Anda di halaman 1dari 7

1

Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)

F.2. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana

Mengenalkan Berbagai Metode Kontrasepsi sebagai Salah Satu Upaya


Merencanakan Kehamilan

Program Internship Dokter Indonesia

Disusun Oleh:
dr. Yusrina Adani

Dokter Pendamping:
dr. Zulia Nuraini

Pusat Kesehatan Masyarakat Mlati II Sleman


2015
2

A. LATAR BELAKANG

Survei Penduduk 2010 menyebutkan populasi penduduk Kabupaten Sleman mencapai


1,1 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) sebesar 1,97 %. LPP Sleman tersebut
lebih tinggi dari LPP DIY (1,93 %) dan laju LPP nasional (1,49 %), serta jauh di atas target
nasional yaitu 1,1 %. Jurnal Kependudukan menyebutkan bahwa pada tahun 2015 akan
terjadi lonjakan penduduk. Penduduk Sleman akan meningkat lebih pesat dibanding
pertambahan penduduk pada tahun-tahun berikutnya.

Selain permasalahan laju pertumbuhan penduduk tersebut, terdapat permasalahan


khusus di dalamnya berupa perkembangan kelompok umur 20-24 tahun yang sangat tinggi.
Dalam lima tahun ke depan kelompok usia ini sudah menjadi pasangan usia subur dan
mempunyai anak sehingga diperkirakan akan ada banyak kelahiran yang berkontribusi pada
pertambahan jumlah penduduk yang luar biasa banyaknya disumbang dari kelompok umur
ini. Jika selama kurun waktu masa reproduksi sehat pasangan usia subur dari kelompok umur
20-24 ini tidak melakukan program Keluarga Berencana (KB), tentu akan terjadi
pertambahan penduduk yang pesat tidak hanya sekedar lonjakan penduduk tetapi akan terjadi
ledakan penduduk.
Program Keluarga Berencana (KB) adalah program pembatasan jumlah anak yakni
dua untuk setiap keluarga. Program tersebut berpotensi meningkatkan status kesehatan wanita
dan menyelamatkan kehidupannya. Hal itu dapat dilakukan dengan cara memungkinkan
wanita untuk merencanakan kehamilan sebagai hak reproduksi sehingga dapat menghindari
kehamilan pada umur atau jumlah persalinan yang membawa bahaya tambahan dengan cara
menurunkan kesuburan.
Menurut WHO (World Health Organisation), KB adalah tindakan yang membantu
individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, untuk
menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang
diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam
hubungan dengan umur suami istri, menentukan jumlah anak dalam keluarga. Menurut data
WHO setiap tahun lebih dari 600.000 wanita meninggal akibat komplikasi kehamilan saat
melahirkan, 99% kematian terjadi di negara berkembang. Pencegahan dan penurunan angka
kematian ibu merupakan salah satu alasan diperlukannya pelayanan keluarga berencana.
Program keluarga berencana dapat menurunkan angka kematian ibu dalam beberapa cara.
Keluarga berencana dapat menyebabkan penurunan jumlah kelahiran karena setiap kehamilan
yang berkaitan dengan beberapa resiko dapat dihindari. Keluarga berencana juga dapat
3

mengurangi kehamilan yang tidak tepat waktunya misalnya kehamilan pada wanita yang
sangat muda dan pada wanita yang sudah tua. KB membantu menurunkan jumlah kehamilan
yang tidak diinginkan karena kehamilan yang tidak diinginkan selalu menjadi ancaman bagi
kesehatan wanita (World Health Organization, 2007).

Hasil SDKI 2012 menunjukkan bahwa angka kematian ibu masih tinggi yaitu 359 per
100.000 kelahiran hidup. Seringnya ditemukan 4 T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat
jarak antar kelahiran, dan terlalu banyak anak yang dilahirkan) merupakan salah satu faktor
yang berperan terhadap angka kematian ibu.

Penguatan pelayanan Keluarga Berencana merupakan salah satu upaya penting untuk
mendukung percepatan penurunan angka kematian ibu. Data menunjukkan bahwa cakupan
kesertaan KB aktif atau Contraceptive Prevalence Rate hanya meningkat 0,5% dari 57,4%
(SDKI 2012) menjadi 57,9%, angka kehamilan pada remaja atau Age Specific Fertility Rate
15-19 tahun masih tinggi, yaitu 48/1000 perempuan usia 15-19 tahun. Belum optimalnya
indikator-indikator yang tercapai tersebut berkontribusi pada stagnannya Total Fertility Rate
dan berdampak pada tingginya angka kematian ibu di Indonesia.

Untuk meningkatkan pelayanan keluarga berencana tersebut pemerintah membentuk


suatu badan yang khusus menangani hal tersebut yaitu Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN). Melalui badan inilah program-program keluarga berencana dilaksanakan
di tiap daerah-daerah di Indonesia baik di pedesaan maupun di kota-kota di seluruh Indonesia
yang kegiatannya dilaksanakan oleh petugas-petugas kesehatan yang bekerjasama dengan
masyarakat (Hartanto, 2004).

Sebagai petugas kesehatan, dalam memberikan pelayanan keluarga berencana kepada


masyarakat tentu harus memperkenalkan atau mempromosikan beberapa metode kontrasepsi.
Komponen dalam pelayanan KB yang dapat diberikan adalah KIE (Komunikasi,
Informasi, dan Edukasi), konseling, pelayanan kontrasepsi (PK), pelayanan infertilitas,
pendidikan seks, konsultasi pra-perkawinan dan konsultasi perkawinan, konsultasi genetik,
tes keganasan, adopsi (Hanafi Hartanto, 2004). Secara pendekatan sosioekonomi
pengontrolan kelahiran penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberi efek yang
positif terhadap kebahagian keluarga juga lingkungan sekitar (Cunningham, 2005).

Pada dasarnya pelayanan kontrasepsi dapat dibagi sesuai dengan sasaran yang akan
dicapainya. Peserta wanita berumur di bawah 20 tahun dengan alasan menunda kehamilan
4

diutamakan pemakaian kontrasepsi pil oral, sedangkan penggunaan kondom tidak


disarankan karena biasanya pasangan muda masih tinggi frekuesi bersenggamanya
sehingga dapat menyebabkan kegagalan dalam mencegah kehamilan. Dapat juga
digunakan IUD-Mini (Intra Uterine Device Mini) terutama pada calon peserta yang
kontraindikasi terhadap pil oral. Pada peserta umur 20-30 tahun dengan alasan
menjarangkan kehamilan maka segera setelah anak pertama lahir dianjurkan untuk
memakai IUD (Intra Uterine Device) sebagai pilihan utama dan kegagalan kontrasepsi di
sini bukanlah suatu kesalahan program. Pada peserta di atas 30 tahun dengan alasan tidak
mau hamil maka pilihan utama adalah kontrasepsi mantap, pil oral kurang dianjurkan karena
usia ibu yang relatif tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya akibat sampingan dan
komplikasi (Hanafi Hartanto, 2004).

B. PERMASALAHAN

Menurut data di bagian KIA Puskesmas Mlati II Sleman, angka cakupan pelaksanaan
KB di masyarakat sebesar 75%. Pengunaan Kontrasepsi di Indonesia sudah diatas rata-rata
penggunaan kontrasepsi di ASEAN yaitu 61% dan pencapaian utama berasal dari puskesmas
sebesar 97,5%. Permasalahan yang muncul adalah sebagian besar masyarakat hanya
mengetahui metode kontrasepsi berupa pil dan suntik. Masyarakat belum banyak mengetahui
informasi metode kontrasepsi lain.

C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Metode intervensi yang digunakan adalah dengan melakukan penyuluhan dan diskusi
secara langsung kepada para wanitausia reproduktif yang telah menikah. Materi penyuluhan
berfokus untuk menjelaskan tujuan dan fungsi KB serta memberikan contoh pilihan metode
kontrasepsi yang dapat digunakan. Media yang digunakan adalah leaflet dan slide presentasi.
Selama kegiatan penyuluhan juga digunakan untuk mendata peserta yang pernah
menggunakan KB namun selanjutnya tidak melanjutkan penggunaan (drop-out) dan
menanyakan sebab ketidakberlanjutan program. Peserta yang berminat menggunakan KB
atau ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut diarahkan untuk dating ke puskesmas.

D. PELAKSANAAN
5

Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada hari Sabtu, 19 Desember 2015 pk 14.00


15.00 di Dusun Senduri, Mlati, Sleman. Acara ini dihadiri oleh sekitar 20 orang ibu-ibu PKK.
Kegiatan penyuluhan dilakukan dengan menggunakan presentasi powerpoint. Penyuluhan
berlangsung lancar dan interaktif.. Banyak peserta yang antusias bertanya dan membagi cerita
menggunakan kontrasepsi.

Dokter Pendamping

dr. Zulia Nuraini


6

LAMPIRAN

Gb 1. Kegiatan penyuluhan di Dusun Jetis, Tirtoadi, Mlati, Sleman

Gb 2. Sesi tanya-jawab

Gb 3. Kegiatan penyuluhan di Dusun Rajeg Lor


7

Gb 4. Warga dengan seksama memperhatikan penjelasan mengenai


berbagai metode kontrasepsi jangka panjang

Gb 5. Sesi tanya-jawab