Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL SOSIALISASI PANGAN LOKAL

INDONESIA SEHAT DENGAN ONGOL ONGOL

MATA KULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN LOKAL

Oleh :
THP-A/ Kelompok 7
Yuzy Dwi Astutik 151710101031
Titin Nur Fitriya 151710101037
Nany Masrurotin 151710101076
Nur Intan Aulia 151710101082
Dimitri Prahesti 151710101100

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Persoalan pangan dewasa ini dipicu oleh melejitnya harga-harga
pangan dunia secara tajam. Fenomena global ini tak terelakkan akibat
beberapa faktor penyebab. Yang pasti, meroketnya harga minyak dunia
menyebabkan biaya produksi semua produk, termasuk komoditas pertanian
melonjak. Berikutnya, pesatnya perekonomian Negara lain juga berdampak
pada meningkatnya permintaan produk, baik untuk konsumsi maupun
industri. Trend dunia yang mulai mengkonversi hasil-hasil pertanian
menjadi biofuel (energi asal nabati), sebagai energi alternatif pengganti
bahan bakar fosil, membuat banyak pihak berlomba-lomba mengembangkan
biofuel. Akibatnya, terjadi perebutan peruntukan produk pertanian yang
banyak diistilahkan dengan 3F (food, feed, or fuel), dan bahaya yang lebih
merisaukan bakal mengancam, yaitu kelangkaan pangan dan kelaparan.
Berbagai fenomena tersebut hendaknya menjadi fokus perhatian di masa
mendatang. Persoalan pangan harus segera diatasi. Ketahanan pangan
bangsa harus diwujudkan, karena ketahanan pangan nasional merupakan
pilar bagi pembentukan sumberdaya manusia dan generasi yang berkualitas,
yang diperlukan untuk membangun bangsa ini.
Program diversifikasi tanaman pangan atau penganekaragaman jenis
tanaman pangan sebenarnya pula harus berorientasi pada strategi
pemberdayaan tanaman lokal (Rachman dan Ariani, 2008). Karakteristik
lahan yang bervariasi di Indonesia mempengaruhi pola konsumsi atas jenis
tanaman pangan atau pola kebiasaan untuk mencukupi kebutuhan akan
kalori. Jenis tanaman padi misalnya, hanya dapat efektif dikembangkan di
Pulau Jawa dan beberapa wilayah di Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi. Ini
kemudian bukan berarti apabila di daerah tersebut tidak memungkinkan
untuk dilakukan diversifikasi tanaman pangan. Hampir sebagian besar
wilayah di Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan diversifikasi jenis
tanaman pangan (Husodo, 2004).
Perlu adanya kesadaraan dari masyarakat akan pentingnya
mempertahankan pangan lokal dan pemanfaatan sumber daya alam lokal
yang ada dengan melaksanakan diversifikasi pangan. Upaya untuk
mengenalkan kembali pangan lokal yang ada di Indonesia sangat penting
dilakukan karena mengkonsumsi pangan lokal yang sudah tersedia di
Indonesia, maka akan menurunkan angka ketergantungan impor beras yang
semakin meningkat. Sehingga, ketahanan pangan di Indonesia dapat
terwujud.

1.Tujuan
Adapun tujuan dilaksanakannya sosialisasi pangan lokal, sebagai berikut:
1. Menanamkan dan mengembangkan pengetahuan tentang penganekaragaman
konsumsi pangan dan gizi
2. Melakukan sosialisasi (memperkenalkan) produk pangan lokal
3. Melakukan sosialisasi terkait diversifikasi pangan lokal sehingga masyarakat tidak
tergantung pada satu jenis pangan pokok saja
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pangan
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber daya hayati dan air, baik yang
diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi
manusia. Termasuk di dalam pengertian pangan adalah bahan tambahan pangan, bahan baku
pangan, dan bahan-bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau
pembuatan makanan dan minuman. Pengertian pangan di atas merupakan definisi pangan yang
dikeluarkan oleh badan dunia untuk urusan pangan, yaitu Food and Agricultural Organization
(FAO).
Berkaitan dengan kebijakan ketahanan pangan, pengerti pangan dikelompokkan
berdasarkan pemrosesannya, yaitu:
1) Bahan makanan yang diolah, yaitu bahan makanan yang dibutuhkan proses pengolahan lebih
lanjut, sebelum akhirnya siap untuk dikonsumsi. Pemrosesan di sini berupa proses pengubahan
bahan dasar menjadi bahan jadi atau bahan setengah jadi untuk tujuan tertentu dengan
menggunakan
teknik tertentu pula. Contoh bahan makanan olahan adalah nasi, pembuatan sagu, pengolahan
gandum, pengolahan singkong, pengolahan jagung, dan lain sebagainya.
2) Bahan makanan yang tidak diolah, yaitu bahan makanan yang langsung untuk dikonsumsi
atau tidak membutuhkan proses pengolahan lebih lanjut. Jenis makanan ini sering dijumpai
untuk kelompok buah-buahan dan beberapa jenis sayuran.
Bahan baku pangan secara umum dapat dikatakan untuk diolah lebih lanjut ataupun dapat
langsung dikonsumsi (tanpa diolah). Dalam proses pengolahan ini juga dibutuhkan bahan
tambahan, berupa bumbu masak, bahan-bahan penyedap, dan bahan-bahan lainnya yang
berfungsi untuk pelengkap penyajian makanan. Pengertian pangan yang dimaksudkan dalam
penelitian ini atau sesuai dengan konteks ketahanan pangan nasional difokuskan pada jenis
pangan yang mendominasi kandungan karbohidrat. Jenis makanan atau pangan yang
dimaksudkan terdiri atas beras, jagung, ketela, singkong, jenis ubi-ubian, dan jenis ketela.
2.2. Pengertian Diversifikasi Pangan
Diversifikasi atau penganekaragaman adalah suatu cara untuk mengadakan lebih dari satu jenis
barang/komoditi yang dikonsumsi. Di bidang pangan, diversifikasi memiliki dua makna, yaitu
diversifikasi tanaman pangan dan diversifikasi konsumsi pangan. Kedua bentuk diversifikasi
tersebut masih berkaitan dengan upaya untuk mencapai ketahanan pangan. Apabila diversifikasi
tanaman pangan berkaitan dengan teknis pengaturan pola bercocok tanam, maka diversifikasi
konsumsi pangan akan mengatur atau mengelola pola konsumsi masyarakat dalam rangka
mencukupi kebutuhan pangan.
Menurut Riyadi (2003), diversifikasi pangan merupakan suatu proses pemilihan pangan
yang tidak hanya tergantung pada satu jenis pangan, akan tetapi memiliki beragam pilihan
(alternatif) terhadap berbagai bahan pangan. Pertimbangan rumah tangga untuk memilih bahan
makanan pokok keluarga di dasarkan pada aspek produksi, aspek pengolahan, dan aspek
konsumsi pangan. Penganekaragaman pangan ditujukan tidak hanya untuk mengurangi
ketergantungan akan jenis pangan tertentu, akan tetapi dimaksudkan pula untuk mencapai
keberagaman komposisi gizi sehingga mampu menjamin peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Konsep diversifikasi pangan bukan suatu hal baru dalam peristilahan kebijakan
pembangunan pertanian di Indonesia karena konsep tersebut telah banyak dirumuskan dan
diinterprestasikan oleh para pakar. Kasryno, et al (1993) memandang diversifikasi pangan
sebagai upaya yang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia,
pembangunan pertanian di bidang pangan dan perbaikan gizi masyarakat, yang mencakup aspek
produksi, konsumsi, pemasaran, dan distribusi. Pakpahan dan Suhartini (1989) menyebutkan
bahwa pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling
berkaitan, yaitu diversifikasi konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan
diversifikasi produksi pangan. Kedua penulis tersebut menterjemahkan konsep diversifikasi
dalam arti luas, tidak hanya aspek konsumsi pangan tetapi juga aspek produksi pangan.
Pakpahan dan Suhartini (1989) menetapkan konsep diversifikasi hanya terbatas pangan pokok,
sehingga diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang
dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non-beras.
2.3 Ketahanan Pangan
Definisi ketahanan pangan sangat bervariasi, namun umumnya mengacu definisi dari
Bank Dunia (1986) dan Maxwell dan Frankenberger (1992) yakni akses semua orang setiap saat
pada pangan yang cukup untuk hidup sehat (secure access at all times to sufficient food for a
healthy life).
Menurut Undang-Undang Pangan No.7 Tahun 1996: kondisi terpenuhinya kebutuhan
pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari
jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
Berdasarkan definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan pangan memiliki
5 unsur yang harus dipenuhi :
1. Berorientasi pada rumah tangga dan individu
2. Dimensi waktu setiap saat pangan tersedia dan dapat diakses
3. Menekankan pada akses pangan rumah tangga dan individu, baik fisik, ekonomi dan
sosial
4. Berorientasi pada pemenuhan gizi
5. Ditujukan untuk hidup sehat dan produktif
Secara umum, ketahanan pangan mencakup 4 aspek, yaitu Kecukupan (sufficiency), akses
(access), keterjaminan (security), dan waktu (time) (Baliwaty , 2004). Dengan adanya aspek tersebut
maka ketahanan pangan dipandang menjadi suatu sistem, yang merupakan rangkaian dari tiga
komponen utama yaitu ketersediaan dan stabilitas pangan (food availability dan stability),
kemudahan memperoleh pangan (food accessibility) dan pemanfaatan pangan.
Terwujudnya ketahanan pangan merupakan hasil kerja dari suatu sistem yang terdiri dari berbagai
subsistem yang saling berinteraksi, yaitu subsistem ketersediaan mencakup pengaturan kestabilan
dan kesinambungan penyediaan pangan. Ketersediaan pangan menyangkut masalah produksi, stok,
impor dan ekspor, yang harus dikelola sedemikian rupa, sehingga walaupun produksi pangan
sebagaian bersifat musiman, terbatas dan tersebar antar wilayah, pangan yang tersedia bagi keluarga
harus cukup volume dan jenisnya, serta stabil dari waktu kewaktu.
Sementara itu subsistem distribusi mencakup upaya memperlancar proses peredaran pangan antar
wilayah dan antar waktu serta stabilitas harga pangan. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan daya
akses masyarakat terhadap pangan yang cukup. Surplus pangan tingkat wilayah, belum menjamin
kecukupan pangan bagi individu/masyarakatnya.
Sedangkan subsistem konsumsi menyangkut pendidikan masyarakat agar mempunyai
pengetahuan gizi dan kesehatan yang baik, sehingga dapat mengelola konsumsi individu secara
optimal sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Konsumsi pangan tanpa memperhatikan asupan zat gizi
yang cukup dan berimbang tidak efektif bagi pembentukan manusia yang sehat, daya tahan tubuh
yang baik, cerdas dan produktif (Thaha, dkk, 2000). Apabila ketiga subsistem diatas tidak tercapai,
maka ketahanan pangan tidak mungkin terbangun dan akibatnya menimbulkan kerawanan pangan
(Suryana, 2003).
2.4 Botani dan Morfologi Sagu
Sagu termasuk tumbuhan monokotil dari keluarga (famili) Palmae, Marga (genus)
Metroxylon dari ordo Spadiciflorae. Di kawasan Indo Pasifik terdapat lima marga Palma yang
zat tepungnya telah dimanfaatkan, yaitu Metroxylon, Arenga, Corypha, Euqeissona, dan Caryota.
Pohon Arenga pinnata dikenal dengan sagu aren, kandungan seratnya sangat besar dan hampir
seluruh batangnya diliputi serat kasar. Borassus caryota dikenal dengan pohon lontar, cairannya
dapat dibuat minuman beralkohol, buahnya disebut silawan dan batangnya dijadikan kayu.
Palma sagu (Metroxylon sp.) dalam botani sagu digolongkan menjadi dua, yaitu palma sagu
yang berbunga dua kali atau lebih (pleonanthic) dan palma sagu yang berbunga hanya sekali
(hapaxanthic). Pohon sagu yang berbunga hanya satu kali selama hidupnya mempunyai
kandungan pati yang tinggi. Golongan ini terdiri dari Metroxylon longispinum Mart, Metroxylon
microcanthum Mart, Metroxylon rumphii Mart, Metroxylon sagu Rott, dan Metroxylon sylvester
Malt. Pohon sagu yang berbunga lebih dari satu kali selama hidupnya mempunyai kandungan
karbohidrat yang rendah, sehingga kurang disukai. Jenis sagu yang termasuk golongan ini adalah
Metroxylon filare dan Metroxylon elantum.
Palma sagu tumbuh membentuk rumpun di daerah dan rawa-rawa. Tinggi pohon sagu
dapat mencapai 15 meter, tebal kulitnya sekitar 3 5 sentimeter. Pada bagian dalam batang
pohon sagu terdapat empulur yang mengandung karbohidrat. Batang sagu merupakan bagian
yang terpenting, karena merupakan tempat penyimpanan pati atau karbohidrat yang lingkup
pemanfaatannya dalam industri sangat luas, seperti industri pangan, pakan, sorbitol, dan
bermacam-macam industri kimia lainnya. Ukuran batang sagu berbeda-beda, tergantung dari
jenis, umur dan lingkungan atau habitat pertumbuhannya. Pada umur 3 11 tahun tinggi batang
bebas daun sekitar 3 16 meter bahkan dapat mencapai 20 meter. Batang sagu terdiri dari
lapisan kulit bagian luar yang keras dan bagian dalam berupa empulur yang mengandung serat-
serat dan pati. Tebal kulit luar yang keras sekitar 3 5 sentimeter. Pohon sagu yang umurnya
masih muda, kulitnya lebih tipis dibandingkan dengan sagu dewasa.
Selama pertumbuhan, sagu menyimpan pati dalam batangnya sehingga apabila bobot
batang sagu semakin bertambah sesuai dengan pertambahan tinggi diameternya, kandungan
patinya pun bertambah. Secara makroskopis, struktur batang sagu dari arah luar terdiri dari
lapisan sisa-sisa pelepah daun, lapisan kulit luar yang tipis dan berwarna kemerah-merahan,
lapisan kulit dalam yang keras dan padat berwarna coklat kehitam-hitaman, kemudian lapisan
serat dan akhirnya empulur yang mengandung pati dan serat.
Bunga sagu berbentuk rangkaian yang keluar pada ujung batang, dengan diketahuinya
adanya tanda pengecilnya daun bendera. Sagu mulai berbunga pada umur 8-15 tahun, terkantung
pada kondisi tanah, tinggi tempat dan varietas.Bunga sagu tersusun dalam manggar secara rapat,
berukuran kecil-kecil.Warnanya putih berbentuk seperti bunga kelapa jantan dan tidak
berbau.Bilamana sagu tidak segera ditebang pada saat berbunga, bunga dapat berbentuk
buah.Buahnya bulat-bulat kecil dan tersusun pada tandan mirip buah kelapa.Buahnya bersisik
dan berwarna coklat kekuningan. Sagu merupakan tanaman menahun yang hanya berbunga atau
berbuah sekali pada masa hidupnya. Setelah berbunga dan berbuah sagu akan mati (Budhi H,
1986).
2.4.1 Ciri Sagu Siap Panen dan Cara Panen
Sampai saat ini para petani sagu belum dapat menentukan dengan pasti umur sagu yang
tepat untuk dipanen dengan hasil yang optimum. Pada umumnya petani sagu kurang perhatian
terhadap pertumbuhan sagu sejak anakan sampai siap panen. Namun demikian para petani sagu
didaerah sentral sagu yang biasa menangani sagu, menggunakan kriteria atau ciri-ciri tertentu
yang dapat menandakan bahwa sagu tersebut siap panen.
Ciri-ciri pohon sagu siap panen pada umumnya dilihat dari perubahan yang terjadi pada
daun,duri,pucuk,dan batang (Soekarto dan Wijandi, 1983). Umumnya tanaman sagu siap panen
menjelang pembentukan kuncup bunga sudah muncul tetapi belum mekar. Pada saat tersebut
daun-daun terakhir yang keluar mempunyai jarak yang berbeda dengan daun sebekumnya dan
daun terakhir juga sedikit berbeda, yaitu lebih tegak dan ukuranya kecil. Perubahan lain adalah
puncak menjadi agak menggelembung.Disamping itu duri semakin berkurang dan pelepah daun
menjadi lebih bersih dan licin dibandingkan dengan pohon yang masih muda.
Pada umumnya pemanenan sagu masih dilakukan secara sederhana dan dengan tenaga
manual.Setelah dipilih pohon sagu yang ditebang, biasanya penebangan dilakukan dengan
kampak. Setelah pohon tumbang, pelepahnya dibersihkan dan sebagian ujung batang dibuang
karena kandungan patinya rendah. Pohon yang sudah dibersihkan dipotong-potong menjadi
bagian yang pendek-pendek dengan ukuran 1,5- 2 m. Gelondongan tersebut lalu dibawa ke
sumber air terdekat langsung ditokok(diekstraksi).
Untuk mendapatkan pati sagu, maka dari empulur batang sagu dilakukan ekstraksi pati
dengan bantuan air sebagai perantara. Sebelumnya empelur batang dihancurkan terlebih dahulu
dengan cara ditokok atau diparut. Ditinjau dari cara dan alat yang digunakan, cara ekstrasi pati
sagu yang dilakukan didaerah-daerah penghasil sagu di Indonesia saat ini dapat dikelompokkan
atas cara ekstraksi tradisional, ekstraksi semi mekanis, dan ekstraksi secara mekanis ( Bambang
H dan philipus P, 1992).
2.4.2 Nilai Gizi Sagu
Komponen yang paling dominan dalam pati sagu adalah pati (karbohidraat). Pati adalah
karbohidrat yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk persediaan bahan makanan. Komposisi kimia
dalam 100 gam pati sagu dapat dilihat pada table 2.1 sebagai pembanding disajikan pula pati ubi
kayu (tapioca) dan garut.
Karbohidrat merupakan polimer alami yang dihasilkan oleh tumbuhan dan sangat
dibutuhkan oleh manusia dan hewan. Karbohidrat dikenal juga dengan nama sakarida, yang
berarti gula.Karbohitrat dapat digolongkan berdasarkan jumlah sakarida yang
dikandungnya,yaitu monosakarida,oligosakarida,dan polisakarida.
Polisakarida adalah karbohidrat yang terdiri atas banyak monosakarida. Polisakarida
merupakan senyawa polimer alam dengan monosakarida sebagai monomernya.
Tabel 2.1 Komposisi Bahan Pati Sagu, Tapioka dan Pati garut setiap 100 gram
Komponen Tapioka Pati Garut Pati Sagu
Kalori (kal) 362 355 353
Protein (g) 0,5 0,7 0,7
Lemak (g) 0,3 0,2 0,2
Karbohidrat (g) 86,9 85,2 85,7
Air (g) 12,0 13,6 14,0
Fosfor (mg) - 22 13
Kalsium (mg) - 8 11
Besi (mg) - 1,5 1,5
Sumber : Direktorat Gizi, Dep kes R.I (1979)

2.4.3 Pangan tradisional dari Sagu


Tepung sagu merupakan salah satu sumber pangan potensial yang dapat dikembangkan.
Tepung sagu adalah pati yang diperoleh dari hasil pengolahan empelur pohon sagu (Metroxylon
sp.). Sagu banyak digunakan untuk bahan pangan yang lebih komersial seperti roti, biskuit, mie,
sohun, kerupuk, hunkue, bihun, dan sebagainya. Makanan tradisional yang diproduksi dari sagu
dikenal dengan nama papeda, sagu lempeng, sagu tutupala, sagu uha, sinoli, bagea, dan
sebagainya (Auliah, 2012). Selain itu tepung sagu memiliki kandungan karbohidrat sebesar
84,70%, protein 0,70% dan mineral 0,40% (Alfons dan Rivaie, 2011). Seiring dengan
perkembangan teknologi pengolahan saat ini memungkinkan adanya diversifikasi produk pangan
yang berbasis pada tepung sagu yaitu dengan memanfaatkan sagu menjadi kue ongol-ongol yang
bergizi. Kue ongol-ongol merupakan kue berbahan dasar sagu yang disukai oleh semua kalangan
masyarakat baik tua maupun muda, bahan makanan ini dapat dijadikan sebagai makanan
sampingan bagi orang tua (lanjut usia), karena kue ini memiliki tesktur yang lunak, sehingga
memudahkan para orang tua (lanjut usia) untuk memakannya. Imanuddin (1999) menyatakan
bahwa makanan berbahan sagu lebih disukai oleh orang tua.
Umumnya sagu dimakan segar dalam bentuk papeda atau sagu lempeng di Irian Jaya,
sedang di Ambon terdapat berbagai jenis pangan yang terbuat dari sagu antara lain sagu lempeng
dan buburnee. Panganan dari sagu dapat dibuat dengan memasak tepung sagu dalam bumbu atau
dalam bungkusan daun atau dibuat kue-kue. Kue-kue tersebut dibuat dari sagu basah yang dipres
berbentuk pipih, lalu dibakar di atas wajan batu atau alat-alat yang terbuat dari tanah atau logam.
Sagu yang dimasak dalam bungkusan daun disebut sagu ega sedang yang dimasak dalam
bambu disebut sagu bulu. Sagu yang dimasak dalam bambu disebut sagu tutupola. Prinsip
pembuatannya sama dengan pembuatan sagu lempeng, hanya bentuk dan ukurannya yang
berbeda.
Kue-kue yang dapat dibuat dari sagu seperti sagu gula, sagu tumbuk, bagea, kue cerutu,
sinoli, kue tali, bangket sagu, saku-saku dan sagu uha. Sagu dapat dimasak dalam bentuk bubur
yang disebut papeda. Papeda tersebut umumnya dimakan bersama colo-colo dan ikan.
Sebagian sagu dikonsumsi dalam bentuk butiran sagu atau buburnee (pearl sago) di Asia
Tenggara. Butiran sagu tersebut dibuat dari campuran tepung sagu, tepung beras (rice bran) dan
parutan kelapa. 16 Selain dibuat pangan tradisional, tepung sagu digunakan juga sebagai bahan
untuk membuat cendol dan bahan pencampur dalam pembuatan permiseli (noodle) di Jawa
Barat. Sagu lempeng merupakan kue kering yang dimakan setelah dicelup ke dalam kopi atau teh
serta dapat dibuat bubur manis. Sagu lempeng tersebut dikenal dengan nama sagu ambon di
Jawa. Tepung sagu dikenal dengan nama sagu kirai di daerah sekitar Bogor.
Kue ongol ongol adalah kue tradisional khas dari Indonesia. Kue ongol ongol termasuk
dalam golongan kue basah yang memiliki tekstur sangat lembut dan kenyal. Kue ongol ongol
merupakan kue yang terbuat dari bahan dasar tepung sagu yang dipadukan dengan gula pasir
atau gula merah. Kue basah ini sangat banyak disukai oleh semua orang karena selain rasanya
yang enak, kue ongol ongol ini memiliki harga yang sangat murah. Kue basah yang sangat unik
ini ternyata sangat mudah untuk kita buat sendiri dan anda pun dapat membuatnya dengan
mudah. Makanan ini mungkin kinin sudah jarang ditemukan padahal rasanya sangat enak dan
kenyal. Kue ongol ongol dapat disajikan sebagai teman minum kopi dan biasanya disajikan
dengan dibaluri kelapa parut sehingga memiliki rasa yang lebih enak lagi.

Bahan :

200 gr tepung sagu


250 gr gula pasir
400 ml air bersih
1 lembar daun pandan ( dicuci bersih )
kelapa parut secukupnya untuk lapisan luar
garam secukupnya
Cara Membuat Kue Ongol Ongol :
1. Campurkan tepung sagu dengan 250 ml air, aduk sampai tercampur rata
2. Rebus sisa air dengan daun pandan dan diamkan sampai mendidih sambil diaduk-aduk
3. Angkat air rebusan gula, lalu tuang kedalam adonan tepung sagu sambil diaduk rata
4. Masak diata api kecil sampai adonan kue mengental sambil diaduk-aduk
5. Tuang kedalam nampan plastik dan biarkan hingga dingin
6. Setelah kue dingin, potong-potong dengan ukuran sesuai selera
7. Campurkan kelapa parut dengan sedikit garam kemudian dikukus sebentar
8. Gulingkan potongan kue ongol ongol dengan kelapa parut yang sudah dikukus
9. Kue ongol ongol siap disajikan
BAB 3. METODE SOSIALISASI

3.1 Waktu dan Tempat Sosialisasi


Sosialisasi dilakukan di Karangtaruna Kaliwining Bersatu, Rambipuji, Jember, Jawa
Timur. Sosialisasi ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 19 Maret 2017 pukul 09.00 WIB
selesai. Sasaran dari soisalisasi ini adalah anggota Karangtaruna Kaliwining Bersatu untuk
mengenalkan pengetahuan tentang pangan lokal serta pentingnya kepedulian terhadap pangan
lokal yang ada di Indonesia.

3.2 Alat dan Bahan Sosialisasi


3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam sosialisasi ini adalah poster, alat tulis, sound, dan sound
speaker.
3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam sosialisasi adalah kue ongol-ongol, air minum, dan
kuesioner.

3.3. Metode Sosialisasi


Metode yang digunakan dalam sosialisasi pangan lokal ini dengan cara penyampaian
materi, tanya jawab, pembagian produk, dan pengisisn kuesioner.
3.3.1 Penyampaian Materi
Penyampaian materi dalam sosialisasi ini meliputi penjelesan tentang pangan, pengenalan
terhadap pangan lokal, macam-macam pangan lokal, serta memberikan penjelesan mengenai
pengolahan salah satu pangan lokal.
3.3.2 Tanya Jawab
Tanya jawab dilakukan dengan mekanisme penyaji memberikan kesempatan kepada
audiens untuk bertanya tentang materi yang telah disampaikan oleh penyaji dan kemudian
penyaji menjawab pertanyaan yang telah diajukan oleh audiens.

3.3.3 Pembagian Produk


Produk yang dibagikan dalam sosialisasi ini adalah kue ongol-ongol yang merupakan
pangan lokal Indonesia.
3.3.4 Pengisian Kuesioner
Pengisian keusioner dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada audiens
terlebih dahulu, kemudian audiens mengisi nama serta menjawab pertanyaan yang diajukan
dalam kuesioner mengenai seberapa jauh pengetahuan audiens mengenai pangan lokal. Pengisian
kuesioner ini diharapkan dapat membantu penyaji untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan
audiens dan reaksi audiens mengenai sosialisasi tentang pangan lokal.