Anda di halaman 1dari 14

BAB I

(PENDAHULUAN)
A. Latar Belakang
Kesendirian apapun bentuknya cenderung menghasilkan suatu kelemahan,
ketidak mampuan, keterasingan dan bahkan membawa kehancuran. Setiap individu
pasti memiliki sisi lemah dan sisi kuatnya. Namun kita sering mempersoalkan
kelemahan orang lain dan terlalu sombong dengan kekuatan diri. Sudah saatnya kita
mengubah prilaku demikian.
Kelompok adalah dua individu atau lebih yang

berinteraksi dan saling

bergantung, yang bergabung untuk mncapai tujuan tertentu. Yang dapat bersifat
formal ataupun informal. Perkembangan Kelompok mempunyai lima tahapan model
secara umumya itu pembentukan (forming), keributan (storming), penormaan
(norming), pelaksanaan (perfoming), dan peristirahatan (adjourning). Tahap pertama
dicirikan dengan ketidak pastian mengenai maksud,

struktur dan kepemimpinan

kelompok. Tahap ini selesai ketika para anggota telah mulai berpikir tentang diri
mereka sendiri sebagai bagian dari kelompok. Tahap kedua, keributan dicirikan oleh
konflik dalam kelompok. Tahap ketiga dicirikan oleh hubungan yang erat. Tahap
keempat terjadi ketika kelompok sepenuhnya telah berfungsi. Tahapan yang terakhir
dicirikan dengan perhatian kepenyelesaian aktivitas bukan ke kinerja tugas.
Untuk menghadapi hal tersebut sebuah kelompok harus dibekali dengan
mental yang kuat demi terwujudnya tujuan dari terbentuknya sebuah keompok, oleh
sebab itu suatu kelompok harus mengetahui dan memiliki Mental bekerja dengan tim
kelompok.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari kelompok?
2. Apa saja jenis-jenis dari kelompok?
3. Apa saja fungsi dari kelompok?
4. Apa saja ciri-ciri dari kelompok?
5. Apa saja alasan kelompok dibentuk ?
6. Apa saja manfaat dari kelompok ?
7. Apakah pengertian dari mental ?
8. Bagaimana cara membangun mental yang kuat ?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari kelompok
1

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mengetahui jenis-jenis kelompok


Mengetahui fungsi dari kelompok
Mengetahui ciri dari kelompok
Mengetahui alasan membentuk kelompok
Mengetahui manfaat dari kelompok
Mengetahui pengertian dari mental
Mengetahui cara membangun mental yang kuat

BAB II
(PEMBAHASAN)
A. Pengertian Kelompok
Kelompok adalah perkumpulan yang terdiri dari dua orang atau lebih yang
memiliki tujuan merupakan definisi sederhana dari kelompok, untuk memahami lebih
dalam definisi kelompok, para ahli mendifinisikan kelompok sebagai berikut :
Kelompok adalah dua atau lebih benda atau orang membentuk suatu pola
atau suatu unit pola, suatu kesatuan orang-orang atau benda-benda yang
membentuk suatu unit yang terpisah, suatu himpunan, suatu persatuan, suatu
kumpulan objek yang mempunyai hubungan kesamaan, atau sifat- sifat yang

sama (Webster, 1973).


Kelompok adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan
keanggotaannya dan saling berinteraksi (Paul B. Horton).
Kelompok adalah suatu kumpulan dua atau lebih orang-orang yang mengalami

interaksi dinamis satu sama lain (McGrath, 1984).


Kelompok adalah sejumlah individu berkomunikasi satu dengan yang lain
dalam jangka waktu tertentu yang jumlahnya tidak terlalu banyak Homans,

1950).
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang
berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama,

mengenal

satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari

kelompok

tersebut (Deddy Mulyono, 2005).


Kelompok adalah sejumlah individu yang berinteraksi dengan individu yang

lain (Bonner, 1959).


Kelompok adalah suatu sistem interaksi terbuka dimana pola interaksi tersebut

di tentukan oleh struktur sistem tersebut (Stogdill, 1959).


Kelompok adalah individu yang mempunyai takdir bersama dimana jika
satu kejadian mempengaruhi seseorang dalam kelompok maka anggota

lain akan terpengaruh (Friedler, 1967).


Kelompok merupakan suatu kumpulan orang yang berinteraksi satu sama
lainnya secara teratur dalam suatu periode tertentu, dan merasakan adanya
ketergantungan diantara mereka dalam mencapai satu tujuan bersama (Wekley

dan Yulk, 1977).


Kelompok merupakan perkumpulan dari individu individu yang mempunyai
tujuan. Kinerja yang berbeda beda memberikan suatu kelompok untuk
3

berinteraksi serta bersepakat untuk menciptakan satu tujuan yang sama, tujuan
yang sudah terbentuk mengakibatkan individu dalam kelompok untuk saling
tergantung sama lain dan dapat mempengaruhi satu sama lain.
Sehingga kelompok dapat diartikan sebagai sekumpulan antara dua individu
atau lebih yang saling berinteraksi, tergantung, dan kinerjanya saling
mempengaruhi satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan dalam satu wadah.
B. Jenis Kelompok
Berdasarkan lingkungan kerja, kelompok dapat diklasifikasikan menjadi dua :
1. Kelompok Formal adalah kelompok kelompok yang didefinisikan oleh
struktur organisasi, dengan penentuan tugas berdasarkan penunjukan
penugasan kerja. Dalam kelompok kelompok formal, perilaku yang harus
dianut oleh seseorang harus ditetapkan dan diarahkan menuju tujuan tujuan
organisasi
Contoh, mengelompokkan sejumlah orang yang pekerjaannya berhubungan
dengan pelaporan keuangan dan perakitan komponen. Kelompok juga terjadi
tatkala sejumlah orang di tingkat atau status yang sama dalam organisasi
memandang diri mereka sebagai satu kelompok. Contoh, kepala-kepala
departemen suatu perusahaan industri baja atau kepala-kepala dinas suatu
kabupaten. Kelompok formal ini dapat dibagi lagi yaitu :
a. Kelompok komando yaitu kelompok kelompok yang ditentukan oleh
bagan organisasi dan melaksanakan tugas-tugas rutin organisasi.
Kelompok ini terdiri dari bawahan yang melapor dan bertanggung
jawab secara langsung kepada pimpinan tertentu.
b. Kelompok tugas, yaitu suatu kelompok yang bekerjasama untuk
menyelesaikan suatu tugas atau proyek tertentu. Misalnya saja, jika
seorang mahasiswa dituduh atas kejahatan kampus maka akan
dibutuhkan komunikasi dan koordinasi antara dekan urusan akademis,
dekan mahasiswa, panitera, pimpinan keamanan dan penasehat
mahasiswa. Formasi seperti ini akan membentuk sebuah kelompok
tugas.
2. Kelompok Informal adalah kelompok yang tidak terstruktur secara formal
maupun secara organisasional. Akan tetapi muncul karena adanya kebutuhan
akan kontak sosial. Kelompok informal memberikan pelayanan yang sangat
penting dengan cara memuaskan kebutuhan kebutuhan sosial anggotanya.
Oleh karena interaksi yang ditimbulkan oleh kedekatan tempat kerja atau
4

interasksi tugas, kita menemukan bahwa para pekerja sering kali melakukan
hal hal bersama seperti bermain golf, berangkat dan pulang kerja, makan
siang dan mengobrol pada saat jam istirahat.

Kelompok informal dibagi

menjadi dua yaitu :


a. Kelompok persahabatan, yang dibentuk karena adanya persamaanpersamaan tentang sesuatu hal seperti hobi, status perkawinan, jenis
kelamin, latar belakang, politik, dan lain-lain.
b. Kelompok kepentingan, merupakan kelompok yang berafiliasi untuk

mencapai sasaran yang sama. Sasaran jenis ini tidak berkaitan dengan
tujuan organisasi tetapi semata-mata untuk

mencapai kepentingan

kelompok itu sendiri.


C. Fungsi Kelompok
Pada dasarnya fungsi kelompok dibagi menjadi dua yaitu, fungsi organisasi
formal dan fungsi kebutuhan individual. Fungsi kelompok formal sebagai sarana
untuk mengerjakan tugas-tugas yang kompleks yang saling berkaitan dan terlalu sukar
untuk dikerjakan oleh siapapun, sebagai sarana untuk mencetuskan gagasan-gagasan
yang baru atau pemecahan masalah yang memerlukan kreativitas tertentu, dan sebagai
wahana sosialisasi serta pelaksanaan keputusan yang rumit.
Fungsi kelompok individual yang didasarkan bahwa setiap individu memiliki
beraneka macam kebutuhan, dan kelompok dapat memenuhi kebutuhan yang meliputi
pemenuhan kebutuhan persahabatan, dukungan, dan kasih sayang, sebagai sarana
untuk mengembangkan, meningkatkan, dan menegaskan rasa identitas dan
memelihara harga diri, sebagai sarana untuk menguji kenyataan sosial melalui diskusi
dengan orang lain, pengembangan perspektif, dan konsensus bersama yang dapat
mengurangi keragu-raguan dalam lingkungan sosial sehingga dapat diambil sebuah
keputusan.
D. Ciri Kelompok
Penelitian mendalam mengenai sifat-sifat dan hasil-hasil interaksi dalam kehidupan
(empat) cirri kelompok yaitu :
1. Terdapat dorongan (motif) yang sama pada individu-individu yang
menyebabkan terjadinya interaksi di antaranya ke arah tujuan yang sama.
2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan terhadap individu-individu
yang satu dari yang lain berdasarkan reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapankecakapan yang berbeda-beda antara individu yang terlibat di dalamnya. Oleh
karea itu, lambat laun mulai terbentuk pembagian tugas serta struktur tugas5

tugas tertentu dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan yang sama itu. Di
sisi lain, terbentuk pula norma-norma yang kkhas Dalam interaksi kelompok
kearah tujuannya sehinggga mulai terbentuk kelompok sosial dengan cirri-ciri
yang khas.
3. Pembentukan dan penegasan strukutr (organisasi) kelompok yang jelas dan
terdiri atas peranan-peranan dan kedudukan hierarkis yang lambat laun
berkembang dengan sendirinya dalam usaha pencapaian tujuan. Terjadi
pembatasan yang jelas antara usaha-usaha dan orang yang termasuk
ingroup serta usaha-usaha dan orang outgroup.
4. Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-norma pedoman tingkah laku
anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok
dalam merealisasikan tujuan kelompok. Norma-norma dan pedoman tingkah
laku ini sebagaiman juga struktur pembagian tugas anggotanya merupakan
norma dan struktur yang khas bagi kelompoknya itu.
E. Alasan Membentuk Kelompok
Menurut (Gibson dkk, 1989, 205-207, Marvin E.Shaw, 1981, 81-97)
1. Pemuasan Kebutuhan
Hasrat untuk mendapatkan kepuasan dari terpenuhinya kebutuhan dapat
merupakan daya motivasi yang kuat dalam pembentukan kelompok.
Keamanan
Individu yang berada dalam kelompok bisa mengurangi rasa tidak
aman karena sendirian. Individu akan merasa lebih kuat, percaya diri,

dan tahan terhadap ancaman.


Sosial
Keinginan untuk termasuk dalam kelompok dan menjadi anggota

kelompok menunjukkan kebutuhan sosial semua orang.


Penghargaan
Dalam lingkungan tertentu, suatu kelompok yang bergengsi tinggi
karena berbagai macam alasan (missal; keahlian, teknis, kegiatan di

luar, dsb)
2. Kedekatan dan Daya Tarik
Kedekatan adalah jarak fisik antara para karyawan yang melaksanakan
pekerjaan , sedangkan daya tarik adalah menunjukkan daya tarik orang yang
satu dengan lainnya karena mereka mempunyai kesamaan persepsi,sikap,hasil
karya atau motivasi.
3. Tujuan Kelompok

Untuk mencapai tujuan kelompok dan menyelesaikan tugas dibutuhkan lebih


dari satu atau dua orang. Ada kebutuhan mengumpulkan bakat, pengetahuan,
atau kekuasaan untuk menyelesaikan pekerjaan.
4. Alasan Ekonomi
Motif ekonomis menyebabkan terbentuknya kelompok, karena mereka
menganggap akan memperoleh keuntungan ekonomis yang lebih besar dari
pekerjaan mereka, jika mereka membentuk kelompok.
F. Manfaat Kelompok
Banyak manfaat yang dapat dipetik dari adanya kelompok baik di dalam maupun di
luar satuan organisasi, antara lain:
1. Kelompok merupakan alat perjuangan bagi anggotanya.
2. Kelompok dapat digunakan untuk meningkatkan inovasi dan kreatifitas.
3. Kelompok lebih baik daripada perorangan dalam pengambilan keputusan yang
mengangkut orang banyak.
4. Anggota kelompok dapat memperoleh keuntungan dari pelaksanaan
pengambilan keputusan.
5. Kelompok dapat mengendalikan dan mendisiplinkan anggotanya dibanding
dengan mereka yang tidak masuk dalam kelompok
6. Kelompok membantu menangkis pengaruh pengaruh negative dari
meningkatnya organisasi yang semakin besar.
7. Kelompok adalah fenomena alami di dalam organisasi. Perkembangannya
yang spontan tidak dapat dihalangi, dan dibutuhkan oleh para anggota sebagai
alat untuk mencapai tujuan.
G. Pengertian Mental
Kata mental diambil dari bahasa Latin yaitu dari kata mens atau metis yang
memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Dengan demikian mental
ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat
mempengaruhi perilaku individu. Setiap perilaku dan ekspresi gerak-gerik

individu merupakan dorongan dan cerminan dari kondisi (suasana) mental.


Pengertian mental secara definitif belum ada kepastian definisi yang jelas
dari para ahli kejiwaan. Secara etimologi kata mental berasal dari bahasa
Yunani, yang mempunyai pengertian sama dengan pengertian psyche, artinya

psikis, jiwa atau kejiwaan.


Sedangkan secara terminologi para ahli kejiwaan maupun ahli psikologi ada
perbedaan dalam mendefinisikan mental. Salah satunya sebagaimana
dikemukakan oleh Al-Quusy (1970) yang dikutip oleh Hasan Langgulung,
mendefinisikan mental adalah paduan secara menyeluruh antara berbagai
7

fungsi-fungsi psikologis dengan kemampuan menghadapi krisis-krisis


psikologis yang menimpa manusia yang dapat berpengaruh terhadap emosi

dan dari emosi ini akan mempengaruhi pada kondisi mental.


Pengertian lain mental didefinisikan yaitu yang berhubungan dengan
pikiran, akal, ingatan atau proses yang berasosiasi dengan pikiran, akal dan
ingatan.1[6] Seperti mudah lupa, malas berfikir, tidak mampu berkonsentrasi,
picik, serakah, sok, tidak dapat mengambil suatu keputusan yang baik dan
benar, bahkan tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan yang benar
dan yang salah, yang hak dan yang batil, antara halal dan haram, yang

bermanfaat dan yang mudharat.


H. Cara Membangun Mental yang Kuat
1. Menyingkirkan keraguan diri
Tidak yakin pada diri sendiri adalah pikiran awal untuk melemahkan mental
sendiri, setiap orang mempunyai kelemahan dan kelebihan yang tidak sama
satu sama lain.
2. Mempelajari cara untuk mempercayai diri sendiri
Hal ini dapat ditunjukan dengan cara berani menunjukan eksistensi, minimal
sebagai manusia yang hidup dan bisa bergerak serta bertindak saat
menghadapi situasi tertentu.
3. Tidak membandingkan diri sendiri/ kelompok dengan orang lain/kelompok
lain
Membandingkan bukanlah hal yang tepat karena kita tidak akan menemukan
4.
5.
6.
7.

kesamaan yang tepat.


Tidak meniru orang lain, dengan bersikap semirip mungkin.
Percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, bahwa kemampuan ada.
Berbagi pengalaman dengan orang lain akan memberikan manfaat banyak hal
Menyingkirkan perasaan buruk yang dapat merusak kepercayaan diri
Berusaha agar tetap tenang walaupun dibawah tekanan
Hal itu memang tidak mudah, tapi dapat dicoba dengan berpikir berapa banyak

hal yang akan terjadi lebih buruk jika kita meluapkan emosi.
8. Mencoba untuk berhitung dari satu sampai sepuluh, disaat mulai tertekan dan
emosi memuncak.
Menghitung dari satu sampai sepuluh benar-benar bisa menjadi cara yang
efektif untuk meredam emosi. Karena sepuh detik adalah waktu yang lama
untuk menahan emosi, hal ini dapat dilakukan dengan menghirup napas
dalam-dalam dan berhitung sambil berpikir.
9. Mencoba untuk menulis untuk menyalurkan emosi
1

Apapun yang kita rasakan dapat kita tuangkan melalui tulisan, jika dengan
menulis dapat menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi situasi yang
buruk, maka solusi tersebut dapat dituliskan.
10. Melepaskan hal-hal kecil yang mengganggu
Tidak menanggapi hal yang sekiranya tidak penting, karena menanggapi hal
tersebut juga akan membuang energi.
11. Bersikap terbuka terhadap penilaian setiap orang
Penilaian orang lain dapat memberikan banyak manfaat, terutama untuk
perbaikan.
12. Tetapkan tujuan
Menjadikan rintangan sebagai motivasi untuk bekerja dan belajar lebih giat,
dengan tetap focus terhadap tujuan untuk melatih mental yang kokoh.
13. Tidak mengabaikan hal-hal spele
Untuk mencapai tujuan yang besar, maka kita harus merangkak dari hal-hal
kecil, dengan membuang rasa malas yang ada di dalam diri.
Menjadwalkan setiap hari apa yang semestinya dikerjakan
14. Berusaha memandang sesuatu dari sisi lain
Jangan mudah panik dan emosi karena itu akan menyulitkan untuk
memperoleh jalan pikiran yang berbeda dari biasanya. Jangan mengikuti
penyelesaian kebanyakan orang, karena permasalahan dan penyelesaian adalah
dua hal yang berkaitan dengan sudut pandang seseorang. Jika seseorang
memandang permasalahannya secara ringan, maka solusinya juga akan
mudah, namun jika seseorang memandang permaslahannya secara berat, solusi
yang akan muncul dalam pikirannya juga akan berat.
15. Belajar dari buku
16. Berinteraksi dengan orang-orang yang membutuhkan
17. Mendengarkan saran-saran positif dari orang-orang terdekat secara personal
yang ada di sekeliling kita
18. Memiliki pandangan yang positif
19. Tidak bersembunyi dari kebenaran
Tidak lari dari masalah, karena hal itu akan menambah menumpuk masalah
yang ada dan akan merugikan diri sendiri.
20. Mengenali kebiasaan buruk
21. Menentukan jalan yang benar saa mengambil keputusan untuk menghadapi
kenyataan
22. Tekat yang kuat
Jangan sesekali berpikir untuk menyerah.
23. Merenungkan apa yang terjadi
Hal ini dapat dilakukan sebagai evaluasi, apakah ada perbedaan dalam
menyelesaikan masalah yang dulu dengan yang sekarang.

Para ahli psikologi telah membuktikan bahwa kualitas hidup seseorang sangat
dipengaruhi oleh sikap mentalnya. Orang yang mempunyai sikap mental negatif,
cenderung menarik hal-hal yang negatif terjadi dalam hidupnya. Sebaliknya, orang
yang mempunyai sikap mental positif, maka akan cenderung menarik hal-hal yang
positif pula. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara :
1. Berusahalah untuk selalu melihat sisi POSITIF di balik setiap situasi situasi
yang negatif. Mengambil hikmah dibalik setiap musibah, carilah berkah di
balik setiap masalah, petiklah pelajaran di balik setiap kegagalan. Dengan
menemukan hal-hal POSITIF, Anda tidak akan dikalahkan oleh situasi yang
negatif. Misalnya, anggaplah kegagalan sebagai sukses yang tetunda.
Anggaplah hambatan-hambatan sebagai tantangan bukan ancaman. Jadikan
kondisi sakit sebagai momen untuk mulai menghargai dan memelihara
kesehatan.
2. Temukanlah sikap, kebiasaan atau keyakinan yang bersifat negatif. Sadarilah
betapa semua itu sangat berpotensi merusak kehidupan dan kepribadian. Lalu,
ubahlah dengan sikap, kebiasaan atau keyakinan yang bersifat POSITIF.
Misalnya, kebiasaan menunda diganti dengan kebiasaan bertindak, sikap
mudah putus asa diganti dengan sikap pantang menyerah, keyakinan bahwa
masa depan suram diganti dengan keyakinan bahwa masa depan pasti
cemerlang bila kita mempersiapkannya dengan baik. Pepatah.. mencegah lebih
baik daripada mengobati.
3. Milikilah keyakinan bahwa untuk setiap masalah selalu ada jalan keluarnya.
Tentu saja keyakinan itu sendiri tidak akan menyelesaikan masalah, namun
keyakinan itu bisa membuat Anda lebih efektif dalam mengatasi masalah
4. Biasakanlah mengatakan kebenaran yang POSITIF kepada diri sendiri. Tidak
perlu menyangkal seakan-akan situasi yang negative itu tidak ada. Akuilah
dengan jujur keadaan yang sebenarnya, namun kalahkanlah dengan pernyataan
yang POSITIF. Misalnya, Hari ini saya memang gagal, tetapi besok pasti
lebih baik, Ujian ini memang gagal, tetapi besok psti lebih baik, Ujian ini
memang berat, tetapi saya pasti bisa lulus, dan sebagainya.
5. Milikilah perbendaharaan kata-kata POSITIF sebanyak mungkin, dan royallah
mengucapkannya. Misalnya, Saya optimis akan berhasil, dsb. Ingatlah selalu
bahwa kata-kata yang diucapkan itu sangat mempengaruhi kehidupan Anda.
Kata-kata yang negative merusak kehidupan, sebaliknya kata-kata yang
POSITIF membangun kehidupan yang berkualitas.
10

6. Carilah atmosfir POSITIF dan hiruplah sebanyak mungkin. Bergaullah dengan


orang-orang yang berfikiran POSITIF, bijaksana dan berwawasan luas.
Bacalah buku-buku atau artikel yang memotivasi Anda untuk maju. Kalau
memungkinkan, rajinlah menghadiri seminar-seminar mengenai kepribadian
dan pengembangan diri.
7. Waspadalah terhadap polusi negative dari orang lain. Betapapun disiplinnya
Anda menjaga pikiran, Anda tetap bisa terkontaminasi oleh kata-kata negatif
yang diucapkan oleh orang lain kepada Anda. Misalnya, Sudahlah, itu
mustahil, Kamu tidak akan berhasil, Hidup ini sulit. Jangan biarkan
polusi dari luar itu merusak pikiran POSITIF Anda. Tangkallah dengan
pernyataan yang POSITIF baik diucapkan maupun hanya di dalam hati.
Jadikan polusi negatif bak spam yang ga perlu moderasi atau bahkan filter,,
just ignore it! Ganti dengan hal-hal yang POSITIF.
8. Waspadalah terhadap munculnya perasaan negative yang bias merusak.
Diantaranya: rasa putus asa, frustasi, depresi, benci, iri hati, dsb. Cobalah
temukan penyebabnya dan akuilah dengan jujur, kemudian kendalikanlah
dengan pikiran POSITIF. Misalnya, rasa iri hati bila ditelusuri mungkin
bersumber dari perasaan tidak mampu pada diri sendiri. Dan itu seharusnya
memacu kita untuk meningkatkan kemampuan. Rasa frustasi dan depresi
mungkin akibat kekecewaan yang berakumulasi. Cobalah menetralisir dengan
mencari hiburan, refreshing, dsb.
9. Perkuatlah pikiran POSITIF dengan perbuatan-perbuatan POSITIF. Sebagai
contoh: olahraga pagi adalah tindakan POSITIF dibandingkan bermalasmalasan di tempat, berpenampilan rapi lebih POSITIF dibandingkan
penampilan seadanya dengan menyesuaikan situasi dan kondisi, bergaul lebih
POSITIF daripada mengurung diri di rumah, bermain musik atau membaca
lebih POSITIF dibandingkan melamun.
10. Biasakanlah mengucap syukur dengan

sungguh-sungguh.

Bukti-bukti

menunjukkan bahwa ada kekuatan di balik ucapan syukur. Orang-orang yang


bisa mensyukuri hidup adalah orang-orang yang dapat lebih menikmati hidup
karena bagi mereka hidup adalah anugerah yang luar biasa. Bila Anda
mengalami kesulitan untuk mengucap syukur, kunjungilah teman yang sedang
dirawat di rumah sakit, mampirlah ke Panti Asuhan, atau Rumah Jompo. Nanti
Anda bisa mulai mensyukuri kehidupan dan kesehatan yang tidak ternilai
harganya. Ketika terpuruk, sering-seringlah melihat ke bawah, niscaya kita
11

akan lebih bersyukur. Begitu pula saat melihat ke atas, jadikan itu sebagai
motivasi hidup untuk berkata: Lanjutkan! Coz live must go on!!
11. Percayalah dan serahkanlah hidup Anda kepada_Nya. Ini adalah langkah
utama untuk dapat membentuk sikap mental POSITIF. Hubungan yang baik
dengan_Nya akan membuat Anda merasa damai sejahtera. Perkuat hubungan
Anda dengan_Nya lebih mesra dan lebih romantis dari sebelumnya.Dengan
hati yang sejahtera, Anda dapat hidup lebih tenang, lebih realistis, dan lebih
POSITIF. Maksimalkan ikhtiar, sempurnakanlah doa, setelah itu, barulah
tawakal. Maka Anda akan Selalu mempunyai sikap cadangan/berlapang dada
untuk menghadapi semua resiko, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.

12

BAB III
(PENUTUP)
A. Kesimpulan
Kelompok merupakan perkumpulan dari individu individu yang mempunyai
tujuan. Kinerja yang berbeda beda memberikan suatu kelompok untuk berinteraksi
serta bersepakat untuk menciptakan satu tujuan yang sama, tujuan yang sudah
terbentuk mengakibatkan individu dalam kelompok untuk saling tergantung sama lain
dan dapat mempengaruhi satu sama lain. Sehingga kelompok dapat diartikan sebagai
sekumpulan antara dua individu atau lebih yang saling berinteraksi, tergantung, dan
kinerjanya saling mempengaruhi satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan dalam
satu wadah. Kelompok memiliki berbagai jenis menurut terbentuknya, tetapi sutu
kelompok memiliki tujuan yang sama sehingga dapat memberikan manfaat bagi suatu
kelompok tersebut.
Para ahli psikologi telah membuktikan bahwa kualitas hidup seseorang sangat
dipengaruhi oleh sikap mentalnya. Orang yang mempunyai sikap mental negatif,
cenderung menarik hal-hal yang negatif terjadi dalam hidupnya. Sebaliknya, orang
yang mempunyai sikap mental positif, maka akan cenderung menarik hal-hal yang
positif pula. Hal ini membuktikan bahwa dalam suatu kelompok atau kelompok kerja
sangat dibutuhkan sikap mental yang kuat untuk mewujudkan tujuan dari
terbentuknya sebuah kelompok.
B. Saran
Mental yang kuat , terutama mental kerja dalam sebuah tim kelompok sangat
diperlukan. Oleh sebab itu hendaknya mental kerja ini juga harus dibentuk dana
dibangun sebelum anggota tim kelompok membentuk sebuah tim kelompok, agar
sebuah kelompok menjadi lebih kuat dan memiliki mental kerja yang kuat. Maka bila
sebuah kelompok dan anggota tim kelompok ingin lebih bahagia, lebih sejahtera dan
lebih berhasil, maka sebuah kelompok perlu mengembangkan sikap mental yang
positif.

13

DAFTAR PUSTAKA
Anisa, Charisma. 2012. Makalah Perilaku dan Pengembangan Organisasi Kelompok
dan Tim. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2016 pukul 20.00 WITA diakses
melalui internet : https://nishatembem.files.wordpress.com/2012/05/makalahkelompok-dan-tim1.docx
Apriyanti, Mira. 2015. Makalah Perilaku Organisasi dan Tim. Diakses pada tanggal 6
November

2016

pukul

15.00

WITA

diakses

melalui

internet

http://mirdianismille.blogspot.co.id/2015/02/makalah-perilaku-organisasikelompok.html
Krisna, Bayu. 2015. Pentingnya Sikap Mental Positif Untuk Meraih Sukses. Diakses
pada tanggal 6 November 2016 pukul 15.00 WITA diakses melalui internet :
http://dharmawanchandra.com/2015/03/17/pentingnya-sikap-mental-positifuntuk-meraih-sukses/

14