Anda di halaman 1dari 23

ABLASIO RETINA

I. Pendahuluan
Ablasio retina adalah suatu kelainan pada mata yang disebabkan oleh
karena terpisahnya lapisan neuroretina dari lapisan epitel pigmen retina akibat
adanya cairan di dalam rongga subretina atau akibat adanya suatu tarikan pada
retina oleh jaringan ikat atau membran vitreoretina. Terdapat tiga tipe utama
ablasio retina, yakni ablasio regmatogen, ablasio traksi, dan ablasio eksudatif.
Jenis ablasio yang paling sering terjadi dari ketiga tipe tersebut adalah ablasio
regmatogen. Juga merupakan salah satu kasus emergensi oftalmologi karena dapat
menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani dengan segera.1,2
Pada dasarnya ablasio retina adalah suatu kelainan mata bilateral, sehingga
harus diperiksa dan ditangani kedua mata. Biasanya ablasio retina ini adalah suatu
kelainan yang berhubungan dengan meningkatnya usia dan miopia tinggi, di mana
akan terjadi perubahan degeneratif pada retina dan vitreus. Diperkirakan
prevalansi retina adalah 1 kasus dalam 10.000 populasi. Prevalansi meningkat
pada beberapa keadaan seperti miop tinggi, afakia/pseudofakia dan trauma. Pada
penderita-penderita ablasio retina ditemukan adanya miopia sebesar 55%,
degenerasi Lattice 20-30%, trauma 10-20% dan afakia/pseudofakia 30-40%.2
Pada janin 1 bulan akan terbentuk optik vesikel secara bilateral, yang
kemudian akan melipat ke dalam membentuk optic cup, rongga vesikel ini
berhubungan dengan ventrikel otak. Optic cup ini akan mengalami invaginasi
lebih lanjut dan meninggalkan rongga potensial di antara lapisan neuroretina dan
lapisan epitel pigmen retina yang merupakan tempat terjadinya ablasio retina pada
dewasa.2

II. Anatomi dan Fisiologi Bola Mata dan Retina


Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di
bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga
terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh
tiga jaringan yaitu sklera, jaringan uvea, dan lapisan ketiga bola mata adalah
retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis
yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi
ransangan pada saraf optic dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang potensial
antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang disebut
ablasi retina.3

Gambar 1. Anatomi bola mata4


Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung
reseptor yang menerima rangsang cahaya. Retina merupakan selembar tipis
jaringan saraf yang semitransparan, dan multilapis yang melapisi bagian dalam
dua per tiga posterior dinding bola mata. Retina membentang ke depan hampir
sama jauhnya dengan korpus siliaris, dan akhirnya di tepi ora serrata. Pada orang
dewasa, ora serrata berada sekitar 6,5 mm di belakang garis Schwalbe pada sistem
temporal dan 5,7 mm di belakang garis ini pada sisi nasal. Permukaan luar retina
sensorik bertumpuk dengan membrana Bruch, koroid, dan sklera. Retina
menpunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan 0,23 mm pada kutub posterior.
Ditengah-tengah retina posterior terdapat makula. Di tengah makula terdapat
fovea yang secara klinis merupakan cekungan yang memberikan pantulan khusus
bila dilihat dengan oftalmoskop. Retina berbatas dengan koroid dengan sel epitel
pigmen retina dan terdiri atas lapisan:3,4
1. Lapisan epitel pigmen
2. Lapisan fotoreseptor merupakan lesi terluar retina terdiri atas sel batang
yang mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucut.
3. Membran limitan eksterna yang merupakan membrane ilusi.
4. Lapisan nucleus luar, merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan
batang.
5. Lapisan pleksiform luar merupakan lapis aselular dan merupakan tempat
sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.
6. Lapis nucleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel
Muller.
7. Lapisan pleksiform dalam, merupakan lapis aselular merupakan tempat
sinaps sel bipolar, sel amakrin dengan sel ganglion.
8. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua,
9. Lapis serabut saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju kearah
saraf optik.
10. Membran limitan interna, merupakan membrane hialin antara retina dan
badan kecil.
Retina mendapatkan suplai darah dari dua sumber yaitu koriokapiler yang
berada tepat di luar membrana Bruch, yang mensuplai sepertiga luar retina,
termasuk lapisan pleksiformis luar dan lapisan inti luar, fotoreseptor, dan lapisan
epitel pigmen retina, serta cabang-cabang dari arteri retina sentralis yang
mensuplai dua per tiga sebelah dalam.3,4

Gambar 2 : Lapisan pada retina4


Mata berfungsi sebagai suatu alat optis, sebagai suatu reseptor kompleks,
dan sebagai suatu transduser yang efektif. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan
fotoreseptor mampu mengubah rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf
yang dihantarkan oleh lapisan serat saraf retina melalui saraf optikus dan akhirnya
ke korteks penglihatan ossipital. Makula bertanggung jawab untuk ketajaman
penglihatan yang terbaik dan untuk penglihatan warna, dan sebagian besar selnya
adalah sel kerucut. Di fovea sentralis, terdapat hubungan hampir 1:1 antara
fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya, dan serat saraf yang keluar, dan hal ini
menjamin penglihatan yang paling tajam. Di retina perifer, banyak fotoreseptor
dihubungkan ke sel ganglion yang sama, dan diperlukan sistem pemancar yang
lebih kompleks. Akibat dari susunan seperti itu adalah bahwa makula terutama
digunakan untuk penglihatan sentral dan warna (penglihatan fototopik) sedangkan
bagian retina lainnya, yang sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang,
digunakan terutama untuk penglihatan perifer dan malam (skotopik).3,4

III. Definisi
Ablasio retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang
retina dengan sel epitel retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat
erat dengan membran Brunch. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang
retina tidak terdapat suatu perlekatan structural dengan koroid atau pigmen epitel,
sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk lepas secara embriologis.3
Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang koroid atau sel pigmen epitel
akan mengakibatkan gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila
berlangsung lama akan mengakibatkan gangguan fungsi yang menetap. Ada tiga
klasifikasi ablasio retina yaitu ablasi retina regmatogenosa, ablasi retina eksudatif,
ablasi retina traksi (tarikan).4

IV. Etiologi dan Faktor Resiko


Etiologi yang terkait dengan ablasio retina adalah miopia, katarak removal,
dan trauma. Sekitar 40 - 50 % dari semua pasien dengan ablasio retina memiliki
miopia. Ablasio retina yang berhubungan dengan miopia cenderung terjadi pada
pasien berusia 25 - 45 tahun, sementara non-miopia cenderung terjadi pada orang
tua. Pasien dengan miopia tinggi ( > 6 D ), lebih sering terjadi pada laki-laki
daripada perempuan, memiliki resiko seumur hidup 5 % dari ablasio retina.
Ablasio retina terjadi kira-kira 5-16 per 1000 kasus diikuti oleh penyebab operasi
katarak, dan ini terdiri dari sekitar 30 - 40 % dari semua ablasio retina yang
dilaporkan. Faktor-faktor resiko yang terkait dengan ablasio retina dalam katarak
removal yang tidak disengajakan (accidental) adalah posterior kapsul pecah pada
saat operasi, usia muda, panjang aksial meningkat, ruang bilik mata depan yang
dmkmmalam, dan jenis kelamin laki-laki. Kira-kira 10 - 20% dari ablasio retina
dikaitkan dengan trauma mata langsung.5
Ablasio retina yang diakibatkan oleh trauma lebih sering terjadi pada
orang yang lebih muda. Meskipun tidak ada penelitian telah memperkirakan
kejadian ablasio retina dalam olahraga, olahraga tertentu (misalnya, tinju dan
bungee jumping) berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya ablasio
retina. Ada juga beberapa laporan bahwa Laser capsulotomy dikaitkan dengan
peningkatan resiko ablasio retina. Di Amerika Serikat, kelainan struktural, operasi
sebelumnya, trauma dan uveitis adalah faktor resiko utama untuk ablasio retina.
Miopia yang tinggi, trauma, kelainan struktural dan operasi sebelumnya adalah
faktor resiko utama di Asia.5

V. Klasifikasi
1. Ablasi retina regmatogenosa
Pada ablasi retina regmatogenosa dimana ablasi terjadi akibat adanya
robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel
dengan retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreous)
yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga
mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid.3
Ablasi ini terjadi pada mata yang mempunyai faktor predisposisi untuk
terjadi ablasi retina. Trauma hanya merupakan faktor pencetus untuk terjadinya
ablasi retina pada mata yang berpotensi. Mata yang berpotensi untuk terjadinya
ablasi retina adalah mata dengan miopia tinggi, pasca retinitis, dan retina yang
memperlihatkan degenerasi di bagian perifer, 50% ablasi yang timbul pada afakia
terjadi pada tahun pertama.3
Antara gejala yang timbul adalah terdapatnya gangguan penglihatan yang
kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutup. Terdapatnya riwayat adanya
pijaran api (fotopsia) pada lapangan penglihatan. Ablasi retina yang berlokalisasi
di daerah superotemporal sangat berbahaya karenan dapat mengangkat makula.
Penglihatan akan turun secara akut pada ablasi retina bila dilepasnya retina
mengenai makula lutea.3
Pada pemeriksaan fundoskopi akan terlihat retina yang terangkat berwarna
pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya robekan retina
berwarna merah. Bila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas (ablasi)
bergoyang. Kadang-kadang terdapat pigmen di dalam badan kaca. Pada pupil
terlihat adaya defek aferen pupil akibat penglihatan menurun. Tekanan bola mata
rendah dan dapat meninggi bila terjadi neovaskular glaucoma pada ablasi retina
adalah pembedahan. Sebelum pembedahan, pasien dirawat dengan mata ditutup.
Pembedahan dilakukan secepat mungkin dan sebaiknya antara 1-2 hari.3
Pengobatan ditujukan untuk melekatkan kembali bagian retina yang lepas
dengan diatermi dan laser. Diatermi ini dapat berupa Diatermi permukaan (surface
diathermy) atau diatermi setengah tebal sklera (partial penetrating diatermy)
sesudah reseksi sklera. Hal ini dapat dilakukan dengan atau tanpa mengeluarkan
cairan subretina. Pengeluaran dilakukan di luar daerah reseksi dan terutama di
daerah di mana ablasi paling tinggi. Implan diletakkan di dalam kantong sklera
yang sudah direseksi yang akan mendekatkan sklera dengan retina dan
mengakibatkan pengikatan yang terlokalisir. Sabuk (band) yang melingkar pada
bola mata merupakan tindakan yang mulai popular karena memperbaiki prognosis
dan mobilisasi yang cepat.3
2. Ablasi retina eksudatif
Ablasi retina eksudatif adalah ablasi retina yang terjadi akibat
tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan cairan
subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid
(ekstra vasasi). Hal ini disebabkan penyakit koroid. Kelainan ini dapat terjadi pada
skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, radang uvea, idiopati, toksemia
gravidarum. Cairan di bawah retina tidak dipengaruhi oleh posisi kepala.
Permukaan retina yang terangkat terlihat cincin. Penglihatan dapat berkurang dari
ringan sampai berat. Ablasi ini dapat hilang atau menetap bertahun-tahun setelah
penyebabnya berkurang atau hilang.3
3. Ablasi retina traksi (tarikan)
Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut
pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasi retina dan penglihatan turun
tanpa rasa sakit. Pada badan kaca, terdapat jaringan fibrosis yang dapat
disebabkan diabetes mellitus proliferatif, trauma, trauma dan perdarahan badan
kaca akibat bedah atau infeksi. Pengobatan ablasi akibat tarikan di dalam kaca
dilakukan dengan melepaskan tarikan jaringan parut atau fibrosis di dalam badan
kaca dengan tindakan yang disebut sebagai vitrektomi.3

VI. Patogenesis
Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan
rongga vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar, pada mata
yang matur dapat berpisah :6,7
1. Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami
likuifikasi dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio
progresif (ablasio regmatogenosa).

Gambar 3 : Ablasi Retina Regmatogenosa dengan horshoe tear8


2. Terjadi akibat akumulasi cairan subretinal dengan tanpa adanya robekan
retina ataupun traksi pada retina. Pada penyakit vaskular, radang, atau
neoplasma retina, epitel pigmen, dan koroid, maka dapat terjadi kebocoran
pembuluh darah sehingga berkumpul di bawah retina. Walaupun jarang
terjadi, bila cairan berakumulasi dalam ruangan subretina akibat proses
eksudasi, yang dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan (ablasio
retina eksudatif).
Gambar 4 : Ilustrasi Ablasi Retina Eksudatif9
3. Terjadi pembentukan yang dapat berisi fibroblas, sel glia, atau sel epitel
pigmen retina. Awalnya terjadi penarikan retina sensorik menjauhi lapisan
epitel di sepanjang daerah vaskular yang kemudian dapat menyebar ke
bagian retina midperifer dan makula. Pada ablasio tipe ini permukaan
retina akan lebih konkaf dan sifatnya lebih terlokalisasi tidak mencapai ke
ora serata. Jika retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada
permukaan retina, misalnya seperti pada retinopati proliferatif pada
diabetes mellitus (ablasio retina traksional).9

VII. Gejala Klinis


Pertimbangkan pasien yang khas mengalami ablasio retina, seperti pasien
dengan miopia tinggi dengan usia berkisar 50 tahun, baik laki-laki ataupun
perempuan, yang tiba- tiba mengalami gejala flashes dan floaters, yang
biasanya terjadi secara spontan atau sesaat setelah menggerakkan kepala. Lakukan
penggalian secara lebih detail terhadap gejala yang dialami.10

1. Flashes (photopsia)
Ketika ditanya, pasien biasanya menjawab gejala ini bisa terjadi
sepanjang waktu, tetapi paling jelas saat suasana gelap. Gejala ini
cenderung terjadi terutama sebelum tidur malam. Kilatan cahaya (flashes)
biasanya terlihat pada lapangan pandang perifer. Gejala ini harus
dibedakan dengan yang biasanya muncul pada migrain, yang biasanya
muncul sebelum nyeri kepala. Kilatan cahaya pada migrain biasanya
berupa garis zig-zag, pada tengah lapangan pandang dan menghilang
dalam waktu 10 menit. Pada pasien usia lanjut dengan defek pada sirkulasi
vertebrobasilar dapat mendeskripsikan tipe lain fotopsia, yakni kilatan
cahaya cenderung muncul hanya saat leher digerakkan setelah
membungkuk.10
2. Floaters
Titik hitam yang melayang di depan lapangan pandang adalah
gejala yang sering terjadi, tetapi gejala ini bisa menjadi kurang jelas pada
pasien gangguan cemas. Tetapi jika titik hitamnya bertambah besar dan
muncul tiba-tiba, maka ini menjadi tanda signifikan suatu keadaan
patologis. Untuk beberapa alasan, pasien sering menggambarkan gejala ini
seperti berudu atau bahkan sarang laba-laba. Ini mungkin karena adanya
kombinasi gejala ini dan kilatan cahaya. Kilatan cahaya dan floaters
muncul karena vitreus telah menarik retina, menghasilkan sensasi kilatan
cahaya, dan sering ketika robekan terjadi akan terjadi perdarahan ringan ke
dalam vitreus yang menyebabkan munculnya bayangan bintik hitam.
Ketika kedua gejala ini muncul, maka mata harus diperiksa secara detail
dan lengkap hingga ditemukan dimana lokasi robekan retina. Terkadang,
robekan kecil dapat menyebabkan perdarahan vitreus yang luas yang
menyebabkan kebutaan mendadak.10
3. Shadows
Saat robekan retina terjadi, pasien seharusnya segera mencari
pengobatan medis dan pengobatan efektif. Namun beberapa pasien tidak
segera mencari pengobatan medis atau bahkan malah mengabaikan gejala
yang dialami. Memang dalam beberapa saat gejala akan berkurang, tetapi
dalam kurun waktu beberapa hari hingga tahunan akan muncul bayangan
hitam pada lapangan pandang perifer. Jika retina yang terlepas berada pada
bagian atas, maka bayangan akan terlihat pada lapangan pandang bagian
bawah dan dapat membaik secara spontan dengan tirah baring, terutama
setelah tirah baring pagi hari. Kehilangan penglihatan sentral atau
pandangan kabur dapat muncul jika fovea ikut terlibat. terlibat.10
Saat anamnesis, penting juga untuk menanyakan riwayat trauma, apakah
terjadi bebrapa bulan sebelum gejala muncul atau bertepatan dengan timbulnya
gejala. Perhatikan juga riwayat operasi, termasuk ekstraksi katarak, pengangkatan
benda asing intraokuler atau prosedur lain yang melibatkan retina. Tanyakan juga
mengenai kondisi pasien sebelumnya, seperti pernah atau tidak menderita uveitis,
perdarahan vitreus, ambliopia, glaukoma, dan retinopati diabetik. Riwayat
penyakit mata dalam keluarga juga penting untuk diketahui.11

VIII. Pemeriksaan Fisis dan Penunjang


1. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan menyeluruh diindikasikan pada kedua mata. Pemeriksaan pada
mata yang tidak bergejala dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab dari
ablasio retina pada mata yang lainnya.12
a. Lakukan pemeriksaan segmen luar untuk menilai tanda-tanda trauma
b. Periksa pupil dan tentukan ada atau tidaknya defek pupil aferen
c. Periksa ketajaman penglihatan
d. Periksa konfrontasi lapangan pandang
e. Periksa metamorfopsia dengan tes Amsler grid
f. Pemeriksaan slit lamp untuk melihat ada atau tidaknya pigmen pada
vitreus (Shafers sign)
g. Periksa tekanan bola mata
h. Lakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi (pupil harus dalam
keadaan dilatasi)
Pada oftalmoskopi, retina yang terlepas akan terlihat putih dan edema dan
kehilangan sifat transparansinya. Pada ablasio regmatogen, robekan retina
berwarna merah terang dapat terlihat. Biasanya muncul pada setengah bagian atas
retina pada regio degenerasi ekuator. Pada ablasio tipe traksi, ablasio bullosa akan
terlihat bersamaan dengan untaian retina berwarna abu-abu. Pada tipe eksudatif
akan terlihat adanya deposit lemak massif dan biasanya disertai dengan
perdarahan intraretina.13
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Ultrasound mata
Pada pemeriksaan Ultrasound mata, jika retina tidak dapat tervisualisasi
karena katarak atau perdarahan, maka ultrasound A dan B-scan dapat
membantu mendiagnosis ablasio retina dan membedakannya dengan ablasio
vitreus posterior. USG dapat membantu membedakan regmatogen dari non
regmatogen. Pemeriksaan ini sensitif dan spesifik untuk ablasio retina tetapi
tidak dapat membantu untuk menentukan lokasi robekan retina yang
tersembunyi.12
Pemeriksaan ultrasonografi seperti ocular B-Scan ultrasonografi
menggunakan gelombang suara dengan frekuensi tinggi (8-10 MHz)
digunakan untuk mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis lain
yang menyertainya seperti proliferatif vitreotinopati, benda asing
intraocular, dengan membuat membuat potongan melalui seluruh jaringan,
dengan demikian didapat lokasi dan bentuk dari kelainan dalam dua
dimensi. Selain itu ultrasonografi juga digunakan untuk mengetahui
kelainan yang menyebabkan ablasi retina eksudatif misalnya tumor,
posterior skleritis.12
Ultrasonografi menggunakan gelombang suara dengan frekuensi
tinggi dan probe yang kecil yang dilakukan melalui kelopak mata yang
tertutup sehingga akan memberikan detil yang baik. Biasanya yang akan
terlihat pada USG adalah membran yang terang, terus menerus, halus dan
terlihat seperti liapatan membran dalam vitreous, yang reflektif dan bebas
bergerak dalam waktu pencitraan. Gerakan akan menjadi kurang menonjol
ketika ablasi lama dimana total atau luas retina yang terpisah memiliki
bentuk segitiga yang khas dengan pemasangan ke optik disk atau ora
serrata.14
Gambar 6 : Ablasi menghasilkan gambaran yang terang terus menerus,
tampilan seperti lipatan cerah dengan penyisipan ke dalam disk dan ora
serrata untuk menentukan konfigurasi ablasi sebagai dangkal, datar atau
bulosa.12

Gambar 7 : Ablasi Retina Eksudatif12

Gambar 8 : Ablasi retina regmatogenosa12


Gambar 9. USG mata dalam kasus trauma.14

Gambar 10. USG mata kiri dalam kasus trauma.14


Gambar 11. USG mata kiri dan kanan pada kasus trauma.14

Pada kasus trauma mata yang terlihat pada gambar, ablasi retina terlihat.
Fokus kalsifikasi kecil tampak di dekat kepala saraf optik. Lensa kiri tidak
divisualisasikan. Menurut opthamologist, bahan lensa diserap dari waktu ke waktu
dan akan terbentuk kapsul.14

Gambar 12. Ablasi retina dengan penebalan menonjol dan vaskularisasi dari
koroid14
Pasien USG gambar 12 ini memiliki ablasi retina bilateral dan klinis
didiagnosis sebagai kasus sindrom Vogt-Koyanagi-Harada. Temuan ultrasonografi
paling khas adalah menyebar, rendah hingga sedang penebalan reflektif media
koroid posterior. Temuan tambahan termasuk detasemen serosa retina, penebalan
ringan dari sklera dan / atau episklera berdekatan dengan daerah penebalan
koroid, dan kekeruhan vitreous ringan. Fitur-fitur ultrasonografi mungkin berguna
dalam memantau respons pasien terhadap terapi. ablasio retina serosa dengan
subretinal septa dapat terlihat, terutama pada awal penyakit.14

Gambar 13. sonogram melintang dari mata dengan frekuensi tinggi linear probe
menampakkann hasil membran mengambang dalam humor vitreous dengan
konten echogenic menetap di posterior bagian tergantung dari globe. Sisi
kontralateral tidak menunjukkan fitur ini.14

Berdasarkan gambar tersebut detasemen eksudatif dari retina yang tepat


dari koroid berpigmen yang mendasari dapat disebabkan oleh cairan terakumulasi
dalam ruang subretinal sekunder hipertensi, pusat retina vena oklusi, vaskulitis,
papilledema atau tumor.14
Color Dopppler Ultraound

Gambar 14. Skala abu-abu mata kiri horizontal scan menunjukkan temuan
khas ablasi retina, yaitu 'funnel'- tebal berbentuk struktur membran yang
melekat pada disk optik posterior (Besar panah) dan ora serrata anterior
(panah kecil).15

Gambar 15. Pra-kontras Doppler US menggambarkan linear tebal dan spot


sinyal warna di bagian posterior dari struktur membran.15
Gambar 16. Kontras-ditingkatkan gambar Doppler US diperoleh 4
menit 17 detik setelah dimulainya injeksi menunjukkan ekstensi sinyal.15

b. CT/MRI
Aksial pencitraan memiliki keuntungan dari pencitraan sisa orbit serta
kemampuan untuk menggunakan kontras. Gambar mungkin
menunjukkan:14
Dilipat membran dengan cairan ruang subretinal (yang biasanya
hyperdense pada CT).
Anterior detasemen dibatasi oleh ora serrata (dibandingkan dengan
detasemen choroidal yang tidak terbatas dan melampaui itu).
Posterior detasemen tersebut konvergen pada disk optik (dibandingkan
dengan detasemen choroidal yang menyimpang di disk)
Gambar 17. Gambar A dan B adalah contoh dari ablasi retina dengan bilateral V-
berbentuk selebaran intraorbital konvergen menuju disk optik. Yang penting
margin anterior dari selebaran tidak melampaui titik referensi ora serrata pada
posisi 2 dan 10:00. Sebaliknya, Gambar C dan D menunjukkan detasemen
choroidal bilateral dengan selebaran intraorbital cembung anterior memperluas
luar titik referensi ora serrata.16

Ora serrata tidak dapat dilihat pada pencitraan konvensional tetapi


merupakan titik referensi yang dapat disimpulkan. Di pesawat aksial terletak di
arah jam 2 dan arah jam 10 dari posterior badan silia. Pengetahuan tentang titik
referensi ini mungkin berguna untuk membedakan antara ablasio retina dan koroid
pada pencitraan.14
Gambar 18. MRI Ablasio retina pada mata kiri17

IX. Diferensial Diagnosis


Ablasio koroidal

Gambar 19. Perberdaan USG detasemen koroidal dan ablasi retina16


Gambar tersebut menjelaskan :17
Globe - ukuran normal dan kontur. Panjang aksial diukur pada 23 mm
Lens - Tidak ada lensa intraokular terlihat. Sebaliknya, diubah kontur
dengan bahan echogenic di lokasi lensa.
Sebuah membran tebal berbentuk 'V' dicatat dalam semua kuadran. Tidak
semua gerakan tercatat dalam membran ini,hal ini menunjukkan ablasi
retina.
Membran vitreous dicatat dengan membran tebal berbentuk 'v'. Hal
tersebut menunjukkan 'setelah gerakan'.
Membran tebal lain dicatat diluar ablasi retina di sisi temporal,
menunjukkan detasemen koroidal. Tidak semua gerakan dicatat dalam
membran ini.

Gambar 20. CT-Scan Axial non kontras14

Pada gambar terlihat adanya hyperdensiti melibatkan pinggiran orbit


yang tepat hampir sirkumferensial, tapi dengan sedikit dari sepertiga posterior. Di
sisi lain perdarahan meluas relatif jauh ke anterior namun lebih dekat dengan
posisi arah jam 2 dan 10, dimana retina berakhir (ora serrata). Fitur-fitur ini lebih
menunjukkan bahwa ada koroid dari pada ablasi retina.14
Gambar 21. CT-Scan koronal non kontras17

Detasemen koroidal terjadi ketika cairan atau darah terakumulasi dalam


ruang sub-koroid. Fitur yang membedakannya dari ablasi retina meliputi:17
Detasemen koroidal cenderung untuk cadangan daerah saraf optik dan
sepertiga posterior globe. Sebaliknya ablasi retina memiliki puncaknya
pada disk optik.
Detasemen koroidal dapat memperpanjang lebih jauh lagi ke anterior dari
ora serrata (situs penempelan retina pada arah jam 2 dan 10). Sebaliknya
ablasi retina dibatasi oleh situs ini anterior lampiran.
Pada pencitraan aksial, detasemen koroidal memiliki bentuk mengingatkan
seperti bola tenis. Sebuah ablasi retina biasanya berbentuk V.

X. Tatalaksana
Secara umum, tatalaksana ablasio retina ialah membutuhkan reattachment
retina menggunakan intraokular gas, laser, cryotherapy atau operasi. Kebanyakan
perawatan pasca CT scan kadang-kadang dapat menunjukkan sebuah band scleral
yang kadang-kadang digunakan sebagai bagian dari pengobatan (operasi scleral
buckle).14
Tujuan dari tatalaksana ablasio retina adalah mengembalikan kontak antara
neurosensorik retina yang terlepas dengan RPE dan eliminasi kekuatan traksi.
Berbagai metode operasi yang akan dilakukan bergantung dari lokasi robekan,
usia pasien, gambaran fundus, dan pengalaman ahli bedah.16
Pembedahan dibagi ke dalam dua kategori, yakni:15
1. Konvensional : melibatkan eksplan material ke rongga bola mata
2. Vitrektomi : pembuangan vitreus, menurunkan gaya traksi. Vitreus
kemudian digantikan dengan minyak silikon atau gas sebagai
tamponade robekan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Riordan Eva P, Whitcher JP. In : Vaughan and Asburys General
Opthalmology. 16th ed. New York : Mc Graw-Hill. 2004.
2. Sovani I. Artikel Tehnik Bakel Sklera pada Ablasio Retina. Jakarta. 1998.
3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. 2004. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
4. Riordan Eva P, Whitcher JP. In : Vaughan and Asburys General
Opthalmology. 17th ed.New York : Mc Graw-Hill. 2007.
5. Chang Huan J. In : Retinal Detachment. The Journal Of The American
Medical Association. 2012.
6. Kwon O. W., Roh M. I., Song J. H. Retinal Detachment and Proliferative
Victreoretinopathy. In. Retinal Pharmacotheraphy. Britain : Saunders-
Elsevier. 2010. Page 148-51.
7. James B.,dkk. Ablasi retina. In: Oftalmologi. 9th ed. Erlangga:Ciracas
Jakarta; 2003: 117-121.
8. Sehu KW, Lee WR. In : Opthalmology Pathology An Ilustrated Guide For
Clinician. New York : Blackwell Publishing. 2005. Page 204, 236-8.
9. Lang GK. In : Opthalmology A Short Textbook. New York : Thieme
Stuttgart. 2002. Page 328-30.
10. Galloway NR, Amoaku WMK, Galloway PH, et al. In : Common Eye
Disease And Their Management. 3rd ed. London : Springer-Verlag. 2006.
Page 103-10.
11. Pandya HK. In : Retinal Detachment. 2013. (Cited on 2013). Available
from URL http://emedicine.medscape.com/article/798501-overview
12. Chern KC. In : Emergency Opthalmology A Rapid Treatment Guide. New
York : McGraw-Hill. 2002.
13. Schlote T, Rohrbach J, Grueb M, et al. In : Pocket Atlas Of Opthalmology.
New York : Thieme Stuttgart. 2006. Page 2-6, 172-7.20
14. Han SS, Chang SK, Yoon JH, Lee YJ. In : The Use of Contrast-Enhanced
Color Doppler Ultrasound in the Differentiation of Retinal Detachment
from Vitreous Membrane. Korean Journal Radiol. 2001. Page 2, 197-203.
15. Juliana Prazeres, Octaviano Magalhes Jr., Luiz F. A. Lucatto, et. Al.
Heavy Silicone Oil as a Long-Term Endotamponade Agent for
Complicated Retinal Detachments Journal. 2014.
16. Lane JI, Watson RE, Witte RJ et-al. Retinal detachment: imaging of
surgical treatments and complications. Radiographics. 2003;23 (4): 983-
94.
17. Lebedis CA, Sakai O. Nontraumatic orbital conditions: diagnosis with CT
and MR imaging in the emergent setting. Radiographics. 2008;28 (6):
1741-53.