Anda di halaman 1dari 18

Mata Kuliah : Dosen :

Toksikologi Industri Kursiah Warti Ningsi, M.Kes

KISARAN DOSIS

Disusun Oleh :

KELOMPOK II

ABDULLAH : 144010001

NOVITA RATNA SARI S. : 144010019

RICI WULANDARI : 144010028

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


STIKes PAYUNG NEGERI PEKANBARU

1
2

2016/2017KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas nikmat yang selalu dilimpahkan
kepada hamba-hamba-Nya atas berkat-Nya sehingga makalah ini dapat
diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah di tentukan oleh dosen pembimbing
mata kuliah Toksikologi Industri.
Penulis juga mengucapkan terimakasih banyak kepada Ibu Kursiah Warti
Ningsi, M.Kes selaku dosen pegampuh mata kuliah toksikologi industri yang
telah memberikan motivasi sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan-
kekurangan baik dalam penulisan maupun dalam bahasa tulisan, maka dari itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi untuk
kesempurnaan makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi
penulis pribadi dan pembaca pada umumnya.

Pekanbaru,02 Maret 2017

Penulis

i
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................1
A. Latar Belakang..................................................................................................1
B. Tujuan...............................................................................................................2
C. Manfaat.............................................................................................................2
BAB II......................................................................................................................3
A. Menetapkan Kisaran Dosis...............................................................................3
B. Karakteristik Pemaparan...................................................................................3
C. Dosis Respon....................................................................................................6
D. Hubungan Dosis-Respons ( Dose Response Relationsip)................................7
E. Konsep Statistika dan LD50...........................................................................10
F. Dosis Dan Respon Letal dan Sub Letal..........................................................12
BAB III..................................................................................................................15
A. Simpulan.........................................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sifat spesifik dan efek suatu paparan secara secara bersama-sama akan
membentuk suatu hubungan yang lazim disebut sebagai dosis-respon.
Hubungan dosis-respon tersebut merupakan konsep dasar dari tokikologi
untuk mempelajari bahan toksik.

ii
4

Penggunaan hubungan dosis-respon dalam toksikologi harus


memperhatikan beberapa asumsi dasar. Asumsi dasar tersebut adalah :
1. Respon bergantung pada cara masuk bahan dan respon berhubungan
dengan dosis.
2. Adanya molekul atau respon pada tempat bersama bahan kimia
berinteraksi dan menghasilkan suatu respon.
3. Respon yang dihasilkan dan tingkat respon berhubungan dengan kadar
agen pada daerah yang reaktif
4. Kadar pada tempat tersebut berhubungan dengan dosis yang masuk.
Dari asumsi tersebut dapat digambarkan suatu grafik atau kurva
hubungan dosis-respon yang memberikan asumsi
1. Respon merupakan fungsi kadar pada tempat tersebut
2. Kadar pada tempat tersebut merupakan fungsi dari dosis
3. Dosis dan respon merupakan hubungan kausal
Uji toksisitas akut sangat penting untuk mengukur dan mengevaluasi
karekteristik toksik dari suatu bahan kimia. Uji ini dapat menyediakan
informasi tentang bahaya kesehatan manusia yang berasal dari bahan kimia
yang terpapar dalam tubuh dalam waktu pendek melalui jalur oral. Data uji
akut juga dapat menjadi dasar klasifikasi dan pelebelan suatu bahan kimia.
Dosis Maksimal (maximum), berlaku untuk pemakaian dalam sekali
dan sehari. Penyerahan obat dalam dosis melebihi dosis maksimum dapat
dilakukan dengan membubuhi tanda seru dan paraf dokter penulisan resep,
diberi garis bawah nama obat tersebut atau banyaknya obat hendaknya ditulis
dengan huruf lengkap.
Dosis Lazim (Usual Doses), merupakan petunjuk yang tidak mengikat
tetapi digunakan sebagai pedoman umum ( dosis yang biasa/umum
digunakan).

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui penetapan kisaran dosis


2. Untuk mengetahui karakteristik pemaparan
3. Untuk mengetahui mengenai dosis respon
4. Untuk Mengetahui konsep statistika dan LD50
5

5. Untuk Mengetahui dosis dan respon letal dan sub letal.

C. Manfaat
1. Dapat diketahui mengenai penetapan kisaran dosis
2. Dapat diketahui karakteristik pemaparan
3. Dapat diketahuipenjelasan mengenai dosis respon
4. Dapat diketahui konsep statistika dan LD50
5. Dapat diketahui dosis dan respon letal dan sub letal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Menetapkan Kisaran Dosis


Penggunaan hubungan dosis-respon dalam teksikologi harus
memperhatikan beberapa asumsi dasar. Asumsi dasar tersebut adalah:
1. Respon bergantung pada cara masuk bahan dan respon berhubungan
dengan dosis.
6

2. Adanya molekul atau reseptor pada tempat bersama bahan kimia


berintraksi dan menghasilkan suatu respon
3. Respon yang dihasilkan dan tingkat respon berhubungan dengan kadar
agen pada daerah yang reaktif
4. Kadar pada tempat tersebut berhubungan dengan dosis yang masuk dari
asumsi tersebut dapat digambarkan suatu grafik atau kurva hubungan
dosis-respon yang memberikan asumsi
a. Respon merupakan fungsi kadar pada tempat tersebut
b. Kadar pada tempat tersebut merupakan fungsi dari dosis
c. Dosis dan respon merupakan hubungan kausal

Pada kurva dosis-respon Nampak informasi beberapa hubungan antara


jumlah zat kimia sebagai dosis, organisme yang mendapat perlakuan dan
setiap aspek yang disebabkan oleh dosis tersebut. Toksikometrik merupakan
istilah teknis untuk studi dosis-respon, yang dimaksudkan untuk
mengkuantifikasi dosis-respon sebagai dasar ilmu toksikologi. Hasil akhir
yang dihasilkan dari jenis studi ini adalah nilai Lethal Dose50 (LD50) untuk
zat kimia.

B. Karakteristik Pemaparan

Efek toksik dalam sistem biologis tidak akan terjadi jika bahan kimia
tersebut tidak mencapai tempat yang sesuai didalam tubuh pada konsentrasi
dan lama waktu yang cukup untuk menghasilkan manifestasi toksik. Terjadi
tidaknya respon toksik tergantung pada sifat kimia dan fisik dari bahan
tersebut, situasi paparan, dan kerentanan sistem biologis dari subjek. Oleh
karena itu mengetahui karakteristik lengkap tentang bahaya potensial dan
3
toksisitas dari suatu bahan kimia tertentu, maka perlu diketahui tidak hanya
efek-efek dan dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek tersebut, tetapi
juga informasi mengenai sifat bahan kimianya sendiri, pemaparannya, dan
subjeknya. Faktor utama yang memepengaruhi toksisitas yang berhubungan
dengan situasi pemaparan terhadap bahan kimia tertentu adalah jalur masuk
(route of entry) kedelam tubuh, jangka waktu dan frekuensi pemaparan.
7

Ada 3 jalur utama bahan toksisk masuk kedalam tubuh manusia yaitu
melalui saluran pencernaan atau makanan (gastro intestinal), jalur pernafasan
(inhalasi) dan melalui kulit (topical). Bahan toksik masuk kedalam saluran
pencernaan umumnya melalui makanan atau minuman dan kemudian diserap
didalam lambung. Bahan toksik yang masuk melalui saluran pernafasan
menuju paru-paru akan diserap oleh alveoli paru-paru. Pada umumnya kulit
lebih impermeabel dan karenanya merupakan barrier (penghalang) yang baik
bagi bahan toksik masuk kedalam tubuh. Namun bebrapa bahan kimia dapat
diserap oleh kulit dalam jumlah yang cukup banyak sehingga menimbulkan
efek sistemik. Suatu zat kimia dapat diserap lewat folikel rambut atau leawat
sel-sel kelanjer keringat. Setelah bahan toksik tersebut diserap dan masuk
kedalam darah, kemudian didistribusikan keseluruh tubuh dnegan cepat.
Namun demikian sebagian bahan toksik dapat dikeluarkan oleh mekanisme
tubuh secara alami melalui urine, empedu dan paru-paru. Dan sebagian lagi
bisa mengalami biotransformasi dan bioaktivasi. Yang lebih berbahaya adalah
jika terjadi proses bioaktivasi dimana bahan toksik diubah menjadi bahan
yang lebih toksik oleh metabolisme tubuh.
Karakteristik pemaparan dan spectrum efek secara bersamaan
membentuk hubungan korelasi yang dikenal sebagai hubungan dosis-respons.
Respons timbul karena adenya bahan kimia yang diberikan dan respons
berhubungan dengan dosis. Dalam penggunaan dosis-respons harus ada
metode kuantitatif untuk mengukur secara tepat toksisitas dari suatu bahan
kimia. Dosis-respons dinyatakan dengan suatu indek Lethal Dosis (LD50)
dan Lethal Concentration (LC50). LD50 adalah dosis tunggal dari suatu zat
yang secara statistic diharapkan dapat menyebabkan kematian sebanyak 50%
dari binatang percobaan selama 14 hari paparan.
Efek dari keracunan bisa bersifat akut dan kronik. Efek akut adalah
efek yang segra muncul pada saat terpapar atau terkena bahan toksik, dan
akan hilang setelah paparan bahan kimia beracun tersebut dihilangkan.
Contoh bahan kimia yang dapat menimbulkan efek akut adalah ammonia,
apabila terhirup uap ammonia maka sekitar kita akan merasa mual dan
pusing, akan tetapi pada konsentrasi tinggi dapat merusak paru-paru. Bahan
kimia yang bersifat kronik misalnya adalah asbestos, paparan terhadap debu
asbes tidak segera menyebabkan kerusakan pada paru-paru, akan tetapi
apabila terpapar dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kanker
8

paru-paru. Karbonmonoksida (CO) dapat mengakibatkan efek akut dan


kronis, apabila terhirup gas CO maka kepala akan pusing dan terasa mual
namun dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru.
Efek toksik juga bisa bersifat reversible atau irrversible. Efek reversible
artinya efek yang dapat hilang dengan sendirinya. Efek irreversible adalah
efek yang akan menetap atau bertambah. Efek irreversible diantaranya adalah
karsinoma, mutasi, kerusakan saraf dan sirosis hati. Efek reversible terjadi
apabila terpapar dengan konsentrasi yang rebdah atau jangka waktu tidak
lama, efek irreversible bis aterjadi apabila terpapar dengan konsentrasi yang
tinggi dan waktu yang lama.
Untuk menghindari agar tidak keracunan adalah dengan tidak
menggunakan bahan beracun atau tidak kontak dengan bahan beracun.
Namun dalam dunia industri tentu saja hal itu sulit dilakukan, karena kita
memerlukan bahan-bahan kimia didalam proses produksi sehari-hari, artinya
hamper setiap hari kita bergelut dengan bahan kimia yang sebagian besar
beracun. Dalam situasi seperti ini, dimana kita tidak bisa menghindari
menggunakan bahan-bahan kimia beracun, maka yang harus kita lakukan
adalah :
1. Mengenal bahan kimia yang kita gunakan dengan baik. Kenalilah sifat-
sifat kimia terutama sifat toksik dari bahan yang kita gunakan sehingga
kita tau efek yang dapat kita timbulkan.
2. Mengetahui penanganan dan penggunaannya secar baik untuk
menghindari paparan tidak perlu.
3. Usahakan seminimal mungkin untuk kontak atau terpapar terhadapa
bahan kimia beracun tersebut. Hati-hati jika pada bahan kimia cair yang
mudah menguap, jangan berasumsi bahwa semua cairan tidak menguap,
salah satu indikator bahwa bahan kimia cair menguap adalah adanya bau
yang ditimbulkan, namun tidak semua uap kimia berbau.
4. Gunakan alat pelindung diri (APD) yang tepat dalam menangani bahan
kimia beracun. Jika bekerja dnegan bahan kimia cair maka gunakan
safety glove yang sesuaidan safety glases jika diperlukan. Jika bekerja
dengan bahan kimia berupa gas atau uap maka gunakan respirator yang
dapat melindungi dari uap atau gas kimia.
5. Kenali cara penanganan jika terjadi tumpahan atau kebocoran bahan
kimia beracun tersebut.
9

6. Pelajari tindakan pertolongan pertama (first aids) jika terjadi kecelakaan


keracunan pada saat bekerja.
7. Konsultasikan kesehatan anda dengan dokter jika ada gejala-gejala
keracunan yang anda rasakan

Semua informasi tentang bahan kimia ada didalam Material Safety


Data Sheet (MSDS) dari bahan kimia yang anda gunakan. Oleh sebab itu
pastikan bahwa semua bahan kimia yang anda gunakan memiliki MSDS dan
dikomunikasikan kepada semua pekerja yang menggunakan bahan kimia
tersebut.

C. Dosis Respon

Kata Dosis menunjuk pada jumlah total zat yang dipaparkan ke


organisme, biasanya dinyatakan dalam hubungan dengan ciri repisien atau
penerima misalnya dalam ukuran berat badan dan sebagainya, bagi rute
kecuali inhalasi, dosis dinyatakan sebagai massa atau volume per unit berat
tubuh misalnya ml/kg atau mg/kg, untuk inhalasi dosis dinyatakan sebagai
jumlah agent yang terdapat per unit volume pemaparan atmosfer, misalnya
mg/m-3.
Pemaparan lingkungan-jumlah zat kimia dalam suatu unit medium
tertentu :
1. Mg per liter (untuk cairan)
2. Mg per gram (padat)
3. Mg per meter kubik (udara)
4. Part per million (sepersejuta bagian) (ppm) dstnya.
Dengan demikian salah satu penentu utama toksisitas adalah jumlah
zat kimia yang dipaparkan ke organisme. Bila kita mengevaluasi hubungan
dosis-respon, maka perlu dipertimbangkan :
1. Rute pemberian atau pemaparan oral, intramuskuler, intraperitoneal,
topical, intravena ataupun inhalasi bila zat tersebut berupa uap atau gas.
2. Jumlah dosis, frekwensi dan total periode waktu terjadinya pemaparan.
10

D. Hubungan Dosis-Respons ( Dose Response Relationsip)

Penyelidikan hubungan antara dosis atau konsentrasi dan kerja suatu


bahan kimia dapat dilakukan dengan dua cara :
1. Menguji frekuensi efek yang timbul pada suatu kelompok objek
percobaan dengan mengubah-ubah dosis (hubungan dosis-reaksi = dose-
respons relationship)
2. Mengubah-ubah dosis, kemudian mengukur intensitas kerja pada satu
onjek percobaan (hubungan dosis-kerja=dose-effect relationship). Pada
cara yang pertama, jumlah objek percobaan yang menunjukan efek
tertentu akan bertambah sampai maksimum, sednagkan pada cara yang
kedua, intensitas efek yang bertambah.

Perilaku efek suatu bahan kimia digambarkan sebagai peningkatan


dosis akan meningkatkan efek sampai efek maksimal tercapai. Hubungan
dosis-respon biasanya beciri kuantitatif dan hal tersebut yang membedakan
dnegan paparan di alam dimana kita hanya mendapatkan kemungkinan
perkiraan dosis. Suatu respon dari adanya paparan dapat berupa respon-
respon yang mematikan (lethal response) dan respon yang tidak mematikan
(non-lethal response). Bahan kimia dengan tingkat toksisitas rendah
memerlukan dosis besar untuk menghasilkan efek keracunan dan bahan kimia
sangat toksik biasanya memerlukan dosis kecil untuk menghasilkan efek
keracunan.
1. Hubungan Dosis-Reaksi
Karakteristik paparan dan efek bersama-sama yang membentuk
suatu hubungan kolerasi sering disebut sebagai hubungan dosis-respon.
Hubungan dosis-respon merupakan konsep dasar dalam toksikologi.
Pengertiaan dosis respon dalam toksikologi adalah proporsi dari sebuah
populasi yang terpapar dengan suatu bahan dan akan mengalami respon
spesifik pada dosis, interval waktu dan pemaparan tertentu.
Hubungan dosis reaksi menentukan berapa persen dari suatu
populasi (misalnya, sekelompok hewan percobaan) memberikan
efek/reaksi tertentu terhadap dosis tertentu dari suatu zat. Hasilnya dapat
digambarkan dalam diagram antara dosis dan jumlah individu dalam
11

kelompok yang menunjukan efek yang diinginkan. Banyaknya individu


yang menunjukkan efek ini dengan demikian merupakan fungsi dosis.
Pada kurva dnegan gambar secara linear terhadap dosis, maka dosis yang
menyebabkan 50% individu memberikan reaksi, digunakan sebagai
besaran bagi aktivitas (ED50) atau letailtas/kematian (LD50) dari
senyawa yang diperiksa.
2. Hubungan Dosis-Kerja
Ciri kurva dosis-kerja biasanya dijelaskan berdasarkan interaksi
antara bahan kimia dan tempat kerja sesungguhnya yaitu reseptor.
Besarnya efek tergantung pada konsentrasi/dosis zat, juga dari tetapan
kesetimbangan atau tetapan afinitas yaitu parameter yang menentukan
kecenderungan bahan kimia untuk mereaksi dengan reseptor.
Kurva dosis-kerja dapat juga ditinjau sebagai kurva dosis-reaksi
untuk suatu populasi dari suatu efektor, tiap efektor akan bereaksi
menurut hokum semua atau tak satupun (all or none). Implikasinya
adalah bahwa reaksi suatu efektor merupakan andil tertentu bagi efek
keseluruhan. Kurva dosis-kerja dnegan demikian menggambarkan
peranan setiap efek tersebut secara kumilatif. Dosis, yang menyebabkan
efektor memberi reaksi akan tersebar disekitas dosis yang menyebabkan
50% satuan efektor bereaksi. Jika 50% dari satuan efektor memberikan
reaksi maka akan timbul efek yang merupakan 50% efek maksimum
yang mungkin dapat dicapai oleh senyawa tersebut.
Pada kurva dosis-kerja, dapat dibedakan dua parameter:
a. Afiditas
b. Aktivitas instrinsik

Pada prinsipnya sebuah zat harus mempunyai afinitas terhadap


reseptor khas agar dapat menimbulkan efek tertentu. Afinitas dapat
ditentukan dari dosis yang dibutuhkan untuk mencapai efek teretntu
misalnya 50% efek maksimum kalau dosis tinggi, berarti afinitas rendah,
kalau dosis kecil, berarti afinitas besar.
Disamping afinitas, suatu zat dapat mempunyai kemampuan
untuk menyebabkan perubahan didalam molekul reseptor dan melalui
beberapa tingkat reaksi berikutnya baru kemudian dicapai efek
sesungguhnya. Sifat ini disebut aktivitas instrinsic senyawa
12

bersangkutan. Hal ini menentukan besarnya efek maksimum yang dapat


dicapai oleh senyawa tersebut.
Banyak bahan kimia memiliki afinitas terhadap reseptor khas
akan tetapi tidak mempunyai aktifitas instrinsic. Zat ini disebut antagonis
kompettif, dapat bereaksi dengan reseptor akan tetapi tidak menimbulkan
efek. Tetapi senyawa ini mampu bersama pada tempat kerja dnegan zat
yang memounyai baik afinitas maupun aktifitas instrinsic.

3. Hubungan Waktu-Kerja
Jika eksposisi suatu zat hanya terjadi satu kali, seperti pada
keracunan akut, mula-mula efek akan naik tergantung pada laju absorpsi
dan kemudian efek akan turun tergantung pada laju eliminasi. Dibawah
konsentrasi plasma tertentu disebut konsentrasi sub-efektif atau
subtoksik, sedangkan mulai dari konsentrasi tersebut dinamakan
konsentrasi efektif/toksik.
Dengan demikian pada prinsipnya ada tiga cara untuk mencegah
atau menekan efek toksik, yaitu:
a. Memperkecil absorpsi atau laju absorpsi, sehingga konsentrasi
plasma tetap berada dibawah daerah toksik. Hal ini dapat dicapai
dengan penggunaan adsordensia, misalnya karbok aktif, dengan
pembilasan lambung atau dengan mempercepat pengosongan
lambung-usus dengan laksansia jarang. Hal ini akan mengubah
fase eksposisi.
b. Meningkatkan eliminasi zat toksik dan / atau pembentukan suatu
kompleks yang tak aktif. Eliminasi dapat ditingkatkan dengan
mengubah pH urin, misalnya dengan pembahasan urin dan
biuresis paksa pada keracunan barbiturate, sedangkan
pembentukan khelat dipakai untuk inaktivasi ion logam yang
toksik. Hal ini akan mengubah fase toksokinetik.
c. Memperkecil kepekaan objek biologi terhadap efek. Dalam hal ini
konsentrasi plasma tak dipengaruhi akan tetapi batas tritis
konsentrasi toksik minimum ditinggikan. Hamper semua bentuk
13

penanganan keracunan secara simptomatik berdasarkan prinsip


ini.

E. Konsep Statistika dan LD50

1. Pengertian Lethal Dose50


Salah satu cara untuk memudahkan memahami pengertian
hubungan dosis respon adaah menggunakan LD50. Istilah LD50 pertama
kali diperkenalkan sebagai indeks oleh Trevan pada tahun 1927. Dimana
pengertian LD50 secara statistika merupakan dosis tunggal derivat suatu
bahan tertentu pada uji toksisitas yang pada kondisi tertentu dapat
menyebabkan kematian 50% dari populasi uji (hewan percobaan).
Sebagai contoh ditemukan suatu senyawa kimia baru dan untuk
mengetahui efek toksiknya digunakan LD50. Jumlah hewan percobaan
paling sedikit 10 ekor untuk tiap dosis dengan rentang dosis yang masuk
paling sedikit 3 (dari 0-100 satuan). Hubungan dosis dan respon
dituangkan dalam bentuk kurva dimana kuranya sudah tipikal sigmoid.
Semakin banyak jumlah hewan uji dan rentang dosisnya, kurva sigmoid
akan lebih teramati.
Dosis terendah yang menyebabkan kematian hewan uji sebesar
1%. Kurva sigmoid distribusi normal seperti ini menunjukkan respon 0%
pada dosis yang rendah dan respon sebesar 100% pada dosis yang
meningkat tetapi respon tersebut tidak akan melebihi rentang 0-100%.
Bagaimana juga setiap bahan kimia mempunyai threshold dose yang
tidak sama. Threshold dose adalah dosis minimal yang merupakan dosis
efektif dimana dengan dosis yang minimal tersebut individu sudah dapat
memberikan atau menunjukkan responnya, sehingga untuk tiap individu
threshold dose inipun berbeda.
2. Lethal Dose50 (LD50)
Suatu dosis efektif untuk 50% hewan digunakan karena arah
kisaran nilai pada titik tersebut paling menyempit dibanding dengan titik-
titik ektrim dari kurva dosis-respon. Pada kurva normal sebanyak 68%
dari populasi berada dalam plus-minus nilai 50%.
3. Lethal Concentration50 (LC50)
14

Suatu variasi dari LD50 adalah LC50 yaitu konsentrasi bahan


yang menyebabkan kematian 50% organisme yang terpapar. Parameter
ini sering digunakan jika suatu organisme dipaparkan terhadap
konsentrasi bahan tertentu dalam air atau udarah yang dosisnya tidak
diketahui. Dalam hal ini waktu pemaparan dan konsentrasi harus
dinyatakan dengan jelas.

4. Aplikasi Hubungan Dosis-Respon


TD (Toxic Dose) adalah dosis tertentu yang sudah dapat
menyebabkan kerusakan jaringan tubuh. ED (Effectie Dose) adalah dosis
tertentu yang memiliki efek yang ringan namun efektif terhadap jaringan
tubuh. Nilai LD50 tidaklah ekuivalen dengan toksisitas tetapi nilai ini
dapat diinterprestasikan kedalam nilai TD dan ED.
Toxic Dose adalah merupakan dosis dari suatu bahan yang
dipaparkan pada suatu populasi dan pada tingkat dosis tertentu sudah
dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan tubuh hewan percobaan.
Effective Dose (ED) adalah merupakan dosis dari suatu bahan dan pada
tingkat dosis tersebut sudah dapat menimbulkan efek biologis yang
ringan untuk pertama kalinya pada hewan percobaan.
Aplikasi lebih lanjut dari TD dan ED adalah untuk menentukan
therapeutic index yaitu tingkat keamanan suatu obat/bahan yang
diekpresikan melalui perbandingan antara LD50 dengan ED50. Selain itu
aplikasi dari LD dan ED adalah untuk menentukan margin of safety (MS)
yaitu rasio antara LD1 dengan ED99.

F. Dosis Dan Respon Letal dan Sub Letal

Toksisitas akut didefinisikan sebagai kejadian keracunan akibat


pemaparan bahan toksik dalam waktu singkat, yang biasanya dihitung
menggunakan nilai LC50 atau LD50. Nilai ini didapatkan melalui proses
statistik dan berfungsi mengukur angka relatif toksisitas akut bahan kimia.
1. Prinsip Dosis-Respon Dalam Lingkungan
Dalam praktik sangat sulit untuk mengkuantifikasi dosis dan
menentukan kapan saat berhubungan dengan spesies bukan manusia,
15

bahkan tidak mudah untuk menjelaskan efek suatu zat toksik terhadap
suatu makhluk hidup. Jika zat toksik terlepas dalam lingkungan, sulit
untuk dipastikan apakah hal tersebut telah mempengaruhi spesies
tertentu.
Banyak proses lingkungan yang beraksi mengubah zat kimia
menjadi senyawa lainnya. Senyawa tersebut kemudian berperan menjadi
zat kimia yang sebenarnya mempengaruhi lingkungan atau organisme.
Hubungan dosis-respon sangat penting dalam terjadinya keracunan.
Kerusakan pada bagian organisme dapat dikontrol dengan cara
diabsorpsinya toksikan oleh mikroorganisme, degradasi, dan eliminasi
toksikan. Semua organisme yang berada disekitar bahan kimia alami
maupun buatan akan mengalami keracunan apabila terpapar secara
berlebihan. Adalah penting mengetahui posisi bahan kimia diudara, air
dan tanah.
2. Nilai ambang batas (NAB) Bahan Toksik
Penetapan secara akurat nilai ambang batas dengan tanpa
memberikan suatu efek, tergantung pada beberapa faktor :
a. Ukuran sampel dan replikasi (pengulangan) pengambilan sampel
b. Jumlah endpoint (titik akhir) yang diamati
c. Jumlah dosis atau konsentrasi bahan toksik
d. Kemampuan untuk mengukur endpoint
e. Keragaman intrinsic dari endpoint dalam populasi binatang
percobaan
f. Metode statistic yang digunakan
3. Reseptor
Telah lama diamati bahwa sejumlah racun menimbulkan efek
biologis yang khas. Konsep zat reseptor sebagai tempat kerja zat kimia,
pertama kali dikemukakan oleh john N. Langley. Dia mengamati bahwa
efek nikotin dan kurare pada otot rangka tidak berubah setelah saraf yang
mengurus otot tersebut mengalami degenerasi, hal ini menunjukkan tidak
terlibatnya ujung saraf seperti yang diyakini sebelumnya. Selain itu,
kontraksi otot yang diinduksi oleh rangsangan langsung tidak
dipengaruhi oleh zat kimia tersebut. Berdasarkan penelitian ini,
disimpulkan bahwa racun tidak berpengaruh pada protein kontraktil
16

dalam otot, melaikan pada zat-zat lain diotot yang dapat disebut zat
reseptor.
Reseptor berfungsi sebagai tempat system biologi yang dapat
mengenali berbagai zat yang mempunyai sifat kimia khusus dan setelah
berikatana dengan senyawa tertentu, memulai efek biologi tertentu.
Konsep reseptor sangat berguna dalam meningkatkan pengertian
mengenai efek biokimia, fisiologi, dan farmakologi tertentu, serta
berguna untuk pembuatan obat baru.
Ada banyak contoh efek toksik zat kimia yang bekerja melalui
perantaraan reseptor yang berperan dalam fungsi fisiologi. Jadi, suatu
agonis dapat menyebabkan efek toksik karena sulit terlepas dari reseptor,
dan dengan demikian menghalangi kerja pembawa pesan. Suatu
antagonis dapat bersaing dengan pembawa pesan dalam menduduki
tempat pada reseptor sehingga menghalangi kerja pembawa pesan ini.
Selain itu, suatu toksikan dapat menyebabkan toleransi terhadap
toksisitasnya dengan mengurangi jumlah reseptor.

BAB III
PENUTUP
17

A. Simpulan
1. Toksikometrik merupakan istilah teknis untuk studi dosis-respon, yang
dimaksudkan untuk mengkuantifikasi dosis-respon sebagai dasar ilmu
toksikologi. Hasil akhir yang dihasilkan dari jenis studi ini adalah nilai
Lethal Dose50 (LD50) untuk zat kimia.
2. Ada 3 jalur utama bahan toksisk masuk kedalam tubuh manusia yaitu
melalui saluran pencernaan atau makanan (gastro intestinal), jalur
pernafasan (inhalasi) dan melalui kulit (topical).
3. Salah satu penentu utama toksisitas adalah jumlah zat kimia yang
dipaparkan ke organisme. Bila kita mengevaluasi hubungan dosis-respon,
maka perlu dipertimbangkan :
a. Rute pemberian atau pemaparan oral, intramuskuler,
intraperitoneal, topical, intravena ataupun inhalasi bila zat tersebut
berupa uap atau gas.
b. Jumlah dosis, frekwensi dan total periode waktu terjadinya
pemaparan.
4. Aplikasi lebih lanjut dari TD dan ED adalah untuk menentukan
therapeutic index yaitu tingkat keamanan suatu obat/bahan yang
diekpresikan melalui perbandingan antara LD50 dengan ED50. Selain itu
aplikasi dari LD dan ED adalah untuk menentukan margin of safety (MS)
yaitu rasio antara LD1 dengan ED99.
5. Reseptor berfungsi sebagai tempat system biologi yang dapat mengenali
berbagai zat yang mempunyai sifat kimia khusus dan setelah berikatana
dengan senyawa tertentu, memulai efek biologi tertentu. Konsep reseptor
sangat berguna dalam meningkatkan pengertian mengenai efek biokimia,
fisiologi, dan farmakologi tertentu, serta berguna untuk pembuatan obat
baru

15
18

DAFTAR PUSTAKA

Des W. Connel & Gregory J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi


Pencemaran. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
E.J. Ariens, E. Mutschler & A.M. Simonis. 1987. Toksikologi Umum, Pengantar.
Terjemahan oleh Yoke R.Wattimena dkk. Yogyakarta: Gadjah Mada
university Press.
H.J.Mukono. 2005. Toksikologi Lingkungan. Surabaya: Airlangga University
Press.
J.H. Koeman. 1987. Pengantar Umum Toksikologi. Terjemahan oleh R.H.Yudono.
Yogyakarta: Gadjah Mada Universitry Press
Suryani. 2013. Toksikologi Lingkungan. Pekanbaru : Noska Publishing
Wartiningsih K. Nopriadi. 2012. Toksikologi Industri. Pekanbaru: Noska
Publising