Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ajaran islam menjadikan ibadah yang mempunyai aspek sosial sebagai landasan
membangun suatu sistem yang mewujudkan kesejahteraan dunia dan akhirat yang diharapkan
mampu memberikan manfaat pada pelaku ibadah dengan masyarakat yang ada disekitarnya.
Oleh sebab itu, wajar apabila Islam memandang bahwa muslim terbaik adalah orang yang
bermanfaat bagi sesamanya.
Salah satu ibadah yang menunjukkan manfaat pada kehidupan sekitarnya adalah zakat.
Zakat diartikan sebagai upaya membersihkan harta yang dimiliki seseorang dari unsur-unsur
yang tidak baik. Kewajiban zakat bertujuan untuk memperluasa partisipasi kesejahteraan
masyarakat sehingga tidak ada perbedaan mencolok antara golongan kaya dan miskin dalam
masyarakat. Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang zakat tambak yang secara umum
tambak biasanya dikaitkan dengan spesies yang dapat dibudidayakan seperti ikan bandeng, ikan
nila, ikan kerapu, kakap putih, udang, dan sebagainya. Dalam makalah ini akan diuraikan melalui
rumusan masalah sebagai berikut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana dasar hukum zakat tambak ?
2. Bagaimana urgensi zakat tambak ?
3. Bagaimana pendapat para ulama tentang zakat tambak ?
4. Bagaimana nishab zakat tambak ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Dasar Hukum Zakat Tambak




Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu
yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS. Al
Baqarah : 267) [1]

B. Urgensi Zakat Tambak


Kata zakat ( ) , bentuk mashdar yang berasal dari kata zaka-yazku-zakaan (
) , berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Secara etimologi artinya adalah berkah,
tumbuh, suci, baik, dan bersihnya sesuatu. Sedangkan zakat secara syara adalah hitungan
tertentu dari harta dan sejenisnya dimana syara; mewajibkan untuk mengeluarkannya kepada
orang-orang fakir dan yang lainnya dengan syarat-syarat khusus. [2]
Dinamakan bersih, karena dengan mambayar zakat, harta dan dirinya menjadi bersih dari
kotoran dan dosa yang menyertainya yang disebabkan oleh harta yang dimilikinya tersebut,
adanya hak-hak orang lain menempel padanya. Maka, apabila tidak dikeluarkan zakatnya, harta
tersebut mengandung hak-hak orang lain, yang apabila kita menggunakannya atau memakannya
berarti kita telah memakan harta haram, karena di dalamnya terkandung milik orang lain.[3]
Sedangkan tambak adalam kolam buatan, biasanya di daerah pantai, yang diisi air dan
dimanfaatkan sebagai sarana budidaya perairan (akuakultur). Hewan yang di bidudayakan adalah
hewan air, terutama ikan, udang, serta kerang. Penyebutan tambak ini biasanya dihubungkan
dengan air payau atau air laut. Kolam yang berisi air tawar biasanya disebut kolam saja atau
empang. Tambak merupakan salah satu jenishabitat yang dipergunakan sebagai tempat untuk
kegiatan budidaya air payau yang berlokasi di daerah pesisir. [4]

C. Pendapat Ulama Mengenai Kewajiban Mengeluarkan Zakat Tambak


Pada mulanya untuk usaha perikanan ini kebanyakan mengandalkan kepada hasil-hasil
yang diperoleh dari alam seperti laut, sungai, maupun danau, yang kesemuanya digantungkan
kepada kemurahan alam. Namun dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekarang
orang berfikir untuk melakaukan budidaya perikanan dengan membuat kolam maupun tambak
dengan mempergunakan teknologi modern. Untuk budidaya tambak ini juga termasuk ke dalam
bidang usaha yang dapat dikenakan zakat, namun di dalam Al-Quran dan Hadits Nabi tidak
memuat pengaturannya secara jelas.
Namun ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa bagi usaha yang bersifat tetap
modal usahanya seperti industri dengan pabrik dan mesin-mesinnya, pertanian dengan tanahnya,
pertambakan dengan kolam-kolamnya, dikenakan zakat seperti zakat pertanian. [5]
D. Nishab Zakat Tambak
1. Diqiyaskan dengan pertanian
Kadar zakat tambak ini diqiyaskan seperti zakat pertanian yaitu kadar zakatnya
adalah 10% jika diairi oleh air hujan, sungai, danau atau yang sejenisnya. Dan 5%
jika diari dengan alat irigasi atau yang sejenisnya yang menggunakan alat pompa air.
Dan nishab pertanian adalah 5 watsaq. Para ahli fikih telah menentukan
5 watsaq sepadan dengan 50 kail atau 653 kilogram beras dari makanan pokok
mayoritas penduduk.[6]
Contoh Perhitungan Zakat Tambak Garam :
Bapak Zaenal sedang memanen hasil tambak udang yang dibudidayakan selama 4
bulan. Dengan perincian sebagai berikut :
- Jumlah hasil produksi tambaknya 2.000 kg dan harganya sedang per kilogram
adalah Rp 15.000
- Biaya pertambakan :
Biaya bibit Rp 7.000.000
Pajak bumi dan retribusi pemerintah Rp 1.000.000
Penyewaan alat Rp 2.200.000
Nafkah pertambakan lainnya Rp 2.000.000
Berdasarkan keterangan tersebut, zakatnya dihitung sebagai berikut :
URAIAN JUMLAH TOTAL KETERANGAN
HARGA
Harga hasil 2.000 x Rp Rp 30.000.000 Produksi x harga
panen 15.000 pasar
Dipotong
pembiayaaan
Bibit Rp 7.000.000
Pajak dan Rp 1.000.000
retribusi
Penyewaan alat Rp 2.200.000
Nafkah Rp 2.000.000
pertambakan
lainnya
Total Rp
12.200.000-
Total yang wajib Rp 17.800.000 Mencapai nishab
dizakati
Nishab 653kg x Rp
15.000 =
Rp 9.795.000
Zakatyang Rp 17.800.000 x
dikeluarkan 5% =
Rp 890.000

2. Diqiyaskan dengan perdagangan


Pak Yusuf memiliki aktivitas perdagangan jual beli hasil tambak. Pada tanggal
20 Januari 2007 ia telah jatuh tempo haul, sehingga ia harus menghitung Zakat
Perdagangannya, dengan perincian sebagai berikut:
Aset tetap berupa pompa air, kolam, dan fasilitas perdagangan Rp.
200.000.000
Ikan yang belum terjual Rp. 45.000.000
Uang tunai di kas Rp. 5000.000
Pajak Rp. 2000.000
Perhitungan haul zakat menggunakan kalender masehi 2,575 %. Harga emas
murni pada waktu perhitungan zakat Rp. 150.000 per gram. Dari keterangan diatas
maka zakatnya dihitung sebagai berikut.
Aset tetap yang digunakan sebagai fasilitas dalam bekerja tidak wajib
dizakati. Sebab ia merupakan harta yang dimiliki untuk perdagangan
(diniyah).
Tempat zakat dihitung dengan mengurangkan tanggungan dari harta zakat
(produksi selama satu haul).
Pengeluaran zakat adalah 2,575 % dari harta bersih[7]
URAIAN JUMLAH HARGA TOTAL KETERANGAN
Hasil produksi :
Ikan hasil tambak Rp. 45.000.000
uang tunai Rp. 5.000.000
Jumlah Total Rp. 50.000.000
Dikurangi Biaya:
pajak Rp. 2.000.000
Jumlah Total Rp. 2.000.000
Jumlah harta yang Rp. 48.000.000 Mencapai Nishab
wajib dizakati
Nishab Zakat 85 Rp. 12.500.000
gram x Rp. 150.000
Kadar zakat : 2,575 Rp. 1.236.000
% x Rp. 48.000.000
Zakat yang harus
dikeluarkan pada
akhir haul sebesar
Rp 1.236.000

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil
usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk
kamu.
2. Zakat secara syara adalah hitungan tertentu dari harta dan sejenisnya dimana syara;
mewajibkan untuk mengeluarkannya kepada orang-orang fakir dan yang lainnya
dengan syarat-syarat khusus.
3. Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa bagi usaha yang bersifat tetap modal
usahanya seperti industri dengan pabrik dan mesin-mesinnya, pertanian dengan
tanahnya, pertambakan dengan kolam-kolamnya, dikenakan zakat seperti zakat
pertanian.
4. Kadar zakat tambak garam ini diqiyaskan seperti zakat pertanian yaitu kadar
zakatnya adalah 10% jika diairi oleh air hujan, sungai, danau atau yang sejenisnya.
Dan 5% jika diari dengan alat irigasi atau yang sejenisnya yang menggunakan alat
pompa air. Sedangkan nishabnya adalah 653kg.
5. Kadar zakat tambak juga diqiyaskan dengan zakat perdagangan dengan zakat
perdagangan dengan nishab sama seperti 85 gram emas. Dan kadar 2, 575 %

DAFTAR PUSTAKA

Gus Arifin, Zakat Infak Sedekah, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2011.
Hikmat Kurnia dan Ahmad Hidayat, Panduan Pintar Zakat , Qultum Media, Jakarta, 2008.
Yusuf Qardawi,Fiqh Az-Zahah, Penerjemah : Salman Harun, dkk, Cet Keduabelas, PT
Pustaka Litera Antarnusa, Bogor, 2011.
https://khuri09.wordpress.com/2009/12/08/pengertian-dan-ruang-lingkup- permasalahan-
tambak/ , diakses senin tanggal 19-09-2016 pukul 21.24 WIB
https://www.google.co.id/?gws_rd=cr,ssl&ei=TfnfV8bCKcqp0gTMsKXwBA#q= pendapa
t+ulama+tentang+zakat+tambak&start=10 , diakses senin tanggal 19-09-2016 pukul
22.00 WIB

[1]Yusuf Qardawi, Fiqh Az-Zakah, Penerjemah : Salman Harun, dkk, Cet Keduabelas, PT Pustaka Litera Antarnusa, Bogor,
2011, hal.300
[2]Gus Arifin, Zakat Infak Sedekah, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2011, hal 3
[3]Hikmat Kurnia dan Ahmad Hidayat, Panduan Pintar Zakat , Qultum Media, Jakarta, 2008, hal 2
[4]https://khuri09.wordpress.com/2009/12/08/pengertian-dan-ruang-lingkup-permasalahan-tambak/ ,
diakses senin tanggal 19-09-2016 pukul 21.24 WIB
[5]https://www.google.co.id/?
gws_rd=cr,ssl&ei=TfnfV8bCKcqp0gTMsKXwBA#q=pendapat+ulama+tentang+zakat+tambak&start=10 , diakses
senin tanggal 19-09-2016 pukul 22.00 WIB
[6]Hikmah Kurnia dan A Hidayat, Op. Cit, hal 226

[7]Hikmah Kurnia dan A Hidayat, Op. Cit, hal