Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Pusdiklat Perdagangan, VOL 2 No.1, JULI 2016 : 78 - 85

PERAN KAPAL TERNAK DALAM MEMPERLANCAR DISTRIBUSI DAN MENEKAN BIAYA LOGISTIK DAGING SAPI DARI SENTRA PRODUSEN KE SENTRA KONSUMEN DI INDONESIA

The Role of Livestock Vessel in Expediting The Distribution Flow And Reducing The Logistic Cost of Beef from Producer’s Center to Consumer’s Center

Avif Haryana, Yati Nuryati Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5 Jakarta Pusat vifhary@gmail.com, y_nuryati@yahoo.com

ABSTRACT:

In November 2015 the government has inaugurated a special ship transporting livestock. The ship is expected to reduce the rising prices of beef that exceeds the normal price. The study analyzes the performance of special ships transporting livestock and analyze the potential of cows trade between provinces / islands by mapping producer’s centers and consumer’s centers of beff in Indonesia. The analysis finds that although the performance of the supply chain livestock ship proved able to decrease the price of meat up to Rp85000,00 per kgs, but to decrease the market price of beef, it needs the continuity of delivery and the increased frequency of shipping cows trough live stock vessels to consumer’s center.

Keywords:livestock vessel, live cattle, beef, price, supply, demand, logistic cost.

PENDAHULUAN Harga daging sapi di tingkat eceran masih stabil dengan tingkat harga yang cukup tinggi. Menurut teori keseimbangan pasar (market equilibrium), harga suatu komoditi dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan pasar dari komoditi yang bersangkutan dengan asumsi kondisi lainnya tetap (ceteris paribus). Harga yang tinggi merupakan salah satu indikasi bahwa adanya ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan. Pada kasus daging sapi, harga daging yang tetap tinggi menunjukkan bahwa ada indikasi masalah dalam hal pasokan (supply) terutama dari pasokan dalam negeri/ lokal. Hal ini juga ditunjukkan dengan masih tingginya impor sapi siap potong untuk menopang kekurangan pasokan yang bersumber dari lokal. Permintaan daging sapi tidak hanya untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga tetapi juga untuk kebutuhan industri, hotel, restoran dan katering. Secara teori, untuk mengetahui kapan terjadi kelangkaan penawaran dapat dihitung dengan pendekatan selisih antara permintaan dan

penawaran. Namun hal itu tidak mudah dilakukan karena perkiraan ketersediaan sapi siap potong di peternak tidak identik dengan ketersediaan daging di pasar. Hal ini dikarenakan oleh karakteristik usaha peternak sapi di Indonesia belum memiliki orientasi komersil (bisnis). Motif peternak memelihara sapi masih banyak untuk tabungan sehingga tidak responsif terhadap permintaan pasar. Demikian juga dari sisi konsumsi, perkiraan tingkat konsumsi secara agregat nasional merupakan angka yang masih sangat kasar. Oleh karena itu, pendekatan lain yang dapat digunakan untuk mengindikasikan kelangkaan pasokan adalah harga (BP2KP, 2014). Perkembangan harga daging sapi di dalam negeri menunjukkan tren yang terus meningkat. Berdasarkan data BPS tahun 2008 sampai dengan 2016, kenaikan harga daging sapi mencapai rata-rata9,38 persen tiap tahunnya. Data tersebut juga menunjukkan bahwa indikasi terganggunya pasokan daging sapi di dalam negeri terjadi sejak pertengahan tahun 2012 yaitu harga daging sapi mulai meningkat dibanding periode sebelumnya. Kenaikan harga ini mengindikasikan terjad

78

Peran Kapal Ternak dalam Memperlancar

, Avif Haryana,Yati Nuryati

ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan (BP2KP, 2013).Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Ditjen PDN, 2016), rata- rata harga daging sapi secara nasional pada Bulan Februari 2016 Rp112.689,00 per kg, sementara harga daging sapi di DKI Jakarta Rp116.727,00 per kg. Harga yang terus naik tersebut juga mengindikasikan bahwa masih ada kendala dalam pendistribusian barang. Untuk mengalirkan barang dari daerah produsen ke daerah konsumen secara efisien, diperlukan sarana dan sistem logistik yang baik. Sebagaimana diketahui bahwa biaya logistik di Indonesia masih tergolong tinggi yaitu mencapai 27 persen dari PDB (World Bank, 2013).Biaya logistik Indonesia masih kalah dengan biaya logistik Singapura yang hanya mencapai 8% dari PDB, atau dengan biaya logistik Jepang yang mencapai 10,6% dari PDB, atau bahkan dengan biaya logistik Vietnam yang mencapai 25% dari PDB(World Bank, 2013). Namun demikian pemerintah Indonesia terus berusaha untuk menekan biaya logistik dengan melakukan terobosan-terobosan baru baik dari sisi regulasi, infrastruktur, maupun teknologi informasi dan komunikasi. Saat ini Indonesia sudah mempunyai satu kapal ternak KM Camara Nusantarai I dengan kapasitas angkut 500 ekor sapi yang merupakan bagian dari program tol laut. Kapal ini diresmikan langsung oleh Presiden RI pada 10 November 2015 di Galangan Kapal PT Adiluhung Sarana Segara Indonesia, Bangkalan, Jawa Timur. Tujuan pelayaran kapal ternak adalah untuk menekan biaya transportasi pengadaan sapi dari pusat-pusat peternakan agar dapat dibawa ke kota- kota besar seperti Jakarta, Surabaya- Bandung-Medan. Kapal ternak KM Camara Nusantara I ditempatkan di Pelabuhan Tenau, Kupang sebagai pangkalan dengan rute trayek RT-1 untuk melayani pengangkutan sapi dari NTT ke Jakarta dengan rute Kupang(1) – Waingapu(2) - Bima(3) -Tanjung Perak(4) - Tanjung

Emas(5)-Cirebon(6) - Tanjung Priok(7) sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1. Dari Pelabuhan Tanjung Priok, KM Camara Nusantra I selanjutnya akan kembali menuju Pelabuhan Tenau di Kupang tanpa muatan. Fasilitas angkut ternak itu akan mirip kandang sapi berlayar karena dilengkapi tempat pakan ternak yang luas. Desain kapal ternak dibuat sedemikian rupa sehingga diharapkan dapat mengurangi kematian dan penyusutan bobot sapi (Media Indonesia, 2016a). Harga sapi yang disepakati oleh pengusaha adalah Rp 33.000-34.000 per kilogram timbang hidup di karantina dan Rp 40.000-Rp 41.000 per kilogram timbang hidup sampai di Jakarta. Hal ini mempertimbangkan harga sapi di tingkat peternak sudah mencapai Rp30.000 per kilogram timbang hidup.

peternak sudah mencapai Rp30.000 per kilogram timbang hidup. Gambar 1 Rute Kapal Ternak KM Camara Nusantara

Gambar 1 Rute Kapal Ternak KM Camara Nusantara I

Sampai dengan Bulan April 2016, kapal ternak yang dioperasikan oleh PT Pelni (Persero) tersebut sudah mengangkut 2.979 ekor sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang dan Nusa Tenggara Barat (NTB), Bima sejak pertama kali membawa sapi pada 11 Desember 2015. Total pelayaran kapal ternak sebanyak 7 kali(Detik Finance,

2016).

Pertanyaan yang akan dijawab dalam tulisan ini adalah apakah dengan adanya kebijakan pengangkutan sapi hidup melalui kapal ternak khusus dapat menekan harga daging sapi di pasar domestik? Tulisan bertujuan untuk (i) menganalisis potensi perdagangan sapi antar pulau, (i) menjelaskan kinerja operasional kapal ternak dan (iii) menganalisis biaya transportasi sapi dari NTT ke Jakarta dengan menggunakan

79

Jurnal Pusdiklat Perdagangan, VOL 2 No.1, JULI 2016 : 78 - 85

kapal ternak yang merupakan salah satu bagian program tol laut pemerintah Republik Indonesia.

METODOLOGI

Sebagaimana telah diungkapkan dimuka bahwa telah terjadi indikasi ketidakseimbangan penawaran dan permintaan sapi yang ditunjukkan dengan kenaikan harga daging sapi sejak pertengahan 2012 sampai dengan sekarang dimana harga daging sapi secara nasional tahun 2012-2016 mengalami kenaikan dari Rp 81.200/kg menjadi Rp 105.217/kg.Tulisan ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif dimulai dengan (i) menganalisis rantai pasok daging sapi, (ii) menganalisis potensi perdagangan sapi, (iii) memetakan daerah surplus dan daerah defisit dalam perdagangan sapi antar provinsi/pulau. Selanjutnya tulisan ini (iv) menganalisis potensi dan kinerja kapal angkutan khusus ternak,biaya transportasi yang digunakan untuk mengangkut sapi dari NTT ke Jakarta, dan membandingkan antara biaya distribusi pengangkutan secara kovensional dan pengangkutan menggunakan kapal ternak.Kapal ternak yang dimaksud adalah kapal yang menjadi program pemerintah melalui Tol Laut. Data yang digunakan dalam penulisan ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari literatur-literatur sebelumnya, data dari Kementerian Perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian dan berbagai media massa baik cetak maupun elektronik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rantai Pasok Daging Sapi Berdasarkan penelitian Hadi (2009), rantai pasok daging sapi ditunjukkan pada Gambar 1. Peternak pada umumnya menjual sapinya kepada pengumpul atau biasa disebut “blantik”.Dalam hal ini, pihak pedagang mendatangi rumah petani, dan biasanya seluruh biaya yang terkait dengan jual- beli sapi (angkutan, restribusi) ditanggung oleh pedagang tersebut atau

80

rumah potong hewan (RPH). Pihak yang menanggung biaya angkutan tergantung kesepakatan di antara kedua belah pihak. Apabila ternak sapi dijual keluar provinsi/pulau lain, maka sebelum sapi sampai ke tangan jagal, perlu melewati pedagang sapi antar kabupaten dan/atau pedagang sapi antar provinsi/pulau. Misalnya sapi yang berasal dari NTT, NTB atau Bali harus melewati pedagang antar provinsi/pulau yang membawa sapi ke provinsi/pulau lain, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat dan lain lain. Sapi yang sudah berada di tangan suplier/jagal kemudian dipotong di RPH yang ada di daerah dimana suplier/jagal itu berada. Sebagian besar daging dijual ke pasar modern, restoran dan hotel di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Pedagang pengecer di pasar tradisional kemudian menjual daging ke konsumen akhir dan industri pengolahan berskala rumah tangga (pembuat bakso, warung makan dan katering) (Hadi, 2009).

Potensi Perdagangan Sapi Antar Wilayah Barat dan Timur Indonesia Setelah mengetahui alur rantai pasok daging sapi yang ditujukan ke pasar provinsi/pulau lain dengan melibatkan pedagang antar pulau, selanjutnya kita akan menganalisis potensi perdagangan antar pulau terutama perdagangan antar wilayah sentra produksi di bagian timur Indonesia (NTT, NTB dan Sulawesi Selatan) dengan wilayah sentra konsumsi di bagian barat Indonesia (Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta). Kebutuhan daging sapi di Indonesia sebagian Besar (86%) masih dipenuhi dari produksi dalam negeri, dan sisanya diperoleh dari impor (BP2KP 2014). Pemenuhan dari impor dapat berupa daging, sapi bakalan atau sapi indukan. Sentra produksi sapi di Indonesia cenderung tersebar di beberapa wilayah, sementara sentra konsumsi sebagian besar terdapat di pulau jawa (Ilham dan Yusdja 2004).

Peran Kapal Ternak dalam Memperlancar

, Avif Haryana,Yati Nuryati

Daerah sentra konsumsi diidentifikasi sebagai daerah defisit dalam kegiatan perdagangan sapi antar provinsi, sedangkan daerah produksi diidentifikasikan sebagai daerah surplus

periode 2011-2015 mencatat pemasukan sapi sebanyak 3,3 juta ekor atau sebesar 55,6% dari total pemasukan sapi seluruh provinsi di Indonesia. Perhitungan pemasukan sapi

dalam kegiatan perdagangan sapi antar

di

sentra konsumsi ini dihitung

provinsi. Berdasarkan data dari Ditjen

berdasarkan data yang ada pada Tabel

Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, sentra konsumsi utama daging sapi di Indonesia sebagian

1.Selama tahun 2015 jumlah pemasukan sapi lokal ke Jawa Barat sebesar 350.216 ekor, Banten sebanyak 278.825

besar terletak di wilayah barat Indonesia

ekor

dan DKI Jakarta sebanyak 97.894

yaitu di provinsi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Ketiga provinsi ini pada

ekor.

Banten dan Jawa Barat. Ketiga provinsi ini pada ekor. Sumber: (Hadi, 2009) Gambar 2 Rantai Pasok

Sumber: (Hadi, 2009)

Gambar 2 Rantai Pasok Daging Sapi

Tabel 1 Pemasukan dan Pengeluaran Sapi di Provinsi Sentra Konsumsi (daerah defisit) Provinsi Sentra Pengeluaran
Tabel 1 Pemasukan dan Pengeluaran Sapi di Provinsi Sentra
Konsumsi (daerah defisit)
Provinsi Sentra
Pengeluaran Sapi
Pemasukan Sapi
Defisit
No.
Konsumsi
2011-2015 (ekor)
2011-2015 (ekor)
(ekor)
1
Jawa Barat
444,232
1,729,242
-1,285,010
2
Banten
320,201
1,178,025
-857,824
3
DKI Jakarta
0
396,571
-396,571
4
Kalimantan Timur
210
330,944
-330,734
5
Sumatra Utara
37,479
228,871
-191,392
6
Aceh
88,848
264,644
-175,796
7
Riau
5,446
148,669
-143,223
8
Sumatra Selatan
206,456
320,069
-113,613
9
Kalimantan Barat
5
79,513
-79,508
10
Prov. Lainnya
909,244
1,268,341
-359,097
Jumlah
2,012,121
5,944,889
-3,932,768

Sumber:Kementan (2015), diolah

81

Jurnal Pusdiklat Perdagangan, VOL 2 No.1, JULI 2016 : 78 - 85

Tabel 2 Pengeluaran dan Pemasukan Sapi di Provinsi Sentra Produsen (daerah surplus)

No

Provinsi Sentra

Pengeluaran Sapi

Pemasukan Sapi

Surplus

Produksi

2011-2015 (ekor)

2011-2015 (ekor)

(ekor)

1

Jawa Timur

884,725

2,372

882,353

2

Bali

319,378

0

319,378

3

Nusa Tenggara Timur

288,305

119

288,186

4

Nusa Tenggara Barat

150,178

0

150,178

5

DI Yogyakarta

231,435

99,705

131,730

6

Lampung

843,346

731,829

111,517

7

Sulawesi Selatan

74,562

3,908

70,654

8

Gorontalo

74,307

63,742

10,565

9

Sulawesi Barat

12,397

6,808

5,589

10

Maluku

670

0

670

 

Jumlah

2,878,633

908,483

1,970,820

Sumber: Kementan (2015), diolah

Adapun sentra produksi utama daging sapi di Indonesia terletak di provinsi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), D.I Yogyakarta, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dalam penelitian ini sentra produksi yang akan dianalisis adalah provinsi NTT dan NTB dimana provinsi ini termasuk dalam rute kapal ternak KM Camara Nusantara

I.

Pada kurun waktu 2011-2015 NTT dan NTB menyumbang 8,69 persen dari total pengeluaran sapi ke provinsi lain Perhitungan pengeluaran sapi di NTT dan NTB dihitung berdasarkan data pada Tabel 2. Jumlah total pengeluaran sapi yang berasal dari kedua wilayah tersebut sebanyak 438.483 ekor sapi hidup atau setara dengan 7.883 ton daging. Namun pasokan sapi yang berasal dari NTB dan NTT untuk mencukupi kebutuhan daging sapi di DKI jakarta, Banten dan Jawa Barat masih kurang. Kebutuhan nasional selama tahun 2016 diperkirakan sebesar 2,61 kg/tahun atau sebanyak 674.690 ton, dimana kebutuhan daging sapi di DKI Jakarta, Banten dan JawaBarat sekitar 900.000 ekor sapi hidup/tahun atau setara dengan 179.100 ton/tahun 1 .

1 Kebutuhan daging sapi nasional tahun 2016 menurut paparan yang disampaikan pada Rapat koordinasi terbatas (Rakortas) 14 Januari 2016 dan Kebutuhan di DKI Jakarta, Banten dan JawaBarat hasil diskusi dengan Asosiasi.

82

Kekurangan ini harus dipenuhi dari impor. Tingginya kebutuhan daging sapi di ketiga Propinsi tersebut dikarenakan untuk mencukupi kebutuhan industri, hotel, restoran dan katering.Perhitungan pengeluaran sapi tersebut dihitung berdasarkan data pada Tabel 2.

Tabel 3 Jumlah Ternak Sapi 2015 Jumlah Ternak Sapi 2015 (ekor) % Thd Provinsi Populasi
Tabel 3 Jumlah Ternak Sapi 2015
Jumlah Ternak Sapi
2015 (ekor)
% Thd
Provinsi
Populasi
Sentra Produksi
Jawa Timur
4,326,261
27.92%
Sulawesi Selatan
1,340,540
8.65%
NTB
1,046,772
6.76%
NTT
902,326
5.82%
Lampung
598,740
3.86%
Bali
570,436
3.68%
DI Yogyakarta
322,775
2.08%
Gorontalo
194,593
1.26%
Maluku
102,873
0.66%
Sulawesi Barat
85,561
0.55%
Sentra Konsumsi
DKI Jakarta
2,129
0.01%
Banten
57,156
0.37%
Kalimantan Timur
141,855
0.92%
Kalimantan Barat
158,945
1.03%
Riau
242,205
1.56%
Sumatra Selatan
261,515
1.69%
Jawa Barat
447,999
2.89%
Aceh
536,930
3.47%
Sumatra Utara
666,496
4.30%
Prov. Lainnya
3,488,181
22.51%
Total Indonesia
15,494,288
100.00%

Sumber: (BPS, 2016)

Peran Kapal Ternak dalam Memperlancar

, Avif Haryana,Yati Nuryati

Jumlah populasi ternak sapi di setiap provinsi sentra produksi pada umumnya relatif lebih banyak dari pada jumlah populasi ternak sapi di tiap provinsi sentra konsumsi sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3. Selain dari NTT dan NTB, kedepannya, Pemerintah merencanakan pengiriman sapi dari provinsi lain yaitu Lampung, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Hal ini sesuai dengan potensi produksi dan pengeluaran sapi di provinsi-provinsi tersebut. Pemerintah berharap pengusaha ternak di kelima provinsi tersebut mampu mengirimkan sapi minimal dua kali dalam sebulan ke DKI Jakarta dan sekitarnya. Demi menjaga populasi di sentra produksi, sapi betina produktif dilarang diangkut ke kapal khusus ternak. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah sapi betina dipotong di rumah pemotongan hewan (RPH) (Kompas, 2016).

Kinerja Kapal Khusus Pengangkut Ternak

Pengiriman ternak dari NTT dan NTB tidak diperkenankan diangkut melalui jalan darat melintasi Bali sehingga harus diangkut terlebih dahulu menggunakan kapal laut yang bukan didesain khusus untuk mengangkut ternak menuju pelabuhan laut Surabaya (Media Indonesia, 2016a). Setelah kapal sampai di Surabaya selanjutnya sapi diturunkan dari kapal dan dinaikkan ke truk untuk dikirim ke DKI Jakarta dan sekitarnya melalui jalan darat. Dalam mendatangkan sapi dari NTT, saat ini ada beberapa perusahaan yang terlibat dengan memanfaatkan angkutan khusus kapal ternak. Perusahaan tersebut diantaranya PT Berdikari (persero), PD Dharmajaya, PT Sarjana Membangun Desa (SMD), PT HD Dinamis Sejahtera dan PT Great Glory Farms. PT Berdikari merupakan BUMN yang lebih fokus dalam pengadaan sapi dari dalam negeri dibanding dari impor. Pada dua bulan pertama tahun 2016 PT Berdikari telah membeli 350 ekor sapi dari peternak di NTT dan NTB dengan harga Rp32000,00 per kg – Rp33000,00 per kg

83

dalam kondisi hidup di tempat karantina(Kontan, 2016a).

Selama 4,5 bulan beroperasi sejak

di launching November 2015, Kapal

Ternak KM Camara Nusantara I sudah melakukan tujuh kali pemberangkatan dengan rute NTT-Jakarta dengan jumlah total angkutan sapi sebanyak 2.979 ekor sapi yang dikirim sebagian besar dikirim ke Jakarta dan Cirebon dan sebagian lagi dikirim ke Surabaya.

Tabel 4 Kinerja Angkut Kapal KM Camara Nusantara I Tahun 2016 Jumlah Pasokan Ke Tujuan
Tabel 4 Kinerja Angkut Kapal KM Camara
Nusantara I Tahun 2016
Jumlah
Pasokan Ke Tujuan
No.
Tanggal
Rute
angkut
Jakarta
Cirebon
Surabaya
1
02/02/2016
NTT-JKT
500
300
167
33
2
16/02/2016
NTT-JKT
500
400
100
0
3
01/03/2016
NTT-JKT
500
450
50
0
4
15/03/2016
NTT-JKT
480
413
67
0
Sumber:
Media
Indonesia
(2016b);
(FLPI,2016)

Pemerintah mewajibkan bagi perusahaan pengguna kapal ternak untuk menjual paket daging sapi pada kisaran

paling mahal Rp 90.000,00 per kg. Harga

ini lebih rendah dari harga di pasaran

yang mencapai Rp120.000,00 per kg. Harga sapi hidup di pelabuhan kupang

sekitar Rp 34.000,00 per kg, dan estimasi harga sapi di pelabuhan Tanjung Priok Rp 40.000,00 per kg. Selanjutnya dipasarkan

ke konsumen dengan harga Rp85.000-

Rp90.000 per kg (Harian Terbit, 2016). PT Berdikari selaku pengguna kapal ternak pada bulan Februari melakukan penjualan daging kepada masyarakat dengan harga Rp 85.000 per kg yang diselenggarakan di acara car free day (CFD) di Jakarta dan Bogor. Berdasarkan informasi dari kementerian Pertanian, kapal pengangkutan sapi dengan kapal ternak ternak lebih efisien dibandingkan dengan pengangkutan konvensional dari sisi waktu, biaya, susut berat sapi, dan banyaknya rantai yang dilalui sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5. Sebelum ada kapal ternak, dari NTT sapi diangkut menggunakan kapal kargo atau kapal penumpang ke Surabaya, lalu

Peran Kapal Ternak dalam Memperlancar

, Avif Haryana,Yati Nuryati

dilanjutkan dengan menggunakan truk dari Surabaya ke Jakarta. Pengangkutan sapi konvensional tersebut membutuhkan waktu dua bulan, sedangkan dengan kapal ternak waktu pengiriman dari NTT ke Jakarta bisa dipangkas sangat signifikan menjadi 1 minggu saja. Waktu yang lebih singkat membuat susut bobot sapi berkurang secara signifikan dari 8-11 persen bobot hidup menjadi hanya susut 2-5 persen bobot hidup, dengan kisaran bobot sapi dari NTT adalah 200 kg – 500 kg. Selain itu desain kapal angkutan sapi yang memenuhi standar internasional membuat sapi yang diangkut ketika sampai di lokasi pengiriman lebih sehat dan tidak stres sebagaimana jika diangkut dengan truk. Dari segi biaya pengangkutan, kapal ternak bisa menghemat biaya sekitar 25%. Dengan kapal ternak, sapi langsung diangkut ke Jakarta, tidak perlu diturunkan di Surabaya dan diangkut dengan truk ke Jakarta. Dengan jalur konvensional biaya yang dikeluarkan adalah 1,5 juta/ ekor, sedangkan bila menggunakan kapal ternak biayanya 1,1 juta/ ekor. Tarif kapal ternak per ekor sapiRp320.000/ekor ditambah dengan biaya angkut dari lokasi peternakan ke pelabuhan menggunakan truk, biaya karantina dan biaya perizinan, maka totalnya menjadi 1,1 juta per ekor sapi. Biaya dan waktu pengiriman juga semakin turun seiring berkurangnya pos periksaan dari 8-13 titik menjadi hanya 4 titik.

Tabel 5 Perbandingan Pengangkutan Kapal Ternak vs Konvensional Cara Pengangkutan Uraian Konvensional Kapal Ternak
Tabel 5 Perbandingan Pengangkutan
Kapal Ternak vs Konvensional
Cara Pengangkutan
Uraian
Konvensional
Kapal Ternak
Waktu
1,5 - 2 bulan
1
minggu
Biaya
Rp1.500.000,-
Rp 1.100.000
Susut
8-11% (22 kg)
2-5%
Pos pemeriksaan
8-13 titik
4
titk

Sumber:Kompas (2015b); Detik Finance (2015); Detik Finance (2016b); (Trobos, 2016)

Kementerian Perhubungan telah menandatangani kontrak pembuatan lima unit kapal ternak dengan PT Adiluhung SI dan PT Bahtera Bahari Shipyard. Nilai Kontrak untuk kelima unit kapal itu sekitar Rp294,9 miliar untuk periode 2015-2017.

84

Pemerintah mengharapkan dengan adanya pengangkutan sapi dengan kapal ternak lambat laun akan membuat harga daging sapi lebih murah (Kompas, 2015a). Pada tahun 2016 pemerintah menambah pesanan dua buah kapal ternak sehingga total kapal yang telah dipesan sebanyak 7 buah kapal ternak dengan harga per unitnya mencapai Rp 60 miliar. Sampai dengan bulan April 2016, fasilitas kapal ternak belum bisa membawa efek apapun terhadap harga daging sapi di Jakarta. Berdasarkan survei harga komoditas yang dirilis Kementerian Perdagangan per 11 April 2016, harga daging sapi di Jakarta Masih stabil tinggi pada tingkat Rp 112.273 per kg.Hal ini terjadi karena kebutuhan sapi di Jabodetabek mencapai rata-rata 500 ekor perhari. Jika kapal ternak hanya bisa mengangkut 1000 ekor dalam sebulan, maka jumlah tersebut hanya setara kebutuhan dua hari saja (Kontan, 2016b)

SIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, mekanisme pengangkutan sapi hidup dengan menggunakan kapal ternak cukup efektif bila dibandingkan dengan sistem pengangkutan secara konvensional. Hal ini dapat dilihat dari biaya, waktu pengiriman dan susut bobot sapi di tempat tujuan pengiriman serta jumlah titik biaya dan pemeriksaan. Pasokan sapi hidup yang berasal dari NTT dan NTB dengan menggunakan kapal ternak dapat memperpendek rantai pasok distribusi sapi hidup, namun belum efektif dapat menekan harga di tingkat konsumen akhir (dikonsumsi dalam bentuk daging segar), khususnya di pasar

tradisional. Pemanfaatan kapal ternak akan menjadi lebih efektif dalam menekan

harga daging sapi di pasaran perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu kontinuitas pengangkutan sapi hidup, frekuensi keberangkatan kapal yang lebih banyak, serta penambahan daerah sumber pasokan sapi yang potensial selain dari NTT dan NTB seperti dari Sulawesi Selatan, Bali, Lampung dan

Jawa

timur.

Peran Kapal Ternak dalam Memperlancar

, Avif Haryana,Yati Nuryati

DAFTAR PUSTAKA

Bisnis Indonesia. 2015. “Pemerintah Diminta Awasi Kapal Ternak.” Agribisnis, 17 Desember. BP2KP. 2013. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi harga Eceran Daging Sapi. Kementerian Perdagangan. BP2KP. 2014. "Outlook Komoditi Daging Sapi." BPS. 2016. "Badan Pusat Statistik." Populasi Sapi Potong menurut Provinsi, 2009- 2015. Diakses Juni 17, 2016. http://bps.go.id/linkTableDinamis/view/id

/1016.

Detik Finance. 2016b. Ekonomi Bisnis. Januari 5. Diakses Mei 22, 2016.

http://finance.detik.com/read/2016/01/05

/134002/3111007/4/.

Detik Finance. 2015. Ekonomi BIsnis. Desember 1. Diakses Juni 20, 2016.

http://finance.detik.com/read/2015/12/01

/185524/3085363/4/biaya-lebih-murah-

kapal-khusus-sapi-pangkas-distribusi-

hingga-50.

Detik Finance. 2016a. Ekonomi Bisnis. April.

Diakses Mei 20, 2016.

http://finance.detik.com/read/2016/04/17

/103502/3189726/4/45-bulan-berlayar-

kapal-ternak-telah-angkut-2979-sapi.

FLPI. 2016. “Forum Logistik Peternakan Indonesia.” 24 Maret. Diakses Mei 22, 2016. http://flpi-

alin.net/sites/default/files/bahan%20pe

manfaatan%20kapal%20ternak_sistem

%20logistis%20peternakan_IPB.pdf

Hadi, Prajogo U. 2009. “Dinamika Pemasaran Sapi Bali di Indonesia Timur: Tinjauan

Makro.” Seminar Nasional Pengembangan Sapi Bali Berkelanjutan Dalam Sistem Peternakan Rakyat. Harian Terbit. 2016. “Mentan: Harga Daging Rp 85 Ribu per Kg.” Bisnis, 22 Februari. Ilham, Nyak, dan Yusmichad Yusdja. 2004. “Sistem Transportasi Perdagangan Ternak Sapi dan Implikasi Kebijakan di Indonesia.” Analisis Kebijakan Pertanian 37-53. Kementan. 2013. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2013. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. Kompas. 2016. "Efektivitas Kapal Ternak Beri Harapan Baru." Ekonomi, Februari 10. Kompas. 2015a. “Harga Sapi Lebih Rendah.” Ekonomi, 12 Desember. Kompas. 2015b. “Menata Struktur Pasar.” Rubrik Ekonomi, 8 Desember. Kontan. 2016a. "Berdikari Siap Memborong 250 Ekor Sapi asal NTT dan NTB." Industri, Februari 11. Kontan. 2016b. “Sapi NTT Tak Mampu Tekan Harga Daging.” Rubrik Peternakan, 12

April. Media Indonesia. 2016a. “Pengiriman Sapi Belum Berjalan.” Pangan, 25 Januari. Media Indonesia. 2016b. “Distribusi Pangan akan Diubah.” Rubrik Ekonomi, 10 Februari. Trobos. 2016. Agri Ternak. Januari 1. Diakses Mei 22, 2016.

http://www.trobos.com/detail-

berita/2016/01/01/8/6965/pelayaran-

perdana-kapal-khususternak.

World Bank. 2013. State of Logistics

Indonesia

2013.

85