Anda di halaman 1dari 4

BAB III

PEMBAHASAN

Sumber pencemaran timbal di lingkungan berasal dari alam dan kegiatan manusia yaitu
emisi kendaraan dan industri. Emisi timbal diudara dapat mencemari udara, tanaman, tanah dan
binatang, yang akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Mekanisme timbal di dalam
tubuh manusia dibagi menjadi 3 proses yaitu absorbsi, distribusi dan penyimpanan, ekskresi.
Absorbsi timbal terutama melalui saluran nafas 85%, saluran pencernaan 14% dan kulit 1%.
Absorbsi timbal melalui saluran pernafasan dipengaruhi oleh tiga proses yaitu: deposisi,
pembersihan mukosiliar dan pembersihan alveolar. Deposisi tergantung pada ukuran partikel
timbal, volume nafas dan daya larut. Pembersihan mukosiliar membawa partikel ke faring lalu
ditelan, fungsinya adalah membawa partikel ke eskalator mukosiliar, menembus lapisan jaringan
paru menuju kelenjar limfe dan aliran darah. Sebanyak 30-40% timbal yang diabsorbsi melalui
saluran nafas akan masuk kedalam saluran pernafasan dan akan masuk kedalam aliran darah,
tergantung ukuran, daya larut, volume nafas dan variasi faal antar individu (Darmono, 1995).
Absorbsi timbal melalui saluran pencernaan, biasanya terjadi karena timbal tersebut
tertelan bersama dengan merokok, makan dan minum dengan menggunakan tangan yang
terkontaminasi timbal, begitupula apabila memakan makanan yang terkontaminasi dengan debu
dijalanan. Kurang lebih 5-10% dari timbal yang tertelan diabsorbsi melalui mukosa saluran
pencernaan. Pada orang dewasa timbal diserap melalui usus sekitar 5-10%, tetapi hal ini
dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya dalam keadaan puasa penyerapan timbal dari usus lebih
besar, yaitu sekitar 15-12% (Darmono, 1995).
Timbal yang diabsorbsi melalui saluran pencernaan didistribusikan kedalam jaringan lain
melalui darah. Dalam tubuh manusia timbal terdeteksi yaitu pertama dalam darah, timbal terikat
dalam sel darah merah (eritrosit). Sekitar 95% timbal yang berada pada peredaran darah terikat
oleh eritrosit. Waktu paruh timbal dalam darah sekitar 25-30 hari. Timbal juga ditemukan pada
jaringan lunak (hati dan ginjal) mempunyai waktu paruh sekitar beberapa bulan. Terdapat
keseimbangan antara kadar timbal dalam darah dan dalam jaringan lunak. Pada jaringan ini
sejumlah timbal didistribusikan dan sejumlah lainnya didepositkan serta dideteksi pada t ulang
dan jaringan keras seperti gigi, tulang rawan dan sebagainya. Hampir sekitar 90-95% timbal

dalam tubuh terdapat dalam tulang, terutama pada tulang panjang. Waktu paruhnya mencapai 30
40 tahun. Timbal dalam tulang terdiri atas dua bagian yaitu timbal yang terikat dalam matriks
tulang, disebut old lead dan yang lain disebut sebagai new lead yang mudah berubah jika
dibandingkan dengan old lead. Tulang berfungsi sebagai tempat pengumpulan timbal karena
sifat ion timbal hampir sama dengan Ca. Jika kadar timbal dalam darah turun, tulang akan
mengembalikan timbal dalam peredaran darah. (Darmono, 1995)
Setelah diabsorbsi, didistribusi dan disimpan kemudian dieksresi. Ekskresi timbal melalui
beberapa cara, yang terpenting adalah melalui ginjal dan saluran cerna. Ekskresi timbal melalui
urine sebanyak 75-80%, melalui feces 15% dan lainnya melalui empedu, keringat, kuku dan
rambut (Palar, 2008). Ekskresi timbal melalui saluran cerna dipengaruhi oleh saluran aktif dan
pasif kelenjar saliva, pankreas dan kelenjar lainnya didinding usus, regenerasi sel epitel dan
ekskresi empedu. Sedangkan proses ekskresi timbal melalui ginjal adalah melalui
filtrasiglomerulus (Ardyanto, 2005). Biasanya ekskresi timbal dari tubuh sangat kecil meskipun
intake timbal tiap hari naik, sehingga dapat menaikkan kandungan timbal dalam tubuh. Rata-rata
intake timbal perhari sekitar 0,3 mg, apabila intake mencapai 0,6 mg/hari akan menunjukkan
gejala yang positif, akan tetapi karena timbal lambat dideposit maka dosis tersebut tidak akan
memperlihatkan gejala keracunan pada orang selama hidupnya (Darmono, 2001).
CDC di Amerika Serikat menetapkan bahwa ambang batas kadar timbal dalam darah
anak-anak (BLL) adalah 10 g/dl, namun ada bukti-bukti bahwa dampak negatif dapat terjadi
pada tingkat yang lebih rendah dari kadar itu (KPBB, 2005). WHO menyatakan tidak ada
ambang batas paparan timbal didalam darah mengingat sifatnya sebagai logam berat dan
neurotoksik (Khidri dkk., 2008). Keracunan timbal dapat menimbulkan suatu gejala keracunan
yang berbeda antara anak dan orang dewasa, begitu juga sumber dan jenis kontaminasi timbal.
Toksisitas timbal dosis rendah atau pengaruh kronis toksisitas timbal pada anak memiliki efek
yang permanen. Penelitian pada anak usia sekolah dasar berdasarkan analisis kandungan timbal
pada giginya yang tanggal menunjukkan kelompok dengan kandungan timbal tinggi mengalami
penurunan intelegensi, penurunan kemampuan dalam berbicara dan susah berkonsentrasi
(Darmono, 2001). Studi toksisitas timbal menunjukkan bahwa kandungan timbal dalam darah
sebanyak 100 mikrogram/l dianggap sebagai tingkat aktif (Level Action) berdampak pada
gangguan perkembangan dan penyimpangan perilaku. Kandungan timbal 450 g/l membutuhkan

perawatan segera dalam waktu 48 jam. Kandungan Timbal lebih dari 700 mikrogram/l
menyebabkan kondisi gawat secara medis (Medical Emergency). Kandungan timbal di atas 1200
g/l bersifat sangat toksik dan dapat menimbulkan kematian pada anak. Kadar timbal 68 g/l
dapat menyebabkan anak makin agresif, kurang konsentrasi, bahkan menyebabkan kanker
(Hakim, 2004).
Mekanisme toksisitas timbal berdasarkan organ yang dipengaruhinya adalah sistem
Haemopoietik; dimana timbal menghambat sistem pembentukan hemoglobin (Hb) sehingga
menyebabkan anemia, sistem Saraf; dimana timbal bisa menimbulkan kerusakan otak dengan
gejala epilepsi, halusinasi, kerusakan otak besar dan delirium, sistem urinaria; dimana timbal
bisa menyebabkan lesi tubulus proksimalis, Loop of Henle serta menyebabkan aminasiduria,
sistem gastro-intestinal; dimana timbal bisa menyebabkan kolik dan konstipasi, sistem
kardiovaskuler; dimana timbal bisa menyebabkan peningkatan permiabilitas pembuluh darah,
sistem reproduksi berpengaruh terutama terhadap gametoksisitas atau janin belum lahir menjadi
peka terhadap timbal. Ibu hamil yang terkontaminasi timbal bisa mengalami keguguran, tidak
berkembangnya sel otak embrio, kematian janin waktu lahir, serta hipospermia dan teratospermia
pada pria, dan sistem endokrin; dimana timbal mengakibatkan gangguan fungsi tiroid dan fungsi
adrenal yang bersifat karsinogenik dalam dosis tinggi.
Toksisitas timbal bersifat kronis dan akut. Paparan timbal secara kronis bisa
mengakibatkan kelelahan, kelesuan, gangguan iritabilitas, gangguan gastrointestinal, depresi,
sakit kepala, sulit berkonsentrasi, daya ingat terganggu, dan sulit tidur. Toksisitas akut dapat
terjadi bila timbal masuk kedalam tubuh seseorang melalui makanan atau menghirup gas timbal
yang relatif pendek dengan dosis atau kadar yang relatif tinggi (Widowati dkk., 2008). Timbal
termasuk logam berat yang terlibat dalam proses enzimatik dan mempengaruhi semua organ.
Akibatnya adalah menganggu sistem metabolisme sel (Darmono, 1995).
Diantara semua sistem pada organ tubuh, sistem saraf merupakan sistem yang paling
sensitif dan merupakan organ sasaran terhadap daya racun yang dibawa oleh timbal (Palar,
2008). Setelah tingkat pajanan tinggi, dengan kadar timbal darah diatas 80 g/100 ml, dapat
terjadi enselopati. Terjadi kerusakan pada arteriol dan kapiler yang mengakibatkan edema otak,
meningkatnya tekanan cairan serebrospinal, degenerasi neuron dan perkembangbiakan sel glia.
Secara klinis keadaan ini disertai dengan munculnya ataksia, stupor, koma dan kejang-kejang.

Pada anak-anak, sindroma klinis ini dapat terjadi pada kadar Pb darah sebesar 70 g/100 ml.
Pada kadar yang lebih rendah 4050 g/100 ml anak-anak dapat hiperaktivitas, berkurangnya
rentang perhatian dan skor IQ sedikit menurun (Widowati dkk., 2008). Gangguan terhadap
fungsi syaraf orang dewasa berdasarkan uji psikologi diamati pada kadar 50 g/100 ml.
Sedangkan gangguan sistem saraf tepi diamati pada kadar timbal darah 30 g/100 ml
(Tugaswati, 2004 ).
Sifat racun timbal memang lebih berpengaruh pada anak daripada terhadap orang dewasa.
Semakin muda usia, apalagi semasih di dalam kandungan, semakin rentan. Usus mereka
menyerap serbuk timbal lebih banyak daripada orang dewasa. Dari semua bagian tubuh mereka
yang tengah berkembang, sistem syaraflah yang paling menonjol dan mudah terancam, meski
hanya sedikit masukan zat berbahaya tersebut. Timbal yang terserap oleh anak-anak, meski
jumlahnya kecil, dapat menyebabkan gangguan pada fase awal pertumbuhan fisik dan mental
yang kemudian berakibat pada fungsi kecerdasan dan kemampuan akademik (Lestari, 2005).
Sistem saraf dan pencernaan anak masih dalam tahap perkembangan, sehingga lebih rentan
terhadap timbal yang terserap. Anak dapat menyerap hingga 50% timbal yang masuk ke dalam
tubuh, sedangkan orang dewasa hanya menyerap 10-15% (Widowati dkk., 2008).
Kontaminasi timbal pada anak sebagian besar melalui tertelannya bahan mengandung
timbal seperti mainan dan debu dimana hal tersebut berhubungan dengan kebiasaan anak
memasukkan tangan ke mulut. Kontaminasi timbal juga dari makanan dan minuman yang
bersifat asam (air tomat, air buah apel dan asinan) yang dapat melarutkan timbal yang terdapat
pada lapisan mangkuk dan panci.