Anda di halaman 1dari 32

Tuntunan Merawat Jenazah

Bagian 1
FINA AHMAD FITRIANA




Mengurus jenazah merupakan perkara
ibadah yang telah memiliki aturan baku
dalam syariat Islam, mulai dari saat
sebelum seseorang itu meninggal.
Setelah meninggal, saat dimandikan,
dikafani, disholatkan, dikuburkan,
sampai ibadah-ibadah lain. yang terkait
dengan kematian semua diatur dengan
jelas dalam Agama Islam.
Hukum Merawat Jenazah

Hukum merawat Jenazah adalah fardlu Kifayah,


kewajiban Muslim yang hidup untuk
pemulasaraan Jenazah
Apa Itu Fardlu Kifayah ?
Merawat Jenazah adalah bagian dari Ibadah
Ibadah dikerjakan ketika memenuhi syarat sah
nya Ibadah, dilaksanakan sesuai tuntunan rukun.
Pengertian Jenazah

Di dalam masyarakat sering terjadi


pembedaan antara jenazah dan
mayit.
Jenazah adalah jasad mati yang
sudah dirawat.
Mayit adalah jasad mati yang belum
dirawat.
Mayat Siapa yang Wajib dipulasara?
Mayat kaum Muslimin, (Perlakuan berbeda untuk yang sedang
melaksanakan Ihram dan mati Syahid)
Tidak Perlu bagi yang memandikan untuk bertanya tentang
Mayit apakah dia Shalat atau tidak, yang penting selama
dzahirnya islam diperlakukan sebagaimana Muslim
Bagaimana memandikan dan mengiringi jenazah orang kafir?
Ada yang membolehkan (mubah), ada yang mengharamkan.
Semua sepakat Haram menshalatkan Mayat Orang kafir
Jika terjadi bencana, dimana korban bercampur, Kafir dan
Muslim yang susah dibedakan identitasnya, yang mana kafir
yang mana muslim? Menurut Imam Syafii, semuanya
dimandikan dan dishalatkan.
Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan
(jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan
janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya.
Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan
Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.[QS.
At-Taubah:84]

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang


berman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-
orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah
kaum kerabat-nya, sesudah jelas bagi mereka bahwa
orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka
Jahanam.[QS. At-Taubah:113].
Muslim yang tidak dipulasara Jenazahnya?
Muslim yang mati Syahid, dikubur langsung dengan
pakaian dan darah-darah mereka.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu:
Sesungguhnya, para syuhada dalam Perang Uhud
tidak ada yang dimandikan, dan mereka dikuburkan
dengan lumuran darahnya serta tidak ada yang
dishalati (kecuali Hamzah).[HR. Abu Dawud, Hakim,
Tirmidzi, Baihaqi, Ahmad].
Bayi / Anak Kecil apakah perlu dishalatkan?
Dari Aisyah radhiyallahu anhu: Ibrahim putra Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam meninggal pada usianya yang ke delapan belas bulan dan
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam tidak menshalatinya.[HR. Abu
Dawud, Ahmad].
Tetapi tetap dibolehkan menshalatinya,termasuk terhadap Anak kecil (orok).
Berdasarkan dalil: dan anak kecil (dalam riwayat lain,Yang diakibatkan
karena keguguran) hendaknya dishalati seraya mendakan bagi kedua
orang tuanya berupa ampunan dan rahmat.[HR. Abu Dawud, Nasai]
Didatangkan ke hadapan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam anak dari
kaum Anshar yang mati, kemudian beliau menshalatinya. Lalu aku katakan,
beruntunglah anak ini menjadi burung-burung surga, belum pernah
melakukan kesalahan dosa apapun[HR. Muslim, NasaI, Ahmad].
Janin Keguguran ?
Ulama berbeda pendapat dalam hal ini.
Menurut Imam Malik, janin yang meninggal
di dalam kandungan, atau lahir dalam
kondisi meninggal, tidak dishalati
berdasarkan dalil :





Bayi tidak perlu dishalati, tidak menerima warisan atau
menurunkan warisan, sampai terlahir dalam keadaan hidup.
(HR. Turmudzi 1049 dan dishahihkan al-Albani).
Pendapat Imam Malik juga sejalan dengan
pendapat Sufyan at-Tsauri dan as-Syafii.
Pendapat kedua menyatakan bahwa janin meninggal di kandugan, yang
usianya 4 bulan ke atas, dia dimandikan dan dishalati. Ini merupakan
pendapat madzhab hambali.
Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Mughirah bin Syubah
Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,





Bayi keguguran itu dishalati, dan didoakan kedua orang tuanya dengan ampunan dan
rahmat. (HR. Ahmad 18665, Abu Daud 3182, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Imam Ahmad memberikan batasan usia janin 4 bulan, karena sejak usia itu,
janin telah ditiupkan ruh. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibnu
Masud yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Bahwa menshalati jenazah merupakan doa untuk janin dan untuk kedua
orang tuanya, dan itu kebaikan. Sehingga tidak butuh memperhatikan
kehati-hatian dan yakin bahwa dia pernah hidup. Berbeda dengan hukum
warisan. (al-Mughni, 2/393).
Orang yang mati bunuh diri ?
Bunuh diri termasuk dosa yang sangat besar, karena pelakunya
diancam oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk disiksa di neraka
dengan cara sebagaimana dia membunuh jiwanya. Padahal orang
yang melakukan bunuh diri sampai mati, tidak ada lagi kesempatan
bertaubat baginya.
Meskipun demikian, pelaku bunuh diri tidaklah dihukumi keluar dari
islam. Artinya, meskipun dia mati suul khotimah, namun dia tetap
muslim, sehingga jenazahnya tetap wajib disikapi sebagaimana
layaknya jenazah seorang muslim. Dia wajib dimandikan, dikafani,
dishalati, dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin.
Hanya saja, ada satu yang membedakan, dianjurkan bagi pemuka
agama dan masyarkat, seperti ulama setempat atau pemerintah desa
setempat, agar tidak turut menshalati jenazah ini secara terang-
terangan, sebagai hukuman sosial dan pelajaran berharga bagi
masyarakat.
Persiapan Jenazah
Bilamana seorang dari kamu sakit, maka hendaklah
sabar dan berdoa:



dan hendaklah ia kamu jenguk
Dan bila ia hampir sampai kepada ajalnya, maka
hendaklah ia bersangka baik kepada Allah
dan berwasiatlah kalau ia meninggalkan barang
milik
Hendaklah ia kamu talqinkan (tuntun baca) orang
yang akan meninggala "LAA ILAAHA ILLA LLAH"
dan hadapkan ia ke arah qiblat
Kemudian bilamana ia meninggal, maka pejamkanlah
matanya
Ikat dagunya agar mulutnya tertutup, kemudian
posisikan tangannya di atas perut layaknya orang
bersedekap
dan doakanlah baginya
serta selubungilah ia dengan kain yang baik.
Kemudian lunasilah hutangnya dengan segera, kalau ia
berhutang
Lalu segeralah pemeliharaannya
dan kabarkanlah kepada kerabat dan teman-temannya
kaum muslimin
Proses Pemeliharaan

1. Memandikan
2. Mengkafani
3. Menguburkan
4. Mensholatkan
1. Memandikan Mayat

Orang yang dianjurkan memandikan Mayat :

Bila Mayatnya Laki-laki :


Bapak/anak laki-laki
Kakek
Baru keluarga terdekat dan muhrim dari pihak
laki-laki
Istrinya
Untuk mayat perempuan
Ibunya/anak perempuan
Neneknya
Baru keluarga terdekat dan muhrim dari
pihak perempuan
Suaminya
Jika jenazah anak laki-laki, boleh yang
memandikan perempuan dan jika jenazah itu
anak perempuan boleh yang
memandikannya laki-laki.
PAHALA MENGURUS JENAZAH

Barangsiapa memandikan jenazah, mengkafani, memasukan ke


keranda, membawa serta menshalatkan jenazah tersebut,
kemudian tidak membeberkan keburukan yang terlihat, maka ia
akan keluar dari dosa-dosanya suci tanpa dosa sama halnya
pada saat ia dilahirkan ibunya. (HR Ibnu Majah)

Meskipun menurut sebagian ulama menilai Hadits nya lemah


PERALATAN MANDI JENAZAH
Tempat memandikan berupa dipan atau meja, dan kain penutup
tempat mandi itu.
Tempat Memandikan harus tertutup
Sabun yang sudah dicairkan, dalam satu wadah / ember
Air kapur barus yang sudah dihaluskan sebanyak satu wadah/ember.
Daun Bidara bila ada
Air biasa sekitar 3 ( tiga ) ember besar + beberapa gayung
Cotton Bud dan Lidi untuk mencongkel kotoran kuku.
Sarung tangan dan Masker (bila diperlukan).
Handuk atau yang sejenisnya.
Gunting untuk memotong pakaian jenazah sebelum dimandikan
Adab Memandikan JenazahC
Orang yang memandikan hendaklah orang
yang tahu tentang sunnah memandikan
khususnya bagi keluarga dan kerabat
Kalau ada aib atau kekurangan tubuhnya,
harus dirahasiakan, jangan dicerita kan
kepada orang lain.
Cara memandikan harus dengan pelan dan
kasih sayang, tidak boleh dengan kasar atau
menunjukkan ketidak senangan.
Waktu memandikan aurat utama harus tetap
ditutup dengan kain, sarung atau basahan.
Sebelum Memandikan Jenazah

Menutup ke 2 matanya.
Ikat dagu hingga atas kepala
posisikan tangannya di atas perut
layaknya orang bersedekap
Melumaskan sendi-sendi.
Melepas baju, dan menutup
dengan kain yang ringan.
Mencabut cincin dan lain-lain.
Di letakkan di atas ranjang.
Kaifiyat Mandi Jenazah

Seorang petugas memulai dengan melunakkan persendian jenazah tersebut.


Apabila kuku-kuku jenazah itu panjang, maka dipotongi. Demikian pula bulu
ketiaknya. Adapun bulu kelamin, maka jangan mendekatinya, karena itu
merupakan aurat besar. Kemudian petugas mengangkat kepala jenazah hingga
hampir mendekati posisi duduk. Lalu mengurut perutnya dengan perlahan untuk
mengeluarkan kotoran yang masih dalam perutnya. Hendaklah memperbanyak
siraman air untuk membersihkan kotoran-kotoran yang keluar.
Kemudian mewudhukan Jenazah

Selanjutnya petugas berniat (dalam hati) untuk memandikan


jenazah serta membaca basmalah. Lalu petugas me-wudhu-i
jenazah tersebut sebagaimana wudhu untuk shalat. Namun
tidak perlu memasukkan air ke dalam hidung dan mulut si
mayit, tapi cukup dengan memasukkan jari yang telah
dibungkus dengan kain yang dibasahi di antara bibir si mayit
lalu menggosok giginya dan kedua lubang hidungnya sampai
bersih.
Selanjutnya, dianjurkan agar mencuci rambut dan jenggotnya
dengan busa perasan daun bidara atau dengan busa sabun.
Dan sisa perasan daun bidara tersebut digunakan untuk
membasuh sekujur jasad si mayit.
Membasuh tubuh Jenazah

Setelah itu membasuh anggota


badan sebelah kanan si mayit.
Dimulai dari sisi kanan
tengkuknya, kemudian tangan
kanannya dan bahu kanannya,
kemudian belahan dadanya yang
sebelah kanan, kemudian sisi
tubuhnya yang sebelah kanan,
kemudian paha, betis dan telapak
kaki yang sebelah kanan.
Selanjutnya petugas membalik sisi tubuhnya hingga miring ke
sebelah kiri, kemudian membasuh belahan punggungnya yang
sebelah kanan. Kemudian dengan cara yang sama petugas
membasuh anggota tubuh jenazah yang sebelah kiri, lalu
membalikkannya hingga miring ke sebelah kanan dan
membasuh belahan punggung yang sebelah kiri. Dan setiap kali
membasuh bagian perut si mayit keluar kotoran darinya,
hendaklah dibersihkan.
Banyaknya memandikan: Apabila sudah bersih,
maka yang wajib adalah memandikannya satu kali
dan mustahab (disukai/sunnah) tiga kali. Adapun
jika belum bisa bersih, maka ditambah lagi
memandikannya sampai bersih atau sampai tujuh
kali (atau lebih jika memang dibutuhkan). Dan
disukai untuk menambahkan kapur barus pada
pemandian yang terakhir, karena bisa
mewangikan jenazah dan menyejukkannya. Oleh
karena itulah ditambahkannya kapur barus ini
pada pemandian yang terakhir agar baunya tidak
hilang.
Dianjurkan agar air yang dipakai untuk
memandikan si mayit adalah air yang sejuk,
kecuali jika petugas yang memandikan
membutuhkan air panas untuk menghilangkan
kotoran-kotoran yang masih melekat pada jasad si
mayit.
Dibolehkan juga menggunakan sabun untuk
menghilangkan kotoran. Namun jangan mengerik
atau menggosok tubuh si mayit dengan keras.
Dibolehkan juga membersihkan gigi si mayit
dengan siwak atau sikat gigi.
Dianjurkan juga menyisir rambut si mayit, sebab
rambutnya akan gugur dan berjatuhan.
Selesai Memandikan Jenazah
Setelah selesai dari memandikan jenazah ini, petugas
mengelapnya (menghandukinya) dengan kain atau
yang semisalnya.
Kemudian memotong kumisnya dan kuku-kukunya
jika panjang, serta mencabuti bulu ketiaknya
(apabila semua itu belum dilakukan sebelum
memandikannya) dan diletakkan semua yang
dipotong itu bersamanya di dalam kain kafan.
Kemudian apabila jenazah tersebut adalah wanita,
maka rambut kepalanya dipilin (dipintal) menjadi
tiga pilinan lalu diletakkan di belakang
(punggungnya).
Tambahan
Apabila masih keluar kotoran (seperti: tinja, air
seni atau darah) setelah dibasuh sebanyak tujuh
kali, hendaklah menutup kemaluannya (tempat
keluar kotoran itu) dengan kapas,
kemudian mencuci kembali anggota yang
terkena najis itu, lalu si mayit diwudhukan
kembali.
Sedangkan jika setelah dikafani masih keluar
juga, tidaklah perlu diulangi memandikannya,
sebab hal itu akan sangat merepotkan.
Halangan Memandikan Jenazah
Apabila terdapat halangan untuk
memandikan jenazah,
misalnya tidak ada air atau kondisi jenazah
yang sudah tercabik-cabik atau gosong,
maka cukuplah ditayamumkan saja.
Yaitu salah seorang di antara hadirin menepuk
tanah dengan kedua tangannya lalu
mengusapkannya pada wajah dan kedua
punggung telapak tangan si mayit.
Video Detail Memandikan