Anda di halaman 1dari 10

PEMBAHASAN

1. Profil Jerome S. Bruner


(Wikipedia, 2010) Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan
psikologi belajar kognitif. Mengenai daftar riwayat hidup dan perjalanan karirnya, tokoh
yang memiliki nama lengkap Jerome Seymour Bruner ini, dilahirkan di New York City pada
tanggal 1 Oktober 1915. Ia berkebangsaan Amerika. Bruner menyelesaikan pendidikan
sarjana di Duke University di mana ia menerima gelar sarjananya (B.A) pada tahun 1937.
Selanjutnya, Bruner belajar psikologi di Harvard University dan mendapat gelar doktornya
pada tahun 1939 dan mendapat gelar Ph.D. Pada tahun 1939 dibawah bimbingan Gordon
Allport. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Penelitiannya meliputi persepsi
manusia, motivasi, belajar, dan berpikir. Dalam mempelajari manusia, Bruner mengganggap
manusia sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi. Bruner menerbitkan artikel
psikologis pertama yang berisi tentang mempelajari pengaruh ekstrak timus pada perilaku
seksual tikus betina. Pada tahun 1941, tesis doktornya berjudul "A Psychological Analysis of
International Radio Broadcasts of Belligerent Nations". Setelah menyelesaikan program
doktornya, Bruner memasuki Angkatan Darat Amerika Serikat dan bertugas di Divisi Warfare
Psikologis dari Markas Agung Sekutu Expeditory Angkatan Eropa komite di bawah
Eisenhower, meneliti fenomena psikologi sosial di mana karyanya berfokus pada propaganda
(subyek tesis doktornya) serta opini publik di Amerika Serikat. Dia adalah editor Public
Opinion Quarterly (1943-1944).
Pada tahun 1945, Bruner kembali ke Harvard sebagai profesor psikologi dan sangat
terlibat dalam penelitian yang berkaitan dengan psikologi kognitif dan psikologi pendidikan.
Ia dengan cepat naik pangkat dari dosen menjadi profesor pada tahun 1952. Dia berperan
penting dalam membangun Path Breaking Center For Cognitive Studies pada tahun 1960
menjabat sebagai direktur pada tahun 1972. Lalu pada tahun 1964-1965 ia terpilih dan
menjabat sebagai presiden dari American Psychological Association. Pada tahun 1970,
Bruner meninggalkan Harvard untuk mengajar di Universitas Oxford di Inggris. Dia kembali
ke Amerika Serikat pada tahun 1980 untuk melanjutkan penelitian di bidang psikologi
perkembangan. Pada tahun 1972, Bruner berlayar melintasi Atlantik. Hal ini dikarenakan
untuk mengambil posisi Watts Professor of Experimental Psychology at Oxford University.
Pada tahun 1991, Bruner bergabung dengan fakultas di New York University Law School.

1|Teori Belajar Penemuan


Selain itu, Bruner juga telah dianugerahi gelar doktor kehormatan dari Yale dan Columbia,
serta perguruan tinggi dan universitas seperti Sorbonne, Berlin, dan Roma, dan merupakan
Fellow dari American Academy of Arts dan Ilmu.
Pemaparan diatas menjelaskan bahwa Jerome S Bruner merupakan ahli psikologi
perkembangan dan khususnya psikologi kognitif, yang tidak diragukan lagi. Hal ini terlihat
jelas dari riwayat hidupnya, dan kontribusi yang dilakukan Bruner dalam mengembangkan
penelitiannya tentang psikologi kognitif. Kiprah dan pengalaman yang sangat luas mengenai
psikologi telah membawanya pada banyak penghargaan yang diterimanya. Penelitian-
penelitian yang dilakukan Jerome S Bruner, mampu membuktikan dan memunculkan teori
baru, yang kemudian teori itu memiliki ciri khas sendiri, dan berbeda dengan teori
sebelumnya, inilah yang dinamakan teori kognitif menurut pandangan Jerome S Bruner.
Yaitu menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi.
2. Teori Belajar Penemuan menurut J.S. Bruner
Bruner (Ratumanan dalam Antari, 2010) berpendapat bahwa proses belajar yang
analistik lebih dominan digunakan oleh sekolah daripada proses belajar yang intuitik. Peserta
didik hanya dilibatkan sebagai pemeran pasif dalam pembelajaran, sedangkan proses belajar
intuitif yang mengedepankan keterlibatan siswa dalam memperoleh informasi malah
dianggap tidak perlu dan bahkan ditinggalkan. Bruner menyatakan bahwa siswa yang
mendapatkan informasi dari penemuannya sendiri akan lebih efektif dan tertanam dalam
memori jangka panjang.
Teori kognisi Bruner menekankan pada cara individu mengorganisasikan apa yang telah
ia alami dan pelajari (Pidarta dalam Antari, 2010). Peranan guru harus menciptakan situasi, di
mana siwa dapat belajar sendiri daripada memberikan suatu paket yang berisi informasi atau
pelajaran kepada siswa. Menurut Bruner, belajar merupakan suatu proses aktif yang
memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang diberikan
kepada dirinya, karena belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.
Penelitian Bruner banyak meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar, dan berpikir.
Dalam mempelajari manusia, beliau menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir, dan
pencipta informasi. Bruner sependapat dengan Piaget bahwa perkembangan kognitif anak-
anak adalah melalui peringkat-peringkat tertentu. Namun, Bruner lebih menekankan
pembelajaran secara penemuan yaitu mengolah apa yang diketahui peserta didik itu kepada
satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme).
3. Ciri-Ciri Teori Belajar Penemuan

2|Teori Belajar Penemuan


a. Empat Tema tentang Pendidikan.
Bruner (dalam Dahar, 1989) mengemukakan bahwa terdapat empat tema pendidikan,
yaitu sebagai berikut:
1. Tema Pertama
Pada tema pertama mengemukakan arti pentingnya struktur pengetahuan. Suatu
kurikulum pendidikan hendaknya mementingkan struktur pengetahuan karena dengan
struktur pengetahuan kita dapat menolong peserta didik melihat bagaimana fakta-
fakta yang kelihatannya tidak ada hubungannya, dapat dihubungkan satu dengan yang
lain, dan pada informasi yang telah mereka miliki. Contohnya yaitu di dalam
melaksanakan pendidikan dengan menggunakan kurikulum yang telah disesuaikan
misalnya kurikulum 2013. Dimana kurikulum ini lebih menekankan peranan siswa
dalam memperoleh informasi tentang suatu hal. Dan juga di dalam pembelajaran di
perhatikan struktur pengetahuan agar proses pembelajaran berjalan dengan kondusif
sesuai dengan materi yang akan maupun materi yang disampaikan.
2. Tema Kedua
Tema kedua mengenai kesiapan (readines) untuk belajar. Menurut Bruner, kesiapan
terdiri atas penguasaan keterampilan-keterampilan yang lebih sederhana yang dapat
mengizinkan seseorang untuk mencapai keterampilan-keterampilan yang lebih tinggi.
Dimana, kesiapan dapat dicapai dengan memberikan kesempatan bagi para peserta
didik untuk membangun kontruksi-kontruksi yang kompleks dengan menggunakan
poligon-poligon. Contohnya yaitu di dalam mata kuliah laboratorium fisika, sebelum
melaksanakan percobaan mahasiswa membuat jurnal percobaan, hal ini bertujuan
agar mahasiswa sebelum melaksanakan perkuliahan memiliki kesiapan tentang teori
percobaan yang akan dilaksanakan.
3. Tema Ketiga
Tema ketiga menekankan pada nilai intuisi dalam proses pendidikan. Dengan intuisi,
teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi teraktif tanpa
melalui langkah-langkah analisis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu
merupakan kesimpulan yang salah atau tidak. Contohnya juga di dalam laboratorium
fisika setelah membuat jurnal dan selesai percobaan dilakukan, mahasiswa ditugaskan
untuki membuat laporan percobaan. Dimana di dalam laporan tersebut dibuat analisis
data untuk mengetahui apakah percobaan yang dilakukan sesuai dengan teori.
2. Tema Keempat

3|Teori Belajar Penemuan


Tema keempat adalah motivasi atau keinginan untuk belajar dan cara-cara yang
tersedia pada guru untuk merangsang motivasi itu. Adapun pengalaman-pengalaman
pendidikan yang merangsang motivasi ialah pengalaman-pengalaman dimana para
peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam menghadapi alamnya. Menurut Bruner,
pengalaman belajar seperti ini dapat dicontohkan oleh pengalaman belajar penemuan
yang intuitif dan implikasi dari asumsi ini akan dibahas dalam bagian-bagian yang
akan datang. Contohnya di dalam melaksanakan pembelajaran seseorang pasti
memerlukan motivasi baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Dengan
motivasi yang dimilikinya seseorang memiliki semangat dalam melaksanakan
pekerjaan yang dilaksanakan.

Menurut Bruner, belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia
untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang diberikan kepada dirinya, karena
belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.

Penelitian Bruner banyak meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar, dan berpikir.
Dalam mempelajari manusia, beliau menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir, dan
pencipta informasi. Bruner sependapat dengan Piaget bahwa perkembangan kognitif anak-
anak adalah melalui peringkat-peringkat tertentu. Namun, Bruner lebih menekankan
pembelajaran secara penemuan yaitu mengolah apa yang diketahui peserta didik itu kepada
satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme).

4. Tahapan-Tahapan Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran


Menurut Bruner, jika seseorang mempelajari suatu pengetahuan, pengetahuan itu perlu
dipelajari dalam tahap-tahap tertentu, agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam
pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-
sungguh (yang berarti proses belajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan yang
dipelajari itu dipelajari dalam tiga tahap, yang macamnya dan urutannya adalah sebagai
berikut (Suwarsono dalam Abidin; Ratumanan, 2002).
1. Tahap enaktif (enactive), yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana
pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda kongkret atau
menggunakan situasi yang nyata. Contohnya misalnya pada saat melaksanakan praktikum
kita langsung menggunakan alat-alat praktikum tersebut.

4|Teori Belajar Penemuan


2. Tahap Ikonik (iconic), yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana
pegetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual
imagery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi
konkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas. Contohnya yaitu di dalam
pembelajaran kita dapat mewujudkannya dengan media pembelajaran yang digunakan
seperti menggunakan powerpoint.
3. Tahap simbolik (symbolic), yaitu suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu
direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (Abstract symbols, yaitu simbol-
simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang
bersangkutan), baik simbol-simbol verbal (misalnya, huruf-huruf, kata-kata, kalimat-
kalimat) lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak lainnya.
Contohnya anak-anak dalam mengenal angka empat misalnya disimbolkan dengan kursi
yang terbalik, mengenal angka dua yang disimbolkan dengan angsa yang berenang, dan
sebagainya.

Dalam pembelajaran, menurut Bruner (Ratumanan, 2002) belajar akan melibatkan 3 (tiga)
proses yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu sebagai berikut:

1. Tahap informasi (tahap penerimaan materi)


Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan
mengenai materi yang sedang dipelajari. Informasi baru dapat merupakan penghalusan
dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau merupakan informasi yang
berlawanan dengan informasi yang sebelumnya dimiliki seseorang. Contohnya yaitu
apabila kita mulai perkuliahan, kita pasti memiliki materi awal atau informasi awal
tentang materi yang akan dibahas seperti kita memiliki materi atau pengetahuan awal
tentang gerak lurus. Namun dalam tahap ini kita juga akan memperoleh informasi lebih
dari guru maupun dosen yang akan menyampaikan materi tersebut. Dalam hal ini siswa
maupun mahasiswa sudah memiliki materi awal dan materi tersebut akan bertambah
seiring dengan pengetahuan baru yang diberikan oleh guru maupun dosen.
2. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau
ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual agar dapat digunakan ke
hal-hal yang lebih luas. Contohnya apabila kita sudah memiliki informasi yang lebih luas

5|Teori Belajar Penemuan


tentang gerak lurus maka kita dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari
agar informasi yang kita miliki dapat berguna bagi orang lain.
3. Tahap evaluasi
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang
telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah
yang dihadapi. Contohnya dalam hal evaluasi siswa atau mahasiswa dapat menilai sejauh
mana informasi yang dimiliki berguna dengan mampu mengimplementasikan di dalam
kehidupan sehari-hari. Apabila bermanfaat bagi orang lain maka orang tersebut berhasil
dalam mentransformasikan informasi yang dimilikinya.

Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, maka untuk mengajar sesuatu sebaiknya tidak
ditunggu sampai anak mencapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting bahan pelajaran
harus ditata dengan baik maka dapat diberikan pada peserta didik. Dengan kata lain,
perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan
dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Lama tidaknya
masing-masing tahap dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain banyak informasi,
motivasi, dan minat siswa. Untuk mengatur kegiatan kognitif digunakan sistematika alur
pikir dan sistematik proses belajar itu sendiri. Orang yang menggunakan alur pikir dalam
pemecahan masalah, maka akan mampu berfikir sistematis dan dapat mengkontrol kegiatan
kognitifnya, sehingga pembelajaran akan lebih efisien

5. Penerapan Teori Belajar Penemuan (Discovery Learning)


Teori belajar penemuan oleh Jerome S. Bruner sangat berpengaruh terhadap
perkembangan kognitif siswa. Pada bagian ini dibahas bagaimana menerapkan belajar
penemuan pada siswa, ditinjau dari segi peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar.
1. Penerapan Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran Sains
Karakteristik teori belajar kognitif Bruner yaitu di mana model ini sangat membebaskan
peserta didik untuk belajar sendiri. Teori ini mengarahkan peserta didik untuk belajar
secara discovery learning. Adapun penerapannya dalam pembelajaran dapat disusun ke
dalam beberapa langkah, yaitu sebagai berikut (Antari, 2010):
a. Menentukan tujuan-tujuan instruksional.
b. Memilih materi pelajaran.
c. Menentukan topik-topik yang akan dikaji.
d. Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi dan sebagainya, yang dapat digunakan peserta
didik untuk bahan belajar.

6|Teori Belajar Penemuan


e. Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari
yang sederhana ke yang kompleks.
f. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.
2. Peranan Guru dalam Proses Belajar Penemuan
Langkah guru sebagai fasilitator pembelajaran dalam belajar penemuan adalah sebagai
berikut (Dahar, 1989):
a. Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada
masalah masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.
b. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk
memecahkan masalah.
c. Guru harus menyajikan dengan cara enaktif, ikonik dan simbolik. Enaktif adalah
melaui tindakan atau dengan kata lain belajar sambil melakukan (learning by doing).
Ikonik adalah didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan melalui
gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. Simbolik adalah menggunakan kata-
kata atau bahasa-bahasa.
d. Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya
berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor.
e. Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Secara garis
besar belajar penemuan ialah mempelajarai generalisasi-generalisasi dengan
menemukan sendiri suatu konsep.

Jadi dalam belajar penemuan, guru tidak begitu mengendalikan proses pembelajaran.
Guru hendaknya mengarahkan pelajaran pada penemuan dan pemecahan masalah.

3. Peranan Siswa dalam Teori Bruner


Peran teman dan siswa dianggap penting, sebagaimana kita ketahui bahwa teori
Bruner ini lebih menekankan agar siswa dalam proses belajar-mengajarnya lebih
berperan aktif, dan memberikan kesempatan kepada siwa untuk menemukan suatu
konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam
kehidupannya. Maka itu dalam belajar guru perlu mengusahakan agar setiap siswa
berpartisipasi aktif, minatnya perlu ditingkatkan, kemudian perlu dibimbing untuk
mencapai tujuan tertentu.
Pada diskusi, guru harus merumuskan lebih dahulu yang akan dicapai, mengenai
konsep-konsep, prinsip-prinsip tahu kemampuan apa saja yang dapat dikembangkan
siswa. Prinsip-prinsip itu diusahakan tersaji dalam bentuk masalah. Siswa diharapkan
dapat merumuskan, mengolahnya, kemudian memecahkannya, sehingga mereka dapat
7|Teori Belajar Penemuan
menemukan sendiri konsep-konsep atau prinsip-prinsip sesuai dengan yang telah
direncanakan guru (Hani, 2015).
Jadi dapat disimpulkan peran siswa dianggap penting, terutama pada proses belajar
mengajar, peran siswa harus lebih aktif dalam menemukan dan mengembangkan sendiri
materi yang diajarakan demi tercapainya tujuan pembelajaran.
6. Kekurangan Dan Kelebihan Teori Belajar Penemuan Menurut Jerome Bruner
Penggunaan konsep discovery ini berusaha meningkatkan aktivitas belajar, maka konsep ini
memiliki keunggulan sebagai berikut (Sodiq, 2015):
a. Konsep ini membantu peserta didik mengembangkan bakatnya, membentuk sifat
kesiapan serta kemampuan keterampilan dalam proses kognitif peserta didik.
b. Peserta didik memndapatkan pengetahuan yang bersifat pribadi sehingga pengetahuan
tersebut dapat bertahan lama dalam diri peserta didik.
c. Konsep ini memberikan semangat belajar peserta didik, diamana dengan konsep belajar
mencari dan menemukan pengetahuan sendiri tentu rasa ingin tau itu timbul sehinnga
akan membentuk belajar yang ikhlas dan aktif.
d. Konsep ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menegembangkan
kemampuannya dan keterampilannya sendiri sesuai dengan bakat dan hobi yang
dimilikinya.
e. Konsep ini mampu membantu cara belajar peserta didik yang baik, sehingga peserta
memiliki motivasi yang kuat untuk tetap semangat dalam belajar.
f. Memberikan kepercayaan tersendiri bagi peserta didik karena mampu menemukan,
mengolah, memilah dan mengembangkan pengetahuan sendiri.
g. Konsep ini berpusat pada peserta didik, dan guru hanya membantu saja

Adapun kelemahan konsep belajar penmuan menurut Jerome Bruner, yaitu:

a. Konsep belajar ini menuntut peserta didik untuk memiliki kesiapan dan kematangan
mental. Peserta didik harus berani dan berkeinginan mengetahuai keadaan disekitarnya.
Jika tidak memiliki keberanian dan keinginan tentu proses belajar akan gagal.
b. Konsep ini kurang berhasil apabila di laksanakan didalam kelas yang besar.
c. Konsep ini terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan
perkembangan/pembentukan sikap dan keterampila bagi peserta didik.
d. Konsep ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk bepikir secara kreatif

Dari beberapa penjelasan tentang kelebihan dan kelemahan konsep penemuan menurut
Jerome Bruner, tentu kita harus mampu mempergunakan konsep belajar ini sesuai dengan

8|Teori Belajar Penemuan


keadaan dan tempatnya, sehingga nantinya dapat memaksimalkan penggunaaan konsep ini
dan tidak terjadinya kegalalan pembelajaran karena salah dalam penggunaannya.

KESIMPULAN

1. Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi belajar kognitif.
Mengenai daftar riwayat hidup dan perjalanan karirnya, tokoh yang memiliki nama lengkap
Jerome Seymour Bruner ini, dilahirkan di New York City pada tanggal 1 Oktober 1915. Ia
berkebangsaan Amerika. Dalam mempelajari manusia, Bruner mengganggap manusia
sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi.
2. Bruner berpendapat bahwa proses belajar yang analistik lebih dominan digunakan oleh
sekolah daripada proses belajar yang intuitik. Peserta didik hanya dilibatkan sebagai pemeran
pasif dalam pembelajaran, sedangkan proses belajar intuitif yang mengedepankan
keterlibatan siswa dalam memperoleh informasi malah dianggap tidak perlu dan bahkan
ditinggalkan. Bruner menyatakan bahwa siswa yang mendapatkan informasi dari
penemuannya sendiri akan lebih efektif dan tertanam dalam memori jangka panjang.
3. Bruner mengemukakan bahwa terdapat empat tema pendidikan, yaitu tema pertama yang
mengemukakan pentingnya struktur pengetahuan, tema kedua yang mengemukakan

9|Teori Belajar Penemuan


pentingnya kesiapan dalam belajar, tema ketiga yang mengemukakan nilai intuisi pada proses
pendidikan dan tema keempat mengemukakan motivasi atau keinginan belajar.
4. Menurut Bruner, jika seseorang mempelajari suatu pengetahuan, pengetahuan itu perlu
dipelajari dalam tahap-tahap tertentu yaitu tahap enaktif (enactive), tahap ikonik (iconic),
tahap simbolik (symbolic). Dalam pembelajaran, menurut Bruner belajar akan melibatkan 3
(tiga) proses yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu tahap informasi (tahap penerimaan
materi), tahap transformasi (tahap pengubahan materi), tahap evaluasi.
5. Adapun penerapannya dalam pembelajaran dapat disusun ke dalam beberapa langkah, yaitu
menentukan tujuan-tujuan instruksional, memilih materi pelajaran, menentukan topik-topik
yang akan dikaji, mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi dan sebagainya, yang dapat
digunakan peserta didik untuk bahan belajar, mengatur topik peserta didik dari konsep yang
paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke yang kompleks, mengevaluasi proses
dan hasil belajar. Jadi dalam belajar penemuan, guru tidak begitu mengendalikan proses
pembelajaran. Guru hendaknya mengarahkan pelajaran pada penemuan dan pemecahan
masalah. Adapun peranan siswa dalam teori belajar penemuan yaitu dianggap penting,
terutama pada proses belajar mengajar, peran siswa harus lebih aktif dalam menemukan dan
mengembangkan sendiri materi yang diajarakan demi tercapainya tujuan pembelajaran.
6. Penggunaan konsep discovery ini berusaha meningkatkan aktivitas belajar, maka konsep ini
memiliki keunggulan yaitu Konsep ini membantu peserta didik mengembangkan bakatnya,
membentuk sifat kesiapan serta kemampuan keterampilan dalam proses kognitif peserta
didik.
Adapun kelemahan konsep belajar penmuan menurut Jerome Bruner, yaitu konsep belajar ini
menuntut peserta didik untuk memiliki kesiapan dan kematangan mental. Peserta didik harus
berani dan berkeinginan mengetahuai keadaan disekitarnya. Jika tidak memiliki keberanian
dan keinginan tentu proses belajar akan gagal.

10 | T e o r i B e l a j a r P e n e m u a n