Anda di halaman 1dari 183

PROFIL KESEHATAN

KOTA BLITAR
TAHUN 2014
KATA PENGANTAR

Profil Kesehatan disusun untuk memberikan gambaran pencapaian program pembangunan


kesehatan yang digunakan sebagai sarana untuk memantau pencapaian visi dan misi pembangunan
kesehatan di Kota Blitar.

Penyusunan Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 didasarkan pada data tabel sesuai
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan dan Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan
Kabupaten/ Kota Tahun 2014, sehingga informasi yang disampaikan dalam profil ini merupakan
interpretasi dari data tersebut.

Profil Kesehatan Kota Blitar ini disampaikan dengan harapan semoga bermanfaat bagi kita
semua dan ucapan terima kasih kami sampaikan kepada berbagai pihak yang telah mendukung
penyusunan buku ini.

Blitar, Juni 2015

Kepala Dinas Kesehatan


Kota Blitar

dr.NGESTI UTOMO
Pembina Utama Muda
NIP. 19570824 198712 1 001

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL PROFIL iii

BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Sistematika Penyajian 2
1.3 Distribusi Profil Kesehatan 3

BAB 2 GAMBARAN UMUM 4


2.1 Keadaan Geografis dan Administrasi 4
2.2 Topografi 5
2.3 Kependudukan 6

BAB 3 SITUASI DERAJAT KESEHATAN 9


3.1 Angka Kematian (Mortalitas) 9
3.2 Angka/ Umur Harapan Hidup (AHH/UHH) 16
3.3 Angka Kesakitan (Morbiditas) 17

BAB 4 SITUASI UPAYA KESEHATAN 41


4.1 Pelayanan Kesehatan Dasar 41
4.2 Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan 60
4.3 Perilaku Hidup Masyarakat 64
4.4 Pelayanan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar 65
4.5 Ketersediaan Obat 67
4.6 Perbaikan Gizi Masyarakat 68

BAB 5 SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN 78


5.1 Sarana Kesehatan 78
5.2 Tenaga Kesehatan 81
5.3 Pembiayaan Kesehatan 83

BAB 6 KESIMPULAN 85

LAMPIRAN

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 ii


DAFTAR TABEL PROFIL

Tabel 1 Luas Wilayah, Jumlah Desa/ Kelurahan, Jumlah Penduduk,


Jumlah Rumah Tangga, dan Kepadatan Penduduk Menurut
Kecamatan

Tabel 2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok


Umur

Tabel 3 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melek


Huruf dan Ijazah Tertinggi yang Diperoleh Menurut Jenis
Kelamin

Tabel 4 Jumlah Kelahiran Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan


Puskesmas

Tabel 5 Jumlah Kematian Neonatal, Bayi dan Balita Menurut Jenis


Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 6 Jumlah Kematian Ibu Menurut Kelompok Umur, Kecamatan,


dan Puskesmas

Tabel 7 Kasus Baru TB BTA+, Seluruh Kasus TB, Kasus TB pada


Anak, dan Case Notification Rate (CNR) per 100.000
Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan
Puskesmas

Tabel 8 Jumlah Kasus dan Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA+


Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 9 Angka Kesembuhan dan Pengobatan Lengkap TB Paru BTA+


serta Keberhasilan Pengobatan Menurut Jenis Kelamin,
Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 10 Penemuan Kasus Pneumonia Balita Menurut Jenis Kelamin,


Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 11 Jumlah Kasus HIV, AIDS, dan Syphilis Menurut Jenis


Kelamin

Tabel 12 Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV Menurut


Jenis kelamin

Tabel 13 Kasus Diare yang Ditangani Menurut Jenis Kelamin,


Kecamatan dan Puskesmas

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 iii


Tabel 14 Kasus Baru Kusta Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan
Puskesmas

Tabel 15 Kasus Baru Kusta 0-14 Tahun dan Cacat Tingkat 2 Menurut
Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 16 Jumlah Kasus dan Angka Prevalensi Penyakit Kusta Menurut


Tipe/ Jenis, Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 17 Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat (Release From


Treatment/RFT) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan
Puskesmas

Tabel 18 Jumlah Kasus AFP (Non Polio) Menurut Kecamatan dan


Puskesmas

Tabel 19 Jumlah Kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan


Imunisasi (PD3I) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan
Puskesmas

Tabel 20 Jumlah Kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan


Imunisasi (PD3I) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan
Puskesmas

Tabel 21 Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Menurut


Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 22 Kesakitan dan Kematian Akibat Malaria Menurut Jenis


Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 23 Penderita Filariasis Ditangani Menurut Jenis Kelamin,


Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 24 Pengukuran Tekanan Darah Menurut Jenis Kelamin,


Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 25 Pemeriksaan Obesitas Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan


Puskesmas

Tabel 26 Cakupan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Metode


IVA dan Kanker Payudara dengan Pemeriksaan Klinis (CBE)
Menurut Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 27 Jumlah Penderita dan Kematian pada KLB Menurut Jenis


Kejadian Luar Biasa (KLB)

Tabel 28 Kejadian Luar Biasa (KLB) di Desa/ Kelurahan yang


Ditangani < 24 Jam

Tabel 29 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil, Persalinan Ditolong Tenaga


Kesehatan, dan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Menurut
Kecamatan dan Puskesmas
Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 iv
Tabel 30 Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut
Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 31 Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Wanita Usia Subur


Menurut Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 32 Jumlah Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe1 dan Fe3
Menurut Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 33 Jumlah dan Persentase Penanganan Komplikasi Kebidanan


dan Komplikasi Neonatal Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan
dan Puskesmas

Tabel 34 Proporsi Peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi,


Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 35 Proporsi Peserta KB Baru Menurut Jenis Kontrasepsi,


Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 36 Jumlah Peserta KB Baru dan KB Aktif Menurut Kecamatan


dan Puskesmas

Tabel 37 Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Menurut Jenis


Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 38 Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Jenis Kelamin,


Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 39 Jumlah Bayi yang diberi ASI Eksklusif Menurut Jenis


Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 40 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi Menurut Jenis Kelamin,


Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 41 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization


(UCI) Menurut Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 42 Cakupan Imunisasi Hepatitis B<7 Hari dan BCG pada Bayi
Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 43 Cakupan Imunisasi DPT-HB/DPT-HB-Hib, Polio, Campak,


dan Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi Menurut Jenis
Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 44 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Anak Balita


Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 45 Jumlah Anak 0-23 Bulan Ditimbang Menurut Jenis Kelamin,


Kecamatan dan Puskesmas

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 v


Tabel 46 Cakupan Pelayanan Anak Balita Menurut Jenis Kelamin,
Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 47 Jumlah Balita Ditimbang Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan


dan Puskesmas

Tabel 48 Cakupan Kasus Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan


Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 49 Cakupan Pelayanan Kesehatan (Penjaringan) Siswa SD dan


Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 50 Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Menurut Kecamatan dan


Puskesmas

Tabel 51 Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak SD dan


Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 52 Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Menurut Jenis


Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 53 Cakupan Jaminan Kesehatan Penduduk Menurut Jenis


Jaminan dan Jenis Kelamin

Tabel 54 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan, Rawat Inap dan Kunjungan


Ganggungan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan

Tabel 55 Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit

Tabel 56 Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit

Tabel 57 Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan


Sehat (ber-PHBS) Menurut Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 58 Persentase Rumah Sehat Menurut Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 59 Penduduk dengan Akses Berkelanjutan Terhadap Air Minum


Berkualitas (Layak) Menurut Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 60 Persentase Kualitas Air Minum di Penyelengara Air Minum


yang Memenuhi Syarat Kesehatan

Tabel 61 Penduduk dengan Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi yang


Layak (Jamban Sehat) Menurut Jenis Jamban, Kecamatan dan
Puskesmas

Tabel 62 Desa yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Tabel 63 Persentase Tempat-tempat Umum Memenuhi Syarat


Kesehatan Menurut Kecamatan dan Puskesmas

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 vi


Tabel 64 Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) Menurut Status Higiene
Sanitasi

Tabel 65 Tempat Pengelolaan Makanan Dibina dan Diuji Petik

Tabel 66 Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin

Tabel 67 Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan Menurut Kepemilikan

Tabel 68 Persentase Sarana Kesehatan (Rumah Sakit) dengan


Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat (Gadar) Level 1

Tabel 69 Jumlah Posyandu Menurut Strata, Kecamatan dan Puskesmas

Tabel 70 Jumlah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat


(UKBM) Menurut Kecamatan

Tabel 71 Jumlah Desa Siaga Menurut Kecamatan

Tabel 72 Jumlah Tenaga Medis di Fasilitas Kesehatan

Tabel 73 Jumlah Tenaga Keeperawatan di Fasilitas Kesehatan

Tabel 74 Jumlah Tenaga Kefarmasian di Fasilitas Kesehatan

Tabel 75 Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan


Lingkungan di Fasilitas Kesehatan

Tabel 76 Jumlah Tenaga Gizi di Fasilitas Kesehatan

Tabel 77 Jumlah Tenaga Keterapian Fisik di Fasilitas Kesehatan

Tabel 78 Jumlah Tenaga Keteknisian Medis di Fasilitas Kesehatan

Tabel 79 Jumlah Tenaga Kesehatan Lain di Fasilitas Kesehatan

Tabel 80 Jumlah Tenaga Non Kesehatan di Fasilitas Kesehatan

Tabel 81 Anggaran Kesehatan Kabupaten/Kota

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 vii


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajad kesehatan masyarakat
yang optimal. Dalam konstitusi organisasi kesehatan dunia yang bernaung di bawah
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), disebutkan bahwa salah satu hak asasi manusia
adalah memperoleh manfaat, mendapatkan dan atau merasakan derajat kesehatan
setinggi-tingginya, sehingga Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi dan
Kbupaten/ Kota dalam menjalankan kebijakan dan program pembangunan kesehatan
tidak hanya berpihak pada kaum tidak punya, namun juga berorientasi pada pencapaian
Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015. Tujuan MDGs menempatkan
manusia sebagai fokus utama pembangunan yang mencakup semua komponen kegiatan
yang tujuan akhirnya ialah kesejahteraan masyarakat.
Dari 8 (delapan) agenda pencapaian MDGs, 5 (lima) diantaranya merupakan
bidang kesehatan, yakni terdiri dari memberantas kemiskinan dan kelaparan (Tujuan 1);
menurunkan angka kematian anak (Tujuan 4); meningkatkan kesehatan ibu (Tujuan 5);
memerangi HIV/ AIDS, malaria dan penyakit lainnya (Tujuan 6) dan melestarikan
lingkungan hidup (Tujuan 7).
Untuk mendukung keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan tersebut, salah
satunya dibutuhkan adanya kesediaan data dan informasi yang akurat bagi proses
pengambilan keputusan dan perencanaan program. Salah satu produk dari
penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan adalah Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun
2014. Profil Kesehatan merupakan salah satu indikator dari Rencana Strategis
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2011-2014. Penyusunan Profil
Kesehatan ini didasarkan pada beberapa peraturan perundangan-undangan bidang
kesehatan, antara lain:
1. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2014 tentang Sistem
Informasi Kesehatan
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 741/Menkes/PER/VII/2008
tentang Standart Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota
Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 1
Profil Kesehatan merupakan buku statistik kesehatan Kota Blitar untuk
menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat Kota Blitar. Selain itu juga
berisi data/informasi yang menggambarkan derajat kesehatan, sumber daya kesehatan dan
upaya kesehatan serta pencapaian indikator pembangunan kesehatan di Kota Blitar.
Akhirnya dengan pembangunan yang intensif, berkesinambungan dan merata,
serta didukung dengan data/ informasi yang tepat, maka diharapkan pembangunan di
bidang kesehatan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Blitar.
1.2 SISTEMATIKA PENYAJIAN
Sistematika penyusunan Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 terdiri dari
beberapa bagian sebagai berikut :
Bab-1 : Pendahuluan
Bab ini berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan profil kesehatan dan sistematika dari
penyajiannya.
Bab-2 : Gambaran Umum
Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kota Blitar. Selain uraian tentang letak
geografis, administratif dan informasi umum lainnya. Bab ini juga mengulas faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap kesehatan meliputi kependudukan, ekonomi, pendidikan,
sosial budaya, perilaku dan lingkungan.
Bab-3 : Situasi Derajat Kesehatan
Bab ini berisi uraian tentang berbagai indikator derajat kesehatan mengenai angka
kematian, angka/ umur harapan hidup, dan angka kesakitan.
Bab-4 : Situasi Upaya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan
dan penunjang, perbaikan gizi masyarakat, perilaku hidup masyarakat, pemberantasan
penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, pelayanan
kefarmasian dan alat kesehatan. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini
juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang
Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh Kota
Blitar.
Bab-5 : Situasi Sumber Daya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan
dan sumber daya kesehatan lainnya.
Bab-6 : Kesimpulan

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 2


Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih
lanjut dari Profil Kesehatan Tahun 2014. Selain mencatat keberhasilan-keberhasilan, bab
ini juga mngemukakan hal-hal yang dianggap masing kurang dalam rangka
penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
Lampiran
Pada lampiran ini berisi tabel resume/ angka pencapaian pembangunan kesehatan Kota
Blitar dan 81 tabel data kesehatan dan yang terkait kesehatan yang responsif gender.
Profil kesehatan dapat disajikan dalam bentuk tercetak (berupa buku) atau dalam bentuk
lain (softcopy, tampilan di situs internet, dan lain-lain).
1.3 DISTRIBUSI PROFIL KESEHATAN
Distribusi Profil Kesehatan Kota Blitar adalah sebagai berikut:
1. Walikota Blitar
2. DPRD Kota Blitar
3. Instansi tingkat Kota termasuk BAPPEDA
4. Puskesmas, dan UPT Kesehatan lainnya
5. Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta
6. Dinas Kesehatan Provinsi
7. Kementerian Kesehatan c.q Pusat Data dan Informasi
8. LSM Kesehatan di Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 3


BAB 2
GAMBARAN UMUM

Gambaran umum wilayah Kota Blitar merupakan sebuah data dasar yang
digunakan sebagai acuan dalam penyusunan perencanaan pembangunan kesehatan yang
evidence based, sehingga perencanaan program maupun kegiatan bidang kesehatan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi faktual di wilayah Kota Blitar. Gambaran
umum ini menguraikan tentang letak geografis, administratif dan beberapa informasi
umum lainnya. Selain itu juga mengulas beberapa faktor yang berpengaruh terhadap
kesehatan dan faktor-faktor lainnya misalnya kependudukan, ekonomi dan sosial budaya.
Adapun gambaran umum secara lengkap adalah sebagai berikut :
2.1 KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI
Kota Blitar merupakan wilayah terkecil kedua di Propinsi Jawa Timur setelah
Kota Mojokerto. Terletak pada koordinat 11214 - 1228 Bujur Timur dan 82 - 810
Lintang Selatan. Jarak tempuh dari Ibu Kota Propinsi Jawa Timur 160 km ke arah Barat
Daya.
Secara administratif, Kota Blitar dikelilingi oleh wilayah Kabupaten, dengan
batas-batas sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Nglegok
dan Kecamatan
Garum Kabupaten
Blitar
Sebelah Timur : Kecamatan Garum
dan Kecamatan
Kanigoro
Kabupaten Blitar
Sebelah Selatan : Kecamatan Kanigoro
dan Kecamatan
Sanankulon Kabupaten Blitar
Sebelah Barat : Kecamatan Sanankulon dan Kecamatan Nglegok
Kabupaten Blitar
Pada sisi yang lain Kota Blitar dapat dikatakan sebagai kota yang miskin potensi,
karena secara ekonomis tidak memiliki sumber daya alam yang dapat dieksplorasi
menjadi sumber pendapatan daerah, baik yang berupa bahan galian, mineral maupun hasil
Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 4
hutan dan kekayaan alam lainnya. Dengan demikian upaya yang harus terus digalakkan
adalah pengembangan dan pembangunan sumber daya lainnya baik yang berupa sumber
daya manusia maupun sumber daya buatan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1982 tentang Batas Wilayah
Kotamadya Daerah Tingkat II Blitar, luas wilayah Kota Blitar adalah 32,578 km 2,
terdiri atas 3 (tiga) kecamatan dengan 20 kelurahan. Yang kemudian pada tahun 2005
dijadikan 21 Kelurahan hasil pemecahan Kelurahan Pakunden menjadi 2 Kelurahan yaitu
Pakunden dan Tanjungsari berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2005. Adapun
perincian luas wilayah di masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Perbandingan Luas Wilayah Kecamatan di Kota Blitar


No Kecamatan Jumlah Luas Wilayah Km2 %
Kelurahan
1 Sukorejo 7 9,92 30,46
2 Kepanjenkidul 7 10,50 32,24
3 Sananwetan 7 12,15 37,30
Jumlah 21 32,57 100
Sumber: BPS Kota Blitar Tahun 2013

2.2 TOPOGRAFI
Rata-rata ketinggian Kota Blitar dari permukaan laut adalah 156 m. Dilihat dari
topografinya wilayah Kota Blitar masih termasuk dataran rendah. Namun wilayah bagian
utara relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah bagian selatan. Ketinggian di
bagian utara sekitar 245 m dari permukaan air laut dengan tingkat kemiringan 2 sampai
15. Semakin ke selatan tingkat ketinggiannya semakin menurun yaitu bagian tengah
sekitar 175 m dan bagian selatan 140 m dengan tingkat kemiringan 0 sampai 2. Secara
rata-rata ketinggian Kota Blitar dari permukaan air laut sekitar 156 m.
Disamping itu, wilayah Kota Blitar terbagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bagian
utara, tengah dan selatan dimana bagian utara mempunyai ketinggian 245 meter dari
permukaan laut, bagian tengah 190 meter dan bagian selatan 140 meter dari
permukaan air laut. Adanya perbedaan letak ketinggian tersebut menunjukkan bahwa
wilayah Kota Blitar masuk kategori daerah darat, sehingga mempengaruhi pola
pemanfaatan dan tata guna tanah di wilayah Kota Blitar.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 5


2.3 KEPENDUDUKAN
Situasi kependudukan dapat dilihat dari berbagai indikator antara lain tingkat
pertumbuhan, angka kelahiran kasar, tingkat fertilitas, kepadatan dan distribusi menurut
umur. Gambaran secara umum keadaan demografi Kota Blitar adalah sebagai berikut :
2.3.1 Komposisi Penduduk
Berdasarkan data hasil proyeksi Badan Pusat Statistik Jawa Timur, jumlah
penduduk Kota Blitar tahun 2014 sebesar 136.952 jiwa dengan rincian jumlah penduduk
laki-laki sebesar 67.869 jiwa dan penduduk perempuan 69.083 jiwa, dengan jumlah
Rumah Tangga 42.934. Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2013 yaitu
135.759 jiwa, maka terjadi pertambahan jumlah penduduk Kota Blitar sebanyak 1.193
jiwa. Adapun distribusi penduduk berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur adalah
sebagai berikut:

Gambar 2.1 Piramida Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Kota Blitar Tahun 2014

Sumber : Data BPS Jawa Timur Tahun 2014 yang Diolah

Distribusi penduduk terbesar adalah pada kelompok umur 15-19 tahun yaitu
11.569 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi penduduk lebih banyak pada usia
muda. Rasio jenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan sebesar 98,24%.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 6


2.3.2 Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk di Kota Blitar pada tahun 2014 adalah 4,205 /Km2. Kondisi
ini tidak terlalu terdapat perbedaan dengan kondisi pada tahun 2013 yakni 4,168/ Km2.
Adapun data secara lengkap mengenai kondisi kepadatan penduduk tahun 2010 s/d 2014
adalah sebagai berikut:

Grafik 2.2 Kepadatan Penduduk Per-Km2 (dalam ribuan)


Kota Blitar Tahun 2010-2014

5
4.5 4.2
4.3 4.36
4 4.13
4.17
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
2010 2011 2012 2013 2014

Kepadatan Penduduk

Sumber: Data sekunder BPS Kota Blitar yang Diolah

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada setiap tahunnya terjadi
kenaikan angka kepadatan penduduk di Kota Blitar, hal ini seiring dengan perubahan
jumlah penduduk di tiap Kecamatan. Perubahan dapat terjadi dikarenakan banyak hal,
diantaranya dapat disebabkan oleh perpindahan penduduk dari luar kota ke dalam kota
ataupun sebaliknya, selain itu perubahan kepadatan penduduk juga dapat disebabkan
angka kematian dan jumlah kelahiran di wilayah tersebut. Untuk tahun 2012 terjadi
penurunan dikarenakan adanya perubahan data sasaran jumlah penduduk setelah sensus
penduduk tahun 2010.
2.3.3 Rasio Beban Tanggungan
Rasio beban tanggungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk usia
tidak produktif (umur dibawah 15 tahun dan umur diatas 65 tahun) dengan jumlah
penduduk usia produktif. Rasio ini menggambarkan beban yang ditanggung oleh

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 7


penduduk usia produktif. Berikut ini gambaran rasio beban tanggungan di Kota Blitar
mulai tahun 2010 s/d 2014:

Grafik 2.3 Rasio Beban Tanggungan Kota Blitar Tahun 2010-2014

47.5
47 47.27
46.5 46.11
46 46.42
46
45.5
45 45.5
44.5
2010 2011 2012 2013 2014
Rasio Beban Tanggungan

Sumber : Data Sekunder BPS Kota Blitar yang Diolah

Dari data diatas dapat diketahui bahwa beban tanggungan di Kota Blitar masih
cukup besar, jumlah penduduk usia tidak produktif hampir setengah jumlah penduduk
usia produktif. Beban tanggungan yang tinggi merupakan faktor penghambat
pembangunan ekonomi suatu negara, karena sebagian pendapatan yang diperoleh oleh
golongan yang produktif terpaksa dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang
tidak produktif, maka semakin tinggi usia tidak produktif semakin tinggi beban
tanggungan bagi usia produktif.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 8


BAB 3
SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Situasi derajat kesehatan di Kota Blitar digambarkan dengan empat indikator


pembangunan kesehatan, yaitu Angka Kematian (Mortalitas), Angka/ Umur Harapan
Hidup, Angka Kesakitan (Morbiditas). Indikator tersebut dapat diperoleh melalui laporan
dari fasilitas kesehatan (facility based) dan dari masyarakat (community based).
Gambaran situasi derajat kesehatan di Kota Blitar pada tahun 2014 dapat
diuraikan sebagai berikut.
3.1 ANGKA KEMATIAN (MORTALITAS)
Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir (outcome)
dari berbagai penyebab kematian langsung maupun tidak langsung. Kejadian kematian di
suatu wilayah dari waktu ke waktu dapat memberikan gambaran perkembangan derajat
kesehatan masyarakat, di samping seringkali digunakan sebagai indikator dalam penilaian
keberhasilan program pembangunan dan pelayanan kesehatan.
Data kematian yang terdapat pada suatu komunitas dapat diperoleh melalui
survey, hal disebabkan bahwa sebagian besar kematian terjadi di rumah, sedangkan data
kematian pada fasilitas pelayanan kesehatan hanya memperlihatkan kasus rujukan.
Perkembangan tingkat kematian dan penyakit-penyakit penyebab kematian utama yang
terjadi pada tahun 2014 akan diuraikan dibawah ini.
3.1.1 Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) masih merupakan salah satu indikator penting dalam
menentukan derajat kesehatan di suatu wilayah. Kematian ibu yang maksud adalah
kematian seorang ibu yang disebabkan kehamilan, bersalin dan nifas dan bukan karena
kecelakaan disuatu wilayah pada kurun waktu tertentu. Angka Kematian Ibu (AKI)
dihitung per 100.000 kelahiran hidup.
Berbagai upaya telah diupayakan guna menurunkan angka kematian ibu bersalin
ini baik fasilitasi dari segi manajemen program KIA maupun system pencatatan dan
pelaporan, peningkatan klinis keterampilan petugas di lapangan serta keterlibatan
berbagai pihak dalam pelaksanaan program KIA.
Berdasarkan hasil data Laporan Kematian di Kota Blitar tahun 2014, sebesar
139,27 (3 kematian) per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami kenaikan bila
dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 49,48 (1 kematian) per 100.000
kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan target daerah (RPJMD) sebesar 46,09 (1

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 9


kematian) per 100.000 kelahiran hidup, target RPJMN 2014 sebesar 118 per 100.000
kelahiran hidup dan target MDGs sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2015,
maka pada tahun 2014 AKI di Kota Blitar masih belum memenuhi target.
Kondisi ini merupakan kondisi riil yang sudah menggambarkan kondisi yang
sebenarnya dilapangan, karena kematian ibu yang ada di Kota Blitar sudah merupakan
hasil laporan dari pelayanan kesehatan dasar dan Rumah Sakit.
Kasus kematian ibu pada tahun 2014 disebabkan karena emboli air ketuban
sebanyak dua kasus dan preeklamsi sebanyak satu kasus.

Grafik 3.1 Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000


di Kota Blitar Tahun 2010-2014

400
350 339.31
300
250
200
139.27
150 101.8
100 51.47 49.48
50
0
2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah Kasus
Sumber : Seksi Kesga & Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Gambar 3.1. Pertemuan Sosialisasi Cara Deteksi Dini Resiko Tinggi Kehamilan
oleh Masyarakat

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 10


Grafik 3.2 Perkembangan Capaian, Target RPJMD dan MDGs AKI
(per 100.000 Kelahiran Hidup) di Kota Blitar Tahun 2011-2014

400
350 339.31
300
250
200
150 139.27
100 101.8 102 102 102 102
49.48
50 49.16 48.08 46.09
47.21
0
2011 2012 2013 2014
Target RPJMD Target MDGs Capaian

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Grafik 3.3 Jumlah Kasus Kematian Ibu


di Kota Blitar Tahun 2012-2014

10

8 7

4
3

2 1

0
2012 2013 2014
Jumlah Kematian

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 11


Grafik 3.4 Jumlah Kasus Kematian Ibu menurut Kecamatan
di Kota Blitar Tahun 2014

2
2

1
1

0
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Gambar 3.2. Pertemuan Review Maternal Perinatal (RMP)

Keberhasilan percepatan penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir tidak hanya
ditentukan oleh ketersediaan pelayanan kesehatan namun juga kemudahan masyarakat
menjangkau pelayanan kesehatan disamping pola pencarian pertolongan kesehatan dari
masyarakat. Perbaikan infrastruktur yang akan menunjang akses kepada pelayanan
kesehatan seperti transportasi, ketersediaan listrik, ketersediaan air bersih dan sanitasi,
serta pendidikan dan pemberdayaan masyarakat utamanya terkait kesehatan ibu dan anak
yang menjadi tanggung jawab sektor lain memiliki peran sangat besar. Demikian pula

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 12


keterlibatan masyarakat madani, lembaga swadaya masyarakat dalam pemberdayaan dan
menggerakkan masyarakat sebagai pengguna serta organisasi profesi sebagai pemberi
pelayanan kesehatan
Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan RI meluncurkan program EMAS
(Expanding Maternal and Neonatal Survival, bekerja sama dengan USAID dengan kurun
waktu 2012 2016, yang diluncurkan 26 Januari 2012 sebagai salah satu bentuk
kerjasama Pemerintah Indonesia dengan USAID dalam rangka percepatan penurunan
kematian ibu dan bayi baru lahir di 6 provinsi terpilih yaitu Sumatera Utara, Sulawesi
Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menyumbangkan kurang
lebih 50 persen dari kematian ibu dan bayi di Indonesia.
Upaya yang akan dilaksanakan adalah dengan peningkatan kualitas pelayanan
emergensi obstetri dan neonatal dengan cara memastikan intervensi medis prioritas yang
mempunyai dampak besar pada penurunan kematian dan tata kelola klinis (clinical
governance) diterapkan di RS dan Puskesmas. Upaya lain dalam program EMAS ini
dengan memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif mulai dari fasilitas pelayanan
kesehatan dasar di Puskesmas sampai ke RS rujukan di tingkat kabupaten/kota.
Masyarakat pun dilibatkan dalam menjamin akuntabilitas dan kualitas fasilitas kesehatan
ini. Untuk itu, program ini juga akan mengembangkan mekanisme umpan balik dari
masyarakat ke pemerintah daerah menggunakan teknologi informasi seperti media sosial
dan SMS gateway, dan memperkuat forum masyarakat agar dapat menuntut pelayanan
yang lebih efektif dan efisien melalui maklumat pelayanan (service charter) dan Citizen
Report Card.

3.1.2 Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita


Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infan Mortality Rate adalah banyaknya bayi
meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup (KH). AKB dapat
menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, karena bayi adalah
kelompok usia yang paling rentan terkena dampak dari perubahan lingkungan maupun
sosial ekonomi.
Indikator AKB terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan
merefleksikan kondisi sosial ekonomi, lingkungan tempat tinggalnya.
Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari
tenaga medis yang terampil. Serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 13


tradisonal ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang
sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Jawa Timur Tahun
2011-2013, AKB Provinsi Jawa Timur 27,23 per 1000 kelahiran hidup.
Selama tahun 2014 di Kota Blitar dilaporkan terjadi 2165 kelahiran. Dari seluruh
kelahiran, tercatat 11 lahir mati dan kasus kematian bayi sebesar 13 kasus (tabel 4 dan 5).
Kematian bayi ini disebabkan oleh BBLR (6 kasus), asfiksi (4 kasus), sepsis (2 kasus) dan
kelainan kongenital (1 kasus). AKB ini sangat penting, karena tingginya AKB
menunjukan rendahnya kualitas perawatan selama masa kehamilan, saat persalinan dan
masa nifas, status gizi dan penyakit infeksi.
Target daerah pada tahun 2014 sebesar 15,73 per 1000 kelahiran hidup (KH),
sedangkan di Kota Blitar AKB 6,04 per 1000 KH.
Kasus Kematian Bayi ini yang terjadi selama 5 tahun berturut-turut dari tahun
2010 sampai dengan tahun 2014 dapat dilihat pada diagram berikut :

Grafik 3.5 Jumlah Kematian Bayi


di Kota Blitar Tahun 2010-2014

36
40
35 28
Jumlah kematian bayi

30 24 24
25
20 13
15
10
5
0
2010 2011 2012 2013 2014
AKB

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Jumlah kematian anak balita juga turun, dari 2 kasus pada tahun 2013 menjadi 0
kasus pada tahun 2014.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 14


Grafik 3.6 Jumlah Kematian Anak Balita
di Kota Blitar Tahun 2012-2014

3
2 2
2

1
0
0
2012 2013 2014
Jumlah Kematian Anak Balita

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Dari diagram tersebut, terlihat terjadi penurunan kematian pada bayi dan anak balita di
wilayah Kota Blitar dan sudah memenuhi target MDGs yang ditetapkan. Penurunan
tersebut tidak lepas dari upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menurunkan AKB
utamanya yaitu meningkatkan kualitas pelayanan selain itu juga melalui meningkatkan
cakupan, keterjangkauan pelayanan kesehatan serta meningkatkan pemberdayaan
masyarakat.

Gambar 3.3 Seminar Penatalaksanaan Kelas Ibu Hamil

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 15


Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum
usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. AKABA
menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi,
penyakit menular dan kecelakan. Dari laporan rutin pada tahun 2014 di Kota Blitar terjadi
13 kematian balita dengan AKABA terlaporkan 6,04 per 1.000 KH atau sama dengan
angka kematian bayi.

3.2 ANGKA/UMUR HARAPAN HIDUP (AHH/UHH)


Angka/ Umur Harapan Hidup (AHH/ UHH) secara definisi adalah perkiraan rata-
rata lamanya hidup yang akan dicapai oleh sekelompok penduduk dari sejak lahir. AHH
dapat dijadikan salah satu alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah pada keberhasilan
pembangunan kesehatan serta sosial ekonomi di suatu wilayah, termasuk di dalamnya
derajat kesehatan. Data AHH diperoleh melalui survei yang dilakukan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS).
Penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 273,65 juta jiwa pada tahun
2025. Pada tahun yang sama, AHH Nasional diperkirakan mencapai 73,7 tahun (sumber :
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional).
Pada tahun 2013 Kota Blitar mempunyai AHH yang tertinggi di Jawa Timur yakni
sebesar 72,99, sedangkan AHH Jawa Timur 70,19. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada grafik dibawah ini tingkat umur harapan hidup Kota Blitar diantara Kabupaten/Kota
di Jawa Timur.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 16


Grafik 3.7 Angka Harapan Hidup (AHH) Tahun 2013 Jawa Timur

74 72.99
72

70
68

66

64

62
60

58

56

Ke i

ne i

Sa ua n
Gr a

g
t a rj o
Si ik

Ng tu
oj a r

Pa t o

m juk
ny gan
Su ita n

ta i
oj i r i

o
j o ng
aw
to

Su oro

Pa nep

ol o
Ko dir
y

Si pa n

gg
es

ob d
Ba
M lit
er

ba

M ed
er
Ko doa

Bo wa
an

Pr bon
Ng

r
Ba on

in
g
ta a B

e
ok

su
ok
ra

m
m
u

tu
Ko Kot

La
Kota Blitar
Sumber : Hasil Susenas Jawa Timur, BPS
Trenggalek

Kota
3.3 ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS)
Mojokerto
Selain menghadapi transisi demografi, Indonesia juga menghadapi transisi
Tulungagung
epidemiologi yang menyebabkan beban ganda. Di satu sisi kasus gizi kurang serta
Pacitan
penyakit-penyakit infeksi, baik re-emerging maupun new-emerging disease masih tinggi,
Magetan
namun disisi lain penyakit degeneratif, gizi lebih dan gangguan kesehatan akibat
Surabaya
kecelakaan juga meningkat. Selain itu masalah perilaku yang tidak sehat, rupanya
Kota Madiun
menjadi faktor utama yang harus dirubah terlebih dahulu agar beban ganda masalah
kesehatan teratasi. Gresik
Ada sebagian besar terjadi pada masyarakat
Blitar kita, dimana bila ada kelompok usia
produktif, serta pada kelompok usia potensial
Sidoarjo terjadi kesakitan hal ini sangat
mempengaruhi produktifitas dan pendapatan keluarga, yang pada akhirnya menyebabkan
Kota Malang
kemiskinan. Akibat dari kemiskinan ini sangat berpengaruh pada kesehatan bukan saja
Kota Kediri
pada yang bersangkutan namun juga pada keluarga dan sekitarnya.
Kota
Angka kesakitan pada penduduk berasal dari community based data yang
Probolinggo
diperoleh melalui pengamatan (surveilens)Mojokerto
terutama yang diperoleh dari fasilitas
pelayanan kesehatan melalui sistem pencatatan dan pelaporan rutin dan insidentil.
Ponorogo
Sementara untuk kondisi penyakit menular, Ngawi
berikut ini akan diuraikan situasi beberapa
penyakit menular yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk penyakit menular yang
Jombang

Kediri

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 Jawa Timur 17


Kota Batu

Malang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dan penyakit yang memiliki potensi untuk
menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Berdasarkan pengamatan penyakit yang terjadi di wilayah pelayanan kesehatan di
Kota Blitar pada pelayanan tingkat dasar yakni Puskesmas yang merupakan gardu utama
pelayanan pada masyarakat tahun 2013-2014 maka diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 3.1 Jumlah Penderita Di Puskesmas Se-Kota Blitar


Menurut Jenis Penyakit Dengan Penderita Terbanyak Tahun 2013-2014

No Jenis Penyakit Tahun 2013 Tahun 2014


1 Infeksi Akut Lain pada Saluran Nafas Bagian 46.570 42.673
Atas
2 Penyakit Pada Sistem Otot dan Jaringan 15.731 14.755
Pengikat
3 Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal 10.895 9.860
4 Gastritis 11.296 10.875
5 Hipertensi 20.112 14.560
6 Diare (termasuk Kolera) 3.245 2.234
7 Penyakit Lain pada Saluran Nafas Bagian 2.673 3.781
Atas
8 Observasi Febris 9.538 9.979
9 Penyakit Kulit Infeksi 6.938 5.782
10 Penyakit Kulit Alergi 7.051 7.340
11 Chepalgia 13.218 12.358
12 Asma 3.006 2.107
13 Diabetes Mellitus 11.231 12.071
14 Gangguan gigi dan penyangga lain 2.347 1.876
15 Fluor Albres 786 905
16 Penyakit Lain-lain 39.640 37.342
JUMLAH 204.277 188.498
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus,
Dinas Kesehatan Kota Blitar

Terjadi peningkatan pada beberapa penyakit seperti penyakit lain pada saluran
nafas bagian atas, penyakit kulit infeksi, penyakit kulit alergi, diabetes mellitus dan fluor
albres.
3.3.1 Penyakit Menular Langsung
a. Tuberkulosis (TB)
Penyakit Tuberkolosis (TB) sampai saat masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat karena merupakan salah satu penyakit infeksi pembunuh utama yang
menyerang golongan usia produktif (15 50 tahun), dan anak-anak serta golongan sosial
ekonomi lemah. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 18


ditularkan melalui percikan dahak penderita yang BTA posistif. Sebagian besar penyakit
ini menyerang paru-paru sebagai organ tempat infeksi primer, namun dapat juga
menyerang organ lain seperti kulit, kelenjar limfe, tulang dan selaput otak.
Pengendalian TB di Kota Blitar memakai strategi Directly Obsered treatment
Shortcouse (DOTS), ternyata mampu menekan kejadian kematian akibat TB Paru. DOTS
merupakan komitmen nasional dengan menggunakan pendekatan pengobatan serta
pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat. Dengan demikian klien akan terus
berusaha untuk sembuh dari penyakitnya. Selain itu program DOTS juga mampu
menekan tingkat penularan pada anggota keluarga sekitar. Dengan pendekatan ini
ternyata terbukti di Kota Blitar mampu meningkatkan angka kesembuhan terhadap
penyakit TB tersebut.
Berdasarkan laporan World Health Organization ( WHO) pada tahun 2010,
Indonesia termasuk Negara yang kategorikan sebagai highburden countries terhadap TB
Paru yaitu menduduki peringkat kelima sebagai Negara penyumbang penyakit TB setelah
India, China, Afrika Selatan dan Nigeria.
Pencapaian indikator Millennium Development Goals atau MDG untuk
Pengendalian TB cukup memuaskan sejak tahun 2010. Sebab, Indonesia telah berhasil
menurunkan insidens, prevalens, dan angka kematian akibat TB. Insidens TB berhasil
diturunkan sebesar 45%, yaitu 343 per 100.000 penduduk tahun 1990 menjadi 189 per
100.000 penduduk tahun 2010. Prevalensi TB telah diturunkan sebesar 35%, yaitu 443
per 100.000 penduduk tahun 1990 menjadi 289 per 100.000 penduduk tahun 2010.
Sedang angka kematian TB berhasil turun sebesar 71%, yaitu 92 per 100.000 penduduk
tahun 1990 menjadi 27 per 100.000 penduduk tahun 2010. Sasaran yang harus dicapai
adalah menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat TB menjadi setengahnya
di tahun 2015 jika dibandingkan dengan tahun 1990. Tatalaksana TB di seluruh Indonesia
harus benar-benar dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan terlatih untuk
menghindarkan berbagai dampak negatif, seperti resistensi obat TB yang berakibat
terjadinya TB MDR. Pemahaman masyarakat tentang pentingnya mendapatkan
pengobatan TB dari fasilitas pelayanan kesehatan yang kompeten harus ditingkatkan.
Pada tahun 2014 jumlah seluruh kasus TB di Kota Blitar ditemukan kasus baru
sebanyak 205, dimana 70 diantaranya merupakan BTA +. Case Notification Rate (CNR)
kasus baru BTA + sebesar 51,11/100.000 penduduk dan CNR untuk seluruh kasus TB
149,69/100.000. Pada tahun 2014 tidak ditemukan kasus TB anak umur 0-14 tahun.
Angka kesembuhan sebesar 74,16%, sedangkan angka keberhasilan pengobatan (Success
Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 19
Rate/ SR) sebesar 77,53%. Pada tahun 2014 terjadi 6 kematian selama pengobatan.
Dengan demikian di Kota Blitar untuk Angka Kematian selama pengobatan 4,4 per
100.000 penduduk.

Gambar 3.4 Kegiatan Public Private Mix TB

b. Pneumonia
Menurut data Riskesdas 2007, prevalensi pneumonia (berdasarkan pengakuan
pernah didiagnosa pneumonia oleh tenaga kesehatan dalam sebulan terakhir sebelum
survei) pada bayi di Indonesia adalah 0,76% dengan rentang antar provinsi sebesar 0-
13,2% dan pneumonia merupakan penyebab kematian kedua tertinggi setelah diare. Bila
dilihat proposi pneumonia pada kelompok umur balita, tampak proposi pneumonia pada
bayi dibandingkan balita sekitar 35%. Hal ini menunjukkan bahwa bayi merupakan
kelompok bahwa bayi merupakan kelompok usia yang tinggi kejadian pneumonia. Oleh
karena itu pneumonia pada balita dan terutama pada bayi, perlu mendapat perhatian. Bila
tidak segera ditangani dengan benar maka dikhawatirkan dapat menghambat upaya
mencapai target MDGs menurukan angka kematian pada bayi dan anak.
Di Kota Blitar tahun 2014 perkiraan jumlah penderita sebesar 1.137 berdasarkan
10% dari jumlah balita. Untuk penemuan kasus pneumonia balita yang ditangani sebesar
30,97%, belum memenuhi target nasional sebesar 100%. Hal ini perlu mendapatkan
perhatian dari semua pihak, baik pelaksana program maupun pengambil kebijakan serta
masyarakat.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 20


Grafik 3.8 Persentase Cakupan Penemuan Kasus Pneumonia di Kota Blitar
Tahun 2012-2014

5
4.42
4
2.82
3

2
0.74 1.46
1
0.08
0 0.1
2012 2013 2014
NCDR PR

Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Berdasarkan Mulholland K, 1999 menyebutkan faktor resiko terjadinya


pneumonia anak-balita yaitu :
1. Kemiskinan yang luas
Kemiskinan yang luas berdampak besar dan menyebabkan derajat kesehatan
rendah dan status sosial-ekologi menjadi buruk.
2. Derajat kesehatann rendah
Akibat derajat kesehatan yang rendah maka penyakit infeksi kronis mudah
duitemukan. Tingginya kelahiran dengan berat lahir rendah, tidak ada atau tidak
memberikannya ASI dan imunisasi yang tidak adekuat memperburuk derajat
kesehatan
3. Status sosial-ekologi buruk
Status sosial-ekologi yang tidak baik ditandai dengan buruknya lingkungan,
daerah pemukiman kumuh dan padat, polusi dalam ruangan akibat penggunaan
biomass, dan polusi udara luar ruangan yang ditambah lagi dengan tingkat
pendidikan yang kurang memadai serta adanya adat kebiasaan, kepercayaan lokal
yang salah.
4. Pembiayaan kesehatan sangat kecil
Di negara berpenghasilan rendah pembiayaan kesehatan sangat kurang.
Pembiayaan kesehatan yang tidak cukup menyebabkan fasilitas kesehatan seperti
infrastruktur kesehatan untuk diagnostik dan terapeutik tidak adekuat dan tidak

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 21


memadai, tenaga kesehatan yang terampil terbatas, ditambah lagi dengan akses ke
fasilitas kesehatan sangat kurang.
5. Proporsi populasi sangat kurang
Di Negara berkembang yang umumnya berpenghasilan rendah proposi populasi
anak 37%, di negara berpenghasilan menengah 27% dan di negara berpenghasilan
tinggi hanya 18% dari total jumlah penduduk. Besarnya proporsi populasi anak
akan menambah tekanan pada pengendalian dan pencegahan pneumonia terutama
pada aspek pembiayaan.
Faktor resiko diatas tidak berdiri sendiri melainkan berupa sebab-akibat, saling
terkait dan saling mempengaruhi yang terkait sebagai faktor-resiko pneumonia pada anak.
Upaya pemberantasan penyakit pneumonia difokuskan pada upaya penemuan dini dan
tatalaksana kasus yang cepat dan tepat pada penderita. Kecepatan keluarga dalam
membawa penderita ke pelayanan kesehatan serta ketrampilan petugas dalam
menegakkan diagnosa merupakan kunci keberhasilan penanganan penyakit pneumonia.

c. HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Seksual (IMS)


Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, disebutkan bahwa dari penduduk umur diatas
15 tahun keatas 57,5 % pernah mendengar HIV/AIDS, angka yang tinggi belum tentu
menjamin seseorang mengetahui secara menyeluruh tentang cara penularan HIV, hal ini
membuktikan bahwa kenapa kasus HIV/AIDS ini ada kecenderungan terjadi peningkatan
jumlah kasusnya, meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus
dilakukan.
Sampai dengan bulan Desember 2014, jumlah kasus HIV yang dilaporkan adalah
4 orang dan pada kasus AIDS sebanyak 5 orang yang ditemukan melalui VCT. Dari
jumlah tersebut ada 2 orang (40%) yang meninggal akibat AIDS. Dari segi kelompok
umur, kasus HIV dan AIDS didominasi kelompok umur seksual aktif. Pada kasus HIV
usia 20-24 tahun sebesar 50% dan 25-49 tahun sebesar 50%. Sedangkan pada kasus AIDS
usia 20-24 tahun sebesar 20%, 25-49 tahun sebesar 40% dan 50 tahun sebesar 40%.
Angka tersebut sesungguhnya jauh lebih kecil dibandingkan angka yang
sebenarnya terjadi (fenomena gunung es). Salah satu cara untuk memantau situasi HIV di
masyarakat, sekaligus upaya pencegahan penularan adalah melakukan penapisan darah
donor di Transfusi Darah. Di unit transfusi darah PMI Kota Blitar pada tahun 2014 dari
8.153 pendonor yang diskrining terhadap HIV terdapat 64 orang yang positif HIV, namun
tidak disebutkan tempat asal penderita.
Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 22
Grafik 3.9 Perkembangan Jumlah Kasus HIV, AIDS dan Jumlah Kematian
di Kota Blitar Tahun 2011-2014

250
191
200

150

100
43
50
11
0 3 01 1 1
0 4
0
2011 2012 2013 2014
HIV AIDS Kematian Karena AIDS IMS

Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Upaya yang dilakukan dalam rangka penekan kasus penyakit HIV/AIDS


disamping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan diarahkan pada upaya
pencegahan yang dilakukan melalui tes HIV/AIDS terhadap darah donor dan upaya
pemantauan dan pengobatan penderita penyakit menular seksual (PMS).

Gambar 3.5 Kegiatan Praktek Pemulasaran Jenazah bagi Modin se Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 23


Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah salah satu pintu untuk memudahkan
terjadinya penularan HIV. Oleh karena itu penyuluhan dan pendampingan pada
masyarakat kelompok resiko tinggi serta intervensi perubahan perilaku sangat diperlukan
dan perlu ditingkatkan frekwensinya, mengingat penyakit HIV/AIDS dan IMS merupakan
penyakit yang bersifat fenomena gunung es, serta banyak terkendala dengan norma yang
berlaku di masyarakat. Hal ini terbukti dari hasil penelitian Riskesdas tahun 2010 dimana
diperoleh angka sebesar 21,7% sikap keluarga penderita HIV/AIDS masih merahasiakan
serta 7,1 % mengucilkan. Di Kota Blitar pada tahun 2014 tidak ditemukan kasus Syphilis.

Gambar 3.6 Kegiatan KIE HIV di Kecamatan Sukorejo

d. Diare
Hingga saat ini penyakit Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat.
Berdasarkan hasil survey Sub Direktorat Diare dan Infeksi Saluran Cerna (ISP) Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian
Kesehatan RI, Angka Kesakitan Diare semua umur tahun 2010 adalah 411 per 1000
penduduk, sedangkan pada tahun 2012 sebesar 214 per 1000 penduduk. Dan berdasarkan
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, Diare merupakan penyebab kematian
nomor empat (13,2%) pada semua umur dalam kelompok penyakit menular dan
merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi post neonatal (31,4%) dan pada
anak balita (25,2%).
Pada tahun 2014 di Kota Blitar jumlah kasus diare diperkirakan sebesar 2.931
kasus yang tertangani sebesar 2466 kasus (84,1%).

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 24


Grafik 3.10 Jumlah Perkiraan Kasus dan Penderita Diare yang Ditangani
Menurut Kecamatan di Kota Blitar Tahun 2014

3000 2931
2466
2500

2000

1500
1042 971 944
784 918
1000 738

500

0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota
Target Penemuan Diare Ditangani

Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Upaya pencegahan dan penanggulangan kasus diare dengan cara memberikan


penyuluhan akan pentingnya mencuci tangan memakai sabun sebelum makan dan
sesudah buah air besar dan kecil. Ternyata hal kecil ini mempunyai daya ungkit yang
sangat besar. Karena memang penyakit diare ini sangat erat hubungannya dengan perilaku
masyarakat tentang bagaimana cara hidup sehat dan bersih. Sehingga naik turunnya
jumlah penyakit mencerminkan higiene sanitasi dan perilaku masyarakat di wilayah
tersebut. Kecepatan dan ketepatan penangganan di tingkat awal kejadian diharapkan
mampu mencegah terjadinya kefatalan atau hal-hal yang tidak diinginkan.
Tujuan pencegahan Diare adalah untuk tercapainya penurunan angka kesakitan
Diare dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sarana sanitasi dan peningkatan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Upaya yang dilakukan adalah bukan hanya
tanggung jawab pemerintah, tetapi juga semua sektor dan masyarakat luas. Salah satu
kegiatan berkesinambungan yang dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan dan
informasi atau penyuluhan dari berbagai sumber media. Keterlibatan kader juga
mendukung dalam pelayanan Diare, terutama untuk meningkatkan penggunaan rehidrasi
oral, yakni Oralit maupun cairan rumah tangga. Di sarana kesehatan, upaya pelayanan
penderita Diare bagi balita adalah dengan pemberian tablet Zinc sesuai umur selama 10
hari berturut-turut di samping pemberian Oralit. Tata laksana penderita Diare yang tepat
di rumah tangga diharapkan dapat mencegah terjadinya dehidrasi berat yang bisa
berakibat kematian.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 25


e. Kusta
Kusta merupakan penyakit lama yang diharapkan dapat dieliminasi pada tahun
2000. Secara nasional, kondisi tersebut telah tercapai, namun untuk Kota Blitar eliminasi
ini belum bisa tercapai. Pada Tahun 2013 New Case Detection Rate (NCDR) di Kota
Blitar menjadi 4,42 per 100.000 penduduk. Bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya
keadaan ini ada kecenderungan meningkat. Peningkatan ini menunjukan bahwa pelacakan
yang dilakukan oleh petugas lapangan ada kecenderungan lebih intensif. Dengan
pelacakan kasus yang lebih baik maka kasus yang ditemukan akan semakin banyak dan
semakin banyak pula kasus yang terobati, dengan harapan pada tahun-tahun berikutnya
prevalensi kusta akan menurun sampai dengan bisanya terjadi eliminasi.
Pada tahun 2014 di Kota Blitar ditemukan penderita baru kusta sebanyak 2 orang.
Dari 2 orang tersebut keseluruhan berjenis kelamin laki-laki, tidak ditemukan kasus pada
anak usia 0-14 tahun, dan tidak ada penderita yang mengalami kecacatan tingkat 2. Data
kasus baru kusta dapat dilihat pada Lampiran Data Profil Kesehatan Tabel 14. Kota Blitar
termasuk dalam wilayah low endemic prevalence dengan angka penemuan kasus baru < 5
per 100.000 penduduk.
Sementara untuk angka kesembuhan penderita kusta sudah mencapai standar
nasional. Angka penderita kusta selesai berobat/ RFT PB sebesar 100%, sedangkan RFT
MB tidak ada kasus. Salah satu upaya Pemerintah Pusat (Kementerian Kesehatan) guna
mempercepat penurunan kasus kusta serta meningkatkan komitmen Pemerintah Daerah
adalah dengan dibentuknya organisasi non struktural, yakni Aliansi Nasional Eliminasi
Kusta (ANEK) sebagai forum kemitraan tingkat nasional yang difasilitasi oleh
Pemerintah Pusat (Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian
Kesehatan, Kementerian Sosial)

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 26


Grafik 3.11 Perkembangan Prevalensi Rate (PR) per 10.000 Penduduk dan New Case
Detection Rate (CDR) Kusta per 100.000 Penduduk di Kota Blitar Tahun 2012-2014

5
4.42
4
2.82
3

2
0.74 1.46
1
0.08
0 0.1
2012 2013 2014
NCDR PR

Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit kusta ini telah dilakukan dengan
menggunakan metode Multi Drug Trerapy (MTD), yaitu penemuan penderita langsung
dilakukan pengobatan. Sedangkan untuk mencegah kecacatan lebih lanjut digunakan
metode Prevention of disability (POD) yang setiap bulan selama masa pengobatan dan
rehabilitasi medis.

Gambar 3.7 Pertemuan Screening Kusta dari Kader Kesehatan

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 27


3.3.2 Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
PD3I merupakan penyakait yang diharapkan dapat diberantas/ ditekan dengan
pelaksanaan program imunisasi, pada profil kesehatan ini akan dibahas penyakit difteri,
pertusis, tetanus neonaturum, campak, polio dan hepatitis B.

Gambar 3.8 Kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah

a. Difteri
Difteri merupakan Re-Emerging Disease di Jawa Jawa Timur karena kasus
Difteri sebenarnya sudah menurun pada tahun 1985, namun kembali meningkat pada
tahun 2005 saat terjadi KLB di Bangkalan. Di Kota Blitar KLB terjadi pada tahun 2008,
dimana pada tahun 2008 ini tenaga kesehatan Kota Blitar terjangkit Difteri. Dan sejak itu,
penyebaran Difteri semakin meluas dan mencapai puncaknya pada tahun 2010 sebanyak
300 kasus dengan 21 kematian dan Provinsi Jawa Timur merupakan penyumbang kasus
Difteri terbesar di Indonesia (74%) bahkan di dunia.
Perkembangan penyakit Difteri di Kota Blitar dalam 5 tahun terakhir dapat di lihat
gambar berikut :

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 28


Grafik 3.12 Jumlah Kasus Difteri di Kota Blitar Tahun 2009-2014

20
16
15

10 9
7 8

5 4
1
0
2009 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah Kasus
Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Pada tahun 2014 di Kota Blitar ada 16 kasus dengan meninggal 0 kasus. Upaya
menekan kasus Difteri, dilakukan melalui imunisasi dasar pada bayi dengan vaksin
DPT+HB. Vaksin tersebut diberikan 3 kali yakni pada usia 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan.
Selain itu karena terjadi lonjakan kasus pada usia sekolah maka imunisasi tambahan TD
juga diberikan untuk anak SD/sederajat kelas 4-6 dan SMP.

Gambar 3.9 Penyelidikan Epidemiologi Difteri

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 29


b. Pertusis/ Batuk Rejan
Pertusis adalah penyakit yang disebabkan bakteri Bardetella pertusis dengan
gejala batuk beruntun disertai tarikan nafas hup (whoop) yang khas dan muntah. Lama
batuk bisa 1-3 bulan sehingga disebut batuk 100 hari. Penyakit ini biasanya terjadi pada
anak berusia dibawah 1 tahun dan penularannya melalui droplet atau batuk penderita.
Upaya pencegahan kasus Pertusis dilakukan melalui imunisasi DPT+HB sebanyak
3 kali yaitu saat usia 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan atau usia yang lebih dari itu tetapi
masih di bawah 1 tahun (usia sampai dengan 11 bulan). Pada tahun 2014 di Kota Blitar
tidak ada kasus Pertusis yang dilaporkan.
c. Tetanus Neonaturum
Tetanus neonaturum adalah penyakit disebabkan Clostridium Tetani pada bayi
(umur < 28 hari) yang dapat menyababkan kematian. Penanganan Tetanus Neonatorum
tidak mudah, sehingga yang terpenting adalah upaya pencegahan melalui pertolongan
persalinan yang hygienis dan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) ibu hamil serta perawatan
tali pusat.
Berdasarkan laporan dari Puskesmas di Kota Blitar dalam 3 tahun terakhir tidak
ada kasus tersebut.
d. Campak
Campak adalah penyakit yang disebabkan virus Morbili yang disebarkan melalui
droplet bersin/ batuk dari penderita. Gejala awal penyakit adalah demam, bercak
kemerahan, batuk pilek, mata merah (conjunctivitis) selanjutnya timbul ruam diseluruh
tubuh.
Gambar 3.13 Perkembangan Kasus Campak Di Kota Blitar Tahun 2010-2014

200
153
160

120
72 75
80
60
40
11
0
2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah Kasus

Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 30


Kasus Campak mengalami penurunan dari 153 kasus pada tahun 2013 menjadi 60
kasus pada tahun 2014 dengan 0 kasus meninggal.
e. Polio
Poliomyelitis/ polio merupakan penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan
virus polio. Cara penularan Polio terbanyak melalui mulut ketika seseorang
mengkonsumsi makanan-minuman yang terkontaminasi lender, dahak atau feses
penderita polio. Virus masuk aliran adarah ke system saraf pusat menyebabkan otot
melemah dan kelumpuhan, menyebabkan tungkai maenjadi lemas secara akut.
Berikut beberapa definisi kasus polio yang harus kita ketahui:
Definisi kasus Polio Pasti :
Kasus yang pada hasil pemeriksaan tinja di lab ditemukan VPL ( Virus Polio Liar)
atau cVDVP (circ Vaccin Derived Polio Virus)
Hot case dengan salah satu spesimen kontak positif VPL
Definisi kasus Polio Kompatibel :
Kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) yang tidak cukup bukti secara lab/ virologis
untuk diklasifikasikan sebagai kasus Non Polio karena specimen tidak adekuat.
Polio menyerang semua usia, namun sebagian besar terjadi pada anak usia 3 5 tahun.
Pada tahun 2014 di Kota Blitar tidak terdapat kasus polio.
AFP Non Polio adalah kasus lumpuh layu akut yang diduga kasus polio sampai
dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium bukan kasus polio. AFP Rate Non Polio
dihitung berdasarkan per 100.000 penduduk/ populasi anak usia < 15 tahun. Pada Tahun
2014 di Kota Blitar terdapat lima kasus AFP sehingga Cakupan penemuan dan
penanganan penderita penyakit AFP sebesar 15,40 per 100.000 penduduk usia kurang
dari 15 tahun. Ini berarti lebih tinggi dari target SPM sebesar 2.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 31


Gambar 3.10 Penyelidikan Epidemiologi AFP Non Polio

3.3.3 Penyakit Menular Bersumber Binatang


a. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever
(DHF) mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta, dan setelah
itu jumlah kasus DBD terus bertambah seiring dengan meluasnya daerah endemis DBD.
Penyakit ini tidak hanya sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) tetapi juga
menimbulkan dampak buruk sosial dan ekomomi. Kerugian sosial yang terjadi antara lain
karena menimbulkan kepanikan keluarga, kematian anggota keluarga, dan berkurangnya
usia harapan hidup.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 32


Grafik 3.14 Perkembangan Penemuan Penderita DBD dan
Jumlah Kematian Akibat DBD di Kota Blitar tahun 2011-2014

100
77 87
80

60
44
40

20 9
0 0 1
0 0
2011 2012 2013 2014
Jumlah Penderita Jumlah Kematian
Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Di Kota Blitar Incedence Rate DBD mengalami peningkatan dari 56,72 pada
tahun 2013 menjadi sebesar 63,5 per 100.000 penduduk tahun 2014. Angka tersebut
berarti lebih tinggi dari target daerah sebesar 21 per 100.000 penduduk Sedangkan Angka
Kematian karena DBD sebesar 0 (tidak ada kasus).
Meningkatnya jumlah penderita DBD pada Tahun 2014 antara lain disebabkan
perubahan iklim. Curah hujan yang tinggi dengan intensitas yang tidak merata
mengakibatkan perkembangbiakan nyamuk menjadi lebih banyak. Upaya yang telah
dilakukan untuk mencegah meluasnya DBD antara lain :
a. Dicanangkannya Gertak Gugah DBD (Gerakan Serentak Penanggulangan dan
Pencegahan DBD) bersama kader se Kota Blitar pada bulan Maret 2014.
Berdasarkan kajian diperoleh hasil bahwa kesadaran perilaku hidup bersih masih
rendah, sehingga dengan gerakan ini diharapkan masyarakat dapat melakukan
pemantauan jentik berkala sehingga upaya penanggulangan DBD lebih intensif
dilakukan setiap bulannya.
b. Adanya Pemantau jentik anak sekolah di tiap sekolah.
c. Fogging sekali dalam setahun di tempat umum pada waktu sebelum musim masa
penularan.
d. Membagikan bubuk abate di tiap KK yang mempunyai penampungan/ bak air
yang tidak memungkinkan bisa dikuras satu minggu sekali.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 33


Gambar 3.11 Kegiatan Refreshing Pemantauan Jentik Berkala Bagi Kader Kesehatan

b. Malaria
Malaria adalah penyakit yang disebabkan parasit Plasmodium yang menyerang
sel darah merah, ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Sampai saat ini penyakit
malaria masih merupakan ancaman di Indonesia dengan angka kesakitan dan kematian
yang cukup tinggi serta sering menimbulkan KLB. Penyakit Malaria menyebar cukup
merata di Indonesia, terutama diluar wilayah Jawa-Bali. Berasarkan hasil riskesdas tahun
2010, kasus baru dan prevalensi Malaria cukup tinggi terutama di Indonesia Timur. Di
Kota Blitar beberapa tahun terakhir ini kasus Malaria tidak ditemukan.
c. Filariasis (Penyakit Kaki Gajah)
Penyakit Filariasis adalah penyakit menular kronid yang disebabkan cacing filarial
yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening serta merusak system limfe. Penyakit
filariasis menimbulkan pembengkakan tangan, kaki, granula dan scrotum. Menyebabkan
kecacatan seumur hidup serta dampak sosial bagi penderita dan keluarganya. Sudah 3
tahun terakhir ini kasus filariasis di Kota Blitar tidak ditemukan lagi.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 34


3.3.4 Penyakit Degeneratif
Penyakit degeneratif adalah penyakit akibat penurunan fungsi organ/ alat tubuh. Tubuh
mengalami defisiensi produksi enzim dan hormon, imunodefisiensi, peroksida lipid,
kerusakan sel (DNA), pembuluh darah, jaringan protein & kulit ( ketuaan ).
Penyakit yang termasuk dalam kelompok ini adalah Diabetes Melitus Type II, Stroke,
Hipertensi, Penyakit Kardiovaskular, Dislipidemia, dsb. Penyakit Degeneratif yang paling
sering menyertai Obesitas adalah Diabetes melitus Type II, Hipertensi dan
Hiperkolesterolemia (Dislipidemia).
Faktor penyebab penyakit degeneratif yaitu :
1. Gaya hidup tidak sehat :
o Kurang olah raga
o Merokok
o Alkoholic (pecandu alkohol)
o Narkoba
o Workaholic (gila kerja)
o Stres psikologis (tekanan batin)
2. Konsumsi lemak jenuh (kolesterol), gula murni berlebihan & kurang serat
3. Obesitas/ kegemukan
4. Paparan zat kimia (plastik, Pb, Ar, Hg, zat warna pakaian, asam borak, formalin,
dll)
5. Makanan teroksidasi (minyak jlantah, pemanasan minyak dengan suhu tinggi,
daging bakar/ panggang)
6. Makanan kaleng, penambah rasa (MSG)
7. Radikal bebas (polusi udara dari asap motor/ mobil, asap pabrik, asap rokok)
8. Sinar matahari (jam 09.00 - 15.00 WIB), pengobatan dengan sinar ultra violet
jangka panjang.
Saat ini, Indonesia mengalami masa transisi dari negara agraris ke negara industri.
Perubahan ini membawa perubahan budaya dan gaya hidup. Konsekuensi lebih lanjut,
Indonesia mengalami transisi morbiditas dari penyakit menular ke penyakit degeneratif.
Transisi morbiditas, merupakan tahap yang dikenal dengan double burden atau
beban ganda, artinya di satu sisi Indonesia masih diliputi dengan masalah jumlah
penyakit menular yang tinggi, di sisi lain juga mengalami peningkatan jumlah penyakit
degeneratif seperti penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular. Menurut data terkini,
pada populasi perkotaan, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama.
Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 35
Hipertensi menjadi salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai dokter dalam
praktik.
Dengan perubahan pola morbiditas ini, upaya memperkuat peran dokter dalam
menghadapi peningkatan penyakit degenatif ini harus dilakukan, terutama pada perawatan
primer di tingkat komunitas. Memperkuat peran dokter umum dalam bidang penyakit
degeneratif dapat dilakukan dengan menyediakan pelatihan tambahan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mendiagnosis dan melakukan
tata laksana penyakit degeneratif ini sedini mungkin. Dokter umum harus bekerjasama
dengan dokter spesialis untuk melakukan sistem rujukan dua arah. Meningkatkan peran
dokter umum ini sejalan dengan upaya meningkatkan peran mereka menjadi dokter
keluarga sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan nasional.

Gambar 3.12 Kegiatan Posbindu di Acara Car Free Day

Berikut beberapa ulasan tentang penyakit degeneratif :


a. Hipertensi/ Tekanan darah
Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Betapa
tidak, hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan
primer kesehatan. Hal itu merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi,
yaitu sebesar 25,8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Di samping itu, pengontrolan
hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak tersedia.
Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah
sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua
kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang.
Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 36


menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner)
dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan
yang memadai. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol dan
jumlahnya terus meningkat. Oleh karena itu, partisipasi semua pihak, baik dokter dari
berbagai bidang peminatan hipertensi, pemerintah, swasta maupun masyarakat diperlukan
agar hipertensi dapat dikendalikan.
Dari hasil pengukuran tekanan darah di Puskesmas Kota Blitar tahun 2014 pada
1002 jiwa yang berumur 18 tahun diketahui 235 jiwa (23,45%) mengalami hipertensi/
tekanan darah tinggi.

Grafik 3.15 Pengukuran Tekanan Darah Menurut Jenis Kelamin


di Kota Blitar Tahun 2014

1200
1002
1000

800
628

600
374
400
235
157
200 78
20.86 25 23.45

0
Laki-laki Perempuan Kota
Jumlah yang diukur Jumlah yang Hipertensi
% Hipertensi
Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

b. Obesitas
Overweight dan Obesitas adalah suatu kondisi kronik yang sangat erat
hubungannya dengan peningkatan resiko sejumlah penyakit Degeneratif.
Menurut data yang diperoleh dari Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes tahun 1997,
sebanyak 12,8% pria dewasa mengalami Overweight dan sebanyak 2,5% mengalami
Obesitas. Sedangkan pada wanita angka ini menjadi lebih besar lagi yaitu 20% dan 5,9%.
Dari perkiraan 210 juta penduduk Indonesia tahun 2000 jumlah penduduk yang
overweight diperkirakan mencapai 36,7 juta (17.5%) dan pasien obesitas berjumlah lebih
dari 9.8 juta (4.7%). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Overweight dan

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 37


Obesitas di Indonesia telah menjadi masalah besar yang memerlukan penanganan secara
serius.
Dari hasil pemeriksaan obesitas di Puskesmas Kota Blitar tahun 2014 pada 296
jiwa yang berumur 15 tahun diketahui 82 jiwa (27,70%) mengalami obesitas.

Grafik 3.16 Pemeriksaan Obesitas menurut Jenis Kelamin


di Kota Blitar Tahun 2014

300 296

250

200
159
137
150

82
100
57
41.61
25 27.7
50 15.72

0
Laki-laki Perempuan Kota
Jumlah yang diperiksa Jumlah yang Obese % Obese

Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

c. IVA Positif dan Tumor/ Benjolan pada Payudara Perempuan 30-50 Tahun
Menemukan penyakit lebih awal melalui deteksi dini, selain memperbesar peluang
kesembuhan penderitanya, juga merupakan upaya yang lebih murah.
Berdasarkan data Subdit Kanker Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular
(PPTM) Kemenkes RI per 20 Januari 2014, jumlah perempuan seluruh Indonesia umur
30-50 tahun adalah 36.761.000. Sejak tahun 2007-2013 deteksi dini yang telah dilakukan
sebanyak 644.951 orang (1,75%) dengan jumlah Inspeksi Visual dengan Asam Asetat 3-
5% (IVA) positif berjumlah 28.850 orang (4,47%). Dari data tersebut, suspect kanker
leher rahim sebanyak 840 orang (1,3 per 1000 penduduk) dan suspect benjolan (tumor)
payudara 1.682 orang (2,6 per 1000 penduduk).
Terdapat banyak hal yang dapat mempengaruhi rendahnya capaian deteksi dini
kanker leher rahim dan payudara. Mulai dari masih rendahnya kesadaran dan
pengetahuan masyarakat mengenai penyakit kanker, ketakutan para wanita terhadap
pemeriksaan, belum adanya program deteksi dini massal yang terorganisasi secara

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 38


maksimal, sulitnya suami untuk mengizinkan istrinya menjalani pemeriksaan, serta faktor
sosial kultur di masyarakat, seperti mitos ataupun kepercayaan terhadap pengobatan
tradisional yang belum terbukti secara ilmiah.
Dari hasil pemeriksaan leher rahim dan payudara di Puskesmas Kota Blitar tahun
2014 pada 840 perempuan usia 30-50 tahun tidak terdapat IVA Positif dan tumor/
benjolan pada payudara.

Grafik 3.17 Cakupan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara
di Kota Blitar Tahun 2014

900 840

800
700
600
500
400
285 273 282
300
200
100 0 0 0 0 0 0 0
0
0
Sukorejo Kepanjenkidul Sananwetan Kota
Jumlah yang Diperiksa IVA Positif Tumor/Benjolan

Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

3.3.5 Kelurahan yang terkena KLB dan Ditangani <24 jam


Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau
kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu
tertentu.
Pada tahun 2014 telah terjadi 2 jenis KLB di Kota Blitar yakni difteri (16
penderita), AFP (5 penderita) dengan jumlah penduduk terancam untuk difteri sebesar
695 jiwa, AFP sebesar 350 jiwa.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 39


Grafik 3.18 Jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kelurahan yang ditangani < 24 Jam
Menurut Kecamatan di Kota Blitar Tahun 2014

120

100

80

60

40
21
21
20 10 88
10
33
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota

Jumlah Kasus Kasus Ditangani <24 Jam

Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 40


BAB 4
SITUASI UPAYA KESEHATAN
PENUTUP
Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perlu dilakukan upaya
pelayanan kesehatan yang melibatkan masyarakat sebagai individu dan masyarakat
sebagai bagian dari kelompok atau komunitas. Upaya kesehatan mencakup upaya-upaya
pelayanan kesehatan, promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan
penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan dan
penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pengamanan sediaan farmasi dan
alat kesehatan, penanggulangan bencana dan sebagainya. Upaya kesehatan di Kota Blitar
tergambar dalam uraian di bawah ini :
4.1 PELAYANAN KESEHATAN DASAR
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pelayanan kesehatan dasar yang cepat,
tepat dan efektif diharapkan dapat mengatasi sebagian masalah kesehatan masyarakat.
Pada uraian berikut dijelaskan jenis pelayanan kesehatan dasar yang diselenggarakan di
sarana pelayanan kesehatan.
4.1.1 Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanatkan bahwa
upaya kesehatan ibu ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan
generasi yang sehat dan berkualitas, serta dapat mengurangi angka kematian ibu sebagai
salah satu indikator Renstra dan MDGs. Upaya kesehatan ibu sebagaimana dimaksud
pada Undang-Undang tersebut meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
Kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan kegiatan prioritas mengingat
terdapat indikator dampak, yaitu Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) yang merupakan indikator keberhasilan pembangunan daerah, khususnya
pembangunan kesehatan. Indikator ini juga digunakan sebagai salah satu pertimbangan
dalam menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Kondisi pertumbuhan anak sudah mulai ditentukan sejak di dalam kandungan ibu,
sehingga perlu ada upaya pemantauan yang teratur guna mencegah kondisi yang tidak
diinginkan baik selama masa kehamilan, persalinan dan nifas. Kondisi yang tidak
dinginkan dapat berdampak kematian pada ibu dan anak. Oleh karena itu dilakukan
beberapa jenis pelayanan yang diberikan.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 41


Untuk melihat kinerja kesehatan ibu dan anak, maka perlu untuk melihat secara
keseluruhan indikator kesehatan ibu dan anak, yaitu :
a. Pelayanan Antenatal (Antenatal Care/ ANC)
Pelayanan Antenatal (ANC) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
tenaga kesehatan profesional sebagai contoh dokter spesialis kandungan dan kebidanan,
dokter umum, bidan dan perawat. Pelayanan kesehatan yang diberikan antara lain
mengukur berat badan dan tekanan darah, pemeriksaan tinggi fundus uteri, imunisasi
tetanus toxoid (TT) serta pemberian tablet besi kepada ibu hamil selama kehamilan sesuai
pedoman pelayanan antenatal. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat melalui cakupan
pelayanan K1 dan K4.
Cakupan kunjungan K1 adalah Cakupan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan
antenatal sesuai standar yang pertama kali pada masa kehamilan di satu wilayah kerja
pada kurun waktu tertentu. Sedangkan cakupan kunjungan K4 adalah ibu hamil yang
mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan
distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan
pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan.
Pelayanan yang mencakup minimal : (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan, (2) Ukur
tekanan darah, (3) Nilai status gizi (ukur lingan lengan atas), (4) (ukur) tinggi fundus
uteri, (5) Tentukan presentasi janin & denyut jantung janin(DJJ), (6) Skrining status
imunisasi tetanus (dan pemberian Tetanus Toksoid) ,(7) Pemberian tablet besi (90 tablet
selama kehamilan), (8) Test laboratorium sederhana (Hb, Protein urin) dan atau
berdasarkan indikasi (HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC),(9) Tata laksana kasus, (10)
temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling.
Cakupan kunjungan ibu hamil K1 pada tahun 2014 adalah 87,96% apabila di
bandingkan capaian pada tahun 2013 adalah 81,30% maka ada kenaikan capaian.
Cakupan kunjungan ibu hamil K4 pada tahun 2014 sebesar 78,59%, sedangkan pada
tahun 2013 adalah 71,41%. Dari ketiga UPTD Puskesmas Kecamatan yang ada di Kota
Blitar, UPTD Puskesmas Kecamatan Sananwetan yang paling tinggi tingkat
pencapaiannya.
Apabila melihat target K4 SPM nasional tahun 2014 adalah 94% dan diakhir 2015
sebesar 95%, maka hasil capaian saat ini belum mendekati target nasional. Hal ini
dikarenakan data ibu hamil yang melakukan ANC di pelayanan kesehatan swasta belum
bisa terakses oleh bidan wilayah sehingga mempengaruhi capaian K1 dan K4. Oleh
karena itu diperlukan pemantauan pelaporan secara rutin terutama klinik persalinan,

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 42


dokter swasta dan pelayanan kesehatan lainnya, dan dengan adanya dana Jaminan
Kesehatan diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk mengakses sarana
kesehatan.
Cakupan K1 dan K4 per Kecamatan dapat dilihat pada grafik berikut :

Grafik 4.1 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil Menurut Kecamatan


di Kota Blitar Tahun 2014

95.92 93.84 87.96


100 88.19
82.6
74.81 78.59
80 65.19

60

40

20

0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota

K1 K4

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Grafik 4.2 Perkembangan Persentase Cakupan Pelayanan Ibu Hamil K1


di Kota Blitar Tahun 2011-2014

100 93.9
87.96
90 79.99 81.3
80
70
60
50
40
30
20
10
0
2011 2012 2013 2014
K1

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 43


Grafik 4.3 Perkembangan Persentase Cakupan Pelayanan Ibu Hamil K4
di Kota Blitar Tahun 2011-2014

100
90 87.75
78.59
80 73.53
70
60 71.41
50
40
30
20
10
0
2011 2012 2013 2014
K4

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Akan tetapi yang menimbulkan masalah adalah masih adanya kesenjangan antara
cakupan kunjungan K1 dan cakupan kunjungan K4. Berikut ini gambaran kesenjangan
kunjungan K1 dan K4 selama 5 tahun terakhir:

Grafik 4.4 Jumlah Kunjungan K1 dan K4


di Kota Blitar Tahun 2010-2014

2400
2280
2141 2155 2103 2121
2200 1963 2037
1900 1933 1863
2000
1800
1600
1400
1200
1000
800
600
400
200
0
2010 2011 2012 2013 2014
K1 K4

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 44


Kesenjangan cakupan kunjungan K1 dan K4 menggambarkan banyak ibu hamil
melakukan kunjungan antenatal pertama kali ke sarana kesehatan akan tetapi tidak
dilanjutkan pada kunjungan ke-4 atau pada triwulan ke-3, sehingga dikhawatirkan
terlepas dari pemantauan petugas kesehatan. Hal ini yang menyebabkan petugas
kesehatan tidak dapat mencegah kondisi yang seharusnya dapat dicegah, sebagai contoh
kematian ibu bersalin yang tidak perlu terjadi apabila kondisi kehamilannya terpantau
sebelumnya. Namun kesenjangan K1 dan K4 masih pada batas toleransi yang
diperkenankan yaitu 10%, dikarenakan kemungkinan mutasi penduduk. Atau bisa juga
dikarenakan kunjungan ke 4 ibu hamil dilakukan pada tahun berikutnya.
b. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Linakes)
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah cakupan ibu
bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Grafik 4.5 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan


Menurut Kecamatan Tahun 2014

92.88 89.26
100 87.27
90 79.72
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Target SPM untuk Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi kebidanan pada tahun 2014 sebesar 95%. Pada tahun 2014 capaian
cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan adalah 87,27 %, sedangkan
capaian pada tahun 2013 Kota Blitar adalah 81,53 %. Kesenjangan antara capaian K4 dan

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 45


capaian cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan bisa terjadi diantaranya
karena perbedaan ibu hamil mendapatkan tempat pelayanan kesehatan, dan beberapa
Rumah Sakit belum melaporkan cakupan pelayanan ibu hamil, bersalin dan nifas secara
tertib serta tepat waktu. Diharapkan kedepan seluruh pertolongan persalinan dilakukan
oleh tenaga kesehatan sehingga dapat mengurangi resiko akibat persalinan. Berikut ini
gambaran peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dalam kurun waktu
5 tahun terakhir.

Grafik 4.6 Persentase Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan


di Kota Blitar Tahun 2010-2014

95.03 95.62
100 87.27
82.46 81.53
80
60

40
20
0
2010 2011 2012 2013 2014
Linakes

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

c. Pelayanan Nifas
Pelayanan nifas sesuai standar adalah pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya 3
kali, (kunjungan nifas ke-1) pada 6 jam pasca persalinan s.d 3 hari, kunjungan nifas ke-2
hari ke-4 sampai dengan hari ke 28 setelah persalinan, kunjungan nifas ke-3 hari ke-29
sampai dengan hari ke-42 setelah persalinan termasuk pemberian vitamin A sejumlah 2
kali serta persiapan dan/atau pemasangan KB pasca persalinan. Target SPM untuk
Cakupan pelayanan nifas tahun 2014 sebesar 95%. Capaian Cakupan pelayanan nifas
pada tahun 2014 sejumlah 86,50%, meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2013
sejumlah 81,12%. Berikut ini gambaran cakupan pelayanan nifas di setiap kecamatan
Kota Blitar.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 46


Grafik 4.7 Cakupan Pelayanan Ibu Nifas Menurut Kecamatan
di Kota Blitar Tahun 2014

100 92.44 88.5 89.11


86.82 86.5 85.69
79.95 79.95
80

60

40

20

0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota
Cakupan Pelayanan Nifas Cakupan Bufas dapat Vit A

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

d. Ibu Hamil dengan Risti/ Komplikasi Kebidanan yang ditangani


Yang dimaksud dengan komplikasi kebidanan adalah kesakitan pada ibu hamil,
ibu bersalin, ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. Sedangkan
komplikasi kebidanan yang ditangani adalah ibu hamil, bersalin dan nifas dengan
komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan
rujukan (Polindes, Puskesmas, Puskesmas PONED, Rumah bersalin, RSIA/RSB, RSU,
RSU PONEK).
Pada tahun 2014 di Kota Blitar cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
sebesar 95,9% sedikit turun jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2013 sebesar
96,21%, namun sudah mencapai target SPM sebesar 80 %.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 47


Grafik 4.8 Perkembangan Cakupan Komplikasi Kebidanan Ditangani
Kota Blitar Tahun 2010-2014

120
100 95.9
80 96.21
60 79.31

40
20
20.4 27.4
0
2010 2011 2012 2013 2014

Cakupan Komplikasi Kebidanan


Ditangani
Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Diharapkan segala bentuk komplikasi kebidanan dapat ditangani oleh tenaga


kesehatan yang berkompeten agar dapat mengurangi resiko meninggal dunia sehingga
dapat menekan AKI (Angka Kematian Ibu).

e. Pelayanan Kesehatan Neonatus


Dalam upaya mengurangi resiko pada neonatus karena kondisi bayi kurang dari 1
bulan sangat rentan, maka perlu adanya pelayanan neonatus. Yang dimaksud pelayanan
kesehatan neonatal dasar meliputi IMD (inisiasi menyusu dini), ASI Ekslusif, pencegahan
infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, pemberian vitamin K1 injeksi bila tidak
diberikan pada saat lahir, pemberian imunisasi hepatitis B-0 bila tidak diberikan pada
saat lahir, dan manajemen terpadu bayi muda. Dilakukan sesuai standar sedikitnya 3 kali,
pada 6-24 jam setelah lahir, pada 3-7 hari dan pada -28 hari setelah lahir yang dilakukan
di fasilitas kesehatan maupun kunjungan rumah. Berikut ini jumlah kunjungan KN
lengkap di tiap-tiap kecamatan di Kota Blitar tahun 2014.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 48


Grafik 4.9 Cakupan KN Lengkap menurut Kecamatan
di Kota Blitar Tahun 2014

91.2 95.7 91.1


100 87.5
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota
Cakupan KN Lengkap

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Grafik 4.10 Perkembangan Persentase Cakupan KN Lengkap menurut Kecamatan


Kota Blitar Tahun 2011-2014

100 91.1
83.92 82.36
80 78.19

60

40

20

0
2011 2012 2013 2014
Cakupan KN Lengkap

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

f. Neonatal dengan Risti/ Komplikasi yang Ditangani


Neonatus komplikasi adalah kondisi neonatus dengan penyakit dan kelainan yang
dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan, dan kematian. Neonatus dengan komplikasi
seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir,

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 49


BBLR (berat badan lahir rendah < 2500 gr ), sindroma gangguan pernafasan, kelainan
kongenital. Sedangkan yang dimaksud dengan neonatus dengan komplikasi yang
ditangani adalah neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan
yang terlatih, dokter, dan bidan di sarana pelayanan kesehatan.
Pada tahun 2014 di Kota Blitar cakupan neonatus dengan komplikasi yang
ditangani mencapai 84,53%, sedangkan pada tahun 2013 sebesar 83,94%. Hal ini berarti
sudah memenuhi target SPM untuk Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani
tahun 2014 sebesar 80%. Dengan tertanganinya kasus neonatus komplikasi oleh tenaga
kesehatan yang berkompeten diharapkan dapat menekan resiko kesakitan, kecacatan dan
kematian pada neonatus.

Grafik 4.11 Cakupan Neonatal Komplikasi Ditangani Menurut Kecamatan


di Kota Blitar Tahun 2014

140 126.93
120
100 84.59
73.59
80 65.24
60
40
20
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota
Komplikasi Ditangani

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 50


Grafik 4.12 Perkembangan Persentase Cakupan Neonatal Komplikasi Ditangani
Kota Blitar Tahun 2011-2014

100
87.02 83.94 84.59
80 72.44

60

40

20

0
2011 2012 2013 2014
Komplikasi Ditangani

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

g. Pelayanan Kesehatan Bayi


Yang dimaksud dengan Pelayanan Kesehatan Bayi adalah kunjungan bayi umur
29 hari sampai dengan 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, pustu,
puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit) maupun di rumah, posyandu, tempat
penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas. Setiap bayi
memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu satu kali pada umur 29 hari-3
bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan, dan 1 kali pada umur 9-11
bulan. Pelayanan Kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/
HB1-3, Polio 1-4, Campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK)
bayi dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Penyuluhan perawatan kesehatan bayi
meliputi : konseling ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI sejak usia 6
bulan, perawatan dan tanda bahaya bayi sakit (sesuai MTBS), pemantauan pertumbuhan
dan pemberian vitamin A kapsul biru pada usia 6 11 bulan.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 51


Grafik 4.13 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi menurut Kecamatan
di Kota Blitar Tahun 2014

100 86.8
85.6 80.9
90
80 73.2
70
60
50
40
30
20
10
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota
Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Pentingnya pemberian pelayanan kesehatan pada bayi diharapkan dapat menekan


laju Angka Kematian Bayi (AKB) di Kota Blitar, serta untuk memantau tumbuh kembang
bayi sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan bayi. Berikut ini gambaran cakupan
kunjungan bayi selama 5 tahun terakhir.

Grafik 4.14 Persentase Pelayanan Kesehatan Bayi


Kota Blitar Tahun 2010-2014

100
86.28 83.92 82.4 80.95
80

60 70.32

40

20

0
2010 2011 2012 2013 2014
Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 52


Pada tahun 2014 Cakupan kunjungan bayi/ Pelayanan kesehatan bayi belum
memenuhi target SPM sebesar 90%. Pelayanan bayi memiliki beberapa indikator yang
harus dipenuhi, sehingga bila salah satu indikator tidak tercapai atau terlayani, maka
pelayanan tersebut belum bisa tercatat sebagai pelayanan bayi paripurna. Oleh karena itu,
hal tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih mengingat bayi merupakan usia rentan
terhadap penyakit, dan pelayanan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk mencegah
dan mengurangi penurunan kualitas pertumbuhan bayi.

4.1.2 Pelayanan Keluarga Berencana (KB)


Awal gerakan Keluarga Berencana di Indonesia pada tanggal 23 Desember 1957
dibentuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia yang dipelopori oleh Dokter dan
tokoh perempuan yang bercita-cita untuk menyelematkan jiwa kaum ibu yang sering
mengalami berbagai gangguan kesehatan sampai meninggal, karena terlalu sering
melahirkan dalam jarak amat dekat. Baru pada tahun 1971 gerakan KB secara resmi
diambil alih pemerintah dengan dibentuknya Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) yang bertujuan menurunkan laju pertumbuhan penduduk. (Sumber:
Kompas, Sabtu 19 Januari 2008 oleh Kartono Mohamad).
Yang menjadi prioritas sasaran program pelayanan KB adalah wanita usia subur
dan pasangannya (PUS) dikarenakan wanita usia subur memiliki peran penting terjadinya
kehamilan sehingga memiliki peluang lebih tinggi untuk melahirkan.
Jumlah PUS di Kota Blitar pada tahun 2014 sebesar 23.281 orang. Dari jumlah
PUS yang ada sebesar 1.460 orang (6,27%) merupakan peserta KB baru dan yang
menjadi peserta KB aktif sebesar 16.322 orang (70,11%). Untuk metode kontrasepsi
jangka panjang (MKJP) kontrasepsi yang paling banyak dipilih adalah IUD sebesar
32,56%, sedangkan untuk non MKJP kontrasepsi yang banyak dipilih adalah suntik
sebesar 37,25%. Berikut ini gambaran pemilihan kontrasepsi baik MKJP dan non MKJP
bagi peserta KB baru.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 53


Grafik 4.15 Cakupan Peserta KB Aktif dan Baru
Menurut Kecamatan di Kota Blitar Tahun 2014

100
90
80 69.8 69.4 71.2 70.1
70
60
50
40
30
20 9.1 5.6 6.3
3.8
10
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota
Cakupan Peserta KB Aktif Cakupan Peserta KB Baru

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Grafik 4.16 Proporsi Peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi


Di Kota Blitar Tahun 2014

7000
6080
6000 5314

5000

4000

3000 2597

2000 1372

1000 712
82 165 0
0
IUD MOP MOW Implan Suntik Pil Kondom Lainnya

Jumlah Peserta
Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 54


Gambar 4.1 Kegiatan Penatalaksanaan Kontrasepsi

4.1.3 Pelayanan Imunisasi


Pelayanan imunisasi merupakan bagian dari upaya pencegahan dan pemutusan
mata rantai penularan pada Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).
Indikator yang digunakan untuk menilai program imunisasi adalah angka UCI (Universal
Child Immunization). Pada awalnya UCI dijabarkan sebagai tercapainya cakupan
imunisasi lengkap minimal 80% untuk tiga jenis antigen yaitu DPT3, Polio dan Campak.
Namun sejak tahun 2003 indikator perhitungan UCI sudah mencakup semua jenis
antigen, yakni BCG satu kali, DPT tiga kali, HB tiga kali, Polio empat kali dan Campak
satu kali. Adapun sasaran program imunisasi adalah bayi (0-11 bulan), ibu hamil, Wanita
Usia Subur (WUS) dan murid SD. Upaya peningkatan kualitas imunisasi dilaksanakan
melalui kampanye, peningkatan skill petugas imunisasi, kualitas penyimpanan vaksin dan
sweeping sasaran.
Cakupan kelurahan UCI di Kota Blitar pada tahun 2014 terjadi penurunan dari
100% pada tahun 2013 menjadi 90,48% (dua kelurahan belum UCI) pada tahun 2014.
Hanya di Kecamatan Sananwetan yang kelurahannya telah UCI 100%. Masalah yang
ditemui adalah jumlah bayi riil yang lebih rendah daripada jumlah bayi berdasarkan
proyeksi penduduk, dan masih kurangnya pemahaman konsep wilayah oleh bidan
wilayah sehingga mempengaruhi cakupan UCI. Sebagai salah satu upaya untuk
memperbaiki capaian UCI adalah dengan melakukan pembimbingan dan monitoring pada
tiap kelurahan terutama pada petugas yang baru. Adapun trend capaian kelurahan UCI
dari tahun 2010-2014 disajikan pada gambar berikut ini.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 55


Grafik 4.17 Persentase Desa/Kelurahan UCI
di Kota Blitar Tahun 2010-2014
100
90 100 100
80 95.24 90.48
70 80.95
60
50
40
30
20
10
0
2010 2011 2012 2013 2014
Cakupan Kelurahan UCI

Sumber : Seksi P4, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Sedangkan gambaran pelaksanaan imunisasi dasar lengkap pada bayi disajikan pada
grafik berikut :

Grafik 4.18 Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi menurut Kecamatan
di Kota Blitar Tahun 2014

100
103.57 93.48 89.07 96.34
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota
Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 56


4.1.4 Pelayanan Kesehatan Anak Balita, Pra Sekolah, dan Sekolah
Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan setiap anak usia 12-59 bulan
dilaksanakan melalui pelayanan SDIDTK minimal 2 kali pertahun (setiap 6 bulan) dan
tercatat pada Kohort Anak Balita dan Prasekolah atau pencatatan pelaporan lainnya.
Pelayanan SDIDTK dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, ahli gizi, penyuluh kesehatan
masyarakat dan petugas sektor lain yang dalam menjalankan tugasnya melakukan
stimulasi dan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang anak.
Pada tahun 2014 jumlah anak balita yang mendapatkan pelayanan kesehatan
minimal delapan kali sejumlah 5.459 anak atau 60,37% dari jumlah anak balita yang ada.
Capaian ini belum memenuhi target SPM pada tahun 2014 sebesar 87%. Pelayanan anak
balita memiliki beberapa indikator yang harus dipenuhi, sehingga bila salah satu indikator
tidak tercapai atau terlayani, maka pelayanan kesehatan anak balita belum bisa tercatat
sebagai pelayanan anak balita paripurna. Diharapkan untuk kedepannya ada peningkatan
jumlah anak balita yang mendapatkan pelayanan, tidak hanya mengembangkan inovasi
dari sisi petugas akan tetapi juga meningkatkan peran aktif masyarakat untuk peduli
terhadap tumbuh kembang anak balitanya.

Grafik 4.19 Cakupan Pelayanan Anak Balita


di Kota Blitar Tahun 2011 2014
100
90
80
70
60 60.37
50 65.76
40 56.9
49.37
30
20
10
0
2011 2012 2013 2014
Cakupan Pelayanan Anak Balita

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Yang dimaksud dengan cakupan penjaringan siswa SD dan setingkat adalah


pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan setingkat melalui
penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah yang
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama tenaga kesehatan terlatih (guru dan dokter
kecil) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pada tahun 2014 cakupan

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 57


penjaringan siswa SD dan setingkat sebesar 100%, artinya semua siswa SD dan setingkat
telah mendapat pelayanan kesehatan.
4.1.5 Pelayanan Kesehatan Usila (Usia Lanjut)
Pelayanan usia lanjut adalah Pelayanan kesehatan sesuai standar yang ada pada
pedoman pada usia lanjut (60 tahun ke atas), di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu. Hal ini merupakan salah satu upaya preventif dan promotif kepada masyarakat
usia lanjut untuk menjaga kebugaran dan kesehatannya, dikarenakan pada usia lanjut
merupakan usia rentan penyakit terutama penyakit degeneratif . Pada tahun 2014 cakupan
pelayanan kesehatan pra usila dan usila mencapai 81,26%. Berikut ini gambaran
peningkatan cakupan pelayanan kesehatan usila selama 5 tahun terakhir.

Grafik 4.20 Cakupan Pelayanan Kesehatan Usila


di Kota Blitar Tahun 2010-2014

100
90 81.26
80 74.29 74.87
70.43
70 62.47
60
50
40
30
20
10
0
2010 2011 2012 2013 2014
Cakupan Pelayanan Kesehatan

Sumber : Seksi Kes ARU dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Pada grafik diatas terlihat adanya peningkatan cakupan pelayanan kesehatan pada
usila, diharapkan untuk kedepannya posyandu lansia dapat lebih optimal dalam
memberikan pelayanan kesehatan dan juga masyarakat usila dapat lebih aktif untuk
memeriksakan diri ke posyandu lansia.
4.1.6 Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
Menanamkan kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini sangatlah
penting, hal ini dikarenakan kesehatan gigi dan mulut berdampak pada pertumbuhan dan
perkembangan anak. Upaya promotif dan preventif perlu selalu digalakkan mengingat
pola pikir masyarakat kita masih mengganggap permasalahan kesehatan gigi bukan

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 58


termasuk permasalahan kesehatan yang sifatnya penting. Pada tahun 2014 telah dilakukan
pemeriksaan gigi dan mulut pada siswa SD dan setingkat sejumlah 2.532 anak atau
17,42% dari jumlah siswa SD dan setingkat di Kota Blitar.

Grafik 4.21 Jumlah Murid SD/MI yang Mendapat Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
Menurut Kecamatan di Kota Blitar Tahun 2014

2600
2532
2400
2200
2000
1800
1600 1394
1400
1200 900
1000
800
600
400
238
200
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota
Murid SD/MI diperiksa

Sumber : Seksi Kesga dan Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

4.1.7 Kunjungan Pelayanan Kesehatan Dasar


Sebagian besar sarana pelayanan di Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan
pelayanan kesehatan dasar bagi penderita melalui pelayanan rawat jalan dan rawat inap
bagi Puskesmas dengan tempat tidur (Puskesmas Perawatan). Sementara rumah sakit
yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas merupakan sarana rujukan bagi Puskesmas
terhadap kasus-kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut melalui perawatan
rawat inap, disamping tetap menyediakan pelayanan rawat jalan bagi masyarakat yang
langsung datang ke Rumah Sakit.
Angka Perbandingan pemanfaatan Puskesmas oleh masyarakat dalam mencari
pertolongan kesehatan pada tahun 2012 sampai dengan 2014 terlihat pada grafik di
bawah ini.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 59


Grafik 4.22 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan dan Rawat Inap di Puskesmas
di Kota Blitar Tahun 2012-2014

250000 216547
207221
200000 185498

150000

100000

50000
1148 1314
1124
0
2012 2013 2014
Kunjungan Rawat Jalan Kunjungan Rawat Inap

Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus


Dinas Kesehatan Kota Blitar

Berdasarkan angka di atas, menyebutkan bahwa terjadi penurunan kunjungan


rawat jalan maupun rawat inap ke Puskesmas, dari tahun 2013 ke 2014 adalah kunjungan
rawat jalan turun sebesar 31.049 jiwa dan kunjungan rawat inap turun sebesar 190 jiwa.
Hal ini menunjukkan keberhasilan Dinas Kesehatan dan Puskesmas dalam melakukan
upaya promosi dan preventif kesehatan. Selain hal tersebut, Puskesmas juga diharapkan
semakin berusaha memberikan pelayanan yang berkualitas, antara lain dengan memenuhi
standar input, proses maupun output. Standar input yang harus ada di Puskesmas adalah
SDM yang mempunyai kompetensi, sarana prasarana yang memenuhi standar serta sistem
manajemen yang memenuhi standar. Sedangkan standar proses adalah setiap pelayanan
harus mempunyai SOP di masing-masing pelayanan. Standar outputnya adalah hasil
capaian kinerja dari 6 (enam) upaya pokok dan upaya pengembangan. Hal tersebut dapat
memberikan kepercayaan bagi masyarakat untuk berkunjung ke Puskesmas.

4.2 AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN


4.2.1 Pelayanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi
kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2004 tentang SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional / suatu tata cara

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 60


penyelenggaraan program jaminan social) oleh beberapa badan penyelenggara jaminan
sosial.dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak
yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar
oleh Pemerintah.
Tahun 2019 mendatang, ditargetkan 100% penduduk Indonesia sudah menjadi peserta
JKN/KIS, sehingga universal health coverage (UHC) diharapkan dapat tercapai.
Dari data yang masuk ke Dinas Kesehatan Kota Blitar diketahui bahwa Penduduk yang
menerima bantuan iuran APBN sebesar 25.226 jiwa, sedangkan yan ter cover PBI-D
sebesar 9.255 jiwa.

4.2.2. Pelayanan Kesehatan Jiwa


Gubernur Jawa Timur telah mencanangkan Jawa Timur Bebas Pasung 2014,
sedangkan di Kota Blitar masih ditemukan lima (5) orang yang masih dipasung. Upaya
yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan dalam pelayanan kesehatan jiwa adalah dengan
dibentuknya Tim Pengendali Kesehatan Jiwa Masyarakat dengan beranggotakan lintas
sektor yang di SK-kan oleh Walikota Blitar.

Gambar 4.2 Pembebasan pada Penderita Gangguan Jiwa yang Dipasung

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 61


Berikut ini merupakan gambaran kunjungan gangguan jiwa di Puskesmas Kota Blitar
Tahun 2014 :

Grafik 4.23 Kunjungan Gangguan Jiwa menurut Kecamatan


di Kota Blitar Tahun 2014

1800
1685
1600
1400
1200
1000
800 609 657
600 419
400
200
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota
Kunjungan Gangguan Jiwa

Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus


Dinas Kesehatan Kota Blitar

4.2.3.Kinerja Pelayanan Rumah Sakit


Pada tahun 2014, rumah sakit di Kota Blitar mengalami sedikit penurunan dalam
hal rata-rata pemanfaatan tempat tidur. Pada tahun 2013 rata-rata nilai Bed Occupancy
Rate (BOR) Kota Blitar adalah 67,5% , dan tahun 2014 menjadi 65,6%. Selain itu, untuk
rata-rata lama hari perawatan/ Length Of Stay (LOS) Kota Blitar juga mengalami
penurunan dari 4,2 hari pada tahun 2013 menjadi 3,6 hari pada tahun 2014.
Berikut adalah nilai indikator pemakaian tempat tidur dari rumah sakit di Kota Blitar.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 62


Tabel 4.1 Nilai Indikator Kinerja Pelayanan Rumah Sakit
Di Kota Blitar Tahun 2011-2014

Standar Kementerian
Indikator 2011 2012 2013 2014
Kesehatan RI
BOR 52,3% 53% 67,5% 65,6% 60-85%
TOI 3,2 3,1 2 1,8 1-3 hari
ALOS 3,5 3,5 4,2 3,6 6-9 hari
Kurang dari 25/1000
NDR 23 21 24 24
penderita keluar
Tidak lebih dari 45/1000
GDR 49 48 49 45
penderita keluar
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus
Dinas Kesehatan Kota Blitar

Angka pemanfaatan tempat tidur seperti di atas adalah salah satu indikator yang
mudah untuk memantau bagaimana mutu sebuah pelayanan rumah sakit. Secara umum
mutu pelayanan rumah sakit di Kota Blitar mengalami peningkatan pada tahun 2014 jika
dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya. Jumlah kunjungan pasien rawat jalan
mengalami penurunan sebesar 3.807 jiwa dari 195.819 jiwa pada tahun 2013 menjadi
195.819 jiwa pada tahun 2014. Sedangkan kunjungan pasien rawat inap mengalami
peningkatan 1.855 jiwa dari 35.412 jiwa pada tahun 2013 menjadi 37.267 jiwa pada tahun
2014.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 63


Grafik 4.24 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan dan Rawat Inap di Rumah Sakit
di Kota Blitar Tahun 2012-2014

250000 209795
195819 192012
200000

150000

100000

35412 37267
50000 29719

0
2012 2013 2014
Kunjungan Rawat Jalan Kunjungan Rawat Inap

Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus


Dinas Kesehatan Kota Blitar

4.3 PERILAKU HIDUP MASYARAKAT


Banyak penyakit yang muncul juga disebabkan karena perilaku yang tidak sehat.
Perubahan perilaku tidak mudah untuk dilakukan, namun mutlak diperlukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu, upaya promosi kesehatan harus
terus dilakukan agar masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat. Penerapan perilaku
hidup bersih dan sehat harus dimulai dari unit terkecil masyarakat yaitu rumah tangga.
Rumah Tangga ber-PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) adalah Rumah
tangga yang seluruh anggotanya berperilaku hidup bersih dan sehat, yang meliputi 10
indikator. Sepuluh indikator tersebut adalah :
1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,
2. Bayi diberi ASI eksklusif,
3. Balita ditimbang setiap bulan,
4. Menggunakan air bersih,
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun,
6. Menggunakan jamban sehat,
7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu,
8. Makan sayur dan buah setiap hari,
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 64


10. Tidak merokok di dalam rumah.

Apabila dalam Rumah Tangga tersebut tidak ada ibu yang melahirkan, tidak ada bayi dan
tidak ada balita, maka pengertian Rumah Tangga ber-PHBS adalah rumah tangga yang
memenuhi 7 indikator.
Pada tahun 2014 rumah tangga ber-PHBS masih mencapai 40,39 % dari 24,78%
jumlah keseluruhan rumah tangga yang dipantau. Angka rumah tangga yang ber-PHBS
ini mengalami peningkatan dari 38,65 % pada tahun 2013. Dari hasil survey PHBS
prioritas masalahnya adalah merokok di dalam rumah dan bayi tidak diberi ASI
Eksklusif.

4.4 PELAYANAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR


4.4.1 Rumah Sehat
Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan
yaitu rumah yang memiliki jamban sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah,
sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang
sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah (Kepmenkes no.
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan).
Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit
berbasis lingkungan, dimana kecenderungannya semakin meningkat akhir-akhir ini,
penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia.
Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan
menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Keadaan
tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan
lingkungan (Data Susenas 2001).
Dari sejumlah 35.138 rumah yang dibina dan diperiksa pada tahun 2013 dan
2014, sebesar 13.110 (37,31%) rumah memenuhi syarat rumah sehat.
4.4.2 Sarana Air Bersih dan Air Minum
Air bersih dan air layak minum atau air minum sehat adalah dua hal yang tidak
sama tetapi sering dipertukarkan. Tidak semua air bersih layak minum, tetapi air layak
minum biasanya berasal dari air bersih. Air bersih perlu diolah dahulu agar layak minum
dan menjadi air minum sehat. Pada tahun 2014 jumlah penduduk dengan akses
berkelanjutan terhadap air minum layak, baik yang bersumber dari perpipaan (PDAM)
maupun bukan jaringan perpipaan (sumur gali terlindung, sumur bor dengan pompa, mata

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 65


air terlindung) sebesar 70,10%. Sedangkan dari 23 sampel penyelenggara air minum
(PDAM) yang diperiksa, terdapat 19 sampel (82,61%) yang memenuhi syarat kesehatan
baik fisik, bakteriologi dan kimia.
4.4.3 Sarana Sanitasi Dasar
Yang menjadi bahan pemeriksaan sarana sanitasi dasar antara lain jamban, tempat
sampah dan pengelolaan air limbah. Jamban sehat adalah tempat buang air besar yang
konstruksinya memenuhi syarat-syarat kesehatan, antara lain menggunakan tangki septik,
sedangkan yang dimaksud dengan tempat sampah sehat adalah tempat pembuangan
sampah yang konstruksinya memenuhi syarat-syarat kesehatan (ketentuan program), dan
pengelolaan air limbah sehat adalah tempat pembuangan air limbah keluarga yang
konstruksinya memenuhi syarat-syarat kesehatan (ketentuan program).
Pada tahun 2014 diketahui sebanyak 131.771 (96,2%) penduduk mempuyai akses
sanitasi layak(jamban sehat).
Dalam upaya peningkatan kondisi penyehatan lingkungan dan sanitasi dasar,
maka di Kota Blitar dilaksanakan Kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
yang terdiri dari lima (5) pilar, yaitu :
1. Peningkatan Akses Jamban
2. Cuci tangan pakai sabun
3. Pengolahan air minum dan makanan skala rumah tangga
4. Pengolahan limbah skala rumah tangga
5. Pengolahan sampah skala rumah tangga
Dari 14 kelurahan yang melaksanakan STBM, masih belum ada kelurahan yang bisa
disebut sebagai kelurahan STBM.

Gambar 4.3 Kegiatan Pemicuan Masyarakat

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 66


4.4.4 Tempat Umum dan Tempat Pengelola Makanan Sehat (TUPM)
Pada tahun 2014 dari 154 tempat-tempat umum (TTU) yang tersebar di sarana
pendidikan, sarana kesehatan dan hotel di Kota Blitar terdapat 109 (70,8%) TTU yang
memenuhi syarat kesehatan. Sedangkan dari 257 tempat pengelolaan makanan (TPM)
sebesar 71 tempat (27,63%) tidak memenuhi syarat higiene sanitasi. Sebanyak 148 TPM
berhasil dibina dan 51 (19,84%) TPM diuji petik.

Gambar 4.4 Pelaksanaan Kegiatan TP2MI

4. 5 KETERSEDIAAN OBAT
Obat sebagai salah satu unsur yang penting dalam upaya kesehatan, mulai dari
upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, diagnosis, pengobatan dan pemulihan harus
diusahakan agar selalu tersedia pada saat dibutuhkan. Di samping merupakan unsur yang
penting dalam upaya kesehatan, obat sebagai produk dari industri farmasi dengan
sendirinya tidak lepas dari aspek ekonomi dan teknologi. Tekanan aspek teknologi dan
ekonomi tersebut semakin besar dengan adanya globalisasi ekonomi, namun tekanan ini
pada dasarnya dapat diperkecil sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat dapat
dipenuhi sedangkan industri farmasi dapat berkembang secara wajar. Obat juga dapat
merugikan kesehatan bila tidak memenuhi persyaratan atau bila digunakan secara tidak
tepat atau disalah-gunakan.
Ketersediaan obat merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah
terutama obat-obatan esensial. Persentase ketersediaan obat di Kota Blitar rata-rata
sebesar 228 % dari 144 jenis obat dan vaksin yang ada.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 67


4.6 PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
Masyarakat di Indonesia pada umumnya masih dihadapkan pada masalah gizi
ganda, yaitu masalah Gizi Kurang dalam bentuk : Kurang Energi Protein (KEP),
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Kurang
Vitamin A (KVA), serta masalah Gizi Lebih yang erat kaitannya dengan penyakit-
penyakit degeneratif. Berbagai upaya perbaikan gizi telah dilakukan di Kota Blitar dalam
upaya menanggulangi masalah gizi kurang tersebut, sedangkan untuk masalah gizi lebih,
masih dilakukan secara individu.
4.6.1 Kurang Energi dan Protein (KEP)
a. Angka Status Gizi Balita Berdasarkan BB/U
Prevalensi balita kurang gizi merupakan salah satu indikator MDGs dan Renstra
Propinsi Jawa Timur, diukur dari Berat Badan menurut Umur (BB/U), yakni dari angka
berat badan (BB) sangat kurang ditambah berat badan (BB) kurang. Berikut disajikan
dalam indikator antropometri Berat Badan menurut Umur (BB/U) berdasarkan hasil
penimbangan di posyandu tahun 2014 dengan jumlah balita yang ditimbang sebesar 7.801
balita dari 11.367 balita yang ada (68,63%):

Grafik 4.25 Persentase Status Gizi Balita (BB/U)


Kota Blitar Tahun 2014

0.6
2.6 1.8
BB Lebih (%)

BB Normal (%)
95

BB Kurang (%)

BB Sangat Kurang (%)

Sumber : Seksi Kes ARU dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Berdasarkan data di atas, Kota Blitar sudah berhasil mencapai angka di bawah
target MDGs (15,5%) , yakni 3,56% (BB Kurang 3,0% dan BB Sangat Kurang 0,56%).

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 68


Jika dilihat dari data balita BGM (Bawah Garis Merah) dibanding dengan balita
yang ditimbang (D), pada tahun 2014 terjadi penurunan persentase BGM dibandingkan
dengan dua tahun sebelumnya, yakni tahun 2012 sebesar 46 balita (0,62%), tahun 2013
sebesar 46 balita (0,58%) dan tahun 2014 sebesar 44 balita (0,56%). Untuk mengetahui
data BGM/ D dapat dlihat pada grafik berikut :

Grafik 4.26 Persentase BGM Dibanding Dengan Balita Yang Ditimbang


di Kota Blitar Pada Tahun 2011 2014

1.6
1.1
1.2

0.8 0.62 0.58


0.56
0.4

0
2011 2012 2013 2014
Angka BGM

Sumber : Seksi Kes ARU dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Penurunan ini menunjukkan bahwa upaya-upaya penanggulangan KEP yang


dilakukan di Kota Blitar menunjukkan hasil yang menggembirakan. Upaya tersebut
antara lain berupa Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI), Pemberian
Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P), peningkatan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi),
peningkatan cakupan ASI Eksklusif, peningkatan konseling pertumbuhan dan lainnya.
Sedangkan berdasarkan hasil penimbangan di posyandu diketahui pula pada tahun
2014 jumlah baduta yang ditimbang sebesar 3.494 dari 8.008 baduta yang ada (43,63%).
Dan yang termasuk Berat Badan Sangat Kurang atau BGM sebanyak 44 baduta (1,26%).
b. Bayi dengan Berat Lahir Rendah (BBLR)
Berat Badan Lahir Rendah (<2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang
berpengaruh terhadap kematian bayi. Kasus BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu
BBLR premature (usia kandungan < 37 minggu) dan BBLR itrauterina growth
retardation (IURG) yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang.
Kasus BBRL dengan IUGR umumnya disebabkan karena status gizi ibu hamil yang

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 69


buruk atau menderita sakit yang memperberat kehamilan. Kasus BBLR memang masih
menjadi kasus yang cukup serius.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2010 diketahui bahwa kasus BBLR mencapai
10,3% dari seluruh bayi lahir hidup dengan karakteristik bayi BBLR terbanyak yaitu
perumpuan 12%, pekerjaan orang tua Petani/Nelayan/Buruh (12,9%), pendidikan orang
tua tidak tamat SD/MI (15,1%) dan tinggal di Pedesaan (12%).
Dari laporan Kecamatan tahun 2014 diketahui jumlah bayi BBLR di Kota Blitar
mencapai 117 dari 2.154 bayi lahir hidup (5,43%). Data jumlah kasus dan persentase
BBLR menurut kecamatan disajikan pada grafik berikut :

Grafik 4.27 Jumlah Kasus dan Persentase BBLR menurut Kecamatan


di Kota Blitar Tahun 2014

117
120
100
80
60 47
32 38
40
20 5.54 4.66 6.15 5.43
0
Sananwetan Sukorejo Kepanjenkidul Kota

Jumlah Kasus Persentase

Sumber : Seksi Kesga & Kespro, Dinas Kesehatan Kota Blitar

BBLR merupakan salah satu penyebab kematian neonatal, disamping Trauma


Lahir, Infeksi, Tetanus Neonatorum (TN), Kelainan Bawaan dan lain-lain. Dan
berdasarkan Laporan Tribulan (Lb3) Kesehatan Ibu dan Anak tahun 2014, kematian bayi
yang disebabkan oleh BBLR mencapai 46,15%, dan angka ini merupakan angka tertinggi
dibandingkan penyebab lain.
c. Jumlah Kasus Gizi Buruk
Kasus Gizi Buruk dapat diperoleh dari indikator Berat Badan menurut Tinggi
Badan (BB/TB) yang masuk kategori Sangat Kurus. Data tersebut diperoleh dari laporan
masyarakat, kader posyandu, maupun kasus-kasus yang langsung dibawa ke tempat-
tempat pelayanan kesehatan yang ada seperti Puskesmas dan Rumah Sakit.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 70


Pada tahun 2014 terjadi penurunan kasus balita gizi buruk menjadi 8 kasus dari 11 kasus
pada tahun 2013. Jumlah kasus gizi buruk dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Grafik 4.28 Jumlah Kasus Gizi Buruk


Di Kota Blitar Tahun 2012 2014

12 11
10 8
8
6
4
2 0
0
2012 2013 2014
Jumlah Kasus Gizi Buruk

Sumber : Seksi Kes ARU dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Adapun rincian jumlah balita gizi buruk tahun 2014 sebagai berikut :
- Kecamatan Sananwetan : 4 orang, dengan penyebab penyakit penyerta 2 orang,
miskin 2 orang
- Kecamatan Sukorejo : 3 orang, dengan penyebab penyakit penyerta 1 orang, BBLR 1
orang, miskin 1 orang
- Kecamatan Kepanjenkidul : miskin 1 orang
Namun demikian 100% dari balita gizi buruk (sangat kurus) tersebut telah mendapat
perawatan sesuai tatalaksana gizi buruk. Intervensi yang telah dilakukan yaitu konseling
gizi dan pemberian PMT pemulihan.
Sedangkan upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya gizi buruk yaitu jika
menemukan balita 2T, BGM dan tampak kurus dirujuk ke puskesmas untuk mendapatkan
konseling gizi dan intervensi gizi dari petugas kesehatan.
d. Pencapaian Penimbangan Balita (D/S)
Partisipasi masyarakat dalam perbaikan gizi bagi balita dapat ditunjukkan dari
indikator jumlah balita yang ditimbang dibagi jumlah sasaran balita (D/S). Tahun 2014, di
Kota Blitar angka D/S balita tercatat sebesar 68,63%. Pencapaian ini mengalami kenaikan
dibanding tahun 2013 yaitu sebesar 68,19%.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 71


Adapun cakupan di Kota Blitar tahun 2012-2014 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Grafik 4.29 Pencapaian Cakupan D/S Balita


di Kota Blitar Tahun 2012-2014

100
90
80
70 68.19
63.06 68.63
60
50
40
30
20
10
0
2012 2013 2014
Pencapaian Penimbangan

Sumber : Seksi Kes ARU dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Dibandingkan tahun berikutnya, pencapaian angka D/S meningkat 0,44%. Namun


keadaan ini masih harus menjadi perhatian bagi pengelola gizi karena target pada tahun
2014 ditetapkan sebesar 85%. Untuk itu dilakukan kerjasama antara Dinas Kesehatan
dengan HIMPAUDI dan IGTKI dalam hal pelaporan hasil penimbangan di PAUD dan
TK.. Sedangkan pencapaian D/S pada baduta sebesar 43,63%.

Gambar 4.3 Kegiatan Pemberian Tambahan Makanan dan Vitamin


Bagi Siswa PAUD, TK dan RA

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 72


4.6.2 Pencegahan dan Penanggulangan GAKY
Masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Jawa Timur masih
merupakan masalah gizi yang perlu mendapatkan penanganan secara serius mengingat
dampaknya terhadap kualitas sumberdaya manusia. Kekur angan Yodium dapat
menyebabkan masalah Gondok dan Kretinisme serta mengakibatkan penurunan
kecerdasan.
Upaya penanggulangan GAKY di Kota Blitar dilaksanakan melalui Monitoring
garam tingkat Rumah Tangga dan KIE tentang penggunaan garam beryodium. Hasil
monitoring menyatakan bahwa 100% Kelurahan di Kota Blitar terkategori Kelurahan
dengan konsumsi garam baik.
4.6.3 Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Gizi Besi
Upaya pencegahan dan penaggulangan Anemia Gizi Besi dilaksanakan melalui
pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) yang diprioritaskan pada ibu hamil, karena
prevalensi Anemia pada kelompok ini cukup tinggi. Di samping itu, kelompok ibu hamil
merupakan kelompok rawan yang berpotensi memberi kontribusi terhadap tingginya
Angka Kematian Ibu (AKI).
Untuk mencegah Anemia Gizi pada ibu hamil dilakukan suplementasi TTD
dengan dosis pemberian sehari sebanyak 1 (satu) tablet (60 mg Elemental Iron dan 0,25
mg Asam Folat) berturut-turut minimal 90 hari selama masa kehamilan. Pada tahun 2014,
Persentase cakupan ibu hamil yang mendapatkan TTD sebanyak 30 tablet sebesar 87,96%
dan yang mendapat 90 tablet sebesar 78,59%.
Jika dibandingkan dengan target 2014, pencapaian Persentase bumil mendapatkan
Fe sebanyak 90 tablet belum memenuhi target sebesar 90%. Hal ini dimungkinkan karena
belum semua pemberian Fe di tempat pelayanan swasta dicatat dan dilaporkan ke Dinas
Kesehatan. Adapun perbandingan pencapaian tahun 2012 sampai dengan 2014 dapat
dilihat pada grafik berikut.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 73


Grafik 4.28 Cakupan Pemberian Fe1 dan Fe3 pada Ibu Hamil
Di Kota Blitar Tahun 2012 - 2014

100 87.96
90 78.43 80.07 78.59
80
73.07 71.71
70
60
50
40
30
20
10
0
2012 2013 2014
Cakupan Pemberian Fe1 Cakupan Pemberian Fe3

Sumber : Seksi Kes ARU dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Blitar

4.6.4 Pencegahan dan Penanggulangan Kurang Vitamin A


Pemenuhan kebutuhan vitamin A sangat penting untuk pemeliharaan
kelangsungan hidup secara normal. Kebutuhan tubuh akan vitamin A untuk orang
Indonesia telah dibahas dan ditetapkan dalam Widyakarya Nasional pangan dan Gizi
(2007) dengan mempertimbangkan faktor-faktor khas dari kesehatan tubuh orang
Indonesia (Widyakaryanasional, 2007. Kebutuhan Vitamin A bagi Orang
cetak.publikasi/php?/260607/003. diperoleh tanggal 6 November 2008).
Pemberian vitamin A dosis tinggi pada bayi dan anak balita merupakan salah satu
upaya untuk mengatasi permasalahan gizi terutama pada bayi dan anak balita. Dengan
adanya upaya ini diharapkan bayi dan anak balita memiliki daya tahan tubuh yang lebih
baik sehingga diharapkan dapat menekan angka kesakitan dan angka kematian pada bayi
dan anak balita.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A di Kota Blitar tahun 2014 pada bayi (6-11
bulan) sebesar 83,27% dan anak balita (12-59 bulan) sebesar 106,49%. Dibandingkan
dengan dengan tahun 2013 pemberian pada bayi mengalami penurunan sebesar 8,25%,
sedangkan pada anak balita mengalami kenaikan 10,54%. Dan Cakupan pemberian pada
balita (6-59 bulan) sebesar 101,74%. Jika dibandingkan dengan target Persentase Balita
(6-59 bulan) mendapat kapsul vitamin A pada tahun 2014 sebesar 100%, pencapaian ini

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 74


sudah terpenuhi. Berikut gambaran cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi dan
anak balita selama 3 tahun terakhir.

Grafik 4.29 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Anak Balita
Di Kota Blitar Tahun 2012 - 2014

110 98.28 95.95 106.49


100 91.52
83.07 83.27
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
2012 2013 2014
Cakupan Pemberian Vit A pada Bayi
Cakupan Pemberian Vit A pada Anak Balita

Sumber : Seksi Kes ARU dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Blitar

4.6.5 Cakupan ASI Eksklusif


Pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik, terutama
pada bayi umur kurang dari 6 bulan, selain juga bermanfaat bagi ibu. ASI mengandung
semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6
bulan pertama kehidupannya. Yang dimaksud dengan ASI eksklusif adalah pemberian
ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam
bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 75


Gambar 4.4 Kegiatan Orientasi Konseling ASI
Pada tahun ini terjadi kenaikan persentase bayi yang diberi ASI eksklusif dari
sebesar 53,21% pada tahun 2013 menjadi 74,99% pada tahun 2014. Sedangkan target
Renstra Dinas Kesehatan pada tahun 2014 sebesar 85%. Berikut ini gambaran pemberian
ASI eksklusif pada bayi dalam rentang waktu 5 tahun terakhir.

Grafik 4.30 Cakupan Bayi diberi ASI Eksklusif


di Kota Blitar Tahun 2010-2014

100

80
74.99
75.02 74.11
60
65.91
40 53.21

20

0
2010 2011 2012 2013 2014
Cakupan ASI Eksklusif

Sumber : Seksi Kes ARU dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Dari grafik diatas terlihat adanya kenaikan Cakupan bayi diberi ASI Eksklusif.
Pengesahan PP No 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif pada 1 Maret membuat
semua pihak harus mendukung ibu menyusui.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 76


Kegiatan-kegiatan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Blitar untuk mendongkrak
pencapaian ini antara lain :
1. Pertemuan forum koordinasi kelompok potensial dalam kelembagaan ASI
Eksklusif
2. Pertemuan review kelompok pendukung ASI
3. Pelaksanaan kelompok pendukung ASI di tiap kelurahan
4. KIE tentang ASI Eksklusif

Gambar 4.5 Kegiatan Pembentukan Kelompok Pendukung ASI di tiap Kecamatan

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2014 77


BAB 5
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Sumber daya kesehatan merupakan salah satu pendukung di segala level
pelayanan kesehatan. Dan dengan terpenuhinya sumber daya kesehatan, diharapkan juga
dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sehingga derajat kesehatan masyarakat
akan terjaga. Pada bab ini menggambarkan kondisi sumber daya kesehatan di Kota Blitar
yang terdiri dari kelompok sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan.
5.1 SARANA KESEHATAN
Sarana kesehatan terkait erat dengan pelaksanaan pelayanan kesehatan. Untuk
menunjang kelancaran kegiatan bidang kesehatan diperlukan sarana dan prasarana
kesehatan yang memadai, meliputi Puskesmas, Sarana Kesehatan Bersumber Daya
Masyarakat, Sarana Farmasi dan Perbekalan Kesehatan dan Rumah Sakit. Berikut ini
kondisi sarana kesehatan di Kota Blitar pada tahun 2014.

Tabel 5.1 Sarana Kesehatan di Kota Blitar Tahun 2014


NO. Sarana Kesehatan Jumlah
1 RUMAH SAKIT UMUM 4
2 RUMAH SAKIT KHUSUS 1
3 PUSKESMAS PERAWATAN 2
4 PUSKESMAS NON PERAWATAN 1
5 PUSKESMAS KELILING 0
6 PUSKESMAS PEMBANTU 16
7 RUMAH BERSALIN 1
8 POSKESDES 21
9 POSYANDU 164
10 APOTEK 37
11 TOKO OBAT 5
12 GFK 1
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus,
Dinas Kesehatan Kota Blitar

5.1.1 Puskesmas
Puskesmas sebagai gardu terdepan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat
merupakan ujung tombak keberhasilan pelaksanaan pembangunan kesehatan. Pada
dasarnya konsep pelayanan puskesmas adalah konsep wilayah. Dengan begitu apapun
yang terjadi pada wilayah tersebut puskesmas harus mengetahui dan bisa memberikan
penanganan secara cepat dan tepat. Adapun jumlah penduduk Kota Blitar berdasarkan
proyeksi penduduk tahun 2014 sebesar 136.952 jiwa. Dengan demikian rasio Puskesmas

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2013 79


terhadap jumlah penduduk 1 : 45.651, dengan pengertian bahwa satu puskesmas melayani
45.651 penduduk. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah Puskesmas di Kota Blitar
masih kurang dari target nasional yaitu 1 : 30.000.
5.1.2 Rumah Sakit
Rumah Sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan rujukan bagi Puskesmas dan
jaringannya. Oleh karena itu, rumah sakit perlu memperhatikan mutu dan kualitas
pelayanan kesehatannya. Mutu pelayanan rumah sakit di antaranyan dapat dilihat dari
aspek-aspek penyelenggaraan pelayanan gawat darurat, aspek efisiensi dan efektifitas
pelayanan dan keselamatan pasien. Jumlah pelayanan gawat darurat level 1 rumah sakit di
Kota Blitar terbagi dalam :
- Dari 4 Rumah Sakit Umum (RSU) yang memiliki pelayanan Gadar level 1
sebanyak 4 RS (100%),
- Dari 1 Rumah Sakit Khusus (RSK) yang memiliki Gadar level 1 sebanyak 1 RS
(100%).

5.1.3 Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)


Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) adalah suatu upaya
kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh dan bersama masyarakat, guna
memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam
memperoleh pelayanan kesehatan dasar.
a. Posyandu
Pentingnya keberadaan Posyandu di tengah-tengah masyarakat yang merupakan
pusat kegiatan masyarakat dimana masyarakat sebagai pelaksana sekaligus memperoleh
pelayanan kesehatan serta keluarga berencana, selain itu wahana ini dapat dimanfaatkan
sebagai sarana untuk tukar menukar informasi, pendapat dan pengalaman serta
bermusyawarah untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi baik masalah
keluarga atau masalah masyarakat itu sendiri. Pada tahun 2014 jumlah posyandu di Kota
Blitar 164 dan yang aktif sebanyak 158 (96,34%).

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2013 80


Grafik 4.9 Jumlah Posyandu Menurut Strata, Kecamatan dan Puskesmas
di Kota Blitar Tahun 2014

160
158
140
120
100
80 57
50 51
60
40
20 3 3 6
0 0 0 0 0
0
Sukorejo Kepanjenkidul Sananwetan Kota
Pratama Madya Purnama Mandiri Posyandu Aktif

Sumber : Seksi Promosi, Sistem Informasi dan Perijinan Kesehatan,


Dinas Kesehatan Kota Blitar

b. Poskesdes
Poskesdes merupakan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)
yang dibentuk di desa dalam rangka upaya mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi
masyarakat desa. Poskesdes dikelola oleh 1 orang Bidan dan minimal 2 orang kader dan
merupakan koordinator dari UKBM yang ada. Pada tahun 2014 seluruh kelurahan di Kota
Blitar telah memiliki Poskesdes sejumlah 21.
c. Desa Siaga/ Kelurahan Siaga Aktif
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan
kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri. Pengertian Desa ini dapat berarti Kelurahan
atau Nagari atau istilah-istilah lain bagi satuan administrasi pemerintahan setingkat desa.
Sedangkan yang dimaksud dengan desa siaga aktif adalah desa yang mempunyai
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau UKBM lainnya yang buka setiap hari dan berfungsi
sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar, penanggulangan bencana dan
kegawatdaruratan, surveilance berbasis masyarakat yang meliputi pemantauan
pertumbuhan (gizi), penyakit, lingkungan dan perilaku sehingga masyarakatnya
menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pada tahun 2014 dari 21 desa
siaga yang ada di Kota Blitar yang termasuk kedalam desa siaga aktif sejumlah 21
(100%).

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2013 81


5.1.4 Sarana Farmasi dan Perbekalan Kesehatan
Kota Blitar merupakan Kota kecil dengan luas 33 Km2, oleh karena itu sampai
saat ini belum ada pabrik obat, yang ada hanya sarana penyedia obat. Untuk apotik di
Kota Blitar tahun 2014 sebanyak 37 buah, Sedangkan toko obat ada 5 buah dan gudang
farmasi ada 1 buah, yang terletak pada Dinas Kesehatan Daerah Kota Blitar. Dengan
adanya gudang farmasi ini semua penyimpanan dan penyediaan obat untuk pelayanan
kesehatan dasar menjadi tanggungjawab penuh pemerintah Kota Blitar yakni Dinas
Kesehatan Kota Blitar.

5.2 TENAGA KESEHATAN


Salah satu faktor pendukung keberhasilan pelaksanaan pembangunan kesehatan di
Kota Blitar tahun 2014 adalah ketersediaan sumberdaya kesehatan yang memadai baik
dalam hal kualitas maupun kuantitas. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32
Tahun 1996, Tenaga Kesehatan yang merupakan bagian dari SDM Kesehatan terdiri dari
tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan masyarakat,
tenaga gizi, tenaga keterapian fisik dan tenaga keteknisian medis. Untuk menggambarkan
keadaan tenaga kesehatan dianalis dengan menghitung rasio tenaga kesehatan terhadap
penduduk di Kota Blitar. Berdasarkan analisis diketahui bahwa ada beberapa tenaga
kesehatan tertentu yang belum memadai sesuai kebutuhan. Hal ini berarti masih
diperlukan perencanaan kebutuhan. Jumlah tenaga kesehatan yang ada dan masih terus
berubah sesuai kebutuhannya sangat berpengaruh dalam penanganan masalah kesehatan
di Kota Blitar. Dari berbagai jenis tenaga kesehatan di Kota Blitar dalam pelayanannya
tidak hanya menangani penduduk Kota Blitar saja, namun juga pada masyarakat di luar
Kota Blitar. Hal ini sangat berpengaruh dalam penentuan rasio kebutuhan tenaga. Berikut
gambaran jumlah tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan di Kota Blitar tahun 2014 :
a. Tenaga perawat
Jumlah tenaga perawat di Kota Blitar tahun 2014 sebanyak 491 orang yang terdiri
dari sarjana keperawatan dan D3. Rasio perawat mencapai 358,52 per 100.000 penduduk.
Kebutuhan perawat telah melampaui target dimana standar rasio seharusnya adalah 117
per 100.000 penduduk.
b. Tenaga bidan
Jumlah tenaga bidan di Kota Blitar pada tahun 2014 sebesar 107 orang, sehingga
rasio bidan mencapai 154,89 per 100.000 penduduk, kondisi tersebut sudah di atas target
dimana rasio standar sebesar 100 per 100.000 penduduk.
Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2013 82
c. Tenaga medis
Jumlah dokter spesialis di Kota Blitar pada tahun 2014 mencapai 47 orang atau
setara dengan rasio 34,32 per 100.000 penduduk (diatas standar rasio sebesar 6 per
100.000 penduduk). Sedangkan jumlah dokter umum sebesar 57 orang, setara dengan
rasio 41,62 per 100.000 penduduk (diatas standar rasio sebesar 40 per 100.000
penduduk). Dan jumlah dokter gigi sejumlah 16 orang atau setara dengan rasio 11,68 per
100.000 penduduk (sesuai dengan standar rasio sebesar 11 per 100.000 penduduk).
e. Tenaga kefarmasian
Tenaga Farmasi mencakup Apoteker, S1 Farmasi, DIII-Farmasi dan ASS-Farmasi
sejumlah 81 orang, dengan rasio mencapai 46 per 100.000 penduduk di tahun 2014.
f. Tenaga kesehatan masyarakat
Ahli kesehatan masyarakat yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah tenaga
yang bertugas di bidang kesehatan masyarakat di Kota Blitar dengan pendidikan S1-S3.
Akan tetapi untuk wilayah Kota Blitar ahli kesehatan masyarakat yang yang tersedia
masih pada tingkat pendidikan S1 sejumlah 10 orang.
g. Tenaga gizi
Ahli gizi yang dimaksud adalah yang bertugas di bidang gizi di suatu wilayah
dengan pendidikan D1-D4. Diketahui bahwa jumlah ahli gizi sebanyak 23 orang, dengan
rasio ahli gizi per 100.000 penduduk adalah 16,79.
h. Tenaga keteknisian medis
Ada 6 (enam) jenis teknisi medis di Kota Blitar, yaitu : radiografer, teknisi
elektromedis, teknis gigi, analis kesehatan, ortetik prostetik dan rekam medis & informasi
kesehatan. Keenam jenis tersebut total tenaga yang ada sebesar 72 orang.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2013 83


Tabel 5.2 Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan
Di Kota Blitar Tahun 2014

Rasio per
Standar
No. Jenis Tenaga Kesehatan Jumlah 100.000
Rasio
Penduduk
1. Dokter Spesialis 47 34,32 6
2. Dokter Umum 57 41,62 40
3. Dokter Gigi 16 11,68 11
4. Bidan 107 154,89 100
5. Perawat 491 358,52 117
6. Perawat Gigi 6 4,38
7. Tenaga Kefarmasian 63 46
8. Tenaga Gizi 23 23 16,79
9. Kesehatan Masyarakat 10 7,30
10. Kesehatan Lingkungan 14 10,22
11. Tenaga Teknisi Medis 72 52,57
12. Tenaga Keterapian Fisik 17 12,41
Jumlah 923
Sumber : Subbag Umum, Kepegawaian dan Kearsipan,
Dinas Kesehatan Kota Blitar

5.3 PEMBIAYAAN KESEHATAN


Keberhasilan pelaksanaan pembangunan kesehatan didukung pula dengan aspek
ketersediaan alokasi anggaran dana sesuai dengan proporsinya. Sumber dana untuk
pembiayaan kesehatan ada berbagai sumber, yaitu dari APBD Kota Blitar dan APBN
(Dana Dekonsentrasi, Dana Alokasi Khusus, Tugas Pembantuan, DBHCT). Berikut ini
rincian anggaran kesehatan di Kota Blitar.
Anggaran Kesehatan bersumber APBD Kota Blitar pada tahun 2014 adalah
sebesar Rp. 171.598.251.624. Anggaran ini meningkat 55,54% dibandingkan anggaran
kesehatan pada tahun 2013. UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan mengamanatkan
kepada pemerintah kota untuk mengalokasikan minimal 10% APBD untuk belanja
langsung kesehatan atau belanja program. Dengan total APBD Kota Blitar sebesar Rp.
746.312.423.156,91 dan total belanja langsung kesehatan Rp. 75.087.910.622 berarti

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2013 84


sudah memenuhi alokasi minimal 10%. Sedangkan jumlah anggaran kesehatan per kapita
sebesar Rp. 28.094.913,69
Tabel 5.3 Anggaran Kesehatan Kota Blitar
Tahun 2014

Sumber : Subbag Keuangan, Dinas Kesehatan Kota Blitar

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2013 85


BAB 6
KESIMPULAN
Perkembangan yang terjadi selama ini menunjukkan semakin pentingnya
informasi dan pengelolaan data di dalam banyak aspek kehidupan manusia. Pada saat
yang sama, tuntutan publik terhadap peningkatan kinerja pemerintah juga semakin tinggi
sehingga pada akhirnya pengelolaan data dan informasi yang baik menjadi suatu
keharusan untuk dilaksanakan semua institusi.
Untuk memperoleh berbagai data dan informasi tersebut perlu dilakukan
pencatatan dan pelaporan secara baik dan benar serta profesional. Data dan informasi
merupakan sumber daya yang sangat strategis dalam pengelolaan pembangunan
kesehatan. Penyediaan data dan informasi di bidang kesehatan yang berkualitas sangat
diperlukan sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan di lingkungan
pemerintahan, organisasi profesi, akademisi, swasta dan pihak terkait lainnya. Di bidang
kesehatan, data dan informasi juga merupakan sumber daya strategis bagi pimpinan dan
organisasi dalam penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan (SIK).
Penyusun menyadari Buku profil kesehatan ini masih mempunyai banyak
kekurangan, namun demikian diharapkan dapat memberikan gambaran keadaan
kesehatan masyarakat di Kota Blitar dan capaian kinerja pelayanan kesehatan yang telah
dilakukan beserta aspek-aspek pendukungnya.

Profil Kesehatan Kota Blitar Tahun 2013 86


RESUME PROFIL KESEHATAN
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
L P L+P Satuan
A. GAMBARAN UMUM
1 Luas Wilayah 33 Km2 Tabel 1
2 Jumlah Desa/Kelurahan 21 Desa/Kel Tabel 1
3 Jumlah Penduduk 67.869 69.083 136.952 Jiwa Tabel 2
4 Rata-rata jiwa/rumah tangga 3,2 Jiwa Tabel 1
5 Kepadatan Penduduk /Km2 4204,9 Jiwa/Km2 Tabel 1
6 Rasio Beban Tanggungan 45,5 per 100 penduduk produktif Tabel 2
7 Rasio Jenis Kelamin 98,2 Tabel 2
8 Penduduk 10 tahun ke atas melek huruf 97,50 96,57 97,16 % Tabel 3
9 Penduduk 10 tahun yang memiliki ijazah tertinggi
a. SMP/ MTs 11.198,00 11.559,00 22.757,00 % Tabel 3
b. SMA/ SMK/ MA 22.089,00 20.082,00 42.171,00 % Tabel 3
c. Sekolah menengah kejuruan 0,00 0,00 0,00 % Tabel 3
d. Diploma I/Diploma II 589,00 1.041,00 1.630,00 % Tabel 3
e. Akademi/Diploma III 1.372,00 1.693,00 3.065,00 % Tabel 3
f. Universitas/Diploma IV 5.011,00 5.492,00 10.503,00 % Tabel 3
g. S2/S3 (Master/Doktor) 545,00 264,00 809,00 % Tabel 3

B. DERAJAT KESEHATAN
B.1 Angka Kematian
10 Jumlah Lahir Hidup 1.174 980 2.154 Tabel 4
11 Angka Lahir Mati (dilaporkan) 6 4 5 per 1.000 Kelahiran Hidup Tabel 4
12 Jumlah Kematian Neonatal 11 2 13 neonatal Tabel 5
13 Angka Kematian Neonatal (dilaporkan) 9 2 6 per 1.000 Kelahiran Hidup Tabel 5
14 Jumlah Bayi Mati 11 3 13 bayi Tabel 5
15 Angka Kematian Bayi (dilaporkan) 9 3 6 per 1.000 Kelahiran Hidup Tabel 5
16 Jumlah Balita Mati 11 5 13 Balita Tabel 5
17 Angka Kematian Balita (dilaporkan) 9 5 6 per 1.000 Kelahiran Hidup Tabel 5
18 Kematian Ibu
Jumlah Kematian Ibu 3 Ibu Tabel 6
Angka Kematian Ibu (dilaporkan) 139 per 100.000 Kelahiran Hidup Tabel 6
ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
L P L+P Satuan
B.2 Angka Kesakitan
19 Tuberkulosis
Jumlah kasus baru TB BTA+ 42 28 70 Kasus Tabel 7
Proporsi kasus baru TB BTA+ 60,00 40,00 % Tabel 7
CNR kasus baru BTA+ 30,67 20,45 51,11 per 100.000 penduduk Tabel 7
Jumlah seluruh kasus TB 112 93 205 Kasus Tabel 7
CNR seluruh kasus TB 81,78 67,91 149,69 per 100.000 penduduk Tabel 7
Kasus TB anak 0-14 tahun 0,00 % Tabel 7
Persentase BTA+ terhadap suspek #DIV/0! #DIV/0! 6,90 % Tabel 8
Angka kesembuhan BTA+ 75,51 72,50 74,16 % Tabel 9
Angka pengobatan lengkap BTA+ 2,04 5,00 3,37 % Tabel 9
Angka keberhasilan pengobatan (Success Rate) BTA+ 77,55 77,50 77,53 % Tabel 9
Angka kematian selama pengobatan 2,19 2,19 4,38 per 100.000 penduduk Tabel 9
20 Pneumonia Balita ditemukan dan ditangani 28,15 33,78 30,97 % Tabel 10
21 Jumlah Kasus HIV 4 0 4 Kasus Tabel 11
22 Jumlah Kasus AIDS 3 2 5 Kasus Tabel 11
23 Jumlah Kematian karena AIDS 1 1 2 Jiwa Tabel 11
24 Jumlah Kasus Syphilis 0 0 0 Kasus Tabel 11
25 Donor darah diskrining positif HIV 0,55 1,26 0,78 % Tabel 12
26 Persentase Diare ditemukan dan ditangani 0,00 0,00 0,00 % Tabel 13
27 Kusta
Jumlah Kasus Baru Kusta (PB+MB) 2 0 2 Kasus Tabel 14
Angka penemuan kasus baru kusta (NCDR) 1,46 0,00 1,46 per 100.000 penduduk Tabel 14
Persentase Kasus Baru Kusta 0-14 Tahun 0,00 % Tabel 15
Persentase Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta 0,00 % Tabel 15
Angka Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta 0,00 per 100.000 penduduk Tabel 15
Angka Prevalensi Kusta 0,15 0,00 0,15 per 10.000 Penduduk Tabel 16
Penderita Kusta PB Selesai Berobat (RFT PB) 100,00 #DIV/0! 100,00 % Tabel 17
Penderita Kusta MB Selesai Berobat (RFT MB) #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! % Tabel 17
28 Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
AFP Rate (non polio) < 15 th 15,40 per 100.000 penduduk <15 tahun Tabel 18
Jumlah Kasus Difteri 9 7 16 Kasus Tabel 19
Case Fatality Rate Difteri 0 % Tabel 19
Jumlah Kasus Pertusis 0 0 0 Kasus Tabel 19
Jumlah Kasus Tetanus (non neonatorum) 0 0 0 Kasus Tabel 19
Case Fatality Rate Tetanus (non neonatorum) #DIV/0! % Tabel 19
Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum 0 0 0 Kasus Tabel 19
Case Fatality Rate Tetanus Neonatorum #DIV/0! % Tabel 19
ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
L P L+P Satuan
Jumlah Kasus Campak 32 28 60Kasus Tabel 20
Case Fatality Rate Campak 0% Tabel 20
Jumlah Kasus Polio 0 0 0Kasus Tabel 20
Jumlah Kasus Hepatitis B 0 0 0Kasus Tabel 20
29 Incidence Rate DBD 33,59 29,94 63,53per 100.000 penduduk Tabel 21
30 Case Fatality Rate DBD #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! % Tabel 21
31 Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasit Incidence ) #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! per 1.000 penduduk berisiko Tabel 22
32 Case Fatality Rate Malaria #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!% Tabel 22
33 Angka Kesakitan Filariasis 0 0 0per 100.000 penduduk Tabel 23
34 Persentase Hipertensi/tekanan darah tinggi 0,74 25,00 23,45% Tabel 24
35 Persentase obese 15,72 41,61 27,70% Tabel 25
36 Persentase IVA positif pada perempuan usia 30-50 tahun 0,00 % Tabel 26
37 % tumor/benjolan payudara pada perempuan 30-50 tahun 0,00 % Tabel 26
38 Desa/Kel. terkena KLB ditangani < 24 jam 100,00 % Tabel 28

C. UPAYA KESEHATAN
C.1 Pelayanan Kesehatan
39 Kunjungan Ibu Hamil (K1) 88 % Tabel 29
40 Kunjungan Ibu Hamil (K4) 78,59 % Tabel 29
41 Persalinan ditolong Tenaga Kesehatan 87,27 % Tabel 29
42 Pelayanan Ibu Nifas 86,50 % Tabel 29
43 Ibu Nifas Mendapat Vitamin A 85,69 % Tabel 29
44 Ibu hamil dengan imunisasi TT2+ 61,65 % Tabel 30
45 Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe3 78,59 % Tabel 32
46 Penanganan komplikasi kebidanan 95,87 % Tabel 33
47 Penanganan komplikasi Neonatal 84,18 85,01 84,59 % Tabel 33
48 Peserta KB Baru 6,27 % Tabel 36
49 Peserta KB Aktif 70,11 % Tabel 36
50 Bayi baru lahir ditimbang 100 100 100 % Tabel 37
51 Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) 5,20 5,71 5,43 % Tabel 37
52 Kunjungan Neonatus 1 (KN 1) 99,07 85,59 92,43 % Tabel 38
53 Kunjungan Neonatus 3 kali (KN Lengkap) 96,10 85,94 91,10 % Tabel 38
54 Bayi yang diberi ASI Eksklusif 74,78 75,20 74,99 % Tabel 39
55 Pelayanan kesehatan bayi 85,00 76,77 80,95 % Tabel 40
56 Desa/Kelurahan UCI 90,48 % Tabel 41
57 Cakupan Imunisasi Campak Bayi 98,73 95,55 97,16 % Tabel 43
58 Imunisasi dasar lengkap pada bayi 97,20 95,46 96,34 % Tabel 43
59 Bayi Mendapat Vitamin A 82,63 83,93 83,27 % Tabel 44
ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
L P L+P Satuan
60 Anak Balita Mendapat Vitamin A 102,43 111,03 106,49 % Tabel 44
61 Baduta ditimbang 44,29 42,96 43,63 % Tabel 45
62 Baduta berat badan di bawah garis merah (BGM) 1,40 1,11 1,26 % Tabel 45
63 Pelayanan kesehatan anak balita 57,15 63,97 60,37 % Tabel 46
64 Balita ditimbang (D/S) 69,72 67,54 68,63 % Tabel 47
65 Balita berat badan di bawah garis merah (BGM) 0,63 0,49 0,56 % Tabel 47
66 Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan 100,00 #DIV/0! 100,00 % Tabel 48
67 Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat 100,00 100,00 100,00 %
Tabel 49
68 Rasio Tumpatan/Pencabutan Gigi Tetap 1,32 Tabel 50
69 SD/MI yang melakukan sikat gigi massal 100,00 sekolah Tabel 51
70 SD/MI yang mendapat pelayanan gigi 100,00 sekolah Tabel 51
71 Murid SD/MI Diperiksa (UKGS) 17,13 17,71 17,42 % Tabel 51
72 Murid SD/MI Mendapat Perawatan (UKGS) 91,74 85,38 88,74 % Tabel 51
73 Siswa SD dan setingkat mendapat perawatan gigi dan
mulut 91,74 85,38 88,74 % Tabel 51
74 Pelayanan Kesehatan Usila (60 tahun +) 91,66 72,61 81,26 % Tabel 52

C.2 Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan


Persentase

75 Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan 44,02 6,66 25,18 % Tabel 53


76 Cakupan Kunjungan Rawat Jalan 296,02 255,64 275,65 % Tabel 54
77 Cakupan Kunjungan Rawat Inap 23,74 32,25 28,03 % Tabel 54
78 Angka kematian kasar/Gross Death Rate (GDR) di RS 5,40 3,88 4,55 per 100.000 pasien keluar Tabel 55
79 Angka kematian murni/Nett Death Rate (NDR) di RS 2,98 2,01 2,44 per 100.000 pasien keluar Tabel 55
80 Bed Occupation Rate (BOR) di RS 65,62 % Tabel 56
81 Bed Turn Over (BTO) di RS 68,14 Kali Tabel 56
82 Turn of Interval (TOI) di RS 1,84 Hari Tabel 56
83 Average Length of Stay (ALOS) di RS 3,60 Hari Tabel 56

C.3 Perilaku Hidup Masyarakat


87 Rumah Tangga ber-PHBS 40,39 % Tabel 57
ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
L P L+P Satuan
C.4 Keadaan Lingkungan
88 Persentase rumah sehat 37,31 % Tabel 58
89 Penduduk yang memiliki akses air minum yang layak 70,10 % Tabel 59
90 Penyelenggara air minum memenuhi syarat kesehatan 82,61 % Tabel 60
91 Penduduk yg memiliki akses sanitasi layak (jamban sehat) 96,22 % Tabel 61
92 Desa STBM - % Tabel 62
93 Tempat-tempat umum memenuhi syarat 70,78 % Tabel 63
TPM memenuhi syarat higiene sanitasi 72,37 % Tabel 64
TPM tidak memenuhi syarat dibina 208,45 % Tabel 65
TPM memenuhi syarat diuji petik 27,42 % Tabel 65

D. SUMBERDAYA KESEHATAN
D.1 Sarana Kesehatan
94 Jumlah Rumah Sakit Umum 4,00 RS Tabel 67
95 Jumlah Rumah Sakit Khusus 1,00 RS Tabel 67
96 Jumlah Puskesmas Rawat Inap 2,00 Tabel 67
97 Jumlah Puskesmas non-Rawat Inap 1,00 Tabel 67
Jumlah Puskesmas Keliling - Tabel 67
Jumlah Puskesmas pembantu 16,00 Tabel 67
98 Jumlah Apotek 37,00 Tabel 67
99 RS dengan kemampuan pelayanan gadar level 1 100,00 % Tabel 68
100 Jumlah Posyandu 164,00 Posyandu Tabel 69
101 Posyandu Aktif 96,34 % Tabel 69
102 Rasio posyandu per 100 balita 1,44 per 100 balita Tabel 69
103 UKBM
Poskesdes 21,00 Poskesdes Tabel 70
Polindes - Polindes Tabel 70
Posbindu 9,00 Posbindu Tabel 70
104 Jumlah Desa Siaga 21,00 Desa Tabel 71
105 Persentase Desa Siaga 100,00 % Tabel 71

D.2 Tenaga Kesehatan


106 Jumlah Dokter Spesialis 38,00 9,00 47,00 Orang Tabel 72
107 Jumlah Dokter Umum 29,00 28,00 57,00 Orang Tabel 72
108 Rasio Dokter (spesialis+umum) 71,56 per 100.000 penduduk Tabel 72
109 Jumlah Dokter Gigi + Dokter Gigi Spesialis 2,00 14,00 16,00 Orang Tabel 72
ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
L P L+P Satuan
110 Rasio Dokter Gigi (termasuk Dokter Gigi Spesialis) 11,68 per 100.000 penduduk
111 Jumlah Bidan 107,00 Orang Tabel 73
112 Rasio Bidan per 100.000 penduduk 154,89 per 100.000 penduduk Tabel 73
113 Jumlah Perawat 147,00 344,00 491,00 Orang Tabel 73
114 Rasio Perawat per 100.000 penduduk 358,52 per 100.000 penduduk Tabel 73
115 Jumlah Perawat Gigi - 6,00 6,00 Orang Tabel 73
116 Jumlah Tenaga Kefarmasian 9,00 54,00 63,00 Orang Tabel 74
117 Jumlah Tenaga Kesehatan kesehatan 4,00 6,00 10,00 Orang Tabel 75
118 Jumlah Tenaga Sanitasi 7,00 7,00 14,00 Orang Tabel 76
119 Jumlah Tenaga Gizi 3,00 20,00 23,00 Orang Tabel 77

D.3 Pembiayaan Kesehatan


120 Total Anggaran Kesehatan 3.847.654.619.624 Rp Tabel 81
121 APBD Kesehatan thd APBD Kab/Kota 23 % Tabel 81
122 Anggaran Kesehatan Perkapita 28.094.914 Rp Tabel 81
TABEL 1

LUAS WILAYAH, JUMLAH DESA/KELURAHAN, JUMLAH PENDUDUK, JUMLAH RUMAH TANGGA,


DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT KECAMATAN
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

LUAS JUMLAH JUMLAH RATA-RATA KEPADATAN


JUMLAH
NO KECAMATAN WILAYAH DESA + RUMAH JIWA/RUMAH PENDUDUK
DESA KELURAHAN PENDUDUK
(km 2) KELURAHAN TANGGA TANGGA per km 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Sukorejo 9,92 0 7 7 45.348 14.683 3,09 4571,37
2 Kepanjenkidul 10,50 0 7 7 42.907 12.437 3,45 4086,38
3 Sananwetan 12,15 0 7 7 48.697 15.814 3,08 4007,98

JUMLAH (KAB/KOTA) 32,57 0 21 21 136.952 42.934 3,19 4.204,85

Sumber: - Kantor Statistik Kota Blitar


- Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Kota Blitar
TABEL 2

JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK UMUR


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH PENDUDUK
NO KELOMPOK UMUR (TAHUN)
LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI+PEREMPUAN RASIO JENIS KELAMIN
1 2 3 4 5 6

1 0-4 5.950 5.417 11.367 109,84


2 5-9 5.575 5.191 10.766 107,40
3 10 - 14 5.614 5.095 10.709 110,19
4 15 - 19 5.521 6.048 11.569 91,29
5 20 - 24 4.965 4.835 9.800 102,69
6 25 - 29 5.543 5.311 10.854 104,37
7 30 - 34 5.343 5.166 10.509 103,43
8 35 - 39 5.152 5.220 10.372 98,70
9 40 - 44 5.111 5.339 10.450 95,73
10 45 - 49 4.531 5.094 9.625 88,95
11 50 - 54 4.247 4.481 8.728 94,78
12 55 - 59 3.553 3.749 7.302 94,77
13 60 - 64 2.442 2.451 4.893 99,63
14 65 - 69 1.718 1.965 3.683 87,43
15 70 - 74 1.232 1.512 2.744 81,48
16 75+ 1.372 2.209 3.581 62,11

JUMLAH 67.869 69.083 136.952 98,24


ANGKA BEBAN TANGGUNGAN (DEPENDENCY RATIO) 46

Sumber: - Data Terolah dari Kantor Statistik Kota Blitar


TABEL 3

PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS YANG MELEK HURUF


DAN IJAZAH TERTINGGI YANG DIPEROLEH MENURUT JENIS KELAMIN
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH PERSENTASE
NO VARIABEL LAKI-LAKI+ LAKI-LAKI+
LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI PEREMPUAN
PEREMPUAN PEREMPUAN
1 2 3 4 5 6 7 8
1 PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS 56.344 58.475 114.819
PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS YANG
2 0 97,50 96,57 97,16
MELEK HURUF
PERSENTASE PENDIDIKAN TERTINGGI YANG
3
DITAMATKAN:
a. TIDAK MEMILIKI IJAZAH SD 9.170 9.032 18.202 16,28 15,45 15,85
b. SD/MI 12.698 14.408 27.106 22,54 24,64 23,61
c. SMP/ MTs 11.198 11.559 22.757 19,87 19,77 19,82
d. SMA/ MA 22.089 20.082 42.171 39,20 34,34 36,73
e. SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN 0 0,00 0,00 0,00
f. DIPLOMA I/DIPLOMA II 589 1.041 1.630 1,05 1,78 1,42
g. AKADEMI/DIPLOMA III 1.372 1.693 3.065 2,44 2,90 2,67
h. UNIVERSITAS/DIPLOMA IV 5.011 5.492 10.503 8,89 9,39 9,15
i. S2/S3 (MASTER/DOKTOR) 545 264 809 0,97 0,45 0,70

Sumber: Buku Profil Perkembangan Penduduk Kota Blitar Semester I Tahun 2014
TABEL 4

JUMLAH KELAHIRAN MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH KELAHIRAN
NAMA LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI + PEREMPUAN
NO KECAMATAN
PUSKESMAS
HIDUP MATI HIDUP + MATI HIDUP MATI HIDUP + MATI HIDUP MATI HIDUP + MATI
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 406 2 408 281 0 281 687 2 689
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 316 4 320 302 3 305 618 7 625
3 Sananwetan Sananwetan 452 1 453 397 1 398 849 2 851
JUMLAH (KAB/KOTA) 1.174 7 1.181 980 4 984 2.154 11 2.165
ANGKA LAHIR MATI PER 1.000 KELAHIRAN (DILAPORKAN) 5,93 4,07 5,08

Sumber: Seksi Kesga & Kespro

Keterangan : Angka Lahir Mati (dilaporkan) tersebut di atas belum tentu menggambarkan Angka Lahir Mati yang sebenarnya di populasi
TABEL 5

JUMLAH KEMATIAN NEONATAL, BAYI, DAN BALITA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH KEMATIAN

NO KECAMATAN PUSKESMAS LAKI - LAKI PEREMPUAN LAKI - LAKI + PEREMPUAN


a ANAK a ANAK a ANAK
NEONATAL BAYI BALITA NEONATAL BAYI BALITA NEONATAL BAYI BALITA
BALITA BALITA BALITA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 Sukorejo Karangsari 5 5 0 5 0 1 0 1 5 5 0 5
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1 1 0 1 0 2 0 2 1 1 0 1
3 Sananwetan Sananwetan 5 5 0 5 2 0 0 2 7 7 0 7

JUMLAH (KAB/KOTA) 11 11 0 11 2 3 0 5 13 13 0 13
ANGKA KEMATIAN (DILAPORKAN) 9,37 9,37 0,00 9,37 2,04 3,06 0,00 5,10 6,04 6,04 0,00 6,04

Sumber: Seksi Kesga & Kespro

Keterangan : - Angka Kematian (dilaporkan) tersebut di atas belum tentu menggambarkan AKN/AKB/AKABA yang sebenarnya di populasi
- a : kematian bayi termasuk kematian pada neonatal
TABEL 6
JUMLAH KEMATIAN IBU MENURUT KELOMPOK UMUR, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

KEMATIAN IBU
JUMLAH LAHIR JUMLAH KEMATIAN IBU HAMIL JUMLAH KEMATIAN IBU BERSALIN JUMLAH KEMATIAN IBU NIFAS JUMLAH KEMATIAN IBU
NO KECAMATAN PUSKESMAS
HIDUP < 20 20-34 < 20 20-34 < 20 20-34 < 20 20-34
35 tahun JUMLAH 35 tahun JUMLAH 35 tahun JUMLAH 35 tahun JUMLAH
tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
1 Sukorejo Karangsari 687 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 618 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Sananwetan Sananwetan 849 0 0 0 0 0 1 1 2 0 0 0 0 0 1 1 2

JUMLAH (KAB/KOTA) 2.154 0 0 1 1 0 1 1 2 0 0 0 0 0 1 2 3


ANGKA KEMATIAN IBU (DILAPORKAN) ###### #

Sumber: Seksi Kesga & Kespro


Keterangan:
- Jumlah kematian ibu = jumlah kematian ibu hamil + jumlah kematian ibu bersalin + jumlah kematian ibu nifas
- Angka Kematian Ibu (dilaporkan) tersebut di atas belum bisa menggambarkan AKI yang sebenarnya di populasi
TABEL 7

KASUS BARU TB BTA+, SELURUH KASUS TB, KASUS PADA TB PADA ANAK, DAN CASE NOTIFICATION RATE (CNR) PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH SELURUH
JUMLAH KASUS BARU BTA+ KASUS TB ANAK
JUMLAH PENDUDUK KASUS TB
NO KECAMATAN PUSKESMAS 0-14 TAHUN
L P L P
L+P L+P
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 Sukorejo Karangsari 22.473 22.875 45.348 7 38,89 11 61,11 18 25 50,00 25 50,00 50 0 0,00
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 21.264 21.643 42.907 2 50,00 2 50,00 4 12 63,16 7 36,84 19 0 0,00
3 Sananwetan Sananwetan 24.132 24.565 48.697 33 68,75 15 31,25 48 75 55,15 61 44,85 136 0 0,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 67.869 69.083 136.952 42 60,00 28 40,00 70 112 54,63 93 45,37 205 0 0,00

CNR KASUS BARU BTA+ PER 100.000 PENDUDUK 30,67 20,45 51,11

CNR SELURUH KASUS TB PER 100.000 PENDUDUK 81,78 67,91 149,69

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Keterangan:
Jumlah pasien adalah seluruh pasien yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk pasien yang ditemukan di BBKPM/BPKPM/BP4, RS, Lembaga Pemasyarakatan,
rumah tahanan, dokter praktek swasta, klinik dll
Catatan : Jumlah kolom 6 = jumlah kolom 7 pada Tabel 1, yaitu sebesar: 136952
TABEL 8

JUMLAH KASUS DAN ANGKA PENEMUAN KASUS TB PARU BTA+ MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

TB PARU
SUSPEK % BTA (+)
NO KECAMATAN PUSKESMAS BTA (+)
TERHADAP SUSPEK
L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 0 7 11 18 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 0 2 2 4 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
3 Sananwetan Sananwetan 0 33 15 48 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!

JUMLAH (KAB/KOTA) 0 0 1.015 42 28 70 #DIV/0! #DIV/0! 6,90

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Keterangan:
Jumlah pasien adalah seluruh pasien yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk pasien yang ditemukan di BBKPM/BPKPM/BP4, RS, Lembaga Pemasyarakatan,
rumah tahanan, dokter praktek swasta, klinik dll
TABEL 9

ANGKA KESEMBUHAN DAN PENGOBATAN LENGKAP TB PARU BTA+ SERTA KEBERHASILAN PENGOBATAN MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

ANGKA PENGOBATAN LENGKAP


ANGKA KESEMBUHAN (CURE RATE) ANGKA KEBERHASILAN
(COMPLETE RATE) JUMLAH KEMATIAN
BTA (+) DIOBATI PENGOBATAN
NO KECAMATAN PUSKESMAS SELAMA PENGOBATAN
L P L+P L P L+P (SUCCESS RATE/SR)

L P L+P JUMLA JUMLA JUMLA JUMLA JUMLA JUMLA


% % % % % % L P L+P L P L+P
H H H H H H
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
1 Sukorejo Karangsari 14 12 26 10 71,43 7 58,33 17 65,38 0 0,00 1 8,33 1 3,85 71,43 66,67 69,23 0 2 2
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 4 7 11 4 100,00 5 71,43 9 81,82 1 25,00 1 14,29 2 18,18 125,00 85,71 100,00 0 0 0
3 Sananwetan Sananwetan 31 21 52 23 74,19 17 80,95 40 76,92 0 0,00 0 0,00 0 0,00 74,19 80,95 76,92 3 1 4

JUMLAH (KAB/KOTA) 49 40 89 37 75,51 29 72,50 66 74,16 1 2,04 2 5,00 3 3,37 77,55 77,50 77,53 3 3 6
ANGKA KEMATIAN SELAMA PENGOBATAN PER 100.000 PENDUDUK 2,19 2,19 4,38

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Keterangan:
Jumlah pasien adalah seluruh pasien yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk pasien yang ditemukan di BBKPM/BPKPM/BP4, RS, Lembaga Pemasyarakatan,
rumah tahanan, dokter praktek swasta, klinik dll
TABEL 10

PENEMUAN KASUS PNEUMONIA BALITA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PNEUMONIA PADA BALITA


JUMLAH BALITA JUMLAH PERKIRAAN PENDERITA DITEMUKAN DAN DITANGANI
NO KECAMATAN PUSKESMAS
PENDERITA L P L+P
L P L+P L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 Sukorejo Karangsari 1.930 1.930 3.860 193 193 386 49 25,39 66 34,20 115 29,79
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1.517 1.518 3.035 152 152 304 38 25,05 54 35,57 92 30,31
3 Sananwetan Sananwetan 2.236 2.236 4.472 224 224 447 73 32,65 72 32,20 145 32,42

JUMLAH (KAB/KOTA) 5.683 5.684 11.367 568 568 1.137 160 28,15 192 33,78 352 30,97

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Keterangan:
Jumlah kasus adalah seluruh kasus yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk kasus yang ditemukan di RS
TABEL 11

JUMLAH KASUS HIV, AIDS, DAN SYPHILIS MENURUT JENIS KELAMIN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

HIV AIDS JUMLAH KEMATIAN AKIBAT AIDS SYPHILIS


NO KELOMPOK UMUR
PROPORSI PROPORSI PROPORSI
L P L+P KELOMPOK L P L+P KELOMPOK L P L+P L P L+P KELOMPOK
UMUR UMUR UMUR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

1 4 TAHUN 0 0 0 0,00 0 0 0 0,00 0 0 0 0 0 0 #DIV/0!

2 5 - 14 TAHUN 0 0 0 0,00 0 0 0 0,00 0 0 0 0 0 0 #DIV/0!

3 15 - 19 TAHUN 0 0 0 0,00 0 0 0 0,00 0 0 0 0 0 0 #DIV/0!

4 20 - 24 TAHUN 2 0 2 50,00 1 0 1 20,00 0 0 0 0 0 0 #DIV/0!

5 25 - 49 TAHUN 2 0 2 50,00 0 2 2 40,00 1 1 2 0 0 0 #DIV/0!

6 50 TAHUN 0 0 0 0,00 2 0 2 40,00 0 0 0 0 0 0 #DIV/0!

JUMLAH (KAB/KOTA) 4 0 4 3 2 5 1 1 2 0 0 0

PROPORSI JENIS KELAMIN 100,00 0,00 60,00 40,00 50,00 50,00 #DIV/0! #DIV/0!

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Ket: Jumlah kasus adalah seluruh kasus baru yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk kasus yang ditemukan di RS
TABEL 12

PERSENTASE DONOR DARAH DISKRINING TERHADAP HIV MENURUT JENIS KELAMIN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

DONOR DARAH
SAMPEL DARAH DIPERIKSA/DISKRINING
NO UNIT TRANSFUSI DARAH POSITIF HIV
JUMLAH PENDONOR TERHADAP HIV
L P L+P L P L+P
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
1 PMI 5.459 2.694 8.153 5.459 100,00 2.694 100,00 8.153 100,00 30 0,55 34 1,26 64 0,78

JUMLAH 5.459 2.694 8.153 5.459 100,00 2.694 100,00 8.153 100,00 30 0,55 34 1,26 64 0,78

Sumber: PMI Kota blitar


TABEL 13

KASUS DIARE YANG DITANGANI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

DIARE
JUMLAH PENDUDUK JUMLAH TARGET DIARE DITANGANI
NO KECAMATAN PUSKESMAS PENEMUAN L P L+P
L P L+P L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 Sukorejo Karangsari 22.473 22.875 45.348 481 490 970 365 76 373 76 738 76
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 21.264 21.643 42.907 455 463 918 542 119 402 87 944 103
3 Sananwetan Sananwetan 24.132 24.565 48.697 516 526 1.042 325 63 459 87 784 75

JUMLAH (KAB/KOTA) 67.869 69.083 136.952 1.452 1.478 2.931 1.232 84,83 1.234 83,47 2.466 84,14
ANGKA KESAKITAN DIARE PER 1.000 PENDUDUK 214

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Ket: Jumlah kasus adalah seluruh kasus yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk kasus yang ditemukan di RS
TABEL 14

KASUS BARU KUSTA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

KASUS BARU
NO KECAMATAN PUSKESMAS Pausi Basiler (PB)/ Kusta kering Multi Basiler (MB)/ Kusta Basah PB + MB
L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 0 0 0 1 0 1 1 0 1
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 0 0 0 1 0 1 1 0 1
3 Sananwetan Sananwetan 0 0 0 0 0 0 0 0 0

JUMLAH (KAB/KOTA) 0 0 0 2 0 2 2 0 2
PROPORSI JENIS KELAMIN #DIV/0! #DIV/0! 100,00 0,00 100,00 0,00
ANGKA PENEMUAN KASUS BARU (NCDR/NEW CASE DETECTION RATE ) PER 100.000 PENDUDUK 1,46 0,00 1,46

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 15

KASUS BARU KUSTA 0-14 TAHUN DAN CACAT TINGKAT 2 MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

KASUS BARU
PENDERITA KUSTA
NO KECAMATAN PUSKESMAS PENDERITA CACAT TINGKAT 2
0-14 TAHUN
KUSTA
JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Sukorejo Karangsari 1 - 0,00 0 0
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1 - 0,00 0 0
3 Sananwetan Sananwetan - - #DIV/0! 0 #DIV/0!

JUMLAH (KAB/KOTA) 2 - 0,00 - 0,00


ANGKA CACAT TINGKAT 2 PER 100.000 PENDUDUK -

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 16

JUMLAH KASUS DAN ANGKA PREVALENSI PENYAKIT KUSTA MENURUT TIPE/JENIS, JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

KASUS TERCATAT
NO KECAMATAN PUSKESMAS Pausi Basiler/Kusta kering Multi Basiler/Kusta Basah JUMLAH
L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 0 0 0 1 0 1 1 0 1
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 0 0 0 1 0 1 1 0 1
3 Sananwetan Sananwetan 0 0 0 0 0 0 0 0 0

JUMLAH (KAB/KOTA) 0 0 0 2 0 2 2 0 2
ANGKA PREVALENSI PER 10.000 PENDUDUK 0,15 0,00 0,15

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 17

PERSENTASE PENDERITA KUSTA SELESAI BEROBAT (RELEASE FROM TREATMENT/RFT) MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

KUSTA (PB) KUSTA (MB)


a RFT PB a RFT MB
NO KECAMATAN PUSKESMAS PENDERITA PB PENDERITA MB
L P L+P L P L+P
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
1 Sukorejo Karangsari 1 0 1 1 100 0 #DIV/0! 1 100 0 0 0 0 #DIV/0! 0 #DIV/0! 0 #DIV/0!
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 0 0 0 0 #DIV/0! 0 #DIV/0! 0 #DIV/0! 0 0 0 0 #DIV/0! 0 #DIV/0! 0 #DIV/0!
3 Sananwetan Sananwetan 0 0 0 0 #DIV/0! 0 #DIV/0! 0 #DIV/0! 0 0 0 0 #DIV/0! 0 #DIV/0! 0 #DIV/0!

JUMLAH (KAB/KOTA) 1 0 1 1 100,0 0 #DIV/0! 1 100,0 0 0 0 0 #DIV/0! 0 #DIV/0! 0 #DIV/0!

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit

Keterangan : a = Penderita kusta PB/MB merupakan penderita pada kohort yang sama
TABEL 18

JUMLAH KASUS AFP (NON POLIO) MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH PENDUDUK JUMLAH KASUS AFP


NO KECAMATAN PUSKESMAS
<15 TAHUN (NON POLIO)
1 2 3 4 5
1 Sukorejo Karangsari 10.830 4
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 9.528 1
3 Sananwetan Sananwetan 12.104 0

JUMLAH (KAB/KOTA) 32.462 5


AFP RATE (NON POLIO) PER 100.000 PENDUDUK USIA < 15 TAHUN 15,40

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Keterangan:
Jumlah kasus adalah seluruh kasus yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk kasus yang ditemukan di RS

Catatan : Jumlah penduduk < 15 tahun kolom 4 = jumlah penduduk < 15 tahun pada tabel 2, yaitu sebesar:
32.842
TABEL 19

JUMLAH KASUS PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH KASUS PD3I


DIFTERI TETANUS (NON NEONATORUM) TETANUS NEONATORUM
NO KECAMATAN PUSKESMAS PERTUSIS
JUMLAH KASUS JUMLAH KASUS JUMLAH KASUS
MENINGGAL MENINGGAL MENINGGAL
L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 Sukorejo Karangsari 1 3 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Sananwetan Sananwetan 7 3 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

JUMLAH (KAB/KOTA) 9 7 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
CASE FATALITY RATE (%) 0,00 #DIV/0! #DIV/0!

Sumber : Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 20

JUMLAH KASUS PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH KASUS PD3I

NO KECAMATAN PUSKESMAS CAMPAK


POLIO HEPATITIS B
JUMLAH KASUS
MENINGGAL
L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 Sukorejo Karangsari 7 6 13 0 0 0 0 0 0 0
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 3 6 9 0 0 0 0 0 0 0
3 Sananwetan Sananwetan 22 16 38 0 0 0 0 0 0 0

JUMLAH (KAB/KOTA) 32 28 60 0 0 0 0 0 0 0
CASE FATALITY RATE (%) 0,0

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 21

JUMLAH KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)


NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH KASUS MENINGGAL CFR (%)
L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 15 9 24 0 0 0 0,0 0,0 0,0
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 6 10 16 0 0 0 0,0 0,0 0,0
3 Sananwetan Sananwetan 25 22 47 0 0 0 0,0 0,0 0,0

JUMLAH (KAB/KOTA) 46 41 87 0 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!


INCIDENCE RATE PER 100.000 PENDUDUK 33,59 29,94 63,53

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Ket: Jumlah kasus adalah seluruh kasus yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk kasus yang ditemukan di RS
TABEL 22

KESAKITAN DAN KEMATIAN AKIBAT MALARIA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

MALARIA
SEDIAAN DARAH DIPERIKSA
NO KECAMATAN PUSKESMAS SUSPEK MENINGGAL CFR
POSITIF
L P L+P
L P L+P L % P % L+P % L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
1 Sukorejo Karangsari 0 1 1 - 1 1 - #DIV/0! - - - - 0 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1 0 1 1 - 1 - 0,00 - #DIV/0! - - 0 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
3 Sananwetan Sananwetan 0 0 0 - - - - #DIV/0! - #DIV/0! - #DIV/0! 0 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!

JUMLAH (KAB/KOTA) 1 1 2 1 1 2 - 0,00 - - #DIV/0! #DIV/0! 0 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!

JUMLAH PENDUDUK BERISIKO

ANGKA KESAKITAN (ANNUAL PARASITE INCIDENCE ) PER 1.000 PENDUDUK BERISIKO #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Ket: Jumlah kasus adalah seluruh kasus yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk kasus yang ditemukan di RS
TABEL 23

PENDERITA FILARIASIS DITANGANI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PENDERITA FILARIASIS
NO KECAMATAN PUSKESMAS KASUS BARU DITEMUKAN JUMLAH SELURUH KASUS
L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Sukorejo Karangsari 0 0 0 0 0 0
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 0 0 0 0 0 0
3 Sananwetan Sananwetan 0 0

JUMLAH (KAB/KOTA) 0 0 0 0 0 0
ANGKA KESAKITAN PER 100.000 PENDUDUK (KAB/KOTA) 0 0 0

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


Ket: Jumlah kasus adalah seluruh kasus yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut termasuk kasus yang ditemukan di RS
TABEL 24

PENGUKURAN TEKANAN DARAH MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

DILAKUKAN PENGUKURAN TEKANAN DARAH HIPERTENSI/TEKANAN DARAH TINGGI


JUMLAH PENDUDUK 18 TAHUN LAKI-LAKI + LAKI-LAKI +
NO KECAMATAN PUSKESMAS LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI PEREMPUAN
PEREMPUAN PEREMPUAN
LAKI-LAKI +
LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
PEREMPUAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 Sukorejo Karangsari 16.933 17.798 34.731 68,00 0,40 247,00 1,39 315,00 0,91 19,00 27,94 55,00 22,27 74,00 23,49
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 14.898 15.658 30.556 80,00 0,54 83,00 0,53 163,00 0,53 14,00 17,50 46,00 55,42 60,00 36,81
3 Sananwetan Sananwetan 18.928 19.895 38.823 226,00 1,19 298,00 1,50 524,00 1,35 45,00 19,91 56,00 18,79 101,00 19,27

JUMLAH (KAB/KOTA) 50.759 53.351 104.110 374,00 0,74 628,00 1,18 1.002,00 0,96 78,00 20,86 157,00 25,00 235,00 23,45

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 25

PEMERIKSAAN OBESITAS MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH PENGUNJUNG PUSKESMAS DAN DILAKUKAN PEMERIKSAAN OBESITAS OBESE


JARINGANNYA BERUSIA 15 TAHUN LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI + PEREMPUAN LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI + PEREMPUAN
NO KECAMATAN PUSKESMAS
LAKI-LAKI +
LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
PEREMPUAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 Sukorejo Karangsari 0 0 107 #DIV/0! 49 #DIV/0! 156 #DIV/0! 3 2,80 7 14,29 10 6,41
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 15.127 19.938 35.065 37 0,24 45 0,23 82 0,23 15 40,54 26 57,78 41 50,00
3 Sananwetan Sananwetan 24.157 43.017 67.174 15 0,06 43 0,10 58 0,09 7 46,67 24 55,81 31 53,45

JUMLAH (KAB/KOTA) 39.284 62.955 102.239 159 0,40 137 0,22 296 0,29 25 15,72 57 41,61 82 27,70

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 26

CAKUPAN DETEKSI DINI KANKER LEHER RAHIM DENGAN METODE IVA DAN KANKER PAYUDARA DENGAN PEMERIKSAAN KLINIS (CBE)
MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PEMERIKSAAN LEHER RAHIM


PEREMPUAN IVA POSITIF TUMOR/BENJOLAN
NO KECAMATAN PUSKESMAS DAN PAYUDARA
USIA 30-50 TAHUN
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Sukorejo Karangsari 6.833 285 4,17 0 0,00 0 0,00
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 6.012 273 4,54 0 0,00 0 0,00
3 Sananwetan Sananwetan 7.639 282 3,69 0 0,00 0 0,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 20.484 840 4,10 0 0,00 0 0,00

Sumber: Seksi Kesga & Kespro


Ket: IVA: Inspeksi Visual dengan Asam asetat
CBE: Clinical Breast Examination
TABEL 27

JUMLAH PENDERITA DAN KEMATIAN PADA KLB MENURUT JENIS KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

YANG TERSERANG JUMLAH PENDUDUK


WAKTU KEJADIAN (TANGGAL) JUMLAH PENDERITA KELOMPOK UMUR PENDERITA JUMLAH KEMATIAN ATTACK RATE (%) CFR (%)
JENIS KEJADIAN TERANCAM
NO JUMLAH JUMLAH
LUAR BIASA DITANGGU- 0-7 8-28 1-11 1-4 5-9 10-14 15-19 20-44 45-54 55-59 60-69 70+
KEC DESA/KEL DIKETAHUI AKHIR L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P
LANGI HARI HARI BLN THN THN THN THN THN THN THN THN THN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34
1 Difteri 3 16 4/1/2014 4/1/2014 15/12/2014 9 7 16 0 0 0 3 11 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 350 345 695 2,57 2,03 2,30 - - -
2 AFP 2 2 14/3/2014 14/3/2014 28/6/2014 5 0 5 0 0 0 0 3 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 180 170 350 2,78 - 1,43 - #DIV/0! -

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 28

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DI DESA/KELURAHAN YANG DITANGANI < 24 JAM


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

KLB DI DESA/KELURAHAN
NO KECAMATAN PUSKESMAS
JUMLAH DITANGANI <24 JAM %
1 2 3 4 5 6
1 Sukorejo Karangsari 8 8 100,00
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 3 3 100,00
3 Sananwetan Sananwetan 10 10 100,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 21 21 100,00

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 29

CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL, PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN, DAN PELAYANAN KESEHATAN IBU NIFAS
MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

IBU HAMIL IBU BERSALIN/NIFAS


PERSALINAN MENDAPAT IBU NIFAS
NO KECAMATAN PUSKESMAS K1 K4
JUMLAH JUMLAH DITOLONG NAKES YANKES NIFAS MENDAPAT VIT A
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 Sukorejo Karangsari 905 677 74,81 590 65,19 863 688 79,72 690 79,95 690 79,95
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 730 685 93,84 603 82,60 698 623 89,26 606 86,82 622 89,11
3 Sananwetan Sananwetan 957 918 95,92 844 88,19 913 848 92,88 844 92,44 808 88,50

JUMLAH (KAB/KOTA) 2.592 2.280 87,96 2.037 78,59 2.474 2.159 87,27 2.140 86,50 2.120 85,69

Sumber:
- Seksi Kesga & Kespro
- Seksi Kesehatan Anak, Remaja, Usia Lanjut dan Gizi Masyarakat
TABEL 30

PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

IMUNISASI TETANUS TOKSOID PADA IBU HAMIL


JUMLAH IBU
NO KECAMATAN PUSKESMAS TT-1 TT-2 TT-3 TT-4 TT-5 TT2+
HAMIL
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
1 Sukorejo Karangsari 905 43 4,75 1 0,11 104 11,49 284 31,38 363 40,11 752 83,09
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 730 20 2,74 5 0,68 31 4,25 35 4,79 17 2,33 88 12,05
3 Sananwetan Sananwetan 957 58 6,06 8 0,84 184 19,23 245 25,60 321 33,54 758 79,21

JUMLAH (KAB/KOTA) 2.592 121 4,67 14 0,54 319 12,31 564 21,76 701 27,04 1.598 61,65

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 31

PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

IMUNISASI TETANUS TOKSOID PADA WUS


JUMLAH WUS
NO KECAMATAN PUSKESMAS TT-1 TT-2 TT-3 TT-4 TT-5
(15-39 TAHUN)
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 Sukorejo Karangsari 24.553 626 2,55 683 2,78 2.236 9,11 2.432 9,91 1.725 7,03
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 20.708 416 2,01 1.135 5,48 1.395 6,74 1.258 6,07 1.443 6,97
3 Sananwetan Sananwetan 27.199 607 2,23 725 2,67 1.766 6,49 1.505 5,53 2.247 8,26

JUMLAH (KAB/KOTA) 72.460 1.649 2,28 2.543 3,51 5.397 7,45 5.195 7,17 5.415 7,47

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 32

JUMLAH IBU HAMIL YANG MENDAPATKAN TABLET FE1 DAN FE3 MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH FE1 (30 TABLET) FE3 (90 TABLET)


NO KECAMATAN PUSKESMAS
IBU HAMIL JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Sukorejo Karangsari 905 677 74,81 590 65,19
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 730 685 93,84 603 82,60
3 Sananwetan Sananwetan 957 918 95,92 844 88,19

JUMLAH (KAB/KOTA) 2592 2280 87,96 2037 78,59

Sumber: Seksi Kesehatan Anak, Remaja, Usia Lanjut dan Gizi Masyarakat
TABEL 33

JUMLAH DAN PERSENTASE PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN DAN KOMPLIKASI NEONATAL


MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PERKIRAAN PENANGANAN
PERKIRAAN NEONATAL PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL
BUMIL KOMPLIKASI JUMLAH BAYI
JUMLAH KOMPLIKASI
NO KECAMATAN PUSKESMAS DENGAN KEBIDANAN L P L+P
IBU HAMIL
KOMPLIKASI
KEBIDANAN S % L P L+P L P L+P S % S % S %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
1 Sukorejo Karangsari 905 181 153 84,53 427 370 797 64 56 120 44 68,70 34 61,26 78 65,24
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 730 146 174 119,18 309 295 604 46 44 91 56 120,82 59 133,33 115 126,93
3 Sananwetan Sananwetan 957 191 170 88,82 444 480 924 67 72 139 49 73,57 53 73,61 102 73,59

JUMLAH (KAB/KOTA) 2.592 518 497 95,87 1.180 1.145 2.325 177 172 349 149 84,18 146 85,01 295 84,59

Sumber: Seksi Kesga & Kespro


TABEL 34

PROPORSI PESERTA KB AKTIF MENURUT JENIS KONTRASEPSI, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PESERTA KB AKTIF
MKJP NON MKJP MKJP +
NO KECAMATAN PUSKESMAS % MKJP +
IM OBAT LAIN NON
IUD % MOP % MOW % % JUMLAH % KON DOM % SUNTIK % PIL % % % JUMLAH % NON MKJP
PLAN VAGINA NYA MKJP
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27
1 Sukorejo Karangsari 2.227 41,60 15 0,28 65 1,21 864 16,14 3.171 59,24 372 6,95 1.430 26,71 380 7,10 0 0,00 0 0,00 2.182 40,76 5.353 100,00
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1.993 38,39 20 0,39 37 0,71 399 7,68 2.449 47,17 140 2,70 1.761 33,92 842 16,22 0 0,00 0 0,00 2.743 52,83 5.192 100,00
3 Sananwetan Sananwetan 1.094 18,94 47 0,81 63 1,09 109 1,89 1.313 22,73 200 3,46 2.889 50,01 1.375 23,80 0 0,00 0 0,00 4.464 77,27 5.777 100,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 5.314 32,56 82 0,50 165 1,01 1.372 8,41 6.933 42,48 712 4,36 6.080 37,25 2.597 15,91 0 0,00 0 0,00 9.389 57,52 16.322 100,00

Sumber: Seksi Kesga & Kespro


Keterangan: MKJP = Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
TABEL 35

PROPORSI PESERTA KB BARU MENURUT JENIS KONTRASEPSI, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PESERTA KB BARU
MKJP NON MKJP MKJP + % MKJP
NO KECAMATAN PUSKESMAS
OBAT LAIN NON + NON
IUD % MOP % MOW % IMPLAN % JUMLAH % KONDOM % SUNTIK % PIL % % % JUMLAH % MKJP MKJP
VAGINA NYA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27
1 Sukorejo Karangsari 155 35,96 0 0,00 9 2,09 101 23,43 265 61,48 27 6,26 89 20,65 50 11,60 0 0,00 0 0,00 166 38,52 431 100,00
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 100 35,71 0 0,00 14 5,00 24 8,57 138 49,29 10 3,57 85 30,36 47 16,79 0 0,00 0 0,00 142 50,71 280 100,00
3 Sananwetan Sananwetan 175 23,36 0 0,00 20 2,67 24 3,20 219 29,24 11 1,47 422 56,34 97 12,95 0 0,00 0 0,00 530 70,76 749 100,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 430 29,45 0 0,00 43 2,95 149 10,21 622 42,60 48 3,29 596 40,82 194 13,29 0 0,00 0 0,00 838 57,40 1.460 100,00

Sumber: Seksi Kesga & Kespro


Keterangan: MKJP = Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
TABEL 36

JUMLAH PESERTA KB BARU DAN KB AKTIF MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PESERTA KB BARU PESERTA KB AKTIF


NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH PUS
JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Sukorejo Karangsari 7.712 431 5,59 5.353 69,41
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 7.294 280 3,84 5.192 71,18
3 Sananwetan Sananwetan 8.275 749 9,05 5.777 69,81

JUMLAH (KAB/KOTA) 23.281 1.460 6,27 16.322 70,11

Sumber: Seksi Kesga dan Kespro


TABEL 37

BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

BAYI BARU LAHIR DITIMBANG BBLR


JUMLAH LAHIR HIDUP
NO KECAMATAN PUSKESMAS L P L+P L P L+P
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 Sukorejo Karangsari 406 281 687 406 100,00 281 100,00 687 100,00 18 4,43 14 4,98 32 4,66
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 316 302 618 316 100,00 302 100,00 618 100,00 18 5,70 20 6,62 38 6,15
3 Sananwetan Sananwetan 452 397 849 452 100,00 397 100,00 849 100,00 25 5,53 22 5,54 47 5,54

JUMLAH (KAB/KOTA) 1.174 980 2.154 1.174 100,00 980 100,00 2.154 100,00 61 5,20 56 5,71 117 5,43

Sumber: Seksi Kesga & Kespro


TABEL 38

CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

KUNJUNGAN NEONATAL 1 KALI (KN1) KUNJUNGAN NEONATAL 3 KALI (KN LENGKAP)


JUMLAH BAYI
NO KECAMATAN PUSKESMAS L P L+P L P L+P
L P L +P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 Sukorejo Karangsari 427 370 797 404 94,61 285 77,03 689 86,45 396 92,74 301 81,35 697 87,45
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 309 295 604 311 100,65 301 102,03 612 101,32 298 96,44 280 94,92 578 95,70
3 Sananwetan Sananwetan 444 480 924 454 102,25 394 82,08 848 91,77 440 99,10 403 83,96 843 91,23

JUMLAH (KAB/KOTA) 1.180 1.145 2.325 1.169 99,07 980 85,59 2.149 92,43 1.134 96,10 984 85,94 2.118 91,10

Sumber: Seksi Kesga & Kespro


TABEL 39

JUMLAH BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF


JUMLAH BAYI USIA 0-6 BULAN
NO KECAMATAN PUSKESMAS
L P L+P
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 384 355 739 321 83,59 298 83,94 619 83,76
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 170 155 325 108 63,53 100 64,52 208 64,00
3 Sananwetan Sananwetan 370 381 751 262 70,81 272 71,39 534 71,11

JUMLAH (KAB/KOTA) 924 891 1.815 691 74,78 670 75,20 1.361 74,99

Sumber: Seksi Kesehatan Anak, Remaja, Usia Lanjut dan Gizi Masyarakat
TABEL 40

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PELAYANAN KESEHATAN BAYI


JUMLAH BAYI
NO KECAMATAN PUSKESMAS L P L+P
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 427 370 797 362 84,78 320 86,49 682 85,57
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 309 295 604 258 83,50 266 90,17 524 86,75
3 Sananwetan Sananwetan 444 480 924 383 86,26 293 61,04 676 73,16

JUMLAH (KAB/KOTA) 1.180 1.145 2.325 1.003 85,00 879 76,77 1.882 80,95

Sumber: Seksi Kesga & Kespro


TABEL 41

CAKUPAN DESA/KELURAHAN UNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION (UCI) MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH DESA/KELURAHAN % DESA/KELURAHAN


NO KECAMATAN PUSKESMAS
DESA/KELURAHAN UCI UCI

1 2 3 4 5 6
1 Sukorejo Karangsari 7 6 85,71
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 7 6 85,71
3 Sananwetan Sananwetan 7 7 100,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 21 19 90,48

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 42

CAKUPAN IMUNISASI HEPATITIS B < 7 HARI DAN BCG PADA BAYI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

BAYI DIIMUNISASI
JUMLAH LAHIR HIDUP Hb < 7 hari BCG
NO KECAMATAN PUSKESMAS
L P L+P L P L+P
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 Sukorejo Karangsari 427 370 797 398 93,21 297 80,27 695 87,20 410 96,02 313 84,59 723 90,72
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 309 295 604 318 102,91 296 100,34 614 101,66 294 95,15 231 78,31 525 86,92
3 Sananwetan Sananwetan 444 480 924 487 109,68 410 85,42 897 97,08 468 105,41 409 85,21 877 94,91

JUMLAH (KAB/KOTA) 1180 1145 2325 1203 101,95 1003 87,60 2206 94,88 1172 99,32 953 83,23 2125 91,40

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan dan Pemberantasan Penyakit


TABEL 43

CAKUPAN IMUNISASI DPT-HB/DPT-HB-Hib, POLIO, CAMPAK, DAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

BAYI DIIMUNISASI
JUMLAH BAYI
(SURVIVING INFANT)
DPT-HB3/DPT-HB-Hib3 POLIO 4a CAMPAK IMUNISASI DASAR LENGKAP
NO KECAMATAN PUSKESMAS
L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8,00 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

1 Sukorejo Karangsari 427 370 797 349 81,73 363 98,11 712 89,34 349 81,73 363 98,11 712 89,34 376 88,06 379 102,43 755 94,73 363 85,01 382 103,24 745 93,48
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 309 295 604 260 84,14 238 80,68 498 82,45 260 84,14 238 80,68 498 82,45 277 89,64 268 90,85 545 90,23 274 88,67 264 89,49 538 89,07
3 Sananwetan Sananwetan 444 480 924 503 113,29 411 85,63 914 98,92 506 113,96 409 85,21 915 99,03 512 115,32 447 93,13 959 103,79 510 114,86 447 93,13 957 103,57

JUMLAH (KAB/KOTA) 1.180 1.145 2.325 1.112 94,24 1.012 88,38 2.124 91,35 1.115 94,49 1.010 88,21 2.125 91,40 1.165 98,73 1.094 95,55 2.259 97,16 1.147 97,20 1.093 95,46 2.240 96,34

Sumber: Seksi Pencegahan, Pengamatan dan Pemberantasan Penyakit


Keterangan: a = khusus provinsi yang menerapkan 3 dosis polio maka diisi dengan polio 3
TABEL 44

CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI DAN ANAK BALITA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

BAYI 6-11 BULAN ANAK BALITA (12-59 BULAN) BALITA (6-59 BULAN)
MENDAPAT VIT A MENDAPAT VIT A MENDAPAT VIT A
NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH BAYI JUMLAH JUMLAH
L P L+P L P L+P L P L+P
L P L+P S % S % S % L P L+P S % S % S % L P L+P S % S % S
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29
1 Sukorejo Karangsari 427 370 797 316 74,00 291 78,65 607 76,16 1.561 1.382 2.943 2.098 134,40 1.998 144,57 4.096 139,18 1.988 1.752 3.740 2.414 121,43 2.289 130,65 4.703
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 309 295 604 283 91,59 290 98,31 573 94,87 1.417 1.274 2.691 1.093 77,13 1.092 85,71 2.185 81,20 1.726 1.569 3.295 1.376 79,72 1.382 88,08 2.758
3 Sananwetan Sananwetan 444 480 924 376 84,68 380 79,17 756 81,82 1.792 1.616 3.408 1.695 94,59 1.653 102,29 3.348 98,24 2.236 2.096 4.332 2.071 92,62 2.033 96,99 4.104

JUMLAH (KAB/KOTA) 1.180 1.145 2.325 975 82,63 961 83,93 1.936 83,27 4.770 4.272 9.042 4.886 102,43 4.743 111,03 9.629 106,49 5.950 5.417 11.367 5.861 98,50 5.704 105,30 11.565

Sumber: Seksi Kesehatan Anak, Remaja, Usia Lanjut dan Gizi Masyarakat
Keterangan: Pelaporan pemberian vitamin A dilakukan pada Februari dan Agustus, maka perhitungan bayi 6-11 bulan yang mendapat vitamin A dalam setahun
dihitung dengan mengakumulasi bayi 6-11 bulan yang mendapat vitamin A di bulan Februari dan yang mendapat vitamin A di bulan Agustus
AN ANAK BALITA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS

BALITA (6-59 BULAN)


MENDAPAT VIT A
L+P
%
30
125,75
83,70
94,74

101,74
TABEL 45

JUMLAH ANAK 0-23 BULAN DITIMBANG MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

ANAK 0-23 BULAN (BADUTA)


JUMLAH BADUTA DITIMBANG BGM
NO KECAMATAN PUSKESMAS
DILAPORKAN (S) JUMLAH (D) % (D/S) L P L+P
L P L+P L P L+P L P L+P JUMLA % JUMLA % JUMLA %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 H
13 14 H
15 16 H
17 18
1 Sukorejo Karangsari 1.362 1.305 2.667 612 564 1.176 44,93 43,22 44,09 6 0,98 9 1,60 15 1,28
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1.132 1.119 2.251 324 358 682 28,62 31,99 30,30 6 1,85 4 1,12 10 1,47
3 Sananwetan Sananwetan 1.527 1.563 3.090 845 791 1.636 55,34 50,61 52,94 13 1,54 6 0,76 19 1,16

JUMLAH (KAB/KOTA) 4.021 3.987 8.008 1.781 1.713 3.494 44,29 42,96 43,63 25 1,40 19 1,11 44 1,26

Sumber: Seksi Kesehatan Anak, Remaja, Usia Lanjut dan Gizi Masyarakat
TABEL 46

CAKUPAN PELAYANAN ANAK BALITA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

ANAK BALITA (12-59 BULAN)


MENDAPAT PELAYANAN KESEHATAN (MINIMAL 8 KALI)
NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH
L P L+P
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 1.561 1.382 2.943 959 61,43 1.003 72,58 1.962 66,67
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1.417 1.274 2.691 717 50,60 728 57,14 1.445 53,70
3 Sananwetan Sananwetan 1.792 1.616 3.408 1.050 58,59 1.002 62,00 2.052 60,21

JUMLAH (KAB/KOTA) 4.770 4.272 9.042 2.726 57,15 2.733 63,97 5.459 60,37

Sumber: Seksi Kesga & Kespro


TABEL 47

JUMLAH BALITA DITIMBANG MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

BALITA
JUMLAH BALITA DITIMBANG BGM
NO KECAMATAN PUSKESMAS
DILAPORKAN (S) JUMLAH (D) % (D/S) L P L+P
L P L+P L P L+P L P L+P JUMLA % JUMLA % JUMLA %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 H
13 14 H
15 16 H
17 18
1 Sukorejo Karangsari 1.930 1.930 3.860 1.287 1.250 2.537 66,68 64,77 65,73 6 0,47 9 0,72 15 0,59
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1.517 1.518 3.035 903 920 1.823 59,53 60,61 60,07 6 0,66 4 0,43 10 0,55
3 Sananwetan Sananwetan 2.236 2.236 4.472 1.772 1.669 3.441 79,25 74,64 76,95 13 0,73 6 0,36 19 0,55

JUMLAH (KAB/KOTA) 5.683 5.684 11.367 3.962 3.839 7.801 69,72 67,54 68,63 25 0,63 19 0,49 44 0,56

Sumber: Seksi Kesehatan Anak, Remaja, Usia Lanjut dan Gizi Masyarakat
TABEL 48

CAKUPAN KASUS BALITA GIZI BURUK YANG MENDAPAT PERAWATAN MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

KASUS BALITA GIZI BURUK


MENDAPAT PERAWATAN
NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH DITEMUKAN
L P L+P
L P L+P S % S % S %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 3 - 3 3 100,00 - #DIV/0! 3 100,00
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1 - 1 1 100,00 - #DIV/0! 1 100,00
3 Sananwetan Sananwetan 4 - 4 4 100,00 - #DIV/0! 4 100,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 8 - 8 8 100,00 - #DIV/0! 8 100,00

Sumber: Seksi Kesehatan Anak, Remaja, Usia Lanjut dan Gizi Masyarakat
TABEL 49

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN (PENJARINGAN) SISWA SD & SETINGKAT MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

MURID KELAS 1 SD DAN SETINGKAT


SD DAN SETINGKAT
MENDAPAT PELAYANAN KESEHATAN (PENJARINGAN)
JUMLAH
NO KECAMATAN PUSKESMAS L P L+P MENDAPAT
PELAYANAN
JUMLAH %
L P L+P JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % KESEHATAN
(PENJARINGAN)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 Sukorejo Karangsari 457 375 832 457 100,0 375 100,0 832 100,0 23 23 100,00
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 480 452 932 480 100,0 452 100,0 932 100,0 25 25 100,00
3 Sananwetan Sananwetan 658 638 1.296 658 100,0 638 100,0 1.296 100,0 25 25 100,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 1.595 1.465 3.060 1.595 100,0 1.465 100,0 3.060 100,0 73 73 100,00
CAKUPAN PENJARINGAN KESEHATAN SISWA SD & SETINGKAT 100,0 100,0 100,0

Sumber: Seksi Kesehatan Anak, Remaja, Usia Lanjut dan Gizi Masyarakat
TABEL 50

PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT


NO KECAMATAN PUSKESMAS PENCABUTAN GIGI RASIO TUMPATAN/
TUMPATAN GIGI TETAP
TETAP PENCABUTAN
1 2 3 4 5 6
1 Sukorejo Karangsari 599 459 1,31
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 952 862 1,10
3 Sananwetan Sananwetan 1.320 852 1,55

JUMLAH (KAB/ KOTA) 2.871 2.173 1,32

Sumber: Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus


TABEL 51

PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK SD DAN SETINGKAT MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

UPAYA KESEHATAN GIGI SEKOLAH

JUMLAH JUMLAH JUMLAH MURID SD/MI MURID SD/MI DIPERIKSA PERLU PERAWATAN MENDAPAT PERAWATAN
NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH SD/MI DGN SD/MI
% %
SD/MI SIKAT GIGI MENDAPAT
MASSAL YAN. GIGI
L P L+P L % P % L+P % L P L+P L % P % L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
1 Sukorejo Karangsari 23 23 100,00 23 100,00 2.090 2.090 4.180 46 2,20 192 9,19 238 5,69 98 109 207 64 65,31 81 74,31 145
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 23 23 100,00 23 100,00 2.897 2.897 5.794 458 15,81 442 15,26 900 15,53 303 223 526 389 128,38 355 159,19 744
3 Sananwetan Sananwetan 27 27 100,00 27 100,00 2.279 2.279 4.558 741 32,51 653 28,65 1.394 30,58 410 393 803 291 70,98 183 46,56 474

JUMLAH (KAB/ KOTA) 73 73 100,00 73 100,00 7.266 7.266 14.532 1.245 17,13 1.287 17,71 2.532 17,42 811 725 1.536 744 91,74 619 85,38 1.363

Sumber: Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus


ANAK SD DAN SETINGKAT MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS

UPAYA KESEHATAN GIGI SEKOLAH

MENDAPAT PERAWATAN

%
26
70,05
141,44
59,03

88,74
TABEL 52

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN USIA LANJUT MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

USILA (60TAHUN+)
NO KECAMATAN PUSKESMAS
JUMLAH MENDAPAT PELAYANAN KESEHATAN
L P L+P L % P % L+P %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sukorejo Karangsari 2.257 2.715 4.972 2.387 105,76 2.324 85,60 4.711 94,75
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 1.985 2.388 4.373 2.322 116,98 1.303 54,56 3.625 82,90
3 Sananwetan Sananwetan 2.522 3.034 5.556 1.491 59,12 2.281 75,18 3.772 67,89

JUMLAH (KAB/KOTA) 6.764 8.137 14.901 6.200 91,66 5.908 72,61 12.108 81,26

Sumber: Seksi Kesehatan Anak, Remaja, Usia Lanjut dan Gizi Masyarakat
TABEL 53

CAKUPAN JAMINAN KESEHATAN PENDUDUK MENURUT JENIS JAMINAN DAN JENIS KELAMIN
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PESERTA JAMINAN KESEHATAN


NO JENIS JAMINAN KESEHATAN JUMLAH %
L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8

1 Jaminan Kesehatan Nasional 29878 4603 34481 44,02 6,66 25,18

1.1 Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN 25.226 25.226 37,17 0,00 18,42

1.2 PBI APBD 4.652 4.603 9.255 6,85 6,66 6,76

1.3 Pekerja penerima upah (PPU) 0 0,00 0,00 0,00

1.4 Pekerja bukan penerima upah (PBPU)/mandiri 0 0,00 0,00 0,00

1.5 Bukan pekerja (BP) 0 0,00 0,00 0,00

2 Jamkesda 0 0,00 0,00 0,00

3 Asuransi Swasta 0 0,00 0,00 0,00

4 Asuransi Perusahaan 0 0,00 0,00 0,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 29.878 4.603 34.481 44,02 6,66 25,18

Sumber:
- Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus
TABEL 54

JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN, RAWAT INAP, DAN KUNJUNGAN GANGGUAN JIWA DI SARANA PELAYANAN KESEHATAN
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH KUNJUNGAN KUNJUNGAN GANGGUAN JIWA


NO SARANA PELAYANAN KESEHATAN RAWAT JALAN RAWAT INAP JUMLAH
L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Puskesmas Sukorejo 72.358 0 72.358 0 0 0 321 336 657
2 Puskesmas Kepanjenkidul 16.035 22.088 38.123 720 0 720 290 129 419
3 Puskesmas Sananwetan 26.871 48.146 75.017 182 222 404 388 221 609
0 0 0
SUB JUMLAH I 115.264 70.234 185.498 902 222 1.124 999 686 1.685
1 RS Syuhada' Haji 1.218 3.233 4.451 1.962 4.625 6.587 0 0 0
2 RSIA Aminah 950 1.064 2.014 1.274 3.017 4.291 0 0 0
3 RSU Aminah 19.276 19.939 39.215 2.910 4.053 6.963 0 0 0
4 RS Katolik Budi Rahayu 15.059 20.724 35.783 2.580 2.985 5.565 0 0 0
5 RSUD Mardi Waluyo 49.142 61.407 110.549 6.485 7.376 13.861 0 0 0
0 0 0
SUB JUMLAH II 85.645 106.367 192.012 15.211 22.056 37.267 0 0 0
0 0 0
SUB JUMLAH III 0 0 0 0 0 0 0 0 0
JUMLAH (KAB/KOTA) 200.909 176.601 377.510 16.113 22.278 38.391 999 686 1.685
JUMLAH PENDUDUK KAB/KOTA 67.869 69.083 136.952 67.869 69.083 136.952
CAKUPAN KUNJUNGAN (%) 296,02 255,64 275,65 23,74 32,25 28,03

Sumber: Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus


Catatan: Puskesmas non rawat inap hanya melayani kunjungan rawat jalan
TABEL 55

ANGKA KEMATIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PASIEN KELUAR PASIEN KELUAR MATI


JUMLAH PASIEN KELUAR MATI GDR NDR
NO NAMA RUMAH SAKITa (HIDUP + MATI) 48 JAM DIRAWAT
TEMPAT TIDUR
L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 RS Syuhada' Haji 78 3.205 3.608 6.813 49 101 150 16 45 61 15,29 27,99 22,02 4,99 12,47 8,95
2 RSIA Aminah 50 1.247 3.017 4.264 4 7 11 3 1 4 3,21 2,32 2,58 2,41 0,33 0,94
3 RSU Aminah 84 2.910 4.053 6.963 91 71 162 52 41 93 31,27 17,52 23,27 17,87 10,12 13,36
4 RS Katolik Budi Rahayu 125 2.580 2.985 5.565 154 130 284 71 65 136 59,69 43,55 51,03 27,52 21,78 24,44
5 RSUD Mardi Waluyo 212 6.449 7.355 13.804 587 507 1.094 347 271 618 91,02 68,93 79,25 53,81 36,85 44,77

KABUPATEN/KOTA 549 16.391 21.018 37.409 885 816 1.701 489 423 912 5,40 3,88 4,55 2,98 2,01 2,44

Sumber: Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus


Keterangan: a termasuk rumah sakit swasta
TABEL 56

INDIKATOR KINERJA PELAYANAN DI RUMAH SAKIT


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH PASIEN KELUAR JUMLAH HARI JUMLAH LAMA


NO NAMA RUMAH SAKITa BOR (%) BTO (KALI) TOI (HARI) ALOS (HARI)
TEMPAT TIDUR (HIDUP + MATI) PERAWATAN DIRAWAT

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 RS Syuhada' Haji 78 6.813 16.363 19.873 57,47 87,35 1,78 2,92
2 RSIA Aminah 50 4.264 14.667 10.376 80,37 85,28 0,84 2,43
3 RSU Aminah 84 6.963 22.545 27.107 73,53 82,89 1,17 3,89
4 RS Katolik Budi Rahayu 125 5.565 20.640 20.537 45,24 44,52 4,49 3,69
5 RSUD Mardi Waluyo 212 13.804 57.286 56.807 74,03 65,11 1,46 4,12

KABUPATEN/KOTA 549 37409 131.501 134.700 65,62 68,14 1,84 3,60

Sumber: Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus


Keterangan: a termasuk rumah sakit swasta
TABEL 57

PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (BER-PHBS) MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

RUMAH TANGGA
NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH JUMLAH
JUMLAH % DIPANTAU % BER- PHBS
DIPANTAU BER- PHBS
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Sukorejo Karangsari 14.687 3.640 24,78 1.371 37,66
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 12.437 3.500 28,14 1.382 39,49
3 Sananwetan Sananwetan 15.814 3.500 22,13 1.544 44,11

JUMLAH (KAB/KOTA) 42.938 10.640 24,78 4.297 40,39

Sumber : Seksi Promosi, Sistem Informasi dan Perijinan Kesehatan


TABEL 58

PERSENTASE RUMAH SEHAT MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

2013 2014
RUMAH MEMENUHI SYARAT JUMLAH RUMAH DIBINA MEMENUHI RUMAH MEMENUHI SYARAT
JUMLAH RUMAH DIBINA
(RUMAH SEHAT) RUMAH YANG SYARAT (RUMAH SEHAT)
NO KECAMATAN PUSKESMAS SELURUH
BELUM
RUMAH
JUMLAH % MEMENUHI JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
SYARAT
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 Sukorejo Karangsari 12964 1.778 13,71 11186 3.700 33,08 1905 51,49 3.683 28,41
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 8742 3.189 36,48 5553 3.363 60,56 1820 54,12 5.009 57,30
3 Sananwetan Sananwetan 13432 2.233 16,62 11199 3.668 32,75 2185 59,57 4.418 32,89

JUMLAH (KAB/KOTA) 35.138 7.200 20,49 27938 10.731 38,41 5910 55,07 13.110 37,31

Sumber: Seksi Penyehatan Lingkungan


TABEL 59

PENDUDUK DENGAN AKSES BERKELANJUTAN TERHADAP AIR MINUM BERKUALITAS (LAYAK) MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

BUKAN JARINGAN PERPIPAAN


PENDUDUK
DENGAN AKSES
PERPIPAAN (PDAM,BPSPAM) BERKELANJUTAN
SUMUR GALI TERLINDUNG SUMUR GALI DENGAN POMPA SUMUR BOR DENGAN POMPA TERMINAL AIR MATA AIR TERLINDUNG PENAMPUNGAN AIR HUJAN TERHADAP AIR
MINUM LAYAK

NO KECAMATAN PUSKESMAS PENDUDUK


MEMENUHI MEMENUHI MEMENUHI MEMENUHI MEMENUHI MEMENUHI MEMENUHI
JUMLAH SARANA

JUMLAH SARANA

JUMLAH SARANA

JUMLAH SARANA

JUMLAH SARANA

JUMLAH SARANA

JUMLAH SARANA
SYARAT SYARAT SYARAT SYARAT SYARAT SYARAT SYARAT

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA
PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK
JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH
PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA
PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK
SARANA

SARANA

SARANA

SARANA

SARANA

SARANA

SARANA
JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

%
1 2 3 4 5 6 8 9 10 11 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36
1 Sukorejo Karangsari 45.348 8.099 34011 5953 24998 - 0 0 0,00 897 3.628 99 399 0 - - 0,00 1 77 1 77,00 0 0 0 0,00 1704 4727 1704 4727 30201 66,60
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 42.907 8.121 38187 5823 27380 - 0 0 0,00 106 429 21 86 0 - - 0,00 0 0 0 0,00 0 0 0 0,00 1363 3737 1363 3737 31203 72,72
3 Sananwetan Sananwetan 48.697 9.234 42366 6953 31902 - 0 0 0,00 405 1.461 45 168 0 - - 0,00 0 0 0 0,00 0 0 0 0,00 861 2528 861 2528 34598 71,05

JUMLAH (KAB/KOTA) 136.952 25.454 114564 18729 84280 0 0 0 0 1408 5518 165 653 0 0 0 0 1 77 1 77 0 0 0 0 3928 10992 3928 10992 96002 70,10

Sumber: Seksi Penyehatan Lingkungan


TABEL 60

PERSENTASE KUALITAS AIR MINUM DI PENYELENGGARA AIR MINUM YANG MEMENUHI SYARAT KESEHATAN
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JUMLAH MEMENUHI SYARAT


JUMLAH SAMPEL (FISIK, BAKTERIOLOGI, DAN KIMIA)
NO KECAMATAN PUSKESMAS PENYELENGGARA
DIPERIKSA
AIR MINUM
JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7
1 Sukorejo Karangsari 0 0 0 #DIV/0!
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 0 0 0 #DIV/0!
3 Sananwetan Sananwetan 1 23 19 82,61

JUMLAH (KAB/KOTA) 1 23 19 82,61

Sumber: Seksi Penyehatan Lingkungan


TABEL 61

PENDUDUK DENGAN AKSES TERHADAP FASILITAS SANITASI YANG LAYAK (JAMBAN SEHAT) MENURUT JENIS JAMBAN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

JENIS SARANA JAMBAN PENDUDUK


KOMUNAL LEHER ANGSA PLENGSENGAN CEMPLUNG DENGAN AKSES
SANITASI LAYAK

PENDUDUK
MEMENUHI SYARAT MEMENUHI SYARAT MEMENUHI SYARAT MEMENUHI SYARAT

JUMLAH SARANA

JUMLAH SARANA

JUMLAH SARANA

JUMLAH SARANA
(JAMBAN SEHAT)

JUMLAH

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA
PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK
% PENDUDUK

% PENDUDUK

% PENDUDUK

% PENDUDUK
NO KECAMATAN PUSKESMAS

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH
PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA

PENGGUNA
PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK

PENDUDUK
SARANA

SARANA

SARANA

SARANA
JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH
JUMLAH %

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
1 Sukorejo Karangsari 45348 - - - - #DIV/0! 10.805 44.808 10.589 43.944 98,07 93 453 85 437 96,47 22 87 - - 0,00 44381 97,87
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 42907 - - - - #DIV/0! 8.519 42.596 7.667 40.791 95,76 62 248 45 230 92,74 15 63 - - 0,00 41021 95,60
3 Sananwetan Sananwetan 48697 - - - - #DIV/0! 9.935 47.869 9.006 45.714 95,50 149 730 131 655 89,73 25 98 - - 0,00 46369 95,22

JUMLAH (KAB/KOTA) 136.952 - - - - #DIV/0! 29.259 135.273 27.262 130.449 96,43 304 1.431 261 1.322 92,38 62 248 - - 0,00 131.771 96,22

Sumber: Seksi Penyehatan Lingkungan


TABEL 62

DESA YANG MELAKSANAKAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM)


JUMLAH DESA/ DESA MELAKSANAKAN DESA STOP BABS
NO KECAMATAN PUSKESMAS DESA STBM
KELURAHAN STBM (SBS)
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Sukorejo Karangsari 7 7 100,00 1 14,29 - 0,00
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 7 5 71,43 0 0,00 - 0,00
3 Sananwetan Sananwetan 7 2 28,57 0 0,00 - 0,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 21 14 66,67 1 4,76 0 0,00

Sumber: Seksi penyehatan Lingkungan


TABEL 63

PERSENTASE TEMPAT-TEMPAT UMUM MEMENUHI SYARAT KESEHATAN MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

TEMPAT-TEMPAT UMUM
YANG ADA MEMENUHI SYARAT KESEHATAN

SARANA PENDIDIKAN SARANA KESEHATAN HOTEL


SARANA TEMPAT-TEMPAT
SARANA PENDIDIKAN HOTEL
KESEHATAN UMUM

JUMLAH TTU
RUMAH SAKIT
NO KECAMATAN PUSKESMAS SD SLTP SLTA PUSKESMAS BINTANG NON BINTANG
UMUM

SAKIT UMUM
PUSKESMAS

BINTANG

BINTANG

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH

JUMLAH
RUMAH
SLTP

SLTA

NON
SD

%
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27
1 Sukorejo Karangsari 23 6 7 1 2 - 2 41 16 69,57 4 66,67 5 71,43 1 100 2 100 0 #DIV/0! 1 50,00 29 70,73
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 24 9 9 1 4 - 11 58 17 70,83 7 77,78 7 77,78 1 100 4 100 0 #DIV/0! 7 63,64 43 74,14
3 Sananwetan Sananwetan 26 13 10 1 2 - 3 55 16 61,54 9 69,23 7 70,00 1 100 2 100 0 #DIV/0! 2 66,67 37 67,27

JUMLAH (KAB/KOTA) 73 28 26 3 8 0 16 154 49 67,12 20 71,43 19 73,08 3 100 8 100 0 #DIV/0! 10 62,50 109 70,78

Sumber: Seksi Penyehatan Lingkungan


TABEL 64

TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN (TPM) MENURUT STATUS HIGIENE SANITASI


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

TPM MEMENUHI SYARAT HIGIENE SANITASI TPM TIDAK MEMENUHI SYARAT HIGIENE SANITASI
JUMLAH RUMAH DEPOT AIR RUMAH DEPOT AIR
NO KECAMATAN PUSKESMAS MAKANAN MAKANAN
TPM JASA BOGA MAKAN/ MINUM TOTAL % JASA BOGA MAKAN/ MINUM TOTAL %
JAJANAN JAJANAN
RESTORAN (DAM) RESTORAN (DAM)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
1 Sukorejo Karangsari 81 2 19 7 32 60 ######## 1 10 0 10 21 25,93
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 87 3 14 7 40 64 ######## 1 7 0 15 23 26,44
3 Sananwetan Sananwetan 89 5 11 7 39 62 ######## 1 3 0 23 27 30,34

JUMLAH (KAB/KOTA) 257 10 44 21 111 186 ######## 3 20 0 48 71 27,63

Sumber: Seksi Penyehatan Lingkungan


TABEL 65

TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN DIBINA DAN DIUJI PETIK


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PERSENTASE TPM

PERSENTASE TPM
JUMLAH TPM DIBINA JUMLAH TPM DIUJI PETIK

MEMENUHI SYARAT

MEMENUHI SYARAT
JUMLAH TPM TIDAK

HIGIENE SANITASI
RUMAH MAKAN/

RUMAH MAKAN/
JUMLAH TPM

DIUJI PETIK
MINUM (DAM)

MINUM (DAM)
JASA BOGA

JASA BOGA
RESTORAN

RESTORAN
DEPOT AIR

DEPOT AIR
MAKANAN

MAKANAN
DIBINA
JAJANAN

JAJANAN
TOTAL

TOTAL
NO KECAMATAN PUSKESMAS

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
1 Sukorejo Karangsari 21 2 26 7 20 55 261,90 60 0 0 7 10 17 28,33
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 23 3 20 7 20 50 217,39 64 0 0 7 10 17 26,56
3 Sananwetan Sananwetan 27 5 11 7 20 43 159,26 62 0 0 7 10 17 27,42

JUMLAH (KAB/KOTA) 71 10 57 21 60 148 208,45 186 0 0 21 30 51 27,42

Sumber: Seksi Penyehatan Lingkungan


TABEL 66

PERSENTASE KETERSEDIAAN OBAT DAN VAKSIN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PERSENTASE
SATUAN TOTAL JUMLAH
NO NAMA OBAT KEBUTUHAN SISA STOK KETERSEDIAAN
TERKECIL PENGGUNAAN OBAT/VAKSIN
OBAT/VAKSIN
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Alopurinol tablet 100 mg tablet 40.000 19.600 71.700 91300 228,25
2 Aminofilin tablet 200 mg tablet 30.000 15.300 68.700 84000,00 280,00
3 Aminofilin injeksi 24 mg/ml tablet 300 330 270 600,00 200,00
4 Amitripilin tablet salut 25 mg (HCL) tablet 4.300 8.500 6.500 15000,00 348,84
5 Amoksisilin kapsul 250 mg kapsul 20.000 28.080 34.680 62760,00 313,80
6 Amoksisilin kaplet 500 mg kaplet 550.000 362.800 753.200 1116000,00 202,91
7 Amoksisilin sirup kering 125 mg/ 5 mg botol 3.300 2.900 15.650 18550,00 562,12
8 Metampiron tablet 500 mg tablet 10.000 12.500 5.100 17600,00 176,00
9 Metampiron injeksi 250 mg ampul - - #DIV/0!
10 Antasida DOEN I tablet kunyah, kombinasi :Aluminium tablet 1268400,00 317,10
Hidroksida 200 mg + Magnesium Hidroksida 200 mg 400.000
277.400 991.000
11 Anti Bakteri DOEN saleb kombinasi : Basitrasin 500 IU/g + tube 1125,00 225,00
500
polimiksin 10.000 IU/g 50 1.075
12 Antihemoroid DOEN kombinasi : Bismut Subgalat 150 mg + supp 4520,00 226,00
Heksaklorofen 250 mg 2.000
1.860 2.660
13 Antifungi DOEN Kombinasi : Asam Benzoat 6% + Asam pot 1944,00 129,60
1.500
Salisilat 3% 504 1.440
14 Antimigren : Ergotamin tartrat 1 mg + Kofein 50 mg tablet 3.000 2.600 10.000 12600,00 420,00
15 Antiparkinson DOEN tablet kombinasi : Karbidopa 25 mg + tablet 1000,00 200,00
500
Levodopa 250 mg - 1.000
16 Aqua Pro Injeksi Steril, bebas pirogen vial 6.400 2.220 4.990 7210,00 112,66
17 Asam Askorbat (vitamin C) tablet 50 mg tablet 160.000 339.000 83.000 422000,00 263,75
18 Asam Asetisalisilat tablet 100 mg (Asetosal) tablet 300 1.200 1.500 2700,00 900,00
19 Asam Asetisalisilat tablet 500 mg (Asetosal) tablet - - #DIV/0!
20 Atropin sulfat tablet 0,5 mg tablet - - #DIV/0!
21 Atropin tetes mata 0,5% botol - - #DIV/0!
22 Atropin injeksi l.m/lv/s.k. 0,25 mg/mL - 1 mL (sulfat) ampul 20 - 90 90,00 450,00
23 Betametason krim 0,1 % krim 3.000 2.049 3.975 6024,00 200,80
24 Deksametason Injeksi I.v. 5 mg/ml ampul 2.200 1.600 3.600 5200,00 236,36
25 Deksametason tablet 0,5 mg tablet 200.000 189.600 793.400 983000,00 491,50
26 Dekstran 70-larutan infus 6% steril botol - - #DIV/0!
27 Dekstrometorfan sirup 10 mg/5 ml (HBr) botol 2.894 2.894 - 2894,00 100,00
28 Dekstrometorfan tablet 15 mg (HBr) tablet 168.100 168.100 - 168100,00 100,00
29 Diazepam Injeksi 5mg/ml ampul 200 120 426 546,00 273,00
30 Diazepam tablet 2 mg tablet 10.000 23.000 143.000 166000,00 1660,00
31 Diazepam tablet 5 mg tablet 5.000 2.500 - 2500,00 50,00
32 Difenhidramin Injeksi I.M. 10 mg/ml (HCL) ampul 1.000 930 2.670 3600,00 360,00
33 Diagoksin tablet 0,25 mg tablet 7.000 6.700 14.500 21200,00 302,86
34 Efedrin tablet 25 mg (HCL) tablet 22.000 13.000 16.200 29200,00 132,73
35 Ekstrks belladona tablet 10 mg tablet 2.000 - 3.000 3000,00 150,00
36 Epinefrin (Adrenalin) injeksi 0,1% (sebagai HCL) ampul 90 90 300 390,00 433,33
37 Etakridin larutan 0,1% botol 30 - 73 73,00 243,33
38 Fenitoin Natriun Injeksi 50 mg/ml ampul - - #DIV/0!
39 Fenobarbital Injeksi I.m/I.v 50 mg/ml ampul 30 - -
40 Fenobarbital tablet 30 mg tablet 11.000 11.000 8.300 19300,00 175,45
41 Fenoksimetil Penisilin tablet 250 mg tablet - - #DIV/0!
42 Fenoksimetil Penisilin tablet 500 mg tablet - - #DIV/0!
43 Fenol Gliserol tetes telinga 10% botol 240 1.344 - 1344,00 560,00
44 Fitomenadion (Vit. K1) injeksi 10 mg/ml ampul 750 60 1.340 1400,00 186,67
45 Fitomenadion (Vit. K1) tablet salut gula 10 mg tablet 4.500 8.500 9.500 18000,00 400,00
46 Furosemid tablet 40 mg tablet 12.000 15.800 31.800 47600,00 396,67
47 Gameksan lotion 1 % botol 300 160 642 802,00 267,33
48 Garam Oralit I serbuk Kombinasi : Natrium 0,70 g, Kalium sach 91300,00 415,00
22.000
klorida 0,30 g, Tribatrium Sitrt dihidrat 0,58 g 39.300 52.000
49 Gentian Violet Larutan 1 % botol 800 573 1.909 2482,00 310,25
50 Glibenklamida tablet 5 mg tablet 30.000 66.100 95.900 162000,00 540,00
51 Gliseril Gualakolat tablet 100 mg tablet 400.000 245.000 269.000 514000,00 128,50
52 Gliserin botol 50 - 200 200,00 400,00
53 Glukosa larutan infus 5% botol 200 600 1.010 1610,00 805,00
54 Glukosa larutan infus 10% botol 100 40 220 260,00 260,00
55 Glukosa larutan infus 40% steril (produk lokal) ampul 20 50 20 70,00 350,00
56 Griseofulvin tablet 125 mg, micronized tablet 2.000 1.000 29.800 30800,00 1540,00
57 Haloperidol tablet 0,5 mg tablet 13.000 13.000 12.000 25000,00 192,31
58 Haloperidol tablet 1,5 mg tablet 17.000 3.000 17.000 20000,00 117,65
59 Haloperidol tablet 5 mg tablet 8.500 9.000 25.000 34000,00 400,00
60 Hidroklorotiazida tablet 25 mg tablet 22.000 17.000 39.000 56000,00 254,55
61 Hidrkortison krim 2,5% tube 3.100 3.168 9.096 12264,00 395,61
62 Ibuprofen tablet 200 mg tablet 50.000 4.000 46.000 50000,00 100,00
63 Ibuprofen tablet 400 mg tablet 100.000 120.500 263.000 383500,00 383,50
64 Isosorbid Dinitrat Tablet Sublingual 5 mg tablet 18.000 3.800 31.700 35500,00 197,22
65 Kalsium Laktat (Kalk) tablet 500 mg tablet 150.000 111.000 189.000 300000,00 200,00
66 Kaptopril tablet 12,5 mg tablet 110.000 58.300 407.700 466000,00 423,64
67 Kaptopril tablet 25 mg tablet 35.000 30.500 94.600 125100,00 357,43
68 Karbamazepim tablet 200 mg tablet 2.700 3.000 10.700 13700 507,41
PERSENTASE KETERSEDIAAN OBAT DAN VAKSIN
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PERSENTASE
SATUAN TOTAL JUMLAH
NO NAMA OBAT KEBUTUHAN SISA STOK KETERSEDIAAN
TERKECIL PENGGUNAAN OBAT/VAKSIN
OBAT/VAKSIN
1 2 3 4 5 6 7 8
69 Ketamin Injeksi 10 mg/ml vial - - #DIV/0!
70 Klofazimin kapsul 100 mg microzine kapsul - - #DIV/0!
71 Kloramfenikol kapsul 250 mg kapsul 9.700 3.490 12.000 15490,00 159,69
72 Kloramfenikol tetes telinga 3 % botol 300 677 776 1453,00 484,33
73 Kloraniramina mealeat (CTM) tablet 4 mg tablet 650.000 434.000 2.598.600 3032600,00 466,55
74 Klorpromazin injeksi i.m 5 mg/ml-2ml (HCL) ampul 100 30 240 270,00 270,00
75 Klorpromazin injeksi i.m 25 mg/ml (HCL) ampul 200 150 300 450,00 225,00
76 Klorpromazin tablet salut 25 mg (HCL) tablet - - #DIV/0!
77 Klorpromazin HCl tablet salut 100 mg (HCL) tablet 20.000 11.000 49.600 60600,00 303,00
78 Anti Malaria DOEN Kombinasi Pirimetamin 25 mg + tablet #DIV/0!
Sulfadoxin 500 mg - -
79 Kotrimosazol Suspensi Kombinasi :Sulfametoksazol 200 mg botol 16134,00 460,97
3.500
+ Trimetoprim 40 mg/ 5 ml 3.002 13.132
80 Kotrimosazol DOEN I (dewasa) Kombinasi : tablet 167700,00 167,70
100.000
Sulfametoksazol 400 mg, Trimetoprim 80 mg 54.700 113.000
81 Kotrimosazol DOEN II (pediatrik) Kombinasi : tablet
100.000
Sulfametoksazol 100 mg, Trimetoprim 20 mg - -
82 Kuinin (kina) tablet 200 mg tablet - - #DIV/0!
83 Kuinin Dihidrokklorida injeksi 25%-2 ml ampul - - #DIV/0!
84 Lidokain injeksi 2% (HCL) + Epinefrin 1 : 80.000-2 ml vial 8.000 3.600 5.250 8850,00 110,63
85 Magnesium Sulfat inj (IV) 20%-25 ml vial 90 30 110 140,00 155,56
86 Magnesium Sulfat inj (IV) 40%-25 ml vial 10 - -
87 Magnesium Sulfat serbuk 30 gram sach - - #DIV/0!
88 Mebendazol sirup 100 mg / 5 ml botol - - #DIV/0!
89 Mebendazol tablet 100 mg tablet 17.500 21.060 19.800 40860,00 233,49
90 Metilergometrin Maleat (Metilergometrin) tablet salut 0,125 tablet 14000,00 112,00
12.500
mg 1.000 13.000
91 Metilergometrin Maleat injeksi 0,200 mg -1 ml ampul 500 50 200 250,00 50,00
92 Metronidazol tablet 250 mg tablet 19.000 11.300 40.100 51400,00 270,53
93 Natrium Bikarbonat tablet 500 mg tablet - - #DIV/0!
94 Natrium Fluoresein tetes mata 2 % botol - - #DIV/0!
95 Natrium Klorida larutan infus 0,9 % botol 2.000 1.624 5.507 7131,00 356,55
96 Natrium Thiosulfat injeksi I.v. 25 % ampul - - #DIV/0!
97 Nistatin tablet salut 500.000 IU/g tablet 200 - 2.000 2000,00 1000,00
98 Nistatin Vaginal tablet salut 100.000 IU/g tablet 8.000 2.000 4.400 6400,00 80,00
99 Obat Batuk hitam ( O.B.H.) botol 5.000 3.494 8.646 12140,00 242,80
100 Oksitetrasiklin HCL salep mata 1 % tube 3.000 250 2.425 2675,00 89,17
101 Oksitetrasiklin injeksi I.m. 50 mg/ml-10 ml vial - - #DIV/0!
102 Oksitosin injeksi 10 UI/ml-1 ml ampul 1.000 320 30 350,00 35,00
103 Paracetamol sirup 120 mg / 5 ml botol 4.000 2.730 12.768 15498,00 387,45
104 Paracetamol tablet 100 mg tablet 12.000 7.500 6.000 13500,00 112,50
105 Paracetamol tablet 500 mg tablet 600.000 521.600 1.127.800 1649400,00 274,90
106 Pilokarpin tetes mata 2 % (HCL/Nitrat) botol - - #DIV/0!
107 Pirantel tab. Score (base) 125 mg tablet 21.000 11.400 39.916 51316,00 244,36
108 Piridoksin (Vitamin B6) tablet 10 mg (HCL) tablet 130.000 98.000 49.800 147800,00 113,69
109 Povidon Iodida larutan 10 % botol 300 180 444 624,00 208,00
110 Povidon Iodida larutan 10 % botol 120 39 344 383,00 319,17
111 Prednison tablet 5 mg tablet 40.000 29.000 53.000 82000,00 205,00
112 Primakuin tablet 15 mg tablet - - #DIV/0!
113 Propillitiourasil tablet 100 mg tablet 5.000 5.100 900 6000,00 120,00
114 Propanol tablet 40 mg (HCL) tablet 5.000 3.200 5.800 9000,00 180,00
115 Reserpin tablet 0,10 mg tablet - - #DIV/0!
116 Reserpin tablet 0,25 mg tablet - - #DIV/0!
117 Ringer Laktat larutan infus botol 7.000 6.700 19.915 26615,00 380,21
118 Salep 2-4, kombinasi: Asam Salisilat 2% + Belerang endap tube 2832,00 157,33
1.800
4% 744 2.088
119 Salisil bedak 2% kotak 3.300 4.315 8.226 12541,00 380,03
120 Serum Anti Bisa Ular Polivalen injeksi 5 ml (ABU I) vial - - #DIV/0!
121 Serum Anti Bisa Ular Polivalen injeksi 50 ml (ABU II) vial - - #DIV/0!
122 Serum Anti Difteri Injeksi 20.000 IU/vial (A.D.S.) vial 20 10 - 10,00 50,00
123 Serum Anti Tetanus Injeksi 1.500 IU/ampul (A.T.S.) ampul 20 20 - 20,00 100,00
124 Serum Anti Tetanus Injeksi 20.000 IU/vial (A.T.S.) vial - - #DIV/0!
125 Sianokobalamin (Vitamin B12) injeksi 500 mcg ampul 1.500 300 1.500 1800,00 120,00
126 Sulfasetamida Natrium tetes mata 15 % botol 1.500 2.016 3.816 5832,00 388,80
127 Tetrakain HCL tetes mata 0,5% botol - - #DIV/0!
128 Tetrasiklin kapsul 250 mg kapsul - - #DIV/0!
129 Tetrasiklin kapsul 500 mg kapsul 6.100 23.900 6.800 30700,00 503,28
130 Tiamin (vitamin B1) injeksi 100 mg/ml ampul 150 - 1.410 1410,00 940,00
131 Tiamin (vitamin B1) tablet 50 mg (HCL/Nitrat) tablet 310.000 243.000 727.000 970000,00 312,90
132 Tiopental Natrium serbuk injeksi 1000 mg/amp ampul - - #DIV/0!
133 Triheksifenidil tablet 2 mg tablet 25.000 30.100 13.600 43700,00 174,80
134 Vaksin Rabies Vero vial - - #DIV/0!
135 Vitamin B Kompleks tablet tablet 160.000 308.000 278.000 586000,00 366,25
VAKSIN #DIV/0!
136 BCG vial 1.100 739 78 817,00 74,27
137 T T vial 700 752 68 820,00 117,14
138 D T vial 300 635 269 904,00 301,33
139 CAMPAK 10 Dosis vial 1.100 1.418 150 1568,00 142,55
140 POLIO 10 Dosis vial 1.300 1.537 110 1647,00 126,69
141 DPT-HB vial 1.100 1.788 133 1921,00 174,64
142 HEPATITIS B 0,5 ml ADS vial 2.000 2.040 309 2349,00 117,45
143 POLIO 20 Dosis vial - - #DIV/0!
144 CAMPAK 20 Dosis vial #DIV/0!

Sumber: UPTD Farmasi, Alat Kesehatan dan Laboratorium Kesehatan


TABEL 67

JUMLAH SARANA KESEHATAN MENURUT KEPEMILIKAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PEMILIKAN/PENGELOLA
NO FASILITAS KESEHATAN
KEMENKES PEM.PROV PEM.KAB/KOTA TNI/POLRI BUMN SWASTA JUMLAH
1 2 3 4 5 6 7 8 9
RUMAH SAKIT
1 RUMAH SAKIT UMUM 1 3 4
2 RUMAH SAKIT KHUSUS 1 1
PUSKESMAS DAN JARINGANNYA
1 PUSKESMAS RAWAT INAP 2 2
- JUMLAH TEMPAT TIDUR 40 40
2 PUSKESMAS NON RAWAT INAP 1 1
3 PUSKESMAS KELILING 0 0
4 PUSKESMAS PEMBANTU 16 16
SARANA PELAYANAN LAIN
1 RUMAH BERSALIN 1 1
2 BALAI PENGOBATAN/KLINIK 11 11
3 PRAKTIK DOKTER BERSAMA 1 1
4 PRAKTIK DOKTER PERORANGAN 49 49
5 PRAKTIK PENGOBATAN TRADISIONAL 4 4
6 BANK DARAH RUMAH SAKIT 0 -
7 UNIT TRANSFUSI DARAH 0 -
SARANA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN
1 INDUSTRI FARMASI -
2 INDUSTRI OBAT TRADISIONAL -
3 USAHA KECIL OBAT TRADISIONAL -
4 PRODUKSI ALAT KESEHATAN -
5 PEDAGANG BESAR FARMASI -
6 APOTEK 1 36 37
7 TOKO OBAT 5 5
8 PENYALUR ALAT KESEHATAN 1 1

Sumber:
- Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus
- Seksi Promosi, Sistem Informasi dan Perijinan Kesehatan
TABEL 68

PERSENTASE SARANA KESEHATAN (RUMAH SAKIT) DENGAN KEMAMPUAN PELAYANAN GAWAT DARURAT (GADAR ) LEVEL I
KOTA BLITAR
TAHUN 2014

MEMPUNYAI KEMAMPUAN YAN. GADAR LEVEL I


NO SARANA KESEHATAN JUMLAH SARANA
JUMLAH %
1 2 3 4 5

1 RUMAH SAKIT UMUM 4 4 100,00

2 RUMAH SAKIT KHUSUS 1 1 100,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 5 5 100,00

Sumber: Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan dan Khusus


TABEL 69

JUMLAH POSYANDU MENURUT STRATA, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

STRATA POSYANDU
POSYANDU AKTIF
NO KECAMATAN PUSKESMAS PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRI
JUMLAH
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 Sukorejo Karangsari 0 0,00 3 5,66 48 90,57 2 3,77 53 50 94,34
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 0 0,00 0 0,00 48 94,12 3 5,88 51 51 100,00
3 Sananwetan Sananwetan 0 0,00 3 5,00 54 90,00 3 5,00 60 57 95,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 0 0,00 6 3,66 150 91,46 8 4,88 164 158 96,34
RASIO POSYANDU PER 100 BALITA 1

Sumber: Seksi Promosi, Sistem Informasi dan Perijinan Kesehatan


TABEL 70

JUMLAH UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT (UKBM) MENURUT KECAMATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

NO KECAMATAN PUSKESMAS DESA/ UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT (UKBM)


KELURAHAN POSKESDES POLINDES POSBINDU
1 2 3 4 5 6 7
1 Sukorejo Karangsari 7 7 0,00 3
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 7 7 0,00 3
3 Sananwetan Sananwetan 7 7 0,00 3

JUMLAH (KAB/KOTA) 21 21 0 9

Sumber:
- Seksi Promosi, Sistem Informasi dan Perijinan Kesehatan
- Seksi Pencegahan, Pengamatan, dan Pemberantasan Penyakit
TABEL 71

JUMLAH DESA SIAGA MENURUT KECAMATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

DESA/KELURAHAN SIAGA
JUMLAH
NO KECAMATAN PUSKESMAS DESA/
PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRI JUMLAH %
KELURAHAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Sukorejo Karangsari 7 - 4 3 0 7 100,00
2 Kepanjenkidul Kepanjenkidul 7 1 5 1 0 7 100,00
3 Sananwetan Sananwetan 7 1 6 0 0 7 100,00

JUMLAH (KAB/KOTA) 21 2 15 4 0 21 100,00

Sumber: Seksi Promosi, Sistem Informasi dan Perijinan Kesehatan


TABEL 72

JUMLAH TENAGA MEDIS DI FASILITAS KESEHATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

a DOKTER
DR SPESIALIS DOKTER UMUM TOTAL DOKTER GIGI TOTAL
NO UNIT KERJA GIGI SPESIALIS
L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
1 Puskesmas Sananwetan - - - - 3 3 - 3 3 - 4 4 - - - - 4 4
2 Puskesmas Kepanjenkidul - - - 2 1 3 2 1 3 1 1 2 - - - 1 1 2
3 Puskesmas Sukorejo - - - - 2 2 - 2 2 - 2 2 - - - - 2 2
- - - - - - - - - -
SUB JUMLAH I (PUSKESMAS) - - - 2 6 8 2 6 8 1 7 8 - - - 1 7 8
1 RSUD Mardi Waluyo 24 6 30 5 9 14 29 15 44 - 3 3 - 1 1 - 4 4
2 RSK Budi Rahayu 2 1 3 10 3 13 12 4 16 - 1 1 - - - - 1 1
3 RS Syuhada Haji 4 1 5 6 3 9 10 4 14 1 1 2 - - - 1 1 2
4 RSU Aminah 2 - 2 3 4 7 5 4 9 - 1 1 - - - - 1 1
5 RSIA Aminah 1 - 1 3 2 5 4 2 6 - - - - - - - - -
6 RB SITI KHODIJAH - - - - 1 1 - 1 1 - - - - - - - - -

SUB JUMLAH II (RUMAH SAKIT) 33 8 41 27 22 49 60 30 90 1 6 7 - 1 1 1 7 8


SARANA PELAYANAN KESEHATAN LAIN 5 1 6
KLINIK DI INSTITUSI DIKNAKES/DIKLAT - - - - - - - - - -
KLINIK DI DINAS KESEHATAN KAB/KOTA - - - - - - - - - -
JUMLAH (KAB/KOTA) 38 9 47 29 28 57 62 36 98 2 13 15 - 1 1 2 14 16
RASIO TERHADAP 100.000 PENDUDUK 34,32 41,62 71,56 10,95 0,73 11,68

Sumber: Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Kearsipan


Keterangan : a termasuk S3
TABEL 73

JUMLAH TENAGA KEPERAWATAN DI FASILITAS KESEHATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

PERAWATa PERAWAT GIGI


NO UNIT KERJA BIDAN
L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Puskesmas Sananwetan 16 6 13 19 0 1 1
2 Puskesmas Kepanjenkidul 15 5 14 19 0 2 2
3 Puskesmas Sukorejo 10 5 8 13 0 1 1
0 0
0 0
SUB JUMLAH I (PUSKESMAS) 41 16 35 51 0 4 4
1 RSUD Mardi Waluyo 23 63 117 180 0 2 2
2 RSK Budi Rahayu 10 6 90 96 0 0 0
3 RS Syuhada Haji 11 40 35 75 0 0 0
4 RSU Aminah 8 17 56 73 0 0 0
5 RSIA Aminah 10 5 10 15 0 0 0
6 RB SITI KHODIJAH 4 0 1 1 0 0 0
0 0
SUB JUMLAH II (RUMAH SAKIT) 66 131 309 440 0 2 2
SARANA PELAYANAN KESEHATAN LAIN 0 0
KLINIK DI INSTITUSI DIKNAKES/DIKLAT 0 0
KLINIK DI DINAS KESEHATAN KAB/KOTA 0 0
JUMLAH (KAB/KOTA) 107 147 344 491 0 6 6
RASIO TERHADAP 100.000 PENDUDUK 154,89 358,52 4,38

Sumber: Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Kearsipan


Keterangan : a termasuk perawat anastesi dan perawat spesialis
TABEL 74

JUMLAH TENAGA KEFARMASIAN DI FASILITAS KESEHATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

TENAGA KEFARMASIAN
TENAGA TEKNIS
NO UNIT KERJA APOTEKER TOTAL
KEFARMASIANa
L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Puskesmas Sananwetan 1 2 3 - 1 1 1 3 4
2 Puskesmas Kepanjenkidul - 2 2 - 1 1 - 3 3
3 Puskesmas Sukorejo 1 1 2 - 2 2 1 3 4
- - - - -
- - - - -
SUB JUMLAH I (PUSKESMAS) 2 5 7 - 4 4 2 9 11
1 RSUD Mardi Waluyo 5 11 16 - 4 4 5 15 20
2 RSK Budi Rahayu - 9 9 - 2 2 - 11 11
3 RS Syuhada Haji 2 5 7 - 1 1 2 6 8
4 RSU Aminah - 9 9 - 3 3 - 12 12
5 RSIA Aminah - - - - 1 1 - 1 1
6 RB SITI KHODIJAH - - - - - - - - -
- - - - -
SUB JUMLAH II (RUMAH SAKIT) 7 34 41 - 11 11 7 45 52
SARANA PELAYANAN KESEHATAN LAIN - - -
KLINIK DI INSTITUSI DIKNAKES/DIKLAT - - -
KLINIK DI DINAS KESEHATAN KAB/KOTA - - -
JUMLAH (KAB/KOTA) 9 39 48 - 15 9 54 63
RASIO TERHADAP 100.000 PENDUDUK 46,00

Sumber: Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Kearsipan


a
Keterangan : termasuk analis farmasi, asisten apoteker, sarjana farmasi
TABEL 75

JUMLAH TENAGA KESEHATAN MASYARAKAT DAN KESEHATAN LINGKUNGAN DI FASILITAS KESEHATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

KESEHATAN MASYARAKATa KESEHATAN LINGKUNGANb


NO UNIT KERJA
L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Puskesmas Sananwetan 1 1 2 1 2 3
2 Puskesmas Kepanjenkidul 1 1 2 1 1 2
3 Puskesmas Sukorejo 1 - 1 1 1 2
- -
SUB JUMLAH I (PUSKESMAS) 3 2 5 3 4 7
1 RSUD Mardi Waluyo - 1 1 4 1 5
2 RSK Budi Rahayu - - - - - -
3 RS Syuhada Haji - 1 1 - 1 1
4 RSU Aminah 1 2 3 - 1 1
5 RSIA Aminah - - - - - -
6 RB SITI KHODIJAH - - - - - -
- -
- -
SUB JUMLAH II (RUMAH SAKIT) 1 4 5 4 3 7
SARANA PELAYANAN KESEHATAN LAIN - -
KLINIK DI INSTITUSI DIKNAKES/DIKLAT - -
KLINIK DI DINAS KESEHATAN KAB/KOTA - -
JUMLAH (KAB/KOTA) 4 6 10 7 7 14
RASIO TERHADAP 100.000 PENDUDUK 7,30 10,22

Sumber: Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Kearsipan


Keterangan :
a
termasuk tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga biostatistik dan kependudukan, tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, epidemiolog kesehatan
b
termasuk tenaga sanitasi lingkungan, entomolog kesehatan, mikrobiolog kesehatan
TABEL 76

JUMLAH TENAGA GIZI DI FASILITAS KESEHATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

NUTRISIONIS DIETISIEN TOTAL


NO UNIT KERJA
L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Puskesmas Sananwetan 1 1 2 - - - 1 1 2
2 Puskesmas Kepanjenkidul 1 - 1 - - - 1 - 1
3 Puskesmas Sukorejo 1 2 3 - - - 1 2 3
- - - - -
- - - - -
SUB JUMLAH I (PUSKESMAS) 3 3 6 - - - 3 3 6
1 RSUD Mardi Waluyo - 11 11 - - - - 11 11
2 RSK Budi Rahayu - - - - 2 2 - 2 2
3 RS Syuhada Haji - - - - 1 1 - 1 1
4 RSU Aminah - - - - 3 3 - 3 3
5 RSIA Aminah - - - - - - - - -
6 RB SITI KHODIJAH - - - - - - - - -
SUB JUMLAH II (RUMAH SAKIT) - 11 11 - 6 6 - 17 17
SARANA PELAYANAN KESEHATAN LAIN - - -
KLINIK DI INSTITUSI DIKNAKES/DIKLAT - - -
KLINIK DI DINAS KESEHATAN KAB/KOTA - - -
JUMLAH (KAB/KOTA) 3 14 17 - 6 6 3 20 23
RASIO TERHADAP 100.000 PENDUDUK 12,41 4,38 16,79

Sumber: Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Kearsipan


TABEL 77

JUMLAH TENAGA KETERAPIAN FISIK DI FASILITAS KESEHATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

TENAGA KETERAPIAN FISIK


TOTAL
NO UNIT KERJA FISIOTERAPIS OKUPASI TERAPIS TERAPIS WICARA AKUPUNKTUR
L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
1 Puskesmas Sananwetan - - - - - - - - - - - - - - -
2 Puskesmas Kepanjenkidul - - - - - - - - - - - - - - -
3 Puskesmas Sukorejo - - - - - - - - - - - - - - -
- - - - - - -
- - - - - - -
SUB JUMLAH I (PUSKESMAS) - - - - - - - - - - - - - - -
1 RSUD Mardi Waluyo 4 2 6 - - - 2 2 4 - - - 6 4 10
2 RSK Budi Rahayu - 3 3 - - - 1 1 2 - - - 1 4 5
3 RS Syuhada Haji 1 - 1 - - - - - - - - - 1 - 1
4 RSU Aminah - 1 1 - - - - - - - - - - 1 1
5 RSIA Aminah - - - - - - - - - - - - - - -
6 RB SITI KHODIJAH - - - - - - - - - - - - - - -
SUB JUMLAH II (RUMAH SAKIT) 5 6 11 - - - 3 3 6 - - - 8 9 17
SARANA PELAYANAN KESEHATAN LAIN - - - - - - -
KLINIK DI INSTITUSI DIKNAKES/DIKLAT - - -
KLINIK DI DINAS KESEHATAN KAB/KOTA - - -
JUMLAH (KAB/KOTA) 5 6 11 - - 3 3 6 - - - 8 9 17
RASIO TERHADAP 100.000 PENDUDUK 8,032 0 4,3811 0 12,413

Sumber: Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Kearsipan


TABEL 78

JUMLAH TENAGA KETEKNISIAN MEDIS DI FASILITAS KESEHATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

TENAGA KETEKNISIAN MEDIS


NO UNIT KERJA REKAM MEDIS DAN
TEKNISI ANALISIS REFRAKSIONIS TEKNISI TRANSFUSI TEKNISI
RADIOGRAFER RADIOTERAPIS TEKNISI GIGI ORTETIK PROSTETIK INFORMASI JUMLAH
ELEKTROMEDIS KESEHATAN OPTISIEN DARAH KARDIOVASKULER
KESEHATAN
L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35
1 Puskesmas Sananwetan - - - - - - - - - - 1 1 - 2 2 - - - - - - - - - - - - - - - - 3 3
2 Puskesmas Kepanjenkidul - - - - - - - - - - - - 2 1 3 - - - - - - - - - - - - - - - 2 1 3
3 Puskesmas Sukorejo - - - - - - - - - - - - 1 1 2 - - - - - - - - - - - - - - - 1 1 2
- - - - - - - - - - - - -
- - - - - - - - - - - - -
SUB JUMLAH I (PUSKESMAS) - - - - - - - - - - 1 1 3 4 7 - - - - - - - - - - - - - - - 3 5 8
1 RSUD Mardi Waluyo 3 3 6 - - - 3 1 4 4 15 19 - 2 2 - - - - 4 4 - - - - - - - - - 10 25 35
2 RSK Budi Rahayu 1 - 1 - - - 1 - 1 - - - - 4 4 - - - - - - 2 - 2 - - - - - - 4 4 8
3 RS Syuhada Haji 2 - 2 - - - - - - - - - 2 1 3 - - - - - - 1 - 1 - - - - - - 5 1 6
4 RSU Aminah 1 2 3 - - - - 1 1 - - - - 6 6 - - - - - - 1 2 3 - - - - - - 2 11 13
5 RSIA Aminah - - - - - - - - - - - - - 1 1 - - - - - - 1 - 1 - - - - - - 1 1 2
6 RB SITI KHODIJAH - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
SUB JUMLAH II (RUMAH SAKIT) 7 5 12 - - - 4 2 6 4 15 19 2 14 16 - - - - 4 4 5 2 7 - - - - - - 22 42 64
SARANA PELAYANAN KESEHATAN LAIN - - - - - - - - - - - - -
KLINIK DI INSTITUSI DIKNAKES/DIKLAT - - - - - - - - - - - - -
KLINIK DI DINAS KESEHATAN KAB/KOTA - - - - - - - - - - - - -
JUMLAH (KAB/KOTA) 7 5 12 - - 4 2 6 4 16 20 5 18 23 - - - - 4 4 5 2 7 - - - - - - 25 47 72
RASIO TERHADAP 100.000 PENDUDUK 52,57

Sumber: Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Kearsipan


TABEL 79

JUMLAH TENAGA KESEHATAN LAIN DI FASILITAS KESEHATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

TENAGA KESEHATAN LAINNYA


PENGELOLA PROGRAM TOTAL
NO UNIT KERJA TENAGA KESEHATAN LAINNYA
KESEHATAN
L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Puskesmas Sananwetan - - - - - - - - -
2 Puskesmas Kepanjenkidul - - - - - - - - -
3 Puskesmas Sukorejo - - - - - - - - -
- - - - -
- - - - -
SUB JUMLAH I (PUSKESMAS) - - - - - - - - -
1 RSUD Mardi Waluyo - - - - - - - - -
2 RSK Budi Rahayu - - - - - - - - -
3 RS Syuhada Haji - - - - - - - - -
4 RSU Aminah 1 1 2 - - - 1 1 2
5 RSIA Aminah - - - - - - - - -
6 RB SITI KHODIJAH - - - - - - - - -
SUB JUMLAH II (RUMAH SAKIT) 1 1 2 - - - 1 1 2
SARANA PELAYANAN KESEHATAN LAIN - - -
INSTITUSI DIKNAKES/DIKLAT - - -
DINAS KESEHATAN KAB/KOTA - - -
JUMLAH (KAB/KOTA) 1 1 2 - - - 1 1 2

Sumber: Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Kearsipan


TABEL 80

JUMLAH TENAGA NON KESEHATAN DI FASILITAS KESEHATAN


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

TENAGA NON KESEHATAN


PEJABAT STAF PENUNJANG STAF PENUNJANG STAF PENUNJANG TENAGA TOTAL
NO UNIT KERJA TENAGA PENDIDIK JURU
STRUKTURAL ADMINISTRASI TEKNOLOGI PERENCANAAN KEPENDIDIKAN
L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
1 Puskesmas Sananwetan - 2 2 2 6 8 - - - - - - - - - - - - 4 5 9 6 13 19
2 Puskesmas Kepanjenkidul 1 1 2 7 6 13 - - - - - - - - - - - - 2 2 4 10 9 19
3 Puskesmas Sukorejo 2 - 2 1 11 12 - - - - - - - - - - - - 1 - 1 4 11 15
- - - - - - - - - -
SUB JUMLAH I (PUSKESMAS) 3 3 6 10 23 33 - - - - - - - - - - - - 7 7 14 20 33 53
1 RSUD Mardi Waluyo 10 13 23 48 52 100 2 2 4 - - - - - - - - - 2 2 4 62 69 131
2 RSK Budi Rahayu 1 8 9 - 1 1 - - - - - - - - - - - - 4 4 8 5 13 18
3 RS Syuhada Haji 2 6 8 - 5 5 - - - - - - - - - - - - - - - 2 11 13
4 RSU Aminah 7 2 9 1 2 3 3 3 6 - - - - - - - - - - - - 11 7 18
5 RSIA Aminah - 1 1 - 5 5 - - - - - - - - - - - - 2 2 4 2 8 10
6 RB SITI KHODIJAH - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
SUB JUMLAH II (RUMAH SAKIT) 20 30 50 49 65 114 5 5 10 - - - - - - - - - 8 8 16 82 108 190
SARANA PELAYANAN KESEHATAN LAIN - - - - - - - - - -
INSTITUSI DIKNAKES/DIKLAT - - - - - - - - - -
DINAS KESEHATAN KAB/KOTA - - - - - - - - - -
JUMLAH (KAB/KOTA) 23 33 56 59 88 147 5 5 10 - - - - - - - - - 15 15 30 102 141 243

Sumber: Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Kearsipan


TABEL 81

ANGGARAN KESEHATAN KABUPATEN/KOTA


KOTA BLITAR
TAHUN 2014

ALOKASI ANGGARAN KESEHATAN


NO SUMBER BIAYA
Rupiah %
1 2 3 4

ANGGARAN KESEHATAN BERSUMBER:

1 APBD KAB/KOTA 171.598.251.624 4,46


a. Belanja Langsung 75.087.910.622

b. Belanja Tidak Langsung 96.510.341.002

2 APBD PROVINSI 0,00

3 APBN : 3.676.056.368.000 95,54

- Dana Dekonsentrasi 0,00


- Dana Alokasi Khusus (DAK) 0,00
- ASKESKIN - 0,00

- TP BOK 343.250.000 0,01


- DBHCT 3.675.713.118.000 95,53

4 PINJAMAN/HIBAH LUAR NEGERI (PHLN) 0,00


(sebutkan project dan sumber dananya) -

5 SUMBER PEMERINTAH LAIN - 0,00

TOTAL ANGGARAN KESEHATAN 3.847.654.619.624 100,0

TOTAL APBD KAB/KOTA 746.312.423.156,91

% APBD KESEHATAN THD APBD KAB/KOTA 22,99

ANGGARAN KESEHATAN PERKAPITA 28.094.913,69

Sumber: Sub Bagian Keuangan