Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Bobbi de Porter, dkk (2000:73) :"Musik berpengaruh kuat dalam

lingkungan belajar, guru dapat menggunakan musik untuk menata suasana hati,

mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Musik

membantu pelajar bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak. Musik

merangsang, meremajakan dan memperkuat belajar, baik secara sadar maupun

tidak sadar. Di samping itu kebanyakan siswa memang mencintai musik"

"Irama, ketukan dan keharmonisan musik mempengaruhi fisiologi manusia

- terutama gelombang otak dan detak jantung - di samping membangkitkan

perasaan dan ingatan; Musik dapat membantu siswa masuk ke dalam belajar

optimal, demikian pula musik dapat membangun hubungan guru - siswa"

(Lozanov, 1979).

Dilihat dari esensinya, konsep dasar pendidikan seni di sekolah menengah

(termasuk pendidikan musik), yang dirumuskan oleh Panitia Lokakarya

Pendidikan Seni (2001: format 002A) menjelaskan bahwa pendidikan seni di

sekolah bertujuan mewujudkan manusia yang sehat mental ditunjukkan dengan

kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan moral (MQ), kecerdasan intelektual (IQ),

kecerdasan spiritual (SQ) bahkan kecerdasan adversitas (AQ) atau ketahan-

malangan berupa sikap mengubah kegagalan menjadi starting point kesuksesan.

Demikianlah guru mata pelajaran kesenian yang merupakan komponen

yang tidak terpisahkan dalam sistem sekolah, dengan tuntunan kurikulum yang

berlaku, juga harus mampu merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan

1
dan mengevaluasi seluruh kegiatan pembelajaran dari mata pelajaran kesenian /

seni musik yang diajarkan kepada murid- muridnya.

Untuk menghadapi situasi ideal yang demikian, kurikulum pendidikan

kesenian sebagai bagian dalam konteks pendidikan umum, dirancang secara

sistematis guna membantu pengembangan aspek rasa (artistik dan estetis) melalui

penajaman apresiasi bentuk suara atau bunyi, disertai kemampuan mencipta sesuai

dengan tingkat perkembangan/ usia anak (Dikdasmen Depdiknas, 2000: 5).

Sebagaimana telah dipahami bahwa setiap proses pembelajaran harus

berorientasi pada tercapainya tujuan esensi dasar di atas, yaitu terbentuknya profil

ideal yang menggambarkan sosok pribadi manusia Indonesia seutuhnya

(Satmoko, 1999:19). Dalam rangka merealisasikan tujuan tersebut diperlukan

berbagai perangkat pendidikan di antaranya adalah kemampuan guru mengelola

proses pembelajaran atau melaksanakan praktek pembelajaran seni musik di

sekolah menengah umum sesuai dengan tuntutan kurikulum.

Sebagai salah satu perangkat pendidikan yang selalu menjadi pedoman

manajemen pembelajaran, kurikulum hendaknya dirancang dan ditulis sedemikian

rupa sehingga struktur dan isi pengalaman belajarnya dapat dibaca dan dipahami

guru sebagai pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah, agar pada gilirannya,

guru mampu menyajikan pengalaman belajarnya dan membantu peserta didik

memecahkan permasalahannya dalam kehidupan sekarang dan kemudian hari

(Ismiyanto, 2000: 2).

Pertanyaan tentang kemampuan guru memahami substansi kurikulum

menjadi sangat penting , karena selama ini "Kurikulum Nasional" disusun oleh

para ahli kurikulum atau bahkan pejabat berdasarkan ide- idenya yang acapkali

2
kurang atau bahkan mungkin tidak dipahami oleh pelaksana kurikulum sekolah

menengah di daerah. Dalam kondisi demikian kemungkinan besar tujuan esensial

pendidikan musik di sekolah yang dicita-citakan tidak akan tercapai.

Nana Sudjana dalam buku 'Dasar- dasar Proses Belajar- Mengajar'

menyatakan bahwa : "Pengajaran pada dasarnya tidak lain ialah proses

mengkoordinasi sejumlah komponen pengajaran agar satu sama lain saling

berhubungan dan saling berpengaruh sehingga menumbuhkan kegiatan belajar

pada siswa seoptimal mungkin menuju terjadinya perubahan tingkah laku siswa

sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan" (2001: 40).

Pernyataan di atas senada dengan pandangan menurut Jamalus dalam

bukunya yang berjudul 'Musik 4', yang berpendapat : "Pelaksanaan pengajaran

musik sangat tergantung kepada komponen- komponen yang memegang peranan

dalam proses belajar - mengajar seperti guru, murid, tujuan yang ingin dicapai,

materi yang disampaikan, metode penyajian yang tepat dan sarana penunjang

proses belajar- mengajar tersebut." (1981: 90).

Hingga saat ini masih ada sebagian guru yang salah memahami konsep

pendidikan seni di dalam proses pembelajaran, yang masih menggunakan proses

pembelajaran yang berorientasi pada teacher oriented yaitu transfer informasi dari

guru ke siswa, atau bahkan memaksakan sesuatu yang diberikan kepada siswa.

Selain pemahaman konsep yang salah, juga lemahnya sistem supervisi dan adanya

kesenjangan antara kurikulum sebagai dokumen dengan implementasinya.

Akibatnya adalah kurang tertatanya pembelajaran pendidikan seni di sekolah.

Mengenai cara atau bentuk penyajian pembelajaran seni di sekolah

menengah umum J. Riberu dalam bukunya 'Mengajar Dengan Sukses'

3
mengatakan : "Pembelajaran harus mampu membina kemahiran para peserta didik

untuk secara kreatif dapat menghadapi situasi sejenis, malahan situasi yang baru

sama sekali dengan cara yang memuaskan" (1980: xiii).

Pendapat- pendapat di atas menyatakan bahwa guru selaku pelaksana

pembelajaran harus mampu melaksanakan pembelajaran yang efektif, yang dapat

memberi pemahaman, kemampuan dan keterampilan serta kreativitas kepada

murid untuk mengaplikasikan pengetahuannya dalam situasi yang dihadapinya.

Hal ini sejalan dengan konsep CBSA atau berpusat pada siswa, belajar melalui

proses mengalami sendiri.

Guna menciptakan cara pembelajaran seperti tersebut di atas, guru dalam

melaksanakan pembelajaran perlu memperhitungkan penggunaan suatu

pendekatan pembelajaran yang dipandang mampu menunjang tercapainya tujuan

pembelajaran. Sejalan dengan itu, Zainal Arifin, dkk, dalam buku 'Pendekatan

dalam Proses Belajar Mengajar' mengemukakan : "Salah satu cara belajar-

mengajar yang menekankan berbagai tindakan dan kegiatan adalah menggunakan

pendekatan tertentu, karena pendekatan belajar- mengajar pada hakekatnya

merupakan suatu upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar.yang dilakukan

oleh peserta didik dan guru. Pendekatan itu menekankan pentingnya belajar

melalui proses mengalami untuk memperoleh pemahaman" (1991: 1).

Berdasarkan ungkapan- ungkapan di atas, peneliti memaknai bahwa

belajar melalui proses mengalami yaitu cara belajar yang melibatkan murid-murid

dalam pengalaman-pengalaman musik sangat menunjang tercapainya tujuan

pembelajaran musik yang diinginkan, sebagaimana yang dikemukakan oleh

Y.E.A. Rompas-Awuy dalam makalah yang berjudul 'Metodik Khusus Pendidikan

4
Kesenian di Sekolah', bahwa :"Masih ada guru-guru seni musik di sekolah formal

yang memberi pelajaran menyanyi untuk bidang studi seni musik" (1981: 1).

Senada dengan ungkapan tersebut dalam sebuah artikel dikemukakan bahwa :

"Sistem mengajar sekarang di sekolah- sekolah mungkin cuma dengan cara anak

maju satu persatu menyanyi di depan kelas .. " (Darungo,MP,1991:1)

Seperti ungkapan di atas demikian pula yang diamati penulis sebagai salah

satu bentuk kegiatan pengalaman musik yang dilakukan guru dalam pengajaran

musik di sekolah, yaitu lebih banyak menyanyi ketimbang bermain musik dan

lain- lain. Kenyataan- kenyataan yang terjadi dalam pembelajaran musik tersebut

di atas, menyebabkan kemampuan murid dalam mengekspresikan musik tidak

sesuai dengan yang diharapkan. Padahal untuk dapat mengembangkan sikap dan

kemampuan bermusik, perlu ditanamkan dan dikembangkan sikap, pengertian

serta rasa unsur-unsur musik dalam diri anak didik, sebagaimana tujuan mata

pelajaran Pendidikan Kesenian yang tercantum dalam Kurikulum Pendidikan

Kesenian di Sekolah, GBPP tahun 1999 yang disempurnakan tahun 2004.

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, diperlukan guru seni musik yang

memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam bidang musik yang didukung

dengan tersedianya fasilitas seperti alat musik, ruang praktek bermain alat musik,

motivasi orang tua murid serta penerapan metode pembelajaran yang bervariasi.

Perkembangan sejarah sesungguhnya telah memberi wujud pada eksistensi

Sekolah Menengah Atas Negeri I Manado sebagai sekolah yang dikategorikan

"unggulan", yang di dalam kiprahnya menghasilkan pendidikan yang berkualitas

ternyata setelah diadakan analisis awal mengenai kekuatan dan kelemahan internal

serta analisis peluang dan tantangan eksternal, terdapat sejumlah kelemahan

5
(weaknesses) yang dihadapi SMA Negeri I Manado dalam rangka mengemban

tugas menghasilkan pendidikan yang berkualitas.

Sebagai Sekolah Menengah Atas yang pertama ada di Kota Manado,

dengan segala pengalaman yang dimiliki, seharusnya boleh menampilkan citra

sebagai "yang terdepan" dari berbagai dimensi karya siswa termasuk karya siswa

dalam hal berkesenian musik. Dari sisi pembelajaran mata pelajaran praktek

berkesenian, masih terdapat kelemahan dalam hal manajemen pembelajaran,

padahal dalam era kompetisi saat ini, masyarakat konsumen pendidikan banyak

yang memilih sekolah untuk anak- anaknya berdasarkan informasi mengenai

pencitraan yang dapat ditonjolkan oleh sekolah.

Dalam upaya memenuhi harapan tersebut, dengan sistem pendidikan yang

selalu berkembang guna menghasilkan profil ideal sebagai lulusan yang tidak

hanya berpengetahuan dan berketerampilan, tetapi juga berbudi pekerti luhur,

sehat jasmani dan rohani, kreatif dan inovatif serta memiliki tanggung jawab

kemasyarakatan dan kebangsaan, haruslah benar- benar direalisasikan..

Dalam rangka merealisasikan harapan tersebut, seorang guru pendidikan

seni (musik) di tingkatan SMA Negeri di Kota Manado, harus memiliki

kemampuan manajerial yang mumpuni (ideal), sebab harus mampu

merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi

seluruh kegiatan di sekolah, guna mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran.

Memang manajemen suatu lembaga pendidikan setara SMA memiliki arti

yang sangat kompleks, namun jika meminjam istilah Marry Parker Follet dalam

Amsyah (2000: 60) yang menyatakan bahwa management is the art of getting

things done through people, dapat dikatakan bahwa manajer mengkoordinasikan

6
orang-orang lain untuk bekerja mencapai tujuan yang mungkin tidak akan tercapai

bila dikerjakan secara individual. Dengan demikian manajemen di pendidikan

SMA dapat dimaknai sebagai aplikasi dari fungsi-fungsi perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan/penggiatan dan pengawasan agar tujuan organisasi

sekolah dapat tercapai secara efisien dan efektif.

Secara operasional dapat didefinisikan bahwa manajemen di lembaga

pendidikan SMA adalah proses mengkoordinasikan, mengintegrasikan,

mensinkronisasikan sumberdaya : manusia (man), uang (money), metode

(method), materi (material), waktu (minute), dan pasar/pelanggan (market)

dengan mengaplikasikan fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan,

pengorganisasian, penggiatan , pengawasan dan lain-lain agar tujuan pendidikan

SMA sebagai suatu organisasi dapat tercapai secara efisien dan efektif. Elemen-

elemen fungsi manajemen tersebut di atas, memerlukan dukungan semua pihak

termasuk guru- guru bidang studi kesenian termasuk seni musik.

Bertolak dari kenyataan dan masalah tersebut di atas, guna meningkatkan

kualitas pembelajaran seni musik di sekolah yang mampu menghasilkan output

dan outcomes yang berkualitas, baik menyangkut kualitas isi maupun kualitas

penyajian untuk kepuasan pelanggan (orang tua), perlu diadakan tindakan dan

kajian akademis yang mendalam dan holistik dalam bentuk penelitian dengan

mengkaji Manajemen Pembelajaran Seni Musik di SMA Negeri I Manado.

B. Fokus Masalah

Ditinjau dari aspek fungsi manajemen pendidikan berupa perencanaan,

pengorganisasian, aktualisasinya maupun pengawasannya, dengan bertitik tolak

dari masalah yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini difokuskan pada :

7
kajian manajemen pembelajaran seni musik di SMU Negeri I Manado, sehingga

fokus masalah yang dikaji dalam penelitian ini dapat dirinci menjadi beberapa

pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pemahaman konsep pembelajaran seni musik oleh Guru seni

musik di SMA Negeri I Manado ?

2. Bagaimanakah peran Guru Seni Musik di SMA Negeri I Manado sebagai

pemimpin, administrator, manajer, supervisor dan penghubung masyarakat

dalam membina mata pelajaran seni musik ?

3. Bagaimanakah peran Guru seni musik di SMA Negeri I Manado sebagai

pelaksana proses pembelajaran yang meliputi : perencanaan,

pengorganisasian, penggiatan dan pengawasan / evaluasi ?

4. Apakah faktor penunjang dan faktor penghambat dalam pembelajaran seni

musik di SMA Negeri I Manado ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab fokus permasalahan yang yang

ingin diteliti yakni :

1. Mendeskripsikan / mengkaji pelaksanaan pembelajaran seni musik oleh Guru

seni musik di SMA Negeri I Manado

2. Mendeskripsikan peran Guru seni musik di SMA Negeri I Manado sebagai

pelaksana proses pembelajaran yang meliputi : perencanaan,

pengorganisasian, penggiatan dan pengawasan / evaluasi.

3. Mendeskripsikan faktor penunjang dan faktor penghambat dalam pembelajaran

seni musik di SMA Negeri I Manado

8
D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan bermanfaat, terutama bagi pihak-pihak

sebagai berikut :

1. Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis penelitian ini adalah memberikan sumbangsih terhadap

perkembangan ilmu, terutama menyangkut manajemen pendidikan seni

musik.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah :

1.1. Sebagai bahan informasi untuk masukan bagi Kepala Sekolah dan Guru

seni musik di SMA Negeri I Manado. Dengan penelitian ini

diharapkan akan dapat dipahami secara lebih mendalam kekurangan

maupun kelebihan yang sesungguhnya mengenai pembelajaran seni

musik di sekolah tersebut.

1.2. Sebagai bahan masukan bagi peneliti lainnya untuk melaksanakan

penelitian lebih lanjut.

9
BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

A. KAJIAN PUSTAKA.

Menurut Bobbi de Porter, dkk (2000: 77) : "Musik merangsang semangat

dan pengalaman belajar. Penelitian menunjukkan bahwa belajar lebih mudah dan

cepat jika siswa berada dalam kondisi santai dan reseptif. Detak jantung orang

dalam keadaan ini adalah 60 sampai 80 kali per menit. Kebanyakan musik Barok

sesuai dengan detak jantung manusia yang santai dalam kondisi belajar optimal.

Selanjutnya penelitian pendukung yang menggunakan musik Barok (Bach,

Correli, Vivaldi, Handel, Mozart) dan musik Klasik (Satie, Rachmaninoff) untuk

merangsang dan mempertahankan lingkungan belajar optimal; Demikian pula

Struktur kord melodis dan instrumentasi Barok membantu tubuh mencapai

keadaan waspada tetapi relaks (Schuster dan Gritton, 1986).

Hasil penelitian Dr. Frances H. Rauscher, Universitas California di Irvine

menurut Brown (1993: 66) mengemukakan mereka menemukan bahwa para

siswa yang mendengarkan musik Mozart, tampak lebih mudah menyimpan

informasi dan memperoleh nilai tes lebih tinggi, sebab musik sejenis itu bisa

merangsang jalur saraf yang penting untuk kognisi. "Memainkan musik Mozart

akan mengkoordinasikan napas, irama jantung, dan irama gelombang otak ....

musik ini mempengaruhi pikiran , merangsang reseptivitas dan persepsi sehingga

tujuan pembelajaran dapat dicapai" (Rose, 1987: 98).

Pencapaian tujuan pembelajaran seni musik, memerlukan satu kesatuan

kegiatan pendidikan yang tidak dapat dipisahkan termasuk di dalamnya adalah

10
peran guru. Guru sebagai tenaga pendidik bertugas membimbing, mengajar dan

atau melatih peserta didik. Peran guru dalam rangka mencapai tujuan pendidikan

sangat penting dalam mengendalikan keberhasilan kegiatan pembelajaran.

Guru sebagai pelaku kegiatan pembelajaran seni musik, dituntut harus

mampu memahami dengan benar isi kurikulum pembelajaran musik yang berlaku,

yang meliputi GBPP, Landasan dan Program Pengembangan Pembelajaran

musik, Petunjuk Pelaksanaan Proses Pembelajaran musik, Evaluasi Hasil

Pembelajaran musik dan juga memahami secara tepat konsep pendidikan musik

dan pengajaran seni musik di SMA.

Hingga kini masih ada sebagian guru yang salah memahami konsep

pendidikan seni musik sehingga di dalam proses pembelajaran yang digunakan

pun masih menggunakan proses pembelajaran dalam pendidikan seni musik yang

berorientasi pada kemampuan guru (teacher oriented). Selain pemahaman konsep

yang salah, juga lemahnya sistem supervisi, tidak adanya sarana/prasarana

pembelajaran, juga kesenjangan antara kurikulum sebagai dokumen dengan

implementasinya, mengakibatkan kurang tertatanya pembelajaran pendidikan seni

musik.

Untuk memperbaiki keadaan tersebut, strategi umum yang dapat dilakukan

adalah melalui pembenahan manajeman pembelajaran seni musik dan peningkatan

sumberdaya baik secara secara kualitatif maupun kuantitatif.

1. Manajemen Pembelajaran Seni Musik

Mencermati pendapat Kambey, D. C. (2006) bahwa 'manajemen dalam

proses pembelajaran' merupakan suatu proses kegiatan yang sistematis,

11
terencana, tertib dan terarah dari sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan

dengan memanfaatkan sarana / prasarana yang tersedia.

Untuk memiliki kemampuan dalam manajemen/pengelolaan pembelajaran

seni musik, seorang guru seni musik harus melaksanakan tiga tahap kegiatan,

yaitu : 1) membuat perencanaan pembelajaran seni musik, 2) melakukan proses

pembelajaran seni musik, dan 3) melaksanakan evaluasi pembelajaran seni musik.

Ketiga tahap ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Perencanaan pembelajaran seni musik merupakan hal yang amat penting dalam

konteks proses pembelajaran seni musik. Penting oleh karena rencana

pembelajaran seni musik merupakan dasar bagi siswa menerima pengalaman

belajar seni musik di dalam kelas. Keberhasilan siswa dalam belajar musik

banyak ditentukan oleh baik atau buruknya suatu pembelajaran yang disiapkan

oleh gurunya.

Dalam merumuskan perencanaan pembelajaran seni musik, ada dua hal

penting yang harus diperhatikan yaitu : 1) dimensi kognitif yang meliputi

pengetahuan musik dan keterampilan memainkan suatu alat musik, 2) dimensi

afektif yang meliputi kematangan emosi, tanggung jawab dan inisiatif siswa.

Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran musik di kelas, kedua

dimensi ini harus dapat diperhitungkan secara matang, mengingat aktivitas belajar

musik pada dasarnya adalah mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 'Manajemen Pembelajaran Seni

Musik' adalah bagaimana upaya pemimpin pembelajaran yaitu kepala sekolah

dan guru mengorganisasi lingkungan pembelajaran seni musik yang mencakup

karakteristik guru, model pembelajaran, iklim pembelajaran, lingkungan fisik

12
sekolah, lingkungan sosial sebagai satuan iklim pembelajaran seni musik yang

implikasinya berupa :

a. Bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah laku siswa. Tingkah

laku siswa senantiasa berkembang secara berkelanjutan sepanjang hayat dan

tiap- tiap individu berbeda dengan individu yang lain, membahas tingkah

laku di sini mengandung arti perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik

yang berhubungan dengan seni musik.

b. Kegiatan manajemen pembelajaran musik berupaya mengorganisasikan

lingkungan alam sekitar dan lingkungan sosial. Sekolah berfungsi

menyediakan lingkungan yang dibutuhkan untuk perkembangan tingkah

laku dan keterampilan bermain musik.

c. Manajemen pembelajaran seni musik adalah upaya guru untuk

mempersiapkan peserta siswa agar menjadi warga negara yang baik.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa 'Para guru menjadi manajer

pembelajaran di pusat-pusat pembelajaran dengan menempatkan siswa

menjadi klien, sama seperti klien pengacara atau profesi lain' (David Kerr

dalam Vos and Dryden, 2001: 86)

2. Pembelajaran Pendidikan Seni Musik.

Tujuan mata pelajaran pendidikan seni musik di SMA adalah untuk

mengembangkan apresiasi / sensitivitas, keterampilan dan kreativitas siswa, yang

bertolak dari praktek dan teori yang melekat dalam pembelajarannya. Artinya

bahwa pengembangan apresiasi/ sensitivitas terhadap musik, keterampilan

memainkan alat musik, pengembangan kreativitas terhadap karya sebuah lagu

menyatu bersama dalam kegiatan pembelajaran

13
Atas dasar pemahaman tersebut diketahui bahwa fokus pendidikan seni

musik di SMA adalah kegiatan apresiasi, keterampilan dan kreativitas siswa, dan

oleh karenanya diarahkan pada pemahaman sepenuhnya terhadap apresiasi,

keterampilan dan kreativitas siswa. Patut disimak bahwa pengembangan

apresiasi, keterampilan dan kreativitas anak tidak semata merupakan kebutuhan

individualnya, namun harus dilihat dari kebutuhan sosialnya. Artinya apresiasi,

keterampilan dan kreasi anak didik merupakan bentuk pengejawantahan dari

kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, sekaligus sebagai aktualisasi diri

dalam kehidupan bermasyarakat. (Ismiyanto, 2000: 12).

3. Kurikulum

Sebagai salah satu perangkat pendidikan yang menjadi pedoman

perencanaan kegiatan pembelajaran, kurikulum hendaknya dirancang dan ditulis

sedemikian rupa, sehingga struktur isi pengalaman belajarnya dapat terbaca atau

dipahami guru sebagai pelaksana pembelajaran di sekolah, agar pada gilirannya

guru mampu menyajikan pengalaman belajar dan membantu peserta didik

memecahkan permasalahan- permasalahannya dalam kehidupan sekarang dan di

kemudian hari.

Dalam kasus pendidikan seni musik di sekolah khususnya SMA di

Indonesia, selain kurangnya wawasan, kurangnya pemahaman dan kurangnya

pengalaman guru terhadap pendidikan kesenian (Rohidi, 1993: 2); kemungkinan

bahwa teks kurikulum seni musik tidak dapat dipahami oleh guru SMA, apalagi

jika guru yang mengajar bukan guru bidang studi musik tetapi guru kelas yang

harus memberikan pelajaran kepada siswa untuk semua bidang studi.

14
Kurikulum sering dipandang sebagai program pendidikan, dengan kata

lain disebut sebagai plan for learning. Ia menjadi perangkat pendidikan yang

pada umumnya berupa dokumen tertulis yang berisi ketentuan- ketentuan pokok,

landasan, program dan pengembangan, GBPP maupun petunjuk pelaksanaan

kurikulum.

Saat ini di tingkat pendidikan SMA berlaku kurikulum 2004. Kurikulum

ini merupakan revisi atas kurikulum sebelumnya (1994) yang dianggap sudah

tidak sesuai lagi dengan kebutuhan, tuntutan masyarakat, perkembangan ilmu

pendidikan, teknologi dan seni.

Dalam konteks ideal, perubahan kurikulum diharapkan akan membawa

perbaikan nuansa dan kualitas produk pendidikan. Beberapa bukti

mengindikasikan, perubahan kurikulum 1984 menjadi kurikulum 1994 bahkan

dengan dilaksanakannya kurikulum 2004 berbasis kompetensi tidak

menggambarkan kondisi ideal yang diharapkan karena pelaksanaan pembelajaran

senantiasa difokuskan pada keberhasilan siswa mengikuti evaluasi belajar tahap

akhir (ebtanas).

Ebtanas selama ini memang merupakan alat ukur yang digunakan oleh pemerintah

dan masyarakat guna menjamin sekaligus memonitor kualitas pendidikan.

Dengan kepentingan mengejar keberhasilan ebtanas tersebut, guru- guru di

sekolah dalam pengajarannya senantiasa mengutamakan mata pelajaran yang

diebatanaskan; disajikan secara penuh, diberi tambahan pengajaran di luar jam

intra kurikuler, dan sebagainya.

Pada pihak lain terjadi korban mata pelajaran yang tidak diebtanaskan,

termasuk mata pelajaran seni musik. Sekalipun dalam struktur mata pelajaran dan

15
jadwal pelajaran di SMA, pendidikan seni musik itu harus diajarkan dalam setiap

minggu oleh guru, namun amat sedikit (nyaris tidak ada) guru yang

melaksanakannya (Syafii, 1994: 9). Alasan yang dinyatakan guru adalah adanya

anggapan bahwa pendidikan kesenian adalah pelajaran menyanyi yang amat

memerlukan memberikan contoh di depan kelas (Muslich, 1996: 3).

Tahun ajaran 2004 - 2005 telah dimulai suatu langkah yang tepat dengan

tidak ada diskriminasi mata pelajaran karena ebtanas di SMA, karena mulai ada

upaya dan wacana menghapus dan mengganti menjadi ujian lokal di sekolah

dengan maksud memberikan kompetensi kepada sekolah untuk menilai knerjanya

bersama- sama dengan stakeholdernya, sesuai tuntutan kebutuhan daerah masing-

masing sekolah, sejalan dengan jiwa otonomi pendidikan dapat menyusun

kurikulum sendiri.

Penghapusan ebtanas dari kancah pendidikan mulai pendidikan dasar

hingga SMA memberi dampak positif untuk pengembangan semua mata pelajaran

yang dibelajarkan kepada siswa sehingga semua mata pelajaran merasa

diberlakukan secara adil dan sejajar.

Rohidi, (dalam tabloid yunior, Januari 2004: 4) menyatakan "Ebtanas sebenarnya

hanya salah satu penghambat tercapainya tujuan pendidikan nasional".

Penghapusan Ebtanas memberi peluang untuk pengembangan pendidikan

secara demokratis. Sekolah- sekolah dapat mengembangkan mata pelajaran dan

evaluasinya sesuai kebutuhan lokal sehingga tidak merasa asing di masyarakat

sekitar. Sekolah diberi kesempatan mengembangkan kreativitas secara obtimal

karena kondisi itu tidak akan lagi terjadi benturan dengan peraturan pusat, juklak

bahkan kepentingan politik. Sudah saatnya dimantapkan program guru bidang

16
studi sebab jika seorang guru masih harus merangkap mengajar berbagai mata

pelajaran, hal ini tidak efektif dibandingkan dengan guru bidang studi. Dengan

demikian tidak ada lagi mata pelajaran tertentu yang terkesampingkan hanya

karena guru merasa tidak suka atau tidak berbakat.

B. LANDASAN TEORETIS

1. Pengertian Pembelajaran

Ada beberapa ahli pendidikan yang mengemukakan tentang pengertian

pembelajaran. Pembelajaran adalah istilah baru yang digunakan untuk mengganti

istilah belajar mengajar. Perbedaan makna keduanya adalah bahwa pembelajaran

titik beratnya pada bagaimana membelajarkan siswa secara optimal dengan kata

lain siswa yang lebih aktif dari pada guru di dalam proses pembelajaran.

Definisi tentang pembelajaran atau belajar-mengajar dapat dipahami dari

pendapat Supriadi (1999:41) yang mengatakan bahwa "Istilah lain dari belajar-

mengajar yang agak populer adalah 'pembelajaran' yang bernuansa student

oriented' mengandung maksud membantu terjadinya proses belajar dalam diri

siswa. Itu lebih baik dari istilah 'pengajaran' yang berkonotasi 'teacher oriented'

yaitu transfer informasi dari guru ke siswa, atau bahkan 'pemaksaan' sesuatu yang

diberikan kepada siswa".

Pembelajaran adalah upaya guru dalam mendesain instruksional,

menyelenggarakan kegiatan belajar- mengajar atau membelajarkan, mengevaluasi

hasil belajar yang berupa hasil pengajaran, sedangkan Hamalik (1995: 51)

menyatakan :" Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi

17
unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling

mempengaruhi untuk mencapai tujuan pemebalajaran".

Dari pendapat di atas maka definisi manajemen pembelajaran seni musik

yang dimaksud adalah upaya guru merencanakan pembelajaran seni musik,

melaksanakan proses pembelajaran seni musik, memfasilitasi proses pembelajaran

seni musik dan mengevaluasi hasil pembelajaran seni musik, dengan kata lain

lebih dari sekedar membuat desain instruksional dan melaksanakannya, sebab di

SMU, guru seni musik juga bertindak selaku fasilitator pembelajaran seni musik.

2. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah upaya mengorganisasikan lingkungan untuk

menciptakan suasana belajar bagi siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Donald

(1975) dalam Hamalik (1995: 52), yaitu pembelajaran adalah suatu proses atau

kegiatan yang bertujuan menghasilkan perubahan tingkah laku. Implikasi dari

pengertian tersebut di atas adalah pemahaman bahwa :

1) Pembelajaran itu bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah laku

peserta didik atau siswa. Tingkah laku siswa senantiasa berkembang secara

berkelanjutan sepanjang hayat dan tiap-tiap individu berbeda dengan

individu lainnya serta bersifat dinamis. Membahas tingkah laku di sini

mengandung arti ada perubahan aspek kognitif, efektif dan psikomotorik.

2) Kegiatan pembelajaran berupa mengorganisasikan lingkungan yang

tersedia di sekitar yang dibutuhkan untuk perkembangan tingkah laku siswa

3) Pembelajaran adalah upaya untuk mempersiapkan peserta didik atau

siswa menjadi warga negara yang baik.

18
3. Ciri-ciri Pembelajaran

Suatu kegiatan di sekolah disebut pembelajaran jika kegiatan itu memiliki

ciri-ciri sebagai berikut :

1) Perencanaan

Perencanaan adalah penataan guru dan tenaga administrasi, penggunaan

metode, siswa, meterial, prosedur, dan metode, yang merupakan unsur-unsur

pembelajaran yang harus terorganiser secara sistematis dan sistemik.

2) Kesalingtergantungan

Kesalingtergantungan antara setiap unsur dalam sistem pembelajaran yang

bersifat esensial dan masing-masing memberikan kontribusi kepada sistem

pembelajaran. Keterlibatan dan peran setiap unsur dalam sistem saling

mempengaruhi. Contoh : penggunaan metode pembelajaran harus disesuaikan

dengan sarana dan prasarana yang tersedia, materi ajaran yang diberikan, tujuan

pembelajaran dan penguasaan bahan ajar oleh guru. Dengan demikian pemilihan

dan penggunaan salah satu metode juga tergantung pada unsur pembelajaran

lainnya. Begitu pula kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran memenuhi

minat siswa dalam mengikuti pembelajaran, demikian pula unsur lainnya saling

mempengaruhi.

4. Komponen Yang Berpengaruh Dalam Proses Pembelajaran

Belajar mengajar merupakan proses yang sistematik dan sistemik yang

terdiri dari banyak komponen, di mana setiap komponen saling mempengaruhi.

Dalam hubungan itu diperlukan manajemen pembelajaran yang baik. Adapun

proses pembelajaran dimaksud adalah seperti tergambar pada gambar skema di

bawah ini :

19
19

Komponen Yang Dapat Mempengaruhi Pembelajaran

Guru, Metode,Kurikulum,Sarana dan Prasarana

Siswa Proses Pembelajaran Hasil

Lingkungan alam, Sosial, Budaya

Gambar 1
Sumber : Ditjen Dikdasmen (1994: 4)

Penjelasannya :

1). Siswa dan lingkungannya

Unsur dari siswa yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar adalah

bakat, minat, kemampuan dan motivasi untuk belajar. Kecakapan atau

keterampilan seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor bakat (interen) yang

masing- masing siswa tidak sama. Siswa yang memiliki bakat menyanyi misalnya

akan cepat dilatih untuk menguasai kecakapan atau keterampilan menggunakan

gitar, kolintang, dsb.

Adapun minat dan motivasi siswa dapat dikembangkan dan ditingkatkan.

Sejalan dengan itu, Hurlock, (1995:140) mengatakan bahwa :

"Bila anak merasa tertarik akan sekolah, kegiatan akademik dan

ekstrakurikuler yang berkaitan dengannya, mereka menyukai waktu dihabiskan di

sekolah, mempunyai hubungan yang baik dengan para guru dan teman sekelas,

melakukan pekerjaan sebaik mungkin, dalam arti kata mereka berusaha mematuhi

aturan dan kehendak guru". Karena sikap dan perilaku positif ini mereka disukai

20
oleh guru dan teman sekelas. Ini selanjutnya akan meningkatkan rasa senang dan

minat terhadap kegiatan sekolah. Semantara itu menyangkut dorongan dan

rangsangan lingkungan dalam pengembangan kreativitas dikatakan bahwa :

"Terlepas dari seberapa jauh prestasi anak memenuhi standar orang dewasa,

mereka harus didorong untuk kreatif dan bebas dari ejekan dan kritik yang sering

dilontarkan pada anak yang kreatif" Hurlock (1999: 11).

Lingkungan rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas dengan

memberikan bimbingan dan dorongan untuk menggunakan sarana yang akan

mendorong kreativitas. Hal ini harus dilakukan sedini mungkin selama masa

sekolah dengan menjadikan kreativitas sebagai suatu pengalaman yang

menyenangkan dan dihargai secara sosial.

Motivasi pada diri siswa sangat penting dalam manajemen pembelajaran,

motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan

mengarahkan perilaku termasuk perilaku siswa. Di dalam motivasi terkandung

adanya keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran, dan insentif. (Dimiyati

dan Mudjiono, 1994: 75). Keadaan kejiwaan inilah yang mengaktifkan,

menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku belajar siswa.

Guru sebagai pembelajar harus senantiasa meningkatkan motivasi siswa agar

memperoleh hasil belajar yang optimal melalui berbagai cara antara lain

memberikan penghargaan atas keberhasilan siswanya berupa pujian, atau bentuk

nilai yang baik.

Ada dua jenis motivasi yang dikenal berhubungan dengan perilaku siswa

ialah motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah

21
dorongan yang sudah ada di dalam diri siswa contohnya motivasi untuk

berprestasi, motivasi untuk mengaktualisasikan diri dan sebagainya.

Ada beberapa unnsur yang mempengaruhi motivasi belajar siswa yaitu :

a) Cita-cita atau aspirasi siswa

Setiap siswa tentu memiliki cita-cita atau gambaran keadaan yang

diinginkan. Cita-cita ini sangat mempengaruhi semangat belajar. Contoh jika

siswa bercita-cita menjadi pemain band terkenal, maka ia akan masuk di sekolah

musik, demikian selanjutnya.

b) Kemampuan siswa

Kemampuan siswa akan memacu siswa untuk belajar lebih giat, contoh di

dalam praktek menggunakan gitar, jika pada taraf praktek awal siswa dapat

memainkan gitar dengan lagu sederhana tingkat kesulitannya, maka makin lama

siswa akan berusaha bermain musik yang lebih rumit demikian seterusnya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa

akan lebih meningkatkan motivasi belajarnya.

c) Kondisi Siswa dan Lingkungannya.

Kondisi siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi

motivasi belajar. Seorang siswa yang lapar, sakit, atau marah akan mempengaruhi

dan menganggu perhatian belajar./ Sebaliknya siswa yang sehat, kenyang dan

gembira akan mudah memusatkan perhatiannya dalam belajar. Pada pelajaran

cipta lagu, dapat dikemukakan contoh sebagai berikut, siswa yang dalam hidup

kesehariannya kekurangan segala sesuatu biasanya akan termotivasi mencipta

lagu-lagu dengan tema-tema realistik-sosialistik, kehidupan pedesaan, kehidupan

nelayan, dan lain-lain.

22
2). Guru, Metode, Kurikulum, Sarana dan Prasarana.

a) Guru

Guru adalah salah satu komponen yang sangat penting peranannya,

sekaligus sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang yang

memiliki pengetahuan luas, maka guru dianggap sebagai sumber pelajaran,

sebagai orang yang memiliki kewenangan mengelola proses pembelajaran dan

oleh sebab itu guru adalah juga sebagai administrator dan manager pembelajaran.

Selain itu sebagai orang dewasa yang memiliki kepribadian utuh maka guru

dianggap sebagai teladan bagi siswa.

Mengingat begitu pentingnya peran guru dalam proses pembelajaran, maka

konsekwensi logis untuk dapat melakukan manajemen pembelajaran yang baik,

guru harus selalu meningkatkan kemampuan mengajarnya (kompetensinya)

Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran maka kemampuan guru

yang harus dimiliki menurut Sudjana (1995: 19) adalah : (a) merencanakan

program belajar- mengajar, (b) melaksanakan, memimpin dan mengelola proses

pembelajaran, (c) menilai kemajuan proses pembelajaran, (d) menguasai bahan

pelajaran yang diajarkan.

Demikianlah ada empat peran guru yang harus dipahami dan dilaksanakan

oleh tiap guru dalam proses pembelajaran adalah :

1) Guru sebagai demonstrator

Sebagai demonstrator guru harus menguasai bahan atau materi ajaran yang

diajarkan serta selalu mengembangkan dalam arti meningkatkan kemampuannya

dalam ilmu yang dimilikinya. Salah satu hal yang harus disadari oleh guru bahwa

ia sendiri adalah pelajar, bahwa guru harus belajar terus menerus dengan demikian

23
guru selalu memperkaya dan memperbaharui pengetahuannya. Contoh seorang

guru seni musik harus mampu memberikan contoh menyanyi dengan benar.

2) Guru sebagai pengelola kelas.

Dalam peranannya sebagai pengelola kelas, guru harus mampu mengelola

kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah

yang harus diorganiser. Kualitas dan kuantitas pembelajaran di dalam kelas

tergantung banyak faktor antara lain adalah : (1) penataan fisik, (2) komunikasi

guru-siswa,(3) komunikasi siswa-siswa, dan (4) penciptaan suasana psikologis

yang menyenangkan. Pada pendidikan seni musik, yang meliputi pelajaran teori

dan praktek, guru dituntut mampu mengelola pembelajaran dengan baik termasuk

membersihkan peralatan musik, merawat alat-alat musik, menyimpan alat-alat

musik, mengatur pelaksanaan pagelaran musik dan aktivitas apresiasi, yang

semuanya disesuaikan dengan keterbatasan sekolah, kondisi dan situasi murid,

serta waktu pelaksanaan yang tersedia.

3) Guru sebagai mediator dan fasilitator

Sebagai mediator dan fasilitator guru harus memiliki pengetahuan dan

pemahaman yang cukup tentang media instruksional/media pembelajaran, karena

media tersebut merupakan alat komunikasi yang penting untuk mengefektifkan

proses pembelajaran. Sebagai fasilitator guru harus dapat berperan sebagai nara

sumber yang sewaktu-waktu dibutuhkan oleh siswa, di samping sumber-sumber

pengetahuan lainnya yang dimanfaatkan oleh siswa.

4) Guru sebagai evaluator

Untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran bagi siswa maka

guru harus melaksanakan penilaian (evaluasi). Penilaian adalah serangkaian

24
kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses

dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan,

untuk keperluan perbaikan dan peningkatan kegiatan belajarsiswa sebagai umpan

balik bagi pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan menjadi informasi yang

bermaknadalam pengambilan keputusan.

Adapun tujuan dari evaluasi proses dan hasil belajar adalah untuk

menentukan ketercapaian pendidikan dan atau tujuan pembelajaran yang telah

ditetapkan dalam kurikulum, GBPP atau dalam perangkat perencanaan kegiatan

proses pembelajaran lainnya. Sebagai evaluator guru harus menguasai teknik-

teknik evaluasi pembelajaran yang tepat dan baku. Pada mata pelajaran seni

musik, evaluasi dilaksanakan melalui evaluasi proses pembelajaran teori dan

praktek.

5. Guru Sebagai Pelaku Manajemen Pembelajaran

Guru adalah orang yang memiliki kompetensi kepribadian, kompetensi

sosial dan kompetensi profesional yang diberi tanggung jawab utama untuk

mengajar. Sebagai pelaku dan penyelenggara manajemen pembelajaran, dituntut

memiliki kemampuan merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses

pembelajaran, mengadakan perbaikan dan pengayaan. Guru harus dapat

memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk melakukan

kegiatan belajar. Siswa sebagai pembelajar hendaknya dapat memanfaatkan

peluang-peluang yang ada untuk melakukan kegiatan belajar .

Peran guru dalam proses pembelajaran yaitu menentukan materi

pembelajaran karena guru yang mengorganisasikan kegiatan pembelajaran bagi

siswa, berdasar pola nilai yang dihayati, visi keilmuan dan dengan kecakapan

25
keguruannya mengolah serta mengatur kembali isi kurikulum formal menjadi

program atau satuan pelajaran yang menarik bagi siswa (Harun, 2000: 15).

Dalam kondisi negatif, apabila mutu pribadi, keilmuan dan kecakapan

keguruan dari seorang guru itu jelek, maka dapat diduga proses serta hasil belajar

siswa jelek, dan demikian sebaliknya. Pada aspek kualitas, pribadi guru

merupakan 'figur' yang menjadi contoh bagi siswa, ucapan atau tutur kata, tingkah

laku guru sangat mempengaruhi kepribadian siswa, bahkan adakalanya ada saja

guru yang di idolakan siswanya.

Dalam bidang keilmuan, guru merupakan salah satu sumber pengetahuan

dan sekaligus media pembelajaran yang tidak kalah penting dari media dan

sumber pembelajaran lainnya; bahkan hingga saat ini guru dianggap sebagai

sumber pengetahuan yang utama karena guru yang aktif antisipatif, memiliki

berbagai keunggulan dibanding dengan sumber dan media pembelajaran lainnya.

Untuk menciptakan situasi belajar siswa yang menyenangkan, efektif dan efisien,

guru harus mampu menyusun tujuan tujuan pengajaran yang bersifat operasional,

menjabarkandan mengatur bahan ajar secara sistematis, menentukandan

melaksanakan langkah pembelajaran, mendayagunakan sarana pembelajaran

secara tepat dan optimal, mampu menyusun alat evaluasi proses serta hasil belajar

siswa.

Slamento (1987: 96) mengatakan bahwa peran guru dalam proses

pembelajaran adalah menolong, mendorong, membimbing dan memberi fasilitas

belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Guru sebagai pengelola proses pembelajaran khususnya pada tataran

pembelajaran seni musik di sekolah menengah umum, peranannya agak berbeda

26
dengan guru mata pelajaran lainnya yang tidak atau kurang menggunakan

aktivitas praktek, pelibatan emosi dan keterampilan, sehingga atas dasar

pemahaman tersebut dipahami bahwa fokus pembelajaran seni dan keterampilan

adalah kegiatan apresiasi dan kreasi bagi siswa, dan oleh karenanya diarahkan

kepada pemahaman sepenuhnya terhadap seni pada siswa sebagai peserta didik.

Patut disimak bahwa pengembangan kreativitas anak, tidak semata-mata

merupakan kebutuhan individualnya, namun harus pula dilihat dari kebutuhan

sosialnya.

27
BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam bab ini berurutan dikemukakan tentang pendekatan penelitian,

rancangan penelitian, kehadiran peneliti di lapangan, lokasi penelitian, jenis data,

sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data,

dan tahap-tahap penelitian.

A. Pendekatan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian maka penelitian ini ingin mengkaji dan

mendeskripsikan manajemen pembelajaran pendidikan seni musik di SMA Negeri

I Manado, menjelaskan fenomena yang ada, sehingga dapat dipahami berbagai

aspek yang berkaitan dengan masalah manajemen pembelajaran seni musik itu.

Untuk mendapatkan pemahaman dan penafsiran yang mendalam mengenai

makna, fakta yang menyeluruh tentang pelaksanaan pembelajaran seni musik di

SMA Negeri I Manado, digunakan pendekatan kualitatif.

B. Rancangan Penelitian.

Penelitian ini dirancang dengan menggunakan studi kasus yang berusaha

mendeskripsi suatu latar, suatu obyek, atau suatu peristiwa tertentu secara rinci

dan mendalam (Bogdan and Biklen, 1998: 58). Pendapat ini didukung oleh

Sherman and Webb,(1990 : 27) yang menyatakan bahwa :

Studi kasus merupakan salah satu bentuk penelitian yang dipilih untuk
menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana pelaksanaan sesuatu hal
jika fokus penelitian berusaha menelaah fenomena sekarang dalam
konteks kehidupan nyata.

28
Bogdan and Biklen (1998) mengemukakan bahwa rancangan studi kasus

dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu (1) studi kasus sejarah organisasi, (2)

studi kasus observasional, dan (3) studi kasus sejarah hidup.

Dilihat dari penggolongan studi kasus tersebut maka dalam penelitian ini,

menggunakan studi kasus observasional, untuk mengamati mengapa dan

bagaimana manajemen pembelajaran seni musik di SMA Negeri I Manado, yang

menurut Chadwick, Bahr, Albrecht, (1991: 234) rancangan studi kasus ini

termasuk studi kasus tunggal terpancang. Hal ini memberi arti bahwa dalam

penelitian ini, peneliti akan memusatkan perhatiannya pada kasus yang telah

ditetapkan dan sesuai dengan fokus penelitian yang telah dirumuskan.

Secara ringkas rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut : (a)

observasi dan penentuan fokus, (b) memasuki lokasi penelitian dan melakukan

wawancara mendalam, (c) mendapatkan data berupa catatan lapangan, dokumen,

foto, data statistik, (d) sumber data berupa unsur manusia dan non-manusia,

informannya Kepala Sekolah, Guru, Siswa, Orang tua siswa / Komite Sekolah (e)

analisis data deskriptif dengan alur analisis dilakukan melalui tiga cara yaitu :

reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan atau verifikasi, dan (f)

pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara kredibilitas, transferabilitas,

dependabilitas, dan konfirmabilitas.

Rancangan penelitian ini dapat dilihat dalam Gambar sebagai berikut :

29
KESESUAIAN

- Manusia
SUMBER
- Non-manusia

P
E T
F D N E
- Catatan- G
O A lapangan -Reduksi - Kredibilitas M
Analisis E - Transferabilitas
K T - Dokumen -Penyajian U
deskriptif -Verifikasi C - Dependabilitas
U A - Foto A
S E - Konfirmabilitas
- Statistik K N
A
N

- Wawancara
- Observasi
SUMBER - Dokumen

KESESUAIAN

Gambar 2: Rancangan Penelitian

Dalam pelaksanaannya, peneliti sekaligus sebagai instrumen penelitian

yang secara sadar tidak dapat melepaskan diri dari unsur subyektif ( Chadwick,

Bahr, Albrecht, 1991: 243) , paling tidak peneliti berusaha untuk menekan dan

memperkecil unsur subyektif, sekalipun obyek yang diteliti terbatas pada konteks

waktu karena penelitian ini cenderung berlangsung dalam latar yang alamiah atau

natural (Chadwick, Bahr, Albrecht ,1991: 239) .

C. Kehadiran Peneliti di Lapangan.

30
Kehadiran dan keterlibatan peneliti dalam penelitian kualitatif sangat

penting peranannya, sebab berkaitan erat dengan peneliti sendiri di lapangan . Hal

ini ditegaskan oleh Moleong (1988) bahwa :

Kehadiran dan keterlibatan peneliti di lapangan sangat diutamakan dalam


penelitian kualitatif, karena pengumpulan data harus dilakukan dalam
situasi yang sesungguhnya. Peneliti sendiri merupakan instrumen utama
dalam penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif merupakan perencanaan, pelaksanaan pengumpulan
data, penganalisisan, penafsiran data, dan sekaligus menjadi pelapor hasil
penelitian Oleh karena itu peneliti harus berusaha sebaik mungkin, berhati-
hati dan bersungguh-sungguh dalam menjaring data sesuai dengan
kenyataan yang ada di lapangan, sehingga data yang terkumpul benar-
benar relevan.

D. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah SMU Negeri I Manado yang beralamat di Jalan

Siswa di kota Manado.

Untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang lokasi penelitian

ini, maka berikut ini disajikan letak / denah lokasi penelitian seperti pada gambar

berikut ini :

Sumber: Provinsi Sulawesi Utara

Gambar 3. Lokasi SMA Negeri 1 Manado


Sumber:Provinsi Sulawesi Utara

31
D. Data dan Sumber Data

Dalam penelitian kualitatif, data utamanya adalah berupa tindakan orang

yang diamati, atau keterangan yang diberikan oleh informan dalam kegiatan

wawancara. Data tersebut diperoleh melalui kegiatan mengamati dan bertanya

(Moleong, 2001: 114). Data yang digali dalam penelitian ini adalah data yang

berkaitan dengan fokus masalah mengenai manajemen pembelajaran seni musik di

SMA Negeri I Manado ( Studi Kasus ) sebagai berikut : (1) Bagaimanakah

pemahaman konsep pembelajaran seni musik oleh Guru seni musik di SMA

Negeri I Manado (2) Bagaimanakah peran Guru seni musik di SMA Negeri I

Manado sebagai pelaksana proses pembelajaran yang meliputi : perencanaan,

pengorganisasian, penggiatan dan pengawasan / evaluasi ? (3) Apakah faktor

penunjang dan faktor penghambat dalam pembelajaran seni musik di SMA Negeri

I Manado ?

Dalam penelitian ini, data yang dikaji adalah data primer dan data

sekunder. Data primer bersumber dari orang pertama yang mengetahui secara

jelas dan rinci mengenai masalah yang sedang diteliti, dalam hal ini Guru Seni

Musik. Sedangkan data sekunder berasal dari pejabat terkait lainnya, siswa dan

orang tua siswa, dokumen-dokumen berupa catatan-catatan, rekaman, foto-foto

yang dapat digunakan sebagai data pelengkap. Karakteristik data primer adalah

bentuk kata-kata atau ucapan lisan dan / atau perilaku manusia. (Moleong, 2001:

112).

32
F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah : (a) wawancara

mendalam, (b) pengamatan berperan-serta, dan (c) studi dokumentasi.

1. Wawancara mendalam, dimaksudkan untuk memperoleh konstruksi yang

terjadi sekarang tentang orang, kejadian, aktivitas organisasi, perasaan, motivasi,

pengakuan, kerisauan dan sebagainya (Sherman and Webb, 1990: 29).

2. Pengamatan Berperanserta, Goetz and Lacompte dalam Mantja (1990: 77)

menyatakan bahwa : Pengamatan berperanserta adalah proses dimana peneliti

memasuki latar atau suasana tertentu dengan tujuan untuk melakukan pengamatan

tentang peristiwa-peristiwa (events) dalam latar yang saling berhubungan.

3. Studi Dokumentasi, studi dokumentasi dalam penelitian ini digunakan

untuk mengumpulkan data dari sumber non-insani (non-manusia), yaitu berupa

dokumen-dokumen, arsip-arsip yang sangat terkait dengan fokus dan sub.fokus

penelitian. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan dokumen-dokumen penting

yang berkaitan dengan penelitian ini.

G. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses mencari dan mengatur secara

sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang

telah dihimpun untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai data

tersebut dan mengkomunikasikan apa yang telah ditentukan sebelumnya. (Bogdan

and Biklen, 1998).

Dalam penelitian ini , data tidak dianalisis dengan angka-angka melainkan

dalam bentuk kata-kata, kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf yang dinyatakan

33
dalam bentuk narasi yang bersifat deskriptif. Jadi teknik analisis data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Penerapan teknik

analisis deskriptif menurut Miles and Huberman (1992: 20) adalah upaya yang

berlanjut, berulang dan terus-menerus yang dilakukan dalam tiga alur kegiatan

yang terjadi secara bersama-sama yaitu : (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan

(3) penarikan kesimpulan/verifikasi. Masalah reduksi data, penyajian data dan

penarikan kesimpulan/verifikasi menjadi gambaran keberhasilan secara berurutan

sebagai rangkaian kegiatan analisis yang saling susul-menyusul. Namun dua hal

lainnya itu senantiasa merupakan bagian dari lapangan. Ketiga komponen analisis

data tersebut dapat divisualisasikan dalam komponen-komponen analisis data

secara interaktif seperti gambar berikut :

Pengumpulan Data Penyajian Data

Reduksi Data

Kesimpulan-kesimpulan /
verifikasi

Gambar 4: Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif.


Sumber: Miles,B. M. & Huberman, A. M., Qualitatives Data Analysis, (terjemahan: Tjetjep
Rohendi Rohidi), Jakarta: UI Press ,1992: 20)

34
Mencermati gambar tersebut di atas terlihat bahwa ketiga komponen

analisis data, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan

kesimpulan/verifikasi, merupakan komponen utama dalam analisis data.

H. Pengecekan Keabsahan Data

Keabsahan data merupakan sesuatu yang penting dalam penelitian

kualitatif, karena akan menjamin keterpercayaan data tersebut dalam pemecahan

masalah yang diteliti. Guna mendapatkan keabsahan data dilakukan uji coba

kredibilitas, dengan tujuan untuk membuktikan sejauh mana suatu data penelitian

yang diperoleh mengandung kebenaran sehingga dapat dipercaya. (Nasution,

1996: 13).

Agar data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat dijamin

keterpercayaannya, maka peneliti menggunakan kriteria yang disarankan oleh

Lincoln and Guba (1981) dan Moleong (1988: 173), yaitu : (1) kredibilitas/

derajat kepercayaan (credibility), (2) transferabilitas/ keteralihan (transferability),

(3) dependabilitas/ kebergantungan ( dependability), dan (4) konfirmabilitas/

kepastian ( confirmability).

1. Kredibilitas.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan tiga teknik pengecekan

kredibilitas data dari sembilan teknik yang disarankan Moleong (2001: 175), yaitu

: (1) triangulasi, (2) pengecekan anggota, dan (3) diskusi teman sejawat.

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau

sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong , 2001: 178). Triangulasi yang

35
digunakan dalam penelitian ini meliputi : sumber data dan metode. Triangulasi

dalam sumber data adalah membandingkan dan mengecek balik derajat

kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui alat dan waktu yang berbeda.

Dengan demikian triangulasi sumber data dilakukan dengan menanyakan

kebenaran data atau informasi tertentu yang diperoleh dari informan lainnya.

Triangulasi metode adalah membandingkan data atau informasi yang

dikumpulkan melalui teknik tertentu dengan data atau informasi yang

dikumpulkan melalui teknik lain.

Pengecekan anggota dilakukan dengan cara menunjukkan data atau

informasi, termasuk hasil interpretasi peneliti yang telah ditulis dengan baik

dalam format catatan lapangan atau transkrip wawancara kepada informan agar

dikomentari, disetujui atau tidak, dan ditambah informasi lainnya yang dianggap

perlu. Komentar, reaksi atau tambahan data informasi tersebut akan digunakan

untuk merevisi catatan lapangan atau transkrip wawancara.

Diskusi teman sejawat, ditempuh peneliti sebagai salah satu cara untuk

memeriksa keabsahan data. Diskusi sejawat ini perlu dilakukan peneliti dengan

cara membicarakan data atau informasi dan temuan-temuan penelitian ini kepada

teman-teman sejawat. Maksud dilakukannya diskusi sejawat ini adalah untuk

membicarakan keabsahan data , meminta masukan dan saran serta pendapat

mengenai data, temuan dan masalah-masalah yang berkaitan dengan fokus

penelitian.

2. Transferabilitas.

Untuk membangun keteralihan dalam penelitian ini dilakukan dengan

dengan cara uraian rinci (Moleong, 2001: 173). Dengan teknik ini peneliti akan

36
melaporkan hasil penelitian seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan

konteks tempat penelitian diselenggarakan dengan mengacu pada fokus penelitian.

Dengan uraian rinci ini terunagkap segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pembaca

agar dapat memahami temuan-temuan yang diperoleh peneliti.

3. Dependabilitas

Dependabilitas adalah kriteria untuk menilai apakah proses penelitian

bermutu atau tidak. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat

dipertahankan ialah dengan audit dependabilitas oleh auditor independen guna

mengkaji kegiatan yang dilakukan peneliti. Para pembimbing adalah auditor

independen yang akan terlibat langsung dalam proses penelitian ini.

4. Konfirmabilitas.

Konfirmabilitas adalah kriteria untuk menilai kualitas hasil penelitian

dengan perekaman pada pelacakan data dan informasi serta interpretasi yang

didukung oleh materi yang ada pada penelusuran atau pelacakan audit ini, peneliti

menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti data bahan mentah (catatan

lapangan dan transkrip wawancara), hasil perekaman (dokumen dan foto) dan

catatan tentang proses penyelenggaraan penelitian ( metodologi, strategi, dan

usaha pengecekan keabsahan data). Untuk penilaian kualitas hasil penelitian ini

dilakukan oleh auditor yaitu dosen pembimbing Tesis ini.

I. Tahap-tahap Penelitian.

Dalam keiatan penelitian ini ada tiga tahap yang hendak dilaksanakan,

yaitu : (1) tahap pra-penelitian, yaitu tahap sebelum peneliti berada di lapangan,

(2) tahap pelaksanaan penelitian, yaitu tahap selama peneliti berada dilapangan,

37
dan (3) tahap pelaporan hasil penelitian, yaitu tahap sesudah peneliti kembali dari

lapangan.

1. Tahap Pra-penelitian

Pra penelitian adalah tahap sebelum peneliti berada di lapangan. Pada

tahap pra-penelitian ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

Mencari permasalahan penelitian melalui bahan-bahan tertulis, materi

perkuliahan, studi kepustakaan, peneliti menemukan konsep awal masalah

manajemen pembelajaran seni musik di SMA Negeri I Manado, berkonsultasi

dengan pimpinan SMA Negeri I Manado dan guru bidang studi seni musik untuk

konfirmasi bahwa ternyata masalah ini belum pernah diteliti, peneliti mencari

teori-teori pendukung, merumuskan masalah yang masih bersifat tentatif dalam

bentuk konsep awal, berdiskusi dengan orang-orang tertentu yang dianggap

memiliki pengetahuan tentang permasalahan penelitian ini, menyusun sebuah

konsep ide pokok penelitian, diperbaiki sesuai penemuan teori, menyusun usulan

penelitian yang lengkap, berkonsultasi dengan dosen pembimbing , perbaikan

hasil konsultasi, mendapatkan persetujuan kelayakan untuk diseminarkan ,

perbaikan hasil seminar dan persiapan persyaratan surat izin penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian adalah tahap selama berada di lapangan. Pada

tahap ini peneliti akan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : menyiapkan

bahan-bahan yang diperlukan di lapangan seperti, matriks panduan wawancara,

panduan wawancara, lembar catatan lapangan , surat izin penelitian, berkonsultasi

dengan pejabat / key informan yang berkepentingan dengan latar penelitian guna

mendapatkan rekomendasi penelitian, menyiapkan perlengkapan alat tulis dan alat

38
perekam (tape dan kamera ) , berkonsultasi dengan dosen pembimbing melalui

tatap muka langsung atau melalui media elektronik/ telepon, mengadakan

wawancara mendalam dengan semua persyaratannya, menganalisis data

penelitian, membuat draft awal konsep hasil penelitian dan berkonsultasi dengan

pembimbing.

3. Tahap Pelaporan Penelitian

Pelaporan hasil penelitian adalah tahap sesudah kembali dari lapangan.

Pada tahap ini akan dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : menyusun

konsep laporan penelitian, berkonsultasi dengan dosen pembimbing,

perampungan laporan penelitian, perbaikan hasil konsultasi, pengurusan

persyaratan untuk keperluan ujian akhir, mengikuti ujian akhir, melakukan

perbaikan hasil ujian akhir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pentahapan

dalam penelitian ini adalah berbentuk urutan atau berjenjang, dimulai dari tahap

pra-penelitian ke tahap penelitian sampai ke tahap pelaporan hasil penelitian.

39
40
41
DAFTAR PUSTAKA

Amsyah Zulkifli., 2000. Manajemen Sistem Informasi, Cetakan Kedua, Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.

Awuy, Y.E.A., 1981. Metodik Khusus Pendidikan Kesenian, Depdikbud, Manado

Bobbi de Porter and Hernacki Mike, 2000, Quantum Learning : Unleashing The
Genius in You, (Terjemahan: Alwiyah Abdurrachman), Bandung: Kaifa.

Bogdan, R.C. & Biklen S.K., 1998. Qualitative Research for Education. An
Introduction to Theory and Methods, Boston : Allyn and Bacon, Inc.

Brown, Edward, Creating the Future, Perspective on Educational Change. Aston


Clinton, Bucks : Accelerated Learning Systems Ltd., 1993.

Chadwick, Bruce A., Bahr, Howard., & Albrecht, Stan L.,1991. Social Science
Research Methods (Terjemahan: Sulistia, Yan Mujianto, Ahmad Sofwan dan
Suhardjito), New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs.

Darongo M. P. ,1991, Majalah Pendidikan (sebuah artikel), Depdikbus, Jakarta.

Dikdasmen Depdiknas, 2000, Kurikulum Pendidikan Seni di Sekolah, Jakarta :


Balai Pustaka.

Dryden Gordon and Vos Jeannette, 2001, The Learning Revolution: To Change
the Way the World Learns, (Terjemahan dan Penyunting: Ahmad Baiquni,
Bagian I 'Keajaiban Pikiran'), Bandung: Kaifa.

Guba, E.G., & Lincoln, Y. S., 1981, Effective Evaluation. San Fransisco: Jossey-
Bass.

Hamalik Oemar, 1995., Rancangan Sistem Pembelajaran, Bandung: Marja.

Harun, 2000., Penyusunan Kurikulum Berdasarkan Pendekatan Kompetensi,


Jakarta: Bumi Aksara.

Hurlock, Elizabeth B., 1995.,Child Development - Sixth Edition (Terjemahan :


Agus Dharma) Buku I dan II, Jakarta: Erlangga,

Ismiyanto, 2000. Konsep Pendidikan Seni dan Existensinya, FPBS IKIP Semarang

Jamalus, 1981, Musik 4, Depdikbud, Jakarta.

Kambey. D. C., 2006., Landasan Teori Administrasi / Manajemen (Sebuah


Intisari), Yayasan Tri Ganesha Nusantara.

42
Lozanov, 1979. Chanting : Discovering Spirit in Sound, Bantam Doubleday Dell
Publishing.

Miles, Matthew B., & Huberman A.M., 1992. Qualitative Data Analysis,
(Terjemahan : Tjetjep Rohendi Rohidi), Jakarta: UI Press.

Moleong, Lexi. , 1988. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Moleong, Lexi. , 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Muslich, 1996., Pendidikan Kesenian, Jakarta : Dikdasmen Depdikbud.

Nasution S., 1992, Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta: Bina Aksara.

Riberu, J., 1980, Mengajar Dengan Sukses, Tarsito, Bandung.

Rohidi, Tjetjep Rohendi, 1993., Analisis Data Kualitatif, Jakarta: UI Press.

Rose, Helen, Magical Child, New York: E. P. Dutton, 1987.

Satmoko, Retno Sriningsih, 1999. Landasan Kependidikan : Pengantar ke arah


Ilmu Pendidikan Pancasila, Semarang: IKIP Semarang Press.

Schuster and Gritton, Awakening Your Child's Natural Genius. Los Angeles:
Jeremy P. Tarcher, 1986.

Sherman, R.R., Webb, R. B.,1990. Qualitative Research in Education : Focus


and Methods, New York: The Falmer Press

Slameto, 1987., Dimensi- Dimensi Belajar - Mengajar, Bandung: Sinar Baru.

Sudjana Nana, 2001, Dasar Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Supriadi, 1999., Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Syafii, 1994. Expresi Seni Orang Miskin, IKIP Semarang Press.

William, Mantja., 1990. Etnografi: Disain Penelitian Manajemen Pendidikan:


Malang: PPsIKIP Malang.

Zainal Arifin, dkk., 1991, Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Remaja
Rosda Karya, Bandung.

43