Anda di halaman 1dari 4

Pemeriksaan Fisik

Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan


klien,pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian
anamnesis.Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan secara per system (B1-B6)
dengan focus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) dan B6 (Bone) yang
terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien.
Keadaan Umum
Pada keadaan cedera tulang belakng umumnya tidak mengalami keturunan
kesadaran.Adanya perubahan pada tanda-tanda vital meliputi bradikardi,dan
hipotensi.
B1 (Breathing)
Perubahan pada system pernafasan bergantung pada gradasi blok syaraf
parasimpatis (klien mengalami kelumpuhan otot-otot pernafasan) dan perubahan
karena adanya kerusakan jalur simpatetik desending akibat trauma pada tulang
belakang,sehingga mengalami terputus jaringan syaraf di medulla spinalis.
Pada beberapa keadaan trauma sumsum tulang belakang pada daerah
servikal dan torakal dari pemeriksaan fisik dari system ini akan di dapatkan hal-hal
sebagai berikut :

Inspeksi Umum didapatkan klien batuk,peningkatan produksi


sputum,sesak nafas,penggunaan otot bantu nafas dan peningkatan
frekuensi pernafasan.terdapat retraksi interkostalis,pengembangan
paru tidak simetris.Ekspansi dada : dinilai penuh atau tidak penuh dan
kesimetrisannya.Ketidaksimetrisan mungkin menunjukan adanya
ateelktasi.lesi pada paru,obstruksi pada bronkus,fraktur tulang iga,dan
pneumothoraks.Pada observasi ekspansi dada juga perlu dinilai :
retraksi dari otot-otot intercostal ,substernal, pernafasan abdomen,
dan respirasi paradok (retraksi abdomen saat inspirasi).Pola nafas ini
dapat terjadi jika otot-otot intercostal tidak mampu menggerakkan
dindang dada akibat adanya blok syaraf parasimpatis.
Palpasi,fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain akan di
dapatkan apabila melibatkan trauma dada rongga thorak
Perkusi , adanya suara redup sampai pekak pada keaadaan melibatkan
trauma pada thoraks atau hemathorak
Auskultasi , bunyi nafas tambahan seperti nafas berbunyi
stridor,ronki,pada klien dengan peningkatan produksi secret dan
kemampuan batuk yang menurun yang sering di dapatkan pada klien
cedera tulang belakang dengan penurunan tingkat kesadaran koma.
Pada klien cedera tulang belakang dengan fraktur dislokasi vertebra lumbal dan
protrusi diskus intervertebralis L-5 dan S-1 pemeriksaan pada system pernafasan
inspeksi pernafasan tidak memiliki kelainan.Pada palpasi thoraks di dapatkan taktik
fremitus seimbang kanan dan kiri.Auskultasi tidak di dapatkan bunyi nafas
tambahan
B2 (Blood)
Pengkajian pada system kardiovaskuler di dapatkan renjatan (syok hipovolemik)
yang sering terjadi pada klien cedera tulang belakang sedang dan berat.Hasil
pemeriksaan kaardiovaskuler klien cedera tulang belakang pada beberapa keadaan
dapt di temukan tekanan darah menurun,nadi bradikardia,berdebar-debar ,pusing
saat melakukan perubahan solusi,bradikardia ekstremitas dingin atau pucat.Nadai
bradikardia merupakan tanda dari perubahan perfusi jaringan otak. Kulit pucat
menandakan adanya penurunan kadar hemoglobin dalam darah. Hipotensi
menandakan adanya perubahan perfusi jatringan dan tanda-tanda awal dari suatu
renjatan. Pada beberapa keadaan lain akibat trauma kepala akan merangsang
pelepasan hormone antidiuretic yang berdaqmpak pada kompensasi tubuh untuk
melakukaqn retensi atau pengeluaran garam dan air oleh tubulus. Mekanisme ini
akan meningkatkan konsentrasi elektrolit mebningkat sehingga memberikan resiko
terjadinya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada system
kardiovaskuler.
B3 (Brain)
Pengkajian B3 meliputi tingkat kesadaran ,pengkajian fungsi serebral, dan
pengkajian saraf kranial.
Pengkajian tingkat kesadaran tingkat keterjagaan klien dan respon terhadap
lingkungan adalah indicator paling sensitive untuk disfungsi system persyarafan.
Beberapa system digunakan untuk membuat operingkat perubahan dalam
keaspadaan dan keterjagaan. Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien cedera
tuklang belakang biasanya berkisar pada tingkat letargi, stupor, semikomatosa
sampai koma.
Pengkajian fungsi serebral status mental : observasi penampilan, tingkah laku,
nilai gaya bicara, ekspresi wajah, dan aktivitas motoric klien. Pada klien yang telah
lama menderita cedera tulang belakang biasanya status mental klien mengalami
perubahan.
Pemeriksaan saraf kranial pengkajian ini meliputi pengkajian saraf kranial I-XII.

Saraf I . biasanya pada klien cedera tulang belakang tidakada kelaianan dan
fungsi penciuman tidak ada kelainan.
Saraf II. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal.
Saraf III,IV, dan VI. Biasanya tidak mengalami gangguan mengangkat kelopak
mata,pupil isokor.
Saraf V . pada klien meningitis umumnya tidak didapatkan paralysys pada
otot wajah dan reflex kornea biasanya tidak ada kelainan .
Saraf VII. Persepsi pengecpan dalam batas normal, wajah simetris.
Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.
Saraf IX dan X. kemampuan menelan baik.
Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Adanya
usaha dari klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku kuduk.
Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada defiasi pada satu sisi dan tidak
adafasikulasi. Indra pengecapan normal.
Pengkajian system motoric. Inspeksi umum didapatkan kelumpuhan pada
ekstremits bawah, baik bersifat paralisys , paraplegia, maupun quadriplegia. Trauma
pada kauda ekuina klien mengalami paralisys layu dari otot dibawah lutut yang
bersifat menetap. Pada klien dengan cedera dengan paraplegi yang lama sering
didapatyakan decubitus pada bokong akibat penekanan setempat tulang sekunder
dari kurangnya mobilisasi klien yang mengalami paraplegia.

Tonus otot .didapatkan menurun sampai hilang.


Kekuatan otot. Pada penilaian dengan menggunakan tingkat kekuatan otot
didapatkan tingkat 0 pada ekstremitas bawah.
Keseimbangan dan koordinasi. Didapatkan mengalami gangguan karena
kelumpuhan ekstremitas bawah.
Pengkajian reflex. Pemeriksaan reflex dalam, reflex achiless menghilang, dan
reflex patella biasanya melemah karena kelemahan pada otot hamstring.
Pemeriksaan reflex patologis ,pada fase akut refleks fisiologis akan menghilang.
Setelah beberapa hari reflex fisiologis akan muncul kembali didahului dengan reflex
patologis
Pengkajian system sensorik. Gangguan sensibilitas pada klien cedera medulla
spinalis sesuai dengan segmen yang mengalami ganggua. Trauma pada kauda
ekuina klien mengalami hilangnya sensibilitas secara menetap pada kedua daerah
bokong, perineum, dan anus.
B4 (Bladder)
Kaji keadaan urin meliputi warna , jumlah, dan karakteristik urin termasuk berat
jenis urin. Penurunan jumlah urin dan peningkatan retensi cairan dapat terjadi
akibat menurunya perfusi pada ginjal.
Bila terjadi lesi pada kauda ekuina kandung kemih dikontrol oleh pusat(S2-
S4) atau dibawah pusat spinal kandung kemih akan menyebabkan interupsi
hubungan antara kandung kemih dan pusat spinal. Pengosongan kandung
kemihsecara periodic bergantung pada reflex local dinding kandung kemih. Pada
keadaan ini, pengosongan dilakukan oleh aksi otot-otot detrusor dan harus diawali
dengan kompresi secara manual pada dinding perut atau dengan meregangkan
perut. Pengosongan kandung kemih yang bersifat ototmatis seperti ini disebut
kandung kemih otonom.
Trauma pada kauda ekuina klien mengalami hilangnya reflex kandung kemih
yang bersifat sementara dank lien mungkin akan mengalami inkontinensia urin,
ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan dan ketidakmampuan tuntuk
menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motoric dan postural. Selama
periode ini dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik steril.
B5 (Bowel)
Pada keadaan syok spinal , neuropraksia sering didapatkan adanya ileus paralitik,
dimana klinis didapatkan hilangnya bising usus, kembung, dan defekasi tidak ada.
Hal ini merupakan gejala awal dari tahap syok spinal yang akan berlangsung
bebrapa hari sampai beberapa minggu. Pada pemeriksaan reflex bulbokavernosa
didapatkan positif, menandakan adanya syok spinal yang jelas pada klien dengan
cedera medulla spinalis. Pemenuhan nutrisi berkurang karena adanya mual dan
asupan nutrisi yang berkurang. Pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan
penilaian ada tidaknya lesi pada mulut atau perubahan pada lida dapat
menunjukkan adanya dehidrasi.
B6 (Bone)
Paralisys motoric dan paralisys organ internal bergantung pada ketinggian lesi saraf
yang terkena trauma.
Gejala gangguan motoric sesuai dengan distribusi segmental dari saraf yang
terkena. Disfungsi motoric paling umum adalah kelemahan dan kelumpuhan pada
seluruh ekstremitas bawah. Kaji warna kulit, sushu, kelmbapan, turgor kulit. Adanya
perubahan warna kulit : warna kebiruan menunjukkan adanya sianosis ( ujung
kuku , ekstremitas , telinga, hidung, bibir, dan membrane mukosa). Pucat pada
wajah dan membrane mukosa dapat berhubungan dengan rendahnya kadar
hemoglobin atau syok. Adanya kesulitan beraktivitas karena kelemahan, kehilangan
sensori dan mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat.