Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Ilahi Robbi atas segala nikmat dan
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah ANAK, makalah ini
disusun untuk memenuhi salah satu komponen tugas pada mata kuliah ANAK di Program
Studi S1 Keperawatan Icme Jombang.
Makalah ini mencoba memaparkan tentang asuhan keperawatan pada anak dengan
Penyakit Jantung Bawaan (PJB).
Kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penyusuanan makalah ini,
untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari semua pihak
demi perbaikan dan penambahan wawasan kami di masa yang akan datang
Demikian akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam penyusunan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis
khususnya bagi pembaca pada umumnya terima kasih

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Congenital heart diseases (CHD) atau penyakit jantung bawaan merupakan kelainan
bawaan yang sering ditemukan, yaitu 10% dari seluruh kelainan bawaan dan sebagai
penyebab utama kematian pada masa neonatus. Perkembangan di bidang diagnostik,
tatalaksana medikamentosa dan tehnik intervensi non bedah maupun bedah jantung dalam 40
tahun terakhir memberikan harapan hidup sangat besar pada neonatus dengan CHD yang
kritis. Bahkan dengan perkembangan ekokardiografi fetal, telah dapat dideteksi defek
anatomi jantung, disritmia serta disfungsi miokard pada masa janin. Di bidang pencegahan
terhadap timbulnya gangguan organogenesis jantung pada masa janin sampai saat ini masih
belum memuaskan, walaupun sudah dapat diidentifikasi adanya multifaktor yang saling
berinteraksi yaitu faktor genetik dan lingkungan (Ide Bagus : 2008)
Congenital heart diseases (CHD) atau penyakit jantung bawaan merupakan kelainan
bawaan yang sering ditemukan, yaitu 10% dari seluruh kelainan bawaan dan sebagai
penyebab utama kematian pada masa neonatus. Perkembangan di bidang diagnostik,
tatalaksana medikamentosa dan tehnik intervensi non bedah maupun bedah jantung dalam 40
tahun terakhir memberikan harapan hidup sangat besar pada neonatus dengan CHD yang
kritis. Bahkan dengan perkembangan ekokardiografi fetal, telah dapat dideteksi defek
anatomi jantung, disritmia serta disfungsi miokard pada masa janin. Di bidang pencegahan
terhadap timbulnya gangguan organogenesis jantung pada masa janin sampai saat ini masih
belum memuaskan, walaupun sudah dapat diidentifikasi adanya multifaktor yang saling
berinteraksi yaitu faktor genetik dan lingkungan (Ide Bagus : 2008).
Penyakit jantung kongenital bisa terjadi kepada anak-anak di dunia tanpa melihat
kedudukan sosial ekonomi. Kejadian ini berlaku antara 8 -10 kes bagi setiap 1000 kelahiran
hidup. Jika seorang anak dijangkiti, kadar berulangnya kejadian ini pada anaknya nanti ialah
antara 4.9 -16% . Penyakit Jantung Kongenital merupakan 42% dari keseluruhan kecacatan
kelahiran. Sebagian besar dari kematian bayi akibat kecacatan kelahiran adalah disebabkan
oleh keabnormalan jantung. Mengikut Persatuan Jantung Amerika, pada tahun 1992,
kecacatan jantung merupakan 31.4% dari semua kematian akibat kecacatan kelahiran. Kira-
kira 40,000 bayi yang dilahirkan setiap tahun mendapat kecacatan jantung (Dikutip dari
IdeBagus : 2008)
Congenital heart diseases (CHD) yang berat dan tidak diatasi segera akan
menimbulkan kegawatan dan kematian pada awal kehidupan bayi. Selain faktor tenaga dan
fasilitas medis yang terbatas, problem finansial banyak menjadi penyebab bayi-bayi CHD tak
dapat hidup. Kebanyakan orangtua bayi CHD adalah pasangan muda yang ekonominya masih
rendah. Insidensi penyakit jantung bawaan di dunia diperkirakan 8/1000 kelahiran hidup.
Data mengenai penyakit jantung bawaan sangat bervariasi bergantung pada hasil penelitian
terhadap anak atau orang dewasa, serta berdasarkan autopsy dan pemeriksaan kateterisasi. Di
Indonesia sekitar 40.000 bayi dengan penyakit jantung bawaan. Saat ini, hanya sekitar 2%
penderita yang bisa diselamatkan. Dengan perkiraan penduduk Indonesia sekitar 220 juta,
maka setiap tahun terdapat sekitar 40.000 bayi lahir dengan CHD/ PJB (IdeBagus : 2008).
Sebagai kalangan mahasiswa kesehatan selayaknya mengetahui bahaya congenital
heart diseases (CHD) bagi kehidupan anak-anak yang bisa mempengaruhi kesehatan mereka
dan bisa berujung pada kematian. Sebagai mahasiswa kesehatan sepatutnya mampu
mengidentifikasi faktor penyebab serta tanda dan gejala dari Congenital heart diseases
(CHD), serta dapat bertindak dalam memberikan pelayanan terbaik pada klien anak yang
menderita Congenital heart diseases (CHD) khususnya dalam pemberian asuhan keperawatan
di rumah sakit

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah yaitu Bagaimana asuhan
keperawatan pada klien anak yang menderita Congenital heart diseases (CHD) ?

C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan
pengetahuandapat memberikan informasi dan pemahaman mengenai asuhan
keperawatan pada klien anak yang menderita Congenital heart diseases (CHD).
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Congenital heart diseases (CHD) atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan
malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit
jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak
dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan
ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui
seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda (IPD FKUI : 1996)
Congenital heart disease (CHD) atau penyakit jantung bawaan adalah kelainan jantung
yang sudah ada sejak bayi lahir, jadi kelainan tersebut terjadi sebelum bayi lahir. Tetapi
kelainan jantung bawaan ini tidak selalu memberi gejala segera setelah bayi lahir tidak jarang
kelainan tersebut baru ditemukan setelah pasien berumur beberapa bulan atau bahkan
beberapa tahun (Ngastiyah:1997).

2.2 Etiologi
Penyebab penyakit jantung congenital berkaitan dengan kelainan perkembangan
embrionik, pada usia lima sampai delapan minggu, jantung dan pembuluh darah besar
dibentuk. Penyebab utama terjadinya penyakit jantung congenital belum dapat diketahui
secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan
angka kejadian penyakit jantung bawaan :
1. Faktor Prenatal :
a. Ibu menderita penyakit infeksi : rubella, influenza atau chicken fox.
b. Ibu alkoholisme.
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun.
d. Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.
e. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu dan sebelumnya ikut program KB
oral atau suntik, minum obat-obatan tanpa resep dokter, ( thalidmide,
dextroamphetamine, aminopterin, amethopterin).
f. Terpajan radiasi (sinar X).
g. Gizi ibu yang buruk.
h. Kecanduan obat-obatan yang mempengaruhi perkembangan embrio.
2. Faktor Genetik
a. Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
b. Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
c. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
d. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain

2.3 Klasifikasi
Terdapat berbagai cara penggolongan penyakit jantung congenital. Penggolongan yang sangat
sederhana adalah penggolongan yang didasarkan pada adanya sianosis serta vaskuiarisasi
paru.
1. Congenital Heart Diseases (CHD) non sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah,
misalnya defek septum ventrikel (DSV), defek septum atrium (DSA), dan duktus
arteriousus persisten (DAP).
2. Congenital Heart Diseases (CHD) non sianotik dengan vaskularisasi paru normal. Pada
penggolongan ini termasuk stenosis aorta (SA), stenosis pulmonal (SP) dan koartasio
aorta.
3. Congenital Heart Diseases (CHD) sianotik dengan vaskularisasi paru berkurang. Pada
penggolongan ini yang paling banyak adalah tetralogi fallot (TF)
4. Congenital Heart Diseases (CHD) sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah,
misalnya transposisi arteri besar (TAB).
5. CHD/ PJB Non sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah
Terdapat defek pada septum ventrikel, atrium atau duktus yang tetap terbuka
menyebabkan adanya pirau (kebocoran) darah dari kiri ke kanan karena tekanan jantung
dibagian kiri lebih tinggi daripada dibagian kanan.
a. Defek Septum Ventrikel (VSD)
DSV terjadi bila sekat ventrikel tidak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya darah
dari bilik kiri mengalir ke bilik kanan pada saat sistole.
Manifestasi klinik : Pada pemeriksaan selain didapat pertumbuhan terhambat,
anak terlihat pucat, banyak keringat bercucuran, ujung-ujung jari hiperemik.
Diameter dada bertambah, sering terlihat pembonjolan dada kiri. Tanda yang
menojol adalah nafas pendek dan retraksi pada jugulum, sela intrakostalis dan
region epigastrium. Pada anak yang kurus terlihat impuls jantung yang
hiperdinamik.
Penatalaksanaan : Pasien dengan DSV besar perlu ditolong dengan obat-obatan
utuk mengatasi gagal jantung. Biasanya diberikan digoksin dan diuretic, misalnya
lasix. Bila obat dapat memperbaiki keadaan, yang dilihat dengan membaiknya
pernafasan dan bertambahnya berat badan, rnaka operasi dapat ditunda sampai usia
2-3 tahun. Tindakan bedah sangat menolong karena tanpa tindakan tersebut
harapan hidup berkurang
b. Duktus Arteriosus Persisten (PDA)
DAP adalah terdapatnya pembuluh darah fetal yang menghubungkan percabangan
arteri pulmonalis sebelah kiri (left pulmonary artery) ke aorta desendens tepat di
sebelah distal arteri subklavikula kiri. DAP terjadi bila duktus tidak menutup bila
bayi lahir. Penyebab DAP bermacam-macam, bisa karena infeksi rubella pada ibu
dan prematuritas.
Manifestasi klinik : Neonatus menunjukan tanda-tanda respiratory distress seperti
mendengkur, tacipnea dan retraksi. Sejalan dengan pertumbuhan anak, maka anak
akan mengalami dispnea, jantung membesar, hipertropi ventrikuler kiri akibat
penyesuaian jantung terhadap peningkatan volume darah, adanya tanda machinery
type . Murmur jantung akibat aliran darah turbulensi dari aorta melewati duktus
menetap. Tekanan darah sistolik mungkin tinggi karena pembesaran ventrikel kiri.
Penatalaksanaan : Karena neonatus tidak toleransi terhadap pembedahan,
kelainan biasanya diobati dengan aspirin atau idomethacin yang menyebabkan
kontraksi otot lunak pada duktus arteriosus. Ketika anak berusia 1-5 tahun, cukup
kuat untuk dilakukan operasi.
c. Tetralogi fallot
Tetralogi fallot merupakan penyakit jantung yang umum, dan terdiri dari 4
kelainan yaitu:
a) stenosis pulmonal
b) hipertropi ventrikel kanan
c) kelainan septum ventrikuler
d) kelainan aorta yang menerima darah dari ventrikel dan aliran darah kanan ke
kiri melalui kelainan septum ventrikel.
Manifestasi klinik : Bayi baru lahir dengan TF menampakkan gejala yang nyata
yaitu adanya sianosis, letargi dan lemah. Selain itu juga tampak tanda-tanda dyspne
yang kemudian disertai jari-jari clubbing, bayi berukuran kecil dan berat badan
kurang. Bersamaan dengan pertambahan usia, bayi diobservasi secara teratur, serta
diusahakan untuk mencegah terjadinya dyspne. Bayi mudah mengalami infeksi
saluran pernafasan atas. Diagnosa berdasarkan pada gejala-gejala klinis, mur-mur
jantung, EKG foto rongent dan kateterisasi jantung.
Penatalaksanaan : Pembedahan paliatif dilakukan pada usia awal anak-anak,
untuk memenuhi peningkatan kebutuhan oksigen dalam masa pertumbuhan.
Pembedahan berikutnya pada masa usia sekolah, bertujuan untuk koreksi secara
permanent. Dua pendekatan paliatif adalah dengan cara :
a) Blalock-Tausing, dilakukan pada ananostomi ujung ke sisi subklavikula kanan
atau arterikarotis menuju arteri pulmonalis kanan.
b) Waterson dikerjakan padasisi ke sisi anastonosis dari aorta assenden, menuju
arteri pulmonalis kanan, tindakan ini meningkatkan darah yang teroksigenasi
dan membebaskan gejala-gejala penyakit jantung sianosis.

2.4 Patofisiologi
Kelainan jantung congenital menyebabkan dua perubahan hemodinamik utama.
Shunting atau percampuran darah arteri dari vena serta perubahan aliran darah pulmonal dan
tekanan darah. Normalnya, tekanan pada jantung kanan lebih besar daripada sirkulasi
pulmonal. Shunting terjadi apabila darah mengalir melalui lubang abnormal pada jantung
sehat dari daerah yang bertekanan lebih tinggi ke daerah yang bertekanan rendah,
menyebabkan darah yang teroksigenisasi mengalir kedalam sirkulasi sistemik.
Aliran darah pulmonal dan tekanan darah meningkat bila ada keterlambatan penipisan
normal serabut otot lunak pada arteriola pulmonal sewaktu lahir. Penebalan vascular
meningkatkan resistensi sirkulasi pulmonal, aliran darah pulmonal dapat melampaui sirkulasi
sistemik dan aliran darah bergerak dari kanan ke kiri. Perubahan pada aliran darah,
percampuran darah vena dan arteri, serta kenaikan tekanan pulmonal akan meningkatkan
kerja jantung. Manifestasi dari penyakit jantung congenital yaitu adanya gagal jantung,
Perfusi tidak adekuat dan kongesti pulmonal.

2.5 Manifestasi Klinis


1. Bayi
a) Dyspnea
b) Difficulty breathing (Kesulitan Bernafas)
c) Pulse rate over 200 beats/mnt (Nadi lebih dari 200 kali/menit)
d) Recurrent respiratory infections (infeksi saluran nafas yang berulang)
e) Failure to gain weight (kesulitan penambahan berat badan)
f) Heart murmur
g) Cyanosis
h) Cerebrovasculer accident/ CVA
i) Stridor and choking spells/ mencekik
2. Anak
a) Dyspnea
b) Poor physical development ( perkembangan fisik yang kurang)
c) Decrease exercise tolerance (aktitas menurun)
d) Recurrent respiratory infections (infeksi saluran nafas yang berulang)
e) Heart murmur and thrill
f) Cyanosis
g) Squatting
h) Clubbing of fingers and toes
i) Elevated blood pressure (tekanan darah tinggi)

2.6 Komplikasi
Pasien dengan penyakit jantung congenital terancam mengalami berbagai komplikasi antara
lain:
1. Gagal jantung kongestif / CHF.
2. Renjatan kardiogenik/ Henti Jantung.
3. Aritmia.
4. Endokarditis bakterialistis.
5. Hipertensi.
6. Hipertensi pulmonal.
7. Tromboemboli dan abses otak.
8. Obstruksi pembuluh darah pulmonal.
9. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur).
10. Enterokolitis nekrosis.
11. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia
bronkkopulmoner).
12. Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit.
13. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin).
14. Gagal tumbuh.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
1. Foto thorak : Melihat atau evaluasi adanya atrium dan ventrikel kiri membesar secara
signifikan (kardiomegali), gambaran vaskuler paru meningkat.
2. Echokardiografi : Rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1,3:1 pada bayi
cukup bulan atau lebih dari 1,0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume
atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan).
3. Pemeriksaan laboratorium : Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit
(Ht) akibat saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-
18 gr/dl dan hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA menunjukkan peningkatan tekanan
partial karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan
PH.
4. Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk mengevaluasi aliran darah dan
arahnya.
5. Elektrokardiografi (EKG) : bervariasi sesuai tingkat keparahan, adanya hipertropi
ventrikel kiri, kateterisasi jantung yang menunjukan striktura.
6. Kateterisasi jantung : hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau
Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya.
7. Diagnosa ditegakkan dengan cartography & Cardiac iso enzim (CK,CKMB) meningkat.

2.8 Penatalaksanaan Medis


a) Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan bemberian obat-obatan :
Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan
diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular, Pemberian
indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus,
pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial.
b) Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus.
c) Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu
kateterisasi jantung.
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Riwayat Keperawatan
1) Riwayat terjadinya infeksi pada ibu selama trimester pertama. Agen penyebab lain
adalah rubella, influenza atau chicken pox.
2) Riwayat prenatal seperti ibu yang menderita diabetes mellitus dengan ketergantungan
pada insulin.
3) Kepatuhan ibu menjaga kehamilan dengan baik, termasuk menjaga gizi ibu, dan tidak
kecanduan obat-obatan dan alcohol, tidak merokok.
4) Proses kelahiran atau secara alami atau adanya faktor-faktor memperlama proses
persalinan, penggunaan alat seperti vakum untuk membantu kelahiran atau ibu harus
dilakukan SC.
5) Riwayat keturunan, dengan rnemperhatikan adanya anggota keluarga lain yang juga
mengalami kelainan jantung, untuk mengkaji adanya factor genetik yang menunjang.
6) Riwayat pertumbuhan, biasanya anak cenderung mengalami keterlambatan
pertumbuhan karena fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori sebagai
akibat dari kondisi penyakit.
7) Riwayat psikososial/ perkembangan :
- Kemungkinan mengalami masalah perkembangan.
- Mekanisme koping anak/ keluarga.
- Pengalaman hospitalisasi sebelumnya.

b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan sama dengan pengkajian fisik yang dilakukan
terhadap pasien yang menderita penyakit jantung padaumumnya. Secara spesifik data yang
dapat ditemukan dari hasil pengkajian fisik pada penyakit jantung congenital ini adalah:
a. Riwayat keperawatan : respon fisiologis terhadap defek (sianosis, aktivitas
terbatas).
b. Observasi adanya tanda-tanda gagal jantung, nafas cepat, sesak nafas, retraksi,
bunyi jantung tambahan (machinery mur-mur), cedera tungkai, hepatomegali.
c. Observasi adanya hipoksia kronis : clubbing finger.
d. Observasi adanya hiperemia pada ujung jari.
e. Observasi pola makan, pola pertambahan berat badan.
f. Bayi baru lahir berukuran kecil dan berat badan kurang.
g. Observasi apakah anak terlihat pucat, banyak keringat bercucuran, ujung-ujung jari
hiperemik.
h. Observasi diameter dada bertambah, sering terlihat benjolan dada kiri.
i. Tanda yang menojol adalah nafas pendek dan retraksi pada jugulum, sela intrakostal
dan region epigastrium.
j. Pada anak yang kurus terlihat impuls jantung yang hiperdinarnik.
k. Observasi anak mungkin sering mengalami kelelahan dan infeksi saluran
pernafasan, sedangkan neonatus menunjukan tanda-tanda respiratory distress seperti
mendengkur, tacipnea dan retraksi.
l. Observasi apakah anak pusing, tanda-tanda ini lebih nampak apabila pemenuhan
kebutuhan terhadap O2 tidak terpenuhi ditandai dengan adanya murmur sistolik
yang terdengar pada batas kiri sternum.
m. Observasi apakah ada kenaikan tekanan darah. Tekanan darah lebih tinggi pada
lengan daripada kaki. Denyut nadi pada lengan terasa kuat, tetapi lemah pada
popliteal dan temporal.
n. Pengkajian psikososial meliputi : usia anak, tugas perkembangan anak, koping yang
digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap penyakit anak, koping
keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap stress.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas jantung,
perubahan tekanan jantung.
b. Tidak efektif pola nafas berhubungan dengan peningkatan resistensi vaskuler paru,
kongesti pulmonal.
c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia miokard.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat
makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.
e. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan tidak adekuatnya suplai
oksigen dan nutrisi ke jaringan.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan, ketidakseimbangan antara
pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplai oksigen ke jaringan.
g. Peningkatan volume cairan tubuh berhubungan dengan kongestif vena, penurunan fungsi
ginjal.
h. Kurang pengetahuan ibu tentang keadaan anaknya berhubungan dengan kurangnya
inforrnasi.
i. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan keluarga tentang
diagnosis/prognosis penyakit anak.