Anda di halaman 1dari 17

PAPER

IDENTIFIKASI DAN PENGENDALIAN KADMIUM(CD) PADA PT CHEVRON


PACIFIC INDONESIA (PT CPI)

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Toksikologi


Dosen Pengampu Evi Widowati, S.KM.,M.Kes

Disusun oleh :
Nurani Elok Yafitri (6411414030)
Yoga Reynastu (6411414040)
Kristiana Wulan Sari (6411414044)
Wulan Khoirul Rohmah (6411414048)
Ratih Berliana (6411414049)
Endang Marpuah (6411414055)
Kasyful Ain (6411414056)
Rombel 02

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016
BAB I
GAMBARAN UMUM

1.1 Profil PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI)


Chevron Pacific Indonesia (CPI) adalah anak perusahaan dari Chevron yang
bertugas mengeksplorasi minyak yang ada di Riau. Sebelum diambil alih oleh
Chevron, perusahaan ini bernama Caltex Pacific Indonesia. Para karyawan CPI
ditempatkan di 4 kota di Riau yaitu Dumai, Duri, Minas dan Rumbai. CPI juga
merupakan perusahaan minyak kontraktor terbesar di Indonesia, dengan produksi
sudah mencapai 2 miliar barrel.
PT. Chevron Pacific Indonesia (PT. CPI) merupakan produsen minyak terbesar
di Indonesia yang didirikan sejak tahun 1924 oleh Standart Oil Company Of
California (SOCAL). Survey explorasi diawali di pulau Sumatra, Jawa Timur dan
Kalimantan Timur yang dimulai pada tahun 1924 dipimpin oleh Emerson
M.Butterworth mengadakan pengeboran minyak di daerah tersubut. Tim Butterworth
juga melakukan survey explorasi di bagian utara pulau Papua dan terhenti karena
Indonesia masih dibawah penjajahan Hindia Belanda.
Pada tahun 1930, tim tersebut mengajukan izin pengeboran minyak kepada
Pemerintah Hindia Belanda untuk mengajukan pengeboran minyak di pulau tersebut,
karena berdasarkan survey mereka menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki
kandungan minyak yang cukup potensial. Pada tahun yang sama, pemerintah Hindia
Belanda memberikan izin kepada SOCAL untuk melanjutkan eksplorasinya di daerah
Sumatra Tengah dan dibentuk N,V. Nederlanche Pacifik Petroleum Maatchappij
(NPPM) yang merupakan cikal bakal dari PT.Chevron Pacifik Indonesia pada bulan
Juni 1930. Pada tahun 1935, SOCAL ditawari pemerintah daerah Hindia Belanda
suatu daerah seluas 600.000 ha di daerah Sumatra Tengah. Kemudian James P . Bailey
dari kantor SOCAL Jakarta merekomendasikan Rekan Block dan pada bulan Juli
1936 SOCAL atau TEXAS Company (TEXACO) yang merupakan dua perusahaan
besar Amerika itu bergabung menjadi California Texas Petroleum Corporation
(CALTEX).
Cadangan minyak yang pertama kali ditemukan Caltex terdapat dilapangan
Sebanga pada bulan Agustus 1940. Kemudian berturut-turut pada bulan berukutnya
ditemukan kembali cadangan-cadangan minyak yang baru antara lain lapangan
Rantau Bais dan lapangan Duri yang masing-masing pada bulan November 1941.
Pengeboran minyak di kawasan Riau dimulai pada tahun 1934. Pada tahun 1940
untuk pertama kalinya minyak mulai ditemukan dari lokasi sumur di Sebanga, dan
pada tahun 1941 PT.Chevron Pacifik Indonesia (PT. CPI) menemukan ladang minyak
di Duri.
Pada saat perang dunia II kegiatan eksplorasi dan pengeboran minyak oleh
Caltex di Riau dihentikan. Semua ladang minyak Caltex di daerah itu diduduki dan
dikuasai oleh tentara Jepang. Selama pendudukan Jepang, lading minyak Caltex tetap
diusahakan oleh tentara Jepang untuk memenuhi kebutuhan minyak Jepang. Demikian
pula selama perang kemerdekaan, Caltex menghentikan seluruh kegiatannya di
Indonesia. Caltex mulai aktif lagi berproduksi setelah perang kemerdekaan usai.
Sekitar tahun 1949-1950, Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk
menasionalisasikan perusahaan penghasil minyak di Indosesia yang dimiliki oleh
Belanda, namun secara tidak langsung keputusan itu mengancam kedudukan Caltex
sebagai salah satu penghasil minyak asing terbesar di Indonesia. Pada tahun 1950-an
Caltex telah menginvestasikan modalnya lebih dari US$ 50 juta di Indonesia. Selain
itu ditemukan ladang minyak di Minas pada tahun 1944 oleh Jepang yang terbukti
memiliki potensi sebagai penghasil minyak terbesar di dunia. Menjelang tahun 1958,
produksi minyak Caltex telah mencapai 200.000 barrel per hari.
Upaya menasionalisasikan perusahaan asing di Indonesia datur dalam undang-
undang No. 44 tahun 1960. Berdasarkan UU tersebut ditetapkan bahwa semua
kegiatan penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia hanya dilakukan oleh
perusahaan minyak negara (Pertamina). Pada tahun 1963, Caltex menjadi bahan
hukum di Indonesia dengan pemilikan saham masing-masing 50% SOCAL dan 50%
TEXACO.
Ladang minyak Duri memberikan sumbangan sebesar 8% total produksi
minyak Indonesia dan 42% dari seluruh produksi minyak PT. CPI mengalami
penurunan produksi sejak tahun 1964. Penurunan produksi dari ladang minyak duri
sangat memprihatinkan, karena hal itu sangat berpengaruh pada economic life
expectancy dari perusahaan ini. Untuk mengatasi masalah tersebut PT. CPI
menciptakan proyek injeksi uap di ladang minyak Duri. Proyek ini diresmikan oleh
Presiden Suharto pada tanggal 3 Maret 1990. Injeksi uap ini merupakan teknologi
baru PT. CPI yang mutakhir yang dapat mempermudah penyedotan minyak dari perut
bumi. Dengan menerapkan teknologi baru tersebut, PT. CPI mengharapkan produksi
minyak yang besar dari ladang minyak Duri dapat dilipat gandakan.
Rancangan injeksi uap ini diterapkan secara efekfif pada ladang minyak
dengan pola yang bervariasi, diantaranya pola titik tujuh, yaitu satu sumur injeksi
untuk enam sumur produksi, pola lima atau Sembilan titik. Pada tanggal 9 Agustus
1971, PT. CPI menandatangani kontrak bagi hasil untuk derah operasi baru seluas
21.979 km2 di wilayah Coastal Plains dan Pekanbaru. Wilayah kerja sebelumnya
yang dikenal dengan sebutan Kangguru Block seluas 9.030 km2 diperpanjang masa
operasinya sampai dengan tanggal 8 Agustus 2001. Rasio pembagian untuk kontrak
bagi hasil yang disepakati sampai saat ini antara pemerintah (Pertamina) dan PT. CPI,
adalah 88% dan 12%, ditambah dengan ketentuan khusus berupa fleksibilitas atau
inisiatif bagi PT. CPI untuk hal-hal tertentu.
Produksi minyak mentah Caltex mencapai 65,8% pada tahun 1974 dan
menurun menjadi 46,5% pada tahun 1990. Meskipun terjadi penurunan produksi,
Caltex tetap menguasai pangsa produksi sebesar 75% secara nasiaonal, sedangkan
Pertamina dan Unocal mengalami penurunan produksi. Perjanjian karya berakhir pada
tanggal 28 Agustus 1983 dan diperpanjang manjadi Kontrak Bagi Hasil
(Production Sharing Contract) sampai tangal 8 Agustus 2001 dengan wilayah seluas
31.700 km2. Dalam kontrak tersebut ditetapkan bahwa pertamina adalah manajemen
pengendali operasional dan yang menyetujui program kerja anggaran tahunan. PT.
CPI sebagai kontraktor berkewajiban melaksanakan kegiatan operasional dan
penyediaan keahlian teknis dan investasi serta biaya operasional dan penyediaan
keahlian teknis dan investasi serta biaya operasi. Rasio pembagian untuk kontrak bagi
hasil yang disepakati sampai saat ini adalah sebesar 88% untuk pertamina dan 12%
untuk PT. CPI untuk hal-hal tertentu.
Pada 9 Oktober 2001 dua perusahaan besar induk PT. CPI yaitu Chevron dan
Texaco tergabung (merger) menjadi Chevron Texaco. Dan perusahaan Chevron
Texaco salah satu perusahaan energi terbesar di dunia.
Pada bulan Mei 2005 Chevron Texaco merubah namanya menjadi Chevron
Corporation. Dan pada tanggal 10 Agustus 2005 Chevron bergabung dengan Unocal,
dengan menggunakan satu nama perusahaan yaitu Chevron. Nama tersebut digunakan
sampai saat ini.
1.2 Kadmium (Cd)
A. Pengertian Kadmium (Cd)
Cadmium adalah logam yang berwarna putih keperakan, lunak dan tahan
korosi. Oleh karena sifat- sifatnya, Cd banyak dipakai sebagai stabilizer dalam
pembuatan polyvinil & clorida. Cd didapat pada limbah berbagai jenis
pertambangan logam yang tercampur Cd seperti Pb, dan Zn. Dengan demikian, Cd
dapat ditemukan di dalam perairan baik di dalam sedimen maupun di dalam
penyediaan air minum.
Logam Kadmium (Cd) mempunyai penyebaran yang sangat luas di alam.
Hanya ada satu jenis mineral kadmium yaitu greennockite (CdS) yang selalu
ditemukan bersamaan dengan mineral spalerite (ZnS). Mineral greennockite
sangat jarang ditemukan di alam , sehingga dalam ekspolitasi logam kadmium,
biasanya merupakan hasil sampingan dari peristiwa peleburan dan refining bijih-
bijih seng (Zn). Pada konsentrat bijih seng terdapat 0,2-0,3% logam kadmium.
Artinya seng menjadi sumber utama dari logam kadmium (Palar, 2008).
B. Karakteristik Kadmium (Cd)
Kadmium adalah logam berwarna putih perak, lunak, lentur, tahan
terhadaptekanan, mengkilap, tidak larut dalam basa, mudah bereaksi dan
menghasilkankadium oksida bila dipanaskan. Kadmium umumnya terdapat dalam
kombinasi dengan klor (Cd klorida) atau belerang (Cd sulfid). Kadmium dapat
membentuk ion Cd2+ yang bersifat tidak stabil. Kadmium memiliki nomor atom
40, berat atom 112,4g/mol: titik leleh 3210C dan titik didih 7670C (Widowati,
2008). Karakteristikkadmium yang lainnya adalah bila dimasukkan ke dalam
larutan yang mengandung ion OH- , ion ion Cd2+ akan mengalami pengendapan.
Endapan yang terbentuk biasanya dalam bentuk senyawa terhidratasi yanng
berwarna putih. Bila logam kadmium digabungkan dengan senyawa karbonat,
posfat, arsenat dan oksalat-ferro sianat maka akan terbentuk senyawa berwarna
kuning (Palar, 2008).
C. Sifat Kadmium (Cd)
1. Sifat Fisik
Logam berwarna putih keperakan
Mengkilat
Lunak/Mudah ditempa dan ditarik
Titik lebur rendah
Akan kehilangan kilapnya jika berada dalam udara yang basah atau
lembab dan akan mengalami kerusakan bila terkena uap amonia dan
sulfur hidroksida
2. Sifat Kimia
Cd tidak larut dalam bassa
Larut dalam H2SO4 encer dan HCl encer Cd
Cd tidak menunjukkan sifat amfoter
Bereaksi dengan halogen dan nonlogam seperti S, Se, P
Cd adalah logam yang cukup aktif
Dalam udara terbuka, jika dipanaskan akan membentuk asap coklat
CdO
Memiliki ketahanan korosi yang tinggi
CdI2 larut dalam alcohol
D. Sumber Kadmium (Cd)
Cadmium merupakan bahan alami yang terdapat dalam kerak bumi. Cadmium
murni berupa logam berwarna putih perak dan lunak, namun bentuk ini tak lazim
ditemukan di lingkungan. Umumnya cadmium terdapat dalam kombinasi dengan
elemen lain seperti Oxigen (Cadmium Oxide), Clorine (Cadmium Chloride) atau
belerang (admium Sulfide). Kebanyakan Cadmium (Cd) merupakan produk
samping dari pengecoran seng, timah atau tembaga cadmium yang banyak
digunakan berbagai industri, terutama plating logam, pigmen, baterai dan plastik.
E. Kegunaan Kadmium (Cd)
Kadmium merupakan logam yang sangat penting dan banyak
kegunaannya,khususnya untuk electroplating (pelapisan elektrik) serta galvanisasi
karena kadmium memiliki keistimewaan nonkorosif. Kadmium banyak digunakan
dalam pembuatan alloy, pigmen warna pada cat, keramik, plastik, stabilizer
plastik, katoda untuk Ni-Cd pada baterai, bahan fotografi, pembuatan tabung TV,
karet, sabun, kembang api,percetakan tekstil, dan pigmen untuk gelas dan email
gigi (Widowati, 2008).
Pemanfaatan kadmium dan persenyawaannya meliputi:
a. Senyawa CdS dan CdSeS yang banyak digunakan sebagai zat warna.
b. Senyawa Cd sulfat (CdSO4) yang digunakan dalam industri baterai yang
berfungsi sebagai pembuatan sel wseton karena memiliki potensial voltase stabil.
c. Senyawa Cd-bromida dan Cd-ionida yang digunakan untuk fotografi.
d. Senyawa dietil-Cd yang digunakan pembuatan tetraetil-Pb.
F. Metabolisme Kadmium (Cd)
Keracunan akut yang disebabkan oleh kadmium ini dapat terjadi pada pekerja
di industri-industri yang berkaitan dengan logam ini. Keracunan akut terjadi
karena pada pekerja terkena paparan uap logam kadmium (Cd) atau kadmium
oksida(CdO). Keracunan bersifat kronis yang disebabkan oleh daya racun yang
dibawa oleh logam kadmium, terjadi dalam selang waktu yang sangat pajan.
Peristiwa ini terjadi karena kadmium masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang
kecil sehingga dapat ditolerir tubuh pada saat tersebut (Palar, 2008). Kadmium
dapat masuk ke dalam tubuh hewan atau manusia melalui berbagai cara, yaitu:
a. Dari udara yang tercemar, misalnya asap rokok dan asap pembakaran batubara
b. Melalui wadah/tempat berlapis kadmium yang digunakan untuk tempat
makanan atau minuman
c. Melalui kontaminasi perairan dan hasil perairan yang tercemar Kadmium
d. Melalui rantai makanan
e. Melalui konsumsi daging yang diberi obat anthelminthes yang mengandung
kadmium.
Absorpsi kadmium melalui gastrointestinal lebih rendah dibandingkan
absorpsi melalui respirasi, yaitu sekitar 5-8%. Absorpsi kadmium meningkat bila
terjadi defisiensi kalsium (Ca), besi (Fe) dan rendah protein dalam makanan.
Defisiensi kalsium akan merangsang sintesis ikatan Ca-protein sehingga akan
meningkatkan absorpsi kadmium, sedangkan kecukupan seng dalam makanan
dapat menurunkan absorpsi kadmium. Hal ini diduga karena seng merangsang
produksi metalotionin (Widowati,2008).
Kadmium ditransformasikan dalam darah yang berikatan dengan sel darah
merah yang memilki protein berat molekul rendah, yaitu metalotionin (MT) yang
memilki berat molekul 6000, banyak mengandung sulfhidril, dan dapat mengikat
11% kadmium dan seng. Metalotionin (MT) memiliki daya ikat yang sama
terhadapbeberapa jenis logam berat sehingga kandungan logam berat bebas dalam
jaringan berkurang. Kemungkinan besar pengaruh toksisitas kadmium disebabkan
oleh interaksi antara kadmium dan protein tersebut sehingga memunculkan
hambatan terhadap aktivitas kerja enzim.
Metalotionin merupakan protein yang sangat peka dan akurat sebagai
indikator pencemaran. Hal itu didasarkan pada suatu fenomena alam dimana
logamlogam bisa terikat di dalam jaringan tubuh organisme karena adanya protein
(polipeptida) yang 26-33% mengandung sistein. Setelah toksik memasuki darah,
toksik didistribusikan dengan cepat ke seluruh tubuh. Pengikat oksigen dalam
jaringan bisa menyebabkan lebih tingginya kadar toksikan dalam jaringan
tersebut. Kadmium memilki afinitas yang kuat terhadap hati dan ginjal. Kadar
kadmium pada hati dan ginjal bervariasi tergantung pada kadar total kadmium
dalam tubuh. Apabila metalotionin (MT) hepar dan ginjal tidak mampu lagi
melakukan detoksifikasi, maka akan terjadi kerusakan hati dan ginjal (Widowati,
2008).
Kadmium memiliki afinitas yang kuat terhadap ginjal dan hati. Pada
umumnya, sekitar 50-75% kadmium dalam tubuh terdapat pada kedua organ
tersebut. Kadmium dalam tubuh akan dibuang melalui feces sekitar 3-4 minggu
setelah terpapar kadmium dan melalui urin. Pada manusia, sebagian besar
kadmium diekskresikan melalui urin, sedangkan pada hewan sebagian besar
kadmium diekskresikan melalui feces (Widowati, 2008).
G. Jalur Pemajan Kadmium (Cd)
1. Inhalasi
Paparan melalui inhalasi terutama terjadi di tempat kerja. Senyawa kadmium
yang terhirup sebagai partikel baik sebagai asap dengan ukuran sangat kecil
atau sebagai debu. Setelah paparan inhalasi, penyerapan senyawa kadmium
sangat bervariasi dan tergantung ukuran partikel dan kelarutan kadmium
tersebut. Besar partikel, debu (> 10 um diameter) cendrung masuk dan
menembus ke dalam alveoli. Sementara senyawa kadmium terlarut (CdCl2
dan CdSO4 ) dapat mengalami penyerapan terbatas disbanding dengan
partikel. Hanya sekitar 5% dari partikel 10 m akan disimpan dalam alveoli
dan akan diserap. Ukuran partikel merupakan penentu utama penyebab
kadmium dalam paru-paru. (ATSDR, 2010)
Pada manusia , 10-30% debu kadmium akan diserap, 25-50% akan diserap
melalui asap rokok. Kadmium akan masuk melalui saluran pernapasan,
kemudian diendapkan pada mukosa nasofaring, trakea, bronkus kemudian
akan masuk lagi ke alveoli dan alveoli akan diserap oleh darah (widiowati,
2008).
2. Oral
Penyerapan kadmium melalui makanan pada asupan makan dan status zat besi
dalam tubuh. Di eropa dan amerika penyerapan kadmium secara oral rata-rata
1,2-25 ug/hari. Penyerapan kadmium dari saluran pencernaan biasanya sekitar
5%.
Penyerapan dipengaruhi faktor yaitu :
a. Umur
Pada dewasa 2 kali lebih cepat dari anak-anak. Sebagai racun kumulatif,
kadmium meningkatkan beban tubuh.
b. Jenis Kelamin
Perempuan memiliki kandungan kadmium lebih tinggi dari laki-laki.
c. Merokok
Perokok memiliki kadar kadmium lebih tinggi dari bukan perokok karena:
Rokok berisi 2,0 mg kadmium, 2-10% dari yang ditransfer asap utama
Kadmium asap rokok utama , hampir 50% diserap paru-paru ke sirkulasi
sistemik selama merokok aktif.
Perokok biasanya memiliki darah kadmium dan beban tubuh lebih dari dua
kali lipat yang tidak merokok.
d. Status Gizi
Status gizi lebih rendah lebih mudah terpapar setelah pemaparan oral
Kadmium.
3. Kulit
Penyerapan kadmium melalui kulit sangat rendah sekitar 0.5%. kontak dengan
kulit akan semakin parah bila terpapar selama beberapa jam atau lebih
(ATSDR)
H. Efek Kadmium (Cd)
1. Efek kadmium (Cd) Terhadap Tumbuhan dan Hewan
Kadmium aliran limbah dari industri terutama berakhir di tanah dan badan
air. Hal ini dapat berasal dari produksi misalnya seng, implikasi bijih fosfat
dan pupuk. Kadmium juga terdapat di udara melalui pembakaran sampah
rumah tangga danpembakaran bahan bakar fosil.
Sumber lain yang penting dari emisi kadmium adalah produksi pupuk
fosfatbuatan. Bagian dari kadmium yang berakhir di tanah setelah pupuk
diterapkan pada lahan pertanian dan sisanya dari kadmium yang berakhir di
permukaan air ketikalimbah dari produksi pupuk dibuang oleh perusahaan
produksi. Kadmium dapat diangkut melalui jarak yang jauh ketika diserap
oleh lumpur. Lumpur ini kaya kadmium yang dapat mencemari air permukaan
maupun tanah.
Kadmium dapat terserap untuk bahan organik dalam tanah. Ketika
kadmium hadir di tanah itu bisa sangat berbahaya, karena serapan melalui
makanan akan meningkat. Tanah yang diasamkan meningkatkan serapan
kadmium oleh tanaman. Hal ini merupakan potensi bahaya binatang yang
tergantung pada tanaman untuk bertahan hidup.
Kadmium dapat terakumulasi dalam tubuh bintang tersebut, terutama
ketika makan beberapa tanaman. Sapi mungkin memiliki jumlah besar
kadmium dalam ginjalnya karena ini. Cacing tanah dan organisme tanah
penting lainnya sangat rentan untuk keracunan kadmium. Cacing bisa mati
pada konsentrasi sangat rendah dan memiliki konsekuensi bagi struktur tanah.
Ketika konsentrasi kadmium di tanah tinggi mereka dapat mempengaruhi
proses mikroorganisme tanah dan ancaman ekosistem seluruh tanah
(Darmono, 2001).
2. Efek kadmium (Cd) Terhadap Kesehatan Manusia
Menurut darmono (2001), efek kadmium terhadap kesehatan manusia
dapat bersifat akut dan kronis. Kasus keracunan akut kadmium kebanyakan
melalui saluran pernapasan, misalnya menghisap debu dan asap kadmium
terutama kadmium oksida (CdO).
Gejala yang timbul berupa gangguan saluran pernapasan, mual, muntah,
kepala pusing dan sakit pinggang. Akibat dari keracunan akut ini dapat
menimbulkan penyakit paru-paru yang akut dan kematian. Efek kronis terjadi
dalam selang waktu yang sangat panjang. Peristiwa ini terjadi karena
kadmium yang masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang kecil sehingga dapat
ditolerir oleh tubuh.
Efek akan muncul saat daya racun yang dibawa kadmium tidak dapat lagi
ditolerir tubuh karena adanya akumulasi kadmium dalam tubuh. Efek kronis
dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok (Palar, 2008), yaitu:
a) Efek Kadmium Terhadap Ginjal
Ginjal merupakan organ utama dari dari sistem urinaria hewan tingkat
tinggi dan manusia. Pada organ ini terjadi peristiwa akumulasi dari
bermacam-macam bahan termasuk logam kadmium. Kadmium dapat
menimbulkan gangguan dan bahkan kerusakan pada sistem kerja ginjal
terutama ekskresi protein. Kerusakan ini dapat dideteksi dari tingkat atau
kandungan protein yang terdapat dalam urin. Petunjuk lain berupa adanya
asam amino dan glukosa dalam urin, ketidaknormalan kandungan asam
urat serta Ca dan Protein dalam urin.
b) Efek Kadmium Terhadap Paru-paru
Keracunan yang disebabkan oleh kadmium lebih tinggi bila terinhalasi
melalui saluran pernapasan daripada saluran pencernaan. Efek kronis
kadmium akan muncul setelah 20 tahun terpapar kadmium. Akan muncul
pembengkakan paru-paru (pulmonary emphysema) dengan gejala awal
gangguan saluran napas, mual, muntah dan kepala pusing.
c) Efek Kadmium Terhadap Tulang
Serangan yang paling hebat karena kadmium adalah kerapuhan tulang.
Efek ini telah menggoncangkan dunia internasional sehingga setiap orang
dilanda rasa takut terhadap pencemaran. Efek ini timbul akibat kekurangan
kalsium dalam makanan yang tercemar kadmium, sehingga fungsi kalsium
darah digantikan oleh logam kadmium yang ada. Pada akhirnya kerapuhan
pada tulang-tulang penderita yang dinamakan itai-itai disease.
d) Efek Kadmium Terhadap Darah dan Jantung
Efek kronis kadmium dapat pula menimbulkan anemia karena CdO.
Penyakit ini karena adanya hubungan antara kandungan kadmium
yangtinggi dalam darah dengan rendahnya hemoglobin.
e) Efek Kadmium Terhadap Sistem Reproduksi
Daya racun yang dimiliki oleh kadmium juga mempengaruhi
sistemreproduksi dan organ-organnya. Pada konsentrasi tertentu kadmium
dapat mematikan sel-sel sperma pada laki-laki. Hal inilah yang menjadi
dasar bahwa akibat terpapar uap logam kadmium dapat mengakibatkan
impotensi. Impotensi yang terjadi dapat dibuktikan dengan rendahnya
kadar testoteron dalam darah.
3. Kadmium (Cd) dalam Lingkungan
Logam kadmium dan bentuk-bentuk persenyawaannya dapat masuk
kelingkungan, terutama sekali merupakan efek samping dari aktivitas yang
dilakukan manusia. Dapat dikatakan bahwa semua industri yang melibatkan
kadmium dalam proses operasional industrinya menjadi sumber pencemaran
kadmium. Selain itu kadmium juga berasal dari pembakaran sampah rumah
tangga dan pembakaran bahan bakar fosil karena secara alami bahan bakar
mengandung kadmium, penggunaan pupuk fosfat buatan.
Dalam strata lingkungan, kadmium dan persenyawaannya ditemukan
dalam banyak lapisan. Secara sederhana dapat diketahui bahwa kandungan
kadmium akan dapat dijumpai di daerah-daerah penimbunan sampah dan
aliran hujan, selain dalam air buangan (Palar, 2008).
Kadmium akan mengalami biotransformasi dan bioakumulasi dalam
organisme hidup (tumbuhan, hewan dan manusia). Dalam tubuh biota perairan
jumlah logam yang terakumulasi akan terus mengalami peningkatan dengan
adanya proses biomagnifikasi di badan air. Di samping itu, tingkatan biota
dalam sistem rantai makanan turut menentukan jumlah kadmium yang
terakumulasi. Dimana pada biota yang lebih tinggi stratanya akan ditemukan
akumulasi kadmium yang lebih banyak (Widowati,2008).
BAB II
IDENTIFIKASI

2.1 Identifikasi
PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) bergerak di bidang eksploitasi minyak
bumi. Cakupan eksploitasi mulai dari evaluasi kandungan reservoir hingga
memproduksinya dari dalam perut bumi. Produk yang dihasilkan adalah minyak
mentah yang akan dipasarkan di beberapa negara untuk pengolahan lebih lanjut. PT
CPI Duri memiliki luas 14052 ha.
Limbah yang dihasilkan berupa limbah gas, padat, dan cair dengan bentuk
penanganannya masing masing. Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari
hasil eksplorasi produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas
penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak pada kapal laut. Limbah
minyak bersifat mudah terbakar, beracun, dan bersifat korosif. Limbah minyak
merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifatnya, konsentrasi maupun
jumlahnya yang dapat membahayakan lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup
manusia dan mahluk hidup lainnya (Katz dan Dawston, 1997).
Limbah hasil eksplorasi dan produksi minyak ini termasuk dalam kategori
limbah B3 sumber spesifik dalam lampiran I PP no. 85 Tahun 1999 dengan kode
D220. Berdasarkan uji data hasil uji Toxicity Characterization Leaching Procedures
(TCLP) yang telah dilakukan oleh PT CPI maka lumpur pengeboran, fluida
berminyak dan tanah terkontaminasi minyak merupakan salah satu limbah yang
tergolong B3. Oleh karena itu, limbah tersebut harus ditangani sesuai dengan PP no.
85 Tahun 1999, Permen ESDM No. 45 Tahun 2006 tentang pengelolaan lumpur bor
pada kegiatan pengeboran minyak dan gas bumi, Permen LH No 13 Tahun 2007
tentang injeksi limbah hasil kegiatan eksplorasi minyak bumi, dan Permen LH no 128
Tahun 2003 tentang penanganan tanah terkontaminasi minyak secara biologis.
Pada data sekunder yang kami peroleh dari penelitian sebelumnya yaitu
penelitian yang pernah dilakukan oleh Stiyawardani berdasarkan hasil uji TCLP yang
telah dilakukan, diketahui bahwa hasil pengolahan lumpur bor masih mengandung
beberapa unsur logam berat seperti boron (B), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal
(Pb), merkuri (Hg), selenium (Se), perak (Ag), serta seng (Zn) dengan konsentrasi-
konsentrasi tersebut berada dalam kadar yang sangat rendah bahkan dibawah
detection limit dari alat tersebut. Sedangkan untuk kadar arsen (As) dan barium (Ba)
terdeteksi sangat sangat jauh di bawah baku mutu yaitu 0.01 mg/L dan 0.34 mg/L.
Oleh karena itu proses yang terjadi pada CMTF hingga dihasilkan sludge cake cukup
baik untuk mereduksi logam berat yang terdapat dalam lumpur bor. Hal yang utama
menyebabkan penurunan kadar logam berat tersebut adalah pada proses filtrasi hingga
reverseosmosis. Tahap selanjutnya adalah melakukan solidifikasi sludge cake menjadi
paving block. Namun sebelum dilakukan solidifikasi, sludge cake terlebih dahulu
dijemur sekitar 2 3 hari di tempat penampungan sementara. Apabila sudah agak
kering maka dilakukan pencampuran dengan pasir dan semen untuk dibuat paving
block. Perbandingan pencampuran semen, sludgecake dan pasir adalah 2 : 1 : 1,
misalnya 2 kg semen dicampur dengan 1 kg sludge cake dan 1 kg pasir. Proses
solidifikasi sludge cake dilakukan oleh PT CPI sebagai upaya pemanfaatan limbah
agar tidak membuang ke lingkungan.
BAB III
PENGENDALIAN

3.1 Pengolahan Tanah Terkontaminasi Minyak


Pengolahan yang dilakukan terdiri dari 2 tahap yaitu mixing cells dan stock
pile, untuk penjelasan kedua tahap tersebut adalah sebagai berikut :
1. Mixing Cells
Mixing cells jika ditinjau dari mekanisme kerjanya merupakan aplikasi
kombinasi dari teknik landfarming dan remediasi konvensional. Mixing cells terdiri
dari 4 buah cell yang masing-masing seluas 4000 m2, dengan kapasitas tampung
sekitar 2000 m3/bulan. Mekanisme kerja mixing cells secara umum adalah dengan
cara mencampurkan tanah dari cadangan stockpile sebelumnya yang memiliki TPH
sudah <5%, dengan cara mengaduk tanah tersebut dengan tanah yang sudah
terkontaminasi minyak. Lokasi mixing cells yang digunakan telah mendapat izin
beroperasi dari KLH. Proses pengadukan tanah di mixing cells menggunakan alat
berat yaitu buldozer, dengan mekanisme sebagai berikut :
Tanah terkontaminasi yang baru datang dari berbagai sumber, dicampur dengan
tanah dari stock pile dan dibalikkan di dalam mixing cells setiap hari hingga kapasitas
mixing cells penuh.
Ketika mixing cells telah penuh, frekuensi pengadukan menjadi lebih jarang yaitu
setiap 2 minggu. Lama waktu tunggu hingga mencapai TPH <5% biasanya
membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan terhitung dari proses pencampuran minyak
tersebut dengan tanah. Pada mixing cells tidak diterapkan metode bioremediasi karena
karakteristik minyak di Duri tidak memungkinkan untuk didegradasi oleh bakteri.
Hingga saat ini belum ditemukan spesies bakteri yang mampu mendegradasi rantai
karbon senyawa minyak dengan karakteristik minyak berat. Metode remediasi ini
masih dianggap sebagai metode yang paling berhasil karena indeks TPH yang selalu
berada di bawah 5%.
Pengukuran tersebut dilakukan pada cell yang secara kasat mata telah terlihat
matang. Waktu rata-rata yang dibutuhkan sekitar 2 bulan untuk mencapai baku mutu
syaratkan yaitu kadar TPH dibawah 5%. Dibutuhkan waktu 2 bulan karena pada
proses ini tidak menggunakan bakteri khusus seperti bioremediasi, melainkan hanya
mengkontakkan hidrokarbon dengan udara hingga menghasilkan CO2 dan bakteri
pada tanah yang terbentuk dengan sendirinya mendegradasi polutan yang terdapat
pada tanah. Kemudian kandungan logam berat tereduksi seiring terbentuknya lindi
akibat proses remediasi tanah. Untuk mengetahui apakah mixing cells telah sesuai
dengan perudangan yang berlaku maka perlu dilakukan analisis teknis. Dalam hal
pengolahan tanah terkontaminasi minyak menggunakan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 128 Tahun 2003 Tentang Tatacara dan Persyaratan Teknis
Pengolahan Limbah Minyak bumi dan Tanah Terkontaminasi Oleh Minyak Bumi
Secara Biologis.
2.Analisis Teknis Stock Pile Menjadi Landfill Kategori III
Stock pile adalah istilah yang diberikan untuk metode penyimpanan bagi tanah
hasil olahan pada mixing cells. Dan akan direncanakan untuk menampung sludge
cake pada proses CMTF untuk limbah lumpur bor yang telah dinyatakan memenuhi
terhadap baku mutu yang ada. Konsep dasar disini seperti landfill untuk menimbun
tanah hasil olahan dengan membuat saluran drainase di sekeliling timbunan. Guna
drainase tersebut adalah untuk mengalirkan leachete dari stockpile, sehingga bisa
terus dimonitor apakah masih ada parameter yang mungkin tanpa sengaja masih
tertinggal (belum terolah). Luas area stockpile adalah 80.910 m2 dan perbedaan
ketinggian 20 m (minimum) dan 32 m (maksimum). Di bawah stockpile struktur
tanah ketebalan natural impermeable claynya adalah 15 m atau lebih, dengan tingkat
permeabilitas 5.3x10-7 hingga 2.0x10-8 cm/detik. Dalam hal ini karakteristik tanah di
Duri field sebagai lapisan dasar landfill kategori III sudah memenuhi. Karena syarat
yang diperbolehkan adalah memiliki permeabilitas minimum 1 x 10-7 cm/detik, dan
minimum tebal clay sebagai lapisan adalah 15-20 cm. Pada kriteria desain harus
dilakukan kompaksi atau pemadatan menggunakan alat berat berupa compactor saat
limbah dimasukkan ke landfill, hal ini sudah dilakukan pada stock pile seperti yang
terlihat pada dengan tujuan untuk menambah kuat tekan dari landfill dan
mempercepat proses stabilisasi pada landfill. Apabila tidak dilakukan kompaksi
mungkin akan menimbulkan debu karena dengan mudah tanah tersebut terbang
apabila terhembus oleh angin.
Sistem drainase sudah cukup baik karena sudah mempertimbangkan kondisi
curah hujan yang memiliki rata rata 200 mm/hari. Drainase ini dibuat untuk
mengalirkan air hujan berdasarkan gravitasi sesuai kondisi geologisnya. Untuk
memperkecil kadar polutan limbah pada tempat akhir untuk pentaatan maka saluran
dibuat agak panjang sekitar 321 m, dan terbukti efektif untuk mengurangi kadar
polutan yang tergabung pada air limbah. Pipa vacuum yang ada pada saluran drainase
berguna untuk menghambat minyak yang akan mengalir ke lingkungan yang
kemudian minyak yang sudah mengambang di sedot dengan vacuum truck.
Sistem pengumpulan lindi yang berfungsi untuk mengumpulkan lindi yang
terbentuk dan mencegah agar lindi tidak menerobos liner untuk masuk ke lapisan
tanah dibawahnya. Pada Stock Pile belum terdapat pipa pengumpulan lindi yang
mengalirkan ke bak penampung lindi, bak ini di desain sesuai dengan gravitasi. Bak
yang ada memiliki p x l = 80 cm x 80 cm, dengan kedalaman 60 cm. Bak penampung
lindi sebanyak 4 buah. Untuk segi kedalaman pengumpul lindi sudah memenuhi
persyaratan yang dimiliki oleh EPA yaitu 30 60 cm. Pipa penyalur lindi tersebut
dibutuhkan untuk mengontrol pergerakan lindi dan agar terfokus dalam
memonitornya.
Pada Stock Pile ini belum terdapat sistem pendeteksi kebocoran berupa geonet
HDPE atau berupa tanah setebal 30 cm dengan konduktivitas hidrauliknya sebesar 1 x
10-2 cm/detik. Sistem pendeteksi kebocoran ini perlu dirancang dengan kemiringan
tertentu adar aliran lindi saat menuju ke bak penampung lindi mengalir melalui pipa
yang dipasang pada lapisan geonet. Kondisi yang ada pada saat ini stock pile
mengalirkan lindinya dengan menggunakan gravitasi sesuai dengan kondisi geologis
area disekitar stock pile. Berdasarkan ijin yang diberikan oleh Kementrian
Lingkungan hidup B- 8748/Dep.IV/LH/12/2006, persyaratan tanah yang boleh masuk
kedalam stock pile adalah tanah terkontaminasi dengan kadar TPH dibawah 5%,
dengan volume maksimum yang diijinkan adalah sebesar 1.515.000 m3. Hingga saat
ini telah terisi 1.200.000 m3.
3.2 Alternatif Teknologi yang Dapat Digunakan
Berdasarkan analisis di lapangan, menurut Stiyawardani terdapat beberapa
tumbuhan yang dapat tumbuh subur di sekitar lokasi mixing cells. Hal tersebut
memungkinkan untuk dilakukannya teknik fitoremediasi dalam mereduksi polutan
yang terdapat pada tanah terkontaminasi minyak. Menurut Maulana, 2010
fitoremediasi (phytoremediation) merupakan suatu sistim dimana tanaman tertentu
yang bekerjasama dengan micro-organisme dalam media (tanah, koral dan air) yang
dapat mengubah zat kontaminan menjadi kurang atau tidak berbahaya. Proses dalam
sistim ini berlangsung secara alami dengan beberapa tahap proses secara serial yang
dilakukan tumbuhan terhadap zat kontaminan/ pencemar yang berada disekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA

Stiyawardani, Aisyah. Kajian Pengelolaan Limbah Pasir Berminyak, Lumpur Bor dan Tanah
Terkontaminasi Minyak pada Proses Eksploitasi Minyak Bumi (Studi Kasus: PT Chevron
Pacific Indonesia). Jurusan Teknik Lingkungan FTSP ITS Surabaya.
www.chevronindonesia.com