Anda di halaman 1dari 15

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pakan Ikan


2.1.1 Pakan Alami
Pakan alami adalah makanan yang keberadaannya tersedia di alam. Sifat pakan
alami yang mudah dicerna digunakan sebagai pakan benih ikan karena benih ikan
memiliki alat percernaan yang belum sempurna. Oleh karena itu, pakan alami
merupakan pakan yang tepat untuk benih, sehingga kematian yang tinggi pada
benih ikan dapat dicegah (Lingga, 1989).
Keunggulan dari pakan alami sebagai pakan benih ikan antara lain pakan
alami memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, mudah dicerna, gerakan pakan
menarik perhatian ikan (Djarijah, 1995). Ukuran diameter pakan yang relatif kecil
sehingga benih ikan mudah memakannya, dan tidak mencemari media
pemeliharaan dibandingkan dengan pakan buatan (Lingga, 1989).
Kerugian yaitu seringkali pakan alami bersifat musiman, sehingga pada
saat tertentu sulit didapat. Dapat membawa hama dan penyakit, seperti cacing
sutra, yang hidup pada lumpur tercemar, sehingga bisa mengimpor bakteri
terhadap lingkungan akuarium. Hama seperti larva capung atau hydra bisa secara
tidak sengaja masuk ke akuarium dan memangsa burayak (Dharmawan, 2010).
Cacing sutra memiliki warna tubuh yang dominan kemerah-merahan.
Ukuran tubuhnya sangat ramping dan halus dengan panjang 1-2 cm. Cacing ini
sangat senang hidup berkelompok atau bergerombolan karena masing-masing
individu berkumpul menjadi koloni yang sangat sulit diurai dan saling berkaitan
satu sama lainnya. Dasar perairan yang paling banyak mengandung bahan organik
terlarut merupakan habitat kesukaannya. Membenamkan kepala merupakan
kebiasaan cacing ini untuk mencari makanan (Khairuman, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Cacing sutra sering digunakan dalam pembudidayaan ikan hias.


Kandungan gizi dari cacing sutra, terdiri dari protein 57,50%, lemak 13,50%, serat
kasar 2,04%, abu 3,60% dan kadar air sebesar 87,19%. Keunggulannya adalah
memiliki kandungan protein yang mampu memacu pertumbuhan ikan lebih
efesien (Lingga, 1989).
2.1.2 Pakan Buatan
Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi kehidupan dan pertumbuhan
ikan. Zat yang terpenting dalam pakan adalah protein. Jumlah dan kualitas protein
mempengaruhi pertumbuhan optimal ikan. Karena zat ini merupakan bagian
terbesar dari daging ikan. Karena itu, dalam menentukan kebutuhan zat makanan,
kebutuhan protein perlu dipenuhi terlebih dahulu (Khairuman, 2003).
Pakan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Pakan harus dapat dimakan oleh ikan, maksudnya kondisi pakan harus baik dan
ukuran pakan harus sesuai dengan ukuran mulut ikan.
2. Pakan harus mudah dicerna.
3. Pakan harus dapat diserap oleh tubuh ikan.

Apabila ketiga persyaratan diatas dapat dipenuhi, pemberian pakan akan


memberikan manfaat yang optimal bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup
ikan (Khairuman, 2002).

Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu


berdasarkan pertimbangan kebutuhannya. Pembuatan pakan sebaiknya didasarkan
pada pertimbangan kebutuhan nutrisi ikan, kualitas bahan baku, dan nilai
ekonomis. Dengan pertimbangan yang baik, dapat dihasilkan pakan buatan yang
disukai ikan, tidak mudah hancur dalam air, aman bagi ikan (Dharmawan, 2010).

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan tingkat kebutuhannya pakan buatan dapat dibagi menjadi tiga


kelompok yaitu (1) pakan tambahan, (2) pakan suplemen, dan (3) pakan utama.
Pakan tambahan adalah pakan pakan yang sengaja dibuat untuk memenuhi
kebutuhan pakan. Dalam hal ini, ikan yang dibudidayakan sudah mendapatkan
pakan dari alam, namun jumlahnya belum memadai untuk tumbuh dengan baik
sehingga perlu diberi pakan buatan sebagai pakan tambahan. Pakan suplemen
adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menambah komponen nutrisi tertentu
yang tidak mampu disediakan pakan alami. Sementara pakan utama adalah pakan
yang sengaja dibuat untuk menggantikan sebagian besar pakan alami
(Dharmawan, 2010).

Dalam pembuatan pakan ikan, pertama-tama perlu diperhatikan tentang


pemilihan bahannya. Bahan-bahan tersebut harus memenuhi beberapa syarat,
yaitu:
- Mempunyai nilai gizi tinggi
- Mudah diperoleh
- Mudah diolah
- Tidak mengandung racun
- Harga relatif murah
- Tidak merupakan makanan pokok manusia, sehingga tidak merupakan saingan
(Mujiman, 1991).

2.1.3 Jenis-jenis Pakan


Berdasarkan bahan bakunya, pakan buatan memiliki dua karakter, yakni pakan
pakan basah dan pakan kering.
a. Pakan basah
Pakan basah adalah pakan ikan yang bahan penyusunnya mengandung kadar air
lebih dominan. Karakter pakan seperti ini sengaja dibuat agar larva dan burayak
ikan lebih mudah mengomsumsi dan mencernanya. Jenis pakan basah ini beragam
bentuknya, dari larutan emulsi, larutan suspensi, sampai bentuk pasta.

Universitas Sumatera Utara

Pada bentuk emulsi, bahan-bahan yang terlarut menyatu dengan air


sebagai pelarutnya. Apabila dipegang, terasa agak liat mirip lem encer. Contohnya
adalah sari kacang kedelai yang sudah diramu dengan vitamin serta tambahan
protein dari kuning telur.

Pakan berbentuk suspensi, bahan terlarutnya tidak

menyatu dengan pelarutnya karena mengandung partikel-partikel halus yang tidak


dapat larut. Contohnya adalah bubuk spirulina yang ditebarkan dalam kolam
pemeliharaan ikan. Pakan bentuk pasta adalah pakan hasil adonan yang berbentuk
gumpalan - gumpalan.
b. Pakan kering
Pakan kering adalah pakan ikan yang bahan penyusunnya mengandung sedikit
kadar air, yakni sekitar 5-20 persen. Persentase kandungan air ini sengaja dibuat
agar pakan bisa disimpan lebih lama dan mengapung diperairan. Kandungan air
yang ada dalam pakan digunakan untuk melarutkan komposisi bahan-bahan
penyusunnya agar mudah diramu. Bentuk pakan kering cukup beragam, seperti
granule (butiran), flake (remah), pellet (bulat), dan stick (batang) (Tiana, 2004).
2.1.4. Pelet
Pelet adalah bentuk pakan buatan yang terdiri dari beberapa macam bahan yang
diramu dan dijadikan adonan, kemudian dicetak sehingga bentuknya merupakan
batangan kecil-kecil. Panjangnya biasanya berkisar antara 1-2 cm. Jadi pelet tidak
berupa tepung, tidak berupa butiran dan juga tidak berupa larutan (Mujiman,
1991).
Pakan yang tidak mudah hancur dalam air, minimum tahan dalam air
sekitar 10 menit. Pakan yang tidak cepat tenggelam antara lain pakan buatan
berbentuk butiran dengan diameter 2-5 mm yang populer disebut pelet. Pakan
yang akan melayang dalam air dan tidak hancur selama 2-3 menit akan lebih baik.
Pakan yang baik memberikan aroma yang dapat menarik dan merangsang nafsu
makan ikan. Pakan yang baik dapat disimpan maksimum 2 bulan tanpa berubah
kualitasnya (Tim lentera, 2002).

Universitas Sumatera Utara

2.2 Bahan Baku


2.2.1 Ampas tahu
Ampas tahu merupakan hasil sisa perasan bubur kedelai. Ampas ini mempunyai
sifat cepat basi dan berbau tidak sedap kalau tidak segera ditangani dengan cepat.
Pemanfaatan ampas tahu menjadi pakan merupakan pengolahan yang paling
mudah karena hanya dengan cara mengeringkannya. Ampas tahu yang dihasilkan
segera dikeringkan. Dalam kondisi kering, ampas tahu dapat disimpan lama
(Sarwono, 2003).
Biasanya para pengusaha tahu akan membuang ampas tahu begitu saja dan
dibiarkan sampai membusuk. Ampas tahu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku
pakan ikan dalam kondisi masih baik atau tidak busuk. Ampas tahu merupakan
sumber protein (Khairuman, 2002). Kandungan gizi tepung ampas tahu adalah
protein 23,55%, lemak 5,54%, karbohidrat 26,92%, serat kasar 16,53%, abu
17,03% dan air 10,43% (Mujiman, 1991).
2.2.2 Tepung ikan
Tepung ikan yang baik berasal dari jenis ikan yang kadar lemaknya rendah. Bau
khusus suatu jenis ikan kadang-kadang juga mempengaruhi daya tariknya,
sehingga lebih merangsang. Ikan-ikan rucah (tidak bernilai ekonomis penting)
dari sisa-sisa hasil pengolahan biasanya merupakan bahan baku yang penting
untuk pembuatan tepung ikan (Mujiman, 1991). Tepung ikan yang berbau tengik,
menandakan bahwa kualitas tepung ikan sudah menurun, demikian juga dengan
kandungan gizinya. Sehingga tidak ekonomis lagi jika digunakan dalam
pembuatan makanan ternak atau ikan (Suryana, 2013).
Tepung ikan yang memiliki kandungan lemak tinggi, akan menurunkan
kualitas tepung ikan, meskipun kandungan protein tinggi. Kandungan lemak yang
tinggi, menyebabkan tepung ikan mudah menjadi tengik dan tidak dapat disimpan
lama (Murtidjo, 2001). Kandungan gizi tepung ikan adalah protein 22,65%, lemak
15,38%, abu 26,65%, serat 1,80% dan air 10,72% (Dharmawan, 2010).

Universitas Sumatera Utara

2.2.3 Tepung darah


Darah ternak merupakan limbah dari rumah pemotongan hewan/ ternak. Limbah
ini dapat diolah menjadi tepung darah dan dapat digunakan sebagai bahan baku
pakan ikan, karena mengandung nutrisi yang cukup tinggi. Namun, tepung darah
sukar dicerna oleh ikan. Oleh karena itu, bahan baku ini disarankan hanya
digunakan sebagai bahan campuran dengan jumlah tidak melebihi 10% (Kordi,
2004).
Darah hewan tersebut dipanaskan sampai 100oC sehingga membentuk
gumpalan, kemudian dikeringkan dan dipres (tekanan tinggi) untuk mengeluarkan
serum yang tersisa. Setelah itu dikeringkan dengan pemanasan lagi dan akhirnya
digiling. Tepung darah hewan ini biasanya berwarna coklat gelap dengan bau
yang khas (Darmono, 1993).
Darah yang berasal dari hewan yang dipotong ditampung lalu diolah
menjadi tepung. Seekor ternak bila dipotong akan menghasilkan darah sekitar 79% dari bobot badannya (Suharno, 1998). Kandungan gizi tepung darah adalah
protein 71,45%, lemak 0,42%, karbohidrat 13,12%, abu 5,45%, serat 7,95% dan
air 5,19 (Dharmawan, 2010).
2.2.4

Daun keladi

Makanan yang sering dimakan oleh ikan tawar adalah daun keladi (Colocasia
estulata Schott), ketela pohon (Manihot utilissima Bohl), pepaya (Carica papaya
Linn). Konon yang paling bagus untuk makanan ikan adalah daun keladi. Namun
daun ini tidak boleh langsung diberikan pada ikan. Harus dikeringkan dahulu agar
getahnya kering. Bagian-bagian daun keladi yang dapat dimanfaatkan sebagai
pakan misalnya umbi, tangkai, dan daun keladi (Susanto, 2000). Komposisi gizi
daun keladi menurut Widayati (1998) adalah protein 4,4 gram, lemak 1,8 gram,
karbohidrat 12,2 gram, serat 3,4 gram dan kadar air 79,6%.

Universitas Sumatera Utara

2.2.5 Tepung Tapioka


Tepung tapioka atau tepung kanji berfungsi sebagai perekat agar bahan baku yang
ada dalam pakan dapat bersatu menjadi campuran yang homogen dan sebagai
pengikat antar komponen. Dengan demikian pakan tidak mudah hancur terurai
kembali ketika dimasukkan kedalam air. Bahan jadi perekat tersebut juga dapat
berfungsi sebagai sumber berbagai zat makanan. Tepung tapioka tersebut apabila
kita larutkan dalam air panas akan menghasilkan larutan kental yang lekat seperti
lem encer. Jumlah penggunaan bahan perekat ini dapat mencapai 10% dari
seluruh bobot ramuan (Mujiman, 1991). Kandungan nutrisi bahan tepung tapioka
adalah protein 8,09%, lemak 1,30%, karbohidrat 77,30%, abu 0,06% dan air
13,25% (Lukito, 2007).

2.3 Kandungan Nutrisi Pakan


Yang dimaksud dengan nutrisi untuk ikan adalah kandungan gizi yang dikandung
pakan, yang diberikan kepada ikan peliharaan. Apabila pakan yang diberikan ikan
peliharaan mempunyai kandungan nutrisi yang cukup tinggi, maka hal ini tidak
saja akan menjamin hidup dan aktivitas ikan, tetapi juga akan mempercepat
pertumbuhannya. Beberapa komponen nutrisi yang penting dan tersedia dalam
pakan ikan antara lain protein, karbohidrat, lemak, dan serat kasar (Kordi, 2004).

2.3.1 Protein
Protein merupakan senyawa organik kompleks, tersusun atas banyak asam amino
yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau
karbohidrat. Molekul protein mengandung fospor dan sulfur. Kualitas protein
suatu bahan pakan ditentukan oleh kandungan asam amino, khususnya asam
amino esensial (Sumeru, 1992).

Universitas Sumatera Utara

Protein merupakan unsur yang paling penting dalam penyusunan formulasi


pakan karena usaha budidaya diharapkan pertumbuhan ikan yang cepat. Dalam
hal ini, protein mempunyai tiga fungsi bagi tubuh yaitu:
a. Sebagai zat pembangun yang membentuk berbagai jaringan baru untuk
pertumbuhan, mengganti jaringan yang rusak, maupun yang bereproduksi.
b. Sebagai zat pengatur yang berperan dalam pembentukan enzim dan hormon
penjaga serta pengatur berbagai proses metabolisme didalam tubuh ikan.
c. Sebagai zat pembakar karena unsur karbon yang terkandung didalamnya dapat
difungsikan sebagai sumber energi pada saat kebutuhan energi tidak terpenuhi
oleh karbohidrat dan lemak (Sahwan, 2002).
Kebutuhan protein masing-masing jenis ikan berbeda-beda. Jumlah protein
yang dibutuhkan ikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain ukuran ikan,
suhu air, jumlah pakan yang dimakan ikan, ketersediaan dan kualitas pakan alami,
dan kualitas protein (Kordi, 2004). Pada umumnya ikan membutuhkan makanan
yang kadar proteinnya berkisar antara 20-60 persen. Sedang kadar optimum
berkisar antara 30-36 persen. Apabila protein dalam pakan kurang dari 6 persen,
maka ikan tidak dapat tumbuh (Mujiman, 1991).
Pakan buatan terdiri dari beberapa macam campuran bahan pakan yang
berasal dari protein hewani maupun nabati. Sumber protein hewani antara lain
tepung ikan, telur ayam, tepung tulang dan tepung darah. Sumber protein nabati
bisa diperoleh dari limbah industri pertanian seperti bungkil kacang tanah, ampas
tahu, kedelai dan sorghum (Tiana, 2004).
Protein nabati (asal tumbuh-tumbuhan) lebih sukar dicerna daripada
protein hewani (asal hewan). Hal itu disebabkan karena protein nabati terbungkus
didalam dinding selulose yang memang sukar dicerna. Selain itu kandungan asam
amino esensial dari protein nabati pada umumnya kurang lengkap dibandingkan
dengan protein hewani (Mujiman,1991).

Universitas Sumatera Utara

2.3.2 Lemak
Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
pelarut organik melalui ekstraksi eter. Lemak juga sering diistilahkan dengan fat,
lipid, minyak atau lemak kasar. Beberapa jenis vitamin juga terlarut dalam lemak,
yaitu vitamin A, D, E, dan K (Lukito, 2007).
Lemak berfungsi sebagai sumber energi yang paling besar diantara protein
dan karbohidrat, satu gram lemak dapat menghasilkan 9 kkal per gram, sedangkan
karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal per gram. Lemak juga
menjadi sumber asam lemak, pospolipid, kolestrol dan sebagai pelarut pada proses
penyerapan vitamin A, D, E, dan K. Selain itu, lemak berfungsi membantu proses
metabolisme, osmoregulasi, dan menjaga keseimbangan daya apung ikan dalam
air serta untuk memelihara bentuk dan fungsi jaringan (Kordi, 2004).
Kandungan lemak pakan ikan rata-rata berkisar antara 4-18%. Kandungan
lemak pakan ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, misalnya ukuran ikan,
kondisi lingkungan (suhu), dan adanya sumber tenaga lain (Mujiman, 2004).
Kisaran kadar lemak yang tidak terlalu rendah ataupun tidak terlalu tinggi,
disamping dapat memperbaiki daya awet pakan juga dapat memperbaiki
(mempertinggi) kualitas pakan (Puspowardoyo, 2000).
2.3.3 Karbohidrat
Karbohidrat merupakan senyawa organik yang terdiri dari serat kasar dan bahan
bebas tanpa nitrogen (nitrogen free extract) atau dalam bahasa Indonesia disebut
bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Jadi, unsur-unsur karbohidrat terdiri dari
karbon, hidrogen, dan oksigen dalam perbandingan yang berbeda-beda.
Karbohidrat dalam bentuk yang sederhana pada umumnya lebih mudah larut
dalam air daripada lemak atau protein (Kordi, 2014).

Universitas Sumatera Utara

Karbohidrat merupakan salah satu komponen sumber energi. Selain itu


berperan dalam menghemat penggunaan protein sebagai sumber energi. Apabila
pakan yang diberikan kekurangan karbohidrat, ikan akan kurang efesien dalam
penggunaan pakan berprotein untuk menghasilkan energi dan kebutuhan
metabolik lainnya (Afrianto, 2005).
Kebutuhan karbohidrat pada pakan ikan bergantung dari jenis ikannya.
Menurut Wilson, hanya ikan herbivor dan omnivor yang dapat memanfaatkan
karbohidrat tanaman. Watanabe , mengatakan bahwa kadar karbohidrat optimum
untuk ikan omnivor adalah 20-40%, sedangkan untuk ikan karnivor antara 1020% (Kordi, 2014).
Kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohidrat ini tergantung pada
kemampuannya untuk menghasilkan enzim amilase. Dan kemampuan ini
tergantung pula pada jenis ikannya. Apabila makan karbohidrat lebih dari 12
persen, maka pada hatinya akan terjadi timbunan glikogen yang berlebihan, dan
dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi. Tapi ikan pemakan segala, dapat
hidup baik dengan makanan yang kadar karbohidratnya sampai 50% atau bahkan
lebih (Mujiman, 1991).
Bahan-bahan pakan yang banyak mengandung karbohidrat adalah jagung,
beras, tepung terigu, dedak halus, tepung tapioka, tepung sagu dan beberapa
bahan lainnya. Sebagian bahan diatas, selain sebagai sumber karbohidrat, juga
berfungsi sebagai bahan perekat (binder) dalam pembuatan pakan ikan (Kordi,
2004).
2.3.4 Serat kasar
Serat kasar mengandung senyawa selulosa, lignin, dan zat lain yang belum dapat
diidentifikasikan dengan pasti. Yang disebut serat kasar disini adalah senyawa
yang tidak dapat dicerna dalam organ pencernaan manusia ataupun binatang.
Didalam analisa penentuan serat kasar diperhitungkan banyaknya zat-zat yang
tidak larut dalam asam encer ataupun basa encer dalam kondisi tertentu
(Sudarmadji, 1996).

Universitas Sumatera Utara

Menurut Mujiman (1991) dalam jumlah tertentu serat kasar diperlukan


juga antara lain untuk membentuk gumpalan kotoran, sehingga mudah
dikeluarkan dari dalam usus. Kandungan serat kasar yang tinggi dalam pakan ikan
akan mempengaruhi daya cerna dan penyerapan didalam alat pencernaan ikan.
Selain

itu,

kandungan

serat

kasar

yang

tinggi

akan

menyebabkan

meningkatkannya sisa metabolisme dan akan mempercepat penurunan kualitas


air. Kandungan serat kasar yang tinggi (lebih dari 8%) akan mengurangi kualitas
pakan ikan, sedangkan kandungan serat kasar yang rendah (dibawah 8%) akan
menambah baik struktur pakan ikan dalam bentuk pelet (Kordi, 2014).

2.4 Uji Kualitas Pakan Buatan


Pakan yang diberikan pakan ikan harus diuji dulu dengan beberapa uji yaitu uji
fisik, kimiawi, dan biologis. Uji-uji tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah
pantas, berguna, berkualitas suatu pakan diberikan pada ikan (Dharmawan, 2010).

2.4.1 Uji Fisik


Dalam hal ini yang perlu dilakukan adalah pengujian fisik terhadap pakan buatan
berbentuk pelet, yaitu antara lain mengenai kehalusan bahan bakunya, daya
tahannya didalam air, dan daya mengapungnya (Mujiman, 1991).
Uji kehalusan bahan baku pakan dilakukan dengan menggiling bahan baku
pakan sampai halus. Semakin banyak bagian bahan pakan yang halus, semakin
baik bahan pakan tersebut. Semakin halus bahan pakan menyebabkan semakin
memudahkan untuk pembuatan pelet yang berkualitas. Beberapa faktor yang
menyebabkan bahan pakan menjadi halus antara lain yaitu kandungan serat kasar,
kandungan air dan kekerasan bahan pakan (Dharmawan, 2010).
Pengujian daya tahan didalam air dilakukan dengan merendamnya didalam
air dingin. Waktu yang diperlukan sampai pelet yang bersangkutan ambyar,
merupakan daya tahannya. Makin lama waktu yang dibutuhkan, semakin baiklah
mutunya. Pelet untuk ikan, setidak-tidaknya harus mempunyai daya tahan selama
10 menit (Mujiman, 1991).

Universitas Sumatera Utara

Daya apung pakan buatan dapat diukur dengan menjatuhkan atau


menebarkan pakan tersebut kedalam bejana kaca yang telah diisi air hingga
kedalaman 15-25 cm. Waktu yang diperlukan oleh pakan sejak ditebarkan hingga
tenggelam didasar bejana, adalah merupakan ukuran daya apungnya. Paling tidak
harus dapat melayang selama 5 menit (Afrianto, 2005).
2.4.2 Uji Kimiawi
Pengujian kimiawi ini dimaksudkan untuk mengetahui kandungan zat-zat gizi dari
makanan yang bersangkutan, yaitu mengenai kadar protein, lemak, serat kasar dan
kandungan air. Pengujian ini dilakukan didalam laboratorium. Untuk mengetahui
tentang kadar air sangat penting. Sebab apabila kadar airnya masih terlalu tinggi,
pakan tersebut cepat rusak dan jamuran. Pelet yang baik kadar airnya tidak boleh
lebih dari 10 persen (Mujiman, 1991).
a. Analisa kadar protein dengan metode Kjeldhal
Kadar protein dalam ransum atau pakan dapat ditentukan dengan prosedur
Kjeldahl, yaitu dengan cara menentukan jumlah nitrogen (N) yang terdapat dalam
ransum, kecuali N yang berasal dari nitrat, nitrit, dan senyawa N siklik. Setelah
diketahui jumlah N-nya, selanjutnya dapat dihitung kadar protein kasarnya dengan
rumus N% x faktor protein.
Besarnya faktor protein umum sama dengan 6,25. Hal ini dianggap bahwa
jumlah semua N yang diperoleh berasal dari protein dan semua protein
mengandung 16% N. Analisis kadar protein kasar secara Kjeldahl meliputi proses
destruksi, destilasi, dan titrasi. Ketiga proses ini dilakukan untuk memecah
molekul-molekul protein menjadi molekul terkecil yang mengandung unsur-unsur
C, H, O dan N (Buwono, 2010).

Universitas Sumatera Utara

b. Analisa lemak dengan metode sokletasi


Penentuan kadar lemak pada cara kering, bahan dibungkus atau
ditempatkan dalam thimble. Kemudian dikeringkan dalam oven untuk
menghilangkan airnya. Karena sampel kering maka pelarut yang dipilih harus
bersifat tidak menyerap air. Pelarut yang banyak digunakan adalah petroleum eter
karena lebih murah, kurang berbahaya terhadap kebakaran dan lebih selektif
dalam pelarutan lipida. Pemanasan sebaiknya menggunakan penangas air untuk
menghindari kebakaran. Pada akhir ekstraksi yaitu kira-kira 4-6 jam, labu godok
diambil dan ekstrak dituangkan kedalam botol timbang yang telah diketahuinya
beratnya. Kemudian pelarut diuapkan diatas penangas air sampai pekat.
Selanjutnya dikeringkan pada suhu 100oC. Berat residu dalam botol timbang
dinyatakan sebagai berat lemak atau minyak (Sudarmadji, 1996).
c. Analisa karbohidrat
Ada beberapa cara analisis yang dapat digunakan untuk memperkirakan
kandungan karbohidrat dalam bahan makanan. Yang paling mudah adalah dengan
cara perhitungan kasar (proximate analysis) atau juga disebut Carbohydrate by
difference. Yang dimaksud dengan proximate analysis adalah suatu analisis
dimana kandungan karbohidrat termasuk serat kasar diketahui bukan melalui
analisis tetapi melalui perhitungan, sebagai berikut :
% karbohidrat = 100% - % (protein + lemak + abu + air)
Perhitungan Carbohydrate by difference adalah penentuan karbohidrat
dalam bahan makanan secara kasar, dan hasilnya ini biasanya dicantumkan dalam
daftar komposisi bahan makanan (Winarno, 1992).
d. Analisa serat kasar
Didalam analisa penentuan serat kasar diperhitungkan banyaknya zat-zat
yang tak larut dalam asam encer ataupun basa encer dalam kondisi tertentu.

Universitas Sumatera Utara

Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisa adalah:


1. Defatting yaitu menghilangkan lemak yang terkandung dalam sampel
menggunakan pelarut lemak.
2. Digestion terdiri dari dua tahapan yaitu pelarutan dengan asam dan
pelarutan dengan basa.
Penyaringan harus segera dilakukan setelah digestion selesai karena
penundaan penyaringan dapat mengakibatkan lebih rendahnya hasil analisa karena
terjadi perusakan serat lebih lanjut oleh bahan kimia yang dipakai (Sudarmadji,
1996).
2.4.3 Uji Biologis
Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui sampai seberapa jauh pengaruh pakan
tersebut terhadap pertumbuhan ikan yang diumpani. Pakan yang kandungan
gizinya cukup tinggi belum tentu berpengaruh baik terhadap pertumbuhan. Sebab
apabila bahan bakunya merupakan bahan yang sukar dicerna, maka zat gizi yang
terkandung didalam pakan yang bersangkutan tidak banyak diserap oleh usus ikan
(Mujiman, 1991).
Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian langsung di laboratorium untuk
menguji suatu pakan. Ikan yang dicobakan diperlakukan pemberian pakan selama
periode waktu tertentu umumnya berkisar 1,5-2 bulan. Setiap minggu dilakukan
pengukuran pertambahan berat ikan (Dharmawan, 2010).

Universitas Sumatera Utara

2.5 Ikan Gurami


Ikan gurami merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke
seluruh perairan Asia Tenggara dan Cina. Gurami termasuk salah satu dari 12
komoditas untuk pemenuhan gizi masyarakat gurami banyak dikembangkan oleh
para petani, hal ini dikarenakan permintaan pasar yang cukup tinggi dan
pemeliharaannya yang relatif mudah. Namun salah satu jenis ikan yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi ini memiliki pertumbuhan yang lambat tetapi
dapat diatasi dengan pemberian pakan berkualitas dalam jumlah yang cukup
(Ricky, 2008).
Klasifikasi ikan gurami sebagai berikut :
Filum

: Cordata

Subfilum : Vertebrata
Kelas

: Pisces

Bangsa

: Labirinthici

Suku

: Anabantidae

Marga

: Osphronemus

Spesies

: Osphronemus gouramy Lac. (Agung, 2007)

Universitas Sumatera Utara