Anda di halaman 1dari 14

3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Variabel Penelitian
Kalau ada pertanyaan apa yang sedang diteliti, maka jawabannya berkenaan
dengan variable penelitian. Jadi variable penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu
yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh
informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Secara teoritis variable
dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau objek, yang mempunyai variasi
antara satu orang dengan orang yang lain. Atau satu objek dengan objek yang lain (Hatch
dan Farhady, 1981).
Variable dapat juga merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan
tertentu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerjamerupakan
atribut-atribut dari setiap orang.Dinamakan variable karena adanya variasi. Misalnya
berat badan dapat dikatakan variable, karena berat badan sekelompok orang itu
bervariasiantara yang satu dengan yang lain. Jadi kalau peneliti ingin memilih
variablepenelitian, baik yang dimiliki orang objek, maupun bidang kegiatan dankeilmuan
tertentu, maka harus ada variasinya.
Variable yang tidak ada variasinya bukan dikatakan sebagai variable. Untuk dapat
bervariasi, maka penelitian harus didasarkan pada sekelompok sumber data atau objek
variasi.Kerlinger (1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstruk atau sifat yang akan
dipelajari. Misalnya tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikanstatus sosial, jenis kelamin,
golongan gaji produktivitas kerja dll. Dibagianlain Kerlinger menyatakan bahwa variabel
dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda, dengan
demikian variabel itu merupakan suatu yang bervariasi. Selanjutanya Kidder (1981)
menyatakanbahwa variabel adalah suatu kualitas dimana peneliti mempelajari
danmenarik kesimpulan darinya.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa variable penelitian
adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai
variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya.
4

1. Macam-macam Variabel
Berkaitan dengan hubungan antar variabel, Sugiyono menyebutkan paling
sedikit ada lima macam variabel yaitu: variabel independen (bebas), variabel
dependen (terikat), variabel moderator, variabel perantara dan variabel kontrol.
a. Variabel independen (bebas)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi
sebab perubahan atau timbulnya perubahan pada variabel dependen (terikat).
b. Variabel Dependen (terikat)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat, karena ada variabel bebas.
Contoh hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat adalah seperti
gambar 2.3.

Kualitas Produk
(Variabel Bebas)

Keputusan Membeli
(Variabel Terikat)

Gambar 2.3: Contoh hubungan variabel bebas dan terikat


c. Variabel Moderator
Variabel moderator adalah variabel yang mempengaruhi ( memperkuat
atau memperlemah) hubungan antara variabel bebas dan terikat. Variabel ini juga
disebut variabel bebas kedua.
Contoh:
Hubungan kualitas produk dan keputusan membeli akan semakin kuat bila
harga berpengaruh secara positip terhadap keputusan membeli para konsumen,
dan hubungan semakin melemah bila harga tidak berpengaruh terhadap keputusan
membeli para konsumen. Lihat gambar 2.4.

Kualitas Produk
(Variabel bebas)

Keputusan Membeli
(Variabel terikat)

Harga
(Variabel moderator)

Gambar 2.4: Contoh hubungan variabel bebas, moderator, dan terikat.


d. Variabel perantara (intervening).
Variabel perantara (intervening) adalah variabel yang secara teoritis
mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dengan terikat menjadi hubungan
yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur.
Contoh:
Tinggi rendahnya penghasilan akan mempengaruhi secara tidak langsung
terhadap harapan hidup (panjang pendeknya umur). Dalam hal ini ada variabel
antara, yaitu gaya hidup seseorang. Antara variabel penghasilan dengan gaya
hidup, terdapat variabel moderator, yaitu budaya lingkungan tempat tinggal. Lihat
gambar 2.5.
Penghasilan
(Variabel bebas)

Gaya hidup
(Variabel intervening)

Harapan hidup
(Variabel terikat)

Lingkungan tempat tinggal


(Variabel moderator)

Gambar 2.5: Contoh hubungan variabel bebas, moderator, Intervening, dan terika

e. Variabel control
Variabel control adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan
sehingga hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh
factor luar yang tidak diteliti. Variabel control sering digunakan oleh peneliti, bila
akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.
Contoh:
Pengaruh metode pendidikan pada Politeknik terhadap pembentukan ketrampilan
vokasi para mahasiswa. Variabel bebas adalah metode pendidikan pada
Politeknik. Variabel kontrol yang ditetapkan sama misalnya: panduan test, ruang
yang digunakan sama, ruang tempat ujian /fasilitas sama, tugas yang harus
kekerjakan juga sama. Dengan adanya variabel kontrol tersebut, maka besarnya
pengaruh metode pendidikan pada Politeknik terhadap ketrampilan vokasi para
mahasiswa dapat diketahui lebih pasti.
.

Metoda Pendidikan pada Politeknik.


(Variabel bebas)

Ketrampilan Vokasi
(Variabel terikat)

Panduan, tempat, mesin/fasilitas sama.


(Variabel control)

Gambar 2.6: Contoh hubungan variabel bebas, control, dan terikat.


B. Jenis Data
Aktivitas penelitian tidak akan terlepas dari keberadaan data yang merupakan
bahan baku informasi untuk memberikan gambaran spesifik mengenai obyek penelitian.
Data adalah fakta empirik yang dikumpulkan oleh peneliti untuk kepentingan
memecahkan masalah atau menjawab perta- nyaan penelitian. Data penelitian dapat
berasal dari berbagai sumber yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai teknik
selama kegiatan penelitian berlangsung.

Berikut adalah jenis data yang ditemukan daam penelitian:


1. Data Berdasarkan Sumber
Berdasarkan sumbernya data dapat dibagi menjadi dua yakni data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti sendiri atau dirinya
sendiri. Ini adalah data yang belum pernah dikumpulkan sebelumnya, baik dengan cara
tertentu atau pada periode waktu tertentu.
Sedangkan data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh orang lain, bukan
peneliti itu sendiri. Data ini biasanya berasal dari penelitian lain yang dilakukan oleh
lembaga-lembaga atau organisasi seperti BPS dan lain-lain.
2. Data Berdasarkan Jenis Penelitian
Berdasarkan jenis penelitian terdapat dua jenis data yakni data kualitatif dan data
kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk
angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data
misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah
dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah
gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan
bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik
perhitungan matematika atau statistika, yakni data diskrit, data kontinum, data nominal
(kategori), Ordinal, Interval, dan data rasio.
C. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
Instrumen atau biasa disebut dengan alat pengumpul data, Wina Sanjaya (2013)
menyatakan bahwa Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data
penilitian, sedangkan Sugiono (2013) menyatakan bahwa Instrumen penelitian adalah
suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.
Secara spesifik fenomena yang diamati disebut fariabel, Jadi dapat disimpulkan bahwa
instrument penelitian adalah alat yang digunakan untuk memperoleh informasi mengenai
variabel yang diteliti.
Hakikat meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena-fenomena
yang berkaitan dengan sosial maupun alam. Berbicara pengukuran tentunya tidak akan
terlepas dari sesuatu yang dinamakan alat ukur. Alat ukur merupakan bagian yang
terpenting dalam melakukan sebuah pengukuran.
1. Langkah-langkah Penyusunan Instrumen Penelitian

Kesimpulan dari sebuah pengukuran akan sangat bergantung kualitasnya


kepada alat ukur yang digunakan. Untik itu, Dalam penyusunan instrument
disaranakan untuk menuruti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Analisis Variabel Penelitian
Jenis instrumen yang akan digunakan bergantung pada data yang akan
diperoleh yang tergambar dalam variabel penelitian. Oleh Karena itu ,
menganalisis variabel yang ada dan mengembangkannya menjadi indokatorindikator. Penyusunan indicator dapat didasarkan pada teori yang melekat pada
indikator dan berdasarkan

pemahaman peneliti setelah mengkaji hasil

pengamatan lapangan. Misalnya, peneliti ingin melakukan penelitian tentang


hubungan antara tingkat social ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa.
Secara umum ada dua jenis data sesuai dengan variabel, yakni mengenai
tingkat social ekonomi dan data mengenani prestasi belajar. Lalu rumuskan
variabel ke dalam bentuk indikator, misalnya indikator ekonomi adalah ekonimi
tingkat tinggi, rendah, dan kurang. Begitupun dengan prestasi belajar.
b. Menetapkan Jenis Instrumen
Jenis instrument dapat ditetapkan manakala peneliti sudah memahami
tentang variabel dan indikator penelitian. Satu variabel mungkin hanya
memerlukan satu jenis intrumen dan dapat lebih. Misalnya, untuk mendapatkan
data tentang tingkat ekonomi orang tua maka diperlukan instrument angket,
namun untuk mendapatkan data yang lebih akurat dapat ditambah dengan
wawancara. Demikian juga untuk memperoleh data hasil belajar, maka
dibutuhkan instrument tes hasil belajar.
c. Menyusun Kisi-kisi / lay out Instrumen
Kisi-kisi instrument dibutuhkan sebagai pedoman dalam merumuskan
item intrumen. Dalam kisi-kisi harus mencakup ruang lingkup variabel penelitian,
jenis pertanyaa, banyak pertanyaan, serta waktu yang dibutuhkan.
d. Menyususn Item Instrumen
Berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun, langkah selanjutnya adalah
menyusun item pertanyaan sesuai dengan jenis instrument yang akan digunakan.
e. Menguji Cobakan Instrumen
Uji coba instrument perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat validitas
dan reliabilitas instrument serta keterbacaan setiap item. Mungkin saja
berdasarkan hasil uji coba ada sejumlah item yang harus dibuang atau diganti
baru.

Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu,
kualitas instrument dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrument berkaitan dengan
validitas dan reliabilitas dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan
dengan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data dapat
dilakukan dengan berbagai macam instrument, sesuai dengan penelitian yang akan
dilakukan, yakni sebagai berikut:
2. Jenis Instrumen Penelitian
Penggunaan instrumen penelitian harus disesuaikan dengan variabel penelitian
yang akan diteliti. Agar alat ukur (instrumen penelitian) dan objek ukur (variabel
penelitian) bersesuaian, maka ada beberapa jenis instrumen yang biasa digunakan
dalam penelitian yang harus dipahami sebagai dasar pemilihan instrumen, yaitu:
a. Tes
Menurut Suharsimi (2012) tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan
atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok.
Macam-macam Instrumen tes:
1) Tes kepribadian yaitu tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian
seseorang. Yang diukur bisa self-concept, kreativitas, disiplin, kemampuan
khusus,dll.
2) Tes bakat yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui bakat
seseorang.
3) Tes intelegensi yaitu tes yang digunakan untuk mengadakan estimasi atau
perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang dengan cara memberikan
berbagai tugas kepada orang yang akan diukur intelegensinya.
4) Tes sikap yaitu alat yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap
berbagai sikap seseorang.

10

5) Tes minat yaitu alat untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu.
6) Tes prestasi yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang
setelah mempelajari sesuatu.
b. Kuesioner (angket)
Menurut craswell Questionnaires, are form used in a survey design that
participant in a study complete and return to the researcher (Sugiono, 2012).
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dimana responden mengisi
pertanyaan atau pernyataan kemudian setelah diisi dikembalikan kapada peneliti.
Sugiyono (2011) menyatakan bahwa kuesioner merupakan teknik pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau
pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti
tahu dengan pasti variable yang akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari
responden. Selain itu kuesioner juga cocok digunakan bila responden dalam
jumlah yang besar dan tersebar diwilayah yang luas. Pembuatan kuesioner harus
dilakukan dengan baik agar data yang diperoleh sesuai dengan yang diinginkan,
untuk membuat kuesioner terdapat prinsip-prinsip dalam penulisannya, yakni:
1) Isi dan Tujuan Pertanyaan
Yang dimaksud di sini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut
merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran,
maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus disusun
dalam skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur
variebel yang di teliti.
2) Bahasa yang Digunakan
Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuesioner (angket) harus
disesuiakan dengan kemampuan berbahasa responden. Kalua sekiranya
responden tidak dapat berbahasa Indonesia maka angket jangan berbahasa
Indonesia, dan juga harus memperhatikan tingkat pendidikan responden
karena tingkat pemahaman kata responden berbeda.
3) Tipe dan Bentuk Pertanyaan

11

Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup, (kalau


dalam wawancara: terstruktur dan tidak terstruktur) dan bentuknya dapat
menggunakan kalimat positif atau negative. Petanyaan terbuka, adalah
pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya
bebrbentuk uraian tentang sesuatu hal. Pertanyaan tertutup akan membantu
responden untuk menjawab dengan cepat, dan juga memudahkan peneliti
dalam melakukan analisis data terhadap seluruh angket yang telah terkumpul.
4) Pertanyaan Tidak Mendua
Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua (double barreled) sehingga
menyulitkan responden untuk memberikan jawaban. Misalnya Bagaimana
pendapat anda tentang kualitas dan kecepatan pelayanan pembuatan E-KTP?
ini adalah bentuk pertanyaan mendua karena menanyakan dua hal sekaligus.
5) Tidak Menanyakan yang Sudah Lupa
Setiap pertanyaan dalam instrument angket, sebaiknya juga tidak
menanyakan hal-hal yang sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan
yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat. Misalnya Bagaimana
kinerja pemerintah 30 tahun yang lalu?, atau bagai mana cara mengatasi krisi
ekonomi?
6) Pertanyaan Tidak Menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban
yang baik saja atau ke yang jelek saja.
7) Panjang Pertanyaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang cukup 20
30 pertanyaan, sehingga tidak membuat jenuh responden dalam mengisi.
8) Urutan Pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket, di mulai dari yang umum menuju ke
hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit atau di acak.
Hal ini perlu dipertimbangkan karena psikologis akan mempengaruhi
semangat responden untuk menjawab. Kalau pada awalnya sudah diberikan
pertanyaan yang sulit atau yang spesifik, maka responden akan patah
semangat untuk mengisi angket yang telah mereka terima.
9) Prinsip Pengukuran
Angket yang diberikan kepada responden adalah instrument penelitian,
yang digunakan untuk mengukur variable yang akan diteliti. Oleh karena itu,

12

instrument angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data


yang valid dan reliable tentang variable yang diukur sehingga perlu diuji
validitas dan reabilitas instrumennya.
10) Penampilan Fisik Angket
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan
mempengaruhi repos atau keseriusan responden dalam mengisi angket.
Angket yang dibuat kertas buram akan mendapa respon yang kurang menarik
bagi responden, bila dibanding angket yang dicetak dalam kertas yang bagus
dan berwarna. Tetapi angket yang dicetak dikertas yang bagus dan berwarna
akan menjadi mahal.
c. Interview (wawancara)
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui
tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti
terhadap nara sumber atau sumber data. Wawancara pada penelitian sampel besar
biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin
menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil
teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya
penelitian kualitatif)
1) Wawancara Terstruktur
Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti
apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya
sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu
tape recorder, kamera photo, dan material lain yang dapat membantu
kelancaran wawancara.
2) Wawancara Tidak Terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti
tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan
diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang
ingin digali dari responden.
d. Observasi
Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak
hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat

13

digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi).


Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku
manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang
tidak terlalu besar.
1) Observasi Berperanserta (Participant Observation)
Dalam observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam
sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data. Misalnya
seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa,
semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru,
dsb.
2) Observasi Nonpartisipan
Berlawanan

dengan

participant

Observation,

Non

Participant

merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut secara langsung dalam


kegiatan atau proses yang sedang diamati. Misalnya penelitian tentang pola
pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan dirinya sebagai
pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu sebagai data
penelitian.Kelemahan dari metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh
data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai pengamat dari luar tanpa
mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa. Alat yang digunakan
dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list, buku catatan, kamera
photo, dll.
a) Observasi Terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara
sistematis , tentang apa yang akan diamati kapan dan dimana tempatnya.
b) Observasi Tidak Terstruktur
Observasi Tidakterstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan
secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan
karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati.
3. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Kualitas Instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas,
intrumen yang baik adalah instrument yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
Intrumen dikatakan valid apabila instrument tersebut dapat digunakan untuk

14

mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiono, 2009). Meteran yang valid dapat
digunakan untuk mengukur panjang dengan baik, Karena meteran mememang alat
untuk mengukur panjang, namun bila meteran digunakan untuk mengukur berat maka
akan menjadi tidak valid. Untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data
yang sama.
Instrumen yang reliabel adalah instrument yang bila digunakan beberapa kali
akan menghasilkan data yang sama. Contohnya bila kemarin data yang diperoleh
adalah merah maka jika dilakukan tes hari ini data yang diperoleh juga merah.
a. Uji Validitas
Ada tiga jenis validitas yang sering digunakan dalam penyusunan instrumen,
yaitu:
1) Validitas Konstruksi
Untuk pengujian kontruksi dapat digunakan pendapat dari para ahli.
Dalam hal ini setelah instrument dikontruksi tentang aspek-aspek yang akan
diukur dengan berlandaskan teori maka selanjutnya dikonsultasikan dengan
para ahli. Para ahli diminta memberikan keputusan terhadap instrument yang
telah disusun. Para ahli akan memberikan keputusan instrument dapat
digunakan tanpa perbaikan, dengan perbaikan, dan mungkin dirombak total.
Setelah para ahli memberikan judgement maka dilanjutkan dengan
ujicoba instrumen untuk mengetahui validitas item, dapat digunakan rumus
korelasi product moment:

2) Validitas Isi
Pada instrument berbentuk tes, Pegujian validitas isi dapat dilakukan
dengan menbandingkan antara isi isntrumen dengan dengan materi pelajaran
yang diajarkan. Secara teknis pengujian validitas isi dan kontruksi dapat
dibantu dengan kisi-kisi instrument.
3) Validitas Eksternal
Validitas ekstrenal diuji dengan cara membandingkan anatar kriteria
yang ada pada instrument dengan fakta empiris yang terjadi dilapangan.

15

b. Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas instrumen penelitian dapat dilakukan secara
eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan
test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal,
reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang
ada pada instrumen dengan teknik tertentu .
1) Test-retest
Pengujian ini dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa
kali pada koresponden. Jadi dalam hal ini instrumennya sama, responden
sama, dan waktu yang berbeda. Reliabiitas diukur dari koefisien korelasi
antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi
positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel.
2) Ekuivalen
Instrumen yang ekuivalen adalah pernyataan yang secara bahasa
berbeda, tetapi maksudnya sama. Pengujian dengan cara ini cukup dilakukan
sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu yang juga
sama, dan instrumen berbeda.
3) Gabungan
Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobakan dua
instrumen yang ekuivalen itu beberapa kali ke responden yang sama.
Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen,
setelah itu dikorelasikan pada penguian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan
secara silang.
4) Internal consistency
Pengujian dengan cara ini dilakukan dengan cara mencobakan
instrumen sekali saja. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik
tertentu. Hasil analisis dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas
instrumen. Untuk menguji reliabilitas instrumen dapat menggunakan rumus
sebagai berikut.

16