Anda di halaman 1dari 4

CONTOH MASALAH PENDIDIKAN

1. MASALAH MAHALNYA BIAYA PENDIDIKAN


Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk
menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk
mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari taman
kanak-kanak (tk) hingga perguruan tinggi (pt) membuat masyarakat miskin
tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Ini adalah masalah utama
di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang bermutu itu mahal,
mungkin seperti itulah yang terjadi sekarang ini, biaya pendidikan dari TK
sampai dengan jenjang perkuliahan dirasakan masih mahal. Banyak pelajar
yang putus sekolah karena mahalnya biaya pendidikan yang harus mereka
bayar untuk bisa mengenyam pendidikan itu. Meskipun anggaran pendidikan
dari pemerintah terbilang banyak, namun masih belum bisa menyelesaikan
masalah ini, bahkan progam BOS dari pemerintah masih belum bisa berjalan
baik.
Faktor yang mempengaruhi mahalnya biaya pendidikan di Indonesia
1. Hutang luar negeri indonesia sebesar 35-40 persen dari apbn setiap
tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi ( Pengalihan ) biaya
pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti
pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8
persen (kompas, 10/5/2005).
2. Dari apbn 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan.
Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25%
belanja dalam apbn (www.kau.or.id).
Hal senada dituturkan pengamat ekonomi revrisond bawsir. Menurut dia,
pengalihan pendidikan merupakan agenda kapitalisme global yang telah
dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat bank dunia. Melalui
rancangan undang-undang badan hukum pendidikan (ruu bhp), pemerintah
berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan
menjadi badan hukum pendidikan (bhp) yang wajib mencari sumber dananya
sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari sd hingga
perguruan tinggi.
Bagi masyarakat tertentu, beberapa ptn yang sekarang berubah status
menjadi badan hukum milik negara (bhmn) itu menjadi momok. Jika
alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini
hanya berlaku di indonesia. Di jerman, prancis, belanda, dan di beberapa
negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun
biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang
menggratiskan biaya pendidikan.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak
harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya
membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk
menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses
masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi,
kenyataannya pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal

keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi pemerintah untuk cuci
tangan.
Solusinya : Mahalnya Biaya Pendidikan
Besar kecilnya subsidi pemerintah inilah yang membuat mahal atau murahnya
biaya pendidikan yang harus dibayarkan oleh orang tua atau masyarakat. Kalau
kita ingin biaya pendidikan tidak mahal maka subsidi pemerintah harus besar.
Usaha untuk menjadikan pendidikan tidak mahal untuk dikonsumsi orang tua
dan masyarakat sebenarnya sudah dilaksanakan pemerintah, baik dengan
meningkatkan subsidi maupun membangkitkan partisipasi masyarakat. Dalam
pasal 49 ayat (1) UU Sisdiknas disebutkan bahwa dana pendidikan selain gaji
pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20 % dari APBN
dan APBD. Ketentuan semacam ini juga ada dalam pasal 31 ayat (4) UUD 1945.
Sayangnya, pemerintah sendiri tidak konsisten dalam menjalankan ketentuan ini.
Seandainya saja ketentuan UU dan UUD tersebut direalisasikan maka sebagian
permasalahan tentang mahalnya biaya pendidikan di negara kita tentu akan
teratasi.
Dari berbagai masalah yang diungkap diatas maka harus ada solusi bagaimana
agar pendidikan dapat berjalan dengan baik ,terjangkau oleh masyarakat dan tetap
sebanding dengan mutu pendidikan yang diperoleh oleh masyarakat. Karena hak
mendapatkan fasilitas biaya pendidikan murah (gratis) merupakan hak masyarakat
sebagai pembayar pajak.

Pertama diperlukan kejujuran dan rencana yang strategis dari jajaran


birokrasi pendidikan,untuk mengimplementasikan anggaran pendidikan pada
program pembiayaan pendidikan Gratis (Murah) bagi masyarakat.

Kedua,dalam sekolah (dunia pendidikan)harus dibersihkan dari berbagai


biaya pungutan, seperti biaya LKS,biaya seragam,biaya uang gedung,biaya
ektrakulikuler,dll. Oleh karena itu harusnya,program pemberantasan korupsi
harus bisa menyentuh dunia pendidikan terutama disekolah-sekolah.

Ketiga, kebijakan dari bidang pendidikan yang menyepakati program


kapasitasi pendidikan harus diberhentikan/dihapus.
Selanjutnya untuk mengatasi anggapan masyarakat yang menganggap bahwa
mahalnya biaya pendidikan karena adanya praktik korupsi yang dilakukan pejabat
dan birokrasi sekolah solusi yang kiranya perlu dilakukan oleh sekolah adalah di
setiap akhir tahun sekolah perlu menyampaikan laporan tentang keuangan kepada
wali murid (orang tua siswa) baik uang masuk maupun pengeluaran uang sekolah.
Dalam penyampaian laporan perlu disertai bukti atau kwitansi yang jelas
(sah),sehingga wali murid (orang tua siswa) dapat percaya bahwa tidak ada
penyelewengan dana .

2. Masalah Efisiensi Pendidikan


Pada hakikatnya masalah efisiensi adalah masalah pengelolaan pendidikan,
terutama dalam pemanfaatan dana dan sumber daya manusia.
Efesiensi artinya dengan menggunakan tenaga dan biaya sekecil-kecilnya dapat
diperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi, sistem pendidikan yang efesien ialah

dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat di hasilkan sejumlah besar lulusan
yang berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, keterpaduan pengelolaan pendidikan harus
tampak diantara semua unsur dan unit, baik antar sekolah negeri maupun swasta,
pendidikan sekolah maupun luar sekolah, antara lembaga dan unit jajaran
depertemen pendidikan dan kebudayaan.
Para ahli banyak mengatakan bahwa sistem pendidiakn sekarang ini masih kurang
efisien. Hal ini tampak dari banyaknya anak yang drop-out, banyak anak yang
belum dapat pelayanan pendidikan, banyak anak yang tinggal kelas, dan kurang
dapat pelayanan yang semestinya bagi anak-anak yang lemah maupun yang luar
biasa cerdas dan genius.
Oleh karena itu, harus berusaha untuk menemukan cara agar pelaksanaan
pendidikan menjadi efisien.
Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikn
mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika
penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi.
Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah:
a)

Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan

b)

Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan

c)

Bagaimana pendidikan diselenggarakan

d)

Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.

Solusinya : Solusi Masalah Efisiensi Pendidikan


Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi masalah masalah efisiensi dalam
pendidikan diantaranya:
1. Pendidikan efektif perlu ditingkatkan secara terprogram.
2. Pengadaan dan pendistribusian sarana pembelajaran harus dibarengi dengan
pembekalan kemampuan, sikap, dan keterampilan calon pemakai, serta harus
dilandasi dengan konsep yang jelas.
3. Melakukan penyusunan yang mantap terhadap potensi siswa melalui
keragaman jenis program studi.

4. Memberi perhatian terhadap tenaga kependidikan(prajabatan dan jabatan)

3.