Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA 2

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK TRAUMA SEXUAL

DISUSUN OLEH:

Ahid Robbi Safitra (04121003037)

Louis Destama (04121003012)

Nova Pratiwi Resti Ningrum (04121003018)

Okta Verida Andriani (04121003031)

Arnelia Putri (04121003030)

Muhammad Ibrahim (04121003046)

Muhammad Solehuddin (04121003060)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang senantiasa berkat
rahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul
Kekerasan Sexual.
Dalam menyelesaikan makalah ini kami telah berusaha untuk mencapai hasil
yang maksimum, tetapi dengan keterbatasan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan
kemampuan yang kami miliki, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna.
Terselesainya makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh
karena itu pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Dosen Keperawatan Jiwa selaku Dosen pembimbing dan pengajar yang telah
memberi pengetahuan.
2. Literatur yang ada di internet (jurnal) dan perpustakaan umum yang menambah
wawasan.
Selanjutnya kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak pihak
yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Apabila banyak kesalahan
dan kekurangan dalam penulisan dan keterbatasan materi kami mohon maaf sebesar-
besarnya. Semoga makalah ini bermanfaat dan berguna bagi yang membacanya.

Indralaya, Maret 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................i
KATA PENGANTAR ...........................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................1
B. Rumusan Masalah ..................................................................2
C. Tujuan.....................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Sexual Abuse.............................................................3
B. Etiologi...................................................................................4
C. Klasifikasi Sexual Abuse........................................................6
D. Manifestasi Klinis...................................................................7
E. Patofisiologis..........................................................................8
F. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatn ...............................9
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian..............................................................................12
2. Diagnosa Keperawatan...........................................................15
3. Intervensi dan Rasional..........................................................22
4. Discharge Planning................................................................30
BAB IV Isue Tentang Sexsual Abuse di Masyarakat
A. Isue Tentang Sexsual Abuse di Masyarakat............................32
B. Pembahasan............................................................................32
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................36
B. Saran.......................................................................................37
Daftar Pustaka

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelecehan yang berulang sering ditemui pada lebih dari setengah kasus
pelecehan seksual di komunitas dan terdapat pada 75% kasus yang ditemukan di
klinik. sexual abuse (kekerasan seksual) dikenal pada tahun 70-an dan 80-an.
Penelitian lain telah mengarah pada perkiraan kekerasan pada anak yang lebih
luas di Inggris, seperti dari Childhood Matters (1996): Sekitar 100 000 anak
mengalami pengalaman seksual yang berpotensi mengarah ke seksual abuse
(FKUI, 2006).
Banyak anak yang mendapat perlakuan kurang manusiawi, bahkan tidak
jarang dijadikan objek kesewenangan. Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan
Anak Indonesia, ada 481 kasus kekerasan anak (2003). Jumlah ini menjadi 547
kasus pada tahun 2004. Dari situ, ada 140 kasus kekerasan fisik, 80 kasus
kekerasan psikis, 106 kasus kekerasan lainnya, dan 221 kasus kekerasan seksual.
Gambaran paradoks tersebut memancing pertanyaan. Mengapa kekerasan seksual
sering menimpa diri anak dan siapa yang paling berpotensi sebagai pelakunya?
Di samping dapat menimbulkan dampak yang luar biasa pada diri si korban,
kasus kekerasan seksual juga dapat menguji kebenaran dari pernyataan
Singarimbun (2004), bahwa modernisasi sering diasosiasikan sebagai
keserbabolehan melakukan hubungan seksual (Suda, 2006).
Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan kasus yang menonjol yang
terjadi pada anak-anak. Dalam catatan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia
(YKAI) pada tahun 1992-2002 terdapat 2.611 kasus (65,8 persen) dari 3.969
kasus kekerasan seksual dialami anak-anak di bawah usia 18 tahun. Dari jumlah
itu, 75 persen korbannya adalah anak perempuan. Kasus yang menonjol terutama
pemerkosaan (42,9 persen) dengan kejadian terjadi di rumah tinggal (35,7
persen).

1
B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi, etiologi, klasifikasi dan manifestasi klinis dari sexual abuse?
2. Bagaimana pemerikasaan penunjang, penatalaksanaan klinis dan perawatan
pasien sexual abuse?
3. Bagaimana isu yang ada di masyarakat tentang sexual abuse?
4. Bagaimana rencana asuhan keperawatan pada pasien sexual abuse?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada anak dengan sexual
abuse
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian secara menyeluruh, baik bio
psiko, sosio kultural, spiritual
b. Mahasiswa mampu menemukan masalah keperawatan yang sering
dialami oleh penderita sexual abuse
c. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan anak yang
mengalami retardasi mental
d. Mahasiswa mampu merumuskan tujuan keperawatan untuk mengatasi
masalah anak dengan sexual abuse
e. Mahasiswa mampu merumuskan rencana perawatan untuk mengatasi
masalah keperawatan yang dialami anak dengan sexual abuse
f. Mampu melakukan penyusunan rencan evaluasi atas tindakan yang akan
dilakukan pada anak yang menderita sexual abuse

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Sexual Abuse


Penyiksaan seksual (sexual abuse) terhadap anak disebut Pedofilian atau
penyuka anak-anak secara seksual. Seorang Pedofilia adalah orang yang

2
melakukan aktivitas seksual dengan korban anak usia 13 tahun ke bawah.
Penyakit ini ada dalam kategori Sadomasokisme adalah suatu kecenderungan
terhadap aktivitas seksual yang meliputi pengikatan atau menimbulkan rasa sakit
atau penghinaan (Pramono, 2009).
Kemudian klasifikasi kekerasan/penganiayaan seksual pada anak menurut
Resna dan Darmawan (dalam Huraerah, 2006:60) diklasifikasi menjadi tiga
kategori, antara lain: perkosaan, incest, dan eksploitasi. Perkosaan biasanya
terjadi pada saat pelaku terlebih dahulu mengancam dengan memperlihatkan
kekuatannya kepada anak. Incest, diartikan sebagai hubungan seksual atau
aktivitas seksual lainnya antarindividu yang mempunyai hubungan dekat, yang
perkawinan di antara mereka dilarang, baik oleh hukum, kultur, maupun agama.
Eksploitasi seksual meliputi prostitusi dan pornografi (Suda, 2006).
Kekerasan seksual (sexual abuse), dapat didefinisikan sebagai perilaku
seksual secara fisik maupun non fisik oleh orang yang lebih tua atau memiliki
kekuasaan terhadap korban, bertujuan untuk memuaskan hasrat seksual
pelakunya. Korban mungkin saja belum atau tidak memahami perlakuan yang
dilakukan terhadap dirinya, mereka hanya merasa tidak nyaman, sakit, takut,
merasa bersalah, dan perasaan lain yang tidak menyenangkan.
Kekerasan seksual (sexual abuse) pada anak mencakup penganiayaan seksual
secara fisik dan non fisik. Kekerasan fisik antara lain menyentuh alat kelamin
atau bagian tubuh lain yang bersifat pribadi, seks oral, penetrasi vagina/anus
menggunakan penis atau benda lain, memaksa anak membuka pakaian, sampai
tindak perkosaan. Sedangkan penganiyaan non fisik diantaranya memperlihatkan
benda-benda yang bermuatan pornografi atau aktivitas seksual orang dewasa,
eksploitasi anak dalam pornografi (gambar, foto, film, slide, majalah, buku),
exhibitionism, atau mengintip kamar tidur/kamar mandi (voyeurism).

B. Etiologi/Penyebab
Menurut Townsend (1998) factor yang predisposisi (yang berperan dalam pola
penganiayaan anak (seksuak abuse) antara lain:
1. Teori biologis
a. Pengaruh neurofisiologis. Perubahan dalam system limbik otak dapat
mempengaruhi perilaku agresif pada beberapa individu

3
b. Pengaruh biokimia, bermacam-macam neurotransmitter (misalnya
epinefrin, norepinefrin, dopamine, asetilkolin dan serotonin) dapat
memainkan peranan dalam memudahkan dan menghambat impuls-impuls
agresif
c. Pengaruh genetika. Beberapa penyelidikan telah melibatkan herediter
sebagai komponen pada predisposisi untuk perilaku agresif seksual, baik
ikatan genetik langsung maupun karyotip genetik XYY telah diteliti
sebagai kemungkinan
d. Kelainan otak. Berbagai kelainan otak mencakup tumor, trauma dan
penyakit-penyakit tertentu (misalnya ensefalitis dan epilepsy), telah
dilibatkan pada predisposisi pada perilaku agresif
2. Teori psikologis
a. Teori psikoanalitik. Berbadai teori psikoanalitik telah membuat
hipotesa bahwa agresi dan kekerasan adalah ekspresi terbuka dari
ketidakperdayaan dan harga diri rendah, yang timbul bila kebutuhan-
kebutuhan masa anak terhadap kepuasan dan keamanan tidak terpenuhi
b. Teori pembelajaran. Teori ini mendalilkan bahwa perilaku agresif dan
kekerasan dipelajari dari model yang membawa dan berpengaruh.
Individu-individu yang dianiaya seperti anak-anak atau yang orang tuanya
mendisiplinkan dengan hukuman fisik lebih mungkin untuk berperilaku
kejam sebagai orang dewasa

3. Teori sosiokultural (pengaruh sosial)


a. Pengaruh sosial. Ilmuwan social yakin bahwa perilaku agresif
terutama merupakan hasil dari struktur budaya dan social seseorang.
Pengaruh-pengaruh social dapat berperan pada kekerasan saat individu
menyadari bahwa kebutuhan dan hasrat mereka tidak dapat dipenuhi
melalui cara-cara yang lazim dan mereka mengusahakan perilaku-
perilaku kejahatan dalam suatu usaha untuk memperoleh akhir yang
diharapkan.
Menurut Freewebs (2006) kekerasan seksual (sexual abuse) pada anak sering
muncul dalam berbagai kondisi dan lingkup sosial.
1. Kekerasan seksual dalam keluarga (Intrafamilial abuse)

4
Mencakup kekerasan seksual yang dilakukan dalam keluarga inti atau
majemuk, dan dapat melibatkan teman dari anggota keluarga, atau orang
yang tinggal bersama dengan keluarga tersebut, atau kenalan dekat dengan
sepengetahuan keluarga. Kekerasan pada anak adopsi ataupun anak tiri
juga termasuk dalam lingukup ini.
2. Kekerasan seksual di luar keluarga (Extrafamilial abuse)
Mencakup kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa yang kenal
dengan anak tersebut dari berbagai sumber, seperti tetangga, teman,
orangtua dari teman sekolah.
3. Ritualistic abuse
4. Institutional abuse
Mencakup kekerasan seksual dalam lingkup institusi tertentu seperti
sekolah, tempat penitipan anak, kamp berlibur, seperti kegiatan pramuka,
dan organisasi lainnya.
5. Kekerasan seksual oleh orang yang tidak dikenal (Street or stranger
abuse)
Penyerangan pada anak-anak di tempat-tempat umum.
Ada beberapa pandangan berbeda penyebab kekerasan seksual yang menimpa
anak. Orang yang mencabuli anak-anak dianggap orang yang mengalami
disfungsi karena kecanduan alkohol, tidak memiliki pekerjaan tetap dan
penghasilan yang mapan, serta tingkat pendidikan yang rendah. Menurut Cok
Gede Atmadja, pencabulan terhadap anak terjadi karena himpitan ekonomi.
Sementara Magdalena Manik, aktivis Forum Sayang Anak, menyatakan
pencabulan terhadap anak disebabkan meluasnya budaya permisif, dan
ketidakkonsistenan pihak kepolisian dalam mengambil tindakan hukum terhadap
pelaku incest (Suda, 2006).
Koran Tokoh (Edisi 337/TahunVII, 511 Juni 2005:14) menulis beberapa
pemicu terjadinya pencabulan terhadap anak, khususnya oleh orangtua. Pertama,
pelaku tidak bisa lagi melakukan hubungan dengan istri karena alasan kesehatan
atau telah lama menduda. Kedua, pelaku ingin menyempurnakan ilmu kebatinan
yang sedang ditekuninya. Ketiga, pelaku tidak tahan melihat kemontokan tubuh
anak perempuannya, atau melihat anak perempuannya ke luar kamar mandi

5
menggunakan handuk. Bahkan, bisa pula pelaku melakukan pelecehan seksual
terhadap anak perempuan, karena terpengaruh film porno (Atmadja, 2005:139
dalam Suda, 2006).

C. Klasifikasi Sexual Abuse


Menghadapi anak yang mengalami kekerasan seksual, kata Maria, hendaknya
tetap mempertimbangkan faktor psikologis. Tidak hanya pada posisi anak
sebagai korban, yang tentunya berisiko mengalami stres bahkan trauma, tapi juga
perlu penanganan yang baik pada anak sebagai pelaku kekerasan. Anak sebagai
pelaku kekerasan seksual, sangat mungkin sebelumnya adalah korban dari
kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku lain. Kemungkinan motif
kekerasan yang dilakukannya adalah untuk eksploitasi-memuaskan rasa ingin
tahu, atau menirukan kejadian yang dialami sebelumnya, baik dari perlakuan
langsung maupun dari media yang dilihatnya. Dengan adanya azas praduga tak
bersalah, hendaknya ditelusuri dengan mendalam faktor yang mendorong anak
menjadi pelakukekerasan seksual, agar anak tidak dua kali menjadi korban
(Maria, 2008).
Berbagai bentuk kekerasan seksual terhadap anak, khususnya anak perempuan
di masyarakat, selalu diwarnai kekerasan fisik atau psikologis. Jika meminjam
gagasan Giddens (2004) tentang kekerasan laki-laki dalam menyalurkan
libidonya, tindakan tersebut berkaitan dengan label yang diberikan masyarakat
kepada laki-laki. Laki-laki harus jantan menangani sektor publik dan urusan
seksual. Di sisi lain, meluasnya sistem ekonomi kapitalisme global
mengakibatkan banyak orang termarjinal, bahkan terhimpit, baik secara ekonomi
maupun psikologis. Akibatnya, harga diri mereka dalam keluarga dan masyarakat
mengalami goncangan. Begitu pula hubungan seksual mereka dengan istrinya
bisa terganggu. Kondisi ini bisa diperparah lagi karena usia tua, impotensi,
ejakulasi dini, kekhawatiran ukuran dan fungsi penis, dan lainnya. Ini
menimbulkan rasa tidak aman dan kekawatiran yang mendalam (Suda, 2006).
Berikut ini jenis-jenis kekerasan seksual berdasarkan pelakunya (Tower, 2002
dalam Maria, 2008) :

6
1. Kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga.
Dilakukan oleh ayah, ibu atau saudara kandung. Selain itu, kekerasan seksual
mungkin pula dilakukan oleh orang tua angkat/tiri, atau orang lain yang
tinggal serumah dengan korban.
2. Kekerasan yang dilakukan oleh orang lain di luar anggota keluarga
Kekerasan seksual dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak dibatasi perbedaan
jenis kelamin, suku, agama, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya. Sebagian
besar pelaku adalah pria dan orang yang melakukan orang yang cukup dikenal
oleh korban, misalnya tetangga, guru, sopir, baby-sittter. Pelaku bisa saja
mengalami kelainan seperti paedophilia, pecandu seks, atau sangat mungkin
teman sebaya. Kemungkinan pelaku penah menjadi korban kekerasan seksual
sebelumnya,atau menirukan perilaku orang lain. salah satu penyebabnya
adalah untuk mengatasi trauma akibat kekesaran seksual yang dialaminya,
atau sekedar memenuhi rasa ingin tahu.
Efek klinis pencabulan berkisar dari pendarahan pada genital dan anus, fisur
pada anus, pembesaran liang vagina dan anus, dan penipisan/kerusakan hymen
pada vagina. Efek psikologis pencabulan terhadap anak umumnya berjangka
panjang, antara lain: kemarahan, kecemasan, mimpi buruk, rasa tak Iman,
kebingungan, ketakutan, kesedihan, dan perubahan perilaku baik menjadi buruk.
D. Manifestasi Klinik
Patricia A Moran dalam buku Slayer of the Soul, 1991 dalam Minangsari
(2007), mengatakan, menurut riset, korban pelecehan seksual adalah anak laki-
laki dan perempuan berusia bayi sampai usia 18 tahun. Kebanyakan pelakunya
adalah orang yang mereka kenal dan percaya. Gejala seorang anak yang
mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas. Ada anak-anak yang menyimpan
rahasia pelecehan seksual yang dialaminya dengan bersikap "manis" dan patuh,
berusaha agar tidak menjadi pusat perhatian. Meskipun pelecehan seksual
terhadap anak tidak memperlihatkan bukti mutlak, tetapi jika tanda-tanda di
bawah ini tampak pada anak dan terlihat terus-menerus dalam jangka waktu
panjang, kiranya perlu segera mempertimbangkan kemungkinan anak telah
mengalami pelecehan seksual.
Tanda dan indikasi ini diambil Jeanne Wess dari buku yang sama:

7
1. Balita
a. Tanda-tanda fisik, antara lain memar pada alat kelamin atau mulut, iritasi
kencing, penyakit kelamin, dan sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas
bisa merupakan indikasi seks oral.
b. Tanda perilaku emosional dan sosial, antara lain sangat takut kepada siapa
saja atau pada tempat tertentu atau orang tertentu, perubahan kelakuan
yang tiba-tiba, gangguan tidur (susah tidur, mimpi buruk, dan ngompol),
menarik diri atau depresi, serta perkembangan terhambat.
2. Anak usia prasekolah
Gejalanya sama ditambah tanda-tanda berikut:
a. Tanda fisik: antara lain perilaku regresif, seperti mengisap jempol,
hiperaktif, keluhan somatik seperti sakit kepala yang terus-menerus, sakit
perut, sembelit.
b. Tanda pada perilaku emosional dan sosial: kelakuan yang tiba-tiba berubah,
anak mengeluh sakit karena perlakuan seksual.
c. Tanda pada perilaku seksual: masturbasi berlebihan, mencium secara
seksual, mendesakkan tubuh, melakukan aktivitas seksual terang-terangan
pada saudara atau teman sebaya, tahu banyak tentang aktivitas seksual, dan
rasa ingin tahu berlebihan tentang masalah seksual.
3. Anak usia sekolah
Memperlihatkan tanda-tanda di atas serta perubahan kemampuan belajar,
seperti susah konsentrasi, nilai turun, telat atau bolos, hubungan dengan teman
terganggu, tidak percaya kepada orang dewasa, depresi, menarik diri, sedih,
lesu, gangguan tidur, mimpi buruk, tak suka disentuh, serta menghindari hal-
hal sekitar buka pakaian.
4. Remaja
Tandanya sama dengan di atas dan kelakuan yang merusak diri sendiri,
pikiran bunuh diri, gangguan makan, melarikan din, berbagai kenakalan
remaja, penggunaan obat terlarang atau alkohol, kehamilan dini, melacur, seks
di luar nikah, atau kelakuan seksual lain yang tak biasa.
Sedangkan menurut Townsend (1998) simtomatologi dari
penganiayaan/kekerasan seksual pada anak (sexual abuse) antara lain :
1. Infeksi saluran kemih yang sering
2. Kesulitan atau nyeri saat berjalan atau duduk

8
3. Kemerahan atau gatal pada daerah genital, menggaruk daerah tersebut secara
sering atau gelisah saat duduk
4. Sering muntah
5. Perilaku menggairahkan, dorongan masturbasi, bermain seks dewasa sebelum
waktunya
6. Ansietas berlebihan dan tidak percaya kepada orang lain
7. Penganiyaan seksual pada anak yang lain

E. Penatalaksanaan Medis dan Perawatan


1. Perawatan
Menurut Suda (2006) ada beberapa model program counseling yang dapat
diberikan kepada anak yang mengalami sexual abuse.
Pertama, the dynamics of sexual abuse. Artinya, terapi difokuskan pada
pengambangan konsepsi. Pada kasus tersebut kdsalahan dan tanggung jawa
berada pada pelaku bukan pada korban. Anak dijamin tidak disalahkan
meskipun telah terjadi kontak seksual.
Kedua, protective behaviors counseling. Artinya, anak-anak dilatih
menguasai keterampilan mengurangi kerentannya sesuai dengan usia.
Pelatihan anak prasekolah dapat dibatasi; berkata tidak terhadap sentuhan-
sentuhan yang tidak diinginkan; menjauh secepatnya dari orang yang
kelihatan sebagai abusive person; melaporkan pada orangtua atau orang
dewasa yang dipercaya dapat membantu menghentikan perlakuan salah.
Ketiga, survivor/self-esteem counseling. Artinya, menyadarkan anak-anak
yang menjadi korban bahwa mereka sebenarnya bukanlah korban, melainkan
orang yang mampu bertahan (survivor) dalam menghadapi masalah sexual
abuse.
Keempat, feeling counseling. Artinya, terlebih dahulu harus diidentifikasi
kemampuan anak yang mengalami sexual abuse untuk mengenali berbagai
perasaan. Kemudian mereka didorong untuk mengekspresikan perasaan-
perasaannya yang tidak menyenangkan, baik pada saat mengalami sexual
abuse maupun sesudahnya. Selanjutnya mereka diberi kesempatan untuk
secara tepat memfokuskan perasaan marahnya terhadap pelaku yang telah

9
menyakitinya, atau kepada orang tua, polisi, pekerja sosial, atau lembaga
peradilan yang tidak dapat melindungi mereka.
Kelima, cognitif terapy. Artinya, konsep dasar dalam teknik ini adalah
perasaan-perasaan seseorang mengenai beragam jenis dalam kehidupannya
dipengaruhi oleh pikiran-pikiran mengenai kejadian tersebut secara
berulang-lingkar.
Menurut Suda (2006) jika mengacu pada manifesto kelompok pemenang
penghargaan Nobel Perdamaian, ada upaya untuk meminimalisirnya.
Pertama, menerapkan prinsip antikekerasan aktif, dengan menolak
kekerasan dengan segala bentuknya;
Kedua, menumbuhkan sikap murah hati berbagi waktu dan materi dengan
tujuan mengakhiri keterkucilan, ketidakadilan, tekanan politik, dan
ekonomi;
Ketiga, mempertahankan kebebasan berpendapat dan keanekaragaman
budaya dengan mengedepankan dialog dan sikap mau mendengarkan
orang lain. .
2. Pengobatan
Pemberian antidepresan sesuai indikasi dapat membantu anak mengatasi
perasaan sedih dan putus asa serta kemjauan dalam terapi, Usia anak dan
situasi penganiayaan seksual mempengaruhi kedalaman depresi anak
(Doenges, et.al. 2007)

10
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Menurut Doenges et.al (2007) pengkajian anak yang mengalami


penganiayaan seksual (sexual abuse) antara lain :

1. Aktivitas atau istirahat : Masalah tidur (misalnya tidak padat tidur atau tidur
berlebihan, mimpi burukm, berjalan saat tidur, tidur di tempat yang asing,
keletihan.

2. Integritas ego

a. Pencapaian diri negatif, menyalahkan diri sendiri/meminta ampun karena


tindakannya terhadap orang tua.

b. Harga diri rendah (pelaku/korban penganiayaan seksual yang selamat.)

c. Perasaan bersalah, marah, takut dan malu, putus asa dan atau tidak berdaya

d. Minimisasi atau penyangkalan signifikasi perilaku (mekanisme pertahanan


yang paling dominan/menonjol)

e. Penghindaran atau takut pada orang, tempat, objek tertentu, sikap menunduk,
takut (terutama jika ada pelaku)

f. Melaporkan faktor stres (misalnya keluarga tidak bekerja, perubahan


finansial, pola hidup, perselisihan dalam pernikahan)

g. Permusuhan terhadap/objek/tidak percaya pada orang lain

3. Eliminasi

a. Enuresisi, enkopresis.

11
b. Infeksi saluran kemih yang berulang

c. Perubahan tonus sfingter.

4. Makan dan minum : Muntah sering, perubahan selera makan (anoreksia), makan
berlebihan, perubahan berat badan, kegagalan memperoleh berat badan yang
sesuai .

5. Higiene

a. Mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan kondisi cuaca (penganiayaan


seksual) atau tidak adekuat memberi perlindungan.

b. Mandi berlebihan/ansietas (penganiayaan seksual), penampilan kotor/tidak


terpelihara.

6. Neurosensori

a. Perilaku ekstrem (tingkah laku sangat agresif/menuntut), sangat amuk atau


pasivitas dan menarik diri, perilaku tidak sesuai dengan usia

b. Status mental : memori tidak sadar, periode amnesia, lap[oran adanya


pengingatan kembali. Pikiran tidak terorganisasi, kesulitan
konsentrasi/membuat keputusan. Afek tidak sesuai, mungkin sangat
waspada, cemas dan depresi.

c. Perubahan alam perasaan, kepribadian ganda, cinta, kebaikan dan


penyesalan yang dalam setelah penganiayaan seksual terjadi.

d. Kecemburuan patologis, pengendalian impuls yang buruk, ketrampilan


koping terbatas, kurang empati terhadap orang lain.

e. Membantung. Menghisap jempol atau perilaku kebiasaan lain : gelisah


(korban selamat).

12
f. Manifestasi psikiatrik (misal : fenomena disosiatif meliputi kepribadian
ganda (penganiayaan seksual), gangguan kepribadian ambang (koeban inses
dewasa)

g. Adanya defisit neurologis/kerusakaan SSP tanpa tanda-tanda cedera


eksternal

7. Nyeri atau ketidaknyamanan

a. Bergantung pada cedera/bentuk penganiayaan seksual

b. Berbagai keluhan somatik (misalnya nyeri perut, nyeri panggul kronis,


spastik kolon, sakit kepala)

8. Keamanan

a. Memar, tanda bekas gigitan, bilur pada kulit, terbakar (tersiran air panas,
rokok) ada bagian botak di kepala, laserasi, perdarahan yang tidak wajar,
ruam/gatal di area genital, fisura anal, goresan kulit, hemoroid, jaringan
parut, perubahan tonus sfingter.

b. Cedera berulang, riwayat bermacam kecelakaan, fraktur/ cedera internal.

c. Perilaku mencederai diri sendiri (bunuh diri), keterlibatan dalam aktivitas


dengan risiko tinggi

d. Kurangnya pengawasan sesuai usia, tidak ada perhatian yang dapat


menghindari bahaya di dalam rumah

9. Seksualitas

a. Perubahan kewaspadaan/aktivitas seksual, meliputi masturbasi kompulsif,


permainan seks dewasa sebelum waktunya, kecenderungan mengulang atau
melakukan kembali pengalaman inses. Kecurigaan yang berlebihan tentang
seks, secara seksual menganiaya anak lain.

13
b. Perdarahan vagina , laserasi himen linier, bagian mukosa berlendir.

c. Adanya PMS, vaginitis, kutil genital atau kehamilan (terutama pada anak).

10. Interaksi sosial

Menarik diri dari rumah, pola interaksi dalam keluarga secara verbal
kurang responsif, peningkatan penggunaan perintah langsung dan pernyataan
kritik, penurunan penghargaan atau pengakuan verbal, merasa rendah diri.
Pencapaian prestasi di sekolah rendah atau prestasi di sekolah menurun.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Menurut Townsend (1998), dan Doenges et.al (2007) diagnosa keperawatan


yang dapat dirumuskan pada anak yang mengalami sexual abuse antara lain :

1. Sindrom trauma perkosaan berhubungan dengan menjadi korban perkosaan


seksual yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan dan berlawanan dengan
keinginan dan persetujuan pribadi seseorang

2. Ketidakberdayaan berhubungan dengan harga diri rendah

3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan pengasuhan


yang tidak adekuat dan penderitaan oleh pengasuh dari nyeri fisik atau cidera
dengan tujuan untuk menyebabkan bahaya, biasanya terjadi dalam waktu lama.

4. Ansietas (sedang sampai berat) berhubungan dengan ancaman konsep diri, rasa
takut terhadap kegagalan, disfungsi system keluarga dan hubungan antara orang
tua dan anak yang tidak memuaskan

5. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif

6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan a nsietas dan hiperaktif

7. Koping defensif berhubungan dengan harga diri rendah, kurang umpan balik atau
umpan balik negatif yang berulang yang mengakibatkan penurunan makna diri

14
8. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan perasaan bersalah yang
berlebihan, marah atau saling menyalahkan diantara anggota keluarga mengenai
perilaku anak, kepenatan orang tua karena menghadapi anak dengan gangguan
dalam jengka waktu lama

9. Defisit pengetahuan tentang kondisi, prognosis, perawatan diri dan kebutuhan


terapi berhubungan dengan kurang sumber informasi, interpretasi yang salah
tentang informasi

C. INTERVENSI DAN RASIONAL

Menurut Videbeck (2008), Townsend (1998), dan Doenges et.al (2007),


intervensi keperawatan yang dapat dirumuskan untuk mengatasi diagnosa
keperawatan diatas antara lain :

1. Sindrom trauma perkosaan berhubungan dengan menjadi korban perkosaan


seksual yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan dan berlawanan dengan
keinginan dan persetujuan pribadi seseorang

Tujuan :

a. Tujuan jangka pendek : Luka fisik anak akan sembuh tanpa komplikasi

b. Tujuan jangka panjang : anak akan mengalami resolusi berduka yang sehat,
memulai proses penyembuhan psikologis.

Intervensi:

a. Smith (1987) menghubungkan pentingnya mengkomunikasikan empat


ucapan berikut ini pada korban perkosaan : saya prihatin hal ini terjadi
padamu, anda aman disini, saya senang anda hidup, anda tidak bersalah.
Anda adalah korban. Ini bukan kesalahan anda. Apapun keputusan yang
Anda buat pada saat pengorbanan adalah hak seseorang karena anda hidup.

Rasional : Wanita tau anak yang telah diperkosa secara seksual takut
terhadap kehidupannya dan harus diyakinkan kembali keamanannya. Ia

15
mungkin juga sangat ragu-ragu dengan dirinya dan menyalahkan diri sendiri
dan pernyataan-pernyataan ini membangkitkan rasa percaya secara bertahap
dan memvalidasi harga diri anak

b. Jelaskan setiap prosedur pengkajian yang akan dilakukan dan mengapa


dilakukan. Pastikan bahwa pengumpulan data dilakukan dalam perawatan,
cara tidak menghakimi

Rasional : Untuk menurunkan ketakutan atau ansietas dan untuk


meningkatkan rasa percaya

c. Pastikan bahwa anak memiliki privasi yang adekuat untuk semua intervensi-
intervensi segera pasca krisis. Cobaan sedikit mungkin orang yang
memberikan perawatan segera atau mengumpulkan bukti segera.

Rasional : Anak pasca trauma sangat rentan. Penambahan orang dalam


lingkungannya meningkatkan perasaan rentan ini dan bertindak
meningkatkan ansietas

d. Dorong anak untuk menghitung jumlahs erangan kekerasan seksual.


Dengarkan, tetapi tidak menyelidiki

Rasional : Mendengarkan dengan tidak menghakimi memberikan


kesempatan untuk katarsis bahwa anak perlu memulai pemulihan. Jumlah
yang rinci mungkin dibutuhkan untuk tindak lanjut secara legal, dan seorang
perawat sebagai pembela anak dapat menolong untuk mengurangi trauma
dari pengumpulan bukti

e. Diskusikan dengan anak siapa yang dapat dihubung untuk memberikan


dukungan atau bantuan. Berikan informasi tentang rujukan setelah perawatan

Rasional : Karena ansietas berat dan rasa takut, anak mungkin membutuhkan
bantuan dari orang lain selama periode segera pasca-krisis. Berikan

16
informasi rujukan tertulis untuk referensi selanjutnya (misalnya psikoterapi,
klinik kesehatan jiwa, kelompok pembela masyarakat)

2. Ketidakberdayaan berhubungan dengan harga diri rendah

Tujuan :

a. Tujuan jangka pendek : Anak mengenali dan menyatakan secara verbal


pilihan-pilihan yang tersedia dengan demikian merasakan beberapa kontrol
terhadap situasi kehidupan (dimensi waktu ditentukan secara individu)

b. Tujuan jangka panjang : Anak memperlihatkan kontrol situasi kehidupan


dengan membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan berkenaan
dengan hidup bersama siklus penganiyaan seksual (dimensi waktu
ditentukan secara individual)

Intervensi :

a. Dalam berkolaburasi dengan tim medis, pastikan bahwa semua cedera fisik,
fraktur, luka bakar mendapatkan perhatian segera, mengambiul foto jika
anak mengijinkan merupakan ide yang baik

Rasional : Keamanan anak merupakan prioritas keperawatan. Foto dapat


digunakan sebagai bukti jika tuntutan dilakukan

b. Bawa anak wanita tersebut ke dalam area yang pribadi untuk melakukan
wawancara

Rasional : Jika anak disertai dengan pria yang melakukan pelecehan seksual
pada anak, kemungkinan besar ia tidak jujur sepenuhnya tentang cederanya
atau pengalaman seksualnya

c. Jika seorang anak wantia datang sendiri atau berserta dengan orang tuanya,
pastikan tentang keselamatannya. Dorong untuk mendiskusikan peristiwa
pemerkosaan yang telah dilakukan. Tanyakan pertanyaan tentang apakah hal
ini telah terjadi sebelumnya. Jika pelaku kekerasan seksual minum obat bius,

17
jika anak tersebut memiliki tempat yang aman untuk pergi dan apakah ia
berminat dalam tuntutan yang mendesak

Rasional : Beberapa anak wanita berusaha untuk menyimpan rahasia tentang


bagimana cedera seksual yang dideritanya terjadi dalam usaha untuk
melindungi orang tuanya atau saudaranya atau karena mereka takut bahwa
orang tuanya atau saudaranya akan membunuh mereka jika menceritakan hal
tersebut

d. Pastikan bahwa usaha-usaha menyelamatkan tidak diusahakan oleh perawat.


Berikan dukungan, tetapi ingat bahwa keputusan akhir harus dibuat oleh
anak

Rasional : Membuat keputusan untuk dirinya sendiri memberikan rasa


kontrol situasi kehidupannya sendiri. Memberikan penilaian dan nasehat
adalah tidak terapeutik

e. Tekankan pentingnya keamanan, smith (1987) menyarankan suatu


pernyataan seperti, ya itu telah terjadi. Sekarang ke mana anda ingin pergi
dari sini ?. Burgess (1990) menyatakan "Korban perlu dibuat sadar tentang
berbagai sumber yang tersedia untuk dirinya. Hal ini dapat mencakup hotline
krisis, kelompok-kelompok masyarakat untuk wanita dan anak yang pernah
dianiaya secara seksual, tempat perlindungan, berbagai tempat konseling.

Rasional : Pengetahuan tentang pilihan-pilihan yang tersedia dapat


membantu menurunkan rasa tidak berdaya dari korban, tetapi kewenangan
yang sesungguhnya datang hanya saat ia memilih untuk menggunakan
pengetahuan itu bagi keuntungannya sendiri.

3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan pengasuhan


yang tidak adekuat dan penderitaan oleh pengasuh dari nyeri fisik atau cidera
dengan tujuan untuk menyebabkan bahaya, biasanya terjadi dalam waktu lama.

Tujuan :

18
a. Tujuan jangka pendek : Anak akan mengembangkan hubungan saling
percaya dengan perawat dan melaporkan bagaimana tanda cedera terjadi
(dimensi waktu ditentukan secara individu)

b. Tujuan jangka panjang : Anak akan mendemonstrasikan perilaku yang


konsisten dengan usia tumbuh dan kembangnya.

Intervensi :

a. Lakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada anak. Buat catatan yang
teliti dari luka memarnya (dalam berbagai tahap penyembuhan), laserasi, dan
keluhan anak tentang area nyeri pada derah yang spesifik, misalnya
kemaluan. Jangan mengabaikan atau melalaikan kemungkinan penganiayaan
seksual. Kaji tanda nonverbal penganiayaan, perilaku agresif, rasa takut yang
berlebihan, hiperaktivitas hebat, apatis, menarik diri, perilaku yang tidaks
esuai dengan usianya

Rasional : Suatu pemeriksaan fisik yang akurat dan seksama dibutuhkan agar
perawatan yang tepat dapat diberikan untuk pasien

b. Adakan wawancara yang dalam dengan orang tua atau orang dekat yang
menyertai anak. Pertimbangkan jika cidera dilaporkan sebagai suatu
kecelakaan, apakah penjelasan ini berlasan? Apakah cedera tersebut
konsisten dengan penjelasan yang diberikan? Apakah cedera tersebut
konsisten dengan kemampuan perkembangan anak ?

Rasional : Ketakutan terhadap hukuman penjara atau kehilangan kesempatan


memelihara anak mungkin menempatkan orang tua penyiksa pada sikap
membela diri. Ketidaksesuaian dapat ditandai dalam deskripsi kejadian, dan
adanya usaha untuk menutupu keterlibatan merupakan suatu pertahanan diri
yang umum yang dapat dilepaskan dalam suatu wawancara yang dalam.

19
c. Gunakan pertandingan atau terapi bermain untuk memperoleh rasa percaya
anak. Gunakan teknik-teknik ini untuk membantu dalam menjelaskan sisi
lain dari cerita anak tersebut

Rasional : Menetapkan hubungan saling percaya dengans eorang anak yang


teraniaya sangatlah sukar. Mereka mungkin tidak ingin untuk disentuh.
Jenis-jenis aktivitas bermain ini dapat memberikan suatu lingkungan yang
tidak mengancam yang dapat meningkatkan usaha anak untuk
mendiskusikan masalah-masalah yang menyakitkan ini

d. Tentukan apakah cedera yang dialami dibenarkan untuk dilaporkan kepada


yang berwenang. Undang-Undang negara yang spesifik harus masuk ke
dalam keputusan apakah ya atau tidak untuk melaporkan dugaan
penganiayaan seksual anak.

Rasional : Suatu laporan (umumhya dibuat) jika ada alasan untuk mencurigai
bahwa seseorang anak telah dicederai sebagai suatu akibat penganiayaan
seksual. Alasan untuk mencirugai ditetapkan saat ada tanda-tanda
ketidaksesuaian atau ketidakkonsistenan dalam menjelaskan cedera pada
anak. Kebanayakan negara membutuhkan individu-individu berikut
melaporkan kasus dari anak yang dicurigai dianiaya seksual : semua pekerja
kesehatan, semau terapis kesehatan jiwa, guru-guru, pengasuh-pengasuh
anak, pemadam kebakaran, anggota medis gawat darurat dan anggota
penyelenggara hukum. Laporan dibuat oleh Departemen Pelayanan Sosial
dan rehabiulitasi atau Badan penyelenggara Hukum.

4. Koping individu tidak efektif berhubungan dengankelainan fungsi dari system


keluarga dan perkembangan ego yang terlambat, serta penganiayaan dan
pengabaian anak

Tujuan :

20
a. Anak mengembangkan dan menggunakan keterampilan koping yang sesuai
dengan umur dan dapat diterima sosial dengan kriteria hasil :

b. Anak mampu menundakan pemuasan terhadap keinginannya, tanpa terpaksa


untuk menipulasi orang lain

c. Anak mampu mengekspresikan kemarahan dengan cara yang dapat diterima


secara sosial

d. Anak mampu mengungkapkan kemampuan-kemampuan koping alternative


yang dapat diterima secara sosial sesuai dengan gaya hidup dari yang ia
rencanakan untuk menggunakannya sebagai respons terhadap rasa frustasi

Intervensi:

a. Pastikan bahwa sasaran-sasarannya adalah realistis

Rasional : penting bagi anak untuk nmencapai sesuatu, maka rencana untuk
aktivitas-aktivitas di mana kemungkinan untuk sukses adalah mungkin.
Sukses meningkatkan harga diri

b. Sampaikan perhatian tanpa syarat pada anak

Rasional : Komunikasi dari pada penerimaan anda terhadapnya sebagai


makhluk hidup yang berguna dapat meningkatkan harga diri

c. Sediakan waktu bersama anak, keduanya pada saty ke satu basis dan pada
aktivitas-aktivitas kelompok

Rasional : Hal ini untuk menyampaikan pada anak bahwa anda merasa
bahwa dia berharga bagi waktu anda

d. Menemani anak dalam mengidentifikasi aspek-aspek positif diri dan dalam


mengembangkan rencana-rencana untuk merubah karakteristik yang
dilihatnya sebagai negatif

21
Rasional : identifikasi aspek-aspek positif anak dapat membantu
mengembangkan aspek positif sehingga mempunyai koping individu yang
efektif

e. Bantu anak mengurangi penggunaan penyangkalan sebagai suatu mekanisme


sikap defensif. Memberikan bantuan yang positif bagi identifikasi masalah
dan pengembangan dari perilaku-perilaku koping yang lebih adaptif

Rasional : Penguatan positif membantu meningkatkan harga diri dan


meningkatkan penggunaan perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh anak

f. Memberi dorongan dan dukungan kepada anak dalam menghadapi rasa takut
terhadap kegagalan dengan mengikuti aktivitas-aktivitas terapi dan
melaksanakan tugas-tugas baru. Beri pangakuan tentang kerja keras yang
berhasil dan penguatan positif bagi usaha-usaha yang dilakukan

Rasional : Pengakuan dan penguatan positif meningkatkan harga diri

5. Ansietas (sedang sampai berat) berhubungan dengan ancaman konsep diri, rasa
takut terhadap kegagalan, disfungsi system keluarga dan hubungan antara orang
tua dan anak yang tidak memuaskan

Tujuan :

Anak mampu mempertahankan ansietas di bawah tingkat sedang,


sebagaimana yang ditandai oleh tidak adanya perilaku-perilaku yang tidak
perilaku yang tidak mampu dalam memberi respons terhadap stres.

Intervensi :

a. Bentuk hubungan kepercayaan dengan anak. Bersikap jujur, konsisten di


dalam berespons dan bersedia. Tunjukkan rasa hormat yang positif dan tulus

Rasional : Kejujuran, ketersediaan dan penerimaan meningkatkan


kepercayaan pada hubungan anak dengan staf atau perawat

22
b. Sediakan aktivitas-aktivitas yang diarahkan pada penurunan tegangan dan
pengurangan ansietas (misalnya berjalan atau joging, bola voli, latihan
dengan musik, pekerjaan rumah tangga, permainan-permainan kelompok

Rasional : tegangan dan ansietas dilepaskan dengan aman dan dengan


manfaat bagi anak melalui aktivitas-aktivitas fisik

c. Anjurkan anak untuk mengidentifikasi perasaan-perasaan yang sebenarnya


dan untuk mengenali sensiri perasaan-perasaan tersebut padanya

Rasional : Anak-anak vemas sering menolak hubungan antara masalah


masalah emosi dengan ansietas mereka. Gunakan mekanisme - mekanisme
pertahanan projeksi dan pemibdahan yang dilebih-lebihkan

d. Perawat harus mempertahankan suasana tentang

Rasional : Ansietas dengan mudah dapat menular pada orang lain

e. Tawarkan bantuan pada wajtu-waktu terjadi peningkatan ansietas. Pastikan


kembali akan keselamatan fisik dan fisiologis

Rasional : Keamanan anak adalah prioritas keperawatan

f. Penggunaan sentuhan menyenangkan bagi beberaoa anak. Bagaimanapun


juga anak harus berhati-hati terhadap penggunaannya

Rasional : sebagaimana ansietas dapat membantu mengembangkan


kecurigaan pada beberapa individu yang dapat salah menafsirkan sentuhan
sebagai suatu agresi

g. Dengan berkurangnya ansietas, temani anak untuk mengetahui peristiwa


peristiwa tertentu yang mendahului serangannya. Berhasil pada respons -
respons alternatif pada kejadian selanjutnyta

Rasional : Rencana tindakan memberikan anak perasaan aman untuk


penanganan yang lebih berhasil terhadap kondisi yang sulit jika terjadi lagi

23
h. Berikan obat-obatan dengan obat penenang sesuai dengan yang
diperintahkan. Kaji untuk keefektifitasannya, dan beri petunjuk kepada anak
mengenai kemungkinan efek-efek samping yang memberi pengaruh
berlawanan

Rasional : Obat-obatan terhadap ansietas (misalnya diazepam,


klordiasepoksida, alprazolam) memberikan perasaan lega terhadap efek -
efek yang tidak berjalan dari ansietas dan mempermudah kerjasama anak
dengan terapi

6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas dan hiperaktif

Tujuan :

a. Anak mampu untuk mencapai tidur tidak terganggu selama 6 sampai 7 jam
setiap malam dengan kriteria hasil:

b. Anak mengungkapkan tidak adanya gangguan-gangguan pada waktu tidur

c. Tidak ada gangguan-gangguan yang dialamti oleh perawat

d. Anak mampu untuk mulai tidur dalam 30 menit dan tidur selama 6 sampai 7
jam tanpa terbangun

Intervensi :

a. Amati pola tidur anak, catat keadaan-keadaan yang menganggu tidur

Rasional : Masalah harus diidentifikasi sebelum bantuan dapat diberikan

b. Kaji gangguan-gangguan pola tidur yang berlangsung berhubungan dengan


rasa takut dan ansietas-ansietas tertentu

Rasional : Ansietas yang dirasakan oleh anak dapat mengganggu pola tidur
anak sehingfga perlu diidentifikasi penyebabnya

c. Duduk dengan anak sampai dia tertidur

24
Rasional : kehadiran seseorang yang dipercaya memberikan rasa aman

d. Pastikan bahwa makanan dan minuman yang mengandung kafein


dihilangkan dari diet anak

Rasional : Kafein adalah stimulan SSP yang dapat mengganggu tidur

e. Berikan sarana perawatan yang membantu tidur (misalnya : gosok


punggung, latihan gerak relaksasi dengan musik lembut, susu hangat dan
mandi air hangat)

Rasional : Sarana-sarana ini meningkatkan relaksasi dan membuat bisa tidur

f. Buat jam-jam tidur yang rutin, hindari terjadinya deviasi dari jadwal ini

Rasional : Tubuh memberikan reaksi menyesuaikan kepada suatu siklus rutin


dari istirahat dan aktivitas

g. Beri jaminan ketersediaan kepada anak jika dia terbangun pada malam hari
dan dalam keadaan ketakutan

Rasional : Kehadiran seseorang yang dipercaya memberikan rasa aman

7. Koping defensif berhubungan dengan harga diri rendah, kurang umpan balik atau
umpan balik negatif yang berulang yang mengakibatkan penurunan makna diri

Tujuan :

a. Anak akan mendemonstrasikan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang


lain tanpa menjadi defensif, perilaku merasionalisasi atau mengekspresikan
pikiran waham kebesaran dengan kriteria hasil :

b. Anak mengungkapkan dan menerima tanggung jawab terhadap perilakunya


sendiri

25
c. Anak mengungkapkan korelasi antara perasaan-perasaan ketidakseimbangan
dan keperluan untuk mempertahankan ego melalui rasionalisasi dan
kemuliaan

d. Anak tidak menertawakan atau mengkritik orang lain

e. Anak berinteraksi dengan orang lain dengan situasi-situasi kelompok tanpa


bersikap defensif

Intervensi :

a. Kenali dan dukung kekuatan-kekuatan ego dasar

Rasional : memfokuskan pada spek-aspek positif dari kepribadian dapat


membantu untuk memperbaiki konsep diri

b. Beri semangat kepada anak untuk menteahui dan mengungkapkan dan


bagaimana perasaan ini menimbulkan perilaku defensif, seperti menyalahkan
oprang lain karena prilakunya sendiri

Rasional : Pengenalan masalah adalah langkah pertama pada proses


perubahan ke arah resolusi

c. Berikan segera sebenarnya umpan balik yang tidaj mengancam untuk


perilaku-perilaku yang tidak dapat diterima

Rasional : Anak mungkin kurang pengetahuan tentang bagaiamna dia


diterima oleh orang lain. Berikan informasi ini dengan cara yang tidak
mengancam dapat membantu untuk mengeliminasi perilaku yang tidak
diinginkan

d. Bantu anak untuk mengidentifikasi situasi-situasi yang menimbulkan sifat


defensif dan praktik bermain peran dengan respons-respons yang lebih
sesuai

26
Rasional : Bermain peran memberikan percaya diri untuk menghadapi
situasi-situasi yang sulit jika hal-hal tersebut benar-benar terjadi

e. Berikan dengans egera umpan balik positif bagi perilaku-perilaku yang dapat
diterima

Rasional : Umpan balik positif meningkatkan harga diri dan memberi


semangat untuk mengulangi perilaku-perilaku yang diinginkan

f. Membantu anak untu menetapkan sasaran-sasaran yang realistis, konkret dan


memerlukan tindakan-tindakan yang cocok untuk mencapai sasaransasaran
ini

Rasional : Keberhasilan akan meningkatkan harga diri

g. Evaluasi dengan anak keefektifan perilaku-perilaku yang baru dan


diskusikan adanya perubahan untuk perbaikan

Rasional : Karena keterbatasan kemampuan untuk memecahkan masalah,


bantuan mungkin diperlukan untuk menetapkan kembali dan
mengembangkan strategi baru, pada keadaan di mana metode-metode koping
baru tertentu terbukti tidak efektif

8. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan perasaan bersalah yang


berlebihan, marah atau saling menyalahkan diantara anggota keluarga mengenai
perilaku anak, kepenatan orang tua karena menghadapi anak dengan gangguan
dalam jangka waktu lama

Tujuan :

a. Orang tua mendemonstrasikan metode intervensi yang lebih konsisten dan


efektif dalam berespons perilaku anak dengan kriteria hasil :

b. Mengungkatkan dan mengatasi perilaku negatif pada anak

c. Mengidentifikasi dan menggunakan sistem pendukung yang diperlukan

27
Intervensi :

a. Berikan informasi dan material yang berhubungan dengan gangguan anak


dan teknik menjadi orang tua yang efektif

Rasional : Pengetahuan dan ketrampilan yang tepat dapat meningkatkan


keefektifan peran orang tua

b. Dorong individu untuk mengungkapkan perasaan secara verbal dan


menggali alternatif cara berhubungan dengan anak

Rasional : Konseling suportif dapat membantu keluarga dalam


mengembangkan strategi koping

c. Beri umpan balik positif dan dorong metode menjadi orang tua yang efektif

Rasional : Penguatan positif dapat meningkatkan harga diri dan mendorong


kontinuitas upaya

d. Libatkan saudara kandung dalam diskusi keluarga dan perencanaan interaksi


keluarga yang lebih efektif

Rasional : Masalah keluarga mempengaruhi semua anggota keluarga dan


tindakan lebih efektif bila setiap orang terlibat dalam terapi tersebut

e. Libatkan dalam konseling keluarga

Rasional : terapi keluarga dapat membantu mengatasi masalah global yang


memengaruhi seluruh struktur keluarga. Gangguan pada salah satu anggota
keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga

f. Rujuk pada sumber komunitas esuai indikasi, termasuk kelompok


pendukung orang tua, kelas menjadi orang tua

Rasional : mengembangkan sistem pendukung dapat meningkatkan


kepercayaan diri dan keefektifan orang tua. Pemberian model peran atau
harapan untuk masa depan

28
9. Defisit pengetahuan tentang kondisi, prognosis, perawatan diri dan kebutuhan
terapi berhubungan dengan kurang sumber informasi, interpretasi yang salah
tentang informasi

Tujuan :

a. Mengungkapkan secara verbal pemahaman tentang penyebab masalah


perilaku, perlunya terapi dalam kemampuan perkembangan dengan kriteria
hasil :

b. Berpartisipasi dalam pembelajaran dan m,ulai bertanya dan mencari


informasi secara mandiri

c. Mencapai tujuan kognitive yang konsisten sesuai tingkat temperamen

Intervensi :

a. Berikan lingkungan yang tenang, ruang kelas berisi dirinya sendiri, aktivitas
kelompok kecil. Hindari tempat yang terlalu banyak stimulasi, seperti bus
sekolah, kafetaria yang ramai, aula yang ramai

Rasional : Peredaan dalam stimulasi lingkungan dapat menurunkan


distraktibilitas. Kelompok kecil dapat meningkatkan kemampuan untuk tepat
pada tugas dan membantu klien mempelajari interaksi yang tepat dengan
orang lain, menghindari rasa terisolasi

b. Beri materi petunjuk format tertulis dan lisan dengan penjelasan langkah
demi langkah

Rasional : Keterampilan belajar yang terurut akan meningkat. Mengajarkan


anak keterampilan pemecahan masalah, mempraktikkan contoh situasional.
Keterampilan efektif dapat meningkatkan tingkat prestasi

c. Ajarkan anak dan keluarga tentang penggunaan psikostimulan dan antisipasi


respons perilaku

29
Rasional : penggunaan psikostimulan mungkin tidak mengakibatkan
perbaikan kenaikan kelas tanpa perubahan pada ketrampilan studi anak

d. Koordinasi seluruh rencana terapi dengan sekolah personel sederajat,


anak, dan keluarga

Rasional : keefektifan kognitif paling mungkin meningkat ketika terapi tidak


terfragmentasi, juga tidak terlewatkannya intervensi signifikan karena
kurangnya komunikasi interdisiplin.

D. DISCHARGE PLANNING

Hasil yang diharapkan dari pemberian asuhan keperawatan pada anak


dengan penganiayaan seksual (sexual abuse) antara lain :

1. Anak tidak mengalami ansietas panik lagi

2. Anak mendemonstrasikan derajat percaya kepada perawat primer

3. Anak menerima perhatian dengan segera terhadap cedera fisiknya

4. Anak memulai perilaku yang konsisten terhadap respons berduka

5. Anak mendapatkan perhatian segera untuk cedera fisiknya jika ada

6. Anak menyatakan secara verbal jaminan keamanannya dengan segera

7. Anak mendiskusikan situasi kehidupannya dengan perawat primer

8. Anak mampu menyatakan secara verbal pilihan pilihan yang tersedia untuk
dirinya yang dari hal ini ia menerima bantuan.

9. Anak mendemosntrasikan rasa percaya kepada perawat utama melalui


mendiskusikan perlakuan penganiayaan melalui penggunaan terapi bermain.

10. Anak mendemonstrasikan suatu penurunan dalam perilaku agresif.

30
BAB IV

ISUE TENTANG SEXUAL ABUSE DI MASYARAKAT

A. Isue Di Masyarakat Tentang Sexual Abuse


Korban pelecehan seksual (sexual abuse), dengan anak-anak sebagai
korbannya, terus berjatuhan. Kompas pada 11 Mei 2008 memberitakan seorang

31
remaja usia 18 tahun melakukan sodomi terhadap lima bocah usia 11 hingga 15
tahun, tetangganya sekaligus teman mengajinya. Selain itu, Kompas pada 13 Mei
2008 juga memberitakan, seorang kakek berusia 57 tahun divonis 8 tahun penjara
karena memerkosa dua anak perempuan usia 12 dan 13 tahun. Kasus sodomi
kembali diberitakan Kompas pada 17 Mei 2008, yakni yang dilakukan oleh
tersangka berusia 23 tahun terhadap korban berusia 7 tahun sebanyak 6 kali
selama tiga bulan terakhir.
B. Pembahasan
Kasus yang terungkap selalu merupakan puncak gunung es karena banyak
kasus serupa tidak pernah terungkap. Kebanyakan kasus baru terbongkar setelah
korban mengalami gejala fisik serius, seperti perdarahan di dubur atau vagina.
Padahal, masih ada begitu banyak kasus yang tidak menimbulkan trauma fisik
yang berarti, namun berdampak serius pada dimensi psikologis korban.
Malu, takut, depresi, trauma, dan rasa tidak berdaya, membuat sebagian besar
korban dan keluarga korban enggan melaporkan malapetaka yang menimpa
mereka. Belum lagi perasaan bahwa masalah mereka justru akan bertambah
rumit saat melapor. Korban harus menanggung stigma dari masyarakat ketika aib
yang menimpa mereka diketahui banyak orang. Aparat penegak hukum yang
kurang memahami masalah ini juga memperparah trauma yang terjadi karena
mengajukan pertanyaan yang justru menyudutkan korban. Belum lagi
kemungkinan bahwa pelaku sering dihukum ringan atau dibebaskan dengan
alasan kurangnya bukti.
Kekurangpahaman akan masalah seksual dan penyimpangannya turut
menyuburkan perbuatan keji pelaku. Pernyataan orangtua salah seorang korban
sodomi, yang mengira anaknyalah yang memerkosa karena ia laki-laki,
menegaskan kekurangmengertian sebagian masyarakat kita akan masalah ini.
Padahal, korban memerlukan penanganan segera untuk mengurangi
penderitaannya dan mencegah masalah yang mungkin muncul di kemudian hari.
Sering terjadi bahwa beberapa korban berjatuhan oleh pelaku yang sama.
Selain itu, ada korban yang mengalami pelecehan beberapa kali, juga oleh pelaku
yang sama. Ini dapat terjadi karena kelihaian sang pelaku memanipulasi korban
melalui paksaan, ancaman, bujukan, dan penyuapan. Sering kali pelaku

32
melakukan kamuflase memanfaatkan kecenderungan masyarakat kita yang ramah
dan suka saling menolong. Sifat baik masyarakat ini, ironisnya, justru
mempermudah pelaku memangsa korbannya. Kondisi anak yang belum matang
secara kognisi, emosi, maupun seksual, turut dimanfaatkan pelaku untuk
melaksanakan niatnya secara berulang.
Faktor ketidakmatangan korban usia muda ini patut menjadi fokus perhatian.
Dalam hal korban melibatkan diri dalam perbuatan seks secara sukarela, pelaku
tetap harus dianggap bersalah karena telah mengeksploitasi ketidakmatangan
korban demi kepuasan dirinya. Akibat perbuatan pelaku, integritas korban
menjadi hancur dan kepribadiannya tercabik. Kombinasi paradoksal antara
rangsangan seksual dengan rasa malu, bersalah, marah, dan kesedihan mendalam,
sangat berpengaruh negatif terhadap perkembangan psikoseksual anak.
Hampir bisa dipastikan bahwa korban yang menderita pelecehan seksual
berulang kali dan berkelanjutan mengalami masalah mengintegrasikan
kesadaran, perasaan, dan emosinya. Sebagian korban menderita stres pasca
trauma (post-traumatic stress disorder). Mereka juga menghukum diri dengan
berbagai cara, antara lain dapat muncul dalam bentuk gangguan makan seperti
anoreksia atau bulimia, masalah seksual, penganiayaan diri dan bunuh diri, gejala
somatik (merasa sakit serius padahal sehat secara fisik), kecemasan, hancurnya
penghargaan diri, atau depresi berkepanjangan (Calhoun & Atkeson, 1991).
Remaja yang semasa kecilnya menjadi korban seks juga sangat rentan terhadap
stres, cenderung menarik diri dari sekolah dan teman sebaya, bermasalah secara
seksual, mengalami masalah perilaku, dan lebih besar kemungkinannya
menyalahgunakan zat psikoaktif (Bagley dalam Rekers, 1995).
Studi yang luas, yang dilakukan Bagley, menunjukkan adanya dampak yang
secara signifikan lebih serius pada anak yang mengalami pelecehan berkali-kali
dibandingkan dengan anak yang mengalami kejadian itu hanya sekali. Meski
tidak ditemukan gejala kejiwaan yang berarti pada beberapa korban, sebagian
korban sebenarnya mengalami penundaan kemunculan gejala itu. Artinya, gejala
kejiwaan serius baru muncul setelah mereka dewasa.

33
Patut menjadi catatan bahwa anak laki- laki korban pelecehan seksual, yang
mengalami penolakan dan diabaikan dalam keluarganya, berpotensi menjadi
pelaku pedofilia (orang yang melakukan aktivitas seksual dengan korban anak
usia 13 tahun ke bawah) pada masa remaja atau masa dewasa mereka (Bagley
dalam Rekers, 1995). Kenyataan ini menunjukkan bahwa film porno sebagai
alasan terjadinya sodomi lebih sering merupakan penyebab sekunder. Artinya,
pelaku sebetulnya adalah penderita pedofilia, korban pelecehan seks di masa
kecil mereka, dan yang tidak dapat mengendalikan nafsunya ketika memperoleh
rangsangan dari film porno. Ini tidak berarti bahwa pelaku yang melakukan
pelecehan seksual tidak dapat dituntut tanggung jawabnya. Berulangnya tindakan
pelecehan tanpa diketahui masyarakat sekitar menunjukkan adanya perencanaan
yang disengaja oleh pelaku untuk menjerat korbannya.
Korban pelecehan seksual berusia muda seyogianya menjadi perhatian kita.
Mereka memerlukan penanganan yang segera dan manusiawi. Penanganan yang
adekuat dapat mencegah problem menjadi semakin serius, juga menghentikan
jatuhnya lebih banyak korban. Kita perlu mengurangi penderitaan korban, antara
lain dengan tidak mengeksploitasi pengalaman getir yang mereka alami di media
massa. Stigmatisasi terhadap korban juga perlu dihindarkan dan hal ini perlu
dipahami termasuk oleh aparat penegak hukum.
Orangtua diharapkan memperhatikan keharmonisan rumah tangga mereka.
Penelitian menunjukkan, anak yang dididik dengan baik dalam keluarga
harmonis memungkinkan mereka memperoleh kepercayaan diri tinggi dan
berdaya tahan lebih tangguh sehingga mereka tidak mudah menjadi korban
seksual berkepanjangan. Keterbukaan dan penerimaan orangtua terhadap anak
akan memampukan anak mengomunikasikan secara bebas apa saja yang mereka
alami. Dengan demikian, anak punya keberanian untuk segera melaporkan tindak
pelecehan seksual bila mereka atau teman mereka mengalaminya.
Eratnya relasi orangtua-anak membantu orangtua memantau pergaulan
anaknya dan mencegah lebih banyak problem yang terkait dengan masalah relasi
sosial anaknya. Selain itu, teladan kehidupan seksualitas orangtua yang bersih

34
adalah unsur positif yang memberi arah bagi anak sehingga anak mampu
mengembangkan kehidupan seks yang sehat pula.
Orangtua juga perlu diberi informasi dan pendidikan seks yang sehat. Mereka
perlu memperoleh bekal untuk menghindarkan anaknya menjadi korban seks
teman atau orang dewasa. Salah satu upaya yang banyak dilakukan di negara
maju adalah dengan mengajarkan kepada orangtua bagaimana membuat anak
mampu membedakan sentuhan yang pantas (sebagai pertanda kasih sayang)
dengan yang tidak pantas (yang diarahkan pada daerah erogen). Bila ada
sentuhan yang tidak pantas mereka terima, orangtua perlu memberi rasa aman
kepada anak agar ia dapat bercerita lebih detail. Kebanyakan anak yang
mengalami pelecehan seksual dapat memberi gambaran detail tentang aktivitas
seks yang seharusnya belum dipahami oleh anak seusia mereka. Berbagai tindak
pelecehan seksual yang terjadi mengindikasikan adanya penyakit sosial di
masyarakat kita. Mudahnya pelaku pelecehan seks memperoleh film porno
menunjukkan semakin tolerannya kita terhadap penyimpangan seksual di sekitar
kita.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kasus kekerasan seksual yang dialami oleh anak dibawah umur belakangan
ini semakin banyak muncul dipermukaan. Hal ini belum tentu merupakan
indikator meningkatnya jumlah kasus, karena fenomena yang terjadi adalah
fenomena gunung es, jumlah yang terlihat belum tentu menunjukkan fakta yang

35
sesungguhnya. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penegakan hukum
merupakan salah satu faktor meningkatnya pelaporan kasus kekerasan seksual.
Penganiayaan seksual pada anak didefinisikan sebagai adanya tindakan
seksual yang mencakup tetapi tidak dibatas pada insiden membuka pakaian,
menyentuh dengan cara yang tidak pantas dan penetrasi (koitus seksual), yang
dilakukan dengan seorang anak untuk kesenangan seksual orang dewasa. Insest
telah didefinisikan sebagai eksploitasi seksual pada seorang anak di bawah usia
18 tahun oleh kerabat atau buka kerabat yang merupakan orang dipercaya dalam
keluarga (Townsend, 1998).
Anak sebagai pelaku kekerasan seksual, sangat mungkin sebelumnya adalah
korban dari kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku lain. Kemungkinan
motif kekerasan yang dilakukannya adalah untuk eksploitasi-memuaskan rasa
ingin tahu, atau menirukan kejadian yang dialami sebelumnya, baik dari
perlakuan langsung maupun dari media yang dilihatnya. Dengan adanya azas
praduga tak bersalah, hendaknya ditelusuri dengan mendalam faktor yang
mendorong anak menjadi pelakukekerasan seksual, agar anak tidak dua kali
menjadi korban (Maria, 2008).
Efek klinis pencabulan berkisar dari pendarahan pada genital dan anus, fisur
pada anus, pembesaran liang vagina dan anus, dan penipisan/kerusakan hymen
pada vagina. Efek psikologis pencabulan terhadap anak umumnya berjangka
panjang, antara lain: kemarahan, kecemasan, mimpi buruk, rasa tak Iman,
kebingungan, ketakutan, kesedihan, dan perubahan perilaku baik menjadi buruk.
B. Saran
Berdasarkan asuhan keperawatan anak pada retardasi mental maka disarankan :
1. Perawat
Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan seksual
abuse dapat melibatkan anak dalam brain Gym untuk memfokuskan perhatian
anak dan melupakan peristiwa trauma akibat penganiayaan seksual.
2. Sekolah
Sekolah dapat bekerja sama dengan keluarga dan para dokter untuk membantu
anak korban aniaya seksual di sekolah. Komunikasi terbuka antara orangtua
dan staf sekolah dapat merupakan kunci keberhasilan anak dalam
menyesuaikan diri di sekolah.

36
3. Keluarga/Orang tua
Keluarga atau orang tua dalam membantu anak yang mengalami seksual abuse
harus memberikan perawatan anak dengan metode yang berbeda dengan anak
yang normal. Oleh karena itu hendaknya orang tua atau keluarga menyusun
kegiatan sehingga anak mempunyai rutinitas yang sama tiap hari, mengatur
kegiatan harian, menggunakan jadwal untuk pekerjaan rumah, dan
memperpertahankan aturan secara konsisten dan berimbang.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M.E. Townsend, M.C. Moorhouse, M.F. (2007). Rencana asuhan


keperawatan Psikiatri (terjemahan). Edisi 3. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Elia, H. (2003). Korban Pelecehan Seksual Usia Muda ..!.
http://64.203.71.11/kesehatan/news/0307/21/103523.htm. Diakses tanggal 26
April 2009
FKUI. (2006). Pendahuluan Sebuah Tinjauan
. http://www.freewebs.com/ childabusea1/.htm. Diakses tanggal 26 April 2009
Freewebs, (2006). Pola Child Sexual Abuse. http://www.freewebs.com/
forensik_sexual_abuse/.htm. Diakses tanggal 26 April 2009

37
Pramono, B. (2009). Penyiksaan Anak. http://groups.yahoo.com/group/
urantia-indonesia/message/1516. Diakses tanggal 26 April 2009
Suda, I.K, (2006). Topik Interaktif: "Membedah Penyebab Kekerasan Seksual
terhadap Anak"Penyebab Kekerasan Seksual terhadap Anak
http://www.dradio1034fm.or.id/detail.php?id=4269. Diakses 26 April 2009
Maria. (2008). Hadapi Kekerasan Seksual Pada Anak Hendaknya Tetap
Mempertimbangkan Faktor Psikologis
http://apindonesia.com /new/index.php?
option=com_content&task=view&id=1656&Itemid=62. Diakses tanggal 26
April 2009
Minangsari, D. (2007. Merespons Anak yang Mengalami Pelecehan Seksual!.
http://www.kesrepro.info/?q=node/194. Diakses tanggal 26 April 2009
Townsend, M.C. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada
Keperawatan Psikiatri pedoman Untuk Pembuatan rencana Perawatan
(terjemahan). Edisi 3. Jakarta : penerbit Buku Kedokteran EGC

38