Anda di halaman 1dari 2

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Potensi perikanan tangkap Indonesia cukuplah besar, namun belum
tereksploitasi secara optimal. Hal tersebut diakibatkan rendahnya penggunaan
teknologi yang memudahkan dalam penangkapan oleh nelayan tangkap. Upaya
memperoleh hasil tangkap yang lebih besar dapat menggunakan teknologi akustik
seperti echosounder untuk mengetahui letak dari fish schooling.
Teknologi akustik bawah air merupakan metode yang sangat efektif untuk
kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya perikanan. Teknologi ini memiliki
keunggulan yang dapat digunakan untuk mendeteksi sumberdaya hayati laut termasuk
pendugaan densitas dan keberadaan ikan secara langsung, relatif lebih akurat, cepat
dan tidak merusak lingkungan.
Acoustic System mulai dikenal dan populer dengan istilah SONAR (Sound
Navigation And Ranging). Pada dekade 70-an barulah secara intensif diterapkan
dalam pendeteksian dan pendugaan stok ikan, yakni dengan dikembangkannya analog
echo integrator dan echo counter. Kemudian setelah diketemukan Digital Echo
Integrator, Dual Beam Acoustic System, Split Beam Acoustic System, Quasi Ideal
Beam System dan aneka Echo Processor canggih lainnya.
Dalam memudahkan dalam proses pendeteksian sumberdaya kelautan,
teknologi hidroakustik digunakan. Teknologi hidroakustik sebagai instrumen alat
bantu penangkapan ikan untuk peningkatan produktivitas unit penangkapan dan
pendapatan nelayan. Metode ini menggunakan sistem pemancar yang memancarkan
sinyal akustik secara vertikal disebut Echosounder, sedangkan yang memancarkan
sinyal akustik secara horizontal disebut sonar. Penggunaan Echosounder disebut
dengan echosounding. Echosounding adalah teknik untuk mengukur kedalaman air
dengan memancarkan pulsa-pulsa yang teratur dari permukaan air dan kemudian
pantulan gema (echo) yang datang dari dasar laut tersebut didengar kembali.

I.2 Tujuan

Mendeskripsikan ukuran ikan berdasarkan data target strength.

I.3 Manfaat

Kita dapat mendeskripsikan ukuran ikan berdasarkan data target strength.