Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nasionalisme seorang warga negara, antara lain, diukur
berdasarkan kecintaan kepada tanah airnya dan sikap positif
terhadap bahasanya. Sikap positifnya terhadap bahasa
tercermin dari kebanggaannya dalam menggunakan bahasa
nasionalnya. Dewasa ini rakyat Indonesia sepertinya tidak
bangga lagi ber-Tanah Air Indonesia, sudah enggan menjunjung
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Indikasinya ini,
antara lain, terlihat dari perbedaan perlakuan terhadap bahasa
Indonesia sebagai bahasa Nasional dibandingkan bahasa Inggris
sebagai bahasa asing. Ini misalnya terlihat dari ketimpangan
kebijakan antara TOEFL (Test of English as a Foreign Language)
dan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI).
Mahasiswa Indonesia pun belum terkondisikan dalam
bingkai kepositifan belajar bahasa yang ideal selama berada di
universitasnya. Para mahasiswa ini merasa dipaksa untuk belajar
bahasa Inggris dalam kondisi yang belum tentu mereka tertarik
menjalaninya. Selain itu, fasilitas yang tersedia untuk itu juga
sangat terbatas. Umumnya lulusan S1 hanya sebagian kecil
yang melanjutkan studinya ke jenjang pascasarjana atau bahkan
ke luar negeri. Jika ada di antara para mahasiswa ini yang
berminat atau berencana melanjutkan studi ke luar negeri, tanpa
disuruh pun mereka akan mengikuti program intensif bahasa
Inggris untuk mencapai skor TOEFL tertentu sebagaimana yang
disyaratkan oleh pihak universitas yang mereka tuju.

Sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh beberapa


universitas di Indonesia, terutama mengenai ketentuan TOEFL
bagi calon mahasiswa maupun bagi para mahasiswanya yang
sedang menjalani masa pendidikan dan yang akan
menyelesaikan tugas akhir, sering kali mensyaratkan nilai TOEFL
tertentu. Hal ini telah meresahkan sebagian besar mahasiswa
tersebut. Tidak jarang, para mahasiswa itu merasa sangat
tertekan dan stres menghadapi ketentuan wajib lulus TOEFL
dengan skor tertentu tersebut, dan hal ini sering kali telah
menjadi momok bagi sebagain besar mahasiswa calon sarjana.
Di sisi lain, nilai TOEFL yang diburu itu tidak jarang hanyalah
formalitas belaka. Kompetensi lulusan berkaitan dengan
penguasaan kompetensi dan performansi bahasa Inggris tetap
biasa-biasa saja. Sebagai akibatnya, sering kali masyarakat
menduga bahwa program ini merupakan proyek akademik yang
dijalankan oleh sebab adanya kebijakan institusi saja.

Demi pretise bahasa asing yang belum tentu dipakai,


akibatnya bahasa Nasional sendiri yang jelas-jelas setiap hari
dipakai dikesampingkan. Akibatnya, kelunturan nasionalisme
kian masif terjadi.

1.2 Rumusan Masalah


Dengan mempertimbangkan latar belakang di atas, dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut :
Apakah pengaruh era globalisasi terhadap bahasa di
Indonesia?
Apakah pembentukan karakter bangsa dipengaruhi oleh
penetapan TOEFL dan UKBI sebagai tolak ukur bahasa di
Indonesia?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan faktor-faktor penyebab TOEFL sebagai
prioritas syarat administrasi di Indonesia dibanding UKBI.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Menjelaskan mengenai tes TOEFL.
2. Menjelaskan mengenai tes UKBI.
3. Menjelaskan pengaruh era globalisasi terhadap bahasa di
Indonesia.
4. Menjelaskan penetapan TOEFL dan UKBI sebagai tolak ukur
bahasa di Indonesia, dan pengaruhnya terhadap pembentukan
karakter bangsa.

1.4 Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini, yaitu sebagai berikut :

1. Mengetahui penyebab TOEFL lebih diwajibkan dibandingkan


UKBI.
2. Mengetahui pengaruh bahasa terhadap pembentukan karakter
bangsa.