Anda di halaman 1dari 3

1. Apa hubungan usia dan keluhan yang dialami Ny Retno?

Leukorea atau keputihan (white discharge/flour albus) adalah gejala yang sering kali dialami
oleh para wanita, sewaktu ada cairan (bukan darah) yang keluar dari alat genital wanita.
Gejala ini adalah salah satu yang paling sering dialami oleh para wanita, pada usia produktif
khususnya (20-45 tahun). Namun tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada usia dini
ataupun pada orangtua.

Pada kasus, Ny. Retno berusia 30 tahun yang artinya usia Ny. Retno ada di dalam rentang
usia produktif, sehingga bisa menjadi faktor resiko terjadinya keluhan-keluhan yang dialami
Ny. Retno tersebut.

2. Adakah komplikasi yang dialami Ny Retno akibat sekret yang keluar begitu lama
tanpa penanganan?

a. Pada kasus yang tidak diobati, infeksi vagina sederhana dapat menyebar ke traktus
reproduksi bagian atas dan menyebabkan penyakit lain yang lebih serius, dan dalam
waktu yang lama dapat terjadi infertilitas

b. Seperti halnya apabila benda asing bertahan di dalam tubuh dapat terjadi toxic shock
syndrome

c. Polip servikalis umumnya tidak membahayakan walaupun dapat menyebabkan infertilitas


pada waktu berkembang sangat besar

d. Adanya komplikasi yang spesifik berhubungan dengan leukorea pada kehamilan seperti
kelahiran prematur, ruptur membrane yang prematur, berat badan bayi lahir rendah, dan
endometritis paska kelahiran. peradangan vagina dapat menyebabkan komplikasi
kehamilan seperti pecahnya plasenta terlalu dini, infeksi di kantung ketuban, yang dapat
menjurus pada kelahiran prematur.

3. Penyakit apa saja yang menyebabkan acetowhite (+)?


4. Epidemiologi

Sekret vagina sering tampak sebagai suatu gejala genital. Proporsi perempuan yang
mengalami flour albus bervariasi antara 1 -15% dan hampir seluruhnya memiliki aktifitas
seksual yang aktif, tetapi jika merupakan suatu gejala penyakit dapat terjadi pada semua
umur. Seringkali fluor albus merupakan indikasi suatu vaginitis, lebih jarang merupakan
indikasi dari servisitis tetapi kadang kedua-duanya muncul bersamaan. Infeksi yang sering
menyebabkan vaginitis adalah Trikomoniasis, Vaginosis bacterial, dan Kandidiasis. Sering
penyebab noninfeksi dari vaginitis meliputi atrofi vagina, alergi atau iritasi bahan kimia.
Servisitis sendiri disebabkan oleh Gonore dan Klamidia. Prevalensi dan penyebab vaginitis
masih belum pasti karena sering didiagnosis dan diobati sendiri. Selain itu vaginitis
seringkali asimptomatis dan dapat disebabkan lebih dari satu penyebab.

5. Pemeriksaan Penunjang (Gold Standar)

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan :

- Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan biokimia dan urinalisis.

- Kultur urin untuk menyingkirkan infeksi bakteri pada traktus urinarius

- Sitologi vagina

- Kultur sekret vagina

- Radiologi untuk memeriksa uterus dan pelvis

- Ultrasonografi (USG) abdomen

- Vaginoskopi

- Sitologi dan biopsy jaringan abnormal

- Tes serologis untuk Brucellosis dan herpes

- Pemeriksaan PH vagina.

- Penilaian swab untuk pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10 % .
- Pulasan dengan pewarnaan gram .

- Pap smear.

- Biopsi.

- Test biru metilen.

6. Pencegahan

Berbagai pencegahan yang dilakukan akan berguna untuk mengurangi insidensi kepurihan,
dimana keputihan merupakan penyakit yang hampir pernah dialami oleh setiap wanita.
Pencegahan/edukasi yang dapat diberikan yaitu:

1. Menyeka daerah kelamin dari depan ke belakang

2. Mencuci daerah kelamin dengan air hangat

3. Menghindari sabun atau produk kesehatan feminim

4. Menghindari krim steroid (kecuali diresepkan)

5. Memakai celana dalam katun

6. Menghindari pemakaian celana ketat

7. Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar vagina harum dan
kering sepanjang hari. Bedak memiliki partikel halus yang mudah terselip disana-sini dan
akhirnya mengandung jamur dan bakteri untuk bersarang ditempat itu.

8. Jaga kesterilan alat vital. Penggunaan tisu basah atau produk pantyliner harus betul-betul
steril.

9. Selalu keringkan bagian vagina sebelum berpakaian.