Anda di halaman 1dari 18

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan pustaka
1. Pengetahuan
a. Pengertian
Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan
diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan
muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya
untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah
dilihat

atau

dirasakan

sebelumnya.

Pengetahuan

yang

lebih

menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai


pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini
bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang
dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut
juga dapat berkembangmenjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang
dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri , sifat dan gejala
yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa
didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi
berulangkali. Selain pengetahuan empiris , ada pula pengetahuan yang
didapatkan melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai
rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang
bersifat apriori yang tidak menekankan pada pengalaman (Meliono,
2007).
Menurut Notoatmojo (2011) Pengetahuan merupakan hasil
dari tahu yang terjadi setelah orang mengadakan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu terutama melalui mata dan telinga. Bila
seseorang dapat menjawab pertanyaan -pertanyaan mengenai suatu
bidang tertentu dengan lancar, baik secara lisan maupun tertulis maka
dapat dikatakan mengetahui bidang tersebut. Sekumpulan jawaban
verbal yang diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan.

Pengetahuan adalah informasi yang diperoleh seseorang setelah


melakukan penelitian terhadap suatu objek tertentu dengan segala
kemampuan yang dimilikinya.
Menurut

Machfoedz,

et

al

(2005)

cara

orang

mengungkapkan apa-apa yang diketahui dalam bentuk bukti atau


jawaban baik lisan atau tertulis. Bukti atau jawaban tersebut
merupakan reaksi dari suatu stimulus yang dapat berupa pertanyaan
lisan maupun tertulis. Seseorang memiliki pengetahuan yang tinggi
apabila mampu mengungkapkan sebagian besar informasi dari suatu
objek dengan benar. Demikian juga bila seseorang hanya mampu
menggunakan sedikit informasi dari suatu objek dengan benar maka
dikategorikan berpengetahuan rendah tentang objek tersebut.
Pengetahuan seseorang diperoleh melalui hasil praktak
penginderaan terhadap suatu objek. Penginderaan tersebut diperoleh
dengan cara mengingat atau mengenal informasi yang ada pada objek
tersebut. Seseorang mendapat pengalaman dan pengetahuannya
melalui lingkungan. Pengetahuan dapat diperoleh dari pendidikan
formal atau informal. Makin tinggi pendidikan formal seseorang
makin luas pengetahuannya. Pengetahuan merupakan salah satu
bentuk operasional dari perilaku manusia yang dapat mempengaruhi
kepatuhan seseorang, Paris & Cuningham (2005).
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoatmojo, 2011 faktor-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan adalah:
1) Jenis kelamin
Jenis kelamin yaitu tanda biologis yang membedakan
manusia berdasarkan kelompok laki-laki dan perempuan.
2) Umur
Makin

tua

umur

seseorang

maka

proses-proses

perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur

tertentu bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak


secepat seperti ketika umur belasan tahun.
3) Kingkungan
Lingkungan

merupakan

salah

satu

factor

yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang. Lingkungan memberikan


pengaruh pertama bagi seseorang, dimana seseorang dapat
mempelajari hal-hal yang baik dan yang buruk tergantung pada
sifat kelompoknya. Dari lingkungan seseorang akan memperoleh
pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berfikir seseorang.
4) Sosial budaya
Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan
seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam
hubungannya dengan orang lain, karena hubungan tersebut
seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu
pengalaman.
5) Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran
untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu
sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri dan pada
umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka makin tinggi
pula pengetahuannya.
6) Informasi
Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan
seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah
jika mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media
misalnya TV, Radio, atau surat kabar maka hal itu akan dapat
meningkatkan pengetahuan seseorang.
7) Pengalaman atau masa kerja
Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut
dapat

diartikan

bahwa

pengalaman

merupakan

sumber

pengetahuan, atau pengalaman suatu cara untuk memperoleh

10

kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang


kembali

pengalaman

yang

diperoleh

dalam

memecahkan

permasalahan yang dihadapipada masa lalu.


c. Tingkatan Pengetahuan
Dari beberapa referensi

tentang pengetahuan ada beberapa

teori yang membagi pengetahuan kedalam beberapa tingkatan di


antaranya :
1. Paris & Cuningham (2011)

mengkategorikan pengetahuan

kedalam tiga tingkatan.


a) Declaratif knowledge yaitu pengetahuan untuk menerangkan
sesuatu (knowing what)
b) Procedural knowledge yaitu pengetahuan tentang bagaimana
melakukan sesuatu (knowing how)
c) Konditional knowledge yaitu pengetahuan tentang kapan dan
mengapa (knowing when and why), yang merupakan penerapan
dari declarative knowledge dan coditional knowledge.
2. Tingkat Pengetahuan di dalam Domain Kognitif

menurut

Notoatmojo (2011) mencakup enam tingkatan yaitu :


a) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Tahu merupakan tingkat pengetahuan
yang paling rendah.
b) Memahami (Comprehension)
Memahami

diartikan

sebagai

suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan


dapat menginterpretasikan materi tersebut secara banar.
c). Aplikasi (Aplikation)
Apabila diartikan sebagai kemampuan untuk menjabarkan
materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi
sebenarnya.
d). Analisis (analisis)

11

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi


atau suatu objek kedalam satu struktur organisasi, dan masih
ada kaitannya satu sama lain.
e) Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru.
f) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara /


kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari
subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin
kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan salah satu teori
mengenai tingkatan-tingkatan pengetahuan diatas.

2. Prinsip-prinsip pemberian obat


Prinsip pemberian obat merupakan suatu pedoman dalam
pemberian terapi agar kesalahan pemberian tidak terjadi, efek samping
dapat dicegah / ditanggulangi, dan reaksi yang tidak diinginkan dapat
diatasi (Huges, 2008). Dalam pelaksanaannyan ada beberapa prinsip dalam
pemberian obat yang telah berkembang dalam dunia keperawatan sampai
saat ini yaitu:
a. Prinsip 5 benar pemberian obat
Pemberian obat sesuai prinsip 5 benar yaitu pemberian obat yang
didasarkan pada benar pasien, benar obat, benar dosis, benar rute dan
benar waktu (Tambayong, 2002). Menurut Pery & Potter (2005),
pemberian obat sesuai dengan prinsip 5 benar yaitu pasien yang benar,
obat yang benar, dosis yang benar, cara / rute pemberian yang benar

12

dan waktu pemberian yang benar. Adapun penjelasan dari 5 benar itu
sendiri adalah:
1) Benar klien
a) Memeriksa identitas pasien sebelum melakukan pemberian obat.
b) Memberikan penjelasan kepada pasien tentang kegunaan obat
yang akan diberikan.
c) Dapat membedakan pasien dengan dua nama yang sama apabila
terdapat kesamaan nama pasien.
2) Benar obat
a) Membaca label obat minimal tiga kali sebelum memberikan
obat yaitu pada saat melihat botol atau kemasan obat, sebelum
menuang atau menghisap obat, dan setelah menuang atau
menghisap obat
b) Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah sesuai
advis Dokter pada status pasien
c) Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut.
3) Benar dosis obat
Memberikan obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan Dokter.
4) Benar waktu pemberian
Memberikan obat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
5) Benar cara pemberian (rute)
a) Memperhatikan proses absorbsi obat dalam menelan sebelum
memberikan obat-obat peroral.
b) Menggunakan tehnik aseptik sewaktu memberikan obat
parenteral.
b. Prinsip 6 Benar Pemberian Obat
Menurut kozier (2004), mengatakan Six Right of medication
administration are: Right medication, Right dose, Right time, Right
role, Right client and Right documentation. Kuntarti (2005) dalam
penelitiannya menyebutkan prinsip-prinsip 6 benar, yaitu : benar

13

pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, dan benar
dokumentasi. Adapun penjelasan dari 6 benar itu sendiri adalah:
1) Benar klien
a) Memeriksa identitas pasien sebelum melakukan pemberian obat.
b) Memberikan penjelasan kepada pasien tentang kegunaan obat
yang akan diberikan.
c) Dapat membedakan pasien dengan dua nama yang sama apabila
terdapat kesamaan nama pasien.
2) Benar obat
a) Membaca label obat minimal tiga kali sebelum memberikan
obat yaitu pada saat melihat botol atau kemasan obat, sebelum
menuang atau menghisap obat, dan setelah menuang atau
menghisap obat
b) Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah sesuai
advis Dokter pada status pasien
c) Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut.
3) Benar dosis obat
Memberikan obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan Dokter.
4) Benar waktu pemberian
Memberikan obat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
5) Benar cara pemberian (rute)
a) Memperhatikan proses absorbsi obat dalam menelan sebelum
memberikan obat-obat peroral.
b) Menggunakan tehnik aseptik sewaktu memberikan obat
parenteral.
6) Benar dokumentasi
Selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah
diberikan serta respon klien terhadap pengobatan.
c. Prinsip 10 benar pemberian obat
Menurut Boksef (2011) the 10 principles of right, namely: Right
medication, Right dose, Right time, Right role, Right client Right

14

documentation, True health education regarding medications client,


The right to refuse clients, True pengkajianiksa TTV (vital signs) prior
to administration, Nurses always memer

and Correct evaluation.

Prinsip pemberian obat 10 benar yaitu benar pasien, benar obat, benar
dosis, benar waktu, benar rute, benar dokumentasi, benar pendidikan
kesehatan perihal medikasi klien, benar hak klien untuk menolak,
benar pengkajian dan benar evaluasi (Fundamental of nursing, 2010).
Adapun penjelasan dari 6 benar itu sendiri adalah:
1) Benar klien
a) Memeriksa identitas pasien sebelum melakukan pemberian obat.
b) Memberikan penjelasan kepada pasien tentang kegunaan obat
yang akan diberikan.
c) Dapat membedakan pasien dengan dua nama yang sama apabila
terdapat kesamaan nama pasien.
2) Benar obat
a) Membaca label obat minimal tiga kali sebelum memberikan
obat yaitu pada saat melihat botol atau kemasan obat, sebelum
menuang atau menghisap obat, dan setelah menuang atau
menghisap obat
b) Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah sesuai
advis Dokter pada status pasien
c) Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut.
3) Benar dosis obat
Memberikan obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan Dokter.
4) Benar waktu pemberian
Memberikan obat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
5) Benar cara pemberian (rute)
a) Memperhatikan proses absorbsi obat dalam menelan sebelum
memberikan obat-obat peroral.
c) Menggunakan tehnik aseptik sewaktu memberikan obat
parenteral.

15

6) Benar dokumentasi
Selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah
diberikan serta respon klien terhadap pengobatan.
7) Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien
a) Mmberikan pendidikan kesehatan pada pasien, dan keluarga
terutama yang berkaitan dengan obat seperti manfaat obat, dan
efek samping dari pemberian obat.
b) Memberikan penjelasan tentang efek samping obat dan reaksi
obat.
8) Hak klien untuk menolak
a) Tidak memberikan pengobatan ketika pasien menolak setelah
diberikan penjelasan.
b) Memberikan inform consent sebeum melakukan pemberian
obat.
9) Benar pengkajian
Melakukan

pememeriksaan TTV (Tanda-tanda vital) sebelum

memberikan obat.
10) Benar evaluasi.
Melihat / memantau efek kerja dari obat setelah pemberiannya.
d. Prinsip 12 Benar Pemberian obat
Adapun prinsip pemberian obat sesuai prinsip 12 benar adalah
prinsip pemberian obat yang berpedoman pada prinsip 12 benar
pemberian obat yaitu benar klien, benar obat, benar dosis obat, benar
waktu pemberian, benar cara pemberian (rute), benar Dokumentasi,
benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien, benar hak klien
untuk menolak, benar pengkajian, benar evaluasi, benar reaksi terhadap
makanan, dan benar reaksi dengan obat lain (Edopatra, 2011). Menurut
RG Hughes at al (2011), the 12 principles of right, namely: Right
medication, Right dose, Right time, Right role, Right client Right
documentation, True health education regarding medications client,
The right to refuse clients, True pengkajianiksa TTV (vital signs) prior

16

to administration, Nurses always memer, Correct evaluation, True


reactions to food, and True reactions with other medications. Adapun
penjelasan dari 6 benar itu sendiri adalah:
1) Benar klien
a) Memeriksa identitas pasien sebelum melakukan pemberian obat.
b) Memberikan penjelasan kepada pasien tentang kegunaan obat
yang akan diberikan.
c) Dapat membedakan pasien dengan dua nama yang sama apabila
terdapat kesamaan nama pasien.
2) Benar obat
a) Membaca label obat minimal tiga kali sebelum memberikan
obat yaitu pada saat melihat botol atau kemasan obat, sebelum
menuang atau menghisap obat, dan setelah menuang atau
menghisap obat
b) Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah sesuai
advis Dokter pada status pasien
c) Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut.
3) Benar dosis obat
Memberikan obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan Dokter.
4) Benar waktu pemberian
Memberikan obat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
5) Benar cara pemberian (rute)
a) Memperhatikan proses absorbsi obat dalam menelan sebelum
memberikan obat-obat peroral.
b) Menggunakan tehnik aseptik sewaktu memberikan obat
parenteral.
6) Benar dokumentasi
Selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah
diberikan serta respon klien terhadap pengobatan.
7) Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien

17

a) Mmberikan pendidikan kesehatan pada pasien, dan keluarga


terutama yang berkaitan dengan obat seperti manfaat obat, dan
efek samping dari pemberian obat.
b) Memberikan penjelasan tentang efek samping obat dan reaksi
obat.
8) Hak klien untuk menolak
a) Tidak memberikan pengobatan ketika pasien menolak setelah
diberikan penjelasan.
b) Memberikan inform consent sebeum melakukan pemberian
obat.
9) Benar pengkajian
Melakukan

pememeriksaan TTV (Tanda-tanda vital) sebelum

memberikan obat.
10) Benar evaluasi.
Melihat / memantau efek kerja dari obat setelah pemberiannya
11) Benar reaksi terhadap makanan
Memperhatikan efektifitas pemberian obat dengan melakukan
pemberian obat yang harus diberikan sebelum makan atau
sesudah makan.
12) Benar reaksi dengan obat lain
Tidak mencampurkan pemberian obat dalam satu spuit, dan
menggunakan spuit disposable (sekali pakai).
Dalam penelitian ini yang diteliti adalah prinsip 12 benar pemberian
obat pada pemberian injeksi intra vena.

3. Pemberian Injeksi Intravena


Menurut Potter and Pery (2006), pemberian obat injeksi intravena
adalah tindakan menyuntik yang dikerjakan oleh parawat kepada pasien
dengan menggunakan standar prosedur tehnik menyuntik. Setiap injeksi
memerlukan kepatuhan

pelaksanaan prinsip pemberian obat untuk

18

menjamin obat mencapai lokasi yang tepat. Dalam pelaksananya mengacu


pada prinsip 12 benar pemberian obat agar tercapai keselamatan pasien.
Pemberian injeksi intra vena adalah tindakan Memasukkan cairan
obat langsung kedalam pembuluh darah vena waktu cepat sehingga obat
langsung masuk kedalam sistem sirkulasi darah. Dalam bahasa inggris
teknk ini sering disebut push (dorong) cara ini

memugkinkan

penyerapan obat dengan segera dan sering digunakan dalam situasi


darurat. Sebelum memberikan obat melalui intra vena perawat harus
mengetahui volume obat yang akan diberikan, karakteristik obat,vikositas
obat dan lokasi struktur anatomi tubuh yang akan dilakukan injeksi
(Author at al 2011). Pemberian injeksi intra vena adalah tindakan
memberikan obat dalam bentuk cairan melaui pembuluh darah vena
langsung dengan menggunakan standar prosedur yang ada.
Dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah pemberian injeksi
intra vena yang berpedoman pada prinsip 12 benar pemberian obat sesuai
dengan SPO 12 benar pemberian obat di RSUD Banjarnegara. Langkahlangkah pelaksanaan Standar Prosedur Operasional (SOP) pemberian obat
injeksi intravena sesuai prinsip 12 benar pemberian obat di Rumah Sakit
Banjarnegara adalah sebagai berikut :
a. Benar klien

1) Memeriksa identitas pasien sebelum melakukan pemberian obat.


2) Memberikan penjelasan kepada pasien tentang kegunaan obat yang
akan diberikan.
3) Dapat membedakan pasien dengan dua nama yang sama apabila
terdapat kesamaan nama pasien.
b. Benar obat
1) Membaca label obat minimal tiga kali sebelum memberikan obat:
a) Pada saat melihat botol atau kemasan obat
b) Sebelum menuang atau menghisap obat
c) Setelah menuang atau menghisap obat

19

2) Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah sesuai advis


Dokter pada status pasien
3) Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut.
c. Benar dosis obat
Memberikan obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan Dokter.
d. Benar waktu pemberian
Memberikan obat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
e. Benar cara pemberian (rute)
1) Memperhatikan proses absorbsi obat dalam menelan sebelum
memberikan obat-obat peroral.
2) Menggunakan tehnik aseptik sewaktu memberikan obat parenteral.
f. Benar dokumentasi
Selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah
diberikan serta respon klien terhadap pengobatan.
g. Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien
1) Mmberikan

pendidikan kesehatan pada pasien, dan keluarga

terutama yang berkaitan dengan obat seperti manfaat obat, dan efek
samping dari pemberian obat.
2) Memberikan penjelasan tentang efek samping obat dan reaksi obat.
h. Hak klien untuk menolak
1) Tidak memberikan pengobatan ketika pasien menolak setelah
diberikan penjelasan.
2) Memberikan inform consent sebeum melakukan pemberian
obat.
i. Benar pengkajian
Melakukan

pememeriksaan

TTV

(Tanda-tanda

vital)

memberikan obat.
j. Benar evaluasi.
Melihat / memantau efek kerja dari obat setelah pemberiannya.
k. Benar reaksi terhadap makanan

20

sebelum

Memperhatikan

efektifitas

pemberian

obat

dengan

melakukan

pemberian obat yang harus diberikan sebelum makan atau sesudah


makan.
l. Benar reaksi dengan obat lain
Tidak mencampurkan pemberian obat dalam satu spuit, dan
menggunakan spuit disposable (sekali pakai).

4. Kepatuhan Perawat
Kepatuhan adalah melakukan sesuatu sesuai dengan standar
yang berlaku (Miller, 2005). Kepatuhan (compliance) berarti mengikuti
suatu spesifikasi, standar, atau hukum yang telah diatur dengan jelas yang
biasanya diterbitkan oleh lembaga atau organisasi yang berwenang dalam
suatu bidang tertentu (Wikipedia, 2008). Kepatuhan perawat adalah
ketaatan seseorang pada tujuan yang telah ditentukan, yang merupakan
suatu permasalahan bagi semua disiplin kesehatan, salah satunya
pelayanan perawatan dirumah sakit.
Literatur perawatan kesehatan mengemukakan bahwa kepatuhan
berbanding lurus dengan tujuan yang dicapai pada program pengobatan
yang telah ditentukan. Kepatuhan sebagai akhir dari tujuan, kepatuhan
pada program kesehatan merupakan perilaku yang dapat diobservasi
dengan begitu dapat langsung diukur. Kepatuhan mengacu pada
kemampuan untuk mempertahankan program-program yang berkaitan
dengan promosi kesehatan, yang sebagian besar ditentukan oleh
penyelenggaran perawatan kesehatan. Tingkat kepatuhan adalah kepatuhan
petugas dalam pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan kesehatan
(Depkes RI, 2004).
Menurut Potter & Perry (2006) bahwa perawat dengan latar
belakang

pendidikan

Akper

memiliki

tingkat

kepatuhan

dalam

melaksanakan standar asuhan keperawatan lebih tinggi dibanding SPK.


Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan adalah pendidikan,
pengetahuan, sikap, keterampilan, fasilitas dan prosedur. Kepatuhan

21

tersebut salah satunya dalam prinsip pemberian obat sesuai prinsip 12


benar pemberian obat

yang bertujuan mencegah kejadian yang tidak

diinginkan (KTD) yang dapat membahayakan pasien, sehingga pasien


merasakan asuhan yang aman dan bebas dari cidera.
Kepatuhan adalah ketaatan seseorang pada tujuan yang telah
ditentukan. Kepatuhan merupakan suatu permasalahan bagi semua disiplin
kesehatan, salah satunya pelayanan perawatan dirumah sakit.

Tingkat

kepatuhan adalah kepatuhan petugas dalam pelayanan yang sesuai dengan


standar pelayanan kesehatan (Depkes RI, 2004). Menurut Anoraga (2008),
menyebutkan bahwa kepatuhan individu dalam pekerjaannya tidak hanya
dibentuk oleh pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi juga dibentuk oleh
nilai-nilai budaya, nilai-nilai etika dan estetika secara programatis dan
sistematis dalam lingkungan seseorang. Hal ini diperkuat dengan
pernyataan Katz & Green (2004) yang menyatakan bahwa pengetahuan
dapat mempengaruhi kepatuhan seseorang dalam bekerja.
Blum and Naylor (2005) berpendapat bahwa ada beberapa hal yang
mempengaruhi kepatuhan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan
yaitu tingkat pengetahuan seseorang, pendidikan, ketrampilan,dan
prosedur tndakan. fasilitaskerjasama yang baik dari teman sekerja, gaji
atau pendapatan lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Faktorfaktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah tingkat pengetahuan
seseorang, pendidikan, sikap, ketrampilan, fasilitas, prosedur (Agungpia,
2008).

22

B. Kerangka Teoritis
Berdasarkan teori diatas maka landasan teori penelitian adalah:
Tingkat Pengetahuan
Perawat tentang Prinsipprinsip pemberian obat:
kepatuhan pelaksanaan
pemberian obat injeksi
Intravena sesuai prinsip
12 benar

1. prinsip 12 benar
pemberian obat
2. prinsip 10 benar
pemberian obat
3. prinsip 6 benar pemberian
obat
4. prinsip 5 benar pemberian
obat

Faktor-faktor yang mempengaruhi


tingkat kepatuhan :
- Pendidikan
- Pengetahuan
- Sikap
- Ketrampilan
- fasilitas
- Prosedur

Paris & Cuningham (2005)

23

C. Kerangka Konsep

Variabel Independen

Variabel Dependen

Tingkat Pengetahuan
Perawat tentang prinsip
12 benar pemberian obat

kepatuhan pelaksanaan
pemberian obat injeksi
Intravena sesuai prinsip 12
benar

Prinsip 12 benar pemberian obat:


Faktor-faktor yang
- Benar klien
mempengaruhi
- Benar obat
tingkat kepatuhan :
- Benar dosis obat
- Sikap
- Benar waktu pemberian
- Ketrampilan
- Benar cara pemberian
- Fasilitas
- Benar dokumentasi
- Prosedur
- Benar pendidikan kesehatan
perihal medikasi klien
- Benar hak klien untuk menolak
- Benar pengkajian
- Benar evaluasi
- Benar reaksi terhadap makanan
- Benar reaksi dengan obat lain
Keterangan:

: Diteliti

: Tidak diteliti

24

D. Hipotesa/ pertanyaan penelitian


Ha : Ada hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang prinsip 12
benar pemberian obat dengan kepatuhan pemberian injeksi Intravena di
RSUD Banjarnegara.
Ho : Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang prinsip
12 benar pemberian obat dengan kepatuhan pemberian injeksi Intravena
di RSUD Banjarnegara.

25