Anda di halaman 1dari 28

Page | 1

BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR BELAKANG
Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan
kesehatan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien. Farmasi rumah sakit
bertanggung jawab terhadap semua barang farmasi yang beredar di rumah sakit tersebut.
Tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan farmasi, mengharuskan adanya perubahan
pelayanan dari paradigma lama (drug oriented) keparadigma baru (patient oriented) dengan
filosofi pharmaceutical care atau pelayanan kefarmasian (Depkes RI, 2004).
Peran farmasis dalam farmasi klinis antara lain mengkaji instruksi pengobatan atau resep
pasien; mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan obat atau
alatkesehatan; memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat kesehatan;
memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien/keluarga; memberikan konseling
kepada pasien/keluarga; melakukan penanganan obat kanker; melakukan penentuan kadar obat
dalam darah; melakukan pencatatan setiap kegiatan dan melaporkan setiap kegiatan (Depkes RI,
2004). Salah satu hal yang efektif dalam pemantauan terapi obat adalah dengan melakukan
kunjungan secara langsung kepada pasien (visit). Visite merupakan kegiatan kunjungan kepasien
rawat inap baik visite mandiri maupun bersama tim dokter dan tenaga kerja lainnya. Tujuannya
adalah menilai rasionalitas penggunaan obat. Penilaian rasionalitas penggunaan obat meliputi 4
T+1 W yaitu tepat pasien,tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis dan waspada efek samping.
Beberapa penelitian menunjukkan dampak positif dari pelaksanaan kegiatan visite pada aspek
humanistic (contoh : peningkatan kualitas hidup pasien, kepuasan pasien), aspek klinik (contoh :
perbaikan tanda-tanda klinik, penurunan kejadian reaksi obat yang tidak diinginkan, penurunan
morbiditas dan mortalitas, penurunan lama hari rawat), serta aspek ekonomi (contoh :
berkurangnya biaya obat dan biaya pengobatan secara keseluruhan).
Hubungan antara diabetes dan gangrene telah dikenal sejak lama. Pada tahun 1887 Pryce,
Ahli bedah dari inggris menggambarkan seorang penderita diabetes yang menderitan europati
perifer dan kemudian mengalami ulkus di plantar pedis. Dia menyimpulkan bahwa diabetes

Page | 2

sendiri dapat menyebabkan ulkus. Pada tahun 1934 Joslin juga melaporkan bahwa gangrene
merupakan ancaman bagi para penderita diabetes. Gangrene diabetic adalah merupakan suatu
bentuk dari kematian jaringan pada penderita diabetes mellitus oleh karena berkurangnya atau
terhentinya aliran darah ke jaringan. Walaupun diabetes mellitus merupakan penyakit kronik
yang tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila
pengelolaannya tidak tepat. Pengelolaan DM memerlukan penanganan secara multidisiplin yang
mencakup terapi non-obat dan terapi obat. Oleh karena itu, pentingnya peran farmasis dalam
keberhasilan penatalaksana diabetes ini.
Studi pengkajian penggunaan obat secara rasional dilaksanakan di ruang rawat inap pulau
bintan Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintohardjo.
1.2 TUJUAN
Tujuan dilakukan studi kasus ini adalah :
1. Meningkatkan rasionalitas penggunaan obat di RUMKITAL Dr. Mintohardjo.
2. Memberikan pemahaman dan motivasi kepada pasien untuk mematuhi terapi yang telah
ditetapkan oleh dokter.
3. Memonitoring efek samping obat.

Page | 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Standar Pelayanan Farmasi Rumah Sakit
Sesuai dengan SK Menkes Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan
Rumah Sakit bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien,
penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua
lapisan masyarakat. Farmasi rumah sakit bertanggung jawab terhadap semua barang farmasi
yang beredar di rumah sakit tersebut.
Tujuan pelayanan farmasi adalah :
a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan biasa maupun dalam
keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun fasilitas yang tersedia.
b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan professional berdasarkan prosedur kefarmasian dan
etik profesi.
c. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai obat.
d. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.
e. Melakukan dan memberikan pelayanan bermutu melalui analisa. Telaah dan evaluasi
pelayanan.
f. Mengawasi dan member pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan.
g. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metoda.
2.2 Pelayanan Farmasi Klinik
A. Definisi
Pelayanan farmasi klinik adalah pelayanan farmasi yang diberikan sebagai bagian dari
perawatan penderita melalui interaksi dengan profesi kesehatan lainnya yang secara langsung
terkait dengan perawatan penderita. Ruang lingkupnya meliputi pengkajian order obat,
pengambilan sejarah pengobatan penderita, partisipasi dalam kunjungan ke ruang perawatan
penderita, pembuatan profil pengobatan penderita (P3), pemantauan terapi obat (PTO),
pendidikan dan konseling bagi penderita, pelayanan informasi obat bagi profesi kesehatan,

Page | 4

peran dalam program jaminan mutu. Evaluasi penggunaan obat (EPO), pemantauan reaksi
obat yang merugikan (MESO), pelayanan total parenteral nutrition.
B. Interview Riwayat Pengobatan
Interview pengobatan adalah kegiatan komunikasi dengan pasien dan atau keluarga untuk
memperoleh riwayat pengobatan yang berguna bagi penyusun data base pelayanan
kefarmasian. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk memperoleh informasi khususnya
aspek penggunaan obat yang dapat digunakan dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian.
C. Pengkajian Resep
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan ketepatan ataupun kerasionalan order
obat, dalam konteks ini tidak hanya berupa resep, namun lebih ditekankan lagi pada
permintaan obat dan dokter yang mungkin ditulis dengan format lain seperti order obat pada
kartu pengobatan (medical record).
D. Seleksi Produk Obat
Fungsi seleksi obat biasanya dilaksanakan oleh dokter sedangkan apoteker menyediakan
guidance dan rekomendasi dalam bentuk informasi dan opini yang sering kali mempengaruhi
penulisan resep. Tujuan yang ingin dicapai adalah optimisasi kualitas pelayanan pasien dan
outcome klinik, promosi penggunaan obat secara berkualitas, memastikan bahwa seleksi obat
mengikuti formularium, ketersediaan dan keterbatasan obat.
E. Monitoring Produk Obat
Monitoring penggunaan obat merupakan kegiatan pemantauan terapi obat yang diberikan
kepada pasien yang spesifik dan terdiri atas beberapa kegiatan, yaitu :
1) Pemantauan efektifitas obat
Menilai dengan kondisi klinik pasien, menilai parameter laboratorium, manila hasil
observasi tanda vital terkait dengan parameter efektifitas.
2) Pemantauan dan monitoring efek samping obat
Apoteker berperan dalam mencegah, mendeteksi, menilai dan mengelola efek
samping obat (ESO). Penekanan terletak terhadap pencegahan supaya reaksi obat
berlawanan tidak terjadi ataupun pencegahan agar tidak terulang lagi. Kegiatan

Page | 5

pemantauan reaksi obat yang merugikan merupakan bagian dari kegiatan tim farmasi
dan terapi, yang lebih dikenal dengan istilah Monitoring Efek Samping Obat
(MESO). Laporan tersebut dikirim kepada tim MESO panitia farmasi dan terapi
untuk diverifikasi, dianalisa dan dievaluasi. Kegiatan MESO nasional untuk
dilakukan tindak lanjut berupa regulasi, feedback kepada pelapor).
3) Terapeutik Drug Monitoring (TDM)
Tujuan yang ingin dicapai adalah mengoptimalkan terapi obat dengan menggunakan
informasi TDM dikaitkan dengan efek terapeutik obat.
4) Manajemen interaksi obat
Tujuan yang ingin dicapai adalah mengidentifikasi pasien yang mempunyai resiko
tinggi terhadap interaksi obat, mengenai secara dini interaksi obat yang terjadi, serta
mengambil tindakan untuk menghindarkan kejadian interaksi yang berulang.
5) Konseling obat
Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk menyediakan informasi yang ditujukan untuk
menghimbau penggunaan obat secara aman sehingga dapat meningkatkan outcome
terapi. Instalasi farmasi rumah sakit mengadakan pelayanan konseling penderita yang
merupakan suatu proses sistemik untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah
pasien yang berkaitan dengan pengambilan dan penggunaan obat. Kegiatan pelayanan
ini diutamakan untuk pasien bertanggung jawab atas obatnya sendiri.
2.3 Praktik Visite
Praktik visite yang dilakukan oleh apoteker bertujuan untuk :
1. meningkatkan pemahaman mengenai riwayat pengobatan pasien, perkembangan kondisi
klinik dan rencana terapi secara komprehensif.
2. Memberikan informasi mengenai farmakologi, farmakokinetika, bentuk sediaan obat,
rejimen dosis dan aspek lain terkait terapi obat pada pasien.
3. Memberikan rekomendasi sebelum keputusan klinik ditetapkan dalam hal pemilihan
terapi, implementasi dan monitoring terapi.
4. Memberikan rekomendasi penyelesaian masalah terkait penggunaan obat akibat
keputusan klinik yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Sebelum memulai praktik visit diruang rawat, seorang apoteker perlu membekali diri dengan
berbagai pengetahuan minimal : patofisiologi, terminology medis, farmakokinetika, farmakologi,
farmakoterapi, farmakoekonomi, farmakoepidemiologi, pengobatan berbasis bukti. Selain itu,

Page | 6

diperlukan kemampuan interpretasi data laboratorium dan data penunjang diagnostic lain ;
berkomunikasi secara efektif dengan pasien dan tenaga kesehatan lain. Praktik visit
membutuhkan persiapan dengan memperhatikan hal-hal berikut :
i.
ii.
iii.

Seleksi pasien
Pengumpulan informasi penggunaan obat
Pengkajian masalah terkait obat

2.4 Gangrene Diabetik


Gangren diabetik adalah merupakan suatu bentuk dari kematian jaringan pada penderita
diabetes mellitus oleh karena berkurangnya atau terhentinya aliran darah ke jaringan tersebut.
Gangren diabetik merupakan suatu komplikasi jangka panjang dari penyakit diabetes. Telah
dilaporkan bahwa penderita diabetes lima kali lebih banyak terhadap resiko penderita gangren.
Kelainan ini didasarkan atas gangguan aliran darah perifer (angiopati diabetik perifer), gangguan
syaraf perifer (neuropati diabetik perifer) dan infeksi. (Kevin, 1999)
Gangren merupakan suatu komplikasi kronik dari diabetes yang paling ditakuti. Hasil
pengelolaan dari gangrene sering mengecewakan baik bagi dokter pengelola maupun penyadang
diabetes dan keluarga. Sering gangrene diabetes berakhir dengan kecacatan dan kadang-kadang
sampai terjadi suatu kematian (Burke, 2002).
2.5 Klasifikasi dari gangrene
Suatu klasifikasi mutakhir dianjurkan oleh International Working Group on Diabetic Foot
(Klasifikasi PEDIS) ini akan dapat ditentukan kelainan apa yang lebih dominan, vascular, infeksi
atau neuropatik sehingga arah dari pengelolaan pun dapat tertuju dengan lebih baik. Suatu
klasifikasi lain yang sangat praktis dan sangat erat dengan pengelolaan adalah klasifikasi yang
berdasarkan pada perjalanan alamiah gangrene diabetes (Edmonds 2004-2005)
-

Stage 1
Stage 2
Stage 3
Stage 4
Stage 5
Stage 6

: Normal foot
: High risk foot
: Ulcerated foot
: Infected foot
: Necrotic foot
: Unsalvable foot

Page | 7

Untuk stage 1 dan 2 peran pencegahan primer sangat penting dan semuanya dapat
dikerjakan pada pelayanan kesehatan primer.
Untuk stage 3 dan 4 kebanyakan sudah memerlukan perawatan ditingkat pelayanan
kesehatan yang lebih memadai umumnya sudah memerlukan pelayanan spesialistik.
Untuk stage 5 dan 6 jelas merupakan kasus rawat inap dan jelas sekali memerlukan suatu
kerja sama tim yang sangat erat dimana harus ada dokter bedah utamanya bedah vascular/
ahli bedah plastic dan rekonstruksi. Untuk optimalisasi pengelolaan gangrene diabetes pada
setiap tahap harus diingat berbagai factor yang harus dikendalikan yaitu :
-

Mechanical control Presure control


Metabolic control
Vascular control
Education control
Wound control
Microbiogical control infection control. (Edmonds & Foster, 1996)

Klasifikasi gangrene menurut Wagner


Grade 0
Grade 1
Grade 2

Tidak ada luka


Ulkus dengan infeksi yang superficial
Ulkus yang lebih dalam sampai ke tendon dan tulang tetapi terdapat infeksi

Grade 3

yang minimal
Ulkus yang lebih dalam sampai ke tendon, tulang dan terdapat abses dan

Grade 4

osteomyelitis
Ulkus dan menimbulkan gangrene local pada jari-jari kaki atau kaki bagian

Grade 5

depan
Lesi/ulkus dengan gangrene diseluruh kaki

Klasifikasi menurut texas

B
C

0
Tidak ada luka

Infeksi
Iskemik

1
Luka superficial

Infeksi
Iskemik

2
3
Luka sampai tendon, Luka

dengan

kapsul sendi dan tulang

abses, selulitis,

Infeksi
Iskemik

atau sepsis sendi


Infeksi
Iskemik

Page | 8

Infeksi
iskemik

dan Infeksi

dan Infeksi dan iskemik

iskemik

Infeksi

dan

iskemik

Infeksi sering menjadi penyulit dari gangrene. Gangrene ini merupakan penyebab
masuknya bakteri dan sering polimikrobial yang menyebar dengan cepat dan dapat
menyebabkan kerusakan berat dari jaringan. Pengerusakan dari jaringan ini menjadi alasan
utama untuk melakukan suatu tindakan amputasi. Amputasi ini bukanlah merupakan suatu
konsekuensi dari penyakit vaskuler ataupun neuropati yang tidak dapat dielakkan,
pengenalan secara dini dan dengan cepat dalam suatu pencegahan serta penentuan dari suatu
obat yang tepat dan intensif terhadap suatu komplikasi dari pada gangrene akan dapat
mengurangi jumlah dari suatu tindakan amputasi dari penderita diabetes dengan gangrene
(Piliang, 1999).
Pada suatu keadaan infeksi gangrene biasanya disebabkan oleh suatu organism dari
sekitar kulit yang pada umumnya adalah Staphylococcus aureus ataupun Streptococcus. Jika
drainase tidak adekuat maka perkembangan sellulitis yang dapat menyebabkan sepsis untuk
menginfeksi tendon, tulang dan sendi dibawahnya. Kadang-kadang Staphylococcus aureus
ataupun Streptococcus dijumpai bersamaan dan ini dapat bergabung mengakibatkan sellulitis
yang meluas dan cepat (Parlindungan, et al, 2002)
Streptococcus mensekresikan hialuronidase yang dapat mempercepat penyebaran
distribusi necrotizing toxin dari Staphylococcus. Enzim dari bakteri ini juga angiotoxic dan
dapat menyebabkan terjadinya in situ thrombosis dari pembuluh darah. Jika pembuluh darah
mengalami thrombosis yang kemudian akan menjadi nekrotik dan gangrene, keadaan ini
mungkin akan menjadi dasar yang disebut dengan gangrene diabetic (Subekti, 2005). Kuman
gram negative aerob sama seperti kuman anaerob pada umumnya tumbuh dengan subur pada
infeksi. Kuman aerob ini akan cepat menginfeksi aliran darah dan kadang-kadang
mengakibatkan bakteriemia yang akan dapat mengancam kehidupan. Dengan mengetahui
factor yang dominan dapat diusahakan memperbaiki hasil dari pengobatan maupun
mencegah terjadinya ulkus/gangrene (Septyanti & Shahab, 2006).

Page | 9

BAB III
HASIL PENGAMATAN
3.1 Profil Pengobatan Penderita
I.
Data Klinis Pasien
Nama
: Tn. M
Status
: Kawin
Jenis Kelamin : Pria
Umur
: 59 tahun
Alamat
: Jln. Tanah Tinggi I no. 78, JakPus
Tanggal masuk : 17 april 2013
Ruangan
: Pulau Bintan
Dokter
: dr. James Towoliu, Sp.PD & dr. Okky Tjatur, Sp.PD
II.
Anamnesa Pasien
Keluhan Utama
: Luka di kaki kanan

P a g e | 10

Riwayat penyakit sekarang

: Pasien datang rujukan dari RS. Islam cempaka putih


untuk rencana HBO. Pasien datang dengan keluhan

Riwayat penyakit terdahulu

terdapat luka pada kaki kanannya.


: Riwayat DM (+)
Riwayat HT (-)
Kaki lecet 4 bulan lalu ganggren amputasi di
RSCM

III.

Pemeriksaan Umum
Keadaan umum
Kesadaran
Tinggi Badan
Berat Badan
Tekanan Darah
Nadi
Penatalaksanaan Khusus
Diagnosa Kerja

: TSS
: CM
: 170 cm
: 70 kg
: 140/70 mmHg
: 80 x menit
: Lab Lengkap
: gangrene pedis dextra

Penatalaksanaan Terapi
:
Ringer laktat tpn
Injeksi cefoperazone 3x1
Metronidazol drip 3x500 mg
Ranitidine 2x1 amp
Nonflamin 3x1 tab
Plataal 2x100 mg
Acropid 3x6 IU

P a g e | 11

P a g e | 12

P a g e | 13

P a g e | 14

P a g e | 15

P a g e | 16

P a g e | 17

P a g e | 18

IV.

Hasil Laboratorium

Pemeriksaan

Hasil

Normal

Glukotest
SGOT
SGPT
Ureum

172
11
6
57

mg% < 200


u/l P : <35 W : <31
u/l P : < 41 W : < 31
mg/dl 17 43

P a g e | 19
Kreatinin
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin (Hb)
Hematrokit (Ht)
Trombosit
Albumin
Globulin
Na
K+
Cl

1,6
20.700
3,48
9,3
29
228.000
2,8
5,0
150
4,0
113

mg/dl P : 0,9 1,3 W : 0,6 1


/uL 5,000 10,000
juta/mm3 W : 3,6 5,2
W : 12 16 a/dL P : 14 18 a/dL
% W: 38- 46 % P: 43-51 %
ribu/mm3 150 - 400
g/dl 3,5 5,2
g/dl 2,6-3,4
mmol / l 134 - 146
mmol/l 3,4 4,5
mmol/l 96 108

V. Grafik Kadar Gula Darah

Gula Darah
180
160
140 136
120
100
80

171
138

149

94

81

89

100 97
83

80

86

Gula Darah
78

60
40
20
0

3.2 Uraian Masing-masing Obat


1. Cefoperazone (KATZUNG,686 & IONI,347)
Farmakologi : obat ini lebih aktif terhadap P. aeruginosa dibandingkan dengan
sefotaksim dan moksalaktam. Waktu paruhnya sekitar 2 jam. Eksresinya terutama melalui
saluran empedu. Karena itu bila ada gangguan fungsi ginjal dosis tidak perlu diubah.
Namun, pada gangguan fungsi hati hal ini perlu mendapatkan perhatian. Kadar puncak
pada pemberian IV bervariasi dari 250 mg/mL setelah infus 2 g selama 20 menit sampai
375 mg/mL setelah suntikan bolus IV dengan jumlah yang sama. Pada pemberian IM
kadar puncak dicapai 1 jam sesudah pemberian yaitu, sekitar sepertiga atau setengah

P a g e | 20
kadar yang dapat dicapai dengan pemberian infus IV. Kadar tertinggi terdapat di dalam
empedu. Pada meningitis, kadar dalam cairan cerebrospinal dapat mencapai kadar

antibakteri. Selain itu, sefoperazon dapat melewati sawar uri.


Indikasi : infeksi saluran nafas bawah dan atas, infeksi saluran urin, peritonitis,
kolesistisis, kolangitis dan infeksi intra abdomen lainnya, septikemia, infeksi kulit dan
jaringan kulit, infeksi tulang dan sendi, penyakit inflamasi pelvis, endometritis, gonnoroe

dan infeksi saluran genital lainnya.


Peringatan : hati-hati pemakaian obat pada wanita menyusui; pemakaian obat untuk
wanita hamil hanya jika diperlukan; keamanan dan efektifitas obat pada anak-anak belum
dibuktikan. Pemakaian obat pada bayi premature dan bayi baru lahir harus

mempertimbangkan manfaat resiko pemberian obat.


Kontraindikasi : alergi terhadap antibiotic gol. Sefalosporin.
Efek Samping :Hipersensitivitas : kemerahan, makulopapular, urtikaria, eosinophilia
dan demam. Efek pada darah : penurunan neutrophil (neutropenia), pengurangan
hemoglobin dan hematocrit, eosinophilia transient, hipoprotombinemia; Hati : Penurunan
kadar alkali fosfatase, SGOT, dan SGPT ; Saluran cerna : Altered bowel habit(loose
stools dan diare), efek ini akan hilang jika terapi dihentikan; Reaksi lokal : flebitis dan

rasa nyeri pada tempat penyuntikan.


Dosis : Dewasa, 2-4 g perhari, dalam dosis terbagi, diberikan setiap 12 jam. Pada infeksi
yg berat dosis ditingkatkan menjadi total 8 g perhari dalam dosis terbagi, diberikan setiap
12 jam. Atau 12 g perhari diberikan dalam dosis terbagi setiap 8 jam, dengan dosis
maksimum 16 g perhari. Dosis untuk pengobatan uretritis gonokokal 500 mg secara
intramuscular dalam dosis tunggal. Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal dosis 24 g perhari. Bayi kurang dari 8 hari dan anak-anak, 50-200 mg/kg bb perhari diberikan
setiap 12 jam dosis dapat dinaikkan menjadi 300 mg/kg perhari untuk pengobatan
meningitis tanpa komplikasi.

2. Metronidazole (KATZUNG,552 & IONI,472)


Farmakologi : metronidazole memperlihatkan daya amubisid langsung. Pada biakan E.
histolytica dengan kadar metronidazole 1-2 g/mL, semua parasite musnah dalam waktu
24 jam. Sampai saat ini belum ditemukan amuba yang resisten terhadap metronidazole.
Metronidazole juga memperlihatkan daya trikomoniasid langsung. Pada biakan
Tricomonas vaginalis, kadar metronidazole 2,5 g/mL dapat menghancurkan 99%
parasite dalam waktu 24 jam. Trofozit Giardia lamblia juga dipengaruhi langsung
padakadar antara 1-50 g/mL. Namun, saat ini telah dilaporkan bahwa Tricomonas
vaginalis dan Giardia lamblia secara klinis resisten terhadap metronidazole. Tinidazol

P a g e | 21
memperlihatkan spectrum antimikroba yang sama dengan metronidazole. Perbedaannya
dengan metronidazole ialah masa paruhnya yang lebih panjang sehingga dapat diberikan

sebagai dosis tunggal perhari dan efek sampingnya lebih ringan dari pada metronidazole.
Farmakokinetik : absorpsi metronidazole berlangsung dengan baik sesudah pemberian
oral. Satu jam setelah pemberian dosis tunggal 500 mg peroral diperoleh kadar plasma
kira-kira 10 g/mL. umumnya untuk kebanyakan protozoa dan bakteri yang sensitive,
rata-rata diperlukan kadar tidak lebih dari 8 g/mL. Waktu paruhnya berkisar antara 8-10
jam. Pada beberapa kasus terjadi kegagalan karena rendahnya kadar sistemik. Ini
mungkin disebabkan oleh absorpsi yang buruk atau metabolism yang terlalu cepat. Obat
ini di ekskresikan melalui urin dalam bentuk asal dan bentuk metabolit hasil oksidasi dan
glukoronidasi. Urin mungkin berwarna cokelat kemerahan karena mengandung pigmen
tak dikenal yang berasal dari obat. Metronidazole juga diekskresikan melalui air liur, air
susu, cairan vagina, dan cairan seminal dalam kadar yang rendah. Masa paruh tinidazol

12-24 jam. Kadar plasma setelah 24 jam, 10 g/mL.


Indikasi : infeksi protozoa, infeksi anaerob (termasuk gigi), eradikasiHelicobacter pylori.
Peringatan : reaksi seperti disulfiram terjadi bila diberikan bersama alcohol ; gangguan
fungsi hati dan hepatic ensephalopathy; kehamilan dan menyususi (hindari penggunaan
dosis besar); bila pengobatan melebihi 10 hari, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan

klinis dan laboratorium


Efek Samping : mual, muntah, gangguan pengecapan, lidah kasar, gangguan saluran
cerna; ruam, urtikaria dan angioudem; kadang-kadang timbul rasa lesu, mengantuk
pusing, ataksia, urin berwana gelap dan anafilaksis. Neuritis perifer pada penggunaan

jangka panjang, serangan epilepsy transien; leukopenia.


Dosis : oral:
- Infeksi anaerob : (biasanya selama 7 hari). Oral, dosis awal 800 mg, kemudian
400 mg tiap 8 jam atau 500 mg tiap 8 jam. Rektal, 1 gram tiap 8 jam selama 3

hari, kemudian 1 gram tiap 12 jam. Infus intravena, 500 mg tiap 8 jam.
3. Ranitidine Inj (ISO FARMAKOTERAPI)
Golongan terapi : antitukak sub.golongan reseptor antagonis H2
Farmakodinamik : simetidine dan ranitidine menghambat reseptor H2 secara selektif dan
reversible. Perangsang reseptor H2 akan merangsang sekresi cairan lambung sehingga

pada pemberian simetidin dan ranitidine sekresi cairan lambung dihambat.


Farmakokinetik : bioavaibilitas oral yang diberikan secara oral sekitar 50% dan
meningkat pada pasien penyakit hati. Masa paruhnya kira-kira 1,7-3 jam pada orang

dewasa dan memanjang pada orang tua dan pada pasien gagal ginjal (Fater, Ed.5)
Komposisi : ranitidine injeksi 25 mg/ml

P a g e | 22

Indikasi : tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esophagitis, dipepsia episodic
kronis, tukak akibat AINS, tukak duodenum karena H.pylori, sindrom Zollinger-Ellison,

kondisi lain dimana pengurangan asam lambung akan bermanfaat.


Kontraindikasi : penderita yang diketahui hipersensitif terhadap ranitidine.
Efek samping : takikardia (jarang), agitasi, gangguan penglihatan, alopesia, nefritis

interstisial (jarang sekali).


Dosis : 50 mg (2 ml) tiap 6-8 jam.
4. Nonflamin
Indikasi : peradangan pasca bedah, cedera pada saluran kemih, peradangan akut saluran
nafas atas, lumbago, nyeri punggung, arthralgia, nyeri setelah cabut gigi, reumatik.
Efek samping : jarang, gangguan GI, mulut kering, mengantuk, gatal.
Dosis : 1-2 kapsul 3xsehari
5. Pletaal
Indikasi : mengobati gejala-gejala iskemia seperti ulkus, rasa sakit dan dingin pada

penyakit oklusi arteri kronik.


Peringatan : hati-hati pemberian pada waktu menstruasi, tendensi pendarahan, pasien
dengan terapi antikoagulan, antiplatelet (warfarin, aspirin, tiklodopin), pasien dengan
gangguan fungsi hati dan ginjal. Pemberian pada kehamilan dan menyusui tidak

dianjurkan. Keamanan pada bayi belum diketahui.


Kontraindikasi : predisposisi pada pendarahan (seperti tukak lambung aktif, stroke
hemoragik pada 6 bulan terakhir, operasi pada 3 bulan terakhir, proliperatif retinopati
akibat diabetes, hipertensi yang tidak dikontrol); riwayat takikardi ventrikel, fibrilasi
ventrikel dan multifocal ventrikel ectopics, perpanjangan interval QT, gagal jantung
kongestif; gangguan fungsi hati sedang hingga berat; gangguan fungsi ginjal; kehamilan;

menyusui.
Efek samping : sangat sering diare, kotoran tidak normal, sakit kepala; mual, muntah,
dyspepsia, perut kembung, nyeri perut; takikardi, jantung berdebar, angina, aritmia, nyeri
dada; rhinitis; pusing; ekimosis; ruam kulit; gatal; edema;, asthenia; lebih jarang gastritis,
infark miokard, gagal jantung kongesti, hipotensi postural, insomnia, kecemasan, mimpi
abnormal, dispnoea, pneumonia, batuk, reaksi hipersensitif, diabetes mellitus, nyeri otot,

gangguan fungsi ginjal.


Dosis : dewasa, 100 mg 2 kali sehari ( 30 menit sebelum atau 2 atau 2 jam setelah

makan).
6. Actrapid
Indikasi : diabetes mellitus
Peringatan : pada gagal ginjal berat, mungkin memerlukan pengurangan dosis;

kebutuhan insulin menurun; respon kompensasi terhadap hipoglikemia terganggu.


Efek samping :

P a g e | 23
-

Alcohol : meningkatkan efek hipoglikemik; meningkatkan resiko laktat asidosis


jika metformin diberikan bersama alcohol; flushing pada individu tertentu/rentan

jika klorpropamid diberikan bersama alcohol.


Analgesic : AINS dapat meningkatkan efek sulfonylurea.
Antitukak : simetidin menurunkan ekskresi metformin (meningkatkan kadar

plasma); simetidin meningkatkan efek hipoglikemik sulfonylurea.


Antibakteri : neomisin dapat meningkatkan efek hipoglikemik, efek keparahan
pada saluran cerna juga meningkat; klaritromisin juga meningkatkan efek
repaglinid;

siprofloksasin

dan

norfloksasin

dapat

meningkatkan

efek

glibenklamid; rifampisin menurunkan kadar plasma nateglinid; rifampisin dapat


memberikan efek antagonis terhadap efek hipoglikemik repaglinid; rifampisin
menurunkan kadar plasma rosiglitazone-peningkatan dosis rosiglitazone dapat
dipertimbangkan; kloramfenikol meningkatkan efek sulfonylurea; rifampisin
dapat mempercepat metabolism sulfonylurea (mengurangi efek); rifampisin
mempercepat metabolisme klorpropamid dan tolbutamid (mengurangi efek);
sulfonamide

dan trimetropim kadang meningkatkan efek sulfonylurea;

trimetropim

dapat

meningktakan

efek

hipoglikemik

repaglinid-hindari

penggunaan secara bersamaan


7. Infuse RL

Golongan terapi : elektrolit


Komposisi : setipa liter mengandung : Natrium laktat 3,10 g, Natrium klorida 6 g,

Kalium klorida 0,30 g, Kalsium klorida 0,2 g, air untuk injeksi 1000 ml.
Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi.
Kontra indikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis

laktat.
Efek samping : reaksi-reaksi yang mungkin terjadi karena larutan atau cara
pemberiannya termasuk timbulnya panas, infeksi pada tempat penyuntikan,
thrombosis vena atau flebitis yang meluas dari tempat penyuntikan, ektravaskular.
Bila terjadi reaksi efek samping, pemakaina harus dihentikan dan harus dilakukan

evaluasi pada penderita.


Dosis : infuse intarvena sesuai dengan kondisi penderita

3.3 Hasil Wawancara

P a g e | 24

a. Kondisi pasien saat wawancara : sadar, masih di infuse


b. Sebelum masuk rumah sakit
: luka pada kaki kanan
c. Keluhan selama di rumah sakit : tenggorokan sakit, sariawan, mual, muntah dan
belum BAB selama 3 minggu
d. Setelah masuk rumah sakit
- Kepatuhan minum obat
- Hasil setelah minum obat

:
: teratur
: ada perubahan

BAB IV
PEMBAHASAN
Wawancara sejarah obat dilakukan untuk memperoleh sejarah lengkap dari obat-obatan
yang diminum oleh pasien. Wawancara dilakukan pada pasien yang dirawat di ruangan

P a g e | 25

Bintan untuk menggali informasi obat-obat apa saja yang diberikan kepada pasien tersebut
setelah masuk rumah sakit yaitu dengan cara melihat rekam medik. Data yang diperoleh
kemudian dikaji apakah apakah obat yang di minum pasien menimbulkan efek samping obat
atau adakah interaksi obat antara obat yang satu dengan obat yang lainnya.
Dari hasil wawancara pasien bernama Tn. M yang dirawat sejak 18 april 2013 hingga
dilakukannya wawancara pasien masih dalam keadaan di infus. Pasien diketahui menderita
penyakit gangren diabetic yang menyebabkan salah satu kaki pasien diamputasi. Obat yang
diberikan kepada pasien yaitu obat infuse RL, ranitidine injeksi, metronidazol, cefoperazon,
nonflamin, plataal, dan acrapid.
Dimana infuse RL digunakan untuk menggantikan elektrolit yang hilang dalam tubuh
atau mencegah dari kekurangan cairan dan menambah asupan makanan. Cefoperazone
digunakan sebagai antibiotic yang merupakan golongan sefalosporin, ranitidine digunakan
untuk mengatasi tukak asam lambung dimana pengurangan asam lambung akan bermanfaat
bagi pasien. Metronidazol digunakan sebagai antiamuba. Nonflamin digunakan sebagai
analgesil golongan non opioid untuk mengatasi nyeri. Plataal digunakan sebagai antiplatelet
dan acrapid digunakan sebagai insulin.
Dari obat-obatan yang digunakan tidak menimbulkan interaksi obat sama sekali. Pada
saat melakukan wawancara dengan Tn.M, beliau mengatakan bahwa tenggorokan beliau
sakit dan sariawan. Beliau juga mengalami mual dan sudah 3 minggu belum buang air besar.
Mual yang dialami merupakan efek samping dari obat-obatan yang beliau konsumsi sehingga
dokter memberinya ranitidine injeksi agar dapat mengatasi tukak asam lambung kemudian
tenggorokan sakit dan sariawan dikarenakan beliau kurang nafsu makan sehingga tidak ada
vitamin dan nutrisi yang masuk kedalam tubuhnya. Begitupun dengan susah buang air besar
yang beliau alami dikarena beliau hanya memakan sedikit makanan sehingga tidak ada sisa
makanan (sampah) yang bisa dikeluarkan dari tubuh.
Dari grafik dapat dilihat bahwa pada awal pasien masuk rumah sakit gula darah pasien
meningkat tetapi dapat menurun dari hari kehari setelah diberi obat meskipun pada tanggal
23, 26, 28 april dan 1 mei gula darah pasien meningkat kembali. Hal tersebut mungkin
dikarenakan factor-faktor tertentu.

P a g e | 26

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

P a g e | 27

Dari hasil pengkajian obat dan wawancara pasien, maka dapat disimpulkan bahwa :
1) obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien tidak menimbulkan interaksi obat sehingga
aman bagi pasien.
2) Salah satu obat yang di konsumsi pasien menimbulkan efek samping seperti mual,
biasanya merupakan golongan analgetik. Sehingga pasien diberikan ranitidine injeksi
untuk mengatasi tukak asam lambung.
5.2 Saran
Perlu adanya penggalian informasi lebih lanjut kepada pasien, sehingga pengobatan yang
sedang dijalani pasien dapat lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association : Diagnosis and classification of Diabetes Mellitus. Diabetes Care,
2004. s5-s10.
Badan POM RI. 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Sagung seto: Jakarta

P a g e | 28

Burke A. 2002. Diabetic Foot Infection in Charles S (Ed) 2:1-10


Depkes RI, 2004. Sistem Kesehatan Nasional 2004, Jakarta
Edmonds M, Foster AVM . 1996. Diabetic Food Diabetic Complications of Diabetic, Edit by KM
Shaw. Jhon Willey & Sons Ltd. 149-178
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/MenKes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan
Rumah Sakit.
Kevin, W. 1999. Antimicrobial Therapy for Diabetic Foot Infection. 166, 85-94
MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Ed. 9. 2009/2010. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer
(Kelompok Gramedia)
Parlindungan L, Zein U et al. 2002. Pola Kuman Bakteri Anaerob dan Resistensi Antibiotik pada
Gangren Diabetik. Medan.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). 1998. Konsensus Diabetes Mellitus di
Indonesia, Jakarta, 1-25.
Piliang, S. 1999. Klasifikasi, pathogenesis dan diagnosis dalam symposium kaki diabetic. Medan. 15
Pub Med-indexed for MEDLINE. Highly resistant Pathogen in Patiens with Diabetic Foot Syndrom
with special Reference to Methycylin resistant Staphylococcus aureus, 2001. 1353-1356.
Septyanti, Shahab A. 2006. The Propile of Diabetic Gangren Patient Hospitalized in Internal
Medicine RSMH; in Kongres Nasional Perhimpunan Penyakit Dalam Indonesia XIII.
Palembang, 88-89.
Sireger, C. 2006. Farmasi Klinik Teori dan Penerapan. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta.
Subekti, I. 2005. Pathogenesis of Diabetic Neurophaty in Jakarta Diabetic Meeting. Pusat Penerbit
Departemen Penyakit Dalam FKUI. 53-60.

Beri Nilai