Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta

Keluarga Berencana (KB)

Topik : Imunisasi Campak Pada Anak di SD Negeri 011 Samarinda

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian dari
persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia

di Puskesmas Rawat Inap Lempake Samarinda

Disusun oleh :
dr. Andi Fahripa Nur Rahma

Program Dokter Internsip Indonesia


Samarinda
Kalimantan Timur
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F3. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA

KELUARGA BERENCANA (KB)

TOPIK : IMUNISASI CAMPAK PADA ANAK DI SD NEGERI 011


SAMARINDA

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian dari
persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia
di Puskesmas Lempake Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andi Fahripa Nur Rahma

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal, 04 Januari 2017

Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Lempake

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
LATAR BELAKANG Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada
bayi dan anak terhadap penyakit tertentu. Sedangkan vaksin
adalah kuman atau racun kuman yang dimasukkan ke dalam
tubuh bayi atau anak yang disebut antigen. Di dalam tubuh
antigen akan bereaksi dengan antibodi, sehingga akan terjadi
kekebalan. Juga pada vaksin yang dapat langsung menjadi racun
terhadap kuman yang disebut antitoksin (Depkes RI, 1993).

Pada tahun 2005 Departemen Kesehatan Republik Indonesia


menyatakan bahwa lebih dari 10 juta balita meninggal tiap tahun,
dengan perkiraan 2,5 juta meninggal (25%) akibat penyakit yang
dapat dicegah dengan vaksin yang kini ada maupun yang terbaru.
Oleh karena itu sangat jelas bahwa imunisasi sangat penting
untuk mengurangi seluruh kematian anak. Dalam era globalisasi
dan komunikasi tanpa batas, yang berdampak pada peningkatan
kerentanan dalam penyebaran penyakit, membuat peran
imunisasi semakin vital (Depkes RI, 2007).

Penyakit campak atau juga disebut morbili adalah penyakit


morbili pada waktu yang lampau dianggap penyakit anak biasa
saja bahkan dikatakan lebih baik anak mendapatkannya ketika
masih anak-anak daripada sudah dewasa. Tetapi sekarang
termasuk penyakit yang harus dicegah karena tidak jarang
menimbulkan kematian yang disebabkan komplikasinya
(Ngastiyah, 1997).

Campak merupakan penyakit menular dan menjadi salah


satu penyebab kematian anak di negara berkembang, termasuk
Indonesia. Penyakit ini disebabkan virus campak yang dapat
dicegah dengan imunisasi. Meskipun sedikit jumlah kematian
akibat kasus ini yaitu 1:1000 kasus dan sebagian dari kasus
tersebut terjadi pada saat anak berusia 6 bulan sampai 3 tahun
atau setidaknya 15-20% sering terjadi saat anak berusia 36
bulan. Tanpa imunisasi, penyakit ini akan menyerang hampir
setiap anak dan dapat mengakibatkan kematian karena
komplikasi, seperti radang paru (pneumonia), diare, radang
telinga, dan radang otak, terutama pada anak bergizi buruk.

Campak, measles atau rubeola adalah penyakit virus akut


yang disebabkan oleh virus campak. Penyakit ini sangat
infeksius dan Penyebaran infeksi terjadi dengan perantara
droplet (PPM IDAI, 2009). Campak merupakan salah satu dari
penyebab kematian utama pada anak anak walaupun vaksin
campak yang aman dan terjangkau sudah tersedia. Pada tahun
2014, ada 114.900 kematian akibat campak, sekitar 314 kematian
setiap hari atau 13 kematian setiap jam. Pada tahun 2014, sekitar
85% dari anak - anak di dunia mendapat dosis pertama vaksin
campak pada hari ulang tahun pertama mereka melalui
pelayanan kesehatan rutin. Angka ini meningkat dari pada
sebelumnya yaitu 73% pada tahun 2000 (IDAI, 2016).

Pada tahun 2014, usaha dunia untuk meningkatkan cakupan


vaksin berhasil menurunkan angka kematian sampai 79%.
Selama tahun 2000-2014, dengan dukungan dari Measles and
Rubella Initiative (M&R Initiative), vaksinasi campak mencegah
angka kematian sampai 17,1 juta. Selama tahun 2014, sekitar
219 juta anak mendapat vaksinasi pada program kampanye
vaksinasi massa di 28 negara. M&R Initiative merupakan bentuk
kerja sama yang dipimpin oleh American Red Cross, United
Nation Foundations, Centers for Disease Control and
Prevention (CDC), UNICEF, dan WHO. M&R
Initiative dibentuk untuk meyakinkan bahwa tidak ada anak yang
meninggal akibat campak atau lahir dengan sindrom rubela
kongenital, mengurangi kematian akibat campak sampai 95%
pada 2015; dan mengeliminasi campak dan rubela setidaknya
pada 5 wilayah WHO pada tahun 2020 (IDAI, 2016). Sehingga
seluruh wilayah WHO termasuk Indonesia menetapkan tujuan
untuk mengeliminasi penyakit yang mematikan ini pada tahun
2020 (Depkes, 2015).
PERMASALAHAN Penyakit campak dapat menyerang hampir setiap anak dan
mengakibatkan kematian karena komplikasi, seperti radang paru
(pneumonia), diare, radang telinga, dan radang otak, terutama
pada anak bergizi buruk. Sehingga perlu dilakukan tindakan
pencegahan dari penyakit tersebut, salah satunya dengan
imunisasi campak.

PERENCANAAN Pemberian imunisasi campak dilakukann sebanyak 2 kali,


DAN PEMILIHAN pertama di usia 9 bulan, dan yang kedua di usia 6 tahun.
INTERVENSI
Dianjurkan, pemberian campak pertama sesuai jadwal. Selain
karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit
campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12
bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12
bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).
Imunisasi campak terdiri dari satu dosis tunggal 0,5 mL
disuntikan secara subkutan pada lengan bagian atas.

Komposisi vaksin campak tiap dosis (0,5 mL) vaksin yang


sudah dilarutkan mengandung: Zat aktif: Virus Campak strain
CAM 70 tidak kurang dari 1.000 CCID50, dan CCID50 = Cell
Culture Infective Dose 50.
PELAKSANAAN Imunisasi dilakukan secara tatap muka, dihadiri beberapa
petugas puskesmas dan perwakilan guru di SD Negeri 011
Samarinda.
Hari/tanggal : Senin, 28 November 2016
Waktu : 09.00 - selesai
Tempat : SD Negeri 011 Samarinda
Kegiatan : Imunisasi Campak

MONITORING DAN 1. Penyelenggarakan imunisasi yang tidak hanya dilakukan di


EVALUASI SD Negeri 011 Samarinda tetapi juga dilakukan di puskesmas,
memberikan keuntungan bagi masyarakat yang rumahnya
jauh dari puskesmas, sehingga para orang tua tetap bisa
mengikutsertakan anakanya dalam program imunisasi.
2. Kepedulian orang tua untuk mengikutsertakan anaknya dalam
program imunisasi cukup tinggi, tetapi untuk ketepatan jadwal
kadang masih belum bisa terpenuhi sepenuhnya karena
banyak faktor.

Komentar/Umpan Balik Pendamping:

Samarinda, 04 Januari 2017

Pendamping, Peserta,

dr. Deni Wardani dr. Andi Fahripa Nur Rahma

Dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan