Anda di halaman 1dari 43

Referat

PEMERIKSAAN RADIOLOGI PADA HEMOPTISIS

Disusun Oleh:
Desvian Adi Nugraha

G99151042

Muhammad Natsir

G99161064

Oki Saraswati Utomo

G99161069

Pratiwi Indah Palupi

G99161074

Pembimbing:
Dr. Widiastuti, dr, Sp.Rad (K)

KEPANITERAAN ILMU RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hemoptisis merupakan salah satu masalah kesehatan yang berpotensi
menyebabkan kematian karena sulit untuk diprediksi tingkat keparahan dan
perkembangan klinisnya. Batuk darah lebih sering merupakan tanda atau
gejala penyakit dasar sehingga etiologi harus dicari melalui pemeriksaan yang
lebih teliti.Volume darah yang dibatukkan bervariasi dalam jumlah minimal
hingga masif, tergantung laju perdarahan dan lokasi perdarahan. Hemoptisis
dalam jumlah yang banyak (masif) termasuk kegawatan medis yang butuh
penanganan yang intensif dengan terapi yang tepat. Gejala ini dapat
mengganggu kestabilan hemodinamik akibat kehilangan darah dalam
jumlahyang banyak dan dapat menggangu pertukaran gas di alveoli dan
menimbulkan komplikasi asfiksia sehingga bila tidak ditangani dengan baik
dapat mengancam jiwa. Meskipun angka kejadian hemoptisis masif hanya 515% dari total kasus, hal ini harus ditanggapi sebagai suatu kasus yang dapat
mengancam jiwa dan memerlukan penanganan dan manajemen yang efektif.
B. Batasan Masalah
Referat ini akan membahas tentang etiologi dari hemoptisis khususnya
dari segi gambaran radiologis
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahuitentangetiologi hemoptisis.
2. Mengetahuigambaranradiologispadamasing-masing etiologi hemoptisis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi
Thorax (atau dada) adalah daerah tubuh yang terletak di antara
leher dan abdomen. Rangka pembentuk dinding thorax yang dinamakan
cavea thoracis dibentuk oleh columna vertebralis di belakang, costae dan
spatium intercostale di samping, serta sternum dan cartilago costalis di
depan. Columna vertebralis yang membentuk bagian belakang cavea
thoracis terdiri dari 12 buah vertebra thoracica yang saling dihubungkan
oleh discus intervertebralis. Costae berjumlah 12 pasang, yang
melengkung dari vertebra thoracica. Berdasarkan tempat perlekatan ujung
ventral os costale (cartilago costalis) costae dapat dibedakan menjadi 3
jenis, yaitu costa vera atau iga sejati yang melekat pada sternum (costa IVII), costa spuria atau iga palsu yang melekat pada cartilago costalis
sebelah cranialnya (costa VIII, IX, X), costa fluctuantes atau iga melayang
yang berakhir bebas (costa XI,XII). Ruangan yang terletak di antara costae
disebut spatium intercostale(Snell RS, 2006).

Gambar 1. Struktur anatomi thorak dilihat dari depan


Di bagian atas thorax berhubungan dengan leher dan di bagian
bawah dipisahkan dari abdomen oleh diaphragma. Cavitas thoracis
(rongga thorax) terbagi menjadi bagian tengah yang disebut mediastinum,
dan bagian lateral yang ditempati pleura dan pulmo. Mediastinum atau
interpleural space adalah rongga dalam cavitas thoracis yang terletak di
antara cavitas pleuralis (antara kedua pulmo). Mediastinum terbagi
menjadi 2 yaitu mediastinum superius dan inferius oleh sebuah bidang
imajiner yang berjalan dari angulus sterni ke bagian paling bawah dari
vertebra thorax 4 (angle of louis). Mediastinum inferius terbagi lagi
menjadi 3, yaitu:
1. Mediastinum anterius (ruangan yang berada di antara pericardium
dan sternum)
2. Mediastinum medium (ruangan yang diisi oleh pericardium,
pembuluh darah besar, bronchus primaries, serta struktur lainnya
dalam radix pulmonis)
3. Mediastinum posterius

(ruangan

yang

terletak

di

antara

pericardium dan delapan vertebrae thoracicae bagian bawah)

Isi mediastinum
Mediastinum

Mediastinum

Mediastinum

Mediastinum

superius

anterius

medium

posterius

Oesophagus

Trachea

Sisa

glandula Jantung

Aorta

thymus

descendens

A/V. Thoracica Pericardium

Oesophagus

interna
Sisa

glandula

Radix pulmonis

thymus

Ductus
thoracicus

Arcus aorta dan

V. cava superior V. azygos

cabang-cabangnya

bagian caudal

V. cava superior

Aorta ascendens V. hemiazygos

bagian cranial
N. Vagus

Bronchus

N. Vagus

primarius
V.

N.

Brachiocephalica

dexter

dextra et sinistra

sinister

N.

phrenicus
et

laryngeus

reccurent

Gambar 2. Mediastinum, dilihat dari superior

Gambar 3. Mediastinum, dilihat dari lateral


Pulmo diliputi oleh membran tipis yang disebut pleura visceralis
yang beralih di hilus pulmonalis (tempat saluran udara utama dan
pembuluh darah masuk ke pulmo) menjadi pleura parietalis dan menuju ke
permukaan dalam dinding thorax. Dengan cara ini terbentuk dua kantong
membranosa yang dinamakan cavitas pleuralis pada setiap sisi thorax, di
antara pulmo dan dinding thorax.
Trachea merupakan tabung cartilaginea lanjutan dari larynx hingga
pangkal bronchus setinggi Vertebra Cervicalis (VC) VI hingga Vertebra
Thoracalis (VT) IV-V. Trachea bercabang menjadi bronchus primarius
dexter et sinsiter. Bifurcatio trachea (percabangan trachea) setinggi
pertengahan VT IV-V. Bronchus primarius membentang dari bifurcatio
trachea sampai hilum pulmonis. Tiap bronchus primarius akan bercabang
menjadi bronchus secundus atau bronchus lobaris yang jumlahnya sesuai
dengan jumlah lobus tiap pulmo. Bronchus secundus dexter berjumlah 3
buah masuk ke hilus pulmonalis setinggi VT V. Bronchus secundus sinister
berjumlah 2 buah masuk ke hilus pulmonis setinggi VT VI. Tiap bronchus

secundus akan bercabang menjadi bronchus tertius, sering disebut juga


bronchus segmentalis, sesuai dengan jumlah segmen tiap lobus pulmo (10
segmenta bronchopulmonalia).
Pulmo berbentuk conus, memiliki satu apex dan satu basis, 3
facies, dan 3 margo (tepi) yang terdiri dari margo anterior, inferior dan
posterior . Tiap pulmo memiliki 3 facies:
1. Facies costalis yang menghadap costae
2. Facies mediastinalis yang menghadap ke mediastinum
3. Facies diaphragmatica yang menghadap diafragma
Pulmo dexter terbagi menjadi 3 lobus (lobus superior, lobus medius
dan lobus inferior) oleh fissura horizontalis dan obliqua. Fissura
horizontalis memisahkan lobus superior dengan lobus medius, sedangkan
fissura obliqua memisahkan lobus medius dengan lobus inferior. Pulmo
sinister dibagi menjadi 2 lobus, lobus superior dan lobus inferior. Kedua
lobus dipisahkan oleh fissura obliqua.
Diafragma yang membentuk lantai rongga thorax adalah suatu
lembaran otot rangka yang lebar, berbentuk kubah, dan memisahkan secara
total rongga thorax dari rongga abdomen. Otot utama untuk pernafasan
adalah diafragma, diinervasi oleh nervus frenikus. Diafragma dalam
keadaan relaksasi berbentuk kubah yang menonjol ke atas ke dalam rongga
thorax. Ketika kontraksi diafragma turun dan memperbesar volume rongga
thorax, memaksa volume paru untuk mengisi rongga thorax sehingga
terjadi inspirasi.
Selain pulmo, di dalam rongga thorax juga terdapat organ jantung
(cor). Cor merupakan organ muscular berongga yang bentuknya mirip
pyramid dan terletak didalam pericardium di mediastinum medium. Basis
cordis dihubungkan dengan pembuluh-pembuluh darah besar, meskipun
demikian tetap terletak bebas didalam pericardium. Cor memiliki empat
ruangan yaitu atrium sinistrum, atrium dextrum, ventriculus sinister, dan
7

ventriculus dexter. Batas kanan jantung dibentuk oleh atrium dextrum,


batas kiri oleh auricula sinistra dan dibawah oleh ventriculus sinister. Batas
bawah terutama dibentuk oleh ventriculus dexter tetapi juga oleh atrium
dextrum dan apex oleh ventriculus sinister.

Gambar 4. Jantung dilihat dari depan


Batas jantung pada permukaan tubuh dapat diproyeksikan sebagai
berikut:
Batas sinister: mulai Spatium Inter Costale (SIC) V satu jari
disebelah medial linea medclavicularis ke cranial sampai SIC II
sinistra pada linea parasternalis.
Batas cranial: SIC II sinistra pada linea parasternalis ke kanan
sampai tepi atas costa III dextra kurang lebih 2 cm dari linea
sternalis
Batas dexter: tepi cranial costa III dextra, kurang lebih 2 cm dari

linea sternalis terus ke tepi caudal costa V dextra


Batas caudal: costa V dextra ke kiri sampai SIC V linea
medclavicularis (Agustina SD, 2012).

Gambar 5.

Proyeksi

batas jantung

B. Gambaran Anatomi Thorax pada Pencitraan


Sebuah pemahaman dasar tentang anatomi thorax sangat penting
dalam mengevaluasi hasil pemeriksaan radiologi sebagai pertimbangan
diagnosis banding.
Dalam keadaan normal, trakea dan aorta berjalan di daerah tengah
rongga thorax tanpa deviasi bermakna pada kedua sisi. Arkus aorta harus
terlihat. Diameter terbesar jantung pada proyeksi PA harus kurang dari
50% dibandingkan rongga terbesar dada. Kontur jantung yang normal
ialah:
1. Aorta ascendence biasanya tidak terproyeksikan lebih ke kanan
dibandingkan batas jantung kanan
2. Arcus aorta biasanya berukuran tidak lebih dari 35 mm
3. Atrium kiri normal biasanya tidak memengaruhi kontur jantung dan
memberikan gambaran pinggang jantung yang konkaf. Pinggang
jantung yang mendatar menandakan pembesaran atrium kiri.
4. Aorta descendence paralel dengan spina dan tidak terlihat pada foto
frontal.

Diafragma yang memisahkan rongga thoraks dan abdomen


membentuk sudut kostofrenikus yang licin dan tajam. Hemidiafragma
kanan lebih tinggi sedikit dari pada hemidiafragma kiri. Pada lapang paru,
hampir semua garis putih merupakan pembuluh darah. Pembuluh darah
memiliki ciri bercabang dan mengecil perlahan dari hilus di sentral menuju
daerah perifer. Bronkus biasanya tidak terlihat. Pleura parietalis dan
viseralis normalnya tidak terlihat pada radiografi konvensional, kecuali
ketika dua lapis pleura viseralis melipat dan membentuk fissura. Pada foto
lateral, fissura oblique dan fissura horizontal dapat terlihat tipis.

Gambar 6. Gambaran foto polos dada PA beserta bagian-bagiannya.

10

Gambar 7. Gambaran foto polos dada lateral beserta bagian-bagiannya

Gambar yang dihasilkan dalam pemeriksaan CT-Scan Thorax dapat


diwakili beberapa kriteria :
Potongan axial 1
Merupakan bagian paling superior dari thorax yang disebut apeks paruparu. Kriteria gambar yang tampak adalah (5) vena jugularis interna kiri,
(3) arteri karotis komunis kanan, (4) Trakhea, (2&6) klavikula, (7) vena
subklavikula kiri, (10) vertebra thorakal II, (1&9) scapula, dan (8) caput
humerus.

Gambar 8. Potongan axial 1 rongga thorax (CT Scan)

11

Potongan axial 3
Kriteria yang tampak antara lain (1) arteri brachiocephalic (dengan media
kontras), (2) Arteri komunis karotis kiri, (3) arteri subklavia kiri, (4) vena
brachiophelic kiri, (5) vena brachiophelic kanan, (6) trakhea, (7)
oesofagus, (8) scapula, (9) pulmonary vasculature, (11) manubrium sterni,
(12) asticulatio costovertebra, (13) muskulus trapezius (14) vertebra
thorakal III.
Gambar 9. Potongan axial 3 rongga thorax (CT Scan)

Potongan axial 5
Kriteria yang tampak yang tampak adalah (ungu) vena kava superior,
(merah) arcus aorta, (coklat) corpus sternum, (hijau) oesoagus, (pink)
vertebra thorakal V, (kuning) trakhea, (abu-abu) vena brachiochepalic kiri.

12

C. Etiologi Hemoptisis
1. Bronkitis
Paru paru merupakan salah satu organ vital bagi kehidupan
manusia yang berfungsi pada sistem pernapasan manusia. Bertugas
sebagai tempat pertukaran oksigen yang dibutuhkan manusia dan
mengeluarkan karbondiksida yang merupakan hasil sisa proses
pernapasan yang harus dikeluarkan dari tubuh, sehingga kebutuhan
tubuh akan oksigen terpenuhi. Udara sangat penting bagi manusia,
tidak menghirup oksigen selama beberapa menit dapat menyebabkan
kematian. Itulah peranan penting paru paru. Cabang trakea yang
berada dalam paru paru dinamakan bronkus, yang terdiri dari 2 yaitu
bronkus kanan dan bronkus kiri. Organ yang terletak di bawah tulang
rusuk ini memang mempunyai tugas yang berat, belum lagi semakin
tercemarnya udara yang kita hirup serta berbagai bibit penyakit yang
berkeliaran di udara. Ini semua dapat menimbulkan berbagai penyakit
paru paru. Salah satunya adalah penyakit yang terletak di bronkus
yang dinamakan bronchitis. Bronkitis (Bronkitis inflamasi-Inflamation
bronchi) digambarkan sebagai inflamasi dari pembuluh bronkus.
Inflamasi menyebabkan bengkak pada permukaannya, mempersempit
pembuluh dan menimbulkan sekresi dari cairan inflamasi.
Bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi
(ektasis) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik.
Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan
dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan
otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil
(medium size), sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Hal ini dapat
memblok aliran udara ke paru-paru dan dapat merusaknya.
Etiologi
Secara umum penyebab bronkitis dibagi berdasarkan faktor
lingkungan dan faktor host/penderita. Penyebab bronkitis berdasarkan

13

faktor lingkungan meliputi polusi udara, merokok dan infeksi. Infeksi


sendiri terbagi menjadi infeksi bakteri (Staphylococcus, Pertusis,
Tuberculosis, mikroplasma), infeksi virus (RSV, Parainfluenza,
Influenza, Adeno) dan infeksi fungi (monilia). Faktor polusi udara
meliputi polusi asap rokok atau uap/gas yang memicu terjadinya
bronkitis. Sedangkan faktor penderita meliputi usia, jenis kelamin,
kondisi alergi dan riwayat penyakit paru yang sudah ada.
a. Bronkitis infeksiosa
Brokitis infeksiosa disebabkan oleh infeksi bakteri atau
virus,

terutama

Mycoplasamapneumoniae

dan

Chlamydia.

Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan


penderita penyakit paru dan saluran pernapasan menahun. Infeksi
berulang bisa merupakan akibat dari:
1. Sinusitis kronik
2. Bronkiektasis
3. Alergi
4. Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak
b. Bronkitis iritatif
Bronkitis iritatif adalah bronkitis yang disebabkan alergi
terhadap sesuatu yang dapat menyebabkan iritasi pada daerah
bronkus. Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh berbagai jenis
debu, asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik
klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida, dan bromine, polusi udara
yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida, tembakau
dan rokok lainnya. Faktor etiologi utama adalah zat polutan.
Patologi Bronkitis
Kelainan utama pada bronkus adalah hipertensi kelenjar mukus
dan menyebabkan

penyempitan

pada saluran bronkus, yang

mengakibatkan diameter bronkus menebal lebih dari 30-40% dari


tebalnya didinding bronkus normal, dan akan terjadi sekresi mukus
yang berlebihan dan kental. Sekresi mukus menutupi cilia, karena
lapisan dahak menutupi cilia, sehingga cilia tidak mampu lagi

14

mendorong dahak keatas, satu-satunya cara mengeluarkan dahak dari


bronki adalah dengan batuk.
Patofisiologi Bronkitis
Temuan utama pada bronkitis adalah hipertropi kelenjar mukosa
bronkus dan peningkatan jumlah sel goblet dengan infiltasi sel-sel
radang dan edema pada mukosa sel bronkus. Pembentukan mukosa
yang terus menerus mengakibatkan melemahnya aktifitas silia dan
faktor fagositosis dan melemahkan mekanisme pertahananya sendiri.
Pada penyempitan bronkial lebih lanjut terjadi akibat perubahan
fibrotik yang terjadi dalam saluran napas.
Gejala Klinis
Gejala umum bronkitis akut maupun bronkitis kronik adalah:
a. Batuk dan produksi sputum adalah gejala yang paling umum
biasanya terjadi setiap hari. Intensitas batuk, jumlah dan frekuensi
produksi sputum bervariasi dari pasien ke pasien. Dahak berwarna
yang bening, putih atau hijau-kekuningan.
b. Dyspnea (sesak napas) secara bertahap meningkat dengan tingkat
keparahan penyakit. Biasanya, orang dengan bronkitis kronik
mendapatkan sesak napas dengan aktivitas dan mulai batuk.
c. Gejala kelelahan, sakit tenggorokan , nyeri otot, hidung tersumbat,
dan sakit kepala dapat menyertai gejala utama.
d. Demam dapat mengindikasikan infeksi paru-paru sekunder virus
atau bakteri.
Diagnosis
Diagnosis dari bronkitis dapat ditegakkan bila pada anamnesa
pasien mempunyai gejala batuk yang timbul tiba-tiba dengan atau
tanpa sputum dan tanpa adanya bukti pasien menderita pneumonia,
common cold, asma akut dan eksaserbasi akut. Pada pemeriksaan fisik

15

pada stadium awal biasanya tidak khas. Dapat ditemukan adanya


demam, gejala rinitis sebagai manifestasi pengiring, atau faring
hiperemis. Sejalan dengan perkembangan serta progresivitas batuk,
pada

auskultasi

dapat

terdengar

ronki,

wheezing,

ekspirium

diperpanjang atau tanda obstruksi lainnya. Bila lendir banyak dan


tidak terlalu lengket akan terdengar ronki basah.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan dahak dan rontgen dilakukan untuk membantu
menegakkan diagnosa dan untuk menyingkirkan diagnosa penyakit
lain. Bila penyebabnya bakteri, sputumnya akan seperti nanah. Untuk
pasien anak yang diopname, dilakukan dengan tes C-reactive protein,
kultur pernapasan, kultur darah, kultur sputum, dan tes serum
aglutinin untuk membantu mengklasifikasikan penyebab infeksi
apakah dari bakteri atau virus. Jumlah leukositnya berada > 17.500
dan pemeriksaan lainnya dilakukan dengan cara tes fungsi paru-paru
dan gas darah arteri.
Gambaran radiologis

Gambar 10. Foto Thorax

16

- Kedua apex paru tenang


- Corakan bronchovascular bertambah dengan airbronchogram (+)
- Tak tampak penebalan pleural space
- Diafragma licin
- Cor : CTR < 0,5
2. Bronkiektasis
Merupakan

dilatasi

abnormal

bronkus

atau

bronkiolus.

Bronkiektasis terjadi pada obstruksi paru kronis di saluran nafas


bagian bawah yang dapat terjadi karena tumor, infeksi kronis,
akumulasi mukus. Bronkus yang terisi mukus akan terjadi atelektasis
dan terjadi suatu pembentukan hubungan abnormal antar bronkus,
sehingga berakibat ventilasi alveolus akan terganggu (Corwin, 2008).
Sedangkan menurut Michael (2003), Bronkiektasis merupakan
dialatasi abnormal dinding bronkus dan berlangsung kronis. Sehingga
dinding bronkus akan terganggu dan berakibat terjadinya peradangan
maupun terinfeksi oleh bakteri.

Etiologi
Penyebab bronkiektasis sampai sekarang masih belum diketahui
dengan jelas. Pada kenyataannya kasus-kasus bronkiektasis dapat
timbul secara kongenital maupun didapat. Menurut Rahmatullah
(2001), penyebab bronkiektasis dapat diklasifikasikan antara lain
karena kelainan kongenital, dan bronkiektasis didapat yaitu oleh
kaarena infeksi dan obstruksi bronkus itu sendiri.
Patofisiologi
Berdasarkan definisi, bronkiektasis menggambarkan suatu
keadaan dimana terjadi dilatasi bronkus yang ireversibel (> 2 mm
dalam diameter) yang merupakan akibat dari destruksi komponen
muskular dan elastis pada dinding bronkus. Rusaknya kedua
komponen tersebut adalah akibat dari suatu proses infeksi, dan juga
17

oleh pengaruh cytokine inflamasi, nitrit okside dan netrophilic


protease yang dilepaskan oleh system imun tubuh sebagai respon
terhadap antigen (Hassan, 2012).
Gambaran Klinis
Gambaran dan tanda klinis yang timbul pada penderita
bronkiektasis adalah biasanya pasien datang dengan gejala batuk
berulang dan produksi sputum yang mukopurulen selain itu kejadian
Hemoptisis pada 50-70%. Pada suatu kasus yang lebih berat, akan
terjadi perdarahan yang lebih besar sebagai akibat dari perdarahan dari
hipertrofi arteri bronkial. Selain itu gambaran klinis yang khas pada
pasien bronkiektasia yang khas adalah timbul sesak nafas, gangguan
mobilitas thorak, dan penumpukan sputum (Loscalzo, 2010).
Gambaran Radiologis

Gambar 11. Cystic Bronchiectasis

18

Gambar 12. Cystic Bronchiectasis

19

Gambar 13. Varicose Bronchiectasis

Gambar 14. Varicose Bronchiectasis

20

Gambar 15. Cylindrical Bronchiectasis

Gambar 16. Cylindrical Bronchiectasis

21

3. Pneumonia
Proses peradangan pada parenkrim paru-paru yang biasanya
dihubungkan dengan meningkatnya cairan pada alveoli. Penyakit ini
merupakan salah satu penyakit infeksi saluran nafas yang banyak
didapat dan sering merupakan penyebab kematian diseluruh dunia.
Bayi dan anak kecil lebih rentang dengan penyakit ini karena respon
imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik (Manurun
Santa. 2009).
Klasifikasi
Berdasarkan anatomiknya, pneumonia dibagi atas:
a. Pneumonia lobarisadalah salah satu bentuk pneumonia yang
didapatkan konsolidasi

pada seluruh lobus paru. Pneumonia

lobaris lebih sering menyerang bayi dan anak kecil. Hal ini
dikarenakan respon imunitas mereka masih belum berkembang
dengan baik. Tercatat bakteri sebagai penyebab tersering
pneumonia

lobaris

pada

dewasa

dan anak

besar

adalah

Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae.


b. Pneumonia lobularis atau bronchopneumonia adalah suatu radang
paru yang menyatakan adanya penyebaran daerah infeksi yang
berbercak dengan diameter sekitar 3 sampai 4 cm yang
mengelilingi dan juga melibatkan bronkus yang disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda
asing.
c. Pneumonia interstitial adalah peradangan interstitial yang disertai
penimbunan infiltrat dalam dinding alveolus, meskipun rongga
alveolar bebas dari eksudat dan tidak ada konsolidasi. Pneumonia
jenis ini yang terjadi pada perokok atau mantan perokok.

22

Etiologi
Berdasarkan etiologinya, pneumonia dibagi atas:
a. Pneumonia bakterial
Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan pneumonia antara lain:
1. Pneumokokus
2. Steptokokus
3. Basil gram negatif
b. Pneumonia akibat virus
Disebabkan oleh bermacam-macam virus, seperti virus respiratory
sinsitial, virus influenza, cytomegalovirus, virus herpes zooster,
dan lain-lain.
c. Pneumonia akibat jamur
Jamur- jamur yang

menyebabkan

pneumonia

adalah

Hystoplasmosis, Blastomikosis, dan spora-spora lain.


d. Pneumonia aspirasi
Faktor umum pada semua bentuk pneumonia aspirasi adalah
terhirupnya (aspirasi) bahan-bahan kedalam saluran pernafasan.
Pneumonia aspirasi bisa terjadi pada saat pasien dirawat dirumah
sakit, tetapi dengan perawatan yang cermat dan tekun hal ini dapat
dicegah.
e. Pneumonia nosokomial
Pneumonia yang didapat setelah berada di rumah sakit, hal ini
akibat dari meningkatnya gangguan sistem pertahanan yang
dialami oleh pasien akibat dari terapi tertentu dan meningkat
seiring dengan masa rawat inap yang lama.
Epidemiologi
Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran napas
yang terbanyak di dapatkan dan sering merupakan penyebab kematian
hampir di seluruh dunia. Di Inggris pneumonia menyebabkan
kematian 10 kali lebih banyak dari pada penyakit infeksi lain,
sedangkan di AS merupakan penyebab kematian urutan ke 15.

23

Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar


(Riskesdas) tahun 2007, menunjukkan; prevalensi nasional ISPA:
25,5% (16 provinsi di atas angka nasional), angka kesakitan
(morbiditas) pneumonia pada Bayi: 2.2 %, Balita: 3%, angka kematian
(mortalitas) pada bayi 23,8%, dan Balita 15,5%.
Pneumonia pada dapat terjadi pada orang tanpa kelainan
imunitas yang jelas. Namun pada kebanyakan pasien dewasa yang
menderita pneumonia didapati adanya satu atau lebih penyakit dasar
yang mengganggu daya tahan tubuh.
Patofisologi
Kerusakan

jaringan

paru

setelah

kolonisasi

suatu

mikroorganisme paru banyak disebabkan oleh reaksi imun dan


peradangan yang dilakukan oleh pejamu. Selain itu, toksin-toksin
yang dikeluarkan oleh bakteri pada pneumonia bakterialis dapat secara
langsung merusak sel-sel system pernapasan bawah.
Pneumonia

bakterialis

menimbulkan

respon

imun

dan

peradangan yang paling mencolok. Jika terjadi infeksi, sebagian


jaringan dari lobus paru-paru, ataupun seluruh lobus, bahkan sebagian
besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di
paru-paru kiri) menjadi terisi cairan.
Diantara semua pneumonia bakteri, patogenesis dari pneumonia
pneumokokus

merupakan

yang

paling

banyak

diselidiki.

Pneumokokus umumnya mencapai alveoli lewat percikan mukus atau


saliva. Lobus bagian bawah paru paling sering terkena karena efek
gravitasi. Setelah mencapai alveoli, maka pneumokokus menimbulkan
respons khas yang terdiri dari empat tahap berurutan:
a.

Kongesti (4 sampai 12 jam pertama) : eksudat serosa masuk ke


dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.

24

b.

Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : paru tampak merah dan


bergranula karena sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN

c.

yang mengisi alveoli.


Hepatisasi kelabu (3 sampai 8 hari) : paru tampak kelabu karena
leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang

d.

terserang.
Resolusi (7 sampai 11 hari) : eksudat mengalami lisis dan
direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada
strukturnya semula.

Gambaran Klinis
a.
b.
c.
d.
e.

Demam menggigil
Batuk dengan dahak mukoid, purulen, kadang hingga berdarah
Sesak nafas
Kadang-kadang disertai nyeri dada
Bagian yang sakit tertinggal saat bernafas, vokal fremitus
mengeras, perkusi redup, auskultasi terdengar ronkhi basah halus,
dan menjadi ronkhi basah kasar saat resolusi.

Gambaran Radiologi
Pada rontgen thorax :
1.

Tampak

perselubungan

homogen

2.
3.
4.

atas/tengah/bawah paru dextra atau sinistra


Cor : bentuk dan ukuran dalam batas normal
Kedua sinus dan diafragma baik
Tulang-tulang tervisualisasi dengan baik.

Pada CT Scan :
1.
2.

Khas ditemukan adanya konsolidasi


Tampak air bronchogram

25

pada

lapangan

3.

Pembuluh darah dapat dibedakan dengan konsolidasi jaringan


paru.

Gambar 17. Foto


rontgenthorax padapneumonia lobaris. Tampak gambaran
gabungan konsolidasi berdensitas tinggi pada satu
segmen/lobus atau bercak yang mengikut sertakan alveoli
yang tersebar. Air bronchogram biasanya ditemukan pada
pneumonia jenis ini. (radiopedia.org, 2015)

Gambar18.CT Scan Pneumonia lobaris.Pada CT Scan khas ditemukan


adanya konsolidasi, tampak air bronchogram dan pembuluh
darah dapat dibedakan dengan konsolidasi jaringan paru.
(Medscape, 2007)

26

Gambar 19.Foto rontgenthorax padabronkopneumonia. Tampak


bercak infiltrat pada lapangan tengah dan bawah paru
dextra et sinistra (https://www.med-ed.virginia.edu, 2013)

Gambar 20. CT Scan padabronkopneumonia. Tampak gambaran


hiperdens/opaque di lobus atas kiri sampai ke perifer
(https://www.med-ed.virginia.edu, 2013)

27

.Gambar 21.Foto rontgen thorax pada pneumonia interstitial.


Terjadi edema dinding bronkioli dan juga edema
jaringan interstitial peribronkial. Tampak bayangan
udara pada alveolus masih terlihat, diliputi oleh
perselubungan yang tidak merata. (radiopedia.org,
2014)

.
Gambar 22.CT Scan pada pneumonia interstitial. Tampak
konsolidasi yang ireguler di percabangan
peribronkovaskuler dengan infiltrat reticonodular
bilateral dengan subpleural predominan. (Medscape,
2010)

28

4.

Tuberkulosis
Tuberkulosis paru (Tb paru) adalah penyakit infeksius, yang
terutama menyerang penyakit parenkim paru. Nama tuberkulosis
berasal dari tuberkel yang berarti tonjolan kecil dan keras yang
terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi
bakteri dalam paru. Tb paru ini bersifat menahun dan secara khas
ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis
jaringan. Tb paru dapat menular melalui udara, waktu seseorang
dengan Tb aktif pada paru batuk, bersin atau bicara.
Epedemiologi
a. Umur
Tb Paru Menyerang siapa saja tua, muda bahkan anak-anak.
Sebagian besar penderita Tb Paru di Negara berkembang berumur
dibawah 50 tahun. Data WHO menunjukkan bahwa kasus Tb paru
di negara berkembang banyak terdapat pada umur produktif 15-29
tahun. Penelitian Rizkiyani pada tahun 2008 menunjukkan jumlah
penderita baru Tb Paru positif 87,6% berasal dari usia produktif
(15-54 tahun) sedangkan 12,4 % terjadi pada usia lanjut ( 55
tahun).
b. Jenis Kelamin
Penyakit Tb Paru menyerang orang dewasa dan anak-anak, lakilaki dan perempuan.Tb paru menyerang sebagian besar laki-laki
usia produktif .
c. Status gizi
Status nutrisi merupakan salah satu faktor yang menetukan fungsi
seluruh sistem tubuh termasuk sistem imun.Sistem kekebalan
dibutuhkan manusia untuk memproteksi tubuh terutama mencegah
terjadinya infeksi yang disebabkan oleh `mikroorganisme. Bila
daya tahan tubuh sedang rendah, kuman Tb paru akan mudah
masuk ke dalam tubuh. Kuman ini akan berkumpul dalam paruparu kemudian berkembang biak.Tetapi, orang yang terinfeksi

29

kuman TB

Paru belum tentu menderita Tb paru. Hal ini

bergantung pada daya tahan tubuh orang tersebut. Apabila, daya


tahan tubuh kuat maka kuman akan terus tertidur di dalam tubuh
(dormant) dan tidak berkembang menjadi penyakt namun apabila
daya tahan tubuh lemah makan kuman Tb akan berkembang
menjadi penyakit. Penyakit Tb paru Lebih dominan terjadi pada
masyarakat yang status gizi rendah karena sistem imun yang
lemah sehingga memudahkan kuman Tb Masuk dan berkembang
biak.
d. Lingkungan
TB paru merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yang
ditularkan melalui udara. Keadaan berbagai lingkungan yang dapat
mempengaruhi penyebaran Tb paru salah satunya adalah
lingkungan yang kumuh,kotor. Penderita Tb Paru lebih banyak
terdapat pada masyarakat yang menetap pada lingkungan yang
kumuh dan kotor.
e. Waktu
Penyakit Tb paru dapat menyerang siapa saja, dimana saja, dan
kapan saja tanpa mengenal waktu. Apabila kuman telah masuk ke
dalam tubuh pada saat itu kuman akan berkembang biak dan
berpotensi untuk terjadinya Tb paru.
Etiologi
Penyakit Tb paru adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan
oleh bakteri. Mycobakterium tuberkulosis. Bakteri ini berbentuk
batang dan bersifattahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang
Tahan Asam (BTA).Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis
BTA positif pada waktu batuk atau bersin. Penderita menyebarkan
kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang
mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama
beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke
dalam saluran pernafasan.Setelah kuman tuberkulosis masuk ke dalam
30

tubuh manusia melalui pernafasan, kuman tuberkulosis tersebut dapat


menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran
darah, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian
tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh
banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi
derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita
tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman),
maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Seseorang terinfeksi
tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan
lamanya menghirup udara tersebut.
Patofisiologi
Paru merupakan port dentre lebih dari 98% kasus infeksi TB.
Karena ukurannya yang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik
(droplet nuclei) yang terhirup, dapat mencapai alveolus. Masuknya
kuman TB ini akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis non
spesifik. Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB dan biasanya
sanggup menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada
sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan kuman
TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam
makrofag yang terus berkembang biak, akhirnya akan membentuk
koloni di tempat tersebut. Lokasi pertama koloni kuman TB di
jaringan paru disebut Fokus Primer GOHN. Dari focus primer, kuman
TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar limfe regional,
yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi focus
primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran
limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena.
Jika focus primer terletak di lobus paru bawah atau tengah, kelenjar
limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahilus, sedangkan
jika focus primer terletak di apeks paru, yang akan terlibat adalah
kelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan gabungan antara

31

focus primer, kelenjar limfe regional yang membesar (limfadenitis)


dan saluran limfe yang meradang (limfangitis).
Pada tuberkulosis dapat pula terjadi hemoptosis. Ekspektorasi
darah dapat terjadi akibat infeksi tuberkulosis yang masih aktif
ataupun akibat kelainan yang ditimbulkan akibat penyakit tuberkulosis
yang telah sembuh. Susunan parenkim paru dan pembuluh darahnya
dirusak oleh penyakit ini sehingga terjadi bronkiektasi dengan
hipervaskularisasi, pelebaran pembuluh darah bronkial, anastomosis
pembuluh darah bronkial dan pulmoner.
Penyakit tuberkulosis juga dapat mengakibatkan timbulnya
kavitas dan terjadi pneumonitis tuberkulosis akut yang dapat
menyebabkan ulserasi bronkus disertai nekrosis pembuluh darah di
sekitarnya dan alveoli bagian distal. Pecahnya pembuluh darah
tersebut mengakibatkan ekspektorasi darah dalam dahak, ataupun
hemoptisis masif.
Ruptur aneurisma Rassmussen telah diketahui sebagai penyebab
hemoptisis masif pada penderita tuberkulosis ataupun pada bekas
penderita tuberkulosis. Kematian akibat hemoptisis masif pada
penderita tuberkulosis berkisar antara 5-7%. Pada pemeriksaan
postmortem, ternyata pada penderita tersebut ditemukan ruptur
aneurisma arteri pulmoner. Umumnya pada penderita yang meninggal
tersebut, terjadi ruptur pada bagian arteri pulmoner yang mengalami
pelebaran akibat inflamasi pada kaviti . Hal tersebut dapat terjadi
karena keterlibatan infeksi tuberkulosis pada tunika adventisia atau
media pembuluh darah namun juga akibat proses destruksi dari
inflamasi lokal.
Hemoptisis masif juga dapat terjadi pada bekas penderita
tuberkulosis. Hal tersebut dapat terjadi akibat erosi lesi kalsifikasi
pada arteri bronkial sehingga terjadi hemoptisis masif. Selain itu
ekspektorasi bronkolit juga dapat menyebabkan hemoptisis.

32

Gambaran Klinis
a. Gejala sistemik/umum
1. Penurunan nafsu makan dan berat badan.
2. Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
3. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya
dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang
serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
b. Gejala khusus
1. Bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju
ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang
membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas
melemah yang disertai sesak.
2. Jika ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat
disertai dengan keluhan sakit dada.

33

Gambaran Radiologi
Kelainan radiologis ini dapat terjadi dimana saja dalam paru,
namun sarang dalam parenkim paru sering disertai pembesaran
kelenjar limfe regional (komplek primer).

Gambar 23. Foto polos PA tampak gambaran bercak semi opak terletak di
suprahiler (diatas hilus), perihiler (sepanjang limfangitis), dan parakardial
(disamping kor) dengan batas tidak tegas. (Medscape, 2015)

TB paru aktif memiliki gambaran Bayangan berawan / noduler


disegmen apikal dan posterior lobus atas dan segmen superior lobus
bawah paru. Sarang-sarang berbentuk awan atau bercak infiltrat
dengan densitas rendah hingga sedang dengan batas tidak tegas.
Sarang-sarang ini biasanya menunjukan suatu proses aktif.Kavitas,
terutama lebih dari satu, yang dikelilingi bayangan opak berawan atau
noduler kecuali bila lubang (kavitas) sudah sangat kecil, yang
dinamakan residual cavity. TB jenis ini dapat pula disertai dengan
bayangan bercak milier dan efusi pleura.

34

Gambar 24.Foto polos thoraks tampak tampak infiltrate dengan kavitas


pada lobus superior paru bilateral, menunjukkan adanya
tuberculosis pulmonal aktif (Medscape, 2015)

Gambar 25.Foto polos thoraks tampak pada TB aktif dengan disertai bercak
milier (Snow Storm Appearance) (Medscape, 2015)

TB paru inaktif memiliki ciri khas gambaran fibrotik, terutama


pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas dan atau segmen
posterior lobus atas dan atau segmen superior lobus bawah, tampak
adanya kalsifikasi dan penebalan pleura.

35

Gambar 26.Tuberkulosis Post Primer. Temuan pada foto thorak ini adalah
fibrosis lobus superior bilateral. (Medscape, 2015)

Gambar 27. CT Scan thorax pasien


tuberkulosis dengan disertai adanya aneurisma Rassmussen. (radiopaedia.org,
2015)

36

5.

Kanker Paru
Definisi dan Epidemiologi
Karsinoma paru adalah keganasan yang berasal dari saluran
pernapasan (bronkus, bronkiolus, alveolus) dan parenkim paru.
Kanker paru merupakan kanker yang paling sering di dunia dengan
sekitar 1.600.000 kasus baru dan 1.380.000 kematian pada tahun
2008.4
Penyebab kanker paru belum diketahui, tetapi paparan atau
inhalasi berkepanjangan terhadap karsinogen diduga merupakan faktor
penyebab utama, di samping faktor lain seperti kekebalan tubuh,
genetik, dan lain-lain. Faktor risiko utama terjadinya kanker paru
adalah kebiasaan merokok. Terdapat hubungan antara jumlah rata-rata
jumlah rokok yang dihisap per hari dengan tingginya insiden kanker
paru. Selain perokok aktif, perokok pasif juga mengalami peningkatan
risiko terjadinya kanker paru. Faktor risiko lain kanker paru antara
lain paparan radiasi pengion, asbestos, polisiklik hidrokarbon, polusi
udara, dan lain-lain. Faktor genetik berupa riwayat keluarga dengan
kanker juga berperan terhadap peningkatan risiko terjadinya kanker
paru.
Patofisiologi
Karsinoma terjadi ketika sel-sel normal mengalami transformasi
yang menyebabkan mereka tumbuh dan bertambah tanpa kontrol
normal.Sel membentuk suatu massa atau tumor yang berbeda dari
jaringan sekitarnya dari mana ia muncul. Tumor berbahaya karena
mereka mengambil oksigen, nutrisi, dan ruang dari sel-sel sehat.
Gambaran Klinis
Gambaran klinis kanker paru yang dapat ditemui antara lain:
a. Asimptomatik teridentifikasi pada pemeriksaan foto toraks rutin.
Pada fase awal, kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala
klinis apapun selain adanya kelainan pada gambaran radiologis.
b. Gejala lokal
37

o Batuk
o Hemoptisis
o Mengi
o Atelektasis
c. Invasi regional
o Nyeri dada
o Dispneu karena efusi pleura
o Tamponade atau aritmia karena invasi ke perikardium
o Sindrom vena kava superior
o Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
o Suara serak karena penekanan nervus laryngeal recurrent
o Sindrom Pancoast karena invasi pada pleksus brakialis dan
saraf simpatis servikalis
d. Gejala metastasis
o Metastasis

pada

otak,

tulang,

hati,

adrenal

dapat

menimbulkan gejala berupa nyeri kepala, nyeri tulang,


sindrom Cushing
o Limfadenopati servikal dan supraklavikula
e. Sindrom paraneoplastik
o Sistemik: anoreksia, penurunan berat badan, kakesia,
demam
o Hematologi: leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
o Hipertrofi osteoartropati
o Neurologik: demensia, ataksia, tremor, neuropati perifer
o Endokrin:

sekresi

berlebihan

hormon

paratiroid

(hiperkalsemia), ginekomastia
o Dermatologik: eritema multiform, hiperkeratosis, jari tabuh
o Ginjal: syndrome of inappropriate antidiuretic hormone

38

Anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan fisik yang teliti


merupakan kunci untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Selain
gejala klinis, beberapa faktor perlu diperhatikan pada pasien tersangka
kanker paru seperti umur, kebiasaan merokok, riwayat kanker dalam
keluarga,

paparan

zat

karsinogen,

dan

infeksi

yang

dapat

menyebabkan nodul soliter paru. Deteksi kanker paru pada stadium


dini sangat sulit karena pada stadium ini belum timbul gejala. Untuk
deteksi dini, dianjurkan melakukan pemeriksaan skrining dengan cara
memeriksa sitologi sputum dan foto rontgen dada secara berkala.
Gambaran Radiologi
Gambaran radiologi karsinoma paru pada foto rontgen thorax adalah:
1. Massa opak homogen
2. Bisa di sentral di bronkus primer, bisa di perifer dari alveolus
3. Gambaran membulat dengan tepi irreguler
4. Dari massa tersebut bisa terjadi spinasi (pertumbuhan radier ke
arah jaringan yang sehat) menyerupai kaki (pseudopodia) seperti
kepiting.
5. Dapat terjadi perbercakan, kavitas, efusi pleura, pembesaran KGB
hili, kalsifikasi

Gambar 28. Massa pada paru kanan atas (chestradiology.net,


2014)

39

Gambar 29. Massa yang mengalami spinasi (pertumbuhan

radier ke arah jaringan yang sehat) menyerupai kaki


(pseudopodia) seperti kepiting. (chestradiology.net, 2014)

Gambar 30. Massa pada paru kiri bawah dengan efusi pleura
(chestradiology.net, 2014)

40

Selain hal tersebut, gambaran foto polos paru yang mungkin


menunjukan keganasan paru adalah Golden S sign merupakan
gambaran dari tumor yang terletak pada hilus yang mengakibatkan
atelektasis perifer (umumnya sumbatan berada di lobus kanan atas).
Dengan adanya atelektasi maka secara normal lobus atas paru kanan
akan kolaps dan diikuti dengan melipatnya fisura minor ke atas yang
muncul dari hilus ke aspek lateral dada. Dengan adanya massa yang
terletak di dekat hilus, lipatan tadi akan terlihat di dekat hilus
mengelilingi massa sehingga membentuk S sebagai batas inferior
dari paru yang kolaps.

Gambar31. Golden S sign (chestradiology.net, 2014)

Evaluasi lebih jauh dapat menggunakan CT Scan. CT scan dapat


melihat secara jelas suatu nodul sehingga CT Scan lebih sensitif
daripada foto rontgen dada. Positron emission tomography (PET) scan
dapat membantu melihat apakah nodul bersifat jinak atau ganas.Untuk
metastasis tumor lain ke paru dapat melalui jalur hematogen atau
limfogen. Secara radiologis ditemukan nodul dan massa bervariasi
besarnya mulai dari 1 cm sampai 10 cm, biasanya ditemukan multipel
dan tersebar. Dari radiologi tidak dapat dilakukan diagnosis pasti

41

apakah itu metastasis, infeksi atau tumor primer. Gambaran CT-Scan


sebagai berikut.

Gambar 32. CT Scan Thorax didapatkan sebuah massa tumor dengan ukuran T3 tepi
ireguler dengan invasi dinding dada (lungcancer.org, 2014)

Untuk metastasis tumor lain ke paru dapat melalui jalur


hematogen atau limfogen. Secara radiologis ditemukan nodul dan
massa bervariasi besarnya mulai dari 1 cm sampai 10 cm, biasanya
ditemukan multipel dan tersebar. Dari radiologi tidak dapat dilakukan
diagnosis pasti apakah itu metastasis, infeksi atau tumor primer.
Gambaran CT-Scan sebagai berikut.

42

Gambar

33.

Gambaran

metastasis

dari

karsinoma

ginjal

(lungcancer.org, 2014)

BAB III
PENUTUP
1.

Hemoptisis merupakan salah satu gejala pada penyakit paru saluran


pernapasan dan atau kardiovaskuler yang disebabkan oleh berbagai macam

2.

etiologi.
Untuk mengetahui penyebab batuk darah kita harus memastikan bahwa
perdarahan tersebut berasal dari saluran pernafasan bawah, dan bukan

berasal dari nasofaring atau gastrointestinal.


3. Pemeriksaan radiologi perlu dilakukan untuk mendapatkan diagnosa yang
tepat sehingga penanganan dan manajemen dapat dilakukan dengan
efektif.
4. Prinsipnya penanganan hemoptisis ditujukan untuk memperbaiki kondisi
kardiopulmoner dan mencegah semua keadaan yang dapat menyebabkan
kematian. Penanganan tersebut dilakukan secara konservatif maupun
dengan operasi, tergantung indikasi serta berat ringannya hemoptisis yang
terjadi.

++ dafpus :
1.

Lung Cancer.org. Types and Staging of Lung Cancer.


Diakses dari: http://www.lungcancer.org/find_information/publications/163-

2.

lung_cancer_101/268-types_and_staging pada tanggal 29 September 2016


Anonim.
Diunduh
dari
www.chestradiology.net/tumors.cgi . Diakses pada 29 Septemeber 2016.

43