Anda di halaman 1dari 5

MODUL 4.

Nerve Conductivity Study (NCS)


Ni Putu Desya Esprillia P.N/081411731041
Dosen: Osmalina Nur Rahmah, S.T, M.T
TME304-Praktikum Instrumentasi Biomedis
Laboratorium Instrumentasi Medik Universitas Airlangga

Abstrak
Nerve Conductivity Studi (NCS) adalah elektrodiagnosa yang digunakan untuk
mengevaluasi konduksi impuls listrik pada saraf. Studi konduktifitas saraf yang dilakukan
kali ini adalah studi pada saraf motorik, dengam letak pada median tangan. Pada NCS
terdapat parameter-parameter yang memengaruhi kecepatan konduktifitas saraf seperti
Distal Latency atau Onset pada pergelangan tangan (wrist) dan siku (elbow), amplitudo, dan
jarak antara pergelangan tangan ke siku. Pemeriksaan ini dilakukan oleh 3 Naracoba yaitu
Nicko, Nurrahma dan Desya. Pada Naracoba Nicko dan Nurrahma menggunakan right
side, sedangkan pada Naracoba Desya menggunakan left side. Hasil perekaman kedua
praktikan tersebut adalah normal, dimana Distal Latency kurang dari 5 ms, Amplitudo lebih
dari 5 ms dan kecepatan konduktifitas saraf lebih dari 50 ms.
Kata Kunci : NSC. Wrist, Elbow, Amplitudo
I. Pendahuluan dari organ-organ internal atau dari
rangsangan eksternal. Sel-sel sistem saraf
Tubuh manusia membutuhkan motorik membawa informasi dari SSP ke
suatu sistem yang dapat mengkoordinasi organ, otot, dan kelenjar. SST terdiri atas
dan mengendalikan organ-organ yang saraf aferen dan saraf eferen. Neuron
kompleks, oleh sebab itu dalam tubuh eferen menyampaikan informasi ke
terdapat sistem yang disebut dengan sistem susunan saraf pusat semua organ sensorik,
saraf. Sistem saraf berperan penting untuk neuron eferen menyampaikan rangsangan
merasakan perubahan-perubahan yang neural ke otot dan kelenjar. Neuron eferen
terjadi di luar atau di dalam tubuh, masuk dalam sistem saraf autonomy dan
menafsirkannya, dan memberi respon somatic.
(menjawab) dalam bentuk kontraksi otot
atau dapat berupa sekresi kelenjar. Sistem Untuk pergerakan otot pada organ
saraf dibedakan menjadi Sistem Saraf ekstremitas terhubung dengan saraf
Pusat (SSP), Sistem Saraf Tepi (SST) atau somatic pada sistem saraf perifer yang
perifer. Namun yang akan dibahas lebih teridiri dari neuron-neuron motoric eferen
disini yaitu sistem saraf tepi dengan saraf yang keluar dari otak (korda spinalis_ dan
motorik. Sistem saraf tepi biasa disebut bersinaps langsung di sel-sel otot rangka.
dengan sistem saraf Perifer. Sistem saraf Saraf somatic yang membawa impuls ke
perifer berada pada paling ujung sistem otot rangka sebagai organ efektor melalui
saraf dan langsung berhubungan reseptor komunikasi secara biolistrik di saraf dan
saraf. Sistem saraf perifer adalah bagian proses komunikasi melalui
dari sistem saraf yang terdiri dari sel-sel neurotransmitter dihubungkan ke saraf
yang membawa informasi ke (sel saraf otot, sehingga terbangkitkannya kontraksi
sensorik) dan dari (sel saraf motorik) otot.
sistem saraf pusat (SSP). Sel-sel sistem
saraf sensorik mengirim informasi ke SSP Dalam elektrodiagnostik terdapat
dua metode yaitu menggunakan NCS
(Nerve Conduction Study) dan jarum Langkah-Langkah:
Elektromiogram (EMG). Pada praktikum
ini metode yang akan dibahas adalah NCS.
NCS digunakan untuk mengevaluasi
konduksi impuls listrik ke saraf perifer.
Namun, dalam beberapa kasus, kehalusan
defisit sensorik atau motorik memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut untuk diagnosis
yang pasti. Pemeriksaan NCS dapat dibagi
menjadi studi konduksi sensorik dan studi
konduksi motorik. Studi konduksi sensorik
dan saraf motorik melibatkan analisis
parameter tertentu, termasuk latency,
Gambar 3.1 Peletakan elektroda dan
kecepatan konduksi, dan amplitudo.
simulasi
Latency onset adalah waktu yang
dibutuhkan untuk stimulus untuk memulai
potensi yang dimunculkan dan
mencerminkan konduksi sepanjang serabut
tercepat. Puncak latency adalah latency
sepanjang mayoritas akson dan diukur
pada amplitudo puncak. Keduanya
dipengaruhi oleh keadaan mielinisasi saraf.
Gambar 3.2 gelombang simulasi pertama
Pada studi konduksi saraf motorik,
saraf motorik dirangsang dan potensial
aksi otot senyawa dari otot dicatat. Hal ini
terkait dengan integritas unit motor. Hasil
penelitian ini dapat dipengaruhi oleh
proses yang merusak tubuh anterior sel
tanduk atau akson, sel Schwann,
sambungan neuromuskuler, atau sel otot
itu sendiri. Juga dianalisis adalah ukuran,
bentuk, dan morfologi dari senyawa
potensial aksi otot untuk menentukan
keadaan mielinisasi, jumlah berfungsi serat
otot, dan fungsi neuromuscular junction. Gambar 3.2 gelombang simulasi pertama
Karena sel tubuh dari saraf motorik dan kedua
terletak di tanduk anterior dari sumsum
tulang belakang, konduksi saraf motorik
abnormal di kedua cedera preganglionik
dan postganglionik.
II. Metodologi
Alat dan Bahan:
1. Satu set EMG Cadwell Satu set alat
EMG Cadwell dan software Sierra
Summit
2. Elektroda
A. Hasil
1. Naracoba: Nicko (Laki-laki)
Amplitudo= 8,4 ms
DL elbow=6,6 ms
DL wrist=2,6 ms
Distance=33 ms

2. Naracoba: Nurrahma (Perempuan)


Amplitudo= 10,1 ms
DL elbow=5,9 ms
DL wrist=2,3 ms
Distance= 28 ms

3. Naracoba: Desya (Perempuan)


Amplitudo= 6,9 ms
DL elbow=5,9 ms
DL wrist=2,4 ms
Distance=30 cm

B. Analisis
Jika dilihat dari data maka dapat dianalisis
sebagai berikut:
Rumus:

Syarat normal:
DL <5 ms
Velocity > 50 ms
Amplitudo > 5 ms

1. Naracoba: Nicko (Laki-laki)


Amplitudo= 8,4 ms
(Normal)
Delta DL= 4 ms
Velocity= 83 ms(Normal)

2. Naracoba: Nurrahma (Perempuan)


Amplitudo= 10,1 ms
(Normal)
Delta DL= 3,6 ms
Velocity= 78 ms (Normal)

3. Naracoba: Desya (Perempuan)


Amplitudo= 6,9 ms
(Normal)
III. Hasil dan Analisis Delta DL= 3,5 ms
Velocity= 86 ms (Normal) latency sepanjang mayoritas akson yang
diukur pada amplitudo puncak. Keduanya
IV. Pembahasan dipengaruhi oleh keadaan mielinisasi saraf.
Praktikum ini bertujuan untuk Dari ketiga Naracoba, diperoleh
mengenalkan perangkat Nerve hasil kecepatan konduktifitas saraf yang
Conductivity Study (NCS) sehingga normal. Ini berarti bahwa terdapat
mahasiswa mampu mengoperasikan serta penjalaran impuls yang normal di
memperoleh informasi kecepatan sepanjang serabut saraf, dan tidak terjadi
konduktifitas saraf motorik serta kerusakan saraf.
parameter-parameter yang perlu diamati
untuk proses diagnosis. Prinsip kerja alat Selain itu, terdapat faktor-faktor
ini adalah dengan mengukur nilai yang mempengaruhi hasil kecepatan
konduktifitas dari saraf dengan konduktifitas saraf yaitu:
memberikan shock listrik pada permukaan 1. Lokasi peletakan probe untuk
tubuh yang akan diukur konduktifitas menstimulus saraf
sarafnya. 2. Ada tidaknya noise
Pada praktikum ini dilakukan 3. Lokasi pemasangan elektroda
pengukuran pada median nerve. Naracoba 4. Suhu tubuh, makin tinggi suhu
Nicko dan Nurrahma melakukan makin cepat penjalaran impuls.
percobaan ini dengan menggunakan tangan 5. diameter serabut saraf ,makin
kanan, sedangkan Naracoba Desya besar diameter serabut saraf
melakukannya dengan tangan kiri. makin cepat penjalaran impuls.
Percobaan ini hanya dilakukan sekali saja Jadi serabut saraf yang
pada daerah tertentu dan tidak dianjurkan mempunyai diameter kecil akan
dilakukan dibanyak tempat, hal ini menjalarkan impuls lebih
bertujuan agar naracoba tidak terlalu lama lambat
mengalami kesakitan oleh shock listrik 6. Blokade impuls saraf, suatu
yang diberikan. Percobaan ini dilakukan proses dimana terjadi blokade
dengan memberikan shock listrik mulai terdapat penjalaranimpuls
dari intensitas 0.5 mA, kemudian intensitas dikenal dengan istilah bloking.
dinaikan secara perlahan-lahan. Untuk Penghambatan impuls dapat
daerah pergelangan tangan atau wrist,
dilakukan dengan jalan
intensitas yang digunakan <20 mA.
didinginkan, diberi tekanan,
Daerah pergelangan tangan lebih peka
terhadap stimulus shock listrik diberi larutan kimia.
dibandingkan dengan daerah siku (elbow) 7. Ada atau tidak adanya selubung
yang intensitasnya mencapai <60 mA mielin, serabut saraf yang
untuk memperoleh konduktifitas saraf. mempunyai selubung mielin
dapat menjalarkan impuls lebih
Dalam pengujian NCS perlu cepat dari pada serabut saraf
mengamati parameter-parameter seperti yang diametrnya sama tetapi
Distal Latency/ Onset pada pergelangan
tidak mempunyai selubung
tangan (wrist) dan siku (elbow),
mielin. Cara penjalaran impuls
amplitudo, dan jarak antara pergelangan
tangan ke siku. Distal latency adalah di sepanjang serabut saraf yang
waktu yang dibutuhkan oleh stimulus mempunyai selubung mielin di
untuk memulai potensi yang dimunculkan sebut penghantaran meloncat
dan mencerminkan konduksi sepanjang 8. Kondisi psikis pasien
serabut saraf. Puncak latency adalah
Agar hasilnya mudah ditemukan maka diameter kecil akan menjalarkan
sebelum probe diletakan di permukaan impuls lebih lambat
tubuh, kami memberi ujung probe dengan f. Blokade impuls saraf, suatu proses
gel yang berfungsi untuk membuat probe dimana terjadi blokade terdapat
lebih sensitif dalam menangkap penjalaran impuls dikenal dengan
konduktifitas saraf. Naracoba harus dalam istilah bloking. Penghambatan
konsidi relax/ tenang dan juga tidak impuls dapat dilakukan dengan
diperkenankan menggunakan lotion tubuh. jalan didinginkan, diberi tekanan,
Selain itu kami juga menemukan bahwa
diberi larutan kimia.
pada video youtube salah seorang pasien
g. Ada atau tidak adanya selubung
yang sedang di tes NCS merendam
mielin, serabut saraf yang
tangannya dalam air hangat, untuk
mempermudah pengambilan konduktifitas mempunyai selubung mielin dapat
saraf. menjalarkan impuls lebih cepat dari
pada serabut saraf yang diametrnya
V. Kesimpulan sama tetapi tidak mempunyai
1. Uji NSC dipengaruhi parameter- selubung mielin. Cara penjalaran
parameter berikut : impuls di sepanjang serabut saraf
yang mempunyai selubung mielin
a. jarak antara pergelangan tangan ke
di sebut penghantaran meloncat
siku.
h. Kondisi psikis pasien
b. Distal Latency
c. Amplitudo.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil DAFTAR PUSTAKA
kecepatan konduktifitas saraf yaitu:
a. Lokasi peletakan probe untuk http://clinicalgate.com/nerve-conduction-
menstimulus saraf studies-and-electromyography/ diakses
b. Ada tidaknya noise tanggal 28 Maret 2017 jam 13.19
c. Lokasi pemasangan elektroda http://clinicalgate.com/the-
d. Suhu tubuh, makin tinggi suhu electrodiagnostic-examination/ diakses
makin cepat penjalaran impuls. tanggal 28 Maret 2017 jam 13.27
e. Diameter serabut saraf ,makin
besar diameter serabut saraf makin https://www.youtube.com/watch?
v=k8OX8j3Dqn4 diakses tanggal 28 Maret
cepat penjalaran impuls. Jadi
2017 jam 12.45
serabut saraf yang mempunyai