Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal ( lebih dari 3
kali/hari ), serta perubahan dalam isi (lebih dari 200 g/hari) dan konsistensi (faeces
cair). Hal ini biasanya dihubungkan dngan dorongan, ketidaknyamanan perianal,
inkontinensia, atau kombinnasi dari faktor faktor ini. Adanya kondisi yang
menyebabkan perubahan pada sekresi usus, absorbsi mukosal, atau motilitas dapat
menimbulkan diare.Pada kelompok umur, terutama pada lansia, gaya hidup yang cepat,
stress yang tinggi, kebiasaan makan yang tidak teratur, masukan serat dan air yang tidak
cukup, dan kurangnya latihan sangat berperan dalam masalah ini.
Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama
di negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka
kesakitan dan kematian akibat diare (Salwan, 2008). Dari tahun ke tahun diare tetap
menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan mortalitas dan malnutrisi pada anak
Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang
masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang
banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita).
Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan
harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang
bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare.
Menurut data World Health Organization(WHO) pada tahun 2009, diare adalah
penyebab kematian kedua pada anak dibawah 5 tahun. Secara global setiap tahunnya
ada sekitar 2 miliar kasus diare dengan angka kematian 1.5 juta pertahun. Pada negara
berkembang, anak-anak usia dibawah 3 tahun rata-rata mengalami 3 episode diare
pertahun. Setiap episodenya diare akan menyebabkan kehilangan nutrisi yang
dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama malnutrisi
pada anak (WHO, 2009).

Diare masih menjadi penyebab kematian nomor satu pada bayi dan balita
berdasarkan Riskesdas 2007. Walaupun sempat terjadi penurunan pada 2013, estimasi
kematian akibat diare masih menempati ancaman bagi anak. Diare menempati posisi
ketiga penyebab kematian anak dari total penyakit infeksi setelah tuberkulosis dan hati.
Diare akan menyebabkan dehidrasi, absorpsi, dan imunitas menurun.
Berbagai faktor mempengaruhi terjadinya kematian, malnutrisi, ataupun
kesembuhan pada pasien penderita diare. Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan,
dan makanan. Perubahan iklim, kondisi lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan
kebersihan makanan merupakan faktor utamanya. Penularan diare umumnya melalui 4F,
yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger. Pada balita, kejadian diare lebih berbahaya
dibanding pada orang dewasa dikarenakan komposisi tubuh balita yang lebih banyak
mengandung air dibanding dewasa. Jika terjadi diare, balita lebih rentan mengalami
dehidrasi dan komplikasi lainnya yang dapat merujuk pada malnutrisi ataupun
kematian.
Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus
rantai penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010, ditemukan salah satu
pemicu diare baru, yaitu bakteri Clostridium difficile yang dapat menyebabkan infeksi
mematikan di saluran pencernaan. Bakteri ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh lalat
yang hinggap di makanan. (lifestyle.okezone.com).
1.1
1.1.1

Tujuan
Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan anak asuhan keperawatan
pada klien dengan diagnosa medis Diare.
1.1.2 Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian pada An. dengan diagnosa medis Diare di Ruang Bona 1
RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
2. Menegakkan diagnosa keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian pada An.
dengan diagnosa medis diare di ruang Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
3. Menyusun intervensi keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang
muncul dan melakukan modifikasi intervensi keperawatan bila diperlukan pada An.
dengan diagnosa medis diare di ruang Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

4. Melakukan implementasi asuhan keperawatan sesuai dengan intervensi yang telah


disusun pada An.

dengan diagnosa medis diare di ruang Bona 1 RSUD Dr.

Soetomo Surabaya.
5. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan sesuai dengan implementasi yang telah
dilakukan pada An. dengan diagnosa medis diare di ruang Bona 1 RSUD Dr.
Soetomo Surabaya.
6. Mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada An. dengan
diagnosa medis diare di ruang Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
1.2 Manfaat
1.3.1 Manfaat teoritis
Asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa medis Diare ini dapat menjadi
rujukan bagi penulis berikutnya yang akan makalah mengenai asuhan keperawatan anak
pada pasien dengan diagnosa medis Diare.
1.3.2 Manfaat praktis
Hasil karya tulis ilmiah ini dapat menjadi masukan bagi pelayanan keperawatan di
Ruang Bona 1 RSUD Dr. Soetomo, Surabaya agar perawat dapat menerapkan asuhan
keperawatan anak secara komprehensif pada klien dengan diagnosa medis diare.

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (lebih 3 kali /
hari), serta perubahan dalam isi (lebih 200 g/ hari) dan konsistensi (feses cair). Hal ini

biasanya dihubungkan dengan dorongan, ketidaknyamanan perianal, inkontinensia atau


kombinasi dari faktor faktor ini. Adanya kondisi yang menyebabkan perubahan pada
sekresi usus, absorpsi mukosal, atau motilitas dapat menimbulkan diare. (Burrner &
Suddarth, 2002)
Diare adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri,
virus, dan pathogen paralitik (Donna L. Wong 2004).
Definisi diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yg abnormal (>
3x/hari), serta perubahan dalam isi (> 200 g/hari) dan konsistensi (faeces cair). Hal ini
biasanya dihubungkan dngan dorongan, ketidaknyamanan perianala, inkontinensia, atau
kombinnasi dari faktor faktor ini. Adanya kondisi yang menyebabkan perubahan pada
sekresi usus, absorbsi mukosal, atau motilitas dapat menimbulkan diare. ( Suzanne C.
Smelttzer, 2001)
Diare adalah defikasi yang meningkat dalam frekuensi, lebih cair, dan sulit
dikendalikan. ( Mickey and Patricia, 1999).
Diare ditandai dengan peningkatan volume, frekuensi, atau faeces yang encer, yang
umumnya terjadi pada lansia. (Jaime and Liz, 2008).
2.1 Klasifikasi Diare
Diare dapat diklasifikasikan menurut waktu, yaitu:( Harrisons, 2009)
1) Diare akut
Adalah diare yang terjadi dan terlangsung kurang dari 7 hari sampai 14 hari
maksimal
2) Diare kronis
Adalah diare yang berlansung 2 minggu sampai 3 minggu.
Diare juga dapat diklasifikasikan menurut (Burrner & Suddarth, 2002) yaitu:
1) Volume tinggi ;
Terjadi bila terdapat lebih dari 1 liter feses cair per hari
2) Volume rendah ;
Terjadi bila kurang dari 1 liter feses cair yang dihasilkan perhari
3) Diare sekresi/ sekretorik

Sekresi ion aktif pasti menyebabkan hilangnya cairan, diare biasanya berupa air uang
seringkali banyak dan tidak dipengaruhi oleh puasa. Diare ini disebabkan oleh infeksi
virus seperti rotavirus, protozoa serata kelainan yang disertai AIDS.
4) Diare osmotik
Yaitu diare berupa larutan yang tidak diabsorbsi yang meningkatkan tekanan osmotik
intraluminal, sehingga menyebabkan keluarnya air, biasanya berhenti apabila puasa.
Diare ini disebabkan oleh defisiensidisakarida (misalnya laktosa), insufisiensi pankreas
dan pertumbuhan bakteri yang berlebihan.
5) Diare eksudatif
Yaitu diare yang terjadi karena adanya inflamasi, nekrosis dan pengelupasan mukosa
kolon, yang mungkin meliputi komponen diare sekretorik akibat pelepasan
prostaglandin oleh sel inflamasi. Dimana tinja biasanya mengandung lekosit
polimorfonuklear juga darah samar atau nyata. Ini disebabkan oleh infeksi bakteri
salmonella atau shigella, penyakit Crohn, atau parasit pada kolon.
2.2 Etiologi
Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut
patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:
1. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh :
a.

Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella,

salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings,


stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia
makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam),
gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan
sebagainya.
b.

Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang

mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama


canalida.
2. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:
a.
mineral.

malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan

b. Kurang kalori protein.


c.

Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.

Sedangkan menurut Ngastiyah (1997), penyebab diare dapat dibagi dalam


beberapa faktor yaitu:
1. Faktor infeksi
a.

Infeksi enteral Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang

meliputi: infeksi bakteri, infeksi virus (enteovirus, polimyelitis, virus echo


coxsackie). Adeno virus, rota virus, astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing
(ascaris, trichuris, oxyuris, strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica, giardia
lamblia, trichomonas homunis) jamur (canida albicous).
b. Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti
otitis media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis
dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur
dibawah dua (2) tahun.
2. Faktor malaborsi : Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa,
maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).
Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di
samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
3. Faktor makanan : Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi,
beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.
4. Faktor psikologis : Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut
dan cemas)
Beberapa perilaku yang dapat meningkatkan risiko terjadinya diare pada balita
( Depkes RI, 2007), yaitu :
1.

Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama pada kehidupan.

Pada balita yang tidak diberi ASI resiko menderita diare lebih besar daripada balita yang
diberi ASI penuh, dan kemungkinan menderita dehidrasi berat lebih besar.
2.

Menggunakan botol susu, penggunaan botol ini memudahkan pencemaran

oleh kuman karena botol susah dibersihkan. Penggunaan botol yang tidak bersih atau
sudah dipakai selama berjam-jam dibiarkan dilingkungan yang panas, sering
menyebabkan infeksi usus yang parah karena botol dapat tercemar oleh kuman-

kuman/bakteri penyebab diare. Sehingga balita yang menggunakan botol tersebut


beresiko terinfeksi diare
3.

Menyimpan makanan masak pada suhu kamar, bila makanan disimpan

beberapa jam pada suhu kamar, makanan akan tercermar dan kuman akan berkembang
biak.
4. Menggunakan air minum yang tercemar.
5. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja
anak atau sebelum makan dan menyuapi anak
6.

Tidak membuang tinja dengan benar, seringnya beranggapan bahwa tinja

tidak berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah
besar. Selain itu tinja binatang juga dapat menyebabkan infeksi pada manusia
2.3 PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan
osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini
akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare
timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan
berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare
sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan
yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke
dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut
berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi
hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:
1. Kehilangan air (dehidrasi)

Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan
(input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis)
Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme
lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya
penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme
yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi
oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler
kedalam cairan intraseluler.
3. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada
anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya
gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan
absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah
menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak.
4. Gangguan gizi
Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
a.

Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang
bertambah hebat.

b.

Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang
encer ini diberikan terlalu lama.

c.

Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik
karena adanya hiperperistaltik.

5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi
jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat
mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi
klien akan meninggal.
2.4 MANIFESTASI KLINIS

Pada anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan), tandatandanya : Berak cair 1-2 kali sehari, muntah ( - ), haus ( - ), nafsu makan tidak
berkurang, masih ada keinginan untuk bermain
Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan/sedang. Tanda-tandanya
: Berak cair 4-9 kali sehari, Kadang muntah 1-2 kali sehari, suhu tubuh kadang
meningkat, Haus, tidak ada nafsu makan, Badan lesu lemas
Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi berat.Tanda-tandanya: Berak
cair terus-menerus, Muntah terus-menerus, Haus, Mata cekung, Bibir kering dan biru,
Tangan dan kaki dingin, Sangat lemah, Tidak ada nafsu makan, Tidak ada keinginan
untuk bermain, Tidak BAK selama 6 jam atau lebih, Kadang-kadang dengan kejang dan
panas tinggi
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus,
hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang
berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang
menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis
metabolik yang berlanjut. Seseorang yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat
badan berkurang, ubun ubun dan mata cekung, membrane mukosa kering, tulang pipi
tampak lebih menonjol, turgor kulit jelas (elastisitas kulit menurun) serta suara menjadi
serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam
karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat
pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan
Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa
renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun
sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang
sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai
timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis
tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. :
1. Pemeriksaan tinja
a.

Makroskopis dan mikroskopis

b. PH dan kadar gula dalam tinja


c.

Bila perlu diadakan uji bakteri untuk mengetahui organisme penyebabnya,


dengan melakukan pembiakan terhadap contoh tinja.

2. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengetahui kadar elektrolit dan jumlah sel
darah putih.
3.

Pemeriksaan

gangguan

keseimbangan

asam

basa

dalam

darah,

bila

memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau


astrup.
4. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
5.

Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau


parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

2.6 Penatalaksanaan
Penanganan diare berfokus pada pemberian dukungan, meredakan gejala,
mencegah kerusakan kulit dan mengatasi penyebab. Bergantung pada penyebab,
pengobatan seperti anti mikroba, steroid, atau preparat enzim dapat diindikasikan.
Penatalaksanaan medis utama diarahkan pada pengendalian atau pengobatan penyakit
dasar. Obat obat tertentu (mis. Prednison) dapat mengurangi beratnya diare dan
penyakit. Untuk diare ringan, cairan oral segera ditingkatkan dan glukosa oral serta
larutan elektrolit dapat diberikan untuk rehidrasi. Untuk diare sedang akibat sumber non
infeksius, obat obatan tidak spesifik seperti difenut silat (Lomotil) dan loperamid
(Imodium) juga diberikan untuk menurunkan motalitas. Preparat antimikrobial bila
preparat infeksius telah teridentifikasi atau bila diare sangat berat. (Burrner & Suddarth,
2002)
Penatalaksanaan diare menurut Zein et all (2004)
1) Cairan

Penatalaksanaan medis utama diarahkan pada

pengendalian atau pengobatan

penyakit dasar. Aspek yang paling penting dari terapi diare adalah untuk menjaga
hidrasi yang adekuat dan dan keseimbangan elektrolit selama episode akut. Ini
dilakukan pada semua pasien kecuali yang tidak dapat minum atau yang terkena diare
hebat yang memerluan hidrasi intravena yang membahayakan jiwa. Idealnya , cairan
rehidrasi oral harus terdiri dari 3,5g Natrium klorida, 2,5g Natrium bikarbonat, 1,5
Kalium klorida dan 20 g glukosa perliter air. Cairan seperti itu tersedia secara komersial
dalam paket paket yang mudah disiapkan dengan mencampurkan dengan air. Jika
sediaan secara komersial tidak tersedia, cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat
dengan menambahkan :1/2 sendok teh garam, sendok teh baking soda, dan 2=4 sdm
gula perliter air. Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa
melihat etiologinya. Tujuan rehidrasi untuk meng oreksi kekurangan cairan dan
elektrolit secara cepat (therapi rehidrasi) kemudian mengganti cairan yang hilang
sampai diarenya berhenti (therapi rumatan).
Jumlah cairan yang diberi harus sama dengan jumlah cairan yang telah hilang
melalui diare dan/ muntah (previous water losses= PWL); ditambah dengan banyaknya
cairan yang hilang melalui keringat, urine, dan pernapasan (normal water
losses=NWL),; jumlah ini juga tergantung derajat dehidrasi.
Keadaan status hidrasi yang buruk dapat menyebabkan konstipasi. Orang lanjut usia
perlu diingatkan untuk minum sekurang kurangnya 6-8 gelas sehari (1500 ml perhari) ,
terkecuali diketemukan adanya kontra indikasi.

Asupan cairan dapat dicapai bila

tersedia cairan/ minuman yang dibutuhkan didekat pasien, demikian pula cairan yang
berasal dari sup, sirup dan es. Asupan cairan

(perlu lebih banyak bagi mereka

mengkonsumsi diuretik tetapi kondisi jantungnya stabil


Jika terapi intravena diperlukan, cairan normotonik seperti cairan saline normal atau
Ringer Lactate harus diberikan dengan suplementasi kalium sebagaimana panduan
kimia darah. Status hidrasi harus dimonitor baik dengan memperhatikan tanda tanda
vital, pernapasan, dan urine serta penyesuaian infus apabila diperlukan. Pemberian
harus diubah ke cairan rehidrasi oral sesegera mungkin.
BJ Plasma 1,025 x Berat badan (Kg) x 4 ml
0,001

Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis:


- Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan 5% x Kg BB
- Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan 8% x Kg BB
- Dehidrasi berat kebutuhan cairan 10% x Kg BB
2) Serat
Pada orang lanjut usia, serat berguna menurunkan waktu transit (transit time). Pada
orang usia lanjut disarankan agar mengkonsumsi serat sekitar 6-10 gram perhari. Ada
juga yang menyarankan mengkonsumsi serat sebanyak 15-20 perhari. Serat berasal dari
biji-bijian, sereal, beras merah, buah, sayur, kacang -kacangan. Kacang-kacangan akan
memfasilitasi gerakan usus dengan meningkatkan massa tinja dan mengurangi waktu
transit usus. Serat juga menyediakan substrat untuk bakteri kolon, dengan produksi gas,
dan asam lemak rantai pendek yang meningkatkan gumpalan tinja. Serat tidak efektif
tanpa cairan yang cukup, dan dikontraindikasikan pada pasien dengan impaksi tinja
(skibala) atau dilatasi kolon. Peningkatan jumlah serat dapat menyebabkan gejala
kembung, banyak gas, dan buang air besar tidak teratur, terutama pada 2-3 minggu
pertama, yang seringkali menimbulkan ketidakpatuhan obat.
3) Bowel training
Pada pasien yang mengalami penurunan sensasi akan mudah lupa untuk buang air
besar. Hal tersebut akan menyebabkan rektum lebih mengembang karena adanya
penumpukan faeces. Membuat jadwal untuk buang air besar merupakan langkah awal
yang baik untuk pasien dan juga baik diterapkan pada pasien lanjut usia yang
mengalami gangguan kognitif Pada pasien yang sudah memiliki kebiasaan buang air
besar tepat waktu, dianjurkan meneruskan kebiasaan tersebut. Sedangkan pada pasien
yang tidak memiliki jadwal teratur untuk buang air besar, waktu yang baik untuk buang
air besar adalah setelah sarapan dan makan malam.
4) Latihan jasmani
Jalan kaki setiap pagi adalah bentuk latihan jasmani yang sederhana tetapi
bermanfaat bagi orang lanjut usia yang masih mampu berjalan. Jalan kaki satu setengan
jam setelah makan cukup untuk membantu. Bagi mereka yang tidak mampu bangun dari
tempat tidur, dapat didudukkan atau diberdirikan sekitar tempat tidur. Positioning bagi
pasien lanjut usia yang tidak dapat bergerak, meninggalkan tempat tidurnya menuju ke

kursi beberapa kali dengan interval 15 menit, adalah salah satu cara untuk mencegah
ulkus dekubitus. Tentu saja pasien yang mengalami tirah baring dapat dibantu dengan
menyediakan toilet atau komod dengan tempat tidur, jangan diberi bedpan. Mengurut
perut dengan hati hati mungkin dapat pula dilakukan untuk merangsang gerakan usus.
5) Antibiotik
Pemberian antibiotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi,
karena 40% Kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik.
Pemberian antibiotik diindikasikan pada : pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi
seperti demam, faeces berdarah, lekosit pada faeces, mengurangi ekskresi dan
kontaminasi lingkungan, persisten, atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi.
Pemberian antibiotik secara empiris dapat dilakukan, teapi terapi antibiotoik spesifik
diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman.
Organisme
Pilihan pertama
Campylobacter, Shigella atau Ciprofloxacin 500mg/ oral

Pilihan kedua
Salmonella/ Shigella :

Salmonella spp

-Ceftriaxon 1g IM/ IV 1x/hr

2 x sehari, 3-5 hari

Selama 3 hari
Campylobcter spp:
-Azythtromicin 500mg/ oral
2x sehari, Erithtromicin 500
mg/ oral 2x sehari, selama
5 hari
Vibrio Cholera

Tetrasiklin 500mg/ oral

Resisten tetrasiklin :

4x sehari, 3 hari

-Ciproflokxacin 1g? Oral

Doksisiklin
dosis tunggal

300mg/

oral

1x ataua Erithtromicin 250


mg/ Oral 4x sehari selama 3
hari

Clostridium difficite

Metronidazole 250-500 mg Vancomicin.

125mg/

4x sehari, 7-14 hari oaral 4x sehari, 7-14 h1ri


atau IV
Tabel 2 : Antibiotika empiris untuk diare infeksi Bakteri (Sumber :Zein et all,2004)

oral

Macam-macam obat anti diare


1) Kelompok anti sekresi selektif
Terobosan tewrbaru dalam milenium ini adalah mulai tersedianya secara luas
racecacodril yang bermanfaat sekali sebagai penghambata enzim nekephalinase
sehingga enkephalin dapat bekerja kembali secara normal. Perbaikan fungsi akan
menormalkan sekresi dari elektrolit sehingga keaseimbangan cairan dapat dikembalikan
secara normal. Di Indonesia saat ini tersedia dibawah nama hidrasec sebagai generasi
pertama jenis obat baru anti diare yang dapat pula digunakan lebih aman terutama pada
anak.
2) Kelompok opiat
Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid HCL serta kombinasi
difenoksilat dan atropin sulfat (lomotif). Penggunaan kodein adalah15-60mg 3x sehari,
loperamid 2-4mg/ 3-4x sehari dan lomotif 5mg 3-4x sehari. Efek kelompok obat
tersebut meliputi penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan sehingga dapat
memperbaiki konsistensai faeces dan mengurangi frekwensi diare. Bila diberikan cara
yang benar obat ini cukup aman dan dapat mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%.
Bila diare akut dengan gejala demam dan sindrom disentri obat ini tidak dianjurkan.
3) Kelompok absorbent
Arang aktif, attapulgit aktif, bismut subsalisilat, pektin, kaolin atau smektif
diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyerap bahan infeksius atau
toksin toksin. Melalui efek tersebut maka sel mukosa usus terhindar kontak langsung
dengan zat zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit.
4) Zat Hidrofilik
Ekstrak tumbuh tumbuhan yang berasal dari Plantagooveta, psyllium, Karaya
(Sterculia), Ispragula,, coptidis, dan catleya dapat membentuk kolloid dengan cairan
dalam lumen usus dan akan mengurangi frekwensi dan konsistensi faeces tetapi tidak
dapat mengurangi kehilangan caiaran dan elektrolit. Pemakaiannya adalah 5-10 cc/ 2x
sehari dilarutkan dalam air atau diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet.
5) Prebiotik
2.7 Komplikasi
Menurut (Burrner & Suddarth, 2002) komplikasi dari diare adalah:
1) Dehidrasi

Dehidrasi terjadi karena kehilangan air lebih banyak dari pada pemasukan air
2) Gangguan keseimbangan asam basa.
Terjadi karena adanya metabolik acidosis. Metabolik acidosis terjadi karena
kehilangan Natrium Bicarbonat bersama tinja, penumpukan asam laktat, produk
metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal,
pemindahan ion Natrium dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler.
3) Hipoglikemia.
Gejalanya dapat berupa badan lemas, apatis, tremor, berkeringat, pucat, shock,
kejang sampai koma.
4) Gangguan Sirkulasi
Dapat berupa renjatan atau shock hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang
dan terjadi hipoksia, acidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan dalam
otak, kesadaran menurun, dan bila tidak segera ditolong pasien dapat meninggal.

2.8 Pencegahan
Pencegahan primer dapat dilakukan untuk menghindari diare pada lansia, antara
lain:
1) Mengurangi penggunaan antasida.
2) Seringkali pada lansia yang mengalami gluten enteropathy, dipertimbangkan dalam
penggunaan susu diganti dengan yogurt
3) Evaluasi dan modifikasi stressor yang dapat menyebabkan diare pada lansia
4) Karena penularan diare menyebar melalui jalur fecal oral, penularannya dapat
dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Ini termasuk sering mencuci
tangan setelah keluar dari toilet dan khususnya mengelolah makanan. Semua bahan
makanan harus dicuci bersih dengan air mengalir yang bersih. Semua daging dan
ikan harus dimasak.
2.9 Prognosis
Dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi
anti mikroba jika diindikasikan, prognosis diare hasilnya sangat baik dengan morbiditas
dan mortalitas yang minimal.

2.10 WOC
Faktor Infeksi:

Faktor
malabsorbsi (Pe
fungsi usus)

1. Infeksi Bakteri
2. Infeksi Virus

Faktor makanan
& obat-obatan

Pemakaian antasida jangka panjang

3. Infeksi Parasit

Tekanan osmotic usus

4. Jamur
Masuk
saluran cerna
Lolos barier asam lambung

Sekresi air&elektrolit pindah ke dalam rongga usus


Permeabilitas usus

Microorganisme
berkembang cepat
menghasilkan toksin
di fagosit oleh
bakteri di usus
kompensasi hipersekresi
permeabilitas usus

Gangguan proses
absorbsi makanan
DIARE
- BAB >3x/hari

Ansietas
Nyeri akut

Dehidrasi

Hipertermi

- Feses cair

Kehilangan cairan&elektrolit >>


- Volume > 200gr/hari
Kulit lecet pada anus & sekitarnya
Ketidakseimbangan elektrolit
Cairan extraseluler hilang dengan cepat
- Berlendir/darah
Berlangsung dalam waktu lama&sering
MK:Kerusakan integritas kulit

Cairan intraseluler hilang


Volume sirkulasi
MK:Resiko deficit volume
cairan & elektrolit
Deplesi elektrolit Na+. K+
PK: Disritmia Jantung

2.11

Asuhan Keperawatan

Pengkajian
Riwayat kesehatan diambil untuk mengidentifikasi awitan dan pola diare serta
pola eliminasi pasien sebelumnya. Terapi obat obatan saat ini, riwayat medis dan
bedah terdahulu, asupan diet harian dan jadwal makan.
1. Identitas
Pada lansia sering terjadi pada usia lanjut 60 tahun ke atas
2. Keluhan utama
Hal yang menjadi alasan klien datang untuk meminta pertolongan kesehatan, adalah
BAB > 3x sehari, feses sangat encer, disertai kram atau nyeri abdomen
3. Riwayat kesehatan sekarang
Penting diketahui untuk mengetahui penyebab sehingga tepat dalam penangannya.
Ditanyakan kapan mulai timbulnya diare, berapa kali dalam sehari, konsistensinya (cair
atau berminyak), bau dan warna, jumlahnya, adakah darah dan lendir atau pus dalam
faeces. Adakah kram abdomen nyeri. Biasanya klien yang mengalami diare memiliki
riwayat gangguan pada usus, setelah mengonsumsi makanan makanan yang
menyebabkan diare.
4. Riwayat kesehatan dahulu
Pola defekasi, gaya hidup, pekerjaan, asupan nutrisi dan cairan, riwayat
pengonsumsian obat serta stress dan riwayat pembedahan masa lalu.
5. Pengkajian Psikososial
Pengkajian psikososial klien diare memungkinkan perawat untuk memperoleh
informasi persepsi klien tentang penyakitnya dan status emosi. Pada klien diare sering
ditemui rasa gelisah akibat seringnya BAB cair dan ketakutan akan rasa lemas yang
dialami. Penting juga kita gali mekanisme koping yang digunakan klien.
6. Pemeriksaan fisik
B1 (Breathing)
Kekurangan volume cairan dari kebutuhan tubuh akibat diare dapat menyebabkan
terjadinya peningkatan frekuensi pernafasan dan kedalaman pernafasan (normal : 16
20 x/mnt), Inspeksi apakah klien mengalami sesak napas, penggunaan otot bantu
napas dan peningkatan frekwensi napas.
B2 (Blood)

Bila terjadi dehidrasi sedang berat, dapat terjadi hipotensi, hipertermia, mata
cowong, bibir kering. Peningkatan frekuensi denyut nadi (normal: 60-100 x/mnt),
nadi teraba lemah. Kadang terjadi peningkatan suhu tubuh jika diare disebabkan
karena infeksi bakteri.
B3 (Brain)
Pengkajian tingkat kesadaran (GCS) , pada keadaan yang lebih lanjut dapat terjadi
penurunan kesadaran dari sopor hingga koma, bila terjadi dehidrasi berat.
B4 (Bladder)
Pada pemeriksaan ini akan bisa terjadi penurunan urine yang bisa dijadikan indikator
jika klien mengalami dehidrasi. Kaji perasaan haus pada klien, warna urine kuning
pekat (bila dehidrasi sedang berat)
B5 (Bowel)
Kemungkinan bisa terjadi muntah, napsu makan menurun bahkan hilang sama sekali,
bising Usus meningkat, saat perkusi abdomen terdengar hipertimpani, klien merasa
nyeri abdomen (mules), faeces cair, BAB lebih dari 3 x sehari.
B6 (Bone-integumen)
Pada klien dewasa terutama lansia seringkali dijumpai sensitifitas kulit yang sangat
tinggi sebagai akibat penurunan turgor dan penurunan lapisan lemak subkutan.
Adanya distensi abdomen, membran mukosa kulit dan turgor apakah terjadi
penurunan yang berkaitan dengan status hidrasi, kemungkinan adanya iritasi perianal
akibat BAB yang terlalu sering serta badan lemas, turgor kulit menurun jika terjadi
dehidrasi sedang-berat.
Diagnosa Keperawatan
1. Diare berhubungan dengan infeksi, ingesti makanan pengiritasi, atau gangguan
motilitas usus.
2. Hipertermi b.d dehidrasi
3. Resiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasase faeces yang
sering dan kurangnya asupan cairan.
4. Anxietas berhubungan dengan eliminasi yang sering dan tidak terkontrol
5. Resiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pasase faeces yang
sering atau encer
6. PK Disritmia jantung berhubungan dengan deplesi elektrolit

Intervensi Keperawatan
1. Diare berhubungan dengan infeksi, ingesti makanan pengiritasi, atau gangguan
motilitas usus.
NOC :
Diare dapat dikendalikan / dapat dihilangkan
Eliminasi defekasi normal
Hidrasi adekuat
Kriteri hasil :
Eliminasi defekasi yang efektif
Keseimbangan elektrolit dan asam basa
Keseimbangan cairan, hidrasi adekuat
Nyeri kram tidak ada
Kembung tidak ada
Konsistensi BAB kembali normal
NIC:
1. Pantau dan catat frekuensi dan karakteristik, jumlah feces dan faktor pencetus
serta identifikasi kebiasaan pola defekasi
R / Untuk memantau keefektifan penanganan dan membantu membedakan
penyakit pasien dan mengkaji beratnya derajat dehidrasi.
2. Timbang BB pasien setiap hari
R / Diare yang kronis dapat menurunkan berat badan pasien
3. Tingkatkan tirah baring
R / : Untuk menurunkan motilitas usus dan menurunkan laju metabolisme bila
terjadi infeksi atau perdarahan.
4. Hindari mengkonsumsi susu,kafein dan makanan tinggi serat selama 1 minggu
R / Untuk menghindari iritasi mukosa usus
5. Identifikasi makanan dan cairan yang mencetuskan diare.
R / Menghindarkan iritan, meningkatkan istirahat usus.
6. Berikan pemasukan cairan peroral dan nutrisi yang adekuat secara bertahap.
R / menggantikan jumlah cairan yang keluar akibat diare
7. Berikan privasi dan keamanan bagi pasien selama eliminasi defekasi
R / Privasi dan keamanan lingkungan menurunkan stress yang dapat memicu
terjadinya diare
8. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyesuaian diet
R / Untuk mencegah diare yang diakibatkan oleh makanan pengiritasi usus.
9. Observasi tanda-tanda vital (nadi, suhu, tekanan darah)
R / Untuk mengetahui tanda dehidrasi sedini mungkin
10. Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksan laboratorium dan serum elektroli,
serta pemberian terapi pengobatan anti diare.

R/ Untuk membantu menegakkan diagnosa medis, dan pengobatan.


11. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan dan elektrolit
R/ Untuk menggantikan sejumlah cairan dan elektrolit yang banyak keluar
akibat diare
2. Hipertermia berhubungan dengan dehidrasi
NOC : pasien menunjukkan termoregulasi yang baik dalam waktu 1 x 6 jam
Kriteria hasil
1) Suhu tubuh dalam batas normal (Suhu tubuh 36 37 0C)
2) Keseimbangan cairan tetap stabil
3) Nadi dan pernapasan dalam rentang yang diharapkan
4) Tidak terjadi perubahan warna kulit
NIC :
1) Ukur suhu tubuh pasien setiap 4 jam, atau lebih sering diindikasikan untuk
mengevaluasi keektifan intervensi.
Rasional : Melakukan perbandingan data yang akurat.
2) Berikan antipiretik sesuai anjuran dan catat keektifannya
Rasional : untuk menurunkan demam
3) Pantau TTV minimal tiap jam
Rasional ; peningkatan hasil atau perubahan TTV dari batas normal, menunjukkan
adanya gangguan atau respon tubuh diluar nilai normal.
4) Anjurkan klien untuk banyak meminum cairan secara adekuat dan pantau hasil
hularan klien
Rasional : Cairan keluar dan masuk harus seimbang
5) Pertahankan suhu lingkungan yang stabil
Rasional : suhu lingkungan membantu dalam proses evaporasi
6) Berikan pakaian yang longgar, tipis dan mudah menyerap keringat
Rasional : Hipertemi dapat lebih cepat teratasi
7) Berikan kompres hangat
Rasional : Terjadi vasodilatasi pembuluh darah, sehingga mempercepat penurunan
suhu tubuh
3. Resiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasase faeces yang
sering dan kurangnya asupan cairan
NOC :
Keseimbangan elektrolit dan asam basa
Keseimbangan cairan
Hidrasi
Status nutrisi dan cairan
Kriteria evaluasi
Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Asupan cairan pasien melebihi haluaran

Pasien menyatakan pemahaman tentang perlunya mempertahankan cairan yang


adekuat

NIC :
1) Pantau turgor kulit setiap giliran jaga dan catat penurunannya
R / turgor kulit buruk merupakan suatu tanda dehidrasi
2) Periksa membran mukosa muut setiap giliran jaga.
R / membran mukosa yang kering merupakan tanda dehidrasi
3) Uji berat jenis urine. Pantau nilai laboratorium dan laporkan temuan yang tidak
normal
R / peningkatan hematokrit dan HB juga mengindikasikan adanya dehidrasi
4) Pantau TTV setiap 4 jam
R / takikardia,hipotensi,dispneu atau demam dapat mengindikasikan defisit
volume cairan
5) Ukur berat badan pasien setiap hari dan catat hasilnya
R / pengukuran berat badan setiap hari dapat memperkirakan status cairan tubuh
6) Simpan cairan oral pada tempat yang mudah dijangkau pasien dan anjurkan
pasien untuk minum
R / memudahkan pasien mengontrol asupan cairan dan tambahan asupan cairan
7) Catat intake dan output dari cairan
R / untuk membantu perkiraan keeimbangan cairan pasien
8) Berikan dan pantau cairan parenteral sesuai anjuran
R / untuk mengembalikan kehilangan cairan
4. Ansietas berhubungan dengan respon parasimpatis: nyeri abdomen akibat diare
NOC : ansietas berkurang
Kriteria hasil :

Tidak menunjukkan perilaku agresif


Mengomunikasikan kebutuhan dan perasaan negatif secara tepat

NIC :
1) Dorong pasien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpam balik tentang
mekanisme koping yang tepat.
Rasional: Membuat hubungan terapeutik, dan membantu pasien dalam
menyatakan masalah yang menyebabkan stress.
2) Ciptakan lingkungan yang tenang.
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan membantu menurunkan ansietas.
3) Berikan informasi yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan.
Rasional: Keterlibatan pasien dalam perencanaan perawatan memberikan rasa
aman dan membantu menurunkan ansietas.
4) Bantu pasien untuk mengatasi tingkat kecemasani
Rasional: Menurunkan tingkat kecemasan.
5) Libatkan keluarga dalam mengurangi kecemasan klien.

Rasional: Dukungan keluarga, pasien merasa nyaman.


5. Risiko kerusakan integritas kulit, berhubungan dengan peningkatan frekwensi
eliminasi
NOC : Kerusakan integritas kulit tidak terjadi
Kriteria Hasil ;

Pasien tidak mengalami kerusakan kulit


Pasien mempertahankan sirkulasi kulit yang adekuat
Pasien dan anggota keluarga mampu melakukan perawatan kulit

NIC :
1) Gunakan alat perawatan kulit preventif sesuai kebutuhan
Rasional ; Untuk mencegah ketidaknyamanan dan kesukan kulit
2) Pertahankan kulit pasien tetap bersih dan kering
Rasional ; untuk mencegah kulit kering dan kenyamanan, sehingga mengurangi
resiko iritasi dan kerusakan kulit
3) Pantau asupan nutrisi pasien dan pertahankan hidrasi yang adekuat
Rasional ; Hidrasi mampu mempertahankan integritas kulit
4) Berikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kulit preventive dan anggota
keluarga
Rasional Tindakan tersebut mendorong kepatuhan terhadap program perawatan
kulit.
6. PK Disritmia jantung berhubungan dengan deplesi elektrolit
NOC: Tidak terjadi disritmia karena kekurangan elektrolit
NIC:
1) Kaji tanda-tanda adanya disritmia
R / sebagai data dasar dalam menentukan intervensi selanjutnya
2) Lakukan perekaman EKG dan catat adanya kelainan irama jantung
R/ gambaran EKG akan berubah apabila terjadi kekurangan kalium
3) Kolaborasi pemberian cairan parenteral sesuai indikasi
R / cairan parenteral untuk meningkatkan kebutuhan elektrolit akibat
diare
4) Kolaborasi penanganan disritmia sesuai algoritma penanganan disritma
R / penanganan disritmia yang tepat sesuai algoritma dapat
menyelamatkan pasien dari ancaman kematian.