumlah, bau, warna, dan
konsistensinya, keruh/jernih, ada/tidaknya darah, frekuensinya dan telah berapa
lama kejadian tersebut berlangsung. Hal ini perlu ditanyakan secara detail karena

dengan mengetahui hal-hal tersebut dapat diperkirakan kemungkinan etiologinya.


Menanyakan kepada pasien kemungkinan hamil atau menstruasi. Pada kedua

keadaan ini leukorea yang terjadi biasanya merupakan hal yang fisiologis.
Masa inkubasi. Bila leukorea timbulnya akut dapat diduga akibat infeksi atau
pengaruh zat kimia ataupun pengaruh rangsangan fisik.

Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan dalam


Pemeriksaan fisik secara umum harus dilakukan untuk mendeteksi adanya

kemungkinan penyakit kronis, gagal ginjal, infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya
yang mungkin berkaitan dengan leukorea. Pemeriksaan yang kusus harus dilakukan
adalah pemeriksaan genitalia yang meliputi: inspeksi dan palpasi genitalia eksterna;
pemeriksaan spekulum untuk melihat vagina dan serviks; pemeriksaan pelvis bimanual.
Untuk menilai cairan dinding vagina, hindari kontaminasi dengan lendir serviks.
Pada infeksi karena gonokokkus, kelainan yang dapat ditemui adalah orifisium uretra
eksternum merah, edema dan sekret yang mukopurulen, labio mayora dapat bengkak,
merah, dan nyeri tekan. Kadang-kadang kelenjar Bartolini ikut meradang dan terasa nyeri
waktu berjalan atau duduk. Pada pemeriksaan melalui spekulum terlihat serviks merah
dengan erosi dan sekret mukopurulen.
Pada trikomonas vaginalis dinding vagina tampak merah dan sembab. Kadang
terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks yang tampak sebagai granulasi
berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearance. Bila sekret banyak
dikeluarkan dapat menimbulkan iritasi pada lipat paha atau sekitar genitalia eksterna.
Infeksi Gardnerella vaginalis memberikan gambaran vulva dan vagina yang
berwarna hiperemis, sekret yang melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan
tipis atau berkilau. Pada pemeriksaan serviks dapat ditemukan erosi yang disertai lendir
bercampur darah yang keluar dari ostium uteri internum.

31

Pada kandidiasis vagina dapat ditemukan peradangan pada vulva dan vagina, pada
dinding vagina sering terdapat membran-membran kecil berwarna putih, yang jika
diangkat meninggalkan bekas yang agak berdarah.
Pada kanker serviksawalakan terlihat bercak berwarna merah dengan permukaan
yang tidak licin. Gambaran ini dapat berkembang menjadi granuler, berbenjol-benjol dan
ulseratif disertai adanya jaringan nekrotik. Disamping itu tampak sekret yang kental
berwarna coklat dan berbau busuk. Pada kanker serviks lanjut, serviks menjadi
nekrosis, berbenjol- benjol, ulseratif dan permukaannya bergranuler, memberikan
gambaran seperti bunga kol.
Adanya benda asing dapat dilihat dengan adanya benda yang mengiritasi seperti
IUD, tampon vagina, pesarium, kondom yang tertinggal dan sebagainya.
Bacterial vaginosis (BV)
BV dapat didiagnosis menggunakan kriteria klinis (contoh : Amsels Diagnostic
Criteria) atau pewarnaan gram. Pewarnaan gram digunakan untuk mengidentifikasi
konsentrasi relative Lactobacilli (batang gram+), gram-, dan batang & coccus berbagai
macam gram (conoth : G. vaginalis, Prevotella, Porphyromonas, and peptostreptococci),
dan batang bengkok gram- (Mobiluncus). Jika pewarnaan gram tidak tersedia, kriteria
klinis dapat digunakan dan membutuhkan 3 gejala, seperti :
-

Leukorea homogeny, tipis, putih yang menyelimuti dinding vagina


Adanya clue cell pada pemeriksaan dengan mikroskop
pH cairan vagina >4,5 , atau
Leukorea berbau amis sebelum dan sesudah penambahan KOH 10% (Tes WHIFF)

Adanya 3 dari 4 kriteria berhubungan dengan hasil pewarnaan gram.


1. Pemeriksaan lain, termasuk test berdasarkan DNA untuk konsentrasi tinggi
G.vaginalis

(Affirm

VP

III,

Becton

Dickinson,

Sparks,

Maryland),

prolineaminopeptidase test card (Pip Activity TestCard, Quidel, San Diego,


California), dan the OSOM BVBlue test. Hasil dari pemeriksaan ini sebanding
dengan ciri pewarnaan gram. Card test mempunyai kelebihan untuk mendeteksi
peningkatan pH dan trimethylamine tetapi sensitivitas dan spesifisitasnya rendah,
sehingga tidak dianjurkan.
2. Kultur G.vaginalis tidak disarankan karena tidak spesifik.
3. Pap smear tidak berguna karena sensitivitasnya rendah
4. Gejala : Non-pruritic vaginal discharge dengan bau amis, tapi 50% wanita
asimptomatik
5. Treatment. Oral/intravaginal metronidazole atau clindamycin.
Chlamydial cervicitis

32

Gejala :LeukoreaPurulent atau mucoid discharge, perdarahan post coitus dan


vaginitis, tetapi wanita asimptomatik banyak diidentifikasi melalui skreeing atau contact
tracing
o Diagnosis. test DNA yang bahannya diambil dari vagina atau dari urin, atau ELISA.
o Treatment. Oral azithromycin atau doxycycline.
Gonococcal cervicitis/vaginitis
Gejala :leukorea banyak, tidak berbau, tidak iritasi, seperti krim putih atau
kuning, tetapi dapat juga asimptomatik. 10-20% wanita mengalami salfingitis akut
dengan demam dan nyeri pelvis, 5% memperlihatkan penyebarluasan infeksi gonorrhea
dengan mengigil, demam, malise, polyatralgi asimetrik dan lesi kulit yang sakit.
Diagnosis. kulturpositive culture pada media selektif seperti modified Thayer
Martin agar; 20% pasien akan dapat diidentifikasi infeksinya pada beberapa sisi (faring,
rectum).
Treatment. Oral ciprofloxacin
Candidiasis
o
o

Gejala banyak pruritus dan eritema pada vulvovaginal.


Diagnosis. KOH wet-mount untuk melihat adanya cabang dan budding hifa. Kultur

o
o

pada medium Sabouraud diindikasikan pada beberapa kasus


Treatment. topical clotrimazole (Canestin) atau oral fluconazole (Diflucan).
Uncomplicatted vulvuvaginal candidiasis (VVC)
- Secara klinis ditemukan dysuria external dan pruritus, nyeri, bengkak, kemerahan
-

pada vulva.
Gejala termasuk edema, fissure, goresan atau leukorea yang tebal dan putih pada
vulva
Diagnosis dapat ditegakkan pada wanita dengan gejala, dan
a. Preparat basah (saline, 10% KOH) atau pewarnaan gram cairan leukorea vagina

menunjukkan adanya yeast, hifa atau pseudohifa. Atau


b. Kultur atau test jamur lain menunjukkan adanya spesies jamur
- pH vagina biasanya normal (<4,5), sehingga pemeriksaan pH tidak berarti.
- Penggunaan 10% KOH pada preparat basah meningkatkan visualisasi yeast dan
mycelia dengan menghancurkan materi selular yang menghalangi yeast atau
pseudohifa. Pemeriksaan ini harus dilakukan pada wanita dengan gejala VVC dan
-

wanita dengan hasil positif harus diterapi.


Jika hasil preparat basah negative tetapi gejala positif, perlu dilakukan kultus

Candida
Jika kultur tidak dapat dilakukan, terapi empiris dapat diberikan pada wanita dengan

gejala VVC.
Identifikasi Candida melalui kultur, tetapi pasien tidak memiliki gejala, bukan
indikasi pemeriksaan

Trichomoniasis
33

Gejala :leukorea dengan jumlah banyak dan berbau busuk, perdarahan post coitus,
eritema vulvovaginal.
Treatment. Oral (bukan lewat vaginal) metronidazole.
Diagnosis :
a. Trichomonads terlihat pada saline wet-mount merupakan pathognomonic.
Lainnya adalah terdapatnya banyak leukosit dan pH > 4.5. organisme mungkin
dapat ditemukan pada pemeriksaan pap smear pada wanita asimptomatik.
b. biasanya melalui pemeriksaan mikroskop cairan vagina, tetapi metode ini
sensitive hanya terhadap 60-70% dan membutuhkan evaluasi segera pada
preparat slide basah untuk hasil optimal.
c. FDA-cleared test (sensitivitas 88-97% & spesifisitas 98-99%) untuk
trichomoniasis wanita termasuk OSOM Trichomonas Rapid Test (Genzyme
Diagnostics, Cambridge, Massachusetts), immunochromatographic capillary
flow dipstick technology, dan the Affirm VP III (Becton Dickenson, San Jose,
California), a nucleic acid probe test yang

mengevaluasi T. vaginalis, G.

vaginalis, and C. albicans.


Test-test ini memiliki sensitivitas >83% dan spesifisitas >97%.
Hasil OSOM Trichomonas Rapid Test dapat dilihat kurang lebih 10menit, dan
hasil Affirm VP III dapat dilihat sekitar 45menit. Tetapi, false positive dapat
terjadi, terutama pada populasi dengan prevalensi rendah.
d. Kultur juga memiliki sensitifitas dan spesifisitas tinggi pada T.vaginalis secret
vagina
e. APTIMA T. vaginalis Analyte Specific Reagents (ASR; manufactured by GenProbe, Inc.) dapat juga mendeteksi RNA T.vaginalis dengan dimediasi
amplifikasi transkripsi menggunakan instumen yang sama dengan FDA-cleared
test.

2.8 Tatalaksana Keputihan


Untuk menghindari komplikasi yang serius dari keputihan (fluor albus), sebaiknya
penatalaksanaan dilakukan sedini mungkin. Penatalaksanan keputihan tergantung dari
penyebab infeksi seperti jamur, bakteri atau parasit. Umumnya diberikan obat-obatan
untuk mengatasi keluhan dan menghentikan proses infeksi sesuai dengan penyebabnya.
Tujuan pengobatan yaitu:
Menghilangkan gejala
Memberantas penyebabrnya
Mencegah terjadinya infeksi ulang
Pasangan diikutkan dalam pengobatan
Keputihan fisiologis : tidak ada pengobatan khusus, penderita diberi penerangan
untuk menghilangkan kecemasannya. Keputihan Patologis : Tergantung penyebabnya
Obat obatan untuk keputihan Patologis :
1

Antiseptik : Povidone Iodin


34

Sediaan ini berbentuk larutan 10% povidon iodin dan ada yang diperlengkapi dengan alat
douche-nya sebagai aplikator larutan ini. Selain sebagai antiinfeksi yang disebabkan
jamur Kandida, Trikomonas, bakteri atau infeksi campuran, juga sebagai pembersih.
Tidak boleh digunakan pada ibu hamil dan menyusui. Bila terjadi iritasi atau sensitif
pemakaian harus dihentikan.

Antibiotik
-

Clotrimazole
Memiliki aktivitas antijamur dan antibakteri. Untuk infeksi kulit dan vulvovaginitis
yang disebabkan oleh Candida albicans. Efek samping: pemakaian topikal dapat
terjadi rasa terbakar,eritema, edema ,gatal dan urtikaria Sediaan dan posologi :
Tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1% dioleskan 2 kali sehari .
Krim vagina 1% untuk tablet vagina 100 mg digunakan sekali sehari pada malam
hari selama 7 hari atau tablet vagina; 500 mg, dosis tunggal.

- Tinidazole
Tinidazole adalah obat antiparasit yang digunakan untuk membrantas infeksi
Protozoa, Amuba. Efek samping obat ini sama seperti Metronidazole tetapi dengan
kelebihan tidak perlu minum dengan waktu yang panjang sehingga mengurangi efek
sampingnya. Tinidazole sebagai preparat vaginal digunakan untuk infeksi
Trichomonas. Biasa dikombinasi dengan Nystatin sebagai anti jamurnya. Bentuk
sediaan yang ada adalah vaginal tablet.
- Metronidazole
Diberikan peroral ( 2 gram sebagai dosis tunggal , 1gr setiap 12 jam x 2 atau
250 mg 3xsehari selama 5-7 hari) untuk infeksi Trichomonas vaginalis. Diberikan
500 mg 2xsehari selama seminggu dan lebih baik secara mitraseksual. Untuk infeksi
Gardnerella vaginalis. Efek samping : mual kadang kadang muntah, rasa seperti
logam dan intoleransi terhadap alkohol. Metronidazol tidak boleh diberikan pada
trimester pertama kehamilan.
- Nimorazole
Nimorazole merupakan antibiotika golongan Azol yang terbaru. Selain dalam
sediaan tunggal dalam bentuk tablet oral (diminum) juga ada kombinasinya
(Chloramphenicol dan Nystatin) dalam bentuk vaginal tablet.
- Penisilin
1 Ampisilin pada pemberian oral dipengaruhi besarnya dosis dan ada tidaknya makanan
dalam saluran cerna
35

Amoksisilin lebih baik diberikan oral ketimbang ampisilin karena tidak terhambat
makanan dalam absorbsinya.
Efek samping : Reaksi alergi , nefropati, syok anafilaksis, efek toksik penisilin
terhadap susunan saraf menimbulkan gejala epilepsi karena pemberian IV dosis besar

Sediaan dan posologi :


Ampisilin :
- Tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul 125mg, 250mg, 500mg
- Dalam suntikan 0,1 ; 0,25 ; 0,5 dan 1 gram pervial
Amoksisilin :
Dalam bentuk kapsul atau tablet ukuran 125, 250, 500 gram dan sirup125mg/5mL dosis
diberikan 3 kali 250-500 mg sehari
3 Anti jamur : Nystatin
Nystatin adalah obat antijamur polien untuk jamur dan ragi yang sensitif terhadap
obat ini termasuk Candida sp. Di dalam darah sangat berbahaya bagi tubuh, tetapi
dengan sifatnya yang tidak bisa melewati membran kulit sangat baik untuk digunakan
sebagai obat pemakaian luar saja. Tetapi dalam penggunaannya harus hati-hati jangan
digunakan pada luka terbuka.
4 Anti Virus : Asiklovir
Hambat enzim DNA polimerase virus. Sediaan dalam bentuk oral, injeksi dan krim
untuk mengobati herpes dilabia.
Efek samping :
Oral : pusing, mual, diare,sakit kepala
Topikal : Kulit kering dan rasa terbakar dikulit.
Kontraindikasi : tidak boleh digunakan pada ibu hamil
Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering :
1

Candida albicans
Topikal
- Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu
- Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari
- Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 14 hari
Sistemik

- Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari


- Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari- Nimorazol 2 gram dosis tunggal
- Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal
Pasangan seksual dibawa dalam pengobatan
Chlamidia trachomatis
- Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari (Illustrated of textbook gynecology)
- Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila
- Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari
- Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari
36

- Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10 hari


3. Gardnerella vaginalis
- Metronidazole 2 x 500 mg
- Metronidazole 2 gram dosis tunggal
- Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari
- Pasangan seksual diikutkan dalam pengobatan
4.Neisseria gonorhoeae
- Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau
- Amoksisiklin 3 gr im atau
- Ampisiillin 3,5 gram im
Ditambah:
- Doksisiklin 2 x 100mg oral selama 7 hari atau Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
- Tiamfenikol 3,5 gram oral
- Kanamisin 2 gram im
- Ofloksasin 400 mg/oral
Untuk Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase
- Seftriaxon 250 mg im atau
- Spektinomisin 2 mg im atau
- Ciprofloksasin 500 mg oral
Ditambah
- Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari atau
- Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
5. Virus herpeks simpleks
Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas
- Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari
- Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari
- Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder
(Setiabudi R dan www.medicastore.com)

2.9 Pencegahan Keputihan


Tindakan pencegahan keputihan yaitu dengan :
Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olahraga rutin, istirahat cukup, hindari

rokok, dan alkohol serta dihindari stress berkepanjangan


Setia pada pasangan, hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk mencegah

penularan penyakit menular seksual.


Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi, dengan menjaganya agar tetap kering dan
tidak lembab, misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap
keringat, hindari pemakaina celana terlalu ketat, biasakan untuk mengganti
oembalut pantyliner pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak

37

Biasakan membasuh dengan cairan yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah

depan ke belakang
Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat

mematikan flora normal vagina


Hindari penggunaan bedak fakum, tissue atau sabun dengan pewangi pada daerah

vagina.
Hindari pemakaian barang-barang yang memdahkan penularan seperti meminjam
perlengkapan mandi.

2.10

Komplikasi Keputihan
Komplikasi yang sering adalah bila kuman telah menaiki panggul sehingga

terjadi penyakit yang dikenal dengan radang panggul. Komplikasi jangka panjang
yang lenih mengerikan, yaitu kemungkinan wanita tersebut akan mandul akibat rusak
dan lengketnya organ-organ dalam kemaluan terutama tuba falopi dan juga dapat
menyebabkan infertilitas.Komplikasi juga dapat terdapat pada pria yaitu komplikasi
non spesifikndapat menjalar ke prostat dan menimbulkan infeksi buah zakar dan
saluran kemih
Terinfeksinya kelenjar yang ada di dalam bibir vagina. Bisul kelenjar tersebut
harus disedot keluar karena tidak dapat disembukan dengan obat. Komplikasi pada
wanita sering menimbulkan radang saluran telur. Infeksi nonspesifik pada wanita
sering tanpa keluhan maupun gejala
2.11

Prognosis Keputihan
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan
respon terhadap pengobatan dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan
berulang. Dengan perawatan kesehatan akan menentukan pengobatan yang
lebih efektif.

LI 3. MM PAP SMEAR
PAP SMEAR TEST
A. PENDAHULUAN
Tes Pap Smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk melihat adanya
perubahan atau keganasan pada epitel serviks atau porsio (displasia) sebagai tanda awal keganasan
serviks atau prakanker (Rasjidi, Irwanto, Sulistyanto, 2008).
Pap Smear merupakan suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan
kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Pap Smear merupakan tes yang aman dan murah dan telah

38

dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher
rahim (Diananda, 2009).
Pemeriksaan ini mudah dikerjakan, cepat, dan tidak sakit, serta bisa dilakukan setiap saat,
kecuali pada saat haid (Dalimartha, 2004).
Pap Smear pertama kali diperkenalkan tahun 1928 oleh Dr. George Papanicolou dan Dr. Aurel
Babel, namun mulai populer sejak tahun 1943 (Purwoto & Nuranna, 2002).
Pap smear adalah prosedur medis di mana sampel sel dari leher rahim seorang wanita (akhir
rahim yang meluas ke dalam vagina) dikumpulkan dan dioleskan pada slide mikroskop. Sel-sel
diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari perubahan pra-ganas (sebelum kanker) atau ganas
(kanker).
Pap smear adalah tes skrining yang sederhana, cepat, dan relatif tanpa rasa sakit.
o

Spesifisitas - kemampuannya untuk menghindari mengklasifikasikan hasil normal dengan

tidak normal (hasil "positif palsu")


Sensitivitas - yang berarti kemampuannya untuk mendeteksi setiap kelainan, mungkin saja
didapatkan beberapa hasil "negatif palsu". Dengan demikian, beberapa wanita mengalami
kanker serviks walaupun memiliki Pap screening yang teratur.
Dalam sebagian besar kasus, tes Pap tidak mengidentifikasi kelainan seluler kecil sebelum

mereka memiliki kesempatan untuk menjadi ganas dan pada suatu titik ketika kondisi ini paling
mudah diobati. Pap smear tidak dimaksudkan untuk mendeteksi bentuk kanker lain dari ovarium,
vagina, atau rahim. Kanker organ-organ ini mungkin ditemukan selama berlangsungnya ginekologi
(panggul) ujian, yang biasanya dilakukan pada waktu yang sama dengan Pap smear.
Semua wanita usia 25-69 tahun yang pernah melakukan hubungan seksual dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan pap smear 3 tahun sekali.
B. MANFAAT PAP SMEAR
Pemeriksaan Pap Smear berguna sebagai pemeriksaan penyaring (skrining) dan pelacak adanya
perubahan sel ke arah keganasan secara dini sehingga kelainan prakanker dapat terdeteksi serta
pengobatannya menjadi lebih murah dan mudah (Dalimartha, 2004). Pap Smear mampu mendeteksi
lesi prekursor pada stadium awal sehingga lesi dapat ditemukan saat terapi masih mungkin bersifat
kuratif (Crum, Lester, & Cotran, 2007).
Manfaat Pap Smear secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut (Manuaba, 2005):
1. Diagnosis dini keganasan
Pap Smear berguna dalam mendeteksi dini kanker serviks, kanker korpus endometrium,
keganasan tuba fallopi, dan mungkin keganasan ovarium.
2. Perawatan ikutan dari keganasan
Pap Smear berguna sebagai perawatan ikutan setelah operasi dan setelah mendapat
kemoterapi dan radiasi.
3. Interpretasi hormonal wanita

39

Pap Smear bertujuan untuk mengikuti siklus menstruasi dengan ovulasi atau tanpa ovulasi,
menentukan maturitas kehamilan, dan menentukan kemungkunan keguguran pada hamil
muda.
4. Menentukan proses peradangan
Pap Smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai infeksi bakteri dan
jamur.
C. KRITERIA PASIEN
Kehamilan bukan menjadi alasan tidak dilakukannya pap smear. Pap smear masih dapat
dilakukan dengan aman selama kehamilan
Tidak diindikasikan pada wanita yang pernah di hysterectomy (pengangkatan serviks) karena
kondisi benigna.
Wanita yang di hysterectomy subtotal boleh melakukan pap smear dengan langkah sama
dengan wanita yang belum di hysterectomy.
D. PROSEDUR
SYARAT :
Wanita yang ingin melakukan pemeriksaan pap smear tidak boleh saat menstruasi.
Waktu terbaik adalah antara 10-20 hari setelah hari pertama menstuasi.
Sekitar 2 hari sebelum pemeriksaan, wanita harus menghindari pemakaian sabun, krim, jelli
spermisidal atau obat vagina, karena ini dapat menyebabkan sel servix abnormal tidak
terlihat.
Hindari hubungan seksual 48 jam sebelum pemeriksaan
Menurut Soepardiman (2002), Manuaba (2005), dan Rasjidi (2008), prosedur pemeriksaan Pap
Smear adalah:
1. Persiapan alat-alat yang akan digunakan, meliputi spekulum bivalve (cocor bebek), spatula
Ayre, kaca objek yang telah diberi label atau tanda, dan alkohol 95%.
2. Pasien berbaring dengan posisi litotomi.
3. Pasang spekulum sehingga tampak jelas vagina bagian atas, forniks posterior, serviks uterus,
dan kanalis servikalis.
4. Periksa serviks apakah normal atau tidak.
5. Spatula dengan ujung pendek dimasukkan ke dalam endoserviks, dimulai dari arah jam 12
dan diputar 360 searah jarum jam.
6. Sediaan yang telah didapat, dioleskan di atas kaca objek pada sisi yang telah diberi tanda
dengan membentuk sudut 45 satu kali usapan.
7. Celupkan kaca objek ke dalam larutan alkohol 95% selama 10 menit.
8. Kemudian sediaan dimasukkan ke dalam wadah transpor dan dikirim ke ahli patologi
anatomi.

40

E. ANALISA PAP SMEAR


Analisa dan hasil pap smear berdasarkan pada system Bethesda. Standarisasi menurunkan
kemungkinan hasil lab yang berbeda dari sampel pap smear yang sama.
System Bethesda :
Normal (negative) : tidak ada tanda pre cancer atau cancer
ASC-US (Atypical Squamous Cells of Undetermined Significant) : Ditemukan perubahan
pada sel servix. Perubahannya hampir selalu merupakan tanda infeksi HPV tetapi dapat
mengindikasikan adanya precancer. Ini merupakan tipe terbanyak dari hasil pap smear
abnormal
SIL (Squamous Intraepithelial Lession) : perubahan abnormal terlihat pada sel yang dapat
berupa tanda pre cancer. SIL dapat berupa low grade (LSIL) atau high grade (HSIL).
Tingkatan ini berhubungan dengan tingkat dysplasia dan CIN. LSIL hampir selalu
mengindikasikan adanya infeksi HPV, tetapi dapat juga mengindikasikan perubahan pre
cancer ringan. LSIL sangat sering dan biasanya hilang sendirinya tanpa terapi. HSIL
mengu=indikasikan perubahan yang lebih serius. Carcinoma in ditu (CIS) merupakan bentuk
berat dari HSIL. Biasanya mengarah ke proses terbentuknya kanker
ASC-H (Atypical Squamous Cells, cannot exlude HSIL) : perubahan pada sel servix
ditermukan. Perubahan ini tidak sepenuhnya HSIL tetapi bisa saja berupa HSIL, dan butuh
pemeriksaan lanjutan.
AGC (Atypical Glandular Cells) : perubahan sel terlihat mengindikasikan pre cancer pada
bagian atas servix atau uterus.
Kanker : sel abnormal dapat menyebar lebih dalam ke servix atau jaringan lain.
Jika hasil pap smear abnormal, perlu pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan selanjutnya
bergantung tipe hasil pap smear abnormal dan usia serta tingkat dysplasia.
Klasifikasi Papanicolaou membagi hasil pemeriksaan menjadi 5 kelas (Saviano, 1993), yaitu:
Kelas I : tidak ada sel abnormal.
Kelas II : terdapat gambaran sitologi atipik, namun tidak ada indikasi adanya keganasan.
Kelas III : gambaran sitologi yang dicurigai keganasan, displasia ringan sampai sedang.
Kelas IV : gambaran sitologi dijumpai displasia berat.
Kelas V : keganasan.

Sistem CIN pertama kali dipublikasikan oleh Richart RM tahun 1973 di Amerika Serikat
(Tierner & Whooley, 2002). Pada sistem ini, pengelompokan hasil uji Pap Semar terdiri dari (Feig,
2001):
CIN I merupakan displasia ringan dimana ditemukan sel neoplasma pada kurang dari
sepertiga lapisan epitelium.
CIN II merupakan displasia sedang dimana melibatkan dua pertiga epitelium.

41

CIN III merupakan displasia berat atau karsinoma in situ yang dimana telah melibatkan
sampai ke basement membrane dari epitelium.

HASIL PAP SMEAR NORMAL

ABNOR
MAL
Sumber : American Society of Cytopathology

Hasil pap smear harus disertakan dengan :


a. Deskripsi status menstruasi pasien (contoh : menopausal atau periode menstruasi regular)
b. Riwayat medis (contoh : riwayat herpes)
c. Jumlah slide
d. Deskripsi ke-adekuatan specimen (apakah bisa dibaca atau tidak)
e. Diagnosis akhir
f.

Rekomendasi untuk follow up

LI 3. MM THAHARAH PADA KEPUTIHAN DALAM AGAMA ISLAM


42

Para ulama mengatakan bahwakeputihan itu pada hakikatnya adalah darah penyakit.
Di dalam bab darah wanita, keputihan termasuk ke dalam kelompok darah istihadhah.
Darah istihadhah adalah satu jenis darah dari tiga jenis darah wanita. Darah yang lain adalah
darah haidh dan darah nifas.
Berbeda dengan haidh dan nifas, darah istihadhahtidak mewajibkan mandi janabah,
tetapi hanya mewajibkan wudhu'. Namun di sisi lain, darah istihadhah itu sendiri adalah
benda najis, sehingga selain wajib berwudhu' juga wajib untuk dibersihkan sebagaimana
layaknya air kencing.
Kalau darah keputihan itu ke luar dan membasahi pakaian, berarti pakaian itu menjadi
najis. Tidak sah hukumnya bila dipakai untuk shalat. Perlu diganti dengan pakaian lain yang
suci. Untuk menghindari gonta ganti pakaian, biasanya para wanita menggunakan pembalut
wanita. Sehingga begitu akan shalat, cukup diganti atau dibuka pembalutnya saja.

Landasan Penjelasan Mengenai Taharah


Pengertian Thaharah
Thaharah atau bersuci adalah membersihkan diri dari hadats, kotoran, dan najis
dengan cara yang telah ditentukan. Secara bahasa, thaharah artinya membersihkan diri dari
kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun kotoran yang tidak berwujud. Allah berfirman:











Artinya:Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang
yang mensucikan diri.
Adapun secara istilah, thaharah artinya menghilangkan hadats, najis, dan kotoran
dengan air atau tanah yang bersih.Dengan demikian, thaharah adalah menghilangkan kotoran
yang masih melekat di badan yang membuat tidak sahnya shalat dan ibadah lain.[1]
Oleh karena itu para fuqaha mendahulukan pembahasan bab thaharah dari pada bab
shalat karena thaharah adalah kunci dalam melaksanakan shalat, dan merupakan syarat dari
sahnya shalat. dan syarat itu lebih di dahulukan dari pada apa yang di syaratkan.
Imam Nawawi As syafii menafsirkan pengertian thaharah dengan, mengangkat hadas atau
menghilangkan najis. Pengertian ini serasi dengan pengertian yang di tafsirkan dikalangan
fuqaha madzhab malikiyah dan hanabilah, mereka menafsirkan thaharah dengan, mengangkat
43

hadas dan najis dari pada sesuatu yang menghalangi untuk melaksanakan shalat dengan air,
atau mengangkat hukumnya dengan tanah (tayamum). [2]
Allah S.W.T. berfirman:









Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk,
sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu
dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu
sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah
menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu
dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha
Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS: An Nisaa: 4:43)
Macam macam Thaharah
Thahharah terbagi dalam 2 bagian :
1. Suci dari hadats ialah bersuci dari hadats kecil yang dilakukan dengan wudhu atau
tayamum, dan bersuci dari hadats besar yang dilakukan dengan mandi.
2. Suci dari najis ialah membersihkan badan, pakaian dan tempat dengan menghilangkan
najis dengan air.

44

DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/jtptunimus-gdl-nurhendif-5401-2-babii.pdf
Victor P. Eroschenko. 2008. Atlas Histologi diFiore dengan korelasi Fungsional. Edisi 11.
Jakarta, EGC
http://www.ppdictionary.com/mycology/albicans.html
http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v4/v4c019.html
Sarwono, P.2010. Buku Ilmu Kebidanan. Edisi IV .Jakarta: PT. Bina Pustaka
BASHH Guidance. 2011. Management and laborratory diagnosis of Abnormal Vaginal
Discharge Quick Reference Guide forr Primary Care. England
Hainer, Barry dan Gibson, Maria.

2011. Vaginitis: Diagnosis and Treatment. American

Family Physician, vol. 83, Number 7, April 1, 2011.


Price, Sylvia A dan Wilson, Lorraine M. 2014. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses - Proses
Penyakit Ed. 6 Vol 2. Jakarta, EGC
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/21/jtptunimus-gdl-s1-2008-fitarahmaw-1035-03BAB+II.pdf
http://www.medicinestuffs.com/2013/02/pap-smear.html
Leukorrhea Panel: Chalmydia trachomatis, Neisseria gonorrhea, Trichomonas vaginalis.
Medical Diagnostic Laboratory, LLC.
Schalkwyk, Julie van et al. Vulvovaginitis: Screening for and Management of
Trichomoniasis, Vulvovaginal Candidiasis, and Bacterial Vaginosis. SOGC Clinical Practical
Guidelines. No.320, March 2015.

45